Anda di halaman 1dari 4

IX.

KESIMPULAN DAN SARAN KEBIJAKAN

9.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan model ekonomi sumberdaya perikanan
tangkap yang berkelanjutan di perairan Kabupaten Morowali, maka disimpulkan :
1. Sumberdaya perikanan tangkap dikelola nelayan secara mandiri dengan
mengandalkan pangalaman yang turun temurun, penggunaan alat tangkap
tradisional dan semi-moderen, sistem kelembagaan perikanan yang sederhana dan
orientasi usaha telah mengarah pada perikanan komersialisasi (ekspor dan
domestik). Nelayan di wilayah pesisir umumnya memanfaatkan potensi ikan
Pelagis (Tuna, Teri dan Layang) pada perairan 5-10 mil, kedalaman 100-500m
dengan menggunakan Pancing dan Bagan, sedangkan nelayan di wilayah pulau
memanfaatkan seluruh potensi ikan Demersal, ikan Karang (Kerapu dan Kakap)
dan ikan Pelagis (Tuna, Teri dan Layang) pada perairan 1-10 mil, kedalaman 1500m dengan menggunakan Bubu, Pancing,jaring Insang, Bagan dan Purse seine.
Rata-rata hasil tangkapan ikan dan pendapatan bersih yang diperoleh nelayan di
wilayah pulau lebih besar dibanding nelayan di wilayah pesisir.
2. Potensi sumberdaya perikanan tangkap mencapai 9 053.50 ton per tahun dengan
tingkat pemanfaatan 78.60% atau masih berada di bawah MSY (underfishing).
Secara spesifik, terdapat gejala pemanfaatan berlebih (overfishing) sumberdaya
kelompok Ikan Pelagis Kecil, sedangkan kelompok ikan Pelagis Besar, Ikan
Demersal dan ikan Karang masih underfishing.
3. Pemanfaatan optimal (basis) sumberdaya perikanan tangkap mencapai 34.56%77.05% atau rata-rata 55.78% (underfishing). Target pendapatan maksimum yang
dicapai nelayan dari pengelolaan perikanan tersebut yakni Rp 12 789.25 juta,


pemenuhan konsumsi ikan 837.21 ton dan penyerapan tenaga kerja 248.44 ribu
HOK, sedangkan permintaan ekspor ikan seluruhnya terpenuhi (2 400 ton).
Pemanfaatan sumberdaya dan pencapaian target pengelolaan perikanan tangkap
tersebut dilakukan dengan mengoperasikan sejumlah alat tangkap Bubu, Pancing,
Bagan dan Purse seine, sedangkan Jaring Insang tidak direkomendasikan.
Pengoperasian keempat alat tangkap ikan menyebabkan ketersediaan effort
optimum penangkapan ikan, minyak tanah, bensin/solar dan es habis terpakai,
sehingga ketersediaannya masih perlu ditingkatkan.
4. Peningkatan ketersediaan minyak tanah dan solar/bensin, es dan harga ikan
menyebabkan intensitas penangkapan ikan dan kesejahteraan masyarakat nelayan
meningkat. Peningkatan kesejahteraan tersebut menyebabkan pemanfaatan
potensi sumberdaya perikanan tangkap naik menjadi 76.75% (sustainable karena
masih underfishing) dan sumberdaya minyak tanah dan es yang tersedia bagi
usaha perikanan tangkap juga habis terpakai (termanfaatkan seluruhnya).
5. Peningkatan harga BBM, kebutuhan pokok, es dan pemberlakuan retribusi
perikanan menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan tidak tercapai
dan potensi sumberdaya perikanan tangkap tidak termanfaatkan secara
maksimum. Walaupun terjadi peningkatan harga kebutuhan pokok dan
pemberlakuan retribusi usaha perikanan, namun jika diikuti dengan kebijakan
peningkatan ketersediaan BBM, es dan harga ikan, maka kesejahteraan
masyarakat nelayan masih dapat ditingkatkan dan melebihi target, sedangkan
potensi sumberdaya perikanan tangkap dapat termanfaatkan sampai pada tingkat
100% (khususnya pada ikan Pelagis Kecil dan ikan Karang).


9.2. Saran Kebijakan
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka dikemukakan beberapa
saran kebijakan, yakni :
1. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan Pelagis Kecil (telah overfishing) dan
ikan Karang, diperlukan upaya mencari areal penangkapan baru (new fishing
ground), sedangkan untuk kelompok ikan lainnya diperlukan peningkatan upaya
penangkapan sampai pada tingkat MSY dengan cara penambahan armada
penangkapan. Perluasan areal penangkapan berdampak pada perlunya motorisasi
bagi nelayan sehingga ketersediaan BBM dan es diperlukan dalam menunjang
operasi penangkapan ikan.
2. Peningkatan aksesibilitas penggunaan minyak tanah dan es yang ditunjang oleh
peningkatan harga ikan dapat meningkatkan pengalokasian jumlah Bubu, Pancing
dan Bagan. Kebijakan ini juga menyebabkan target pendapatan bersih nelayan,
permintaan ekspor, konsumsi ikan domestik terpenuhi dan berlebih (surplus),
penyerapan tenaga kerja dan pemanfaatan sumberdaya ikan terutama ikan Pelagis
Kecil, Pelagis Besar , ikan Demersal dan ikan Karang mengalami peningkatan.
3. Untuk mengantisipasi menurunnya upaya penangkapan ikan akibat peningkatan
harga input BBM, es dan kebutuhan pokok, maka diperlukan upaya pemerintah
untuk meningkatkan harga ikan bagi nelayan. Hal ini dapat dilakukan dengan
kebijakan peningkatan volume ekspor, sehingga harga ikan meningkat.
4. Jika peningkatan harga ikan tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka
disarankan untuk menurunkan harga BBM dan es.

Hal ini dapat dilakukan

dengan peningkatan aksesibilitas penggunaan (ketersediaan) kedua sumberdaya


terutama BBM minyak tanah dan es.

Kebijakan ini mampu meningkatkan


pencapaian dan target yang berlebih pada tujuan pendapatan maksimum nelayan,
permintaan ikan ekspor, konsumsi ikan domestik, pemanfaatan sumberdaya ikan
Pelagis Kecil dan ikan Karang.
5. Jika pengelolaan sumberdaya perikanan ditujukan bagi penyerapan tenaga kerja,
maka direkomendasikan penggunaan alat tangkap Pancing, Bagan dan Purse
seine.

Hal ini disebabkan oleh jumlah tenaga kerja yang diperlukan dalam

mengoperasikan alat tangkap tersebut lebih banyak dibanding alat tangkap Bubu
dan Jaring Insang. Namun konsekuensi yang harus diterima dari rekomendasi
tersebut adalah diperlukan modal yang cukup besar dan keterampilan spesifik
(khusus Purse seine) dalam pengoperasiannya, sehingga bagi nelayan yang
memiliki keterbatasan modal tidak mampu mengelola ketiga unit usaha
penangkapan tersebut.