Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROTEKNIK

Disusun Oleh:
Fitra Akbar Nugraha ( 061114041)
Maulana Gustiawan P

( 061114014)

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR

2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan
Praktikum Mikroteknik.
Dalam penulisan laporan praktikum ini penulis merasa masih
banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun
materi, mengingat akan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu
kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi
penyempurnaan pembuatan laporan ini.
Atas tersusunnya laporan ini, maka penulis menyampaikan
rasa hormat dan terima kasih kepada Ibu Dra. Triastinurmiatiningsih,
M.Si. selaku Dosen mata kuliah Mikroteknik, juga kepada asisten
praktikum, dan segenap pihak yang telah membantu hingga laporan
ini terselesaikan.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan
pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis
sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Bogor,
2017

22

Januari

Penyusun

MIKROKIMIA TUMBUHAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
1. Mengenali kandungan suatu jaringan dengan uji warna atau
pembentukan kristal.
1.2 Dasar Teori
Mikrokimia merupakan suatu metode percobaan yang bertujuan
untuk mengenali kandungan suatu jaringan tumbuhan dengan uji
warna atau pembentukan kristal.
Jaringan epidermis merupakan jaringan yang terletak paling
luar pada setiap organ tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, buah,
dan biji). Didalam sel dan jaringan epidermis terdapat berbagai
senyawa, antara lain kutin, lilin, garam, lignin, getah, dan senyawasenyawa lain. Senyawa tersebut hanya terdapat pada tumbuhantumbuhan tertentu dengan komposisi dan letak yang berbeda-beda.
Pada tumbuhan Heliconia senyawa lilin terdapat pada bagian bractea
bunganya.
Dinding sel jaringan epidermis bagian luar yang berbatasan
dengan
udara mengalami penebalan, sedangkan sel jaringan
epidermis bagian dalam yang berbatasan dengan jaringan lain,
dinding selnya tipis. Epidermis mengalami modifikasi membentuk
derivat jaringan epidermis, misal stomata, trikomata, spina, vilamen,
sel kipas, sel kersik (sel silika).

BAB II
METODOLOGI
2.1 Alat dan Bahan
Alat :
- Pisau
- Silet
- Pipet
- Gelas Objek
- Gelas Penutup
- Mikroskop
Bahan :

Bunga Papaitan (Thitonia sp.)


Daun alang-alang (Imperata cylindrica)
Braktea Heliconia sp
Eter
Kristal fenol
Entellan
Kloroform

2.2 Metode Kerja


1. Pigmen santofil

Petal Thitonia sp. disayat secara paradermal pada permukaan


atasnya. Sayatan diletakkan di atas gelas objek, ditetesi dengan
beberapa tetes klorofom selanjutnya segera ditetesi dengan
petroleum eter dan ditutup dengan gelas penutup. Diamati Kristal
yang terbentuk dibawah mikroskop.

2. Silika
Daun alang-alang disayat atau dikerik pada permukaan atasnya
dengan menggunakan pisau silet. Sayatan diletakan diatas gelas
objek,

kemudian

ditambahkan

Kristal

fenol

dan

dipanaskan

beberapa saat. Selanjutnya, ditutup dengan gelas penutup.


Diamati bibawah mikroskop, Kristal silika akan berwarna merah
muda.
3. Lilin
Disayat

secara

melintang

braktea

bunga

Heliconia

sp

dan

diletakkan diatas gelas objek, ditetesi dengan eter kemudian


ditutup

secepatnya

dengan

gelas

penutup.

Dibiarkan

eter

menguap secara perlahan. Diamati Kristal yang terbentuk dibawah


mikroskop.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Tabel hasil preparat mikrokimia tumbuhan.
Nama
Preparat

Perbesaran

Keterangan

10 x 10

Pigmen
xantofil
Bunga
Thitonia sp.

Stomata

Silika

Silika alangalang
(Imperata
cylindrica)

Lapisan lilin
Bractea
Heliconia sp
Lapisan
Lilin

3.2 Pembahasan
Mikrokimia adalah salah satu cabang dalam mikroteknik yang
digunakan dalam pengamatan bahan yang terkandung dalam suatu
jaringan

tanaman

(Margen1982).

Bahan

yang

digunakan

pada

praktikum kali ini adalah petal bunga Papaitan (Thitonia sp), daun
alang-alang (Imperata cylindrica), dan braktea bunga Heliconia sp.
Petal bunga Thitonia sp. mengandung pigmen xantofil yang
membuat petal berwarna kuning. Teknik mikrokimia digunakan untuk
mengamati kristal pada bagian petal. Larutan yang digunakan adalah
kloroform dan petroleum eter. Kloroform digunakan dalam proses
pemecahan dinding dan membran sel. Pemecahan terjadi akibat
perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel sehingga
metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dan
ekstraksi senyawa terjadi secara sempurna. Larutan petroleum eter

akan

bereaksi

dengan

metabolit

yang

diekstraksi

sehingga

membentuk bentukan kristal yang saling berikatan berwarna bening.


pada alang-alang terdapat sel silika yang terdapat pada bagian
epidermis. Untuk uji agar dapat melihat sel silika diperlukan larutan
Kristal fenol yang digunakan. Fenol (asam karbolat atau benzenol)
adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Pada
pengamatan, kristal silika yang teramati berwarna merah muda dan
berbentuk seperti tulang pipa yang memanjang. Fenol ini berfungsi
untuk memperjelas adanya silika yang terdapat pada epidermis daun
alang-alang yang telah dikerik. Dalam jaringan tumbuhan fungsi sel
gabus dan sel silika adalah untuk memperkuat permukaan daun.
Lapisan lilin pada braktea Bunga Heliconia yaitu berupa
timbunan lilin (lapisan) yang terbentuk seperti Kristal-kristal (butiran)
berwarna bening dengan tepi berwarna merah yang saling berikatan.
Lapisan lilin tersebut terletak antara kutikula dan epidermis.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Mikrokimia tumbuhan bertujuan untuk mengenali kandungan suatu
jaringan dengan uji warna atau pembentukan Kristal. Pada praktikum
kali ini, didapatkan kristal xantofil berwarna kuning pada petal bunga
Thitonia sp. dan kristal silika berwarna merah muda pada daun alangalang serta lapisan lilin pada bractea bunga Heliconia sp. yang
berwarna bening dan saling berikatan.

SEDIAAN SEGAR
MITOSIS TUMBUHAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Tujuan

Untuk mengamati proses pembelahan sel secara mitosis pada akar


bawang bombai
1.2

Dasar Teori

Mikroteknik merupakan suatu ilmu yang mempraktekan


mempersiapkan organ, jaringan atau bagian dari suatu jaringan untuk
dapat diamati. Pengamatan tersebut umumnya menggunakan
bantuan mikroskop karena pada objek yang akan diamati dan ditelaah
memiliki ukuran yang mikrokopis yang tidak dapat dilihat dengan
mata telanjang. Preparat pejetan atau yang disebut dengan squash
preparation merupakan preparat yang dibuat dengan cara memejet
sebuah objek diatas gelas objek atau kaca preparat dengan
menggunakan karet pensil. Preparat pejetan biasanya digunakan
untuk melihat proses mitosis pada akar bawang. Mitosis merupakan
pembelahan sel yang mana sel anakannya memiliki sifat yang sama
dengan induk selnya. Tahapan-tahapan dalam pembelahan mitosis
ialah profase, metafase, anafase dan telofase.
Mitosis pada tumbuhan terjadi selama mulai dari 30 menit
sampai beberapa jam dan merupakan bagian dari suatu proses yang
berputar dan terus-menerus. Mitosis terjadi di dalam sel somatik yang
bersifat meristematik. Mitosis biasanya diikuti dengan pembelahan sel
yang disebut dengan sitokenesis yang mana sel akan terpisah
menjadi dua. Mitosis adalah pembelahan sel yang terjadi secara tidak
langsung. Hal ini dikarenakan pada pembelahan sel secara mitosis
terdapat adanya tahapan-tahapan tertentu. Tahapan-tahapan (fasefase) yang terdapat pada pembelahan mitosis ini meliputi: profase,
metafase, anafase, dan telofase. Sel paling banyak dijumpai pada
bagian akar yaitu ujung akar. Pada mitosis, bahan inti sel terbagi
sedemikian rupa sehingga dari satu sel dihasilkan dua buah sel
anakan. Mitosis merupakan alat untuk duplikasi dan pemisahan (pada
anafase) kromosom. Biasanya, mitosis diikuti dengan pembelahan sel
yang disebut dengan sitokenesis dimana sel akan terpisah menjadi
dua oleh karena mitosis merupakan peristiwa yang penting bagi
kelangsungan hidup suatu organisme, dalam hal ini adalah tanaman
dan juga dapat bermanfaat untuk berbagai hal. Misalnya untuk
melakukan sebuah penelitian sehubungan dengan pertumbuhan serta
perkembangan tanaman.

BAB II

METODOLOGI

2.1.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum whole mount dapat dilihat pada
Tabel 1.
Alat :
1. Cawan
petri
2. Pipet tetes
3. Kaca objek
4. Kaca
penutup
5. Pinset
6. Mikroskop
7. Silet
8. Kamera
9. Botol film
10.
Lamp
u spirtus
Bahan :
1. Ujung akar bawang bombai
2. Kapas
3. Larutan
0,002
M
hydroxyquinolin
4. Larutan asam asetat 45%
5. HCL 1 N
6. Safranin

2.2.

Metode Kerja

8-

1. Persiapan material : umbi bawang merah ditumbuhkan dikapas


lembab dan bawang bombai ditumbuhkan didalam wadah botol
yang berisi air sampai bawang mengeluarkan akar.
2. Pra perlakuan : Ujung akar terpilih (ujung utuh dan berwarna
putih susu) dipotong sepanjang 1 2 cm, dicuci bersih dan
dimasukkan kedalam botol/tabung film hitam yang berisi
larutan 0,002 M 8 hydroxyquinolin, lalu disimpan pada suhu
20 C (lemari es) selama 3 5 jam
3. Pencucian : akar dicuci dalam air mengalir beberapa kali.
4. Fiksasi : akar setelah dicuci bersih direndam dalam larutan
asam asetat 45% selama 10 menit.
5. Maserasi : akar dimasukkan kedalam larutan maserasi berupa
campuran HCl 1 N dan Asam asetat 45% dengan perbandingan
3 : 1 kemudian diletakkan di penangas (waterbath) pada suhu
60 C selama 1 menit.
6. Pewarnaan : akar diletakkan pada gelas arloji dengan posisi
konsentris yaitu bagian ujung akar diletakkan dipusat selas
arloji, kemudian ditetesi aceto orcein dan dibiarkan selama 30
menit sambil ditutup dengan cawan petri agar pewarna tidak
menguap.
7. Pemencetan (Squash) : ujung akar dipotong 1 2 mm,
diletakkan pada gelas obyek lalu ditetesi 1 2 aceto orcein
baru. Kemudian specimen diberi gelas penutup dan dilewatkan
di atas lampu spirtus sambil dirasakan hangat kuku di kulit
tangan. Gelas obyek diletakkan di atas kertas tissue, lalu
dipukul-pukul halus dengan pensil berkaret hingga sel-sel pecah
dan menyebar merata. Terakhir bahan ditekan halus dengan ibu
jari lalu dihangatkan lagi.
8. Pengamatan specimen : specimen diamati di mikroskop
pertama-tama dengan pembesaran obyektif lemah (10x) guna
melihat keseluruhan sel. Setelah diperoleh sel-sel terpilih
diamati dengan perbesaran kuat (40x) sebelum didapatkan
preparat yang baik guna dijadikan preparat permanen.
.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.

Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum preparat segar mitosis dapat


dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil pengamatan pada praktikum preparat segar mitosis
Gambar hasil pengamatan Pembesaran (40x)

Akar bawang bombai(Allium ascalonicum)

Interfase

Sekat antar
sel

3.2.

Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan di bawah mikroskop dengan


perbesaran (40x) maka diperoleh gambar seperti di atas. Gambar
tersebut menunjukkan sel pada akar bawang bombai berada pada
fase interfase, hal ini ditunjukkan dengan DNA telah berlipat dua dan
tiap kromosom membelah memanjang menjadi dua bagian yang
masing-masing masih terikat oleh sebuah sentromer bersamaan.

Dari hasil pengamatan dapat diketahui tahapan-tahapan dalam


pembuatan preparat segar mitosis. Tahapan diawali dengan
mempersiapkan bahan dengan cara menumbuhkan akar bawang.
Kemudian mengambil akar bawang dan mencuci bersih di air
mengalir untuk membersihkan bahan dari kotoran pada saat
pertumbuhan sehingga mencegah kerusakan pada bagian akar
bawang. Setelah itu, memotong akar bawang dengan ukuran 1-2 cm
sebelum dimasukan kedalam campuran larutan fiksatif dan larutan
asam asetat selama 10 menit agar bahan tetap utuh. Tahapan
selanjutnya memasukan akar yang sudah di potong kedalam larutan
maserasi berupa campuran HCl 1 N dan Asam asetat 45% dengan
perbandingan 3 : 1 yang nantinya diletakkan di penangas (waterbath)
pada suhu 60 C selama 1 menit. Kemudian ditetesi safranin selama
60 menit, namun dalam pewarnaan menggunakan safranin lebih lama
waktu perendaman maka hasilnya akan lebih baik. Terakhir
melakukan squash atau pemencetan dengan menggunakan karet
pensil hingga bahan merata. Setelah tahapan tersebut, preparat
segar mitosis siap diamati di bawah mikroskop.
Dalam melakukan pengerjaan proses praktik ini yang terpenting
adalah waktu saat pemotongan akar, dimana waktu yang paling
efektif adalah pada pukul 07.00 pagi atau 15.00 sore. Karena apabila
diuar waktu tersbut kita akan mengalami sedikit kesulitan saat
megamati tahapan mitosis pada akar bawang hal ini disebabkan
sudah mengalami tahap akhirnya bila lewat jam yang efektif.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini yaitu sebagai
berikut :
- Tahap-tahap pembelahan pada tanaman bawang bombai
(Allium ascalonicum) berlangsung melalui beberapa fase yaitu
profase, metaphase, anaphase, dan telofase. Selain itu ada
pula interfase, yang merupakan fase antara mitosis satu
-

dengan mitosis berikutnya


Mitosis adalah peristiwa pembelahan sel yang terjadi pada selsel somatic (sel tubuh) dan sangat aktif pada jaringan
meristem,

yang

menghasilkan

dua

sel

anakan

memiliki

genotype yang sama dan identik dengan sel induknya.


Fungsi dari larutan asam klorida (HCl) 1 N adalah untuk
melunakkan

jaringan

ujung

akar

yang

akan

diamati.

Sedangkan safranin untuk memberikan warna yang berbeda


dan agar kromosom yang diamati akan terlihat lebih jelas.

WHOLE MOUNT

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum praktikum preparat whole mount yaitu untuk


mengetahui cara membuat sediaan organism atau bagian tumbuhan
secara utuh.
1.2.

Dasar teori

Metode Whole Mount merupakan metode dimana objek yang


akan dibuat sebagai preparat berada dalam keadaan utuh, yaitu
tanpa sectioning. Sehingga dengan kondisi tersebut dapat diamati
struktur utuh dari suatu organisme dan tentu saja objek akan terlihat
dengan jelas ketika diamati menggunakan mikroskop. Struktur yang
dapat diamati menggunakan metode Whole Mount ini adalah struktur
reproduksi maipun struktur vegetatif pada suatu organisme
Gambar yang dihasilkan oleh preparat whole mounth ini terlihat
dalam wujud utuhnya seperti ketika organisme tersebut masih hidup
sehingga pengamatan yang dapat dilakukan hanya terbatas terhadap
morfologi secara umum. Metode whole mounth mempunyai kelebihan
dan kelemahan masing-masing. (Anonym, 2011).
Tentu saja tanaman yang diamati haruslah berukuran kecil
sehingga dapat termuat pada objek glass. Sedangkan pada tanaman
yang agak besar bisa dilakukan pemangkasan agar menjadi lebih rapi

dan kecil. Metode whole mounth mempunyai kelebihan dan


kelemahan masing-masing. Kelebihan metode ini adalah dapat
mengamati seluruh bagian tanaman dengan jelas tiap bagianbagiannya. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini hanya bisa
dilakukan pada tanaman dengan ukuran yang kecil saja tidak bisa
tanaman yang besar sehingga metode ini perlu terus dikembangkan
dengan melakukan bebagai percobaan.(Hamid, 2010).

BAB II
METODOLOGI
2.1.

Alat dan Bahan

Alat :
1. Cawan
petri
2. Pipet
tetes
3. Kaca
objek
4. Kaca
penut
up
5. Pinset
6. Mikros
kop
7. Silet
goal
8. Kamer

a
9. Botol
film
10.
L
ampu
spirtus
Bahan :
1. Daun Cabai (Capsicum annum), lumut
tanduk
2. Alkohol 70% , 96%, absolute
3. Aquades
4. Safranin 1%
5. Asam nitrat 25%
6. Gliserin 30%
7. Kertas label
8. Xilol
9. HNO3 25%
10.
Asam asetat glacial

2.2.

Metode Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum Preparat Whole Mount


yaitu sebagai berikut:
1. Memfiksasi daun di dalam larutan fiksatif alkohol 70% selama 24
jam.

2. Dilakukan pencucian dengan membuang larutan fiksatif lalu


diganti akuades beberapa kali.
3. Dilunakkan daun dengan merendamnya di dalam larutan
HNO3 25% selama 15 30 menit.
4. Dicuci daun terlebih dahulu dengan akuades sebelum membuat
sayatan paradermal.
5. Melihat sayatan di bawah mikroskop apakah sayatan sudah cukup
tipis.
6. Diwarnai sayatan epidermis daun dengan pewarna safranin 1%
(aquosa ) selama 24 jam,
7. Dehidrasi , bahan direndam di gliserin 10%, 25% wadah terbuka
selama beberapa hari hingga gliserin menjadi murni .
8. Kemudain bahan di cuci dengan etanol 95% berulang kali. Setiap
ulangan direndam selama 15 menit
9. Dealkoholisasi bahan direndam dalam campuran etanol absolute
dan xilol dengan perbandingan 3:1, 1:1 , 1:3, masing masing
selama 5 menit. Selanjutnya masukan kedalam larutan xilol murni
2kali masing masing selama 5 menit.
10. Mengamati di bawah mikroskop.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.

Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum Preparat Whole Mount Stomata


adalah sebagai berikut:
Nama
Pembesaran
(10x)
Preparat
Sedian
utuh
Phaeoceros
carolinianus

Keterangan
Daun lumut
Phaeoceros
carolinianu
s

Sediaan utuh
daun
Capsicum
annum

stomat
a

3. 2.

Pembahasan

Dalam metoda ini dipersiapkan sediaan yang terdiri atas


keseluruhan organisme secara utuh. Yang menjadi pembatas adalah
faktor ukuran, ketebalan, serta tingkat transparansi sediaan yang kita
buat tersebut yang berkaitan dengan faktor pembesaran pengamatan
melalui mikroskop nantinya. Fiksasi adalah langkah awal yang penting
dalam melakukan teknik whole mount karena fiksasi berfungsi
menghentikan proses metabolisme secara cepat, mencegah
kerusakan jaringan, mengawetkan komponen-komponen sitologis dan
histologis, mengawetkan keadaan sebenarnya, mengeraskan materimateri yang lembek sehingga akan terjadi koagulasi protoplasma
maupun elemen-elemen di dalam protoplasma.
Daun cabai memiliki tekstur yang tidak terlalu tebal sehingga
setelah melakukan metode whoule mount ini terlihat tipis dan
transparan. Sehingga tidak kesulitan untuk melihat di bawah
mikroskop. Diamati haruslah berukuran kecil sehingga dapat termuat
pada objek glass. Metode whole mounth mempunyai kelebihan dapat
mengamati seluruh bagian tanaman dengan jelas tiap bagianbagiannya pada preparat yang berukuran tidak terlalu besar
Berdasarkan hasil pengamatan di bawah mikroskop dengan
perbesaran 10 x 10 maka diperoleh gambar seperti di atas. Gambar
tersebut menunjukkan sel yang jelas dimana dapat terlihat stomata
pada daun cabai, sedangkan pada preparat lumut tanduk terlihat
sediaan yang menunjukan keseluruhan jaringan pada lumut tersebut,
namun ada beberapa bagian yang masih terlihat tebal, hal ini karena
struktur lumut yang masih tebal.
Dalam
pengerjaan
ketika
melakukan
perendaman
menggunakan HNO3 terlalu lama maka akan menyebabkan strruktur
daun menjadi rusak dan hancur, hal ini terlihat Pada beberapa daun
yn sudah mulai melembek pada struktur yang didapat.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Pada mikroteknik metode sediaan utuh (Whole Mounts) dengan
metode ini dipersiapkan sediaan yang terdiri atas keseluruhan
organisme secara utuh. Yang menjadi pembatas adalah faktor ukuran,
ketebalan, serta tingkat transparansi sediaan yang kita buat tersebut
yang berkaitan dengan faktor pembesaran pengamatan melalui
mikroskop. Daun cabai memiliki tekstur yang tidak terlalu tebal
sehingga setelah melakukan metode whoule mount ini tipis dan
transparan. Sehingga tidak kesulitan untuk melihat di bawah
mikroskop.
Dapat terlihat stomata pada sediaan daun cabai
sedangkan pada sediaan lumut tanduk dapat dilihat struktur
jaringannya dimana masih ada beberapa yang belum terlihat
sempurna, hal ini dikarenakan struktuk organ tumbuhan ini yang
masih tebal

MASERASI TUMBUHAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Tujuan

Membuat sediaan untuk memperoleh gambaran bentuk utuh dari


sel-sel tumbuhan.
1.2. Dasar Teori
Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat
yang digunakan untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Prinsip
kerja dari teknik pembuatan ini adalah dengan cara memutuskan
lamella tengah dari sel tumbuhan. Pemutusan lamella tengah
bertujuan memisahkan bagian sel dengan sel lainnya sehingga sel
bisa dilihat secara satuan utuh. Teknik ini sangat bermanfaat. Banyak
penelitian melakukan teknik ini untuk mengekstraksi suatu zat atau
bagian tertentu dari sel tumbuhan (Rachman, A.N. dan R.M. Siagian
1976).

Maserasi adalah

proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan


beberapa

kali

pengocokan

atau

pengadukan

pada

temperatur

ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip


metode

pencapaian

konsentrasi

pada

keseimbangan.

Maserasi

merupakan proses dimana simplisia yang sudah halus memungkinkan


untuk direndam dalam menstrum sampai meresap dan melunakkan
susunan sel, sehingga zat-zat mudah larut akan melarut. Maserasi
merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan
dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyarian.
Cairan penyarian akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam

rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan
karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di
dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat akan
didesak

keluar.

Peristiwa

tersebut

berulang

sehingga

terjadi

keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.


Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat
aktif mudah larut dalam cairan penyarian, tidak mengandung zat
mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung
benzoin, stirak dan lain-lain. Keuntungan cara penyarian dengan
Maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan
sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara Maserasi adalah
pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (Fathiyawati
2008)
BAB II
METODOLOGI
2.1. Alat dan Bahan
Alat :
- Cutter
- Sentrifuse
- Cawan Petri

- Gelas Objek
- Gelas Penutup
- Mikroskop

Bahan :
-

Batang kayu tanaman Pinus sp dan Bauhinia sp


Safranin 1%
Etanol 30%, 50%, 70%, 95%, 100%
Xilol

2.2. Metode Kerja


Metode kerja menggunakan metode Schultze.
1. Dipotong kayu kecil-kecil sebesar korek api.

2. Potongan-potongan tersebut direbus dalam larutan asam


nitrat (HNO3) pekat yang ditambah sedikit kristal Kalium
Klorat (KClO3) sampai bahan berwarna putih dan lunak.
3. Material dicuci dengan air mengalir.
4. Material dihancurkan dengan gelas pengaduk hingga sel-sel
terlepas.
5. Diwarnai dengan safranin 1% selama 24 jam.
6. Dicuci dengan air (material diendapkan

dengan

cara

sentrifugasi).
7. Didehidrasi dengan etanol bertingkat: 30%, 50%, 70%, 95%
100%. Masing-masing selama 10 menit (dibantu dengan
sentrifugasi).
8. Dealkoholisasi menggunakan campuran etanol dan xilol
murni masing-masing selama 5 menit (Sentrifugasi).
9. Mounting dengan media entellan atau Canada balsam lalu
ditutup dengan gelas penutup.
10. Diberi label pada sisi kiri gelas objek
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Pengamatan


Tabel hasil preparat maserasi tumbuhan.
N
o

Nama Preparat

1.

Pinus sp

Perbesaran

Keterangan

(40x)
Terlihat
adanya
trakeida
yang
meruncing
pada
kedua ujungnya.

2.

Bauhinia sp

Terlihat
trakea

adanya

.
3.2. Pembahasan
Praktikum ini dilakukan untuk mengamati perbedaan struktur
pembuluh batang pada Pinus sp. (gimnospermae) dan Bauhinia sp.
(angiospermae (dikotil)). Tumbuhan berpembuluh atau yang juga
dikenal dengan sebutan Tracheophyta mempunyai jaringan khusus
yang disebut dengan jaringan pengangkut Xilem dan Floem. Fungsi
jaringan pengangkut ini adalah untuk membawa air serta zat-zat
makanan lain dari hasil fotosintesis yang disalurkan ke seluruh
bagian tumbuhan.
Pinus sp termasuk kayu daun jarum dan terdapat noktah
dalam trakeid. Trakeid yang merupakan bagian terbesar kayu dari
spesies kayu daun jarum, adalah pipa-pipa memanjang dan
berongga meruncing pada kedua ujungnya, dengan bagianbagian
tipis (noktah) pada dinding selnya. Di dalam batas noktah terdapat
satu lubang sempit yang menghubungkan rongga noktah dengan
rongga sel yang disebut saluran noktah. Selaput noktah berfungsi
sebagai sekat yang Glass tube Termite permeable, sehingga mudah
dilalui bahan pengawet dari trakeid ke trakeid lainnya (Hunt dan
Garrat 1986).
Angiospermae merupakan tumbuh berbiji tertutup. Ada dua
jenis tumbuhan angiospermae yaitu dikotil dan monokotil. Batang

angiospermae pada praktikum ini diwakili oleh batang Bauhinia sp.


Batang angiospermae memiliki silinder pembuluh primer yang
terputus-putus pada tiap ruas, karena keluarnya satu atau lebih
berkas pengangkut yang masuk ke dalam daun. Pada Bauhinia sp.
penyusun xylem terdiri dari trakea dan trakeid. Pada trakea
terdapat butiran kecil hanya pada ujungnya. Berbeda dengan
trakeid yang sepanjang trakeid terdapat butiran-butiran kecil
(Mandang, Y.I dan I.K.N. Pandit. 1997).

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa
Semua

tumbuhan

berpembuluh

mempunyai

trakeida,

namun

trakea hanya terdapat dalam tumbuhan Angiospermae. Pada Pinus


sp terlihat hanya ada Trakeid yang bentuknya seperti pipa-pipa

memanjang dan berongga meruncing pada kedua ujungnya,


dengan

bagianbagian

tipis

(noktah)

pada

dinding

selnya.

Sedangkan pada Bauhinia terlihat adanya trakea dan trakeid. Pada


trakea terdapat butiran kecil hanya pada ujungnya. Berbeda
dengan trakeid yang sepanjang trakeid terdapat butiran-butiran
kecil.

DAFTAR PUSTAKA
Fathiyawati. 2008. Uji Toksisitas Ekstrak Daun Ficus racemosa
terhadap Artemia salina Leach dan Profil Kromatografi Lapis
Tipis. Surakarta: Universitas Muhammadiyah press.

Rachman, A.N. dan R.M. Siagian. 1976. Dimensi Serat Jenis Kayu
Indonesia, Bagian III. Laporan No. 75. Bogor: Lembaga
Penelitian Hasil Hutan.
Imaniar, E.F. dan Pharmawati, M., 2014, Kerusakan Kromosom Bawang
Merah (Allium cepa) Akibat Perendaman dengan Etidium
Bromida, J. Simbiosis, 2 (2) : 173-183
Hamid, Huzaifah. 2010. PREPARAT WHOLE MOUNT Kutu Daun Bunga
(Triboliun confusum).
http://zaifbio.wordpress.com/category/mikroteknik/. Diakses,
Selasa 3 maret 2012.
Anonim. 2011. Whole Mount.
http://abdisukamaenkromosom.wordpress.com/2011/05/31/s
ediaan-utuh-whole-mount/. Diakses, Selasa 3 maret 2012.