Anda di halaman 1dari 39

PANDUAN PENYUSUNAN STUDI KELAYAKAN

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS)


TERPUSAT

DIREKTORAT ANEKA ENERGI BARU DAN ENERGI TERBARUKAN


DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
2014

Sambutan
Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan
Energi Surya adalah sumber dari segala sumber energi, pemanfaatan energi yang
sangat besar potensinya ini dapat kita lakukan dengan menggunakan teknologi
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Teknologi PLTS yang kita gunakan adalah
dengan cara memanfaatkan sinar matahari melalui modul fotovoltaik yang dapat
mengubahnya menjadi energi listrik dan rangkaian modul fotovoltaik ini dapat kita
susun menjadi suatu PLTS Terpusat.
Sebagai salah satu jenis sumber energi yang terbarukan dan ramah lingkungan,
pemanfaatan energi matahari melalui PLTS Terpusat ini memiliki prospek yang
sangat menjanjikan. Namun untuk mewujudkannya diperlukan suatu perencanaan
yang sistematis dan terukur, tentunya dari perencanaan yang baik akan
menghasilkan PLTS Terpusat yang memiliki efisiensi tinggi dan berkelanjutan.
Salah satu aspek penting dalam sebuah perencanaan PLTS Terpusat adalah
sebuah studi kelayakan. Melalui studi ini kita akan dapat menilai kelayakan suatu
perencanaan pembangkit PLTS dari berbagai aspek. Kelayakan yang diperoleh dari
studi ini akan menuntun kita kepada pemanfaatan energi surya yang maksimal.
Dengan tujuan untuk memperoleh studi kelayakan yang terstandar, Direktorat
Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi c.q Direktorat Aneka
Energi Baru dan Energi Terbarukan menyusun Panduan Studi Kelayakan PLTS
Terpusat. Panduan ini berisi rincian yang harus diperhatikan dan diperhitungkan
agar PLTS yang akan dibangun layak secara teknis dan biaya serta listrik yang
dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang dilayaninya.
Akhirnya, semoga dengan adanya buku Panduan Studi Kelayakan PLTS Terpusat
ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berpartisipasi dalam
pengembangan PLTS Terpusat di Indonesia.
Terima kasih.

Jakarta, September 2014


Direktur Aneka Energi Baru
dan Energi Terbarukan

Ir. Alihuddin Sitompul, M.M

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa Buku
Panduan Penyusunan Studi Kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
Terpusat telas selesai disusun.
Buku
panduan ini dimaksudkan untuk memberikan petunjuk kepada
pemerintah daerah provinsi dan atau kabupaten/kota maupun instansi terkait
lainnya. dalam menyusun dan menilai studi kelayakan yang dibuat inisiator dalam
upaya memenuhi kaidah dan asas kelayakan dari berbagai aspek. Selanjutnya studi
kelayakan tersebut diajukan untuk mendapat alokasi pembiayaan baik anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN), Dana Alokasi Khusus (DAK), maupun
anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tingkat provinsi dan atau
kabupaten/kota. Selain pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, buku panduan ini
dapat menjadi acuan bagi investor atau pihak yang berkepentingan dengan
pengembangan energi listrik tenaga surya. Panduan teknis ini bersifat dinamis
sehingga secara periodik dapat ditinjau kembali dan disesuaikan dengan kemajuan
teknologi yang ada. Pemerintah atau badan lainnya yang ditunjuk Pemerintah
diharapkan selalu dapat meninjau kembali panduan teknis ini, bila ada perubahan
yang diperlukan. Selain itu, panduan teknis ini bersifat tidak mengikat, diperlukan
peran aktif dari pemilik proyek, perencana dan pabrikan serta pelaksana. Peran
paling penting adalah pada pemilik proyek dimana peran pengawasan langsung
berada dalam pelaksanaannya. Sifat paling penting dari panduan teknis ini adalah
tidak membatasi perkembangan PLTS Terpusat dan menjadi eksklusif namun
sebaliknya panduan teknis ini tidak memberikan kelonggaran yang berlebihan
sehingga meninggalkan kualitas yang diperlukan untuk keberlanjutan.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih atas kerjasama seluruh pihak
yang terlibat dalam penyusunan buku panduan ini dan kami juga menyampaikan
permohonan maaf apabila ada hal yang kuran. Masukan dan saran untuk
penyempurnaan buku panduan ini sangat kami harapkan.

ii

DAFTAR ISI
SAMBUTAN ............................................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................... iv
DAFTAR SATUAN .................................................................................................... v
BAB 1
PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Maksud dan Tujuan ...................................................................................... 1
1.3 Ruang Lingkup Kegiatan .............................................................................. 1
BAB 2
GAMBARAN UMUM ................................................................................. 1
2.1 .... Gambaran Umum Lokasi atau Desa Dimana PLTS Terpusat akan Dibangun
............................................................................................................................... 1
2.1.1 Deskripsi Lokasi .................................................................................... 1
2.1.2 Akses ke Lokasi ..................................................................................... 1
2.1.3 Akses ke Jaringan PLN ......................................................................... 2
2.1.4 Hasil Survey Lokasi Pembangunan PLTS Terpusat .............................. 2
2.2 Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat ................... 3
BAB 3
ASPEK KELAYAKAN................................................................................ 4
3.1 Aspek Legal ................................................................................................. 4
3.2 Aspek Sosial Ekonomi ................................................................................. 4
3.3 Aspek Teknis................................................................................................ 4
3.3.1 Perhitungan Jumlah Energi Beban ........................................................ 5
3.3.2 Perhitungan Kapasitas Baterai .............................................................. 5
3.3.3 Perhitungan Kapasitas Modul surya ...................................................... 6
3.3.4 Kebutuhan Balance-of-System (BOS) yang harus dipenuhi .................. 6
3.4 Aspek Pengelolaan ...................................................................................... 7
3.5 Aspek Usulan biaya operasional dan pemeliharaan .................................... 8
BAB 4
RANCANGAN TEKNIS ............................................................................. 9
4.1 Rancangan Sistem dan Konstruksi .............................................................. 9
4.2 Rencana Anggaran Biaya Pembangunan PLTS Terpusat ........................ 18
4.3 Gambar Teknik........................................................................................... 22
BAB 5
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ..................................................... 22
Lampiran 1 .............................................................................................................. 23
Lampiran 2 .............................................................................................................. 30

iii

DAFTAR TABEL
Tabel 2-1 Tabel Aksesibilitas Personil ke Lokasi ...................................................... 1
Tabel 2-2 Tabel Aksesibilitas Barang ke Lokasi ........................................................ 2

DAFTAR GAMBAR
Gambar 3-1 Struktur Organisasi Pengelola PLTS Terpusat ...................................... 7
Gambar 3-2 Contoh Biaya Operasional .................................................................... 8

iv

DAFTAR SATUAN

Ah

- Ampere hours

kWp - kilo watt peak


lm

- lumen

PLTS - Pembangkit Listrik Tenaga Surya


PV

- Photovoltaic

- Volt

Wh

- watt hours

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Latar belakang perlunya pembangunan PLTS terpusat

1.2

Maksud dan Tujuan


Mengusulkan pembangunan PLTS terpusat
Memenuhi kebutuhan masyarakat akan listrik dengan memanfaatkan
energi matahari

1.3

Ruang Lingkup Kegiatan


Merencanakan pembangunan PLTS, Jaringan Distribusi, Sambungan
Rumah dan Alat Pembatas (MCB) dan Pengukur (Energy Limiter), Alat
Proteksi
Menyiapkan Lembaga Pengelola dan skema pengelolaan
Menyusun Rencana Anggaran Biaya Pembangunan PLTS Terpusat

BAB 2 GAMBARAN UMUM


2.1

Gambaran Umum Lokasi atau Desa Dimana PLTS Terpusat akan


Dibangun
2.1.1 Deskripsi Lokasi
Nama dusun, desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi
Koordinat geografis
2.1.2 Akses ke Lokasi
Tabel aksesibilitas personil ke lokasi (dilengkapi peta arah lokasi)
Tabel 2-1 Tabel Aksesibilitas Personil ke Lokasi

No

Rute

Jarak (km)

Waktu
tempuh

Akses terdekat
ke lokasi dari
bandara

2
3

Alat
transportasi

Kondisi jalan

Tabel aksesibilitas barang ke lokasi (dilengkapi peta arah lokasi)


Tabel 2-2 Tabel Aksesibilitas Barang ke Lokasi

No

Rute

Jarak (km)

Waktu
Alat
Tempuh transportasi

Kondisi jalan

Akses terdekat
ke lokasi dari
pelabuhan
terdekat

2
3
Potensi hambatan dalam pencapaian ke lokasi (jenis transportasi dan
frekuensi, dan bulan kondisi rawan transportasi, kondisi cuaca)
2.1.3 Akses ke Jaringan PLN
Informasi jarak lokasi ke jaringan distribusi PLN terdekat (jaringan
tegangan rendah)
Rencana pengembangan PLN kedepan di lokasi kegiatan (dilengkapi surat
pernyataan PLN setempat bahwa PLTS tidak tumpang tindih dengan
program listrik desa PLN)
2.1.4 Hasil Survey Lokasi Pembangunan PLTS Terpusat
Jumlah rumah, Jumlah Fasum, Jumlah lampu PJU (1 lampu setiap dua
tiang listrik) (dilengkapi daftar nama calon konsumen)
Kerapatan rumah (jarak pembangkit ke titik beban terjauh maksimal
2 km)
Data kelompok pemukiman di sekitar lokasi (jumlah rumah, jarak dan arah
desa tetangga, sudah berlistrik atau belum)
Ketersedian lahan/kondisi lahan (luas, kontur, elevasi, bebas banjir/longsor,
vegetasi sekitar, jenis tanah (basah, kering, atau berbatu), koordinat lokasi,
layout
system
dan
jaringan
distribusi,
geologi,
kegempaan,
kegunung apian, cuaca, iklim, musim, suhu udara, kelembapan, curah
hujan, kecepatan angin, iso keraunik level/tingkat intensitas petir)

2.2

Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat


Peralatan utama PLTS Terpusat terdiri dari:
1) Sel dan Modul Fotovoltaik
Sel fotovoltaik mengubah radiasi matahari menjadi listrik. Untuk
mendapatkan daya dan/atau tegangan listrik yang diinginkan, sel
fotovoltaik dihubungkan secara seri, parallel, atau kombinasi seri-paralel
kemudian dilaminasi dan menjadi suatu kesatuan rangkaian yang disebut
modul fotovoltaik.
2) Baterai
Baterai memenuhi dua tujuan penting dalam sistem fotovoltaik, yaitu
untuk memberikan daya listrik kepada sistem ketika daya tidak disediakan
oleh array panel-panel surya, dan untuk menyimpan kelebihan daya yang
ditimbulkan oleh panel-panel setiap kali daya itu melebihi beban.
3) Pengendali Baterai (Solar Charge Controller)
Fungsi alat pengendali pada umumnya:
Mengatur transfer energi dari modul PV baterai beban, secara
efisien dan semaksimal mungkin;
Mencegah baterai dari:
Over charge :
Pemutusan pengisian (charging) baterai pada tegangan batas atas,
untuk menghindari gasing, yang dapat menyebabkan penguapan
air baterai dan korosi pada grid baterai;
Under discharge :
Pemutusan pengosongan (discharging) baterai pada tegangan
batas bawah, untuk menghindari pembebanan berlebih yang dapat
menyebabkan sulfas baterai;
Membatasi daerah tegangan kerja baterai;
Menjaga/memperpanjang umur baterai;
Mencegah beban berlebih dan hubung singkat;
Melindungi dari kesalahan polaritas terbalik;
Memberikan informasi kondisi sistem pada pemakai.
4) Inverter
Inverter adalah alat yang berfungsi untuk mengubah arus searah (direct
currentDC) yang dibangkitkan oleh sistem modul fotovoltaik dan
disimpan ke dalam baterai menjadi arus bolak balik (alternating current
AC) sehingga dapat didistribusikan dan digunakan untuk memenuhi
kebutuhan listrik sebagaimana disediakan oleh pembangkit konvensional
(diesel genset dari PLN).

5) Jaringan Distribusi Tegangan Rendah


Jaringan tenaga listrik yang dioperasikan dengan tegangan rendah yang
mencakup seluruh bagian jaringan tersebut beserta perlengkapannya
6) Sambungan Rumah (titik terdekat dari tiang ke rumah)
Saluran listrik yang menghubungkan instalasi pelanggan dan jaringan
distribusi.
7) Instalasi Pelanggan
Instalasi listrik yang terpasang sesudah meter di rumah atau pada
bangunan.

BAB 3 ASPEK KELAYAKAN


3.1

3.2

Aspek Legal

Status tanah (milik pemerintah/adat/pribadi)


Bila menggunakan dana APBN tinjauan aspek legal lebih ditekankan
pada kejelasan status lahan yang akan digunakan sebagai lokasi PLTS
agar tidak terjadi masalah atau sengketa setelah PLTS dibangun,
dilengkapi dengan surat pernyataan sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Kegiatan
Fisik Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan, dan dalam membuat surat
pernyataan agar berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemilik tanah
/kepala adat/kepala dusun.

Tidak berada dalam wilayah HPT/Konservasi.

Aspek Sosial Ekonomi

Aspek ini bertujuan untuk menilai kemampuan masyarakat dalam


membiayai pengoperasian dan pemeliharaan PLTS.

Menggambarkan berapa
jumlah penduduk, bagaimana mata
pencaharian, sumber perekonomian, pola konsumsi energi untuk
penerangan selama ini. Selain itu, Berapa rata-rata pendapatan warga di
desa, bagaimana tingkat pendidikan di desa tersebut, dan lain-lain.

3.3

Aspek Teknis
Aspek teknis merupakan perhitungan besarnya kapasitas PLTS yang akan
dipasang dengan melakukan perhitungan beban dilanjutkan dengan perhitungan
baterai dan modul surya yang diperlukan.

3.3.1 Perhitungan Jumlah Energi Beban


Beban yang dihitung merupakan kebutuhan energi listrik yang akan dicatu
daya oleh PLTS. Untuk melaksanakan perhitungan beban ditetapkan terlebih dahulu
efisiensi inverter dan sistem tegangan yang akan di pakai.
Contoh perhitungan:
Jumlah kebutuhan daya / energi listrik dengan daya minimal Rumah Tangga
minimal 300-350 Wh/hari/unit
Fasilitas umum maksimal 600-700 Wh/hari/fasum (atau dapat disesuaikan
dengan kebutuhan)
PJU 50 Wh/hari/unit
Cadangan energi 30% untuk antisipasi pertambahan penduduk dan
penurunan kinerja komponen PLTS
A1 Efisiensi Inverter (desimal) : 0,95
A2 Tegangan sistem baterai (48V / 120V / 240V) : 48 volt
A3 Keluaran Tegangan Inverter: (230/400) volt
Kemudian dilakukan perhitungan jenis beban dan energi yang dbutuhkan seperti
tabel berikut.
Jenis
Beban

Jumlah

A4
Kuota

A5
Total Energi

Energi
(Wh)

Jumlah x A4
(Wh/hari)

Rumah

100

300

30000

Fasum

600

1800

PJU

37

50

1850

SUB TOTAL 1

33650

Cadangan Energi (30%)

10,095

SUB Total 2

43745

Rugi-rugi sistem (30%)

18747

Total

62492

A6 Jumlah energi beban per-hari (jumlah A5) : 62492 Wh


A7 Jumlah kebutuhan AH beban per-hari (A6/A2) :62492/48 =1301 Ah
3.3.2 Perhitungan Kapasitas Baterai
B1 Jumlah hari tanpa matahari yang dibutuhkan: 3 hari
B2 DOD (depth-of-discharge) batas pengambilan energi (desimal) = 0,8
B3 Kapasitas baterai yang dibutuhkan ((A7x B1) / B2)= 4878.75 Ah

B4 Kapasitas Amp-hour baterai yang dipilih 1000 Ah (800/1000/1200/1500/200) Ah


B5 Jumlah baterai dihubung parallel (B3 : B4)= 5 (dibulatkan ke atas)
B6 Jumlah baterai dihubung seri (A2 : tegangan baterai yang dipilih) = 24
B7 Jumlah total baterai (B5 x B6) = 120
B8 Total kapasitas amp-hour baterai (B5 x B4) = 5000 Ah
B9 Total kapasitas kilowatt-hour baterai ((B8 x A2) / 1000) = 240 kWh
3.3.3 Perhitungan Kapasitas Modul surya
C1 Jumlah total kebutuhan energi beban per-hari (A6) 62492 Wh
C2 Keluaran energi rangkaian modul yang dibutuhkan (C1) 62492 Wh
C3 Tegangan modul pada daya maksimum pada kondisi STC (24 x 0 .85)= 20,4 V
C4 Daya maksimum modul surya pada kondisi STC 200 watt
C5 Jam matahari (peak sun hours) pada bulan yang dipilih 4 hours (4 jam)
C6 Keluaran energi modul surya per hari (C4 x C5) 800 Wh
C7 Keluaran energi pada temperatur operasi (DF x C6) = 0,8 x 800 = 640 Wh
DF = 0.80 untuk lokasi yang mempunyai temperatur ambient tinggi.
C8 Jumlah modul surya untuk memenuhi kebutuhan beban (C2 : C7) = 98 modul.
Kapasitas pembangkit (C4xC8)= 19600 Wp dibulatkan 20 kWp
3.3.4 Kebutuhan Balance-of-System (BOS) yang harus dipenuhi
1

Pengkabelan harus memadai untuk memastikan bahwa losses kurang dari


1% dari produksi energi.

MCB rating dan jenisnya harus memenuhi kebutuhan tegangan dan arus

Semua baterai yang di seri harus diproteksi dengan Fuse

Antar komponen utama dilengkapi dengan saklar pemutus (disconnecting


switch)

Junction Box memenuhi persyaratan IP 65

Koneksi antar modul surya menggunakan koneksi plug-in socket

Konektor baterai menggunakan tembaga dan diberi pelindung isolator agar


aman bagi operator dan dilengkapi proteksi baterai

Dari field ke power house menggunakan kabel dengan spesifikasi untuk


ditanam didalam tanah

Kabel daya dari baterai ke inverter, tipe NYAF

10 Kabel power dari inverter ke panel distribusi, tipe NYY


Resistansi pembumian harus 5 ohm (SNI). Untuk memperoleh resistansi
11 yang terendah dapat digunakan beberapa batang (rod) pembumian yang
disatukan

3.4

Aspek Pengelolaan
Tugas dan kewajiban Pemda sebelum melaksanakan pembangunan PLTS:

Menetapkan lembaga pengelola oleh kepala daerah tingkat II

Menetapkan iuran berdasarkan kesepakatan bersama

Menetapkan Standar operasi prosedur pengeoperasian dan pemeliharaan


PLTS

Menyediakan biaya operasi dan perawatan (dilampirkan surat kesediaan


Pemda)

Melakukan pembinaan kepada lembaga pengelola (dilampirkan surat


kesediaan Pemda)

Tinjauan aspek manajemen dan operasional lebih ditekankan kepada


ketersediaan tenaga kerja dan organisasi yang akan mengelola dan memelihara
PLTS Terpusat.

Gambar 3-1 Struktur Organisasi Pengelola PLTS Terpusat

Pelatihan dan panduan tentang mengelola dan memelihara PLTS mutlak


diperlukan bagi organisasi yang dibentuk. Pelatihan panduan tersebut meliputi:

Pelatihan cara pengoperasian PLTS Terpusat;

Pelatihan perawatan PLTS Terpusat sehingga mampu mengatasi persoalan


teknis yang timbul selama pengoperasian PLTS Terpusat;

Pelatihan mengenai perawatan rutin seperti pembersihan permukaan modul


surya, perbaikan kecil bangunan sipil, dll;

Panduan mengenai pengelolaan dana untuk perbaikan keperluan besar


seperti kerusakan bangunan sipil, peralatan mekanikal-elektrikal, jaringan
transmisi, dll;

Panduan iuran bagi masyarakat setempat agar masyarakat setempat dapat


memperoleh nilai ekonomi dari pengoperasian dan keberlangsungan PLTS
Terpusat.

Menyiapkan panduan pengelolaan keuangan, administrasi, daftar spare part

3.5

Aspek Usulan biaya operasional dan pemeliharaan

Biaya Operasional

Sumber: GIZ

Gambar 3-2 Contoh Biaya Operasional

Biaya penggantian komponen/peralatan utama seperti baterai pada saat umur teknis habis (antara 3-5 tahun)

BAB 4 RANCANGAN TEKNIS


4.1

Rancangan Sistem dan Konstruksi


a. Modul Surya
Jenis modul adalah Mono/Polycrystalline Silicon.
Output Modul Surya (Peak Power Output) per unit, karakteristik hasil
tegangan tes Produsen terbaca pada modul (Manufacture, Serial
Number, Peak Watt Rating, Peak Current, Peak Voltage, Open Circuit
Voltage dan Short Circuit Current).
Efisiensi modul surya minimum 16%.
Rangkaian modul surya mempunyai kapasitas total sesuai dengan
Hasil perhitungan kapasitas system.
Koneksi antar modul surya menggunakan koneksi plug-in socket.
Keluaran array modul melalui Combiner Box sebelum masuk ke
Inverter.
Label data kinerja (performance) modul ditempelkan pada bagian
belakang modul surya.
b. Inverter
Inverter digunakan untuk mengubah arus searah dari modul surya
menjadi arus bolak balik dan selanjutnya akan didistribusikan ke beban
melalui jaringan distribusi listrik. Untuk PLTS ini akan dipakai 2 (dua) jenis
inverter, yaitu inverter on-grid (solar inverter) dan inverter off-grid (battery
inverter). Kedua inverter dapat terkoneksi melalui jaringan listrik AC saja,
tanpa jaringan komunikasi lain. Hal ini memungkinkan komunikasi antar
inverter on-grid dan off-grid yang terpisah-pisah dengan jarak yang jauh.
Dengan fitur ini, semua inverter dapat berkomunikasi hanya dengan
menggunakan AC power line tanpa perlu tambahan jaringan komunikasi
lainnya. Dengan mengubah frekuensi AC, inverter juga mempunyai
kemampuan untuk dapat meregulasi fluktuasi beban atau Frequency-Shift
Power Control (FSPC).
Pada siang hari, seluruh energi yang dihasilkan oleh modul surya akan
dialirkan langsung oleh inverter on-grid langsung ke rumah-rumah
pengguna/fasilitas umum (beban). Jika beban yang dilayani lebih kecil
dari energi yang dihasilkan oleh modul surya, maka kelebihan energi
tersebut akan dipakai untuk mengisi (charging) baterai. Pada saat baterai
dalam kondisi penuh, maka inverter off-grid akan secara otomatis
menghentikan suplai ke baterai. Sebaliknya, jika beban yang dilayani
9

lebih besar dari energi yang dihasilkan atau pada malam hari, maka
inverter off-grid akan mengkonversi energi yang tersimpan pada baterai
(discharging) untuk melayani beban.
Inverter yang digunakan juga mempunyai fleksibilitas yang
memungkinkan penambahan jumlah inverter ketika ada kenaikan
permintaan daya. Inverter yang digunakan juga mempunyai kemampuan
untuk bisa beroperasi paralel ketika kebutuhan daya meningkat didaerah
tersebut dan mempunyai kemampuan untuk ditingkatkan dari satu-fasa
menjadi tiga-fasa. Inverter juga mempunyai kemampuan untuk bisa
diintegrasikan (hybrid) dengan pembangkit listrik dengan sumber energi
terbarukan lainnya seperti energi angin, energi air atau bahkan dengan
PLTD. Hal ini dilakukan mengingat PLTS ini dapat diinterkoneksikan
dengan jaringan PLN setempat atau dengan jaringan yang dikelola secara
swadaya oleh pemerintah daerah/masyarakat setempat. Lokasi PLTS
seluruhnya berada pada pulau-pulau terluar dan daerah terpencil,
sehingga inverter diharapkan dapat beroperasi handal pada kondisikondisi dengan jenis-jenis beban (load) yang berbeda-beda dengan
pengawasan dan supervisi yang minimal, serta terhadap kondisi di
lapangan yang cenderung korosif.
Tegangan output

: 220-230 Vac, 50Hz, single phase

Tegangan input dc

: minimum 48 Vdc

Gelombang output

: sinus murni

Efisiensi

: 95 %

Total Harmonic Distortion (THD)

: 5%

Sistem proteksi

: over current, over load, short


circuits,
over
temperature,
over/under voltage, reverse polarity

Indicator (LCD display)

: inverter voltage & current, inverter


frequency, battery voltage &
current, load current & voltage

Inverter dapat bekerja secara paralel (parallel operation/stacking)


Dilengkapi dengan management control untuk mengatur energi yang
masuk dan keluar dari inverter.
Memiliki fitur battery temperature sensor dan battery equalization untuk
mencegah kerugian kapasitas baterai dan life time baterai.
Dilengkapi dengan fitur data logger dan communication/interface untuk
komunikasi data dengan Remote Monitoring System.

10

c. Solar Charge Regulator (SCR)


Kontrol Sistem Algoritma : MPPT (Maximum Power Point Tracking)
High Efficiency

: >98%

Tegangan Input Nominal : minimum 48 Vdc


Memiliki sistem pengisian baterai yang cepat dan aman.
Proteksi sistem

: Reverse polarity protection


High battery voltage protection
Low battery Voltage Protection
Overload protection
PV Ground Fault Protection

Untuk SCR yang tidak dilengkapi fitur PV Ground Fault Protection


secara terintegrasi dapat menambahkan Ground Fault Protection
secara terpisah.
d. Baterai (Battery Bank)
Jenis baterai adalah VRLA Gel (Valve Regulated Lead Acid), OPzV
Stationary Battery.
Deep cycle, life cycle minimum 1.200 pada DOD (Depth of Discharge)
80%.
Kapasitas baterai menyesuaikan dengan hasil perhitungan kapasitas
system. Tegangan nominal 2 volt/sel.
Umur teknis (float design life) minimal 10 (sepuluh) tahun pada suhu
20oC.
Keluaran battery bank dengan tegangan nominal minimum 48 Vdc.
Penempatan baterai memperhitungkan faktor keamanan (safety) bagi
peralatan yang lainnya dan memperhitungkan aspek-aspek teknis
lainnya yang dapat mempengaruhi umur teknis baterai (life time).
Konektor baterai menggunakan tembaga dan diberi pelindung isolator
agar aman bagi operator.
Dilengkapi proteksi baterai, dengan kapasitas minimum sesuai dengan
hasil perhitungan kapasitas sistem, sebelum masuk ke inverter.
Dudukan baterai terbuat dari bahan metal (tidak boleh terbuat dari
kayu) tahan korosi. Konstruksi dudukan baterai dilengkapi dinding
pembatas pada sisi luar setinggi minimal 10 cm, sedemikian sehingga
baterai dapat berdiri dengan kokoh.

11

d. Remote Monitoring System (RMS)


Parameter-parameter, data-data dan informasi-informasi dari sebuah
sistem PLTS sangat diperlukan untuk menganalisis kehandalan fungsi
dan jumlah energi yang diproduksi. Oleh sebab itu, sebuah Remote
Monitoring System yang dapat diakses secara remote melalui ethernet
atau internet web browser (melalui sebuah modem GPRS/GSM) sangat
diperlukan. Interface dilengkapi dengan koneksi RS-485, jika sifatnya
optional maka ditawarkan dalam penawaran. RMS tidak perlu dipasangi
komputer (PC) untuk monitor secara lokal.
Perlu ditambahkan 1 (satu) buah pyranometer untuk setiap lokasi untuk
mengukur radiasi matahari (data-data pyranometer dapat disajikan pada
RMS). Spesifikasi pyranometer mengikuti standar ISO 9060 : 1990
second class, waterproof, field of view 180o dan output hasil pengukuran
dapat dibaca pada RMS.
f.

Kabel Daya (Power Cable), Pentanahan (Grounding) Pengkabelan,


Pentanahan, dan Manajemen Pengkabelan
Kabel koneksi antar modul surya diletakan pada cable tray/trunk. cable
tray/trunk diletakkan di bawah PV array dan menempel pada
penyangga PV array.
Kabel daya dari combiner box ke inverter (menggunakan kabel
NYFGbY/NYRGbY
(SPLN/SNI).

dengan

diameter

menyesuaikan

besar

arus

Kabel daya dari PV Array ke battery inverter ditanam di tanah minimal


30 cm, dan masuk ke dalam rumah pembangkit (power house) melalui
pondasi yang dilengkapi dengan cable conduit.
Kabel daya dari baterai ke inverter, tipe NYAF dengan diameter
menyesuaikan arus pada baterai (SPLN/SNI).
Kabel power dari inverter ke panel distribusi, tipe NYY dengan diameter
menyesuaikan arus pada inverter (SPLN/SNI).
Setiap penyambungan kabel menggunakan terminal kabel dan
konektor (bukan sambungan langsung) yang sesuai yang terisolasi
dengan baik.
Material instalasi dan pentanahan (grounding) peralatan disesuaikan
dengan kapasitas pembangkit.
Sistem pembumian dari penyangga PV array menggunakan
penghantar tipe NYY yellow green 35 mm2 (SPLN/SNI). Penampang
tersambung baik secara elektris pada penyangga PV array
12

(menggunakan sepatu kabel dan dibaut).


Resistansi pembumian 5 ohm (SPLN). Untuk memperoleh resistansi
yang terendah dapat digunakan beberapa batang (rod) pembumian
yang disatukan.
Interkoneksi dari masing-masing PV array dapat dikelompokkan dan
ditempatkan pada combiner box (marshalling kiosk) dengan insulation
class IP65. Ukuran combiner box disesuaikan sedemikian sehingga
operator dapat dengan mudah/leluasa melakukan pengecekan saat
pemeliharaan. Combiner box ini juga terbuat dari metal tahan karat
dengan ketebalan minimal 2 mm atau bahan polimer.
Combiner box dilengkapi minimal dengan busbar, DC Fuse, DC circuit
breaker, surge protector/surge trap.
g. Panel Distribusi (Distribution Panel)
Panel distribusi dilengkapi dengan saklar utama/pemisah, pembatas
arus mini circuit breaker (MCB), earth leak circuit breaker (ELCB), saklar
terminal, busbar. Rangka bagian depan, atas, bawah dan bagian
belakang tertutup rapat, sehinga petugas pelayanan akan terlindung dari
bahaya sentuh bagian-bagian aktif. Panel distribusi dilengkapi dengan
ventilasi pada bagian sisi, lubang ventilasi dilindungi, agar binatang atau
benda-benda kecil serta air yang jatuh tidak mudah masuk ke dalamnya.
Tegangan sistem : 380-400 VAC, tiga fasa
Monitoring

: tegangan, arus, frekuensi dan kWh-meter.

Sistem Proteksi

: dilengkapi dengan fuse dan circuit


kapasitas menyesuaikan dengan arus.

breaker,

Panel distribusi dilengkapi dengan sebuah timer dan kontaktor yang


berfungsi untuk dapat memutus aliran beban pada waktu yang
ditentukan.
Panel distribusi terbuat dari bahan metal yang tidak dapat terbakar,
tahan lembab dan kokoh dengan ketebalan minimal 2 mm.
Penempatan aman dan mudah dimonitor oleh operator.
Pada bagian depan panel distribusi dilengkapi lampu indikator.
Pada bagian depan panel distribusi diberi stiker tanda bahaya terhadap
sengatan listrik.
h. Penyangga PV Array (PV Array Support)
Pondasi terbuat dari pasangan batu dan diaci. Pondasi memiliki luas
penampang 35x35 cm dan tinggi minimal 60 cm. Pondasi memiliki
13

kedalaman minimal 40 cm (sehingga ketinggian pondasi di atas


permukaan tanah minimal 20 cm).
Tiang penyangga modul surya terbuat dari metal yang kokoh dan kuat
terbuat dari pipa dengan diameter 4 inch dengan ketebalan minimal
3 mm atau bentuk L dengan ukuran 10x10 cm dengan ketebalan
minimal 4 mm yang di hot deep galvanised pada seluruh bagian
permukaan
Tiang penyangga modul free standing di atas pondasi, bagian bawah
tiang penyangga memilik tapak (berbentuk bujur sangkar) yang
materialnya sama dengan penyangga PV array dengan ketebalan
minimal 6 mm dan memiliki ukuran 20x20 cm. Tapak ini dilubangi pada
keempat sisinya untuk pasangan baut yang ditanam ke pondasi
Mounting modul surya menggunakan model rail dan clip dengan bahan
aluminium dengan tebal minimal 3,5 mm dan ukurannya disesuaikan
dengan ukuran modul surya yang ditawarkan.
Modul surya yang disusun pada rail dipasang mid clamp (antar modul)
dan end clamp (pada ujung rail) yang berfungsi untuk menahan modul
surya agar tidak bergeser.
Ketinggian antara modul dan permukaan tanah pada titik terendah
minimal 70 cm.
Jarak antar PV Array diatur/didesain sedemikian rupa sehingga tidak
ada bayangan (shading) yang jatuh pada permukaan PV Array lainnya.
Demikian pula dengan jarak antara rumah pembangkit dan PV Array.
Pada setiap array dipasang tanda bahaya terhadap sengatan listrik.
Array tersusun rapi pada beberapa baris yang simetris. Jarak antar
masing-masing array cukup dapat dilewati secara leluasa oleh personil
pada saat pemeliharaan.
i.

Rumah Pembangkit (Power House)


Untuk keperluan penempatan peralatan dan operasional dibangun
shelter berbahan polyurethane dan baja ringan dengan ukuran
menyesuaikan dengan kapasitas PLTS, yang terbagi atas ruang
baterai dan ruang kendali (control room). Pondasi menggunakan batu
kali/setara dengan kedalaman minimal 50 cm. Luasan pondasi lebih
70 cm dihitung dari sisi dinding rumah pembangkit bagian depan dan
20 cm dari sisi lainnya serta diaci.
Atap menggunakan Zinc Aluminium.
Tebal dinding shelter minimal 75 mm.
14

Lantai menggunakan keramik warna putih ukuran 30x30 cm.


Ruang baterai memiliki ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara.
Dilengkapi dengan instalasi listrik, 5 titik (3 lampu dan 2 kotak kontak),
dan pembatas MCB 2 A.
Di sekitar bangunan rumah pembangkit dilengkapi dengan sistem
penangkal petir untuk melindungi keseluruhan sistem pembangkit.
Dilengkapi dengan jalan setapak (dibeton atau menggunakan
con-block dengan lebar minimal 1 meter) dari pintu gerbang ke pintu
rumah pembangkit.
Seluruh fasilitas sistem pembangkit diberi pagar keliling menggunakan
jenis BRC seluas area yang disediakan dengan tinggi minimal 150 cm
dan dilengkapi dengan pintu gerbang swing tunggal. Diameter besi
pagar minimal 6 mm. Diameter tiang penghubung pagar minimum
2 inchi. Pagar BRC dicat dengan metode hot dip galvanized.
Pondasi pagar BRC memiliki luas penampang 20x20 cm dan tinggi
45 cm dengan kedalaman minimal 30 cm. (sehingga ketinggian
pondasi di atas permukaan tanah minimal 15 cm)
j.

Distribusi, Sambungan dan Instalasi Rumah


Sub-Sistem Jaringan Distribusi
1) Jaringan distribusi tegangan rendah
Jaringan diperlukan untuk distribusi ke rumah pelanggan dengan
jaringan tegangan rendah (TR) open loop. Jaringan distribusi terdiri
dari tiang listrik dan kabel. Total panjang jaringan distribusi maksimal
disesuaikan dengan daftar kuantitas dan harga untuk masing-masing
lokasi. Spesifikasi untuk jaringan distribusi tegangan rendah adalah
sebagai berikut:
Menggunakan jaringan udara;
Jarak antar tiang maksimal 40 meter;
Menggunakan

pole/tiang

besi

galvanized

dengan

tinggi

7 (tujuh) meter sesuai SNI ditanam dengan kedalaman 1 (satu)


meter, pondasi cor semen, lengkap dengan asesoris jaringan
distribusi;
Kabel

antar

tiang

menggunakan

twisted

cable

3x35 mm2 + 1x25 mm2 (SNI);


Kabel dari tiang ke rumah menggunakan NFA 2x10 mm2 (SNI);
Tinggi lendutan kabel antar tiang minimal 4 meter dari permukaan
tanah;
15

Pada setiap dua tiang dipasang sebuah lampu jalan. Lampu Jalan
dilengkapi dengan lengan lampu, dan lampu LED dengan daya
10-12 W dengan efikasi 100 lumen/W yang terletak didalam suatu
enclosure tertutup yang memiliki IP 65;
2) Jaringan distribusi tegangan menengah (apabila ada)
Jaringan diperlukan untuk distribusi ke rumah pelanggan dengan
jaringan tegangan rendah (TR) open loop. Jaringan distribusi terdiri
dari tiang listrik dan kabel. Total panjang jaringan distribusi maksimal
disesuaikan dengan daftar kuantitas dan harga untuk masing-masing
lokasi. Spesifikasi untuk jaringan distribusi adalah sebagai berikut:
Menggunakan jaringan udara;
Jarak antar tiang maksimal 40 meter;
Menggunakan pole/tiang besi dengan tinggi 9 (sembilan) meter
sesuai SNI, ditanam dengan kedalaman 1 (satu) meter, pondasi
cor semen, lengkap dengan asesoris jaringan distribusi;
Kabel antar tiang menggunakan AAAC-S 70 mm (SNI);
Tinggi lendutan kabel antar tiang minimal 4 meter dari permukaan
tanah;
Sub-Sistem Instalasi Rumah dengan spesifikasi sebagai berikut :

Masing-masing rumah diberikan proteksi/pengaman menggunakan


pembatas arus (MCB) 1 A (termasuk boks dan segel), 220 Volt dan
dilengkapi dengan pembatas energi (energy limiter).

Energy limiter (energy dispenser meter) memiliki fitur yang dapat


diprogram dengan sandi (password), sehingga dapat disesuaikan
dengan kemampuan kapasitas pembangkit.

Energy limiter (energy dispenser meter) dan pembatas arus (MCB)


keduanya ditempatkan di dalam sebuah kotak pengaman tertutup
(box) berbahan metal.

Energy limiter memiliki proteksi arus lebih dan arus hubung singkat
yang dapat diprogram dan dapat kembali normal setelah tidak ada
gangguan (fault).

Energy limiter memiliki indikator LCD untuk melihat sisa energi dan
indikator suara (beep) apabila energi yang tersisa mencapai limit
tertentu sesuai pengesetan.

Masing-masing rumah terdapat 4 titik beban (3buah lampu dan


1 buah kotak kontak).

Lampu yang dipakai adalah lampu LED.


16

Kabel Instalasi rumah menggunakan jenis NYM 3x1,5 mm 2 dan


2x1,5mm2, sesuai SNI.

Masing masing rumah dilengkapi dengan arde (pentanahan)

Energy limiter (energy dispenser meter) seperti yang disebutkan dalam


spesifikasi di atas, berfungsi membatasi pemakaian energi harian.
Adapun spesifikasi energi limiter adalah sebagai berikut:

Tegangan input

: 220 Vac, 1 phasa, 50 Hz

Arus beban maksimum

:1A

Konsumsi arus input (AC) : + 15 mA

Kontrol

: micro controller

Setting

: programmable dengan password

Alarm

: buzzer/beepsaat kuota 25%, indikator


pada display saat kuota habis

Resolusi Pengukuran

: 1 watt-jam (Wh), ketelitian 5%

Temperatur Operasional : 0-500C

Pembatasan Pemakaian : dapat diprogram berdasarkan waktu


dan penggunaan daya.

Lampu yang dipakai seperti yang disebutkan dalam spesifikasi di atas,


adalah lampu LED Bulb Light dengan spesifikasi sebagai berikut:
Tegangan input

: 85-265 Vac

Konsumsi daya

: 5-6 W (atau dapat disesuaikan)

Luminous

: minimal 400 lm

Warna cahaya

: pure white

Fitting

: E27

k. Penangkal Petir
Spesifikasi untuk penangkal petir sebagai berikut:
Menara (tower): tree angle, guyed wire
Passive system, connection slave.
Pembumian penangkap petir tersambung secara baik dan dipisah
dengan sistem pembumian PV array.
Resistansi pembumian 5 ohm (SNI). Untuk memperoleh resistansi
yang terendah dapat digunakan beberapa batang (rod) pembumian
yang disatukan.
Terdapat sistem pentanahan.
17

Dilengkapi dengan lighting counter.


Lighting counter diletakkan di dalam box yang spesifikasi teknisnya
sesuai dengan combiner box.
Melampirkan gambar:
- mekanik menara;
- gambar elektrikal sistem penangkal petir;
- gambar pondasi menara.
Tinggi menara (tower) minimal 17 meter.
4.2

Rencana Anggaran Biaya Pembangunan PLTS Terpusat


Contoh RAB untuk 20 kWp

Daftar 1 : Mata Pembayaran Umum

No
1.
2.

3.
4.

Satuan

Uraian Pekerjaan

Ukuran

Setting out/persiapan lokasi


Mobilisasi dan demobilisasi
(termasuk jasa pengiriman)
Engineering/design dan jasa
instalasi + Pelatihan
Sertifikat Laik Operasi

Kuantitas

Ls

Ls

Ls

Ls

Harga
Satuan

Total Daftar 1
(Pindahkan nilai total ke Daftar Rekapitulasi)

18

Total Harga

Daftar 2 : Mata Pembayaran Pekerjaan Mekanikal Elektrikal

No

Uraian Pekerjaan

Satuan
Ukuran

Kuantitas

Photovoltaic System, by
1

pass Diode & wiring 50

lot

kWp
1.1

Solar Panel @ 200Wp

250

Modul

1.2

Asesoris solar panel

set

1.3

Array junction box

set

1.4

Grounding protection kit

set

Battery System, VRLA

lot

2.1

Battery, 2 V

216

unit

2.2

Battery Connection Cable

set

2.3

Battery Rack

set

2.4

Battery Connection box

set

Controller

set

set

set

Asesoris controller

set

Penangkal Petir

lot

set

set

set

3
3.1

3.2
3.3

4
4.1

4.2
4.3

On-grid inverter (solar


inverter)
Off-grid inverter (battery
inverter)

Tower, tree angle 17 m,


guyed wire
Grounding system untuk
penangkal petir
Sistem monitoring data

19

Harga
Satuan

Total Harga

Panel Distribusi, Power


Cable & Grounding

5.1

Distribution board + metering

Remote Monitoring System

6.1

Remote Monitoring System

Pyranometer

7.1

Pyranometer

set

set

unit

lot

3.000

75

buah

Jaringan Distribusi
8

Tegangan Rendah, 3.000


meter

8.1

8.2

Twisted Cable 3x35 mm2 +


1x25 mm2
Tiang besi galvanize, 7
meter, dan 9 meter

8.3

Asesoris tiang

75

set

8.4

Lampu jalan set with LED

38

set

Instalasi Rumah Pelanggan

9.1

Kabel Instalasi Rumah

5.500

9.2

Energy Limiter, MCB

220

set

220

rmh

3 titik lampu + 1 stop kontak


9.3

+ Saklar

Total Daftar 2
(pindahkan nilai total ke Daftar Rekapitulasi)

20

Daftar 3 : Mata Pembayaran Pekerjaan Sipil


Satuan
No

Uraian Pekerjaan

Ukuran

1 Pondasi PV array

Kuantitas

Ls

Ls

3 Pondasi Penangkal Petir

Ls

4 Pagar berikut pondasinya

Ls

5 Pondasi tiang jaringan

Ls

Harga

Total

Satuan

Harga

Rumah pembangkit (power


2 house) berikut pondasinya.
Minimal luas 45 m2

Total Daftar 3
(Pindahkan nilai total ke Daftar Rekapitulasi)

Daftar Rekapitulasi Lokasi A


Mata Pembayaran

Harga

Daftar No. 1 : Mata Pembayaran Umum


Daftar No. 2 : Mata Pembayaran Pekerjaan Mekanikal
Elektrikal
Daftar No. 3 : Mata Pembayaran Pekerjaan Sipil
Jumlah (Daftar 1+2+3)
PPN 10 %
TOTAL NILAI

21

4.3

Gambar Teknik

Layout system pembangkit


Luas tanah yang minimal harus disediakan (dengan perkiraan ukuran
sebagai berikut):
No.

Kapasitas
(kW)

Luas Lahan
(m2)

9 x 15

10

15 x 23

15

18 x 13

20

20 x 25

30

20 x 30

50

30 x 50

100

40 x 60

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

22

Lampiran 1 Gambar Teknis Konstruksi Sipil

Gambar 1. Layout pondasi rumah pembangkit


23

Gambar 2. Rumah pembangkit yang terbuat dari polyurethane

24

Gambar 3. Pagar BRC dan konstruksinya


25

Gambar 4. Pondasi tiang listrik

26

Gambar 5. Aksesoris tiang listrik

27

Gambar 6. Tiang listrik

28

Gambar 7. Penangkap petir

29

Lampiran 2 Gambar Teknis Elektrikal

Gambar 8. Blok diagram PLTS


30

Gambar 9. Wiring diagram PLTS


31

Gambar 10. Wiring panel distribusi

32

33