Anda di halaman 1dari 29

TUGAS READING

TUMOR-LIKE LESSION OF BONE

Oleh:
Frengky Prasetya Utama

115070100111093

Titis Yunanda Putri

115070100111083

Rizky Fachmia Billah

115070100111091

Yayan Rila Vidyana

115070100111108

Pembimbing:
dr. Irma Darinafitri, Sp.Rad

LABORATORIUM RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RUMAH SAKIT UMUM Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG
2017

Lesi Tulang Mirip Tumor


Kondisi tulang yang dapat memberikan gambaran radiologi yang mirip dengan tumor
memiliki spectrum yang luas. Kondisi-kondisi tersebut secara umum dapat diklasifikasikan
menjadi dua kategori. Kategori pertama ialah space-occupying lesion (lesi yang mendesak
ruang) pada tulang yang tampak secara makroskopis namun bersifat non-neoplastik,
termasuk lesi kistik seperti simple bone cyst (SBC) dan aneurysmal bone cyst (ABC), lesi
fibrosa seperti nonossifying fibroma dan fibrous dysplasia, dan juga Langerhans cell
histiocytosis.

Kategori

kedua

meliputi

seluruh

kelainan

non-tumor

yang

dapat

disalahartikan sebagai tumor tulang. Penegakan kondisi-kondisi yang menyerupai tumor


sangat bergantung pada keahlian expertise tiap individual terhadap foto radiologi. Mayoritas
kasus yang menyerupai tumor dapat diklasifikasikan sebagai variasi normal dan metabolik,
kondisi post-trauma serta keradangan.
LESI KISTIK
Simple Bone Cyst
Simple Bone Cyst (SBC), yang dikenal juga sebagai kista tulang soliter atau
unicameral bone cyst, adalah lesi tulang mirip tumor yang dapat tampak pada foto radiologi
sebagai temuan insidentil atau lebih seringnya ditemukan sebagai fraktur patologis.
Prevalensi tiap tahun dari SBC telah dilaporkan sebanyak kurang lebih 0,30 per 100.000
populasi. SBC adalah kista intraosea sejati dengan kavitas berisi cairan yang dibatasi oleh
lapisan tipis sel mirip mesothelium. Kebanyakan kasus ditemui pada usia dekade pertama
dan kedua, dengan hanya 15% kasus terjadi pada usia lebih tua. Jumlah penderita laki-laki
lebih banyak, dengan 55% kasus muncul pada metafise humerus proximal dan 25% kasus
pada metafise femur proximal (Gambar 92-1), jarang ditemukan di regio lain dengan
pengecualian calcaneus anterior (Gambar 92-2). Secara radiografi, SBC muncul sebagai
lesi litik sentral yang jelas, dengan sedikit perluasan yang mucul pada metafise, biasanya
berbatasan dengan lempeng pertumbuhan. Ciri yang khas pada kasus dengan fraktur
adalah fallen fragment sign, yang mana segmen kecil dari korteks yang fraktur tampak
menempati bagian dependen dari kista, yang terdapat pada sekitar 20% kasus (lihat
Gambar 92-1). Tanda ini khas, namun sebagaimana banyak tanda radiologis lain, tidak
patognomonis dalam penegakan diagnosis karena dapat ditemukan pada lesi tulang lain
dengan fraktur yang berhubungan dengan komponen kistik yang menonjol. MRI
menunjukkan tampakan cairan pada lesi yang sedikit hipointens pada T-1 weighted MR
images dan hiperintens pada T2-weighted MR images (lihat Gambar 92-2). Debris dan fluidfluid level soliter dapat terlihat pada adanya fraktur karena perdarahan internal. Kista dapat
sembuh sendiri setelah penyembuhan fraktur. Penatalaksanaan lain dapat membantu

hingga bertahun-tahun termasuk penyuntikan kortikosteroid dan/ atau Ethibloc dan kuretase
dengan atau tanpa transplantasi tulang. Lambat laun kista akan tumbuh menjauh dari
lempeng pertumbuhan dan bermigrasi ke diafise sebagai tulang baru, dan muncu tulang
baru yang sehat pada metafise. Gambaran pasti dari kista pada pemeriksaan radiologi
lanjutan tergantung pada penatalaksanaan awal. Tidak jarang terutama pada anak laki-laki,
terlihat fracture cycle, konsolidasi parsial, dan re-fraktur yang terjadi setelah beberapa tahun
saat SBC bermigrasi ke diafise dari tulang panjang yang mana seringkali berhubungan
dengan deformitas.yang melengkung.
Aneurysmal Bone Cyst
Aneurysmal Bone Cyst (ABC) adalah lesi kistik tulang yang jinak, yang terdiri dari
ruang kistik berisi darah yang terbagi oleh septum jaringan ikat yang mengandung giant cell,
fibroblast, dan reactive woven bone (tulang imatur). Penyebab munculnya lesi ini masih
diperdebatkan. Sampai saat ini lesi ini secara umum dianggap sebagai lesi mirip tumor,
yang munkin muncul akibat dari masalah hemodinamik lokal atau sebagai respon dari
trauma. Menariknya, berbagai teori kini beredar, dengan mningkatnya bukti terbaru bahwa
ABC adalah neoplasma sejati dan kemudian dapat diklasifikasikan dengan tumor sejati
tulang lainnya Bab 90. ABC mencakup sekitar 4% tumor dan lesi tulang mirip tumor, dengan
80% kasus terjadi pada individu usia kurang dari 20 tahun. Lesi ini memiliki prevalensi per
tahun yang mirip dengan SBC, yaitu sekitar 0,32 kasus per 100.000 populasi. Tujuh puluh
persen kasus muncul secara de novo pada tulang, dan 30% muncul berkaitan dengan tumor
tulang lainnya (ABC sekunder), termasuk giant cell tumor, chondroblastoma, osteoblastoma,
dan yang lebih jarang adalah chondromyxoid fibroma dan fibrous dysplasia (Gambar 92-3).
Area mirip ABC dapat ditemukan pada tumor tulang ganas, terutama telangiectatic
osteosarcoma. Oleh karena itu, penting untuk memeriksa kembali seluruh hasil pencitraan
untuk melihat adanya lesi tulang yang mendahului. Daerah yang biasa terlibat yaitu tulang
panjang (50%) dan arcus vertebrae posterior (20%). Delapan puluh lima persen kasus
muncul pada medulla tulang, dan 15% muncul pada korteks atau lokasi subperiosteum.
Gambaran radiografi yang utama yaitu gambaran litik, eksentrik, multisepta, dengan
perluasan yang bermakna, muncul pada metafise tulang panjang anak-anak atau dewasa
muda (Gambar 92-4). Bisa terdapat pembentukan periosteum tulang baru dengan kerangka
perifer halus atau bergerigi tipis yang mengitari batas lesi, namun jika lesi sedang berada
pada fase aktif pertumbuhan, kerangka perifer tersebut mungkin tidak muncul, dengan
dinding tepi yang menunjukkan tampakan Codman angle untuk memberikan gambaran
keseluruhan proses yang lebih agresif dan berpeotensi menjadi ganas (Gambar 92-5). ABC
subperiosteum dapat muncul sebagai blowout surface lesion pada tulang dan seringkali
berlokasi di diafise (Gambar 92-6). Sifat multikistik ABC dapat dibuktikan dengan CT atau

MRI. Fluid-fluid level dapat sering ditemui karena adanya produk darah pada kista (lihat
Gambar 92-5B). Nilai diagnostik dari fluid-fluid level tersebut masih diperdebatkan dalam
literatur. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyebab tersering dari lesi tulang pada
anak-anak yang menunjukkan gambaran fluid-fluid level adalah ABC, dan bahwa lesi yang
meliputi lebih dari dua pertiga proporsi fluid-fluid level lebih cenderung mengarah ke ABC
primer ataupun sekunder dibandingkan dengan keganasan. Meskipun begitu, laporan
terbaru menunjukkan bahwa tanda ini tidak spesifik karena bisa ditemui pada berbagai
macam tumor tulang dan jaringan lunak. Telah dilaporkan terdapat kasus-kasus ABC yang
mengalami perubahan ke keganasan, namun beberapa pengamat beranggapan bahwa lesi
tersebut adalah area yang menyerupai ABC pada kasus sarkoma (yaitu telangiectatic
osteosarcoma) yang membutuhkan waktu untuk memunculkan sifat keganasan yang sejati
dari lesi yang mendasarinya. Untuk lebih lengkapnya, perlu diketahui bahwa terdapat dua
variasi yang langka dari ABC: ABC padat dan ABC jaringan lunak, yang mana jarang
terdiagnosis sebelum dilakukan biopsi.

INTISARI

Sepertiga kasus ABC muncul berkaitan dengan lesi tulang lainnya (contoh: giant cell

tumor dan chondroblastoma).


Fluid-fluid level adalah gambaran MRI yang khas namun dapat ditemukan pada banyak
kondisi tulan lainnya (contoh: telangiectatis osteosarcoma, giant cell tumor, dan brown

tumor).
Intraosseous ganglion dapat terjadi pada segala usia namun memiliki predileksi pada
usia decade keempat dan kelima. Kondisi ini dapat ditemukan dengan atu tanpa

penyakit sendi degenerative.


Fibrous cortical defect adalah lesi mirip tumor yang sangat umum ditemukan pada anak-

anak dan dewasa muda dan tidak bermakna atau sedikit bermakna secara klinis.
Tiga puluh persen dari kasus fibrous dysplasia bersifat poliostotik dengan

kecenderungan pada distribusi monomelik atau hemimelik.


Osteofibrosis dysplasia merupakan lesi jinak dengan predileksi fusi preskeletal dari tibia
anterior. Lesi ini dapat menjadi prekursor dari adamantinoma atau sebagai bentuk jinak

akhir dari spektrum penyakit dengan adamantinoma pada akhir keganasannya.


Bentuk terlakolalisir dari Langerhans cell histiocytosis (eosinophilic granuloma) adalah

penyakit self-limiting yang jinak yang dapat menyerupai infeksi dan Ewings sarcoma.
Brown tumor pada hiperparatiroidisme bisa sulit dibedakan dengan giant cell tumor pada

pemeriksaan radiologi dan histologinya


Fraktur akibat penggunaan berlebih menyerupai osteomyelitis dan Ewings sarcoma
namun tidak menunjukkan adanya destruksi korteks atau massa jaringan lunak.

Gambar 92-1. Simple bone cyst. Foto anteroposterior menunjukkan lesi litik yang terdifinisi
jelas pada diafise humerus proximal dengan tanda fallen fragment.
Epidermal Inclusion Cyst
Epidermal Inclusion Cyst, dikenal juga dengan kista dermoid implantasi, secara khas
melibatkan jari-jari tangan dan, pada tingkat yang lebih rendah, melibatkan kaki. Lesi ini
dijumpai pada tulang yang matur dan dikaitkan dengan luka tembus dengan inokulasi
intraosea dari epitel kulit. Secara histologi, lesi dibatasi dengan epitel pipih dan mengandung
debris keratin. Gambaran radiografi menunjukkan lesi litik bulat yang jelas dengan batas
sklerotik muncul pada ujung jari-jari (Gambar 92-7). Lesi dapat menunjukkan perluasan dan
relatif asimtomatik kecuali jika terdapat fraktur patologis. Gambaran yang serupa pada
daerah ini dapat dijumpai pada glomus tumor, namun kesatuan ini biasanya bersifat nyeri.
Developmental epidermal cyst, berkebalikan dengan yang disebabkan karena post trauma,
muncul secara khas pada kubah tengkorak anak-anak.

Gambar 92-2. Simple bone cyst pada dewasa. Foto anteroposterior (A) dan coronal T1weighted (B), coronal T1-weighted, fat suppressed-contrast enhanced (C), dan coronal STIR
(D) MR images menunjukkan lesi homogeny yang terdefinisi jelas pada diafise femur
proximal dengan pewarnaan batas tepi yang minor.

Gambar 92-3. Giant cell tumor dengan pembentukan aneurysmal bone cyst sekunder pada
orang tua usia 42 tahun. (A) Foto lateral mennjukkan gambaran khas dari giant cell tumor.
Kasus ini menunjukkan usia yang tidak biasa dimana aneurysmal bone cyst ditemukan.
Sagittal T1-weighted (B) dan axial T1-weighted fat suppressed (C) MR images menunjukkan
bukti perdarahan dengan adanya ruang kistik kecil multipel yang mengandung fluid-fluid
level.
Intraosseous Ganglion
Intraosseous ganglia adalah lesi tulang non-neoplastik yang jinak, yang secara histologi
mirip dengan jaringan lunak sekitarnya. Lesi ini terdiri dari satu atau lebih kavitas dengan
ukuran yang bervariasi, tanpa lapisan sinovium atau epitel, mengandung materi lendir

mukoid. Lesi ini awalnya jarang ditemui, namun kemudian telah banyak diketahui.
Penamaan yang rancu berkontribusi dalam munculnya persepsi bahwa lesi ini langka.
Sebuah artikel yang dipublikasikan lebih dari 25 tahun yang lalu mengidentifikasi tidak
kurang dari 12 nama yang berbeda. Dewasa ini, istilah intraosseous ganglion, subchondral
cyst, atau geode sering digunakan bergantian dalam penamaannya, meskipun dua istilah
terakhir tersebut lebih sering digunakan untuk menggambarkan lesi juxtaarticular yang
berhubungan dengan penyakit sendi degeneratif dan radang sendi. Etiologinya belum
diketahui. Sejumlah teori telah dikemukakan untuk menjelaskan patogenesisnya. Teori-teori
tersebut termasuk teori mengenai bentuk primer atau idiopatik yang muncul secara de novo
pada tulang yang mungkin merupakan akibat dari metaplasia intramedula yang diikuti
dengan degenerasi

mukoid, atau penyebaran sekunder dari kista sinovium atau

perembesan cairan sinovial dari sendi sekitar ke tulang.


Intraosseous ganglia muncul pada individu segala umur dengan skeletal yang matur,
dengan puncak insidensinya pada usia dekade keempat dan kelima. Terdapat predileksi
pada tulang panjang anggota gerak bawah, meskipun tulang karpal juga merupakan daerah
yang biasa terlibat. Foto radiografi menunjukkan lesi unilokuler atau multilokuler yang jelas,
litik, oval atau bulat, yang terdapat pada epifise atau metafise dengan atau tanpa
perkembangan ke korteks dan perluasan ke jaringan lunak (Gambar 92-8). Pembentukan
periosteum tulang baru bukan merupakan ciri-cirinya. Mayoritas intraosseous ganglia
berukuran kecil, diameternya berkisar antara 1 hingga 2 cm, jarang berukuran lebih dari 5
cm. Lesi yang besar dapat disalahartikan sebagai giant cell tumor, chondroma, dan pada
pasien usia tua, chondrosarcoma, metastase, dan plasmacytoma. Ciri diagnostik yang
kadang terlihat lebih jelas pada CT adalah tampakan gas pada kista yang biasanya
dianggap sebagai intraosseous pneumatocyst. Meskipun lesi-lesi ini cenderung bersifat
lamban, peningkatan aktivitas pada scintigraphy tulang seringkali terlihat akibat aktivitas
osteoklast dan osteoblast pada tulang sekitarnya. Lesi-lesi ini tampak hipointens atau
isointens terhadap otot pada T1-weighted MR image dan hiperintens padaT2-weighted MR
image dan STIR, menggambarkan sifat mukoid/ kistik dari kandungannya (lihat Gambar 928B dan C). Terdapat pewarnaan kontras marginal, atau lebih jarangnya heterogen, dengan
kontras gadolinium (lihat Gambar 92-81). Meskipun tidak ada lapisan epitel maupun
sinovium, terdapat membran fibrosa dengan berbagai ketebalan, yan mana rupanya struktur
tersbut menunjukkan pewarnaan kontras perifer. Terdapat pewarnaan heterogen yang
mungkin disebabkan oleh jaringan ikat pada lesi awal yang melalui perubahan myxoid.
Edema sum-sum tulang sekitar dapat ditemui pada sekitar 50% kasus, yang mengarah pada
adanya perluasan lesi ke sum-sum tulang sekitar atau mikrofraktur trabekula yang
disebabkan karena perkembangan lesi. Fluid-fluid level juga ditemukan pada intraosseous
ganglia.

Gambar 92-4. Aneurysmal bone cyst. Foto anteroposterior (A) dan lateral (B) menunjukkan
lesi sentral yang meluas tengan sedikit trabekulasi pada ulna proximal.

Gambar 92-5. Aneurysmal bone cyst.Foto lateral (A) dan Sagittal T1-weighted (B) dan
sagittal STIR (C) MR images menunjukkan lesi litik metadiafise femur distal yang meluas ke
posterior. Hanya bagian distal kerangka yang tampak, menyerupai Codman angle. Foto MR
menunjukkan bukti perdarahan dan dependent fluid-fluid level multipel.

Gambar 92-6. Subperiosteal aneurysmal bone cyst. Foto lateral (A) dan axial T1-weighted
(B) dan axial T2-weighted, fat-suppressed (C) MR images menunjukkan blowout surface
lesion yang muncul pada diafise femur yang mengandung ruang kistik kecil multipel.
Terdapat erosi korteks dengan edema minor sum-sum tulang.

Gambar 92-7. Epidermal inclusion cyst. Foto posteroanterior menunjukkan adanya fraktur
yang melalui lesi litik bulat yang jelas pada ujung jari.

Gambar 92-8 Intraosseous ganglion. Foto anteroposterior (A) dan coronal T1 weighted MR
image (B), coronalSTIR (C), dan sagittal T1-weighted MR image dengan kontras (D). Lesi
litik pada foto menyerupai gambaran giant cell tumor atau proses metastasis. Foto MRI
menunjukkan lesi yang relatif homogen dengan tampakan kontras pada tepi yang minor.
Perluasan ke jaringan lunak posterior pada foto sagittal bukan merupakan temuan yang
jarang pada kondisi ini.
LESI FIBROSA
Lesi mirip tumor jinak yang berasal dari jaringan fibrosa termasuk fibrous cortical defect/
nonossifying fibroma, fibrous dysplasia, osteofibrous dysplasia, dan tumor liposclerosing
myxofibrous. Dua kondisi pertama di atas biasa ditemukan dan sering didiagnosa sebagai
temuan insidental pada foto radiografi yang dilakukan atas indikasi lain.
Fibrous Cortical Defect/ Nonossifying Fibroma
Fibrous cortical defect dan nonossifying fibroma, pada literatur lama dikenal juga sebagai
fibroxanthoma, adalah kesatuan yang identik secara histologi, yang terdiri dari sel spindel
storiform dengan sel histiosit dan sel xanthomatous berisi lemak dengan jumlah variatif.
Satu-satunya ciri yang membedakannya adalah lokasi dan ukurannya. Lesi kecil (panjang
maksimal <15 mm) yang terbatas pada korteks secara umum disebut dengan fibrous
cortical defect, sedangkan lesi yang leih besar yang mencapai medula disebut nonossifying
fibroma. Lesi-lesi ini terdapat pada anak-anak dan remaja, lebih banyak pada anak laki-laki
dibandingkan dengan perempuan, dan cenderung muncul pada tulang panjang anggota
gerak bawah, terutama di sekitar lutut. Telah disebutkan bahwa fibrous cortical defect dapat
ditemukan pada kurang lebih sepertiga populasi normal sebelum fusi skeletal dan dapat
muncul multipel pada kurang dari 10% kasus. Gambaran radiografinya biasanya bersifat
diagnostik dengan lesi litik elips yang jelas yang terbatas pada korteks dari tulang panjang
yang berbatasan dengan lempeng pertumbuhan (Gambar 92-9). Sumbu memanjang dari

lesi berpatokan pada sumbu tulang. Fibrous cortical defect adalah temuan insidental pada
foto radiografi dan tumbuh menjauhi lempeng pertumbuhan dengan maturasi skeletal yang
progresif. Kebanyakan kasus sembuh secara spontan menjadi tulang yang normal atau
menunjukkan tanda penyembuhan dengan sclerotic ghost dari defek litik yang asli (lihat
Gambar 92-9B). Nonossifying fibroma muncul sebagai lesi yang lebih besar, dimungkinkan
muncul akibat dari pertumbuhan fibrous cortical defect yang persisten. Lesi ini juga tampak
terdefinisi dengan jelas dan eksentrik, muncul dari korteks namun meluas melewati ruang
medulla di dekatnya. Tepi endosteal tampak sklerotik, dan lesi yang lebih besar bisa tampak
bersepta dan/ atau bertrabekula (Gambar 92-10). Mineralisasi matriks dan pembentukan
periosteum tulang baru bukan merupakan ciri-cirinya, namun dapat ditemui setelah terjadi
fraktur patologis, yang mana biasa terjadi pada nonossifying fibroma. Lesi yang muncul
pada tulang berukuran kecil dapat tampak sentral. Lesi tersebut cenderung tampak dengan
intensitas rendah pada foto T1-weighted image dan intensitas bervariasi pada T2-weighted
image tergantung pada proporsi jaringan fibrosa (Gambar 92-11). Fibrous cortical defect
tidak membutuhkan pengobatan. Nonossifying fibroma yang relatif kecil dapat dilakukan
pemeriksaan radiologi lanjutan untuk memastikan tidak adanya pertumbuhan yang mayor.
Lesi yang lebih besar dapat membutuhkan tindakan kuretase dengan atau tanpa
transplantasi tulang dan fiksasi fraktur. Nonossifying fibroma multipel telah dilaporkan
memiliki kaitan dengan neurofibromatosis.
Fibrous Dysplasia
Fibrous dysplasia adalah lesi fibro-osea jinak dari tulang yang dianggap sebagai
perkembangan yang abnormal (yaitu hamartomatous metaplasia). Secara histologi, terdapat
penggantian tulang spongiosa normal dengan jaringan fibrosa abnormal dan tulang imatur
(immature woven bone). Lesi tersebut dapat bersifet soliter (monostotik) atau multifokal
(polistotik), melibatkan satu atau lebih tulang. Bentuk monostotik dilaporkan ada pada
sekitar 70% kasus dan khususnya mengenai femur terutama leher femur, tibia, dasar
tengkorak, dan tulang iga (Gambar 92-12). Gambaran radiografinya menunjukkan adanya
jaringan fibrosa hingga osifikasi. Terdapat spektrum dari tampakan radiolusen, melalui
gambaran ground glass yang khas, hingga tampakan heterogen dengan area sklerotik
(lihat Gambar 92-12). Lesi dasar tengkorak cenderung menjadi spektrum akhir sklerotik.
Penipisan korteks dengan perluasan tulang dapat dilihat pada lesis yang membesar
mempengaruhi tulang tubuler tipis seperti tulang rusuk. Tepi endosteal dapat terlihat dengan
jelas dengan batas sklerotik yang disebut rind sign. Banyak kasus yang ditemukan tidak
sengaja, dengan gejala yang timbul adalah nyeri tulang atau fraktur patologis oleh karena
lemahnya struktur tulang yang ditimbulkan. Scintigraphy tulang menunjukkan peningkatan
aktivitas dan MRI menunjukkan penurunan sinyal pada gambar T1-weighted dan intensitas

sinyal heterogen gambar T2-weighted. Lesi dapat muncul pada gambar T2-weighted,
dengan area jaringan fibrous intensitas rendah,

mineralisasi, dan rind juga area kistik

hiperintense dan focus dari diferensiasi kartilagenus.


Tiga puluh persen kasus fibrous dysplasia adalah poliostotik, dengan mayoritas
mempengaruhi tulang dari satu anggota gerak (monomelic) atau satu sisi tubuh (hemimelic).
Hal ini secara keseluruhan merupakan klinis dari penyakit yang berbeda dimana
kebanyakan kasus adalah simptomatis dan ada pada dekade pertama kehidupan dengan
deformitas, panjang anggota gerak yang tidak sama dan fraktur patologis. Masing-masing
lesi secara radiografi menyerupai bentuk monostotik namun cenderung meningkatkan
ukuran dan jumlah hingga fusi skeletal, dengan perkiraan 5% menunjukkan pertumbuhan
lebih lanjut ketika usia dewasa. Kelemahan struktural akan menyebabkan perlunakan tulang
yang ditimbulkan, dimana menghasilkan deformitas bowing (membungkuk) pada tulang
anggota gerak bawah yang menopang berat tubuh, seperti deformitas shepherds crook
pada femur proksimal (gambar 92.13). Peningkatan kecil pada fraktur, dianggap sebagai
fraktur stress tipe insufficiency. Dapat berkembang pada korteks convex lesi memanjang
atau membungkuk (gambar 92.12A). Lesi ini dapat sembuh atau malah membentuk fraktur
patologis.
Abnormalitas endokrin diketahui berhubungan dengan fibrous dysplasia. Contoh
klasik adalah trias sindrom McCune-Albright yang terdiri dari poliostotik fibrous dysplasia
(biasanya monomelic atau hemimelic), cutaneous cafe-au-lait spots, dan pubertas dini ada
anak perempuan. Sindrom ini dapat terlihat pada lebih dari sepertiga wanita dengan
poliostotik fibrous dysplasia, walaupun ketiga elemen dari trias tersebut tidak mesti muncul.
Bentuk lain dari abnormalitas endokrin dapat juga terjadi sehubungan dengan poliostotik
fibrous dysplasia yang ditimbulkan oleh disfungsi hipotalamus. Sindrom Mazabraud jarang
hubungannya dengan poliostotik fibrous dysplasia dan myxoma jaringan lunak. Transformasi
maligna fibrous dysplasia menjadi osteosarcoma atau sarcoma spindle cell juga tercatat
namun sangat amat jarang (Gambar 92.13C). Beberapa kasus yang tercatat pernah
dilaporkan kemungkinan adalah sarkoma yang terinduksi radiasi karena ada sebuah
metode, yang sudah cukup lama dihentikan, untuk menyembuhkan fibrous dysplasia
dengan radioterapi pada pertengahan abad 20.

Gambar 92.9
Fibrous cortical defect. A, Foto anteroposterior pertama menunjukkan oval lucency yang
jelas terlihat dengan batas sklerotik tipis mulai dari korteks medial menuju femur distal. B,
Foto lanjutan yang didapatkan 7 tahun kemudian menunjukkan lesi yang sembuh dengan
sklerosis.

Gambar 92.10
Nonossifying fibroma. Foto anteroposterior menunjukkan adalanya lesi eksentrik tipikal mulai
dari tibia distal dengan fraktur patologis

Gambar 92.11
Nonossifying fibroma/fibrous cortical defect. Foto anteroposterior (A), CT scan axial (B), dan
axial T1-weighted (C). dan T2-weighted, tertekan lemak (D) gambar MR menunjukkan
fibrous cortical defect mulai dari medial dan nonossifying fibroma dari lateral pada diafisis
femoral distal. CT scan membuktikan asal dari kedua lesi dan intensitas yang lemah pada
gambar MR mengindikasikan sifat utama fibrous pada matriks.

Gambar 92.12
Monostotic fibrous dysplasia : Tiga kasus berbeda dimulai dari femur proksimal. A, Lesi yang
utama dengan batas sklerotik tipis (rind sign) dan fraktur medial kecil pada cortical. B, Lesi

dengan densitas intermediet menunjukkan tampilan classic ground-glass. C, Lesi campuran


dengan lisis dan sklerosis dan deformitas jenis long-standing.
Osteofibrous Dysplasia
Osteofibrous Dysplasia, dahulu dikenal sebagai ossifying fibroma dan lesi KempsonCampanacci, adalah sebuah lesi jinak dengan predileksi di tibia. Secara histologi, keadaan
ini memiliki banyak kesamaan dengan fibrous dysplasia yang memiliki stroma fibrous
dengan trabekula imatur. Pemilahan dari kedua jenis lesi membutuhkan identifikasi
osteoblast sepanjang tulang dengan osteofibrous dysplasia. Lebih dari 80% kasus
melibatkan dua per tiga anterior tibia, dengan persentase serupa menunjukkan mild tibial
bowing. Kebanyakan kasus terjadi ketika anak-anak atau dewasa awal. Secara radiografis,
lesi serupa dengan fibrous dysplasia tetapi terlokasi eccentric, meliputi sebagian besar
korteks anterior (gambar 92.14). Kemungkinan juga terdapat tampilan lytic predominant
atau mixed lytic-sclerotic dengan atau tanpa lesi satelit memanjang menyusuri diafisis tibia.
Diagnosis

diferensial

utama

adalah

fibrous

dysplasia,

nonossifying

fibroma,

dan

adamantinoma. Ada beberapa kesamaan histologi antara osteofibrous dysplasia dengan


adamantinoma yang menimbulkan anggapan bahwa mereka adalah ujung jinak dan ganas
dari spektrum penyakit yang sama. Perlu dicatat bahwa osteofibrous dysplasia cenderung
muncul pada masa kanak-kanak dan adamantinoma, kebanyakan terjadi pada usia dewasa
setelah terjadi fusi skeletal.

Gambar 92.13
Poliostotik Fibrous Dysplasia. A, foto anteroposterior pelvis menunjukkan lesi mixed lytic dan
sklerotik meliputi ilium kiri dan kedua femur proksimal dengan deformitas shepherds crook
pada femur proksimal kiri. B, Proyeksi scintigraphy frontal dan posterior menunjukkan tingkat

poliostotik fibrous dysplasia. C, foto anteroposterior diambil 4 bulan setelah menunjukkan


fraktur patologis melalui lesi agresif di femur proksimal. Biopsi memastikan transformasi
maligna menjadi sarkoma spindle cell.

Gambar 92.14
Osteofibrous dysplasia. Foto lateral (A) dan CT scan (B) menggambarkan tampilan dari lesi
mixed trabeculation mulai dari korteks anterior tibia dengan mild bowing pada pasien
dengan plat pertumbuhan yang belum mengalami fusi.
Langerhans Cell Histiocytosis
Langerhans Cell Histiocytosis (LCH) menggantikan istilah bistiocytosis X untuk
mencakup semua varian klinis proliferasi histiosit. Ada tiga bentuk penyakit : LCH
terlokalisasi di satu tulang atau lebih yang dahulu diketahui sebagai eosinophilic granuloma,
sebuah LCH disseminated kronik (penyakit Hand-Schuller-Christian) dengan lesi tulang
multiple dan keterlibatan ekstra skeletal, seperti organ abdomen dan limpa, dan LCH
sepertiga

akut

disseminated

atau subakut

(penyakit

Letterer-Siwe)

dengan

keterlibatan

tulang

dan organ. Kategori multifokal terdiri kurang dari 30% kasus LCH, dan

manifestasi nonosseus biasanya lebih dominan. Lesi tulang cenderung terlihat sebagai lesi
lytic multiple dengan sedikit atau tanpa respon dari tulang sekitar (gambar 92.15). Diagnosis
diferensial adalah cystic angiomatosis dan kemungkinan infiltasi sumsum dengan leukemic
deposit dan metastase neuroblastoma, walaupun keterlibatan medula dengan proses dua

penyakit berikutnya biasanya lebih permeative (mudah ditembus) pada tampilannya


daripada letak geografisnya.
Bentuk LCH terlokalisasi terdiri dari sekitar 70% kasus penyakit ini, dengan
mayoritas terlihat pada usia antara 5 hingga 15 tahun. Tidak seperti bentuk LCH
disseminated, prognosis jangka panjang biasanya sangat baik. Tulang pipih seperti tulang
tengkorak, mandibular, pelvis dan rusuk terlibat pada setengah dari kasus LCH terlokalisasi,
dengan 30% kasus dimulai pada tulang panjang dan 10 % akhirnya pada tulang belakang.
Lokasi khas keterlibatan tulang panjang adalah femur, humerus, dan tibia, dengan sekitar
60% kasus dimulai pada diafisis (Gambar 92.16). Lesi pada tulang panjang secara khas
menunjukkan lesi lytic, batas sklerotik yang kurang jelas, terpusat di medulla, dengan reaksi
periosteal lamellar intak yang bertumpukan, secara bersamaan, akan mempertebal korteks.
Edema dan inflamasi perilesional dapat menjadi ciri dominan pada MRI, sering
mengarahkan kepada diagnosis (lihat Gambar 92.16B). Diagnosis diferensial dari LCH
tulang panjang adalah osteomyelitis dan sarkoma Ewing (sangat jarang). Ciri klasik dari
tulang belakang adalah kolaps dengan penipisan badan vertebra yang menghasilkan
tampilan yang biasa disebut plana vertebra.

Gambar 92.15
Disseminated Langerhans cell histiocytosis subakut ( penyakit Leterrer-Siwe). Foto
tengkorak lateral menunjukkan lesi multiple lytic pada seluruh tengkorak tanpa sklerosis di
sekitarnya.

Gambar 92.16
Langerhans Cell Histiocytosis soliter (granuloma eosinophilic). A, foto anteroposterior
menunjukkan lesi lytic pada diafisis midfemoral dengan hyperostosis kortikal yang
berdekatan. B, Gambar MR Coronal STIR menunjukkan lesi dengan edema sumsum dan
edema minor juxtacortical.
Kelainan Metabolik
Tumor coklat hiperparatiroid dikatakan sebagai paling mirip tumor di antara semua lesi yang
terlihat seperti tumor tulang, baik pada pencitraan maupun histologi. Sulit untuk dibedakan
dari tumor giant cell, giant cell reparative granuloma tulang, dan ABC. Tumor coklat
dihubungkan dengan hiperparatiroid primer pada sekitar 3% kasus dan hiperparatiroid
sekunder pada 1,5% kasus. Namanya diperoleh dari warna makroskopis yang dihasilkan
oleh akumulasi hemosiderin yang dilepaskan oleh perdarahan interstitial. Peningkatan level
parathormone menstimulasi aktivitas osteoklas untuk menghasilkan resorpsi tulang ireguler,
yang mengakibatkan microfractures dan perdarahan. Kavitas ini terisi dengan jaringan
fibrous longgar yang mengandung osteoclast giant cell. Gambaran radiologis dari tumor
coklat adalah lytic, biasanya lesi expansile dengan osteopenia severe (Gambar 92.17). Yang
terakhir dapat keliru pada disuse osteoporosis oleh karena nyeri dari tumor tulang apabila

sifat metabolik penyakit yang menyertai tidak terlihat. Tumor coklat multiple dapat
menyerupai metastase lytic dan myeloma. Gambaran MRI dari tumor coklat dapat
menyerupai sebuah ABC dengan cairan level cairan diakibatkan oleh perdarahan.

10

Penting untuk secara aktif menyingkirkan tumor coklat ketika ditemukan lesi banyak
mengandung benign giant cell. Pada penatalaksanaan kelaianan metabolik yang menyertai,
tumor coklat cenderung sembuh dengan sklerosis moderat (lihat gambar 92.17C).
Varian Normal
Ahli radiologi yang berpengalaman akan memiliki pengetahuan yang luas tentang spektrum
berbeda dari varian skeletal normal dan memiliki atlas kelainan tulang untuk rujukan apabila
tidak yakin. Kebanyakan masalah muncul ketika varian normal dibingunkan dengan lesi
traumatic. Jarang varian normal menggambarkan tumor. Hal ini termasuk proximal
metaphiseal notch humerus pada anak yang bisa jadi normal namun dapat juga terlihat
sebagai leukemia dan penyakit Gaucher. Juga, ballooning dari ischiopubic synchondrosis
pada dewasa awal dapat menyerupai lesi cystic atau kondroma. Lesi berulang yang
menyebabkan masalah diagnostik adalah desmoid periosteal atau kortikal. Juga dikenal
sebagai ireguleritas avulsive cortical dan sindrom ireguleritas cortical. Hal itu mempengaruhi
posteromedial ridge metafisis femur distal pada anak-anak dan dewasa. Pada foto terdapat
pendangkalan korteks luar dengan periosteal minor speculated pembentukan tulang baru
(Gambar 92.18). Hal ini diperkitakan akibat tekanan mekanis yang terjadi pada pangkal
medial head otot gastrocnemius atau insersi magnus adductor. Hal tersebut dapat
dimasukkan dalam kelainan post-traumatic yang akan dijelaskan selanjutnya. Akan tetapi,
scintigraphy tulang menunjukkan aktivitas normal atau sedikit meningkat yang melawan
trauma. MRI sering dapat menunjukkan medula yang mungkin mendukung etiologi
traumatik.11 Secara patologis ada bukti proliferasi fibroblastik subperiosteal reaktif, yang
mana menganjurkan beberapa penulis bahwa lesi harus dimasukkan pada kategori lesi
fibrous. Lagipula, tampilan radiografi tertentu, bilateral pada lebih dari 40% kasus dengan
aktivitas virtual scintigraphy normal, membuat penyingkiran secara tegas pada patologis lain
yang lebih signifikan. Karena sifat bilateral dan self limiting dari gambaran tersebut saya
cenderung untuk mengklasifikasikan itu sebagai varian normal.

Gambar 92.17
Tumor Coklat hiperparatiroid sekunder. A, Foto anteroposterior dengan gambaran fraktur
patologis melalu lesi lytic pada diafisis tibial proksimal. B, Foto anteroposterior diambil 4
bulan kemudian. Diagnosis yang tepat belum dibuat, dan lesi lytic berlanjut tumbuh dengan
demineralisasi mayor. C, Foto anteroposterior 5 bulan kemudian dengan terapi yang sudah
dimulai. Tumor sudah sembuhm dan densitas tulang kembali normal.

Gambar 92.18Desmoid periosteal / kortikal (distal femoral cortical irregularity). Foto oblik
pada lutut seorang dewasa menunjukkan ireguleritas pada korteks posteromedial metafisis
femur distal.

POST-TRAUMA DISORDERS
Fraktur Stres
Fraktur stres diklasifikasikan sebagai fatigue fracture atau fraktur insufisiensi (lihat
Bab 38). Tipe fatigue timbul karena pembebanan abnormal pada tulang normal, sedangkan
tipe insufisiensi fraktur terjadi karena tekanan fisiologis normal pada tulang yang melemah
atau abnormal. Tipe fatigue pada sistem skeletal individu muda seringkali keliru dengan lesi
ganas, khususnya sarkoma primer tulang. Tibia proksimal merupakan area yang paling
umum didapatkan fraktur fatigue pada anak dan dewasa muda dan juga area yang paling
sering disalahartikan pada imaging sebagai sarkoma tulang.12 15 Periosteal tulang yang baru
terbentuk terlihat seperti area yang mengalami sclerosis dan lamella kontinyu yang tegak
lurus seringkali dianggap sebagai tanda awal sarkoma Ewing, terutama jika riwayat khas
peningkatan aktivitas fisik tidak ada (Gambar. 92-19). Jika penegakan diagnosis tidak
berdasarkan pada radiografi, teknik imaging lainnya, termasuk MRI, mungkin lebih
membingungkan para ahli radiologi, dengan medullary edema serta hemorrarghe yang
sering keliru untuk infiltrasi tumor. Perhatian ketat terhadap kualitas gambar pada CT dan
MRI akan menunjukkan fokus kortikal radiolusen / intensitas sinyal yang rendah akibat
fraktur dengan reaksi periosteal sekitarnya. Kondisi yang menentang diagnosis sarkoma
adalah tidak adanya kerusakan korteks yang nyata dan tidak terbukti adanya massa jaringan
lunak. Menurut pengalaman,jarang pada fraktur fatigue tibia proksimal didapatkan
perubahan sumsum pada MRI di lokasi yang sama di tungkai kontralateral bila asimtomatik.
Perubahan bilateral jarang ditemukan pada keganasan kecuali ada penyakit multifokal yang
menyertai adanya malignant round cell tumor seperti leukemia dan Ewing sarcoma. Namun,
biasanya akan sulit untuk mengenali keganasan yang telah menyebar pada kondisi ini.
Fraktur fatigue hanya salah satu akibat dari respon tulang terhadap pembebanan yang
abnormal. MRI adalah pemeriksaan yang sensitif terhadap kelainan sumsum tulang
sekalipun gejala yang didapatkan tidak ada atau minimal. Perubahan spesifik dapat disebut
reaksi stres atau fenomena stres. Mereka biasanya akan resolve dalam beberapa minggu,
asalkan sumber stres dihilangkan. Jika tanda-tanda tetap tidak berubah atau menunjukkan
perkembangan, maka sarkoma dieksklusi.
Fraktur stres tipe insufisiensi memiliki hubungan dengan berbagai kondisi yang
melemahkan tulang (lihat Bab 38). Contoh yang paling sering terlihat adalah pada wanita
osteoporosis postmenopausal. Problem diagnostik sering ditemui pada fraktur yang
melibatkan pelvic ring di mana kepadatan tulang berkurang, kelengkungan tulang,
persebaran udara usus / kalsifikasi vaskular dapat mengaburkan gambaran fraktur pada
radiografi. Tidak jarang pada pasien wanita tua terdapat multiple fraktur insufisiensi pelvic
yang disalahartikan pada scintigraphy tulang sebagai indikasi penyakit metastatik, terutama

jika ada riwayat keganasan sebelumnya di tempat lain. Terdapat hubungan antara fraktur
insufisiensi dari pubic body (parasymphyseal) dan ala sakral. H shape, juga dikenal sebagai
tanda Honda, sering ditemukan pada peningkatan aktivitas sakrum pada scintigraphy tulang
dan dianggap patognomonik fraktur sakral bilateral vertikal dan fraktur horizontal.

GAMBAR 92-19 Fraktur stres tipe fatigue pada diaphysis femoralis distal. radiografi lateral
(A) dan sagital Tl-weighted (B) dan sagital STIR (C) Gambaran MR menunjukkan reaksi
periosteal dan edema / perdarahan di tulang meduler yang mendasari yang seharusnya
tidak boleh disalahartikan sebagai infiltrasi tumor.
Avulsion Injury
Pada skeleton yang imatur, terutama sekitar usia remaja, perlekatan apophyses ke
tulang yang mendasari relatif lemah, membuat rentan terhadap efek dari stress14 Kondisi ini
baik akut atau kronis paling sering dijumpai pada pelvic, dengan lebih dari 50 % kasus
melibatkan apophysis ischial (Gambar. 92-20). Cedera akut biasanya tidak didapatkan
problem diagnostik. Namun, jika diagnosis immature amorphous callus terlambat, maka
gambaran yang dapat dilihat mungkin menyerupai lesi permukaan osteogenik. Kondisi yang
lebih jelas yaitu dengan adanya cedera akut-on-kronis di mana MRI akan menunjukkan
edema dan perdarahan dalam hubungan dengan mineralisasi. Jika apophysis ischial yang
akut avulsi dengan blood supply yang masih intak, maka kondisi tersebut

dapat terus

tumbuh sehingga menampilkan gambaran stage yang lebih lanjut dengan potongan tulang
matur dalam jaringan lunak dari pantat.

GAMBAR 92-20 acute on chronic apophyseal ischial avulsion. Radiografi anteroposterior


pinggul pada remaja menunjukkan pinggul pada remaja menunjukkan apophysis avulsi
dalam jaringan lunak dan erosi iskium yang menyerupai tumor yang timbul dari permukaan
tulang.

Perdarahan subperiosteal dan Hiperplastik Kalus


Kondisi yang mengakibatkan periosteum yang melekat menjadi longgar adalah
perdarahan subperiosteal setelah trauma minor. Seiring berjalannya waktu, hematoma akan
mengeras dan kemerahan, menyerupai bone-forming tumor. Bentukan serupa terjadi pada
pembentukan kalus hiperplastik di sekitar fraktur. Keduanya dapat dilihat pada kondisi
osteogenesis imperfecta, kekurangan vitamin C (kudis), dan gangguan neuropatik (Gambar.
92-21.15 Harus diperhatikan bahwa osteosarcoma telah dilaporkan timbul pada pasien
dengan osteogenesis imperfecta, menunjukkan kemungkinan hubungan keduanya. 16 Studi
cross-sectional mengenai MRI atau CT imaging dapat membantu dalam kasus yang ekstrim
untuk membedakan kalus jinak pada penampilan yang agresif dari sarkoma dengan invasi
intramedullary dan perluasan ke jaringan lunak. Pasien dengan kecenderungan perdarahan
seperti hemofilia, jika tidak terkontrol, mungkin mengalami perdarahan spontan berulang
yang dapat mengakibatkan erosi tulang, sehingga menghasilkan kondisi yang disebut
pseudotumors penderita hemofilia.
Post Traumatic Bone Cyst
Luka

tembus

dengan

benda

asing

mungkin

jarang

dikaitkan

perkembangan kista intraosseous kronis. Sebagai contoh setelah kejadian

dengan

luka tusuk

menggunakan tongkat bambu dan luka tembak.17 Sekitar 20 kasus lesi radiolusen muncul
berdekatan dengan fraktur pada follow up radiografi, meskipun menurut pengalaman

terdapat 3 dari 20 kasus tersebut yang menunjukkan kejadian tidak biasa. 18 Sebagian besar
kasus terjadi di radius distal setelah greenstick atau torus patah tulang pada anak-anak
(Gambar. 92-22).19 Telah dijelaskan bahwa lucency yang terjadi dikarenakan pelepasan
lemak intramedulla bawah periosteum yang intak. Bersamaan dengan terjadinya
pengerasan hematoma, timbunan lemak menghasilkan lucency eksentrik relatif yang terlihat
menyerupai abses Brodie atau LCH. Kista ini tidak ada konsekuensiklinis dan semakin
menghilang seiring dengan hilangnya gambaran konsolidasi fraktur.

GAMBAR 92-21 Osteogenesis imperfecta tarda. Radiografi lateral femur menunjukkan


pengerasan hematoma subperiosteal yang masif.
INFEKSI
Gambaran radiografi osteomyelitis akut adalah seperti kebanyakan lesi tulang
agresif, yaitu penghancuran permeative bone dan pembentukan kompleks periosteal tulang
baru, sehingga menyerupai tumor tulang ganas seperti sarkoma Ewing. Dua kondisi tersebut
tidak dapat dibedakan secara nyata atas dasar klinik karena pasien dengan sarkoma Ewing
dapat menunjukkan gejala sistemik dengan penanda inflamasi yang meningkat. Salah satu
hal yang dapat digunakan untuk membedakan keduanya adalah kecepatan onset
perubahan gambaran radiografi. Pada osteomyelitis akut perubahan radiografi seringkali
berkembang dari yang relatif normal menjadi terlalu abnormal hanya dalam beberapa
minggu (Gambar. 92-23). Sarkoma Ewing merupakan tumor lokal agresif tetapi biasanya

akan memakan waktu beberapa bulan untuk menunjukkan tanda yang setara dengan
tingkat kerusakan tulang. Dalam setiap kasus dugaan osteomielitis, biopsi biasanya
diperlukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab untuk memastikan terapi antibiotik
yang tepat. Jika ada keraguan mengenai diagnosis, biopsi harus dilakukan sedemikian rupa
agar tidak merugikan operasi penyelamatan ekstremitas kedepannya bila kemudian
teridentifikasi sebagai sarkoma primer.
Kesulitan dalam mendiagnosa subakut osteomyelitis bisa dikarenakan tidak
didapatkannya tanda-tanda karakteristik dan symptoms infeksi akut (lihat Bab 62). Sering
tidak ada penyakit sistemik, tidak ada tanda-tanda infeksi lokal, dan nilai-nilai laboratorium
normal, dengan pengecualian dari tingkat sedimentasi eritrosit sedikit meningkat. Dari
imaging,subakut osteomyelitis dapat dengan baik ditemukan, tetapi sering kali dapat keliru
dengan berbagai tumor tulang jinak dan ganas. Diperkirakan bahwa pada kelompok usia
anak, 50% dari kasus subakut osteomyelitis sulit dibedakan dengan tumor. Tanggung jawab
sering jatuh pada ahli radiologi untuk menyarankan dragnosis yang benar, di mana proses
MRI dapat bermanfaat. Tanda imaging "target" yang dapat dijelaskan pada MRI untuk
mendukung diagnosis subakut osteomyelitis adalah abses tulang, yang disebut Brodie
abscess.20 Brodie abscess dapat dibagi menjadi empat lapisan (gambar 92-94). (1)
intensitas sinyal menghilang pada area sentral di TI-weighted dan signal intensity pada
imaging T2-weighted meningkat dan STIR image menunjukkan abscess cavity. (2) inner ring
isointense untuk otot menggambarkan lapisan granulasi. (3) outer ring hypointenseon pada
semua urutan sclerosis reaktif; dan (4) Peripheral halo hypointense pada edema TIweighted. Pada kebanyakan pasien lapisan granulasi muncul terutama mencolok pada
imaging T1-weighted karena relatif hyperintensity dan disebut tanda penumbra. Hal ini khas
ditemukan di metaphyisis tulang panjang, paling sering di sekitar lutut dan mungkin
unilocular atau multilokular.
Kelainan dari growth plate dan keterlibatan sekunder epiphysis sering terjadi pada
osteomyelitis,

dimana

kelainan

growth

plate merupakan

tanda relatif

akhir

dari

osteosarcoma dan tidak jarang pada sarkoma Ewing. Primary epiphysial osteomyelitis
merupakan kondisi yang jarang. Penyebab paling sering lytic epiphyseal lesion preskeletal
fusion adalah chondroblastoma a.
Infeksi tuberkulosis tulang selalu dikenali sebagai proses yang paling banyak
menyerupai proses patologis lainnya, termasuk tumor tulang. Diagnosisnya masih harus
dipertimbangkan mengingat meningkatnya perjalanan internasional, atau pengunjung dari
daerah endemik seperti India serta lama berada dalam lingkungan dalam populasi
immunocompromised. Multifocal disease dapat dengan mudah keliru untuk metastasis atau
limfoma (Gambar. 92-25). Hanya 25% dari kasus TB tulang menunjukkan bukti hidup
bersama penyakit paru.

Bone lesion terjadi kurang dari 3% dari kasus echinococcosis (penyakit


hidatidosa). Lesi tulang cenderung litik, meluas, dan trabeculated, dengan kecenderungan
terjadi pada tulang belakang, panggul, dan tulang panjang. Manifestasi radiografi yang mirip
dengan plasmasitoma, displasia fibrosa, giant cell tumor, serta metastasis yang meluas
seperti terlihat dengan keganasan ginjal atau primer. CT dan MRI akan menunjukkan lesi
kistik di tulang yang meluas keluar ke jaringan lunak.

GAMBAR 92-22 Kista Post-traumatic dari radius distal. Posteroanterior (A) dan lateral (B)
radiografi dari pergelangan tangan pada anak menunjukkan lucency eksentrik dengan
sclerosis sekitarnya ringan. C, Posteroanterior radiografi pada presentasi 7 bulan
sebelumnya menunjukkan fraktur greenstick dari radius distal.

GAMBAR 92-23 osteomyelitis akut. Posteroanterior radiograph pada presentasi (A) dan 2
minggu kemudian (B). Radiografi awal adalah normal. Radiografi follow up menunjukkan lesi
litik dalam radial metafisis distal dengan reaksi periosteal pipih terganggu. Penampilan
adalah dari lesi yang agresif, tapi hanya infeksi kemungkinan mengingat kecepatan onset
perubahan.

GAMBAR 92-24 subakut osteomyelitis. Potongan sagital gambar T1-weighted menunjukkan


rongga abses hypointense abses di metafisis femur distal. Ada rim relatif hyperintense ke
abses (tanda penumbra) dengan sekitarnya hypointense sclerosis dan edema sumsum.

GAMBAR 92-25 TBC Multifocal. A, radiografi lateral dari tulang belakang leher menunjukkan
kehancuran dan runtuhnya tubuh C4. B, Anteropostenor radiografi dari tulang belakang leher
yang lebih rendah menunjukkan lesi destruktif di kiri pertama tulang costae. Diagnosis pada
orang dewasa termasuk metastasis dan limfoma.