Anda di halaman 1dari 11

Tingkat Kerusakan Ekonomi atau Ambang

Kerusakan
Strategi pengelolaan penyakit tanaman adalah untuk mentolerir serangan penyakit dan
berusaha mempengaruhinya agar tetap berada di bawah tingkat kerusakan ekonomi.
Untuk itu serangan (xo) yang dapat menimbulkan kerusakan ekonomi (ambang
ekonomi=economic threshold) harus diketahui. Ambang ekonomi ini bervariasi
berdasarkan jenis tanaman, penyakit, dan kondisi ekonomi setempat. Seorang petani
atau daerah pertanian tertentu mungkin mampu mentolerir kehilangan hasil yang bisa
diperoleh (attainable yield) lebih baik dari petani atau lokasi lainnya.
Tingkat xt yang menyebabkan tingkat kerusakan paling tinggi yang dapat ditolerir
disebut tingkat kerusakan ekonomi (economic injury level) oleh para entomologist: yaitu
tingkat populasi terendah yang dapat menimbulkan luka ekonomi. Kerusakan/luka
ekonomi adalah tingkat kerusakan tanaman yang memungkinkan pengeluaran biaya
untuk pengendalian tanaman secara buatan (artificial). Dengan demikian economic
injury level dapat berbeda-beda berdasarkan tempat, waktu, nilai ekonomi dari tindakan
pengelolaan penyakit. Disini disebut sebagai ambang kerusakan (damage threshold)
(Gambar 1 yang digambarkan sebagai garis yang bisa berubah-ubah posisinya). Garis 1
dan 2 menunjukan perkembangan penyakit dengan laju yang sama. Garis dapat berawal
dengna nilai xo yang sangat rendah (a) atau mulainya agak terlambat pada suatu musim
(b). Garis 1 memotong tingkat ambang kerusakan (xd) lebih awal dari garis 2 dan
mencapai tingkat serangan yang lebih tinggi pada saat panen (xh). Garis 3 dan 4 adalah
perkembangan penyakit yang lambat yang tidak adakan mencapai Xd sebelum panen.
Tingkat perkembangan penyakit semacam ini dapat disebabkan oleh penggunaan
tanaman yang mempunyai ketahanan horizontal; dan penggunaan tanaman semacam ini
akan memenuhi definisi pengelolaan penyakit.
Penentuan ambang kerusakan yang sebenarnya tergantung pada informasi biologi dan
biaya yang dimasukkan ke dalam system, nilai output, dan tingkat serangan yang ditolerir
(xo). Petani hanya mampu menanggung biaya pengendalian yang akan memberikan
tambahan hasil atau melebihi biaya yang dikeluarkan untuk pengendalian.
Biaya produksi meningkat sejalan dengan semakin intensifnya pengelolaan pertanaman
termasuk pengendalian OPT. Kurva antara hasil dengan biaya pengendalian penyakit
pada level tertentu pada umumnya menunjukkan penurunan dimana setiap unit dari
input menghasilkan kenaikan produksi yang semakin kecil. Salah satu input adalah biaya
pengendalian penyakit dan hasil yang semakin menurun (diminishing return) harus
diperhitungkan di dalam menentukan seberapa banyak pengendalian (biaya
pengendalian) yang dapat dikeluarkan.

stila ambang ekonomi dalam pertanian arief masbait

AMBANG EKONOMI PERTANIAN

nama : arief masbait


facebook : silahkan gabung klik (facebook arief)
lainya tentang pertanian >>>>1 konsep PHT/pengelolaan hama
terpadu
2 stila ambang ekonomi dalam pertanian
3 kerusakan yang di timbulkan oleh
pestisida
4 diagnosis penyakit tumbuhan

sedikit saya sajikan istilah keren dalam pertanian yaitu. ambang


ekonomi

Ambang Ekonomi (AE), yaitu batas populasi hama telah menimbulkan


kerusakan yang lebih besar daripada biaya pengendalian. Karena itu
secara berkelanjutan tindakan pemantauan atau monitoring populasi
hama dan penyakit perlu dilaksanakan.
a.Pengertian Ambang Ekonomi
Ambang Ekonomi adalah batas populasi hama atau kerusakan oleh
hama yang digunakan sebagai dasar untuk digunakannya pestisida.
Diatas AE populasi hama telah mengakibatkan kerugian yang nilainya
lebih besar daripada biaya pengendalian.

Ambang Ekonomi adalah kepadatan populasi hama yang memerlukan


tindakan pengendalian untuk mencegah peningkatan populasi hama
berikutnya yang dapat mencapai Aras Luka Ekonomi, ALE (Economic
Injury Level). Sedangkan ALE didefinisikan sebagai padatan populasi
terendah yang mengakibatkan kerusakan ekonomi. Kerusakan ekonomi
terjadi bila nilai kerusakan akibat hama sama atau lebih besarnya dari
biaya pengendalian yang dilakukan, sehingga tidak terjadi kerugian.

Dengan demikian AE merupakan dasar pengendalian hama untuk


menggunakan pestisida kimia.
b.Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit
Usaha untuk memperoleh hasil tanaman yang maksimal bermacam
cara dilakukan, cara-cara pengendalian tersebut digolongkan kepada
lima cara yaitu: fisik dan mekanik, penggunaan varietas tahan,
bercocok tanam, biologi, dan kimia.
1.Pengendalian Hama dan Penyakit dengan Penggunaan
varietas tahan
Penggunaan varietas tahan merupakan usaha pengendalian hama atau
penyakit yang mudah dan murah bagi petani. Telah banyak varietasvarietas padi yang dilepas oleh Badan Penelitan dan Pengembangan
Pertanian dan lembaga riset dalam dan luar negeri yang tahan
terhadap hama dan penyakit utama tanaman.

Penggunaan varietas tahan telah terbukti dapat mengurangi


kehilangan hasil, namun penggunaan varietas tahan yang memiliki gen
ketahanan yang tunggal akan memacu timbulnya biotipe dan strain
atau ras-ras baru yang akan lebih berbahaya. Untuk itu dianjurkan
melakukan pergiliran varietas atau melakukan penanaman varietas
padi yang memiliki berbagai tingkat ketahanan. Tindakan ini telah
berhasil dalam menekan perkembangan penyakit blas dan tungro di
Sulawesi Selatan. Karena pencapuran menanam padi yang memiliki
keragaman tingkat ketahanan ini merupakan tindakan untuk
meningkatkan diversifikasi lingkungan yang dapat menekan laju
perkembangan populasi hama atau patogen.

Pada tingkat ini adalah peran dari para peneliti pertanian. Bagaimana
mereka dapat menciptakan varietas tanaman yang tahan terhadap
hama dan penyakit dan tentu saja dengan hasil yang lebih baik dari
varietas sebelumnya. Sedangkan peran petani adalah dengan
menanam jenis / varietas yang telah lolos uji dan terbukti
menguntungkan bagi petani.
2.Pengendalian Hama dan Penyakit dengan dilakukan secara
Fisik dan mekanik

Pengendalian hama atau penyakit dengan cara ini biasanya dilakukan


pada usaha pertanian dalam skala kecil atau dalam rumah kawat atau
rumah kaca. Pengendalian hama atau penyakit dengan fisik adalah
penggunaan panas dan pengaliran udara. Sedangkan mekanik adalah
usaha pengendalian dengan cara mencari jasad perusak tanaman,
kemudian memusnahkannya. Cara ini dapat dilakukan dengan tangan
atau menggunakan alat berupa perangkap.

Terkadang cara ini lebih efektif untuk menekan populasi hama dan
tentu saja dengan memperhatikan waktu dan tempat yang tepat.
Misalnya untuk mengendalikan hama ulat jengkal yang aktivitas
hidupnya pada siang hari hal ini akan efektif tetapi akan terasa
berbeda apabila mengendalikan hama ulat grayak/ ulat tanah secara
fisik pada siang hari karena ulat grayak / ulat tanah tidak akan
ditemukan pada siang hari, demikian juga untuk hama-hama yang lain.
Juga perhatikan siklus dari serangga hama maksudnya apabila anda
ingin mengendalikan hama ulat tetapi saat ini siklusnya untuk daerah
tersebut sudah menjadi kupu-kupu atau ngengat, maka jangan
berharap anda bisa menemukan ulat yang anda maksud. Untuk itu
kenali dahulu karakteristik dan sifat dan siklus ddari serangga hama
yang akan kita kendalikan secara fisik.
3.Pengendalian Hama dan Penyakit dengan dilakukan dengan
cara Bercocok tanam
Berbagai usaha dalam bercocok tanam dapat menekan perkembangan
jasad pengganggu tanaman, mulai dari pengolahan tanah,jarak tanam,
waktu tanam, pengaturan pengairan, pengaturan pola tanam, dan
pemupukkan
a.Tanam Serempak.
Dilahan irigasi dengan penanaman serempak, hama lebih menonjol
dari pada penyakit. Berdasarkan luas serangannya, hama yang
dominan merusak tanaman padi adalah tikus, wereng coklat, dan
penggerek batang . Adakalanya keong mas, ganjur, lembing batu, ulat
grayak, walang sangit, dan penyakit hawar daun bakteri juga dapat
berkembang secara sporadis di lokasi tertentu. Sedangkan tanam tidak
serempak dalam satu hamparan terjadi karena latar belakang teknis
dan sosial. Pada pola tanam tidak serempak, penyakit tungro selain
hama tikus sering menyebabkan instabilitas hasil. Namun demikian,
resiko rendahnya hasil akibat serangan hama dan penyakit dapat
dihindari dengan pola tanam serempak.

Pada saat ini petani dalam bercocok tanam agak berbeda dari
beberapa tahun yang lalu, kalau dahulu para petani (petani budidaya
padi ) melakukan penanaman serentak dalam satu daerah tertentu
selah olah ada yang memberi komando, sedangkan pada akhir-akhir ini
petani cenderung sendiri-sendiri dalam melakukan pola bercocok
tanamnya. Menurut pengamatan penulis banyak ditemukan tanaman
padi yang berbeda jauh waktu penanamannya terbukti pada satu
hamparan persawahan yang bersebelahan, lahan satu sudah siap
panen sedangkan lahan disebelahnya tanaman padinya dalam proses
bunting susu. Hal ini menyebabkan populasi hama atau penyakit di
daerah tersebut selalu ada / tidak terputus siklusnya. Jika hal ini terus
berlanjut maka keberadaan hama atau penyakit dihamparan tersebut
akan selalu ada.
b.Pengolahan tanah
Secara umum untuk melakukan penanaman padi, tanah diolah secara
sempurna, sampai pelumpuran, sehingga perakaran tanaman dapat
tumbuh sempurna. Tetapi dibeberapa daerah, petani mengolah tanah
tidak sempurna sehingga timbul berbagai masalah. Dari beberapa
laporan, bahwa tanaman padi yang ditanam pada tanah yang tidak
mendapat pengolahan sempurna terjadi peningkatan intesitas penyakit
mentek yang disebabkan oleh nematoda Radophollus oryzae.
Hama tanaman padi seperti kepinding tanah, wereng coklat dan
penggerek batang akan meningkat populasinya, jika tunggul tanaman
padi tidak segera dibongkar dan tanah tidak diolah dengan sempurna.
Hasil penelitianmemperlihatkan bahwa perilaku hama penggerek
batang padi punggung putih pada saat panen berada diposisi 10 cm
dari permukaan tanah. Karena itu, dianjurkan pemanenan dengan sabit
dan memotong batang padi kurang dari 10 cm dari permukaan tanah
dan tanah segera diolah atau digenangi air. Jarak tanam. Pengaturan
jarak tanam sebagai salah satu komponen pengendalian merupakan
merobahan iklim mikro (iklim sekitar tanaman) sedemikian rupa,
sehingga tidak menguntungkan bagi perkembangan hama atau
patogen (penyebab penyakit). Hasil pengkajian BPTP Sumatera Barat
terhadap penerapan sistem tanam legowo 4:1 pada padi sawah dapat
mengurangi serangan hama tikus.
Demikian juga terhadap intensitas penyakit blas, bercak daun coklat,
busuk batang dan hawar daun bakteri dan beberapa penyakit yang
disebabkan jamur akan berkurang pada pertanaman padi berjarak
tanam longgar dan meningkat serangannya pada jarak tanam rapat,
apalagi di musim hujan. Karena jarak tanam yang rapat akan

meningkatkan kelembaban udara di sekitar tanaman yang akan


menguntungkan bagi kehidupan jamur dan bakteri.
c.Waktu Tanam
Iklim berpengaruh terhadap kehidupan jasad pengganggu tanaman,
untuk menghindari kerusakan pada tanaman yang diakibatkan oleh
jasad pengganggu tersebut perlu menentukan waktu tanam yang
tepat. Dari pengamatan pertanaman padi gogo di daerah transmigrasi
Sitiung terlihat bahwa infeksi blas meningkat pada pertanaman yang
ditanam pada bulan Agustus dan September, sedangkan penanaman
di luar bulan-bulan tersebut infeksi blas terlihat rendah bahkan dapat
terhindar dari infeksi blas. Karena pada bulan-bulan tersebut terjadi
musim hujan yang hampir merata setiap hari dengan curah hujan
rendah sampai sedang. Keadaan yang seperti ini telah terbukti bahwa
spora jamur penyebab blas (Pyricularia oryxae) banyak dilepaskan ke
udara, dan spora-spora ini akan menginfeksi tanaman padi sehingga
menimbulkan kerusakan tanaman.
Dari hasil penelitian penyakit tungro di Sulawesi Selatan menyatakan
bahwa varietas padi Cisadane yang rentan terhadap wereng hijau dan
penyakit tungro, ternyata terhindar dari serangan tungro dan wereng
hijau, jika ditanam pada akhir Desember atau awal Januari. Hal ini
disebabkan populasi wereng hijau yang infektif sangat rendah sampai
akhir fase rentan varietas Cisadane.

Demikian juga terjadi pada tanaman kacang panjang/tanaman buncis.


Populasi hama Apis/kutu apis akan berkurang pada musim hujan dan
akan meningkat pada musim kemarau. Hal serupa juga terjadi pada
hama kubis Plutella xytostella.

Penyakit bercak coklat sempit yang disebabkan oleh jamur Cercospora


janseana pada musim kemarau memperlihatkan gejala serangan yang
meningkat . Untuk itu hindari menanam varietas rentan pada musim
kemarau.
d. Pengaturan Pengairan
Air merupakan kebutuhan utama pada tanaman padi pada fase
pertumbuhan (Vegetatif), tetapi kebutuhan air ini perlu pengaturan
supaya tanaman terhindar dari kerusakan oleh jasad pengganggu.
Serangan keong mas akan meningkat pada tanaman padi yang

berumur kurang dari satu bulan di lapangan, jika digenangi dengan air.
Untuk mencegah kerusakan oleh keong mas, maka tanaman padi yang
baru dipindahkan dari persemaian sampai bunting diairi secukupnya.
Sedangkan untuk menghindari serangan penggerek batang, kepinding
tanah, wereng coklat dan tikus perlu menggenangi lahan.
e. Pengaturan Pola Tanam
Menanaman tanaman padi terus menerus, apalagi dengan menanam
tanaman yang memiliki tingkat ketahanan sama dengan tanaman
sebelumnya, akan memberi peluang untuk meningkatnya populasi
jasad perusak tanaman. Karena keadaan ini merupakan lingkungan
yang sesuai dan tersedianya sumber makanan sepanjang musim bagi
hama atau patogen. Untuk itu perlu pengaturan pola tanam berupa
pergiliran tanaman padi dengan tanaman palawija atau sayur-sayuran.
Pergiliran tanaman dapat juga dilakukan dengan melakukan pergiliran
tingkat ketahanan tanaman padi. Pola tanam tumpang sari dalam areal
penanaman padi dengan tanaman lain bukan padi dapat pula
dilakukan untuk meningkatkan keragaman ekologi. Keadaan ini
memungkinkan untuk berkembangnya predator dari hama tanaman
padi pada tanaman bukan padi.
f. Pemupukan
Untuk meningkatkan hasil, petani cenderung melakukan pemupukan
yang berlebihan, tindakan ini tidak saja merupakan pemborosan, tetapi
juga memberi peluang tanaman padi terinfeksi patogen atau dirusak
hama. Pemupukan nitrogen yang berlebihan pada tanaman padi gogo
dan padi sawah mengakibatkan tanaman rentan terhadap infeksi
penyakit blas dan bercak daun coklat Meningkatnya populasi hama
penggerek batang dan wereng coklat dilaporkan ada hubungannya
dengan tingginya dosis pupuk nitrogen yang diberikan. Untuk
menentukan kebutuhan nitrogen tanaman padi dianjurkan
menggunakan bagan warna daun, sehingga pemberian pupuk sesuai
dengan kebutuhan tanaman. Sedangkan pemberian pupuk yang
mengandung unsur silika (Si), Kalium (K) dan Calsium (Ca) dapat
meningkatkan ketahanan tanaman terhadap berbagai hama dan
patogen
4.Pengendalian Hama dan Penyakit dengan secara Biologi
Penggunaan musuh alami serangga hama berupa predator dan
parasitoid (parasit serangga hama ) telah lama dilakukan, tetapi
keberhasilanya belum optimal, dan pada umumnya digunakan untuk

pengendalian hama, sedangkan untuk pengendalian penyakit masih


belum banyak dilakukan.

Predator serangga hama adalah mahluk hidup yang secara aktif


memangsa serangga hama. Pada umumnya ukuran predator lebih
besar dari serangga hama. Parasitoid ( parasit serangga hama ) adalah
mahluk hidup / agensia hidup dalam melakukan siklus hidupnya
dengan memanfaatkan serangga hama baik secara langsung maupun
melalui telur serangga hama ( pasitoid telur ). Parasitoid biasanya
berukuran lebih kecil dari serangga hama walaupun tidak seratus
persen. Parasitoid akan masuk kedalam tubuh serangga hama dan
berkembang biak didalam tubuh serangga tersebut.

Penggunaan predator berupa laba-laba dan jamur Metarizium untuk


pengendalian wereng coklat telah dilaporkan tingkat keberhasilannya,
tetapi keberhasilan tersebut masih dalam tingkat penelitian di
laboratorium atau dirumah kaca. Sedangkan dilapangan belum
mencapai keberhasilan yang optimal, karena berbagai faktor yang
menghalangi perkembangan predator dan parasitoid tersebut.
Misalnya parasitoid yang berupa mikro organisme sangat rentan
terhadap perubahan faktor iklim. Sehingga kehidupannya akan cepat
terganggu jika terjadi perubahan suhu atau kelembaban udara.
Demikian juga serangga parasitoid yang menempatkan telurnya pada
inangnya berupa hama tanaman. Efektivitasnya akan terlihat jika
populasi hama tanaman lebih tinggi dari populasi parasitoid, dan pada
saat itulah parasitoid akan bekerja menekan perkembangan populasi
hama.
Pengendalian secara Biologi yang bisa dilakukan oleh petani adalah :
1.Menciptakan iklim micro yang lebih mendukung pertumbuhan dan
perkembangan dari musuh alami hama dilahan pertaniannya.
2.Menanam tanaman dengan varietas yang tahan terhadap hama dan
penyakit
3.Melakukan pola bercocok tanam yang menguntungkan bagi musuh
alami misalnya dengan tumpang sari,atau melakukan bera terhadap
tanah garapan dan cara- cara yang lain.
4.Melakukan pengendalian hama secara fisik terlebih dahulu sebelum
memutuskan menggunakan pestisida.
5.Pilih Pestisida alami/Pestisida Nabati terlebih dahulu sebelum
memutuskan untuk menggunakan pestisida kimia,karena pestisida

alami/Pestisida nabati biasanya lebih ramah terhadap musuh alami


hama, dan mematikan terhadap hamanya.
6.Apabila melakukan penyemprotan dengan menggunakan pestisida
maka pilihlah pestisida yang selektif hanya membunuh serangga
hamanya saja,dan dampak pestisida tersebut berdapak negatif sedikit
pada musuh alami serangga hama.
7.Mengembangbiakkan musuh alami hama. Cara ini membutuhkan
ketrampilan dan keahlian khusus,karena berdasarkan pengalaman
kami, musuh alami hama akan berkembang di alam tetapi pada saat
dibiakkan secara invitro maupun invivo dalam rumah kaca akan
mengalami kesulitan- kesulitan.
Demikian Kiranya hal-hal tersebut diatas yang bisa dilakukan oleh
petani dalam upaya mengendalihan hama dan penyakit secara biologi.
5.Pengendalian Hama dan Penyakit dengan cara Kimiawi
Penggunaan pestisida kimia untuk pengendalian hama dan penyakit
sangat jelas tingkat keberhasilannya. Penggunaan pestisida kimia
merupakan usaha pengendalian yang kurang bijaksana,jika tidak dikuti
dengan tepat penggunaan, tepat dosis, tepat waktu, tepat
sasaran,tepat jenis dan tepat konsentrasi.Keadaan ini yang sering
dinyatakan sebagai penyebabkan peledakan populasi suatu
hama.Karena itu penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian
hama dan patogen perlu dipertimbangkan, dengan memperhatikan
tingkat serangan, ambang ekonomi, pengaruhnya terhadap lingkungan
dan kesehatan manusia dan hewan.
6. Beberapa Tips
Tips menggunakan dan memilih Pestisida Kimia dalam mengendalikan
Hama atau penyakit :
a. Kenali dulu Gejala pada tanaman hal ini sangat penting untuk
menentukan penyebab kerusakan pada tanaman.Apakah kerusakan
pada tanaman disebabkan oleh hama atau gejala yang timbul adalah
penyakit.Apabila serangga hama maka semprot dengan Insektisida
tetapi kalau gejala adalah penyakit maka perlu pengamatan lebih
lanjut penyebabnya. Apa karena jamur atau bakteri atau karena micro
organisme; Apabila kerusakan karena jamur maka gunakan Fungisida
dan apabila kerusakan kerena bekteri maka gunakan bakterisida
demikian juga seterusnya
b. Dalam memilih pestisida tanyakan kepada pelayan toko mengenai
tipe dari pestisida tersebut ? apakah racun kontak racun pernafasan
racun lambung atau racun yang
bersifat sistemik.
Apabila populasi hama dapat dilihat secara fisik/keberadaan hama
ada di tanaman maka pilih pestisida yang bersifat racun kontak atau

racun pernafasan karena racun ini akan segera membutuh hama


apabila bahan aktif pestisida bersangkutan terkena secara fisik pada
bagian tubuh hama. Tipe Pestisida racun kontak dan racun pernafasan
akan efektif apabila bahan aktif terkena/ terhirup oleh serangga hama.
Apabila hama tanaman tidak tampak secara fisik/sedang
sembunyi/aktifnya pada malam hari dan tidak memungkinkan bagi
petani melakukan penyemprotan pada malam hari maka lihatlah gejala
yang tampak apakah bagian tanaman terlihat rusak secara fisik seperti
adanya gigitan serangga hama atau tidak. hal ini untuk mengetahui
tipe alat mulut dari serangga hama perusak tanaman. Apabila
serangga hama memiliki tipe alat mulut menggit dan mengunyah
maka pilih Pestisida dengan tipe racun lambung. Dan apabila serangga
hama memiliki alat mulut yang bertipe mencucuk dan menghisap
seperti golongan kutu- wereng- walang sangit- apis dll maka
gunakanlah Pestisida dengan tipe racun Sistemik. karena bahan aktif
akan masuk kedalam jaringan tanaman sehingga apabila serangga
yang bersangkutan menghisap cairan tanaman maka bahan aktif akan
juga terhidap oleh serangga hama dan serangga hama bersangkutan
akan mati karena bahan aktif tersebut.
c. Langkah-langkah umum pengendalian
Secara umum, langkah-langkah PHT yang perlu dilakukan pada musim
kemarau dititik beratkan untuk keberhasilan pengendalian hama tikus
dengan cara sebagai berikut:
1.Tanam serempak pada hamparan minimal 40 hektar
2.Pemberdayaan kelompok tani, minimal kelompok tani sehamparan
untuk menerapkan paket PHT pengendalian tikus, dimulai dari saat
pratanam sampai fase primordia.
3.Persiapan lahan dan bahan untuk pengendalian tikus dengan sistem
perangkap bubu (SPB) atau perangkap bubu linier (SPBL).
4.Meningkatkan koordinasi antar petani dan aparat terkait agar
pengendalian tikus dapat terlaksana dengan baik.
Sedangkan aspek yang perlu diperhatikan dalam mengendalikan hama
dan penyakit pada musim hujan, mencakup:
a. Tidak melakukan penanaman di luar jadual.
b. Penggunaan varietas tahan sesuai dengan biotipe/ras patogen.
c. Memantau perkembangan terutama hama wereng coklat, penggerek
batang, penyakit tungro, dan penyakit hawar daun bakteri.
d. Apabila perkembangan hama dan penyakit telah melebihi ambang
kendali perlu dilakukan pengendalian dengan pestisida yang tepat.
(Sumber :htysite.co.tv)

http://ariefmasbaitt.blogspot.co.id/2013/02/stila-ambang-ekonomidalam-pertanian.html (

AMBANG EKONOMI

PERTANIAN

Penetapan dan pengembangan Ambang Ekonomi. Ambang ekonomi atau


ambang pengendalian merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan,
kapan harus dilaksanakan penggunaan pestisida sebagi alternatif terakhir
pengendalian. Untuk menetapkan ambang ekonomi dibutuhkan banyak informasi
data biologi, ekologi serta ekonomi. Penetapan kerusakan / kerugian produksi dan
hubungannya dengan populasi hama, analisis biaya dan manfaat penggendalian
merupakan bagian yang penting dalam penetapkan ambang ekonomi.

http://lissa-blogku.blogspot.co.id/2012/02/pengendalian-hama-terpadu-pht.html

Pengendalian Hama Terpadu (PHT)