Anda di halaman 1dari 10

POPULASI DAN SAMPEL

A. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi
bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain.
Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang
dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki ileh subyek
atau obyek itu.
Misalnya akan melakukan penelitian disekolah X, maka sekolah X ini
merupakan populasi. Sekolah X mempunyai sejumlah orang/sebyek dan
obyek yang lain. hal ini berarti populasi dari arti jumlah/kuantitas. Etapi
sekolah X juga mempunyai karakteristik orang-orangnya, misalnya motivasi
kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, iklim organisasinya, dan lainlain dan juga mempunyai karakteristik obyek yang lain misalnya kebijakan,
prosedur kerja, tata ruang kelas, lulusan yang dihasilkan dan lain-lain. yang
terakhir berarti populasi dalam arti karakteristik.
Diungkapkan oleh Nawawi (Margono, 2004: 118). Ia menyebutkan
bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari
manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes,
atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karaktersitik
tertentu di dalam suatu penelitian. Kaitannya dengan batasan tersebut,
populasi dapat dibedakan berikut ini :
1. Populasi terbatas atau populasi terhingga, yakni populasi yang memiliki
batas kuantitatif secara jelas karena memilki karakteristik yang terbatas.
Misalnya 5.000.000 orang guru SMA pada awal tahun 1985, dengan
karakteristik; masa kerja 2 tahun, lulusan program Strata 1, dan lain-lain.
2. Populasi tak terbatas atau populasi tak terhingga, yakni populasi yang
tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan
dalam bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya guru di Indonesia,
yang berarti jumlahnya harus dihitung sejak guru pertama ada sampai
sekarang dan yang akan datang.

B. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin
mempelajari senua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan
dana, tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang
diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya
akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari
populasi harus betul-betul representative (mewakili).
Dalam penyusunan sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu
daftar dari semua unsur sampling dalam populasi sampling, dengan syarat:
1. Harus meliputi seluruh unsur sampel
2. Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali
3. Harus up to date
4. Batas-batasnya harus jelas
5. Harus dapat dilacak dilapangan
Menurut Teken (dalam Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi) ciri-ciri
sample yang ideal adalah:
1. Dapat menghasilkan gambaran yang dipercaya dari seluruh populasi yang
diteliti
2. Dapat menentukan presisi (precision) dari hasil penelitian dengan
menentukan penyimpangan baku (standar) dari taksiran yang diperoleh
3. Sederhana, sehingga mudah dilaksanakan
4. Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya yang
rendah.
Ada empat faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan besar
kecilnya sampel, antara lain:
1. Degree of homogenity dari populasi, makin homogin populasi makin
sedikit jumlah sampel yang diambil
2. Pressisi yang dikehendaki, makin tinggi tingkat pressisi yang dikehendaki
makin banyak jumlah sampel yang diambil
3. Rencana analisa

4. Tenaga biaya dan waktu


Keuntungan melakukan penelitian sampel adalah:
1. Peneliti tidak repot harus meneliti populasi, cukup hanya meneliti
sampelnya saja.
2. Populasi yang terlalu besar memungkinkan ada subyek yang bisa tercecer
atau luput dari peneliti pada saat diambil datanya.
3. Lebih efisien dari segi waktu, biaya dan tenaga.
4. Menghindari hal-hal yang destruktif, misalnya meneliti tentang
kemampuan daya ledak peluru kendali.
5. Penelitian tidak bisa dilakukan dengan mengguakan populasi sebagai
sumber data.
C. Teknik Sampling
Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk
menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai
teknik sampling yang digunakan, antara lain:
1. Probability Sampling
Probability sampling adalah tekik pengambilan sampel yang
memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi
untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi:
a.Simple Random Sampling
Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota
sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan
strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan apabila
anggota populasi dianggap homogen.
b. Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota yang
tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi
yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan yang
berstrata, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah
pegawai lulusan S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA =
400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata
pendidikan tersebut.
c.Disproportionate Startified Random Sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila


populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari
unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan
S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP, maka tiga
orang lulusan S3 dan empat orang lulusan S2 itu diambil semuanya
sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila
dibandingkan dengan kelompok S1, SMU, dan SMP.
d. Cluster Sampling (Area Sampling)
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel
bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misal
penduduk dari suatu Negara, povinsi, atau kabupaten. Untuk
menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka
pegambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah
ditetapkan.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap,
yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya
menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga.
2. Nonprobability Sampling
Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang
tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota
populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi:
sampling sistematis, sampling kuota, Sampling incidental, porposive
sampling, sampling jenuh, serta snowball sampling.
a. Sampling sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel
berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor
urut.
b. Sampling kuota
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari
populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota)
yang digunakan. Metode memilih sampel yang mempunyai ciri-ciri

tertentu dalam jumlah atau quota yang diinginkan. Contoh: Akan


diteliti mengenai manfaat penggunaan internet pada peningkatan
kualitas proses belajar mengajar pada mata kuliah tertentu, Peneliti
menentukan quota untuk masing-masing sampel:
c. Sampling incidental
Sampling

insidental

adalah

teknik

penentuan

sampel

berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang secara kebetulan atau


insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel,
bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai
sumber data. Metode pengambilan sampel dengan memilih siapa
yang kebetulan ada atau dijumpai. Contoh: Akan diteliti mengenai
minat ibu rumah tangga berbelanja diswalayan peneliti menentukan
sampel dengan menjumpai ibu rumah tangga yang kebetulan
berbelan jadi suatu swalayan tertentu untuk dimintai pendapat atau
motivasinya. Kelebihan : Mudah dan cepat digunakan. Kelemahan:
Jumlah sampel mungkin tidak representative karena tergantung
hanya pada anggota sampel yang ada pada saat itu.
d. Sampling purposive
Sampling purpusive adalah teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu.
e. Sampling jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan
bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang atau
penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang
sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua
anggota populasi dijadikan sampel.
f. Snowball sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang
mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju
yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam

penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi


karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data
yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang
lebih tau dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh orang
sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin
banyak. Metode pengambilan sampel dengan secara berantai (multi
level).
Sampel awal ditetapkan dalam kelompok anggota kecil. Masingmasing anggota diminta mencari anggota baru dalam jumlah tertentu.
Masing-masing anggota baru diminta mencari anggota baru lagi.
Kelebihan : Mudah digunakan. Kelemahan: Membutuhkan waktu yang
lama. Contoh: Akan diteliti mengenai pendapat mahasiswa terhadap
pemberlakuan kurikulum baru di Gunadarma, sampel ditentukan sebesar
100 mahasiswa, peneliti menentukan sampel awal 10 mahasiswa.
Masing-masing mencari 1 orang mahasiswa lain untuk dimintai
pendapatnya. Dan seterusnya hingga diperoleh sampel dalam jumlah 100
mahasiswa.
D. Menentukan Ukuran Sampel
Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel.
Jumlah sapel yang diharapkan 100% mewakili populasi adalah sama dengan
jumlah anggota populasi itu sendiri. Jadi bila jumlah populasi 1000 dan hasil
penelitian itu akan diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada
kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi
tersebut yaitu 1000 orang. Semakin besar julah sampel mendekati populasi,
maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil, dan sebaliknya makin
kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka makin besar kesalahan populasi
(diberlakukan umum).
Jumlah anggota sampel yang paling tepat digunakan dalam penelitian
adalah bergantung pada tingkat ketelitian atau kesalahan yang dikehendaki.
Tingkat ketelitian/kepercayaan yang dikehendaki sering bergantung pada

sumber dana, waktu dan tenaga yang tersedia. Makin besar tingkat kesalahan
maka akan semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan, dan sebaliknya,
makin kecil tingkat kesalahan, maka akan semakin besar jumlah anggota
sampel yang diperlukan sebagai sumber data.
Menurut Gay dan Diehl (1992) berpendapat bahwa sampel haruslah
sebesar-besarnya. Pendapat Gay dan Diehl (1992) ini mengasumsikan bahwa
semakin banyak sampel yang diambil maka akan semakin representatif dan
hasilnya dapat digenelisir. Namun ukuran sampel yang diterima akan sangat
bergantung pada jenis penelitiannya.
1. Jika penelitiannya bersifat deskriptif, maka sampel minimumnya adalah
10% dari populasi
2. Jika penelitianya korelasional, sampel minimunya adalah 30 subjek
3. Apabila penelitian kausal perbandingan, sampelnya sebanyak 30 subjek
per group
4. Apabila penelitian eksperimental, sampel minimumnya adalah 15 subjek
per group
Tidak jauh berbeda dengan Gay dan Diehl, Roscoe (1975) juga
memberikan beberapa panduan untuk menentukan ukuran sampel yaitu :
1. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk
kebanyakan penelitian
2. Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan
sebagainya), ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat
3. Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran
sampel sebaiknya 10x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian
4. Untuk penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eskperimen
yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran
sampel kecil antara 10 sampai dengan 20
Slovin (dalam Ridwan 2005) menentukan ukuran sampel suatu populasi
dengan rumus :
N = n/N(d)2 + 1
n = sampel; N = populasi; d = nilai presisi 95% atau sig. = 0,05.

Suharsimi (2005) memberikan pendapat sebagai berikut : ..jika peneliti


memiliki beberapa ratus subjek dalam populasi, maka mareka dapat
menentukan kurang lebih 25 30% dari jumlah tersebut. Jika jumlah anggota
subjek dalam populasi hanya meliputi antara 100 150 orang, dan dalam
pengumpulan datanya peneliti menggunakan angket, maka sebaiknya subjek
sejumlah itu diambil seluruhnya. Namun apabila peneliti menggunakan teknik
wawancara dan pengamatan, jumlah tersebut dapat dikurangi menurut teknik
sampel dan sesuai dengan kemampuan peneliti
E. Cara Mengambil Anggota Sampel
Dibagian depan bab ini telah dikemukakan terdapat dua teknik
sampling, yaitu probability dan

non probability sampling, probability

sampling yang memberi peluang sama kepada anggota populasi untuk dipilih
menjadi anggota sampel cara demikian sering disebut denga random
Sampling, atau cara pengambilan sampel secara acak.
Pengambilan sampel secara random/ acak dapat dilakukan dengan
bilangan random, computer, maupun dengan undian, maka

setiap anggota

populasi diberi nomer terlebih dahulu, sesuai dengan jumlah anggota


populasi.
Karena teknik pengambilan sampel adalah random, maka setiap
anggota populasi mempunyai peluang sama untuk dipilih mejadi anggota
sazpel. Untuk contoh diatas peluang sama untuk dipilih menjadi anggota
sampel.untuk contoh diatas peluang setiap anggota populasi = 1/1000.dengan
cara pengambilannya bila nomor 1 telah diambil, maka perlu dikembalikan
lagi, kalau tidak dikembalikan peluangnya menjadi tidak sama lagi maka
peluang berikutnya menjadi 1 : (1000-1)= 1/999. Peluang akan semakin besar
bila yang telah diambil tidak dikembalikan.bila yang telah diambil keluar
lagi, dianggap tidak sah dan dikembalikan lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta:
Bandung.
Suharsimi, Arikunto. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta
Fraenkel, J. & Wallen, N. 1993. How to Design and evaluate research in
education. (2nd ed). New York: McGraw-Hill Inc.
Gay, L.R. dan Diehl, P.L. (1992), Research Methods for Business and
Management. MacMillan Publishing Company, New York

Ridwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti
Pemula. Bandung : Alfabeta.
http://repository.upi.edu/646/6/S_KOR_0800194_CHAPTER3.pdf