Anda di halaman 1dari 39

II.

1 PENGERTIAN RESTORASI LOGAM DENGAN INDIRECT RESTORATION


Indirect Restoration adalah restorasi yang dibuat diluar mulut pasien yang akan dilekatkan
atau disemen pada gigi pasien yang telah dipreparasi setelah siap dipasang. Indirect restoration
dibagi menjadi dua yakni intra koronal (restorasi yang terdapat dalam kontur gigi, contoh inlay)
dan ektra koronal (restorasi yang menutupi bagian mahkota gigi asli yang masih ada untuk
mendapatkan montur anatomis, contoh onlay, veneer, dan mahkota pigura). Teknik yang
digunakan untuk membuat restorasi melalui Indirect Restoration adalah teknik restorasi logam.
Teknik restorasi logam adalah suatu restorasi yang dibuat berbahan dasar metal atau alloy (Jones
and Grundy, 1992) .
II. 2 MACAM-MACAM INDIRECT RESTORATION
Macam-macam indirect restoration adalah:
1. Inlay
Inlay adalah restorasi yang digunakan pada gigi yang di preparasi pada bagian
Oklusal Distal (OD), Oklusal Mesial (OM) atau Mesio Oklusal Distal (MOD). Inlay sudah
jarang digunakan untuk kavitas sederhana dan umumnya hanya digunakan untuk gigi-gigi yang
berkebutuhan khusus, seperti gigi yang sudah lemah karena karies dan cenderung fraktur bila
tidak dilindungi atau bila retensi sulit dibuat. Berikut ini merupakan macam klas pada inlay (JD
Eccles, RM Green, 1994).
A. Inlay Klas I
Merupakan klas sederhana , yang jarang digunakan
B. Inlay Klas II
Misalnya digunakan pada gigi yang daerah MOD terkena, sehingga perlu adanya
perlindungan edengan cara menghilangkan tonjolan-tonjolan lemah untuk kemudian di
preparasi dengan menggunakan veneer .
C. Inlay Klas III dan IV
Misalnya digunakan pada jembatan atau attachnment untuk jembatan semi cekat.
D. Inlay Klas V
Misalnya untuk retensi pada geligi tiruan sebagian ,atau dapat digunakan pasak untuk
perawatan kavitas uang dangkal akibat abrasi atau erosi.
2. Onlay
Onlay adalah restorasi pada gigi yang morfologi oklusalnya mengalami perubahan karena
restorasi sebeltorasi inumnya, karies, atau penggunaan fisik. Restorasi ini meliputi seluruh yang
meliputi seluruh daerah oklusal yang meliputi cusp-cusp gigi (Baum, Phillips Lund, edisi III,
1997)
3. Mahkota/ crown
Restorasi gigi yg menutupi atau mengelilingi seluruh permukaan gigi yg telah
dipreparasi. Restorasi ini dibuat untuk gigi yang mengalami kerusakan sehingga tidak bisa
ditambal lagi tetapi gigi tersebut masih vital. Restorasi ini biasanya digunakan pada gigi
premolar dan molar rahang bawah karena karies yang luas atau tambalan yang rusak (Baum,
Phillips Lund, edisi III, 1997).
4. Mahkota Pigura
Mahkota tuang dimana bagian labial atau bukal diberi facing yang sama dengan
warna gigi. Facing tersebut lebih mirip dengan veneers (JD Eccles, RM Green, 1994).
.

II. 3 ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


Dalam pembuatan restorasi logam dibutuhkan alat dan bahan tertentu. Alat yang
digunakan untuk pembuatan model malam adalah pelumas die, pinset kapas, malam, spatula
malam No. 7, pengukir Hollenback - 3, pengukir cleoid discoid, lampu Bunsen atau lampu
alkohol, dan instrument waxing P.K. Thomas. Untuk pembuatan sprue dan penanaman model
malam yang dibutuhkan adalah pembentuk sprue, pin sprue, cincin logam (bumbung tuang),
bahan pelapik (non asbestos liner), bahan tanam pilihan (thermal), bowl dan spatula pengaduk,
pengukur cairan, wetting agent, dan vibrator. Selanjutnya, pada saat pembuangan malam yang
dibutuhkan adalah oven pembakaran, mesin pengecor, gas dan semprotan udara atau wadah
peleburan listrik, larutan asam dan tempatnya, logam pengisi, sentrifugal, dan blowtorch.
Sedangkan pada tahap terakhir adalah pemolesan yang membutuhkan mini bur, disc, rubber
merah dan hijau, serta stone merah dan hijau (Baum, Phillips Lund, edisi III, 1997)
II. 4 TAHAP-TAHAP PEMBUATAN RESTORASI LOGAM
Untuk membuat restorasi logam, diperlukan tahap-tahap yang saling berurutan dan benar
agar hasil restorasi yang dibuat sesuai yang diinginkan oleh dokter gigi. Tahapan-tahapan
tersebut saling berpengaruh. Apabila satu tahapan terlewatkan atau tidak dilakukan, akan terjadi
kemungkinan restorasi yang kita buat mengalami kegagalan. Tahap-tahap pembuatan restorasi
logam adalah ( Kenneth J. Anusavice, edisi 10, 2004)
:
1.
Mengolesi die dengan die separator dengan tujuan model malam bisa dilepas dari
die.
2.
Membentuk restorasi yang akan dibuat dengan menggunakan inlay wax, sesuai dengan
bentuk anatomis gigi aslinya.
3.
Menghaluskan model malam yang telah terbentuk dengan alkohol torch.
4.
Mengkilapkan model malam yang telah terbentuk dengan menggunakan air sabun.
5.
Mempersiapkan penanaman yang meliputi crusible former, sprue, ventilasi dan juga
memasang non-asbestos liner pada bumbung tuang.
6.
Melekatkan sprue pada daerah tertebal model malam dengan sudut tumpul.
7.
Memasang model yang telah terpasang sprue ke crusible former dan menyesuaikan
dengan ketinggian pada bumbung tuang.
8.
Mengolesi model malam beserta sprue dengan menggunakan wetting agent.
9.
Menunggu hingga wetting agent mengering.
10. Menanam model malam
11. Melepas crusible former dari bumbung tuang. Kemudian lakukan buang malam diatas
api selama 1 jam atau hingga bahan tanam tidak lagi tampak kebiruan yang berarti sisa
malam telah habis. Kemuadian lakukan casting logam dengan menggunakan blowtorch
dan centrifugal.
12. Menunggu hingga bumbung tuang agak dingin.
13. Membongkar bumbung tuang dan mengeluarkan hasil tuangan kasar.
14. Fitting dengan cara mencoret-coret die dengan pensil, sehingga bagian yang belum fit
dapat diketahui dengan mudah.
15. Finishing, menggunakan stone merah dan hijau.
16. Polishing, menggunakan rubber merah dan hijau. Lakukan polishing tersebut sampai
model malam mengkilat.

BAB III
PEMBAHASAN
Restorasi logam dilakukan secara indirek yakni dilakukan diluar mulut penderita. Jenisjenis restorasi ini adalah inlay, onlay, mahkota/ crown, dan mahkota pigura. Keempat jenis
tersebut mempunyai tahapan yang sama. Dalam pembuatan model malam, yang harus
diperhatikan adalah daerah kontak proksimal dan kontur anatomisnya karena akan
mempengaruhi kelangsungan gigi tersebut didalam mulut penderita. Apabila daerah kontak
proksimal terdapat celah, maka akan terjadi sekunder karies pada pasien penggunanya. Begitu
pula dengan kontur anatomis. Kontur anatomis yang sesuai dengan gigi asli akan memudahkan
gigi tiruan untuk self cleansing.
Dalam pembuatan restorasi logam, terdapat tahapan-tahapan yang saling berurutan dan
berpengaruh antar satu tahap dengan tahap lainnya. Apabila salah satu tahapan tersebut tidak
dilakukan atau tidak sesuai prosedur akan berpengaruh pada restorasi yang kita buat. Oleh karena
tahap-tahap tersebut harus diperhatikan. Tahap-tahap tersebut adalah:
1.
Pada tahap awal yakni pengulasan die dengan die separator agar model malam dapat
dilepas dari die. Pengulasan die separator tidak boleh terlalu banyak atau sedikit. Jika
terlalu sedikit, malam tidak akan bisa dilepas dari die. Namun, jika terlalu banyak, akan
berpengaruh pada malam tersebut. Malam yang digunakan untuk model malam akan
menjadi getas dan mudah fraktur.
2.
Untuk menghaluskan dan mengkilapkan model malam.saat menghaluskan model
malam gunakan alkohol torch yang anginnya telah kita control terlebih dahulu agar inlay
wax tidak berubah. Selain itu, gunakan kapas dan air sabun untuk mengkilapkannya.
Model malam harus mengkilap karena akan mempermudah kita pada tahap finishing dan
polishing.
3.
Mempersiapkan penanaman yang meliputi crusible former, sprue, ventilasi dan juga
memasang non-asbestos liner pada bumbung tuang. Tujuan pembuatan sprue adalah
sebagai jalannya logam yang mencair menuju mould. Diameter sprue harus disesuaikan
dengan model malam yang tertebal. Jika diameter sprue terlalu kecil, maka terjadi
pemadatan sprue sebelum tuangan memadat dan terjadi porositas penyusutan setempat.
Panjang sprue harus cukup panjang agar posisi model malam tepat pada bumbung tuang
kira-kira 6 milimeter dari tepi ujung bumbung tuang ( Kenneth J. Anusavice, edisi 10,
2004). Sprue dan crucible harus rata permukaannya, agar aliran logam dapat berjalan
lancar. Selain itu pemasangan non asbestos liner juga berpengaruh untuk memberi ruang
saat bahan tanam menaglami ekspansi. Pemasangan ventilasi dibutuhkan sebagai jalan
keluarnya udara.
4.
Melekatkan sprue pada daerah tertebal model malam dengan sudut tumpul. Agar
sprue tidak menyebabkan aliran langsung dari logam cair menuju ke daerah tepi yang
tajam atau bagian yang tipis karena logam cair dapat mengabrasi atau mematahkan bahan
tanam di daerah tersebut dan mengakibatkan kegagalan pengecoran. Tidak boleh
ditempatkan tegak lurus pada permukaan yang datar dan lebar karena mengakibatkan
terjadinya turbulensi atau arus putar dari logam cair di dalam kavitas mould dan porositas
yang parah (Kenneth J. Anusavice, edisi 10, 2004).
5.
Memasang model yang telah terpasang sprue ke crusible former dan menyesuaikan
dengan ketinggian pada bumbung tuang. Letaknya kira-kira 6 milimeter dari ujung
terbuka bumbung tuang agar gas-gas dapat dialirkan dan meminimalisir terjadinya
porusitas.

6.

7.

8.
9.

Mengolesi model malam beserta sprue dengan menggunakan wetting agent untuk
menurunkan tegangan permukaan model malam sehingga bahan tanam dapat melekat erat
pada model malam tersebut. Alternative lai yang digunakan untuk menurunkan tegangan
permukaan model malam adalah dengan air sabun namun, model malam harus bebas dari
buih-buihnya.
Penanaman model malam dengan bahan tanam. Perbandingan antara air dan bubuk
bahan tanam harus sesuai. Bahan tanam yang terlalu encer mudah pecah, sedangkan
bahan tanam yang terlalu pekat berakibat udara tidak dapat keluar. Gunakan vibrator saat
mengaduk, agar tidak ada udara yang terjebak.
Pembuangan malam dan pemanasan. Bahan tanam dinyatakan telah bersih dari
malam apabila tidak nampak kebiru-biruan pada permukaannya.
Fitting, finishing, dan polishing. Fitting dilakukan dengan tujuan agar gigi tiruan
tersebut cocok dengan pasien. Sehingga nyaman untuk dipakai. Finishing dilakukan
untuk menghilangkan buble. Dan selanjutnya adalah polishing yakni mengkilapkan gigi
tiruan dengan rubber merah dan hijau agar permukaan gigi tiruan tidak kasar. Dimana
permukaan yang kasar tersebut mampu mengabrasi gigi lawannya.

RESTORASI INLAY
Agustus 5, 2013
arie kusuma Uncategorized indikasi, inlay, kontraindikasi, methyl methacrylate 4 Komentar
Inlay merupakan tambalan yang dibentuk diluar mulut dengan jalan membuat model malam
terlebih dahulu atau tidak, dapat bersifat logam maupun non logam dan disemen pada kavitas.
Sebelum resin ditemukan, porselen merupakan bahan dasar dari restorasi gigi dalam bentuk
porselen murni. mahkota porselen murni yang pertama dibuat oleh Land pada tahun 1889, di
mana sebelumnya pada tahun 1884 ia menggunakan dapur gas untuk melebur porsele tahun
1894, L.E . Custer menggunakan dapur api listrik. tahun 1898 pertama kali ditemukan lowfusing porselen untuk membuat inlay. Dengan diperkenalkannya pewarnaan mineral pada tahun
1904, memungkinkan bagi operator untuk membuat inlay porselen dan mahkota gigi yang
dianggap sebagai seni keramik yang bermutu tinggi. Dari segi estetis, memang tidak ada yang
menandingi, tetapi karena sulit untuk mendapatkan warna yang baik, dan kerena perlu keahlian
khusus dalam manipulasi, maka penggunaan porselin menjadi sangat terbatas.
sejak tahun 1959 penggunaan resin akriilik sebagai bahan restorasi yang cepat mendapat tempat
di dalam dunia kedokteran gigi. Resin akrilik merupakan bahan sintetis dari Asam Akrilik yang
secara kimia dikenal dengan nama methyl methacrylate. bahan ini terdiri dari monomer, bahan
cair dan polimer, bahan bubuk dalam bentuk sederhana, yang bila berpadu akan memebntuk
resin yang keras. faktor yang digunakan untuk memindahkan panas dalam reaksi pengerasan
resin akrilik dikenan sebagai sistem aktivator.
menurut Marrant ada 3 sistem aktivator yaitu:

1. Amine tertier yang dilarutkan pada cairan monomer dan benzoil peroxida yang dicampur
dengan bubuk polimer. reaksi antara monomer dan polimer akan menghasilkan oksigen,
yaitu initiator dari reaksi polimerisasi.
2. sistem kedua adalah kesanggupan dari asam sulfonik untuk mempolimerisasikan methyl
methacrylate tanpa bantuan zat-zat lain.
3. sistem ketiga adalah modifikasi dari sistem pertama dimana dasar dari sistem amina
peroxida telah diubah menjadi sulfur peroxida.
walaupun ketiga sistem itu telah sering digunakan namun perlu diingat bahwa ada kesulitan yang
besar yang tak dapat dihilangkan yaitu, penyusutan methyl methacrylate yang terjadi selama
polimerisasi.
KEBAIKAN DAN KEBURUKAN INLAY PORSELEN DAN INLAY AKRILIK
INLAY PORSELEN
Keuntungan :

Warnanya dapat disesuaikan dengan warna gigi

Daya kondensasinya rendah dan tolerandi dari jaringan lunak sangat baik

permukaannya licin seperti kaca

Kerugian :

Ketahanan yang rendah terhadap benturan

Kurang dapat beradaptasi terhadap dinding kavitas

untuk pembuatannya dibutuhkan suatu tungku yang special (khusus)

INLAY AKRILIK
Keuntungan :

pembuatannya hanya memerlukan waktu yang singakat

warna dipilih sesai dengan warna gigi

Kerugian :

daya estetika kurang, karena itu akan mudah terlepas dari gigi

mudah menjadi aus bila digunakan untuk mengunyah

Pada umur dibawah 10 tahun tidak dianjurkan menggunakan bahan tambalan ini karena pada
pasien muda tingkat insidens kariesnya masih tinggi.
INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI INLAY LOGAM
INDIKASI :
1. Untuk karies yang besar dan dalam, terutama yang meuluas sampai ke aproksimal
2. sebagai penyangga bridge
3. gigi yang mengalami abrasi yang luas atau pada karies yang lebar meskipun masing
dangkal
4. pada gigi yang menerima tekanan oklusi yang besar,
5. pada kasus kasus dimana di perlukan :

perlindungan terhadap jaringan periodontal

kontak yang lebih baik dengan gigi tetangga

menghindari terjadinya penimbunan sisi makanan

6. untuk menambah tambalan pada kelas IV


7. bila keadaan sosial ekonomi pasien mengijinkan
KONTRA INDIKASI:
1. kebersihan rongga mulut yang jelek
2. pada pasien dengan insident karies yang tinggi
3. pada pasien muda dibawah 10 tahun
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI DARI INLAY PORSELEN DAN INLAY AKRILIK
INDIKASI:
1. pada kasus dimana faktor estetik sangat penting diperhatikan

2. pada daerah yang mengalami erosi disebbabkan oleh cara menyikat gigi yang salah
3. pada kavitas yang besar di permukaan proksimal gigi depan
KONTRA INDIKASI :
1. Pada kleas I, II, IV
RESTORASI GIGI INLAY, ONLAY, CROWN
- macam Restorasi Gigi
1.
Inlay
Inlay adalah tumpatan rigid yang ditumpatkan di kavitas diantara
tonjol gigi/ cusp.
Indikasi :
1. Baik untuk kavitas yang kecil/ karies proksimal lebar
2. Bila diperlukan untuk restorasi klamer dari suatu gigi tiruan
(pegangan), misalnya: inlay bukal atau disto/mesial inlay yang perlu
untuk dibuatkan Rest Seat, untuk gigi tiruan.
3. Kavitas dengan bentuk preparasi > 1,5 jarak central fossa ke
puncak cusp
4. Mengembalikan estetik pada restorasi gigi posterior yang
mengalami kerusakan akibat adanya karies sekunder
Kontraindikasi :
1.
frekuensi karies tinggi
2.
OH pasien jelek
Tahap Pembuatan dan Pemasangan Inlay komposit
1. Preparasi Kavitas

membuang semua jaringan karies atau bahan tumpatan yang


lamaMacam

preparasi dengan membentuk dinding kavitas 3-5 derajat


divergen ke oklusal

seluruh dinding kavitas dihaluskan dengan dasar kavitas, semua


sudut kavitas dibuat membulat

tidak dilakukan pembuatan bevel pada permukaan oklusal

dibutuhkan ketebalan minimal 2 mm agar di dapat kekuatan dari


bahan komposit
2. Pembuatan Inlay

secara direct

secara indirect
3. Insersi Inlay Komposit
4. Teknik Sementasi

persiapan inlay

persiapan kavitas

aplikasi semen resin


5. Penyelesaian dan Pemolesan
2.
Onlay

Onlay merupakan rekonstruksi gigi yang lebih luas meliputi satu atau
lebih tonjol gigi/ cusp.
Apabila morfologi oklusal telah mengalami perubahan karena restorasi
sebelumnya, karies, atau penggunaan fisik, maka inlay dengan dua
permukaan tidak akan adekuat lagi. Hal ini memerlukan suatu restorasi
yang meliputi seluruh daerah oklusal. Dan dalam keadaan ini, onlay
MOD merupakan jenis restorasi yang tepat. ( Baum, Lloyd dkk. 1997 :
544)
Indikasi :
1. Pengganti restorasi amalgam yang rusak.
2. Kalau restorasi dibutuhkan sebagai penghubung tonjol bukal dan
lingual.
3. Restorasi karies interproksimal gigi posterior.
4. Restorasi gigi posterior yang menerima tekanan oklusal yang kuat.
Adalah mungkin bagi amalgam atau inlay untuk mengurangi
kerentanan gigi terhadap fraktur tonjol. Aset utama dari restorasi yang
meliputi permukaan oklusal adalah merestorasi kekuatan gigi dengan
menghubungkan tonjol-tonjol sebagai unit tunggal. (Baum, Lloyd dkk.
1997 : 544)
Indikasi yang populer bagi onlay adalah menggantikan restorasi
amalgam yang rusak. Juga berguna untuk merestorasi lesi karies yang
mengenai kedua permukaan proksimal. Ciri-ciri utama dari restorasi ini
adalah mempertahankan sebagian besar jaringan gigi yang
berhubungan dengan gingival dan hal ini merupakan suatu
pertimbangan periodontal yang sangat membantu. (Baum, Lloyd dkk.
1997 : 544)
Keterangan :
Desain kavitas (outline form) ditentukan oleh ukuran lesi karies oklusal.
A dan B, lesi yang besarnya kecil atau sedang dapat ditambal dengan
hanya melakukan akses.
C, lokasi yang tepat untuk mengakhiri tepi pada permukaan lingual.
D, tepi berakhir pada permukaan oklusal. Ini tidak sesuai karena email
akan mudah pecah.
E, pandangan lingual dari molar kanan atas.
F, penampang karies distal yang mengenai ujung tonjol disto-lingual.
G, pandangan oklusal dari desain restorasi yang tepat untuk gigi ini.
H, penampang potong yang menunjukkan lokasi yang tepat dari
dinding mesial.
I, tepi berakhir pada tonjol disto-lingual. Ini tidak sesuai karena tepi
emailcenderung hancur dan fraktur.
( Baum, Lloyd dkk. 1997 : 374)
Tahapan Preparasi Onlay:
Langkah-langkah preparasi onlay adalah:

Pemasangan isolator karet.

Akses ke karies

Tahap ini dilakukan untuk memperoleh akses ke dentin karies. Alat


yang digunakan adalah bur fisur tungsten carbide pendek-kuncup
dengan kekuatan tinggi.

Menentukan luas karies


Setelah akses diperoleh, kavitas bisa dilebarkan sampai dicapai
pertautan email-dentin yang sehat.

Keyway
Keyway dapat mempengaruhi retensi onlay dan ketahanan terhadap
kemungkinan bergesernya restorasi. Keyway dibuat dengan
kemiringan minimal sekitar 6-10o terhadap sumbu gigi dengan
menggunakan bur fisur kuncup dan dijaga agar sumbu bur sejajar
dengan sumbu gigi. Setelah membuat keyway, kavitas dikeringkan
untuk memeriksa ada tidaknya sisa karies dan bahwa kavitasnya
sedikit membuka dengan sumbu yang benar.

Pembuatan boks aproksimal


Di bagian ini kavitas harus didalamkan memakai bur bulat kecepatan
rendah dan dengan cara yang sama dengan preparasi untuk amalgam
dengan jalan membuang dentin karies pada pertautan email-dentin.
Ketika dentin karies pada pertautan email-dentin telah dibuang,
dinding email dapat dipecahkan dengan pahat dan tepi kavitasnya
dihaluskan dengan pahat pemotong tepi gingiva. Preparasi dibuat
miring 10oterhadap sumbu gigi dengan bur fisur tunsten carbide
kecepatan tinggi.

Pembuangan karies dalam


Karies mungkin tertinggal di dinding aksial dan paling baik dibuang
dengan bur ukuran medium (ISO 012) dalam kecepatan rendah. Jika
dentin karies telah dibuang, periksa kembali untuk memastikan tidak
adanya undercut. Jika masih ada undercut, maka undercut tersebut
ditutup dengan semen pelapik pada tahap preparasi berikutnya
sehingga preparasi mempunyai kemiringan yang dikehendaki.

Pembuatan bevel
Garis sudut aksio-pulpa hendaknya dibevel, baik dengan memakai bur
pengakhir kecepatan rendah maupun dengan bur pengakhir kecepatan
tinggi yang sesuai. Bevel hendaknya diletakkan di tepi email, agar tepi
tipis hasil tuangan dapat dipaskan seandainya kerapatan hasil tuangan
dengan gigi tidak baik. Hendaknya bevel tidak diluaskan lebih ke
dalam karena akan mengurangi retensi dari suatu restorasi. Bur lain
yang dapat digunakan adalah bur fisur kuncup untuk preparasi kavitas.
Tepi luar bevel harus halus dan kontinyu untuk mempermudah
penyelesaian restorasi dan supaya tepi tumpatannya beradaptasi
dengan baik dengan gigi.
Bevel biasanya tidak dibuat di dinding aproksimal karena akan
menciptakan undercut, mengingat sebagian besar tepi kavitas terletak
di bawah bagian gigi yang paling cembung. Akan tetapi dinding gingiva
dapat dan harus dibevel. Bur yang paling cocok adalah bur Baker
Curson halus dan kuncup dalam kecepatan tinggi. Bevel gingiva sangat

penting karena akan mneingkatkan kecekatan tuangan yang biasanya


merupakan hal yang paling kritis.
( Baum, Lloyd dkk. 1997 : 374)
3.
Mahkota (pasak)
Mahkota adalah restorasi rigid sebagian/ seluruh mahkota yang
disemenkan. Rekonstruksi kembali gigi yang kerusakannya lebih besar
daripada gigi yang sehat.
Indikasi:
1.
Gigi vital/ non vital
2.
Sudah tidak bisa ditambal lagi
3.
Karies yang meluas sampai menghilangkan cusp gigi
4.
Jaringan periodontal sehat
5.
Tidak ada riwayat alergi pada bahan mahkota pasak
6.
Gigi antagonisnya masih bagus sehingga tidak menjadi iritasi
pada bagian mukosa palatal.
7.
Retensi pada gigi yang akan diberi mahkota masih baik dalam
artian masih mampu menerima beban mahkota pasak itu sendiri
8.
Akar gigi masih bagus.
Kontraindikasi:
1. Karies pada gigi masih belum meluas masih tergolong pit dan
fissure
2. Jaringan pendukung tidak memungkinkan adanya mahkota karena
adanya periodontitis kronis
3. Tidak adanya gigi antagonis sehingga menyebabkan mukosa
palatal iritasi
4. Gigi yang akan dibuatkan mahkota masih vital artinya tidak
sampai perforasi.
5. Kondisi gigi pada lengkung rahang tidak crowded.
Metode untuk membentuk inti pada gigi insisiv atas sebelum membuat
mahkota pasak
a. Inti komposit yang ditahan dengan pasak dentin pada gigi masih
vital
b. Pasak cor dan inti
c. Pasak kawat wiptam dan inti cor
d. Pasak dan inti siap pakai tipe Charlton
e. Pasak ulir dan inti siap pakai tipe kurer
Catatan : pada b,c,d dan e pengisian akar sudah dilakukan sebelum
pemasangan mahkota.
Gambar 1.2 (a dan b permukaan mesio distal, c permukaan buko
lingual)
Preparasi gigi untuk pasak cord mahkota jaket porselen dengan inti
pada gigi yang sudah dirawat saluran akar:
A preparasi saluran akar
B preparasi permukaan akar
C mahkota jaket porselen yang sudah selesai dengan pasak cor dan
inti

Tahapan Preparasi Pasak :


Pemilihan desain pasak
Sistem pasak yang digunakan harus sesuai dengan saluran akar
maupun restorasinya. Dokter gigi harus mempunyai keterampilan
untuk menentukan indikasi dan penggunakan pasak pada gigi yang
dirawat.
Preparasi pasak
Kamar pulpa maupun saluran akar memberi retensi pada restorasinya.
Pasak yang disemen pada saluran akar akan memneri retensi pada
restorasi (inti) namun tidak memperkuat akar gigi, bahkan sering kali
memeperlemah akar gigi bila bentuk pasak tidak sesuai dengan
bentuk saluran akarnya (lebih besar). Karena itu buatlah preparasi
pasak yang minimal sesuai dengan kebutuhan retensi inti.
Preparasi pasak dimulai dari pengambilan gutta percha dari saluran
akar sesuai dengan panjang yang diperlukan dilanjutkan dengan
memperbesar dan membentuk saluran akar untuk ditempati pasak.
Pengambilan gutta percha harus hati-hati. Pengambilan yang terlalu
banyak akan mengakibatkan tendensi fraktur akar. Perforasi akar juga
bias terjadi apabila preparasi saluran akar menyimpang dari saluran
akarnya. Radiograf tidak dapat menentukan secara pasti mengenai
lengkung dan diameter saluran akar. Radiograf mungkin tidak bisa
menunjukkan konkavitas dan lengkung labio-lingual. Sebagai patokan
umum, diameter pasak tidak boleh lebih dari sepertiga diameter akar.
Preparasi pasak yang menyempit ke arah apikal mencegah terjadinya
step di daerah apeks; tidak adanya step merupakan predisposisi
terjadinya wedging (peregangan) dan fraktur akar.
Pengambilan gutta percha
Pengambilan gutta percha sebaiknya dilakukan pada saat obturasi
karena dokter gigi masih ingat betul bentuk, diameter, panjang dan
lengkung saluran akar.
Pengambilan gutta percha juga bisa dilakukan pada kunjungan
berikutnya. Pengambilan gutta percha lebih baik menggunakan alat
yang panas sedikit demi sedikit sampai panjang yang ditentukan.
Gutta percha diambil sampai tersisa sedikitnya 4 mm dari apeks.
Semua alat bisa digunakan asal bisa dipanaskan. Gunakan instrumen
yang rotatif seperti pisau reamer. Namun penggunaannya harus hatihati karena kecenderungannya untuk menyimpang dan menimbulakan
perforasi atau paling sedikit mengakibatkan kerusakan yang berat
pada saluran akar. Alternatif lain yaitu menggunakan pelarut seperti
kloroform, xylene atau eucaliptol adalah kotor dan sulit mengambil
gutta percha sampai panjang yang dikehendaki.
Penyelesaian ruang pasak
Setelah gutta percha diambil, dilakukan pembentukan saluran akar
sesuai dengan tipe pasak yang akan digunakan. Dapat menggunakan
instrumen putar dalam pembentukannya.

Yang penting adalah bahwa pasak yang disemenkan, apapun desain


dan bentuk preparasinya, tidak mungkin rapat dengan saluran akar.
Pasak tidak akan rapat benar-benar dan semen juga tidak dapat
mengisi seluruh interfase. Saliva dan bakteri juga dapat mencapai
daerah apeks bila sudah berkontak dengan pasak.
Pertimbangan Untuk Membuat Restorasi
1. Gigi yang telah dirawat PSA mungkin lebih getas dan mudah
patah. Hal ini dikarenakan kandungan air pada jarinagn keras lebih
sedikit disbanding dengan gigi dengan pulpa vital.
2. Sesudah jaringan keras diangkat dan perawatan endodontik,
dindind email tidak mendapat dukungan yang baik dank arena
preparasi ruang pulpa.
3. Sedikit tidaknya jarinagan gigi pada mahkota sehingga dipilihlah
perencanaan restorasi dengan retensi intraradikuler (pasak).
Beberapa Pertimbangan Untuk Rancangan Pasak Dan Preparasinya
Tujuan pasak intraradikuler adalah menyediakan retensi dan kekuatan
bagi restorasi mahkota.
1. Jika preparasi pasak terlalu pendek maka akan meyebabkan
kemungkinan patah akar. Tekanan yang ada akan diterima mahkota
dan pasak didesak ke akar.
2. Jika preparasi pasak cukup panjang (idealnya 1-1,5 kali panjang
mahkota) tekanan yang diterima akan tersebar ke seluruh akar yang
berkontak dengan pasak.
3. Jika preparasi pasak terlalu lebar, kar akan menjadi lemah dan
fraktur. Preparasi yang terlalu lebar mungkin akan menyebabkan
perforasi akar. Pasak yang pendek dan lebar sering mengakibatkan
fraktur akar.
4. Jika preparasi dan pasak sempit, kesukaran mungkin akan
dijumpai untuk mencetaknya dank arena fleksibilitas pasaknya, gigi
tidak akan menjadi lebih kuat.
Bahan-Bahan Yang Dapat Digunakan Untuk Membuat Pasak
Pencetakan saluran akar yang telah dipreparasi sangat sulit dilakukan
karena ukurannnya yang panjang dan sempit. Untunglah sekarang
didapat 2 macam bahan yang memungkinkan dilakukannya
pencetakan saluran akar dengan panjang yang maksimum dan tepat.
1. Endopost
Campuran logam yang bertitik lebur tinggi dan dibuat dengan standar
endodontik dari ukuran 70-140; dapat dituang dengan emas atau
logam tuang lainnya.
2. Endowel
Pin plastic berukuran standar 80-140. jika telah pas dengan preparasi pasak dan dibuat
pada malam atau pola resin, akan menguap keluar dari investment dan meninggalkan
cetakan yang dapat dituang dengan logam.

PORCELAIN

Definisi PorcelainPorcelain adalah bahan keramik putih yang bersifat


rapuh, tetapi mempunyai sifat translusen, korosi yang rendah, dan
mengkilat, dimana pembakarannya dengan temperature yang tinggi
(Sembiring,2006).
Porselen adalah bahan yang terbuat dari jenis keramik yang dibakar
dengan suhu tinggi dari bahan lempung murni yang tahan api.
Terdiri dari senyawa logam dan non logam yang diproses dengan
pemanasan suhu tinggi (Anusavice, 2003).
Porcelain adalah bahan keramik yang terbuat dari kaolin, feldspar,
silica, dan berbagai pigmen (Kamus Kedokteran Gigi, 2013).
2.2. Syarat PorcelainSyarat Porcelain dalam Kedokteran Gigi adalah
sebagai berikut :

a.

Dapat memberikan penampilan natural gigi

b.

Biokompatibel

c.

Tidak toksik

d.

Tidak mengiritasi

e.

Tidak mengabrasi gigi antagonis

f.

Tidak dapat larut dalam saliva

g.

Dapat beradaptasi dengan baik dalam temperatur rongga

mulut
2.3 Sifat-sifat Porcelain1.

Sifat fisis

Keuletan dan tegangan geseknya rendah tetapi tegangan tariknya


tinggi. Thermal ekspansi dari dental porselen sama dengan thermal
ekspansi substansi gigi yaitu sekitar 4,1 x 10 mm/C. selain itu sifat
insulatornya juga baik yakni penghantar panas yang rendah, difusi
panas yang rendah, dan penghantar listrik yang rendah (Craig,
2006).
2.

Sifat kimiaSuatu porselen memiliki sifat kelembapan kimia,

dimana kelembapan kimia ini merupakan karakteristik yang penting


karena memastikan bahwa permukaan restorasi gigi tidak
melepaskan elemen-elemen yang berbahaya selain mengurangi
risiko dari kekerasan permukaan serta meningkatnya kerentanan
terhadap adhesi bakteri.Selain itu sifat kimia yang penting ini ialah
porselen merupakan bahan yang biokompatibel dengan lingkungan
rongga mulut dan juga tidak dapat dirusak oleh lingkungan (Craig,
2006).3.

Sifat mekanis

Porselen adalah suatu bahan yang getas, oleh karena itu


perkembangan porselen lebih mengarah pada perbaikan sifat
mekanis, antara lain dengan penambahan alumina yang dapat
memperkuat bahan. Selain itu sebagian besar keramik memiliki sifat
refraktori, kekerasan dan kerentanan terhadap fraktur karena rapuh
(Craig, 2006).Untuk kekerasan keramik disini saat sebelum
diaplikasikan menjadi suatu bahan restorasi memang memiliki
kekuatan yang lebih besar daripada enamel. Akan tetapi pada saat
telah diaplikasikan, kekerasanya sangat diharapkan sama dengan

enamel untuk meminimalkan keausan pada restorasi keramik dan


mengurangi kerusakan akibat keausan yang terjadi pada enamel
karena adanya restorasi keramik (Craig, 2006).4.

Sifat estetik

Sifat estetik adalah salah satu sifat yang sangat penting karena
keramik mampu meniru penampilan dan menyamai gigi asli (Craig,
2006).5.

Sifat porus

Pada saat pembakaran dapat terjadi gelembung-gelembung udara


yang tidak dapat dihindari sehingga menyebabkan terbentuknya
rongga diantara partikel porselen.Hal ini menyebabkan porselen ini
mudah pecah karena kepadatan dari porselen itu sendiri kurang.
Untuk mengurangi porusitas tersebut, beberapa peneliti
menganjurkan cara sebagai berikut (Craig, 2006) :a.

Pembakaran

pada tungku hampa tekanan untuk mengeluarkan air.


b.

Pembakaran dengan adanya suatu gas yang dapat merembes

keluar dari porselen.


c.

Pendinginan dibawah tekanan untuk mengurangi resultan

besarnya pori-pori.
6.

Sifat thermal

Konduktifitas thermal dan koefisien thermal mirip jaringan enamel


dan dentin (Craig, 2006). 2.4 Komposisi Dental Porcelain
Dental porcelain dibentuk dengan mencampur dengan membakar
mineral mineral khususnya feldspar, kaolin, quartz, fluks, dan
pigmen (Sembiring,2006).

1.

Feldspar
Feldspar merupakan sejenis mineral yang mengandung

unsur-unsur kalium, natrium, silikat, aluminium ganda, dan


potassium.pada temperature pembakaran normal bagi peleburan
porcelain bertindak sebagai suatu matriks yang mengikat kristal
kristal kaolin yang kecil dan bentuknya tidak beraturan.jika dibakar.
Feldspar adalah mineral alami berupa anhydrous alumino-silicate,
dan dapat diperoleh dalam bentuk soda feldspar (Na2O, Al2O3, 6
SiO2), lime feldspar (CaO, Al2O3, 6SiO2 ), dan potas feldspar (K2O,
Al2O3, 6SiO2 ). Jika dibakar akan meleleh menjadi bahan yang
bening seperti gelas yang membentuk matriks atau sebagai
pengikat bagi kaolin dan quartz. Feldspar juga digunakan sebagai
bahan fluks. Feldspar meleleh menjadi bahan yang bening seperti
gelas yang membentuk matriks bagi kaolin dan quartz.fungsi
feldspar adalah sebagai permukaan lapisan kaca dan juga sebgai
matriks (sembiring,2006).
Feldspar alami digunakan pada pembuatan dental porcelain,
merupakan campuran dari albite dan mikroline. Variasi alaminya
tidak pernah murni dan perbandingan soda terhadap potash dapat
bervariasi antara satu dan lainnya (sembiring,2006).

2.

Kaolin
Kaolin adalah silikat aluminium hidrat yang dihasilkan dari

dekomposisi mineral mineral feldspatik, yang mirip seperti tanah liat


yang tidak berubah warna ketika dibakar. Kaolin memiliki sifat yang
tidak bening (opak). Kaolin merupakan bahan pengikat untuk
mempertahankan kepadatan dan kekuatan porcelain agar dapat
dibentuk sebelum dibakar .

3.

Quartz
Quartz memberikan kekakuan dan kekerasan pada masa

porcelain selama dan sesudah pembakaran. Quartz digunakan pada


porcelain sebagai penambah kekuatan.Walaupun mengalami reaksi
dengan feldspar untuk mendapatkan suatu bonding, quartz bereaksi
terutama sebagai bahan pengisi (Sembiring, 2006).
4.

Fluks
Fluks ditambahakan untuk meningkatkan aliran campuran

dan untuk mengabsorbsi atau menghilangkan kotoran-kotoran


tertentu. Fluks yang lazim dipakai karbonat, kalium, natrium, boraks
dsan oksida timah hitam (pbo).Titik pembakaran dari sebuah
porcelaindapat bervariasi oleh karena kuantitas dari kumpulan fluks
yang terkandung dari porcelain (sembiring, 2006).
Konsentrasi fluks sebaiknya seimbang, tetapi bila terlalu
tinggi dapat menyebabkan antara lain:
1. Mengurangi daya tahan kemis kaca
2. Dapat menyebabkan kaca mengalami kristalisasi
5.

Pigmen
Pigmen digunakan untuk member warna yang dikehendaki,

bahan ini bersatu dalam bubuk. Bahan pewarna dalam dental


porcelain adalah:
a)

Titanium untuk member warna kuning dan dapat dipergunakan

untuk membuat bahan menjadi lebih opak


b)

Kobalt untuk member warna kebiru-biruan

c)

Besi untuk member warna kecoklat-coklatan

d) Timah dan emas untuk member warna merah jambu


e)

Metallic gold untuk member warna bayangan merah kecoklatan

f)

Platina untuk member warna keabu-abuan

6.

Bahan Glaze Dan Bahan Noda


Untuk mendapatkan hasil estetik yang dikehendaki (Nofrita,

2003).
7.

Gula Dan Starch


Dapat diikutkan sebagai bahan pengikat bahan pewarna

yang dicampurkan berguna untuk menghasilkan warna yang


berbeda sesuai dengan warna gigi alami, juga untuk meniru noda
yang ditemukan pada beberapa gigi dan untuk menghasilkan sebuah
restorasi yang menyerupai jaringan gingiva (Nofrita, 2003).

2.5 Jenis-jenis Porselen dalam Kedokteran Gigi1. All Porselen


All porselen merupakan restorasi yang digunakan di kedokteran gigi
yang bahannya berasal dari porselen murni tanpa ada campuran
bahan lainnya.Keuntungan All porselen :a.

Sangat estetis.

b.

Warna stabil dalam pemakaian.

c.

Tidak mudah aus jika pembuatannya baik.

d.

Tidak memiliki bau.

e.

Tidak bereaksi dengan cairan rongga mulut.

f.

Tidak menimbulkan alergi karena bersifat biokompatible.

g.

Bahan isolator panas yang baik.

h.

Permukaannyayang mengkilap dan licin sehingga akan

mempersulit retensi plak, debris, dan sisa-sisa makanan ketika


diaplikasikan dalam rongga mulut. (Annusavice, 2003)
Kekurangan All porselen :a.
yang berlebihan.

Mudah pecah jika diberi tekanan

b.

Pembuatannya yang cukup sulit.

c.

Kurang kuat.

d.

Dapat menyebabkan gigi antagonisnya mengalami aus jika

restorasinya kurang baik.


e.

Harganya yang lebih mahal jika dibandingkan dengan

restorasi metal porselen.


f.

Sulit memadupadankan warna yang sesuai dengan warna gigi

asli pasien sehingga membutuhkan keahlian khusus dan


pengalaman dari operator sendiri. (Anusavice, 2003)
2. Porcelain Fused to Metal
Pada crown dengan bahan Porcelain Fused to Metal (PFM), kekuatan
diperoleh dari substruktur metal dan estetik didapatkan dari veneer
porcelain. Crown PFM digunakan untuk mengembalikan gigi yang
rusak sangat parah untuk melindungi struktur gigi yang tersisa, dan
juga untuk mempertahankan oklusi dan menawarkan
estetik. Crown PFM dapat diaplikasikan pada gigi anterior maupun
gigi posterior (Sadaf dan Ahmad, 2011).Pada crown PFM terdiri dari
beberapa lapis bubuk porselen dalam air yang kemudian difusikan
dengan kerangka dari metal, melalui pembakaran (firing). Lapisanlapisan ini memiliki tiga tingkatan translusensi yang berbeda.
Lapisan pertama merupakan lapisan opaque yang digunakan untuk
menutupi substrat metal yang gelap. Lapisan intermediate, disebut
juga sebagai dentin, adalah konstruksi utama dari struktur gigi
artifisial dan juga digunakan untuk menyediakan translusensi pada
porselen. Lapisan paling atas atau superfisial, adalah lapisan paling
translusen yang disebut sebagai porselen email atau insisal. Setiap
lapisan difusikan dalam electric atau vacuum furnace pada sekitar
1000 C untuk memperoleh sifat yang optimal (Mrazova dan
Klouzkova, 2009).Restorasi PFM adalah tipe porselen gigi yang
paling umum digunakan. Berdasarkan perbedaan temperatur ada
tiga tipe porselen gigi yaitu:a. Regular felspathic
porcelain (temperatur tinggi 1200-1400 C).b. Aluminous

porcelain (temperatur sedang 1050-1200 C).c. Metal bonding


porcelain (temperatur rendah 800-1050 C).PFM merupakan metal
bonding porcelain (Mrazova dan Klouzkova, 2009).PFM terdiri atas
beberapa lapisan yang difusikan secara kimia pada dasar kerangka
metal. Substruktur metal mendukung keramik dan membuat
keramik bertahan lama terhadap beban dari kekuatan mulut (Sadaf
dan Ahmad, 2011).Restorasi metal keramik harus memenuhi syarat
syarat, antara lain, adalah sebagai berikut:a. Metal dan keramik
mempunyai ikatan yang kuat.b. Metal dan keramik
mempunyai thermal expansion yang sesuai.c. Keramik yang dipakai
relatif mempunyai low fusing.d. Metal harus tahan terhadap
deformasi pada saat keramik mencapai fusing.e. Bahanbahan yang
dipakai harus bersifat biokompatibel terhadap
jaringan. Keuntungaan PFM sebagai bahan crown adalah:1. Tahan
terhadap tekanan mastikasi dan resisten terhadap fraktur.
2. Tahan lama di dalam rongga mulut.
3. Metal yang di lapisi dengan porselen membuat crown yang
dipakai menjadi estetis karena memiliki warna yang sama dengan
gigi.
4. Dapat digunakan dengan kavitas yang luas dan besar.
5. Cocok untuk digunakan pasien yang memiliki kebiasaan bruxism.
6. Warna PFM sebagai crown dapat bertahan lama (tidak dapat
berubah warna)
Kekurangan PFM dalam bidang kedokteran gigi:

1. Lebih banyak

jaringan gigi yang harus dihilangkan. 2.Harga lebih mahal karena


setidaknya membutuhkan dua kali kunjungan dan juga bila
menggunakan alloy metal yang mahal.
(Sinabutar, 2008). 3. Mahkota Pigura Facing Porcelain
Mahkota Pigura (dengan Facing Porselen) adalah suatu restorasi
yang menyelubungi seluruh permukaan klinis gigi dan terbuat dari
logam campur, di mana bagian labial / bukal dilapisi dengan bahan
sewarna gigi porselen (Hatrick, 2011).Macam-Macam Mahkota
Pigura Facing Porcelain:a.
Crown).b.

Mahkota Tuangan Penuh (FullCast

Mahkota Pigura (dengan Facing Akrilik).c.

Mahkota

Jaket (Jacket Crown).d.

Mahkota Pasak.

Indikasi Mahkota Pigura Facing Porselen :1.

Gigi dengan

kebutuhan estetik yang tinggi, biasanya untuk gigi anterior dengan


gigitan dalam.2.

Gigi dengan karies proksimal atau fasial yang tak

dapat direstorasi secara efektif dengan menggunakan resin


komposit.3.

Gigi dengan tepi insisal yang masih relatif utuh

(Hatrick,2011).
Kontraindikasi Mahkota Pigura Facing Porselen :1.

Pasien dengan

indeks karies tinggi


2.

Pasien dengan kebiasaan buruk bruxism.

3.

Premolar atau molar pertama (molar kedua tidak dibutuhkan

estetik)
4.

Gigi dengan mahkota klinis pendek karena sulit dipakai untuk

retensi.
5.

Gigi dengan kekuatan yang sangat kurang terutama di bagian

oklusal, sehingga mudah pecah atau mudah lepas.


6.

Pasien dengan oral hygiene buruk. (Hatrick,2011) .

2.6 Struktur Porselen

Struktur Porselen:a. Opaque Shade (lapisan opak)Untuk menutup


warna jaringan di bawahnya, warna buram.b. Dentin Shade (lapisan
untuk dentin atau body)Lebih translusen dari pada opaque shade,
menentukan warna dan bentuk restorasi.c. Enamel
ShadeMembentuk bagian luar mahkota, translusen warna bisa
disesuaikan dengan gigi asli. 2.7 Klasifikasi Dental Porcelaina.
Dental porcelain diklasifikasikan atas tiga jenis menurut ketinggian
temperature yang diperlukan agar terjadi penyatuan pada porcelain
(fusing) tersebut, sebagai berikut:1.

High fusing dental

porcelainDengan fusing temperature diantara 1300oc (2372of).High


fusing porcelain digunakan membuat enamel gigi tiruan. Porcelain
jenis high fusing ini digunakan untuk konstruksi gigi palsu tetapi
komposisi yaqng mirip dapat digunakan untuk konstruksi mahkota
jaket porcelain dan memerlukan waktu lima menit atau lebih untuk
melebur temperature tersebut (Sembiring,2006).
2.

Medium fusing dental porcelainDengan fusing temperature

diantara 1101o-1300oc (2013o-2072of).Medium fusing porcelain


digunakan untuk membuat elemen gigi tiruan.kegunaan porcelain ini
sama dengan high fusing porcelain (Sembiring,2006).
3.

Low fusing dental porcelainDengan fusing temperature

diantara 850o-1100oc (1562of).Low fusing porcelain digunakan untuk


pembuatan mahkota dan jembatan (Sembiring,2006).
Tabel2.1 Komposisi dari dental porcelain
K

Fel

Sod

Kal

Nat

dsp

il

ium

or

siu

riu

Por

ol

ar

kar

ak

sel

in

bon

kar

kar

at

bon

bon

at

at

en

Hig
h
fusi
ng

(%)
4

81

1
5

por
sel
en
Me

61

diu

m
fusi
ng
por
sel
en
Lo
w
fusi
ng
por
sel
en

60

1
2

b. Bedasarkankegunaannya dental porcelain dapat dibagi atas


(Nofrita,2003):
1.

Porcelain untuk inti

Ini merupakan bahan dasar untuk jaket crown, harus memiliki sifat
sifat mekanis yang baik.2.

Porcelain untuk dentin atau body

Jenis ini lebih translusen daripada yang diatas, ini sangat


menentukan bentuk dan warna restorasi.3.

Porcelain untuk

enamel porcelain jenis ini membentuk bagian luar mahkota, dan


agak translusen.
c. Berdasarkan cara pembakaran
1.

Pembakaran pada tekanan atmosfir.

2.

Pembakaran pada tekanan yang dikurangi atau hampa

tekanan.a. Berdasarkan komposisi


1.

Earthenware sebagian besar kaolin dan quartz,feldspar min.

2.

Stoneware

3.

Domestik porselen sebagian besar kaolin dan feldspar, quartz

kaolin, quartz, dan feldspar seimbang.

sedikit.
4.

Dental Porselen terdiri dari feldspar dan quartz,tidak

mengandung kaolin.
b.
1.

Berdasarkan bahan dasar


Feldspatic PorcelainDibuat pada suhu pembakaran 10500C -

12000C.Perbandingan jumlah feldspar dengan quartz adalah 85%


dan 15%.Quartz yang rendah menyebabkan ruang antara partikel
porselen menjadi lebar sehingga felsdpatik porselen mudah pecah
karena adanya thermal shock.2.
alumina sebesar 50% koefisien

Alumina PorcelainKristal
muai panasnya lebih tinggi, dan

kekuatanya dua kali lebih besar dari pada felsdpatik


porselen.Kekuatan yang tinggi dan sangat opaque, oleh karena itu
lebih diindikasikan pada regio posterior.
3.

Metal Bonding PorcelainPorselen yang digunakan dengan

kombinasi logam mempunyai kandungan K2O sebesar 11%-15%, dan


suhu pembakarannya antara 7000C 12000C. Meningkatkan jumlah
kandungan K2O akan menghasilkan perubahan muai panas pada
porselen yang dibutuhkan untuk berlekatan dengan logam.

c.

Berdasarkan struktur pendukung

1.

Reinforced ceramic core system

Pada tahun 1960 Mclean dan Hughes mengembangkan bahan


porselen dengan penambahan alumina pada feldspatik glass dan
dikenal sebagai alumina reinforced porcelain jacket crown dalam hal
ini alumina bertindak sebagai crack stopper dalam mikrostruktur
porselen. penambahan bahan ini juga meningkatkan flexural strengh
sehingga sistem porselen ini cocok bagi mahkota posterior.
2.

Metal ceramic

Metal ceramic menggunakan alloy, yang dahulu berbahan dasar


emas, untuk membentuk inti yang kuat dan rigid bagi ceramic yang
nanti akan menutupi inti tadi. Ceramic biasanya mengandung leucite
sebagai pengubah koefisien ekspansi termal untuk mengurangi
tekanan antara metal dan ceramic selama proses pembakaran. Versi
modern dari metal ceramic sekarang ini menggunakan leucite yang
memiliki partikel lebih halus dan dispersi yang lebih padat untuk
meningkatkan kekuatan mekanik dan kekuatan fleksural
3.

Resin-bonded ceramic

Adalah benda padat multiphase yang mengandung residu kaca


dengan fase kristalin yang terdispersi secara halus. Kristalisasi yang
terkontrol dari kaca menghasilkan pembentukan kristal kecil yang
tersebar di sekitar partikel kaca. Jumlah kristal, pertumbuhannya
dan ukuran kristal diatur oleh waktu dan suhu saat proses
perubahan kaca menjadi kristalin.

PORCELAIN FUSE METAL


Porcelain Fused To Metal (PFM)

Porselen
Porselen adalah material yang sewarna dengan gigi, material porselen
tersusun atas kristal, alumunia dan silica yang dileburkan secara bersama

pada high temperatures, untuk membentuk kekuatan, keseragaman, dan


material glass-like ( Hatrick, 2010 dan Anusavice, 2003 ).
Dalam laboratorium kedokteran gigi, porselen untuk restorasi
menggunakan bentuk sediaan fine powder (serbuk halus). Pembuatan dari
powder porselen sangat kompleks. Porselen terbuat dari bahan-bahan dasar
berupa: silika (SiO2), feldspar (K2O.Al2O3.6SiO2), dan alumina (Al2O3). Bahanbahan crystalline ini dipanaskan bersamaan
dengan fluxed diantaranya sodium carbonate atau lithium carbonate.
Material crytalline yang baru terbentuk disebut leucite juga berbentuk
kaca pada kondisi tertentu. Dental porselen ini merupakan matriks dari kaca
bertitik leleh rendah berikatan dengan leucite crystals. Porselen selanjutnya
dibakar kembali dengan metal oksida untuk menambahkan warna yang
sesuai dengan gigi. Setelah porselen dingin, porselen ini menjadi bahan dasar
untuk fine powder, bentuk inilah yang digunakan dalam dental laboratorium.
Klasifikasi porselen berdasarkan temperatus fusinya diantaranya:
1. 1288- 1371 Care high fusing
2. 1093-1260 Care medium fusing
3. 871-1066 Care low fusing
Kebanyakan dalam dental restorasi dibuat dengan low-fusing porcelains.
Sifat-sifat Dental Porcelain
o Kekuatan Transverse
Merupakan kemampuan porselen untuk bertahan terhadap fraktur
ketika terjadi tekanan. Transverse strength merupakan kombinasi dari
kekuatan tekan dan kekuatan regangan. Rata-rata kekuatan transverse dari
dental porselen berkisar antara 56-446 Mpa tergantung pada tipe dari
porselen.
o Koefisien dari ekspansi termal
Merupakan jumlah ekspansi yang dimiliki oleh porselen dipanaskan
atau jumlah pengkerutan ketika porselen didinginkan. Koefisien dari ekspansi
termal dari porselen berkisar 1210-6/C pada kebanyakan porselen.
Koefisien dari ekspansi termal sangat penting pada saat porselen berikatan
dengan metal atau porselen lainnya.
o Warna dental porselen

Sifat ini sangat penting untuk menentukan kesesuaian material dengan


struktur gigi. Warna dapat diekspresikan dalam tiga bentuk; hue, value,
and chroma.
-

Hue merupakan warna dasar seperti: biru, hijau, kuning, atau merah.
Chroma merupakan intensitas atau saturasi dari warna, pengukuran

tingkat kemurnian seperti biru menjadi biru terang.


Value jumlah dari warna abu-abu. Value yang tinggi menunjukan warna
keabua-abuannya berkurang (warna menuju putih). Sebaliknya value rendah
maka warna akan lebih kehitam-hitaman.
Kesesuaian antara warna porselen dengan warna gigi merupakan titik
terpenting dalam keberhasilan restorasi menggunakan dental porselen.
( Craig, 2000 )

Metal
Metal atau logam adalah suatu bahan material yang bersifat opaq dan
memilki densitas yang tinggi. Dalam bidang kedokteran gigi aplikasi metal
atau logam biasanya digunakan dalam bentuk alloy. Alloy adalah material
yang memilki bahan dasar dua atau lebih metal, biasanya menggunakan
sedikitnya empat atau enam hingga delapan bahan metal. Bahan alloy dalam
bidang kedokteran gigi terus berkembang hingga saat ini. Beberapa tahun
yang lalu material alloy berkembang dengan emas sebagai bahan utama,
saat ini banyak bahan yang berkembang sebagai bahan dasar alloy
diantaranya adalah paladium, titanium, perak,nikel, cobalt dan emas. Metal
yang digunakan sebagai bahan alloy biasanya dipilih berdasarkan
aplikasinya, diantaranya adalah :
1.

crown and bridge


menggunakan emas, paladium, perak, cobalt, nikel sebagai bahan dasar.

2.

orthodontic / endodontic
mengunakan alloy titanium-valadium, stainless steel, nikel-titanium, cobaltchromium-nikel, beta titanium

3.

implant
biasanya menggunakan titanium, alloy titanium, stainless steel, cobalt
chromium.

Dengan campuran banyak metal dalam material alloy dan material


yang digunakan dapat berpengaruh terhadap jaringan, menjadikan sulit
untuk mengidentifikasi biokompatibilitas dari alloy.
( Schmalz dan bindslev, 2009 )
Porcelain Fused to Metal
Restorasi porcelain fused to metal melibatkan penggabungan dari
kebaikan sifat mekanik logam dengan sifat estetik porcelain yang baik.
Secara umum, restorasi terdiri dari sub-struktur logam campur yang
berikatan dengan vinir porcelain. Restorasi logam-keramik telah berhasil
digunakan untuk mahkota dan jembatan multiunit (multiunit bridge) selama
30 tahun. Restorasi ini digunakan lebih dari 60 persen pada kasus restorasi
mahkota dan jembatan ( Anusavice, 2003 ).
Schwartz et al (1970) melaporkan mahkota dengan bahan metal penuh
mempunyai lifetime 10.3 tahun. Karies sekunder merupakan penyebab
utama kegagalan untuk 58 persen dari mahkota. Kershbaum dan Voss (1977)
memperkirakan bahwa hanya 3 persen dari restorasi PFM yang gagal dalam
kurung waktu 10 tahun.
Syarat utama bahan yang digunakan dalam restorasi PFM adalah
kompatibilitas logam dan porcelain. Feldspathic porcelain yang digunakan
untuk PFM biasanya mengandung jumlah leucite yang spesifik. Hal ini dapat
menaikkan koefisien ekspansi termal dari porcelain yang hampir sama
dengan logam. Hal ini dapat mencegah perkembangan tegangan termal
selama pendinginan setelah pembakaran. Adanya leucite juga membantu
menguatkan porselen. Minimal kekuatan flexural yang dibutuhkan untuk
porselen pada PFM seperti yang telah ditentukan pada standar ISO adalah 50
MPa, sama seperti seperti pada restorasi all-ceramic pada dentin/enamel.
Syarat-syarat logam campur untuk membentuk substruktur yang mirip
dengan bahan pada ikatan non-porcelain antara lain:
1. Aloi logam, telah dikasting pada bentuk yang diinginkan sebelumnya, harus
tahan dengan pembakaran porcelain berdiri tanpa meleleh atau terkena
2.

creep. Oleh karena itu, aloi harus mempunyai suhu fusi yang tinggi.
Aloi harus rigid untuk dapat menyokong vinir porcelain yang getas jika tidak
fraktur tidak dapat terhindarkan

3.
4.

Aloi harus dapat membentuk ikatan dengan vinir porcelain sehingga


nantinya tidak akan terlepas.
Aloi harus punya ekspansi koefisien termal yang hamper sama dengan
porcelain yang terlibat
( McCabe & Walls, 2008 )
Porcelain dan logam campur yang digunakan dalam restorasi ini harus

1.

memenuhi syarat-syarat, antara lain:


porselen dan logam harus membentuk ikatan kuat (beberapa kegagalan

2.

disebabkan karena ikatan yang kurang adekuat)


porselen fusi pada suhu leleh yang lebih rendah dari suhu leleh logam.

3.

Logam tidak boleh leleh pada suhu fusi porselen.


porselen dan logam harus memiliki koefisien ekspansi termal yang sesuai,
sehingga porselen tidak akan pecah atau terlepas dari alloy saat proses

pendinginan.
4. Logam harus mempunyai modulus elastisitas yang tinggi sehingga dapat
menyalurkan tegangan yang baik dari porselen.
( Chandra S., et al., 2007 ).
Terdapat beberapa batasan pada penggunaan PFM dan cast metal
restorations. Kebanyakan, PFM dan cast metal restorations hanya digunakan
pada gigi permanen pada orang dewasa, karena penghilangan dari struktur
gigi untuk fabrikasi yang baik akan merusak vitalitas pulpa pada anak-anak
dan remaja. Terlebih lagi, restorasi dengan bahan tersebut mempunyai biaya
hampir delapan kali lipat dari bahan amalgam.

II.2 Pembahasan Porcelain Fused to Metal


Aplikasi , Biokompatibilitas, Keuntungan, dan Kerugian Porcelain
Fused to Metal Dalam Bidang Kedokteran Gigi

Aplikasi Porcelain Fused to Metal ( PFM ) dalam Bidang


Kedokteran Gigi
Crown
Pada crown dengan bahan porcelain fused to metal (PFM), kekuatan
diperoleh dari substruktur metal dan estetik didapatkan dari veneer
porcelain. Crown PFM digunakan untuk mengembalikan gigi yang rusak
sangat parah untuk melindungi struktur gigi yang tersisa, dan juga untuk

mempertahankan oklusi dan menawarkan estetik. Crown PFM dapat


diaplikasikan pada gigi anterior maupun gigi posterior (Sadaf dan Ahmad,
2011).
Pada crown PFM terdiri dari beberapa lapis bubuk porselen dalam air
yang kemudian difusikan dengan kerangka dari metal, melalui pembakaran
(firing). Lapisan-lapisan ini memiliki tiga tingkatan translusensi yang berbeda.
Lapisan pertama merupakan lapisan opaque yang digunakan untuk menutupi
substrat metal yang gelap. Lapisan intermediate, disebut juga sebagai
dentin, adalah konstruksi utama dari struktur gigi artifisial dan juga
digunakan untuk menyediakan translusensi pada porselen. Lapisan paling
atas atau superfisial, adalah lapisan paling translusen yang disebut sebagai
porselen email atau insisal. Setiap lapisan difusikan
dalam electric atau vacuum furnace pada sekitar 10000 C untuk memperoleh
sifat yang optimal.

(Mrazova dan Klouzkova, 2009)

Restorasi PFM adalah tipe porselen gigi yang paling umum digunakan.
Berdasarkan perbedaan temperatur ada tiga tipe porselen gigi yaitu
1.
2.
3.

regular felspathic porcelain (temperatur tinggi 1200-1400 oC)


aluminous porcelain (temperatur sedang 1050-1200 oC)
metal bonding porcelain (temperatur rendah 800-1050 oC). PFM
merupakan metal bonding porcelain.
PFM terdiri atas beberapa lapisan yang difusikan secara kimia pada
dasar kerangka metal. Substruktur metal mendukung keramik dan membuat
keramik bertahan lama terhadap beban dari kekuatan mulut.
Restorasi metal keramik harus memenuhi syaratsyarat, antara lain,
adalah sebagai berikut:
a. Metal dan keramik mempunyai ikatan yang kuat.

b. Metal dan keramik mempunyai thermal expansi yang sesuai.


c. Keramik yang dipakai relatif mempunyai low fusing.
d. Metal harus tahan terhadap deformasi pada saat keramik mencapai fusing.
Pada saat fusing, keramik harus dapat bersatu dengan logam dan berikatan
tanpa merubah bentuk logam. Pada saat mendingin, baik logam maupun
keramik akan mengalami kontraksi yang akan menimbulkan retak atau
bahkan terlepasnya keramik dari logam.
e. Bahanbahan yang dipakai harus bersifat biokompatibel terhadap jaringan.
Pada prinsipnya, sifatsifat restorasi metal keramik ditentukan
oleh keadaan interfacenya. Bila didapati ikatan yang rapat antara metal
dengan keramik maka akan terjadi penurunan energi bebas yang dapat
memisahkan kedua komponen atau sebaliknya.
( Shillingburg HT, Jacobi R, Bracket SE. 1987 )
Gigi tiruan cekat/bridge
GTC dari PFM dapat digunakan pada gigi anterior maupun posterior.
Pada pembuatannya, pada gigi anterior kerangka logam hanya menutupi
permukaan lingual dan incisal edge, sedangkan permukaan labial ditutup
oleh porselen. Metal mencapai hingga area proksimal tetapi harus
diperhatikan bahwa metal pada bagian lingual tidak mencapai hingga ruang
proksimal lebih dari yang diperlukan untuk kekuatan. Pemanjangan proksimal
dari kerangka logam hanya sampai area kontak, untuk alasan estetik.
Kerangka metal lingual juga sampai area insisal sehingga mencapai incisal
edge, tapi tidak menutupi permukaan labial.
( Pahlevan, 2006 )
Pada penggunaannya, GTC dari PFM juga dapat dimodifikasi dengan
resin-bonded, sehingga menghasilkan Metal-Ceramic Resin Bonded FixedPartial Denture (RBFPD), yang dapat digunakan pada gigi anterior dan
posterior, untuk menggantikan satu atau dua gigi yang hilang. RBFPD ini
dapat dilakukan pada gigi yang masih vital. Seperti dalam kasus misalnya
ingin menggantikan gigi premolar dua yang hilang namun gigi molar pertama
sudah memakai crown yang terbuat dari PFM, sementara gigi premolar
pertama masih vital namun terdapat karies kecil pada bagian proksimal

sebelah distal, maka gigi abutment dari RBFPD ini dapat diaplikasikan, karena
PFM konvensional memerlukan pengurangan jaringan yang banyak.
Biokompatibilitas Porcelain Fused to Metal ( PFM ) dalam Bidang
Kedokteran Gigi
Definisi biokompatibilitas secara luas adalah "kemampuan suatu
material untuk memberikan respon yang tepat pada aplikasi tertentu". Hal ini
mengimpilkasikan bahwa ada interaksi antara host, bahan dan fungsi yang
diharapkan dari material. Jika ketiga faktor ini selaras maka material
dapat dikatakan biokompatibel.
Sebagian besar penelitian telah mengamati bahwa semakin
rendah noble content alloys (yang mengandung lebih banyak base
element) menghasilkan reaksi jaringan yang lebih kuat daripada noble
content alloys yang lebih tinggi dan gold alloys. Elemen
pembentuk oksida (In, Fe, Sn, Zn) yang tergabung dalam precious alloys
untuk restorasi PFM adalah elemen logam dasar (base metal elements) dan
umumnya cenderung lebih mudah larut dibandingkan
dengan elemen logam mulia. Dilaporkan bahwa pajanan dalam waktu yang
cukup panjang meskipun dengan dosis rendah, kemungkinan ion logam dapat
menimbulkan efek-efek yang tidak diinginkan dalam jaringan biologis.
Walaupun logam pada restotasi PFM ditutupi oleh veneer porselen,
Namun, biasanya bagian small collar dibiarkan tidak tertutup memungkinkan
terjadinya reaksi yang merugikan dengan jaringan biologis disekitarnya
Pada tingkat yang cukup tinggi ion logam dapat menonaktifkan
metabolisme sel dan menurunan proliferasi sel. Ion-ion logam yang
dilepaskan dari alloy gigi berinteraksi dengan jalur metabolisme dan struktur
sel menyebabkan kerusakan. Kasus yang sangat ekstrim adalah ketika ion
logam memasuki sistem peredaran darah dan didistribusikan secara sistemik
oleh protein seperti albumin. Ion ini kemudian dapat menyebabkan aktivasi
gen dalam sel endotel. Pelepasan kation dapat memberikan reaksi inflamasi
dan dapat memodulasi respon imun dengan aktivasi atau inhibisi T-dan B-sel.
Respon ini bisa dalam bentuk mukositis oral, gingivitis / periodontitis dan
resorpsi tulang.

Dilaporkan bahwa di Inggris menunjukkan bahwa reaksi terhadap


logam mulia terjadi sekitar 5% dari reaksi yang disebabkan oleh logam dan
jumlah penyebab alergi dikaitkan dengan logam tampaknya kecil. Studi lain
menemukan bahwa tidak lebih dari 10% pasien yang mengalami alergi.
Namun, komponen logam dari hampir semua cast dental alloys dapat
dideteksi dalam jaringan terdekat.
Fase pembentukan memainkan peran yang cukup besar dalam
menentukan biokompatibilitas alloy gigi, dengan multi-phase Ag-Pd-Cu multifase menunjukkan sitotoksisitas lebih daripada bahan-single phase. Ketika
menempatkan restorasi gigi yang berdekatan
dengan gingiva dan periodontal, paduan non-mulia ditemukan hampir
sepenuhnya menghambat kelangsungan hidup sel sementara paduan mulia
dan titanium non-alloyed menunjukkan hasil yang lebih baik.
( Johnson et al., 2011 )
Keuntungan Porcelain Fused to Metal ( PFM ) dalam Bidang
Kedokteran Gigi
Adapun keuntungan dari PFM dalam bidang kedokteran gigi adalah
1.

:
Unggul sebagai bahan langsung pada daerah yang memerlukan tekanan

tinggi
2. Kekuatan pemakaian baik
3. Tahan lama
4. Estetis
( Elvira Sinabutar, 2008 )
Keuntungaan PFM sebagai bahan crown adalah

1.
2.
3.
4.

adanya metal core dapat mendukung gigi


tahan terhadap tekanan mastikasi dan resisten terhadap fraktur
tahan lama di dalam rongga mulut
Metal yang di lapisi dengan porselen membuat crown yang dipakai menjadi

5.
6.
7.

estetis karena memiliki warna yang sama dengan gigi.


Dapat digunakan dengan kavitas yang luas dan besar
Cocok untuk digunakan pasien yang memiliki kebiasaan bruxism
Warna PFM sebagai crown dapat bertahan lama (tidak dapat berubah warna)
( Elvira Sinabutar, 2008 )

Kekurangan Porcelain fused to Metal dalam bidang kedokteran gigi:


1. Lebih banyak jaringan gigi yang harus dihilangkan (lebih banyak
dibandingkan porselen) untuk substruktur metal

2.

Harga lebih mahal karena setidaknya membutuhkan dua kali kunjungan dan
juga bila menggunakan alloi metal yang mahal
3. Teknis lab yang lebih sulit. Prosedur teknis dari pola wax investing dan
casting alloi metal yang mahal meliputi banyak variabel teknis dan
pertimbangan banyaknya langkah operatif dan siklus firing, membuat

kualitas akhir dari restorasi yang sangat sensitif.


4. Chipping pada porselen ketika tekanan pada gigi yang ekstrim, tetapi dapat
diatasi oleh dokter gigi dalam 20-30 menit
5. Dari sudut pandang estetik, PFM tidak menyerupai aspek natural dari gigi,
karena inti metal yang menghalangi cahaya untuk masuk. Tidak adanya
translusensi, karena faktanya restorasi PFM hanya dapat mengabsorbsi atau
memantulkan cahaya, sementara jaringan gigi menunjukkan derajat
translusensi yang tinggi.
( Zarone, dkk., 2011 )
6.

Terbentuk bayangan gelap pada bagian servikal


( Pahlevan, 2006 )

7.

Pada sistem logam-keramik, kegagalan terjadi pada daerah yang memiliki


ikatan paling lemah, sehingga jika ikatan adhesif antara keramik dan logam

sudah cukup, kegagalan akan kohesif di dalam keramik.


8. Pada noble alloy yang digunakan untuk PFM seperti emas, palladium,
persentase kecil dari indium, harga lebih mahal dan kurang beradaptasi
dengan sistem keramik yang berbeda. Sebagai contoh cairan palladium
dapat mengabsorbsi gas dalam jumlah banyak yang kemudian dapat
9.

dilepaskan selama casting dan menyebabkan banyak mikroporositas.


Pada base metal alloy yang digunakan untuk PFM, terkadang menyebabkan
pembentukan oksida yang besar, sulit saat finishing dan polishing
dikarenakan ductility yang rendah, dan dapat menyebabkan shrinkage pada
casting yang lebih besar. Sebagai contoh oksida Ni dan Cr dalam sistem base
metal menurunkan koefisien ekspansi porselen Vita (Vident) dan diduga

dapat memicu stres interfasial sehingga menyebabkan kegagalan.


( Venkatachalam, dkk., 2009 )
10. Pada crown PFM, untuk kepentingan gigi sebelahnya, pembentukan dan
lokasi serta ukuran area kontak sangat penting. Adanya diskrepansi pada
area kontak dapat menyebabkan impaksi makanan. Pasien dapat merasa
sangat kesulitan untuk mempertahankan area tersebut bersih yang dapat
menyebabkan karies pada gigi sebelahnya.
( Sadaf dan Ahmad, 2011 )

1.

Porcelain fused to metal merupakan penggabungan dari kebaikan sifat


mekanik logam dengan sifat estetik porcelain, terdiri dari sub-struktur logam
campur yang berikatan dengan vinir porcelain.

2.

Aplikasi porcelain fused to metal dalam bidang kedokteran gigi adalah pada
pembuatan mahkota gigi dan gigi tiruan cekat.

3.

Meskipun pembuatan porcelain fused to metal bertujuan untuk


menggabungkan sifat unggul dari masing-masing material untuk
menghasilkan suatu hasil yang baik, namun material tersebut masih memiliki
kekurangankekurangan sehingga diperlukan penelitian perkembangan lebih
lanjut atau penggantian material yang lebih baik dari segi estetis, kekuatan,
maupun biokompatibilitas.

Anusavice, Kenneth J., 2003, Phillips Science of Dental Materials 11nd, United
States of America: Elsevier Science.
Chandra, Satish., Chandra, Shaleen., Chandra, Girish. 2007. Textbook of
operative dentistry.. JYP brothers : New delhi.
Craig, RG. 2002. Restorative Dental Materials, 11 th ed, Missouri: Mosby,
hal. 456.
Craig, RG., et al.,2000, Dental Materials; Properties and Manipulation 7nd, United
State of America, Mosby.
David Penn, Dr. 2009. Compairing Porcelain Fused to Metal Versus Zirconium
Based Restoration, Australasian Dentist, Sydney.
Elvira Sinabutar. 2008 .Perbedaan Marginal Gap Cavosurface Margin Berbentuk
Shoulder dan Champer Overlay PFM.
Ghavamnasiri M, Maleknejad F, Modabber M. 2010. Porcelain Fused to Metal
Crown as an Abutment of a Metal-Ceramic Resin-Bonded Fixed Partial Denture
: A Clinical Report. The Journal of Contamporary Dental Practice. Vol 11(2) :16.
Hatrick, C.D., et al., 2011, Dental Materials; Clinical Applications for Dental
Assistans and Dental Hygienists 2nd, USA: Saunders Elsevier.
McCabe, John F & Walls, Angus WG. 2008. Applied Dental Materials ninth ed.
Blackwell Publisher : Oxford.

Mrazova M and Klouzkova A. 2009. Leucite Porcelain Fused to Metals for Dental
Restoration. Vol. 53(3): 225-230.
Pahlevan A. 2006. A New Design for Anterior Porcelain Fused to Metal Fixed
Prosthetic Restorations; PTU Type III. Journal of Dentistry. Vol. 3(2): 100-103.
Sadaf D and Ahmad MZ. 2011. Porcelain fused to metal (PFM) crowns and caries
in adjacent teeth. Journal of the College of Physicians and Surgeons Pakistan.
Vol. 21 (3): 134-137.
Venkatachalam B, Goldstein GR, Pines MS, and Hittelman EL. 2009. Ceramic
Pressed to Metal Versus Feldspathic Porcelain Fused to Metal: A Comparative
Study of Bond Strength. The International Journal of Prosthodontics. Vol. 22
(1): 94-100.
Zarone F, Russo S, and Sorrentino R. 2011. From porcelain-fused-to-metal to
zirconia: Clinical and experimental considerations. Dental Materials. Vol. 27:
83-96.