Anda di halaman 1dari 17

1

ANATOMI DAN FISIOLOGI MASTOID


Oleh: Eva Susanti
Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok

Bedah

Kepala dan Leher


Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga RSUD Dr.Soetomo
Surabaya

Pendahuluan
Mastoid merupakan sel-sel udara berbentuk seperti sarang lebah yang
letaknya dibelakang telinga. Merupakan bagian terbesar dari tulang temporal di
sebelah posterior dan inferior. Karena letaknya yang tersembunyi itu sering kali
mastoid sering terlewatkan sewaktu pemeriksaan THT.1,2
Mastoid berhubungan dengan bagian-bagian telinga dimana mekanisme
pendengaran dan keseimbangan berada. Penyakit-penyakit seperti infeksi dan
kolesteatoma dapat melibatkan mastoid.1
Penyakit telinga seperti OMSK (Otitis Media Supuratif Kronis) prinsip
terapinya ialah pembedahan yaitu mastoidektomi. Jumlah penderita yang
dilakukan operasi mastoidektomi di RSUD Dr. Sutomo Surabaya dan mengalami
kegagalan pasca operasi dilaporkan masih cukup banyak yaitu 53% oleh karena
itu anatomi mastoid layak mendapat perhatian khusus karena menyangkut
gambaran batas-batas interna mastoid setelah sistem sel udara dihilangkan.
Pemahaman tentang perkembangan dan variasi pneumatisasi tulang temporal
penting bagi dokter bedah mastoid.2-6
Infeksi pada telinga tengah, otitis media ataupun fungsi tuba Eustachius
yang sedikit menghambat pertumbuhan dan perkembangan sistem sel udara
mastoid, sedangkan sistem sel udara mastoid yang kecil merupakan predisposisi
bagi terjadinya otitis media melalui pengerusakan sistem regulasi tekanan telinga
tengah.7,8,9

Sistem sel udara mastoid (MACS = Mastoid Air Cell System) berperan
sebagai penyedia gas bagi telinga tengah dan counter regulation pada tekanan
telinga tengah dimana mastoid meregulasi tekanan yang rendah sedangkan tuba
Eustachius meregulasi tekanan yang lebih tinggi. (Doyle, National Institude,
Gaihede, B.Magnuson). Volume MACS yang lebih besar akan menjaga telinga
tengah dari beberapa kondisi patologis dengan menurunkan frekuensi pembukaan
tuba dan pembukaan tuba Eustachiusnya menjadi lebih efisien dibandingkan jika
volume MACS nya kecil.7, 10-11
Pada makalah ini akan dibahas tentang mastoid yang meliputi anatomi,
embriologi, pneumatisasi dan fisiologinya.

1. MASTOID
1.1 Anatomi
Bagian terbesar os temporal dibentuk oleh bagian mastoid di sebelah
posterior dan inferior. Namun demikian, karena bagian ini mengalami
pneumatisasi yang luas, massanya tidak melebihi bagian-bagian tulang temporal
yang lain. Prosesus mastoid menonjol ke arah inferior di belakang meatus
eksterna.

Bagian

ini

berperan

sebagai

tempat

perlekatan

otot-otot

sternokleidomastoid, splenius kapitis dan longisimus kapitis. Pada bagian inferior


terdapat suatu lekukan yang dalam yaitu lekuk mastoid (fosa digastrik) tempat
melekatnya m.digastrik. Pada bagian dalam prosesus mastoid, lekukan ini
membentuk eminensia digastrikus yang merupakan suatu patokan penting
sewaktu operasi mastoidektomi, karena foramen stilomastoid yaitu tempat
lewatnya nervus fasial terletak pada ujung anterior eminensia digastrikus tersebut.
Permukaan superior mastoid merupakan suatu lempengan tipis terletak di atas
antrum timpanik yang dikenal sebagai tegmen mastoid. Di posterior, bersamasama dengan permukaan posterior os petrosa membentuk batas anterior fosa
kranii posterior. Di sini terdapat suatu lekukan dalam yang dibentuk oleh sinus
lateral atau sinus sigmoid. Dua buah saluran lain yang lebih kecil menuju ke
medial, berisi sinus petrosa inferior dan superior.2
Sistem sel udara pneumatik tumbuh sehubungan dengan pembesaran
tulang temporal sebagai suatu penumbuhan ke luar dari telinga tengah dan antrum.
Kelompok-kelompok

sel

udara

dapat

diklasifikasikan

berdasarkan

asal

perkembangannya. Sel-sel yang berkembang dari antrum merupakan kelompok


terbesar, terbentuk di dalam prosesus mastoid yang membesar. Sel-sel mastoid
terletak di sebelah luar suatu lempeng tulang yang biasanya dijumpai pada
pertemuan prosesus antrum os petrosa dan prosesus timpani os skuama (sutura
petroskuamosa) yang dikenal dengan nama septum Korner. Sebelah dalam septum
ini dijumpai sel-sel antrum yang merupakan perluasan antrum asli ke arah medial
ke dalam os petrosa. Perluasan tersebut dapat terjadi jauh ke dalam petrosa sampai
kepinggir kanalis semisirkuler dan kanal auditori interna. Sinus sigmoid mungkin
dikelilingi oleh suatu kelompok sinus yang meluas ke skuama. Perluasan sel-sel
tersebut ke arah anterior dan lateral dapat mencapai zigoma (sel-sel zigoma) dan

berhubungan dengan atik. Sel-sel ujung mastoid kadang-kadang membentuk suatu


daerah koalesens yang besar di ujung prosesus mastoid.2
Sel-sel timpani telinga tengah membentuk banyak kelompok-kelompok
yang berpencar yang membuat pneumatisasi os petrosa. Kelompok yang paling
besar ialah sel-sel udara karotis yang mengelilingi kanalis karotis dan bergabung
dengan kelompok sel subtuba, sel-sel udara yang berasal dari tuba auditorius . Selsel apikal petrosa terutama barasal dari kelompok ini seperti juga halnya sel-sel
prekoklea. Dari kelompok sel-sel udara ini dibedakan juga kelompok-kelompok
prekarotis, postkarotis dan suprakarotis. Suatu kelompok suprakoklea dapat
berasal dari dinding medial atik dan meluas ke atas koklea dan sekeliling ganglion
genikulatum, kadang-kadang bergabung dengan sel-sel antrum di sekitar kanalis
semisirkuler superior. Sel-sel yang berasal dari telinga tengah bagian posterior
dapat berhubungan dengan sel-sel mastoid di sebelah anterior nervus fasial dan
bahkan dapat merupakan cikal bakal sel-sel mastoid. Sel-sel retrofasial berasal
dari sinus timpani dan membuat pneumatisasi os petrosa sebelah medial nervus
fasial. Pembersihan penyakit pada kedua kelompok sel udara yang terakhir ini
dapat menimbulkan resiko terhadap nervus fasial.
Luasnya pneumatisasi os temporal bervariasi untuk masing-masing
individu. Hal ini ditentukan oelh dua faktor, yaitu faktor herediter dan faktor
lingkungan. Terjadinya otitis pada masa bayi dan kanak-kanak dapat menghambat
pneumatisasi dan mengakibatkan sklerosis. Di pihak lain ada bukti bahwa
pneumatisasi yang terbatas merupakan predisposisi untuk infeksi telinga.
Anatomi bedah mastoid layak mendapat perhatian khusus oleh karena itu
menyangkut gambaran batas-batas interna mastoid setelah sistem sel udara
dihilangkan. Konfiguasi anatomi tersebut dibuat secara pembedahan dengan cara
memaparkan struktur-struktur yang penting yang membatasi rongga mastoid tanpa
mencederainya.
Batas posterior rongga mastoid dibentuk oleh tulang yang melapisi dura
posterior. Patokan utama adalah suatu saluran cembung yang besar, berjalan dari
sudut superolateral ke sudut posteromedial yang dibentuk oleh sinus lateral. Batas
superior dinding ini membentuk sudut tajam dengan tegmen mastoid yaitu sudut
sinodural. Dinding atas rongga ini dibentuk oleh tegmen. Di bagian inferior, ujung
mastoid membentuk dinding luar eminensia digastrikus yang cekung menonjol ke
dalam ruang sebelah medial ujung mastoid tersebut. Di bagian anterior, rongga ini

dibatasi oleh dinding posterior liang telinga luar dan segmen vertikal nervus fasial
berjalan pada basis dinding tersebut. Bagian nervus fasial ini memanjang kira-kira
dari fosa inkudis sampai ujung anterior eminensia digastrikus.
Dinding medial rongga mastoid mempunyai beberapa patokan. Kanalis
semisirkuler lateral dan posterior menempati bagian terbesar dinding ini. Segitiga
antara prominensis ekstena kanal-kanal tersebut dan sudut posterosuperior
mastoid dikenal sebagai segitiga Trautmann. Dari sini sekelompok sel-sel antrum
meluas ke bagian dalam os petrosa sampai ke daerah kanalis auditori interna.
Visualisasi dinding medial dapat membingungkan oleh adanya septum Korner
yang membagi sel-sel menjadi bagian superfisial dan bagian dalam. Antrum
belum tercapai sebelum septum ini dihilangkan dan patokan-patokan yang disebut
tadi dapat dikenali.2
Gambar 1. Anatomi
mastoid1
1.1.1

Prosessus
Prosessus

Mastoid
mastoid

sering

disebut juga ujung

mastoid

(mastoid

tip),

suatu

bagian
dibentuk

merupakan

tonjolan

di

bawah

tulang temporal yang

oleh

prosesus zigomatikus

di bagian anterior dan lateralnya serta pars petrosa tulang temporal di bagian
ujung dan posteriornya.12

1.1.2 Struktur Di Dalam Tulang Mastoid


Antrum mastoid, adalah suatu rongga di dalam prosessus mastoid yang
terletak persis di belakang epitimpanik/atik. Merupakan suatu rongga udara yang
besar yang terletak di bagian atas mastoid dan berhubungan dengan atik melalui
aditus. Dasarnya dibentuk oleh tegmen antri yang merupakan kelanjutan dari
tegmen timpani dan memisahkanya dari fossa kranialis media. Dinding lateral
antrum mastoid dibentuk oleh suatu lempeng tulang yang tebalnya sekitar 1,5 cm
pada orang dewasa. Permukaan luar mastoid ditandai dengan adanya segitiga
MacEwen (MacEwens triangle).12,13

Aditus ad antrum, adalah saluran yang menghubungkan antrum dengan


epitimpani. Septum Korner adalah pertemuan sel-sel pneumatisasi mastoid yang
berkembang dari antrum pada bagian petrosa prossesus mastoid dengan sel-sel
pneumatisasi yang berkembang dari pars skuamosa, jadi merupakan terusan sutura
petroskuamosa. Pertemuan ini bisa tebal seperti lempengan tulang yang relatif
keras, tetapi seringkali tipis sehingga tidak jelas. Pada yang tebal, kadang-kadang
mengecohkan ahli bedah yang belum berpengalaman pada waktu pembedahan dan
mungkin akan mengalami kesulitan dalam menemukan sel-sel pneumatisasi
mastoid yang lebih dalam, disangka tidak ada lagi pneumatisasi di sebelah
dalamnya, padahal masih terdapat pneumatisasi yang mungkin terdapat jaringan
patologik yang harus dibersihkan pada operasi mastoidektomi. Lempeng dura
(dural plate), adalah bagian tulang tipis yang biasanya lebih keras dari tulang
sekitarnya yang membatasi rongga mastoid dengan duramater. Lempeng sinus
(sinus plate), adalah bagian tulang tipis yang biasanya lebih keras dari tulang
disekitarnya yang membatasi rongga mastoid dengan sinus lateralis. Sudut
sinodura, adalah sudut yang dibentuk oleh pertemuan duramater fosa media dan
fosa posterior otak di superior dengan sinus lateral di fosa posterior. Sudut ini
ditemukan dengan membuang sebersih-bersihnya sel-sel pneumatisasi mastoid di
bagian posterior inferior lempeng dura dan posterior superior lempeng sinus.12,13
Sudut keras (solid angle, hard angle), adalah penulangan yang keras sekali
yang dibentuk oleh pertemuan 3 kanalis semisirkular, membentang dari kanalis
semisirkularis lateralis sampai kanalis semsirkularis posterior di sebelah
antromedial sinus sigmoid. Sudut ini akan ditemukan dengan membuang sebersihbersihnya sel-sel pneumatisasi mastoid di antara kanalis semisirkularis lateral
dengan sudut sinodura. Segitiga Trautmann, adalah daerah yang terletak dibalik
antrum yang dibatasi oleh sinus sigmoid, sinus lateral (sinus petrosus superior),
dan tulang labirin. Batas medialnya adalah lempeng dura fosa posterior. Seringkali
sel-sel pneumatisasi mastoid berkembang ke daerah itu dan harus dibersihkan
pada mastoidektomi radikal atau pada timpanoplasti dinding runtuh.12

Gambar 2. Telinga dan pembagiannya13

Gambar 3. Telinga tengah dengan batas-batasnya13

Gambar

4.

Pembagian

telinga

tengah

kedalam

epitimpanum,

mesotimpanum dan hipotimpanum13

1.2 Embriologi Tulang Mastoid


Sistem sel udara mastoid merupakan perluasan dari bagian telinga tengah
pada kantung faringeal pertama. Proses ini terjadi sewaktu perkembangan tulang
temporal dan menghasilkan derajat pneumatisasi tulang mastoid yang berbedabeda. Adanya infeksi yang berulang pada telinga tengah diidentifikasi sebagai
faktor yang membatasi perluasan pneumatisasi sistem sel udara mastoid,
sedangkan tidak adanya infeksi akan mendukung perkembangan sistem sel udara
mastoid secara penuh. Sistem sel udara mastoid meluas dari aditus ad antrum pada
epitimpanum ke jalur mastoid sentral dimana perluasan yang lebih jauh bisa juga
terjadi.2

1.3 Pneumatisasi Tulang Mastoid


Pemahaman tentang perkembangan dan variasi pneumatisasi tulang
temporal penting bagi dokter bedah mastoid. Ruang-ruang pneumatisasi berguna
sebagai tanda penting, yang membawa dokter bedah ke fossa media dan posterior
bony plate, nervus fasialis, vena jugularis, arteri carotis dan labirin.4
Luasnya pneumatisasi tulang temporal berbeda-beda tergantung dari faktor
herediter, lingkungan, nutrisi, infeksi, dan fungsi dari tuba Eustachius.5

Pertumbuhan mastoid berdasarkan usia dan variasi normal dari


pertumbuhan tulang mastoid ini telah didokumentasikan oleh Eby dan Nadol.
Sesaat setelah lahir, hanya telinga tengah dan aditus yang mengalami
pneumatisasi. Jalur mastoid sentral mengalami pneumatisasi dalam 2 tahap yaitu
pada usia 0-2 tahun dan pada saat pubertas.4,14
Terdapat lima lokasi pada tulang temporal yang mengalami pneumatisasi
yaitu telinga tengah, mastoid, perilabirin, apex petrosa dan tulang assesorius.
Mastoid terbagi menjadi antrum mastoid, mastoid sentral dan mastoid perifer.5
Helmi mengemukakan bahwa pneumatisasi mastoid mulai setelah bayi
lahir dan hampir lengkap pada usia 3 atau 4 tahun, kemudian berlangsung terus
sampai usia dewasa. Pneumatisasi tersebut saling berhubungan dan drainasenya
menuju aditus ad antrum. Proses pneumatisasi ini bervariasi dari orang ke orang
sehingga terdapat 3 tipe pneumatisasi, yaitu pneumatik, diploik dan sklerotik.
Pada tipe pneumatik, hampir seluruh proses mastoid terisi oleh pneumatisasi, pada
tipe sklerotik tidak terdapat pneumatisasi sama sekali, pada tipe diploik
pneumatisasi kurang berkembang. Ada juga yang membagi menjadi 4 tipe
pneumatisasi yaitu pneumatik, diploik, campuran dan sklerotik. Pada tipe
pneumatik, hampir seluruh prosessus mastoid terisi oleh pneumatisasi. Pada tipe
diploik hampir seluruh prosessus mastoid terisi oleh lapisan diplo (tabula media).
Pada tipe campuran, terjadi pneumatisasi dan diplo. Pada yang sklerotik tidak
terjadi pneumatisasi maupun lapisan diplo.12,13
Sel mastoid dapat meluas ke daerah sekitarnya, dapat sampai ke arkus
zigomatikus dan ke pars skuamosa tulang temporal. Sel pneumatisasi
hipotimpanik adalah pneumatisasi pada lempeng tulang yang memisahkan kavum
timpani dengan bulbus jugularis. Sel pneumatisasi epitimpanik adalah
pneumatisasi pada atap kavum timpani. Pneumatisasi ke apek petrosus biasanya
merupakan perluasan dari kavum timpani, drainasenya langsung ke kavum
timpani.12
Berdasarkan lokasinya sistem sel udara mastoid dibagi menjadi:13
a. Sel-sel udara zigoma (pada dasar zigoma)

10

b. Sel-sel udara tegmen (meluas ke dalam tegmen timpani)


c. Sel-sel udara perisinus (diatas lempeng tulang sinus)
d. Sel-sel udara retrofasial (disekitar nervus fasialis)
e. Sel-sel udara perilabirin (berada diatas, dibawah dan
dibelakang labirin)
f. Sel-sel udara perituba (disekitar Tuba Eustachius)
g. Sel-sel udara prosessus mastoid (berada di dalam prosessus
mastoid)
h. Sel-sel udara marginal (berada di belakang lempeng sinus
dan meluas ke tulang oksipital)
i. Sel-sel squmosa (berada pada bagian squamosa tulang
temporal)

Gambar 5. Sistem sel udara pada tulang temporal.13

11

Gambar 6. Septum Korners (a) tampak setelah eksplorasi mastoid (b)


potongan koronal mastoid.13

1.4 Pendarahan
Arteri temporalis superfisialis mendarahi jabir fasia temporoparietal. Arteri
itu muncul dari jaringan kelenjar parotis dan memberi cabang arteri temporalis
media yang berjalan ke depan ke daerah pre aurikula. Kira-kira 3 cm di atas arkus
zigomatikus pembuluh ini bercabang menjadi cabang terminal frontal dan parietal.
Arteri aurilularis posterior merupakan arteri yang relatif kecil yang
merupakan cabang a. Karotis eksterna, mulai di atas muskulus digastrikus dan
stilohioideus di dekat apeks prosesus stiloideus, mula-mula di bawah kelenjar
parotis pada prosesus stiloid tulang temporal menuju lekukan di antara tulag
rawan daun telinga dengan prosesus mastoid untuk kemudian bercabang menjadi
cabang-cabang aurikular dan oksipital.
Arteri aurikularis posterior selain memberi cabang untuk mendarahi m.
Digastrikus, stilohioideus dan sternokleidomastoideus serta ke kelenjar parotis,
juga melepas 3 cabang penting, yaitu a. Stilomastoideus, cabang aurikularis dan
cabang oksipital.
Arteri stilomastoid memasuki foramen stilomastoid dan mendarahi kavum
timpani, antrum mastoid dan rongga mastoid serta kanalis semisirkularis.
Pembuluh itu mengeluarkan cabang yang bergabung dengan cabang a. Timpani
anterior yang merupakan cabang a. Maksilaris interna dan membentuk sirkulus
arteri yang mengelilingi membran timpani yang melepaskan cabang-cabang kecil
di membran timpani. Arteri itu juga beranastomosis dengan cabang petrosus
superfisialis a. meningea media yang masuk sebagai ranting kecil ke hiatus
kanalis fasialis. Cabang aurikularis (ramus auriculares) naik di belakang telinga di

12

bawah a. aurikularis posterior. Ramus itu mendarahi bagian belakang daun telinga
sebagai cabang-cabang kecil yang sebagian melingkari dan sebagian lagi
menembus tulang rawan daun telinga. Pembuluh itu beranastomosis dengan
cabang parietal dan cabang aurikularis anterior a. temporalis superfisialis. Cabang
oksipital (ramus occipitalis) berjalan ke arah belakang di permukaan muskulus
sternoleidomastoideus ke kulit kepala di atas dan di belakang daun telinga untuk
mendarahinya, kemudian beranastomosis dengan a. oksipitalis.12

1.5 Persarafan
Persarafan

sensoris

daerah

temporoparietal

diurus

oleh

saraf

aurikulotemporal, saraf sensoris dari n. Mandibularis yang terletak posterior


terhadap a. temporalis superfisialis di dalam fasia temporoparietal. Nervus
fasialis, yang merupakan persarafan motorik daerah muka, juga lewat di dalam
fasia temporoparietal. Karena itu dalam mngelevasi flap di sebelah depan cabang
frontal a. temporalis superfisialis harus hati-hati untuk mencegah cedera cabang
saraf motorik itu. Cabang frontal n. Fasialis berjalan oblig persis di luar arkus
zigomatikus, letaknya dapat diperkirakan dengan garis yang menghubungkan
suatu titik 0,5 cm di bawah tragus ke titik lain 1,5 cm lateral ke alis.12

1.6 Mukosa Timpanomastoid


Permukaan medial membran timpani, cavum timpani dan sel-sel udara
mastoid seluruhnya dilapisi oleh epitel mukosa, yang merupakan perkembangan
dari ressesus tubotimpanik. Jenis sel yang predominan berbeda-beda lokasinya
pada timpanomastoid kompartemen. Pada hipotimpanum dan epitimpanum
dilapisi oleh sel yang bersilia dan bersekret. Jalur mukosiliar ini juga berperan
penting dalam sistem mukosiliar tuba eustachius.5

2.1 Peranan Mastoid Dalam Regulasi Tekanan Telinga Tengah

13

Telinga tengah secara anatomis dan fungsional terbagi menjadi dua ruang
udara yang saling berhubungan. Pada anteriornya terdapat timpanum dan
posteriornya terdapat sistem sel udara mastoid. Timpanum merupakan suatu sel
udara yang besar yang terdiri dari rantai tulang pendengaran telinga tengah dan
berfungsi sebagai organ transduksi perifer. Sebaliknya, sistem sel udara mastoid
merupakan bagian-bagian kecil yang banyak, terdiri dari sel-sel yang berisi
rongga udara yang berfungsi meningkatkan volume dan permukaan telinga
tengah, tetapi tidak berfungsi secara langsung dalam transduksi suara. Sejumlah
besar penelitian menunjukkan bahwa volume sistem sel udara mastoid secara
tidak langsung berhubungan dengan predisposisi terjadinya beberapa kondisi
patologis tertentu pada telinga tengah seperti kolesteatom dan otitis media. Satu
hipotesa lebih jauh menerangkan bahwa sistem sel udara mastoid berfungsi
sebagai suatu penyedia gas bagi telinga tengah dimana telinga tengah dengan
sistem sel udara mastoid yang besar memerlukan frekuensi terbukanya tuba
Eustachius yang lebih sedikit untuk mempertahankan tekanan total yang selalu
tetap. Mekanisme ini menerangkan bahwa pertukaran gas N2 melalui mukosa
telinga tengah dibagi volume telinga tengah lebih besar pada timpanum
dibandingkan pada sistem sel udara mastoid. Bagaimanapun, pertimbangan
geometrik sebagaimana yang dicerminkan dalam perbandingan volume area
permukaan kedua kompartemen ini (MACS>timpanum) menunjukkan bahwa
mekanisme ini memerlukan angka perfusi darah per area permukaan lebih kecil
pada sistem sel udara mastoid ketika dibandingkan dengan timpanum. Penelitian
yang dilakukan Alper dkk menunjukkan bahwa sistem sel udara mastoid berperan
sebagai penyedia gas bagi telinga tengah. Volume MACS (Mastoid Air Cell
System) atau sistem sel udara mastoid yang lebih besar akan menjaga telinga
tengah dari beberapa kondisi patologis dengan menurunkan frekuensi pembukaan
tuba dan atau pembukaan tuba Eustachiusnya sedikit lebih efisien dibandingkan
jika volume MACS nya lebih kecil.7,10,11
Penelitian lain menunjukkan bahwa infeksi telinga tengah, otitis media
ataupun fungsi dari tuba Eustachius yang sedikit mencegah pertumbuhan dan
perkembangan sistem sel udara mastoid, sedangkan lainnya menyatakan bahwa
sistem sel udara mastoid yang kecil merupakan presdiposisi bagi terjadinya otitis

14

media melalui pengerusakan sisem regulasi tekanan telinga tengah (misalnya


kondisi-kondisi yang menyebabkan mukosa menjadi patologis. Beberapa peneliti
mempercayai bahwa sistem sel udara mastoid berfungsi sebagai kontrol terhadap
gas yang hilang dalam darah, dimana mastoid dengan volume yang lebih besar
berhubungan dengan sedikitnya jumlah gas yang hilang dalam darah. Peneliti
memperkirakan perubahan tekanan telinga tengah yang normalnya mengandung
25% N2O dan 20% oksigen akan sedikit lebih kurang pada telinga yang memiliki
volume mastoid yang lebih besar.7,8,9
Mastoid pada manusia sebagaimana juga tuba Eustachius berfungsi
sebagai counter-regulation paa tekanan telinga tengah dimana mastoid meregulasi
tekanan yang lebih rendah sedangkan tuba Eustachius meregulasi tekanan yang
lebih tinggi.14
Berdasarkan ukuran sistem sel udara mastoid, telinga dibagi atas 2
kelompok, telinga dengan pneumatisasi rendah (low-pneumatized ears) dan
telinga dengan pneumatisasi baik (well pneumatized ears). Low-pneumatized ear
mempunyai ukuran sistem sel udara mastoid < 8 cm 2 dan well pneumatized ears
mempunyai ukuran sistem sel udara mastoid > 8 cm2.15
Faktor predisposisi terjadinya otitis media supuratif adalah telinga dengan
pneumatisasi udara mastoid rendah ( < 8cm2). Menjadi kroniknya otitis media
supuratif menunjukkan tidak berfungsinya struktur sel udara mastoid dalam
mengatur dan mempertahankan fluktuasi tekanan telinga tengah. Pada berbagai
bentuk otitis media, terjadinya tekanan negatif di telinga tengah dan pengaturan
tekanan ini tidak dapat dilakukan pada kasus dengan pneumatisasi sel udara
mastoid rendah.15
Sade melaporkan pada 72 penderita OMSK dewasa didapatkan 52,2%
dengan pneumatisasi sel udara mastoid rendah (<6 cm2) dan 20% dengan
pneumatisasi sel udara mastoid baik (>6 cm2). Pada 150 telinga normal
mendapatkan rata-rata volume pneumatisasi sel udara mastoid 12,94 cm2. Sade
berpendapat bahwa otitis media supuratif dan komplikasinya terjadi setelah
perkembangan dan maturasi sistem sel udara mastoid. Dia juga berpendapat

15

bahwa proses inflamasi (seperti pada otitis media supuratif) menyebabkan


terjadinya kesembangan negatif gas-gas di telinga tengah. Menurut Sade dan
Hadas, prognosis otitis media sangat tergantung pada volume sel udara mastoid.
Semua penelitian menunjukkan bahwa tingkat pneumatisasi sel udara mastoid
merupakan faktor penting dalam prognosis otitis media.15

RINGKASAN
Mastoid merupakan sel-sel udara berbentuk seperti sarang lebah yang
letaknya dibelakang telinga. Merupakan bagian terbesar dari tulang temporal di
sebelah posterior dan inferior. Karena letaknya yang tersembunyi itu sering kali
mastoid sering terlewatkan sewaktu pemeriksaan THT.
Prinsip terapi OMSK tipe maligna ialah pembedahan yaitu mastoidektomi
dengan atau tanpa timpanoplasti.
Mastoiditis koalesens akut merupakan komplikasi dari otitis media akut,
timbul dari jaringan granulasi pada sel-sel udara mastoid atau mastoid air cells
(MACS) yang mampu mendestruksi tulang. Karena telinga tengah berhubungan
dengan mastoid, maka otitis media kronik sering kali disertai mastoiditis kronik.
Anatomi bedah mastoid layak mendapat perhatian khusus oleh karena itu
menyangkut gambaran batas-batas interna mastoid setelah sistem sel udara
dihilangkan. Konfiguasi anatomi tersebut dibuat secara pembedahan dengan cara
memaparkan struktur-struktur yang penting yang membatasi rongga mastoid tanpa
mencederainya.
Sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa volume sistem sel udara
mastoid secara tidak langsung berhubungan dengan predisposisi terjadinya
beberapa kondisi patologis tertentu pada telinga tengah seperti kolesteatom dan
otitis media. Satu hipotesa lebih jauh menerangkan bahwa sistem sel udara
mastoid berfungsi sebagai suatu penyedia gas bagi telinga tengah dimana telinga
tengah dengan sistem sel udara mastoid yang besar memerlukan frekuensi
terbukanya tuba Eustachius yang lebih sedikit untuk mempertahankan tekanan
total yang selalu tetap. Mekanisme ini menerangkan bahwa pertukaran gas N2
melalui mukosa telinga tengah dibagi volume telinga tengah lebih besar pada
timpanum dibandingkan pada sistem sel udara mastoid.

16

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.

Anonymous. Anatomi Mastoid. Pediatric Otolaryngology, 2004


Austin F David. In: Ballengers, eds. Otorhinolaryngology head and neck

3.

surgery. 16th ed. Hamilton Ontario: BC Decker Inc,2003: 101-40.


Santoso Setya Boedy. Otitis Media Supuratif Kronik Maligna dengan
Komplikasi Ekstrakranial di Bagian THT RSU Dr. Soetomo Surabaya Tahun
2004-2006. Departemen THT FK Unair/ RSUD Dr Soetomo. Surabaya, 2007;

4.

1-3. Penelitian Retrospektif.


Nadol B Joseph. Osseous Approaches to the Temporal Bone. In : Nadol B
Joseph, eds. Surgery of the Ear and Temporal Bone. Philadelphia : Lippicott

5.

Williams and Wilkins; 2005.p.121-6


Gulya Julianna Aina. Anatomy of the Ear and Temporal Bone. In : Glasscock
E Michael, Gulya Julianna Aina, eds. Surgery of the Ear. Ontario : BC Decker

6.

Inc; 2003.p.47-9
Pramesthi Emmy. Evaluasi Hasil Operasi Mastoidektomi Dinding Runtuh
Pada Penderita Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Bahaya di RSUD Dr.
Soetomo Surabaya Januari 2007-Desember 2009. Departemen Kesehatan

7.

THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.Surabaya. 2009. hal 14.


Doyle WJ. The Mastoid As a Functional Rat Limiter of Middle Ear Pressure

8.

Change. J. Pediatrics Otorhinolaryngology 2007; 1-12


National Institute of Deafness and Other Communication Disorders. Gas

9.

Supply, demand and Middle Ear Gas Balance. J. Clinical Trials.gov 2010
M Gaihede, JJ Dirckx, H Jacobsen, J Aernouts, M Sovso, K Tveteras. Middle
ear pressure regulation-comlementary avtive actions of the mastoid and the

Eustachian tube. Denmark. J. Otol neurotol 2010.


10. Alper CM, Kitsko J Dennis, Swarts Douglas, Martin Brian, Yuksel Sancak,
Doyle Cullen M Brendan, et al. Role of the Mastoid in Middle Ear Pressure
Regulation. Laryngoscope 2011; 1-8
11. Gacek R Richard, Gacek R Mark. Anatomy of the Auditory and Vestibular
Systems. In: Ballengers otorhinolaryngology; 2005
12. Helmi. Anatomi Mastoid dalam Otitis Media Supuratif Kronis. Balai Penerbit
FK UI. Jakarta. 2005

17

13. Dhigra PL. Anatomy Of Ear In Diasease of Ear, Nose and Throat. Fourth
Edition. 2008. p. 1-9
14. Anson Barry, Bast HT. Developmental Anatomy of the Ear. In:Shambaugh E
George, eds. Surgery of The Ear. Philadelphia : W.B. Saunders Company;
1967. p. 33-9
15. KOC Ahmet, Karaaslan Osman, KOC Turgay. Mastoid Air Cell
System.Otoscope. 2004. p. 144-54

Anda mungkin juga menyukai