Anda di halaman 1dari 107

Demokrasi Islam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Demokrasi Islam adalah ideologi politik yang bertujuan untuk menerapkan prinsip-prinsip
agama Islam ke dalam kebijakan publik. Ideologi ini muncul pada awal perjuangan pembebasan
atas daerah di mandat Britania atas Palestina kemudian menyebar akan tetapi di sejumlah negaranegara dalam pratiknya telah mencair dengan gerakan sekularisasi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi_Islam

Demokrasi Dalam Pandangan Islam


06 Apr 2014 in Analisis Leave a comment

Oleh: HM Tambrin MMPd


(Kepala Kantor Wilayah Kemenag Kalsel)
Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para ulama supaya mereka menjelaskan
kepada manusia tentang apa-apa yang diturunkan kepada mereka (syariat ini), Allah berfirman.
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab
(yaitu): Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu
menyembunyikannya (Ali-Imron: 187)
Allah melaknat orang yang menyembunyikan ilmunya

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan
berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada
manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk)
yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan
menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah
Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah : 159-160).
Dan Allah mengancam mereka dengan neraka
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah,
yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak
memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara
kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang
amat pedih. (Al-baqarah: 174).
Sebagai pengamalan sabda Rasulullah
Artinya : Agama itu adalah nasehat, kami bertanya : Bagi siapa wahai Rasulullah ?Jawab
beliau : Bagi Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan mayarakat umum.
(Hadit Riwayat Muslim)
Dan mencermati beragam musibah yang menimpa umat Islam dan pemikiran-pemikiran yang
disusupkan oleh komplotan musuh terutama pemikiran impor yang merusak aqidah dan syariat
umat, maka wajib bagi setiap orang yang dikarunia ilmu agama oleh Allah agar memberi
penjelasan hukum Allah dalam beberapa masalah berikut.
Demokrasi, menurut pencetus dan pengusungnya, demokrasi adalah pemerintahan rakyat (dari
rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Rakyat pemegang kekuasaan mutlak. Pemikiran ini
bertentangan dengan syariat Islam dan aqidah Islam. Allah berfirman.
Artinya: Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka
itu adalah orang-orang kafir. (Al-Maidah : 44)
Artinya: Dan dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan
keputusan. (Al-Kahfi : 26)
Sebab demokrasi merupakan undang-undang thagut, padahal kita diperintahkan agar
mengingkarinya, firman-Nya.
Artinya: (Oleh karena itu) barangsiapa yang mengingkari thagut dan beriman kepada Allah,
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul (tali) yang amat kuat yang tidak akan
putus. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 256).
Demokrasi dan Syura

Oleh karena itu hanya ada dua pilihan, beriman kepada Allah dan berhukum dengan hukum-Nya
atau beriman kepada thagut dan berhukum dengan hukumnya. Setiap yang menyelisihi syariat
Allah pasti berasal dari thagut.
Adapun orang-orang yang berupaya menggolongkan demokrasi ke dalam sistem syura,
pendapatnya tidak bisa diterima, sebab sistem syura itu teruntuk sesuatu hal yang belum ada nash
(dalilnya) dan merupakan hak Ahli Halli wal Aqdi yang anggotanya para ulama yang wara
(bersih dari segala pamrih). Demokrasi sangat berbeda dengan sistem syura seperti telah
dijelaskan di muka.
Berserikat
Berserikat merupakan bagian dari demokrasi, serikat ini ada dua macam :
[a] Serikat dalam politik (partai) dan,
[b] Serikat dalam pemikiran.
Maksud serikat pemikiran adalah manusia berada dalam naungan sistem demokrasi, mereka
memiliki kebebasan untuk memeluk keyakinan apa saja sekehendaknya. Mereka bebas untuk
keluar dari Islam (murtad), beralih agama menjadi Yahudi, Nasrani, atheis (anti tuhan), sosialis
atau sekuler. Sejatinya ini adalah kemurtadan yang nyata.
Allah berfirman.
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah
petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan
memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orangorang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah
(orang-orang yahudi) ; Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan, sedang Allah
mengetahui rahasia mereka. (Muhammad: 25)
Adapun serikat politik (partai politik) maka membuka peluang bagi semua golongan untuk
menguasai kaum muslimin dengan cara pemilu tanpa mempedulikan pemikiran dan keyakinan
mereka, berarti penyamaan antara muslim dan non muslim.
Hal ini jelas-jelas menyelisihi dali-dalil qathi (absolut) yang melarang kaum muslimin
menyerahkan kepemimpinan kepada selain mereka.
Allah berfirman.
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri
di antara kamu. (An-Nisa: 59)
Artinya : Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orangorang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu
mengambil keputusan ? (Al-Qolam: 35-36)

Karena serikat (bergolong-golongan) itu menyebabkan perpecahan dan perselisihan, lantaran itu
mereka pasti mendapat adzab Allah. Allah memfirmankan.
Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih
sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang
mendapat siksa yang berat. (Ali-Imran: 105)
Siapapun yang beranggapan bahwa berserikat ini hanya dalam program saja, bukan dalam sistem
atau disamakan dengan perbedaan madzhab fikih diantara ulama, maka realita yang terpampang
di hadapan kita membantahnya. Sebab program setiap partai muncul dari pemikiran dan aqidah
mereka. Program sosialisme berangkat dari pemikiran dasar sosialisme, sekularisme berangkat
dari dasar-dasar demokrasi, begitu seterusnya. (Radar Banjarmasin, edisi cetak Jumat,
4/4/2014).
http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/06/kakanwil-kemenag-kalsel-demokrasi-dalampandangan-islam/
Demokrasi dalam Pandangan Islam

Mar 23
Posted by M. Taufik N.T
Oleh : Muhammad Taufik NT
Rasulullah saw bersabda:
:
:


Hari kiamat tak bakalan terjadi hingga umatku meniru generasi-generasi sebelumnya,
sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Ditanyakan, Wahai Rasulullah, seperti Persia
dan Romawi? Nabi menjawab: Manusia mana lagi selain mereka itu? (HR. Bukhory no.
7319 dari Abu Hurairah r.a)
Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani (w. 852 H) dalam kitabnya, Fathul Bariy (13/301),
menerangkan bahwa hadist ini berkaitan dengan tergelincirnya umat Islam mengikuti umat lain
dalam masalah pemerintahan dan pengaturan urusan rakyat.
Sekarang dapat kita rasakan kebenaran sabda Beliau saw, dalam pemerintahan dan pengaturan
urusan rakyat, sistem demokrasi dianggap sebagai sistem terbaik, bahkan tidak jarang hukum
Islam pun dinilai dengan sudut pandang demokrasi, kalau hukum Islam tersebut dianggap tidak
sesuai dg demokrasi maka tidak segan-segan dibuang atau diabaikan.

Secara ringkas, tulisan ini akan mengkritisi demokrasi, baik dalam tataran konsep maupun
praktiknya dalam sistem pemerintahan.
Pengertian Demokrasi
Dalam teori, demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dengan kekuasaan tertinggi berada di
tangan rakyat dan dijalankan langsung oleh mereka atau wakil-wakil yang mereka pilih di bawah
sistem pemilihan bebas. Lincoln (1863) menyatakan Demokrasi adalah pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.[1] Secara teori, dalam sistem demokrasi, rakyatlah yang
dianggap berdaulat, rakyat yang membuat hukum dan orang yang dipilih rakyat haruslah
melaksanakan apa yang telah ditetapkan rakyat tersebut.
Selain itu, demokrasi juga menyerukan kebebasan manusia secara menyeluruh dalam hal :
a. Kebebasan beragama
b. Kebebasan berpendapat
c. Kebebasan kepemilikan
d. Kebebasan bertingkah laku
Inilah fakta demokrasi yang saat ini dianut dan digunakan oleh hampir semua negara yang ada di
dunia. Tentu saja dalam implementasinya akan mengalami variasi-variasi tertentu yang dilatar
belakangi oleh kebiasaan, adat istiadat serta agama yang dominan di suatu negara. Namun
demikian variasi yang ada hanyalah terjadi pada bagian cabang bukan pada prinsip tersebut.
Asal Usul Demokrasi
Istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani (dmokrata) kekuasaan rakyat,
yang dibentuk dari kata (dmos) rakyat dan (Kratos) kekuasaan, merujuk pada
sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani
Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.
Sebelum istilah demokrasi ditemukan oleh penduduk Yunani, bentuk sederhana dari demokrasi
telah ditemukan sejak 4000 SM di Mesopotamia. Ketika itu, bangsa Sumeria memiliki beberapa
negara kota yang independen. Di setiap negara kota tersebut para rakyat seringkali berkumpul
untuk mendiskusikan suatu permasalahan dan keputusan pun diambil berdasarkan konsensus
atau mufakat.
Barulah pada 508 SM, penduduk Athena di Yunani membentuk sistem pemerintahan yang
merupakan cikal bakal dari demokrasi modern. Yunani kala itu terdiri dari 1.500 negara kota

(poleis) yang kecil dan independen. Negara kota tersebut memiliki sistem pemerintahan yang
berbeda-beda, ada yang oligarki, monarki, tirani dan juga demokrasi. Diantaranya terdapat
Athena, negara kota yang mencoba sebuah model pemerintahan yang baru masa itu yaitu
demokrasi langsung. Penggagas dari demokrasi tersebut pertama kali adalah Solon, seorang
penyair dan negarawan. Paket pembaruan konstitus yang ditulisnya pada 594 SM menjadi dasar
bagi demokrasi di Athena namun Solon tidak berhasil membuat perubahan. Demokrasi baru
dapat tercapai seratus tahun kemudian oleh Kleisthenes, seorang bangsawan Athena. Dalam
demokrasi tersebut, tidak ada perwakilan dalam pemerintahan sebaliknya setiap orang mewakili
dirinya sendiri dengan mengeluarkan pendapat dan memilih kebijakan. Namun dari sekitar
150.000 penduduk Athena, hanya seperlimanya yang dapat menjadi rakyat dan menyuarakan
pendapat mereka.[2]
Menurut Syaikh Abdul Qadim Zallum, dalam kitabnya Demokrasi Sistem Kufur, demokrasi
mempunyai latar belakang sosio-historis yang tipikal Barat selepas Abad Pertengahan, yakni
situasi yang dipenuhi semangat untuk mengeliminir pengaruh dan peran agama dalam kehidupan
manusia. Demokrasi lahir sebagai anti-tesis terhadap dominasi agama dan gereja terhadap
masyarakat Barat. Karena itu, demokrasi adalah ide yang anti agama, dalam arti idenya tidak
bersumber dari agama dan tidak menjadikan agama sebagai kaidah-kaidah berdemokrasi. Orang
beragama tertentu bisa saja berdemokrasi, tetapi agamanya mustahil menjadi aturan main dalam
berdemokrasi. Secara implisit, beliau mencoba mengingatkan mereka yang menerima demokrasi
secara buta, tanpa menilik latar belakang dan situasi sejarah yang melingkupi kelahirannya.
Demokrasi Bertentangan Dengan Islam
Dalam demokrasi kedaulatan berada di tangan rakyat, konsekuensinya bahwa hak legislasi
(penetapan hukum) berada di tangan rakyat (yang dilakukan oleh lembaga perwakilannya, seperti
DPR). Sementara dalam Islam, kedaulatan berada di tangan syara, bukan di tangan rakyat.
Ketika syara telah mengharamkan sesuatu, maka sesuatu itu tetap haram walaupun seluruh
rakyat sepakat membolehkannya.
Disisi lain, kalau diyakini bahwa hukum kesepakatan manusia adalah lebih baik daripada hukum
Allah, maka hal ini bisa menjatuhkan kepada kekufuran dan kemusyrikan. Ketika Rasulullah saw
membacakan:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.
(QS. At Taubah : 31)
Ady bin Hatimr.a berkata:

Wahai Rasulullah mereka (org nashrany) tidaklah menyembah mereka (rahib).

Maka Rasul menjawab:


Benar, akan tetapi mereka (rahib dan org alimnya) menghalalkan apa-apa yang diharamkan
Allah maka mereka (org nashrany) menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang
dihalalkan Allah maka mereka (nashrany) mengharamkannya pula, itulah penyembahan mereka
(nashrany) kepada mereka (rahib dan org alimnya) [HR. Al Baihaqi, juga diriwayatkan oleh at
Tirmidzi dengan sanad Hasan]
Berkenaan dengan kebebasan beragama, Islam memang melarang memaksa manusia untuk
masuk agama tertentu. Namun demikian Islam mengharamkan seorang muslim untuk
meninggalkan aqidah Islam. Rasulullah bersabda:
Siapa saja yang mengganti agamanya (murtad dari Islam) maka bunuhlah dia.(HR Bukhari,
Muslim, Ahmad dan Ashabus Sunan).
Adapun kebebasan berpendapat, Islam memandang bahwa pendapat seseorang haruslah terikat
dengan apa yang ditetapkan oleh syariat Islam. Artinya seseorang tidak boleh melakukan suatu
perbuatan atau menyatakan suatu pendapat kecuali perbuatan atau pendapat tersebut dibenarkan
oleh dalil-dalil syara yang membolehkan hal tersebut. Islam mengharuskan kaum muslimin
untuk menyatakan kebenaran dimana saja dan kapan saja. Rasulullah saw bersabda :
Dan kami(hanya senantiasa) menyatakan al-haq (kebenaran) dimana kami berada, kami
tidak khawatir (gentar) terhadap cacian tukang pencela dalam melaksanakan ketentuan Allah.
(HR Muslim dari Ubadah bin Shamit).
Berkaitan dengan kepemilikan, Islam melarang individu menguasai barang hak milik umum,
seperti sungai, barang tambang yang depositnya besar, dll, juga melarang cara
mendapatkan/mengembangkan harta yang tidak dibenarkan syara seperti riba, judi, menjual
barang haram, menjual kehormatan, dll.
Adapun kebebasan dalam bertingkah laku, Islam menentang keras perzinaan, homoseksuallesbianisme, perjudian, khamr dan sebagainya serta menyediakan sistem sanksi yang sangat
keras untuk setiap perbuatan tersebut. Sementara demokrasi membolehkan hal tersebut, apalagi
kalau didukung suara mayoritas. sehingga tidak aneh kalau dalam sistem demokrasi,
homoseksual yang jelas diharamkan Islampun tetap dibolehkan asalkan pelakunya sudah dewasa
(diatas 18 tahun) dan dilakukan suka-sama suka[3]. Begitu juga perzinaan asal dilakukan orang
dewasa yang suka-sama suka dan tidak terikat tali perkawinan maka tidaklah dipermasalahkan[4].
Demokrasi = Syuro (Musyawarah)?

Sebagian kalangan menyatakan bahwa Demokrasi itu sesungguhnya berasal dari Islam, yakni
sama dengan syuro (musyawarah), amar maruf nahyi munkar dan mengoreksi penguasa. Hal ini
tidaklah tepat karena syuro, amar maruf nahyi munkar dan mengoreksi penguasa merupakan
hukum syara yang telah Allah swt tetapkan cara dan standarnya, yang jauh berbeda dengan
demokrasi.
Demokrasi memutuskan segala sesuatunya berdasarkan suara terbanyak (mayoritas). Sedang
dalam Islam, tidaklah demikian. Rinciannya adalah sebagai berikut :
(1) Untuk masalah yang berkaitan dengan hukum syara, yang menjadi kriteria adalah kekuatan
dalil, bukan mayoritas. Dalilnya adalah peristiwa pada Perjanjian Hudaibiyah, dimana Rasulullah
saw membuat keputusan yang tidak disepakati oleh mayoritas shahabat, dan ketika Umar r.a
protes, beliau saw menyatakan:

Aku ini utusan Allah, dan aku takkan melanggar perintahNya, dan Dia adalah penolongku.
(HR Bukhari)
(2) Untuk masalah yang menyangkut keahlian, kriterianya adalah ketepatan atau kebenarannya,
bukan suara mayoritas. Peristiwa pada perang Badar merupakan dalil untuk ini.
(3) Sedang untuk masalah teknis yang langsung berhubungan dengan amal (tidak memerlukan
keahlian), kriterianya adalah suara mayoritas. Peristiwa pada Perang Uhud menjadi dalilnya.
Demokrasi: Cacat Sejak Lahir
Demokrasi sejatinya sistem yang cacat sejak kelahirannya. Bahkan sistem ini juga dicaci-maki di
negeri asalnya, Yunani. Aristoteles (348-322 SM) menyebut demokrasi sebagai Mobocracy atau
the rule of the mob. Ia menggambarkan demokrasi sebagai sebuah sistem yang bobrok, karena
sebagai pemerintahan yang dilakukan oleh massa, demokrasi rentan akan anarkisme.
Plato (472-347 SM) mengatakan bahwa liberalisasi adalah akar demokrasi, sekaligus biang
petaka mengapa negara demokrasi akan gagal selama-lamanya. Plato dalam bukunya, The
Republic, mengatakan, .they are free men; the city is full of freedom and liberty of speech,
and men in it may do what they like. (mereka adalah orang-orang yang merdeka, negara
penuh dengan kemerdekaan dan kebebasan berbicara, dan orang-orang didalamnya boleh
melakukan apa yang disukainya). Orang-orang akan mengejar kemerdekaan dan kebebasan yang
tidak terbatas. Akibatnya bencana bagi negara dan warganya. Setiap orang ingin mengatur diri
sendiri dan berbuat sesuka hatinya sehingga timbullah bencana disebabkan berbagai tindakan
kekerasan (violence), ketidaktertiban atau kekacauan (anarchy), tidak bermoral (licentiousness)
dan ketidaksopanan (immodesty).

Menurut Plato, pada masa itu citra negara benar-benar telah rusak. Ia menyaksikan betapa negara
menjadi rusak dan buruk akibat penguasa yang korup. Karena demokrasi terlalu mendewadewakan (kebebasan) individu yang berlebihan sehingga membawa bencana bagi negara, yakni
anarki (kebrutalan) yang memunculkan tirani.
Kala itu, banyak orang melakuan hal yang tidak senonoh. Anak-anak kehilangan rasa hormat
terhadap orang tua, murid merendahkan guru, dan hancurnya moralitas. Karena itu, pada
perkembangan Yunani, intrik para raja dan rakyat banyak sekali terjadi. Hak-hak rakyat
tercampakkan, korupsi merajalela, dan demokrasi tidak mampu memberikan keamanan bagi
rakyatnya. Hingga pemikir liberal dari Perancis Benjamin Constan (1767-1830) berkata:
Demokrasi membawa kita menuju jalan yang menakutkan, yaitu kediktatoran parlemen.
Demokrasi Ketuhanan
Karena menganggap demokrasi sebagai konsep yang bagus walaupun ada kekurangannya,
sebagian kalangan ada yang berupaya mengambil ide demokrasi namun membuang apa yang
menurut mereka jelek. Sehingga mereka katakan, kita memakai demokrasi namun yang
berdaulat tetaplah syara yakni mereka bermaksud berdemokrasi namun hukum syara tidak
akan ditolak. Ungkapan seperti ini sebenarnya hanyalah permainan kata-kata dan definisi saja,
seperti orang mau memesan sate ayam namun mereka syaratkan sate ayamnya tidak
menggunakan daging ayam. Dan terhadap hal seperti ini hendaknya kita berhati-hati menjaga
lidah. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): Raa`ina,
tetapi katakanlah: Unzhurna, dan dengarlah. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang
pedih. (QS Al Baqarah 104)
Raa `ina berarti sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Di kala para sahabat
menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai pula kata ini dengan
digumam seakan-akan menyebut Raa `ina, padahal yang mereka katakan ialah Ru`uunah
yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Allah
menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa `ina dengan Unzhurna yang
juga sama artinya dengan Raa `ina. Kalau masalah pilihan kata saja Allah memperhatikan,
padahal dua kata tersebut kurang lebih artinya sama, lalu baggaimana pula dengan kata yang
memang memiliki pemahaman yang khas seperti demokrasi ini? Tentunya harus lebih hati-hati
lagi.
Sistem Pemerintahan Islam (Khilafah)

Berbeda dengan demokrasi, Islam menggariskan bahwa sistem pemerintahan yang seharusnya
dipakai umat Islam tegak diatas 4 pilar pokok yakni: [5]
Pertama, kedaulatan di tangan syara. Tak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa
kedaulatan di tangan syara, yakni hanya Allah SWT saja yang berhak menetapkan hukum bagi
manusia, kalaupun semua manusia sepakat menghalalkan yang diharamkan Allah maka
kesepakatan mereka tidak berlaku.


Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia
Pemberi keputusan yang paling baik. (QS Al Anam : 57)
Ketika terjadi perselisihan, maka keputusan hukumnya juga wajib menggunakan ketentuan
syara. Allah berfirman:


Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah
(Al Quran) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. (QS. An Nisaa': 59)
Kedua, kekuasaan[6] di tangan umat, yakni umatlah yang berhak memilih pemimpin yang
dikehendakinya untuk menjalankan kekuasaan. Hal ini dapat dipahami dari hadis-hadis tentang
baiat, bahwa seseorang tak menjadi kepala negara, kecuali dibaiat (diangkat) oleh umat.
Ketiga, mengangkat satu orang khalifah adalah wajib atas seluruh kaum muslimin. Ibnu Katsir
dalam tafsirnya (1/222, Maktabah Syamilah) menyatakan:

:

.

Adapun pengangkatan dua imam atau lebih di bumi maka hal itu tidak boleh berdasarkan
sabda Beliau saw: barang siapa datang kepada kalian sementara urusan kalian bersatu,
(orang itu) hendak memecah kalian maka bunuhlah dia siapapun orangnya(HR. Muslim) Dan
ini merupakan pendapat jumhur, tidak hanya seorang yang telah menceritakan adanya ijma
dalam hal ini, di antara mereka adalah Imamul Haramain.
Keempat, hanya kepala negara saja yang berhak melegislasikan hukum-hukum syara.
Hal ini didasarkan pada Ijma Shahabat yang melahirkan kaidah syariyah yang termasyhur,

Ketetapan penguasa menghilangkan perbedaan pendapat. Juga kaidah syariyah lain yang tak
kalah masyhur,Lil Imam an yuhditsa minal aqdhiyati bi qadri m yahdutsu min musykilt.

(Imam (kepala negara) berhak menetapkan keputusan baru sejalan dengan persoalan-persoalan
baru yang terjadi).
Penutup
Demokrasi yang telah dijajakan Barat ke negeri-negeri Islam itu sesungguhnya adalah sistem
kufur. Tidak ada hubungannya dengan Islam, baik langsung maupun tidak langsung. Demokrasi
bertentangan dengan hukum-hukum Islam dalam garis besar dan perinciannya, dalam sumber
kemunculannya, aqidah yang melahirkannya atau asas yang mendasarinya, serta berbagai ide dan
peraturan yang dibawanya.
Fakta juga membuktikan kerusakan masyarakat akibat dipakainya konsep demokrasi ini, bukan
hanya di Indonesia, namun juga di AS yang menjajakan konsep ini. Allahu Alam. (Insya Allah
disampaikan di Masjid Nurul Falah Banjarbaru, pada 24 Maret 2013)
https://mtaufiknt.wordpress.com/2013/03/23/demokrasi-dalam-pandangan-islam/

Jun
24

Makalah Demokrasi dalam pandangan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada Saat ini banyak sekali Negara yang menganut Sistem Demokrasi sebagai
sistem pemerintahannya. Demokrasi sendiri artinya sistem yang berasal dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi sering diartikan sebagai penghargaan
terhadap hak-hak asasi manusia, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan
persamaan hukum. Dalam tradisi Barat, demokrasi didasarkan pada penekanan
bahwa rakyat seharusnya menjadi pemerintah bagi dirinya sendiri dan wakil rakyat
seharusnya menjadi pengendali yang bertanggung jawab terhadap tugasnya. Oleh

karena rakyat tidak mungkin rakyat mengambil keputusan karena jumlah terlalu
besar maka dibentuklah dewan perwakilan rakyat. Sistem ini popular karena
melibatkan

masyarakat

merupakan

komponen

utamanya.

Pemerintah

dipilh

langsung oleh rakyat yang berfungsi sebagai penyalur aspirasi dan membuat
kebijakan untuk kepentingan rakyat demi kesejahteraan rakyat. Sistem Demokrasi
juga digunakan di Indonesia dengan berdasarkan Pancasila. Indonesia memiliki
Badan Legislatif yang anggotanya merupakan wakil rakyat. Rakyat juga berwenang
untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Dalam Islam,
demokrasi sudah diajarkan oleh Rasulullah. Contohnya, pada saat Perang Badar
beliau mendengarkan saran sahabatnya mengenai lokasi perang walaupun itu
bukan pilihan yang diajukan olehnya. Pada saat ini, banyak Negara yang
mengadaptasi sistem Demokrasi yang berasal dari Negara Barat. Padahal, sistem
demokrasi tersebut belum tentu sesuai dengan kaidah-kaidah Islam. Sistem
Demokrasi di Barat memiliki tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi dan materialistis.
Oleh karena itu, kita perlu mempelajari Sistem Demokrasi yang sejalan

dengan

aturan Islam.

B.

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Sistem Demokrasi dari
sudut pandang Agama Islam.

BAB II
ISLAM DAN DEMOKRASI
A. Definisi Demokrasi
Demokrasi adalah sebuah tatanan Negara /pemerintahan yang bersumber
dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. (benyamin Franklin).
MEMAHAMI DEMOKRASI DALAM MEMILIH PEMIMPIN :

System memilih penguasa/ kepala negara hal tersebut masih dapat didiskusikan dan
bersifat furu (cabang).

Alasan :Rasul tidak pernah menentukan secara jelas bagaimanakah teknis memilih
khalifah/pemimpin negara. Begitu juga peralihan kekuasaan dari satu khalifah ke khalifah yang
lain semasa banyak sahabat masih

hidup, sehingga menjadi Ijma' shahabat bahwa boleh

menggunakan beberapa uslub untuk memilih khalifah atau kepala negara. Dengan demikian
dalam memilih siapakah calon kepala negara/Khalifah boleh dengan banyak teknis dalam hal ini
mengambil suara mayoritas juga dapat dilakukan dan menggunakan Ahlul hali wal aqdi
(parlemen) Juga dapat dilakukan . Jadi untuk memilih calon kepala negara (khalifah) dalam
Islam bisa dicari dengan uslub (teknis) pemilihan umum.

B. Persamaan dan Perbedaan Islam dan Demokrasi

Persamaan Islam & Demokrasi


Dr. Dhiyauddin ar Rais mengatakan, Ada beberapa persamaan yang mempertemukan Islam dan
demokrasi :
1. Jika demokrasi diartikan sebagai sistem yang diikuti asas pemisahan kekuasaan, itu pun
sudah ada di dalam Islam. Kekuasaan legislatif sebagai sistem terpenting dalam sistem
demokrasi diberikan penuh kepada rakyat sebagai satu kesatuan dan terpisah dari
kekuasaan Imam atau Presiden. Pembuatan Undang-Undang atau hukum didasarkan pada
alQuran dan Hadist, ijma, atau ijtihad. Dengan demikian, pembuatan UU terpisah dari
Imam, bahkan kedudukannya lebih tinggi dari Imam. Adapun Imam harus menaatinya
dan terikat UU. Pada hakikatnya, Imamah (kepemimpinan) ada di kekuasaan eksekutif
yang memiliki kewenangan independen karena pengambilan keputusan tidak boleh
didasarkan pada pendapat atau keputusan penguasa atau presiden, jelainkan berdasarka
pada hukum-hukum syariat atau perintah Allah Swt.
2. Demokrasi seperti definisi Abraham Lincoln: dari rakyat dan untuk rakyat pengertian itu
pun ada di dalam sistem negara Islam dengan pengecualian bahwa rakyat harus
memahami Islam secara komprehensif.
3.

Demokrasi adalah adanya dasar-dasar politik atau sosial tertentu (misalnya, asas
persamaan di hadapan undang-undang, kebebasan berpikir dan berkeyakinan, realisasi
keadilan sosial, atau memberikan jaminan hak-hak tertentu, seperti hak hidup dan bebas
mendapat pekerjaan). Semua hak tersebut dijamin dalam Islam.

Perbedaan Islam & Demokrasi


1.

Demokrasi yang sudah populer di Barat, definisi bangsa atau umat dibatasi batas
wilayah, iklim, darah, suku-bangsa, bahasa dan adat-adat yang mengkristal. Dengan kata
lain, demokrasi selalu diiringi pemikiran nasionalisme atau rasialisme yang digiring
tendensi fanatisme. Adapun menurut Islam, umat tidak terikat batas wilayah atau batasan
lainnya. Ikatan yang hakiki di dalam Islam adalah ikatan akidah, pemikiran dan perasaan.
Siapa pun yang mengikuti Islam, ia masuk salah satu negara Islam terlepas dari jenis,
warna kulit, negara, bahasa atau batasan lain. Dengan demikian, pandangan Islam sangat
manusiawi dan bersifat internasional

2. tujuan-tujuan demokrasi modern Barat atau demokrasi yang ada pada tiap masa adalah
tujuan-tujuan yang bersifat duniawi dan material. Jadi, demokrasi ditujukan hanya untuk
kesejahteraan umat (rakyat) atau bangsa dengan upaya pemenuhan kebutuhan dunia yang
ditempuh melalui pembangunan, peningkatan kekayaan atau gaji. Adapun demokrasi
Islam selain mencakup pemenuhan kebutuhan duniawi (materi) mempunyai tujuan
spiritual yang lebih utama dan fundamental.
3.

kedaulatan

umat

kemutlakan.

Jadi,

peduli

kebodohan,

kedaulatan

rakyat

ketentuan

syariat

(rakyat)
rakyat

adalah

kezaliman
tidak

menurut
atau

mutlak,

sehingga

demokrasi

pemegang

Barat

kekuasaan

kemaksiatannya.
melainkan

rakyat

tidak

sebuah

tertinggi

Namun

terikat
dapat

adalah
dalam

dengan
bertindak

tanpa
Islam,

ketentuanmelebihi

batasan-batasan syariat, alQuran dan asSunnah tanpa mendapat sanksi.

C. Pandangan Ulama tentang demokrasi


1. Yusuf al-Qardhawi
Menurut beliau, substasi demokrasi sejalan dengan Islam. Hal ini bisa dilihat dari
beberapa hal. Misalnya:
- Dalam demokrasi proses pemilihan melibatkkan banyak orang untuk mengangkat seorang
kandidat yang berhak memimpin dan mengurus keadaan mereka. Tentu saja, mereka tidak
boleh akan memilih sesuatu yang tidak mereka sukai. Demikian juga dengan Islam. Islam
menolak seseorang menjadi imam shalat yang tidak disukai oleh makmum di belakangnya.

- Usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan dengan Islam. Bahkan
amar makruf dan nahi mungkar serta memberikan nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari
ajaran Islam.
- Pemilihan umum termasuk jenis pemberian saksi. Karena itu, barangsiapa yang tidak
menggunakan hak pilihnya sehingga kandidat yang mestinya layak dipilih menjadi kalah dan
suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang sebenarnya tidak layak, berarti ia telah menyalahi
perintah Allah untuk memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan.
- Penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas juga tidak bertentangan dengan prinsip
Islam. Contohnya dalam sikap Umar yang tergabung dalam syura. Mereka ditunjuk Umar
sebagai kandidat khalifah dan sekaligus memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi
khalifah berdasarkan suara terbanyak. Sementara, lainnya yang tidak terpilih harus tunduk dan
patuh. Jika suara yang keluar tiga lawan tiga, mereka harus memilih seseorang yang
diunggulkan dari luar mereka. Yaitu Abdullah ibn Umar. Contoh lain adalah penggunaan
pendapat jumhur ulama dalam masalah khilafiyah. Tentu saja, suara mayoritas yang diambil ini
adalah selama tidak bertentangan dengan nash syariat secara tegas.
- Juga kebebasan pers dan kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas pengadilan
merupakan sejumlah hal dalam demokrasi yang sejalan dengan Islam.
2. Salim Ali al-Bahnasawi
Menurutnya, demokrasi mengandung sisi yang baik yang tidak bertentangan dengan
islam dan memuat sisi negatif yang bertentangan dengan Islam. Sisi baik demokrasi adalah
adanya kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan Islam. Sementara, sisi buruknya
adalah penggunaan hak legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan
yang haram dan menghalalkan yang haram. Karena itu, ia menawarkan adanya islamisasi sebagai
berikut:
- Menetapkan tanggung jawab setiap individu di hadapan Allah.
- Wakil rakyat harus berakhlak Islam dalam musyawarah dan tugas-tugas lainnya.
- Mayoritas bukan ukuran mutlak dalam kasus yang hukumnya tidak ditemukan dalam Alquran
dan Sunnah (al-Nisa 59) dan (al-Ahzab: 36).
- Komitmen terhadap islam terkait dengan persyaratan jabatan sehingga hanya yang bermoral
yang duduk di parlemen.

PEMILU & PEMUNGUTAN SUARA


Ada yang beranggapan bahwa Pemungutan suara atau Pemilu adalah bentuk
perampasan hak Allah Swt sebagai Hakim karena dalam Pemilu keputusan ditentukan manusia,
bukan Allah. Pernyataan ini tidak benar karena :
1.

kita bicara tentang Pemilu di negeri muslim: kandidatnya muslim, pemilihnya pun muslim
dan keterlibatan nonmuslim dalam proses itu sangat tidak signifikan.

2.

adanya campur tangan namusia untuk menentukan jalan hidupnya selama masih dalam
kaidah umum nash syariat Islam. Allah Swt berfirman, hadirkanlah dua orang saksi
yang adil di antara kamu.(QS ath Thalaq:2). Jika kamu khawatir adanya perselisihan
antara keduanya, hendaklah kamu hadirkan seorang hakim dari keluarga suami dan
seorang hakim dari keluarga isteri. (QS an Nisa:35).

3.

jika kita perhatikan dengan seksama Pemilu atau pemungutan suara menurut Islam adalah
pemberian kesaksian terhadap kelayakan calon pejabat negara atau calon anggota dewan.
Oleh karena itu, si pemilih harus punya kelayakan sebagai seorang saksi adil dan baik
perilakunya sehingga orang banyak ridha kepadanya. Allah azza wa Jalla berfirman,
hadirkanlah dua orang saksi yang adil di antara kamu. (QS ath Thalaq:2) dari saksisaksi yang kamu ridhai. (QS al Baqarah:282).

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep demokrasi tidak sepenuhnya
bertentangan dan tidak sepenuhnya sejalan dengan Islam. Prinsip dan konsep demokrasi yang
sejalan dengan islam adalah keikutsertaan rakyat dalam mengontrol, mengangkat, dan
menurunkan pemerintah, serta dalam menentukan sejumlah kebijakan lewat wakilnya. Adapun
yang tidak sejalan adalah ketika suara rakyat diberikan kebebasan secara mutlak sehingga bisa
mengarah kepada sikap, tindakan, dan kebijakan yang keluar dari ketetapan Hukum Allah.
Akhirnya, agar sistem demokrasi ini dapat terwujud diatas nilai nilai islam yang mulia, maka
langkah yang harus dilakukan adalah :

- Seluruh warga atau sebagian besarnya harus diberi pemahaman yang benar tentang Islam
sehingga aspirasi yang mereka sampaikan tidak keluar dari ajarannya.
- Parlemen atau lembaga perwakilan rakyat harus diisi oleh orang-orang yang beriman dan
beriman dan berilmu.

Daftar Pustaka

http://www.islamic-center.or.id/-slamiclearnings-mainmenu-29/syariah-mainmenu44/27-syariah/665-islam-dan-demokrasi
http://islamlib.com/id/artikel/islam-dan-demokrasi/
http://www.zulkieflimansyah.com/in/kompatibilitas-islam-dan-demokrasi.html
http://www.khabarislam.com/islam-dan-demokrasi.html
http://www.docstoc.com/docs/22801041/Lagi-Soal-Islam-dan-Demokrasi/
Diposkan 24th June 2012 oleh sepriwan adiko
0
Tambahkan komentar
Kejernihan Hati

Beranda

Makalah

Herbal

Bimbingan Belajar

Dunia Islam

Kuliner

Skripsi

1.
Dec
5

Stimfibre (HPAI)

Diposkan 5th December 2014 oleh sepriwan adiko


0
Tambahkan komentar
2.
Dec

Stimfibre produk hpai

STIMFIBRE
Di RS GuangZhou, China yang menggunakan terapi Stem Cell biaya yang dikeluarkan
berikut rawat inapnya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Subhanallah, jika ada yang lebih
aman, hemat dan mudah kenapa harus menunggu sakit kemudian berobat ke luar negeri?
StimFibre adalah herbal serat alami dengan kandungan Aphanizomenon flos-aque (AFA),
Psyllium Husk dan Ekstrak Daun Murbei.
StimFibre bisa memicu tubuh kita untuk lebih banyak memproduksi STEM CELL yang
sangat diperlukan oleh tubuh kita. Sel ini menjadi cikal bakal sel-sel tubuh manusia,
dengan 2 sifat khusus.
Pertama, mampu mengalami perbanyakan diri tanpa mengubah ciri-ciri genetiknya,
sampai berlipat-lipat kali. Kedua, mampu mengalami pematangan (differentiation)
menjadi berbagai jenis sel khusus.
StimFibre ampuh menyembuhkan berbagai penyakit yang selama ini sulit untuk
dipecahkan karena kandungan Stem Cell ini dapat berubah menjadi sel-sel tertentu yang
ditempatinya.
Jika Stem Cell ini masuk ke organ jantung, maka dia akan menjadi sel organ jantung, jika
ke organ paru-paru maka dia akan menjadi sel organ paru-paru, jika ke organ ginjal maka
dia akan menjadi sel organ ginjal, jika organ liver maka dia akan menjadi sel organ liver,
jika ke organ cerna maka dia akan menjadi sel organ cerna dan seterusnya.
Stem Cell yang dikonsumsi akan mendorong percepatan regenerasi sel (perbaruan
kembali sel-sel tubuh yang sudah rusak) secara jauh lebih cepat. Sehingga Stem Cell
sangat tepat diberikan bagi penderita penyakit berat, bagi pasien pasca operasi, bagi
penderita luka yang sukar sembuh, juga bagi orang sehat yang mendambakan terjaganya
kualitas kesehatan organ organ tubuh nya sehingga mereka bisa beraktifitas dengan
nyaman dan tidak akan kuatir terhadap gangguan penyakit karena menurunnya fungsi
organ.
Saat ini telah hadir StimFibre, suplemen yang bisa memicu tubuh Anda untuk lebih
banyak memproduksi STEM CELL dari dalam tubuh Anda sendiri tepatnya dari sumsum
tulang.

Rp 350.000
Isi : 15 sachet @7 gr
Diposkan 5th December 2014 oleh sepriwan adiko
0
Tambahkan komentar
3.
Dec
25

hubungan perhatian orang tua dengan proses belajar anak

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini pemerintah telah mulai memperhatikan mutu pendidikan,
perluasan dan pemerataan kesempatan belajar serta masalah-masalah yang
menyangkut pendidikan. Salah satu sarana pendidikan yang ada di Negara
kita adalah sekolah. Sekolah mempunyai peranan yang sangat penting dalam
membentuk kepribadian anak, namun sekolah ini bukan mengambil alih
tanggung jawab orang tua, tetapi melengkapi dan menyempurnakan

pendidikan

anak.

Pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dari pendidikan dalam keluarga.


Tugas sekolah yang utama adalah mendidik tunas-tunas muda agar berguna
bagi bangsa dan Negara serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan
masyarakat.
Ada tiga lingkungan yang turut mendukung tercapainya tujuan
pendidikan nasional, yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Keluarga juga merupakan lingkungan terpenting bagi
kehidupan anak karena keluargalah yang pertama menerima, memelihara
dan memberikan segala keperluan[1]. Tempat pertama anak menerima
pendidikan dan bimbingan dari orang tua.
Komunikasi orang tua dengan anak memegang peranan penting dalam
membina hubungan keduanya, hal ini dapat dilihat dengan nyata, misalnya:
membimbing, membantu, mengarahkan, menyayangi, dan menasehati.
Orang

tua

yang

kurang

bisa

berkomunikasi

dengan

anaknya

akan

menimbulkan ketegangan atau konflik hubungan, sebaiknya orang tua yang


dapat menerima anaknya sebagaimana adanya maka anak cenderung dapat
tumbuh, berkembang, belajar memecahkan masalah dan secara psikologis
semakin sehat, produktif, kreatif dan mampu mengaktualisasikan potensi
sepenuhnya.
Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian
anak karena pada usia ini anak lebih peka terhadap pengaruh dari orang,
serta anak merupakan struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa,

mereka mempunyai cara yang khas untuk menyatakan kenyataan dan untuk
menghayati dunia sekitar[2].
Dalam ajaran Islam telah dinyatakan dalam sebuah hadits Rosulullah
SAW yang berbunyi:




















()

Abu Hurairah ra. memberitahukan bahwa Nabi SAW bersabda: Tidak ada
seorang anak pun yang dilahirkan melainkan ia dilahirkan dalam keadaan
suci bersih, maka ibu bapaknya yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi
[HR.Bukhori].[3]

Berdasarkan hadits tersebut jelaslah bahwa orang tua memegang


peranan penting dalam membentuk kepribadian anak. Anak lahir dalam
keadaan suci, orang tualah yang bertanggung jawab untuk mendidiknya.
Pendidikan di sini merupaka pendidikan yang berkedudukan orang tua
sebagai guru [penuntun], sebagai pengajar, dan sebagai pemimpin [pemberi
contoh].

Pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan yang nyata dan


pertama sehingga sikap dan tingkah laku orang tua akan diamati oleh anak
baik secara disengaja ataupun tidak disengaja, sebagai pengalaman bagi
anak yang akan mempengaruhi pendidikan selanjutnya.
Untuk memperoleh pendidikan yang baik, orang tua memasukkan anak
ke sekolah agar anak berhasil dimasa depan dan menjadi manusia yang
berguna. Dan untuk keberhasilan belajar di sekolah anak perlu mendapat
perhatian dari orang tuanya. Perhatian dari orang tua yang dapat mendukung
keberhasilan belajar anak berupa bimbingan belajar, monitoring, penyediaan
fasilitas belajar dan kerjasama antara orang tua dengan pihak sekolah.[4]
Dari uraian di atas dapat dimengerti bahwa pendidikan tidaklah ditentukan
oleh faktor tunggal, akan tetapi adanya perhatian dari orang tua yang sangat
mempengaruhi proses belajar.
Faktor orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan
anak dalam belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya
penghasilan, dan cukup atau kurang perhatian dan bimbingan orang tua,
semuanya itu turut mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak[5]. Orang
tua yang tidak atau kurang memperhatikan pendidikan anak akan menjadi
penyebab kesulitan belajar anak[6]. Keberhasilan belajar anak dipengaruhi
beberapa faktor, salah satunya adalah faktor keluarga karena keluarga
adalah lembaga pendidikan yang pertama[7].
Adanya hubungan yang baik di dalam keluarga, kasih sayang dan
bimbingan dari orang tua akan menyukseskan belajar anak[8], serta

kewajiban orang tua adalah memberikan pengertian dan mendorongnya agar


semangat belajar.[9]
Namun dalam kenyataannya, banyak orang tua beranggapan bahwa
memenuhi

kebutuhan

jasmani

saja

sudah

cukup

untuk

menunjang

keberhasilan belajar anak di sekolah. Banyak orang tua tidak mau diganggu
oleh

anak,

apalagi

mereka

sedang

sibuk

bekerja

atau

beristirahat.

Kebanyakan orang tua lebih mementingkan urusan di luar rumah dari pada
memperhatikan pendidikan anak.
Orang tua yang tidak mau tahu dan tidak acuh terhadap urusan
sekolah anak tentu akan menghambat keberhasilan belajar anak. Proses
belajar anak akan efektif bila memperhatikan beberapa hal, yaitu: kebutuhan
fisiologi

seperti

kebutuhan

jasmani,

kebutuhan

keamanan

seperti

ketentraman dan keamanan jiwa, dan kebutuhan akan perhatian dan


kebersamaan keluarga[10]. Sebagaimana yang terjadi di tempat yang akan
dilakukan penelitian, adanya orang tua yang tidak memperhatikan anak
dalam kegiatan belajar di sekolah, orang tua beranggapan bahwa dengan
memasukkan anak ke sekolah tugas mereka selesai.
Pemerintah sekarang ini sudah menjalankan program sekolah dasar
negeri gratis, sehingga dengan kebijakan pemerintah ini, orang tua sudah
tidak lagi memperhatikan kegiatan belajar anak dan perkembangan anak di
sekolah, hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar anak.

Kurangnya perhatian orang tua akan berdampak tidak baik terhadap


anak

dan

akan

menghambat

proses

belajar

anak,

bahkan

dapat

menimbulkan masalah- masalah yang lebih buruk lagi seperti:


1.

Melakukan pencurian.

2.

Melakukan perbuatan seks bebas.

3.

Tindakan bunuh diri yang disebabkan tidak naik kelas.

4.

Mengkonsumsi obat terlarang seperti narkoba.

5.

Penjualan pelajar yang dilakukan oleh sesama pelajar.

6.

Tindakan tawuran, mabuk-mabukan, serta membentuk kelompok yaitu geng


motor.
Masalah-masalah yang ditimbulkan akibat dari kurangnya perhatian
orang tua, kasih sayang, serta kebutuhan yang diperlukan oleh seorang anak,
sehingga dapat menjerumuskan kepada perbuatan yang buruk.

Anak

seharusnya diberikan pendidikan yang baik dengan adanya dorongan dari


keluarga serta masyarakat yang baik juga, sehingga mereka dapat menjadi
generasi penerus bangsa dan tujuan pendidikan nasional akan tercapai.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMP Fatahillah Pondok
Pinang, tingkat perhatian orang tua masih sedang-sedang saja, karena hanya
17% perhatian orang tua yang berkualitas tinggi dan 20% berkualitas rendah,
maka perhatian orang tua ada hubungannya dengan hasil belajar anak

terbukti tingkat perhatian orang tua yang tinggi akan menghasilkan siswa
yang mendapat nilai tinggi.
Dengan

latar

belakang

pemikiran

inilah

penulis

bermaksud

mengadakan penelitian mengenai hubungan perhatian orang tua dengan


proses belajar anak.

B.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian ini dapat diidentifikasi
sebagai berikut:

1.

Adanya perhatian orang tua dengan proses belajar anak sehingga anak
dapat berhasil dalam belajar.

2.

Adanya faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa seperti faktor ekstern
dan faktor intern.

3.

Seberapa jauh hubungan antara perhatian orang tua dengan hasil belajar
anak.

C.

Pembatasan Masalah

Dalam penulisan skripsi ini, penulis akan mengadakan penelitian di SDN


Pitara 01 Depok, maka perlu diadakan pembatasan masalah yang akan
dibahas yaitu:
1.

Perhatian orang tua terhadap proses belajar anak yang dapat mendukung
keberhasilan belajar anak di sekolah dalam hal berupa bimbingan belajar,
monitoring, penyediaan fasilitas belajar, dan kerjasama antara orang tua
dengan pihak sekolah.

2.

Penelitian diadakan di SDN Pitara 01, karena pada usia ini sangat
menbutuhkan bimbingan dari orang tua terutama dalam hal belajar dan anak
pada usia ini juga baru dalam tahap penyesuaian diri terhadap kondisi belajar
di sekolah.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan di atas, permasalahan dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara perhatian orang tua
dengan hasil belajar anak?.

E.

Tujuan Penelitian

1.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang tingkat perhatian


orang tua dengan hasil belajar anak.

2.

Memperoleh informasi tentang ada tidaknya hubungan antara perhatian


orang tua dalam proses belajar sehingga anak dapat berprestasi belajar.

3.

Memperoleh informasi tentang akibat dari tidak adanya perhatian orang tua
sehingga berdampak menurun prestasi belajar anak.

F.

Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah untuk:

1.

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan bagi orang tua
bahwa keberhasilan belajar anak bukan saja dipengaruhi oleh faktor dalam
diri anak tetapi juga faktor lain, salah satunya adalah perhatian dari orang
tua.

2.

Memberi informasi yang mungkin berguna bagi pihak yang berkepentingan


dengan masalah pendidikan.

3.

Diharapkan pula penelitian ini berguna untuk menambah khasanah ilmu


pengetahuan bagi penulis sebagai calon guru.

4.

Sebagai bahan pustaka.

G. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini terbagi atas lima bab, yaitu : pendahuluan,
penyusunan kerangka teoritis, pengajuan hipotesis, metodelogi penelitian,
hasil penelitian, serta kesimpulan, implikasi dan saran. Masing-masing bab
terbagi atas beberapa sub bab sebagai berikut :
BAB I

Pendahuluan, bab ini terdiri dari latar belakang, identifikasi masalah,


pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan
penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II

Kerangka teori dan hipotesis penelitian meliputi : Deskripsi teori-teori,


kerangka berfikir dan hipotesis penelitian.

BAB III

Metodelogi penelitian meliputi : tempat dan waktu penelitian, metode


penelitian, populasi dan sampel, instrument penelitian, teknik pengumpulan
data, teknik analisis data dan hipotesis statistik.

BAB IV

Temuan penelitian terdiri dari : Gambaran keadaan orang tua murid SDN
Pitara 01, deskripsi data, pengujian persyaratan analisis, pengujian hipotesis,
dan interpretasi hasil penelitian.

BAB V

Penutup, yaitu : kesimpulan, implikasi dan saran.

BAB II

ERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Deskripsi Teori-Teori
1.

Hakekat Hasil Belajar


Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang

membentuknya, yaitu hasil dan belajar. Pengertian hasil menunjuk kepada


suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktifitas atau proses yang
mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Hasil produksi adalah
perolehan yang didapatkan karena adanya kegiatan mengubah bahan
menjadi barang jadi. Hal yang sama berlaku untuk memberikan batasan hasil
belajar. Dalam siklus, input--- proses--- hasil, hasil dapat dengan jelas
dibedakan dengan input akibat perubahan oleh proses. Begitu pula dalam
kegiatan belajar mengajar, setelah mengalami belajar, siswa berubah
perilakunya disbanding sebelumnya.
Belajar adalah proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan
lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilaku. Perubahan itu
diperoleh melalui usaha, menetap dalam waktu yang relatif lama dan
merupakan hasil pengalaman.[11] Belajar merupakan proses yang unik dan
kompleks. Keunikan itu disebabkan karena hasil belajar yang terjadi pada
individu yang belajar, tidak ada orang lain dan setiap individu menampilkan
perilaku belajar yang berbeda. Perbedaan penampilan itu disebabkan karena

setiap individu mempunyai karakter individual yang khas, seperti minat,


intelegensi, perhatian, bakat dan sebagainya.
Menurut Briggs, hasil belajar adalah sebagai perubahan tingkah laku
yang meliputi tiga ranah, yakni kognitif, afektif, dan psikomotor.
Menurut Grounland, hasil belajar merupakan wujud perubahan perilaku yang
terjadi atas suatu obyek tertentu sebagai akibat dari proses belajar.[12]
Pendapat lain menyatakan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang
dimiliki seseorang setelah menerima pengalaman belajar.
Klasifikasi hasil belajar secara garis besar terdiri dari :
1.

Ranah kognitif yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri
dari enam aspek yaitu : pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,
dan evaluasi.

2.

Ranah afektif yang berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek
yaitu: penerimaan, penilaian, jawab atau reaksi, organisasi, dan interaksi.

3.

Ranah psikomotor yang berkenaan dengan : hasil belajar keterampilan dan


kemampuan bertindak.
Ciri-ciri perilaku seseorang yang diperoleh dari hasil belajar yaitu :

1.

Perilaku baru berupa kemampuan actual maupun potensial.

2.

Kemampuan baru tersebut berlaku dalam waktu yang relatif lama.

3.

Kemampuan baru itu diperoleh melalui usaha.


Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perilaku
berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi dan strategi kognitif
yang baru dan diperoleh siswa setelah berinteraksi dengan lingkungan dalam
suasana atau kondisi pembelajaran. Hasil belajar bisa juga berbentuk kinerja
yang ditampilkan seseorang setelah selesai mengikuti proses pembelajaran.
2.

Hakekat Belajar Anak

a. Pengertian Belajar
Belajar dalam arti luas adalah proses tingkah laku yang dinyatakan
dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan penelitian atau mengenai sikap
dan nilai-nilai pengetahuan serta kecakapan dasar yang terdapat dalam
berbagai studi atau lebih luas lagi dalam berbagai lingkup kehidupan dan
pengalaman-pengalaman terorganisasi.
Pada setiap aktifitas kehidupan, manusia pasti mempunyai tujuan
yang ingin dicapai dari aktifitas tersebut, maka sardiman menyusun tujuan
belajar adalah sebagai berikut:[13]
1.

Untuk mendapatkan pengetahuan yang ditandai kematangan berfikir.

2.

Pemahaman konsep dan keterampilan.

3.

Pembentukan sikap.

Belajar itu sendiri pada dasarnya suatu perubahan yang dialami


seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari segi pengetahuan sikap pada
perilaku yang didapat lewat suatu proses interaksi seseorang dengan
lingkungan baik melalui pengalaman maupun latihan. Dalam psikologi
pendidikan disimpulkan bahwa hal-hal pokok dari pengertian belajar adalah:
[14]
1.

Belajar itu membawa perubahan.

2.

Perubahan itu pada dasarnya terdapat kecakapan baru.

3.

Perubahan itu terjadi karena usaha


Belajar adalah proses perubahan dalam diri manusia dan merupakan
aktifitas yang sangat vital serta terjadi secara terus menerus. Manusia yang
baru dilahirkan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu
memerlukan bantuan orang lain agar dapat melangsungkan hidupnya
dengan baik. Walaupun manusia yang lahir itu punya potensi tetapi
jumlahnya sangat terbatas. Potensi-potensi yang ada sejak lahir itu tidak
akan

berkembang

tanpa

adanya

pengaruh

dari

luar,

maka

untuk

mengembangkan potensi manusia memerlukan pengetahuan serta latihan,


baik dari orang lain maupun dari diri sendiri dengan melalui proses belajar.
Kegiatan

belajar

merupakan

kegiatan

yang

terjadi

dalam

berinteraksi dengan lingkungan. Terjadinya belajar ditandai dengan adanya


perubahan dalam pola perilaku. Perubahan yang terjadi akan bertahan lama,
bahkan sampai taraf tertentu tidak menghilang lagi. Hal ini sesuai dengan
pendidikan winkel, bahwa belajar merupakan suatu aktifitas mentah yang

berlangsung

aktif

dengan

lingkungan

yang

menghasilkan

perubahan-

perubahan yang terjadi dalam, pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan


nilai sikap[15].
Sebagian

orang

beranggapan

bahwa

belajar

adalah

semata-mata

mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk


informasi materi pelajaran, disamping itu ada pula sebagian orang yang
memandang belajar sebagai latihan belaka, seperti

yang tampak pada

latihan membaca dan menulis.Berdasarkan persepsi macam ini biasanya


mereka akan merasa puas bila anak mereka telah mampu memperlihatkan
keterampilan jasmaniah tertentu ataupun tanpa pengetahuan.
Untuk menghindari ketidak lengkapan persepsi tersebut, berikut ini
akan dikemukakan beberapa pengertian dari para ahli yaitu : menurut Oemar
Hamalik Belajar adalah memodifikasi atau memperteguh kelakuan melalui
pengalaman [16]. Slameto mengatakan Belajar adalah suatu proses usaha
yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksi dengan lingkung [17]. Sedangkan menurut Herbart
Belajar adalah memasukkan tanggapan sebanyak-banyaknya, berulang-ulang
dan sejelas-jelasnya [18].
Menurut Koffka dan Kohler Belajar adalah memperoleh respon
yang tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi[19]. Menurut James
O. Whitaker Belajar didefinisikan sebagai proses di mana tingkah laku
ditimbulkan

atau

diubah

melalui

latihan

pengalaman[20].

Sedangkan

menurut pendapat Howard L. Kingsley Belajar merupakan suatu proses

tingkah laku yang ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan [21].
M. Dalyono mengatakan bahwa Belajar adalah suatu usaha atau kegiatan
yang

bertujuan

mengadakan

perubahan

tingkah

laku,

sikap,

ilmu

pengetahuan dan keterampilan [22].


Bobbi Deporter dan Mike Hernacki mengatakan Belajar adalah
kegiatan seumur hidup yang dapat dilakukan dengan menyenangkan dan
berhasil [23]. Menurut Bruner Belajar merupakan proses menaruh
perhatian pada hubungan diantara variabel-variabel yang menentukan hasil
belajar [24]. Sedangkan menurut Thorndike Belajar adalah suatu proses
interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat
merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti fikiran, perasaan yang dapat
ditangkap melalui alat indera [25].
Watson mengatakan Belajar adalah proses interaksi antara
stimulus dan respon, namun stimulus dan respon harus berbentuk tingkah
laku yang dapat diamati dan diukur [26]. Pendapat Clark Hull Belajar
adalah suatu proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus dalam
belajar selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang
muncul dapat bermacam-macam bentuknya [27]. Sedangkan menurut
Edwin Godhrie Belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan
respon. Stimulus dan respon cenderung bersifat sementara, oleh sebab itu
perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar bersifat lebih tetap [28].
Skinner mengatakan Belajar adalah hubungan antara stimulus dan
respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang akan
menimbulkan perubahan tingkah laku [29]. Pendapat Piaget mengatakan

Belajar adalah suatu proses yang akan mengikuti pola dan tahap-tahap
perkembangan seseorang sesuai dengan umurnya [30]. Menurut Ausabel
Belajar merupakan asimilasi bermakna, materi yang dipelajari diasimilasikan
dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya [31].
Hubermas mengatakan Belajar baru akan terjadi jika ada interaksi
antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan belajar yang dimaksud di
sini adalah lingkungan alam maupun lingkungan sosial, sebab antara
keduanya tidak dapat dipisahkan [32]. Menurut Bloom dan Krathwohl
mengatakan Belajar adalah adanya interaksi antara individu dengan
sesuatu yang mesti dikuasainya sebagai tujuan belajar. Tujuan belajar yang
dimaksud adalah kognitif, afektif dan psikomotorik [33].
Landa

berpendapat

Belajar

menuntut

siswa

untuk

berfikir

sistematis, tahap demi tahap, linier menuju pada target tujuan tertentu [34].
Sedangkan menurut Vygotsky mengatakan bahwa Belajar adalah untuk
meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak
[35].
Dari pengertian yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan
bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu
melelui latihan atau pengalaman untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku, sikap yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman
individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya.

b. Pengertian Anak
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Anak adalah turunan
yang kedua, manusia yang masih kecil [36]. Sedangkan menurut Oemar
Hamalik Anak adalah suatu organism yang hidup, di dalam dirinya beraneka
ragam kemungkinan dan potensi yang hidup dan sedang berkembang [37].
Menurut M. Dalyono Anak adalah seorang yang berada pada suatu masa
perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa
[38].
Dari pengertian yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan
bahwa anak adalah suatu organisme atau mahluk hidup yang didalam dirinya
terdapat

keanekaragaman

serta

potensi

dan

berada

pada

masa

perkembangan tertentu.

c. Jenis-Jenis Belajar
Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan
yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dalam
aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan
tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis ini muncul dalam dunia
pendidikan

sejalan

dengan

kebutuhan

kehidupan

manusia yang juga

bermacam-macam.
Robert M. Gagne membagi jenis belajar menjadi lima jenis[39]
yaitu :

1.

Informasi verbal yaitu pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat


diungkapkan

2.

dalam bentuk bahasa, lisan maupun tulisan.

Kemahiran intelektual yaitu kemampuan untuk berhubungan dengan


lingkungan dan dirinya sendiri.

3.

Pengaturan intelektual yaitu kemampuan untuk berhubungan dengan cara


berfikir sendiri.

4.

Keterampilan motorik yaitu suatu keterampilan melakukan rangkaian gerak


jasmani dengan mengadakan kordinasi antar gerak anggota secara terpadu.

5.

Sikap yaitu kemampuan internal yang berperan sekali dalam mengambil


tindakan.

d. Prinsip Belajar
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam proses belajar,
yaitu[40]:
1.

Belajar perlu memiliki pengetahuan dasar.

2.

Belajar memerlukan situasi yang problematis.

3.

Belajar harus bertujuan jelas.

4.

Belajar memerlukan bimbingan, arahan, serta dorongan.

5.

Belajar memerlukan latihan.

6.

Belajar memerlukan metode yang tepat.

7.

Belajar memerlukan tempat dan waktu yang tepat.

e. Aktifitas Belajar
Belajar bukanlah berproses pada kehampaan dan tidak sepi dari
aktifitas. Beberapa aktifitas yang dilakukan dalam belajar[41], yaitu :
1.

Mendengarkan.

2.

Memandang.

3.

Meraba, membau dan mengecap.

4.

Menulis atau mencatat.

5.

Membaca.

6.

Membuat ringkasan.

7.

Mengamati tabel.

8.

Menyusun paper.

9.

Mengingat.

10. Berpikir.
11. Latihan atau praktek.
f. Ciri-ciri Belajar
Ciri-ciri belajar adalah perubahan yang dilakukan seseorang secara
sadar, seperti[42] :
1.

Perubahan dalam belajar bersifat fungsional atau terus menerus.

2.

Penambahan dalam belajar bersifat aktif dan positif.

3.

Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.

4.

Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.

5.

Perubahan mencangkup seluruh aspek tingkah laku.

g. Unsur Belajar
Dalam

belajar

adanya

beberapa

unsur

yang

mempengaruhi,

yaitu[43] :
1.

Situasi, kegiatan belajar berlangsung dalam situasi belajar.

2.

Tujuan belajar, yang dapat menghasilkan :

Keterampilan intelektual.

Keterampilan prosedural.

Kemampuan dalam pemecahan masalah.

3.

Informasi verbal, kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu dengan katakata.

4.

Ketermpilan motorik, kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasi


gerakan yang berhubungan dengan otot.

5.

Sikap, kemampuan yang berpengaruh kepada tingkah laku seseorang.

h.

Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Pada umumnya proses belajar tidak selalu berjalan mulus, tetapi


dipengaruhi oleh berbagai faktor. Namun para ahli umumnya hanya
membaggi dalam dua kelompok, yaitu :
1.

Faktor intern adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap proses
dan hasil belajar. Baik yang bersifat fisik maupun non fisik.
a. Faktor fisik, yaitu keadaan fisik yang sehat, segar dan kuat akan
membantu siswa dalam mengalami proses belajar. Apabila dalam
belajar siswa tidak mengalami gangguan kesehatan maka dia akan
memperoleh prestasi belajar yang baik.
b. Faktor non fisik atau psikologis, yaitu faktor yang berpengaruh
terhadap proses belajar dan hasil belajar seperti :

1)

Inteligensi yaitu kemampuan tunggal yang dimiliki seseorang, bisa juga


sebagai sekumpulan kemampuan atau keterampilan individu. Vernon (1997)
berpendapat bahwa inteligensi merupakan kemampuan berfikir yang bersifat
umum yang dipakai seseorang dalam situasi belajar.

2)

Motivasi yaitu semangat untuk mencapai penguasaan dan memilih sesuatu


yang menantang tetapi tidak terlalu sulit, dapat dilihat dari perilaku
berprestasi seperti tekun pada tugas yang sulit.

3)

Minat meliputi keinginan dan kecenderungan individu terhadap suatu objek


atau aktifitas. H. C. Witherington (1984) mengemukakan bahwa minat
merupakan sambutan yang sadar dan tumbuh pada diri seseorang terhadap
sesuatu.

4)

Konsep diri merupakan sikap dan pandangan individu terhadap seluruh


keadaan dirinya.

2.

Faktor ekstern dapat mempengaruhi proses belajar anak adalah lingkungan.


Lingkungan dapat dibedakan antara lingkungan fisik dan lingkungan sosial
budaya.

a.

Lingkungan fisik dapat menjadi faktor penunjang atau penghambat kegiatan


belajar.

Pengaturan

yang

tepat

dapat

menimbulkan

rasa

amandan

meningkatkan era belajar anak.


b.

Lingkungan sosial budaya dapat berpengaruh positif atau negative terhadap


proses belajar anak seperti acara televisi, atau media lainnya. Dua unsur
pokok dari lingkungan sosial budaya yang besar pengaruhnya bagi anak
adalah :

1)

Guru, pengaruh guru terhadap semangat dan kualitas belajar sangat besar,
ada beberapa peranan yang dipegang oleh guru antara lain:

Organisator, yaitu merencanakan, memimpin dan mengontrol proses


belajar.

Informator, yaitu memberikan fasilitas atau kemudahan proses belajar.

Pembimbing, yaitu memberikan bimbingan agar anak dapat belajar secara


efektif efesien serta mampu mengatasi masalah.

Mediator, yaitu bertindak sebagai perantara anak dengan kegiatan belajar.

Motivator, guru dapat menumbuhkan, memelihara, dan meningkatkan


belajar anak.

Evaluator, yaitu guru melaksanakan penilaian terhadap hasil belajar dan


proses belajar anak.

2)

Orang tua
Selain guru, faktor yang banyak menentukan perkembangan termasuk
prestasi belajar anak adalah orang tua. Beberapa peran yang ada pada diri
orang tua terhadap anak antara lain sebagai fasilitator, orang tua dapat
menyediakan berbagai fasilitas belajar. Orang tua dapat berperan sebagai
pembimbing dan dan motivator belajar.
Orang tua perlu banyak meluangkan kesempatan kesempatan anak dalam
bercerita,

bertanya

dan

meminta

bantuan.

Tugas

orang

tua

adalah

mengamati, memberi perhatian, mengenal anak sebagai individu dan


membantu anak dalam mengembangkan kemampuan dan minat anak[44].

Dalam uraian di atas telah dijelaskan mengenai faktor ekstern dan


faktor Intern yang berpengaruh terhadap proses belajar anak. Faktor tersebut
bisa saling berkaitan dan bekerjasama dalam pencapaian belajar anak, baik
dalam bidang kognitif, psikomotorik ataupun perkembangan sikap dan
tingkah laku.

3.

Hakekat Perhatian Orang Tua


a. Pengertian Perhatian Orang tua
Menurut

ahli

psikologi,

istilah

perhatian

dirumuskan

sebagai

pemusatan energi tertuju pada suatu objek, juga di artikan sebagai


kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang sedang dilakukan. Salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain adalah
perhatian orang tua[45].
Perhatian orang tua dalam belajar sangat di perlukan bagi anak
untuk menunjang keberhasilan belajarnya. Pada kamus besar bahasa
Indonesia yang disusun oleh pusat bahasa Depdiknas[46], perhatian adalah
memperhatikan apa yang diperhatikan, sedangkan Walgito menjelaskan
bahwa[47] perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh
aktivitas individu yang ditunjukan pada sesuatu atau sekumpulan objek.
Definisi perhatian menurut Slameto adalah kegiatan yang dilakukan
seseorang dalam hubungannya dengan pemilihan rangsangan yang datang
dari lingkungannya[48]. Sedangkan menurut Abu Ahmadi, perhatian adalah
keaktifan jiwa yang di arahkan pada suatu objek baik dari dalam maupun dari
luar dirinya[49]. Pengertian tersebut mengungkapkan bahwa perhatian
sangat berhubungan erat dengan keberadaan jiwa yang direalisasikan dalam
suatu aktifitas terhadap suatu obyek yang direaksi pada suatu waktu, obyek
menjadi sasaran yaitu hal-hal yang ada dalam diri anak. Sebagai contoh halhal yang ada dalam dirinya adalah tanggapan, pengertian, dan perasaan,

sedangkan hal-hal yang di luar diri anak adalah keadaan alam, keadaan
masyarakat, ataupun keadaan sosial ekonomi.
Menurut Sumadi Suryabrata perhatian adalah pemusatan tenaga
psikis yang tertuju pada suatu obyek dan banyak sedikitnya kesadaran yang
menyertai suatu aktifitas yang dilakukan[50]. Kemudian menurut Wasty
Soemanto, perhatian adalah pendayagunaan kesadaran untuk menyertai
sesuatu aktifitas[51].
Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa perhatian adalah suatu proses
reaksi seseorang yang dilakukan secara sadar terhadap suatu objek akibat
adanya suatu rangsangan, sehingga mengakibatkan bertambah banyaknya
aktifitas seseorang.

b. Pengertian Orang Tua


Perhatian

orang

tua

dalam

belajar

sangat

diperlukan

untuk

menunjang keberhasilan belajar anak. Secara umum orang tua adalah ayah
dan ibu kandung. Menurut Thamrin Nasution dan Nurhalijah Nasution, yang
dimaksud dengan orang tua adalah setiap orang yang bertanggung jawab
dalam kehidupan sehari-hari lazim disebut dengan ibu dan bapak[52]. Dalam
Islam istilah orang tua menunjukan pada kedua orang tua atau ayah dan ibu.
Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran surat Lukman yang artinya:
Dan kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada orang tua,
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan

lemah yang bertambah-

tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan


kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu (Qs.Lukman: 14).
Orang tua di dalam keluarga berfungsi sebagai orang tua biologis
dan orang tua psikologis karena di dalam pergaulannya sehari-hari antara
orang tua dengan anak ada gejala saling mempengaruhi baik yang sifatnya
positif maupun yang bersifat negatif[53]. Menurut Purwadarminto orang tua
adalah ibu dan bapak kandung yang telah diikat oleh tali perkawinan yang
syah baik menurut agama maupun secara administrasi pemerintah[54].
Diposkan 25th December 2012 oleh sepriwan adiko
Label: Skripsi
0
Tambahkan komentar
4.
Dec
25

pembinaan mental dalam upaya peningkatan prilaku keberagamaan

ABSTRAK
HADI WIBOWO : PEMBINAAN MENTAL DALAM UPAYA PENINGKATAN
PERILAKU KEBERAGAMAAN (Studi Kasus Di Rumah Tahanan Negara Klas IIA
Pondok Bambu).

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis


secara kritis tentang penerapan pembinaan mental dalam upaya peningkatan
perilaku keberagamaan warga binaan (tahanan/narapidana) di Rumah
Tahanan Negara Klas IIA (Rutan Wanita) Pondok Bambu. Hasil penelitian ini
diharapkan akan dapat menyempurnakan penerapan pembinaan mental di
Rumah Tahanan Pondok bambu agar bertambah lebih baik.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengambil latar
belakang Rumah Tahanan Negara Klas IIA (Rutan Wanita) Pondok Bambu.
Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan wawancara terhadap
warga binaan (tahanan/narapidana), observasi atau pengamatan, dan
dokumentasi. Analisa data dilakukan dengan memberikan makna terhadap
data yang telah berhasil dikumpulkan dan dari makna itulah ditarik
kesimpulan.
Pemeriksaan
uji
keabsahan
data
dilakukan
dengan
menggunakan triangulasi data yaitu membandingkan data hasil pengamatan
langsung (observasi) dengan data hasil wawancara dan isi suatu dokumen
yang berkaitan.
Hasil penelitian menunjukkan: 1)Bahwa pelaksanaan pembinaan
mental/kegiatan rohani yang diselenggarakan di Rutan Pondok Bambu
dilaksanakan oleh instansi Kementerian Agama Jakarta Timur, yaitu dari
kelompok kerja Penyuluh Agama Islam. 2) Hanya sebagian kecil dari total
jumlah penghuni Rutan/ warga binaan yang mengikuti pembinaan mental,
hanya sekitar 10% dari total warga binaan. 3) Belum adanya ketentuan wajib
mengikuti pembinaan mental/ pengajian bagi setiap warga binaan dari pihak
rutan. 4) Bahwasanya pembinaan mental sangat berarti bagi para warga
binaan dalam menata kehidupan baru mereka di dalam rutan. 5) Pembinaan
mental sangat memberikan dampak yang sangat baik dalam menumbuh
kembangkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. 6) Pembinaan
mental sangat baik dalam mengembangkan perilaku positif warga binaan
baik terhadap sesama warga binaan, terhadap petugas, baik pergaulan di
dalam kamar hunian, di dalam blok maupun di area rutan, serta perilaku
yang baik terhadap warga binaan yang berbeda agama. 7) Bahwasanya
pembinaan mental yang diberikan kepada para warga binaan sangat
membantu berarti dalam mengembangkan perilaku keberagamaan warga
binaan. 8) Pembinaan Mental yang diikuti oleh warga binaan menjadi bekal
kehidupan mereka setelah mereka terbebas dari masa penahanan. 9)
Pembinaaan mental yang dilaksanakan di rutan merupakan bagian dari
pembinaan yang diberikan kepada para warga binaan, namun dalam
pelaksanaannya belum optimal karena masih sedikitnya yang mengikutinya.
10) Dengan pengalaman mengikuti pembinaan mental dapat diharapkan ada
hikmahnya dan menjadi suatu pengalaman yang berarti bagi kehidupan
warga binaan setelah bebas dari masa tahanan agar tidak mengulangi
tindakan yang melanggar hukum.

Diposkan 25th December 2012 oleh sepriwan adiko


Label: Skripsi
0
Tambahkan komentar
5.
Dec
25

Pemikiran jaringan Islam liberal dan perkembangannya

ABSTRAK
Sepriwan Adiko

PEMIKIRAN JARINGAN ISLAM LIBERAL (JIL) DAN


PERKEMBANGANNYA
[viii, 188 halaman, 2 Bagan/skema/gambar].
Penelitian dengan judul Pemikiran Jaringan Islam Liberal (JIL) dan
Perkembangannya ini bertujuan untuk mendiskripsikan pemikiran Jaringan
Islam liberal agar dapat mengetahui konsep JIL dalam memahami Islam pada
bidang Syari`ah, aqidah, filsafat, dan tasawuf sehingga dapat menjawab
wacana

pemikiran

yang

berkembang

di

masyarakat.

Dan

juga

mendiskripsikan perkembangan pemikiran Jaringan Islam Liberal yang


berawal dari pemikiran liberal di Indonesia dan pemikiran liberal dalam
konteks global.

Pemikiran Jaringan Islam Liberal (JIL) banyak melontarkan berbagai


wacana keagamaan yang berkaitan dengan berbagai problematika kehidupan
melalui berbagai media, yaitu; buku-buku, surat kabar, majalah, radio,
seminar dan website. Wacana-wacana JIL tersebut banyak mengundang
kontoversi di tengah umat Islam di Indonesia. Wacana JIL dianggap telah
merusak pemahaman umat Islam yang selama ini telah mapan dan qath`i.
Penelitian yang dilakukan untuk penyusunan tesis ini adalah penelitian
kepustakaan/library research, maka pertama; penggumpulan sumber data
sebagai referensi dan dokumentasi dilakukan sebagai dasar pembahasan.
Kedua; memeriksa dan menggelola data yang sudah terkumpul, sehingga
permasalahan yang ada dapat dideskripsikan dengan jelas. Dan ketiga;
dalam menganalisa data yang telah ada menggunakan bentuk analisa
deskriptif-analisis dengan menggunakan metode berfikir deduktif-induktif.
Pemikiran Jaringan Islam Liberal dalam bidang syari`ah menempatkan
maqashid syariah sebagai acuan dalam Istinbath hukum, atau bertolak
belakang dengan metode sebelumnya yang menempatkan al-Quran dan
hadits sebagai sentral. Sehingga jika ada ayat atau hadits yang bertentangan
dengan maqashid syariah maka yang dimenangkan adalah maqashid
syariahnya. Para aktivis JIL menyakini bahwa inti ajaran Islam adalah
maqashid syariah. Dalam bidang aqidah Menyakini bahwa Tuhan itu Esa dan
manusia mengenalnya dengan berbagai nama atau sebutan, sesuai dengan
ajaran yang diyakininya. Dan semua agama itu benar karena datangnya dari
Tuhan melalui para Nabi dan Rasul yang banyak jumlahnya. Dalam bidang
filsafat, para aktivis JIL Berpikir kritis dan rasional dalam memahami perintahperintah Tuhan. Menyakini bahwa berpikir secara rasional dalam masalah
agama adalah bagian dari perintah agama dan berpikir kritis dalam agama
bukan berarti membangkang terhadap agama. Sikap kritis di kembangkan
untuk memahami sejumlah ajaran dalam Islam. Namun, pemikiran yang kritis
tersebut tidak dikembangkan dalam hal ritual ibadah murni. Dalam bidang
tasawuf, Pemahaman yang para aktivis JIL kembangkan adalah menghadirkan
rasa cinta Ilahi ke dalam hati setiap manusia. Jika setiap manusia telah
menghadirkan rasa cinta dan dengan rasa cinta itu manusia mengasihi dan

menyayangi setiap ciptaan Allah maka dunia ini akan aman, damai dan
tentram. Pada perkembangannya pemikiran JIL tersebut banyak ditentang
oleh umat Islam dan Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa
haram terhadap ajaran pluralisme, sekularisme, dan liberalisme.

Kepustakaan : 60 buku (1982-2012)

Diposkan 25th December 2012 oleh sepriwan adiko


Label: Skripsi
0
Tambahkan komentar
6.
Sep
24

Mutiara hadits
Dari anas, dari Rasulullah saw, beliau bersabda, "Tidaklah sempurna
keimanan salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai
saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri" (H.R. Bukhari dan
Muslim)

Cinta adalah anugrah dari allah yang harus disyukuri. namun anugrah yang
berupa cinta harus dikelola dengan baik agar tidak salah dalam
menempatkannya, seperti yang terjadi pada sebagian kaum muslimin yang

terbelenggu dengan cinta harta, jabatan dan wanita. Cinta memiliki


karakternya. diantaranya ia bersifat universal, ia mengatur cinta yang
berdimensi vertikal dan berdimensi horizontal.

Cinta yang berdimensi horisontal yaitu cinta terhadap manusia dan islam
telah menetapkan panduannya, salah satunya terkait cinta terhadap saudara
kita seaqidah. bahwa seorang muslim harus meletakkan cintanya kepadanya
seperti cintanya kepada dirinya sendiri. inilah kaidah cinta terhadap saudara
seaqidah. cinta terhadap saudara kita yang seaqidah adalah cinta yang tidak
dibatasi oleh waktu dan wilayah teritorial. sehingga apa yang harus kita
lakukan terhadap muslim Rohingya di Myanmar, palestina dan negara muslim
lainnya yang sedang mengalami intimidasi, penindasan dan kedzoliman
sebagai wujud cinta kita terhadap mereka, kita harus berbuat dalam batas
kemampuan kita.

Mendiamkan mereka dalam ketertindasan berarti ada masalah dengan iman


yang bersemayam dalam hati kita. karena kebahagiaan mereka adalah
kebahagiaan kita, kesedihan mereka adalah kesedihan kita dan masalah
mereka adalah masalah kita. inilah makna cinta sejatidari cinta terhadap
saudara muslim.

Pelajaran dari Hadits


1. Di antara parameter kualitas iman seorang mukmin adalah seberapa besar
cintanya terhadap saudaranya.
2. Cinta terhadap saudara seaqidah tidak dibatasi oleh waktu dan teritorial.
3. kewajiban seorang mukmin mencintai saudaranya seperti ia mencintai
dirinya.
Diposkan 24th September 2012 oleh sepriwan adiko
Label: Makalah
0
Tambahkan komentar
7.

Jun
24

Makalah Kisah-kisah dalam al-Quran

BAB I
PENDAHULUAN
Biasanya suatu peristiwa yang dikaitkan dengan hukum kausalitas
akan dapat menarik perhatian para pendengar.Apalagi dalam peristiwa itu
mengandung pesan-pesan dan pelajaran mengenai berita-berita bangsa
terdahulu yang telah musnah, maka rasa ingin tahu untuk menyikap pesanpesan dan peristiwanya merupakan faktor yang paling kuat yang tertanam
dalam hati. Dan suatu nasihat dengan tutur kata yang disampaikan secara
monoton, tidak variatif tidak akan mampu menarik perhatian akal, bahkan
semua isinya pun tidak akan mampu dipahami. Akan tetapi bila nasihat itu
dituangkan dalam bentuk kisah yang menggambarkan suatu peristiwa yang
terjadi dalam kehidupan, maka akan dapat meraih apa yang dituju. Orang
pun tidak akan bosan mendengarkan dan memperhatikannya, dia akan
merasa rindu dan ingin tahu apa yang dikandungnya. Akhirnya kisah itu akan
menjelma menjadi suatu nasihat yang mampu mempengaruhinya.
Sastra yang memuat kisah, dewasa ini telah menjadi disiplin seni yang
khusus di antara seni-seni lainnya dalam bahasa dan kesusastraan. Tetapi
kisah-kisah nyata Al-Quran telah membuktikan bahwa redaksi kearaban
yang dimuatnya secara jelas menggambarkan kisah-kisah yang paling tinggi
nilainya.
Allah SWT menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW. Yang
mengandung tuntunan-tuntunan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan
di dunia dan akhirat, serta kebahagian lahir dan batin. Selain menggunakan

cara yang langsung, yaitu berbentuk perintah dan larangan, adakalanya


tuntunan tersebut disampaikan melalui kisah-kisah (Qashash), dengan tujuan
untuk menjelaskan bantahan terhadap kepercayaan-kepercayaan yang salah
dan bantahan terhadap setiap bujukan untuk berbuat ingkar.
Oleh karena itu di dalam Al-Quran kita mendapatkan banyak kisah
Nabi-nabi,

Rasul-rasul

dan

umat-umat

yang

terdahulu,

maka

yang

dimaksudkan dengan kisah-kisah itu adalah pengajaran-pengajaran dan


petunjuk-petunjuk yang berguna bagi para penyeru kebenaran dan bagi
orang-orang yang diseru pada kebenaran.
Lantaran inilah maka Al-Quran tidak menguraikan kisahnya seperti
kitab sejarah tetapi memberi petunjuk. Petunjuk itu bukan dalam mengetahui
kelahiran Rasul dan keturunan serta kejadian-kejadiannya. Tetapi petunjuk itu
di dapatkan dalam cara Rasul mengembangkan kebenaran dan dalam
penderitaan-penderitaan yang dialami oleh para Rasul tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Qashash Al-Quran
Kata qashash berasal dari kata al-qashshu yang berarti mencari atau
mengikuti jejak. Dikatakan,, qashashtu atsarahu artinya, saya mengikuti
atau mencari jejaknya. Kata al-qashash adalah bentuk masdar. Seperti
firman Allah: Dia (Musa) berkata, itulah (tempat) yang kita cari. Lalu
keduanya

kembali,

mengikuti

jejak

semula.

(Al-Kahfi:

64).

Kemudian qashash juga berarti berita yang berurutan. Seperti firman Allah:
Sesungguhnya ini adalah berita yang benar (Al-Imran: 62). Sungguh, pada
berita mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal
(Yusuf:111)

Secara etimologi (bahasa), Qashash juga berarti urusan (al-amr),


berita (khabar), dan keadaan(hal). Dalam bahasa Indonesia, kata itu
diterjemahkan dengan kisah yang berarti kejadian. Adapun dalam pengertian
terminologi (istilah) Qashash al-Quran adalah kisah-kisah dalam Al-Quran
tentang para Nabi dan Rasul mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi
pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Hal senada juga
dikemukakan oleh Manna Al-Qathan, bahwa qashash Al-Quran adalah
pemberitaan Al-Quran tentang hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat yang
terdahulu, dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapatlah kita katakan bahwa
kisah-kisah yang dimuat dalam Al-Quran semuanya cerita yang benar-benar
terjadi, tidak ada cerita fiksi, khayal, apalagi dongeng.

B. Ragam Kisah dalam Budaya Arab Jahiliyah


Kebiasaan mengembara membuat orang-orang Arab senang hidup
bebas, tanpa aturan yang mengikat sehingga mereka menjunjung tinggi nilainilai kebebasan. Pada musim paceklik dan musim panas, mereka terbiasa
melakukan

perampasan

sebagai

sarana

hidup.

Peperangan antar kabilah untuk merebut sumber mata air menjadi tradisi
yang kuat, bahkan berlanjut dari generasi ke generasi. Karena itu, mereka
membutuhkan keturunan yang banyak terutama anak laki-laki untuk menjaga
kehormatan kabilahnya. Sementara anak perempuan, dalam pandangan
mereka dianggap sebagai makhluk inferioritas yang tidak memberikan
kontribusi apa pun, maka dengan terpaksa harus dikubur hidup-hidup.
Jika malam tiba, mereka mengisinya dengan hiburan malam yang sangat
meriah. Sambil meminum minuman keras para penyanyi melantunkan lagulagu

dengan

iringan

musik

yang

iramanya

menghentak-hentak

dari

tetabuhan yang terbuat dari kulit. Dalam keadaan mabuk jiwa mereka
melayang-layang penuh dengan khayalan, kenikmatan, dan keindahan. Dan
dengan bermabuk-mabukan itu pula mereka dapat melupakan kesulitan dan
kekerasan hidup di tengah padang pasir. Namun di balik watak dan prilaku

keras mereka memiliki jiwa seni yang sangat halus dalam bidang sastra,
khususnya syair.
Al-Quran, turun dalam situasi di mana bahasa dan sastra Arab
(Jahiliyah) mencapai puncak kejayaan. Al-Quran tampil dengan berbahasa
Arab, agar dapat dipahami oleh manusia pada waktu itu. Sebagaimana
firman

Allah:

Sesungguhnya

Kami

menurunkannya

berupa

Al-Quran

berbahasa Arab, agar kamu mengerti (Q.S. Yusuf: 2).


Para penyair ketika itu memiliki kedudukan yang sangat terhormat
pada setiap kabilah, karena mereka dianggap sebagai penjaga martabat
serta kehormatan kabilahnya. Dengan begitu mereka disanjung-sanjung
setinggi langit oleh kabilahnya.
Perang pena antara penyair antar kabilah, telah membawa mereka
kepada sebuah kompetisi syair yang di selenggarakan di suatu pasar yang
disebut Ukazh. Dari perang pena yang terjadi di Ukazh, lahirlah karya-karya
sastra yang lebih dikenal dengan sebutan muallaqat. Disebut muallaqat,
karena syair yang terpilih menjadi yang terbaik konon katanya akan
digantungkan di dinding kabah dan ditulis dengan tinta mas.

C. Ungkapan kisah dalam Al-Quran


Dalam
menceritakan

mengemukakan
kelemahan

kisah,

manusia.

Al-Quran

Namun,

hal

tidak

segan

untuk

tersebut digambarkan

sebagaimana adanya, tanpa menonjolkan segi-segi yang dapat mengundang


rangsangan. Kisah tersebut biasanya diakhiri dengan menekankan akibat dari
kelemahan diri seseorang yang digambarkannya, pada saat kesadaran
manusia dan kemenangannya mengatasi kelemahan itu. Sebagai contoh,
kisah Qarun yang diungkapkan dalam Surat Al-Qashash: 78-81: Dia (Qarun)
berkata, Sesungguhnya aku beri (harta itu), semata-mata karena ilmu yang
ada padaku. Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umatumat

sebelumnya

yang

lebih

kuat

daripadanya,

dan

lebih

banyak

mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya

tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya


dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia
berkata, Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti yang
telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai
keberuntungan yang besar. Tetapi orang-orang yang dianugrahi ilmu
berkata,: Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orangorang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu
hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.
Demikian pula kisah Nabi Sulaiman, ketika terpengaruh oleh keindahan
kuda-kudanya. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Surat Shad 30-35:Dan
kepada Dawud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman, dia adalah sebaikbaik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (ingatlah)
ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti
dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: Sesungguhnya
aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku
lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah
semua kuda itu kembali kepadaku. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.
Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia)
tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit),
kemudian ia bertaubat. Ia berkata: Pada hakikatnya masih banyak kisah-kisah
yang termaktub didalam al-Quran namun ungkapan kisah yang banyak
terdapat dalam Al-Quran adalah surat al-Qashash, al-Anbiya, Yusuf.
Manna Al-Qathan, membagi qashas Al-Quran dalam tiga bagian, yaitu:
1. Kisah para nabi terdahulu
Bagian ini berisikan ajakan para nabi kepada kaumnya;mukjizatmukjizat dari Allah yang memperkuat dakwah mereka, sikap orang-orang
yang memusuhinya, serta tahapan-tahapan dakwah perkembangannya, dan
akibat yang menimpa orang beriman dan orang yang mendustakan para
nabi. Contohnya:
* Kisah Nabi Adam (QS.Al-Baqarah : 30-39. Al-Araf : 11 dan lainnya);
*

Kisah

Nabi

Nuh

(QS.Hud

25-49);

Kisah

Kisah

Nabi
Nabi

Kisah

Hud
Idris

Nabi

Al-ARaf:

(QS.Maryam:

Yunus

Kisah

(QS.

Kisah

98,

Luth

Nabi

72,

56-57,

(QS.Yunus:

Nabi

65,

50,

Al-Anbiya:

85-86);

Al-Anam:

86-87);

(QS.Hud:

Salih

58);

69-83);

(QS.Al-ARaf:

85-93);

* Kisah Nabi Musa (QS.Al-Baqarah: 49, 61, Al-Araf: 103-157) dan lainnya;
*

Kisah

Nabi

Kisah

Nabi

Kisah

Nabi

Kisah

Nabi

Kisah

Kisah

Kisah

Nabi

Harun

Daud

Sulaiman
Ayub

(QS.Saba:
(QS.An-Naml

(QS.

Al-An

Nabi

Kisah

10,
:

am:

Nabi

78);

Saba:

12-14);

Al-Anbiya:

83-84);

(QS.Al-Anam:

85);

(QS.Shad:

48);

124,

Ismail

44,

34,

Ilyasa

(QS.Al-Baqarah:

163);

Al-Anbiya:

15,

Ilyas

Nabi
Ibrahim

(QS.An-Nisa:

132,

Al-Anam:

(QS.Al-Anam:

74-83);
86-87);

Kisah

Nabi

Ishaq

(QS.Al-Baqarah:

133-136);

Kisah

Nabi

Yaqub

(QS.Al-Baqarah:

132-140);

Kisah

Nabi

Yusuf

Kisah

Nabi

Yahya

Kisah

Nabi

Zakaria

Kisah

Nabi

Isa

(QS.Yusuf:

3-102);

(QS.Al-Anam:

85);

(QS.Maryam:

2-15);

(QS.Al-Maidah:

110-120);

* Kisah Nabi Muhammad (QS.At-Takwir: 22-24, Al-Furqan: 4, Abasa: 1-10, AtTaubah: 43 -57 dan lainnya.

2. Kisah yang berhubungan dengan kejadian pada masa lalu dan orangorang
*

yang

tidak

Kisah

Kisah

Kisah

Kisah

disebutkan

tentang
tantang

Luqman

Dzul

tentang
tentang

Ashabul

thalut

dan

Kisah

tentang

Yajuj

Kisah

tentang

bangsa

Kisah-kisah

yang

(QS.

Kahfi
jalut

Al-Kahfi:

83-98);

(QS.Al-Kahfi:

9-26);
246-251);

(QS.Al-Anbiya:

Romawi
pada

12-13);

(QS.Al-Baqarah:

Mafuz

terjadi

Contohnya

(QS.Luqman:

Qarnain

3.

kenabiannya.

95-97);

(QS.Ar-Rum:
masa

2-4).

Rasulullah

Kisah

Kisah

Kisah

tentang

tentang
tentang

Ababil

hijrahnya
perang

Nabi

Badar

(QS.Al-Fil:

SAW
dan

1-5);

(QS.Muhammad:

Uhud

(QS.

Ali

13);
Imran);

* Kisah tentang perang hunain dan At-Tabuk (QS. Taubah).

Kisah dalam Al-Quran bukanlah suatu gubahan yang hanya bernilai sastra
saja akan tetapi kisah dalam Al-Quran merupakan salah satu media untuk
mewujudkan tujuan aslinya. Oleh karena itu kisah yang ada didalam AlQuran bersifat hakiki sedangkan kisah yang dibuat manusia bersifat khayali.
Pada masa sekarang telah banyak timbul penjabaran kisah-kisah yang tidak
dijelaskan di dalam Al-Quran. Kisah-kisah ini berasal dari sejarah. Kisah-kisah
dalam al-Quran hanya dikemukakan secara singkat dengan menitik beratkan
pada aspek-aspek nasehat dan ibrahnya, tidak mengungkapkan secara detil,
seperti nama-nama negeri dan nama-nama pribadi. Adapun Taurat dan Injil
mengemukakannya secara panjang lebar dan detil.
Ketika Ahli Kitab masuk Islam, mereka masih membawa pengetahuan
keagamaan mereka berupa cerita dan kisah keagamaan.Dan di saat
membaca kisah-kisah dalam Al-Quran, terkadang mereka memaparkan kisah
itu seperti yang terdapat dalam kitab-kitab mereka. Olehkarena itu para
sahabat cukup berhati-hati terhadap kisah-kisah yang mereka bawakan itu.
Berita-berita yang diceritakan Ahli Kitab yang masuk Islam itulah yang
dinamakan isra`iliyat.
Kisah-kisah dalam Al-Quran secara umum bertujuan kebenaran, seperti
ungkapan kisah di atas. Jika di lihat dari keseluruhan kisah yang ada maka
banyak faedah yang terdapat dalam qashash Al-Quran sebagaimana yang
diutarakan

Manna

Al-Qaththan

berikut

ini:

1. Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah agama Allah dan pokok-pokok syariat


yang dibawa oleh setiap nabi. Dalam hal ini, Allah telah berfirman dalam
surat Al-Anbiya ayat 25 : Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun
sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, Bahwasanya tidak

ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan
Aku (QS.Al-Anbiya:25)
2. Meneguhkanhati Rasulullah dan hati umatnya dalam menegakkan agama
Allah, serta menguatkan kepercayaan orang-orang yang beriman melalui
datangnya

pertolongan

Allah

dan

hancurnya

kebatilan

beserta

para

pendukungnya. Faedah ini tercantum dalam Al-Quran surat Hud ayat 120:
dan semua kisah yang rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah
yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang
kepadamu kebenaran serta pengajaran da peringatan bagi orang-orang yang
beriman.

(QS.Hud:12).

3. Membenarkan nabi-nabi terdahulu dan mengingatkan kembali jejak-jejak


mereka.
4.

Memperlihatkan

kebenaran

mengenai
5.

Nabi

Muhammad

dalam

penuturannya

orang-orang

Membuktikan

kekeliruan

ahli

kitab

terdahulu.
yang

telah

menyembunyikan

keterangan dan petunjuk. Disamping itu, kisah-kisah itu memperlihatkan isi


kitab

suci

mereka

sesungguhnya,

sebelum

diubah

dan

direduksi,

sebagaimana dijelaskan firman Allah pada Ali Imran ayat 93 : Semua


makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan
oleh Israil (Yakub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan.
Katakanlah. Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum
turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orangorang

yang

benar.

(Q.S

Ali-Imran:

93)

6. Kisah merupakan salah satu bentuk sastra yang menarik bagi setiap
pendengarnya dan memberikan pengajaran yang tertanam dalam jiwa.
Sebagaimana dijelaskan firman Allah dalam surat Yusuf ayat 111:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orangorang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat,
tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala
sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman.(QS.
Yusuf:111)
Sedangkan

manfaat

qashash

yang

paling

penting

adalah

untuk

menanamkan fitrah manusia yang cendrung dikisahkan dan cara untuk


mengusir kebosanan sehingga inti dari kisah yang diceritakan tersampaikan.

D. Rahasia Pengulangan Kisah dalam Al-Quran


Al-Quran banyak mengandung kisah-kisah yang diungkapkan secara
berulang kali di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali
disebutkan dalam Al-Quran dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang
berbedaDemikian pula terkadang dikemukakan secara ringkas dan kadangkadang secara panjang lebar, dan sebagainya. Menurut Manna Al-Qaththan,
bahwa kisah-kisah dalam Al-Quran mengandung beberapa rahasia diantara
rahasianya adalah :
1.

Menjelaskan ke-balaghah-an Al-Quran dalam tingkat paling tinggi. Sebab di


antara keistimewaan balaghah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam
berbagai macam bentuk yang berbeda satu dengan yang lain serta
dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang
merasa bosan karenanya, bahkan dapat menambah ke dalam jiwanya
makna-makna baru yang tidak didapatkan di saat membacanya di tempat
lain.

2.

Menunjukkan kehebatan mukjizat Al-Quran. Sebab mengemukakan sesuatu


makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk
susunan kalimat di mana salah satu bentuk pun tidak dapat ditandingi oleh
sastrawan Arab, merupakan tantangan dasyat dan bukti bahwa Al-Quran itu
datang dari Allah.

3.

Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya


lebih berkesan dan

melekat dalam jiwa.

Karena itu pada dasarnya

pengulangan merupakan salah satu metode pemantapan nilai. Misalnya kisah


Musa dengan Firaun. Kisah ini menggambarkan secara sempurna pergulatan
sengit antara kebenaran dengan kebatilan. Dan sekalipun kisah itu sering

diulang-ulang, tetapi pengulangannya tidak pernah terjadi dalam sebuah


surat.
4.

Setiap kisah memiliki maksud dan tujuan berbeda. Karena itulah kisah-kisah
itu

diungkapkan.

Maka

sebagian

dari

makna-maknanya

itulah

yang

diperlukan, sedang makna-makna lainnya dikemukakan di tempat yang lain


sesuai dengan tuntutan keadaan.
E. Rahasia nama gelar, tokoh dalam kisah
Dalam mengungkapkan kisah peristiwa-peristiwa yang sudah dan akan
terjadi, Al-Quran menyebutkan beberapa pelaku atau tokoh dari suatu
peristiwa.
Terkadang pelaku peristiwa tidak disebutkan secara langsung dalam AlQuran, tetapi hanya secara maknawi, terutama kisah-kisah yang pelakunya
secara kolektif, maka hanya disebutkan secara simbolis, seperti: kaum Ad,
kaum Luth, Bani Israil, kaum Quraisy dan lain sebagainya.Tidak jarang juga
pelaku kisah dalam Al-Quran disebutkan namanya langsung, contohnya:
a. Nama Nabi,
Seperti:
1.

Adam

2.

Nuh

3.

Idris

(QS.Al-Baqarah
(QS.Hud
(QS.

ayat

Maryam

(ayat
25,

ayat

32,
57

4.

Ibrahim

(QS.Hud

5.

Ismail

(QS.Al-Baqarah

6.

Ishaq

31,

ayat

35,

37);

46,

48,

89);

QS.Al-Anbiya

ayat

85);

42,
dan

34,

45,

69,

74,

ayat

(QS.Al-Baqarah

b.

33,

76);

125,127,133,136,140);

ayat

Nama

75,

132,133,136,140);

Malaikat,

seperti:

1. Jibril (QS.At-Tahrim ayat 4 dan QS. Al-Baqarah (2) ayat 97, 98);
2.
c.

Mikail
Nama

1.

Sahabat,

Nama

tokoh

2.

Imran

3.

Uzair

4.

Tuba

(QS.Al-Baqarah
seperti

Zaid

terdahulu

bin

Harist

non-Nabi

(QS.Ali-Imran
(QS.Yunus

ayat
(QS.Al-Ahzab
dan

ayat
ayat

(QS.Ad-Dukhan

Rasul,

98).
ayat

37)

seperti:

33,

35);

30);

dan

ayat

37)

d. Nama Wanita, seperti: Maryam (QS.Ali-Imran ayat 36, 37, 42, 43, 45)
Disamping nama pelaku, Al-Quran juga menuturkan gelar pelaku kisah,
seperti Abu Lahab pada Q.S Al-Lahab ayat 1, namanya sendiri adalah Abdul
Uzza.
Adapun rahasia dari penggunaan nama gelar dan tokoh dalam kisah adalah:
1.

Kita dapat mencontoh kisah-kisah kehidupan para Nabi, orang-orang yang


beriman dan beramal saleh.

2.

Memudahkan kita untuk mengingat kisah-kisah tersebut.

3.

Memudahkan kita dalam memahami maksud dan tujuan kandungan kisah


dalam Al-Quran.

BAB III
PENUTUP

Secara

etimologi

(bahasa),

Qashash

adalah

urusan

(al-amr),

berita

(khabar), dan keadaan (hal). Dalam bahasa Indonesia, kata itu diterjemahkan
dengan kisah yang berarti kejadian.Sedangkan secara terminologi (istilah)
Qashash al-Quran adalah kisah-kisah dalam Al-Quran tentang para Nabi dan
Rasul mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa
kini, dan masa yang akan datang. Banyak kisah-kisah yang diungkapkan di
dalam Al-Quran seperti kisah Qarun, Nabi Sulaiman dan kisah-kisah yang
lain.
Faedah qashash dalam Al-Quran adalah:
1.

Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah agama Allah dan pokok-pokok syariat


yang dibawa oleh setiap nabi.

2.

Meneguhkan hati Rasulullah dan hati umatnya dalam menegakkan agama


Allah, serta menguatkan kepercayaan orang-orang yang beriman melalui
datangnya

pertolongan

Allah

dan

hancurnya

kebatilan

beserta

para

pendukungnya.
3.

Membenarkan nabi-nabi terdahulu dan mengingatkan kembali jejak-jejak


mereka

4.

Memperlihatkan

kebenaran

Nabi

Muhammad

dalam

penuturannya

mengenai orang-orang terdahulu


5.

Membuktikan kekeliruan ahli kitab yang telah menyembunyikan keterangan


dan petunjuk.

6.

Kisah merupakan salah satu bentuk sastra yang menarik bagi setiap
pendengarnya dan memberikan pengajaran yang tertanam dalam jiwa.
Menurut Manna Al-Qaththan, rahasia pengulangan kisah dalam Al-Quran
adalah:
1. Menjelaskan ke-balaghah-an Al-Quran dalam tingkat paling tinggi;
2.

Menunjukkan

kehebatan

mukjizat

Al-Quran;

3. Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya


lebih
4.

Setiap

berkesan

dan

kisah

memiliki

melekat
maksud

dan

dalam

jiwa;

tujuan

berbeda.

Adapun rahasia yang dapat diambil dari penggunaan nama gelar dan tokoh
dalam

kisah

adalah:

1. Kita dapat mencontoh kisah-kisah kehidupan para Nabi, orang-orang yang


beriman
2.

Memudahkan

dan
kita

beramal
untuk

mengingat

saleh.

kisah-kisah

tersebut

3. Memudahkan kita dalam memahami maksud dan tujuan kandungan kisah


dalam

Quran.
DAFTAR PUSTAKA

1.

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia

2.

Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.

3.

Badri Yatim dan H. D. Sirojuddin AR, Sejarah Peradaban Islam.

4.

Umar Farukh, Tarikh al-Adab al-Arabiy (al-Adab al-Qadim min Mathla alJahiliyyah Ila Suquth al-Daulah al-Umawiyyah) (Beirut: Dar al-Ilmi Lilmalayin,
1997),

5.

Umar Farukh, Tarikh al-Adab.

6.

Umar Shihab, Konstektualitas Al-Quran: Kajian Tematik atas Ayat-ayat


Hukum dalam Al-Quran,

7.

Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu Al-Quran dan Tafsir.

8.

Manna Al-Qaththan, Pengantar study ilmu-ilmu qur`an.

9.

Imam Jalaluddin As-Suyuti, Samudera Ulumul Quran, Jilid 4,


Diposkan 24th June 2012 oleh sepriwan adiko
Label: Makalah
0
Tambahkan komentar

8.
Jun
24

Makalah Tafsir surat al asr

Pendahuluan
Al-Qur'an merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW sebagai bukti akan kebenaran diutusnya beliau sebagai Rasul. Al-Qur'an
yang diturunkan kepada nabi Muhammad tersebut untuk disampaikan
kepada umat manusia agar dijadikan sebagai pedoman dan petunjuk, Untuk
dapat memahami Al-Qur'an dengan benar sebagai pedoman dan petunjuk
tidak hanya cukup dengan memiliki disiplin ilmu yang terkait dengan alQur'an. Tetapi membutuhkan suatu metode atau pendekatan yang tepat agar
bisa sampai kepada pemahaman yang mengarah kepada sesuatu yang
seharusnya di kehendaki oleh Allah, meskipun tidak ada yang bisa
memastikan apa yang didapatkannya merupakan pemahaman yang paling
tepat

sesuai

yang

di

kehendak

oleh

Allah

SWT.

Para pembaca yang mulia semoga Allah subhanahu wataala membuka


segala pintu kebaikan kepada kita untuk makalah kali ini kami akan
mengulas tafsir surat Al Ashr. Surat ini merupakan surat yang sangat pendek,
mesikpun bukan yang terpendek dalam Al-Qur'an. Karena sebagaimana
sudah maklum, bahwa yang terpendek adalah surat Al-Kautsar. Surat Al-Ashr,
meskipun pendek, akan tetapi sangat dalam makna yang terkandung di
dalamnya.

Hal-hal

yang

terkandung

di

dalamnya

sangat

komplek.

Kekomplekkan tersebut menyangkut kebahagiaan, kesengsaraan, serta


kesuksesan dan kegagalan manusia hidup di dunia. Maka, penulis sepakat
dengan ungkapan yang menyatakan, "Surat Al-Ashr merupakan filosofis
kehidupan."
Allah taala berfirman,

{3}
{ 1}



{ 2}
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling
menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya
menetapi kesabaran" (QS. Al Ashr).

Surat Al Ashr merupakan sebuah surat dalam Al Quran yang banyak


dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah dihafal. Namun
sayangnya,

sangat

sedikit

di

antara

kaum

muslimin

yang

dapat

memahaminya. Padahal, meskipun surat ini pendek, akan tetapi memiliki


kandungan makna yang sangat dalam. Sampai-sampai Imam Asy Syafii
rahimahullah berkata,

"Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan
mencukupi untuk mereka." [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah berkata, "Maksud


perkataan Imam Syafii adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk
mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman,
beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau
tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa
mengamalkan

seluruh

syariat.

Karena

seorang

yang

berakal

apabila

mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk
membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan
empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih,
saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling
menasehati agar bersabar" [Syarh Tsalatsatul Ushul].

A. Iman yang Dilandasi dengan Ilmu


Dalam surat ini Allah taala menjelaskan bahwa seluruh manusia benarbenar berada dalam kerugian. Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bisa
bersifat mutlak, artinya seorang merugi di dunia dan di akhirat, tidak
mendapatkan kenikmatan dan berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka.
Bisa jadi ia hanya mengalami kerugian dari satu sisi saja. Oleh karena itu,

dalam surat ini Allah mengeneralisir bahwa kerugian pasti akan dialami oleh
manusia kecuali mereka yang memiliki empat kriteria dalam surat tersebut
[Tafsiir Karimir Rohmaan hal. 934].

Kriteria pertama, yaitu beriman kepada Allah. Dan keimanan ini tidak akan
terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu dan
keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa ilmu. Ilmu yang dimaksud
adalah ilmu syari (ilmu agama). Seorang muslim wajib (fardhu ain) untuk
mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf dalam
berbagai permasalahan agamanya, seperti prinsip keimanan dan syariatsyariat Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang
diharamkan, apa yang dia butuhkan dalam muamalah, dan lain sebagainya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim." (HR. Ibnu Majah nomor 224
dengan sanad shahih).
Imam Ahmad rahimahullah berkata,


"Seorang

wajib

menuntut

ilmu

yang

bisa

membuat

dirinya mampu

menegakkan agama." [Al Furu 1/525].

Maka merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk


mempelajari berbagai hal keagamaan yang wajib dia lakukan, misalnya yang
berkaitan dengan akidah, ibadah, dan muamalah. Semua itu tidak lain
dikarenakan seorang pada dasarnya tidak mengetahui hakikat keimanan
sehingga ia perlu meniti tangga ilmu untuk mengetahuinya. Allah taala
berfirman,

"Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Quran itu dan tidak pula
mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya,
yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hambahamba Kami." (Asy Syuura: 52).

A. Mengamalkan Ilmu
Seorang tidaklah dikatakan menuntut ilmu kecuali jika dia berniat
bersungguh-sungguh

untuk

mengamalkan

ilmu

tersebut.

Maksudnya,

seseorang dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi


suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya. Oleh
karena itu, betapa indahnya perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah



"Seorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat
mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi
seorang alim" (Dikutip dari Hushul al-Mamul).
Perkataan ini mengandung makna yang dalam, karena apabila seorang
memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, maka (pada
hakikatnya) dia adalah orang yang bodoh, karena tidak ada perbedaan
antara dia dan orang yang bodoh, sebab ia tidak mengamalkan ilmunya.
Oleh karena itu, seorang yang berilmu tapi tidak beramal tergolong dalam
kategori yang berada dalam kerugian, karena bisa jadi ilmu itu malah akan
berbalik menggugatnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda
"Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti
hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu
tersebut." (HR. Ad Darimi nomor 537 dengan sanad shahih).

A. Berdakwah kepada Allah


Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah taala, adalah tugas para
Rasul dan merupakan jalan orang- orang yang mengikuti jejak mereka
dengan

baik.

Allah

taala

berfirman

"Katakanlah, "inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku


mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah,
dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (Yusuf: 108).

Jangan anda tanya mengenai keutamaan berdakwah ke jalan Allah. Simak


firman Allah taala berikut
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru
kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya
aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (QS. Fushshilat : 33)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,


Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang
dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah" (HR.
Bukhari nomor 2783).
Oleh karena itu, dengan merenungi firman Allah dan sabda nabi di atas,
seyogyanya seorang ketika telah mengetahui kebenaran, hendaklah dia
berusaha menyelamatkan para saudaranya dengan mengajak mereka untuk
memahami dan melaksanakan agama Allah dengan benar.
Sangat aneh, jika disana terdapat sekelompok orang yang telah mengetahui
Islam yang benar, namun mereka hanya sibuk dengan urusan pribadi masingmasing dan "duduk manis" tanpa sedikit pun memikirkan kewajiban dakwah
yang besar ini.

Pada hakekatnya orang yang lalai akan kewajiban berdakwah masih


berada dalam kerugian meskipun ia termasuk orang yang berilmu dan
mengamalkannya. Ia masih berada dalam kerugian dikarenakan ia hanya
mementingkan kebaikan diri sendiri (egois) dan tidak mau memikirkan
bagaimana cara untuk mengentaskan umat dari jurang kebodohan terhadap
agamanya. Ia tidak mau memikirkan bagaimana cara agar orang lain bisa
memahami dan melaksanakan ajaran Islam yang benar seperti dirinya.
Sehingga orang yang tidak peduli akan dakwah adalah orang yang tidak
mampu mengambil pelajaran dari sabda rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam,
"Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang
apabila saudaranya memperoleh sesuatu yang juga ia senangi." (HR. Bukhari
nomor 13).

Jika anda merasa senang dengan hidayah yang Allah berikan berupa
kenikmatan mengenal Islam yang benar, maka salah satu ciri kesempurnaan
Islam yang anda miliki adalah anda berpartisipasi aktif dalam kegiatan
dakwah seberapapun kecilnya sumbangsih yang anda berikan.
A. Bersabar dalam Dakwah
Kriteria keempat adalah bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika
menyeru ke jalan Allah taala. Seorang dai (penyeru) ke jalan Allah mesti
menemui rintangan dalam perjalanan dakwah yang ia lakoni. Hal ini
dikarenakan para dai menyeru manusia untuk mengekang diri dari hawa
nafsu (syahwat), kesenangan dan adat istiadat masyarakat yang menyelisihi
syariat [Hushulul mamul hal. 20]
Hendaklah seorang dai mengingat firman Allah taala berikut sebagai
pelipur lara ketika berjumpa dengan rintangan. Allah taala berfirman :
"Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, akan
tetapi

mereka

sabar

terhadap

pendustaan

dan

penganiayaan

(yang

dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap


mereka" (QS. Al-Anam : 34)
Seorang dai wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan
dakwahnya. Dia harus bersabar atas segala penghalang dakwahnya dan
bersabar terhadap gangguan yang ia temui. Allah taala menyebutkan wasiat
Luqman Al-Hakim kepada anaknya (yang artinya),
"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang
baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah
terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk
hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)" (QS. Luqman :17).
Pada akhir tafsir surat Al Ashr ini, Syaikh Abdurrahman As-Sadi rahimahullah
berkata,
"Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat
menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir
(berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan
dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat
dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar" [Taisiir Karimir
Rohmaan hal. 934].
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan
keempat hal ini, sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di
dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. Amiin.

Daftar Pustaka

1. Al-Quran dan Tarjamahnya


2. Tafsiir Karimir Rohmaan
3. Tafsiir Ibnu Katsir
Diposkan 24th June 2012 oleh sepriwan adiko
Label: Makalah
0
Tambahkan komentar
2.

Jun
24

Hadits Pada masa sahabat Nabi

A. Pendahuluan
Nabi

Shallallahualaihi

Wasallam

adalah

teladan

yang

senantiasa

dicontoh para sahabat. Setiap perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi


Shallallahualaihi Wasallam . menjadi referensi kehidupan sahabat-sahabat
tersebut. Oleh sebab itu, hampir setiap gerak-gerik Rasul diketahui dan
diriwayatkan oleh sahabat-sahabatnya itu. Dengan demikian, bagi mereka
Nabi Shallallahualaihi

Wasallam

adalah

sumber

ilmu

pengetahuan.

Dorongan menuntut ilmu yang diberikan Nabi kepada para sahabatnya


menjadikan mereka selalu komitmen untuk menimba ilmu dari diri beliau
pada setiap kesempatan.
Pada masa menjelang akhir kerasulannya, Rosulullah Shallallahualaihi
Wasallam , berpesan kepada para sahabat agar berpegang teguh kepada
Alqur`an dan Hadits serta mengajarkannya kepada orang lain. Pesan pesan
Rosul Shallallahualaihi Wasallam . sangat mendalam pengaruhnya kepada
para sahabat, sehingga segala perhatian yang tercurah semata-mata untuk
melaksanakan dan memelihara pesan-pesannya. Kecintaan mereka kepada
rosulullah Shallallahualaihi Wasallam . Di buktikan dengan melaksanakan
segala yang di contohkannya .
Sejarah hadits pada masa sahabat yakni pada masa Khulafa Al- Rasyidin (
Abu Bakar, Umar Ibn Khattab , Utsman bin Affan ,dan Ali ibn Abi Thalib),
pada masa ini perhatian para sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan
penyebaran Alquran, maka periwayatan hadits belum begitu berkembang,
dan kelihatan berusaha membatasinya.

Para sahabat Nabi Shallallahualaihi Wasallam sangat berhati- hati dalam


menerima dan meriwayatkan hadits, ini para sahabat lakukan untuk menjaga
keaslian ajaran ajaran islam. Pada akhir pemerintahan Utsman bin Affan
mulai lah muncul hadits mau`du yang di keluarkan oleh orang orang yang
ingin merusak islam. Hingga pada zaman sekarang ini juga muncul para
orientalis

dan

musuh

islam

yang

mengkritisi

para

sahabat

Nabi

Shallallahualaihi Wasallam yang banyak meriwayatkan hadits.


Dalam makalah ini penulis menyusun dari beberapa sumber rnengenai
hadits pada zaman sahabat, yang mudah-mudahan dapat memberikan
pengetahuan bagi penyusun makalah dan teman-teman semua.
B. Definisi Hadits, Sunnah dan Atsar
a. Hadits
Hadits menurut Etimologi adalah: Jadid, lawan dari qodim: yang baru.
Hadits menurut terminologi adalah : Segala ucapan, perkataan, dan keadaan
Nabi. Yang dimaksud keadaan adalah segala yang diriwayatkan dalam kitab
sejarah,

seperti

kelahirannya,

tempatnya

dan

yang

bersangkut

paut

dengannya.
Hadits adalah segala sesuatu yang disadarkan pada Nabi SAW baik
berupa

perkataan,

pekerjaan,

ketetapan,

maupun

sifat

beliau

yang

adakalanya itu disunnahkan/dijelaskan pada umat Islam ataupun khusus


untuk Nabi[1]
b. Sunnah
Sunnah menurut Etimologi adalah: Jalan yang dijalani, yang terpuji ataupun
jelek. Sunnah menurut Terminologi adalah: Segala yang dinukil dari Nabi
SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, pengajaran, sifat, kelakuan,
dan perjalanan hidup beliau sebelum diutus atau sesudahnya.

[1][1]
Hal-1,4.

Muhammad Hasbi Ash shiddiqi. 1998. Sejarah & pengantar Ilmu Hadits. Semarang. P.T. Pustaka Rizqi Putra.

c. Atsar
Atsar menurut Terminologi adalah: Hadits, Sunnah, dan Khabar yang
disandarkan kepada Sahabat dan Tabiin. Oleh karenanya, para ahli hadits
lantas memandang Atsar yang diidintikkan dengan Hadits Sahabat (mauquf)
atau Tabiin (maqtu)[2]. Al Imam Al-Nawawi menerangkan bahwa fuqoha
khurosan menamai perkataan sahabat ( hadist mauquf ) dengan atsar, dan
menamai hadist Nabi dengan Khabar. Tapi para muhadditsin umumnya
menamai hadist Nabi dan perkataan sahabat dengan atsar juga, dan
setengah ulama memakai pula kata atsar untuk perkataan-perkataan tabiin
saja[3].
C. Pengertian Sahabat Nabi
Yang dimaksud dengan istilah sahabat Nabi adalah:



Artinya : Orang yang melihat Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam dalam
keadaan Islam, yang meriwayatkan sabda Nabi. Meskipun ia bertemu
Rasulullah tidak dalam tempo yang lama, atau Rasulullah belum pernah
melihat ia sama sekali[4]
Sahabat adalah sebuah kata yang tebentuk dari kata sahaba, yashahibu,
suhbatan, sahibun yang berarti menemani atau menyertai. Kata sahabat juga
mengandung beberapa pengertian. Menurut Ibnu Hajar defenisi sahabat
adalah

orang

yang

pernah

Shallallahualaihi Wasallam

bertemu

dengan

Nabi

Muhammad

dalam keadaan beriman kepada beliau dan

meninggal dalam keadaan Islam.

[5]

[2][2]

M. Ajjaj al-Khatib. Usul al-Hadist Ulumuhu wa Musthalahuhu, Dar al-Fikr, Beirut.Hal-19.

[3][3]

Muhamad Hasbi As-Sidiqi. Hal-52

[4][4]

Al Baits Al Hatsits Fikhtishari Ulumil Hadits, Ibnu Katsir (juz 1/ hal 24)

Menurut imam al Waqidi: sahabat Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam


adalah siapa saja yang melihat rasul Shallallahualaihi Wasallam , mengenal
dan beriman kepada beliau, menerima dan ridha terhadap urusan-urusan
agama walaupun sebentar. Imam Ahmad bin Hambal mendefenisikan yaitu
siapa saja yang bersama dengan rasul Shallallahualaihi Wasallam selama
sebulan atau sehari atau statu jam atau hanya melihat beliau saja, maka
mereka adalah sahabat Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam . Imam Bukhari
mendefenisikan sanabat yaitu barang siapa yang bersama Rasulullah atau
melihat beliau dan dia dalam keadaan Islam, maka dia adalah Sahabat
Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam[6].
Definisi yang diberikan oleh Imam Bukhari dan dianggap yang terbaik di
antara semua definisi, yaitu: Sahabat besar (Kibar Sohabat) adalah sahabat
yang banyak bergaul bersama Nabi, banyak belajar, banyak mendengar
hadist-hadist dari beliau, sering pergi berjihad dan sebaginya. Kibar Sahabat
ini seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman, Ali, Ibnu Masud dan lainlain.Sahabat kecil (Sighor Sohabi) adalah sahabat yang jarang bergaul
bersama Nabi, disebabkan tepat tinggalnya jauh dari Nabi, atau terakhir
masuk Islam, dan lain-lain.[7]
Dari beberapa defenisi sahabat di atas, dapat disimpulkan bahwa sahabat
adalah orang yang bersama Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam , bergaul
dan

menjalankan

ibadah

sesuai

dengan

yang

dilakukan

Rasulullah

Shallallahualaihi Wasallam , dia juga seaqidah dengan rasul dan matinya


dalam keadaan Islam.
D. Keutamaan dan Jumlah sahabat Nabi Shallallahualaihi Wasallam
Empat sahabat Nabi yang paling utama adalah Abu Bakar Ash Shiddiq,
Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiallahuahum
[5][5]
[6][6]
[7][7]

Ash-Shiddieqy Hasbi, Sejarah Perkembagan Hadis, hal. 67

Ramli Abul Wahid, Study Ilmu Hadis, Lp2lk, Medan, 2003 hal. 21

Ramli Abul Wahid, Study Ilmu Hadis, hal. 21

ajmain. Tentang jumlah orang yang tergolong sahabat Nabi, Abu Zurah Ar
Razi menjelaskan:

Empat puluh ribu orang sahabat Nabi ikut berhaji wada bersama Rasulullah.
Pada masa sebelumnya 70.000 orang sahabat Nabi ikut bersama Nabi dalam
perang Tabuk. Dan ketika Rasulullah wafat, ada sejumlah 114.000 orang
sahabat Nabi[8]
Para sahabat Nabi adalah manusia-manusia mulia. Imam Ibnu Katsir
menjelaskan keutamaan sahabat Nabi:





Menurut keyakinan Ahlussunnah Wal Jamaah, seluruh para sahabat itu
orang yang adil. Karena Allah Taala telah memuji mereka dalam Al Quran.
Juga dikarenakan banyaknya pujian yang diucapkan dalam hadits-hadits Nabi
terhadap seluruh akhlak dan amal perbuatan mereka. Juga dikarenakan apa
yang telah mereka korbankan, baik berupa harta maupun nyawa, untuk
membela Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam[9]
Pujian Allah terhadap para sahabat dalam Al Quran diantaranya:








Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari
golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka
[8][8]

Al Baits Al Hatsits juz 1/ hal 25

[9][9]

Al Baits Al Hatsits juz 1/ hal 24

dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah
dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungaisungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah
kemenangan yang besar (QS. At Taubah: 100)
Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam pun memuji dan memuliakan para
sahabatnya. Beliau bersabda:



Kebaikan
melihatku
sahabatku
sahabatku
Dan

akan tetap ada selama diantara kalian ada orang yang pernah
dan para sahabatku, dan orang yang pernah melihat para
(tabiin) dan orang yang pernah melihat orang yang melihat
(tabiut tabiin)[10]
masih

banyak

Rasulullah Shallallahualaihi

lagi

pujian

Wasallam terhadap

dan

pemuliaan

dari

para

sahabatnya

yang

membuat kita tidak mungkin ragu lagi bahwa merekalah umat terbaik,
masyarakat terbaik, dan generasi terbaik umat Islam. Berbeda dengan kita
yang belum tentu mendapat ridha Allah dan baru kita ketahui kelak di hari
kiamat, para sahabat telah dinyatakan dengan tegas bahwa Allah pasti ridha
terhadap mereka. Maka yang layak bagi kita adalah memuliakan mereka,
meneladani mereka, dan tidak mencela mereka.
E. Cara Mengetahui Sahabat Nabi Shallallahualaihi Wasallam
Ada beberapa cara yang di pedomani oleh para ulama untuk mengetahui
seseorang itu adalah sahabat, yaitu :
1.

Melalui khobar mutawatir yang mengatakan bahwa seseorang itu adalah


sahabat. Contohnya adalah status kesahabatan khalifah yang empat
(khulafa`ur rasyidin) dan mereka yang terkenal lainnya, seperti sahabat yang
sepuluh dijamin oleh rasul Shallallahualaihi Wasallam masuk surga.

2.

Melalui khobar mahsyur dan mustafidh, yaitu khobar yang belum mencapai
tingkat mutawatir, namun meluas dikalangan masyarakat, seperti kabar
menyatakan kesahabatan Ukasya ibn muhsan.

[10][10]

Diriwayatkan oleh Abu Nuaim Al Ashabani dalam Fadhlus Shahabah. Di-hasan-kan oleh Ibnu Hajar Al
Asqalani dalam Fathul Baari juz 7/ hal7

3.

Melalui pemberitaan sahabat lain yang telah dikenal kesahabatannya


melalui cara cara diatas.

4.

Melalui keterangan tabi`in yang tsiqot (terpercaya), yang menerangkan


seseorang itu sahabat.

5.

Pengakuan sendiri oleh seorang yang adil bahwa dirinya seorang sahabat. [11]
Pengakuan tersebut hanya dianggap sah dan dapat diterima selama tidak
lebih dari seratus tahun sejak wafatnya rasul. Hal ini didasarkan pada hadits :
apakah yang kamu lihat pada malam mu ini? Maka sesungguhnya sesudah
berlalu seratus tahun tiadalah yang tinggal dari golongan sekarang ini
(sahabat) di atas permukaan bumi ini.(HR.Bukhari Muslim)
F. Sahabat yang terbanyak dalam periwayatan Hadits
Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah dalam kitab beliau Asmaus Shahabah
Ar-Ruwat mengurutkan 7 orang sahabat yang meriwayatkan hadits Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam lebih dari 1000. Mereka adalah:
1. Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Beliau meriwayatkan 5374 hadits.
2. Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma. Beliau meriwayatkan 2630
hadits.
3. Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Beliau meriwayatkan 2286 hadits.
4. Aisyah radhiyallahu anha Beliau meriwayatkan 2210 hadits.
5. Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma. Beliau meriwayatkan 1660
hadits.
6. Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma. Beliau meriwayatkan 1540 hadits.
7. Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu. Beliau meriwayatkan 1170 hadits.
G. Kritik terhadap Abu Hurairah radhiyallahu anhu
Nama Abu Hurairah radhiyallahu anhu sangat dikenal umat Islam,
terutama oleh kalangan pegiat ilmu hadis. Ia adalah seorang sahabat Nabi
Muhammad Shallallahualaihi Wasallam yang paling banyak menerima dan
meriwayatkan hadis. Sejumlah pertanyaan pun muncul seputar dirinya. Siapa
Abu Hurairah radhiyallahu anhu? Sejak kapan memeluk Islam? Berapa lama

[11][11]

http://library.usu.ac.id/download/fs/arab-nasrah7.pdf

hidup

bersama

Rasulullah?

Bagaimana

kejujuran

dan

keadilannya?

Bagaimana kualitas diri dan intelektualnya? Dan, sederet pertanyaan lain


yang ditujukan untuk menelisik pribadinya.
Ada sejumlah intelektual Muslim yang terang-terangan menyerang Abu
Hurairah radhiyallahu anhu dan berupaya melemahkan reputasinya sebagai
perawi hadits. Mahmud Abu Rayyah, seorang intelektual asal Mesir, yang
melontarkan kritik terhadap Abu Hurairah. Kritik Abu Rayyah itu ia tuliskan
dalam bukunya Adhwa ala esSunnah al-Muhammadiyah. Segala argumen
yang diajukan oleh Abu Rayyah dalam bukunya itu untuk memperkuat
asumsinya bahwa himpunan hadis bukanlah kata-kata atau perbuatan Nabi
Shallallahualaihi Wasallam . Namun, merupakan sebuah rekayasa orangorang yang sezaman dengan Nabi Shallallahualaihi Wasallam dan generasi
sesudahnya untuk menciptakan hadits.
Salah satu tuduhan yang abu Rayyah lakukan bermula dari pertanyaan,
seberapa lama Abu Hurairah radhiyallahu anhu hidup bersama Nabi? Melalui
data yang didapatkan, Abu Rayyah menyimpulkan bahwa Abu Hurairah
radhiyallahu anhu hidup bersama Nabi Shallallahualaihi Wasallam dalam
waktu yang relatif singkat, yakni 1 tahun 9 bulan. Jadi, menurutnya, tidak
mungkin Abu Hurairah radhiyallahu anhu mampu meriwayatkan hadits Nabi
sebanyak 5.374 dalam waktu sesingkat itu. Tidak hanya pada kritikan itu,
Abu Rayyah bahkan menuding Abu Hurairah

radhiyallahu anhu sebagai

orang yang rakus. Keberadaannya menyertai Nabi hanya untuk mencari


makanan. Dalam beberapa riwayat dikisahkan, Abu Hurairah radhiyallahu
anhu banyak makan, terutama hidangan dari susu dan daging. Pandangan
tersebut direspons berbagai kalangan ulama besar. Mereka menyodorkan
riwayat-riwayat berbeda. Termaktub dalam Musnad Ahmad bin Hanbal jilid
ke-2, Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata. Aku bersama Nabi selama
tiga tahun.[12]
Selain tuduhan diatas, Abu Hurairah radhiyallahu anhu juga mendapat
kritikan masalah korupsi dari Abu Rayyah. Telah dikemukakan bahwa Umar
[12][12]

http://syiahali.wordpress.com/2010/07/04/

memanggil pulang Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari posnya sebagai


gubernur Bahrain. Alasannya seperti dalam semua riwayat yang banyak
variasi teksnya, adalah Umar radhiyallahu anhu melihat bahwa Abu Hurairah
radhiyallahu anhu telah memperkaya diri dengan menggunakan uang
negara.
kekayaan

Umar

radhiyallahu

para

radhiyallahu

anhu

gubenurnya

anhu

biasanya

mempunyai

sebelum
menyita

kebiasaan

menempatkan
separuh

dari

menghitung

mereka.

jumlah

Umar

tambahan

kekayaan mereka, dan hal ini juga terjadi pada Abu Hurairah radhiyallahu
anhu. Berbagai riwayat dikemukakan mengenai apa yang sesungguhnya
terjadi. Riwayat yang bisa dikutip dari Al-Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbihi.
Disebutkan dalam kitab tersebut, Umar radhiyallahu anhu mencela Abu
Hurairah radhiyallahuanhu karena membeli kuda-kuda seharga 1600 dinar.
Abu Hurairah radhiyallahuanhu menerangkan hal ini dengan menunjukkan
bahwa dia memelihara kuda-kuda dan menerima banyak hadiah. Umar
radhiyallahuanhu

memaksanya

untuk

mengembalikan

sebagian

besar

pendapatannya ke kas negara, dan kemudian Umar radhiyallahu anhu


memberinya hukuman yang keras dengan cambuk sampai punggungnya
berdarah. Dalam versi lain, Umar radhiyallahu anhu berkata kepada Abu
Hurairah radhiyallahu anhu: Wahai musuh Allah dan Kitab-Nya, apa engkau
telah mencuri uang Allah?[13]
Mahmud Abu Rayyah adalah orang yang mengadopsi pemikiran kaum
modernis sebelumnya, dan menjadikannya sebagai alat untuk menyerang
kedudukan hadits sebagai pedoman umat islam. Pendekatan keilmuawan Abu
Rayyah tidak terlepas dari ketidakjujuran. Terkadang dia dengan sengaja
salah mengutip demi keuntungannya sendiri. Dari banyak bantahan buku
yang diterbitkan, kelihatan bahwa banyak kelemahan argumennya dan
ketidakjujurannya tersebut tak luput dari kritikan.
H. Hadist Maudu` Di zaman sahabat
Kata al-Maudhu, dari sudut bahasa berasal dari kata wadhaa yadhau
wadhan wa maudhuan yang memiliki beberapa arti antara lain telah
[13][13]

http://michailhuda.multiply.com/journal/item/161

menggugurkan, menghinakan, mengurangkan, melahirkan, merendahkan,


membuat, menanggalkan, menurunkan dan lain-lainnya. Arti yang paling
tepat disandarkan pada kata al-Maudhu' supaya menghasilkan makna yang
dikehendaki yaitu

telah membuat. Oleh karena itu maudhu (di atas

timbangan isim maful benda yang dikenai perbuatan) mempunyai arti yang
dibuat.
Berdasarkan pengertian al-Hadits dan al-Maudhu ini, dapat disimpulkan
bahwa definisi Hadits maudhu adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi
Muhammad SAW baik perbuatan, perkataan, taqrir, dan sifat beliau secara
dusta. Lebih tepat lagi ulama hadits mendefinisikannya sebagai apa-apa yang
tidak pernah keluar dari Nabi SAW baik dalam bentuk perkataan, perbuatan
atau taqrir, tetapi disandarkan kepada beliau secara sengaja [14].
Masuknya penganut agama lain ke Islam, sebagai hasil dari penyebaran
dakwah ke pelosok dunia, secara tidak langsung menjadi faktor awal
dibuatnya hadits-hadits maudhu. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari
mereka memeluk Islam karena benar-benar ikhlas dan tertarik dengan
kebenaran ajaran Islam. Namun terdapat juga segolongan dari mereka yang
menganut Islam hanya karena terpaksa mengalah kepada kekuatan Islam
pada masa itu.
Golongan inilah yang kemudian senantiasa menyimpan dendam dan
dengki terhadap Islam dan kaum muslimin. Kemudian mereka menunggu
peluang yang tepat untuk menghancurkan dan menimbulkan keraguan di
dalam hati orang banyak terhadap Islam.
Peluang tersebut terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin
Affan (W.35H), yang memang sangat toleran terhadap orang lain. Imam
Muhammad Ibnu Sirrin (33-110 H) menuturkan, Pada mulanya umat Islam
apabila mendengar sabda Nabi Shallallahualaihi Wasallam berdirilah bulu
roma mereka. Namun setelah terjadinya fitnah (terbunuhnya Ustman bin
Affan), apabila mendengar hadits mereka selalu bertanya, dari manakah
[14][14]

Syaikh 'Abdul Fattah Abu Ghuddah, Lamahat min Tarkih as-Sunnah wa 'Ulum al- Hadits, Maktab alMathbu'at al-Islamiyyah, Halb, Syria. Cet.ke- I, tahun 1404 H h. 41

hadits itu diperoleh? Apabila diperoleh dari orang-orang Ahlsunnah, hadits itu
diterima sebagai dalil dalam agama Islam. Dan apabila diterima dari orangorang penyebar bidah, hadits itu dotolak [15]
Diantara orang yang memainkan peranan dalam hal ini adalah Abdullah
bin Saba, seorang Yahudi yang mengaku memeluk Islam. Dengan berdalih
membela Sayyidina Ali dan Ahlul Bait, ia berkeliling ke segenap pelosok
daerah untuk menabur fitnah.
Ia berdakwah bahwa Ali

yang lebih layak menjadi khalifah daripada

Usman bahkan Abu Bakar dan Umar. Alasannya Ali telah mendapat wasiat
dari Nabi s.a.w. Hadits palsu yang ia buat berbunyi: Setiap Nabi itu ada
penerima wasiatnya dan penerima wasiatku adalah Ali. Kemunculan Ibnu
Saba ini disebutkan terjadi pada akhir pemerintahan Usman.
Penyebaran hadits maudhu pada waktu itu belum gencar karena masih
banyak sahabat utama yang mengetahui dengan persis akan kepalsuan
sebuah hadits. Khalifah Usman sebagai contohnya, ketika tahu hadits
maudhu yang dibuat oleh Ibnu Saba, beliau langsung mengusirnya dari
Madinah. Hal yang sama juga dilakukan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Para sahabat tahu akan larangan keras dari Rasulullah terhadap orang
yang membuat hadits palsu sebagaimana sabda beliau: Siapa saja yang
berdusta atas namaku dengan sengaja, maka dia telah mempersipakan
tempatnya di dalam neraka.[16]
Meski begitu, kelompok ini terus mencari peluang yang ada, terutama
setelah pembunuhan Khalifah Usman. Dari sini muncullah kelompokkelompok tertentu yang ingin menuntut balas atas kematian Usman dan
kelompok yang mendukung Ali, maupun yang tidak memihak kepada kedua
kelompok tersebut. Dari kelompok inilah kemudian menyebabkan timbulnya
[15][15]
[16][16]

Ali Mustofa Yaqub, Kritik Hadits, Penerbit Pustaka Firdaus, Jakarta, Cet. IV 2004 h. 82

M u h a m m a d b i n M u h a m m a d A b u S y a h b a h , a l - I s r a i l i y y a t w a a l - M a u d h u a t fi
K u t u b a l - Ta f s i r , Maktabah al-Ilm , Cairo1988 M/1409 H Cet.ke-I. Mesir. h. 20.

hadits-hadits yang menunjukkan kelebihan kelompok masing-masing untuk


mempengaruhi orang banyak.
Menyadari hal ini, para sahabat mulai memberikan perhatian terhadap
hadits

yang

disebarkan

oleh

seseorang.

Mereka

tidak

akan

mudah

menerimanya sekiranya ragu akan kesahihan hadits itu. Imam Muslim


dengan sanadnya meriwayatkan dari Mujahid (W.104H) sebuah kisah yang
terjadi pada diri Ibnu Abbas : Busyair bin Kaab telah datang menemui Ibnu
Abbas lalu menyebutkan sebuah hadits dengan berkata Rasulullah telah
bersabda,

Rasullulah

telah

bersabda

Namun

Ibnu

Abbas

tidak

menghiraukan hadits itu dan juga tidak memandangnya. Lalu Busyair berkata
kepada Ibnu Abbas Wahai Ibnu Abbas ! Aku heran mengapa engkau tidak
mau mendengar hadits yang aku sebut. Aku menceritakan perkara yang
datang dari Rasulullah tetapi engkau tidak mau mendengarnya. Ibnu Abbas
lalu

menjawab

Kami

dulu

apabila

mendengar

seseorang

berkata

Rasulullah bersabda, pandangan kami segera kepadanya dan telingatelinga kami kosentrasi mendengarnya. Tetapi setelah orang banyak mulai
melakukan yang baik dan yang buruk, kita tidak menerima hadits dari
seseorang melainkan kami mengetahuinya. [17]
I. Kesimpulan
1. Sahabat

adalah

Orang

yang

melihat

Rasulullah Shallallahualaihi

Wasallam dalam keadaan Islam, yang meriwayatkan sabda Nabi.


Meskipun ia bertemu Rasulullah tidak dalam tempo yang lama, atau
Rasulullah belum pernah melihat ia sama sekali. Para sahabat ini
adalah

orang

yang

bersungguh-sungguh

Rasulullah Shallallahualaihi

Wasallam,

dalam

sehingga

mengikuti

mereka

sangat

berhati-hati dalam menerima dan meriwayatkan hadits untuk menjaga


kesucian ajaran islam.

[17][17]

http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=265

2. Para sahabat adalah orang-orang yang allah telah ridho kepada


mereka, atas segala yang para sahabat lakukan dalam menjaga dan
menyebarkan ajaran islam.
3. Pada zaman para sahabat telah muncul hadits maudu`, yang di
munculkan oleh musuh-musuh islam, salah satunya adalah Abdullah
bin Saba` pada akhir pemerintahan utsman, namun para sahabat
dengan sangat teliti dalam menjaga hadits, dan melakukan pengusiran
terhadap Abdullah bin Saba`.
4. Banyak tersebar hadits maudu` setelah terjadinya konflik dalam tubuh
umat islam. Masing- masing kelompok yang berkonflik mengeluarkan
hadits maudu` untuk memperkuat posisi mereka dalam umat islam.
5. Adanya kritik terhadap abu Hurairoh yang banyak meriwayatkan hadits
oleh Mahmud Abu Rayyah dan para orientalis yang tujuannya untuk
melemahkan kredibilitas abu Hurairoh sebagai sahabat yang banyak
meriwayatkan hadits, sehingga dapat memperkuat argumen mereka
yang menyatakan hadits adalah buatan orang-orang yang hidup pada
zaman Nabi Shallallahualaihi Wasallam.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.

Alqur`an al-Hakim
Ali Mustofa Yaqub, Kritik Hadits, Penerbit Pustaka Firdaus, Jakarta, Cet. IV

3.
4.

2004
Ibnu Katsir Al Baits Al Hatsits Fikhtishari Ulumil Hadits.
M. Ajjaj al-Khatib. Usul al-Hadist Ulumuhu wa Musthalahuhu, Dar al-Fikr,

Beirut.
5.
Muhammad Hasbi Ash shiddiqi. Sejarah & pengantar Ilmu Hadits. P.T.
Pustaka Rizqi Putra. Semarang. 1998.
6. M u h a m m a d b i n M u h a m m a d A b u S y a h b a h , a l - I s r a i l i y y a t w a a l M a u d h u a t fi K u t u b a l -Ta f s i r, Maktabah al-Ilm Cairo, Mesir. Cet.ke-I 1988
7.

M/1409 H
Ramli Abul Wahid, Study Ilmu Hadis, Medan: Lp2lk, 2003.

8.
9.
10.
11.
12.

Syaikh 'Abdul Fattah Abu Ghuddah, Lamahat min Tarkih as-Sunnah wa 'Ulum
al- Hadits, Maktab al-Mathbu'at al-Islamiyyah, Halb, Syria. Cet.ke- I, 1404 H
http://library.usu.ac.id/download/fs/arab-nasrah7.pdf
http://syiahali.wordpress.com/2010/07/04/
http://michailhuda.multiply.com/journal/item/161
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=265

Diposkan 24th June 2012 oleh sepriwan adiko


0
Tambahkan komentar
2
Jun
24

Pemikiran Filsafat Ibnu Rusyd

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Berfilsafat adalah bagian dari peradaban manusia. Semua peradaban
yang pernah timbul didunia pasti memiliki filsafat masing-masing. Kenyataan
ini juga sekaligus membantah pandangan bahwa yang berfilsafat hanya
orang barat saja, khususnya orang yunani. Diantara filsafat yang pernah
berkembang, selain filsafat yunani adalah filsafat Persia, cina, India, dan
tentu saja filsafat islam.

Tokoh yang paling populer dan dianggap paling berjasa dalam


membuka mata barat adalah Ibn-Rusyd. Dalam dunia intelektual barat, tokoh
ini lebih dikenal dengan nama averros. Begitu populernya Ibnu Rusyd
dikalangan barat, sehingga pada tahun 1200-1650 M terdapat sebuah
gerakan yang disebut viorrisme yang berusaha mengembangkan pemikiranpemikiran Ibnu Rusyd. Dari Ibnu Rusydlah mereka mempelajari Fisafat yunani
Aristoteles (384-322 s.M), karena Ibnu Rusyd terkenal sangat konsisten pada
filsafat Aristoteles. Maka dari itu pada kesempatan ini pemakalah mencoba
untuk mengkaji filsafat beliau.
1. Rumusan Masalah
1. Pemikiran filasat ibnu rusyd
2. Riwayat hidup Ibnu Rusyd
3. Agama dan filsafat menurut Ibnu rusyd
4. Metafisika dan moral menurut Ibnu rusyd

BAB II
PEMBAHASAN
PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU RUSYD

A. Riwayat Hidup Ibnu Rusyd


Nama lengkapnya adalah Muhammad ibnu Ahmad bin Muhammad Ibn
Ahmad Ibn Rusyd atau Abu Al-Walid atau Averroes lahir di Cordova, 1126M
(520 H) Ia berasal dari keluarga ilmuan. Ayahnya dan kakeknya adalah para
pencinta ilmu dan merupakan ulama yang sangat disegani di Spanyol.
Ayahnya adalah Ahmad Ibnu Muhammad (487-563 H) adalah seorang fqih
(ahli hokum islam) dan pernah menjadi hakim di Cordova. Sementara
kakeknya, Muhammad Ibn Ahmad (wafat 520 H-1126 M) adalah ahli fiqh
madzhab Maliki dan imam mesjid Cordova serta pernah menjabat sebagai
hakim agung di Spanyol. Sebagaimana ayah dan kakeknya Ibnu Rusyd juga
pernah menjadi hakim agung di Spanyol.
Pada tahun 548 H/1153 M, Ibnu Rusyd pergi ke Marakesh (Marakusy)
Maroko atas permintaan Ibnu Thufail (w. 581 H/1185 M), yang kemudian
memperkenalkannya dengan khalifah Abu Yaqub Yusuf. Dalam pertemuan
pertama anatara Ibn Rusyd dengan Khalifah terjadi proses Tanya jawab
diantara keduanya tentang asal-usul dan latar belakang Ibnu Rusyd, selain itu
mereka juga membahas tentang berbagai persoalan filsafat. Ibnu Rusyd
menyangka bahwa petanyaan ini merupakan jebakan khalifah, karna
persoalan ini sangat kurasial dan sensitif ketika itu.
Ternyata dugaan itu meleset. Khalifah yang pencinta Ilmu ini malah
berdiskusi dengan ibnu thufail tentang masalah-masalah di atas. Khalifah
Abu yakub dengan fasih dan lancar menjelasan persoalan-persoalan itu dan
mengutif pendapat-pendapat seperti plato dan aristoteles. Khalifah dan ibnu
thufail, sama-sama terlibat dalam diskusi yang berat. Terlihat bahwa khalifah
yang memang pencinta ilmu pengetahuan ini sangat menguasai persoalan
ilmu

filsafat

pendapat-pendapat

mutakallimin

atau

teolog

Plato

dan

Aristiteles. Ibnu Rusyd kagum pada pengetahuan khalifah tentang filsafat.


Karenanya ia pun berani menyatakan pendapatnya sendiri. Pertemuan
pertama ini ternyata membawa berkah bagi ibnu Rusyd. Ia diperintahkan
oleh khalifah untuk menterjemahkan karya-karya aristoteles menafsirkannya.
Pertemuan itu pun mengantarkan Ibnu Rusyd untuk menjadi qodhi di sevile

setelah dua tahun mengabdi ia pun diangkat menjadi hakim agung di


kordoba, selain tu pada tahun 1182 ia kembali keistana muwahidun di
marakhes menjadi dokter pribadi khalifah pengganti ibnu thufail.
Pada tahun 1184 khalifah Abu Yakub Yusuf meninggal dunia dan
digantikan oleh putranya Abu Yusuf Ibnu Yakub Al-Mansur. Pada awal
pemerintahannya

khalifah

ini

menghormati

Ibnu

Rusyd

sebagaimana

perlakuan ayahnya, namun pada 1195 mulai terjadi kasak-kusuk dikalangan


tokoh agama, mereka mulai menyerang para filsafat dan filosof. Inilah awal
kehidupan pahit bagi Ibnu Rusyd. Ia harus berhadapan oleh pemuka agama
yang memiliki pandangan sempit dan punya kepentingan serta ambisi-ambisi
tertentu. Dengan segala cara mereka pun memfitnah Ibnu Rusyd. Akhirnya
Ibnu Rusyd diusir dari istana dan dipecat dari semua jabatnnya. Pada tahun
1195 ia diasingkan ke Lausanne, sebuah perkampungan yahudi yang terletak
sekitar 50 km di sebela selatan cordova. Buku-bukunya dibakar di depan
umum, kecuali yang berkaitan dengan bidang kedokteran, matematika serta
astronomi yang tidak dibakar. Selain Ibn Rusyd, terdapat juga beberapa tokoh
fukaha dan sastrawan lainnya yang mengalami nasib yang sama, yakni Abu
Abd Allah ibn Ibrahim (hakim di afrika), Abu Jafar al-Dzahabi, Abu Rabi alKhalif dan Nafish Abu al-Abbas.
Menurut Nurcholish, penindasan dan hukuman terhaap Ibn Rusyd ini
bermula karena Khalifah al-Mansyur ringin mengambil hati para tokoh agama
yang biasanya memiliki hubungan emosional dengan masyarakat awam.
Khalifah melakukan hal ini karena didesak oleh keperluan untuk memobilisasi
rakyatnya

menghadapi

pemberontakan

orang-orang

Kristen

Spanyol.

Disamping itu,hal yang cukup menarik, sikap anti kaum muslim Spanyol
terhadap filsafat dan para filosof lebih keras daripada kaum muslim Maghribi
atau Arab. Ini digunakan oleh pimpinan-pimpinan agama untuk memanasmanasi sikap anti terhadap filsafat dan cemburu kepada filosof.
Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan dan situasi kembali
normal, khalifah menunjukkan sikap dan kecenderungannya yang asli. Ia
kembali memihak kepada pemikiran kreatif Ibn Rusyd, sutau sikap yamg

sebenarnya ia warisi dari ayahnya. Khalifah al- Mansyur merehabilitasi Ibn


Rusyd dan memanggilnya kembali ke istana. Ibn Rusyd kembali mendapat
perlakuan hormat. Tidak lama setelah itu, pada 19 Shafar 595 H/ 10
Desember 1197 Ibn Rusyd meninngal dunia di kota Marakesh. Beberapa
tahun setelah ia wafat, jenazahnya dipindahkan ke kampung halamannya,
Cordova.1[1]
B. Pemikiran Ibnu Rusyd
1. Agama dan Filsafat
Masalah agama dan falsafah atau wahyu dan akal adalah bukan hal
yang baru dalam pemikiran islam, hasil pemikiran pemikiran islam tentang
hal ini tidak diterima begitu saja oleh sebagian sarjana dan ulama islam.
Telah tersebut diatas tentang reaksi Al-Ghazali terhadap pemikiran mereka
seraya

menyatakan

jenis-jenis

kekeliruan

yang

diantaranya

dapat

digolongkan sebagai pemikiran sesat dan kufur.


Terhadap reaksi dan sanggahan tersebut Ibnu Rusyd tampil membela
keabsahan pemikiran mereka serta membenarkan kesesuain ajaran agama
dengan pemikiran falsafah. Ia menjawab semua keberatan imam Ghazali
dengan argumen-argumen yang tidak kalah dari al-Ghazali sebelumya.
Dalam bukunya Tahafut al-Tahafut (The incoherence of the incoherence =
kacau balau yang kacau). Sebuah buku yang sampai ke Eropa, dengan rupa
yang lebih terang, daripada buku-bukunya yang pernah dibaca oleh orang
Eropa sebelumnya. Dalam buku ini kelihatan jelas pribadinya, sebagai
seorang muslim yang saleh dan taat pada agamanya. Buku ini lebih terkenal
dalam kalangan filsafat dan ilmu kalam untuk membela filsafat dari serangan
al-ghazali dalam bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah.
Menurut Ibnu Rusyd, Syara tidak bertentangan dengan filsafat, karena
fisafat itu pada hakikatnya tidak lebih dari bernalar tentang alam empiris ini
sebagai dalil adanya pencipta. Dalam hal ini syarapun telah mewajibkan
1[1]

Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, (Semarang; Dina Utama Semarang, 1993), h.86

orang untuk mempergunakan akalnya, seperti yang jelas dalam firman Allah :
Apakah mereka tidak memikirkan (bernalar)tentang kerajaan langit dan
bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah. (Al-Araf: 185) dan firman
Allah surah Al-Hasyr: 2 yang artinya: Hendaklah kamu mengambil Itibar
(ibarat) wahai orang-orang yang berakal. Bernalar dan beritibar hanya
dapat dimungkinkan dengan menggunakan qias akali, karena yang dimaksud
dengan Itibar itu tidak lain dari mengambil sesuatu yang belum diktahui dari
apa yang belum diketahui.
Akan tetapi, dalam agama ada ajaran tentang hal-hal yang ghaib
seperti malikat, kebangkitan jasad, sifat-sifat surga dan neraka dan lain-lain
sebagainya yang tidak dapat diapahami akal, maka hal-hal yang seperti itu
kata Ibn Rusyd merupakan lambang atau simbol bagi hakikat akali. Dalam hal
ini, ia menyetujui pendapat imam al-Ghazali yang mengatakan, wajib kembali
kepada petunjuk-petunjuk agama dalam hal-hal yang tidak mampu akal
memahaminya.
1. Metafisika
Dalam masalah ketuhanan, ibnu rusyd berpendapat bahwa Allah
adalah penggerak pertama (muharrik al awwal), sifat positif yang diberikan
oleh allah adalah akal. Wujud Allah adalah esa-nya. wujud Dan ke esa-annya
tidak berbeda dengan zatnya.2[2]
Dalam pembuktian adanya tuhan, golongan hasywiyah, shufiyah,
mutazilah, asyariyah dan falasifah, masing-masing golongan tersebut
mempunyai

pendapat

yang

berbeda

satu

sama

lainnya

dengan

menggunakan tawil dalam mengartikan kata kata syari sesuai dengan


kepercayaan mereka. golongan hasywiyah misalnya mereka berpendapat
bahwa cara mengenal tuhan adalah melalui sama (pendengaran) saja, bukan
melalui akal. Mereka berpegang pada riwayat-riwayat syarI yang muttashil
tanpa menggunakan tawil.3[3] Ibnu rusyd menolak jalan pikiran yang

2[2]

Hasyimsyah nasution, filsafat islam, radar jaya Jakarta 1999

demikian, karenanya islam mengajak kita untuk memperhatikan alam maujud


ini dengan akal pikiran kita.4[4]
Cara mengenal tuhan menurut golongan tasawuf adalah bukan berupa
pemikiran yang tersusun dari premis-premis yang menghasilkan kesimpulan,
akan tetapi melalui jiwa yang ketika terlepas dari hambatan-hambatan
duniawi dan menghadapkan pikiran pada zat yang maha mengampuni. Ibnu
rusyd mengatakan bahwa keterangan tersebut pun tidak bisa diperlakukan
untuk umum, karena derajat keimanan manusia tidaklah bisa disama ratakan
Dalam membuktikan adanya Allah, Ibn Rusyd menolak dalil-dalil yang
pernah dikemukakan oleh beberapa golongan sebelumnya karena tidak
sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Syara, baik dalam berbagai
ayatnya,

dan

karena

itu

Ibn

Rusyd

mengemukakan

tiga

dalil

yang

dipandangnya sesuai dengan al-Quran dalam berbagai ayatnya, dan karena


itu, Ibnu Rusyd mengemukakan tiga dalil yang dipandangnya sesuai, tidak
saja bagi orang awam, tapi juga bagi orang orang khusus yang terpelajar.
a. Dalil inayah (pemeliharan)
Dalil ini berpijak pada tujuan segala sesuatu dalam kaitan dengan
manusia. Artinya segala yang ada ini, mulai dari siang, malam, matahari
bulan dan lain sebagainya, memang dijadikan untuk tujuan kelangsungan
manusia. Pertama segala yang ada ini sesuai dengan kehidupan manusia.
Dan kedua, kesesuaian ini bukanlah terjadi secara kebetulan, tetapi memang
sengaja diciptakan dan dipelihara demikian oleh sang pencipta bijaksana.
b. Dalil Ikhtira (penciptaan)
Dalil ini didasarkan pada fenomena ciptaan segala makhluk ini, seperti
ciptaan pada kehidupan benda mati dan berbagai jenis hewan, tumbuhtumbuhan dan sebagainya. Menurut Ibn Rusyd, kita mengamati benda mati
3[3]

Ahmad Hanafi, Pengantar filsafat islam, Bulan Bintang: Jakarta, 1991

4[4]

Ibid

lalu

terjadi

kehidupan

padanya,sehingga

yakin

adanya

Allah

yang

menciptakannya. Demikian juga berbagai bintang dan falak di angkasa


tunduk seluruhnya kepada ketentuannya. Karena itu siapa saja yang ingin
mengetahui Allah dengan sebenarnya, maka ia wajib mengetahui hakikat
segala sesuatu di alam ini agar ia dapat mengetahui ciptaan hakiki pada
semua realitas ini.
c. Dalil harkah (Gerak.)
Dalil ini berasal dari Aristoteles dan Ibn Rusyd memandangnya sebagi
dalil yang meyakinkan tentang adanya Allah seperti yang digunakan oleh
Aristoteles sebelumnya. Dalil ini menjelaskan bahwa gerak ini tidak tetap
dalam

suatu

keadaan,

tetapi

selalu

berubah-ubah.

Gerakan

tersebut

menunjukkan adanya penggerak pertama yang tidak bergerak dan bukan


benda yaitu tuhan.5[5]
Dalil pertama dan dalil kedua disepakati oleh semua pihak karena
sesuai

dengan

syariat

karena

adanya

ayat-ayat

al-quran

yang

mengisyaratkan pada dalil tersebut. Sedangkan dalil ketiga adalah dalil yang
pertama kali dicetuskan oleh aristoteles yang kemudian dipergunakan oleh
ibnu sina, alfarabi dan ibnu rusyd sendiri.
1. Moral
Ibnu rusyd membenarkan teori plato bahwa manusia adalah makhluk
sosial yang membutuhkan kerjasama untuk memenuhi keperluan hidup dan
mencapai kebahagiaan. Dalam mencapai kebahagiaan yang merupakan
tujuan akhir bagi manusia, diperlukan bantuan agama yang akan meletakkan
dasar-dasar keutaman akhlak secara praktis, juga bantuan filsafat yang juaga
mengajarkan

keutamaan

teoristis,

untuk

itu

diperlukan

kemampuan

berhubungan dengan akal aktif.


Ibnu rusyd merupakan filsuf muslim rasional, yang mempercayai
kekuatan akal, dan menggunakannya sebagai alat untuk mencari kebenaran
5[5]

Op. cit.

di samping wahyu, namun bukan berarti kebebasan liar seperti yang terjadi
pada averoisme yang free thinker ateis, ia tidak mengutamakan akal
daripada wahyu. Tetapi mewariskan pada kita pemikiran rasional yang sesuai
dengan sinyal kebenaran yang dipantulkan oleh al quran dan hadits, tidak
ada satupun ajarannya yang tidak sesuai dengan alquran dan al hadits.
Berbeda dengan averoisme yang mengajarkan double truth, yang akhirnya
menganggap manusia tidaklah butuh agama dan menjadi ateis. 6[6] Naudzu
billahi min dzalik.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Nama lengkap Ibnu Rusyd adalah Muhammad ibnu Ahmad bin
Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rusyd atau Abu Al-Walid atau Averroes lahir di
Cordova, 1126M (520 H) Ia berasal dari keluarga ilmuan.
6[6]

ibid

Pemikiran Ibnu Rusyd di antaranya ialah:


1. Agama dan Filsafat
Masalah agama dan falsafah atau wahyu dan akal adalah bukan hal
yang baru dalam pemikiran islam, hasil pemikiran pemikiran islam tentang
hal ini tidak diterima begitu saja oleh sebagian sarjana dan ulama islam
2. Metafisika meliputi:
- Dalil wujud Allah
- Dalil inayah (pemeliharan)
- Dalil Ikhtira (penciptaan)
- Dalil harkah (Gerak.)
4. Ibnu rusyd membenarkan teori plato bahwa manusia adalah makhluk sosial
yang membutuhkan kerjasama untuk memenuhi keperluan hidup dan
mencapai kebahagiaan. Dalam mencapai kebahagiaan yang merupakan
tujuan akhir bagi manusia, diperlukan bantuan agama yang akan meletakkan
dasar-dasar keutaman akhlak secara praktis, juga bantuan filsafat yang juaga
mengajarkan

keutamaan

teoristis,

untuk

itu

diperlukan

kemampuan

berhubungan dengan akal aktif.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.

Hasyimsyah nasution, filsafat islam, radar jaya Jakarta 1999


Muhammad Iqbal, Ibnu Rusyd dan Averroisme, (Jakarta: Gaya Media

3.

Pratama, 2004) h. 21-25


Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1986) h. 161-

4.

175
Ahmad Hanafi, Pengantar filsafat islam, (Bulan Bintang: Jakarta, 1991)

5.

Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, (Semarang; Dina


Utama Semarang, 1993), h.86

Diposkan 24th June 2012 oleh sepriwan adiko


0
Tambahkan komentar

Memuat
Template Dynamic Views. Diberdayakan oleh Blogger.
http://sepriwan.blogspot.com/2012/06/makalah-demokrasi-dalam-pandanganislam.html

pandangan ISLAM tentang demokrasi yuk marii


SIKAP ISLAM TERHADAP DEMOKRASI
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas kelompok
Mata kuliah: Islam Budaya Lokal
Dosen Pengampu: Drs. Zainal Abidin

Disusun Oleh :
1. Asmadi Amiruddin

08410173

2. Rohmat Ainun Najib

09410188

3. Sutri cahyo Kusumo

10410003

4. Muhammad Nur Saddam

10400020

5. Ichsan Wibowo

10410069

6. Chichi Aisyatud D.Z

10410006

7. Anna Rifatul Mahmudah

10410007

8. Purwanti

10410021

9. Lulu Nurhusna

10410025

10. Maria Ulfah

10410027

11. Dwi Noventi

10410034
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
TAHUN 2013

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
PEMBAHASAN (ANALISIS)
A. Pengertian Demokrasi
1. Demokrasi adalah sebuah konsep yang datangnya bukan dari dunia Islam, tetapi dari dunia barat
yang menyeluruh (universal).

2. Menurut Joseph A. Scumpeter, demokrasi adalah suatu perencanaan instituasional untuk


mencapai keputusan politik dimana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk
memutuskan dengan cara perjuangan.
3. Menurut Sidney Hook, demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan
pemerintah yang penting atau arah kebijaksanaan di balik keputusan ini secara langdung maupun
tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat
dewasa.[1]
B. Sikap Islam terhadap demokrasi
Islam adalah agama egalitarian yang tidak membedakan manusia berdasarkan suku,
bangsa, agama, ras dan keturunan. Jika terjadi ketidaksamaan diantara mereka, hanya sematamata karena ketakwaan atau moralitas mereka.
Secara spesifik, dalam Islam tidak menyebutkan adanya demokrasi, tetapi nilai dan
prinsip Islam mendukung gagasan universal tentang demokrasi. Misalnya dalam prinsip Islam
yaitu:
1. Adl (Keadilan)
2. Syura (musyawarah)
3. Musawwah (kesetaraan).
Ketiga prinsip itu tidak hanya cocok dengan demokrasi, tetapi jika ditafsirkan secara
benar, dalam dirinya sendiri sudah mengandung sebuah bentuk demokrasi. Sehingga, demokrasi
adalah sarana terbaik untuk mewujudkan cita-cita kemanusiaan dan cita-cita kemasyarakatan
Islam. Prinsip-prinsip itu dapat diimpelemtasikan di seluruh wilayah publik, akan tetapi
kebanyakan ilmuwan Muslim membatasinya pada wilayah politik (siyasah).[2]
Demokrasi sering diartikan sebagai penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia,
partisipasi dalam pengambilan keputusan dan persamaan hak di depan hukum. Dari sini
kemudian muncul idiom-idiom demokrasi, seperti egalite (persamaan), equality (keadilan),
liberty (kebebasan), human right (hak asasi manusia), dst. Di dalam Islam Demokrasi ini masih
menjadi bahan perdebatan diantara para Ulama dan intelektual Islam, untuk memposisikan
Demokrasi secara tepat kita lihat dulu prinsip-prinsip Demokrasi dari pandangan para ulama,
yaitu : Menurut Sadek, J. Sulayman, dalam demokrasi terdapat sejumlah prinsip yang menjadi
standar baku. Di antaranya :
a. Kebebasan berbicara setiap warga negara.
b. Pelaksanaan pemilu untuk menilai apakah pemerintah yang berkuasa layak didukung kembali
atau harus diganti.
c. Kekuasaan dipegang oleh suara mayoritas tanpa mengabaikan kontrol minoritas
d. Peranan partai politik yang sangat penting sebagai wadah aspirasi politik rakyat.
e. Pemisahan kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
f. Supremasi hukum (semua harus tunduk pada hukum).
g. Semua individu bebas melakukan apa saja tanpa boleh dibelenggu
Sedangkan pendapat para Tokoh tentang Islam dan Demokrasi itu ialah sebagai berikut
a)
Al-Maududi
tokoh ini secara tegas menolak demokrasi. Menurutnya, Islam tidak mengenal paham ini yang
memberikan kekuasaan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal. Demokrasi adalah
buatan manusia sekaligus produk dari dunia Barat terhadap agama sehingga cenderung sekuler.

Karenanya, al-Maududi menganggap demokrasi modern (Barat) merupakan sesuatu yang bersifat
syirik. Islam menganut paham teokrasi (berdasarkan hukum Tuhan). Tentu saja bukan teokrasi
yang diterapkan di Barat pada abad pertengahan yang telah memberikan kekuasaan tak terbatas
pada para pendeta.
b) Mohammad Iqbal
Intelektual Pakistan ternama Muhammad Iqbal sangat mengkritik adanya demokrasi.
Menurutnya, sejalan dengan kemenangan sekularisme atas agama, demokrasi modern menjadi
kehilangan sisi spiritualnya sehingga jauh dari etika. Demokrasi yang merupakan kekuasaan dari
rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat telah mengabaikan keberadaan agama. Parlemen sebagai
salah satu pilar demokrasi dapat saja menetapkan hukum yang bertentangan dengan nilai agama
kalau anggotanya menghendaki. Atas dasar itu, Iqbal menawarkan sebuah konsep demokrasi
spiritual yang dilandasi oleh etik dan moral ketuhanan. Jadi yang ditolak oleh Iqbal bukan
demokrasinya melainkan, prakteknya yang berkembang di Barat. Iqbal menawarkan sebuah
model demokrasi sebagai berikut :
- Tauhid sebagai landasan asasi
- Kepatuhan pada hukum
- Toleransi sesama warga.
- Tidak dibatasi wilayah, ras, dan warna kulit.
- Penafsiran hukum Tuhan melalui ijtihad.
c) Muhammad Imarah
Menurut beliau Islam tidak menerima demokrasi secara mutlak dan juga tidak
menolaknya secara mutlak. Dalam demokrasi, kekuasaan legislatif (membuat dan menetapkan
hukum) secara mutlak berada di tangan rakyat. Sementara, dalam sistem syura (Islam) kekuasaan
tersebut merupakan wewenang Allah yang memegang kekuasaan hukum tertinggi. Wewenang
manusia hanyalah menjabarkan dan merumuskan hukum sesuai dengan prinsip yang digariskan
Tuhan serta berijtihad untuk sesuatu yang tidak diatur oleh ketentuan Allah. Jadi, Allah berposisi
sebagai al-Syri (legislator) sementara manusia berposisi sebagai faqh (yang memahami dan
menjabarkan) hukum-Nya.
Demokrasi Barat berasal pada pandangan mereka tentang batas kewenangan Tuhan.
Menurut Aristoteles, setelah Tuhan menciptakan alam, Dia membiarkannya. Dalam filsafat
Barat, manusia memiliki kewenangan legislatif dan eksekutif. Sementara, dalam pandangan
Islam, Allah-lah pemegang otoritas tersebut. Allah befirman Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (al-Arf: 54). Inilah
batas yang membedakan antara sistem syariah Islam dan Demokrasi Barat. Adapun hal lainnya
seperti membangun hukum atas persetujuan umat, pandangan mayoritas, serta orientasi
pandangan umum, dan sebagainya adalah sejalan dengan Islam.
d) Yusuf al-Qardhawi
Menurut beliau, substansi demokrasi sejalan dengan Islam. Hal ini bisa dilihat dari
beberapa aspek. Misalnya:
Dalam demokrasi proses pemilihan melibatkkan banyak orang untuk mengangkat seorang
kandidat yang berhak memimpin dan mengurus keadaan mereka. Tentu saja, mereka tidak boleh
memilih sesuatu yang tidak mereka sukai. Demikian juga dengan Islam. Islam menolak
seseorang menjadi imam shalat yang tidak disukai oleh makmum di belakangnya.

Usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan dengan Islam. Bahkan
amar makruf dan nahi mungkar serta memberikan nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari
ajaran Islam.
Pemilihan umum termasuk jenis pemberian saksi. Karena itu, barangsiapa yang tidak
menggunakan hak pilihnya sehingga kandidat yang mestinya layak dipilih menjadi kalah dan
suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang sebenarnya tidak layak, berarti ia telah menyalahi
perintah Allah untuk memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan.
Penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas juga tidak bertentangan dengan prinsip
Islam. Contohnya dalam sikap Umar yang tergabung dalam syura. Mereka ditunjuk Umar
sebagai kandidat khalifah dan sekaligus memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi
khalifah berdasarkan suara terbanyak. Sementara, lainnya yang tidak terpilih harus tunduk dan
patuh. Jika suara yang keluar tiga lawan tiga, mereka harus memilih seseorang yang diunggulkan
dari luar mereka. Yaitu Abdullah ibn Umar. Contoh lain adalah penggunaan pendapat jumhur
ulama dalam masalah khilafiyah. Tentu saja, suara mayoritas yang diambil ini adalah selama
tidak bertentangan dengan nash syariat secara tegas.
Kebebasan pers dan kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas pengadilan merupakan
sejumlah hal dalam demokrasi yang sejalan dengan Islam.
e) Salim Ali al-Bahnasawi
Menurutnya, demokrasi mengandung sisi yang baik yang tidak bertentangan dengan
islam dan memuat sisi negatif yang bertentangan dengan Islam. Sisi baik demokrasi adalah
adanya kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan Islam. Sementara, sisi buruknya
adalah penggunaan hak legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan
yang haram. Karena itu, ia menawarkan adanya islamisasi demokrasi sebagai berikut:
- Menetapkan tanggung jawab setiap individu di hadapan Allah.
- Wakil rakyat harus berakhlak Islam dalam musyawarah dan tugas-tugas lainnya.
Mayoritas bukan ukuran mutlak dalam kasus yang hukumnya tidak ditemukan dalam Alquran
dan Sunnah (al-Nisa 59) dan (al-Ahzab: 36).
Komitmen terhadap islam terkait dengan persyaratan jabatan sehingga hanya yang bermoral
yang
duduk
di
parlemen.
jika dilihat basis empiriknya, menurut Aswab Mahasin (1993:30), agama dan demokrasi memang
berbeda. Agama berasal dari wahyu sementara demokrasi berasal dari pergumulan pemikiran
manusia. Dengan demikian agama memiliki dialeketikanya sendiri. Namun begitu menurut
Mahasin, tidak ada halangan bagi agama untuk berdampingan dengan demokrasi. Dalam
perspektif Islam elemen-elemen demokrasi meliputi:
1.

Syura
Merupakan suatu prinsip tentang cara pengambilan keputusan yang secara eksplisit
ditegaskan dalam al-Quran. Misalnya saja disebut dalam QS. As-Syura:38 dan Ali Imran:159
Dalam praktik kehidupan umat Islam, lembaga yang paling dikenal sebagai pelaksana syura
adalah ahl halli wa-laqdi pada zaman khulafaurrasyidin. Lembaga ini lebih menyerupai tim
formatur yang bertugas memilih kepala negara atau khalifah. Jelas bahwa musyawarah sangat
diperlukan sebagai bahan pertimbanagan dan tanggung jawab bersama di dalam setiap
mengeluarkan sebuah keputusan. Dengan begitu, maka setiap keputusan yang dikeluarkan oleh

pemerintah akan menjadi tanggung jawab bersama. Sikap musyawarah juga merupakan bentuk
dari pemberian penghargaan terhadap orang lain karena pendapat-pendapat yang disampaikan
menjadi pertimbangan bersama.
2.

al-adalah
Adalah keadilan, artinya dalam menegakkan hukum termasuk rekrutmen dalam berbagai
jabatan pemerintahan harus dilakukan secara adil dan bijaksana. Kolusi dan nepotisme tidak
dibolehkan. Arti pentingnya penegakan keadilan dalam sebuah pemerintahan ini ditegaskan oleh
Allah SWT dalam beberapa ayat-Nya, antara lain dalam surat an-Nahl:90; QS. as-Syura:15; alMaidah:8; An-Nisa:58 dst. Betapa prinsip keadilan dalam sebuah negara sangat diperlukan,
sehingga ada ungkapan yang ekstrim berbunyi: Negara yang berkeadilan akan lestari kendati
ia negara kafir, sebaliknya negara yang zalim akan hancur meski ia negara (yang
mengatasnamakan) Islam.
3.

al-Musawah
Adalah kesejajaran, artinya tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari yang lain sehingga
dapat memaksakan kehendaknya. Penguasa tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap
rakyat, berlaku otoriter dan eksploitatif. Kesejajaran ini penting dalam suatu pemerintahan demi
menghindari dari hegemoni penguasa atas rakyat. Dalam perspektif Islam, pemerintah adalah
orang atau institusi yang diberi wewenang dan kepercayaan oleh rakyat melalui pemilihan yang
jujur dan adil untuk melaksanakan dan menegakkan peraturan dan undang-undang yang telah
dibuat.
Oleh sebab itu pemerintah memiliki tanggung jawab besar di hadapan rakyat demikian juga
kepada Tuhan. Dengan begitu pemerintah harus amanah, memiliki sikap dan perilaku yang dapat
dipercaya, jujur dan adil. Sebagian ulama memahami al-musawah ini sebagai konsekuensi logis
dari prinsip al-syura dan al-adalah. Diantara dalil al-Quran yang sering digunakan dalam hal ini
adalah surat al-Hujurat:13, sementara dalil sunnah-nya cukup banyak antara lain tercakup dalam
khutbah wada dan sabda Nabi kepada keluarga Bani Hasyim.
4.

al-Amanah
Adalah sikap kepercayaan yang diberikan seseorang kepada orang lain. Oleh sebab itu
kepercayaan atau amanah tersebut harus dijaga dengan baik. Dalam konteks kenegaraan,
pemimpin atau pemerintah yang diberikan kepercayaan oleh rakyat harus mampu melaksanakan
kepercayaan tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab. Persoalan amanah ini terkait dengan
sikap adil seperti ditegaskan Allah SWT dalam surat an-Nisa:58. Karena jabatan pemerintahan
adalah amanah, maka jabatan tersebut tidak bisa diminta, dan orang yang menerima jabatan
seharusnya merasa prihatin bukan malah bersyukur atas jabatan tersebut. Inilah etika Islam.
5.

al-Masuliyyah
Adalah tanggung jawab. Sebagaimana kita ketahui bahwa, kekuasaan dan jabatan itu adalah
amanah yangh harus diwaspadai, bukan nikmat yang harus disyukuri, maka rasa tanggung jawab
bagi seorang pemimpin atau penguasa harus dipenuhi. Dan kekuasaan sebagai amanah ini
mememiliki dua pengertian, yaitu amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan rakyat
dan juga amanah yang harus dipertenggungjawabkan di depan Tuhan. Seperti yang dikatakan

oleh Ibn Taimiyyah (Madani, 1999:13), bahwa penguasa merupakan wakil Tuhan dalam
mengurus umat manusia dan sekaligus wakil umat manusia dalam mengatur dirinya. Dengan
dihayatinya prinsip pertanggung jawaban (al-masuliyyah) ini diharapkan masing-masing orang
berusaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi masyarakat luas. Dengan demikian,
pemimpin/penguasa tidak ditempatkan pada posisi sebagai sayyid al-ummah (penguasa umat),
melainkan sebagai khadim al-ummah (pelayan umat). Dengan demikian, kemaslahatan umat
wajib senantiasa menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan oleh para penguasa,
bukan sebaliknya rakyat atau umat ditinggalkan.
6.

al-Hurriyyah
Adalah kebebasan, artinya bahwa setiap orang, setiap warga masyarakat diberi hak dan
kebebasan untuk mengeksperesikan pendapatnya. Sepanjang hal itu dilakukan dengan cara yang
bijak dan memperhatikan al-akhlaq al-karimah dan dalam rangka al-amr bi-l-maruf wa an-nahy
an al-munkar, maka tidak ada alasan bagi penguasa untuk mencegahnya. Bahkan yang harus
diwaspadai adalah adanya kemungkinan tidak adanya lagi pihak yang berani melakukan kritik
dan kontrol sosial bagi tegaknya keadilan. Jika sudah tidak ada lagi kontrol dalam suatu
masyarakat, maka kezaliman akan semakin merajalela. Jika suatu negara konsisten dengan
penegakan prinsip-prinsip atau elemen-elemen demokrasi di atas, maka pemerintahan akan
mendapat legitimasi dari rakyat. Dus dengan demikian maka roda pemerintahan akan berjalan
dengan stabil.
Dalam realitas sejarah Islam memang ada pemerintahan otoriter yang dibungkus dengan baju
Islam seperti pada praktek-praktek yang dilakukan oleh sebagian penguasa Bani Abbasiyyah
dan Umayyah. Tetapi itu bukan alasan untuk melegitimasi bahwa Islam agama yang tidak
demokratis. Seperti pengamatan Mahasin (1999:31), bahwa di beberapa bagian negara Arab
misalnya, Islam seolah-olah mengesankan pemerintahan raja-raja yang korup dan otoriter. Inilah
memang, betapa sulitnya menegakkan demokrasi, yang di dalamnya menyangkut soal:
persamaan hak, pemberian kebebasan bersuara, penegakan musyawarah, keadilan, amanah dan
tanggung jawab. Sulitnya menegakkan praktik demokratisasi dalam suatu negara oleh penguasa,
seiring dengan kompleksitas problem dan tantangan yang dihadapinya, dan lebih dari itu adalah
menyangkut komitmen dan moralitas sang penguasa itu sendiri. Dengan demikian, meperhatikan
relasi antara agama dan demokrasi dalam sebuah komunitas sosial menyangkut banyak variabel,
termasuk variabel independen non-agama.
Konsep demokrasi sebenarnya tidak sepenuhnya bertentangan dan tidak sepenuhnya sejalan
dengan Islam. Prinsip dan konsep demokrasi yang sejalan dengan islam adalah keikutsertaan
rakyat dalam mengontrol, mengangkat, dan menurunkan pemerintah, serta dalam menentukan
sejumlah kebijakan lewat wakilnya. Adapun yang tidak sejalan adalah ketika suara rakyat
diberikan kebebasan secara mutlak sehingga bisa mengarah kepada sikap, tindakan, dan
kebijakan yang keluar dari rambu-rambu ilahi. Oleh karena itu, maka perlu dirumuskan sebuah
sistem demokrasi yang sesuai dengan ajaran Islam. Yaitu di antaranya:
Demokrasi tersebut harus berada di bawah payung agama.
Rakyat diberi kebebasan untuk menyuarakan aspirasinya
Pengambilan keputusan senantiasa dilakukan dengan musyawarah
Suara mayoritas tidaklah bersifat mutlak meskipun tetap menjadi pertimbangan utama dalam
musyawarah. Contohnya kasus Abu Bakr ketika mengambil suara minoritas yang menghendaki

1)
2)
f)

g)

h)

untuk memerangi kaum yang tidak mau membayar zakat. Juga ketika Umar tidak mau membagibagikan tanah hasil rampasan perang dengan mengambil pendapat minoritas agar tanah itu
dibiarkan kepada pemiliknya dengan cukup mengambil pajaknya.
Musyawarah atau voting hanya berlaku pada persoalan ijtihadi; bukan pada persoalan yang
sudah ditetapkan secara jelas oleh Alquran dan Sunah.
Produk hukum dan kebijakan yang diambil tidak boleh keluar dari nilai-nilai agama
Hukum dan kebijakan tersebut harus dipatuhi oleh semua warga
Agar sistem atau konsep demokrasi yang islami di atas terwujud, langkah yang harus
dilakukan:
Seluruh warga atau sebagian besarnya harus diberi pemahaman yang benar tentang Islam
sehingga aspirasi yang mereka sampaikan tidak keluar dari ajarannya
Parlemen atau lembaga perwakilan rakyat harus diisi dan didominasi oleh orang-orang Islam
yang memahami dan mengamalkan Islam secara baik.[3]
Muhammad Natsir
Tokoh ini berpendapat bahwa Islam menganut sistem demokratis, dalam pengertian
bahwa Islam menolak istibdad (despotisme), absolutisme, dan otoritarianisme. Tidak semua hal
dalam pemerintahan Islam diputuskan melalui Dewan Permusyawaratan. Keputusan demokratis
diimplementasikan hanya pada masalah yang tidak disebutkan spesifik dalam syariah. Islam
mempunyai konsep dan karekter demokratis sendiri, mempunyai sintesis antara demokrasi dan
otokrasi.
Jalaludin Rahmat
Tokoh ini mendukung demokrasi sebagai prinsip bagi sistem politik yang didasarkan
pada dua konsep yaitu partisipasi politik dan hak asasi manusia. Konsep ini tidak hanya sesuai
dengan Islam tetapi juga merupakan perwujudan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan
berbangsa.[4]
Masykuri Abdillah beranggapan bahwa para pemimpin dan intelektual serta aktivis
politik muslim Orde Baru juga mendukung demokrasi karena, nilai-nilai demokrasi sesuai
dengan nilai-nilai Islam tentag masyarakat dan demokrasi adalah cara yang tepat untuk
mengartikulasi aspirasi dan kepentingan-kepentingan Islam.[5]
Abdurrahman Wahid
Tokoh Indonesia ini pro-demokrasi. Beliau mengkalim bahwa perjuangan untuk menegakkan
keadilan, mewujudkan demokrasi, dan mengembangkan kemampuan dasar tiap individu dalam
mengatasi permasalahanya, mendapat konsep-konsepnya dari keyakinan agama.

PENUTUP
Kesimpulan
Konsep demokrasi tidak sepenuhnya bertentangan dan tidak sepenuhnya sejalan dengan
Islam. Secara garis besarnya, prinsip dan konsep demokrasi yang sejalan dengan Islam adalah

keikutsertaan rakyat dalam mengontrol, mengangkat, dan menurunkan pemerintah, serta dalam
menentukan sejumlah kebijakan lewat wakilnya. Adapun yang tidak sejalan adalah ketika suara
rakyat diberikan kebebasan secara mutlak sehingga bisa mengarah kepada sikap, tindakan, dan
kebijakan yang keluar dari rambu-rambu Ilahi.
Karena itu, perlu dirumuskan sebuah sistem demokrasi yang sesuai dengan ajaran Islam.
Diantaranya adalah: Demokrasi tersebut harus berada di bawah payung agama, rakyat diberi
kebebasan untuk menyuarakan aspirasinya, pengambilan keputusan senantiasa dilakukan dengan
musyawarah, suara mayoritas tidaklah bersifat mutlak meskipun tetap menjadi pertimbangan
utama dalam musyawarah.
Contohnya kasus Abu Bakr ketika mengambil suara minoritas yang menghendaki untuk
memerangi kaum yang tidak mau membayar zakat. Juga ketika Umar tidak mau membagibagikan tanah hasil rampasan perang dengan mengambil pendapat minoritas agar tanah itu
dibiarkan kepada pemiliknya dengan cukup mengambil pajaknya, musyawarah atau voting hanya
berlaku pada persoalan ijtihadi; bukan pada persoalan yang sudah ditetapkan secara jelas oleh
Alquran dan Sunah, produk hukum dan kebijakan yang diambil tidak boleh keluar dari nilai-nilai
agama, hukum dan kebijakan tersebut harus dipatuhi oleh semua warga. Agar sistem atau konsep
demokrasi yang islami di atas terwujud, langkah yang harus dilakukan adalah: Seluruh warga
atau sebagian besarnya harus diberi pemahaman yang benar tentang Islam sehingga aspirasi yang
mereka sampaikan tidak keluar dari ajarannya dan parlemen atau lembaga perwakilan rakyat
harus diisi dan didominasi oleh orang-orang Islam yang memahami dan mengamalkan Islam
secara baik.
http://blogchichiaisya.blogspot.com/2013/05/pandangan-islam-tentang-demokrasiyuk.html