Anda di halaman 1dari 16

simbol /simbol/ n lambang;

bersimbol /bersimbol/ v memakai (menggunakan, mempunyai) simbol;


menyimbolkan /menyimbolkan/ v menjadikan (merupakan) simbol; melambangkan

Simbol
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Simbolberasal dari kata symballo yang berasal dari bahasa Yunani. Symballo artinya melempar
bersama-sama, melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau konsep objek
yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili gagasan. Simbol dapat menghantarkan
seseorang ke dalam gagasan atau konsep masa depan maupun masa lalu.[1] Simbol adalah
gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu.
Meskipun simbol bukanlah nilai itu sendiri, namun simbol sangatlah dibutuhkan untuk
kepentingan penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya. Simbol dapat digunakan untuk
keperluan apa saja. Semisal ilmu pengetahuan, kehidupan sosial, juga keagamaan. Bentuk simbol
tak hanya berupa benda kasat mata, namun juga melalui gerakan dan ucapan. Simbol juga
dijadikan sebagai salah satu infrastruktur bahasa, yang dikenal dengan bahasa simbol.

Simbol dari 9 agama di dunia: Kristen, Yahudi, Hindu, Islam, ...


Simbol paling umum ialah tulisan, yang merupakan simbol kata-kata dan suara. Lambang bisa
merupakan benda sesungguhnya, seperti salib (lambang Kristen) dan tongkat (yang
melambangkan kekayaan dan kekuasaan). Lambang dapat berupa warna atau pola. Lambang
sering digunakan dalam puisi dan jenis sastra lain, kebanyakan digunakan sebagai metafora atau
perumpamaan. Lambang nasional adalah simbol untuk negara tertentu.
Kesalahan terbesar manusia dalam memahami simbol adalah menganggap bahwa simbol adalah
substansi. Sehingga mereka kerap kali terjebak pada pembenaran terhadap semua hal yang hanya

bersifat kasat mata sebagai kebenaran hakiki. Muara dari kesalahan itu adalah fanatisme. Contoh
kasus: Agama X menyebut kata Tuhan dengan sebutan X1, sedangkan agama Y menyebutnya
dengan Y1. Masing-masing agama mengklaim bahwa penyebutan yang benar adalah menurut
cara mereka masing-masing. Di luar penyebutan itu, dianggap sebagai ajaran sesat.
Begitu pula dengan bahasa yang dipakai. Agama A menggunakan bahasa A1 baik dalam kitab
sucinya, maupun dalam tata cara ibadah. Di lain pihak, agama B memilih menggunakan bahasa
B1. Perbedaan simbolik yang hanya terletak pada permukaan itu dijadikan alasan untuk saling
membenci, dan memusuhi satu sama lain.

Daftar lambang paling umum


Ada ribuan lambang yang diakui oleh sebagian besar orang di seluruh dunia, dan banyak yang
terbatas di daerah, agama, atau masyarakat. Beberapa yang paling diketahui didaftarkan di sini.

Beruang -> negara bagian California

Berang-berang -> Kanada

Bumerang -> Australia

Caduceus -> profesi kedokteran

Cadillac -> di atas jalur (hanya di AS)

Cheetah -> kecepatan

Sakura -> Jepang

Chukar -> Pakistan

Arif Budi Prasetya


Universitas Brawijaya

Home

Sample Page

Televisi dan Politik Pencitraan

Tentang Saya

Home Uncategorized SEMIOTIK : Simbol, Tanda, dan Konstruksi Makna


SEMIOTIK : Simbol, Tanda, dan Konstruksi Makna
14 March 2014
Goto comments Leave a comment
1.

Pengantar : Apa itu Semiotik?

Perkembangan pola pikir manusia merupakan sebuah bentuk perkembangan yang mendasari
terbentuknya suatu pemahaman yang merujuk pada terbentuknya sebuah makna. Apabila kita
amati, kehidupan kita saat ini tidak pernah terlepas dari makna, persepsi, atau pemahaman
terhadap apapun yang kita lihat. Sekarang kita lihat benda-benda yang ada di sekeliling kita.
Sering sekali kita tanpa memikirkan bentuk dan wujud benda tersebut kita sudah bisa
mengetahui apa nama dari benda itu. Ketika kita mengendarai sepeda motor atau mobil di jalan
raya, maka kita bisa memaknai setiap bentuk tanda lalu lintas yang bertebaran di jalan raya,
seperti traffic light misalnya, atau tanda Dilarang Parkir dan lain sebagainya. Pernahkah
terlintas dalam benak kita sebuah pertanyaan mengapa tanda ini dimaknai begini? Mengapa
simbol itu dimaknai sedemikian rupa. Kajian keilmuan yang meneliti mengenai simbol atau
tanda dan konstruksi makna yang terkandung dalam tanda tersebut dinamakan dengan Semiotik.
Semiotik menjadi salah satu kajian yang bahkan menjadi tradisi dalam teori komunikasi. Tradisi
semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda,
ide, keadaan, situasi, perasaan dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri. (Littlejohn, 2009 : 53).
Semiotik bertujuan untuk mengetahui makna-makna yang terkandung dalam sebuah tanda atau
menafsirkan makna tersebut sehingga diketahui bagaimana komunikator mengkonstruksi pesan.
Konsep pemaknaan ini tidak terlepas dari perspektif atau nilai-nilai ideologis tertentu serta
konsep kultural yang menjadi ranah pemikiran masyarakat di mana simbol tersebut diciptakan.

Kode kultural yang menjadi salah satu faktor konstruksi makna dalam sebuah simbol menjadi
aspek yang penting untuk mengetahui konstruksi pesan dalam tanda tersebut. Konstruksi makna
yang terbentuk inilah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya ideologi dalam sebuah tanda.
Sebagai salah satu kajian pemikiran dalam cultural studies, semiotik tentunya melihat bagaimana
budaya menjadi landasan pemikiran dari pembentukan makna dalam suatu tanda. Semiotik
mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda
tersebut mempunyai arti. (Kriyantono, 2007 : 261).

2. Tokoh-tokoh dalam Kajian Semiotik

Ketika kita berbicara mengenai sebuah kajian ilmu atau sebuah teori, maka tidak bisa terlepas
dari tokoh-tokoh yang mencetuskan kajian tersebut. Semiotik tentunya memiliki tokoh-tokoh
yang menjadi pemikir terbentuknya sebuah tradisi semiotik itu sendiri, tokoh-tokoh dalam kajian
semiotik adalah :
Ferdinand de Saussure :
Saussure menjadi salah satu tokoh yang berkecimbung dalam kajian semiotik. Tokoh yang
terkenal dengan konsep semiotik Signifier (Penanda) dan signified (petanda) ini telah menjadi
memperkenalkan konsep kajian semiotik yang memberikan sumbangsih terbesar bagi kajian
keilmuan.

Roland Barthes :
Tokoh yang selanjutnya adalah Roland Barthes. Barthes menjadi tokoh yang begitu identik
dengan kajian semiotik. Pemikiran semiotik Barthes bisa dikatakan paling banyak digunakan
dalam penelitian. Konsep pemikiran Barthes terhadap semiotik terkenal dengan konsep
mythologies atau mitos. Sebagai penerus dari pemikiran Saussure, Roland Barthes menekankan
interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara
konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya.

(Kriyantono, 2007 : 268). Konsep pemikiran Barthes yang operasional ini dikenal dengan
Tatanan Pertandaan (Order of Signification). Secara sederhana, kajian semiotik Barthes bisa
dijabarkan sebagai berikut :

Denotasi
Denotasi merupakan makna sesungguhnya, atau sebuah fenomena yang tampak dengan panca
indera, atau bisa juga disebut deskripsi dasar. Contohnya adalah Coca-Cola merupakan minuman
soda yang diproduksi oleh PT. Coca-Cola Company, dengan warna kecoklatan dan kaleng
berwarna merah.

Konotasi
Konotasi merupakan makna-makna kultural yang muncul atau bisa juga disebut makna yang
muncul karena adanya konstruksi budaya sehingga ada sebuah pergeseran, tetapi tetap melekat
pada simbol atau tanda tersebut. Contoh adalah Coca-Cola merupakan minuman yang identik
dengan budaya modern, di mana Coca-Cola menjadi salah satu produk modern dan cenderung
kapitalis. Dengan mengkonsumsi Coca-Cola, seorang individu akan tampak modern dan bisa
dikatakan memiliki pemikiran budaya populer.

Dua aspek kajian dari Barthes di atas merupakan kajian utama dalam meneliti mengenai
semiotik. Kemudian Barthes juga menyertakan aspek mitos, yaitu di mana ketika aspek konotasi
menjadi pemikiran populer di masyarakat, maka mitos telah terbentuk terhadap tanda tersebut.
Pemikiran Barthes inilah yang dianggap paling operasional sehingga sering digunakan dalam
penelitian.

Charles Sanders Pierce :

Analisis semiotik Pierce terdiri dari tiga aspek penting sehingga sering disebut dengan segitiga
makna atau triangle of meaning (Littlejohn, 1998). Tiga aspek tersebut adalah :
1. Tanda

Dalam kajian semiotik, tanda merupakan konsep utama yang dijadikan sebagai bahan analisis di
mana di dalam tanda terdapat makna sebagai bentuk interpretasi pesan yang dimaksud. Secara
sederhana, tanda cenderung berbentuk visual atau fisik yang ditangkap oleh manusia.
2. Acuan tanda atau objek
Objek merupakan konteks sosial yang dalam implementasinya dijadikan sebagai aspek
pemaknaan atau yang dirujuk oleh tanda tersebut.
3. Pengguna Tanda (interpretant)
Konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna
tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.
(Kriyantono, 2007 : 263).

DAFTAR PUSTAKA
Barthes, Roland. 1972. Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa. Jakarta: Jalasutra

Fiske, John. Cultural and Communication Studies Sebuah Pengantar Paling Komprehensif.
Bandung : Jalasutra

Kriyantono, Rachmat. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana

Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Littlejohn, Stephen W, 2009 . Teori Komunikasi Theories of Human Communication edisi 9.


Jakarta. Salemba Humanika.

Uncategorized makna, semiotik, simbol, tanda


No Comments to SEMIOTIK : Simbol, Tanda, dan Konstruksi Makna
Leave a Reply

Name (required)

E-mail (required)

URI

Your Comment

CAPTCHA Code*

JOKOWI, DARI KURSI DKI-1 MENUJU RI-1 : Sudah Tepatkah? KEPEMILIKAN MEDIA
MASSA SEBAGAI KENDARAAN POLITIK MENUJU PEMILU 2014
Subscribe RSS

Search for:

Recent Posts

JOKOWI, DARI KURSI DKI-1 MENUJU RI-1 : Sudah Tepatkah?

SEMIOTIK : Simbol, Tanda, dan Konstruksi Makna

KEPEMILIKAN MEDIA MASSA SEBAGAI KENDARAAN POLITIK MENUJU PEMILU


2014

Kiprah New Media dalam Percaturan Politik di Indonesia

Recent Comments

Fachry Chairuzan Wijaya on JOKOWI, DARI KURSI DKI-1 MENUJU RI-1 : Sudah
Tepatkah?

Mashuda Taufiqi P. on JOKOWI, DARI KURSI DKI-1 MENUJU RI-1 : Sudah


Tepatkah?

Arif Budi Prasetya on Kiprah New Media dalam Percaturan Politik di Indonesia

Aulia Luqman Aziz on Kiprah New Media dalam Percaturan Politik di Indonesia

Anonymous on Televisi dan Politik Pencitraan

Archives

March 2014

May 2012

Categories

Uncategorized

Meta

Register

Log in

Entries RSS

Comments RSS

WordPress.org

Blogroll

Documentation

Plugins

Suggest Ideas

Support Forum

Themes

WordPress Blog

WordPress Planet

Meta

Register

Log in

Entries RSS

Comments RSS

WordPress.org
Powered
by
WordPress
The
Aesthete
theme by
vatuma.c
om

Ruang Dunia

Home

Sastra
o

Puisi

Sosok

Produk
o

Review

Bisnis

Motivasi

Linguistik

Archive

About

Contact

Search...

Home linguistik Sejarah Semiotika


Sejarah Semiotika
Ferdinaen Saragih Add Comment linguistik

Sejarah semiotika
Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Dalam pandangan Piliang,
penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ini
dimungkinkan karena ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai
fenomena bahasa. Dengan kata lain, bahasa dijadikan model dalam berbagai wacana sosial.
Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktek sosial dapat dianggap sebagai fenomena
bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda. Hal ini dimungkinkan karena
luasnya pengertian tanda itu sendiri (Piliang, 1998:262).
Semiotika menurut Berger memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan
Charles Sander Peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika
secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain. Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika
Serikat. Latar belakang keilmuan adalah linguistik, sedangkan Peirce filsafat. Saussure menyebut
ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology).

Semiologi menurut Saussure seperti dikutip Hidayat, didasarkan pada anggapan bahwa selama
perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda,
harus ada di belakangnya sistem perbedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di
mana
ada
tanda
di
sana
ada
sistem
(Hidayat,
1998:26).
Sedangkan Peirce menyebut ilmu yang dibangunnya semiotika (semiotics). Bagi Peirce yang ahli
filsafat dan logika, penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya
dapat bernalar lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan semiotika
dapat ditetapkan pada segala macam tanda (Berger, 2000:11-22). Dalam perkembangan
selanjutnya, istilah semiotika lebih populer daripada semiologi.
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsi tanda, dan produksi
makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. Dalam pandangan
Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu,
tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang
ditemukan adalah sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut benda. Sebuah bendera kecil,
sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala
mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang
tertentu, suatu sikap, setangkah bunga, rambut uban, sikap diam membisu, gagap. Bicara cepat,
berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk bersudut tajam, kecepatan, kesabaran,
kegilaan, kekhawatiran, kelengahan semuanya itu dianggap sebagai tanda (Zoest, 1993:18).
Menurut Saussure, seperti dikutip Pradopi (1991:54) tanda sebagai kesatuan dari dua
bidang yang tidak dapat dipisahkan seperti halnya selembar kertas. Di mana ada tanda di
sana ada sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) mempunyai dua
aspek yang ditangkap oleh indra kita yang disebut dengan signifier, bidang penanda atau
bentuk dan aspek lainnya yang disebut signified, bidang petanda atau konsep atau makna.
Aspek kedua terkandung di dalam aspek pertama. Jadi petanda merupakan konsep atau
apa yang dipresentasikan oleh aspek pertama.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa penanda terletak pada tingkatan ungkapan (level of expression)
dan mempunyai wujud atau merupakan bagian fisik seperti bunyi, huruf, kata, gambar, warna,
obyek, dan sebagainya.
Pertanda terletak pada level of content (tingkatan isi atau gagasan) dari apa yang diungkapkan
melalui tingkatan ungkapan. Hubungan antara kedua unsur melahirkan makna.
Tanda akan selalu mengacu pada (mewakili) sesuatu hal (benda) yang lain yang disebut reerent.
Lampu merah mengacu pada jalan berhenti. Wajah cerah mengacu pada kebahagiaan. Air mata
mengacu pada kesedihan. Apalagi hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam
benak orang yang melihat atau mendengar akan timbul penertian (Eco, 1979:59).

Menurut Piere, tanda (representamen) ialah sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang
lain dalam batas-batas tertentu (Eco, 1979:15). Tanda akan selalu mengacu ke sesuatu
yang lain, oleh Pierce disebut obyek (denotatum). Ke sesuatu yang lain, oleh Pierce disebut
obyek (denotatum). Mengacu berarti mewakili atau menggantikan. Tanda baru dapat
berfungsi bila diinterpretarikan dalam benak penerima tanda melalui interpretant. Jadi
interpretant ialah pemahaman makna yang muncul dalam diri penerima tanda. Aritnya,
tanda baru dapat berfungsi sebagai tanda bila dapat ditangkap dan pemahaman terjadi
berkat ground, yaitu pengetahuan tentang sistem tanda dalam suatu masyarakat.
Hubungan ketiga unsur yang dikemukakan Pierce terkenal dengan nama segi tiga
semiotik.
Selanjutnya dikatakan, tanda dalam hubungan dengan acuannya dibedakan menjadi tanda
yang dikenal dengan ikon, indeks, dan simbol.
ikon adalah tanda yang antara tanda dengan acuannya ada hubungan kemiripan dan biasa disebut
metafora. Contoh ikon adalah potret. Bila ada hubungan kedekatan eksistensi, tanda demikian
disebut indeks. Tanda seperti ini disebut metonimi. Contoh indeks adalah tanda panah petunjuk
arah bahwa di sekitar tempat itu ada bangunan tertentu. Langit berawan tanda hari akan hujan,
simbol adalah tanda yang diakui keberadaannya berdasarkan hukum konvensi. Contoh simbol
adalah bahasa tulisan.
Ikon, indeks, simbol merupakan perangkat hubungan antara dasar (bentuk), objek (referent) dan
konsep (interpretant atau reference). Bentuk biasanya menimbulkan persepsi dan setelah
dihubungkan dengan obyek akan menimbulkan interpretan. Proses ini merupakan proses kognitif
dan terjadi dalam memahami pesan iklan.
Rangkaian pemahaman akan berkembang terus seiring dengan rangkaian semiosis yang tidak
kunjung berakhir. Selanjutnya terjadi tingkatan rangkaian semiosis. Interpretan ada rangkaian
semiosis lapisan pertama, akan menjadi dasar untuk mengacu pada objek baru dan dari sini
terjadi rangkaian semiosis lapisan kedua. Jadi, apa yang berstatus sebagai tanda pada lapisan
pertama berfungsi sebagai penanda pada lapisan kedua, dan demikian seterusnya.
Terkait dengan itu, Barthes seperti dikutip Iriantara dan Ibrahim (2005:118:119) mengemukakan
teorinya tentang makna konotatif. Ia berpendapat bahwa konotasi dipakai untuk menjelaskan
salah satu dari tiga cara kerja tanda dalam tatanan pertandaan kedua. Konotasi menggambarkan
interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu dengan perasaan atau emosi penggunaannya
dan nilai-nilai kulturalnya. Ini terjadi tatkala makna bergerak menuju subjektif atau setidaknya
intersubjektif. Semuanya itu berlangsung ketika interpretant dipengaruhi sama banyaknya oleh
penafsir dan objek atau tanda.

Bagi barthes, faktor penting dalam konotasi adalah penanda dalam tatanan pertama. Penanda
tatanan pertama merupakan tanda konotasi. Jika teori itu dikaitkan dengan desain komunikasi
visual (DKV), maka setiap pesan DKV merupakan pertemuan antara signifier (lapisan ungkapan)
dan signified (lapisan makna). Lewat unsur verbal dan visual (non verbal), diperoleh dua
tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna
dekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, makna pesan dapat
dipahami secara utuh (Barthes, 1998:172-173).
Mengingat DKV mempunyai tanda terbentuk bahasa verbal dan visual, serta merujuk bahwa teks
DKV dan penyajian visualnya juga mengandung ikon terutama berfungsi dalam sistem-sistem
non kebahasaan untuk mendukung pera kebahasaannya, maka pendekatan semiotik terhadap
DKV layak diterapkan.
Konsep dasar semiotik yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Roland Brahes yang
berangkat dari pendapat Ferdinand de Saussure. Pendekatan ini menekankan pada tanda-tanda
yang disertai maksud (signal) serta berpijak dari pandangan berbasis pada tanda-tanda yang
tanpa maksud (sympton) karya desain komunikasi visual mempunyai tanda yang ber-signal dan
ber-symptom, dan dalam memaknai makna karya DKV harus mengamati ikon, indeks, simbol
dan kode yang menurut Barthes adalah cara mengangkat kembali fragment-framgment kutipan
(Zoest, 1993:39-42).
Sebab esensi membongkar makna karya DKV dapat dilihat dari adanya hubungan antara gejala
struktural yang diungkapkan oleh tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh acuannya. Hasilnya
akan dapat dilihat dan diketahui bagaimana tanda-tanda tersebut berfungsi.
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan
suatu informasi sehingga bersifat komunikatif. Ia mampu menggantikan sesuatu yang lain yang
dapat dipikirkan atau dibayangkan. Cabang ilmu ini semula berkembang dalam bidang bahasa,
kemudian berkembang pula dalam bidang seni rupa dan desain komunikasi visual.
Sementara itu, Charles Sanders Pierce, menandaskan bahwa kita hanya dapat berpikir dengan
medium
tanda.
Manusia
hanya
dapat
berkomunikasi
lewat
sarana
tanda.
Tanda dalam kehidupan manusia bisa tanda gerak atau isyarat. Lambaian tangan yang bisa
diaritkan memanggil atau anggukan kepala dapat diterjemahkan setuju. Tanda bunyi seperti
tiupan peluit, terompet, genderang, suara manusia, dering telepon, tanda tulisan, di antaranya
huruf dan angka juga tanda gambar berbentuk rambu lalu lintas, dan masih banyak ragamnya
(Noth, 1995:44)
Resume
Ferdinan De J Saragih

Related Posts:

Pengertian Semantik

Pengertian Sosiolinguistik II

Pengertian Sintaksis

Variasi Bahasa

0 Response to "Sejarah Semiotika"


Newer Post Older Post Home

Jul Beli

Google+ Badge

Komunitas

Tren 2014

Entri Populer

Pengertian Sintaksis

Pengertian Sosiolinguistik

Sejarah Semiotika

Pengertian Sosiolinguistik II

Umpasa Simalungun

Pengertian Semantik

Pengertian PUisi

Biodata Penyair Indonesia

Link Friends

Parsigodang Pos

Ruang Karya

Blogwallking

Fisheye Clip

Penulis Mania

Blog Cbox

Raya Post

Sigodang Pos

Store fes

Siotik Pos

Copyright 2014 Ruang Dunia


Design by Evo Templates