Anda di halaman 1dari 10

Jumat, 04 Mei 2012

MAKALAH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL / CTL


(CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, kita merasa bahwa kita sedang
membicarakan permasalahan yang kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik,
pendidik/guru, manajemen pendidikan, kurikulum, fasilitas, proses belajar mengajar, dan lain
sebagainya. Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam dunia pendidikan kita adalah
lemahnya kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah. Dalam proses
pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal

informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut
untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan
sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari sekolah, mereka pintar secara
teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.
Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional
berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas, 2003).
Sesuai fungsi pendidikan nasional tersebut terletak juga tanggung jawab guru untuk
mampu mewujudkannya melalui pelaksanaan proses pembelajaran yang mampu bermutu dan
berkualitas. Salah satu strategi yang dapat dipergunakan guru untuk memperbaiki mutu dan
kualitas proses pembelajaran adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran Contextual
Teaching and Learning (CTL).

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian CTL (Contextual Teaching and Learning)


Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti hubungan, konteks,
suasana dan keadaan (konteks). (KUBI, 2002 : 519). Contextual Teaching and Learning (CTL)
adalah :

Sanjaya (2005), suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan
siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan
situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan
mereka.

Sukmadinata (2004), suatu sistem atau pendekatan pembelajaran yang bersifat holistik, terdiri
dari komponen yang saling terkait, apabila dilaksanakan masing-masing memberikan dampak
sesuai dengan peranannya.

Menurut Depdiknas (2003 : 5), konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Secara umum, Contextual mengandung arti yang berkenan, relevan, ada hubungan atau kaitan
langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud, makna, dan kepentingan.

2.2

Pengertian Pendekatan Kontekstual


Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar
yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan
konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer
pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
(http://www.papantulisku.com/2010/01/pembelajaran-kontekstual-contextual.html)

2.3

Komponen-komponen CTL (Contextual Teaching and Learning)


Komponen-komponen dari CTL (Contextual Teaching and Learning) antara lain :

1.

Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme (Constructivism) adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan
baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut pengembang filsafat
konstruktivisme Mark Baldawin dan diperdalam oleh Jean Piaget menganggap bahwa
pengetahuan itu terbentuk bukan hannya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu
sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya.

2.

Menemukan (Inquiry)
Menemukan (Inquiry) adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencapaian dan
penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil
dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dalam model inquiry dapat
dilakukan melalui beberapa langkah sistematis, yaitu :

a.

Merumuskan masalah.

b.

Mengajukan hipotesis.

c.

Mengumpulkan data.

d.

Menguji hipotesis berdasarkan data yang dikumpulkan.

e.

Membuat kesimpulan.

3.

Bertanya (Quesrioning)
Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat
dipandang sebagai refleksi dari keingin tahuan setiap individu. Sedangkan menjawab pertanyaan
mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir.
Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :

a.

Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran.

b.

Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar.

c.

Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu.

d.

Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang diinginkan.

e.

Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sendiri.

f.

Menggali pemahaman siswa.

4.

Masyarakat Belajar (Learning Community)


Konsep masyarakat belajar (Learning Community) dalam CTL menyarankan agar hasil
pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan
dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan
yang terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain,
antarteman atau antarkelompok; yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu atau
yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya kepada orang lain. Inilah hakekat
dari masyarakat belajar yaitu masyarakat yang saling membagi.

5.

Pemodelan (Modeling)
Yang dimaksud dengan asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan
sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak sebatas dari
guru saja, akan tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan.
Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL sebab melalui modeling
siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoristis-abstrak yang dapat memungkinkan
terjadinya verbalisme.

6.

Refleksi (Reflection)

Refleksi (Reflection) adalah cara berpikir tentang apa yang baru di pelajari atau berpikir ke
belakang tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Refleksi merupakan respon terhadap
kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang baru di terima. Melalui proses refleksi, pengalaman
belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi
bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.
7.

Penilaian Nyata (Authentic Assessment)


Penilaian nyata (Authentic Assessment) adalah proses yang dilakukan oleh guru untuk
mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa. Penilaian ini
dilakukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman
belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun
mental siswa. Penilaian yang autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran.
Penilaian ini dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh
sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.

2.4

Karakteristik Pembelajaran Kontekstual


Dalam pembelajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang
penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerja
sama (cooperating) dan mentransfer (transferring).

1.

Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru
menggunakan strategi ini ketika mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal
siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.

2.

Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan


informasi baru dengan pengalaman maupun pengetahuan sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih
cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk
penelitian yang aktif.

3.

Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan


masalah. Guru dapat memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistik dan relevan.

4.

Kerja sama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang
signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah
yang kompleks dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerja sama tidak hanya membantu siswa
mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.

5.

Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan fokus pada
pemahaman bukan hafalan.

2.5

Penerapan dan Pendekatan Kontekstual


Hal-hal yang diperlukan untuk mencapai sejumlah hasil yang diharapkan dalam penerapan
pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut :

1.

Guru yang berwawasan


Maksudnya yaitu guru yang berwawasan dalam penerapan dan pendekatan.

2.

Materi dalam pembelajaran


Dalam hal ini guru harus bisa mencari materi pembelajaran yang dijiwai oleh konteks perlu
disusun agar bermakna bagi siswa.

3.

Strategi metode dan teknik belajar dan mengajar


Dalam hal ini adalah bagaimana seorang guru membuat siswa bersemangat belajar, yang
lebih konkret, yang menggunakan realitas, lebih aktual, nyata/riil, dsb.

4.

Media pendidikan
Media yang digunakan dapat berupa situasi alamiah, benda nyata, alat peraga, film nyata
yang mana perlu dipilih dan dirancang agar sesuai dan belajar lebih bermakna.

5.

Fasilitas
Media pendukung pembelajaran kontekstual seperti peralatan dan perlengkapan,
laboratorium, tempat praktek, dan tempat untuk melakukan pelatihan perlu disediakan.

6.

Proses belajar dan mengajar


Hal ini ditujukan oleh perilaku guru dan siswa yang bernuansa pembelajaran kontekstual
yang merupakan inti dari pembelajaran kontekstual.

7.

Kancah pembelajaran
Hal ini perlu dipilih sesuai dengan hasil yang diinginkan.

8.

Penilaian
Penilaian/evaluasi otentik perlu diupayakan karena pada pembelajaran ini menuntut
pengukuran prestasi belajar siswa dengan cara-cara yang tepat dan variatif, tidak hanya dengan
pensil atau paper test.

9.

Suasana

Suasana dalam lingkungan pembelajaran kontekstual sangat berpengaruh karena dapat


mendekatkan situasi kehidupan sekolah dengan kehidupan nyata di lingkungan siswa.

2.6

Tahapan-tahapan Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual


Tahapan pelaksanaan pembelajaran kontekstual antara lain :

1.

Mengkaji materi pelajaran yang akan diajarkan.

2.

Mengkaji konteks kehidupan siswa sehari-hari.

3.

Memilih materi pelajaran yang dapat dikaitkan dengan kehidupan siswa.

4.

Menyusun persiapan proses KBM yang telah memasukkan konteks dengan materi pelajaran.

5.

Melaksanakan proses belajar mengajar kontekstual.

6.

Melakukan penilaian otentik terhadap apa yang telah dipelajari siswa.

2.7

Prinsip-prinsip Pembelajaran Kontekstual


Pembelajaran Kontekstual atau CTL juga mempunyai beberapa prinsip utama dalam
penerapan dan aplikasinya antara lain :
1. Saling ketergantungan
2. Diferensiasi
3. Pengaturan Diri

2.8

Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual


Esensi pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa mengaitkan antara materi yang
dipelajari dengan konteks kehidupan atau situasi nyata mereka sehari-hari. Dengan pendekatan
ini diharapkan proses belajar mengajar akan lebih konkret, realistis, dan lebih bermakna. Dalam

pelaksanaan pembelajaran kontekstual ini diperlukan tahapan-tahapan yang perlu dipersiapkan


secara matang.

2.9

Perbedaan antara Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional

Kontekstual
1.

Menyandarkan pada pemahaman makna.

2.

Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa.

3.

Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

4.

Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan.

5.

Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.

6.

Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang.

7.

Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis,
atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok).

8.

Perilaku dibangun atas kesadaran diri.

9.

Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.

10. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri yang bersifat subyektif.
11. Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan.
12. Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik.
13. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting.
14. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik.
Tradisional
1.

Menyandarkan pada hafalan.

2.

Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru.

3.

Siswa secara pasif menerima informasi, khususnya dari guru.

4.

Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, tidak bersandar pada realitas kehidupan.

5.

Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan.

6.

Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu.

7.

Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar
ceramah, dan mengisi latihan (kerja individual).

8.

Perilaku dibangun atas kebiasaan.

9.

Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.

10. Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor.
11. Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman.
12. Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik.
13. Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas.
14. Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi
pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk
dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi nyata sehingga
mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka. CTL memandang
bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.
Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi tetapi
sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan peserta didik di lapangan. Ada beberapa
perbedaan antara strategi pembelajaran CTL dan konvensional yang membuktikan bahwa CTL
lebih efektif dan mampu menjadi alternatif pilihan strategi pembelajaran yang diterapkan guru di
sekolah. Diperlukan pola dan langkah pembelajaran CTL di kelas agar strategi CTL dapat
diterapkan secara efektif dan sesuai materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam Standar
Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).

3.2

Saran
Dengan pemahaman tentang Contextual Teaching and Learning (CTL) ini diharapkan
semua guru mata pelajaran dapat menerapkan strategi ini dalam melaksanakan proses belajar
mengajar (PBM) di sekolah dan dapat lebih meningkatkan kualitas maupun kuantitas penguasaan
materi mata pelajaran siswa di sekolah dan pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas sumber
daya manusia Indonesia sebagaimana tujuan dan fungsi pendidikan nasional.

DAFTAR RUJUKAN
Budiningsih, C. Asri, DR. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
http://gakuseishinsetsu.wordpress.com/2010/01/06/model-pembelajaran-konstektual/
//PDRTJS_settings_1036222_post_228={id:1036222,unique_id:wp-post-228,title:Model
Pembelajaran Konstektual,permalink
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2009913-strategi-pembelajaran-konstekstualteaching-learning/#ixzz1YIDZtcsj
http://www.papantulisku.com/2010/01/pembelajaran-kontekstual-contextual.html