Anda di halaman 1dari 24

BAGIAN ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

2014
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO

REFERAT
DESEMBER 2016

TERAPI CAIRAN PADA DEHIDRASI

Oleh:
Sudarman
K1A2 10 030

PEMBIMBING:
dr.Hj. Andi Hasnah, Sp.An

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF
RUMAH SAKIT UMUM BAHTERAMAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
1

TERAPI CAIRAN PADA DEHIDRASI


Sudarman, Andi Hasnah Suaib
I.

Pendahuluan
Tubuh sebagian besar terdiri dari air. Air dan zat-zat yang terkandung
didalamnya yang terdapat didalam tubuh disebut juga cairan tubuh berfungsi
menjadi pengangkut zat makanan ke seluruh sel tubuh dan mengeluarkan
bahan sisa dari hasil metabolisme sel untuk menunjang berlangsungnya
kehidupan. Jumlah cairan tubuh berbeda-beda tergantung dari usia, jenis
kelamin, dan banyak atau sedikitnya lemak tubuh.(1)
Air merupakan komponen utama dari seluruh cairan yang berada dalam
tubuh. Tubuh terdiri atas 60% air, sementara 40% sisanya merupakan zat
padat seperti protein, lemak, dan mineral. Proporsi cairan tubuh menurun
dengan pertambahan usia, dan pada wanita lebih rendah dibandingkan pria
karena wanita memiliki lebih banyak lemak disbanding pria, dan lemak
mengandung sedikit air. Sementara neonatus atau bayi sangat rentan
terhadap kehilangan air karena memiliki kandungan air yang paling tinggi
dibandingkan dengan dewasa. (1,2)
Zat-zat yang terkandung dalam cairan tubuh antara lain adalah air,
elektrolit, trace element, vitamin, dan nutrien-nutrien lain seperti protein,
karbohidrat, dan lemak. Dengan makan dan minum maka tubuh kita akan
tercukupi akan kebutuhan nutrient-nutrien tersebut. (2)
Air dan elektrolit yang masuk ke dalam tubuh akan dikeluarkan dalam
waktu 24 jam dengan jumlah yang kira-kira sama melalui urin, feses,
keringat, dan pernafasan. Tubuh kita memiliki kemampuan untuk
mempertahankan atau memelihara keseimbangan ini yang dikenal dengan
homeostasis.(3)
Terapi cairan terutama dibutuhkan jika tubuh tidak mendapatkan
masukan air, elektrolit dan zat-zat makanan lain secara oral, misalnya pada
keadaan pasien yang harus puasa lama karena persiapan pembedahan, atau
keadaan lain seperti perdarahan banyak, syok hipovolemik, anoreksia berat,
diare berat, mual muntah tak berkesudahan dan lain-lain.(3,4)

Dehidrasi adalah suatu keadaan penurunan total air di dalam


tubuhkarena hilangnya cairan secara patologis, asupan air tidak adekuat,
atau kombinasi keduanya. Dehidrasi terjadi karena pengeluaran air lebih
banyak daripada jumlah yang masuk dan kehilangan cairan ini juga disertai
dengan hilangnya elektrolit. Dehidrasi merupakan suatu kondisi defi sit air
dan elektrolit dengan penyebab multifaktor. Diare merupakan penyebab
tersering, dan usia balita adalah k elompok yang paling rentan mengalami
kondisi ini. Derajat dan jenis dehidrasi penting diketahui untuk menentukan
strategi penanganan. Manajemen dehidrasi juga ditujukan untuk mengoreksi
status osmolaritas pasien. Pada dehidrasi terjadi keseimbangan negatif
cairan tubuh akibat penurunan asupan cairan dan meningkatnya jumlah air
yang keluar (lewat ginjal, saluran cerna atau insensible water loss/IWL),
atau karena adanya perpindahan cairan dalam tubuh. Berkurangnya volume
total cairan tubuh menyebabkan penurunan volume cairan intrasel dan
ekstrasel. Manifestasi klinis dehidrasi erat kaitannya dengan deplesi volume
cairan

intravaskuler.

Proses

dehidrasi

yang

berkelanjutan

dapat

menimbulkan syok hipovolemia yang akan menyebabkan gagal organ dan


kematian.(8)
Pada saat melakukan terapi cairan, perlu diperhatikan pula jenis cairan
yang digunakan untuk penggantinya. Cairan tersebut dapat berupa kristaloid
atau koloid yang masing-masing mempunyai keuntungan tersendiri yang
diberikan sesuai dengan kondisi pasien. Dalam keadaan tertentu adanya
terapi cairan dapat pula digunakan sebagai tambahan untuk memasukkan
obat dan zat makanan secara rutin atau dapat juga untuk menjaga
keseimbangan asam basa.(1,2,3,4)

II.

Definisi Terapi Cairan


Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara ataupun mengganti
cairan tubuh dengan pemberian cairan infus kristaloid (elektrolit) atau
koloid (plasma ekspander) secara intravena untuk mengatasi berbagai

masalah

gangguan

keseimbangan

cairan

dan

elektrolit,

meliputi

mengantikan volume cairan yang hilang akibat perdarahan, dehidrasi atau


syok.
Terapi cairan dan elektrolit adalah salah satu terapi yang sangat
menentukan keberhasilan penanganan pasien kritis. Dalam langkah-langkah
resusitasi, langkah D (drug and fluid treatment) dalam bantuan hidup
lanjut, merupakan langkah penting yang dilakukan secara simultan dengan
langkah-langkah yang lainnya. Tindakan ini seringkali merupakan langkah
life saving pada pasien yang menderita kehilangan cairan yang banyak
seperti dehidrasi karena muntah mencret dan syok.(5)
III.

Komposisi Cairan Tubuh


Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan, pada bayi prematur
jumlahnya sebesar 80% dari berat badan, bayi normal sebesar 70-75% dari
berat badan, sebelum pubertas 65-70% dari berat badan, orang dewasa
normal sekitar 50-60% dari berat badan. Kandungan air di dalam sel lemak
lebih rendah dari pada kandungan air di dalam sel otot, sehingga cairan total
pada orang gemuk lebih rendah dari pada mereka yang tidak gemuk.(1)
Cairan dalam tubuh dibagi dalam dua kompartemen utama yaitu cairan
ekstrasel dan intrasel. Volume cairan intrasel sebesar 60% dari cairan tubuh
total atau sebesar 40% dari berat badan pada orang dewasa. Volume cairan
ektrasel sebesar 40% dari cairan tubuh total atau sebesar 20% dari berat
badan

pada

orang

dewasa.

Cairan

ekstrasel

dibagi

dalam

dua

subkompartemen yaitu cairan interstisium sebesar 30% dari cairan tubuh


total atau 15% dari berat badan pada orang dewasa dan cairan intravascular
(plasma) sebesar 10% dari cairan tubuh total atau sebesar 5% dari berat
badan pada orang dewasa. (1)
Tubuh manusia terdiri dari zat padat dan zat cair. Distribusi cairan
tubuh manusia dewasa:
1. Zat padat : 40% dari berat badan
2. Zat cair
: 60% dari berat badan
a. Cairan intraselular
: 40% dari BB
b. Cairan ekstraselular : 20% dari BB, terdiri dari:
o Cairan intravaskuler
: 5% dari BB
o Cairan interstisial-limfe : 15% dari BB

o Cairan transelular
: 1-2% dari BB
A. Cairan Intraselular (intracellular fluid, ICF)(4,6,7,13)
Komponen intraselular merupakan cadangan cairan tubuh yang
terbesar, dan berhubungan dengan cairan dalam sel. Komposisi ionnya
berbeda dengan komponen ekstraseluler karena mengandung ion
kalium dalam konsentrasi tinggi (140-150 mmol/liter) dan ion natrium
dalam konsentrasi rendah (8-10 mmol/liter) dan ion klorida
(3mmol/liter). Jadi jika air diberikan bersama natrium dan klorida,
maka cenderung mengisi komponen ekstraseluler. Air yang diperlukan
dalam bentuk larutan glukosa akan didistribusikan kesemua bagian
tubuh dan glukosa akan dimetabolisme. Air murni tidak pernah
diberikan secara intravena karena dapat menyebabkan hemolisis masif.
B. Cairan Ekstraselular (extracellular fluid, ECF)(4,6,7,13)
Komponen ekstraselular dapat dibagi menjadi cairan intravaskular,
interstisial dan cairan transelular
1. Cairan Intravaskular (IVF)
Volume darah normal kira-kira 70 ml/kgbb pada dewasa dan
85-90 ml/kgbb pada neonatus. Selain darah, komponen intravskuler
juga terdiri dari protein plasma dan ion, terutama natrium (138-145
mmol/liter), klorida (97-105 mmol/liter) dan ion bikrbonat. Hanya
sebagian kecil kalium tubuh berada di dalam plasma (3,5-4,5
mmol/liter), tetapi konsentrasi kalium ini mempunyai pengaruh
besar terhadap fungsi jantung dan neuromuskuler.
2. Cairan Interstisial-limfe (ISF)
Komponen interstitial lebih besar dari pada komponen
intravaskuler. Jumlah total cairan ekstraseluler (intravaskuler
ditambah interstitial) bervariasi antara 20-35% dari berat badan
dewasa dan 40-45% pada neonatus. Air dan elektolit dapat bergerak
bebas di antara darah dan ruang interstitial, yang mempunyai
komposisi ion yang sama, tetapi protein plasma tidak dapat
bergerak bebas keluar dari ruang intravaskuler kecuali bila terdapat
cedera kapiler misalnya pada luka bakar atau syok septik.
Jika terdapat kekurangan cairan dalam darah atau volume
darah yang menurun dengan cepat, maka air dan elektrolit akan

ditarik dari komponen interstitial ke dalam darah untuk mengatasi


kekurangan volume intravaskuler, yang diprioritaskan secara
fisiologis. Pemberian cairan intravena yang terutama mengandung
ion natrium dan klorida, seperti NaCl fisiologis (9 g/liter atau
0,9%) atau larutan Hartman (larutan ringer laktat), dapat bergerak
bebas

kedalam

ruang

intertitial

sehingga

efektif

untuk

meningkatkan volume intervaskuler dalam waktu singkat.


Larutan yang mengandung molekur yang lebih besar, misalnya
plasma, darah lengkap, dekstran, poligelin, hidroksietil, gelatin,
lebih efektif untuk mempertahankan sirkulasi jika diberikan secara
intravena karena komponen ini lebih lama berada dalam komponen
intravaskuler. Cairan ini biasanya disebut sebagai plasma expanders.
3. Cairan transelular (4,6)
Merupakan cairan yang terkandung di dalam rongga khusus
dari

tubuh.

Contoh

(CTS)

meliputi

cairan

serebrospinal,

perikardial, pleural, sinovial, dan cairan intraokular serta sekresi


lambung dengan jumlah hamper mendekati angka 1 L, namun
sejumlah besar cairan bergerak kedalam dan keluar ruang
transelular setiap harinya. Sebagai contoh, saluran gastro-intestinal
(GI) secara normal mensekresi dan mereabsorbsi sampai 6-8 L perhari.
Dalam dua kompartemen cairan tubuh ini terdapat solute berupa
kation dan anion (elektrolit) yang penting dalam mengatur keseimbangan
cairan dan fungsi sel. Ada dua kation yang penting yaitu natrium dan
kalium. Keduanya mempengaruhi tekanan osmotik cairan ektrasel dan
intrasel serta langsung berhubungan dengan fungsi sel. Kation dalam
cairan ekstrasel adalah natrium (kation utama) dan kalium, kalsium,
magnesium. Untuk menjaga netralitas (elektronetral) didalam cairan
ekstrasel terdapat anion-anion seperti klorida, bikarbonat dan albumin.
Kation utama dalam cairan intrasel adalah kalium dan anion utama
adalah fosfat.

Tabel berikut ini menunjukkam jumlah dan jenis kation dan anion
dalam tiap kompartemen :
(mEq/L)
Plasma
Na
142
K
4
Kation
Ca
5
Mg
3
Total
154
Cl
103
HCO3
27
HPO4
2
Anion
SO4
1
As Organik 5
Protein
16
Total
154
Tabel 2. Jumlah dan jenis elektrolit tubuh

IV.

Interstitial
114
4
2,5
1,5
152
114
30
2
1
5
0
152

Interseluler
15
150
2
27
194
8
10
100
20
0
63
194

Gangguan Keseimbangan Cairan


Hal ini dapat terjadi apabila mekanisme kompensasi tubuh tidak mampu
mempertahankan homeostasis. Gangguan keseimbangan cairan dapat berupa
defisit volume cairan atau sebaliknya.(16,8,13)
A. Defisit volume cairan (fluid volume defisit [FVD]). Defisit volume
cairan adalah suatu kondisi ketidakseimbangan yang ditandai dengan
defisiensi cairan dan elektrolit di ruang ekstrasel, namun proporsi antara
keduanya (cairan dan elektrolit) mendekati normal.(16,8)
1. Dehidrasi
Kehilangan cairan dapat menyebabkan gangguan keseimbangan
cairan yang mengakibatkan dehidrasi, misalnya pada keadaan
gastroenteritis, demam tinggi, pembedahan, luka bakar, dan penyakit
lain yang menyebabkan input dan output tidak seimbang.
Dehidrasi adalah keadaan dimana kurangnya cairan tubuh dari
jumlah normal akibat kehilangan cairan, asupan yang tidak mencukupi
atau kombinasi keduanya. Dehidrasi seing dikategorikan sesuai dengan
kadar konsentrasi serum dari natrium menjadi isonatremik (130-150
mEq/L), hiponatremik (<139 mEq/L) atau hipernatremik (>150
mEq/L). Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling sering terjadi
7

(80%), sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 510% dari kasus.
Dehidrasi dibedakan atas:
a. Dehidrasi hipotonik
Terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih
banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis). Secara garis besar
terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air
yang hilang. Karena kadar natrium serum rendah, air di
kompartemen ekstravaskular, sehingga menyebabkan penurunan
volume intravaskuler.
o Kadar Na < 130 mmol/L
o Osmolaritas <275 mOsm/L
o Letargi, kadang-kadang kejang
b. Dehidrasi isotonic
Terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan konsentrasi
natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium besarnya
relatif

sama

dalam

kompartemen

intravaskular

maupun

kompartemen ekstravaskular.
o Na dan osmolaritas serum normal
c. Dehidrasi hipertonik
Terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih
sedikit dari darah (kehilangan cairan hipotonis). Secara garis besar
terjadi kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium
yang hilang. Karena kadar natrium tinggi, air di kompartemen
ekstravaskular berpindah ke kompartemen intravaskular, sehingga
meminimilkan penurunan volume intravaskular.
o Na > 150 mmol/L
o Osmolaritas > 295 mOsm/L
o Haus, iritabel, bila Na > 165 mmol/L dapat terjadi kejang

Tabel 2. Tanda-tanda klinis dehidrasi


Symptom/Sig

Dehidrasi

Dehidrasi

Dehidrasi Berat

n
Tingkat

Ringan
Sadar

Sedang
Mengantuk

Terganggu

Kesadaran*
Pengisian

2 Detik

2-4 Detik

Lebih dari 4 detik

Kering

dengan akral dingin


Pecah-pecah
dan

Kapiler*
Membran

Normal

Mukosa*

kering

Air mata*

Normal

Menurun

Tidak Ada

Denyut

60-100

100-120

>120 kali/menit

Jantung
Pernafasan

kali/menit
18-24

kali/menit
>24

>30 kali/menit

Tekanan Darah

kali/menit
Normal

kali/menit
Normal, but

Menurun

Nadi

Normal

orthostasis
Teraba lemah

Tidak Teraba

Turgor Kulit

Normal

Lambat

Mengkerut

Fontanela

Normal

Cekung

Tenggelam

Mata

Normal

Cekung

Tenggelam

Produksi Urin

Menurun

Oliguria

Oliguria/anuria

Tabel 3. Derajat dehidrasi


Dehidrasi
Ringan
Sedang
Berat
Shock

Dewasa
4%
6%
8%
15-20%

Terapi

untuk

Anak
4%-5%
5 % - 10 %
10 % - 15 %
15-20%

dehidrasi

(rehidrasi)

dilakukan

dengan

mempertimbangkan kebutuhan cairan untuk rumatan, defisit cairan dan


kehilangan cairan yang sedang berlangsung. Strategi untuk rehidrasi
adalah dengan memperhitungkan defisit cairan, cairan rumatan yang
diperlukan

dan

kehilangan

cairan

yang

sedang

berlangsung

disesuaikan . Cara rehidrasi :


a) Nilai status rehidrasi (sesuai tabel 4 di atas), banyak cairan yang
diberikan (D) = derajat dehidrasi (%) x BB x 1000 cc
b) Hitung cairan rumatan (M) yang diperlukan (untuk dewasa 40
cc/kgBB/24 jam atau rumus holliday-segar seperti untuk anakanak)
c) Pemberian cairan6 :
6 jam I = D + M atau 8 jam I = D + M (menurut Guillot)
18 jam II = D + M atau 16 jam II = D + M (menurut
Guillot)
2. Hipovolemia(1)
Pada hipovolemia, cairan yang hilang berasal dari cairan ekstrasel
(intrravaskular dan interstisium) oleh karena cairan yang hilang adalah
cairan yang isotonik. Dalam keadaan mormal, osmolaritas cairan
interstisium dan intravskular adalah sama, maka perhitungan cairan
yang hilang didasarkan pada persen berkurangnya plasma (cairan
intravaskular).
a. Hipovolemia ringan bila kehilangan 20% volume plasma.
Gejala klinis yang timbul hanya takikardia

10

b. Hipovolemia sedang bila kehilangan 20-40% volume plasma.


Gejala klinis yang timbul adalah takikardia dan hipotensi
ortostatik
c. Hipovolemia berat bila kehilangan 40% volume plasma.
Gejala klinis yang timbul adalah penurunan tekanan darah,
takikardia, oligouria, agitasi, pikiran kacau
B. Volume cairan berlebih (fluid volume eccess [FVE]) (16,8)
Volume cairan berlebih (overhidrasi) adalah

kondisi

ketidakseimbangan yang ditandai dengan kelebihan (retensi) cairan dan


natrium di ruang ekstrasel. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah
hipervolemia. Overhidrasi umumnya disebabkan oleh gangguan pada
fungsi ginjal.
Manifestasi kelebihan cairan ekstrasel, yaitu edema perifer atau
edema pitting, asites, kelopak mata bengkak, bunyi napas ronkhi basah
di seluruh lapang paru, penambahan berat badan yang tidak lazim.
V.

Tujuan dan Prinsip Terapi Cairan


Terapi cairan berfungsi untuk:(5)
1. Mengganti cairan yang hilang
2. Mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung
3. Mencukupi kebutuhan per hari
4. Untuk mengatasi syok
5. Mengoreksi dehidrasi
6. Untuk mengatasi kelainan akibat terapi yang diberikan
Pemberian cairan intravena adalah untuk memulihkan volume sirkulasi
darah. Pada syok, tujuan resusitasi cairan adalah untuk memulihkan perfusi
jaringan dan pengiriman oksigen ke sel (DO 2) agar tidak terjadi iskemia
jaringan yang berakibat gagal organ. Dalam terapi cairan perlu
dipertimbangkan distribusi diferensial air, garam, dan orotein plasma.
Volume cairan pengganti yang diperlukan untuk mengembalikan volume
sirkulasi darah ditentukan oleh ruang distribusi cairan pengganti, yang
tergantung kadar koloid dan NA+ cairan pengganti.
Formula efek cairan dalam mengekspansi plasma volume (PV)
PV = Volume infus (PV/Vd)
PV
= Perubahan yang diharapkan
Vd
= Volume distribusi cairan infus
PV : 5% dari BB
ECF : 20% dari BB

11

Rumus di atas berlaku bila tidak ada syok: syok, sepsis atau hipoksemia
yang

berkepanjangan,

sebab

keadaan

tersebut

akan

mengganggu

kemampuan membran kapiler untuk membatasi perpindahan transvaskuler


protein serum.
Prinsip utama terapi cairan adalah menjaga keseimbangan masukan dan
keluaran cairan, serta mengantisipasi kemungkinan kehilangan cairan yang
terus berlangsung. Berbagai kondisi memerlukan pemberian kecepatan
cairan yang berbeda.Dalam praktek klinis, penggunaan cairan intravena
dapat bertujuan untuk: resusitasi, rumatan, penggantian dan redistribusi
VI.

cairan.(14)
Jenis-Jenis Cairan yang Digunakan(4,5,9,12)
Penggolongan jenis cairan berdasarkan sifat osmolaritasnya :
A. Cairan Hipotonik
Cairan hipotonik osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum
(konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut
dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik
dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan
berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai
akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel
mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam
terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi)
dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah
perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel,
menyebabkan

kolaps

kardiovaskular

dan

peningkatan

tekanan

intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Ini terjadi apabila jumlah
cairan yang hilang lebih sedikit daripada jumlah elektrolit yang hilang.
Kadar Na+ dalam plasma adalah 130 mEq/l dan osmolalitas efektif
serum 270 mOsm/L. Contohnya adalah NaCl 0,45% dan Dekstrosa
2,5%.
B. Cairan Isotonik
Cairan Isotonik osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati
serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam
pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi

12

(kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun).


Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada
penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Ini terjadi apabila
jumlah cairan yang hilang sebanding dengan jumlah elektrolit yang
hilang. Kadar Na+ dalam plasma 130-145 mEq/l dan osmolaritas efektif
serum 275-295 mOsm/L. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL),
dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
C. Cairan Hipertonik
Cairan hipertonik osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum,
sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam
pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan
produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya
kontradiktif dengan cairan hipotonik. Ini terjadi jika jumlah cairan yang
hilang lebih besar daripada jumlah elektrolit yang hilang. Kadar Na+
dalam plasma 130-150 mEq/l atau 145 mmol/L dan peningkatan
osmolalitas efektif serum 295 mOsm/L. Misalnya Dextrose 5%, NaCl
0,45% hipertonik, Dextrose 5% + Ringer-Lactate, Dextrose 5% + NaCl
0,9%, produk darah (darah), dan albumin.
Penggolongan jenis cairan berdasarkan kelompoknya :
A. Cairan Kristaloid
Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler. Cairan
kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid)
ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk
mengatasi defisit volume intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di
ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit.
Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling
banyak digunakan untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan
susunan yang hampir menyerupai cairan intravaskuler. Laktat yang
terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami metabolisme di hati
menjadi bikarbonat. Cairan kristaloid lainnya yang sering digunakan
adalah NaCl 0,9%, tetapi bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan
asidosis

hiperkloremik

(delutional

hyperchloremic

acidosis)

dan

menurunnya kadar bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida.

13

Karena perbedaan sifat antara koloid dan kristaloid dimana kristaloid


akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan dengan
koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di
ruang interstitiel.
Pada suatu penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam
jumlah sedikit larutan kristaloid akan masuk ruang interstitial sehingga
timbul edema perifer dan paru serta berakibat terganggunya oksigenasi
jaringan dan edema jaringan luka, apabila seseorang mendapat infus 1
liter NaCl 0,9. Selain itu, pemberian cairan kristaloid berlebihan juga
dapat menyebabkan edema otak dan meningkatnya tekanan intra kranial.
B. Cairan Koloid
Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut
plasma substitute atau plasma expander. Di dalam cairan koloid
terdapat zat/bahan yang mempunyai berat molekul tinggi dengan
aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak
lama (waktu paruh 3-6 jam) dalam ruang intravaskuler.
Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk resusitasi cairan
secara cepat terutama pada syok hipovolemik/hermorhagik atau pada
penderita dengan hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein yang
banyak (misal luka bakar). Berdasarkan pembuatannya, terdapat 2 jenis
larutan koloid:
1. Koloid alami
Dibuat dengan cara memanaskan plasma atau plasenta 60C selama
10 jam untuk membunuh virus hepatitis dan virus lainnya. Fraksi
protein plasma selain mengandung albumin (83%) juga mengandung
alfa globulin dan beta globulin.
2. Koloid sintetis
a. Dextran
Dextran 40 dengan berat molekul 40.000 dan Dextran 70
dengan berat molekul 60.000-70.000 diproduksi oleh bakteri
Leuconostoc mesenteroides B yang tumbuh dalam media
sukrosa. Walaupun Dextran 70 merupakan volume expander
yang lebih baik dibandingkan dengan Dextran 40, tetapi Dextran

14

40 mampu memperbaiki aliran darah lewat sirkulasi mikro


karena dapat menurunkan kekentalan (viskositas) darah.
Selain itu Dextran mempunyai efek anti trombotik yang
dapat mengurangi platelet adhesiveness, menekan aktivitas
faktor VIII, meningkatkan fibrinolisis dan melancarkan aliran
darah. Pemberian Dextran melebihi 20 ml/kgBB/hari dapat
mengganggu cross match, waktu perdarahan memanjang
(Dextran 40) dan gagal ginjal. Dextran dapat menimbulkan
reaksi anafilaktik yang dapat dicegah yaitu dengan memberikan
Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu.
b. Hydroxylethyl Starch (Heta starch)
Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000
1.000.000, rata-rata 71.000, osmolaritas 310 mOsm/L dan
tekanan onkotik 30 mmHg. Pemberian 500 ml larutan ini pada
orang normal akan dikeluarkan 46% lewat urin dalam waktu 2
hari dan sisanya 64% dalam waktu 8 hari. Low molecullar
weight Hydroxylethyl starch (Penta-Starch) mirip Heta starch,
mampu mengembangkan volume plasma hingga 1,5 kali volume
yang diberikan dan berlangsung selama 12 jam. Karena
potensinya sebagai plasma volume expander yang besar dengan
toksisitas yang rendah dan tidak mengganggu koagulasi maka
Penta starch dipilih sebagai koloid untuk resusitasi cairan pada
penderita gawat.
c. Gelatin
Larutan koloid 3,5-4% dalam balanced electrolyte dengan
berat molekul rata-rata 35.000 dibuat dari hidrolisa kolagen
binatang.
Tabel dibawah ini memperlihatkan keuntungan dan kerugian dari
masing-masing golongan cairan :
Nama
Kristaloid
Koloid
Keuntungan Tidak mahal

Mempertahankan
cairan
Aliran urin lancar
intravaskular lebih baik (1/3
(meningkatkan
cairan bertahan selama 24 jam)

15

Meningkatkan tekanan onkotik

volume

intravaskular)
plasma
Pilihan
cairan Membutuhkan volume yang
pertama

untuk

resusitasi perdarahan

lebih sedikit
Mengurangi kejadian edema

perifer
Dapat menurunkan TIK

Mengencerkan Mahal

Menginduksi
koagulopati
tekanan
osmotik
(dextran & helastarch)
koloid
Jika terdapat kerusakan kapiler,
Menginduksi edema
dapat
berpotensi
terjadi
perifer
perpindahan cairan ke interstitial
Insidensi terjadinya
Mengencerkan
faktor
dan trauma

Kerugian

edema

pulmonal

lebih tinggi

Membutuhkan
volume

yg

lebih

pembekuan dan trombosit

Berpotensi
menghambat
tubulus

renalis

dan

sel

retikuloendotelial di hepar
Kemungkinan adanya reaksi

besar

anafilaksis (dextran)
Efeknya sementara
Tabel 3. Keuntungan dan kerugian koloid dan kristaloid
VIII.

Jalur dan Cara Pemberian Terapi Cairan


A. Jalur Pemberian Terapi Cairan(5)
Secara umum telah disepakati bahwa pemberian terapi cairan dilakukan
melalui jalur vena, baik vena perifer maupun vena sentral melalui kanulasi
tertutup atau terbuka dengan seksi vena
1. Kanulasi Vena Perifer
Vena perifer atau superficial yang terletak dalam facia subkutan
merupakan akses paling mudah untuk terapi intravena. Adapun vena
perifer untuk akses terapi intravena antara lain (Smeltzer & Suzzane,
2001):
a. Sefalika berasal dari bagian radial lengan. Sefalika aksesorius
dimulai pada pleksus belakang lengan depan atau jaringan vena
dorsalis

16

b. Metakarpal merupakan titik mulai yang baik untuk kanulasi


intravena
c. Basilika dimulai dari bagian ulnar jaringan vena dorsalis, meluas ke
permukaan anterior lengan tepat di bawah siku di mana bertemu
vena mediana kubiti
d. Basilika mediana timbul dari fossa antekubiti, lebih besar dan kurang
berliku-liku daripada sefalika
e. Sefalika mediana timbul dari fossa antekubiti
f. Antebrakial mediana timbul dari pleksus vena pada telapak tangan,
meluas ke arah atas sepanjang sisi ulnar dari lengan depan
2. Kanulasi Vena Sentral
Kanulasi vena sentral adalah memasang kateter dari vena perifer ke
vena sentral
Vena sentral meliputi :
a. Vena besar intra torakal
o Vena cava superior
o Vena cava inferiot
b. Atrium kanan
Tempat tempat kanulasi:
a. Vena vena tengah : Vena Basilika, V. Cephalica
b. Vena Leher: vena yugularis externa, Vena yugularis interna.
c. Vena sub clavia.
d. Vena femoralis
e. Pada bayi baru lahir: vena umbilicalis
B. Cara Terapi Cairan(6)
Tetesan infus diatur sesuai program pengobatan, tidak boleh telalu cepat
atau terlalu lambat. Ada dua metode yang digunakan untuk menghitung
jumlah tetesan, yakni:
1. Jumlah mililiter/jam. Jumlah tetesan dihitung dengan membandingkan
volume cairan yang harus diberikan (ml) dengan lamanya pemberian (jam)
2. Tetesan/menit. Jumlah tetesan dihitung dengan mengalikan jumlah cairan
yang dibutuhkan (ml) dengan faktor tetes, kemudian membaginya dengan
lama pemberian (menit). Faktor tetes ditentukan berdasarkan alat yang
digunakan.
Rumus pemberian cairan:

17

Pedoman:
o Faktor tetes makro
: 20 tetes
o Faktor tetes mikro
: 60 tetes
o Faktor tetes dihitung berdasarkn mereknya
o 1 kolf
: 500 ml
IX.

Tatalaksana Terapi Cairan (8)


A. Terapi cairan resusitasi
Terapi cairan resusitasi ditujukan untuk menggantikan kehilangan
akut cairan tubuh atau ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk
memperbaiki perfusi jaringan. Misalnya pada keadaan syok dan luka
bakar. Terapi cairan resusitasi dapat dilakukan dengan pemberian infus
Normal Saline (NS), Ringer Asetat (RA), atau Ringer laktat (RL)
sebanyak 20 ml/kg selama 30-60 menit. Pada syok hemoragik bisa
diberikan 2-3 L dalam 10 menit.
B. Terapi rumatan
Terapi rumatan bertujuan memelihara keseimbangan cairan tubuh
dan nutrisi. Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35
ml/kgBB/hari dan elektrolit utama Na+ = 1-2 mmol/kgBB/hari dan K+ = 1
mmol/kgBB/hari. Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan yang
hilang akibat pembentukan urine, sekresi gastrointestinal, keringat (lewat
kulit) dan pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan insensible water
losses. Digunakan rumus Holiday Segar 4:2:1, yaitu:
o 4 ml/kg/jam untuk 10 kg pertama
o 2 ml/kg/jam untuk 10 kg kedua
o 1 ml/kg/jam tambahan untuk sisa berat badan
Terapi rumatan dapat diberikan infus cairan elektrolit dengan
kandungan karbohidrat atau infus yang hanya mengandung karbohidrat

18

saja. Larutan elektrolit yang juga mengandung karbohidrat adalah larutan


KA-EN, dextran + saline, DGAA, Ringer's dextrose, dll. Sedangkan
larutan rumatan yang mengandung hanya karbohidrat adalah dextrose 5%.
Tetapi cairan tanpa elektrolit cepat keluar dari sirkulasi dan mengisi ruang
antar sel sehingga dextrose tidak berperan dalam hipovolemik.
Pada pembedahan akan menyebabkan cairan pindah ke ruang ketiga, ke
ruang peritoneum, ke luar tubuh. Untuk menggantinya tergantung besar
kecilnya pembedahan, yaitu :
o 6-8 ml/kg untuk bedah besar.
o 4-6 ml/kg untuk bedah sedang.
o 2-4 ml/kg untuk bedah kecil.
X. Terapi Cairan Dehidrasi(1)
Secara sederhana prinsip penatalaksanaan dehidrasi adalah mengganti
cairan yang hilang dan mengembalikan keseimbangan elektrolit, sehingga
keseimbangan hemodinamik kembali tercapai. Selain pertimbangan derajat
dehidrasi, penanganan juga ditujukan untuk mengoreksi status osmolaritas
pasien. Terapi farmakologis dengan loperamide, antikolinergik, bismuth
subsalicylate, dan adsorben, tidak direkomendasikan terutama pada anak,
karena selain dipertanyakan efektivitasnya, juga berpotensi menimbul- kan
berbagai efek samping. Pada dehidrasi karena muntah hebat ondansetron
efektif membantu asupan cairan melalui oral dan mengatasi kedaruratan.
Pemberian makan segera saat asupan oral memungkinkan pada anak-anak
yang dehidrasi karena diare, dapat mempersingkat durasi diare. Susu tidak
perlu diencerkan, pemberian ASI jangan dihentikan. Disarankan memberikan
makanan tergolong karbohidrat kompleks, buah, sayur dan daging rendah
lemak. Makanan berlemak dan jenis karbohidrat simpel sebaiknya dihindari.
WHO sejak tahun 2004 juga telah menambahkan zinc dalam panduan terapi
diare pada anak.
A. Dehidrasi derajat Ringan-sedang
Dehidrasi derajat ringan-sedang dapat diatasi dengan efektif
melalui pemberian cairan ORS (oral rehydration solution) untuk
mengembalikan volume intravaskuler dan mengoreksi asidosis. Selama

19

terjadi gastroenteritis, mukosa usus tetap mempertahankan kemampuan


absorbsinya. Kandungan natrium dan sodium dalam proporsi tepat dapat
secara pasif dihantarkan melalui cairan dari lumen usus kedalam sirkulasi.
Jenis ORS yang diterima sebagai cairan rehidrasi adalah dengan
kandungan glukosa 2-3 g/dL, natrium 45-90 mEq/L, basa 30 mEq/L,
kalium 20-25 mEq/L, dan osmolalitas 200-310 mOsm/L. Banyak cairan
tidak cocok digunakan sebagai cairan pengganti, misalnya jus apel, susu,
air jahe, dan air kaldu ayam karena mengandung glukosa terlalu tinggi
dan atau rendah natrium. Cairan pengganti yang tidak tepat akan
menciptakan diare osmotik, sehingga akan makin memperburuk kondisi
dehidrasinya. Adanya muntah bukan merupakan kontraindikasi pemberian
ORS, kecuali jika ada obstruksi usus, ileus, atau kondisi abdomen akut,
maka rehidrasi secara intravena menjad alternatif pilihan. Defisit cairan
harus segera dikoreksi dalam 4 jam dan ORS harus diberikan dalam
jumlah sedikit tetapi sering, untuk meminimalkan distensi lambung dan
refl eks muntah. Secara umum, pemberian ORS sejumlah 5 mL setiap
menit dapat ditoleransi dengan baik. Jika muntah tetap terjadi, ORS
dengan NGT (nasogastric tube) atau NaCl 0,9% 20-30 mL/kgBB selama
1-2 jam dapat diberikan untuk mencapai kondisi rehidrasi. Saat pasien
telah dapat minum atau makan, asupan oral dapat segera diberikan.
B. Dehidrasi Derajat Berat
Pada dehidrasi berat dibutuhkan evaluasi laboratorium dan terapi
rehidrasi intravena, Penyebab dehidrasi harus digali dan ditangani dengan
baik. Penanganan kondisi ini dibagi menjadi 2 tahap:
1. Tahap Pertama
Berfokus untuk mengatasi kedaruratan dehidrasi, yaitu syok
hipovolemia yang membutuhkan penanganan cepat. Pada tahap ini
dapat diberikan cairan kristaloid isotonik, seperti ringer lactate (RL)
atau NaCl 0,9% sebesar 20 mL/kgBB. Perbaikan cairan intravaskuler
dapat dilihat dari perbaikan takikardi, denyut nadi, produksi urin, dan
status mental pasien. Apabila perbaikan belum terjadi setelah cairan

20

diberikan dengan kecepatan hingga 60 mL/kgBB, maka etiologi lain


syok

harus

dipikirkan

(misalnya

anafi

laksis,

sepsis,

syok

kardiogenik). Pengawasan hemodinamik dan golongan inotropik


dapat diindikasikan.
2. Tahap Kedua
berfokus

pada

mengatasi

defi

sit,

pemberian

cairan

pemeliharaan dan penggantian kehilangan yang masih ber- langsung.


Kebutuhan cairan pemeliharaan diukur dari jumlah kehilangan cairan
(urin, tinja) ditambah IWL. Jumlah IWL adalah antara 400-500
mL/m2 luas permukaan tubuh dan dapat meningkat pada kondisi
demam dan takipnea. Secara kasar kebutuhan cairan berdasarkan berat
badan adalah:
a. Berat badan < 10 kg = 100 mL/kgBB
b. Berat badan 10-20 kg = 1000 + 50 mL/ kgBB untuk setiap
kilogram berat badan di atas 10 kg
c. Berat badan > 20 kg = 1500 + 20 mL/ kgBB untuk setiap kilogram
berat badan di atas 20 kg
C. Dehidrasi Isotonik
Pada kondisi isonatremia, defi sit natrium secara umum dapat
dikoreksi dengan mengganti defi sit cairan ditambah dengan cairan
pemeliharaan dextrose 5% dalam NaCl 0,45-0,9%. Kalium (20 mEq/L
kalium klorida) dapat ditambahkan ke dalam cairan pemeliharaan saat
produksi urin membaik dan kadar kalium serum berada dalam rentang
aman.
D. Dehidrasi Hipotonik
Pada tahap awal diberikan cairan pengganti intravaskuler NaCl
0,9% atau RL 20 mL/ kgBB sampai perfusi jaringan tercapai. Pada
hiponatremia derajat berat (<130 mEq/L) harus dipertimbangkan
penambahan natrium dalam cairan rehidrasi. Koreksi defi sit natrium
melalui perhitungan = (Target natrium - jumlah natrium saat tersebut) x
volume distribusi x berat badan (kg). Cara yang cukup mudah adalah
memberikan dextrose 5% dalam NaCl 0,9% sebagai cairan pengganti.

21

Kadar natrium harus dipantau dan jumlahnya dalam cairan disesuaikan


untuk mempertahankan proses koreksi perlahan (<0,5 mEq/L/jam).
Koreksi kondisi hiponatremia secara cepat sebaiknya dihindari untuk
mencegah mielinolisis pontin (kerusakan selubung mielin), sebaliknya
koreksi cepat secara parsial menggunakan larutan NaCl hipertonik (3%;
0,5 mEq/L) direkomendasikan untuk menghindari risiko ini.
E. Dehidrasi Hipertonik
Pada tahap awal diberikan cairan pengganti intravaskuler NaCl
0,9% 20 mL/ kgBB atau RL sampai perfusi jaringan tercapai. Pada tahap
kedua, tujuan utama adalah memulihkan volume intravaskuler dan
mengembalikan kadar natrium serum sesuai rekomendasi, akan tetapi
jangan melebihi 10 mEg/L/24 jam. Koreksi dehidrasi hipernatremia
terlalu cepat dapat memiliki konsekuensi neurologis, termasuk edema
serebral dan kematian. Pemberian cairan harus secara perlahan dalam
lebih dari 48 jam menggunakan dextrose 5% dalam NaCl 0,9%. Apabila
pemberian telah diturunkan hingga kurang dari 0,5 mEq/L/jam, jumlah
natrium dalam cairan rehidrasi juga dikurangi, sehingga koreksi
hipernatremia dapat ber- langsung secara perlahan.
XI.

Komplikasi Terapi Cairan(5)


1. Gangguan keseimbangan cairan
Pada umumya akam terjadi kelebihan cairan dengan segala akibatnya,
sepertinya misalnya payah jantung dan odema baik di otak, paru jaringan
lainnya. Hal ini terjadi karena pemantauannya tidak adekuat
2. Gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa
Hal ini terjadi apabila pilihan cairan tidak tepat
3. Komplikasi akibat kanulasi
Terutama pada kanulasi vena sentral, bisa terjadi hematom, emboli udara,
pneumo-hidro-hematotoraks dan refleks vagal
4. Infeksi
Infeksi lokal pada jalur vena yang dilalui, menimbulkan rasa nyeri yang
hebat, keadaan ini bisa berlangsung lama. Kemungkinan terjadinya risiko
sepsis, tidak bisa dihindari apabila keadaan asepsis kurang diperhatikan,
terutama pada kanulasi vena sentral yang digunakan untuk memasukkan
obat suntik berulang
22

XII.

Prognosis Terapi Cairan


Pada umumnya baik, terutama jika mendapat penanganan cepat dan
adekuat. Kematian terjadi jika mempunyai penyakit dasar yang berat dan
penanganan yang tidak adekuat.

XIII.

Kesimpulan
1. Tubuh mengandung 60% air yang disebut juga cairan tubuh
2. Cairan tubuh terdiri dari 2 kompartemen, yaitu cairan intraselular dan
cairan ekstraselular. Cairan ekstraselular terbagi 2 juga, yaitu cairan
interstisial dan intravaskuler serta cairan transelular
3. Terapi cairan harus diperhatikan kebutuhannya sesuai usia, keadaan
pasien, cairan infus itu sendiri serta merek dari infus setnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Siregar P. 2009. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 5, Jilid 1. Jakarta : Internal Publishing. Hal.175188
2. Wilson L. 2006. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit serta Penilaiannya.
Patofisiologi, Edisi 6, Volume 1. Jakarta : EGC. Hal.308-326
3. Edwards M, Mythen M. 2014. Fluid Therapy in Critical Illnes. Extreme
Physiology

&

Medicine,

3:16.

http://www.extremephysiolmed.com/content/3/1/16. Hal.1-9
4. Dobson M. 2012. Prinsip Terapi Cairan dan Elektrolit. Penuntun Praktis
Anestesi. Jakarta : EGC. Hal.41-46
5. Mangku G, Gde T. 2010. Terapi Cairan. Buku Ajar Ilmu Anestesi dan
Reanimasi. Jakarta : PT Indeks. Hal.292-301
6. Mubarak W, Chayatin N. 2007. Pemenuhan Kebutuhan Cairan dan
Elektrolit. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia, Cetakan 1. Jakarta : EGC.
Hal.70-97
7. Kang M, Brindle N. 2007. Coloid or crystalloid : Any Differences in
Outcomes ?. British Journal of Hospital Medicine, April, Vol 68, No 4.
Hal.62-64

23

8. Leksana E. 2015. Strategi Terapi Cairan pada Dehidrasi. SMF Anestesi dan
Terapi Intensif RSUP dr Kariadi. Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro. CDK-224/ vol. 42 no.1. Hal.70-73
9. Kang M, Brindle N. 2007. Pendulum Swing : Crystalloid or coloid fluid
therapy. British Journal of Hospital Medicine, April, Vol 68, No 4. Hal.62-64
10. Juffrie M. 2004. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit pada
Penyakit Saluran Cerna. Sari Pediatri, Vol. 6, No.1 (Supplement), Juni.
Hal.52-59
11. Sweeney R, Alexandra R, Bedi A. 2013.Comparison of Effect of Rehydration
Fluids With DifferentCombinations of Isotonic Solutions In Children With
Dehydration. The Ulster Medical Society; 82(3). Hal 171-178
12. Pham T, Cancio L, Gibran N. 2008. Subcutaneous Infusion of Fluids for
Hydration or Nutrition:Review. Journal of Burn Care & Research. January/
February. Hal. 257-266

24