Anda di halaman 1dari 10

Seminar Nasional Serealia, 2013

PEMANFAATAN LIMBAH JAGUNG SEBAGAI PAKAN TERNAK


DI SULAWESI SELATAN
Eka Triana Yuniarsih dan M. Basir Nappu
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan

ABSTRAK
Selain sumber pangan, jagung juga menjadi komponen utama pakan ternak. Potensi limbah
jagung (brangkasan dan tgkol) di SulSel mencapai 495.608 t/tahun. Pemanfaatan limbah
jagung baik secara fisik, kimia, biologis dan kombinasinya di SulSel cukup pesat. Berdasarkan
hasil penelitian, pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan mencapai 92,5%. Limbah yang
paling banyak digunakan adalah daun. Teknologi pengolahan limbah menjadi pakan ternak
belum banyak diadopsi oleh petani, hanya sebagian kecil petani yang melakukan fermentasi
pada limbah yang akan dijadikan pakan ternak. Peran penyuluh sangat penting dalam rangka
optimalisasi penerapan teknologi pakan limbah tanaman pangan melalui pemberdayaan
masyarakat pola partisipatif. Sinergitas kebijakan Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat
perlu ditingkatkan dalam hal pengembangan pertanian ramah lingkungan melalui berbagai
program yang mendukung pengembangan pemanfaatan limbah jagung menjadi pakan ternak.
Strategi yang dilaksanakan oleh pemerintah diupayakan dapat menghasilkan suatu program
kegiatan berupa dukungan ketersediaan bahan baku, sarana dan prasarana, teknologi, serta
mitra usaha untuk keberlanjutan produksi pakan ternak.
Kata kunci: jagung, limbah, pakan ternak

PENDAHULUAN
Sulawesi Selatan sebagai salah satu sentra produksi jagung memiliki peran
yang sangat besar dalam menunjang ketahanan pangan nasional. Luas panen jagung
pada tahun 2011 mencapai 296.421 ha dengan produksi 1.416.182 t atau produktivitas
rata-rata sekitar 4,78 t/ha. Produktivitas tersebut masih tergolong rendah karena
potensi produksi jagung bisa mencapai 10 t/ha, tergantung pada potensi lahan dan
teknologi produksi yang diterapkan (Subandi, et al. 2006).
Terkait dengan pengembangan pakan ternak, diarahkan untuk mengoptimalkan
pemanfaatan bahan baku pakan lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap
impor bahan baku pakan. Secara umum untuk pengembangan pakan memiliki
permasalahan, antara lain: (a) kebutuhan bahan baku pakan tidak seluruhnya dipenuhi
dari lokal sehingga masih mengandalkan impor, (b) bahan baku pakan lokal belum
dimanfaatkan secara optimal, (c) ketersediaan pakan lokal tidak kontinyu dan kurang
berkualitas, (d) penggunaan tanaman legum sebagai sumber pakan belum optimal, (e)
pemanfaatan lahan tidur dan lahan integrasi masih rendah, (f) penerapan teknologi
hijauan pakan masih rendah, (g) produksi pakan nasional tidak pasti akibat akurasi

329

Eka Triana Yuniarsih dan M. Basir: Pemanfaatan Limbah Jagung

data yang kurang tepat, serta (h) penelitian dan aplikasinya tidak sejalan (Syamsu dan
Abdullah 2009).
Limbah pertanian tidak semuanya dimanfaatkan oleh petani, penyebabnya
adalah : a) umumnya petani membakar limbah tanaman pangan karena secepatnya
akan dilakukan pengolahan tanah, b) limbah tanaman pangan bersifat kamba sehingga
menyulitkan peternak untuk mengangkut dalam jumlah banyak untuk diberikan kepada
ternak, dan umumnya lahan pertanian jauh dari pemukiman peternak sehingga
membutuhkan biaya dalam pengangkutan, c) tidak tersedianya tempat penyimpanan
limbah tanaman pangan, dan peternak tidak bersedia menyimpan/menumpuk limbah di
sekitar rumah/kolong rumah karena takut akan bahaya kebakaran, d) peternak
menganggap bahwa ketersediaan hijauan di lahan pekarangan, kebun, sawah masih
mencukupi sebagai pakan ternak (Liana dan Febriana 2011).
Pengembangan peternakan sangat terkait dengan pengembangan suatu
wilayah. Sulawesi Selatan sebagai salah satu propinsi di Indonesia memiliki potensi
cukup besar untuk pengembangan peternakan. Daerah ini pernah dikenal sebagai
lumbung ternak, dengan kemampuan memasok ternak ke daerah lain dalam rangka
pengadaan ternak nasional (Syamsu et al. 2003).

DINAMIKA PRODUKSI JAGUNG DAN PENERAPAN TEKNOLOGI


Wilayah Sulawesi Selatan secara geografis terbagi menjadi 21 kabupaten dan 3
kota. Daerah produksi jagung di Sulawesi Selatan adalah Bulukumba, Bantaeng, Bone
dan Jeneponto. Gambaran mengenai perkembangan usahatani jagung, dapat dilihat
pada Tabel 1.
Data produksi jagung periode 2002 2011 di Sulawesi Selatan bersifat
fluktuatif, rata-rata produksi setiap tahun adalah 970.960 t/ha dengan pertumbuhan
9,60% Faktor yang mempengaruhi adalah tingkat produksi dan produkstivitas dan luas
panen. Tingkat pertumbuhan produktivitas jagung adalah 14,10% tidak sejalan dengan
kenaikan luas lahan panen yang terus mengalami penurunan, dengan tingkat
pertumbuhan mencapai -4,50 (Tabel 1). Selain itu juga faktor internal petani sangat
mempengaruhi produksi jagung, di antaranya seperti masih banyak petani yang
menggunakan benih lokal, terbatasnya penggunaan benih bermutu karena harga benih
bermutu cukup mahal di tingkat petani (Subandi 2005).

330

Seminar Nasional Serealia, 2013

Tabel 1. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Jagung di Sulawesi Selatan


Tahun
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
Rata-rata
Pertumbuhan (%)

Produksi (t)
661.005
650.832
674.716
705.995
696.433
969.955
1.195.691
1.395.742
1.343.044
1.416.182
970.960
9,60

Luas Panen
(ha)

Produktivitas
(t/ha)

205.909
213.818
196.393
206.569
206.307
262.436
285.094
299.669
303.375
296.421
247.599
-4,50

3,210
3,044
3,436
3,418
3,373
3,696
4,194
4,658
4,427
4,778
3,82
14,10

Data Sekunder : BPS, 2011

Pemanfaatan benih jagung hibrida di Indonesia sekitar 30%-40%. Dilihat dari


aspek hasil panen, varietas lokal hanya mampu menghasilkan sekitar 2-3 t/ha,
sementara varietas hibrida berkisar 8-10 t/ha. Untuk itu, ditinjau dari aspek
produktivitas dan ketersediaan teknologi budidaya, peluang untuk meningkatkan
produktivitas jagung ditingkat petani masih terbuka luas.
Peran aktif petani dalam penerapan teknologi sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan produksi jagung. Pengenalan terhadap teknologi pengolahan lahan
sampai pemanenan harus terus dilakukan oleh pemerintah melalui penyuluhan.
Penerapan teknologi jagung yang dilakukan petani dapat dilihat pada Tabel 2.
Berdasarkan Tabel 2, petani menggunakan ternak atau traktor untuk
pengolahan lahan, varietas yang ditanam 75% adalah benih berlabel berasal dari
programBantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) sebanyak 15 kg/ha, ditanam dengan
jarak 20-40 x 70-80 cm. Penggunaan pupuk an-organik pada tanaman jagung adalah
Urea 150 kg/ha, NPK 70 kg/ha, dan ZA 60 kg/ha.

Pengendalian hama penyakit

dilakukan secara intensif, yakni pengendalian gulma, hama penggerek tgkol, dan
penyakit busuk buah. Petani melakukan panen sesuai dengan rekomendasi yakni
pada umur 105 120 HST, selanjutnya dilakukan pemipilan dan penjemuran selama 2
hari. Peningkatan produksi jagung tidak terbatas hanya pada pengolahan tanah dan
kerapatan tanaman saja, tetapi dapat juga dengan menggunakan varietas yang sesuai,
karena tanaman jagung ada yang tidak sesuai pada daerah tertentu yang kondisi
tanahnya kurang subur (Subandi, 2005).

331

Eka Triana Yuniarsih dan M. Basir: Pemanfaatan Limbah Jagung

Tabel 2. Penerapan Teknologi Produksi Jagung di Sulawesi Selatan


Uraian
Persiapan lahan

Varietas
Sumber benih
a. Petani lain
b. Penangkar Benih
c. Pedagang Benih
d. Program pemerintah
Jumlah benih
Jarak tanam
Penggunaan pupuk
a. Urea
b. NPK
c. ZA
Pengendalian hama penyakit
Panen
Pascapanen

Keterangan
Pengolahan dilakukan dengan menggunakan ternak
sapi dengan biaya sewa Rp. 50.000/hari dan traktor
dengan sewa Rp. 750.000/ha
Bima, Bisi 2, Bisi 816, CP7, Pioner, lokal putih
7,5%
12,5% (Berlabel)
10,0% (Berlabel)
75,0% (Berlabel)
15 kg/ha
30 x 75 cm
150 kg/ha
70 kg/ha
60 kg/ha
Intensif
105 120 hari setelah tanam (HST)
Pemipilan dilanjutkan penjemuran 1 2 hari

Sumber : Data Sekunder, 2012.

POTENSI LIMBAH JAGUNG


Potensi limbah pertanian pada 10 kabupaten di Sulawesi Selatan dan belum
dimanfaatkan sekitar 3.314.503 t/tahun. Limbah pertanian riil yang paling potensial
adalah padi (jerami dan sekam) mencapai 2.436.912 t/tahun), serta jagung
(brangkasan dan tgkol) mencapai 495.608 t/tahun. Daerah potensial penghasil limbah
pertanian yaitu Bone, Bulukumba, Pinrang, Sidrap, dan Gowa (Nappu et al. 2010).
Jumlah produksi bahan kering limbah tanaman pangan di Sulawesi Selatan
adalah 5.883.996 t, dengan persentase produksi terbesar adalah jerami padi sebesar
73.29% (4.312.125 t), kemudian jerami jagung 19.68% (1.157.874 t), jerami kacang
tanah 3.03% (178.206 t) dan jerami kacang hijau 1.92% (113.028 t). Untuk pucuk ubi
kayu, jerami kedelai dan jerami ubi jalar masing-masing 0.81%, 0,83% dan 0,45% dari
total produksi limbah tanaman pangan di Sulawesi Selatan. Beberapa kabupaten
memiliki produksi limbah tanaman pangan yang lebih tinggi dibandingkan daerah
lainnya. Lebih dari 50% produksi limbah tanaman pangan berada di kabupaten Bone
15,20%, Pinrang 7,69%, Wajo 7,64%, Bulukumba 7,61%, Gowa 7,04%, Jeneponto
6,56%, dan Sidrap 6,45% (Anonymous 2012). Optimalisasi pemanfaatan limbah
tanaman pangan sebagai pakan ternak di Sulawesi Selatan, memerlukan berbagai
upaya pendekatan dan program secara holistik.

332

Seminar Nasional Serealia, 2013

Sebagian besar limbah jagung dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan.


Dengan sentuhan teknologi sederhana, limbah itu dapat diubah menjadi pakan bergizi
dan sumber energi bagi ternak. Limbah pertanian atau limbah industri pengolahan hasil
pertanian dapat dikelompokkan berdasarkan kandungan proteinnya (Tabel 3).
Tabel 3. Proporsi limbah tanaman jagung, kadar protein kasar dan nilai kecernaan
bahan kering limbah jagung.
Limbah
Jagung

Kadar air

Proporsi
limbah (%
BK)

Protein
kasar (%)

Kecernaan BK
in vitro (%)

Palatabilitas

Batang

70-75

50

3,7

51

rendah

Daun

20-25

20

7,0

58

tinggi

Tgkol

50-55

20

2,8

60

rendah

Kulit Jagung

45-50

10

2,8

68

tinggi

Sumber : Mccutcheon, J. dan D. Samples (2002)

Saat ini limbah tanaman jagung dibuang atau dibakar saja dan hanya sebagian kecil
peternak yang memanfaatkannya sebagai pakan. Kandungan nutrisi jerami jagung
(daun) adalah protein kasar 5.80 %, serat kasar 27.38%, lemak kasar 2,90 % dan abu
20,8.21 % (Hasil analisa Lab. Kimia Pakan Unhas 2012). Pemanenan yang dilakukan
dengan umur panen yang berbeda-beda akan menghasilkan nutrisi yang berbeda pula,
hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kandungan nutrisi jerami jagung pada berbagai umur panen
Umur Panen
15 -28 hari

Bahan Kering (%)


15

Protein Kasar(%)
18.6

TDN(%)
65.2

43 56 hari

30

6.8

57.1

99-112 hari

50

5.2

40.1

Sumber : Reksohadiprojo(1994)

PEMANFAATAN LIMBAH JAGUNG


Jerami jagung merupakan limbah pertanian yang banyak terdapat di pedesaan
dan hampir merata di lahan kering. Hasil pertanian seperti jerami jagung jika dicampur
dengan bahan pakan lain yang mempunyai kandungan nutrien lengkap akan
menghasilkan susunan pakan yang rasional dan murah. Jerami jagung merupakan
sisa dari tanaman jagung setelah buahnya dipanen dan dapat diberikan pada ternak,

333

Eka Triana Yuniarsih dan M. Basir: Pemanfaatan Limbah Jagung

baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk kering. Pemanfaatan jerami jagung
sebagai pakan ternak telah dilakukan terutama untuk ternak sapi, kambing, dan domba
(Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia 2006 ).
Pengolahan terhadap limbah sebagai pakan telah banyak dilakukan yaitu
secara fisik, kimia, biologis dan kombinasinya. Pengolahan secara kimia menghasilkan
residu yang menyebabkan pencemaran lingkungan, sehingga pengolahan secara
kimia kurang dianjurkan. Pengolahan secara biologis dengan memanfaatkan bantuan
mikroorganisme saat ini banyak dilakukan, karena lebih ramah terhadap lingkungan
(Saraswati et al. 2005)
Pemanfaatan limbah jagung sebagai pakan ruminansia di Sulawesi Selatan
meningkat dengan pesat. Berdasarkan hasil penelitian, pemanfaatan limbah sebagai
pakan mencapai 92,5%. Faktor yang mempengaruhi antara lain, jumlah hijauan pakan
yang mulai berkurang sehingga limbah jagung mulai digunakan sebagai pakan dan
7,5% petani lainnya menggunakan limbah jagung sebagai pupuk organik untuk
lahannya, yaitu dengan mengembalikan limbah tersebut ke lahan.
Sebagian

besar

petani

belum

menggunakan

teknologi

dalam

proses

pengolahannya baik diolah sebagai pakan ataupun pupuk tetapi hanya 25% petani
yang menggunakan teknologi dalam proses pengolahannya, yaitu melakukan
fermentasi sederhana. Sedangkan, 75% petani lainnya memberikan limbah jagung
secara langsung pada ternaknya. Walaupun hampir semua limbah pertanian
mengandung serat kasar tinggi detapi dengan penerapan teknologi yang sederhana
limbah tersebut dapat diubah menjadi sumber energi bagi ternak.
Bagian limbah yang dimanfaatkan diantaranya 92,5% berupa daun, 5% batang,
dan 2,5% klobot. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa daun memiliki
palatabilitas yang tinggi dengan kadar air yang rendah dengan BK 20%, PK 7,0%,
sedangkan batang dan klobot memiliki palatabilitas dan protein kasar yang rendah
(Tabel 5).

334

Seminar Nasional Serealia, 2013

Tabel 5. Pemanfaatan limbah jagung di Sulawesi Selatan


No.
1

Uraian

Keterangan

Pemanfaatan limbah
a. Memanfaatkan
b. Belum memanfaatkan

90%
10%

Bagian limbah yang dimanfaatkan


a. Daun
b. Batang
c. Klobot

92,5%
5%
2,5%

Pemanfaatan limbah jagung untuk :


a. Pakan ternak sapi
b. Bahan pupuk organik

92,5%
7,5%

Pemanfaatan teknologi pengolahan


limbah
a. Sudah menggunakan
b. Belum menggunakan

25%
75%

Sumber : Anonymous (2012)

Saat ini limbah tanaman jagung dibuang atau dibakar saja dan hanya sebagian
kecil peternak yang memanfaatkannya sebagai pakan. Kandungan nutrisi jerami
jagung (daun) terdiri dari protein kasar 5.80%, serat kasar 27.38%, lemak kasar 2,90%
dan abu 20,8.21% (Hasil Analisis Lab. Kimia Pakan Unhas 2012).
Teknologi Pemanfaatan Limbah Jagung Sebagai Pakan
Kualitas jerami jagung sebagai pakan ternak dapat ditingkatkan dengan
teknologi silase yaitu proses fermentasi yang dibantu jasad renik dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Teknologi silase dapat mengubah jerami jagung dari sumber
pakan berkualitas rendah menjadi pakan berkualitas tinggi serta sumber energi bagi
ternak.
Pembuatan silase terdiri dari bahan baku utama, yaitu jerami jagung 1 t (kadar
air 60-70%) sedangkan bahan pencampur terdiri dari urea 2,5 kg, gula saka/molases 4
kg dan dedak halus 5 kg. Proses pembuatan silase dilaksanakan dalam beberapa
tahap yaitu tahap fermentasi, pengeringan dan penyimpanan (Anonymous, 2010).
Strategi Pemanfaatan Limbah Jagung
Tolok ukur keberhasilan pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan
adalah termanfaatkannya limbah tanaman pangan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Pemanfaatan limbah tanaman sebagai pakan merupakan pencapaian teknologi secara

335

Eka Triana Yuniarsih dan M. Basir: Pemanfaatan Limbah Jagung

berkesinambungan dengan sistem pemeliharaan ternak, yang intensif dan peningkatan


skala usaha ternak, pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan peternak.
Berdasarkan hasil penelitian Syamsu dan Abdullah (2009), bahwa strategi
pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai sumber pakan ternak ruminansia di
Sulawesi Selatan, mengacu pada tahapan-tahapan di antaranya; (1) pengembangan
kawasan pola integrasi sapi potg dengan padi dan jagung, (2) optimalisasi penerapan
teknologi pakan limbah tanaman pangan melalui pemberdayaan masyarakat pola
partisipatif, (3) membangun industri pakan berbasis bahan baku sumberdaya limbah
tanaman pangan, (4) pengembangan sarana alat pengangkutan dan tempat
penyimpanan limbah tanaman pangan di pedesaan, dan (5) penyediaan modal usaha
dari pemerintah dan lembaga keuangan melalui kerjasama dengan kelembagaan
peternak (kelompok, koperasi).
Beberapa lembaga pelaku yang terlibat dalam upaya pemanfaatan limbah
jagung sebagai pakan ternak ruminansia adalah kelompok tani, koperasi dan usaha
kecil menengah, lembaga keuangan, pemerintah, perguruan tinggi, serta organisasi
pengusaha peternakan. Di sisi lain, masyarakat yang dapat terlibat adalah petani
peternak, pemerintah daerah, pengusaha, manajemen koperasi dan usaha kecil
menengah, serta pasar domestik.
Strategi yang dilaksanakan oleh pemerintah diupayakan dapat menghasilkan
suatu program kegiatan yang dapat mendukung pengembangan pemanfaatan limbah
jagung, di antaranya pemetaan dan penentuan lokasi kawasan yang sesuai dengan
kondisi wilayah dan masyarakat, penentuan teknologi pakan limbah yang sesuai
dengan agroekosistem setempat, penyusunan studi kelayakan pengembangan industri
pakan berbasis bahan baku limbah jagung, penentuan lokasi industri yang tepat dan
sesuai dengan ketersediaan bahan baku limbah jagung, pengembangan produk pakan
limbah dengan harga terjangkau, serta pengembangan infrastruktur industri pakan.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
1. Limbah jagung di Sulawesi Selatan sangat potensial dikembangkan mengingat
Sulawesi Selatan merupakan sentra jagung di kawasan Indonesia Timur
2. Pengembangan sistem integrasi tanaman - ternak perlu didukung oleh
kebijakan

pemerintah

setempat,

mengaplikasikan dilahannya.

336

sehingga

mendorong

petani

untuk

Seminar Nasional Serealia, 2013

3. Pengembangan inovasi teknologi yang praktis dalam hal pemanfaatan limbah


pertanian harus terus dilakukan guna memudahkan petani dalam mengolah
limbah pertaniannya.
Saran
1. Sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, guna
mendorong pengembangan pertanian ramah lingkungan.
2. Peran aktif penyuluh sangat diperlukan, guna membina dan meningkatkan
pengetahuan petani dan peternak di daerah.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2010. Teknologi Pembuatan Silase Jagung Untuk Pakan Sapi Potg.
http://sumbar.litbang.deptan.go.id. Diakses tanggal 27 Mei 2012.
Anonymous. 2012. Limbah Pertanian Pakan Ternak. Friday, June 01, 2012
(http://dedykoe.blogspot.com/2012/06/limbah-pertanian-sebagai-pakanternak.html, (diakses 09 Juli 2012)
Badan Pusat Statistik. 2012. Sulawesi Selatan Dalam Angka, 2011.
Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia. 2006.
ruminansia, Jakarta.

Limbah tanaman sebagai pakan

Liana dan Febriana. 2011. Pemanfaatan Limbah Pertanian Sebagai Pakan Ruminansia
pada Peternak Rakyat di Kec. Rengat Barat Kab. Inragiri Hulu. Fakultas
Pertanian Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Jurnal
Peternakan Vol 5 No 1 Februari 2008 (28-37)
Mccutcheon, J. dan D. Samples. 2002. Grazing Corn Residues. Extension Fact Sheet
Ohio State University Extension. Us. Anr 10-20.
Nappu, M.B., P. Tandisau., M. Thamrin. N. Razak., M. Musyafir., A. Ahmad., S. Saud.
2010. Survai Dan Observasi Potensi Limbah Pertanian Di Sulawesi Selatan.
Kerjasama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan Dengan PT.
Semen Tasa, 2010.
Reksohadiprodjo. 1994.
Yogyakarta.

Produksi

Hijauan

Makanan

Ternak

Tropika.

BPFE.

Septiono. 2009. Peluang Pemanfaatan Jagung.rtf.(http://respository.unila.ac.id:8180,


diakses 09 Juli 2012).
Subandi, Zubachtiroddin, S. Saenong, dan I.U. Firmansyah. 2006. Ketersediaan
Teknologi Produksi dan Program Penelitian Jagung. Dalam Prodising Seminar
Lokakarya Nasional Jagung 29-30 September 2005, di Makassar.
Puslitbangtan. Hal 11-40.

337

Eka Triana Yuniarsih dan M. Basir: Pemanfaatan Limbah Jagung

Subandi, 2005. Kebutuhan Benih Jagung di Indonesia. Materi Sosialisasi Produksi dan
Distribusi Benih Unggul Jagung Nasional. Balai Penelitian Tanaman Jagung
dan Serealia lainnya di Maros Sulawesi.
Syamsu, J.A., L.A. Sofyan, K. Mudikdjo dan E. Gumbira Sa'id. 2003. Daya dukung
limbah pertanian sebagai sumber pakan ternak ruminansia di Indonesia.
Wartazoa 13(1) : 30-37.
Syamsu, J.A. dan A. Abdullah. 2009. Analisis Startaegi Pemanfaatan Limbah Tanaman
Pangan Sebagai Pakan Ruminansia Di Sulawesi Selatan. Jurnal Ekonomi
Pembangunan FE Univ. Mihammadiyah Surakarta. Vo. 10, No. 2, Desember
2009, hl. 199-214.

338