Anda di halaman 1dari 3

HENTAKAN YANG DIRINDUKAN

DULU..... engkau tak gemetar


Mundurpun enggan kau
Meski pistol penjajah mengincar
Satu langkah mundur tak pernah
Kini pejuang itu tertegun lesu
Melihat anaknya tak
Tuhan....
Apakah ini sebuah kutukan
Semangat perjuangan hanya tinggal kenangan
Yang kian lesu untuk
Semangat kesatuan punah sudah
Bagaikan ..
Saling hujat saling menyikut
Seolah menjadi penyakit akut
Media sosial

ibarat pisau bermata ganda


satu sisi memberikan edukasi
sisi lain membuat provokasi

Bagaikan pungguk merindukan bulan


Jiwa ini tenggelam dalam kesedihan
Kini tekad itu hanya sebatas ucapan

Pelangi itu tak henti menyeka diri


Mendorong hati dalam pikir ini
Menjerat jiwa menggores pena
Dalam kertas tak bernyawa
Hidupkan lagi lentera itu
Menjelma korek api menjadi bomerang
Kobarkan kembali semangat pertiwi
Menjadi satu pemuda pemudi

Dalam pribadi rajawali, teguh dalam sanubari


Hidup Indonesiaku, kita semua satu
88 TAHUN USIA SUMPAH PEMUDA
TONGGAK BERSEJARAH TERWUJUDNYA INDONESIA
DULU DAN KINI JELAS TERLIHAT BETAPA PENTINGNYA ANAK MUDA BERGERAK
MENGAMBIL BEBAN SEJARAH MENGHIDUPI TERUS MENERUS MAKNA MERDEKA
MEMANDU NASIB BANGSA
TEGAK MENJAWAB PANGGILAN ZAMAN
FOKUS CINTA GERAKAN PERDAMAIAN/ JIWAMU DUTA PERDAMAIAN
PEMUDA YANG BUKAN LIHAI BUAT STATUS
ARUS GLOBALISASI DERAS IDEOLOGI PUN BABLAS
HARUS SALING MENGENAL AGAR TIDAK TERPROVOKASI
ITIKAT DAMAI BUKAN SOLUSI TANPA AKSI
SOSIAL MEDIA HANYA MENYEBAR PESAN KEBENCIAN
MELAWAN DENGAN TINDAKAN POSITIF
KEBENCIAN HANYA BISA DIJAWAB DENGAN CINTA
MEMBERI CINTA TERUS MENERUS MAKA BENCI KAN TERGERUS

kepalkan dengan semangat jiwa


menata kemajuan bangsa
kamu pemuda pencipta surga indonesia
hidupmu bukan debu, pencemar pengotor negara
hidupmu bukan benalu, perusak bumi yang layu
ragamu bukan batu, yang tercipta dalam debu
ragamu bukan putri malu, surut mundur tak ingin maju
hidupmu lampu penerang bangsa
hidupmu madu pemanis derita jelata
rgamu udara yang melaju
ragamu buas harimaumu

Darah sang Pemuda


Semangatmu
pejuang
nyawamu
demi sebuah kebebasan

laksana
tangguh

setiap
engkau

pedang
perang
pertaruhkan

langkahmu tegas penuh keberanian


menumpas segala kejahatan
kebenaran selalu engkau utamakan
tak perduli tahta dan jabatan
Suaramu bagai gelagar petir
di tengah badai kehidupan
yang penuh tantangan
Jiwamu bagai pelangi
ribuan warna satu hati
penegak bendara bangsa
Indonesia raya tercinta
28 Oktober kami peringati
bukti Nasionalisme kami
Pada Negeri Ibu Pertiwi
Indonesia Harga Mati