Anda di halaman 1dari 2

Kami ingin membahas terkait seberapa prioritas kah proyek ini.

Penyebab banjir dalam hal ini, pada prinsipnya terjadi penurunan muka
tanah kemudian air pasang dari laut masuk. Jika tujuan utama yg
diprioritaskan dalam proyek ini adalah penanganan banjir jakarta jangka
panjang, dalam mengambil solusi ini kenapa tidak lebih mengutamakan
fokus

pada

mengkaji

penyebab-penyebab

penurunan

muka

tanah

kemudian dibuatkan solusi yang meminimalisir atau menghentikan


penurunan muka tanah tersebut. Toh, penyebab banjir di Jakarta tidak
hanya berasal dari air laut saja, ada faktor seperti penyumbatan saluran
drainase, dimana hal tersebut terjadi di daratan, banjir kiriman dari bogor
dan faktor lain-lain. Seperti yang kita ketahui, proyek ini mutlak
menyebabkan degradasi lingkungan laut. Selain itu juga memakan biaya
yang

besar.

Fondasi

tanggul

laut

Teluk

Jakarta

lebih

dalam

jika

dibandingkan dengan tanggul Afsluitdijk di Belanda, artinya memerlukan


biaya jauh lebih besar. Demikian pula biaya pengurukan pulau-pulaunya.
Lalu bukankah akan sangat mahal pula biaya ekonomi dan sosial untuk
memindahkan berbagai pemangku kepentingan di situ, termasuk nelayan
dan mereka yang bertumpu hidup pada ekonomi pesisir.
Lalu yang kami lihat dalam proyek ini seakan-akan proyek ini dititik
beratkan atau ditekankan untuk kegiatan bisnis, konten isu lingkunganya
kecil. Maksudnya, pada intinya kan proyek ini diharapkan dapat mengatasi
luapan air yg bersumber dari laut, bagaimana jika banjir datang dari
bogor? Atau faktor lain. Pembahasan penanganan banjir dalam proyek ini
pada prinsipnya hanya sebatas itu. Kemudian seiring dengan itu tanggul
tersebut dijadikan pusat bisnis, wisata dan bahkan ada isu gedunggedung pemerintahan akan direlokasi kesitu. Jika begitu seberapa persen
kah proyek tersebut ditujukan atau diprioritaskan untuk menangani
permasalahan banjir?
Kemudian yang ingin kami utarakan bagaimana tanggapan penulis
makalah dokumen perencanaan ini jika ada pertanyaan, benarkah ini akan
menguntungkan warga Jakarta, atau sekadar memenuhi hasrat swasta
untuk mencetak dan menjual tanah? Bagaimana jika pembangunan ini

hanya modus melindungi properti perumahan, pergudangan swasta, dan


kawasan elite. Sebaliknya, dua pelabuhan ikan tradisional akan ditutup
dan puluhan bahkan ratusan ribu warga nelayan harus dipindahkan.
Jika harga tanah di pulau-pulau buatan itu dimisalkan puluhan juta
per meter persegi akibat mahalnya biaya pembangunan proyek. Investor
swasta yang terlibat hampir mustahil menyediakan lahan murah untuk
orang-orang miskin yang tergusur. Mereka akan membangun pasar real
estate kelas atas.
Pengurukan laut (reklamasi) akan merusak ekosistem Teluk Jakarta,
menghilangkan sepenuhnya hutan mangrove. Padahal, hutan ini berperan
penting sebagai benteng alami daratan dari gempuran air laut, tempat
hunian beragam satwa khas, serta sebagai tempat berkembang biak
aneka hewan laut. Pengurukan akan mengancam sektor perikanan lokal,
tumpuan hidup nelayan, dan memicu konflik sosial. Proyek pembangunan
wilayah pesisir tidak bisa menyelesaikan semua masalah begitu saja.
Prioritas harus diletakkan untuk mengevaluasi tata ruang kota Jakarta
secara keseluruhan, memperbaiki kualitas sungai, menghentikan laju
penggunaan air tanah, serta pengendalian lingkungan di kawasan hulu.
Proyek ini bisa disebut tidak masuk akal karena akan merusak lingkungan
pantai Jakarta secara keseluruhan serta menyalahi konsep pembangunan
maritim yang dipromosikan Presiden Joko Widodo. Membangun tanggul
laut raksasa untuk mencegah banjir Jakarta ibarat memakai crane
berkapasitas 100 ton untuk mengangkat amplop 100 gram.