Anda di halaman 1dari 30

DivPraktikum | PDU Beta 2014

MODUL SKILL LAB BLOK 16


SKILL LAB I : Anamnesis Sistem Respiratory
Cr : M. Afif Baskara Emirzon
I.

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)


PPOK merupakan penyakit dengan karakteristik hambatan aliran udara menetap dan
Progresif yang disertai dengan peningkatan respon inflamasi kronis pada saluran napas dan paru
terhadap partikel.
Faktor Resiko
1. Orang Tua (Usia >50 tahun)
2. Perokok
3. Polusi ; berupa bahan biomass untuk memasak, memanaskan dan polusi Lingkungan
4. Riwayat penyakit pernapasan ketika masa kanak-kanak
5. Riwayat PPOK pada keluatga
6. Defisiensi alfa1-antitripsin
Gejala yang sering ditimbulkan, Pasien datang dengan keluhan;
1. Sesak Napas
Sesak Napas pada pasien PPOK semakin parah setelah melakukan aktivitas fisik
2. Batuk ( Batuk Kronis) Tanyakan Batuk sudah berapa lama?
Batuk Kronis adalah batuk yang hilang timbul dan sudah berlangsung > 2 minggu. Pada
kasus PPOK batuk dapat terjadi sepajngan hari atau intermiten dan semakin parah pada
malam hari.
3. Berdahak Kronis
Pada Pasien PPOK, Sputum membanyak pada pagi hari ketika bangun tidur
4. Demam
Pasien dikatakan PPOK apabila;
1. Sesak Napas
2. Batuk Kronis
3. Berdahak Kronisk ( Banyak Pada Pagi Hari)
4. Faktor Resiko
a. Usia Tua (>50Tahun)
b. Riwayat Perokok (aktif)
Daignosis banding
1. Asma,
2. Sindrom Obstruksi Paska TB (SOPT),
3. Gagal jantung kongestif,
4. Bronkletasis,
5. TB,
6. Bronkilotis obliteratif, dan
7. penbronkiolitis

II.

Asma
Asma Aalah penyakit inflmasi krnois pada saluran pernapasan memnyebabkan
hiperresponsif, obstruksi dan aliran udara yang terbatas disebabkan oleh bronkokontriksi,
penumpukan mucus, dan proses inflamasi.
Faktor Resiko
1. Anak usia > 5 Tahun (jika Usia < 5 tahun diduga infeksi Virus berulang)

PDU BETA 2014

DivPraktikum | PDU Beta 2014


2. Riwayat Keluarga terdapat Asma
Faktor Pencetus
1. Aktivitas Fisik (ringan, Sedang, berat)
2. Alergen (bedu, tungau, bulu hewan, asap rokok, dll.)
3. Suhu Digin (musim hujan/dingin)
4. Obat-obatakn (Aspirin dan beta Blocker)
5. Infeksi Pernapasan (obstruktif)
Gejala yang sering ditimbulkan;
1. Sesak Napas;
a. Mengi Saat Ekspirasi
b. Dada terasa diikat (chest tightness)
c. Semakin buruk pada Malam hari
d. Semakin buruk pada Suhu dingin (musim hujan/dingin)
e. Semakin buruk jika setelah melakukan Aktivitas
2. Batuk (batuk semakin berat pada malam hari)
3. Riwayat Atopi
a. Menderita Asma
b. Alergi (Alergen; debu, tungau, hewan, jamur, asap rokok)
4. Demam
Kasifikasi Asma
1. Derajat Beratnya
a. Intermiten
b. Persisten
Persisten

Gejala yang timbul

Ringan

1x/minggu
Setiap Hari
-Mengganggu Aktifitas
Setiap Hari
-Aktifitas fisik Terbatas

Sedang
Berat
III.

Gejala Malam yang


timbul
>2x/bulan
> 1x/Minggu
Sering

Pneumonia
Pneumonia adalah peradangan akut pada parenkim paru, bronkiolus respiratorius dan alveoli,
menimbulkan konsolidasi jaringan paru sehingga dapat mengganggu pertukaran oksigen dan karbon
dioksida di paru-paru.
Gejala yang ditimbulkan;
1. Gejala khas
a. demam,
b. menggigil,
c. berkeringat, batuk (baik non produktif atau produktif atau menghasilkan sputum
berlendir, purulen, atau bercak darah),
d. sakit dada karena pleuritis dan sesak Gejala umum lainnya adalah pasien lebih suka
berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada

IV.

Tuberculosis Paru (TB Paru)


TBC adalah Infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis
Faktor resiko
1. Dapat terkena pada anak-anak atau Dewasa tua

PDU BETA 2014

DivPraktikum | PDU Beta 2014


2. Penderita immunocompromised (AIDS/HIV)
Faktor pencetus
1. Kontak lama dengan penderita TBC
2. Pengobatan Adekuat
Gejala Yang Sering ditimblan;
1. Batuk Kronis (>2minggu)
a. Batuk berdarah
2. Batuk Berdahak (progresif ; Kering berdahak)
3. Gejala Tambahan
a. Napsu makan Berkurang (BB turun)
b. Berkeringan pada malam hari
c. Sesak napas
d. Demam
Anamesis
Langkah Kerja
1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien,
2. Menanyakan identitas pasien,
3. Menjelaskan tujuan anamnesis,
4. Meminta izin kepada pasien untuk melakukan anamnesis,
5. Menanyakan keluhan utama yang sering pada kasus paru,
6. Menanyakan riwayat penyakit sekarang, yang berhubungan dengan keluhan utama secara
kronologis, dimulai dari keluhan pertama kali sampai penderita berobat,
7. Menayakan riwayat penyakit dan pengobatan terdahulu,
8. Menanyakan riwayat penyakit lainnya,
9. Menanyakan riwayat keluarga yang pernah menderita penyakit serupa,
10. Menanyakan latar belakang sosial dan pekerjaan.

SKILL LAB II : Pemeriksaan Fisik Sistem Respiratorius


Cr : Siti Hanifahfuri Silverkova & Agung Budi Pamungkas
INSPEKSI
Pada inspeksi perlu diperhatikan beberapa hal:
- Pemeriksa harus tenang
Sikap pemeriksa yang tenang akan memberikan rasa nyaman pada penderita. Seorang penderita yang
gugup/gelisah akan bernapas lebih cepat dari biasanya.
- Penderita berbaring lurus, kedua kaki diluruskan dan sejajar, kedua tangan diletakkan lurus
disamping badan
- Pemeriksa berdiri didepan penderita, diantara kedua kakinya. Posisi ini memung-kinkan pemeriksa
untuk melihat penderita secara simetris
Statis
Perhatikan secara cermat kedua sisi dada, apakah simetris atau tidak, adakah edema, emfisema
subkutan, retraksi, bendungan vena ataupun tonjolan/tumor
Perhatikan juga:
Bentuk torak
Normal
Torak dalam kondisi simetris kanan dan kiri. Pada potongan melintang berben-tuk ellips,
dengan jarak transversal lebih panjang dari jarak anteroposterior (7:5).
Torak paralitikus

Bentuk dada kecil, dengan diameter sagital/depan belakang yang pendek.

Sela iga sempit.

Angulus costae (sudut pertemuan arkus kosta kanan dan kiri) < 900
PDU BETA 2014

DivPraktikum | PDU Beta 2014

Torak emfisematikus (Barrel Chest)


Dada mengembang, diameter sagital dan anteroposterior membesar.
Sela iga melebar
Angulus costae >900
Kelainan bentuk
Kifosis dan lordosis darikolumnavertebralis.
Pektusekskavatio
Kelainan bawaan, dimana tulang sternum cekung ke dalam
Pektuskarinatus
Kelainanbawaan, dimana tulangsternumcembungkedepanseperti dada burung (PigeonChest)

Pectus Ekscavatum

PDU BETA 2014

Pectus Carinatum

DivPraktikum | PDU Beta 2014

Dinamis
Perhatikan hal hal sebagai berikut:

Frekuensi pernapasan
- Frekuensi pernapasan normal bervariasi antara 16 sampai 24 kali permenit.
- Frekuensi pernapasan yang kurang dari 16x/menit disebut bradipneu, sebaliknya frekuensi
pernapasan yang lebih dari 24 x/menitdisebut takhipneu.

Sipatpernapasan
- Torakal (gerakan/pernapasan dada yang dominant), abdominal (gerakan/pernapa-san abdomen yang
dominat) atau torakoabdominal.
- Sifat pernapasan torakoabdominal dijumpai pada kondisi normal.
- Kondisi pernapasan abdominal yang dominant, dijumpai pada PPOK. Akibat hambatan arus
ekspirasi, dibutuhkan dorongan dari abdomen untuk mengeluarkan CO2.

Irama/ritme pernapasan
a. Normal
b. Kussmaul
- Ritme pernapasan yang cepat dan dalam.
- Dijumpai
padakeadaanasidosis,
baikmetabolikasidosis
(gagalginjal,
komadiabetikum)
ataupunrespiratoriasidosis (PPOK).
c. Cheyne stokes
- Ritme pernapasan dengan amplitudo yang berubah-ubah. Amplitudo mulanya kecil, makin lama
makin membesar, lalu surut dan menghilang (apnea), diulangi lagi dari kecil dan seterusnya.
- Dijumpai pada gangguan saraf pusat seperti meningitis dan sklerotik.
d. BIOT
- Ritme pernapasan yang tidak teratur, diselingi priode apnea
- Dijumpai pada kerusakan otak/pusat pernapasan.
e. Pernapasan dangkal
- Dijumpai pada respiratori alkalosis, emfisema.
f. Asimetri pernapasan
Pergerakan salah satu hemitorak, tertinggal disbanding hemitorak sebelahnya.
Dapat dijumpai pada kondisi efusi pleura unilateral, pneumotorak ataupun skwarte
(penebalan pleura).

PDU BETA 2014

DivPraktikum | PDU Beta 2014

Perubahan posisi
Perhatikangejala yang timbul pada saat penderita merubah posisinya, apakah dari baring keduduk,
miring kearah kiri atau miring kearah kanan.
Penderita dengan efusi pleura massif, lebih senang berbaring miring kearah posisi yang sakit, oleh
karena bagian yang sehat posisinya akan berada di atas, sehingga memungkinkan bagian dada/paru
tersebut lebih mengembang.
Penderita bronkiektasis akan batuk bila berubah posisi berbaringnya, dari terlentang menjadi miring.
Penderita pneumotorak lebih nyaman dalam posisi duduk.
PALPASI
Melalui perabaan dengan telapak tangan, dapat dirabakan kelainan pada dinding dada, seperti:
pembesaran kelenjar getah bening, kelainan iga, letak trakea, adanya nyeri tekan dan suhu badan.
Tujuan utama palpasi paru adalah mendengar stem fremitus, yaitu getaran suara napas yang
dihantarkan ke tapak tangan pemeriksa.
Cara
Letakkan kedua telapak tangan (pemeriksa) ke dinding dada penderita.
Penderita disuruh menyebut angka tujuh tujuh (77)
- Dengarkan getaran suara yang menyentuh ke telapak tangan (stem fremitus)
- Telapak tangan pemeriksa harus menyentuh seluruh lapangan paru. Untuk itu letakkan telapak tangan
pada bagian puncak paru (lobus superior), lalu geser ke bagian tengah (lobus media) dan bagian
bawah paru (lobus inferior)
Tangan dapat pindah posisi, biar lebih pasti.
Interpretasi: Stem fremitus normal, meningkat (TB) atau menurun (air)
Fremitus menurun contoh :
- Penebalan pleura
- Efusi pleura
- Pneumothorax
PDU BETA 2014

DivPraktikum | PDU Beta 2014


- Emfisema paru
- Obstruksi dari bronkus
Fremitus meningkat bisa pada :
- Infiltrat paru
- Compressive atelektasis
- Cavitas paru

PERKUSI
Perkusi paru adalah tindakan memukul dinding dada dengan memakai jari tangan. Tindakan ini akan
menggetarkan udara didalam paru (terutama yang berdekatan dengan dinding dada) yang akan memberikan
pantulan suara.
Perkusi dilakukan dengan meletakkan jari tengah tangan kiri pemeriksa pada dinding dada penderita,
sementara jari tengah tangan kanan melakukan totokan. Gerakan perkusi menyusuri sela iga, dilakukan dari
atas (infra clavicula) ke bawah (iga terakhir) dan dari lateral ke medial.
Perhatikan intensitas bunyi pantulan yang ditimbulkan perkusi tersebut. Hasil perkusi
menggambarkan komposisi jaringan padat dan udara di dalam rongga dada/paru:
Sonor
- Komposisi udara sama banyak dengan jaringan padat
- Kondisi normal yang didapatkan pada perkusi paru
Hipersonor
- Komposisi udara lebih banyak dibanding jaringan padat
- Ditemukanpadaemfisemaparudanpneumothorak
Redup
Komposisi jaringan padat lebih banyak dari udara
Ditemukan pada efusi pleura, fibrosis paru, penebalan pleura (schwarte), tumor atau adanya
konsolidasi pada parenkim paru.

Pekak
- Kondisi ekstrim dari redup, udara tidak ada sama sekali.
- Ditemukan pada tumor yang sangat luas.
Melalui perkusi, tidak semua proses dalam rongga toraks dapat ditemukan. Kelainan minimal pada
paru, seperti efusi pleura minimal, infiltrat/massa dengan ukuran < 2 cm tidak menimbulkan kelainan pada
perkusi.
Perkusi, dapat menentukan juga:
1. Batas jantung
Pada keadaan normal, batas kiri jantung adalah di ICS V, linea midclavicularis sinistra, sedangkan
batas kanan adalah di linea sternalis dekstra.
PDU BETA 2014

DivPraktikum | PDU Beta 2014


-

2.
3.
-

Batas jantung akan mengecil (bergeser ke medial) pada kondisi emfisema yang moderat. Pada
kondisi emfisema yang berat batas jantung akan sukar dinilai (oleh karena terjadi peningkatan
komposisi udara dibanding padat, sehingga kita tidak bisa membedakan antara sonor dan redup).
Batas jantung akan bergeser ke arah berlawanan pada kondisi efusi pleura yang banyak dan
pneumothorak. Efusi pleura kiri akan mendorong jantung kekanan, sehingga batas jantung kanan akan
bergeser ke arah lateral, sementara batas kiri akan sukar dinilai karena suara menjadi redup, demikian
pula sebaliknya.
Batas paru hati
Perkusi yang sonor, berubah menjadi redup/pekak
Normal ditemukan pada sela iga 5 kanan
Batas akanberbeda pada waktuekspirasi dan inspirasi. Pada waktu inspirasi, terjadi peningkatan
udara didalam paru. Keadaan ini akan mendorong diafragma dan hati kebawah, akibatnya batas paru
hati bergeser ke sela iga 6 kanan (bergeser 1 sela iga). Kondisi ini disebut peranjakan.
Batas paru hati akan bergeser ke bawah pada emfisema paru, sebaliknya akan bergeser ke atas pada
proses subdiafragma (kelainan pada abdomen, misalnya: tumor hati dan asites).
Batas paru hati menjadi sukar ditentukan pada efusi pleura
Batas paru lambung
Perkusi yang sonor, berubah menjadi timpani
Normal ditemukan pada sela iga 8, di linea aksilaris anterior.

AUSKULTASI
Auskultasi mempunyai peranan yang sangat penting untuk menentukan kelainan pada paru. Prinsip
auskultasi sama dengan palpasi, dimana getaran suara yang berasal dari parenkim paru dihantarkan ke
dinding stetoskop.
Auskultasi harus dilakukan secara sistematis, dimulai dari paru bagian atas, bergeser ke bagian
tengah dan bawah. Suara napas pokok harus didengarkan lebih dahulu, baru suara napas (bising) tambahan.
Pemeriksa harus melatih diri untuk memisahkan bising bising yang didengar.
Suara napas pokok

Vesikular
- Bunyi napas, dimana fase inspirasi terdengar lebih panjang dan lebih keras dibanding fase ekspirasi.
PDU BETA 2014

DivPraktikum | PDU Beta 2014


-

Pada kondisi normal, bunyi vesikular akan terdengar pada semua lapangan paru, kecuali pada daerah
interscapularis.
- Bunyi vesikular dapat menurun pada kerusakan alveoli (gangguan sumber suara), efusi pleura (jarak
sumber suara ke dinding dada menjauh) atau tumor paru dan emfisema (media penghantar yang
jelek, jarak menjauh).
- Bunyi vesikular akan meningkat pada TB paru lesi minimal, oleh karena sumber suaranya (alveoli)
masih baik dan infiltrat (lesi TB) adalah media penghantar suara yang baik.

Bronkial
- Bunyi napas, dimana fase ekspirasi lebih panjang dan lebih kuat dari fase inspirasi
- Bunyi bronkial adalah bunyi yang bersumber dari bronkus. Pada keadaan normal bunyi ini akan
terdengar di daerah trakhea dan interskapularis, oleh karena dekat dengan sumber suaranya. Pada
keadaan abnormal, ia dapat dijumpai pada penyakit yang mengakibatkan kerusakan alveoli yang
cukup luas tetapi bronkus atau bronkiolusnya tetap terbuka (misal: penyakit TB paru).

Vesikulobronkial
- Bunyi napas dimana fase inspirasi sama panjang dengan fase ekspirasi, tetapi fase inspirasi terdengar
lebih kuat dari fase ekspirasi.

Bronkovesikular
- Bunyi napas dimana fase inspirasi sama panjang dengan fase ekspirasi, namun fase ekspirasinya
lebih kuat dari fase inspirasi.
Suara napas tambahan
Sumber Lain
AUSKULTASI PARU
Auskultasi paru dilaksanakan secara indirect yaitu dengan memakai stetoskop. Sebelum ditemukan
stetoskop auskultasi dilakukan secara direct dengan menempelkan telinga pemeriksa pada permukaan tubuh
orang sakit. Ada dua tipe dari stetoskop yaitu Bell type untuk mendengar nada-nada yang lebih rendah dan
Bowel atau membran type untuk nada-nada yang lebih tinggi. Umumnya setiap stetoskop dilengkapi dengan
kedua tipe ini. Posisi penderita sebaiknya duduk seperti melakukan perkusi. Kalau pasien tidak bisa duduk,
auskultasi dapat dilaksanakan dalam posisi tidur. Pasien sebaiknya disuruh bernafas dengan mulut tidak
melalui hidung. Pemeriksa memberikan contoh bernafas terlebih dulu sebelum memeriksa pasien. Yang
diperiksa pada auskultasi paru adalah :
1. Suara nafas (breath sounds)
2. Ronchi (rales)
3. Pleura Friction (bunyi gesekan pleura)
4. Voice sounds (bunyi bersuara)
Breath Sounds (Suara nafas)
Pada orang sehat dapat didengar dengan auskultasi suara nafas :
1. Vesikuler
2. Trakeal (bronchial)
3. Bronkovesikuler
Untuk mendengar suara nafas perhatikan intensitas, durasi dan pitch (nada) dari inspirasi dibandingkan
dengan ekspirasi. Pada pernafasan vesikuler, suara inspirasi lebih keras, lebih panjang dan pitchnya (nada)
lebih tinggi dari suara exspirasi. Suara vesikuler terdengar hamper diseluruh lapangan paru, kecuali pada
daerah supra sternal dan interscapula. Suara vesikuler dapat mengeras pada orang kurus atau post exercise
dan melemah pada orang gemuk atau pada penyakit-penyakit tertentu.
Pada pernafasan trakeal (bronchial) suara ekspirasi, intensitasnya lebih keras, durasinya
lebih panjang dan nadanya lebih tinggi dari suara inspirasi. Terdapat pada daerah trakea. Pada pernafasan
bronkovesikuler adalah campuran antara element vesikuler dan elemen bronchial. Jenis pernafasan ini
ditandai ekspirasi lebih keras, lebih lama dari nadanya lebih tinggi dari inspirasi. Jenis pernafasan ini,
normal didapatkan pada supra sternal dan interscapula, dimana terdapat ovelap antara parenkim paru dengan
bronkus besar. Pernafasan broncovesikuler bila didapatkan pada daerah yang secara normal adalah vesikuler
ini menunjukkan adanya kelainan pada daerah tersebut.
PDU BETA 2014

DivPraktikum | PDU Beta 2014

Pernafasan bronkial
Pernafasan bronchial ditandai oleh ekspirasi yang lebih keras. Lebih lama dan nadanya lebih tinggi
dibanding ekspirasi. Pernafasan bronchial disebabkan oleh pemadatan dari parenkim paru seperti pada
pneumonia dan kompresive atelektase.
Jenis pernafasan lain :
1. Asmatis yaitu pernafasan dengan ekspirasi yang memanjang disertai bunyi yang menciut
(mengi) atau wheezing didapat pada penderita asma bronchial.
2. Amphoric sounds : suara nafas yang berasal dari caverne atau pneumotorax dengan fistel
yang terbuka seperti mendengar botol kosong yang ditiup
Ronchi (Rales)
Adalah suara tambahan yang dihasilkan oleh aliran udara melalui saluran nafas yang berisi sekret/
eksudat atau akibat saluran nafas yang menyempit atau oleh oedema saluran nafas. Ada dua jenis ronchi
yaitu ronchi basah (moist rales) dan ronchi kering (dry rales). Ronchi basah adalah suara tambahan
disamping suara nafas, yaitu bunyi gelembung-gelembung udara yang melewati cairan (gurgling atau
bubling) terutama pada fase inspirasi. Ronchi basah disebabakan oleh adanya eksudat atau cairan dalam
bronkiolus atau alveoli dan bisa juga pada bronkus dan trakea. Ada ronchi basah nyaring contohnya pada
infiltrat paru dan ronchi basah tak nyaring misalnya pada bendungan paru. Ada ronchi basah kasar, ini
biasanya berasal dari cairan yang berada dibronkus besar atau trakea, ada ronchibasah sedang dan ada pula
ronchi basah halus yang terutama terdengar pada akhir inspirasi, terdengar seperti bunyi gesekan rambut
antara jari telunjuk dengan empu jari.
Ronchi kering disebabkan lewatnya udara melalui penyempitan saluran nafas, inflamasi
atau spasme saluran nafas seperti pada bronchitis atau asma bronchial. Ronchi kering lebih dominant pada
fase expirasi terdengar squeking dan grouning, pada saluran yang lebih besar adalah deep tone grouning
(sonorous) dan pada saluran yang lebih kecil terdengar squeking dan whistling (sibilant). Ronchi kering
dengan berbagai kwalitas frekwensi pitchnya disebut musical rales (seperti pada asma bronchial)

PDU BETA 2014

10

DivPraktikum | PDU Beta 2014

SKILL LAB III : Tuberculin Test


Cr : Elfandari Taradipa & Emy Sesilia
Tes Mantoux adalah pemeriksaan diagnostik dengan menyuntikkan PPD secara intra dermal/intra
cutan untuk mengetahui adanya pemajanan terhadap M. tuberculosis.
Tes Mantoux positif menandakan infeksi basil tuberkel masa lalu atau saat ini dan mengindikasikan
perlunya pemeriksaan lebih lanjut sebelum menegakkan diagnosa TBC.pada anak, uji Tuberkulin merupakan
pemeriksaan yang paling efektif.
1. Memperkenalkan diri dan menyatakan tujuan
Introduction
Selamat pagi bpk/ibu, perkenalkan saya dr. Bombastic yang sedang bertugas di poliklinik pada hari
ini
Identifikasi
Tanya nama, alamat, umur, dan pekerjaan . Kalau misalnya di meja sudah ada skenario dengan
informasi identitas langsung tanya dengan crosscheck aja :
Benar dengan bapak ____, Umur ___,Tinggal di____?
Inform consent
Saya akan melakukan uji tuberkulin untuk mengetahui apakah bapak terinfeksi penyakit Tuberculosi.
Apakah bapak bersedia ?
Sanitation
Cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan
2. Alat dan bahan yang digunakan
a. PPD RT 23

PDU BETA 2014

11

DivPraktikum | PDU Beta 2014


b. Disposable spuit 1 cc
c. Kapas
d. Alcohol 70%
3. Prosedur kerja
a. Memakai handscoen.
b. Memilih area yang akan dilakukan penyuntikan : 1/3 lengan bawah bagian atas / tengah (3
4 jari dibawah antekubiti atau 5 jari diatas pergelangan tangan).
c. Mengambil tuberculin PPD dan hisap kedalam spuit sebanya 0,1 cc (tegak lurus agar tidak
ada gelembung)
d. Mengatur posisi yang nyaman dengan lengan diregangkan dan disanggah pada permukaan
yang datar.
e. Memebersihkan kulit (bagian dalam lengan) dengan kapas alkohol, dimulai dari tengah
dengan gerakan melingkar kearah luar sirkular 5 cm. Biarkan sampai kering.
f. Meregangkan kulit, dekatkan spuit injeksi tuberkulin ke arah kulit dan suntikkan dengan hatihati dengan sudut 5 15 (teknik injeksi intra cutan). Masukkan jarum ke epidermis sampai
dengan 3mm dibawah permukaan kulit. Ujung jarum dapat dilihat melalui permukaan kulit.

g. Memasukkan obat 0,1 cc secara perlahan, jika benar akan membentuk gelembung putih pucat
(wheal) yang padat/keras berdiameter 6-10mm akan menghilang secara bertahap. Tidak perlu
diaspirasi, karena ada dermis relatif avaskuler.

Contoh cara penyuntikan yang benar


h. Mencabut jarum sambil memberi kapas alkohol pada area penyuntikan. Jangan melakukan
masase pada area penyuntikan.
i. Memberi tanda pada lokasi penyuntikan.
j. Memperhatikan waktu penyuntikan.
k. Merapihkan klien dan merapihkan alat-alat.
l. Membuka handscoen dan mencuci tangan.
PDU BETA 2014

12

DivPraktikum | PDU Beta 2014


Note:
Jika sebagian tuberkulin terbuang karena leakage (bocor) atau suntikan terlalu dalam, ulangi
suntikan di tempat lain (paling sedikit berjarak 5 cm dari tempat suntikan sebelumnya atau lengan
kontra lateral).
Catat lokasi suntikan ulangan ini di rekam medis (bukan dengan melingkari dengan ballpoint tempat
penyuntikan)
4. Interpretasi
Penilaian uji tuberculin dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari
pembengkakan (indurasi) yang terjadi

Cara pembacaan tes tuberculin:


Metode Palpasi
Lakukan palpasi untuk menentukan tepi indurasi, kemudian dan garislah dengan ballpoint
kedua tepi, hasil adalah diameter transversal terlebar indurasi dan diukur dalam milimeter.
Metode Sokal
Dengan menggunakan ballpoint disusuri mulai dari luar indurasi sampai menemukan tepinya
kmd diberi tanda, demikian pula dari tepi kontra lateralnya, sehingga didapatkan kedua tepi indurasi
transversal kemudian diukur dalam milimeter.
Kriteria indurasi:
1. Pembengkakan (Indurasi) : 04mm, uji mantoux negatif.
Arti klinis : tidak ada infeksi Mycobacterium tuberculosis.
2. Pembengkakan (Indurasi) : 59mm, uji mantoux meragukan.
Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang dengan
Mycobacterium atypikal atau pasca vaksinasi BCG.
3. Pembengkakan (Indurasi) : >= 10mm, uji mantoux positif.
Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis.

SKILL LAB IV : Pemeriksaan Fisik THT


Cr : Ari Martanusa & Eriska S.

PEMERIKSAAN THT

PDU BETA 2014

13

DivPraktikum | PDU Beta 2014

Alat-alat standar yang diperlukan untuk pemeriksaan telinga :


Lampu kepala
Pinset telinga
Aplikator (pelintir kapas)
Otoskop
Obat anestesi lokal : larutan Lidokain 2%
Alat-alat standar yang diperlukan untuk pemeriksaan hidung :
Lampu kepala
Spekulum hidung ukuran kecil, sedang dan besar
Pinset bayonet
Kaca laring beberapa ukuran (kecil, sedang, besar)
Penekan lidah (tongue depressor, tongue spatula)
Lampu spiritus
Larutan pemati rasa lokal (Lidokain 2%), vasokonstriktor (Ephedrine)
Alat-alat standar yang diperlukan untuk pemeriksaan mulut (laring/ faring) :
Lampu kepala
Penekan lidah (tongue spatula)
Kaca laring beberapa ukuran (kecil, sedang, besar)
Lampu spiritus
Larutan pemati rasa lokal (Lidokain 2%)
PEMERIKSAAN TELINGA

PDU BETA 2014

14

DivPraktikum | PDU Beta 2014

1 Pasien duduk dengan posisi badan condong ke depan dan kepala lebih tinggi
sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga dan
membran timpani. Posisi kaki pemeriksa rapat dan bersebelahan dengan kaki
pasien.
PS : Untuk pasien anak perlu difiksasi. Anak dipangku dengan kaki orang tua
menjempit kaki anak, dan memeluk kedua tangan anak, serta menahan kepala
anak ke arah samping.

2 Pasang lampu kepala dan pastikan posisi lampu nyaman di kepala dan berada
diantara mata. Atur lampu kepala supaya fokus dan tidak mengganggu
pergerakan, kira kira 20- 30 cm di depan dada pemeriksa dengan sudut kira kira
60 derajat, lingkaran fokus dari lampu, diameter 2-3 cm.

PDU BETA 2014

15

DivPraktikum | PDU Beta 2014

Posisi lampu kepala dan memeriksa focus lampu

3 Minta pasien menghadap ke samping. Untuk memeriksa telinga, harus diingat


bahwa liang telinga tidak lurus. Untuk meluruskannya maka daun telinga ditarik
ke atas belakang (Superoposterior), dan tragus ditarik ke depan. Pada anak,
daun telinga ditarik ke bawah. Dengan demikian liang telinga dan membran
timpani akan tampak lebih jelas.

4 Liang telinga dikatakan lapang apabila pada pemeriksaan dengan lampu kepala
tampak membran timpani secara keseluruhan (pinggir dan reflex cahaya. Seringkali
terdapat banyak rambut di liang telinga, atau liang telinga sempit (tak tampak
keseluruhan membran timpani) sehingga perlu dipakai corong telinga. Pada anak oleh
karena liang telinganya sempit lebih baik dipakai corong telinga (otoscopy).

PDU BETA 2014

16

DivPraktikum | PDU Beta 2014

OTOSCOPY
1 Mengulangi cara 1 dan 3 pada pemeriksaan telinga di atas
2 Memegang otoscopy sesuai dengan telinga yang akan diperiksa (telinga

kanan=tangan kanan)

Otoskop dapat dipegang dalam salah satu dari dua posisi berikut ini.

Posisi pertama: memegang otoskop pada tangkainya antara jari telunjuk dan ibu jari dengan
permukaan ulnar pemeriksa berhadapan dengan pipi pasien tangan pemeriksa bersandar pada
sisi wajah pasien. Posisi ini menyediakan penyangga sehingga jika pasien menggerakkan
kepalanya tiba-tiba selama pemeriksaan tangan pemeriksa dapat menahannya dan
mengurangi adanya trauma pada telinga. Teknik ini lebih aman terutama untuk anak-anak.
(Gambar kiri)

Posisi kedua adalah memegang otoskop ke arah atas ketika speculum dimasukkan ke dalam
kanal, Teknik ini terasa lebih aman tetapi gerakan pasien tiba-tiba dapat menyebabkan nyeri
dan cedera pasien. (Gambar kanan)

PDU BETA 2014

17

DivPraktikum | PDU Beta 2014

Yang diperiksa :
DAUN TELINGA
o Diperhatikan bentuk serta tanda-tanda peradangan atau pembengkakan.
o Daun telinga ditarik, untuk menentukan nyeri tarik
o Menekan tragus untuk menentukan nyeri tekan.

LIANG TELINGA (EAR CANAL)


o Apakah ada serumen atau sekret.
o Lapang atau sempit, dindingnya adakah edema, hiperemis atau ada furunkel.
o Perhatikan adanya polip atau jaringan granulasi, tentukan dari mana asalnya.
MEMBRAN TIMPANI
Nilai warna, reflek cahaya, perforasi dan tipenya dan gerakannya.
o Itak atau tidak
o Warna membran timpani yang normal putih seperti mutiara (normal).
o Refleks cahaya normal berbentuk kerucut, warna seperti air raksa, bila telinga
kanan arah jam 5 dan telinga kiri arah jam 7.
o Bayangan kaki maleus jelas kelihatan bila terdapat retraksi membrane timpani
ke arah dalam (karena tekanan cavum timpani lebih rendah).
o Perforasi umumnya berbentuk bulat. Bila disebabkan oleh trauma biasanya
berbentuk robekan dan di sekitarnya terdapat bercak darah. Lokasi perforasi
dapat di atik (di daerah pars flaksida), di sentral (di pars tensa dan di sekitar
perforasi masih terdapat membran) dan di marginal (perforasi terdapat di pars
tensa dengan salah satu sisinya langsung berhubungan dengan sulkus
timpanikus)
o Gerakan membran timpani normal dapat dilihat dengan memakai balon otoskop.
Pada sumbatan tuba Eustachius tidak terdapat gerakan membran timpani ini.

PDU BETA 2014

18

DivPraktikum | PDU Beta 2014


PEMERIKSAAN OROPHARYNX

Dua satu per tiga bagian depan lidah ditekan dengan spatula lidah kemudian
diperhatikan :
1 Dinding belakang faring : warna (normal : merah muda, infeksi: merah), licin atau
bergranula (infeksi kronis), sekret ada atau tidak dan gerakan arkus faring, ulkus (bila
ada, dalam atau tidak), parese dilihat dari refleks muntah
2 Tonsil : besar, warna (normal : merah muda, infeksi : hiperemis), muara kripti, apakah
ada detritus, adakah perlengketan dengan pilar (terfiksir kemungkinan keganasan),
ditentukan dengan lidi kapas, permukaan (dempul-dempul, rata, pelebaran kripta)
Ukuran tonsil
a To Tonsil sudah diangkat
b T1 Tonsil masih di dalam fossa tonsilaris
c T2 Tonsil sudah melewati pilar posterior belum melewati garis para median
d T3 Tonsil melewati garis paramedian belum lewat garis median (pertengahan
uvula)
e T4 Tonsil melewati garis median, biasanya pada tumor

PDU BETA 2014

19

DivPraktikum | PDU Beta 2014

3
4
5
6
7
8

Mulut : sudut mulut (N. XII), gerakan bibir (N. XII), bukal, palatum, gusi (ulkus?) dan gigi
geligi
Lidah : gerakannya (parese N. IX) dan apakah ada massa tumor, atau adakah
berselaput, atropi
Palatum molle : edema, gerakannya
Palatum durum : tumor atau ulkus
Palpasi rongga mulut diperlukan bila ada massa tumor, kista dan lain-lain.
Palpasi kelenjar liur mayor (parotis dan mandibula)

RINOSKOPI ANTERIOR
Rinoskopi anterior adalah pemeriksaan rongga hidung dari depan dengan
memakai spekulum hidung. Di belakang vestibulum dapat dilihat bagian dalam
hidung. Saluran udara harus bebasdan kurang lebih sama pada kedua sisi. Pada kedua
dinding lateral dapat dilihat konka inferior. Hal-hal yang harus diperhatikan pada
rinoskopi anterior ialah :

Mukosa. Dalam keadaan normal, mukosa berwarna merah muda. Pada radang
berwarna merah, sedangkan pada alergi akan tampak pucat atau kebiru-biruan
(livid).
Septum. Biasanya terletak di tengah dan lurus. Diperhatikan apakah ada deviasi,
krista, spina, perforasi, hematoma, abses dan lain-lain.
Konka. Diperhatikan apakah konka besarnya normal (eutrofi, hipertrofi, hipotrofi
atau atrofi).
Sekret. Bila ditemukan sekret pada rongga hidung, harus diperhatikan banyaknya,
sifatnya (serous, mukoid, mukopurulen, purulen atau bercampur darah) dan
lokalisasinya (meatus inferior medius, atau superior). Lokasi sekret ini penting
artinya, sehubungan dengan letak ostium sinus-sinus paranasal dan dengan
demikian dapat menunjukkan dari mana sekret tersebut berasal. Krusta yang
banyak ditemukan pada rhinitis atrofi.
Massa. Massa yang sering ditemukan di dalam rongga hidung adalah polip dan
tumor. Pada anak dapat ditemukan benda asing
Rongga hidung lapang atau sempit
CARA PEMERIKSAAN
1 Siapkan alat dan bahan pemeriksaan, (khususnya Spekulum Hidung dan
Lampu Kepala)

PDU BETA 2014

20

DivPraktikum | PDU Beta 2014


2 Posisi pasien dihadapan pemeriksa dengan kedua kaki disilangkan.
3 Pasang Lampu Kepala di lingkar kepala atas, di atas alis mata, dan nyalakan
lampu.
4 Persiapan Spekulum Hidung dengan cara kita memegang spekulum hidung
sebaiknya menggunakan tangan kiri dalam posisi horisontal. Tangkainya yang
kita pegang berada di lateral sedangkan mulutnya di medial. Mulut spekulum
inilah yang kita masukkan ke dalam kavum nasi (lubang hidung) pasien.
5 Cara kita memasukkan spekulum hidung yaitu mulutnya yang tertutup kita
masukkan ke dalam kavum nasi (lubang hidung) pasien. Setelah itu kita
membukanya pelan-pelan di dalam kavum nasi (lubang hidung) pasien.
6 Evaluasi apa yang ingin dinilai pada saat speculum hidung telah membuka
mulutnya di hidung pasien.
7 Setelah selesai, cara kita mengeluarkan spekulum hidung yaitu masih dalam
kavum nasi (lubang hidung), kita menutup mulut spekulum kira-kira 90%.
Jangan menutup mulut spekulum 100% karena bulu hidung pasien dapat
terjepit dan tercabut keluar.

Spekulum Hidung
Nasi

Evaluasi Cavum

SKILL LAB V : Nebulisasi dan Inhalasi


Cr : Poppy Putri , Defina Yunita & Suci Ramadhani
Nebulisasi dan Terapi Inhalasi
Pemberian obat asma bisa dilakukan dengan cara parenteral (subkutan, intra muskuler , intra vena), oral dan
inhalasi.
Terapi farmakologi pada asma dibagi menjadi 2 golongan :
1. Obat Pelega (reliever) Pengobatan pada saat serangan, digunakan pada semua derajat asma. Yang
termasuk golongan obat ini :
a. beta-2 agonis kerja singkat inhalasi,
b. antikolinergik inhalasi,
c. theofilin kerja singkat, dan
d. beta-2 agonis kerja singkat oral.
2. Obat Pengontrol (controller) Sebagai obat pengontrol, diindikasikan pada penderita asma persisten
ringan sampai berat. Obat yang diganakan adalah steroid inhalasi dan bila perlu ditambahkan Beta- 2
agonis kerja panjang
LABA (long acting beta-2 agonist). Yang termasuk golongan obat ini :
a. glukokortikosteroid inhalasi,
b. leukotriene modifiers,
c. beta-2 agonis kerja lama inhalasi,
d. theofilin,
e. cromones,
PDU BETA 2014

21

DivPraktikum | PDU Beta 2014


f. beta-2 agonis kerja panjang oral,
g. anti IgE,
h. glukokortikosteroid sistemik
Terapi Inhalasi
Definisi Pemberian obat secara langsung ke dalam saluran napas melalui jalan penghisapan.
Keuntungan 1. Obat bekerja langsung pada saluran napas 2. Memberikan efek lebih cepat untuk mengatasi
serangan asma karena setelah dihisap, obat akan langsung menuju paru-paru untuk melonggarkan saluran
pernapasan yang sempit, 3. Dosis yang diperlukan lebih rendah untuk mendapatkan efek yang sama 4. Efek
samping obat minimal karena konsentrasi obat yang rendah.
Bentuk Terapi Ada beberapa cara dalam terapi inhalasi, yaitu :
1. Penguapan (gas powered hand held nebulizer),
2. Inhaler dosis terukur (MDI, metered dose inhaler),
3. Inhalasi dengan intermitten positive pressure breathing (IPPB),
4. Pemberian melalui intubasi pada pasien yang menggunakan ventilator.
Obat Obat inhaler : MDI (Metred Dose Inhaler) Obat diberikandalam bentuk inhaler aerosol dengan/tanpa
spacer dan bubuk halus (dry powder inhaler) berupa diskhaler, rotahaler, dan turbohaler.
Beberapa obat pelega inhalasi : combivent, bricasma.
Berbagai obat pengontrol : seretide, symbicort, pulmicort dan obucort
Nebulisasi (berikan jika ada wheezing)
1. masker dan Jet/compressor nebulizer

2.nebulisasi dan tabung oksigen

A. obat nebulizer
Efek : bronkodilatasi Dosis : 1
-ipatropium
bromide,salbutamol ampul (dewasa) Waktu pemberian :
(combivent nebules 100 mcg)
15-20menit
-salbutamol nebules (ventolin nebules)
B. dispossable spuit 3 cc
C. cairan NaCl 0,9%
Inhaler
1. Metered Dose Inhaler (MDI)
a. aerosol

PDU BETA 2014

22

DivPraktikum | PDU Beta 2014


b. aerosol dengan spacer

c. Dry powder inhaler


(DPI)
- Accuhaler
-

Turbohaler

Rotahaler

Cara Penggunaan Inhealer (MDI)

1. Duduk tegak atau berdiri dengan dagu terangkat.


2. Ambil tabung aerosol lalu kocok sebanyak 5-6 kali agar kandungan aerosol didalamnya tercampur
kemudian masukkan kedalam kanister hingga terdengar bunyi klik
3. Buka tutup inhaler. Jika baru pertama kali menggunakan inhaler selama seminggu atau lebih, maka
untuk penggunaan pertama sebelum digunakan, semprotkan inhaler ke udara untuk mengecek apakah
inhaler berfungsi dengan baik.
4. Tarik nafas dalam-dalam dan buang perlahan. Lalu letakkan bagian mulut inhaler pada mulut (diantara
gigi atas dan bawah), kemudian tutup mulut dengan merapatkan bibir (jangan digigit).
5. Mulai dengan bernapas perlahan dan dalam melalui mulut inhaler, sambil bernapas secara berbarengan
tekan bagian tombol inhaler untuk melepaskan obatnya. Satu kali tekan merupakan satu kali semprotan
obat.
6. Lanjutkan untuk bernapas dalam untuk memastikan obat dapat mencapai paru-paru.
7. Tahan napas selama kurang lebih 10 detik (atau selama kondisi senyaman yang terasa) lalu buang napas
perlahan.
8. Jika membutuhkan semprotan berikutnya, tunggu sampai 30 detik, dan kocok kembali inhaler, ulangi
langkah 4 sampai 7.
9. Tutup kembali mulut inhaler dan simpan inhaler di tempat yang kering.
Nebulisasi

PDU BETA 2014

23

DivPraktikum | PDU Beta 2014

Langkah-langkah yang perlu dilakukan :


1. Memperkenalkan diri dan menyatakan tujuan
Selamat pagi, Ibu. Perkenalkan saya dr. Statin yang berugas hari ini.
Saya disini akan menjelaskan bagaimana cara menggunakan nebulizer agar Ibu bisa
mengatasi sesak napas saat serangan asma datang. Sekaligus kita coba pakai langsung agar
Ibu lebih mudah memahaminya.
Apakah Ibu bersedia? Ya.
2. Pengenalan alat dan bahan
Alat dan bahan yang kita butuhkan untuk menggunakan nebulizer ini antara lain :
a. Mesin nebulizer
b. Selang penghubung
c. Masker Nebulizer
d. Obat yang akan diberikan melalui nebulizer
e. Spuit 1 cc`
f. Medikasi/obat yang diberikan
Obat-obat yang biasa diberikan untuk penggunaan nebulizer ini diantaranya Ipatropium
bromide, Salbutamol (combivent nebules 100 mcg, Salbutamol nebules (ventolin nebules)
3. Persiapan :
a. Menyiapkan lingkungan yang aman untuk pasien
b. Tempatkan pasien pada posisi tegak/40-90 derajat yang memungkinkan klien
ventilasidan pergerakan diafragma maksimal
Nah, Bu. Jadi saat menggunakan alat ini usahakan posisi badan tegak/40-90 derajat agar
pertukaran udara dan pengembangan paru bisa maksimal.
4. Hubungkan kabel mesin nebulizer ke stop kontak
5. Evaluasi suara napas, pulse rate, status respirasi, saturasi oksigen sebelum medikasi
diberikan
Sekarang saya akan mendengarkan suara napas, menilai denyut nadi, status respirasi dan
saturasi oksigen Ibu.
6. Masukkan obat ke dalam nebulizer-obat bronchodilator yang berupa cairan 0,3-0,5 ml. Saya
akan memasukkan obat kedalam nebulizer cupnya. Disini saya menggunakan ...
Ipatropiumbromide,salbutamol (combivent nebules 100 mcg)
Salbutamol nebules (ventolin nebules)
Apa nanti obatnya pilih aja
7. Menambahkan/ dicampur sejumlah normal saline steril sebanyak 1 ml sampai 1,5 ml
kenebulizer
Kemudian saya akan menambahkan saline steril sebanyak 1-1,5ml
8. Menyambungkan masker dengan mesin nebulizer menggunakan selang penghubung
Sekarang saya akan menyambungkan masker ini dengan nebulizer menggunakan selang
penghubung. Jadi Bu, penggunaan nebulizer ini sedikit berbeda dengan nebulisasi
menggunakan tabung oksigen karena flow ratenya sudah ada takaran sendiri, berbeda dengan
tabung oksigen yang flow ratenya bisa diatur sesuai kebutuhan.
9. Memasang masker sesuai wajah klien
Sekarang kita pakai masker/sunkupnya dulu ya, Bu. Dalam pemakaian masker ini, kita harus
memastikan tidak ada udara yang bisa keluar kecuali melalui lubang yang memang sudah ada pada
masker.
10. Tekan tombol ON pada mesin nebulizer untuk menghidupkan mesin
PDU BETA 2014

24

DivPraktikum | PDU Beta 2014


11. Instruksikan pasien untuk mengikuti prosedur dengan benar, lakukan perlahan, napas
dalam dan tahan napas saat inspirasi puncak beberapa saat.
Nah sejauh ini langkah kita sudah benar dan sesuai prosedur. Sekarang Ibu tarik napas dalamdalam kemudian tahan beberapa detik ya, Bu. Kemudian hembuskan perlahan. Coba Bu ikuti
instruksi saya. *nanti Ibu nya inspirasi ekspirasi kan, liatin*
Iya benar seperti itu, ulangi cara yang sama ya Bu selama masker masih terpasang.
12. Mengontrol apakah selang dan masker berfungsi dengan baik
Sekarang saya akan mengontrol fungsi masker dan selang. Pengontrolan ini dilakukan untuk
memastikan baik masker maupun selang masih diposisi yang benar (seharusnya), belum
bergeser sehingga tidak ada celah bagi udara/asap untuk keluar selain dari 2 lubang yang
memang sudah ada pada masker.
13. Pemberian mungkin membutuhkan waktu selama 10-15 menit tergantung berapa lama
obat habis
14. Mengevaluasi respon klien (pola napas)
15. Lanjutkan pengobatan sampai kabut tidak lagi diproduksi-dapat sampai 3 kali (30-45
menit)
16. Matikan mesin dengan menekan tombol off.
17. Merapihkan pasien
Nah jadi kita sudah selesai, Bu. Sejauh ini apakah ada yang ingin Ibu tanyakan? Tidak.
Kalau begitu terima kasih atas kunjungan Ibu. Silahkan datang kemari jika ada rasa tidak
nyaman atau sekedar konsultasi. Terima kasih,Bu. Jaga kesehatannya ya..
18. Mencuci tangan

SKILL LAB VI : Radiologi


Cr : Mareta Kurnia & Erlina Purnamayani
Foto thorax adalah salah satu pemeriksaan tambahan yang dilakukan untuk menunjang diagnosis.
Langkah-langkah mengidentifikasi Foto Thorax
1 Memperkenalkan diri, inform consent. (seperti biasa)
2 Memeriksa foto thorax dengan prinsip IPIC (Identification, Position, Inspiration, Condition)
Pneumothoraks
Pneumothoraks merupakan suatu keadaan dimana pleura berisi udara. Kondisi ini membuat pasien sangat
sesak dan harus diberi pertolongan segera.
Gambaran foto Thorax :

Pneumothoraks

PDU BETA 2014

25

DivPraktikum | PDU Beta 2014

Pada pneumothoraks didapati :


1 Lapangan paru yang radiolusen(lebih gelap) daripada lapangan paru
normal. Hal ini dkarenakan terperangkapnya udara pada pleura paru.
Efusi Pleura
Efusi pleura adalah suatu penimbunan cairan pada rongga pleura. Sifatnya abnormal, sebagai suatu
transudasi atau eksudasi berlebihan, tanpa memandang isi cairannya (jenis cairannya belum diketahui)
Gambaran klinik:
- Sesak nafas: bila cairan cukup banyak akan terjadi kompresi paru
- Rasa berat di dada yang sakit bila efusi pleura penuh
- Gangguan dinamik sirkulasi (pump failure jantung) dan akan terjadi jika cairan efusi penuh
mendorong mediastinum jantung ke arah hemitoraks yang sehat
- Gerak dada pada sisi yang sakit akan berkurang
- Hemitoraks yang terkena akan mencembung dan sela iga melebar
- Stem fremitus menghilang/sangat menurun pada sisi yang terkena
- Trakea deviasi kea rah yang sehat
- Efusi yang makin banyak akan mengubah perkusi menjadi redup/pekak
Gambaran Foto Thoraks:

Garis Ellis-Damoisseaux

PDU BETA 2014

26

DivPraktikum | PDU Beta 2014

Garis Ellis-Damoisseaux

Pneumonia
Pneumonia merupakan infeksi pada parenkim paru yang dapat disebabkan oleh berbagai macam factor
seperti bakteri maupun virus. Di Indonesia penyebab terbanyak terjadinya pneumonia ialah Streptococcus
pneumoniae.

Gambaran foto thoraks :

Pada foto thoraks pneumonia didapati keadaan radiopaque pada bagian parahilus (disekitar hilus) yang
merupakan tanda khas pada pneumonia. Keadaan radiopaque ini terjadi akibat infiltrate yang merupakan
hasil dari mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi pneumonia.
TBC Paru
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri
ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat dan tahan asam sehingga memerlukan waktu yang lama untuk
mencegahnya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru.
PDU BETA 2014

27

DivPraktikum | PDU Beta 2014


Gejala klinis:
- Batuk terus-menerus dan berdahak
- Batuk bercampur dengan darah
- Sesak nafas dan rasa nyeri pada dada
- Demam/meriang lebih dari sebulan
- Berkeringat pada malam hari tanpa penyebab yang jelas
- Badan lemah dan lesu
- Nafsu makan menurun dan terjadi penurunan berat badan
Gambaran Foto Thoraks:

Gambaran kavitas pada apeks paru

Fibrosis

Gambaran TB paru inaktiv dengan fibrosis

SKILL LAB VII : Spirometri


Cr : Ria Arnila
SPIROMETRI
PDU BETA 2014

28

DivPraktikum | PDU Beta 2014


Prosedur
Pasien diberikan penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan oleh dokter atau perawat yang
terlatih.
Pasien dilakukan identifikasi: usia, jenis kelamin, tinggi dan berat badan
Masukkan identitas pasien ke dalam alat spirometri.
Pasien diminta memakai penyangga mulut (mouth piece).
Dengan dipandu dokter atau perawat yang terlatih, pasien diminta untuk menarik napas secara
maksimal dan menghembuskannya secepat dan selapang mungkin, pengukuran dilakukan sebanyak
3x, hasilnya dicatat di status pasien

TABEL PENILAIAN
SPIROMETRI

DERAJAT OBSTRUKSI

DERAJAT RESTRIKSI

Untuk menginterpretasikan hasil spirometri, langkah yang harus kita lakukan adalah :
1 Lihat nilai FEV1/FVC observed, jika lebih dari 70% kemungkinan normal atau restriksi. Jika
kurang dari 70% maka terjadi obstruksi.

PDU BETA 2014

29

DivPraktikum | PDU Beta 2014


2
3

Untuk melihat apakah normal atau restriksi, lihat %predicted. Jika kurang dari 80% maka
terjadi restriksi
Untuk menilai derajat, kalau restriksi lihat % predicted FVC nya, kalau obstruksi lihat %
predicted FEV1 nya

PDU BETA 2014

30