Anda di halaman 1dari 3

Penyaluran Pengaduan oleh Pemangku Kepentingan

terhadap Kemungkinan Pelanggan Aturan / Etika oleh


Orang Dalam korporat
Salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja suatu perusahaan/organisasi
adalah dengan cara menerapkan Good Corporate Governance (GCG). Penerapan
Good Corporate Governance (GCG) merupakan pedoman bagi Dewan Komisaris dan
Direksi dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dengan dilandasi
moral yang tinggi, kepatuhan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku
serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial perseroan terhadap pihak yang
berkepentingan (stakeholders) secara konsisten.
Berbagai skandal keuangan terbesar pada umumnya melibatkan pimpinan
perusahaan dan banyak pihak yang berkolusi. Keterlibatan manajemen tingkat atas
atau kejahatan secara berkolusi. Kejahatan kerah putih tersebut pada umumnya
diketahui oleh orang dalam perusahaan. Namun orang dalam yang mengetahui
kejahatan tersebut akan menghadapi resiko tinggi terhadap keselamatan diri atau
keluarganya jikaberupaya melaporkannya. Oleh sebab itu, diperlukan upaya untuk
membangun mekanisme penyaluran pengaduan oleh berbagai pihak ( pemangku
kepentingan ) terhadap kemungkinan kejahatan atau pelanggaran aturan/etika yang
dilakukan oleh orang dalam korporat.
Menurut OECD, dibeberapa Negara, peraturan perundang undangan
memdorong dewan komisaris untuk memberikan perlindungan kepada pihak
pelapor atau whistleblower, dan memberikan akses langsung yang bersifat rahasia
kepada anggota komisaris yang independen, anggota komite atau komite etika.
OECD

menegaskan

perlindungan

yang

sama

harus

diberikan

baik

kepada

whistleblower yang merupakan institusi maupun individu. Perusahaan harus


menciptakan mekanisme whistleblowing yaitu pengungkapan tindakan pelanggaran
atau pengungkapan perbuatan yang melawan hukum, perbuatan tidak etis atau
perbuatan lainnya yang dapat merugikan Perseroan maupun para pemangku
kepentingan yang dilakukan oleh Insan Perseroan kepada pimpinan Perseroan atau
lembaga

lain

yang

dapat

mengambil

tindakan

atas

pelanggaran

tersebut.

Pengungkapan ini umumnya dilakukan secara rahasia (confidential). Dan jika


mekanisme

didalam

perusahaan

tidak

dapat

memfasilitasi

mekanisme

whistleblowing,

maka

dapat

melaporakannya

kepada

penjabat

publik

yang

berwenang.
Pedoman

umum

GCG

Indonesia

mendorong

keberadaan

mekanisme

whistleblowing dan perlindungan terhadap whistleblower. Didalam peraturan


Bapepam bahwa jika emiten atau perusahaan public memilki sistem whistleblowing,
maka perusahaan wajib mengungkapkannya dalam laporan tahunan sebagai
komponen dari informasi tentang tata kelola perusahaan. Informasi tentang sistem
whistleblowing yang wajib diungkapkan antara lain meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

cara penyampaian laporan pelanggan


perlindungan bagi pelaporan
penanganan pengaduan
pihak yang mengelola pengaduan
hasil dari penanganan pengaduan.

Peran Akuntan Profesional dalam memfasilitasi Peranan


Pemangku Kepentingan
Menurut Rezaee, Zabihollah (2009) dalam Corporate Governance and
Ethics Peran akuntan profesional dalam memfasilitasi tanggung jawab dewan :
Akuntan

profesional

dalam Komite

Audit bertujuan untuk

melaksanakan

dan

mendukung fungsi pengawasan dewan, khususnya di bidang yang terkait dengan


pengendalian internal, manajemen risiko, laporan keuangan, dan kegiatan audit .
Peran akuntan profesional dalam memfasilitasi tanggung jawab dewan
menurut KNKG adalah sebagai berikut : Peran akuntan profesional dalam Komite
Audit bertugas membantu Dewan Komisaris untuk memastikan bahwa:
I.

laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi

II.
III.

yang berlaku umum,


struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan dengan baik,
pelaksanaan audit internal maupun eksternal dilaksanakan sesuai dengan

IV.

standar audit yang berlaku, dan


tindak lanjut temuan hasil audit dilaksanakan oleh manajemen;