Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH KIMIA KUANTUM

Persamaan Schodinger

Oleh :
Nama

: Lita Nuraini

NIM

: 06101181419008

Dosen Pengampu : Dr. Effendi, M.Si

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

Daftar Isi
Daftar Isi................................................................................................................................2
Kata Pengantar.......................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................4
1.1

Latar Belakang........................................................................................................4

1.2

Rumusan Masalah...................................................................................................5

Adapun masalah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu:............................................5


a.

Apa yang dimaksud persamaan Schrodinger?............................................................5

b.

Bagaimana persamaan Schrodinger untuk partikel dalam kotak 1 dimensi?.............5

1.3 Tujuan...........................................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................6
2.1 Pengertian Persamaan Schrodinger..............................................................................6
2.2 Persamaan Schrodinger untuk Partikel dalam Kotak 1 Dimensi................................7
BAB III PENUTUP.............................................................................................................13
3.1 Kesimpulan................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................14

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kelancaran dalam
penyusunan makalah ini, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat
waktu. Penyusunan makalah Kimia Kuantum mengenai Persamaan Schordinger ini bertujuan
untuk menyelesaikan salah tugas mata kuliah kimia kuantum.

Dalam penulisan makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Dalam penulisan makalah
ini masih banyak terdapat kekurangan baik dalam teknis penulisan maupun materi. Oleh
karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah ini.

Indralaya, 6 Desember 2016

Penulis

BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang

Gelombang zat, atau gelombang pengarah (pemandu) telah menjadi bagian


khasanah ilmu Fisika pada tahun 1925 dengan ditandai oleh munculnya hipotesa deBroglie. Hipotesa tentang gelombang pengarah sangat diilhami oleh studi mengenai gerak
elektron dalam atom Bohr. Gelombang zat yang senantiasa menyertai gerak suatu zarah
melengkapkan pandangan tentang dualisme zarah gelombang. Dengan demikian perbedaan
antara cahaya dan zarah, atau lebih tegasnya antara gelombang dan zarah menjadi hilang.
Gelombang cahaya dapat berperilaku sebagai zarah, sebaliknya zarah dapat berperilaku
sebagai gelombang. Pandangan semacam itu sangat berbeda dengan persepsi manusia
tentang gejal-gajal fisik konkret yang dialami nya sehari-hari. Sejak abad ke-20 teori-teori
klasik mulai dipertanyakan kesahihannya untuk dipergunakan di tingkat atom yang subatom. Satu tahun setelah postulat de-Broglie disebarluaskan seorang ahli fisika dari
Austria, Erwin Schrodinger berhasil merumuskan suatu persamaan diferensial umum
untuk gelombang de-Broglie dan dapat ditunjukkan pula kesahihannya untuk berbagai
gerak elektron. Persamaan diferensial ini yang selanjutnya dikenal sebagai persamaan
gelombang Schrodinger sebagai pembuka jalan ke arah perumusan suatu teori mekanika
kuantum yang komprehensip dan lebih formalistik.
Pada tahun 1927, satu tahun setelah Schrodinger merumuskan persamaan
gelombangnya, Heisenberg merumuskan suatu prinsip yang bersifat sangat fundamental.
Prinsip ini dirumuskan pada waktu orang sedang sibuk mempelajari persamaan
Schrodinger dan berusaha keras untuk dapat memahami maknanya. Pada tahun 1926,
Heisenberg juga muncul dengan suatu cara baru untuk menerangkan garis-garis spektrum
yang dipancarkan oleh sistem atom. Pendekatannya sangat lain, karena yang digunakannya
adalah matriks. Hasil yang diperoleh dengan cara ini sama dengan apa yang diperoleh
melalui persamaan Schrodinger. Mekanika kuantumnya Heisenberg dikenal sebagai
mekanika matriks. Secara kronologis prinsip Heisenberg munculm sesudah dirumuskannya
persamaan Schrodinger. Tetapi sebagai suatu prinsip teoritik hal itu merupakan suatu hal
yang fundamental, dan dapat disejajarkan dengan teori kuantum Einstein, postulat deBroglie, dan postulat Bohr. Oleh karenanya dalam pembahasannya prinsip Heisenberg
ditampilkan lebih dahulu dari persamaan Schrodinger
4

1.2

Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu:


a. Apa yang dimaksud persamaan Schrodinger?
b. Bagaimana persamaan Schrodinger untuk partikel dalam kotak 1
dimensi?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui:


a. Pengertian persamaan Schrodinger
b. Persamaan Schroinger untuk partikel dalam kotak dimensi

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Persamaan Schrodinger

Persamaan Schrodinger diajukan pada tahun 1925 oleh fisikawan Erwin


Schrodinger (1887-1961). Persamaan ini pada awalnya merupakan jawaban dari dualitas
partikel-gelombang yang lahir dari gagasan de Broglie yang menggunakan persamaan
kuantisasi cahaya Planck dan prinsip fotolistrik Einstein untuk melakukan kuantisasi pada
orbit elektron. Selain Schrodinger dua orang fisikawan lainnya yang mengajukan teorinya
masing-masing adalah Werner Heisenberg dengan Mekanika Matriks dan Paul Dirac
dengan Aljabar Kuantum. Ketiga teori ini merupakan tiga teori kuantum lengkap yang
berbeda dan dikerjakan terpisah namun ketiganya setara. Teori Schrodinger kemudian
lebih sering digunakan karena rumusan matematisnya yang relatif lebih sederhana.
Meskipun banyak mendapat kritikan persamaan Schrodinger telah diterima secara luas
sebagai persamaan yang menjadi postulat dasar mekanika kuantum.
Persamaan Schrodinger merupakan persamaan pokok dalam mekanika kuantum
seperti halnya hukum gerak kedua yang merupakan persamaan pokok dalam mekanika
Newton dan seperti persamaan fisika umumnya persamaan Schrodinger berbentuk
persamaan diferensial. Bentuk umum persamaan Schrodinger adalah sebagai berikut,

dengan ? adalah fungsi Schrodinger yang mendefinisikan partikel yang bergerak dalam
tiga dimensi dengan energi tertentu dan berada di bawah pengaruh medan potensial V
tertentu. Bentuk khusus persamaan Schrodinger yaitu persamaan Schrodinger bebas waktu
adalah

Bentuk ini lebih sering digunakan karena energi dan medan potensial sistem fisika
umumnya hanya bergantung pada posisi.
6

Walaupun rumusan matematis persamaan Schrodinger lebih sederhana dibandingkan


Mekanika Matriks dan Aljabar Kuantum, pemecahan persamaan ini tetap membutuhkan
pengetahuan matematika lanjut. Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan
energi kinetik dan potensial sistem dan mensubstitusikannya ke dalam persamaan di atas.
Langkah kedua adalah merubah persamaan di atas kedalam sistem koordinat yang sesuai
dengan sistem yang ditinjau. Untuk sistem atom hidrogen sistem koordinat yang sesuai
adalah sistem koordinat bola. Langkah kedua adalah melakukan pemisahan variabel.
Persamaan Schrodinger mengandung tiga koordinat ruang yang saling ortogonal dan harus
dipisahkan menjadi 3 persamaan berbeda yang hanya mengandung satu koordinat ruang.
Langkah ketiga adalah memecahkan ketiga persamaan tersebut secara simultan. Hasil yang
diperoleh merupakan bilangan-bilangan kuantum yang memerikan struktur sistem
berdasarkan tingka-tingkat energi yang menyusun sistem tersebut. Struktur sistem ini
selanjutnya dipergunakan untuk meramalkan perilaku sistem dan interaksinya dengan
sistem lain.
Penerapan persamaan Schrodinger pada sistem fisika memungkinkan kita
mempelajari sistem tersebut dengan ketelitian yang tinggi. Penerapan ini telah
memungkinkan perkembangan teknologi saat ini yang telah mencapai tingkatan nano.
Penerapan ini juga sering melahirkan ramalan-ramalan baru yang selanjutnya diuji dengan
eksperimen. Penemuan positron yang merupakan anti materi dari elektron adalah salah
satu ramalan yang kemudian terbukti. Perkembangan teknologi dengan kecenderungan alat
yang semakin kecil ukurannya pada gilirannya akan menempatkan persamaan Schrodinger
sebagai persamaan sentral seperti halnya yang terjadi pada persamaan Newton selama ini.

2.2 Persamaan Schrodinger untuk Partikel dalam Kotak 1 Dimensi

Atom terdiri dari inti atom yang dikelilingi oleh elektron-elektron, di mana
elektron valensinya bebas bergerak di antara pusat-pusat ion. Elektron valensi
geraknya dibatasi akibat adanya gaya tarik elektrostatik antara pusat-pusat ion positif
dengan elektron-elektron valensinya. Tingkah laku elektron-elektron yang bergerak di
dalam logam dianggap sama dengan tingkah laku atom atau molekul di dalam gas
mulia, oleh sebab itu elektron-elektron ini biasa disebut sebagai Gas Elektron Bebas,
dengan sifat; bermuatan negatif, dan konsentrasinya jauh lebih besar dibandingkan
dengan konsentrasi molekul dalam gas biasa. Sommerfeld memperlakukan elektron
valensi dengan cara menggunakan statistika kuantum, sehingga tingkatan energi
7

elektron di dalam kotak potensial dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan


Scrodinger.
Contoh :

Tinjaulah sebuah electron bermassa m yang bebas bergerak di dalam kotak


potensial 1 dimensi yang sangat tebal, lebar kotak L dan tingginya ~ (lihat gambar).
Kajilah sifat-sifat dan perilaku electron tersebut di dalam kotak, ditinjau dari tingkatan
energi, dan fungsi gelombangnya. Langkah-langkah yang perlu Anda perhatikan
dalam mengkaji sifat-sifat dan perilaku elektron di dalam kotak potensial tersebut
adalah: (1) tentukan terlebih dahulu potensial elektron di dalam maupun di luar kotak,
(2) hitung tingkat energinya ketika berada pada suatu posisi tertentu, dan (3) lukiskan
kerapatan probabilitas elektron dari fungsi gelombang yang terbentuk.

2.2.1. Energi Potensial Elektron

Energi potensial elektron di dalam kotak sama dengan nol, sebab elektron
bebas tidak memiliki energi potensial, sedangkan potensial elektron di luar kotak
adalah tak berhingga sebab dinding kotak cukup tebal sehingga tidal dimungkinkan
elektron tersebut keluar dari dalam kotak. Informasi ini jika dituliskan dalam
formulasi matematik, maka bentuknya adalah:

(1)
2.2.2. Tingkat Energi Elektron di Dalam Kotak
Langkah kedua adalah, kita harus menghitung tingatan energi electron ketika
electron tersebut berada pada suatu posisi tertentu. Besarnya energi total electron
yang berada di dalam kota adalah

(2)
8

di mana
adalah operator energi kinetik dan
adalah energi potensial. Karena
energi potensial elektron di dalam kotak V(x) = 0, dan dengan merumuskan energi
kinetik
, serta mengalikan fungsi gelombang
kanan, maka pers.(2) dapat dituliskan sebagai

di ruas kiri dan ruas

(3)
di sini
adalah merupakan operator momentum linear untuk 1- dimensi.
Apabila harga operator momentum linear dimasukkan ke dalam pers.(3) dan semua
variabelnya disusun di sebelah kiri, maka hasilnya adalah :

(4)
dimana

(5)

Perhatikanlah bahwa pers. (4) adalah merupakan persamaan difrensial orde-2


yang dapat diselesaikan melalui persamaan karakteristik. Misalkan solusi pers.(4)
berbentuk:

(6)
jika pers.(6) disubstitusikan ke pers.(4) diperoleh:

(7)
Pada pers.(7) e2x 0 , sebab jika demikian kita tidak akan mendapatkan arti
fisis apa-apa darinya. Jadi yang harus berharga nol adalah
mengingat bahwa harga

, sehingga dengan

1 = i (i = imaginary), maka harga dari pers.(7)

adalah:

= ik

(8)

bila pers.(8) disubstitusikan ke dalam pers.(6) diperoleh:


(9)
A, dan B adalah merupakan konstanta. Bila exponensial pada pers. (9)
diuraikan ke dalam fungsi sinus dan cosinus, hasilnya adalah:

(10)

di mana C = A+B (bagian real), dan D = (A-B) i (bagian imaginernya).


Harga C dan Ddari pers.(10) dapat ditentukan melalui masalah syarat batas
(boundary value problem). Marilah kita mencoba untuk menganalisa kotak potensial.
Bila kita tinjau dari arah sebelah kiri pada daerah x = 0, terlihat bahwa
,
tetapi jika kita tinjau dari arah sebelah kanan pada daerah x = L, maka = (x = L) =0
Jika x = 0; pers. (10) dapat ditulis :

(0) = C cos k . 0 + D sin k . 0


0 = C cos 0 + D sin 0

(11)

Supaya pers.(11) memiliki arti fisis, maka C = 0 dan D } 0, sehingga pers.(11)


dapat dituliskan menjadi:

(x) = D sin kx

(12)

Sebelum kita menghitung harga D, terlebih dahulu kita tentukan harga k


melalui syarat batas pula, yaitu Jika x = L; pers.(12) dapat ditulis:
(L) = D sin kL

(13)

10

Pada pers.(13) harga D } 0, tetapi yang harus bernilai nol adalah sin kL,
dengan demikian harga k dapat dituliskan sebagai;
k=n

(14)

Untuk mengetahui besarnya tingkatan energi elektron tingkat ke-n yang berada
di dalam kotak potensial, substitusikan pers.(14) ke dalam pers.(15) hasilnya adalah:

(15)
Pers.(15) merupakan energi elektron tingkat ke-n didalam kotak yang biasa
disebut sebagai nilai eigen (eigen value). Dari persamaan tersebut terlihat bahwa
elektron yang terperangkap dalam kotak potensial selalu berada pada suatu tingkatantingkatan energi tertentu. Hal ini dapat memberi penjelasan kepada kita, bahwa
spektrum suatu atom tidaklah bersifat kontinu, tetapi bersifat diskrit.
2..2.3. Fungsi Eigen dan Rapat Probabilitas
Untuk menentukan fungsi eigen dan rapat probabilitas elektron di dalam kotak
potensial, kita harus menentukan harga D (konstanta normalisasi) dari pers.(13)
melalui syarat normalisasi, yaitu:

(16)
Pers.(16) dapat diselesaikan melalui pengintegralan yang standar, dengan
mengingat bahwa:
(17)
Bila pers.(17) disubstitusikan ke dalam pers.(16), maka hasilnya (turunkan
sebagai latihan) adalah:

(18)

11

Harga sin 2n

pada pers.(18) adalah nol, sehingga nilai konstanta D dari

pers.(18) adalah:
D=

2
L

(19)

Jika faktor normalisasi D sebesar

2/L ini dimasukkan ke dalam pers. (13),

maka fungsi gelombang elektron pada tingkat ke-n adalah:


x

(x)

2
L

sin

nx
L

(20)
Pers.(20) ini yang dikenal sebagai fungsi eigen (eigen function) menunjukkan
bahwa disamping elektron memiliki tingkat-tingkat energi tertentu, dia juga bergerak
di dalam kotak dalam bentuk gelombang sinusoidal menurut tingkatan energinya,
seperti digambarkan pada fungsi gelombang (x), dan rapat probabilitas P(x) = |(x)|2
sebagai fungsi dari posisi berikut ini.

12

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Persamaan Schrodinger merupakan persamaan pokok dalam mekanika kuantum


seperti halnya hukum gerak kedua yang merupakan persamaan pokok dalam mekanika
Newton dan seperti persamaan fisika umumnya persamaan Schrodinger berbentuk
persamaan

diferensial.

Penerapan

persamaan

Schrodinger

pada

sistem

fisika

memungkinkan kita mempelajari sistem tersebut dengan ketelitian yang tinggi. Penerapan
ini telah memungkinkan perkembangan teknologi saat ini yang telah mencapai tingkatan
nano. Penerapan ini juga sering melahirkan ramalan-ramalan baru yang selanjutnya diuji
dengan eksperimen. Penemuan positron yang merupakan anti materi dari elektron
adalah salah satu ramalan yang kemudian terbukti. Perkembangan teknologi dengan
kecenderungan alat yang semakin kecil ukurannya pada gilirannya akan menempatkan
persamaan Schrodinger sebagai persamaan sentral seperti halnya yang terjadi pada
persamaan Newton selama ini.

13

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2016.
Persamaan
Schordinger
https://id.wikipedia.org/wiki/Persamaan_Schr%C3%B6dinger, diakses
Desember 2016
Fiji,

(online).
pada 06

Muhammad. Partikel dalam Suatu Kotak Satu Dimensi (online)


https://www.scribd.com/doc/188767283/Partikel-Dalam-Suatu-Kotak-SatuDimensi#logout, diakses pada 06 Desember 2016

Nandar.2014. Persamaan Schrodinger (online). http://www.geocities.ws/sang_nandar/fisika/artikel1.html diakses pada 06 Desember 2016

14