Anda di halaman 1dari 28

HENRI LEFEBVRE, seorang sosiolog Marxis Prancis, menganjurkan

bahwa sesungguhnya tidak ada ruang yang sepenuhnya ideal karena ruang itu
sendiri secara spasial dalam masyarakat kapitalis modern merupakan arena
pertarungan yang tidak akan pernah selesai diperebutkan. Semua pihak yang
berkepentingan akan terus berusaha mencari cara untuk mendominasi pemakaian
atau pemanfaatan atas suatu ruang dan mereproduksi segala pengetahuan untuk
mempertahankan hegemoni mereka atas pemanfaatan ruang tersebut. Dengan kata
lain, ruang bersama (common space) akan selalu menyesuaikan kepentingan
kapital dalam rangka menjamin relasi atau hubungan produksi dan reproduksi
yang bersifat kapitalistik. Dalam pengertian ini pulalah produksi ruang secara
spasial akan mempengaruhi mentalitas para penghuninya sehingga menciptakan
apa yang disebut oleh Henri Lefebvre sebagai produksi ruang sosial, yakni relasi
produksi antara ruang secara spasial dengan masyarakat. Oleh karena itu,
Lefebvre menganjurkan supaya kita memahami ruang dalam kaitannya dengan
sejarah dan konteks secara spesifik.
Dalam pengertian ini, produksi ruang (baik secara spasial maupun secara
sosial) erat kaitannya dengan perkembangan mode of production suatu
masyarakat modern, di mana produksi pengetahuan mengenai ruang merupakan
refleksi atas relasi keduanya. Konstruksi atas ruang merupakan hal yang bersifat
esensial dalam perkembangan kapitalisme. Untuk memahami logika ini, saya
mengutip dari Lefebvre sebagai berikut:
Space is real in the same sense that commodities are real since (social) space is
a (social) product (Lefebvre 2000:26).
Jadi, space (ruang) mewujudkan kehendak untuk memamerkan diri (a desire
of self exhibition) karena baik ruang maupun komoditas harus digunakan (dipakai)
sehingga (baik ruang maupun komoditas) memiliki nilai. Dengan kata lain,
kapitalisme modern telah menjadikan ruang sebagai locus of production
sekaligus cara untuk mengartikulasikan komoditas yang akan terus berkembang.

Dalam pengertian ini, urbanisasi dengan sendirinya didefinisikan melalui caracara bagaimana kapitalisme berproduksi di ruang yang merupakan arena produksi
komoditas yang dipertarungkan (dikompetisikan) oleh berbagai kepentingan.
Sebagai dampaknya, hegemoni pengetahuan terus direproduksi untuk
mempertahankan konsep ruang sebagai suatu hasrat untuk memamerkan diri.
Konsekuensinya adalah pengetahuan mengenai kota (the science of the city)
mengukuhkan konsep kota hanya sebagai objek melalui ideologi yang bersandar
pada netralitas ilmu pengetahuan dan mengabaikan konteks sejarah sosial
perkembangan masyarakat yang menghidupkan ruang itu. Oleh karena itulah,
Lefebvre menggarisbawahi pentingnya mengartikulasikan produksi ruang sosial
sebagai basis ideologis dalam arena reproduksi pengetahuan mengenai kota.

Produksi Ruang
Ruang sosial dibentuk oleh tindakan sosial (social action), baik secara
individual maupun secara kolektif. Tindakan sosiallah yang memberi makna
pada bagaimana suatu ruang spasial dikonsepsikan oleh mereka yang mengisi dan
menghidupkan ruang tersebut. Produksi ruang sosial berkenaan dengan
bagaimana praktik spasial diwujudkan melalui persepsi atas lingkungan
(environment) yang dibangun melalui jaringan (networks) yang mengaitkan
aktivitas-aktivitas sosial seperti pekerjaan, kehidupan pribadi (private life), dan
waktu luang (leisure). Lefebvre mendeskripsikan itu sebagai relasi yang bersifat
dialektis antara ruang (spasial dan sosial) yang hidup, ruang yang dipersepsikan,
dan ruang yang dikonsepsikan, atau apa yang disebut sebagai tiga rangkaian
konseptual atas ruang (a conceptual triad of social space production). Adalah
pemahaman yang komprehensif tentang cara kerja tiga rangkaian konseptual atas
produksi ruang sosial itu yang juga menjadi bagian penting dari reproduksi
pengetahuan yang bersifat ideologis bagi perkembangan suatu kota, khususnya

karena hegemoni pengetahuan tentang tata ruang kota semata-mata menjadikan


kota sebagai objek komoditas kapitalisme belaka.
Tiga rangkaian konseptual atas ruang yang dimaksud Lefebvre
menjelaskan bagaimana suatu ruang sosial dihasilkan, yaitu sebagai berikut:
(1) Praktik Spasial (Spatial Practices).
Praktik spasial mengacu pada produksi dan reproduksi hubungan spasial antar
objek dan produk. Hal inilah yang turut menjamin berlangsungnya kontinuitas
produksi ruang sosial dan kohesivitasnya. Dalam pengertian ini, ruang sosial
meliputi pula keterlibatan setiap anggota masyarakat yang memiliki hubungan
atau keterkaitan tertentu terhadap kepemilikan atas ruang itu. Dengan
demikian, kohesi sosial atas suatu ruang ditentukan oleh derajat kompetensi
dan tingkat kinerja atas pemakaian ruang (fisik atau material). Praktik spasial
semacam inilah yang dipahami sebagai ruang yang hidup (lived space).
(2) Representasi Ruang (Representations of Space).
Representasi ruang tergantung pada pola hubungan produksi dan tatanan yang
bertujuan memaksakan suatu pola hubungan tertentu atas pemakaian suatu
ruang. Maka, representasi ruang berkenaan dengan pengetahuan, tanda-tanda,
atau kode-kode, bahkan sikap atau suatu hubungan yang bersifat frontal.
Representasi-representasi yang dihasilkan oleh suatu ruang oleh karena itu
menjadi beragam. Representasi-representasi semacam itu merujuk pada suatu
ruang yang dikonsepsikan, seperti misalnya ruang untuk para ilmuwan, para
perencana tata ruang, masyarakat

urban, para pengkaji dan pelaksana

teknokrat, dan para perekayasa sosial lainnya, seperti dari para seniman yang
memiliki

ekspresi

dan

sikap

mental

misalnya

yang

unik

dalam

mengidentifikasi ruang sementara para pengkaji memandang proses


pembentukan atas ruang sebagai suatu rekayasa ilmiah seperti melalui kajian
(studi) atau penelitian dengan cara mengidentifikasi apa saja yang menghidupi

suatu ruang, konsekuensi apa yang dirasakan oleh orang atas ruang itu serta
apa yang mereka pahami tentang ruang tersebut dan dinamikanya. Pada
konteks inilah ruang merupakan suatu produksi yang muncul dari konsepsi
orang dan/atau beberapa orang atau orang pada umumnya; ruang yang
dikonsepsikan (conceived space).
(3). Ruang Representasional (Representational Space)
Ruang representational mengacu pada ruang yang secara nyata hidup (lived
space) dan berkaitan secara langsung dengan berbagai bentuk pencitraan serta
simbol yang terkait dengannya. Hal ini termasuk bagaimana para penghuni
ruang atau orang-orang yang menggunakannya saling berinteraksi melalui
praktik dan bentuk visualisasi di dalam suatu ruang. Konsepsi atas ruang pun
muncul berdasarkan berbagai pengalaman nyata yang dialami oleh setiap orang
sebagai sebab-akibat dari suatu hubungan yang bersifat dialektis antara praktik
spasial dan representasi ruang. Ruang menjadi sesuatu yang secara khusus
dipersepsikan oleh individu, kelompok, atau suatu masyarakat; ruang yang
dipersepsikan (perceived space).
Lefebvre kemudian juga menerapkan tiga rangkaian konsepsi atas ruang
sebagai metode untuk menganalisis sejarah spasial. Ia berpendapat bahwa ruang
sosial diproduksi dan direproduksi dalam kaitannya dengan berbagai kekuatan
yang mempengaruhi produksi ruang dan juga dengan berbagai relasi yang
terbentuk di dalam produksi ruang fisik atau material. Kekuatan-kekuatan tersebut
bukan sekadar menjadi kompetisi atas ruang fisik yang sepenuhnya hampa
atau kosong atau bahkan netral, melainkan proses tarik-menarik kepentingan
antar berbagai macam kekuatan yang saling mempengaruhi upaya untuk
menghuni ruang material (fisik) yang sebenarnya telah ada.
Secara konkret, Lefebvre menjabarkan bahwa perkembangan hegemoni
kapitalisme modern secara paralel berkonsekuensi logis pada produksi ruang
abstrak. Pada ruang abstrak inilah kapitalisme menciptakan bentuk-bentuk

homogenisasi, hierarki, dan berbagai macam fragmentasi sosial lainnya. Di sisi


lain, kapitalisme dan globalisasi, atau kapitalisme yang berlangsung secara global
dan secara spasial di berbagai tempat, melahirkan berbagai bentuk dan pola relasi
yang sama, serupa, hampir mirip di berbagai belahan dunia, tetapi juga
sekaligus melahirkan perbedaan-perbedaan praktik dan konsepsi terhadap
ruang itu sendiri. Ruang komunal, sejarah lokal suatu tempat, serta kekhususan
yang dimiliki suatu masyarakat atas tempat yang mereka huni bersama merupakan
proses budaya yang ikut mempengaruhi konsepsi atas ruang representasional
dan keunikan yang dimilikinya masing-masing.
Sementara di sisi lain, modernisme dan implikasinya terhadap ruang
fisik membentuk suatu pola mental yang nyaris menuju pada berbagai bentuk
penyeragaman sikap mental perilaku atas penggunaan atau pemakaian ruang.
Hal ini karena kehidupan modern menekankan berbagai bentuk kepemilikan
sebagai sesuatu yang secara rigid berdasarkan pada kepemilikan pribadi
(personal belonging). Konsep kepemilikan pribadi inilah yang dikembangbiakkan
melalui pasar dan relasi yang terbangun di dalam hubungan produksi.
Meski demikian, Lefebvre tidak sepenuhnya memandang ruang modern
secara sinis (pesimistis). Baginya, memang modernisme telah melahirkan
berbagai macam kontradiksi-kontradiksi termasuk kontradiksi yang bersifat
spasial. Akan tetapi, menurutnya, berbagai tekanan yang muncul akibat
kontradiksi yang mempengaruhi gangguan atas tatanan dan kohesi sosial
melahirkan berbagai macam atau keberagaman konsepsi ruang abstrak sebagai
suatu bentuk tawaran-tawaran alternatif atas pemakaian ruang bersama. Dengan
kata lain, kontradiksi yang muncul atas produksi ruang (sebagai kesatuan proses
secara material sosial) terus akan melahirkan perlawanan atas upaya-upaya untuk
menghemonisasikan cara (praktik) penggunaan, kepemilikan, dan rasa yang
dimiliki atas suatu ruang yang dihuni oleh suatu masyarakat.

Pendahuluan: Ruang (Sosial) Sebagai Produk (Sosial)


Henri Lefebvre merupakan salah seorang filsuf kiri Prancis yang penting
walau tidak sepopuler filsuf Marxis di masanya seperti Althusser, Adorno,
Benjamin, Marcuse, Heidegger, Habermas atau Debord. Lahir di 1901 dan
meninggal di tahun 1991, Lefebvre merupakan satu-satunya filsuf Marxis yang
mengalami langsung pergulatan peradaban Eropa sejak awal modernisme hingga
pascamodernisme. Di akhir usianya ia menyelesaikan versi terjemahan dari
magnum opus-nya, The Production of Space. Perhatian Lefebvre pada ruangruang sosial berawal dari keterlibatannya dengan gerakan Situasionist
International dalam perlawanan terhadap rezim Charles De Gaulle di Paris yang
berujung pada peristiwa Paris Riot di bulan Mei 1968. Lefebvre banyak
melakukan analisis terhadap kegagalan aksi massa tersebut. Menurutnya, akses
massa terhadap ruang-ruang kota menjadi kunci dari kegagalan itu. Itulah awal
pemikiran The Right to the City, yang kemudian melahirkan The Production
of Space.

Titik tolak yang penting dari The Production of Space adalah kontribusi
atas satu aspek yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh kaum Marxis,
Strukturalis dan bahkan oleh Marx sendiri. Yaitu peran ruang, peran spasialisasi
dalam kehidupan manusia dan bagaimana perebutan wacana yang terjadi di
dalamnya. Jika Marx berbicara mengenai relasi produksi dan akumulasi kapital,
maka itu semua tidak dapat berlangsung tanpa adanya ruang. Relasi produksi itu
sendiri juga menciptakan ruang yang khusus diperuntukkan baginya. Kapitalisme
bahkan lebih jauh lagi, menjadikan ruang sebagai sarana dari akumulasi kapital.
Misalnya tanah dan bangunan sebagai asset.
Relasi sosial menciptakan ruang, akan tetapi yang lebih penting bagi
Lefebvre adalah melihat bahwa ruang sosial adalah produk sosial. Ruang sosial
memiliki logika yang panjang untuk menjelaskan dirinya sendiri. Lefebvre
menjelaskan,
(Social) space is a (social) product the space thus produced also serves as a
tool of thought and of action; that in addition to being a means of production it is
also a means of control, and hence of domination, of power; yet that, as such, it
escapes on part from those who would make use of it. The social and political
(state) forces which engendered this space now seek, but fail, to master it
completely; the very agency that has forced spatial reality towards a sort of
uncontrollable autonomy now strives to run it into the ground, then shackle and
enslave it. (1991, 26-27)
Secara sosial, ruang menjadi sarana untuk meraih dan menciptakan
kontrol. Ruang dikonstruksi sedemikian rupa sebagai sarana pemikiran dan
tindakan, yang koheren sifatnya dengan upaya kontrol dan dominasi dalam relasi
produksi Marx. Dalam pengertian ini ruang diproduksi sedemikian rupa untuk
melanggengkan kekuasaan dan menciptakan dominasi. Itu sebabnya, pada bagian
awal dari The Production of Space, Lefebvre lebih fokus kepada persoalan
bagaimana peradaban Barat menciptakan konsep ruang melalui konstruksi dan
struktur ilmu pengetahuan. Ia memersoalkan bagaimana relasi sosial juga
menciptakan akumulasi pengetahuan yang pada akhirnya berperan dalam
konstruksi wacana tentang ruang. Jauh sebelum manusia menyadari bagaimana

ruang itu seharusnya diperlakukan (dikapitalisasi, misalnya), wacana tentang


ruang telah terbentuk lebih dahulu. Setidaknya wacana ini telah menjadi konsep
dasar bagi manusia untuk membuat kategori, memilah, memisahkan dan menyekat
ruang-ruang fisik yang ada dalam kesehariannya. Wacana ini memberikan
kemampuan manusia untuk menciptakan ruang dalam bentuk abstraksi. Yaitu,
ketika alam mulai diabstraksi oleh manusia ke dalam praktik sosio-kultural seperti
menjadikannya bagian dari lagu atau ornamentasi pada karya seni. Lefebvre
mengungkapkan,
The first implication is that (physical) natural space is disappearing. Granted,
natural space was and it remains the common point of departure: the origin,
and the original model, the social process perhaps even the basis of all
originality. Granted too, that natural space has not vanished purely and simply
from the scene As source and as resource, nature obsesses us, as do childhood
and spontaneity, via the filter of memory Nature is also becoming lost to
thought Even the powerful myth of nature is being transformed into a mere
fiction, a negative utopia: nature is seen as merely the raw material out of which
the productive forces of a variety of social systems have forged their particular
spaces. True, nature is resistant, and infinite in its depth, but it has been defeated,
and now waits only for its ultimate voidance and destruction. (1991, 30-31).
Menurut Lefebvre, ini adalah awal dari runtuhnya ruang alamiah ke dalam ruang
sosial. Semenjak ruang alamiah ini runtuh ke dalam ruang sosial melalui proses
abstraksi dan pewacanaan, maka ruang mulai memiliki historisitasnya. Historisitas
ini ternarasikan melalui proses abstraksi dan pewacanaan terhadap ruang yang
lambat lain menjadi sebuah konsepsi keruangan (konsepsi spasial). Bermula dari
pemisahan ruang-ruang sakral dan profan, manusia mulai membangun relasi
sosial yang berdasar pada praktik sosial dalam ruang-ruang tertentu. Jika ruang
sudah memiliki historisitasnya, maka dengan sendirinya ruang-ruang baru yang
dikonstruksi melalui relasi sosial ini adalah juga sebuah produk sosial. Hal ini
juga yang mendasari pembedaan ruang dengan alam. Ruang pada akhirnya
berimplikasi pengetahuan.

Ruang dibentuk oleh konsepsi spasial manusia. Konsepsi spasial tersebut


lambat laun menstrukturisasi dirinya menjadi ilmu pengetahuan tentang ruang.
Jika alam memberikan inspirasi manusia untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan lainnya seperti biologi, matematika, fisika, kimia dan ilmu alam lain,
maka ruang menciptakan ilmu pengetahuan tentang dirinya sendiri. Dalam The
Production

of

Space

Lefebvre

berusaha

menunjukkan

bahwa

ilmu

pengetahuanlah yang paling berperan memberi jalan bagi manusia untuk


memaknai lingkungannya sebagai ruang. Baginya, persoalan pemaknaan manusia
terhadap ruang seharusnya menjadi agenda utana ilmu pengetahuan karena
keberadaan manusia itu sendiri di dalam ruang alamiahnya sebagai sebuah
peristiwa spasial. Lefebvre lalu memulainya dari perdebatan ruang dan waktu,
yang ia maknai sebagai historisitas.
Aspek Historisitas: Ruang dan Waktu Sebagai Kontinuum
Serupa dengan argumentasi Foucault di masa yang sama (1967), relasi
antar-ruang yang terjadi sepanjang sejarah peradaban Barat telah memosisikan
ruang secara dikotomis terhadap waktu. Dicurigai, hal tersebut bermula dari
interpretasi terhadap teks-teks Biblikal tentang penciptaan jagad raya dalam kitab
Kejadian (Genesis) pada masa Abad Pertengahan dan sebelumnya. Waktu
dianggap dimulai bersamaan terjadinya ledakan pertama yang membuat jagad
menjadi ada. Bahkan interpretasi waktu dalam konsep yang sekuensial tersebut
berasal dari hal yang sama. Kemudian perkembangan ilmu pengetahuan Barat
yang menjadikan ilmu pengetahuan alam sebagai garda depannya membuat
peradaban Barat terobsesi dengan rasionalisme yang dijelaskan melalui kausalitas.
Kausalitas kemudian memberi jalan bagi peradaban Barat untuk mengonstruksi
pemahaman terhadap ruang dalam prinsip yang sama, bahwa ada ruang maka ada
waktu, atau sebaliknya, waktu harus meruang untuk menjadi ada.
Kelanjutan dari prinsip ini adalah ruang-ruang yang dioperasionalisasikan
secara dikotomis, seperti ruang sakral (rumah ibadah, gereja) dan profan (kedai
minum, pasar, alun-alun), ruang privat (istana raja, rumah tinggal) dan ruang
publik (pasar, alun-alun) hingga surga dan neraka. Untaian logika ini kelamaan

menempatkan ranah publik dan kolektif sebagai yang profan dan yang privat
sebagai yang sakral. Gereja menjadi sakral karena dimaknai sebagai rumah Tuhan.
Lefebvre berargumentasi bahwa ruang yang kolektif itulah ruang sesungguhnya,
yang diproduksi melalui relasi sosial dengan berbagai modus produksi. Kembali
kepada penjelasan sebelumnya, interseksi dari relasi sosial dengan modus
produksi manusia menghasilkan berbagai beragam ruang yang saling berinterseksi
satu sama lain. Interseksi ini adalah relasi antar-ruang yang lambat laun sejalan
dengan perkembangan peradaban, perlu untuk dikendalikan.
Upaya kontrol (means of control) yang berhasil dikontruksi manusia
melalui ilmu pengetahuan adalah ilmu geografi. Geografi ini merupakan proyeksi
dari intensi kontrol atas ruang yang sesungguhnya dikehendaki manusia sebagai
sebuah praksis politik, yang kemudian dimaknai sebagai Geopolitik. Dalam
geografi, ruang alamiah dirasionalisasi dan diabstraksi baik secara imajinasi
spasial (seperti peta) maupun secara utilitarian (yang menjadikan tanah sebagai
asset kapital).
Uraian di atas mencoba menjelaskan bagaimana konstruksi ilmu
pengetahuan membantu manusia untuk merasionalisasi ruang-ruang alamiahnya
ke dalam abstraksi modus produksi. Jika logika Marxian mereduksi segala praktik
sosial ke dalam abstraksi ekonomi, maka Lefebvre justru berusaha menambahkan
determinisme Marxian tentang relasi produksi ini kepada konteksnya, yaitu
melalui relasi manusia dengan lingkungan alamiah yang menjadi latar belakang
sosialnya. Lefebvre menempatkan persoalan praktik rasionalisasi sebagai
kecenderungan untuk mereduksi ruang ke dalam abstraksi utilitarian, ketika
manusia secara kolektif mulai melakukan aktivitas produksinya dengan kesadaran
penuh. Modus produksi membangun relasi ruang-ruang dan kemudian
memroduksi ruang baru sesuai dengan kepentingan produksi. Cara ini dilakukan
dengan apropriasi. Lefebvre menjelaskan bahwa setiap kelompok masyarakat
dan setiap modus produksi yang berlangsung memroduksi ruangnya masingmasing. Lefebvre menyatakan,
every society and hence every mode of production with its subvariants (i.e.
all those societies which exemplify the general concept) produces a space, its

own space For the ancient city had its own spatial practice: it forged its own
appropriated space. (1991, 31)
Aktivitas produksi ruang membuat sebuah proses produktif tertanam
dalam ruang tersebut. Itu sebabnya, ketika membicarakan ruang, aspek historisitas
tidak mungkin dihindari. Historisitas dari ruang, sebagai praktik memroduksi
realitas, bentuk dan representasinya tidak dapat serta-merta dianggap sebagai
kausalitas yang berimplikasi waktu (baik dalam konsep Gregorian tradisional
berupa jam, tanggal, hari, minggu, bulan, dan tahun) yang mewujud dalam
peristiwa, atau sekuen. Ungkap Lefebvre,
If space is produced, if there is a productive process, then we are dealing with
history The history of space, of its production qua reality, and its forms and
representations, is not to be confused either with the causal chain of historical
(i.e. dated) events, or with a sequence, whether teleological or not, of customs
and laws, ideals and ideology, and socio-economic structures or institutions
(superstructures). But we may be sure that The forces of production (nature;
labour and the organization of labour; technology and knowledge) and, naturally,
the relations of production play a part though we have not yet defined it in the
production of space. (1991, 46)
Historisitas dalam konteks ini merupakan seluruh rangkaian relasi
produksi yang berlangsung dalam sebuah ruang, termasuk konstruksi ilmu
pengetahuan yang memungkinkan proses produksi ruang tersebut terjadi.
Keseluruhan rangkaian relasi tersebut, mengejawantah melalui relasi sosial
(antarkolektif) sebagai sebuah praktik sosial.
Agar

dapat

memahami

ruang

secara

komprehensif

sebagaimana

yang

diargumentasikannya, Lefebvre menganjurkan untuk melepaskan dikotomi ruang


yang telah melembaga dalam paradigma episteme Barat. Itu sebabnya, Lefebvre
mengajukan konsep pemahaman ruang tidak dalam struktur yang dikotomis, akan
tetapi secara trikotomis. Konsep ini kemudian disebut Triad Konseptual yaitu
representasi dari relasi produksi yang berimplikasi dalam sebuah praktik sosial.
Triad Konseptual ini yang dimaksudnya sebagai The Production of Space, yaitu

praktik memroduksi ruang yang dilakukan manusia melalui relasi produksi pada
sebuah relasi dan praktik sosial.
A triad: that is, three elements and not two. Relations with two elements boil
down to oppositions, contrasts or antagonisms. They are defined by significant
effects: echoes, repercussions, mirror effects. (1991, 38-39)
Konsepsi triad dimaksudkan Lefebvre untuk menghindari oposisi elemen satu
dengan lainnya, sebagai jawaban atas problem dikotomi yang dipersoalkannya.
Sebagai sebuah trikotomi, ketiganya merupakan struktur yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Setiap ruang (baik dalam tataran ruang, tempat maupun
locus) dalam peradaban manusia merupakan hasil produksi manusia untuk
membedakannya dengan alam yang di dalamnya terdapat struktur trikotomis ini.
Masing-masing elemen dari triad ini menunjang keberadaan yang lain. Triad itu
terdiri dari Praktik Spasial (Spatial Practice), Ruang Representasional
(Representational Space) dan Representasi Ruang (Representations of Space).
Setiap elemen dari triad ini akan dibahas dalam uraian berikut ini.
Praktik Spasial (Spatial Practice)
Berangkat dari uraian panjang di atas, Lefebvre memandang bahwa hanya
melalui relasi sosio-historis dari sebuah sosial sebuah ruang dapat diproduksi.
Namun bagaimana sebuah ruang secara konkret diproduksi? Lefebvre
mendudukkan praktik sosial sebagai praktik spasial. Praktik sosial dalam
perspektif Lefebvre selalu mengapropriasi ruang-ruang fisik tempat praktik sosial
terjadi atau berlangsung. Apropriasi dapat berupa tindakan fisik dan konkret
memberi

tindakan

atau,

melalui

konstruksi

ilmu

pengetahuan

yang

memungkinkan praktik pemaknaan terhadap ruang, yang merupakan sebuah


pemfungsian spesifik terhadap ruang (specific use of space). Elaborasi dari
Lefebvre menjelaskan,
Everyone knows what is meant when we speak of a room in an apartment, the
corner of the street, a marketplace, a shopping or cultural centre, a public
place, and so on. These terms of everyday discourse serve to distinguish, but not
to isolate, particular spaces, and in general to describe a social space. They

correspond to a specific use of that space, and hence to a spatial practice that
they express and constitute. (1991, 16)
Menyesuaikan dengan penggunaan spesifik ruang, setiap praktik sosial,
menurut Lefebvre, selain berimplikasi ruang juga merupakan konstitusi dari
kategorisasi dan pengunaan spesifik ruang yang disebutkan di atas. Setiap praktik
sosial selalu menemukan ruangnya sendiri dan sebaliknya, praktik sosial
merupakan praktik yang disadari atau tidak, menciptakan (Lefebvre menggunakan
istilah memroduksi) ruang. Praktik sosial selalu menginvestasikan makna
tertentu kepada sebuah ruang (Massey, 1994) dan membuat sebuah ruang menjadi
tempat. Secara geografis dan geopolitik, ruang yang telah dimaknai sebagai
tempat adalah locus (lokasi). Praktik sosial, disadari atau tidak, melakukan
pemaknaan-pemakaan itu terus-menerus. Lefebvre tidak membedakan praktik
sosial dengan praktik spasial. Praktik spasial adalah praktik sosial. Spatial
Practice (Praktik Spasial) dijelaskannya:
embraces production and reproduction, and the particular locations and
spatial sets characteristic of each social formation. Spatial practice ensures
continuity and some degree of cohesion. In terms of social space, and of each
member of a given societys relationship to that space, this cohesion implies a
guaranteed level of competence and a specific level of performance. (1991, 33)
Praktik spasial secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketika
seorang petani menanami sebidang tanah dengan singkong, dapat dikatakan
bahwa ia sedang memaknai sebuah ruang (berupa tanah kosong) sebagai ladang.
Ladang ini menjadi tempatnya melakukan aktivitas produksi. Jika kemudian ia
mengurus hak kepemilikan atas sebidang tanah tersebut melalui kantor urusan
agraria, maka pemaknaan tersebut menjadi lebih spesifik. Ia memberikan kategori
geografis untuk menjelaskan bahwa aktivitas produksinya menanam singkong
berada pada lokasi geografis tertentu. Sebagaimana dikatakan Lefebvre,
the spatial practice of a society secretes that societys space; it propounds
and presupposes it, in a dialectical interaction; it produces it slowly and surely as
it masters and appropriates it. From the analytic standpoint, the spatial practice
of a society is revealed through the deciphering of its space. (1991, 38)

Dalam hal ini, ladang ini telah menjadi tempat fisik yang dibingkai oleh
relasi antar-ruang yang membedakan ruang yang diapropriasinya dalam konteks
tertentu. Ladangnya menjadi berbeda dengan pekarangan rumahnya walaupun
mungkin saja ia juga menanam singkong di pekarangannya.
Contoh di atas menjadi lebih rumit jika setting yang digunakan adalah aktivitas
dagang. Misalnya jika sebidang tanah kosong dimaknai secara kolektif sebagai
pasar, yaitu tempat bertenunya relasi sosial dalam bentuk transaksi dagang dan
praktik jual-beli. Di dalam pasar, masing-masing pedagang mengapropriasi ruang
masing-masing (berupa kios) dan interseksi ruang-ruang antarkios tersebut
membangun relasi sosial yang dikonstruksi bersama dengan para pembeli. Oleh
karena pasar tidak akan menjadi pasar tanpa transaksi dagang, maka sebagai
ruang, pasar berinterseksi dengan wacana-wacana lain di luar praktik spasial yang
fisik. Pada saat yang sama, praktik spasial tidak hanya semata apropriasi fisik
terhadap ruang. Ia juga merupakan praktik simbolik seperti yang dijelaskan
berikut ini.
Representasi Ruang (Representations of Space)
Wacana lain di luar praktik spasial dalam tataran fisik yang disebutkan di
atas adalah berbagai wacana yang diperlukan untuk memroduksi atau
mengonstruksi ruang. Lefebvre menjelaskan bahwa ruang yang dikonseptualisasi
sebagai

wacana

adalah

ruang

itu

sendiri.

Secara

terstruktur,

ruang

dikonseptualisasi menjadi sebuah abstraksi dan ilmu oleh para ilmuwan, seperti
arsitek, ahli planologi, insinyur sipil, pemegang kebijakan, pemerintah. Abstraksi
secara terus-menerus diwacanakan pada akhirnya menjadikan ruang runtuh ke
dalam representasi. Wacana dan konsepsi tentang ruang hanya memungkinkan
persoalan ruang dipraktikkan secara verbal dan melalui representasi bahasa dan
sistem tanda. Ia mengatakan bahwa ruang ini adalah the dominant space in
any society (or mode of production) towards a system of verbal (and therefore
intellectually worked out) signs. (1991, 39).
Ruang Urban merupakan contoh yang paling tepat. Terminologi Ruang
Urban itu sendiri merupakan produksi dari praktik intelektual melalui sistem

tanda yang verbal, dan terartikulasikan dalam ruang ilmu pengetahuan.


Terminologi Ruang Urban hadir sebagai istilah yang merepresentasikan ruang
hidup (Lived Space) manusia kontemporer di perkotaan. Dalam ruang hidup ini,
praktik spasial terjadi dan terus-menerus mengapropriasi spasialitas sehari-hari
manusia urban. Lebih jauh lagi, spasialitas ini kemudian dipersepsi oleh ilmuwan
yang ahli di bidang ruang (sebagai Perceived Space) dan kemudian secara verbal
dipersoalkan dalam berbagai diskusi akademik. Dalam diskusi akademik tersebut,
ruang yang dibicarakan sama sekali tidak hadir secara fisik. Namun hasil dialog
akademis tersebut menghasilkan ruang baru (berupa Conceived Space), yaitu
wacana ilmiah tentang ruang (dari ruang fisik di kota) yang dibicarakan. Dari
situlah konsepsi terhadap ruang tertentu hadir dan melembaga sebagai wacana.
Dalam situasi ini, gagasan seorang arsitek atau desainer interior tentang ruang
tidur yang ia gambar di buku sketsanya sudah merupakan sebuah ruang.
Ruang yang kemudian diproduksinya secara fisik tidak akan mungkin
mewujud tanpa adanya gagasan dan sketsa tersebut. Relasi antara gagasan
terhadap ruang dengan praktik spasial merupakan sebuah kontinuum tempat
historisitas manusia direproduksi terus-menerus (melalui praktik spasial dan relasi
sosial) sebagai konstruksi sosio-historis. Hal inilah yang Lefebvre maksud sebagai
relasi antara Perceived, Conceived dan Lived Space. Ia menggambarkan relasi
tersebut,
Relations between the three moments of the perceived, the conceived and the
lived are simple or stable, nor are they positive in the sense in which this term
might be opposed to negative, to the indecipherable, the unsaid, the prohibited,
or the uncounscious. The fact is, however, that these relationships have always
had to be given utterance, which is not the same thing as being known even
uncosciously. (1991, 46).
Representasi Ruang membuka peluang bagi ruang yang tadinya tidak hadir
dalam kesadaran menjadi ditemukan oleh peradaban. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan peradaban manusia telah memungkinkan manusia mengubah
ruang alamiah menjadi kota. Hal tersebut dimulai ketika ruang masuk ke
dalam kesadaran manusia, masuk ke dalam sistem verbal manusia melalui

percakapan dan perlahan membangun episteme tentang ruang. Melalui praktik


simbolik dalam bahasa, ilmu pengetahuan dan struktur pemaknaannyalah manusia
menciptakan ruang-ruang dalam sistem representasi. Lefebvre menjelaskan bahwa
Representasi Ruang adalah ruang yang: tied to the relations of production and
to the order which those relations impose, and hence to knowledge, to signs, to
codes, and to frontal relations. (1991, 33).
Representasi Ruang, dalam konteks ini, berfungsi sebagai penata dari
berbagai relasi yang menghubungkan ruang-ruang tertentu dengan berbagai
wacana di luar ruang itu sendiri. Representasi inilah yang memberikan jalan bagi
manusia untuk membingkai ruang pada konteksnya, dan kemudian memaknainya
melalui sistem tanda, kode dan bahasa. Pemaknaan ini diperlukan agar ilmu
pengetahuan tentang ruang dapat dikembangtumbuhkan, dan dengan demikian
manusia dapat menempatkan dirinya sebagai pengendali dari berbagai relasi antarruang yang terjadi. Manusia membutuhkan ilmu pengetahuan tentang ruang agar
dapat memroyeksikan dirinya dan orang lain dalam sebuah ruang.
Geografi, arsitektur dan planologi merupakan sarana manusia untuk
membangun relasi antar-ruang agar manusia dapat menguasai dan mengendalikan
ruang-ruang di sekelilingnya, baik yang hadir secara fisik sebagai realitas yang
belum dimaknai, maupun yang telah dimaknai melalui aktivitas produksi ruang.
Interseksi antar-wacana ilmu pengetahuan dengan keinginan untuk mengontrol
ruang dapat ditemukan secara konkret dalam abstraksi ekonomi yang berimposisi
terhadap ruang tersebut. Pada momen tertentu, ilmu pengetahuan tentang ruang
berbalik menjadi sarana bagi praktik kapitalisasi ruang yang didominasi logika
atau abstraksi ekonomi. Dalam hal ini, Lefebvre menyatakan:
Representations of space are certainly abstract, but they also play a part in
social and political practice: established relations between objects and people in
represented space are subordinated to a logic which will sooner or later break
them up because of their lack of consistency. (1991, 42).
Ilmu pengetahuan membantu manusia memaknai ruang sebagai Perceived
Space, yaitu ruang yang dipersepsi dalam kerangka pikir tertentu dan dikonversi
ke

dalam

sistem

representasi

tertentu

dan

menjadikan

ruang

dalam

tataran Conceived Space sebagai ruang yang semata simbolik. Simbolisme


tersebut

mewujud

dalam

spasialisasi

dominan

yang

sesungguhnya

memarjinalisasi Lived Space (Ruang yang Dihidupi).


Persoalan yang dicermati Lefebvre adalah bagaimana relasi antar-ruang
yang termapankan melalui struktur ilmu pengetahuan juga memapankan relasi
antara manusia dengan objek dalam sebuah ruang yang direpresentasikan. Dalam
situasi ini, manusia tersubordinasi ke dalam kerangka logika geopolitik yang
dilakukan kelompok dominan. Ruang urban yang dihidupi manusia kini telah
membangun logika spasialnya sendiri untuk memapankan posisi dominan sebagai
penguasa, dan lebih jauh lagi, logika spasial tersebut diperlukan untuk memaksa
masyarakat urban memahami hirarki kekuasaan yang ditanamkan negara ke dalam
ruang urbannya. Menjadi penting misalnya, kantor pemerintah berada di pusat
kota dengan alun-alun yang besar dan luas, alih-alih ruang publik. Namun ruang
publik ini menuntut semua orang untuk berperilaku sesuai dengan keinginan
penguasa.

Hal

tersebut

yang

membuat,

sebuah

konser

kelompok

Punk underground sulit terlaksana di alun-alun pusat kota.


Representational Spaces (Ruang Representasional)
Ketika ruang dipahami semata secara simbolik, maka sesungguhnya
praktik spasial dalam keseharian manusia menjadikan simbolisme itu sebagai
penanda relasi antar-ruang yang paling konkret. Contoh yang paling sederhana
adalah ikon laki-laki dan perempuan yang dipasang di setiap penanda dan pintu
toilet umum. Ikon tersebut merupakan pencapaian intelektual dari bidang ilmu
Desain Grafis yang menjadi derivasi dari Seni Rupa. Kepentingan pelayanan
umum yang beroperasi di ruang publik tertentu, katakanlah sebuah bandar udara,
menuntut adanya jawaban pertanyaan bagaimana memisahkan ruang privat lakilaki dan perempuan. Layanan umum yang dimaksudkan di sini sebenarnya adalah
upaya kontrol atas seksualitas yang terjadi di ruang publik bandar udara.
Yang menurut Lefebvre patut dicermati adalah bila ruang representasional
runtuh ke dalam simbolisme semata. Menyambung contoh pada bagian
sebelumnya kita dapat memahami mengapa sebuah konser Punk atau

Metal underground sulit diselenggarakan di sebuah alun-alun kota yang


berhadapan dengan simbol negara kantor pemerintah kota. Ruang publik yang
seharusnya dalam konsep Habermas menjadi ruang tempat konsensus terbangun
karena pertemuan kepentingan dari berbagai kelompok yang (dipaksa menjadi)
egalitarian, dalam konsep Lefebvre menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi hal
tersebut dapat terjadi jika kekuasaan yang beroperasi melalui spasialisasi
dominan berhasil menemukan logika umum, untuk diterjemahkan ke dalam
berbagai wacana kepentingan. Maka menurut Lefebvre, Ruang Representasional
hanya menghasilkan hal-hal yang simbolik sifatnya. Yang menjadi persoalan
adalah, karena seringkali produk simbolik Ruang Representasional ini terjebak
dalam trend estetik, ia menjadi temporer dan mudah sekali kehilangan
momentumnya. Seperti yang dijelaskannya:
... the only product of representational spaces are symbolic works. These are
often unique; sometimes they set in train aesthetic trends and, after a time,
having provoked a series of manifestations and incursions into the imaginary, run
out of stream. (1991, 42)
Ketika sebuah Ruang Representasional kehilangan momentum, maka
sebenarnya ruang tersebut juga kehilangan historisitasnya karena historisitas telah
diambil alih oleh berbagai abstraksi melalui pemaknaan simbolik dan praktik
simbolisasi yang dilakukan kelompok dominan. Abstraksi terus-menerus ini telah
menjadikan praktik simbolik dan simbolisme tersebut sebagai ruang itu sendiri.
Ruang ini yang kemudian disebutnya sebagai Ruang Abstrak (Abstract Space).
Lefebvre menjelaskan:
This abstract space took over from historical space, which nevertheless lived on,
though gradually losing its force, as substratum or underpinning of
representational spaces. Abstract space functions objectically, as a set of
things/signs and their formal relationships: glass and stone, concrete and steel,
angless and curves, full and empty. Formal and quantitative, it erases
distinctions, as much those which derive from nature and (historical) time as
those which originate in the body (age, sex, ethnicity). (1991, 48-49)

Contoh Ruang Representasional yang telah runtuh ke menjadi Ruang


Abstrak adalah Bundaran Hotel Indonesia (Bundaran HI), Jakarta. Melalui relasi
kekuasaan, Bundaran HI yang pada awalnya diciptakan sebagai penanda Jakarta
metropolis kemudian menjadi situs tempat demonstrasi dilakukan sejak masa
Reformasi 1998. Kini, Bundaran HI kehilangan pemaknaan historisnya ketika
Pemerintah Kota DKI merombak situs tersebut dengan membuatkan air mancur
yang megah.
Penanda baru berupa air mancur tersebut dapat dimaknai sebagai upaya
meruntuhkan Bundaran HI sebagai Ruang Representasi dari kelas atau kelompok
tertentu yang menentang negara, karena ruang itu, secara representasional telah
direbut sebelumnya oleh masyarakat. Sejak Bundaran HI tampil dengan wajah
baru yang lebih mewah dan indah, maka kelompok lain dari masyarakat
memaknainya secara berbeda, yaitu sebagai tempat untuk melakukan praktik
produksi kreatif seperti fotografi atau perekaman gambar untuk film. Demonstrasi
politik telah memberikan jalan bagi semua orang untuk berani mengakses
Bundaran HI, namun kini yang tersisa hanyalah akses bagi semua orang karena
berbagai pemaknaan yang berbeda terhadap ruang tersebut telah saling tumpangtindih. Hal tersebut terjadi karena Ruang Representasional yang dikonstruksi
negara hingga kelompok demonstran masa Reformasi telah runtuh ke dalam
abstraksi pertunjukan.
Abstraksi pertunjukan ini dilakukan oleh negara sendiri, yaitu Pemerintah
Kota (dengan cara memercantik air mancur menjadikan Bundaran HI
sebagai landmark ibukota yang penting), juga oleh media massa (cetak dan
elektronik) yang semasa Reformasi, telah memosisikan Bundaran HI sebagai
ruang demo yang efektif melalui headline berita yang mereka sampaikan terusmenerus sejak 1998. Praktik tersebut menjadikan Bundaran HI sebagai Ruang
Abstrak, bukan abstrak karena tidak dapat dipahami manifestasi fisiknya,
melainkan abstrak dalam artian telah sepenuhnya runtuh ke dalam abstraksi.
Abstraksi

masing-masing

kelompok

yang

menarasikan

kepentingannya

disuperimposisi dengan abstraksi kelompok dominan, melalui relasi kuasa


Pemerintah DKI dengan kuasa media massa. Abstraksi tersebut merebut aspek

historisitas yang telah diinvestasikan berbagai pihak, baik negara sejak masa Orde
Lama hingga masyarakat umum kini. Pada akhirnya, sejarah yang tertulis pada
situs kota tersebut hilang dan semata menjadi objek kota yang formal: monumen
fisik. Oleh masyarakat kontemporer, Bundaran HI kini semata dimaknai sebagai
panggung demonstrasi.
Ruang Representasional oleh Lefebvre dikatakan sebagai ruang yang,
embodying complex symbolisms, sometimes coded, sometimes not, linked to the
clandestine or underground side of social life (1991, 33). Namun di sisi lain,
Ruang Representasional adalah ruang yang menurut Lefebvre penuh dinamika
karena di ruang inilah berbagai kepentingan diartikulasikan melalui hasrat dan
tindakan. Implikasinya adalah waktu, yang secara ironis justru memarjinalkan
historisitas. Uraian tentang Bundaran HI dijelaskan oleh Lefebvre sebagai berikut:
Representational spaces, on the other hand, need obey no rules of consistency or
cohesiveness. Redolent with imaginary and symbolic elements, they have their
source in history in the history of a people as well as in the history of each
individual belonging to that people. By contrast, these experts have no
difficulty discerning those aspects of representational spaces which interest them:
childhood memories, dream, or uterine images and symbols (holes, passages,
labyrinths). Representational spaces is alive: it speaks. It has an affective kernel
or centre: Ego, bed, bedroom, dwelling, house; or: square, church, graveyard. It
embraces the loci of passion, of action and of lived situations, and thus
immediately implies time. Consequently it may be qualified in various ways: it
may be directional, situational or relational, because it is essentially qualitative,
fluid and dynamic. (1991, 40-42)

Spasialisasi Dominan Superblok Jakarta


Persoalan Ruang Abstrak dalam pemikiran Lefebvre tidak semata
menyangkut bagaimana abstraksi yang simbolik merebut spasialisasi konkret di

tataran sosial. Di masa pergulatan pemikirannya, Lefebvre banyak berdialog


dengan Guy Debord yang menggagas The Society of Spectacle (1967).
Dialognya dengan Debord terefleksi pada paralelisme Masyarakat Ruang
Abstrak (The Society of Abstract Space) yang digagasnya, dengan Masyarakat
Pertunjukan (The Society of Spectacle) gagasan Debord. Lefebvre menekankan
bahwa Masyarakat Ruang Abstrak adalah masyarakat yang harus diubah (dan jika
perlu dilawan) karena tidak berdasarkan pada relasi sosial yang berbasis pada
tindakan produktif yang nyata. Masyarakat Ruang Abstrak hidup dalam
simbolisme yang tidak berakar pada pengalaman sosial dan pengalaman spasial
sesungguhnya. Akibatnya, praktik spasial yang mereka lakukan menjadi
spasialisasi dominan yang cenderung mengondisikan masyarakat untuk hidup
dalam homogenitas.
Sebagai filsuf, Lefebvre berprinsip bahwa filsafat modern seharusnya
memberikan lebih banyak perhatian pada tataran praksis dan bagaimana filsafat
dapat sepenuhnya menjadi tindakan nyata. Highmore (2003) dalam Radical
Philosophy edisi Mei Juni 2003 menyebut bahwa,
Lefebvre offers a definition of philosophy as an attempt to bring the greatest
possible quantity of present-day human experience, the experience of our socalled modern era, along with the practical experience of love, political action
or knowledge, into a set of reflections and concepts.
Hal ini menjelaskan bahwa fokus utama Lefebvre dalam spasialitas adalah
bagaimana pengalaman nyata manusia modern tentang cinta, tindakan politik dan
pengetahuan, dapat merefleksi sebagai kerangka konseptual. Kerangka konseptual
ini yang memberikan acuan bagi manusia modern merespon spasialisasi dominan.
Respon ini diperlukan mengingat setiap manusia modern (yang urban) berhak atas
ruang hidupnya di kota. Hal ini diungkapkannya sebagai The Right to the
City. Purcell (2003, 103) menjelaskan:
Lefebvres vision of the right to the city is therefore one of radical
transformation of urban social and spatial relations. It would transform both
current liberal-democratic citizenship relations and capitalist social relations.
First, the dominant model of citizenship is entirely upended by the right to

participation. Lefebvres idea entails much more than simply returning to or


enlarging the established liberal-democratic citizenship structures in the face of
governance change. Rather urban inhabitance directly confronts national
citizenship as the dominant basis for political membership.
Dalam keseharian urban Jakarta, kutipan di atas dapat dilihat pada kasus
hadirnya superblok-superblok di Jakarta. Superblok adalah kawasan terintegrasi
yang

terdiri

dari

apartemen

(pemukiman/hunian),

mall

mewah

(pusat

perbelanjaan) dan perkantoran. Merujuk pada Kusno (2009). Superblok dapat


dimaknai sebagai strategi Pemerintah Kota untuk mengembalikan investasi ke
tengah kota Jakarta yang sempat lari akibat peristiwa Mei 1998. Hilangnya
investasi bersamaan pula dengan hilangnya Pemerintah Kota sebagai otoritas
tertinggi kota. Di sisi lain, superblok dapat dibaca lebih kritis lagi dalam bingkai
spasialisasi dominan, yaitu dengan menempatkan superblok sebagai gejala
homogenisasi ruang ke dalam abstraksi ekonomi.
Sebagai contoh kasus mal Taman Anggrek yang menempati sebidang tanah
seluas 10.000 m2 di kawasan Jakarta Barat. Areal tanah yang diokupasinya adalah
bekas taman anggrek milik Tien Suharto, semasa beliau masih menjadi ibu negara
RI. Sebelum menjadi kawasan superblok yang selesai dibangun tahun 1996,
taman anggrek merupakan kawasan wisata dengan nilai ekonomi yang tidak
seberapa. Kapitalisasi terhadap taman anggrek, areal seluas 10.000 m 2 itu dapat
menampung setidaknya sekian ratus toko, sekian ribu lalu lalang manusia pekerja
dan pengunjung mal, serta sekian ratus kepala keluarga bertempat tinggal di
kompleks apartemen yang dibangun persis di atas mal. Kalkulasi akhir
menunjukkan signifikansi profit yang dihasilkan. Tindakan mengubah taman
anggrek menjadi Kompleks Apartemen dan Mal Taman Anggrek adalah
spasialisasi dominan.
Persoalannya adalah, ketika gagasan spasialisasi terhadap kawasan
tersebut dinilai berhasil, maka kapitalisasi terhadap lahan menemukan logika yang
membenarkannya, yaitu logika ekonomi. Setiap area yang tidak dianggap
produktif lalu dikapitalisasi dengan cara yang sama. Nilai tanah dilipatgandakan
melalui apropriasi lahan, dengan cara memroduksi ruang-ruang hidup secara

diametral bertumpuk ke atas. Karakteristik dua dimensional area tersebut


dimodifikasi secara geometris dengan membuat bangunan yang menumpuk ke
atas. Logika matematis menjelaskan bahwa jika dalam area seluas 10.000
m2 setiap manusia memerlukan luas lahan individual 2m2, maka jumlah manusia
yang dapat ditampung adalah 5.000 orang. Jika superblok dibangun 5 tingkat ke
atas, maka dapat dimaknai sebagai pelipatgandaan luas lahan 5 lapis ke atas. Hal
tersebut memungkinkan daya tampung lahan naik 5 kali lipat, sehingga jumlah
manusia yang dapat ditampung adalah 25.000 orang.
Dengan manusia sebanyak itu dalam kawasan seluas 10.000 m 2, melalui
praktik jual-beli ruang (untuk keperluan usaha maupun tempat tinggal) dan
transaksi dagang setiap harinya, maka bayangkan akumulasi kapital yang
terkonsentrasi di kawasan tersebut. Seluruh relasi sosial dan produktivitas yang
terkonstruksi dalam ruang tersebut tidak membangun relasi sosial yang mengakar
(meminjam istilah Lefebvre embedded). Rangkaian logika ekonomi menjadi
penggerak utama dari terbentuknya kelompok masyarakat yang hidup di kawasan
superblok Taman Anggrek. Kelompok masyarakat ini yang dikategorikan
Lefebvre sebagai masyarakat ruang abstrak, yang terbentuk tidak melalui relasi
sosial yang menyejarah dengan segala aspek historisitas yang terinskripsi pada
praktik sosial mereka. Masyarakat ini justru terbentuk melalui abstraksi ekonomi
terhadap ruang, melalui spasialisasi dominan, yang dioperasionalisasikan oleh
kelompok penguasa, dalam hal ini, penguasa kapital. Dalam hal ini Lefebvre
menjelaskan:
It is beyond dispute that relations of inclusion and exclusion, and of implication
and explication, obtain in practical space as in spatial practice. 'Human beings'
do not stand before, or amidst, social space; they do not relate to the space of
society as they might to a picture, a show, or a mirror. (1991, 294)
Lebih parah lagi ketika keberhasilan superblok Taman Anggrek kemudian
dijadikan parameter pembangunan ruang hidup oleh Pemerintah Kota. Kini telah
terbangun beberapa kawasan superblok di beberapa wilayah ibukota. Prinsip kerja
superblok tetap sama, yaitu melipatgandakan nilai ekonomis sebuah ruang dengan
cara mereproduksinya secara berlapis-lapis, ditumpuk ke atas. Penumpukan ruang

seperti ini merupakan kekhasan sekaligus pencapaian penting dari peradaban


modern. Sejak arsitek Frank Llyod Wright dan Le Corbusier membangun New
York dan Paris secara vertikal melalui gedung pencakar langit di masa awal
modernisme 1930-an, peradaban modern menjadi terobsesi dengan pendirian
monumen phallic yang mampu mengakumulasi kapital. Efisiensi menjadi kata
kunci penting untuk memaknai praktik spasial seperti ini.
Efisiensi bahkan menjadi satu-satunya cara yang dipahami kelompok
penguasa untuk memaknai spasialitas. Hal ini disebabkan oleh hilangnya relasi
sosial di tataran publik atau warga kota akibat semakin kurangnya ruang publik di
Jakarta. Di sisi lain, relasi produksi juga telah digantikan oleh akumulasi kapital.
Kegiatan ekonomi (yang menjelaskan aktivitas produksi) telah runtuh sepenuhnya
dalam logika kapitalisme yang berbasis pada logika akumulasi kapital. Persoalan
yang penting dalam konteks ini adalah akumulasi kapital tersebut berdampak pada
akumulasi ruang, karena perkembangan kapitalisme telah mengorbankan ruang
secara signifikan. Ruang-ruang kota yang dikapitalisasi dan dikonversi menjadi
ruang-ruang ekonomis namun tidak produktif. Mengapa tidak produktif? Ruang
ekonomis menghasilkan profit namun tidak berbasis pada relasi produksi yang
konkret.
Spasialisasi dominan cenderung me-render kota atau ruang hidup menjadi
homogen. Persoalan homogenitas tidak hanya tampil dalam visualitas (fisik kota).
Yang harus menjadi perhatian adalah ketika spasialisasi dominan juga memaksa
kelompok yang didominasi untuk tunduk dalam spasialitas dan kehilangan relasi
sosial mereka. Contohnya, ketika sebuah kampung pemukiman padat di tengah
kota hendak dijadikan superblok. Terlepas dari argumentasi ekonomi yang kerap
diutamakan dalam pertimbangan, kampung pemukiman itu harus tergusur oleh
kuasa kapital yang beroperasi melalui kebijakan ruang (spasialisasi dominan). Hal
tersebut berarti, lapangan olah raga yang didirikan bersama oleh warga kampung
akan digantikan oleh pusat kebugaran (fitness center) di dalam kompleks
superblok yang didirikan (hanya) oleh segelintir pemilik modal untuk tujuan
akumulasi kapital.

Warung-warung rokok dan toko kelontong kecil di dalam kampung akan


digantikan oleh hypermarket yang biasanya berada di lantai paling bawah
superblok. Tempat mangkal tukang sayur yang biasanya menjadi ajang pertemuan
ibu-ibu kampung sambil berbelanja harian untuk keperluan masak sehari-hari
akan digantikan oleh ruang-ruang display dalam hypermarket. Di dalam ruang
seperti itu, relasi sosial yang terjadi ketika berbelanja (bertemu dan berbincangbincang) tidak akan terjadi. Uraian di atas masih belum memersoalkan siapa yang
akan menempati ruang superblok tersebut. Apakah warga kampung yang sama
punya hak untuk tetap tinggal di superblok tersebut? Tentu jawabannya ya, namun
persoalannya hak yang dipertanyakan itu direpresentasikan oleh kekuatan kapital
semata. Ya jika ada uang. Hal ini menjelaskan, bahwa spasialisasi dominan
merupakan praktik segregasi yang dilakukan Pemerintah Kota terhadap
warganya. Space is divided up into designated (signified, specialized) areas and
into areas that are prohibited (to one group or another). It is further subdivided
into spaces for work and spaces for leisure, and into daytime and night-time
spaces. (1991, 292). Dalam kasus superblok, spaces for leisure dan spaces for
work telah dikemas sedemikian rupa menjadi sesuatu yang compact dan padat.
Persoalan dari spasialisasi dominan adalah ia dikendalikan oleh logika
yang dominan. Jika kapitalisme menjadi logika dominan maka spasialisasi
dominan akan didorong oleh semangat kapitalistik. Sebaliknya seperti di negaranegara komunis di masa perang dingin, spasialisasi dominan didorong oleh
dominasi negara. Apa yang digagas Lefebvre dalam The Production of Space
adalah kita dapat melihat bagaimana dominasi (relasi kuasa dalam bahasa
Foucault, 1967) yang terjadi di ruang kota melalui praktik pembangunan dan
apropriasi ruang fisik kota. Lefebvre menjelaskan,
the replacement of residence by housing the latter being characterized by its
functional abstraction. The ruling classes seize hold of abstract space as it comes
into being (their political action occasions the establishment of abstract space,
but it is not synonymous with it); and they then use that space as a tool of power,
without for all that forgetting its other uses: the organization of production and of
the means of production - in a word, the generation of profit. (1991, 314)

Lefebvre mengingatkan bahwa fenomena seperti yang diuraikan di atas


perlu untuk disikapi secara serius, yaitu melawan. Seperti yang ia anjurkan,
Revolt through sudden re-spatialisation. Warga kota dianjurkan untuk
menciptakan ruang-ruang alternatif atas ruang dominan yang disuperimposisikan
penguasa terhadap mereka. Ruang-ruang alternatif ini ia sebut Ruang
Differensial (1991, 397). Ruang seperti ini merupakan apropriasi fisik terhadap
kota yang memberikan peluang bagi warga kota untuk mengartikulasikan maknamakna berbeda terhadap ruang hidupnya di kota. Ruang Differensial ini dapat
ditemukan dengan mudah sehari-hari, yaitu ketika para pedagang makanan kaki
lima yang muncul di pinggiran superblok.
Space is what makes it possible for the economic to be integrated into the
political. 'Focused' zones exert influences in all directions, and these influences
may be 'cultural', 'ideological', or of some other kind. It is not political power per
se that produces space; it does reproduce space, however, inasmuch as it is the
locus and context of the reproduction of social relationships - relationships for
which it is responsible. (1991, 321)
Lefebvre menjelaskan bahwa Ruang Differensial memanusiakan, karena ia
memberikan peluang bagi perbedaan untuk tampil. Persoalan yang selanjutnya
harus dicermati adalah jika spasialisasi dominan memertemukan kapitalisme
dengan sektarianisme yang berbasis agama, etnis atau penanda identitas kolektif
lainnya. Lefebvre mengingatkan, The space that homogenizes thus has nothing
homogenous about it. (1991, 308). Menurut Lefebvre, Ruang Differensial adalah
ruang

yang

memberikan

hak

untuk

perbedaan

(The

Right

to

Difference). Contoh sederhananya adalah taman bermain di sebuah ruang kota


yang menjelaskan bagaimana leisure space dapat menjadi Ruang Differensial
di sebuah urban. Ruang ini menjadi counter-space terhadap proyek planologi yang
mendorong spasialisasi dominan kota. Melalui Shields (1999), As a counterspace/counter-site towards dominant spatialization on the city planning, its
existence becomes a contradiction balancer that has been accumulated in an
urban space.

Spasialisasi dominan selalu menghasilkan Ruang-ruang yang Kontradiktif


(Contradictory Space). Dalam ruang seperti ini setiap perbedaan dihomogenisasi
ke dalam ruang-ruang yang homogenik. Setiap perbedaan representasi
kebudayaan diunifikasi ke dalam satu sistem bahasa yang tunggal. Contoh
sederhana dari superblok adalah bagaimana setiap gedung tampil dalam ciri
arsitektural (visualitas dan juga episteme terhadap ruang) yang sama, karena
diproduksi oleh paradigma yang sama dan diinterupsi oleh abstraksi yang sama
(abstraksi ekonomi). Di dalam ruang superblok, semua mengonsumsi representasi
kebudayaan yang sama melalui produk-produk kapitalisme yang sama, seperti
yang diargumentasikan Lefebvre:
In a tight contradiction space, every difference is homogenized into homogenous
spaces. Every cultural identity representation is unified (look back at the example
on buildings). At the same time, those homogenous rooms contradict creates
empty spaces (without identity, without investment of meaning by certain cultural
identity) that are very different. (1991, 356).

DAFTAR PUSTAKA
http://indoprogress.com/2016/01/produksi-ruang-dan-revolusi-kaum-urbanmenurut-henri-lefebvre/
http://culturalidiot.blogspot.co.id/2012/06/henri-lefebvre-dialektika-spasialdan.html