Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa remaja adalah masa peralihan dimana perubahan fisik dan
psikologis dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Hurlock, 2003). Perubahan
psikologis yang terjadi pada remaja meliputi intelektual, kehidupan emosi, dan
kehidupan sosial. Perubahan fisik mencakup organ seksual yaitu alat-alat
reproduksi sudah mencapai kematangan dan mulai berfungsi dengan baik
(Sarwono, 2006). Masa remaja mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap
berikutnya dan juga penuh dengan masalah-masalah. Remaja yang sedang
mencari jatidirinya sering melakukan eksperimen (coba-coba) walaupun melalui
banyak kesalahan.
Kenakalan remaja merupakan perilaku remaja yang tidak dapat diterima
secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal (Asian Brain,2009). Kenakalan
remaja yang sering terjadi didalam masyarakat bukanlah suatu keadaan yang
berdiri sendiri melainkan timbul oleh beberapa faktor, yaitu: faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari individu itu
sendiri meliputi adanya krisis identitas dimana remaja gagal mencapai
identitasnya, adanya kontrol diri yang lemah, dan ketidak mampuan untuk
mengembangkan

kontrol

diri

untuk

bertingkah

laku

sesuai

dengan

pengetahuannnya. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar


individu meliputi keluarga dan lingkungan, didalam keluarga dapat terjadinya
konflik seperti : keluarga broken home, sibling rivalry, anak yang terlalu banyak
sehingga kurangnya perhatian dari orang tua, adanya pendidikan yang salah

dalam keluarga yang memicu timbulnya prilaku negatif dan adanya pengaruh
negatif dari lingkungan (Agustiani 2006),.
Menurut Zulfa (2008), Kenakalan remaja tidak dapat digambarkan dalam
satu karakteristik saja karena kenakalan remaja terbagi dalam 3 tingkatan, yaitu:
Pertama, kenakalan biasa seperti: berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah,
pergi dari rumah tanpa pamit. Kedua, kenakalan yang menjurus pada
pelanggaran dan kejahatan seperti: mengendarai kendaraan tanpa SIM, mencuri.
Dan ketiga, kenakalan khusus seperti: penyalahgunaan narkotika, seks bebas,
pemerkosaan. Remaja cenderung menginginkan kesenangan duniawi saja,
tanpa memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan akibat perbuatannya
tersebut. Anak remaja sekarang banyak menyalah artikan tantang pergaulan
bebas yang sebenarnya. Remaja hanya tahu bawasannya remaja bebas
melakukan perbuatan apapun yang ada inginkan.
Pergaulan bebas adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang, yang
mana kata bebas yang dimaksud adalah melewati batas-batas norma ketimuran
yang ada. Masalah pergaulan bebas ini sering kita dengar baik di lingkungan
maupun dari media massa. Pergaulan bebas di kalangan remaja sudah bukan
hal yang asing di kalangan masyarakat kita saat ini. Bahkan seks bebas sudah
dianggap bagian dari ritual kehidupan masyarakat, terutama dikalangan generasi
muda. Istilah tabu dan dosa seolah-olah sudah tidak ada lagi. Hal ini masih
ditambah lagi dengan minimnya pengetahuan masyarakat kita tentang seks yang
menyebabkan para pelaku seks bebas semakin tidak terkendali.
Fenomena seperti di atas tentunya sangat memprihatinkan dan
membutuhkan perhatian yang serius bukan hanya dari pemerintah tapi juga dari
masyarakat secara umum. Kebebasan media dalam mengekspos tayangan-

tayangan khusus dewasa akhir-akhir ini ikut berperan serta menjadi pemicu
maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja. Disamping itu juga dampak dari
era globalisasi yang memudahkan setiap orang untuk mengakses berbagai
informasi dari dalam dan luar negeri melalui jaringan internet ikut juga
memperparah

keadaan.

Gambar-gambar

porno

dan

artikel-artikel

yang

menyesatkan tentang seks dengan mudah dapat diakses oleh para remaja
melalui internet, tidak perduli berapapun usianya.
Masa

remaja

juga

menginginkan

kebebasan

untuk

melakukan

aktivitasnya sedangkan orang tua berhak untuk mengontrol aktivitasnya


sehingga seringkali muncul konflik antara remaja dan orang tua karena
kebanyakan orang tua menginginkan anak remaja mereka menjadi anak remaja
yang ideal. Kekhawatiran bertambah besar ketika orang tua memaksakan
kehendak terhadap anak remaja mereka (Surbakti, 2009). Namun, cara yang di
lakukan oleh orang tua untuk megurangi kecemasan terhadap anak remajanya
dari tindakan negatif tidak selalu diterima.
Kecemasan adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya.
Kecemasan merupakan kekuatan yang besar untuk menggerakkan tingkah laku
baik tingkah laku normal maupun tingkah laku yang menyimpang, yang
terganggu dan kedua-duanya merupakan pernyataan, penampilan, penjelmaan,
dari pertahanan terhadap kecemasan (Gunarso,2003). Sedangkan kecemasan
menurut Freud (1964) adalah suatu keadaan perasaan efektif yang tidak
menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang
terhadap bahaya yang akan datang. Keadaan yang tidak menyenangkan itu
sering kabur dan sulit menunjuk dengan tepat, tetapi kecemasan itu sendiri
selalu dirasakan.

Dari data BKKBN, 46% remaja berusia 15 19 tahun sudah berhubungan


seksual. Sensus nasional bahkan menunjukan 48 51% perempuan hamil
adalah remaja. Sedangkan penelitian perilaku seks dikalangan remaja SMP dan
SMA yang dilakukan oleh Komnas pada tahun 2014 Komnas menemukan 62,7%
remaja SMP sudah tak perawan serta 21,2% mengaku pernah menjadi aborsi.
Penelitian ini dilakukan di 17 kota besar di Tanah Air. Berdasarkan hasil
observasi yang peneliti lakukan pada sekeliling tempat tinggal peneliti terdapat
banyak anak remaja yang merokok, minum-minuman keras, keluyuran malam,
bahkan banyak remaja yang hamil diluar nikah. Berdasarkan hasil wawancara
dengan beberapa orang tua yang memiliki anak remaja tentang maraknya
pergaulan bebas dikalangan remaja, orang tua mengatakan cemas dengan
perilaku remaja sekarang ini yang cenderung negatif dan adanya situs facebook
seperti sekarang ini yang kadang menjerumuskan anak remaja ke pergaulan
bebas atau yang lainnya. Ditambah lagi beredarnya berita yang mengatakan
anak lari dari rumah demi orang yang dikenalnya lewat facebook. Bentuk perilaku
orang tua yang mengatakan cemas ada yang tidak memperbolehkan anak keluar
rumah bersama teman-temannya, tidak memperbolehkan anaknya berkumpul
bersama teman-temannya, dengan harapan anaknya tidak melakukan tindakan
tersebut.
Kecemasan orang tua dapat menyebabkan dampak negatif baik pada
anak maupun pada orang tua itu sendiri. mengingat pergaulan yang heterogen
ini menyebabkan remaja terkadang mengikuti gaya. Jika penyesuaian diri remaja
rendah, meskipun kecemasan yang dilakukan orang tua berlebih. Dampak yang
terjadi pada anak yaitu anak merasa tertekan, kurang bergaul dan selalu
terkekang, yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah menarik diri pada

anak. Sedangkan pada orang tua itu sendiri dampak yang terjadi akibat
kecemasan dapat menimbulkan perubahan secara fisik maupun fisiologis yang
artinya mempengaruhi syaraf otonom dimana tekanan darah dapat meningkat,
dan lain-lain. Dengan adanya efek dari kecemasan maka kecemasan perlu
diatasi. Dalam mengatasi masalah tersebut diperlukan berbagai macam upaya
diantaranya dengan mengikuti penyuluhan terutama tentang perubahan perilaku
remaja yang mengarah pada perubahan negatif dan apa yang harus dilakukan
dalam mengahadapi anak seperti itu, menganjurkan kepada orang tua untuk
mengikuti seminar tentang remaja dan selalu mencari informasi melalui media
elektronik maupun media masa. Dengan mengikuti beberapa kegiatandan
mencari informasi-informasi tersebut dapat memperbaiki hubungan anak dengan
orang tua, dan dapat menyadarkan remaja bahwa kecemasan orang tua seperti
itu ada dampak positifnya agar jangan sampai terlibat pergaulan bebas dan salah
langkah,
Kecenderungan pergaulan bebas didasari oleh proses keluarga antara
lain variabel konstelasi keluarga dan juga peran orang tua. Beberapa variabel
konstelasi keluarga yang mempengaruhi hubungan antara pergaulan bebas
dengan kecemasan orang tua antara ain komunikasi efektif dan penerapan
disiplin dirumah. Komunikasi Efektif adalah saling bertukar informasi, ide,
kepercayaan, perasaan dan sikap antara dua orang atau kelompok yang
hasilnya sesuai dengan harapan. Komunikasi orangtua dan anak yang beranjak
remaja dapat dikatakan efektif bila kedua belah pihak saling dekat, saling
menyukai, adanya keterbukaan sehingga komunikasi antara keduanya menjadi
hal yang menyenangkan dan tumbuh sikap percaya antara keduanya.
Komunikasi efektif dilandasi adanya kepercayaan, keterbukaan, dan dukungan

yang positif pada anak agar anak dapat menerima dengan baik apa yang
disampaikan oleh orangtua. Menurut Gunadi (2010) komunikasi orangtua dan
remaja juga merupakan pengisi kebutuhan remaja yang hakiki akan interaksi.
Tanpa komunikasi, remaja akan tumbuh dalam kehampaan sehingga remaja
mudah masuk dalam pergaulan yang negatif.
Menurut Henny (2006), Apabila dalam lingkungan keluarga, remaja
banyak menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang terdekatnya dengan
mampu menjaga keefektifan komunikasi antara orangtua dan remaja, maka
besar peluang bagi remaja untuk tumbuh sebagai manusia dewasa yang dapat
berkomunikasi dengan baik dan bersikap positif

pada diri sendiri dan

lingkungannya sehingga tidak mudah membuat remaja terjerumus pada


pergaulan bebas. Adanya komunikasi efektif bertujuan agar pikiran antara
orangtua dan anak tidak mengalami kesenjangan yang drastis dan anak lama
kelamaan akan lebih terbuka dan leluasa membicarakan masalah yang dihadapi
remaja. Hal ini sesuai dengan pedapat Suranto (2011), tentang ciri-ciri
komunikasi interpersonal yang efektif yakni ketika saat orangtua melakukan
komunikasi dengan anak sebaiknya mampu memahami konsep komunikasi itu
sendiri, sehingga anak tidak merasakan tuntutan yang berlebihan pada dirinya.
Menurut Singodimedjo (2002), disiplin adalah sikap kesediaan dan
kerelaan seseorang untuk mematuhi dan menaati norma-norma peraturan yang
berlaku di sekitarnya. Peran Orang tua sangat dibutuhkan dalam menerapkan
disiplin drumah. Pada dasarnya, penanaman disiplin yang dilakukan oleh orang
tua dirumah bertujuan untuk mengatur perilaku anak agar menjadi anak yang
baik. Namun kenyataannya, sering kali disiplin diterapkan secara kaku tanpa
melihat kebutuhan perkembangan anak. Dengan pengertian lain, dalam

menanamkan disiplin, sering kali dipakai ukuran-ukuran orang dewasa.


Terkadang disiplin diterapkan secara tidak konsisten, misalnya anak dihukum
karena melakukan perbuatan yang salah, namun pada kesempatan lain anak
dibiarkan saja walaupun melakukan perbuatan yang sama.
Anak memerlukan gambaran yang jelas tentang tingkah laku yang
diperbolehkan dan yang dilarang, anak merasa lebih aman apabila mengetahui
secara pasti batas-batas perbuatan yang diizinkan. Cara menyatakan batasan
pun

harus

dipikirkan

dengan

baik,

Harus

dicari

jalan

bagaimana

mengemukakannya dengan tetap menghormati harga diri anak tanpa melukai


perasaannya, memberikan larangan harus dilakukan dengan mengungkapkan
kewibawaan, bukannya penghinaan dan cemoohan. Banyak orang tua di zaman
sekarang yang memanjakan anak dan menafsirkan tindakan sebagai pernyataan
cinta. Namun sebenarnya, tindakan itu merupakan tambahan pada teknik orang
malas.
Menjalankan disiplin harus dengan suasana tenang, penyampaian atau
penjelasan arti disiplin harus dilakukan dengan lemah lembut dan akrab. Hal
tersebut akan menolong anak untuk menyadari kesalahannya dan mendorong
dia memperbaikinya. Namun dalam hal ini, sering kali orang tua bertindak salah,
saat

memberi

nasihat

atau

memperbaiki

kesalahan

anak,

orang

tua

melakukannya sambil marah. Marah hanya akan membuat anak kehilangan


harga diri di mata orang tuanya. Hal tersebut juga dapat membuat si anak
merasa kebingungan dan tidak dapat mengubah perbuatannya yang salah.
Dalam mendisiplin anak, hendaknya orang tua bisa bersikap tenang dan tidak
melakukannya dengan marah, agar anak menjadi yakin bahwa orang tua tidak
hanya sekadar menghukum, tetapi juga mendisiplin mereka.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas sehingga


peneliti memilih untuk melakukan penelitian tentang kecemasan orang tua
terhadap pergaulan bebas remaja ditinjau dari komunikasi efektif dan penerapan
disiplin dirumah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang yang telah diuraikan, rumusan masalahnya yakni:
1 Apakah ada pengaruh komunikasi efektif terhadap kecemasan orangtua
pada pergaulan bebas?
2. Apakah ada pengaruh penerapan disiplin dirumah terhadap kecemasan
orangtua pada pergaulan bebas?

C. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dilihat masalah yang akan diteliti oleh
peneliti, yakni:
1. Kurangnya kedisiplinan dan komunikasi yang tidak efektif merupakan
penyebab terjadinya remaja terjerumus pada pergaulan bebas.
2. Pergaulan bebas dapat menimbulkan kecemasan pada orang tua.
3. Kecemasan yang berlebihan akan berdampak pada anak dan orang tua.
Anak akan tertekan, kurang bergaul dan menarik diri dari lingkungan,
serta orang tua akan mengalami tekanan darah yang meningkat, dan
lain-lain.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun tujuan dari penelitian ini


adalah untuk mengetahui apakah kecemasan orang tua terhadap pergaulan
bebas dipengaruhi oleh komunikasi yang efektif dan penerapan disiplin dirumah.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dalam penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan
atau kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapannya,
khususnya di bidang psikologi seperti psikologi keluarga dan psikologi
perkembangan sosial.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan positif dan bahan
pertimbangan yang baik:
-

Bagi peneliti supaya dapat mengkaji penelitian ini lebih lanjut lagi.

Bagi orang tua agar lebih memperhatikan anak sehingga anak dapat
terhindar dari pergaulan yang negatif.

Bagi remaja lebih memahami dan memilih pergaulan yang lebih positif.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

10

A. Kecemasan
1. Pengertian Kecemasan
Menurut Sutardjo Wiramihardja (2005), kecemasan merupakan hal wajar
yang pernah dialami oleh setiap manusia. Kecemasan sudah dianggap sebagai
bagian dari kehidupan sehari-hari. Kecemasan adalah suatu perasaan yang
sifatnya

umum,

dimana

seseorang

merasa

ketakutan

atau

kehilangan

kepercayaan diri yang tidak jelas asal maupun wujudnya. Sedangakan menurut
Savitri Ramaiah (2003), kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir
setiap orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan
reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang.
Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain
dari berbagai gangguan emosi.
Menurut Singgih D. Gunarsa (2008), kecemasan adalah rasa khawatir ,
takut yang tidak jelas sebabnya. Kecemasan juga merupakan kekuatan yang
besar dalam menggerakkan tingkah laku, baik tingkah laku yang menyimpang
ataupun yang terganggu. Kedua- duanya merupakan pernyataan, penampilan,
penjelmaan dari pertahanan terhadap kecemasan tersebut. Sedangkan Siti
Sundari

(2004)

memahami

kecemasan

sebagai

suatu

keadaan

yang

menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan.


Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pendapat diatas bahwa
kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi tertentu yang sangat
mengancam

yang

dapat

menyebabkan

kegelisahan

karena

adanya

ketidakpastian dimasa mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk


akan terjadi.

11

2. Faktor-faktor penyebab kecemasan


Kecemasan sering kali berkembang selama jangka waktu dan sebagian
besar tergantunga pada seluruh pengalaman hidup seseorang. Peristiwaperistiwa atau situasi khusus dapat mempercepat munculnya serangan
kecemasan. Menurut Savitri Ramaiah (2003) ada beberapa faktor yang
menunujukkan reaksi kecemasan, diantaranya yaitu :

a. Lingkungan
Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara berfikir
individu tentang diri sendiri maupun orang lain. Hal ini disebabkan karena adanya
pengalaman yang tidak menyenangkan pada individu dengan keluarga, sahabat,
ataupun dengan rekan kerja. Sehingga individu tersebut merasa tidak aman
terhadap lingkungannya.

b. Emosi yang ditekan


Kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan
keluar untuk perasaannya sendiri dalam hubungan personal ini, terutama jika
dirinya menekan rasa marah atau frustasi dalam jangka waktu yang sangat lama.

c. Sebab-sebab fisik
Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat menyebabkan
timbulnya kecemasan. Hal ini terlihat dalam kondisi seperti misalnya kehamilan,
semasa remaja dan sewaktu pulih dari suatu penyakit. Selama ditimpa kondisi-

12

kondisi ini, perubahan-perubahan perasaan lazim muncul, dan ini dapat


menyebabkan timbulnya kecemasan.
Menurut patotisuro lumban gaol (2004), kecemasan timbul karena adanya
ancaman atau bahaya yang tidak nyata dan sewaktu-waktu terjadi pada diri
individu serta adanya penolakan dari masyarakat menyebabkan kecemasan
berada di lingkungan yang baru dihadapi. Sedangkan Page (Elina
Rufaidah

(2009),

menyatakan

bahwa

faktor-faktor

yang

Raharisti

mempengaruhi

kecemasan adalah :
a. Faktor fisik
Kelemahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu sehingga
memudahkan timbulnya kecemasan.
b. Trauma atau konflik
Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi individu,
dalam arti bahwa pengalaman-pengalaman emosional atau konflik mental yang
terjadi pada individu akan memudahkan timbulnya gejala-gejala kecemasan.

c. Lingkungan awal yang tidak baik.


Lingkungan adalah faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi
kecemasan individu, jika faktor tersebut kurang baik maka akan menghalangi
pembentukan kepribadian sehingga muncul gejala-gejala kecemasan.

3. Dampak Kecemasan
Menurut Cutler (2004), rasa takut dan cemas dapat menetap bahkan
meningkat meskipun situasi yang betul-betul mengancam tidak ada, dan ketika
emosi-emosi ini tumbuh berlebihan dibandingkan dengan bahaya yang

13

sesungguhnya, emosi ini menjadi tidak adaptif. Kecemasan yang berlebihan


dapat mempunyai dampak yang merugikan pada pikiran serta tubuh bahkan
dapat menimbulkan penyakit- penyakit fisik. Sedangkan menurut Yustinu Semiun
(2006), ada beberapa dampak dari kecemasan kedalam beberapa simtom,
antara lain :

a. Simtom suasana hati


Individu yang mengalami kecemasan memiliki perasaan akan adanya
hukuman dan bencana yang mengancam dari suatu sumber tertentu yang tidak
diketahui. Orang yang mengalami kecemasan tidak bisa tidur, dan dengan
demikian dapat menyebabkan sifat mudah marah.

b. Simtom kognitif
Kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada
individu mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi.
Individu tersebut tidak memperhatikan masalah-masalah real yang ada, sehingga
individu sering tidak bekerja atau belajar secara efektif, dan akhirnya dia akan
menjadi lebih merasa cemas.

c. Simtom motor
Orang-orang yang mengalami kecemasan sering merasa tidak tenang,
gugup, kegiatan motor menjadi tanpa arti dan tujuan, misalnya jari-jari kaki
mengetuk-ngetuk, dan sangat kaget terhadap suara yang terjadi secara tiba-tiba.
Simtom motor merupakan gambaran rangsangan kognitif yang tinggi pada

14

individu dan merupakan usaha untuk melindungi dirinya dari apa saja yang
dirasanya mengancam.
Kecemasan akan dirasakan oleh semua orang, terutama jika ada tekanan
perasaan ataupun tekanan jiwa. Menurut
kecemasan

biasanya

Savitri

Ramaiah

(2005:9)

dapat menyebabkan dua akibat, yaitu :

1) Kepanikan yang amat sangat dan karena itu gagal berfungsi secara
normal atau menyesuaikan diri pada situasi.
2) Gagal mengetahui terlebih dahulu bahayanya

dan

mengambil

tindakan pencegahan yang mencukupi.

4. Aspek-Aspek Kecemasan
Deffenbacher dan Hezeleus (dalam register, 1991) mengemukakan
bahwa sumber penyebab kecemasan, meliputi hal-hal dibawah ini:
a. Kekhawatiran (worry) merupakan pikiran negative tentang dirinya sendiri,
seperti perasaan negative behwa ia lebih jelek dibandingkan dengan
teman-temannya.
b. Emossionalitas (imossionality) sebagai reaksi diri terhadap rangsangan
saraf otonom, seperti jantung berdebar-debar, keringat dingin dan tegang.
Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan tugas (task generatedinter
ference) merupakan kecendrungan yang dialami seseorang yang selalu tertekan
karena pemikiran yang rasional terhadap tugas.
B. Remaja
1. Pengertian Remaja
Secara psikologi remaja disebut dengan adolescence, berasal dari
bahasa latin adolescere yang artinya tumbuh untuk mencapai kematangan atau
dalam perkembangan menjadi dewasa. (Ali.M dan Asrori.M, 2006). Masa remaja
menurut Mappiare (1982), pada wanita berlangsung antara umur 12 21 tahun

15

dan pada laki-laki berlangsung antara umur 13 22 tahun. Rentan waktu usia
remaja biasanya dibedakan atas ketiga, yaitu: 12 -15 tahun adalah masa remaja
awal, umur 15 18 tahun adalah masa remaja pertengahan dan umur 18 22
tahun adalah masa remaja akhir. Sedangkan Menurut P.Hall Mussen (1994),
masa remaja merupakan masa topan badai, di mana pada masa tersebut timbul
gejolak dalam diri akibat pertentangan nilai akibat kebudayaan.

2. Ciri ciri masa remaja


Hurlock (1980), menjelaskan ciri ciri remaja antara lain:
a. Masa remaja sebagai periode yang penting
Periode pada remaja di tandai dengan berubahnya fisik dan psikologis
dmana kedua-duanya sama penting, karena perkembangan fisik yang cepat,
terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan
perlunya penyesuaian dan perlunya pembentuk sikap, nilai dan minat baru.

b. Masa remaja sebagai masa peralihan


Dalam setiap periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat
keraguan akan peran yang harus dilakukan. Anak yang beralih dari masa kanakkanak ke masa dewasa meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekanakkanakan dan mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan
perilaku dan sikapnya pada masa yang sudah ditinggalkan. Meskipun disadari
bahwa yang telah terjadi akan meninggalkan bekasnya dan akan mempengaruhi
pola perilaku dan sikap baru. Pada masa peralihan remaja bukan seorang anakanak dan bukan

orang dewasa. Namun, status remaja yang tidak jelas

menguntungkan karena

status ini memberi waktu kepada remaja untuk

16

mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat
yang paling sesuai bagi dirinya.

c. Masa remaja sebagai periode perubahan


Ada empat perubahan remaja yang universal, Pertama : meningginya
emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis
yang terjadi. Kedua : perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh
kelompok sosial untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru. Ketiga : dengan
berubahnya minat dan pola prilaku, maka nilai nilai juga berubah. Keempat :
sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Remaja
menginginkan dan menuntut kebebasan tetapi remaja sering takut bertanggung
jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuannya untuk dapat mengatasi
masalah tersebut.

d. Masa remaja sebagai usia bermasalah


Masalah pada remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh
anak laki laki maupun anak perempuan. Terdapat dua alesan bagi kesulitan
tersebut, Pertama : sepanjang masa kanak-kanak, sebagian diselesaikan oleh
orangtua dan guru-guru sehingga remaja kebanyakan tidak berpengalaman
dalam mengatasi masalah. Kedua : karena remaja merasa mandiri, mereka ingin
mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru.

e. Masa remaja sebagi masa mencari identitas

17

Pada awal remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap


penting bagi anak laki-laki maupun perempuan. Lambat laun remaja mulai
mendambakan identitas diri dan tidak puas dengan menjadi sama dengan
teman-teman dalam segala hal, seperti seblumnya.

f.

Masa remaja sebagai ambang masa dewasa


Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja

menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk


memberikan kesan bahwa mereka sudah hamper dewasa.

C. Pergaulan Bebas
1. Pengertian pergaulan bebas
Menurut Depdikbud (1996), Pergaulan bebas berasal dari dua kata yang
berdiri sendiri, yaitu Pergaulan dan Bebas. Pergaulan berasal dari kata dasar
gaul yang berarti hidup berteman atau bersahabat. Sedangkan bebas di
artikan sebagai lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu dan sebagainya,
sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat dan sebagainya dengan leluasa)
serta lepas dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut dan sebagainya. Lepas juga
dapat diartikan sebagai terbebasnya dari peraturan, pajak, hokum ,dan lain-lain.
pergaulan merupakan suatu hubungan yang dijalin antar individu yang
meliputi perasaan, tingkah laku, serta jati diri yang ada didalamnya (Ghozally,
2007). Sedangkan menurut Basrowi (2005), pergaulan tidak dapat dilepaskan
dari interaksi yaitu hubungan yang dinamis antar individu dengan individu
lainnya, individu dengan kelompok serta kelompok dengan kelompok lainnya.
Gunarsa (2004) mengatakan, Pergaulan bebas berarti pergaulan yang luas

18

antara pemuda dan pemudi. Tidak terlalu menekankan pengelompokan yang


kompak antara dua orang saja, akan tetapi antara banyak muda-mudi. Jadi,
pergaulan

bebas adalah berteman tanpa batas, baik dalam berbicara dan

berperilaku dan sebagainya. Pergaulan bebas juga dapat diartikan sebagai


melencengnya pergaulan seseorang dari pergaulan yang benar, pergaulan
bebas diidentikan sebagai bentuk dari pergaulan luar batas atau bisa juga
disebut pergaulan liar.

2. Faktor-faktor yang menyebabkan pergaulan bebas


Menurut

Paryati

Sudarman

(2004),

bahwa

faktor-faktor

yang

mempengarui pergaulan bebas di kalangan remaja adalah sebagai berikut:


a. Terjadinya pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan biasanya
dimulai dari adanya ketertarikan

pria dan wanita dalam perjumpaan.

Setelah itu terjalinlah suatu pertemuan yang bersifat spesial, yang di


dalamnya sering terjadi rasa cinta. Setelah mengenal cinta, mereka
selalu berusaha memberikan yang terbaik dan berkorban untuk
pasangannya, baik itu pengorbanan yang berupa finansial, perhatian,
dan lain-lain. Lambat laun mereka mengartikan sendiri apa yang
diberikan pasangannya adalah bukti dari mencintai.
b. Timbulnya rasa ingin memiliki pada pasangan yang saling mencintai,
Masing-masing akan membuktikannya hingga remaja mengesampingkan
norma agama, hukum, adat, budaya, dan susila. Gelora cinta yang tidak
terkendali akan cenderung mengarah pada pergaulan bebas, semula
masih

dalam hubungan yang wajar, saling senyum, saling cerita,

kemudian

berkencan, berdua-duaan, bermesraan, bercumbu rayu,

sampai pada akhirnya melakukan hubungan layaknya suami istri.

19

c. Setelah lepas kendali, muncul rasa menyesal dalam diri masing-masing,


merasa

berdosa.

menghantui

Ketakutan

akan

terjadinya

kehamilan

selalu

keduanya. Ketakutan yang sangat mendalam, biasanya

dialami perempuan. Keadaan semakin buruk ketika hubungan keduanya


mengalami keretakan yang mengakibatkan perempuan menanggung
beban derita yang sangat dalam.
Berdasarkan uraian di atas jelas, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
pergalan bebas sangat kompleks. Namun demikian, faktor tersebut dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal
berasal dari dalam individu yang meliputi emosi individu itu sendiri, sedangkan
faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu, misalnya pengaruh
lingkungan sekitar.

3. Dampak pergaulan bebas


a. Kehamilan yang Tidak Diinginkan
Ini merupakan salah satu dampak negatif pergaulan bebas akibat hamil di
luar pernikahan. Biasanya, remaja yang mengalami ini akan mencari cara untuk
menggugurkan (aborsi) kandungannya yang lebih banyak dilakukan oleh bukan
tenaga kesehatan. Akibatnya, terjadi masalah kesehatan seperti sulit memiliki
anak ketika menikah nanti ataupun kematian.

b. Putus Sekolah
Hal ini merupakan dampak negatif pergaulan bebas. Karena mereka lebih
mengutamakan ego ketimbang akal sehat dan realita yang ada. Akibatnya,

20

meningkatnya kemiskinan karena kurangnya pendidikan dan semakin bodohnya


masyarakat menjadi hal yang sering terjadi

c. Kriminalitas tinggi
Tentu saja dampak negatif pergaulan bebas ini memicu angka
kriminalitas. Pendidikan yang rendah, kemiskinan, dan kebutuhan akan hal-hal
kesenangan seperti penggunaan narkoba dan zat adiktif memicu seseorang
untuk melakukan kriminalitas seperti mencuri, merampok, memperkosa, atau
membunuh seseorang.

d. Penyakit Sosial
Dampak negatif pergaulan bebas selanjutnya adalah meningkatnya
penyakit sosial. Rasa empati dan belas kasih sudah tidak dianggap ada lagi.
Diganti dengan rasa egoisme, tidak peduli asalkan senang, sifat hedonisme, dan
melakukan segala cara buruk untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

e. Masalah Kesehatan Secara Global


Dampak negatif pergaulan bebas selanjutnya adalah terjadinya masalah
kesehatan. Penyakit menular seperti HIV/AIDS, Hepatitis, dan penyakit kelamin
menjadi pemandangan yang dapat dijumpai. Padahal, hingga saat ini, penyakit
ini tidak ada obatnya dan menimbulkan masalah kesehatan lain seperti
kemandulan atau bahkan kematian

c.
D. Komunikasi Efektif

21

1. Pengertian Komunikasi Efektif


Komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.
Selain karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan orang lain untuk
memenuhi

segala

kebutuhannya,

komunikasi

juga

mempengaruhi

perkembangan kepribadian seseorang. Menurut Bahri(2004), Istilah komunikasi


berasal dari kata communication yang bersumber dari kata communis yang
artinya sama makna, jadi yang dimaksud dengan komunikasi adalah terjadinya
percakapan antara komunikan dengan komunikator karena keduanya ada
kesamaan dalam makna yang disampaikan.
Menurut Rogers dan Kincaid (dalam Cangara, 2011), Komunikasi juga
dikatakan sebagai suatu proses antara dua orang atau lebih membentuk atau
melakukan pertukaran informasi satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan
tiba pada saling pengertian yang mendalam. Sedangkan Effendy (2011)
menyatakan bahwa proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses
penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang
lain (komunikan).
Pikiran dapat merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang
muncul dari benaknya. Perasaan dapat berupa keyakinan, kepastian, keraguraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan dan lain-lain yang
timbul dari lubuk hati. Memahami istilah komunikasi di atas, komunikasi dapat
dikatakan efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagimana dimaksud
oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah perbuatan secara
suka rela oleh penerima pesan dapat meningkatkan kualitas hubungan
antarpribadi dan tidak ada hambatan untuk hal itu (Hardjana dalam Suranto,
2011). Sedangkan menurut Gunawati, dkk (2006) Komunikasi efektif adalah

22

proses penyampaian pesan verbal dan non verbal secara timbal balik dari
komunikator ke komunikan, pesan diinterpretasi sesuai dengan maksud pesan,
dan ada umpan balik dari pesan yang disampaikan.
Menurut Supratiknya (1995) komunikasi efektif tercapai, bila komunikan
menginterpretasikan pesan yang diterima mempunyai makna yang sama dengan
maksud pesan yang disampaikan oleh komunikator. Sedangkan menurut
Stephen, 2011), Komunikasi yang efektif juga dibangun dengan dasar
keterbukaan yang menjadi kunci dasar bagi kepercayaan dan kesenangan.
Komunikasi orangtua dan anak dikatakan efektif bila kedua belah pihak saling
dekat, saling menyukai dan komunikasi diantara keduanya merupakan hal yang
menyenangkan dan adanya keterbukaan sehingga tumbuh sikap percaya.
Komunikasi yang efektif dilandasi adanya kepercayaan, keterbukaan, dan
dukungan yang positif pada anak agar anak dapat menerima dengan baik apa
yang disampaikan oleh orangtua (Rakhmat, 2011).
Komunikasi efektif antara orangtua dan anak sangat penting untuk
menumbuhkan keakraban.

Ketika orangtua

mendengarkan

secara aktif,

kemampuan anak untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya dirangsang


dan semakin meningkat. Kebutuhan komunikasi merupakan kebutuhan vital
dalam hubungan orangtua dan anak. Orangtualah yang diharapkan anak sebagai
teman untuk berkomunikasi karena hanya orangtualah yang dekat dan dapat
mendengar dengan penuh perhatian, menerima dan menanggapi segala bentuk
perasaan yang dikemukakan anak sehingga anak tidak lari mencari orang lain
yang dapat mendengar keluh kesah dan ungkapan perasaan hatinya (Laily
& Matulessy, 2004).

23

2. Aspek-Aspek Komunikasi Efektif


Aspek-aspek efektivitas komunikasi antar pribadi yang diungkapkan oleh
Devito (Suranto, 2011) sebagai berikut:

a. Keterbukaan (openness)
Keterbukaan adalah sikap dapat menerima masukan dari orang lain, serta
berkenan menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Hal ini tidaklah
berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat
hidupnya, tetapi rela membuka diri ketika orang lain menginginkan informasi
yang diketahuinya. Sikap keterbukaan ditandai adanya kejujuran dalam
merespon

segala

stimulasi

komunikasi.

Tidak

berbohong

dan

tidak

menyembunyikan informasi yang sebenarnya.

b. Empati (empathy)
Empati

ialah

kemampuan

seseorang

untuk

merasakan

kalau

seandainya menjadi orang lain, dapat memahami sesuatu yang sedang dialami
orang lain, dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain dan dapat
memahami sesuatu persoalan dari sudut pandang orang lain melalui kacamata
orang lain. Empati akan membuat seseorang lebih mampu menyesuaikan
komunikasinya.

c. Dukungan (supportivenness)
Hubungan antarpribadi yang efektif adalah hubungan dimana terdapat
sikap mendukung, artinya masing-masing pihak yang berkomunikasi memiliki
komitmen untuk mendukung terselenggaranya interaksi secara terbuka. Oleh

24

karena itu respon yang relevan adalah respon yang bersifat spontan dan lugas.
Dukungan ini lebih diharapkan dari orang terdekat yaitu keluarga.
Individu memperlihatkan sikap mendukung dengan cara:
a) Memaparkan gagasan harus bersifat deskripstif.
Suasana yang bersifat deskriptif dan bukan evaluatif membantu
terciptanya sikap mendukung bila individu mempersepsikan suatu
komunikasi sebagai permintaan akan informasi atau uraian mengenai
suatu kejadian tertentu, individu pada umumnya tidak merasakan ini
sebagai ancaman. Sebaliknya, komunikasi yang bernada menilai
seringnya membuat orang lain defensive.
b) Spontan bukan strategi
Orang yang spontan dalam komunikasi dan terus terang serta terbuka
dalam mengutarakan pikirannya, biasanya bereaksi dengan cara yang
sama, terus terang dan terbuka. Sebaliknya bila individu merasa bahwa
seseorang menyembunyikan

perasaan yang sebenarnya, bahwa

mempunyai rencana tersembunyi, maka individu juga akan bereaksi


secara defensif.
c) Provisionalisme
Provisionalisme dalam bahasa inggris artinya bersifat sementara atau
menunggu sampai ada bukti yang lengakp. Bersikap provisionalisme
artinya kesediaan untuk meninjau kembali pendapat yan disampaikan
untuk mengetahui bahwa pendapat manusia adalah tempat kesalahan
karena itu wajar juga kalau suatu saat pendapat dan keyakinan bisa
berubah. Kata lain sikap provisionalisme merupakan sikap tentatif dan
berpikiran

terbuka,

serta

bersedia

mendengar

pandangan

yang

berlawanan dan bersedia mengubah posisi jika keadaan mengharuskan.


d) Rasa positif (positiveness).
Sikap positif ditunjukkan dalam bentuk sikap dan perilaku. Seseorang
harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain

25

lebih aktif berpartisipasi dan menciptakan situasi komunikasi kondusif


untuk interaksi yang efektif. Apabila seseorang berpikir positif tentang
dirinya, maka akan berpikir positif juga terhadap orang lain, sebaliknya
bila menolak diri sendiri, maka akan menolak orang lain. Bila seseorang
memahami dan menerima perasaan-perasaannya, maka

akan

lebih

menerima perasaan-perasaan sama yang ditunjukkan orang lain. Rasa


positif

dapat

ditunjukkan

dengan

adanya

ketertarikan

terhadap

komunikasi disertai dengan memberikan reinforcement terhadap perilaku


yang diharapkan, seperti tepukan di bahu dan senyuman. Selain

itu

sikap positif lainnya dapat ditunjukkan dengan berbagai macam


perilaku dan sikap, antara lain menghargai orang lain, tidak menaruh
curiga secara berlebihan dan meyakini pentingnya orang lain.
e) Kesetaraan/kesamaan (equality)
Kesetaraan ialah pengakuan bahwa kedua belah pihak memiliki
kepentingan, kedua belah pihak sama-sama bernilai dan berharga serta
saling memerlukan. Komunikasi antar pribadi akan lebih efektif bila
suasananya setara, artinya harus ada pengakuan diam-diam bahwa
kedua belah pihak (orangtua dan remaja) menghargai, berguna dan
mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Kemampuan
orangtua dalam melakukan komunikasi akan efektif jika orangtua dapat
membaca dunia anaknya (selera, keinginan, hasrat, pikiran dan
kebutuhan).

E. Penerapan Disiplin
1. Pengertian Disiplin
Menurut Singodimedjo (2002), disiplin adalah sikap kesediaan dan
kerelaan seseorang untuk mematuhi dan menaati norma-norma peraturan yang

26

berlaku di sekitarnya. Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilainilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi
tanggung jawabnya. Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai
ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah
peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman
ataupun instrumen hukuman dimana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri
ataupun pada orang lain.
Menurut James Drever dari sisi psikologis, disiplin adalah kemampuan
mengendalikan perilaku yang berasal dari dalam diri seseorang sesuai dengan
hal-hal yang telah di atur dari luar atau norma yang sudah ada. Dengan kata lain,
disiplin dari segi psikologis merupakan perilaku seseorang yang muncul dan
mampu menyesuaikan diri dengan aturan yang telah ditetapkan. Sedangkan
menurut Pratt Fairshild dari sisi sosiologi, disiplin terdiri dari dua bagian, yaitu
disiplin dari dalam diri dan juga disiplin sosial. Keduanya saling berhubungan
satu sama lain, sehingga seseorang yang mempunyai sikap disiplin merupakan
orang-orang yang dapat mengarahkan perilaku dan perbuatannya berdasarkan
patokan atau batasan tingkah laku tertentu yang diterima dalam kelompok atau
lingkup sosial masing-masing. Pengaturan tingkah laku tersebut bisa diperoleh
melalui jalur pendidikan dan pembelajaran. Sedangkan menurut John Macquarrie
dari segi etika, disiplin adalah suatu kemauan dan perbuatan seseorang dalam
mematuhi seluruh peraturan yang telah terangkai dengan tujuan tertentu.
Berdasarkan pengertian disiplin di atas, bisa kita simpulkan bahwa dari
sudut pandang manapun, disiplin merupakan sikap yang wajib ada dalam diri
semua individu. Karena disiplin adalah dasar perilaku seseorang yang sangat
berpengaruh besar terhadap segala hal, baik urusan pribadi maupun

27

kepentingan bersama dan untuk memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi dalam
mengerjakan apapun, maka dibutuhkan latihan dengan kesadaran dari dalam diri
akan pentingnya sikap disiplin sehingga menjadi suatu landasan bukan hanya
pada saat berkerja, tetapi juga dalam berperilaku sehari-hari.
Dengan disiplin, seseorang itu diharapkan bersedia untuk tunduk dan
mengikuti peraturan tertentu dan menjauhi larangan tertentu baik disekolah,
dirumah dan dimasyarakat. Tidak bertujuan untuk mengurangi kebebesan dan
kemerdekaan seseorang, tetapi ingin memberikan kemerdekaan yang lebih
besar

kepadanya dalam

batas-batas kemampuannya, akan tetapi,

jika

kebebasan itu terlampau dikurangi, dikekang dengan peraturan yang sangat


ketat maka seseorang itu akan memberontak dan mengalami frustasi.
Dengan pendapat itu, disiplin yang dilaksanakan dirumah, disekolah dan
dimasyarakat oleh seseorang akan mampu belajar hidup dengan pembiasaan
yang baik, positif dan bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya untuk bekal
hidup dikemudian hari.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap Kurang Disiplin:


a. Sekolah kurang menerapkan disiplin.
Sekolah yang kurang menerapkan disiplin, maka siswa biasanya kurang
bertanggung jawab karena siswa menganggap tidak melaksanakan tugas pun di
sekolah tidak dikenakan sanksi, tidak dimarahi guru.
b. Teman bergaul.
Anak yang bergaul dengan anak yang kurang baik perilakunya akan
berpengaruh terhadap anak yang diajaknya berintraksi sehari hari
c. Cara hidup di lingkungan anak tinggal.

28

Anak yang tinggal di lingkungan hidupnya kurang baik, maka anak akan
cendrung bersikap dan berperilaku kurang baik pula.
d. Sikap orang tua
Anak yang dimanjakan oleh orang tuanya akan cendrung kurang
bertanggung jawab dan takut menghadapi tantangan dan kesulitan kesulitan,
begutu pula seballiknya anak yang sikap orang tuanya otoriter, maka anak akan
menjadi penakut dan tidak berani mengambil keputusan dalam bertindak.
e. Keluarga yang tidak harmonis
Anak yang tumbuh dikeluarga yang kurang harmonis (home broken)
biasanya akan selalu mengganggu teman dan sikapnya kurang disiplin.
f.

Latar belakang kebiasan dan budaya.


Budaya dan tingkat pendidikan orang tuanya akan berpengaruh terhadap

sikap dan perilaku anak. Anak yang hidup dikeluarga yang baik dan tingkat
pendidikan orang tunya bagus maka anak akan cendrung berperilaku yang baik
pula.

3. Tindakan Untuk Mengatasi Tidak Disiplin


a. Teguran Secara Lisan
Teguran secara lisan terbatas dalam hal mengingatkan untuk kesalahan
yang kecil dan baru pertama kali dilakukan. Sebagai suatu tindakan koreksi,
biasanya teguran dilakukan secara pribadi dengan cara yang bersahabat dengan
tetap memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan.
b. Peringatan
Peringatan diberikan kepada seseorang yang telah beberapa kali
melakukan pelanggaran dan telah diberikan teguran pula atas pelanggarannya.

29

Dalam memberikan peringatan ini biasanya disertai dengan ancaman akan


sangsinya, bilamana terjadi pelanggaran lagi.
c. Hukuman
Hukuman ialah tindakan yang paling akhir diambil apabila teguran dan
peringatan belum mampu untuk mencegah seseorang itu bertindak disiplin.

d. Ganjaran
Ganjaran adalah alat pendidikan yang paling menyenangkan. Ganjaran
yang telah diberikan akan menunjukan hasil baik dalam melaksanakan kegiatan
belajar mengajar sekaligus menerapkan prilaku dan kepribadian yang mulia.

4. Aspek-aspek kedisiplinan antara lain


a. Ketepatan
Kata Tepat dalam kamus umum bahasa indonesia diartikan dengan enam
arti yaitu: Pertama : Betul atau lurus, berbetulan benar. Kedua : Kena benar.
Ketiga : Persis, tidak selisih sedikit pun. Keempat : Betul atau cocok. Kelima :
Jitu, dan Keenam : Betul atau kena. Ketepatan merupakan hal yang sangat
signifikan dalam mencapai tujuan, karena dengan ketepatan, setiap apa yang
dilakukan menjadi tidak sia-sia dan sesuai dengan yang telah direncanakan.
Ketepatan dalam hal ini bisa diartikan sebagai ketepatan dalam merencanakan
dan ketepatan dalam bertindak.

b. Mengerjakan pekerjaan dengan baik


Pekerjaan merupakan rangkaian perbuatan tetap yang dilakukan oleh
seseorang yang menghasilkan sesuatu yang dapat dinikmati, baik langsung

30

maupun tidak langsung, baik hasil itu berupa jasa maupun barang. Perbuatan di
sini

dapat

diartikan

sebagai

gerakan

teratur

yang

dilakukan

dengan

menggunakan anggota badan, panca indera, serta dikendalikan oleh pikiran,


sehingga terdapat keserasian dalam gerakan, yaitu terdapatnya kodinasi yang
tinggi pada anggota badan, panca indera dan pikiran. Perbuatan yang teratur
merupakan suatu proses yang akan mewujudkan sesuatu yang bermanfaat baik
bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

c. Mematuhi peraturan dan norma yang berlaku


Setiap wilayah atau tempat. Baik itu rumah, sekolah, tempat ibadah,
tempat kerja, tempat hiburan dan sebagainya, pasti mempunyai aturan-turan
tertentu yang harus dipatuhi oleh orang yang terlibat di dalamnya, hal ini
bertujuan untuk menciptakan kondisi yang tertib demi kebaikan bersama.
Ketaatan terhadap setiap aturan, wajib dijalankan oleh setiap orang dan orang
yang tidak taat di kategorikan menyimpang dan amoral. Setiap tindakan yang
menyalahi aturan akan menimbulkan konflik dan merugikan baik bagi dirinya
maipun orang lain. Oleh karena itu kepatuhan terhadap aturan merupakan aspek
penting dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

F. Hubungan Kecemasa Orang Tua Terhadap Pergaulan Bebas Remaja


Ditinjau Dari Komunikasi Efektif Dan Disiplin Dirumah
kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi tertentu yang
sangat mengancam yang dapat menyebabkan kegelisahan karena adanya
ketidakpastian dimasa mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk
akan terjadi. Sedangkan pergaulan bebas juga dapat diartikan sebagai

31

melencengnya pergaulan seseorang dari pergaulan yang benar, pergaulan


bebas diidentikan sebagai bentuk dari pergaulan luar batas atau bisa juga
disebut pergaulan liar. Jadi, kecemasan teradap pergaulan bebas dapat diartikan
rasa takut atau khawatir dengan maraknya pergaulan yang negative atau
pergaulan bebas yang sudah banyak terjadi pada remaja. Disebabkan oleh dua
faktor yaitu : faktor internal dan faktor eksternal. Faktor intenal seperti: emosi
pada diri remaja sendiri, dan faktor eksternal seperti: pengaruh dari lingkungan,
keluarga yang tidak harmonis, media masa, dan lain-lain.
Berdasarkan faktor-faktor penyebab dan penelitian dari beberapa ahli
komunikasi efektif merupakan salah satu penyebab terjadinya pergaulan bebas.
Menurut

Rakhmat

(2011),

Komunikasi

yang

efektif

dilandasi

adanya

kepercayaan, keterbukaan, dan dukungan yang positif pada anak agar anak
dapat menerima dengan baik apa yang disampaikan oleh orangtua. Komunikasi
efektif antara orangtua dan anak sangat penting untuk menumbuhkan
keakraban. Ketika orangtua mendengarkan secara aktif, kemampuan anak untuk
mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Orangtualah yang diharapkan anak
sebagai teman untuk berkomunikasi karena hanya orangtualah yang dekat dan
dapat mendengar dengan penuh perhatian, menerima dan menanggapi segala
bentuk perasaan yang dikemukakan anak sehingga anak tidak lari dan mencari
orang lain yang dapat mendengar

keluh kesah dan ungkapan perasaan

hatinya.
Selain komunikasi efektif, penerapan disiplin juga menjadi faktor
penyebab terjadinya pergaulan bebas. Menurut Singodimedjo (2002), disiplin
adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan menaati
norma-norma peraturan yang berlaku di sekitarnya. Peran Orang tua sangat

32

dibutuhkan dalam menerapkan disiplin drumah. Pada dasarnya, penanaman


disiplin yang dilakukan oleh orang tua dirumah bertujuan untuk mengatur perilaku
anak agar menjadi anak yang baik. Namun kenyataannya, sering kali disiplin
diterapkan secara kaku tanpa melihat kebutuhan perkembangan anak. Dengan
pengertian lain, dalam menanamkan disiplin, sering kali dipakai ukuran-ukuran
orang dewasa.
Berdasarkan

paparan

diatas,

komunikasi

efektif

yang

dapat

mempengaruhi terjadinya pergaulan bebas dan penerapan disiplin juga yang


dapat mempengaruhi pergaulan bebas sehingga menimbulkan kecemasan
terhadap orang tua.

G. Kerangka Teoritis
Komunikasi efektif
- Ibu dan anak
- Ayah dan anak
Kecemasan orang
terhadap pergaulan bebas
Penerapan disiplin
dirumah
Gambar 1. Kerangka teoritis Kecemasan Orang tua terhadap Pergaulan bebas
pada remaja ditinjau dari Komunikasi Efektif dan Penerapan Disiplin Dirumah

H. Hipotesis
Kesimpulan sementara penelitian ini adalah:
1. Ada pengaruh komunikasi efektif terhadap pergaulan bebas yang
menyebabkan terjadi kecemasan orang tua.

33

2. Ada pengaruh penerapan disiplin dirumah terhadap pergaulan bebas


yang menyebabkan terjadi kecemasan orang tua.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini mengunakan pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian yang
menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan
metoda statiska. (Saifuddin Azwar, 2009).

B. Identifikasi Variabel Penelitian


Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat, nilai dari orang, obyek
atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan Menurut Sugiyono (2011).
Variabel Terikat

: kecemasan orang tua

Variabel Bebas

: komunikasi efektif dan penerapan disiplin

C. Definisi Operasional Variabel


Definisi operasional ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman
mengenai data yang akan dikumpulkan dan menghindari kesalahan dalam
menentukan alat pengumpulan data serta berfungsi untuk mengetahui
bagaimana suatu variabel akan diukur.

34

1. Kecemasan
Kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi tertentu yang
sangat mengancam yang dapat menyebabkan kegelisahan karena adanya
ketidakpastian dimasa mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk
akan terjadi.
Variabel ini akan diukur dengan menggunakan skala likert, skala yang
dibuat

penulis

sendiri

berdasarkan

pada

aspek

kecemasan

menurut

Deffenbacher dan Hezeleus dalam register (1991) antara lain sebagai berikut:
Kekhawatiran, Emossionalitas, Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan
tugas
2. Komunikasi Efektif
Menurut Gunawati, dkk (2006) Komunikasi
penyampaian

pesan

verbal

dan

non

efektif

adalah

proses

verbal secara timbal balik dari

komunikator ke komunikan, pesan diinterpretasi sesuai dengan maksud pesan,


dan ada umpan balik dari pesan yang disampaikan.
Variabel ini akan diukur dengan menggunakan skala likert, skala yang
dibuat penulis sendiri berdasarkan pada aspek-aspek komunikasi efektif antara
lain sebagai berikut : keterbukaan, empati, dukungan atau motivasi.
3. disiplin
Disiplin merupakan sikap yang wajib ada dalam diri semua individu.
Karena disiplin adalah dasar perilaku seseorang yang sangat berpengaruh besar
terhadap segala hal, baik urusan pribadi maupun kepentingan bersama dan
untuk memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi dalam mengerjakan apapun, maka
dibutuhkan latihan dengan kesadaran dari dalam diri akan pentingnya sikap

35

disiplin sehingga menjadi suatu landasan bukan hanya pada saat berkerja, tetapi
juga dalam berperilaku sehari-hari.
Dengan disiplin, seseorang itu diharapkan bersedia untuk tunduk dan
mengikuti peraturan tertentu dan menjauhi larangan tertentu baik disekolah,
dirumah dan dimasyarakat, Dengan pendapat itu, disiplin yang dilaksanakan
dirumah, disekolah dan dimasyarakat oleh seseorang akan mampu belajar hidup
dengan pembiasaan yang baik, positif dan bermanfaat bagi dirinya dan
lingkungannya untuk bekal hidup dikemudian hari.
Variabel ini akan diukur dengan menggunakan skala likert, skala yang
dibuat penulis sendiri berdasarkan pada

aspek kedisiplinan :

Ketepatan,

Mengerjakan pekerjaan dengan baik, Mematuhi peraturan dan norma yang


berlaku.

D. Subyek Penelitian
1. Populasi
Saifuddin Azwar (2009) mendefinisikan populasi sebagai kelompok subjek
yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Populasi dalam penelitian ini
adalah orang tua yang memiliki anak remaja di desa Nepal Belah,RT 002 RW
002, Kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten Lampung utara.

2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri dari populasi
tersebut (Saifuddin Azwar). Pada penelitian ini digunakan teknik purposive
random sampling, yaitu pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan
persyaratan sampel yang diperlukan. Hal ini bertujuan agar kriteria sampel yang
diperoleh benar-benar sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan. Sampel

36

yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 20 keluarga yang memiliki anak remaja
di desa Nepal Belah,RT 002 RW 002, Kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten
Lampung utara

E. Teknik Pengambilan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah
skala sikap model Likert, yaitu suatu metode pengambilan data di mana datadata yang diperlukan dalam penelitian diperoleh melalui pernyataan atau
pertanyaan tertulis yang diajukan responden mengenai suatu hal yang disajikan
dalam bentuk suatu daftar pertanyaan (Koentjaraningrat, 1994).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan skala kecemasan orang tua
terhadap pergaulan bebas remaja ditinjau dari komunikasi efektif dan penerapan
disiplin dirumah.

1. Kecemasan
Skala kecemasan terdiri dari aspek antara lain sebagai berikut:
Kekhawatiran, Emossionalitas, Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan
tugas masing-masing, Sense of humour, menurut Sadarjoen (2005).
Berdasarkan aspek-aspek diatas, kemudian diterjemahkan dalam kalimatkalimat praktis yang mewakili tiap-tiap indikator dan disusun kembali secara acak
yang terdiri dari kalimat favorable dan unfavorable. Item-item tersebut akan
disusun dalam bentuk skala dengan menggunakan empat alternatif jawaban,
yaitu: skor 4 = Sangat Sesuai, skor 3 = Sesuai, skor 2 = Tidak Sesuai, skor 1 =
Sangat Tida.k Sesuai untuk item favourable. Sedangkan unfavourable yaitu: skor
1 = Sangat Sesuai, 2 = Sesuai, 3 = Tidak Sesuai, 4 = Sangat Tidak Sesuai.

37

Tabel 1
Blue print Skala Kecemasan

No

Dimensi

Kehawatiran

Indikator

Nomor Item

Jumlah

Favorable

Unfavorable

3,1,33,26

4,25,17,2

34,28,13,7

12,6

32,16

14

18,24,20

15

31

8,9,29,5

22,10,23

Pergaulan
bebas
Tegang
Sakit
kepala

Emossianalitas

30,27,19,
darah tinggi
21,11
Gangguan dan
Hambatan
3

dalam
menyelesaikan
tugas
Total

34

2. Komunikasi efektif
Skala aspek komunikasi efektif , yaitu: keterbukaan, empati dan
dukungan atau motivasi. Berdasarkan aspek-aspek komunikasi efektif, kemudian
dibuat pertanyaan yang mengacu pada empat aspek tersebut. Item-item tersebut
akan disusun dengan bentuk kusioner pilihan ganda. Skor untuk skala ini dengan
skor 1 = Ya dan skor 0 = Tidak.

38

Tabel 2
Blue print Skala komunikasi efektif

No

Dimensi

Indikator

Nomor Item

Jumlah

1,5,9,13,16,19,
kepercayaan

10
22,25,28,2

Toleransi

Keterbukaan

6,10,14,17,20,2
terhadap

6
3

anak
2

menghargai

26,29,31

Berfikir positif

,4,8,12

komitmen

3,7,11,15,18,21

Rasa positif

24,27,30,32

Empati

Dorongan atau motivasi

Total

32

3. Kedisiplinan
Kedisiplinan akan diukur menggunakan skala aspek kedisiplinan,
Ketepatan, Mengerjakan pekerjaan dengan baik, Mematuhi peraturan dan norma
yang berlaku. Penyusunan alat ukur ini untuk lebih jelasnya dijabarkan dalam
bentuk Blue Print pada tabel berikut ini:

Tabel 3
Blue print Skala Kedisiplinan
No

Dimensi

Indikator

Nomor Item

Jumlah

39

2,25,28,19,22,9,
rencana
1

10
5,13,1,16
17,20,14,10,6,2

Ketepatan
tindakan
Mengerjakan pekerjaan

2
dengan baik
Mematuhi peraturan
3

dan norma yang

ketelitian

3
29,34,26,31

kesabaran

8,4,12,33

sekolah

3,7,11,15,18,21

keluarga

27,32,30,24

berlaku

Total

34

Skala-skala ini disusun dengan menggunakan Skala Likert yang


dimodifikasi yang terdiri dari 4 alternatif jawaban, dengan alasan:
a. Kategori indecisided, yaitu mempunyai arti ganda, bisa juga diartikan
netral atau ragu-ragu
b. Dengan tersedianya jawaban di tengah, menimbulkan kecenderungan
jawaban di tengah (central tendency effect)
c. Maksud

jawaban

dengan

empat

tingkat

kategori

untuk

melihat

kecenderungan pendapat responden kearah tidak sesuai, sehingga dapat


mengurangi data penelitian yang hilang. (Sutrisno Hadi, 1991 : 19-20).
Sistem penilaian skala dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.

Item Favorable: sangat setuju (4), setuju (3), tidak setuju (2),
sangat tidak setuju (1)

b.

Item Unfavorable: sangat setuju (1), setuju (2), tidak setuju (3),
sangat tidak setuju (4).

40

F. Validitas dan Realibilitas


1. Validitas
Validitas adalah sejauh mana ketepatan dan kecematan suatu instrumen
pengukur (tes) dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2009). Valisitas dari alat
tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan skala
validitas isi. Validitas isi adalah validitas yang menunjukkan sejauh mana itemitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak diukur oleh tes,
yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi dengan analisis rasional atau lewat
professional judjment (Azwar, 2009).
Perhitungan validitas item skala ini menggunakan korelasi Product
Moment dari Pearson yaitu dengan cara mengkorelasi antara skor item dengan
skor total item, kemudian peneliti menganalisis data tersebut dengan
menggunakan program SPSS 17,0. Menurut Azwar (2009) apabila item yang
memiliki indeks daya diskriminasi sama dengan atau lebih besar daripada 0,30
jumlahnya melebihi jumlah item yang direncanakan untuk dijadikan skala, maka
kita dapat memilih item-item yang memiliki indeks daya diskriminasi tertinggi,
sebaliknya apabila item yang lolos ternyata masih kurang mencukupi jumlah
yang diinginkan, kita dapat mempertimbangkan untuk menurunkan sedikit batas
kriteria 0,30 menjadi 0,25.
2. Reliabilitas
Reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi/keajegan data dalam
interval waktu tertentu (Sugiyono, 2008). Instrumen yang memiliki reliabilitas
dapat digunakan untuk mengukur secara berkali-kali yang menghasilkan data
yang sama (konsisten).

41

Menurut Sugiyono (2008), bahwa reliabilitas adalah sejauh mana hasil


pengukuran dengan menggunakan objek yang sama, akan menghasilkan data
yang sama. Untuk menguji reliabilitasnya digunakan metode Cronbach Alpha
dengan bantuan SPSS 17.0 for windows.
Untuk mengukur reliabilitas rumus yang digunakan adalah rumus Hoyt
(Azwar, 2012). Rumus ini digunakan karena rumus ini dapat digunakan untuk
pengukuran dimana skor untuk masing-masing pertanyaan bersifat dikotomi
ataupun nondikotomi (Hadi, 1993).
Rumus yang dimaksud adalah sebagai berikut:

r xx =

1M K is
M Ks

Keterangan :
rxx = reliabilitas alat ukur
1 = bilangan konstan
MKis = mean kuadrat interaksi antara aitem dengan subjek
MKs = mean kuadrat antar subjek

G. Metode Analisis Data


Metode analisis data adalah suatu cara yang digunakan untuk mengolah
dan menganalisis data hasil penelitian dalam rangka menguji kebenaran.
Selanjutnya dengan metode analisis data, dapat dicari kesimpulan-kesimpulan
dari hasil penelitian. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah tehnik analisis varians dua jalur. Analisis varians dua jalur (anova two
ways) adalah analisis varian yang digunakan untuk menguji hipotesis

42

perbandigan lebih dari dua sampel dan setiap sampel terdiri dari dua jenis atau
lebih secara bersama-sama (Riduan, 2003). Untuk mengetahui perbedaan yang
akan dilakukan dengan system komputerisasi melalui program SPSS 17.0 for
windows.