Anda di halaman 1dari 8

YOUTH INNOVATION CAMP PAPER COMPETITION 2016

Penggunaan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) Untuk Optimalisasi


Manajaemen Bencana Pasca Tsunami
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Disusun Oleh :

Damar Dayu Alifany Hardy (13615023) FTMD/Teknik Penerbangan


Ahmad Yasin (10515058) FMIPA/Kimia

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


BANDUNG
2016

1. Latar Belakang
Indonesia dengan posisi geografisnya yang terletak diantara tiga lempeng
teknonik membuatnya memiliki potensi bencana Tsunami yang sangat besar.
Untuk mengantisipasi hal ini, BMKG telah membangun early warning system
terhadap

tsunami

(InaTEWS)

dengan

melakukan

prosedur

monitoring,

pengolahan data, diseminasi informasi gempa bumi, serta peringatan dini tsunami.
Namun terlepas dari usaha usaha preventif yang telah dibuat, satu hal yang perlu
diperhatikan adalah bagaimana pemulihan wilayah tersebut bisa dilakukan
sesingkat singkatnya sehingga wilayah yang terkena dampak dari Tsunami bisa
melakukan aktivitas seperti sedia kala.
Selain itu pengambilan tindakan setelah bencana mereda perlu dilakukan dengan
cepat dan tepat agar korban yang masih memiliki kemungkinan selamat bisa
diprioritaskan untuk diberi pertolongan. Dengan ini jumlah korban tewas bisa
diminimalisir. Namun dua tindakan tersebut sulit dilakukan mengingat medan
yang telah rusak di hantam oleh gelombang tsunami. Penggunaan UAV
(Unmanned Aerial Vehicle) untuk melakukan misi yang tidak bisa dilakukan oleh
kendaraan darat tersebut bisa menjadi alternatif untuk mengoptimalisasi
manajemen bencana pasca tsunami.

II. Ide
UAV atau yang biasa disebut sebagai pesawat tanpa awak adalah sebuah pesawat
yang dikendalikan menggunakan sistem kendali jarak jauh. Teknologi ini telah
digunakan pertama kali pada abad ke-19 saat perang dunia I. Pada awal
perkembangannya, UAV hanya dimanfaatkan dalam bidang kemiliteran yakni
sebagai sasaran tembak. Namun saat ini, perkembangan teknologi UAV sudah
sangat pesat dan penggunaanya telah meluas ke berbagai bidang khususnya aerial
photography.
Kami akan menjelaskan kemampuan dari 2 jenis pesawat tanpa awak yang
menurut kami bisa menjadi alternatif untuk pengoptimalan manajemen bencana
pasca tsunami.
A. Mapping
Mapping adalah kemampuan pesawat tanpa awak untuk melakukan pemetaan
suatu wilayah dengan menggunakan kamera digital maupun kamer inframerah.
Untuk misi pemetaan, jenis UAV yang digunakan adalah fixed wing karena ia bisa
terbang lebih cepat dan ketahanan baterainya lebih lama ketimbang multimotor.
Peta yang dihasilkan oleh UAV jauh lebih baik ketimbang peta yang dihasilkan
oleh satelit. Hal ini dikarenakan pada proses pemetaan yang dilakukan oleh satelit
memiliki kemungkinan tertutup awan. Sedang pemetaan oleh UAV tidak akan
tertutup oleh awan karena pesawat terbang di bawah awan. Keunggulan lainnya
dari proses pemetaan yang dilakukan oleh UAV adalah kemudahan dalam
penggunaannya.
Dari segi kemudahan untuk lepas landas, UAV rata-rata memiliki berat yang
ringan dan ukuran yang relatif kecil sehingga proses lepas landas mudah dan
dapat dilakukan dimanapun. Lalu dari segi kontrol, mayoritas UAV mappers
menggunakan sistem otomatis yang membuat pilot tidak perlu bersusah payah
untuk mengoperasikan pesawatnya. Hal yang perlu dilakukan hanyalah

menentukan rute kemana pesawat harus terbang melalui software yang telah ada
dibantu oleh GPS yang sudah terpasang di unit UAV.
Ketinggian terbang juga dapat kita atur melalui software tersebut. Ketinggian
terbang mempengaruhi kualitas dari peta yang dihasilkan, apabila terbang dengan
ketinggian yang cukup rendah maka peta yang dihasilkan memiliki kualitas yang
lebih baik namun proses pengambilan gambar menjadi lebih lama.
Berkaitan dengan dampak bencana tsunami, segera setelah tsunami mulai mereda,
proses pemetaan dijalankan. Untuk mempercepat proses pengambilan gambar
tanpa mengurangi kualitas peta yang dihasilkan, beberapa UAV jenis fixed wing
perlu diterbangkan secara bersaman. Lalu untuk mencegah adanya tabrakan antar
UAV maka rute harus di integrasikan sedimikian rupa sehingga didapat satu peta
wilayah yang utuh. Setelah pengambilan gambar selesai, data lalu diproses di
komputer dengan software pengolah data foto. Dalam proses pengolahan data foto
ini diperlukan komputer dengan spesifikasi yang tinggi karena proses rendering
cukup berat.
Apabila data selesai diolah dan peta telah didapatkan, maka peta ini bisa segera
dimanfaatkan. Pemetaan ini dapat berguna untuk menentukan tempat pengungsian
yang aman dari kemungkinan adanya tsunami lanjutan dengan melihat daerah
daerah yang tinggi dan memiliki aksesbilitas yang memadai bedasarkan hasil
pengamatan peta yang dihasilkan.
Lalu yang kedua, proses penentuan jalur distribusi logistik bisa lebih jelas karena
peta yang dihasilkan memiliki kualitas yang tinggi. Yang ketiga dengan pemetaan
ini, kita bisa mengetahui bangunan-bangunan mana yang rusak dan perlu untuk
diprioritaskan dalam proses rekontruksinya serta kita dapat memperkirakan berapa
kerugian yang dialami akibat kerusakan yang ditimbulkan dari tsunami tersebut.
B. Penglihatan Inframerah dan menjangkau daerah daerah sulit
Dengan dilengkapi oleh kamera inframerah maka UAV dapat menghasilkan video
thermal yang akan dikirim langsung ke layar monitor pilot. Prinsip kerja dari

sensor ini adalah ia mendeteksi panas benda benda disekitarnya dan mengolah
data tersebut dalam bentuk visual. Jenis kamera inframerah yang sering digunakan
adalah buatan FLIR.
Kemampuan ini memungkinkan pilot untuk mengetahui posisi korban-korban
yang masih memiliki kemungkinan selamat dengan mendeteksi panas yang
dihasilkan oleh tubuh korban. Misi ini dilakukan oleh UAV jenis multimotor
karen jenis ini bisa bergerak kesegala arah tanpa harus melakukan manuver yang
besar.
Misi pencarian korban ini dilakukan setelah pemetaan selesai agar tidak
mengganggu proses pengambilan gambar. Saat proses pemetaan selesai, UAV
jenis ini akan diterbangkan dengan membawa kamera inframerahnya unuk
mencari korban yang masih bisa diselamatkan. Selain itu untuk memperbesar
kemungkinan menemukan korban lain, kamera digital dengan wide-angle juga
dapat digunakan untuk mengambil video dari keadaan sekitar saat itu.
Sama halnya dengan proses pemetaan, agar pencarian korban bisa dilakukan
dengan teliti dan cepat maka beberapa UAV perlu diterbangkan secara bersamaan
dengan area spesifik yang sudah ditentukan sebelumnya. Dalam misi pencarian
korban ini mode terbang baiknya tidak di atur untuk kendali otomatis secara
penuh. Bukan karena ketidakmampuan UAV namun hal tersebut agar proses
pencarian korban bisa lebih efektif dan merinci.
Setelah UAV menemukan posisi korban yang masih bisa diselamatkan maka tim
SAR bisa segera menuju ke lokasi untuk mengevakuasi dan memprioritaskan
korban tersebut. Sembari menunggu tim SAR datang maka UAV yang
dikhususkan untuk mengantar logistik akan mengantar persediaan seperti obat
obatan P3K maupun minuman kepada korban.
Walaupun beban yang dapat dibawa oleh UAV relatif kecil namun
kemampuannya untuk menjangkau daerah daerah yang sulit menjadi salah satu
kelebihan dari UAV itu sendiri. Selain itu logistik yang perlu dibawa oleh UAV

dalam hal ini hanya sebatas obat obatan P3K, minuman, maupun logistik lain
yang tidak terlalu berat.
Bedasarkan kemampuan UAV yang telah dijabarkan diatas kami beragumen
bahwa penggunaan UAV unuk optimalisasi manajen bencana pasca tsunami
sangat bermanfaat untuk mempercepat pemulihan daerah yang terkena dampak
tsunami dan mengurangi korban jiwa.

III. Dampak Positif


Apabila penggunaan pesawat awak untuk optimalisasi wilayah terkena tsunami
dapat terealisasikan, proses pemulihan terhadap wilayah terkena tsunami akan
lebih cepat. Wilyah yang sulit untuk dijangkau mudah untuk diketahui sehingga
pengiriman bantuan dan pemulihan wilayah dapat dipersiapkan dengan baik oleh
pemerintah.
Pesawat tanpa awak yang diterbangkan pada wilayah terkena tsunami akan
mengambil data-data kerusakan yang ada, sehingga kerusakan infrastruktur di
wilayah bencana dapat segera diketahui. Hal ini menjadi acuan bagi pemerintah
untuk melakukan perencanaan pembangunan infrastruktur wilayah bencana
secepatnya. Dengan adanya data ini diharapakan wilayah bencana akan kembali
normal dalam jangka waktu 2-3 tahun dengan asumsi tidak adanya kendala biaya
dari pemerintah.
Penggunaan inframerah pada proses pemetaan yang dilakukan oleh pesawat tanpa
awak ini dapat digunakan untuk mendeteksi korban yang selamat melalui sensor

termal. Hasil dari pemetaan dengan sensor inframerah ini akan dimunculkan pada
layar monitor. Sehingga tim eakuasi dapat segera melakukan pertolongan.
Teknologi yang digunakan dalam pesawat tanpa awak ini tergolong high
technology, kemampuan autopilot yang didesain sedemikian rupa pada pesawat
tanpa awak ini memudahkan pengguna baru yang masih belum paham secara total
untuk menerbangkan pesawat tanpa awak ini. Dengan adanya autopilot ini
diharapakan penggunaan atau penerbangan pesawat tanpa awak ini dapat
dilakukan oleh siapa saja yang bertugas pada wilayah terkena bencana tsunami.
Pada pesawat tanpa awak ini dapat mengambil gambar dengan baik dibandingkan
dengan pencitraan yang dilakukan oleh satelit. Karena proses pengambilan
gambar tidak tertutupi oleh awan. Melalui gambar yang diambil inilah wilayahwilayah terkena bencana akan diketahui tingkat kerusakannya.

IV. Hambatan dan tantangan


Disamping dampak positif yang didapatkan dari pemanfaatan UAV dalam
manajemen bencana pasca tsunami, terdapat pula beberapa hambatan dan
tantangan yang perlu dipertimbangkan.
1. Karena teknologi ini jarang dipakai oleh masyarakat maka harus ada
pelatihan khusus untuk menerbangkan dan mengoperasikan unit ini.
2.

Harga UAV yang bisa berfungsi secara otomatis cukup mahal, berkisar
diantara $12.000 dollar untuk fixed wing ( eBee drone -otomatis penuh)
dan $1.800 dollar untuk multimotor (DJI Phantom 4 Pro). Namun untuk
fixed wing tidak menutup kemungkinan untuk diproduksi sendiri untuk
menekan harga pembelian, namun fungsi otomatisnya mungkin tidak akan
sebaik dengan merek yang sudah paten.

3. Durasi terbang UAV hanya selama 30-45 menit, sehingga harus memiliki
beberapa baterai cadangan apabila penggunaan lebih lama dari itu.

4. Sensor inframerah yang tidak memiliki kemampuan untuk menembus


bangunan sehingga korban yang terlihat hanya korban yang ada
dipermukaan / diluar gedung saja. Korban yang tertimbun sulit untuk
terdeteksi.
5. Proses rendering peta membutuhkan komputer dengan spesifikasi yang
tinggi.

V. Keberlanjutan dan replikasi ide.


Ide ini diharapkan dapat terealisasikan di Indonesia mengingat Indonesia
merupakan wilayah dengan potensi tsunami yang cukup besar di dunia. Dengan
adanya ide ini penulis berharap wilayah terkena bencana dapat ternormalisasi
kembali dengan cepat sehingga proses keberlangsungan hidup di wilayah ini
berjalan seperti sebelum terkena bencana. Sebelum pengaplikasian pesawat tanpa
awak ini, penulis berharap adanya pembimbingan teknologi dari ahlinya agar
kedepannya setelah ide ini terealisasikan kendala yang ada menjadi lebih minim.