Anda di halaman 1dari 9

KONSEP SISTEM

TUGAS

Oleh
Mega Puspita Warni
NIM 122310101069

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2017

KONSEP SISTEM

TUGAS

diajukan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Dasar I B


Fasilitator : Ns. Dodi Wijaya, S.Kep., M.Kep.

Oleh:
Mega Puspita Warni
NIM 122310101069

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2017

A.

Kelemahan sistem pelayanan kesehatan


Budiarto (2004) dalam penelitiannya tentang pengaruh kualitas pelayanan

terhadap kepuasan pelanggan di 14 rumah sakit yang tersebar pada sepuluh propinsi
di Indonesia menunjukkan bahwa kualitas pelayanan rumah sakit yang mencakup
ketersediaan fasilitas medik dan fasilitas-fasilitas lain yang menunjang pelayanan
medik disamping sumber daya manusia berpengaruh signifikan terhadap kepuasan
pelanggan. Pandangan masyarakat akan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia
semakin menurun.
Pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri terus meningkat. Sebuah data dari
salah satu situs menyebutkan di Singapore saja setiap tahunnya sekitar 300.000
pasien internasional datang berobat. Sekitar 7200 orang di antaranya merupakan
warga Indonesia ( website Komunikasi Dokter Pasien edisi 13 Mei 2009). Sementara
itu jumlah orang Indonesia yang berobat ke Malaysia tahun-tahun terakhir ini sudah
melampaui yang ke Singapore. Data lainnya menyebutkan jumlah pasien Indonesia
yang berobat di RS Lam Wah Ee Malaysia mencapai 12.000 pertahun atau sekitar 32
pasien perhari.
RS Adventist Malaysia jumlah pasien Indonesia yang terdata mencapai 14.000
pertahun atau sekitar 38 pasien perhari. Bahkan sedikitnya seribuan pasien dari Aceh
dan sekitarnya dilaporkan terpaksa pergi ke luar negeri setiap bulannya, terutama ke
Penang,

Malaysia,

untuk

mendapatkan

pelayanan

kesehatan

yang

prima.

Kecenderungan ini datang karena mereka kurang puas dengan pelayanan kesehatan
yang diberikan oleh rumah sakit-rumah sakit yang ada di Aceh dan sekitarnya.
(Serambi On Line 14 Juli 2007).
Tingginya minat masyarakat berobat keluar negeri seperti Malaysia dan
Singapura secara umum disebabkan factor kelengkapan fasilitas dan kualitas
pelayanan yang diberikan telah memenuhi harapan pasien. Berbagai macam alasan
yang memicu banyaknya masyarakat berobat dan memeriksakan kesehatannya keluar
negeri, diantaranya pelayanan prima dan ketepatan waktu, mereka cepat mendapatkan
kepastian diagnosa sehingga tidak membuat pasien cemas atau bosan karena

menunggu hasil diagnosa yang tidak kunjung datang serta masih banyak keunggulan
yang bisa mereka dapatkan disana. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa
pada saat ini, jumlah pasien yang berobat ke luar negeri yaitu Singapura dan
Malaysia, didominasi oleh pasien asal Indonesia. Hal ini merupakan sebuah masalah
yang serius, mengingat selain berhubungan dengan masalah kepercayaan terhadap
pelayanan di Indonesia, juga berhubungan dengan masalah pemasukan pemerintah
dari sektor pelayanan rumah sakit.
Data tahun 2006 menyebutkan jumlah devisa negara yang tersedot ke rumah
sakit luar negeri mencapai US 600 juta setiap tahunnya. Peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan dapat dilakukan dari berbagai aspek pelayanan seperti
peningkatan kualitas fasilitas kesehatan, peningkatan kualitas profesionalisme sumber
daya manusia dan peningkatan kualitas manajemen rumah sakit. Pelayanan yang
berkualitas harus dijaga dengan melakukan pengukuran secara terus menerus, agar
diketahui kelemahan dan kekurangan dari jasa pelayanan yang diberikan dan dibuat
tindak lanjut sesuai prioritas permasalahannya.
B.

Masalah atau Keluhan Masyarakat

Permasalahan juga tampak dari beberapa pengguna jasa rumah sakit yang masih
banyak keluhan dari pelayanan yang diberikan, ini terlihat dari masih banyaknya
dijumpai keluhan tentang pelayanan yang lamban, adanya perilaku petugas perawat
yang kurang ramah dan tidak komunikatif.
Masalah atau keluhan masyarakat
1.

Pelayanan lambat dan terlalu berbelit belit

2.

Kurang tanggapnya staf terhadap keluhan pasien

3.

Dokter atau tenaga medis tidak ada pada saat dibutuhkan

4.

Aparat tidak ramah

5.

Kurangnya dokter spesialis dalam pengoperasian peralatan kesehatan yang ada

Sumber Data: Serambi Indonesia

Dari data di atas terdapat keluhan atau ketidak puasan masyarakat akan hasil
pelayanan, jelas terlihat bahwa keluhan masyarakat akan menunjukkan kualitas
pelayanan yang diberikan, sebab inti dari pelayanan publik bermuara kepada
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan kualitas pelayanan yang
diterima masyarakat. penyebab rendahnya kualitas pelayanan di Rumah sakit.
Banyak alasannya kenapa pelayanan di negeri kita bisa jadi terburuk salah satunya
Menurut dr. Nugroho Wiyadi, MPH, ada pelaku pelayanan primer yang secara
profesi tidak memiliki kompetensi dan kewenangan yang memadai, sehingga
penanganan penyakit tidak sesuai standar, dan sering terjadi pemakaian berbagai obat
secara tidak tepat yang pada akhirnya mengakibatkan ketidakefektifan biaya, dan juga
masalah-masalah lain seperti resistensi obat akibat pemakaian obat antibiotik.
Pemahaman masyarakat yang lemah tentang sistem pelayanan kesehatan primer
(puskesmas

atau

Dokter

Praktek

Umum)

dan

sekunder

(Rumah

Sakit),

mengakibatkan mereka tidak mengikuti sistem rujukan yang ada. Masyarakat pada
kelas ekonomi lemah cenderung memilih pelayanan kesehatan yang paling dekat dan
murah, tidak peduli apakah petugas yang dia mintai pertolongan tersebut memiliki
kewenangan dan kompetensi yang memadai. Sedangkan masyarakat pada kelas
ekonomi menengah ke atas cenderung langsung memeriksa diri ke dokter spesialis
dengan berbagai risiko ketidaktepatan pemilihan jenis dokter spesialis yang
dipilihnya, papar Nugroho.
C. Bagaimana pelayanan yang berkualitas
Zeithmalh, dkk (1990: 23) menyatakan bahwa dalam menilai kualitas jasa/pelayanan,
terdapat sepuluh ukuran kualitas jasa/ pelayanan, yaitu :
1) Tangible (nyata/berwujud)
2) Reliability (keandalan)
3) Responsiveness (Cepat tanggap)

4) Competence (kompetensi)
5) Access (kemudahan)
6) Courtesy (keramahan)
7) Communication (komunikasi)
8) Credibility (kepercayaan)
9) Security (keamanan)
10)

Understanding the Customer (Pemahaman pelanggan)

Namun, dalam perkembangan selanjutnya dalam penelitian dirasakan adanya dimensi


mutu pelayanan yang saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya yang dikaitkan
dengan kepuasan pelanggan. Selanjutnya oleh Parasuraman et al. (1990) dimensi
tersebut difokuskan menjadi 5 dimensi (ukuran) kualitas jasa/ pelayanan, yaitu :
1) Tangible (berwujud); meliputi penampilan fisik dari fasilitas, peralatan,karyawan
dan alat-alat komunikasi.
2) Realibility (keandalan); yakni kemampuan untuk melaksanakan jasa yang telah
dijanjikan secara konsisten dan dapat diandalkan (akurat).
3) Responsiveness (cepat tanggap); yaitu kemauan untuk membantu pasien dan
menyediakan jasa/ pelayanan yang cepat dan tepat.
4) Assurance (kepastian); mencakup pengetahuan dan keramah-tamahan para pasien
dan kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan,
kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya,
risiko atau keragu-raguan.
5) Empaty (empati); meliputi pemahaman pemberian perhatian secara individual,
kemudahan dalam melakukan komunikasi yang baik, dan memahami kebutuhan
pasien.
D. Solusi
Aspek-aspek sosial haruslah dijunjung tinggi bukan hanya aspek finansial yang
mendapatkan porsi perhatian secara lebih. Begitu juga dengan masyarakat harus
bersinergi dengan pelayan kesehatan tersebut dengan menghargai dan melakukan

respon yang positif terhadap posisi mereka sebagai pelayan masyarakat. Memang
solusi ini terkesan teoritis. Akan tetapi perlu disadari bahwa perubahan itu tidak bisa
dilakukan secara tiba-tiba. Perubahan membutuhkan proses yang panjang dan
melelahkan. Konsep perubahan sangatlah relevan dengan kondisi sekarang. Kiat
mengubah bangsa mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang paling kecil dan
dianggap sepele dan mulailah sekarang juga.
Negara juga wajib mengadakan pabrik yang memproduksi peralatan medis dan
obat-obatan; menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, psikiater,
penyuluh kesehatan dan lainnya. Pelayanan kesehatan berkualitas hanya bisa
direalisasikan jika didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai
serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Semua pelayanan
kesehatan dan pengobatan harus dikelola sesuai dengan aturan pemisahan pria dan
wanita serta hukum-hukum lainnya.
Untuk memberikan pelayanan berkualitas yang berorentasi pada kebutuhan
pelanggan dan citra rumah sakit yang baik dimasyarakat maka pihak rumah sakit
perlu melakukan upaya perbaikan yang berkesinambungan dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
1) Meningkatkan pelayanan kepada pasien dengan sikap yang ramah dan juga bisa
mengerti dan memahami keadaan pasien.
2) Meningkatkan kedisiplinan dan kometmen dalam bekerja pada seluruh petugas
Rumah Sakit agar bisa memberikan pelayanan yang cepat, tepat, akurat, dan dapat
melaksanakan tugas, fungsi serta peranannya dengan baik sesuai dengan visi dan
misi.
3) Untuk meningkatkan kualitas teknis, perlu dilaksanakan program pendidikan dan
pelatihan yang sesuai dengan standar pelayanan prima sehingga mampu
memberikan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan bagi
pasien.
4) Untuk meningkatkan kualitas fungsional, perlu dilaksanakan pelatihan terutama
yang berkaitan dengan hubungan manusia yaitu mengenai sikap dan cara

komunikasi yang baik guna memberikan karakter kepribadian pada sumber daya
manusia.
5) Pihak Rumah Sakit diharapkan terus meningkatkan sarana, prasarana dan
kesehatan lingkungan Rumah Sakit serta memelihara dan memperbaiki fasilitas
yang telah ada, seperti pengadaan alat-alat medis dan penunjang medis, perbaikan
fasilitas di ruang rawat inap dan kebersihan lingkungan Rumah Sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Eko Budiarto.2004. Metode Penelitian. Jakarta: EGC.


Zeithmal & Valarie A, dkk. 1990. Delivering Quality Service Balancing
Customer Perceptions and Expectations. New York