Anda di halaman 1dari 24

RESUME MATERI

MALAM BINA IMAN DAN TAQWA


(MABIT)
PRAMUKA STKS BANDUNG
Bandung, 19 - 20 November 2016

Disusun Oleh :
Nurul Maulida
Hartanti

RACANA
IWA KUSUMA SUMANTRI
MARIA ULFA SANTOSO
0617/0618
MATERI 1: ISLAM, IMAN DAN IHSAN
Tanggal

: 19 November 2016

A. Islam
Kata Islam berasal dari Bahasa Arab adalah bentuk masdar dari

kata

kerja

- Yang

secara etimologi mengandung makna : Sejahtera, tidak cacat,


selamat.

Seterusnya

kata salm dan silm,

mengandung

arti : kedamaian, kepatuhan, dan penyerahan diri. Dari kata-kata


ini,

dibentuk

pengertian

kata salam sebagai

: Sejahtera,

patuh dan berserah

tidak

diri.

istilah

tercela,

Dari

dengan

selamat,

uraian

damai,

kata-kata

itu

pengertian islam dapat


dirumuskan taat atau patuh dan berserah diri kepada Allah.
Secara

istilah

kata

islam

dapat

dipahami

sebagai

yang

dikemukan oleh beberapa pendapat :


1. Imam Nawawi dalam Syarh Muslim :

Islam berarti menyerah dan patuh yang dilihat secara


zahir.
2. Ab

Ala

al-Maudud

berpendapat,

pengertian

lain

dari

kata islam adalah damai. Hal ini berarti bahwa seseorang


akan memperoleh

kesehatan

jiwa

sesungguhnya, hanya melalui patuh dan

dan
taat

raga

dalam

kepada

Demikian pula suatu kehidupan yang selalu taat kepada

arti
Allah.
Allah

akan membawa kedamaian di dalam hati dan lebih jauh akan


menghasilkan kedamaian di dalam masyarakat.

3. Menurut Hammudah Abdalati.


Kata Islam berasal dari akar kata Bahasa Arab slm, yang
antara lain berarti damai, suci, patuh, dan taat. Dalam
pengertian syari kata islam berarti patuh (tunduk) kepada

kemauan Tuhan dan taat kepada Hukum-Nya. Hubungan


antara pengertian asal kata dengan syari dari kata islam
adalah kuat dan nyata. Hanya dengan patuh kepada
kehendak Tuhan dan taat

kepada hukumnya, seseorang

dapat memperoleh kedamaian yang sesungguhnya dan


merasa bahagia dalam kesucian yang abadi.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
islam itu ialah tunduk dan taat kepada perintah Allah dan
kepada larangannya. Perintah dan larangan Allah tertuang
dalam ajaran Islam, oleh karena itu hanya orang yang
tunduk dan taat kepada ajaran islam, yang akan mendapat
keselamatan dan kedamaian hidup, dunia dan akhirat.
B. Iman
Kata iman berasal

dari

Bahasa

bentuk masdar dari kata kerja (fiil)


mengandung

beberapa

arti

Arab

yaitu

yaitu

- yang

percaya,

tunduk,

tentram dan tenang. Dalam kamus al Munjid disebut, aliman berarti :


,

Bukan kafir, pembenaran secara mutlak.


Imam

al-Ghazali

mengartikannya

dengan

yaitu pembenaran.
Pada Al-quran, ditemukan kata iman mengandung dua makna
yaitu :
1. aman, mengamankan, atau memberikan ke-amanan (Q.S.106 :
4)
2. mengandung makna ; yakin, percaya atau beriman (Q.S. 2 :
285)

Secara terminologi (istilah) ada beberapa definisi yang dapat


dikemukakan, yaitu :
1. Menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi :

Iman ialah pembenaran dengan hati.


2. Menurut imam Abu Hanifah :

Iman ialah mengikrarkan (dengan lidah) dan membenarkan


(dengan hati).
3. Menurut Hasbi as-Shiddiqy :

Iman ialah mengucapkan dengan lidah, membenarkan


dengan hati dan mengerjakan dengan anggota tubuh.
Dari ketiga definisi di atas terdapat perbedaan, menurut
Muhammad Amin al-Kurdi, iman cukup hanya dibenarkan
(tasdiq) dalam hati, tanpa perlu diucapkan dengan lidah, karena
memang iman letaknya di dalam hati. Apabila hati telah
membenarkan, maka secara otomatis anggota badan akan
melaksanakan. Sedangkan Abu Hanifah iman tidak hanya cukup
dibenarkan dalam hati tetapi perlu diikrarkan dengan lidah.
Mengikrarkan dengan lidah menunjukkan seseorang itu benarbenar beriman atau tidak kepada Allah. Sedangkan menurut
Hasbi as-Siddiqy tidak hanya dengan pembenaran dalam hati
dan diikrarkan dengan lidah, tetapi juga harus diamalkan
dengan aggota badan. Jadi pengikraran dan pengamalan
dengan anggota badan itu sebagai bukti dalam pentauhidan
yang Maha Kuasa.

Sedangkan Syekh Muhammad Abduh mengatakan Iman ialah


keyakinan kepada Allah, kepada rasulnya dan pada hari ahir
tanpa terikat oleh sesuatu apapun, kecuali harus menghormati
apa-apa yang telah disampaikan dengan perantaraan lisan para
rasul Tuhan.
Dengan melihat definisi diaatas dapat dikatakan bahwa iman itu
paling tidak harus ada pembenaran dan keyakinan adanya
Tuhan

dengan

segala

ke-Esaan-Nya

dan

segala

sifat

kesempurnaan serta pembenaran dan keyakinan terhadap


Muhammad SAW dan risalah kerasulannya.
C. Ihsan
Kata ihsan berasal dari Bahasa Arab dari kata kerja (fiil) yaitu :

artinya : Perbuatan baik. (

) . Menurut

pengertian istilah ada beberapa definisi dan pengertian yang


diberikan oleh ulama yaitu :
1. Muhammad Amin al-Kurdi, ihsan ialah selalu dalam keadaan
diawasi oleh Allah dalam segala ibadah yang terkandung di
dalam iman dan islam

sehingga

seluruh

ibadah

seorang

hamba benar-benar ikhlas karena Allah.


2. Menurut Imam Nawawi ihsan adalah ikhlas dalam beribadah
dan seorang

hamba merasa selalu diawasi oleh Tuhan dengan

penuh khusuk, khuduk

dan sebagainya.

Iman, Islam dan ihsan adalah unsur-unsur agama (ad-Din), hal


ini berdasarkan

Hadis Nabi SAW :

: :
: :

: : .
: : .
. : .
: . "" :.

Artinya: Ab Hurairah r.a berkata : Pada suatu hari ketika Nabi


saw duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seseorang
bertanya : Apakah iman ?. Jawab Nabi : Iman ialah percaya
kepada Allah dan Malaikat-Nya dan akan bertemu dengannya,
dan pada Nabi utusan-Nya, dan percaya pada hari berbangkit
dari kubur. Lalu Nabi ditanya : Apakah Islam ?. Jawab Nabi SAW ;
Islam

adalah

menyembah

kepada

Allah

dan

tidak

mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan mendirikan


sembahyang dan menunaikan zakat yang telah diwajibkan dan
puasa pada bulan Ramadan. Lalu Nabi ditanya : Apakah Ihsan ?.
Jawab Nabi : Ihsan adalah menyembah pada Allah seakan-akan
engkau melihatnya, tetapi apabila kamu tidak melihat-Nya, dia
pasti

melihat kamu. Lalu Nabi ditanya

: Kapankah hari

kiyamat ?. Jawab Nabi : Orang yang ditanya tidak lebih


mengetahui daripada orang yang menanya, tetapi saya katakan
padamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari
kiyamat, jika budak sahaya telah melahirkan majikannya dan
jika pengembala onta dan ternak lainnya telah berlomba-lomba
membangun gedung-gedung.
Termasuk lima perkara yang tidak diketahui kecuali Allah, yang
tersebut dalam ayat :
Sesungguhnya Hanya Allah yang mengetahui bilakah hari
kiyamat,

dan

dia

pula

yang

menurunkan

hujan,

dan

mengetahui yang di dalam rahim ibu, dan tiada seorangpun


yang mengetahui apa yang terjadi besok hari, dan tidak
seorangpun

mengetahui

dimanakah

ia

akan

mati.

Sesungguhnya Allah mengetahui sedalam dalamnya.(Q.S.


Al-Ahzab ayat 63). Kemudian pergilah orang itu, lalu Nabi
menyuruh sahabat; kembalikan orang itu !, tetapi sahabat

tidak melihat bekas orang itu, maka rasul bersabda. Itu


malaikat

Jibril

datang

untuk

mengajari

agama

pada

manusia.
AQIDAH
1. Pengertian Aqidah
Aqidah secara bahasa berasal dari kata akaid yang berarti
ikatan. Secara istilah adalah keyakinan hati atas sesuatu.
Kata aqidah tersebut dapat digunakan untuk ajaran yang
terdapat dalam Islam, dan dapat pula digunakan untuk
ajaran lain di luar Islam. Sehingga ada istilah aqidah Islam,
aqidah nasrani; ada aqidah yang benar atau lurus dan ada
aqidah yang sesat atau menyimpang.
Dalam ajaran Islam, aqidah Islam (al-aqidah al-Islamiyah)
merupakan keyakinan atas sesuatu yang terdapat dalam apa
yang disebut dengan rukun iman, yaitu keyakinan kepada
Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari
akhir, serta taqdir baik dan buruk. Hal ini didasarkan kepada
Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari
Shahabat Umar bin Khathab r.a. yang dikenal dengan Hadits
Jibril.
2. Kedudukan Aqidah dalam Islam
Dalam ajaran Islam, aqidah memiliki kedudukan yang
sangat penting. Ibarat suatu bangunan, aqidah adalah
pondasinya, sedangkan ajaran Islam yang lain, seperti
ibadah dan akhlaq, adalah sesuatu yang dibangun di
atasnya. Rumah yang dibangun tanpa pondasi adalah
suatu bangunan yang sangat rapuh. Tidak usah ada
gempa bumi atau badai, bahkan untuk sekedar menahan
atau menanggung beban atap saja, bangunan tersebut
akan runtuh dan hancur berantakan. Maka, aqidah yang

benar merupakan landasan (asas) bagi tegak agama


(din) dan diterimanya suatu amal.

MATERI 2: PENGURUSAN JENAZAH


Tanggal

: 19 November 2016

Pengurusan Jenazah
Pengurusan jenazah adalah perbuatan-perbuatan seorang muslim
terhadap seorang muslim lain yang meninggal yang meliputi
memandikan, menyalati, mengafani dan menyolatkan yang mana
hukumnya adalah fardu kifayah.
Bagi yang mengurus jenazah itu akan mendapatkan pahala yang
besar dengan dua syarat:
1. Hendaklah dalam mengurus jenazah itu seseorang benar-benar
ikhlas dan tidak bertujuan untuk memperoleh upah atau ucapan
terima kasih
2. Benar-benar

menutupi

menyebarluaskan

jenazah

dengan

rapat

dan

tidak

keburukan yang telah dilihatnya dari jenazah

tersebut, sebagaimana hadits Nabi:


"Barang siapa yang memandikan seorang muslim, seraya dia
menyembunyikan

dengan

baik,

maka

Allah

akan

memberikan ampunan 40 kali kepadanya. Dan barangsiapa


membuatkan lubang untuknya lalu menutupinya maka akan
diberlakukan baginya pahala seperti pahala orang yang
memberinya tempat tinggal kepadanya sampai hari kiamat
kelak. Dan barang siapa mengkafaninya, niscaya Allah akan
memakaikan kepadanya dihari kiamat kelak, pakaian dari
kain sutra tipis dan pakaian sutera tebal surge. (HR. Hakim
dan Baihaqi)

LANGKAH AWAL PENGURUSAN JENAZAH


Jika seseorang telah meninggal dunia, maka orang-orang yang
ditinggalkan berkewajiban untuk melakukan beberapa hal berikut
ini :
1. Memejamkan

kedua

matanya

dan

medndo'akannya.

Yang

demikian itu didasarkan pada hadits Ummu Salamah,


2.

Hendaklah menutupinya dengan kain yang dapat menutupi

seluruh bagian

tubuhnya. Yang demikian itu didasarkan pada

hadits Aisyah :
"Bahwasannya ketika Rasulullah SAW meninggal dunia ditutupi
dengan kain hibaroh (yakni kain bergaris hitam putih yang terbuat
dari katun)." (HR.

Bukhari-Muslim dan al-Baihaqi)

4. Hendaklah menyegerakan pengurusan segala sesuatunya. Yang


demikian itu

didasarkan pada hadits Abu Hurairoh

Tata Cara Pengurusan Jenazah Sesuai Syariat


A. MEMANDIKAN JENAZAH
1. Hukum memandikan jenazah.
Hukum memandikan jenazah orang yang beragama Islam
adalah wajib
dan pelaksanaannya adalah fardukifayah.
2. Syarat-syarat orang memandikan jenazah.
Orang yang diperbolehkan untuk memandikan jenazah
adalah orang-orang
yang telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Islam, berakal dan baligh
b. Niat memandikan jenazah
c. Bisa dipercaya (merahasiakan aib dan cacat tubuh
jenazah)
d. Mengetahui tata cara memandikan jenazah

3. Orang yang utama untuk memandikan jenazah


Orang

yang

lebih

utama

untuk

memandikan

jenazah

berbeda antara
jenazah laki-laki dan perempuan.
a. Jenazah laki-laki
Orang yang utama untuk memandikan jenazah laki-laki
urutannya
adalah sebagai berikut :
1) Orang yang mendapat wasiat untuk memandikan
2) Bapak, kakek, kerabat dekat dan mahram laki-laki dan
istri yang
meninggal.
memandikan

Diperbolehkannya
jenazah

seorang

istri

suaminya .

Lafaz niat memandikan jenazah lelaki :


"Sahaja aku memandikan jenazah (lelaki) kerana Allah
Taala"
b. Jenazah wanita
Orang yang lebih utama untuk memandikan jenazah
perempuan
urutannya adalah sebagai berikut :
1) Ibu, nenek, kerabat dekat dari pihak perempuan
2) Suami dari jenazah
Bila yang meninggal adalah anak-anak maka baik
laki-laki maupun
wanita boleh memandikannya selama jenazah usianya
belum melebihi tujuh tahun7. Namun seumpama jenazah
adalah laki-laki dan semua yang hidup (yang terkena
hukum wajib) adalah wanita atau sebaliknya dan tidak
ada suami atau istrinya, maka jenazah tidak boleh

dimandikan

tapi

cukup

ditayammumkan

oleh

salah

seorang dari mereka dengan menggunakan pelapis


tangan.
Lafaz niat memandikan jenazah perempuan :
"Sahaja aku memandikan jenazah (perempuan) kerana
Allah Taala"
4. Syarat Tempat Memandikan
1. Suci dan Besih ( Tidak di WC atau Kamar Mandi )
2. Tertutup Atap Dingdingnya
3. Tidak Terdapat Patung dan Gambar Makhluk Bernyawa
5. Alat dan bahan yang dipergunakan
Alat-alat yang dipergunakan untuk memandikan
jenazahadalah sebagai berikut:
-

Kapas

Dua buah sarung tangan untuk petugas yang

memandikan
-

Sebuah spon penggosok

Alat penggerus untuk menggerus dan menghaluskan

kapur barus

Spon-spon plastik

Shampo

Sidrin (daun bidara)

Kapur barus

Masker penutup hidung bagi petugas

Gunting untuk memotong pakaian jenazah sebelum

dimandikan
-

Air

Pengusir bau busuk dan Minyak wangi

6. Tata cara memandikan jenazah


a. Dianjurkan

menutup

aurat

si

mayit

ketika

memandikannya.

Dan

melepas

pakaiannya,

serta

menutupinya dari pandangan orang banyak. Sebab si


mayit barangkali berada dalam kondisi yang tidak layak
untuk dilihat. Sebaiknya papan pemandian sedikit miring
ke arah kedua kakinya agar air dan apa-apa yang keluar
dari jasadnya mudah mengalir darinya.
b. Seorang

petugas

memulai

dengan

melunakkan

persendian jenazah tersebut. Apabila kuku-kuku jenazah itu


panjang, maka dipotongi.

Demikian pula bulu ketiaknya.

Adapun bulu kelamin, maka jangan

mendekatinya, karena

itu merupakan aurat besar.


c. Kemudian petugas mengangkat kepala jenazah hingga
hampir mendekati posisi duduk. Lalu mengurut perutnya
dengan perlahan untuk mengeluarkan kotoran yang
masih

dalam

perutnya.

Hendaklah

memperbanyak

siraman air untuk membersihkan kotoran-kotoran yang


keluar.
d. Petugas yang memandikan jenazah hendaklah
mengenakan lipatan kain

pada

tangannya

atau

sarung tangan untuk membersihkan jasad si mayit


(membersihkan qubul dan dubur si mayit) tanpa
harus melihat atau

menyentuh langsung auratnya,

jika si mayit berusia tujuh tahun ke atas.


e. Selanjutnya petugas berniat (dalam hati) untuk
memandikan jenazah
Lalu

petugas

serta

me-wudhu-i

membaca
jenazah

basmalah.
tersebut

sebagaimana wudhu untuk shalat. Namun tidak


perlu memasukkan air

ke dalam hidung dan mulut si

mayit, tapi cukup dengan memasukkan

jari

yang

telah dibungkus dengan kain yang dibasahi di antara


bibir si

mayit lalu menggosok giginya dan kedua

lubang hidungnya sampai

bersih.

f.

Selanjutnya, dianjurkan agar mencuci rambut dan

jenggotnya dengan busa perasan daun bidara atau


dengan busa sabun. Dan sisa perasan

daun bidara

tersebut digunakan untuk membasuh sekujur jasad si


mayit.
g. Setelah itu membasuh anggota badan sebelah
kanan si mayit. Dimulai dari sisi kanan tengkuknya,
kemudian tangan kanannya dan bahu

kanannya,

kemudian belahan dadanya yang sebelah kanan,


kemudian sisi

tubuhnya

yang

sebelah

kanan,

kemudian paha, betis dan telapak kaki yang sebelah


kanan.
h. Selanjutnya

petugas

membalik

hingga miring ke sebelah


belahan

punggungnya

Kemudian

tubuhnya

kiri, kemudian membasuh


yang

dengan

sisi

cara

sebelah

yang

kanan.

sama

petugas

membasuh anggota tubuh jenazah yang sebelah kiri,


lalu membalikkannya hingga miring ke
kanan

dan

membasuh

belahan

sebelah

punggung

yang

sebelah kiri. Dan setiap kali membasuh bagian perut


si mayit keluar kotoran darinya,

hendaklah

dibersihkan.
I.

Banyaknya memandikan: Apabila sudah bersih,

maka yang wajib adalah

memandikannya satu kali

dan mustahab (disukai/sunnah) tiga kali. Adapun jika


belum

bisa

bersih,

maka

ditambah

lagi

memandikannya sampai bersih atau sampai tujuh kali


(atau lebih jika memang

dibutuhkan). Dan disukai

untuk menambahkan kapur barus pada

pemandian

yang terakhir, karena bisa mewangikan jenazah dan


menyejukkannya.
j.

Dianjurkan

agar

air

yang

dipakai

untuk

memandikan si mayit adalah air

yang sejuk, kecuali

jika petugas yang memandikan membutuhkan air


panas untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang
masih melekat pada

jasad si mayit. Dibolehkan

juga menggunakan sabun untuk

menghilangkan

kotoran. Namun jangan mengerik atau menggosok


tubuh si mayit dengan keras. Dibolehkan juga
membersihkan gigi si

mayit

dengan

siwak

atau

sikat gigi. Dianjurkan juga menyisir rambut si


mayit,

sebab

rambutnya

akan

gugur

dan

berjatuhan.
k. Setelah selesai dari memandikan jenazah ini,
petugas mengelapnya

(menghandukinya)

kain atau yang semisalnya. Kemudian


kumisnya

dan

mencabuti

kuku-kukunya

bulu

ketiaknya

belum dilakukan sebelum

jika

dengan

memotong
panjang,

(apabila

serta

semua

memandikannya)

itu
dan

diletakkan semua yang dipotong itu bersamanya

di

dalam kain kafan. Kemudian apabila jenazah tersebut


adalah wanita,

maka

rambut

kepalanya

dipilin

(dipintal) menjadi tiga pilinan lalu diletakkan

di

belakang (punggungnya).
l.

"Barang siapa yang telah selesai memandikan

seorang mayit maka


barang

siapa

hendaklah
Tirmidzi, Ibnu

hendaklah

yang
dia

mandi.

mengangkatnya

berwudlu."

(HR.

Abu

Dan

maka
Dawud,

Hibban,Ahmad)

m. Jumlah memandikan berjumlah ganjil, bisa 1/3/5/7


dan di sunnahkan

jenazah satu kali saja, namun

boleh 3 sampai 7 kali bila


bersih

memandikannya

belum

B. MENGKAFANI JENAZAH
Tata Cara Mengkafani
1. Siapkan

keranda

dekat

dengan

tempat

pemandian,

kemudian letakkan ikatan yang sudah dipersiapkan di atas


keranda dengan jumlah ganjil. Simpan di daerah kepala,
dada, perut, paha, lutut & kaki
2. Letakkan lipatan kain pertama, dan dianjurkan kain yang
terbaik dan yang

paling

bersih

untuk

kepada manusia dengan gambaran

memperlihatkan

yang baik dan indah.

Pada bagian kepala dilebihkan kira-kira 40 cm dan bagian kaki


20 cm.
3. Letakkan lipatan kedua dan ketiga di atas lipatan yang
pertama dengan cara

yang serupa. Letakkan popok di atas

kafan dekat dengan daerah dubur &

selangkangan.

Lalu

tambahkan kapas di atasnya.


4. Kain kafan yang telah siap kemudian ditaburi wewangian &
kapur barus.

Kemudian letakkan mayit di atasnya dengan

hati-hati & tetap menjaga

auratnya. Letakkan kepala pada

bagian yang telah dilebihkan serta

duburnya

di

atas

popok.
5. Buka kedua kakinya untuk mengikat popok yang telah siap
diantara dua kaki

& perutnya. Lakukan hal itu dibawah kain

penutup agar aurat mayit tetap

terjaga.

Setelah

selesai

rapatkan kembali kedua kakinya.


6. Oleskan minyak wangi pada tubuh mayit & yang dianjurkan
pada tujuh

anggota sujud (kening, lutut, telapak kaki,

telapak tangan, hidung), dan di

sela-sela persendian.

7. Lalu ambil ujung kain yang pertama (paling bawah/dalam)


arah kanan

kemudian

lipat

bersamaan mulai dari kaki hingga

ke

sebelah
kepala.

kiri

secara

Setelah

itu

pegang ujungnya dengan kuat dan lipat atau putar. Lalu


pegang lipatan ujung kain dengan tangan kiri, lalu ambil kain

yang kedua

dan lakukan seperti yang pertama, begitu juga

dengan kain yang ketiga.


8. Ikat dengan kuat dan jadikan ikatannya di sebelah sisi kiri
mayit. Selimuti

mayit yang telah dikafani agar benar-benar

tertutup dan terjaga sebelum

dikuburkan.

9. Untuk wanita lakukan hal serupa bila tdk terdapat 5 helai


kain yg

dibutuhkan,

C. SHALAT JENAZAH
Lafaz niat solat jenazah
"Sahaja aku berniat mendirikan solat ke atas jenazah ini
dengan empat takbir fardhu kifayah kerana Allah Taala"
Tata cara shalat jenazah
Shalat jenazah memiliki tata cara yang berbeda dengan
shalat yang lain, karena shalat ini dilaksanakan tanpa ruku,
tanpa sujud, tanpa duduk, dan tanpa tasyahhud (Al-Muhalla,
3/345). Berikut perinciannya:
1. Bertakbir 4 kali, demikian pendapat mayoritas shahabat,
jumhur tabiin, dan madzhab fuqaha seluruhnya.
2. Takbir pertama dengan mengangkat tangan, lalu tangan
kanan diletakkan di atas tangan kiri (sedekap) sebagaimana
hal ini dilakukan pada shalat-shalat

lain. Al-Imam Al-Hafizh

Ibnul Qaththan t berkata: Ulama bersepakat bahwa


orang

yang

menshalati

jenazah,

ia

bertakbir

dan

mengangkat kedua tangannya pada takbir yang awal. (AlIqna fi Masa`ilil Ijma, 1/186)
3. Setelahnya, bertaawwudz lalu membaca Al-Fatihah dan
surah lain dari

Al-Qur`an.

4. Sebenarnya

bacaan

dalam

shalat

jenazah

tidaklah

dijahrkan namun dengan

sirr

(pelan), berdasarkan

keterangan yang ada dalam hadits Abu Umamah

bin

Sahl, ia berkata: Yang sunnah dalam shalat jenazah, pada


takbir pertama

membaca

Al-Fatihah

kemudian bertakbir tiga kali

dan

dengan

perlahan

mengucapkan

salam

setelah takbir yang akhir.


5. Takbir kedua, lalu bershalawat untuk Nabi sebagaimana
lafadz shalawat

dalam tasyahhud.

6. Takbir ketiga, lalu berdoa secara khusus untuk si mayat


secara sirr menurut pendapat jumhur ulama.
7. Pada

takbir

mengucapkan

terakhir,

disyariatkan

berdoa

sebelum

salam dengan dalil hadits Abu Yafur dari

Abdullah bin Abi Aufa z ia berkata:

Aku

menyaksikan

Nabi n (ketika shalat jenazah) beliau bertakbir empat kali,


kemudian (setelah takbir keempat) beliau berdiri sesaat
untuk berdoa.
8. Kemudian salam seperti salam dalam shalat lima waktu, dan
yang sunnah

diucapkan secara sirr (pelan), baik ia imam

ataupun makmum
D. MENGUBURKAN JENAZAH
TATA CARA MENGUBURKAN JENAZAH
1. Disunnahkan

membawa

jenazah yang di panggul

jenazah

dengan

usungan

di atas pundak dari keempat

sudut usungan.
2

Disunnahkan

menyegerakan

pemakaman tanpa harus


pengiring,

boleh

mengusungnya

tergesa-gesa.

berjalan

di

Bagi

depan

jenazah,

ke
para
di

belakangnya, di samping kanan atau kirinya. Semua cara


ada tuntunannya

dalam sunnah Nabi.

3. Para pengiring tidak dibenarkan untuk duduk sebelum


jenazah diletakkan, sebab

Rasulullah

wassalam telah melarangnya.

shallallahu

alaihi

4. Disunnahkan mendalamkan lubang kubur, agar jasad si


mayit terjaga dari

jangkauan binatang buas, dan agar

baunya tidak merebak keluar.


5. Lubang kubur yang dilengkapi liang lahad lebih baik
daripada syaq. Dalam

masalah ini Rasulullah shallallahu

alaihi wassalam bersabda:


Liang

lahad

itu

sedangkan syaq bagi

adalah

bagi

kita

(kaum

muslimin),

selain kita (non muslim). (HR. Abu

Dawud dan dinyatakan shahih oleh

Syaikh

Al-Albani

dalam

Ahkamul Janaaiz hal. 145). Lahad adalah liang (membentuk


huruf U memanjang) yang dibuat khusus di dasar kubur pada
bagian arah kiblat untuk meletakkan jenazah di dalamnya.
Syaq adalah liang

yang dibuat khusus di dasar kubur pada

bagian tengahnya (membentuk


6. Jenazah

dimasukkan

memasukkan jenazah ke

huruf U memanjang).

ke

dalam

kubur.

Disunnahkan

liang lahat dari arah kaki kuburan

lalu diturunkan ke dalam liang kubur

secara perlahan. Jika

tidak memungkinkan, boleh menurunkannya dari arah

kiblat.

7. Petugas yang memasukkan jenazah ke lubang kubur


hendaklah

mengucapkan: BISMILLAHI WA ALA MILLATI

RASULILLAHI (Dengan

menyebut Asma Allah dan berjalan

di atas millah Rasulullah shallallahu

alaihi

wassalam).

ketika menurunkan jenazah ke lubang kubur.

Demikianlah

yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.


8. Disunnahkan membaringkan jenazah dengan bertumpu
pada sisi kanan jasadnya

(dalam

posisi

menghadap kiblat sambil dilepas tali-talinya

miring)

dan

selain

tali

kepala dan kedua kaki.


9. Tidak perlu meletakkan bantalan dari tanah ataupun batu
di bawah kepalanya, sebab tidak ada dalil shahih yang
menyebutkannya. Dan tidak

perlu menyingkap wajahnya,

kecuali bila si mayit meninggal dunia saat

mengenakan

kain ihram sebagaimana yang telah dijelaskan.

10. Setelah jenazah diletakkan di dalam rongga liang lahad


dan tali-tali selain

kepala dan kaki dilepas, maka rongga

liang lahad tersebut ditutup dengan

batu bata atau papan

kayu/bambu dari atasnya (agak samping).


11. Lalu sela-sela batu bata-batu bata itu ditutup dengan
tanah liat agar

menghalangi

sesuatu

yang

masuk

sekaligus untuk menguatkannya.


12. Disunnahkan bagi para pengiring untuk menabur tiga
genggaman tanah ke

dalam liang kubur setelah jenazah

diletakkan di dalamnya. Demikianlah


Rasulullah

shallallahu

alaihi

yang

wassalam.

dilakukan

Setelah

itu

ditumpahkan (diuruk) tanah ke atas jenazah tersebut.


13. Hendaklah

meninggikan

sebagai tanda agar tidak

makam

kira-kira

sejengkal

dilanggar kehormatannya, dibuat

gundukan seperti punuk unta, demikianlah bentuk makam


Rasulullah shallallahu alaihi wassalam (HR. Bukhari).
14. Kemudian ditaburi dengan batu kerikil sebagai tanda
sebuah makam dan

diperciki air, Lalu diletakkan batu

pada makam bagian kepalanya agar mudah dikenali.


15. Haram hukumnya menyemen dan membangun kuburan.
Demikian pula

menulisi batu nisan. Dan diharamkan juga

duduk di atas kuburan, menginjaknya

serta

padanya. Karena Rasulullah shallallahu alaihi

bersandar
wassalam

telah melarang dari hal tersebut. (HR. Muslim)


16. Kemudian pengiring jenazah mendoakan keteguhan bagi
si mayit (dalam menjawab pertanyaan dua malaikat yang
disebut dengan fitnah kubur). Karena

ketika

itu

ruhnya

dikembalikan dan ia ditanya di dalam kuburnya. Maka


disunnahkan agar setelah selesai menguburkannya orangorang itu berhenti sebentar untuk mendoakan kebaikan
bagi si mayit (dan doa ini

tidak

dilakukan

berjamaah, tetapi sendiri-sendiri!). Sesungguhnya


bisa mendapatkan manfaat dari doa mereka.

secara
mayit

17. Tidak boleh menguburkan pada waktu-waktu terlarang


atau pada waktu malam,

kecuali

darurat, meskipun dengan cara

karena

dalam

keadaan

memakai lampu dan turun

di lubang kubur untuk memudahkan

pelaksanaan

penguburan.
18. Setelah menimbun kubur disunnahkan hal-hal berikut :
a. Meninggikan kubur sekitar sejengkal dari permukaan
tanah, tida

diratakan,

supaya

dapat

dikenal

dan

dipelihara serta tidak dihinakan.


b. Meninggikan hanya dengan batas yang tersebut tadi.
c. Memberi tanda dengan batu atau selain batu supaya
dikenali.
d. Berdiri di kubur sambil mendoakan dan memerintahkan
kepada yang

hadir supaya mendoakan dan memohonkan

ampunan juga.

MATERI 3: SHALAT JAMA DAN QASHAR


Tanggal

: 19 November 2016

1. PENGERTIAN SHOLAT JAMA'


Shalat yang digabungkan, yaitu mengumpulkan dua shalat
fardhu yang dilaksanakan

dalam satu waktu.

Dzuhur dan Ashar dikerjakan

Misalnya,

shalat

pada waktu Dzuhur atau pada waktu

Ashar. Shalat Maghrib dan Isya

dilaksanakan

pada

waktu

Maghrib atau pada waktu Isya.


Sedangkan Subuh tetap pada waktunya dan tidak boleh
digabungkan dengan

shalat

lain.

Shalat

dilaksankan karena bebrapa alasan (halangan)

Jama'

ini

boleh

berikut ini :

a. Dalam perjalanan yang bukan untuk maksiat


b. Apabila turun hujan lebat
c. Karena sakit dan takut
d. Jarak yang ditempuh cukup jauh, yakni kurang lebihnya 81
km (begitulah

yang

disepakati

sebagian Imam Madzhab sebagaimana disebutkan

oleh
dalam

kitab AL-Fikih, Ala al Madzhabhib al Arbaah, sebagaimana pendapat


para ulama madzhab Maliki, Syafii dan Hambali).
Shalat Jama' Dapat Dilaksanakan dengan 2 (dua) Cara :
A. Jama' Taqdim (Jama' yang didahulukan) yaitu menjama' 2
(dua) shalat dan

melaksanakannya pada waktu shalat yang

pertama.
Misalnya shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan pada waktu
Dzuhur atau shalat Maghrib dan Isya dilaksanakan pada waktu
Maghrib.
Syarat Sah Jama' Taqdim :
a. Berniat menjama' shalat kedua pada shalat pertama
b. Mendahulukan shalat pertama, baru disusul shalat kedua
c. Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau
perkataan

lain, kecuali duduk, iqomat atau sesuatu

keperluan yang sangat


d. Niat

jama'

penting

yang

Ihram shalat yang

dibarengkan

dengan

Takbiratul

pertama, misalnya Dhuhur.

B. Jama' Takhir (Jamak yang diakhirkan), yaitu menjamak 2


(dua) shalat dan

melaksanakannya pada waktu shalat yang

kedua.
Misalnya,

shalat Dzuhur dan Ashar

waktu Ashar atau

dilaksanakan

pada

shalat Maghrib dan

shalat Isya dilaksanakan pada waktu shalat Isya.


Syarat Sah Jama' Takhir :
a. Niat (melafazhkan pada shalat pertama) yaitu : Aku
takhirkan shalat

Dzuhurku diwaktu Ashar.

b. Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau


perkataan lain,

kecuali

duduk,

iqomat

atau

sesuatu

keperluan yang sangat penting.


2.

PENGERTIAN SHOLAT QASHAR


Shalat yang diringkas, yaitu shalat fardhu yang 4 (empat) rakat

(Dzuhur, Ashar

dan Isya) dijadikan 2 (dua) rakaat, masing-masing

dilaksanakan tetap pada

waktunya.

shalat, meng-qashar shalat hukumnya

Sebagaimana
sunnah.

merupakan rushah (keringanan) dari Allah SWT bagi

menjamak
Dan

ini

orang-orang

yang memenuhi persyaratan tertentu.


Syarat Meng-qashar :
1. Bepergian yang bukan untuk tujuan maksiat
2. Jauh perjalanan minimal 88,5 km
3. Shalat yang di-qashar adalah ada' (bukan qadla')

yang

empat rakaat.
4. Tidak boleh bermakmum pada orang yang shalat sempurna
(tidak

di-qashar).

MATERI 4: ZAKAT
Tanggal

: 20 November 2016

1. Makna Zakat
Zakat

adalah

Rukun

Islam

Bahasa(lughat), zakat berarti : tumbuh;

yang

Kelima Menurut

berkembang;

kesuburan

atau bertambah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula

berarti

membersihkan atau mensucikan (QS. At-Taubah : 10)


Menurut Hukum Islam (istilah syara), zakat adalah nama bagi
suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut
sifat-sifat yang tertentu dan

untuk

tertentu (Al Mawardi dalam kitab Al

diberikan

kepada

golongan

Hawiy)

Selain itu, ada istilah shadaqah dan infaq, sebagian ulama fiqh,
mengatakan bahwa sadaqah wajib dinamakan zakat, sedang
sadaqah sunnah dinamakan

infaq.

Sebagian

yang

lain

mengatakan infaq wajib dinamakan zakat, sedangkan infaq


sunnah dinamakan shadaqah.
2. Penyebutan Zakat dan Infaq dalam Al Qur-an dan As Sunnah
a. Zakat (QS. Al Baqarah : 43)
b. Shadaqah (QS. At Taubah : 104)
c. Haq (QS. Al Anam : 141)
d. Nafaqah (QS. At Taubah : 35)
e. Al Afuw (QS. Al Araf : 199)
3.

Hukum Zakat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah

satu unsur pokok

bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu

hukum zakat adalah wajib (fardhu)

atas

setiap

muslim

telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk

yang

dalam

kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur
secara

rinci dan paten berdasarkan Al-Quran dan As Sunnah,

sekaligus merupakan

amal

sosial

kemasyarakatan

kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai

dengan

perkembangan ummat manusia.


4. Macam-macam Zakat

5.

A.

Zakat Nafs (jiwa), juga disebut zakat fitrah.

B.

Zakat Maal (harta).

Syarat-syarat Wajib Zakat


A. Muslim
B.

Aqil

C. Baligh
D. Memiliki harta yang mencapai nishab
6. Yang berhak menerima zakat
A. Fakir
B. Miskin
C. Amil
D. Muallaf
E. Gharim
F. Ibnu sabil
G. Sabililah
H. Budak

dan