Anda di halaman 1dari 44

HERMENEUTIK.

Bab I
PENDAHULUAN
Apakah arti Hermeneutik? Apakah pentingnya Hermeneutik? Kualifikasi apakah yang diperlukan untuk seorang
penafsir yang benar?
PENGERTIAN DAN DEFINISI HERMENEUTIK
Sebelum membahas secara lengkap prinsip-prinsip Hermeneutik, perlu terlebih dahulu dibahas beberapa istilah
dan pengertian Hermeneutik dan juga hal-hal yang berhubungan dengan pengertian tsb.
A. Arti Kata Hermeneutik
1.

DALAM BAHASA IBRANI. Kata Hermeneutik dalam bahasa Ibrani adalah pathar (), yang artinya adalah
menafsir" (to interprete). Sedangkan kata bendanya adalah pithron, artinya "tafsiran" (interpretation).
Kata ini paling umum digunakan dalam konotasi menafsirkan mimpi, karena mimpi berwujud simbol
yang artinya tidak jelas. {Ge 41:8,12,15}

2.

DALAM BAHASA YUNANI. Kata Hermeneutik dalam bahasa Yunani adalah hermeneutikos, berasal dari
katahermeneuo (),

artinya

"menafsir"

(to

interprete).

Kata

benda

yang

dipakai

adalah hermeneia, artinya "tafsiran" (interpretation). Kata ini ambil dari kata Hermes, yaitu nama
dewa Yunani yang tugasnya membawa berita-berita dari dewa-dewa kepada manusia. {Ac 14:11-12}
B. Definisi Hermeneutik
1.

NON-KRISTEN. Hermeneutik dimengerti sebagai ilmu

umum

tentang linguistik; atau

peraturan-

peraturan yang dipergunakan untuk mencari arti sesungguhnya atau menafsir/menjelaskan suatu
pengertian yang tidak jelasartinya.
2.

KRISTEN. Hermeneutik adalah bagian dari ilmu Teologia Biblika yang dalam perkembangannya memiliki
tiga pengertian:

Ilmu

yang

mempelajari

teori-teori,

prinsip-prinsip

(aturan-aturan)

dan

metode-metode

penafsiran Alkitab. "Hermeneutics is the science that teaches us the principles, laws, and
methods of interpretations." (L. Berkhof)"Hermeneutics is the science of correct interpretation
of the Bible." (Bernard Ramm)

Seni yang menguji kemampuan untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip penafsiran Alkitab.

Ilmu yang mempelajari keseluruhan proses penafsiran (konsep keseluruhan dari tugas
penafsiran), terutama dalam dimensi spiritual bagi kepentingan pertumbuhan rohani penafsir.

Menurut Richard E. Palmer, definisi hermeneutika setidaknya dapat dibagi menjadi enam. Sejak awal,
hermeneutika telah sering didefinisikan sebagai ilmu tentang penafsiran science of interpretation). Akan tetapi,
secara luas, hermeneutika juga sering didefinisikan sebagai:

Pertama, teori penafsiran Kitab Suci (theory of biblical exegesis).


Kedua, hermeneutika sebagai metodologi filologikal (Filologi adalah ilmu yang mempelajari bahasa
dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, yang merupakan kombinasi dari kritik sastra, sejarah,

dan linguistik) umum (general philological methodology).


Ketiga, hermeneutika sebagai ilmu tentang semua pemahaman bahasa (science of all linguistic

understanding).
Keempat, hermeneutika sebagai landasan metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan (methodological

foundation of Geisteswissenschaften).
Kelima,
hermeneutika
sebagai
pemahaman

(phenomenology of existence dan of existential understanding).


Keenam, hermeneutika sebagai sistem penafsiran (system of interpretation). Hermeneutika sebagai

eksistensial

dan

fenomenologi

eksistensi

sistem penafsiran dapat diterapkan, baik secara kolektif maupun secara personal, untuk memahami
makna yang terkandung dalam mitos-mitos ataupun simbol-simbol.
Sebagai

ilmu

yang

mempelajari

prinsip-prinsip

dan

aturan-aturan

dalam

menafsir

Alkitab. Hermeneutik biasanya dibedakan menjadi dua:


a.

Hermeneutik Umum: yaitu prinsip-prinsip menafsir yang digunakan secara umum untuk menafsir
segala macam bentuk karya sastra umum.

b.

Hermeneutik Khusus: yaitu prinsip-prinsip menafsir yang dikembangkan secara khusus sehubungan
dengan jenis gaya sastra tertentu, misalnya: puisi, perumpamaan, cerita, dsb.
Sehingga dapat kita katakan Hermeneutik sebagai:

C. Keterbatasan HermeneutiK
1.

Sebagai ilmu karena uraiannya bisa dirangkumkan secara ilmiah dan sistematis dalam hukum-

2.

hukum, prinsip-prinsip dan dalam seperangkat rumusan-rumusan.


Ia dikatakan sebuah seni karena pengaplikasian dari rumusan/prinsip-prinsip itu sangat
membutuhkan

ketrampilan

dari

penafsirnya.

Itu

sebabnya

seorang

yang

menguasai

rumusan/prinsip-prinsip Hermeneutik belum tentu dapat menjadi seorang penafsir yang handal
3.

(baik).
Dikatakan skill (kemampuan) karena ia membutuhkan kemampuan skill bukan kerja contoh dari
sebuah mekanisme.

Oleh karena itu Hermeneutik dibedakan dengan Eksegesis dan Eksposisi. Hermeneutik adalah ilmu
yang mempelajari tentang prinsip-prinsip penafsiran Alkitab, sedangkan Eksegesis adalah penerapan prinsipprinsip tsb. terhadap teks dalam Alkitab dan Eksposisi adalah penguraian hasil eksegesis yang telah dilakukan,
pada umumnya berupa kotbah.
D. Tempat Hermeneutik

Hermeneutik bukanlah ilmu yang berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat dengan ilmu-ilmu lain yang
tergabung dalam Teologia Biblika (Teologia yang berurusan dengan penelaahan isi naskah Alkitab dan alat-alat
bantunya). Misalnya: Ilmu Pembimbing/Pengantar Alkitab (PL & PB), Ilmu Tafsir Alkitab (PL & PB), Ilmu Teologia
Alkitab (PL & PB) dan Ilmu Bahasa Asli Alkitab (Ibrani & Yunani).
Hal yang tidak dapat dihindari setelah mengaplikasikan prinsip-prinsip Hermeneutik adalah bagaimana
menyampaikan kebenaran yang kita dapatkan dari hasil penafsiran itu kepada orang lain dengan cara yang
benar dan menarik. Oleh karena itu Homelitik (Ilmu berkotbah) adalah ilmu yang juga tidak dapat dilepaskan
dari Hermeneutik.
Selain

dengan

Teologi

Biblika, Hermeneutik juga

berkaitan

dengan

Teologi

Sistematika,

yaitu

pengajaran Alkitab yang sudah diformulasikan secara sistematis dalam doktrin-doktrin. Hermeneutik akan
menjadi dasar yang kuat bagi doktrin-doktrin yang dipelajari.
E. Pentingnya Hermeneutik
Setiap orang Kristen harus mempelajari Alkitab karena Alkitab adalah Firman Allah yang diinspirasikan
oleh Allah sendiri, yang berisi segala pengetahuan tentang Allah dan hubungannya dengan semua karya dan
ciptaanNya. Namun demikian untuk mengerti isi Alkitab tidaklah selalu mudah karena ada gap komunikasi yang
besar sehingga perlu dijembatani.
Model Komunikasi Alkitab:

Penerima

Pengirim
Allah

Kekal

Sementa
ra

Mahata
hu

Terbatas

Manusia

Dosa
Kebenar

Kebenar

Pengilham

Insipirasi

Iluminas

Gap

Eksegesis

Jembatan
Tugas
Hermeneutik

Allah menyampaikan FirmanNya kepada seluruh manusia sepanjang sejarah melalui para penulis
Alkitab. Untuk Firman itu sampai kepada manusia dengan baik, khususnya kepada manusia yang hidup di abad
ini, ada gap yang sangat besar yang harus dijembatani. Firman Tuhan itu ditulis ribuan dan ratusan tahun yang
lalu, oleh banyak penulis Alkitab yang hidup pada jaman yang berbeda-beda dan dari latar belakang yang
berbeda-beda, dan ditulis dalam bahasa-bahasa yang tidak kita kuasai. Bagaimana cara orang percaya abad ini
mengerti Firman Tuhan agar Firman itu diterima sama seperti ketika parapenulis Alkitab mula-mula
menerimaNya? Inilah tugas Hermeneutik!
F. Tujuan Mempelajari Hermeneutik
Setelah melihat pentingnya peranan Hermeneutik bagi kebutuhan kita untuk mengerti Firman Tuhan maka
dapat dijelaskan tujuan mempelajari Hermeneutik sbb.:
1.

SEBAGAI ILMU. Tujuannya adalah mempelajari seperangkat prinsip-prinsip (aturan-aturan) untuk


memungkinkan kita mengerti apa yang dikatakan Alkitab sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh
para penulisnya.

2.

UNTUK TUJUAN APLIKASI. Namun tujuan mempelajari Hermeneutik tidak berhenti sebagai ilmu.
Setelah memahami Alkitab dengan benar sesuai dengan maksud penulisnya, maka perlu kita
menempatkannya pada konteks dimana kita sekarang berada sehingga kita tahu apa artinya bagi kita
sekarang dan bagaimana mengaplikasikannya dalam konteks kita sekarang.

3.

UNTUK PERTUMBUHAN ROHANI. Setelah mengerti Alkitab dengan benar dan mengaplikasikan
kebenarannya dalam hidup kita sehari-hari maka kehidupan iman kita akan bertumbuh menjadi
dewasa. Dan inilah yang menjadi tujuan utama kita mempelajari Hermeneutik.

4.

SEBAGAI TINDAKAN PREVENTIF. Apabila tujuan di atas tercapai maka kita akan sekaligus terhindar dari
pengajaran-pengajaran sesat yang mencoba menafsirkan Alkitab secara salah dan tidak bertanggung
jawab.

5.

UNTUK TUJUAN EKSPOSISI. Bagian utama dari tugas hamba Tuhan adalah memberi makan makanan
rohani kepada orang-orang yang dilayani, oleh karena itu menguasai Hermeneutik adalah kebutuhan
utama yang harus diusahakan.

G. Kualifikasi Seorang Penafsir


Kualifikasi seorang penafsir (interpreter) memegang peranan yang sangat penting dalam memberikan
hasil interpretasi (penafsiran) yang tepat. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, seseorang yang memiliki
teori (pengetahuan)Hermeneutik tidak membuatnya otomatis menjadi seorang penafsir yang baik (handal). Ada
tiga macampenafsir yang disebutkan dalam Alkitab:
1.

PENAFSIR RESMI. Dalam Ac 13:27, yang dimaksud para pemimpin agama, pada jaman Tuhan Yesus
hidup di dunia, adalah para imam, ahli Taurat, dan Farisi. Sedangkan yang dimaksud dengan penafsir

resmi adalah para ahli-ahli kitab (PL). Tetapi cara penafsiran harafiah dan legalisme telah membuat
mereka menyalah-tafsirkan kata-kata para nabi sehingga mereka justru menyalibkan Yesus.
2.

PENAFSIR PALSU. Dalam beberapa ayat Alkitab kita juga melihat ada penafsir palsu, misalnya; 2Co
4:2; Efes 4:14 2Pe 3:16. Mereka ini adalah penafsir-penafsir yang dengan sengaja menafsirkan secara
salah dan mereka adalah orang-orang yang tidak akan sampai pada pengetahuan akan kebenaran. {2Ti
3:7}

3.

PENAFSIR YANG BENAR. Luk. 24:27 menunjukkan bahwa Yesus adalah gambaran seorang penafsir
yang

sempurna:

"...Ia

menjelaskan..."

(dalam

bahasa

Yunani diermeneuo artinya

"menjelaskan/menafsir dengan cermat"). Yesuslah Sang Penafsir, penafsir yang benar harus meneladani
Dia. 2Ti 2:16-18 adalah pujian Alkitab yang diberikan kepada penafsir yang benar.
Apakah setiap orang bisa menjadi "Penafsir dengan benar"? Tidak! Berikut ini adalah ciri-ciri yang harus
dipunyai untuk seorang penafsir dapat menafsir dengan benar:
a.

Hati yang baru. {1Kor 2:14} Seorang penafsir haruslah seorang yang sudah lahir baru. Sebagai
mediator/komunikator antara Allah dan manusia, seorang penafsir harus hidup sebagai manusia rohani
yang sanggup melihat hal-hal rohani yang Allah sampaikan kepada manusia. Dengan demikian ia akan
menggantungkan sepenuhnya pada pekerjaan Roh yang memberikan pencerahan dalam hatinya.

b.

Hati yang lapar. {1Pe 2:2} Menafsir Firman Allah tidak dilakukan sebagai suatu kebiasaan atau karena
kebetulan, tapi karena kerinduan. Tanpa kerinduan, seorang penafsir tidak akan sampai pada kepuasan
menikmati berkat rohani dari Firman Tuhan. Kerinduan akan didapatkan apabila ia percaya bahwa
Firman Tuhanlah yang memberikan makanan bagi kehidupan rohaninya.

c.

Hati yang taat. {Maz 119:98-100} Alkitab adalah otoritas tunggal, tertinggi dan mutlak bagi iman dan
kehidupan pengikut Kristus. Oleh karena itu Firman Allah menuntut ketaatan. Apabila tidak ada tekad
untuk melaksanakan apa yang kita pelajari dari Firman Tuhan maka tidak akan Tuhan akan
membukakannya lagi pada kita.

d.

Hati yang disiplin. {Yes 50:4} Hati yang tidak mudah putus asa oleh kesulitan dan kelelahan.
Mempelajari Alkitab membutuhkan tekad dan ketekunan dan disiplin. Hanya dengan kerja keras dan
kesungguhan akan dihasilkan buah yang baik.

e.

Hati yang mau diajar dan rendah hati. {Mat 7:7} Seorang penafsir tidak pernah merasa cukup belajar.
Kekayaan Firman Tuhan mendorongnya untuk mau rendah hati dan selalu belajar. Keinginannya belajar
membuktikan bahwa ia setiap saat mau untuk dikoreksi dan ditegur oleh Firman Tuhan..

f.

Hati yang beriman. {Ibr 11:6} Sorang penafsir adalah seorang yang tunduk pada kedaulatan Tuhan,
karena ia percaya bahwa Tuhan adalah Tuan di atas semua tuan. Hatinya tidak bimbang tetapi teguh
bagaikan batu karang karena Firman Tuhan menjadi pegangannya yang utama.
Atau dapat kita simpulkan criteria seorang penafsir adalah:
a.

Knowledge (Pengetahuan) menguasai fakta dan kebenaran.

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.

Understanding (Pengertian) memahami fakta.


Wisdom (Hikmat) mengaplikasikan fakta.
Responsibility (Meresponi/tanggap)
Faithfullness (Kesetiaan)
Acountabillity (Dapat mempertanggungjawabkan)
Teachable (Mau diajar)
Humble (Rendah Hati)
Servant Heart (Memiliki Hati Gembala).
Trustworthy (Dapat dipercayai)
Commitment (Komitmen)
Able / Qualifed (Mampu/ Berkualitas)
Gifted Teacher (Karunia Guru / Karunia Mengajar).
Intergrity (Integritas)

H. dua kesalahan yang umum terjadi dikalangan penafsir.


1.

Provincialism (Kedangkalan/ cara berpikir yang sempit)=

mereka yang percaya bahwa system atau

2.

cara yang mereka pelajari adalah satu-satunya cara menafsirkan.


Traditionalism (kaku/ tradisionil) = mereka beranggapan bahwa hanya beberapa cara penafsiran yang
tradisional atau yang biasa mereka pakai adalah cara menafsirkan yang paling memadai.

Sumber Bacaan:
1.

Hasan Susanto, Hermeneutik; Prinsip dan Metode - (Hal. 1-15)

2.

Alan D. Cox, Penafsiran Alkitab - (Hal. 1-2)

3.

Gordon D. Fee, Hermeneutik; Bagaimana Menafsir - (Hal. 1-17)

4.

Pdt. Ichwei G. Indra, M.Th., 8 Prinsip Tafsir Alkitab - (Hal. 7-9; 91-93)

5.

T. Norton Sterrett, How to Understand Your Bible - (Hal. 19-22)

6.

Kevin J. Conner, Interpreting The Scripture - (Hal. 1-12)

7.

Grant R. Osborne, The Hermeneutical Spiral - (Hal. 5-15)

Bab II
ALAT-ALAT BANTU HERMENEUTIK
Alat-alat bantu apakah yang dibutuhkan untuk bisa menafsir dengan bertanggungjawab? Dan apa gunanya?
PENJELASAN MASING-MASING ALAT BANTU HERMENEUTIK
Untuk menerapkan prinsip-prinsip Hermeneutik dengan baik, maka diperlukan kerja keras dan fasilitas alat-alat
bantu yang memadai. Oleh karena itu berikut ini adalah alat-alat yang diperlukan untuk mendapatkan hasil
yang maksimal:
A. Alkitab
1.

ALKITAB DALAM BERBAGAI VERSI DAN BAHASA. Dibutuhkan beberapa versi Alkitab yang baik untuk
bisa memungkinkan hasil penafsiran yang baik. Tujuannya adalah untuk menjadi bahan perbandingan
guna menemukan ketepatan arti kata atau kekayaan pengertiannya.

2.

Alkitab Versi Bahasa Indonesia: Terjemahan Lama, Terjemahan Baru,

3.

Alkitab Versi Bahasa Indonesia Sehari-hari, Firman Allah yangHidup

4.

Alkitab Versi Bahasa Inggris : New International Version, Revised StandardVersion, KJV, New American
Standard Bible, dll.

5.

Alkitab Bahasa Daerah

: Bahasa Jawa, Sunda, Batak, Ambon, dll.

6.

ALKITAB DALAM BAHASA ASLINYA. Alkitab Bahasa Yunani & Ibrani dibutuhkan untuk mereka yang
sudah mempelajari bahasa-bahasa Alkitab tsb.

7.

ALKITAB DENGAN Nomor Strong atau ALKITAB Interlinier. sangat membantu untuk mencari padanan
kata bahasa aslinya dengan bahasa Inggris (karena bahasa Indonesia belum ada).

8.

ALKITAB DENGAN ANOTASI. Pilihlah Alkitab yang memiliki anotasi catatan-catatan tepi atau catatancatatan kaki, karena hal itu sangat berguna untuk mencari penjelasan lebih lanjut.

9.

ALKITAB DENGAN REFERENSI SILANG. Alkitab dengan Referensi Silang sangat membantu untuk
mendapatkan ayat-ayat paralel sebagai referensi.

B. Kamus
1.

KAMUS BAHASA INDONESIA DAN INGGRIS. Baik kamus bahasa Indonesia-Indonesia maupun InggrisIndonesia diperlukan untuk mencari definisi kata yang benar.

2.

KAMUS BAHASA IBRANI/YUNANI. Juga sangat diperlukan kamus Kamus Bahasa Alkitab (Leksikon)
Ibrani/Yunani untuk mencari arti dan penjelasan dalam bahasa aslinya. Untuk itu perlu dilengkapi juga
dengan Buku Tata Bahasa Yunani untuk mereka yang mempelajari Alphabet Yunani.

3.

KAMUS IDIOM IBRANI/YUNANI. Ada idiom-idiom yang sulit kita ketahui artinya sehingga perlu bantuan
dari alat-alat ini.

4.

KAMUS ALKITAB/ENSIKLOPEDIA ALKITAB. Sangat berguna untuk mendapatkan penjelasan sehubungan


denganistilah-istilah teologia, nama-nama tempat, orang dan binatang/tumbuh-tumbuhan, dll.

C. Konkordansi
Konkordani berisi daftar kata-kata yang ada dalam Alkitab yang dilengkapi dengan alamat ayat-ayat dimana
kata-kata tsb. berada dalam Alkitab. Sangat berguna untuk mencari ayat atau padanan ayat yang tidak kita
ketahui alamatnya.
D. Buku-Buku Sistem Topik
Buku

yang

menyusun

topik-topik

dalam

Alkitab

sedemikian

rupa

(sesuai

dengan

abjad)

sehingga

mempermudah pencarian ayat-ayat yang membicarakan topik yang sama.


E. Buku Pengantar Alkitab
Untuk mengetahui sejarah dan latar belakang Kitab-kitab dalam Alkitab, khusus sehubungan dengan latar
belakang penulisan kitab-kitab tsb.; mis. siapa penulisnya, siapa penerima kitab-kitab itu dan apa tujuan
penulisan dan kapan/dimana kitab-kitab itu ditulis, dll.
F. Atlas Alkitab

Menunjukkan gambaran (peta) tempat-tempat dalam Alkitab pada jaman Alkitab. Didalamnya ditunjukkan juga
perkiraan ukuran jarak tempat-tempat dan hubungan tempat-tempat itu sesuai dengan sejarah peristiwanya
dalam Alkitab.
G. Buku-buku Tafsiran
Buku-buku Tafsiran Alkitab berisi hasil tafsiran oleh para ahli teologia. Penting diingat bahwa tidak semua bukubuku Tafsiran baik. Pilihlah buku-buku tafsiran yang baik dan sudah diterima oleh gereja-gereja secara umum.
Buku-buku tafsiran adalah alat yang penting tapi pemakaiannya adalah yang terakhir, khususnya ketika kita
mengalami

kesulitan

menemukan

pengertian

isi

ayat

tertentu

atau

untuk

memeriksa/mencocokkan/

membandingkan hasil tafsiran yang kita kerjakan.


Catatan:
Alat-alat menafsir di atas sangat berguna untuk membantu pekerjaan penafsir, tetapi alat-alat tsb. tidak akan
dapat menggantikan pekerjaan dan tanggung jawab penafsir. Penafsir adalah subjek (pribadi) yang harus
mengerjakannya. Alat-alat yang lengkap dan baik belum cukup menjamin hasil penafsiran yang baik.
Kesungguhan penafsir untuk bergantung kepada Roh Kudus, sebagai Iluminator, dan kemampuan yang cukup
dari penafsir sangat menentukan keberhasilan pekerjaan menafsir. Tetapi alat-alat yang lengkap akan
memungkinkan hasil tsb. maksimal dan akurat.
Sumber Bacaan:
1.

Hasan Sutanto, Hermeneutik; Prinsip dan Metode - (Hal. 122-131)

2.

Gordon D. Fee, Hermeneutik; Bagaimana Menafsir - (Hal. 18-36)

3.

T. Norton Sterrett, How to Understand Your Bible - (Hal. 33-38)

4.

R.C. Sproul, Mengenali Alkitab (Hal. 128-143)

5.

Pdt. Ichwei G. Indra, M.Th., 8 Prinsip Tafsir Alkitab (Hal. 12-14)

Bab III
HERMENEUTIK DALAM SEJARAH
Kapan ilmu menafsir Alkitab mulai berkembang? Aliran-aliran penafsiran apa saja yang yang ada?
PERKEMBANGAN HERMENEUTIK DI KALANGAN ORANG YAHUDI
Ilmu Hermeneutik adalah ilmu yang cukup baru karena baru dikenal sekitar tahun 1567 AD. Namun demikian
prinsip-prinsip Hermenutik sebenarnya sudah dikenal sejak jaman Diaspora yaitu masa pembuangan bangsa
Israel. Oleh karena itu untuk mempelajari sejarah Hermeneutik kita harus kembali paling tidak lima abad
sebelum Kristus lahir.
A. Hermeneutik Yahudi

1.

PUSAT IBADAH YAHUDI. Sejarah Hermeneutik Yahudi sudah dimulai sejak jaman Ezra (457SM), pada
waktu orang-orang Yahudi sedang berada di tanah pembuangan. Pusat ibadah orang Yahudi dahulu
adalah Yerusalem dimana mereka beribadah dengan mempersembahkan korban di Bait Suci. Tetapi
karena di tanah pembuangan mereka tidak mungkin beribadah ke Yerusalem, maka mereka
menciptakan pusat ibadah baru, yaitu dengan menggiatkan kembali pengajaran dari Kitab-kitab Taurat.
Pengajaran Taurat itu menjadi sumber penghiburan dan kekuatan yang sangat berharga untuk
mempertahankan diri dari pengaruh kafir di tanah pembuangan.
Usaha pertama yang dilakukan oleh Ezra dan kelompok para imam adalah menghilangkan gap bahasa
yaitu dengan menterjemahkan Kitab-kitab Taurat itu ke dalam bahasa Aram, karena orang-orang
Yahudi di pembuangan tidak lagi bisa berbahasa Ibrani. Usaha terjemahan ini dibarengi dengan suatu
exposisi karena mereka juga harus menjelaskan isi kitab-kitab yang sudah mereka terjemahkan itu,
khususnya tentang pelaksanaan hukum-hukum Taurat. Karena sumbangannya yang besar itulah Ezra
disebut sebagai Bapak Hermeneutik Pertama. Ref.: Ne 8:1-8 Ezr 8:15-20

2.

TEMPAT IBADAH SINAGOGE. Untuk menunjang pemulihan kembali pengajaran kitab-kitab Taurat,
didirikanlah sinagoge di tanah pembuangan untuk menggantikan tempat ibadah Bait Suci (Yerusalem).
Fungsi utama sinagoge adalah sebagai tempat orang-orang Yahudi berkumpul menaikkan doa-doa,
membaca Taurat dan mempelajarinya dengan teliti, juga sekaligus menjadi tempat mereka memelihara
tradisi Yahudi dan melakukan kegiatan sosial lainnya.
Sinagoge Agung adalah kelompok para ahli-ahli Kitab jaman itu yang terdiri dari 120 anggota, dibentuk
oleh Ezra sepulangnya mereka kembali ke Palestina. Tugas utama kelompok ini adalah menafsirkan
kitab-kitab Taurat. {Ne 8:9-13} Oleh karena itu bisa dikatakan inilah sekolah menafsir yang pertama
didirikan.
Setelah semakin banyak orang-orang Yahudi akhirnya diijinkan pulang kembali ke tanah Palestina,
tradisi mempelajari Taurat dan memelihara tradisi Yahudi ini tetap dibawa ke tanah air mereka dan
sinagoge lokal pun mulai didirikan di tempat-tempat dimana mereka tinggal (meskipun Bait Suci sudah
dibangun kembali). Itu sebabnya pada jaman Tuhan Yesus dan rasul-rasul kita menjumpai banyak
sinagoge di kota-kota di Israel, yangdipimpin oleh seorang yang disebut "kepala rumah ibadah". { Mr
5:22 Lu 13:14 Ac 13:5 14:1}

3.

SEKOLAH-SEKOLAH MENAFSIR YAHUDI. Melihat pentingnya mempelajari kitab-kitab, maka dalam


perkembangan selanjutnya, (setelah Ezra dan Nehemia mati), bermunculanlah sekolah-sekolah
menafsir formal, diantaranya:
a.

Sekolah Yahudi Palestina. Sekolah ini mengikuti tradisi yang dipakai oleh Ezra dalam menafsir
kitab-kitab Taurat, yaitu menekankan metode penafsiran literal. Mereka menerima otoritas
mutlak Firman Allah, dan tujuan utama mereka adalah menginterpretasikan Hukum-Hukum
Taurat. Hasil penafsiran mereka ini kemudian bercampur dengan tradisi-tradisi yang berlaku
pada jaman itu, sehingga tulisan ini dikemudian hari dikenal dengan nama "Tradisi Lisan" (the
Oral Law). Tetapi sayang sekali bahwa tradisi lisan ini akhirnya diberikan otoritas yang sejajar
yang dengan tulisan Kitab-kitab Taurat.

10

Pada abad 2 Masehi dikumpulkanlah seluruh Tradisi Lisan yang pernah ditulis yang disebut
"Mishna" yang artinya "doktrin lisan dan pengajarannya". Dalam Mishna ini terdapat dua
macam tafsiran:
1.

Halakah
Penafsiran (eksegesis) resmi terhadap hukum-hukum dalam kitab-kitab Taurat yang
bersifat sangat legalistik, dengan memperhatikan sampai ke titik dan komanya.

2.

Hagadah
Penafsiran seluruh Alkitab PL, tetapi yang tidak berhubungan langsung dengan hukum,
yang tujuannya adalah untuk kesalehan kehidupan beragama.
Perkembangan selanjutnya adalah para ahli kitab membuat buku tafsiran dari buku
Mishna, yang disebut Gemara. Kedua buku Mishna dan Gemara, inilah yang akhirnya
membentuk buku (kitab)Talmud.

b.

Sekolah Yahudi Aleksandria. Didirikan oleh kelompok masyarakat Yahudi yang sudah tercampur
dengan budaya dan pikiran Yunani (kaum Hellenis). Kerinduan mereka yang paling utama
adalah menterjemahkan kitab-kitab PL ke dalam bahasa Yunani Modern, sebagai hasilnya
adalah buku (kitab) Septuaginta. Penambahan kitab-kitab Apokrifa dalam Septuaginta
menunjukkan bahwa mereka menerima penafsiran Hagadah dari sekolah Yahudi Palestina.
Namun sayang sekali, karena pengaruh yang besar dari filsafat Yunani, orang Yahudi mengalami
kesulitan dalam menerapkan cara hidup sesuai dengan pengajaran Taurat. Sebagai jalan keluar
muncullah carainterpretasi alegoris yang dipakai untuk menjembatani kedua cara hidup yang
bertentangan itu.
Aristobulus (160 SM) dikenal sebagai penulis Yahudi yang pertama menggunakan metode
alegoris. Ia menyimpulkan bahwa filsafat Yunani dapat ditemukan dalam kitab-kitab Taurat
melalui penafsiran alegoris.
Philo (20-54 M) adalah penafsir Yahudi di Aleksandria yang paling terkenal. Menurut prinsip
menafsir yang dipakai oleh Philo, penafsiran literal adalah untuk orang-orang yang belum
dewasa karena hanya melihat sebatas huruf-huruf yang kelihatan (tubuh); sedangkan
penafsiran alegoris adalah untuk mereka yang sudah dewasa, karena sanggup melihat arti yang
tersembunyi dari jiwa yang paling dalam (jiwa).

c.

Sekolah Kaum Karait. Kelompok dari sebuah sekte Yahudi ini menolak otoritas buku-buku tradisi
lisan dan juga metode penafsiran Hagadah. Mereka lebih cenderung mengikuti metode
penafsiran literal, kecuali bilasifat dari kalimatnya tidak memungkinkan. Sebagai akibatnya
mereka menolak dengan tegas metode penafsiran alegoris.
Selain sekolah-sekolah di atas, ada juga sekolah-sekolah lain yang kurang dikenal, yaitu
Kabalis, Yahudi Spanyol, Yahudi Perancis, Yahudi Modern.

B. Hermeneutik Apostolik

11

Mencakup masa periode ketika Yesus masih hidup sampai jaman rasul-rasul. Metode yang dipakai adalah
metode penafsiran literal. Dengan inspirasi dari Roh Kudus, para penulis Perjanjian Baru telah menafsirkan
Perjanjian Lama dengan tanpa salah dalam tulisan-tulisan mereka.
1.

YESUS KRISTUS, PENAFSIR SEMPURNA. Dalam pengajaran kepada murid-muridNya Yesus banyak
memberikan penafsiran kitab-kitab PL. {Joh 5:39 Lu 24:27,44} Dengan cara demikian Yesus telah
membuka pikiran murid-muridNya untuk mengerti Firman Tuhan dengan benar. Ia sendiri adalah
Firman yang menjadi Manusia (incarnasi), yang menjadi jembatan yang menghubungkan antara pikiran
Allah dan pikiran manusia. Banyak catatan tentang teguran Yesus terhadap penafsiran para ahli Taurat
(mis: Mat 15:1-9; Mar 7:1-7 Mat 23:1-33 Mat 22:29). Contoh penafsiran yang dilakukan oleh Tuhan
Yesus: Mt 10:5,6 12:1-4,15-21 13:1-9 18:23 19:3-9 21:42-44 22:41-46 24:36-39 Lu 11:29,30 21:2024 24:27-44.

2.

PARA RASUL, PENULIS-PENULIS YANG MENDAPATKAN INSPIRASI DARI ALLAH. Mereka adalah contoh
penulis-penulis Alkitab PB yang menafsirkan kitab-kitab PL dengan inspirasi yang Allah berikan kepada
mereka tanpa salah. Mereka menolak prinsip-prinsip alegoris, atau tambahan-tambahan dari tradisitradisi dan dongeng-dongeng Yahudi dan mereka juga menolak filsafat Yunani yang mengambil alih
kebenaran. Yesus dan para penulis kitab-kitab PB telah menggunakan cara interpretasi yang benar. Ini
menjadi contoh yang sangat berguna bagi parapenafsir untuk belajar menafsir dengan benar. Contoh
prinsip penafsiran yang dilakukan oleh penulis-penulis PB: Ro 3:1-23 9:6-13 Ga 3:1-29; 4:21-31 1Co
9:9-12 10:1-11 Heb 6:20-7:21 8-8-12 10:1-14,37-11:40; 1Pe 2:4-10; 2Pe 3:1-13.

C. Hermeneutik Bapak-bapak Gereja


Masa periode ini adalah sesudah para rasul mati sampai masa Abad Pertengahan (95-600 M). Pembagian masamasanya adalah sbb.:
1.

95 - 202 M (CLEMENT DARI ROMA SAMPAI IRENAEUS). Tidak ada banyak catatan penting mengenai
perkembangan metode penafsiran Alkitab pada masa itu. Kemungkinan besar para Bapak-bapak gereja
terlalu sibuk mempertahanan doktrin Kristologi dari ajaran-ajaran sesat yang banyak bermunculan saat
itu sehingga tidak banyak menekankan tentang prinsip penafsiran yang sehat. Sebagai akibatnya
beberapa

dari

mereka

jatuh

pada

penggunaan

metode

alegoris

dalam

penafsiran

mereka,

seperti Barnabas dan Justin Martyr.


2.

202 - 325 M (SEKOLAH ALEKSANDRIA). Pada permulaan abad 3, penafsiran Alkitab banyak dipengaruhi
oleh Sekolah Aleksandria. Aleksandria adalah sebuah kota besar tempat pertemuan antara agama
Yudaisme dan filsafat Yunani. Usaha mempertemukan keduanya memaksa orang-orang Yahudi
menggunakan metode interpretasi alegoris, suatu sistem penafsiran yang sudah sangat dikenal
sebelumnya. Ketika kekristenan tersebar di Aleksandria, hal inipun menjadi pengaruh yang tidak
mungkin dihindari. Gereja Kristen di Aleksandria lebih tertarik menggunakan penafsiran alegoris karena
seakan-akan memberikan arti yang lebih dalam dari pada arti harafiah.
Bapak Gereja yang paling berpengaruh saat itu adalah Clement dari Aleksandria dan Origen. Tetapi
meskipun mengakui penafsiran literal, mereka memberikan bobot yang kuat dalam penafsiran alegoris.

12

Origen adalah pengganti Clement dari Aleksandria. Ia bukan hanya menjadi teolog besar tapi juga ahli
kritik Alkitab besar pada jamannya. Dalam memakai metode penafsirannya ia percaya bahwa Alkitab
memberikan 3 arti, sama halnya manusia dibagi menjadi 3 aspek, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Maka
Alkitab juga mempunyai arti literal, moral dan mistik (alegoris). Namun demikian dalam kenyataannya
Origen paling sering memakai metode alegoris dari pada literal.
3.

325 - 600 M (SEKOLAH ANTIOKIA). Pengaruh besar dari Sekolah Antiokia ini adalah perlawanannya
terhadap Sekolah Aleksandria khususnya dalam eksegesis alegorisnya. Prinsip penafsiran mereka dapat
diringkaskan sbb.: ilmiah, menggunakan prinsip literal dan tinjauan sejarah, sebagai ganti alegoris
mereka memakai metode tipologi.
Tokoh-tokoh

Sekolah

Antiokia

adalah: Diodorus dari

Tarsus, Theodore dari

Mopsuestia

dan Chrysostom. Mereka semua menolak prinsip alegoris dalam penafsiran Alkitab, tapi menerima
prinsip literal dengan tinjauan tata bahasa dan sejarah.
Selama abad 4 Dan 5, perdebatan teologia berlanjut menjadi perpecahan gereja, menjadi Gereja
Bagian Timur dan Gereja Bagian Barat.
a.

Gereja Bagian Timur. Tokoh mereka adalah Athanasius dari Aleksandria (literal, tapi juga
alegoris), Basil dari Caeserea (literal),Theodoret dan Andreas dari Capadocia (literal dan
historis).

b.

Gereja Bagian Barat. Tokoh mereka adalah Tertulian (literal, tetapi nubuatan ditafsirkan
secara

alegoris), Ambrose (alegoris

ektrim), Jerome (sumbangannya

terbesar

adalah

menterjemahkan Alkitab dalam bahasa Latin yang disebutVulgate. Secara teori ia mengikuti
penafsiran literal, tapi dalam praktek adalah alegoris, karena menurutnya tidak ada kontradiksi
antara literal dan alegoris), Augustinus (Teolog terbesar pada jamannya. Ia tidak menolak
penafsiran alegoris tetapi ia memberikan sedikit modifikasi, dan dikhususkan bagi nubuatan.
Menurutnya Alkitab harus ditafsirkan secara historis, mengikuti tata bahasa, diperbandingkan
dan kalau perlu memakai alegoris. Tetapi penekanan yang utama adalah bahwa untuk
memahami Alkitab seseorang harus mempunyai iman Kristen yang murni dan penuh kasih. Dan
dalam menafsirkan ayat/perikop harus melihat keseluruhan kebenaran yang diajarkan Alkitab.
Tugas

penafsir

adalah

menemukan

kebenaran

Alkitab

bukan

memberi

arti

kepada

Alkitab), Vincentius (tafsiran harus disesuaikan dengan tradisi gereja).


D. Hermeneutik Abad Pertengahan
Masa periode tahun 600 - 1517 disebut sebagai Hermeneutik Abad Pertengahan, yang diakhiri sebelum
masa Reformasi. Masa ini dikenal sebagai abad gelap karena tidak banyak pembaharuan yang terjadi, hanya
melanjutkan tradisi yang sudah dipegang erat oleh gereja. Semua penafsiran disinkronkan dengan tradisi
gereja. Pengajaran dan hasil eksposisi Bapak-bapak Gereja menjadi otoritas gereja. Alkitab hanya dipergunakan
sebagai pengesahan akan apa yang dikatakan oleh para Bapak gereja, bahkan penafsiran para Bapak gereja
kadang mempunyai otoritas yang lebih tinggi daripada Alkitab.
Alkitab lama kelamaan dianggap sebagai benda misterius yang banyak berisi pengajaran-pengajaran
yang tahayul. Itu sebabnya cara penafsiran alegoris menjadi paling dominan.

13

Dua tokoh penafsir literal yang dikenal pada masa ini adalah:
1.

THOMAS AQUINAS. Meskipun ia menyetujui penafsiran literal, dalam praktek ia banyak menggunakan
penafsiran alegoris. Dalam masalah teologia ia percaya bahwa Alkitab memegang otoritas tertinggi.

2.

JOHN WYCLIFFE. Ia sering disebut sebagai "Bintang Fajar Reformasi" karena kegigihannya menyerang
pendapat bahwa otoritas gereja tidak lebih tinggi daripada otoritas Alkitab. Karena keyakinannya itulah
ia terdorong untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang dikenal umum, sehingga
setiap orang bisa membaca dan menyelidiki sendiri pengajaran Alkitab.
Menjelang berakhirnya Abad pertengahan terjadi kebangunan dalam minat belajar, khususnya belajar
bahasa kuno. Didukung dengan ditemukannya mesin cetak kertas, dan dicetaknya Alkitab, maka
kepercayaan tahayul terhadap Alkitab perlahan-lahan lenyap dan mereka mulai mempercayai bahwa
otoritas Alkitab lebih tinggi dari pada otoritas gereja. Inilah yang membuka jalan untuk lahirnya
Reformasi.

E. Hermeneutik Reformasi
Periode ini terjadi pada tahun 1517 - 1600 M, dimulai pada saat Martin Luther memakukan 95 tesisnya dan
berakhir sampai abad 16.
1.

PERJUANGAN REFORMASI. Dengan bangkitnya periode intelektual dan pencerahan rohani, perang
memperjuangkan "sola scriptura" (hanya Alkitab) merupakan fokus Reformasi. Secara umum isi
perjuangan Reformasi adalah sbb.:
a.

Alkitab adalah Firman Allah yang diinspirasikan oleh Allah sendiri.

b.

Alkitab harus dipelajari dalam bahasa aslinya.

c.

Alkitab adalah satu-satunya otoritas yang tanpa salah; sedangkan gereja dapat salah.

d.

Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam semua masalah iman Kristen.

e.

Gereja harus tunduk pada otoritas kebenaran Alkitab.

f.

Alkitab harus diinterpretasikan/ditafsirkan oleh Alkitab.

g.

Semua pemahaman dan ekposisi Alkitab harus tidak bertentangan dengan seluruh kebenaran
Alkitab.

2.

TOKOH REFORMASI.
a.

Martin Luther. 95 tesisnya merupakan serangan yang dilancarkan terhadap otoritas gereja.
Martin percaya penuh bahwa Alkitab harus menjadi otoritas tertinggi bagi iman dan kehidupan
orang percaya. Untuk itulah ia menterjemahkan Alkitab PB ke dalam bahasa German supaya
rakyat biasa dapat membaca dan menyelidikinya.

14

Prinsip penafsiran Martin Luther:


1.

Untuk menafsir dengan benar harus ada penerangan dari Roh Kudus.

2.

Alkitab adalah otoritas tertinggi bukan gereja.

3.

Penafsir harus memberi perhatian pada tata bahasa dan latar belakang sejarah.
Penafsiran alegoris tidak berlaku.

b.

4.

Alkitab adalah jelas sehingga orang percaya pasti dapat menafsirkannya.

5.

Fungsi menafsir Alkitab adalah sentralitas dalam Kristus.

6.

Hukum Taurat menghukum (mengikat), tetapi Injil membebaskan.

John Calvin. Diakui sebagai tokoh penafsir ilmiah pertama dalam sejarah Gereja. Ia menentang
penafsiran alegoris, tetapi menerima tipologi dalam PL. Tetapi tidak seperti Luther, Calvin tidak
memaksakan padapenafsiran yang berpusatkan pada Kristus.
Prinsip penafsiran John Calvin:
1.

Roh Kudus adalah vital dalam pekerjaan penafsiran.

2.

Alkitab akan menafsirkan Alkitab.

3.

Penafsiran harus literal; penafsir harus menemukan apa yang ingin disampaikan oleh
penulis Alkitab, melihat pada konteks, meneliti latar belakang sejarah, melakukan studi
kata dan memeriksa tata bahasa.

4.

Menolak penafsiran alegoris.

5.

Menolak otoritas gereja dalam menginterpretasikan Alkitab.

6.

Teologia yang benar harus dihasilkan dari eksegesis yang sehat.

Setelah kematian Calvin, para teolog Protestant bergumul keras untuk merumuskan kredo doktrin iman
Kristen

dan

mensistematiskan

teologianya.

Tapi

perdebatan

dalam

masalah

penafsiran

terus

berlangsung sampai pada masa berikutnya.


F. Hermeneutik Paska-Reformasi
Periode ini adalah antara tahun 1600 - 1800 M. Periode ini dipenuhi dengan semangat penafsiran literal
Reformasi, tetapi akhir periode ini ditutup dengan penekanan pada metode penafsiran devotional.
1.

SESUDAH REFORMASI. Terjadi banyak kontroversi dan perdebatan teologia yang akhirnya
menjadikepahitan di antara para teolog dan mulai terjadi perpecahan. Dogmatisme mulai

15

meracuni gereja. Studi Alkitab akhirnya hanya dipakai untuk membenarkan dogma dan teologia
mereka sendiri.
2.

GERAKAN PEITISME. Gerakan ini muncul sebagai reaksi Dogmatisme paska Reformasi, karena
Alkitab telah disalah gunakan sebagai pedang yang melukai dan merusak kemurnian hidup
rohani. Oleh karena itu mereka melakukan pendekatan yang berbeda, yaitu mempelajari Alkitab
dan menafsirkannya secara pribadi untuk tujuan memperkaya aplikasi kehidupan rohani.
Meskipun motivasi ini baik, tetapi berakibat negatif karena membuat tujuan penafsiran bukan
lagi untuk mengetahui apa yang Allah ingin kita ketahui, tapi hanya untuk mempererat
hubungan pribadi dengan Allah. Sebagai hasilnya muncullah kelompok-kelompok seperti
Moravian, Puritan dan Quaker. Tokoh-tokoh gerakan Pietisme ini adalah:
a.

Philipp Jakob Spener - Bapak Pietisme. Ia percaya bahwa kemurnian hati lebih berharga
daripada kemurnian doktrin. Ia mendorong setiap orang percaya untuk mempelajari
sendiri Firman Allah dan mengaplikasikan kebenarannya dalam kehidupan praktis.

b.

August Hermann Francke. Sebagai murid Spener, ia juga mengikuti prinsip-prinsip


Pietisme. Menurutnya hanya orang Kristen lahir baru yang dapat mengerti arti berita
Alkitab. Ia juga mengkombinasikan antara eksegesis dengan pengalaman. Tetapi segi
negatif dari gerakan ini muncul yaitu menjadi tindakan legalistik terhadap mereka yang
bukan anggota Pietisme dan mengabaikan teologia.

2.

KRITISISME. Melihat kelemahan Pietisme dengan metode devotional, banyak teolog mulai
melakukan pendekatan skolastis studi Alkitab. Banyak usaha dilakukan dalam bidang kritik
teks. Naskah-naskah Alkitab mulai dievaluasi dan diteliti untuk pertama kalinya untuk
mengetahui keabsahannya sebagai kitab Kanon. Tokoh yang terkenal adalah Johann August
Ernesti.

3.

RASIONALISME. Dari Kritisisme para teolog melanjutkan lebih jauh sampai melampaui batas
yang seharusnya, yaitu mereka menempatkan rasio manusia sebagai otoritas yang lebih tinggi
dari Alkitab. Rasio manusia, tanpa campur tangan Allah, dianggap cukup untuk mengetahui
Penyataan Allah. Apabilaada hal yang tidak dapat dimengerti oleh intelek manusia, maka harus
dibuang. Sebagai akibatnya mereka berpendapat bahwa Alkitab bisa salah karena ditulis oleh
manusia. Mereka memperlakukan Alkitab tidak jauh berbeda seperti buku-buku yang lain. Dua
tokoh terkenal Rasionalisme adalah Hobbes, Spinoza dan Semler.

G. Hermeneutik Modern
Masa periode ini adalah tahun 1800 - sekarang. Semua metode penafsiran yang pernah dilakukan
masih terus dilakukan hingga sekarang. Walaupun dari waktu ke waktu penekanan terus bergeser dari
satu ekstrim kepada ekstrim yang lain. Dalam era modern ini serangan yang paling tajam akhirnya
ditujukan pada otoritas Alkitab, sebagai fondasi dalam menafsir. Sebagai contohnya:
4.

LIBERALISME. Rasionalisme telah membuka era modern untuk lahirnya Liberalisme. Secara
umum diringkaskan pendekatan mereka adalah:

16

a.

Hal-hal yang tidak dapat diterima oleh rasio harus ditolak.

b.

Inspirasi didefinisikan ulang, yaitu merupakan tulisan hasil pengalaman religius manusia
(penulis Alkitab).

c.

Supranatural diartikan sebagai alam pikiran abstrak manusia.

d.

Sesuai dengan pikiran evolusi, maka Alkitab adalah tulisan primitif kalau dibandingkan
dengan pikiran teologis modern.

e.

Menjunjung tinggi nilai etika, tapi menolak tafsiran teologianya.

f.

Alkitab harus ditafsirkan secara historis, sebagai konsep teologis dari penulis Alkitab
sendiri.

5.

NEO ORTODOKS. Karl Barth tidak mau disebut sebagai penganut Liberalisme, ia tetap ingin
mencari kembali inti-inti Teologia Reformasi. Dalam pendekatannya Karl Barth menolak baik
inspirasi maupunketidakbersalahan Alkitab karena menurut Barth, Penyataan/Firman Allah baru
akan terjadi apabila ada pertemuan antara Allah dan manusia dalam Alkitab. Alkitab sendiri
bukanlah Firman Tuhan tetapi hanya saksi akan Firman Tuhan. Oleh karena itu penafsiran
Alkitab merupakan pekerjaan sia-sia kalau bukan Allah sendiri yang bertemu dengan manusia.

6.

KONSERVATISME/INJILI. Gerakan Konservatisme merupakan reaksi untuk melawan pikiranpikiran modern. Beberapa pendekatan mereka pada Alkitab adalah antara lain:
a.

Rasio harus ditaklukkan di bawah otoritas Alkitab, karena rasio tidak cukup untuk
menginterpretasi Alkitab. Oleh karena itu Roh Kudus adalah vital untuk memberikan
penerangan supaya kita mengerti.

b.

Pendekatan penafsiran literal, karena percaya pada ketidakbersalahan Alkitab.

c.

Percaya pada Penyataan yang progresif, tetapi kebenaran tidaklah dibatasi oleh waktu
sehingga berlaku di sepanjang jaman.

7.

HERMENEUTIK BARU. Tokohnya adalah Rudolf Bultman. Prinsip yang dipakai untuk menafsir
adalah kita harus membaca sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan, karena manusia tidak
boleh mengabaikan inteleknya. Otoritas Alkitab tidak diterima sepenuhnya. Mereka bahkan
meragukan apakah apa yang Alkitab katakan itu sama dengan apa yang dituliskan. Tujuan
utama Hermeneutik Baru adalah mencoba menghindarkan diri dari kelemahan yang dimiliki
Liberalisme.

C. Aliran-aliran Hermeneutik
Telah kita pelajari sebelumnya bahwa sejak permulaan berdirinya sinagoge sampai gereja, bahkan
sampai saat ini terdapat berbagai metode untuk melakukan penyelidikan/penafsiran Alkitab. Metode

17

penafsiran dari kelompok-kelompok tertentu mengikuti aliran tertentu. Diantara aliran-aliran yang
timbul dan berkembang tsb. akhirnyadapat digolong-golongkan sbb.:
1) METODE ALEGORIS. Metode Alegoris berangkat dari suatu asumsi bahwa dibalik arti harafiah
yang sudah biasa dan jelas itu terdapat arti sesungguhnya (kedua) yang lebih dalam yang perlu
ditemukan oleh orang Kristen yang lebih dewasa. Dalam menafsirkan perikop Alkitab mereka
membandingkan masing-masing fakta/informasi yang sudah jelas untuk membuka kebenaran
rohani tersembunyi dibalik pengertian literalnya.
Metode Alegoris tidak hanya populer di gereja-gereja purba, karena dalam gereja modern
sekarangpun masih banyak ditemukan cara penafsiran Alkitab seperti ini. Mereka sering
berpendapat bahwa apa yang Allah katakan melalui penulis-penulis Alkitab bukanlah arti yang
sesungguhnya. Bahaya dari metode ini adalah tidak adanya batasan dan aturan secara
Alkitabiah untuk memeriksa kebenaran beritanya. Bahkan tujuan dan maksud penulisanpun
akhirnya diabaikan sama sekali.
2) METODE MISTIS. Banyak ahli tafsir Alkitab menggolongkan metode penafsiran Mistis sama
dengan metode penafsiran Alegoris, karena memang sangat mirip. Penganut metode ini
biasanya bercaya bahwa ada arti rohani dibalik semua arti harafiah yang kelihatan. Dan mereka
memberikan botot yang lebih berat kepada hasil penafsiran mistis daripada arti yang sudah
biasa.
Bahaya dari cara penafsiran ini terletak pada keragaman dan ketidak-konsistenan hasil
penafsiran mereka, sehingga tidak terkontrol banyaknya ragam hasil penafsiran mereka yang
sering kali justru memecah belah jemaat. Hal ni juga memberikan kesulitan dalam
mempertanggung jawabkan doktrin kejelasan (clarity) Alkitab, dan justru sebaliknya mereka
membuat Alkitab tidak jelas dan Allah seakan-akan bermain tebak-tabakan dengan penafsir
untuk menemukan arti rohani dari setiap ayat. Dan bahaya yang palingbesar adalah penafsir
menjadi otoritas tertinggi dalam menentukan kebenaran penafsirannya.
3) METODE PERENUNGAN (Devotional). Tujuan metode penafsiran ini adalah hanya pada
pengaplikasiannya saja sehingga penganut metode ini menafsirkan Alkitab dalam konteks
pengalaman hidup mereka sehari-hari. Mereka percaya bahwa Alkitab ditulis memang untuk
tujuan pengkudusan pribadi semata-mata oleh karena itu arti rohani ayat-ayat tsb. hanya akan
dapat ditemukan dari terang pergumulan rohani pribadi. Oleh karena itu yang paling penting
dalam mengerti Alkitab adalah apa yang Tuhan katakan kepada saya pribadi.
Bahaya dari metode penafsiran ini adalah menjadikan Firman Tuhan menjadi pusat aplikasi
pribadi saja dan mengabaikan memahami karya Tuhan dan campur tangan Tuhan dalam
sejarah. Kelemahan yang lain dari metode ini adalah akhirnya jatuh pada kesalahan yang sama
dengan metode Alegoris dan Mistis, karena mereka akhirnya mengalegoriskan dan merohanikan
Firman Tuhan untuk bisa sesuai dengan kebutuhan pribadi.
4) METODE RASIONAL. Metode Rasional sangat digemari pada masa sesudah Reformasi, namun
demikian dampaknya masih terasa sampai jaman modern ini dalam berbagai macam bentuk

18

penafsiran yang pada dasarnya bersumber pada metode Rasional. Penganut metode Rasional
berasumsi bahwa Alkitab bukanlah otoritas tertinggi yang harus menjadi panutan. Alkitab ditulis
oleh manusia maka berarti merupakan hasil karya rasio manusia. Oleh karena itu kalau ada
bagian-bagian Alkitab yang tidak dapat diterima oleh rasio manusia maka bisa dikatakan bahwa
bagian Alkitab tsb. hanyalah mitos saja.
Meskipun metode ini disebut sebagai "rasional" dalam kenyataan metode penafsiran ini adalah
metode yang paling tidak rasional. Jelas bahwa penganut metode ini sebenarnya tidak tertarik
untuk mengetahuiapa yang dikatakan oleh para penulis Alkitab, sebaliknya mereka hanya
memperhatikan pada apa yang mereka pikir penulis Alkitab katakan. Rasio mereka pakai
menjadi standard kebenaran yang lebih tinggi dari Firman Tuhan (Alkitab). Mereka menafsirkan
Alkitab hanya untuk mencari aplikasi bagi standard moral mereka saja.
5) METODE LITERAL (HARAFIAH). Metode Literal adalah metode penafsiran Alkitab yang paling
tua, karena metode inilah yang dipakai pertama kali oleh Bapak Hermeneutik Ezra. Metode ini
juga yang dipakai oleh Tuhan Yesus dan pada rasul. Metode penafsiran Literal berasumsi bahwa
kata-kata yang dipakai dalam Alkitab adalah kata-kata yang memiliki arti seperti yang diterima
oleh manusia normal pada umumnya, yang memiliki arti yang yang jelas dan dapat
dipertanggung jawabkan oleh akal sehat manusia. Tujuan Allah memberikan FirmanNya adalah
supaya dimengerti oleh manusia oleh karena itu Allah memakai bahasa dan hukum-hukum
komunikasi manusia untuk menafsirkan arti dan maksudnya.
Yang dimaksud dengan "literal" (harafiah) adalah arti yang biasa yang diterima secara sosial
dan adat istiadat setempat dalam konteks dimana penulis Alkitab itu hidup. Oleh karena itu
apabila arti ayat-ayat Alkitab tidak jelas maka penafsir harus kembali melihat konteks bahasa
dan budaya (sejarah) dimana penulis itu hidup dan penafsir harus menafsirkan ayat-ayat itu
sesuai dengan terang dan pertimbangan konteks bahasa dan budaya (sejarah) itu.
Hal-hal yang perlu dipahami dalam menggunakan metode Literal:
1.

Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya arti figuratif dari ayat-ayat tertentu
dalam Alkitab.

2.

Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya ari rohani dari ayat-ayat tertentu
dalamAlkitab.

3.

Metode Literal tidak berarti mengabaikan tujuan aplikasi pribadi dalam penafsiran.

4.

Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya arti yang dalam yang harus
ditemukan dalam penafsiran.

Sumber Bacaan:
6) Hasan Sutanto, Hermeneutik; Prinsip dan Metode - (Hal. 29-111)
7) John H. Hayes & Carl R. Holladay, Pedoman Penafsiran Alkitab (Hal. 18-24)

19

8) Kevin J. Conner, Interpreting the Scripture - (Hal. 17-41)


9) Louis Berkhof, Principles of Biblical Interpretation - (Hal. 19-31)
10) Kevin J. Conner, Interpreting the Scripture - (Hal. 13-16)

Bab IV
PRINSIP-PRINSIP HERMENEUTIK
Mengapa perlu aturan-aturan dalam menafsirkan Alkitab?
KESULITAN-KESULITAN YANG TIMBUL DALAM MENAFSIR ALKITAB
Alkitab, yang berisi pengetahuan tentang Allah dan karyaNya, diberikan oleh Allah kepada manusia supaya
manusia mengerti dan mengenal Allah serta melakukan kehendakNya yang kekal. Oleh karena itu tujuan
penafsiran Alkitab adalah bagaimana isi dan berita Alkitab itu dimengerti dengan benar dan jelas oleh kita
sebagai pembacanya. Tapi seperti apa yang sudah kita bicarakan dalam bab sebelumnya, bahwa ada banyak
gap yang memisahkan antara kita dengan Alkitab yang harus kita jembatani lebih dahulu.

Pikiran
Allah
Inspirasi
Alkitab
1

Alkitab

20

Transmisi
2

Alkitab
Alkitab
3

Penafsiran
Alkitab
Alkitab

Pikiran

Alkitab
Aplikasi

Alkitab

Kebenaran
5
Tindakan
manusia

Untuk sampai pada taraf dimana manusia mengerti pikiran Alkitab (pikiran Allah) maka kita perlu memahami
gap-gap

apa

yang

menghalangi.

Oleh

karena

itu

sebagai

pendahuluan

untuk

mengenal

prinsi-

prinsip Hermeneutik marilah terlebih dahulu kita mengenal kesulitan-kesulitan yang muncul dalam melakukan
penafsiran Alkitab secara sehat.
A. Adanya Gap Antara Pembaca dan Alkitab
1) GAP LINGUISTIK. Salah satu masalah utama yang kita temui adalah bahwa Alkitab pada
mulanya ditulis dalam 3 macam bahasa yang bukan bahasa kita, bahkan adalah bahasa yang
secara umum sudah tidak dipakai lagi, yaitu: Bahasa Ibrani Kuno, Kaldea Kuno (Aram) dan
Yunani Koine. Dan memang kita ketahui bahwa Alkitab pertama ditulis bukan untuk orang-orang
modern sekarang, jadi inilah gap pertama yang harus dihadapi, gap Linguistik.
Untuk kita mempelajari sendiri bahasa-bahasa kuno tsb. sehingga bisa membaca dan
memahami manuskrip-manuskrip Alkitab kuno tsb. tidaklah mungkin. Tapi kita bersyukur
bahwa ada orang-orang yang telah khusus belajar bahasa-bahasa tsb. sehingga memungkinkan
kita mempelajarinya dengan cara yang jauh lebih mudah. Telah tersedia kamus-kamus bahasa
(leksikon) yang dapat menolong kita mempelajari kosa kata bahasa asli Alkitab yang kita cari,
khususnya bila disertai dengan penjelasan tentang penggunaan tense yang dipakai. Juga telah
cukup tersedia (walaupun dalam bahasa Inggris) buku-buku yang menguraikan tentang arti dan
makna kata-kata/frasa/kalimat atau ayat-ayat pentingAlkitab yang diambil dari bahasa aslinya.

21

Hal ini sangat menolong karena banyak kata/istilah-istilah yang sulit kita ketahui makna/artinya
jika tidak dimengerti dalam bahasa aslinya.
2) GAP BUDAYA. Budaya sekitar penulisan Alkitab sangat berbeda dengan konteks budaya
modern para pembacanya sekarang. Oleh karena itu gap budaya ini perlu dijembatani dengan
mempelajari budaya, khususnya budaya saat para penulis Alkitab hidup. Namun ini bukan
masalah yang mudah karena ada kira-kira 40 penulis Alkitab yang hidup dalam budaya yang
berbeda satu dengan yang lain.
Ada buku-buku yang dapat membantu kita mempelajari budaya Alkitab, misalnya ensiklopedia
Alkitab, dan buku-buku pengantar Alkitab. Disana kita bisa dapatkan informasi tentang caracara tertentu mereka melangsungkan kehidupan bermasyarakat, misalnya cara mereka
bermata pencaharian, bagaimana mereka bersosialisasi, berkeluarga, melakukan penyembahan
atau menjalankan hukum adat istiadat. Juga hal-hal mengenai perumahan, makanan, pakaian,
alat-alat bercocok tanam, senjata perang, alat transportasi, benda-benda seni, alat-alat
penyembahan, alat-alat masak, dll.
3) GAP GEOGRAFI. Konteks geografi jaman Alkitab sangat asing bagi pembaca modern sekarang.
Tetapi ini penting dipelajari karena tempat dimana peristiwa-peristiwa dan penulisan-penulisan
terjadi dapat memberikan gambaran yang lebih tepat tentang arti peristiwa yang terjadi. Satu
kendala besar adalah perubahan yang cukup drastis antara keadaan waktu lampau dan
sekarang sehingga kadang-kadang kita sudah tidak mempunyai informasi lagi tentang tempattempat itu.
Buku-buku yang dapat membantu kita mengenal keadaan geografis penulisan Alkitab adalah
buku-buku hasil penelitian arkeologi tentang kota-kota, negara-negara dan bangsa-bangsa,
juga tentang iklim, susunan (formasi) tanah, laut-laut, sungai-sungai, tanaman dan jenis-jenis
binatang pada jaman Alkitab. Selain penemuan arkeologis, kita juga dapat dibantu dengan
peta-peta kuno, foto-foto dan membandingkan dengan peta modern.
4) GAP SEJARAH. Konteks sejarah penulis Alkitab adalah berkisar dari jaman Musa sampai
Yohanes, yaitu kira-kira 16 abad. Dibandingkan dengan pembaca Alkitab yang hidup pada
jaman modern, maka ada gap yang sangat besar. Untuk mempelajari tentang sejarah kita bisa
dibantu dengan banyak buku-buku sejarah Alkitab (PL dan PB), dimana didalamnya dapat kita
pelajari misalnya tentang peristiwa-peristiwadan keadaan (latar belakang politik, ekonomi,
agama) yang mempengaruhi jalannya sejarah atau tindakan para tokoh-tokoh Alkitab.
B. Adanya Bahaya Dalam Menafsir
Melihat gab-gab (yang telah dijelaskan di atas) antara pembaca Alkitab masa kini dan Alkitab yang
ditulis pada masa yang lampau, maka kemungkinan terjadi kesalahan menafsir besar sekali. Oleh
karena itu diperlukan studi khusus yang berisi aturan-aturan dalam menafsir untuk menolong orang
Kristen tidak terjebak dalam kesalahan menafsir. Contoh-contoh bahaya tsb. adalah:

MENCOMOT AYAT DAN DILEPASKAN DARI KONTEKSNYA. Jika menafsirkan ayat dengan tidak
memperhatikan konteksnya, maka kemungkinan besar hasil penafsirannya tidak sesuai dengan

22

maksud yang diinginkan penulisnya atau tidak lengkap sehingga tidak dapat dimengerti dengan

jelas dan benar.


MENAFSIR SECARA HARAFIAH YANG TIDAK PADA TEMPATNYA. Memang Alkitab harus dibaca
sebagaimana kata-kata yang tercantum didalamnya, namun demikian tidak selalu hal ini bisa
diterapkan. Perlu dipelajari dengan teliti untuk mengetahui apakah yang dimaksud adalah arti

harafiah, sebab kalau tidak dapat menimbulkan kesalahan menafsir.


MENCARI ARTI ROHANI DALAM SETIAP AYAT. Ini adalah kebalikan dari menafsirkan secara
harafiah. Kesulitan mengerti ayat-ayat dalam Alkitab atau tidak mendapatkan apa yang
diinginkan seringkali diatasi dengan cara merohanikan arti harafiah yang sudah jelas dalam

ayat-ayat tsb. sehingga akhirnya menyelewengkan tujuan asli penulis Alkitab.


KELEMAHAN DALAM TERJEMAHAN ALKITAB. Tidak ada Alkitab terjemahan yang terjemahannya
benar secara sempurna. Oleh karena itu perlu cara-cara penyelidikan yang tepat sehingga

menghindarkan kita dari mengikuti hanya satu versi Alkitab saja.


KETERBATASAN MANUSIA. Terutama karena sifat malas kita dalam mempelajari Alkitab secara
teliti, objektif dan sistematis, maka mengikuti aturan-aturan penafsiran yang sehat akan
menolong kita untuk disiplin dan tidak jatuh pada subjektivisme.

C. Adanya Kesalahpahaman Tentang Pekerjaan Menafsir


a.

ALKITAB SULIT UNTUK DIMENGERTI. Mempelajari Alkitab memang tidak selalu mudah untuk
baik untuk mereka yang mempunyai latar belakang teologia maupun orang awam, namun
demikian bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Setiap orang Kristen mempunyai tugas dan
kewajiban untuk mempelajari Alkitab karena Alkitab adalah pedoman hidup yang benar. Oleh
karena itu membuat aturan-aturan dalam menafsir akan menolong setiap orang Kristen untuk
melakukan penyelidikan Alkitab secara pribadi. Dengan mempelajari prinsip-prinsip penafsiran
dan alat-alat bantu Hermeneutik, maka pekerjaan menafsir dapat menjadi tugas yang lebih
ringan dan membuahkan hasil yang menyenangkan.

b.

PANDANGAN BAHWA MEMPELAJARI ALKITAB ADALAH TUGAS PARA PENDETA DAN TEOLOG
SAJA. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pada masa yang lalu orang awam tidak
diperbolehkan untuk melakukan penafsiran Alkitab sendiri, sebab dikuatirkan bahwa mereka
akan

menafsir

Alkitab

secara

salah.

Namun

dengan

berkembangnya Hermeneutik dan

tersedianya alat-alat bantu Hermeneutik, maka kekuatiran itu tidak lagi menjadi ancaman yang
mengerikan. Justru sebaliknya dengan menolong jemaat Kristen awam mempelajari Alkitab
sendiri maka kualitas kehidupan rohani jemaat akan meningkat.

PRINSIP HERMENEUTIKA
A. PRINSIP UMUM. Prinsip prinsip secara umum yang perlu diperhatikan untuk menafsirkan Alkitab. Seperti:
1.
2.
3.

Alkitab menafsirkan Alkitab.


Bandingkan teks dengan teks Alkitab yang lain agar saling menafsirkannya.
Teks dan ayat dipakai sebagai per bandingan juga harus dianggap sebagai konteksnya sendiri sebelum

4.

dipakai sebagai dukungan untuk teks lain.


Kejadian, Peristiwa, dan Pengalaman Alkitabiah tidak diajar sebagai sesuatu yang normal (diterapkan
secara harafiah) untuk masa kini, kecuali ditafsirkan melalui ajaran Alkitab.

23

5.

6.
7.

Konteks sebuah teks merupakan kunci untuk menafsirkannya.


a. Konteks setiap teks adalah Alkitabiah seluruhnya.
b. Konteks yang ke 2 adalah teks Alkitabiah (PL atau PB).
c. Konteks yang ke 3 adalah kitab yang mengandung (membahasnya).
d. Konteks yang ke 4 adalah teks langsung sebelum dan sesudahnya.
Arti teks seharusnya dianggap harafiah, kecuali jelas dimaksudkan secara simbolis.
Penafsir harus menafsirkan kebenaran sesuai dengan zamannya. Perasaan kontinuitas historis dengan

8.

umat Allah.
Ajaran dari seluruh Alkitab ditafsirkan melalui ajaran dari PB seluruhnya untuk menemukan pemakaian

9.

pada masa kini.


Teks-teks Alkitab bernilai sebagai renungan devosional, namun seharusnya dipertimbangkan dalam

konteksnya dulu, kemudian dipakai secara renungan Jadi penerapan menantikan tafsiran yang lengkap.
10. Konteks jauh/luas (seluruh Alkitab) dan konteks dekat (kitab itu sendiri/ pasal tersebut).
11. Arti kata secara sintaksis (kamus) dan ensiklopedia.
12. Makna teologisnya (implementasi, demontrasi/perubahan radikal, realisasi/menjadi nyata).
B. PRINSIP KHUSUS.
Prinsip tafsiran khusus yaitu Alkitab dianggap sebagai suatu bagian dari karya sastra, maka prinsip khusus
diperlukan yang berpusat pada metode pembentukan secara sastra. Seperti:

Metafora (kiasan) : Matius 16:6; Yohanes 6:48; 10:11; Mazmur 23:1.


Tamsil (Ibarat /Perbandingan) : Matius 10:16; 28:3.
Personifikasi (personification).
Hiperbola (Hyperbole) / dilebih-lebihkan. Matius 19:24.
Perumpamaan (Parable): kisah duniawi yang mempunyai arti sorgawi untuk mengajarkan sesuatu yang

penting.
Anthropomorfisme (penggambaran fisik Tuhan seperti manusia): mata Tuhah ada di segala tempat,

telinga Tuhan tidak kurang peka untuk mendengar.


Anthropopathisme (penggambaran perasaan Tuhan seperti yang dimiliki manusia):Tuhan menyesal,

Tuhan menangis, Tuhan tertawa, Tuhan marah.


Alegori atau Fabel.
Tipologi
Nubuat
Angka atau Bilangan.
Sastra Apokaliptis.

Catatan:
Pahamilah dengan konteks kalimat.
Pahamilah kata demi kata.
Pahamilah tata bahasa.
Pahamilah latar belakang secara harafiah.
Pakailah ayat ayat referensi (cross reference).
Pahamilah maksud asli dari penulis.
Pahamilah isi kesaksian tentang Kristus.
C. 6 Pertanyaan Utama dalam sebuah pengamatan nas Alkitab:
1) Bagian Pertama : Apa? What?
2) Bagian Kedua : Mengapa? Why?
3) Bagian Ketiga : Bagaimana? How?
4) Bagian Keempat : Kapan? When?
5) Bagian Kelima : Siapa? Who?
6) Bagian Keenam : Dimana? Where?
D. Proses Pengamatan Sebuah Fakta Dalam Sebuah Nas Alkitab
a. Pribadi-pribadi / Oknum-oknum.
b. Pernyataan pernyataan.

24

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

1.

Pertanyaan pertanyaan.
Perintah perintah.
Keadaan atau situasi.
Tempat
Waktu / masa.
Cara cara.
Alasan alasan.

PRINSIP HERMENEUTIKA
Penafsiran secara wajar (Historico grammatical method).
a. Metode: berdasarkan sejarah, tatabahasa (bnd. II Tawarikh 16:9).
b. Alkitab harus ditafsirkan menurut bentuk sastranya.
c. Alkitab harus ditafsirkan menurut konteksnya.
d. Alkitab harus ditafsirkan menurut arti asalnya pada masa penulisnya.
e. Alkitab harus ditafsirkan sesuai dengan tata bahasanya.
f. Alkitab harus ditafsirkan menurut maksud dan rencana penulisnya.
g. Alkitab harus ditafsirkan berdasarkan latar belakang kesejarahannya (geografi, kebudayaan).

2.

Penafsiran menurut Alkitab.


a. Alkitab harus ditafsirkan menurut tujuannya.
b. Alkitab harus ditafsirkan dengan penjelasan dari bagian yang lain yang temanya sama.
c. Alkitab harus ditafsirkan dengan penjelasan yang datang kemudian dan lebih lengkap.
d. Alkitab harus menurut keterangan dari Alkitab secara keseluruhan (konteks jauh).

3.

Penafsiran oleh Roh.


a. Alkitab hanya dapat ditafsirkan dengan bantuan Roh Kudus (Mat.11:25; Yoh.16:3).
b. Penerangan Roh Kudus (Iluminasi dan Rhema).

4.

Penafsiran secara dinamis.


a. Penafsiran Alkitab tidak terbatas hanya pada menjelaskan arti Alkitab yang sesungguhnya menurut
b.

konteksnya.
Pertama- tama kita bertanya, apa makna pada masanya serta dalam konteksnya sendiri dan apa
maksudnya dalam konteks seluruh Alkitab. Kemudian kita bertanya, apa maknanya Firman itu
sekarang, pada saat ini, dalam kehidupan jemaat, bagi orang tersebut, atau bagi saya sendiri?.

Sumber Bacaan:
1. Kevin J. Conner, Interpreting the Scripture - (Hal. 43-48)
2. Don L. Fisher, Pra Hermeneutik - (Hal. 9-16)
3. John H. Hayes & Carl R. Holladay, Pedoman Penafsiran Alkitab - (Hal. 6-13)
4. R. C. Sproul, Mengenali Alkitab - (Hal. 1-3)
5. Ir. Mangapul Sagala, M. Div., Petunjuk Praktis Menggali Alkitab - (Hal. 9-16)
6. Jim Wilhoit, Effective Bible Teaching - (Hal. 95-108)

Bab V

25

PRINSIP-PRINSIP HERMENEUTIK UMUM


Prinsip-prinsip umum apakah yang perlu dipelajari?Dan bagaimana menggunakannya?
PENJELASAN TENTANG PRINSIP-PRINSIP HERMENEUTIK UMUM
Seperti telah disebutkan dalam bab sebelumnya, prinsip-prinsip Hermeneutik dibagi menjadi Prinsip Umum dan
Prinsip Khusus. Prinsip Umum adalah aturan-aturan yang dapat dipakai untuk menafsirkan segala macam
bentuk sastra. Dalam Prinsip Umum ini tercakup didalamnya adalah:
a.

MENAFSIRKAN MENURUT KONTEKSNYA. Prinsip pertama adalah menafsirkan kata/frasa/


kalimat/ayat dengan lebih dahulu mempertimbangkan konteksnya.

b.

Konteks berasal dari 2 kata, yaitu: kon (bersama-sama)dan teks (tersusun). Jadi secara
khusus konteks diartikan sebagai ayat-ayat sesudah atau sebelum ayat (bagian) yang
dipelajari. Tapi secara umum konteks diartikan sebagai hubungan pikiran yang menyatukan
sebagian

(konteks

dekat)

atau

keseluruhan

tulisan

(konteks

jauh).

Sehubungan

dengan Alkitab, konteks diartikan sebagai hubungan pikiran yang menyatukan satu bagian
perikop tertentu, atau satu pasal tertentu atau satu kitab tertentu dalam Alkitab, atau bahkan
keseluruhan Alkitab.
Secara terperinci konteks dapat dibagi dalam empat tingkat:
1.

Konteks Seluruh Alkitab. Konteks dari setiap ayat adalah seluruh Alkitab. Tidak boleh
ayat ditafsirkan lepas di luar Alkitab. "Alkitab menafsir Alkitab".

2.

Konteks Perjanjian. Dalam seluruh Alkitab, konteks dari setiap ayat adalah Kitab
Perjanjian dimana ayat itu berada. "PB ada didalam PL, PL diterangkan oleh PB"

3.

Konteks Kitab. Dalam seluruh Alkitab dan Kitab Perjanjian, konteks dari setiap ayat
adalah kitab dalam Alkitab dimana ayat itu berada.

4.

Konteks Perikop. Dalam seluruh Alkitab, Kitab Perjanjian dan Kitab dalam Alkitab,
konteks dari setiap ayat adalah perikop dimana ayat itu berada.

Kesimpulan:

Konteks
Konteks
Konteks
Konteks

ayat adalah perikop


perikop adalah Kitab (buku)
kitab adalah Kitab Perjanjian
Kitab Perjanjian adalah seluruh Alkitab

Mengapa mempelajari konteks sangat penting? Pertama, karena tanpa mempelajari konteksnya maka
pengertian kita terhadap ayat tsb. menjadi tidak lengkap, khususnya jika ada kaitan pengertian yang tidak
dapat dilepaskan satu dengan yang lain (Misalnya: janji yang bersyarat). Kedua, tanpa mengikut sertakan
konteks seringkali kita tidak melihat kaitan pengertian yang lebih luas sehingga sering memberi arti yang salah
(Misalnya: kata-kata yang sama tetapi memiliki arti yang berbeda).

26

Petunjuk mempelajari konteks:


1.

Bacalah keseluruhan perikop (atau pasal) yang menjadi konteks ayat yang anda pelajari.

2.

Selidiki keseluruhan data dan pelajari kaitan-kaitannya.

3.

Carilah informasi latar belakang dari nama/tempat/peristiwa yang sedang dipelajari dengan
menggunakan Kamus Alkitab.

4.

Gunakan Referensi Silang untuk membandingkan jika peristiwa/kisah yang sedang dipelajari
juga dicatat dalam kitab yang lain (memiliki kisah paralel)

c.

MEMPELAJARI ARTI KATA ASLINYA. Prinsip kedua dalam menafsir adalah menafsirkan sesuai
dengan arti kata(-kata) yang tepat sebagaimana dimaksudkan oleh penulis aslinya. Masalah
utama yang harus diperhatikan adalah bagaimana menemukan definisi kata itu dan apa artinya
yang tepat sesuai dengan konteks jaman/budaya waktu penulisan.
Satu hal yang perlu diingat dalam melakukan studi kata adalah bahwa kata-kata dalam Alkitab
kita sekarang adalah hasil terjemahan dari bahasa asli Alkitab (Ibrani/Yunani), oleh karena itu
penyelidikan lebih lanjut harus dilakukan dengan membandingkan kata-kata yang ada dalam
Alkitab bahasa Ibrani/Yunani.
Petunjuk mempelajari kata:
1.

Satu kata bisa mempunyai beberapa arti yang berbeda.

2.

Kata-kata yang berbeda bisa mempunyai arti yang sama.

3.

Selidiki hanya kata-kata yang penting yang memiliki arti teologis, khususnya yang
sering diulang-ulang.

4.

Pelajari kata-kata penting tsb. dalam konteksnya.

5.

Gunakan konkordansi atau referensi silang untuk mencari padanan arti.

6.

Arti kata bisa berubah setelah melewati jangka waktu tertentu.

7.

Alkitab kadang menggunakan kata-kata/terminologi yang mempunyai arti yang berbeda


dengan penggunaan umum.

8.
d.

Arti kata tsb. dalam bahasa Ibr./Yun. kadang berbeda dengan bhs. Indonesia.

MEMAHAMI TATA BAHASANYA. Prinsip yang ketiga adalah harus menafsir sesuai dengan tata
bahasa dari kalimat tsb. Setiap kata dalam kalimat tidak berdiri sendiri. Kata yang disusun
bersama-sama memberi kombinasi arti yang membangun alur pikiran. Arti dari kata itu sering
ditentukan dari hubungannya dengan kata-kata yang lain dalam kalimat. Tata Bahasa sendiri
tidak memperlihatkan arti sesungguhnya dari kata itu, tapi memperlihatkan kemungkinan arti

27

lain yang terdapat dalam kata (kalimat) itu. Tata Bahasa terdiri dari beberapa unsur penting,
misalnya: subjek, objek, kata kerja, kata keterangan waktu/tempat/cara, kata ganti dan kata
sambung. Masing-masing unsur ini akan memberikan bentukan kata dan hubungan kata dalam
kalimat.
Petunjuk mempelajari tata bahasa:
1.

Kalau ada bagian (kalimat) yang tidak jelas artinya, cari tahu dahulu kunci katanya dan
analisa tata bahasanya.

2.

Pelajari hubungannya dengan kata-kata yang lain dalam kalimat tsb.

3.

Pelajari juga bentukan-bentukan katanya, khususnya dalam susunan kata kerja bahasa
aslinya (Ibr/Yun).

4.
e.

Kalau kemungkinan artinya lebih dari satu, maka cari petunjuk lain, khususnya konteks.

MENANGKAP MAKSUD/TUJUAN PENULISNYA. Prinsip keempat dalam menafsir adalah kita harus
menemukan

tujuan

dan

maksud

penulis

Alkitab.

Adakalanya

penulis-penulis

Alkitab

memberikan petunjuk dengan jelas maksud/tujuan mereka menuliskan kitab/surat. Tetapi


kebanyakan penulis Alkitab tidak jelas menunjukkan tujuan penulisan kitab itu. Untuk itu
pembaca harus membaca dengan teliti seluruh isi kitab, khususnya dengan mempelajari garis
besarnya.

Setelah

menemukan

tujuan/maksud

penulisan

kitab,

maka

penafsir

harus

menjadikan itu sebagai pedoman untuk menafsir dengan yang tepat.


Petunjuk mempelajari maksud/tujuan penulis:
1.

Perhatikan kalimat-kalimat yang mengandung kata sambung, "supaya" atau sebab itu".

2.

Jika tidak disebutkan dengan jelas makdud penulis, pelajarilah garis besar struktur
penulisan kitab tsb.

3.

Pelajari juga latar belakang peristiwa/berita yang disampaikan dalam kitab tsb. untuk
menemukan maksud penulis menuliskan kitab/surat tsb.

f.

MEMPELAJARI LATAR BELAKANGNYA. Prinsip kelima adalah penafsiran harus diterangi dengan
latar belakang sejarah, geografi dan budaya yang ada dalam berita yang disampaikan penulis.
Penulisan kitab dalam Alkitab ditulis dalam kerangka waktu, tempat dan budaya yang tidak lagi
sama dengan yangdipunyai penafsir. Untuk itu penafsir harus betul-betul memahami dunia
Alkitab untuk dapat mengerti keadaan dan maksud asli ayat/perikop/buku itu ditulis.
Petunjuk mempelajari latar belakang:
1.

Pelajari dunia Alkitab dengan teliti, jalan terbaik adalah dengan membaca seluruh
Alkitab secara berurutan.

28

2.

Mencatat peristiwa/kejadian penting yang perlu pengetahuan tambahan.

3.

Gunakan Kamus Alkitab/Ensiklopedia dan alat (buku) yang bisa dipakai untuk
menambah pengetahuan sejarah dalam Alkitab.

4.

Cari Alkitab yang mempunyai referensi silang atau catatan kami karena akan
mempermudah mendapatkan paralel informasi yang dicari.

g.

MENAFSIRKAN AYAT DENGAN AYAT ALKITAB. Prinsip keenam dalam menafsir adalah kita perlu
mencari terang pengajaran Alkitab secara utuh (keseluruhan kebenaran). Tidak mungkin
kebenaran dari satu ayat bertentangan dengan ayat yang lain, karena Alkitab tidak mungkin
bertentangan dengan diriNya sendiri. Inilah juga yang menjadi alasan kita mempelajari ayat
dalam konteksnya.
Salah satu cara untuk mengerti keseluruhan kebenaran Alkitab adalah dengan membandingkan
perikop yang paralel; yaitu bagian (ayat-ayat) yang membicarakan hal-hal yang sama tetapi
ada di tempat-tempat yang berbeda di Alkitab. Dari perbedaan (atau persamaan) kita dapat
melihat pengertian ayat-ayat itu lebih jelas. Tapi karena tidak banyak ayat-ayat (perikop)
paralel ada di seluruh Alkitab maka cara ini tidak selalu dapat dijadikan acuan. Prinsip konteks
lebih memberikan kepastian yang jelas.
Petunjuk untuk mempelajari prinsip menafsirkan ayat dengan ayat:
1.

Penafsir harus tahu garis besar pengajaran kebenaran seluruh Alkitab.

2.

Mempelajari topik-topik penting dalam Alkitab.

3.

Mempunyai pengetahuan isi Alkitab secara luas.

4.

Gunakan Referensi Silang untuk mencari ayat-ayat yang membahas tema-tema yang
sama dalam seluruh Alkitab.

5.

Prinsip konteks seringkali memegang peranan penting.

Sumber Bacaan:
h.

1. Alan D. Cox, Penafsiran Alkitab - (Hal. 6-30)

i.

2. Hasan Sutanto, Hermeneutik; Prinsip dan Metode - (Hal.133-244)

j.

3. Pdt. Ichwei G. Indra, 8 Prinsip Tafsir Alkitab - (Hal. 18-42)

k.

4. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini - (Hal. 435-436)

l.

5. Don L. Fisher, Pra Hermeneutik - (Hal. 42-100)

m. 6. T. Norton Sterrett, How to Understand Your Bible - (Hal. 49-89)

29

Bab VI
PRINSIP-PRINSIP HERMENEUTIK KHUSUS
Prinsip-prinsip khusus apakah yang perlu dipelajari?Bagaimana menggunakannya?
PENJELASAN TENTANG PRINSIP-PRINSIP HERMENEUTIK KHUSUS
Selain prinsip-prinsip umum, ada prinsip-prinsip khusus yang dapat menolong penafsir memberikan perhatian
khusus pada jenis-jenis karya sastra yang dipakai dalam Alkitab. Prinsip-prinsip khusus tsb. adalah sbb.:
a.

MEMPALAJARI

KATA-KATA

KIASAN

DAN

GAYA

BAHASA.

Kata Kiasan/Gaya Bahasa adalah kata atau ungkapan yang digunakan untuk mengkomunikasikan
sesuatu yang tidak untuk arti harafiahnya (sesungguhnya). Walaupun kata-kata kiasan itu tidak
membawa arti kata harafiahnya, tetapi mengungkapkan suatu berita kebenaran tertentu dengan
cara yang lebih menarik. Dalam Alkitab kita menemui banyak kata-kata kiasan yang dipakai. Untuk
itu kita perlu mengerti bentuk kata-kata kiasan bagaimana yang dipakai supaya tidak salah
menafsirkan beritanya.
1.

Metafora. Artinya: membandingkan dua hal yang mempunyai arti yang berlainan.
Contoh: "Akulah roti hidup;" {Joh 6:35}

30

2.

Simili. Artinya: membandingkan dua hal yang berlainan memakai kata "seperti".
Contoh: "Aku akan seperti embun bagi Israel,..." {Ho 14:6}

3.

Sinekdot.

Artinya:

bagian

yang

mewakili

keseluruhan,

atau

sebaliknya.

Contoh: "semua penduduk Yerusalem" {Mr 1:5}


4.

Antromorf. Artinya: berbicara kepada benda mati yang diperlakukan sebagai manusia.
Contoh: "Hai mezbah, hai mezbah" {1Ki 13:2}

Personifikasi. Artinya: berbicara mengenai benda yang tidak hidup menjadi seolah-olah hidup.
1.

Contoh: "Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan." {Ps 98:8}

2.

Hiperbole. Artinya: pernyataan yang dilebih-lebihkan. Contoh: "Air mataku berlinang


seperti aliran air." {Ps 119:136}

3.

Interogasi. Artinya: bentuk pertanyaan, yang jawabannya sudah diharapkan oleh si


penanya. Contoh: "Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" {Ps
8:4}

4.

Ironi. Artinya: berlawanan dengan arti yang sebenarnya. Contoh: "bersama-sama kamu
hikmat akan mati" {Job 12:2}

Petunjuk mempelajari kata-kata kiasan/gaya bahasa:

b.

5.

Kata-kata kiasan yang digunakan biasanya cukup mudah ditemukan.

6.

Analisa kata-kata tsb. dan tempatkan pada konteksnya.

MEMAHAMI BENTUK SIMBOL-SIMBOL. Lambang/simboldiartikan sebagai penambahan arti pada


arti biasa yang sudah ada (diketahui umum). Alkitab menggunakan banyak lambang/simbol
untuk mengungkapkan kebenaran atau justru menyembunyikannya. Kata-kata lambang itu bisa
berupa orang, nama, benda, warna, nomor dll. Dan sering kali Alkitab tidak memberikan arti
terhadap simbol-simbol itu dan pembacalah yang harus menemukannya. Itu sebabnya penafsir
harus hati-hati untuk bijaksana menentukan apakah simbol itu betul-betul dimaksudkan oleh
Alkitab atau tidak. Contoh: baptisan, perjamuan kudus dll.
Beberapa petunjuk untuk menafsirkan simbol:
1.

Pelajari cara Alkitab sendiri menafsirkan simbol.

2.

Kalau itu benda, maka kualitas/sifat benda tsb. bisa menjadi petunjuk arti yang
dimaksud.

3.

Pelajari konteksnya karena penting untuk membantu menentukan arti yang dimaksud.
Benda atau objek yang sama bisa memberikan simbol arti yang berbeda, maka perlu
melihat konteksnya.

31

4.

Hindari berspekulasi. Kalau Alkitab tidak memberikan petunjuk maka tidak perlu
mereka-reka.

c.

MEMAHAMI BENTUK GAMBARAN/TIPE. Gambaran dalam Alkitab menunjukkan aspek-aspek dari


kebenaran Alkitab yang sangat indah danberharga untuk kita ketahui.
Gambaran-gambaran itu biasanya memiliki sifat sbb.:
1.

Mempunyai maksud ilahi. Gambaran bisa ditentukan kepastiannya kalau diparalelkan


dengan PB. Tapi kalau tidak disebutkan dalam PB, maka berarti harus hati-hati.

2.

Gambaran adalah bayang-bayang dari kebenaran yang akan diungkapkan, oleh karena
itu penggambaran dalam PL akan digenapkan dalam PB.

3.

Bagaimana bila gambaran tertentu itu tidak disebutkan dalam PB. Dalam hal ini para
teolog berbeda pendapat:
Pertama: Semua gambaran harus mempunyai paralel dalam PB, kalau tidak berarti
tidak perlu dicari artinya.
Kedua: Semua hal dalam PL merupakan gambaran dari apa yang akan datang (PB). Jadi
pasti harus dicari artinya. Contoh: Imam Besar PL adalah gambaran dari Kristus dalam
PB (Le 9:7 menunjuk kepada Heb 5:3).

d.

MEMPELAJARI TUJUAN PERUMPAMAAN DAN ALEGORI. Perumpamaan biasanya diartikan sebagai


sebuah cerita yang mengandung kebenaran hidup tetapi tidak sungguh-sungguh terjadi (tidak
ada nilai sejarah) dan diceritakan dengan maksud untuk memberikan kebenaran moral atau
rohani.

(bisa

disebut

sebagai

perpanjangan

dari

simili

karena

mengandung

suatu

perbandingan). Perumpamaan banyak terdapat dalam Injil-injil Sinoptik. Ada beberapa motif
mengapa Yesus memberikan perumpamaan. Kadang untuk menjawab pertanyaan, kadang
untuk ilustrasi kotbah, kadang untuk membungkam perdebatan dll.
Petunjuk untuk memahami perumpamaan:
1.

Perumpamaan biasanya mempunyai satu pesan/berita/tujuan. Jadi kita tidak perlu


mengartikan semua detailnya dengan arti rohani. Yang penting temukan tujuan
utamanya (inti berita yang akan disampaikan).Pikirkan arti harafiahnya ketika pertama
membaca perumpamaan. Karena perumpamaan biasanya terdiri dari 3 unsur: Situasi,
Cerita, dan Aplikasi, maka kalau sulit mengerti artinya, pikirkan situasinya (latar
belakang budaya atau sejarahnya), lalu tujuan aplikasinya.

2.

Periksa arti perumpamaan itu dengan pengajaran langsung dari Alkitab.Alegori hampir
sama dengan perumpamaan. Alegori bisa disebut sebagai perpanjangan dari metafora.
Yesus kadang menggunakan metode alegori dalam menyampaikan pengajaranNya (Joh
10 dan Joh 15), tetapi artinya cukup jelas karena Yesus sendiri biasanya menjelaskan
artinya.

32

e.

MEMPELAJARI BENTUK IDIOM-IDIOM BAHASA IBRANI. Idiom adalah ungkapan yang hanya
khusus dipakai oleh bahasa tertentu. Idiom sering sama dengan pemakaian gaya bahasa (kata
kiasan), tetapi karena kekhususan cara berpikir dalam bahasa Ibrani maka hal ini dibedakan.
Kesulitan utama untuk mengerti idiom bahasa Ibrani Alkitab (PL dan PB) adalah kebanyakan
pembaca tidak memahami latar belakang budaya Ibrani:
1.

Antrophomorfisme. Artinya mengambil bentuk manusia. Dalam Alkitab banyak dipakai


khususnya untuk berbicara tentang Allah. Perlu diperhatikan bahwa seringkali arti katakata tsb. bukan menunjuk kepada arti harafiahnya. Contoh: "tanganNya yang kuat.."
{De 11:2}

2.

Mengabsolutkan yang relatif. Menyebut sesuatu yang relatif dengan cara yang absolut.
Contoh: "Jikalau seseorang tidak datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya,
ibunya...". {Lu 14:26}

3.

Merelatifkan yang absolut. Menyebut sesuatu yang absolut dengan cara yang relatif.
Contoh: "Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama
angkatan ini dan mereka akan menghukumnya.". {Lu 11:32}

4.

"Anak dari.........".Menyebutkan arti lain dari arti harafiahnya. Contoh: "anak Daud"
artinya keturunan Daud.

f.

MEMPELAJARI

BENTUK

PUISI.

Puisi adalah alat pengekspresi perasaan dan pikiran manusia yang paling dalam. Bentuk sastra
Ibrani biasanya ditandai dengan struktur baris tertentu yang disebut paralelisme, namun tidak
bersajak. Dalam Alkitab cukup banyak dijumpai bentuk-bentuk tulisan puisi; misalnya:
Nyanyian perang, {Ex 17:16} Nyanyian Cinta (Kidung Agung), Ratapan (beberapa bagian kitab
Mazmur dan Kitab Ratapan), Nyanyian Pujian (Beberapa bagian kitab Mazmur, Nyanyian Maria),
Ucapan Hikmat/Pengajaran (beberapa bagian Kitab Mazmur).
Bentuk-bentuk Paralelisme yang sering dijumpai adalah:

g.

1.

Paralel Sinonim (mengandung ide yang searti), mis: Ps 24:3.

2.

Paralel Antitesis (mengandung ide yang bertentangan), mis: Ps 37:9

3.

Paralel Sintesis (mengandung ide yang terpadu), mis Ps 35:1-2

MEMPELAJARI NUBUAT. Nubuatan adalah salah satu bentuk sastra yang mungkin paling sulit
untuk ditafsirkan sehingga paling banyak disalah-tafsirkan. Dari banyaknya jumlah nubuatan
yang

ada

di

Alkitab,

maka

sangat

perlu

kita

memberi

perhatian

dalam

menafsir.

Ciri/karakteristik nubuatan: biasanya menggunakan gaya bahasa/kata kiasan, sehingga artinya


tidak jelas. Kata kerja yang digunakan adalah bentuk-bentuk keakanan dan penggenapannya
adalah untuk waktu yang akan datang (bisa waktu dekat atau jauh), dan jelas memiliki
perspektif nubuatan dengan bersyarat atau tidak bersyarat.

33

Nubuatan dibedakan dalam beberapa macam:


1.

Nubuatan yang akan terjadi langsung saat dikatakan. Contoh: "Aku akan mengeraskan
hati Firaun" {Ex 14:4}

2.

Nubuatan PL yang digenapi kemudian pada masa PL. Contoh: Jos 6:26 1Ki 16:34

3.

Nubuatan PL yang digenapi kemudian pada masa PB. Contoh: Nubuatan-nubuatan


tentang Mesias.

h.

4.

Nubuatan PB yang digenapi kemudian pada masa PB. Contoh: Mr 13:2

5.

Nubuatan PL dan PB yang belum digenapi. Contoh: Kedatangan Kristus yang kedua kali.

MEMPELAJARI DOKTRIN. Pengajaran/Doktrin diartikan sebagai suatu prinsip kebenaran yang


berisi pokok-pokok iman yang diajarkan oleh Alkitab yang telah disusun secara sistematis.
Alkitab adalah sumber dari semua doktrin Kristen yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita.
Doktrin-doktrin Alkitab mempunyai satu kesatuan yang utuh, oleh karena itu tidak mungkin
mengajarkan kebenaran yang saling bertentangan satu dengan yang lain, walaupun ada
kemungkinan terdapat kebenaran yang bersifat paradoks.
Petunjuk untuk menafsir doktrin
1.

Dasarkan penafsiran doktrin pada pernyataan-pernyataan yang jelas arti harafiahnya


dan bukan berdasar dari kata-kata kiasan atau yang tidak jelas.

2.

Dasarkan doktrin pada perikop-perikop (konteks) yang bersifat didaktik (pengajaran)


bukan sejarah.

3.

Dasarkan doktrin pada seluruh kebenaran Alkitab, tidak cukup kalau hanya sebagian
kebenaran dan jangan merumuskannya dari kebenaran yang tidak disebutkan dalam
Alkitab.

4.

Pakailah

semua

prinsip-prinisp

umum Hermeneutik untuk

khususnya studi kata.


5.

Hindarkan unsur-unsur spekulasi dalam menafsirkan doktrin.

Sumber Bacaan:
1.

Alan D. Cox, Penafsiran Alkitab - (Hal. 31-41)

2.

Hasan Sutanto, Hermeneutik; Prinsip dan Metode - (Hal.245-334)

3.

Ensiklopedia Alkitab Masa Kini - (Hal. 435-436)

34

menafsirkan

doktrin,

4.

Don L. Fisher, Pra Hermeneutik - (Hal. 34-100)

5.

Pdt. Ichwei, 8 Prinsip Tafsir Alkitab - (Hal. 43-47)

6.

T. Norton Sterrett, How to Understand Your Bible - (Hal. 93-156)

Bab VII
PENDEKATAN HEMENEUTIK
Mengapa masing-masing jenis kitab dalam Alkitab harus dipelajari dengan cara pendekatan yang berbedabeda?
PENDEKATAN SESUAI DENGAN JENIS-JENIS KITAB DALAM ALKITAB
Selain prinsip-prinsip yang sudah kita bicarakan dalam bab-bab sebelumnya, ada pendekatan lain yang
perlu dilakukan khususnya sehubungan dengan macam-macam karya sastra dari kitab-kitab yang ada
dalam Alkitab. Untuk itu kita akan melihat secara garis besar hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menafsirkan jenis-jenis kitab tsb.
A. Kitab-kitab Taurat
Berikut ini adalah beberapa pedoman yang perlu diingat untuk menafsir Kitab-kitab Taurat dengan lebih
tepat:
a.

Kitab-kitab Perjanjian Lama secara umum adalah wasiat milik orang Israel, termasuk di
dalamnya adalah hukum Taurat PL. Hukum Taurat merupakan pernjanjian antara Tuhan dengan
umat Israel sebagai bangsa pilihan-Nya, agar Israel setia kepada Tuhan. Oleh karena itu
ketentuan/hukum yang ada dalam kitab-kitab Taurat, walaupun itu adalah Firman Tuhan,
namun tidak lagi merupakan perintah langsung bagi kita sekarang.

b.

Ketentuan/hukum dalam kitab-kitab Taurat akan mengikat kita secara langsung apabila hukum
tsb. dibaharui dalam kitab-kitab PB. Oleh karena itu untuk menafsirkan hukum Taurat bagi kita
sekarang harus diterangi dengan terang hukum PB, yaitu hukum Kristus atau hukum kasih.

Ketentuan/hukum dalam kitab-kitab Taurat PL, sangat keras dan tegas, hal itu untuk menunjukkan
akan
a.

tingginya standard norma moral dan keadilan Allah. Hukum-hukum tsb. harus dipahami sebagai
suatu model bukan sebagai hukum yang lengkap.

B. Kitab-kitab Sejarah

35

Hal-hal yang perlu diingat ketika menafsirkan Kitab-kitab Sejarah/Hikayat:


Ada tiga tingkatan sejarah dalam Alkitab, yaitu:
1.

Sejarah tingkat atas, yaitu rencana Allah untuk semesta alam, yang dilaksanakan
melalui ciptaannya.

2.

Sejarah yang berpusat kepada bangsa Israel saja.

3.

Sejarah tingkat bawah, yaitu sejarah yang berdiri secara tersendiri.

Namun dari semua orang yang terlibat dalam sejarah tsb. Allah adalah Tokoh Utamanya.

Kitab-kitab Sejarah PL biasanya tidak mengajarkan doktrin secara langsung, karena


memang tujuannya tidak untuk menjawab masalah-masalah teologis yang muncul.
Tetapi dari peristiwa yang terjadi kita akan mampu menarik pelajaran khusus tentang
pokok-pokok tertentu. yang biasanya merupakan penjelasan dari doktrin yang diajarkan

dibagian kitab lain.


Sejarah mencatat apa yang telah terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi. Itu
sebabnya apa yang dilakukan tokoh-tokoh dalam kitab-kitab tsb., belum tentu menjadi

contoh yang baik. Tokoh-tokoh itu adalah manusia biasa yang juga memiliki kelemahan.
Kesalahan yang sering dilakukan penafsir ketika menafsirkan kitab-kitab sejarah adalah
mengalegoriskan cerita sejarah tsb. Hal ini terjadi karena penafsir tidak melihat
peristiwa-peristiwa dalam konteks keseluruhan dan menggabung-gabungkan peristiwa
yang terjadi secara salah.

C. Kitab-kitab Puisi
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menafsur karya jenis mazmur/puisi:
a.

Ada beberapa jenis Puisi dalam kitab-kitab Puisi di Alkitab:


1.

Mazmur Ratapan (60 buah)

2.

Mazmur mengucap syukur.

3.

Kidung Pujian.

4.

Mazmur Sejarah Keselamatan.

5.

Mazmur Perayaan dan Pengukuhan.

6.

Mazmur Hikayat.

7.

Nyanyian Kepercayaan.

36

b.

Sebagian besar isi (khususnya Kitab Mazmur) adalah pengalaman dan pergumulan pribadi para
penulisnya. Pengalaman seseorang tidak dapat dipakai sebagai pedoman pengajaran/ doktrin.
Ada tiga tujuan penerapan Mazmur dalam kehidupan orang Krsiten yaitu:
1.

Sebagai penuntun dalam ibadah.

2.

Untuk memiliki hubungan yang jujur dengan Allah.

3.

Untuk merenungkan perkara-perkara yang Allah telah lakukan bagi kita sehingga kita
dapat bersyukur atasnya.

c.

Ada tiga sifat khas dari gaya puisi dalam PL yaitu:


1.

Paraleisme Sinonim (yang searti). Contoh Isa 44:22.

2.

Paraleisme Antithesis (yang bertentangan). Contoh Ho 7:14.

3.

Paraleisme Sintesis (yang terpadu). Contoh Obaja ayat 21.

D. Kitab Nabi-nabi (Nabi Besar dan Nabi Kecil)


Ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam menafsirkan kitab-kitab para nabi yaitu:
Allah memakai para nabi sebagai pengantara, penyambung lidah Allah. Berita para nabi bukan
berasal dari diri mereka sendiri, tetapi dari Allah. Itulah sebabnya nubuatannya/beritanya
didahului dengan kata: "Demikianlah Firman Tuhan" atau "Inilah Firman Tuhan".
Latar belakang para nabi diwarnai dengan:
1.

Pergolakan bidang politik, militer, sosial, ekonomi;

2.

Ketidaksetiaan secara rohani dari umat Allah;

Latar belakang ini sangat mempengaruhi berita yang dibawa oleh para nabi, karena hal itu
berhubungan langsung dengan keadaan, situasi dan kebutuhan jaman itu dan panggilan
masing-masing nabi-nabi tsb. untuk generasi yang hidup pada masa itu.
a.

Dalam berita nubuatannya, Allah digambarkan sebagai Juru Dakwa atau Hakim. Itu sebabnya
bentuk

sastra

yang

sering

dipakai

adalah

"firman

celaka".

Melalui

para

mengumumkan kebinasaan yang mendekat. Ada tiga unsur didalamnya:

b.

i.

Nubuat mengenai malapetaka atau kebinasaan yang akan didatangkan.

ii.

Alasan mengapa malapetaka itu ditimpakan.

Di sisi lain, dipakai juga bentuk sastra yang berupa janji atau "firman keselamatan".

37

nabi,

Allah

c.

Dalam menyampaikan nubuatan, para nabi sering menggunakan puisi sebagai sarana
pemberitaannya, sebab di Israel kuno, puisi dihargai sebagai alat untuk belajar.

E. Kitab-kitab Injil
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Kitab-kitab Injil:
a) Perlu lebih dahulu diingat bahwa kitab-kitab Injil adalah kitab-kitab yang menceritakan tentang
kehidupan, pelayanan dan pengajaran Tuhan Yesus, tetapi tidak dtulis oleh Tuhan Yesus..
Diceritakan oleh 4 orang penulis yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda.
b) Perlu diperhatikan konteks kitab-kitab Injil. Ada 2 konteks historis; yang pertama pengetahuan
kebudayaan dan agama dari abad pertama yaitu Yudaisme Palestina. Namun selain itu ada
konteks kedua yaitu konteks historis dan sastra dari penulis kitab Injil itu sendiri.
Untuk menafsirkan kitab-kitab Injil, disarankan agar kita memakai cara berpikir secara vertikal
danhorizontal, karena banyak perikop dari kitab-kitab Injil yang menceritakan cerita pararel/sama.
F. Kitab Kisah Para Rasul
Kitab Kis. Para Rasul dimasukkan sebagai kitab sejarah, karena menceritakan tentang sejarah
perbuatan para rasul dan masa gereja mula-mula, oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan untuk menolong kita menafsirkan dengan lebih tepat:
a.

Disarankan untuk membaca keseluruhan buku ini secara sekaligus (sekali baca) untuk dapat
mengamati perkembangan peristiwa-peristiwanya dalam satu kesatuan.

b.

Namun selain mengkisahkan tentang perbuatan para Rasul, jelas penulis Lukas menunjukkan
gerakan Roh Kudus dibalik peristiwa-peristiwa tsb. yang mengatur gerakan kekristenan dari
Yerusalem sampai ke Samaria, dan sampai ke ujung-ujung bumi.

c.

Karena sifat sejarahnya, maka hal-hal yang diceritakan tsb. bukan sesuatu yang bersifat
normatif, kecuali jika Alkitab mengatakannya dengan tegas.

G. Surat-surat Kiriman
Seperti kebanyakan surat pada umumnya, surat-surat Kiriman dalam Alkitab memiliki ciri-ciri yang
sama yaitu: ada nama penulis, nama penerima, salam pembukaan/doa/harapan/ucapan syukur, isi
surat dan penutup surat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menafsir Surat-surat Kiriman:
Masing-masing surat memiliki konteks historis yang berbeda. Sebagian besar surat-surat Kiriman tsb.
ditulis bukan untuk tujuan pengajaran doktrin, tetapi untuk memecahkan masalah-masalah yang
dihadapi oleh jemaat atau pribadi sebagai penerima surat tsb. Namun demikian surat-surat tsb. ditulis
dengan kesadaran adanya otoritas kerasulan/pemimpin umat dari para penulisnya.
Surat Kiriman tidak disusun sebagai suatu cerita berurutan, tetapi surat terdiri dari paragraf-paragraf
dan setiap paragraf memiliki pokok pembicaraan, jadi perlu berpikir secara paragrafi dengan mengikuti

38

a.

perkembangan logika penulisnya. Untuk itu penting membaca surat secara keseluruhan untuk
mendapatkan gambaran selengkap mungkin tentang pokok-pokok masalah yang dihadapi
masing-masing jemaat.

b.

Karena masalah latar belakang budaya sangat menonjol maka perlu dibedakan antara pokok
inti Alkitab dengan pokok-pokok yang bukan merupakan inti pengajaran. Juga perlu dibedakan
antara hal-hal yang bersifat moral normatif atau yang berupa budaya setempat.

H. Kitab Eskatologi
Sebagian kitab eskatologi adalah penyingkapan nubuat dari Perjanjian Lama, disebut juga sebagai
kitab-kitab apokaliptis. Banyak orang berpendapat bahwa menafsirkan kitab-kitab eskatologi adalah
yang paling sulit, sehingga tidak heran kalau banyak pengajaran yang simpang siur yang ditimbulkan
olehnya.
a.

Sumber utamanya adalah nubuatan PL, khususnya dari kitab nabi-nabi, mis. Yehezkiel, Daniel,
Zakharia, Yesaya. Seperti kebanyakan kitab apokaliptis, materinya berhubungan dengan

b.

masalah penghakiman dan penyelamatan yang akan datang.


Materi apokaliptis lebih banyak diungkapkan dalam bentuk visi (penglihatan) dan mimpi dengan
bahasa yang memiliki arti tersembunyi dan simbolis/figuratif. Tugas utama dalam eksegesis
kitab apokalips adalah mencari maksud mula-mula dari pengarang (yaitu dengan memahami

c.

konteks historis dan konteks sastra).


Gambaran dari materi apokaliptis sering berupa penglihatan/gambaran dan bukan seperti
dalam kenyataan. Kita perlu tahu bahwa gambaran adalah mengenai masa depan dan hanya
mengungkapkan kenyataan yang akan terjadi tetapi bukan berarti harus terjadi sesuai dengan

d.

gambaran tersebut.
Karena sifat dari kitab apokaliptis biasanya adalah nubuatan, maka kita harus peka terhadap
latar

belakang

dari

suatu

perlambang

yang

ada.

Juga

hal

penglihatan,

kita

harus

menafsirkannya sebagai suatu keseluruhan, bukan alegoris. Jangan mudah terjebak dengan
menganalogikan ayat-ayat dalam Alkitab secara berlebihan
Sumber Bacaan:
a.

Gordon D. Fee., Hermeneutik; Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan

b.

Ir. Mangapul Sagala, M.Div., Petunjuk Praktis Menggali Alkitab (Hal. 36-48)

c.

Grant R. Osborne, The Hermeneutical Spiral

39

Bab VIII
PENUTUP
Apakah pentingnya mengaplikasikan kebenaran Firman yang sudah kita pelajari? Bagaimana caranya?
MENERAPKAN HASIL PENAFSIRAN ALKITAB
Sebenarnya bagian yang paling penting dari seluruh prinsip Hermeneutik adalah tujuan
aplikasi/penerapan, karena kita harus ingat bahwa tujuan utama Hermeneutik adalah melaksanakan
Firman Tuhan yang telah kita pelajari dan tafsirkan tsb.
A. Pentingnya Mengaplikasikan Hasil Penafsiran
Seseorang dapat belajar dan mengerti banyak tentang teori bagaimana menafsir dengan baik dan
benar secara sistematis. Tapi seseorang baru bisa dikatakan mengerti dengan sungguh-sungguh kalau
ia akhirnya memberikan respon terhadap apa yang ia pelajari.
Alkitab mempunyai dimensi rohani yang hanya akan memberi dampak pada hidup kita bukan hanya
kalau kita menanggapinya secara intelektual, tetapi juga apabila kita akhirnya mempunyai kegairahan
dan sukacita untuk melaksanakan apa yang kita pelajari.
Dilain pihak tuntutan Alkitab bukan "optional" tapi berotoritas. Allah bukan memberikan saran dan
usulan, tapi perintah yang harus dilakukan. Pilihan yang diberikan kepada kita adalah kita mau taat
atau tidak. Oleh karena itumengerti Firman Tuhan secara teori belum membuktikan seseorang taat

40

kepada Allah. Sampai kita melakukan/melaksanakan Firman Tuhan baru kita akan disebut sebagai
"hamba yang setia."
B. Mengaplikasikan Kebenaran Firman Tuhan Dalam Kehidupan
Alkitab membawa berita kebenaran bukan hanya untuk kepentingan pribadi saja, tetapi untuk
kepentingan orang-orang pada jaman dimana Alkitab ditulis dan juga untuk pembaca/penafsir Alkitab
pada generasi jaman ini. Dari hasil penafsiran yang kita lakukan, kita harus bisa membawa kebenaran
itu berbicara kepada diri kita, kepada masyarakat di sekitar kita, dan akhirnya kepada dunia modern ini.
Untuk itu beberapa pertanyaan di bawah ini akan menolong kita melihat aplikasi lebih jelas:
Catatan:
Kata "saya" dalam pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat diganti dengan:
a.

Apakah ada contoh yang bisa saya teladani?

keluarga saya teman saya


gereja saya
orang Kristen pada umumnya
bangsa/negara saya
dunia di mana manusia hidup

b.

Apakah ada dosa-dosa yang saya harus hindari?

c.

Apakah ada janji-janji Tuhan yang harus saya pegang?

d.

Apakah ada doa yang saya bisa lakukan?

e.

Apakah ada perintah yang harus saya ikuti?

f.

Apakah ada kondisi yang harus saya penuhi?

g.

Apakah ada ayat-ayat yang saya bisa hafalkan?

h.

Apakah ada kesalahan-kesalahan yang harus saya perbaiki?

i.

Apakah ada tantangan yang harus saya hadapi?

Apabila kebenaran Firman Tuhan yang kita pelajari itu sepertinya tidak dapat diterapkan secara langsung,
tanyakan pertanyaan-pertanyaan ini:
o

Apakah si penulis menyatakan suatu kebenaran/prinsip yang bersifat umum?

Mengapa kebenaran/prinsip Firman Tuhan itu diberikan?

Apakah ada latar belakang yang lebih luas dari kebenaran itu?

41

Dari jawaban-jawaban pertanyaan tsb. kita dapat menilai:

Apakah kita dapat menerapkan kebenaran itu pada situasi yang persis sama dengan yang
dihadapi orang-orang dalam bagian Alkitab tsb.?

Apakah kita dapat menerapkan kebenaran itu pada situasi yang hampir sama/mirip?

Apakah kita dapat menerapkan kebenaran itu pada situasi yang sama sekali berbeda?

C. Petunjuk-petunjuk Praktis
Pekerjaan menafsir hanya dapat dilakukan kalau Tuhan memberi kekuatan kepada penafsir. Pekerjaan
penafsir akan gagal kalau ia mulai mengandalkan kekuatannya sendiri. Oleh karena itu pekerjaan
menafsir tidak mungkin dikerjakan tanpa doa, perenungan akan kasih Tuhan dan persiapan yang baik.
Berikut ini adalah petunjuk-petunjuk praktis untuk melaksanakan tugas penafsiran dengan baik:
1.

BUAT RENCANA. dengan menentukan bagian Alkitab mana yang akan anda pelajari. persiapkan

2.

semua alat-alat yang diperlukan untuk menafsir.


MULIAI DENGAN BERDOA. Mintalah Roh Kudus, Sang Iluminator agar Ia memberikan

3.

pencerahan pada Alkitab yang anda pelajari.


BACA, BACA, BACA. Bacalah teks Alkitab berulang-ulang dan teliti sehingga betul-betul kita

4.

mengetahui semua informasi di dalamnya.


MEMBUAT CATATAN. Catatlah kata-kata/frasa/kalimat yang anda tidak/kurang mengerti. Catat

5.

juga penemuan-penemuan yang anda dapatkan selama membaca teks tsb.


BACA, BACA, BACA. Membaca ada sbagian terbesar ari seluruh pekerjaan menafsir. Membaca
informasi tentang latar belakang penulisan kitab dan dunia dimana penulis Alkitab hidup (sosial,
politik, ekonomi dan budaya). Juga jangan segan-segan membuka kamus-kamus bahasa (juga

6.

bahasa aslinya), untuk menemukan arti etimologis dan kata/frasa yang sarat dengan arti.
APLIKASIKAN PRINSIP-PRINSIP HERMENEUTIK. Menguasai prinsip menafsir akan mengurangi

7.

setengah dari kesulitan yang kita temui dalam seluruh proses penafsiran.
MENCATAT DENGAN TELITI. Mencatat akan mengembangkan ingatan anda terhadap semua hal
yang anda telah pelajari dan temukan. Lakukan pencatatan secara sistematis untuk menolong

8.

anda memberikan hasil yang terbaik.


KONSULTASI DENGAN MENGECEK KEBENARANNYA. Konsultasikan kebenaran anda dengan
buku-buku hasil tafsiran dari orang-orang ahli yang cinta Tuhan untuk mengecek apakah ada

9.

yang kurang tepat atau apakah ada yang terlewat.


BERDOA UNTUK APLIKASI. Minta kepada Tuhan agar kebenaran yang anda temukan itu menjadi

bagian dari kehidupan anda dengan cara melaksanakan apa yang Tuhan ingin anda lakukan.
10. MENGUCAP SYUKUR. Memuji Tuhan atas kebaikanNya, karena Ia berkenan membicara kepada
anda dan memberikan kebenaran-kebenaranNya untuk anda laksanakan. Apabila anda sanggup
melaksanakan FirmanNya, itu semata-mata adalah karena anugerahNya.
Sumber Bacaan:
1.

T. Norton Sterrett, How to Understand Your Bible (Hal. 171-179)

2.

Jack Kuhatschek, Menerapkan Alkitab Secara Praktis

3.

David Thompson, Bible Study that Works

42

DAFTAR KEPUSTAKAAN
A. Bahasa Indonesia
Braga, James, Cara Menelaah Alkitab, Malang, Penerbit Gandum Mas, 1982
Cox, Alan. D., Penafsiran Alkitabiah, Catatan Pribadi, 1988
Fee, Gordon D., & Stuart, Douglas, Hermeneutik; Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan dengan
Tepat!Malang, Penerbit Gandum Mas, 1989
Fisher, Don L., Pra Hermeneutik, Malang, Penerbit Gandum Mas, 1987
Gara, Nico, Menafsir Alkitab Secara Praktis, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1989
Groenen, C., Hermeneuse Alkitabiah, Flores, Penerbit Nusa Indah, 1977
Hayes, John H. & Holladay, Carl R., Pedoman Penafsiran Alkitab, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1996
Herlianto, Manipulasi Ayat-ayat Alkitab, Bandung, Yayasan Kalam Hidup, 1993
Indra, Ichwei G., 8 Prinsip Tafsir Alkitab, Bandung, Yayasan Kalam Hidup, 2000
Sagala, Mangapul, Petunjuk Praktis Menggali Alkitab, Jakarta, Perkantas Jakarta,1997
Sitompul, A.A, dan Beyer, U, Metode Penafsiran Alkitab, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1989
Sproul, R.C., Mengenali Kebenaran, Malang, Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2000
Sutanto, Hasan, Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab, Seminari Alkitab Asia Tenggara,
Malang, 1993
Warren, Rick,Metode Pemahaman Alkitab yang Dinamis, Yogyakarta, Yayasan Andi, 1981

B. Bahasa Inggris
Berkhof, Louis, Principles of Biblical Interpretation, Grand Rapids, Baker Book House, 1950
Conner, Kevin J., & Malmin, Ken, Interpreting The Scripture, Oregon, Bible Temple, 1983
Erickson, Millard J., Evangelical Interpretation, Grand Rapids, Baker Books, 1993
Fee, Gordon D., New Testament Exegesis, Philadelphia, The Westminster Press, 1983
Hendrichsen, Walter & Jackson, Gayle, Studying, Interpreting and Applying the Bible, Grand Rapids,
Lamplighter Books, 1990
Hendricks, Howard G., et all. Living By The Book, Chicago, Moody Press, 1991
Johnson, Elliot E., Expository Hermeneuticss: An Introduction, Michigan, Academie Books, 1990

43

Kearley, F. Furman, et, all., Biblical Interpretation; Principles and Practice, Grand Rapids, Baker Book
House, 1986
Marshall, I. Howard, New Testament Interpretation, Essays on Principles and Methods, Michigan,
W.B. Eerdmans Publishing Company, 1977
Osborne, Crant R., The Hermeneutical Spiral, Illinois, Inter-Varsity, 1991
Sterrett, Norton T., How to Understand Your Bible, Illinois, Inter-Varsity Press, 1974
Thompson, David L., Bible Study That Works, Indiana, Evangel Publishing House, 1994
Warren, Richard, 12 Dynamic Bible Study Methods, Singapore, S+U Publishers, 1981

44

Anda mungkin juga menyukai