Anda di halaman 1dari 27

SMF/SMF/BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA

LAPORAN KASUS
NOVEMBER 2016

OSTEOMYELITIS

Disusun Oleh :
Naoly D. Lado, S.Ked
(1108012047)
Pembimbing :
dr. Su Djie To Rante Sp.OT

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITRAAN KLINIK


SMF/ BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
RSUD PROF.DR.W.Z.JOHANNES
KUPANG
2016

Osteomielitis
Naoly D. Lado S.Ked
Bagian Ilmu Bedah
RSUD Prof. Dr. W. Z. Johanes Kupang
Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang
I. PENDAHULUAN
Osteomielitis adalah suatu proses inflamasi akut ataupun kronis dari tulang dan
struktur struktur disekitarnya akibat infeksi dari kuman-kuman piogenik. Infeksi tulang pada
anak-anak terutama secara hematogen, meskipun kasus sekunder karena trauma, operasi. 1,2
Sekitar 50 % kasus terjadi pada anak-anak usia prasekolah, tetapi dapat pula ditemukan
pada bayi dan neonatus. Anak-anak mengalami osteomielitis hematogen akut terutama karena
tulang tumbuh mereka kaya pasokan vaskular. Organisme yang beredar cenderung mulai
infeksi di ujung metafisis tulang panjang karena sirkulasi lamban dalam loop metaphyseal
kapiler. Kehadiran koneksi vaskular antara metafisis dan epifisis membuat bayi rentan
terhadap arthritis dari sendi yang berdekatan. Jika tidak diobati, infeksi juga bisa menyebar
ke ruang subperiosteal setelah melintasi korteks.1,2
Osteomielitis pada anak laki-laki lebih sering dibanding anak perempuan (4:1). Faktor
yang berhubungan dengan peningkatan kejadian pada laki-laki dapat meliputi peningkatan
trauma karena perilaku atau kegiatan fisik lainnya yang mempengaruhi cedera tulang. Lokasi
yang tersering ialah tulang-tulang panjang seperti femur, tibia, radius, humerus, ulna, dan
fibula. Penyebab osteomielitis pada anak-anak adalah kuman Staphylococcus aureus (8990%), Streptococcus (4-7%), Haemophilus influenza (2-4%), Salmonella typhii dan
Eschericia coli (1-2%).1,2,3
Pada anak-anak infeksi tulang seringkali timbul sebagai komplikasi dari infeksi pada
tempat-tempat lain seperti infeksi faring (faringitis), telinga (otitis media) dan kulit
(impetigo). Bakterinya berpindah melalui aliran darah menuju metafisis tulang didekat
lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir ke dalam sinusoid.1,2,3
Akibat perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka tempat peradangan
yang terbatas ini akan terasa nyeri dan nyeri tekan. Perlu sekali mendiagnosis osteomielitis
ini sedini mungkin, terutama pada anak-anak, sehingga pengobatan dengan antibiotika dapat
dimulai, dan perawatan pembedahan yang sesuai dapat dilakukan dengan pencegahan
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 2

penyebaran infeksi yang masih terlokalisasi dan untuk mencegah jangan sampai seluruh
tulang mengalami kerusakan yang dapat menimbulkan kelumpuhan. Diagnosis yang salah
pada anak-anak yang menderita osteomielitis dapat mengakibatkan keterlambatan dalam
memberikan pengobatan yang memadai.
Angka mortalitas pada osteomielitis akut yang diobati adalah kira-kira 1 %, tetapi
morbiditas tetap tinggi. Bila terapi efektif dimulai dalam waktu 48 jam setelah timbulnya
gejala, kesembuhan yang cepat dapat diharapkan pada kira-kira 2/3 kasus. Kronisitas dan
kambuhnya infeksi mungkin terjadi bila terapinya terlambat. 4
II. LAPORANKASUS
A. Identitas
Nama

: An. NT

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 12 Tahun

Tanggal Lahir

: 01 November 2003

Alamat

: Liliba

Agama

: Protestan

Pekerjaan

: Pelajar

Tanggal masuk

: 31 Oktober 2016

B. Anamnesis
Keluhan Utama

: Bengkak Pada Tungkai Kiri

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke Poli Bedah dikonsul dari Poli Anak dengan keluhan bengkak
pada tungkai kiri sejak 3 tahun yang lalu yang disertai nyeri terus menerus dan terasa
panas. Keluhan ini terus memberat sehingga pasien menjadi sulit berjalan. Nyeri terutama
dirasakan saat pasien beraktivitas dan dapat menghilang bila pasien mengonsumsi obat
antinyeri. Menurut pasien, gejala ini berawal dari bisul pada mata kaki kirinya sejak 3
tahun lalu yang kemudian dipecahkan di poli bedah, namun luka bekas bisul sembuh
dalam waktu >2 minggu. Setelah luka sembuh mulai muncul bengkak pada bekas bisul
yang kemudian bengkak pada sluruh tungkai bawah kaki kiri yang juga diikuti rasa nyeri,
dan panas saat diraba. Gejala lain seperti batuk dan pilek yang lama, sakit telinga, berat
badan menurun drastis dan demam tidak ada.

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 3

Riwayat Penyakit Dahulu:


Sebelum penyakit ini, pasien tidak memiliki riwayat penyakit lain.
Riwayat Trauma
Pasien tidak pernah mengalami kejadian yang menyebabkan cedera serius
sebelumnya, seperti patah tulang.
Riwayat Pengobatan
Pasien berobat di Poli Bedah 3 tahun lalu, pada saat itu dilakukan tindakan berupa
dipecahkan bisul yang ada di kaki (menurut keterangan keluarga pasien). Setelah bisul
sembuh, mulai muncul bengkak dan nyeri yang hilang timbul dan pasien berobat di
Puskesmas namun pasien tidak mengingat obat yang diberikan.
Riwayat Operasi
Pasien tidak pernah menjalani operasi apapun sebelumnya.
Riwayat keluarga
Tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan pasien dan tidak ada
anggota keluarga yang memiliki riwayat minum obat lama.
C. Pemeriksaan Fisik (31/10/2016)
Status Generalis
Kondisi Umum

: Tampak sakit sedang.

Kesadaran

: Compos Mentis.

Vital Sign

: TD: 100/70 mmHg, N : 88 x/menit, R : 24 x/menit, S : 36,7 C.

Mata

: Conjungtiva Anemis -/-, Sklera Ikterik -/- .

Leher

: Deviasi (-), tidak teraba massa dan pembesaran limfonodi.

Thorax
Cor

: BJ I-II reguler, murmur (-), Gallop (-).

Pulmo

: Vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-).

Abdomen

Inspeksi : tampak datar, tak tampak massa/benjolan.

Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar/ lien tak teraba pembesaran.

Perkusi

: 4 kuadran timpani.

Auskultasi : Bising usus (+), normal.

Extremitas
Superior dextra dan sinistra :
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 4

Inspeksi

: Simetris, kelemahan anggota gerak (-),

Palpasi

: Edem (-)/(-), nyeri tekan (-)/(-).

inferior dexttra dan sinistra


Inspeksi

: tidak simetris, kelemahan anggota gerak (-)/ (+)

Palpasi

: Edem (-)/(+), nyeri tekan (-)/(+).

Status lokalis cruris sinistra


Look :
o Edema (+), Hiperemis (+), Serpihan Tulang (-)
o Ulkus (-)
Feel :
o Nyeri tekan (+), Suhu lebih hangat dari sekitarnya, krepitasi (-)
Move :
o Pergerakan pada artikulasio Talocrural Sinistra tidak terbatas
D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Lengkap (18/10/2016)
Hemoglobin

: 12,4. g/dL

Jumlah Trombosit

:383 10^6/ul

Eritrosit

: 5,00 10^6/uL

PDW

: 10,8

Hematokrit

: 37,1 %

MPV

: 9.7

MCV

: 74,2 fl MCH

P-LCR

: 21,8

PCT

: 0,37

LED

: 20

: 25,8 pg
MCHC

: 24,8 g/dl

Jumlah Leukosit

: 9.90 10^3ul

Jumlah Eosinofil

: 0.80 10^3/ul

Jumlah Basofil

: 0.02 10^3/ul

Jumlah Neutrofil

: 4.47 10^3/ul

Jumlah Limfosit

: 3.92 10^3/ul

Jumlah Monosit

: 0.69 10^3/ul

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 5

Foto Cruris A/P lateral


(18/10-2016)

(03/11-2016)

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 6

Hasil Biopsi :
Mikroskopik: sediaan berasal dari fibula sinistra menunjukkan keping keping
jaringan ikat bersebukan keras selradang akut dan kronik, tulang yang nekrotik
(sekuester) serta proliferasi

pembuluh darah. Tampak pula sel berinti banyak

menyerupai sel datia, foam cell, hemosiderofag dan area nekrosis serta area
perdarahan
Kesimpulan: histologik sesuai dengan osteolmielitis kronik.
E. Diagnosis Kerja
Osteomielitis kronik fibula sinistra
F. Penatalaksanaan
Selama perawatan di Bedah, pasien di berikan terapi
1. IVFD D5% NS 1500 cc/24 jam
2. Cefotaxim 3 x 750 mg iv
3. Debridement

G. Prognosis
Quo Ad Vitam

: ad bonam

Quo Ad Functionam : ad bonam


III. Tinjauan Pustaka
Anatomi
Tulang adalah jaringan yang kuat dan tangguh yang memberi bentuk pada
tubuh. Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan
melindungi organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Tulang
membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk
melekatnya otot-otot yang menggerakan kerangka tubuh. Tulang juga merupakan
tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsiumdan fosfat (Price dan
Wilson, 2006).
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan
tempat untuk melekatnya otot- otot yang menggerakan kerangka tubuh.Tulang
juga merupakan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 7

fhosfat.Tulang rangka orang dewasa terdiri atas 206 tulang. Tulang adalah
jaringan hidup yang akan suplai syaraf dan darah. Tulang banyak mengandung
bahan kristalin anorganik (terutama garam- garam kalsium ) yang membuat tulang
keras dan kaku., tetapi sepertiga dari bahan tersebut adalah fibrosa yang
membuatnya kuat dan elastis (Price dan Wilson, 2006). Tulang ekstrimitas bawah
atau anggota gerak bawah dikaitkan pada batang tubuh dengan perantara gelang
panggul terdiri dari 31 pasang antra lain: tulang koksa, tulang femur, tibia, fibula,
patella, tarsalia, meta tarsalia, dan falang (Price dan Wilson, 2006).
Secara khusus pada pembahasan kali ini lebih ditekankan pada Os Tibia
dan Fibula sesuai dengan kaitannya dengan kasus.Tibia adalah tulang medial
besar tungkai bawah. Tibia berartikulasi dengan condylus femoris dan caput fibula
di atas, dan dengan talus dan ujung distal fibula di bawah. Ia memiliki ujung atas
yang melebar, dan ujung bawah lebih sempit. Pada ujung atasnya terdapat
condylus medialis dan lateralis (kadang-kadang disebut plateau tibialis medialis
dan lateralis), yang berartikulasi dengan condylus medialis dan lateralis femur,
dipisahkan oleh cartilago semilunaris medialis dan lateralis (meniscus medialis
dan lateralis). Yang memisahkan permukaan atas sendi condylus tibialis adalah
area intercondylaris anterior dan posterior; diantara kedua area ini terdapat
eminentia intercondylaris. Condylus lateralis memiliki facies artikularis circularis
untuk caput fibulae pada aspek lateralnya. Condylus medialis mempunyai sebuah
alur pada aspek posteriornya untuk insersio m. Semimembranosus.
Corpus tibia berbentuk segitiga pada potongan melintang, dengan tiga
batas (margo) dan tiga permukaan (facies). Yakni, facies lateralis, facies medialis
dan facies posterior. serta tiga buah tepi yaitu margo anterior , margo medialis,
margo interosseus. Pada pertemuan margo anterior dengan ujung atas tibia
terdapat tuberositas, yang menjadi tempat melekat lig. Pattelae. Margo anterior
membulat dibagian bawah, tempat ia menyatu dengan malleolus medialis. Margo
lateral atau interossea menjadi tempat perlekatan membrana interossea. Ujung
bawah tibia sedikit melebar dan pada aspek inferiornya tampak sebuah permukaan
sendi berbentuk pelana untuk talus. Ujung bawahnya memanjang ke bawah
membentuk malleolus medialis. Facies lateralis malleolus medialis berartikulasi
dengan talus. Ujung bawah tibia memiliki lekukan lebar dan kasar pada
permukaan lateralnya untuk berartikulasi dengan fibula.

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 8

Gambar 5. Anatomi Tibia-Fibula

Gambar 1. Anatomi Os Tiibia et Fibula

Gambar 2. Potongan Transversa tulang panjang

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 9

Definisi
Ostemomielitis adalah suatu proses inflamasi akut maupun kronik pada tulang dan
struktur disekitarnya yang disebabkan oleh organisme piogenik. Dalam kepustakaan
lain dinyatakan bahwa osteomielitis adalah radang tulang yang disebabkan oleh
organisme piogenik, walaupun berbagai agen infeksi lain juga dapat menyebabkannya.
Ini dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar melalui tulang, melibatkan sumsum,
korteks, jaringan kanselosa dan periosteum. Sekitar 50 % kasus terjadi pada anak-anak
prasekolah - usia. tetapi dapat pula ditemukan pada bayi dan neonatus. Anak-anak
mengalami osteomielitis hematogen akut terutama karena tulang tumbuh mereka kaya
pasokan vaskular. Organisme yang beredar cenderung mulai infeksi di ujung metafisis
tulang panjang karena sirkulasi lamban dalam loop metaphyseal kapiler. Kehadiran
koneksi vaskular antara metafisis dan epifisis membuat bayi rentan terhadap arthritis
dari sendi yang berdekatan. Jika tidak diobati, infeksi juga bisa menyebar ke ruang
subperiosteal setelah melintasi korteks.
Sistem klasifikasi telah digunakan untuk mendeskripsikan ostemielitis. Sistem
tradisional membagi infeksi tulang menurut durasi dari timbulnya gejala : akut, subakut,
dan kronik. Osteomielitis akut diidentifikasi dengan adanya onset penyakit dalam 7- 14
hari. Infeksi akut umumnya berhubungan dengan proses hematogen pada anak. Namun,
pada dewasa juga dapat berkembang infeksi hematogen akut khususnya setelah
pemasangan prosthesa dan sebagainya. Durasi dari osteomielitis subakut adalah 14 hari
sejak timbulnya gejala. Sedangkan osteomielitis kronik merupakan infeksi tulang yang
perjalanan klinisnya 1 bulan setelah gejala.
A.

Osteomielitis hematogenik akut

Osteomielitis akut hematogen merupakan infeksi serius yang biasanya terjadi pada
tulang yang sedang tumbuh. Penyakit ini disebut sebagai osteomielitis primer karena
kuman penyebab infeksi masuk ke tubuh secara langsung dari infeksi lokal di daerah
orofaring, telinga, gigi, atau kulit secara hematogen.
Pada awalnya terjadi fokus inflamasi kecil di daerah metafisis tulang panjang.
Jaringan tulang tidak dapat meregang, maka proses inflamasi akan menyebabkan
peningkatan tekanan intraoseus yang menghalangi aliran darah lebih lanjut. Akibatnya
jaringan tulang tersebut mengalami iskemi dan nekrosis. Bila terapi tidak memadai,
osteolisis akan terus berlangsung sehingga kuman dapat menyebar keluar ke sendi dan
sirkulasi sistemik dan menyebabkan sepsis. Penyebaran ke arah dalam akan
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 10

menyebabkan infeksi medula dan dapat terjadi abses yang akan mencari jalan keluar
sehingga membentuk fistel. Bagian tulang yang mati akan terlepas dari tulang yang
hidup dan disebut sebagai sekuester. Sekuester meninggalkan rongga yang secara
perlahan membentuk dinding tulang baru yang terus menguat untuk mempertahankan
biomekanika tulang. Rongga ditengah tulang ini disebut involukrum.
Gejala klinis osteomielitis akut sangat cepat, diawali dengan nyeri lokal hebat
yang terasa berdenyut. Pada anamnesis sering dikaitkan dengan riwayat jatuh
sebelumnya disertai gangguan gerak yang disebut pseudoparalisis. Dalam 24 jam akan
muncul gejala sistemik berupa seperti demam, malaise, gelisah, dan anoreksia. Nyeri
terus menghebat dan disertai pembengkakan. Setelah beberapa hari, infeksi yang keluar
dari tulang dan mencapai subkutan akan menimbulkan selulitis sehingga kulit akan
menjadi kemerahan. Oleh karenanya, setiap selulitis pada bayi sebaiknya dicurigai dan
diterapi sebagai osteomielitis sampai terbukti sebaliknya.
Gejala umum dari osteomielitis meliputi :

Demam yang memiliki onset tiba-tiba tinggi

Kelelahan

Rasa tidak nyaman

Irritabilitas

Keterbatasan gerak (pseudoparalisis anggota badan pada neonates)

Edema lokal, eritema dan nyeri.

B.

Osteomielitis Subakut.

Infeksi subakut biasanya berhubungan dengan pasien pediatrik. Infeksi ini


biasanya disebabkan oleh organisme dengan virulensi rendah dan tidak memiliki gejala.
Osteomielitis subakut memiliki gambaran radiologis yang merupakan kombinasi dari
gambaran akut dan kronis. Seperti osteomielitis akut, maka ditemukan adanya osteolisis
dan elevasi periosteal. Seperti osteomielitis kronik, maka ditemukan adanya zona
sirkumferensial tulang yang sklerotik. Apabila osteomielitis subakut mengenai diafisis
tulang panjang, maka akan sulit membedakannya dengan Histiositosis Langerhans atau
Ewings Sarcoma.
.C.

Osteomielitis Kronik.

Osteomielitis kronis merupakan hasil dari osteomielitis akut dan subakut yang
tidak diobati. Kondisi ini dapat terjadi secara hematogen, iatrogenik, atau akibat dari
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 11

trauma tembus. Infeksi kronis seringkali berhubungan dengan implan logam ortopedi
yang digunakan untuk mereposisi tulang. Inokulasi langsung intraoperatif atau
perkembangan hematogenik dari logam atau permukaan tulang mati merupakan tempat
perkembangan bakteri yang baik karena dapat melindunginya dari leukosit dan
antibiotik. Pada hal ini, pengangkatan implan dan tulang mati tersebut harus dilakukan
untuk mencegah infeksi lebih jauh lagi. Gejala klinisnya dapat berupa ulkus yang tidak
kunjung sembuh, adanya drainase pus atau fistel, malaise, dan fatigue. Penderita
osteomielitis kronik mengeluhkan nyeri lokal yang hilang timbul disertai demam dan
adanya cairan yang keluar dari suatu luka pascaoperasi atau bekas patah tulang.
Pemeriksaan rongent memperlihatkan gambaran sekuester dan penulangan baru.
Gejala Osteomielitis kronik :

Ulkus yang tidak sembuh

Drainase saluran sinus

Kelelahan kronik

Rasa tidak nyaman

Pada pemeriksaan fisik didapatkan :

Demam (terdapat pada 50% dari neonates)

Edema

Teraba hangat

Fluktuasi

Penurunan dalam penggunaan ekstremitas (misalnya ketidakmampuan


dalam berjalan jika tungkai bawah yang terlibat atau terdapat pseudoparalisis
anggota badan pada neonatus).

Kegagalan pada anak-anak untuk berdiri secara normal.

Drainase saluran sinus (biasanya ditamukan pada stadium lanjut atau jika
terjadi infeksi kronis).

Sistem

klasifikasi

lainnya

mengkategorisasikan

infeksi

muskuloskeletal

berdasarkan etiologi dan kronisitasnya : hematogen dan penyebaran kontinyu (dengan


atau tanpa penyakit vaskular). Penyebaran infeksi hematogen dan kontinyu dapat
bersifat akut meskipun penyebaran kontinyu berhubungan dengan adanya trauma atau
infeksi lokal jaringan lunak yang sudah ada sebelumnya. 1,3

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 12

Pada awal penyakit, gejala sistemik seperti febris, anoreksia, dan malaise
menonjol, sedangkan gejala lokal seperti pembengkakan atau selulitis belum tampak.
Nyeri spontan lokal yang mungkin disertai nyeri tekan dan sedikit pembengkakan serta
kesukaran gerak dari ekstremitas yang terkena, merupakan gejala osteomielitis
hematogen akut. Pada anak-anak yang kecil, seringkali sulit untuk mengetahui lokasi
nyeri, sementara di anak-anak yang lebih tua itu biasanya lebih terlokalisasi. lokasi
yang paling sering terlibat adalah tulang panjang anggota badan yang lebih rendah,
sehingga anak-anak sering datang dengan pincang. 3
Pada pemeriksaan fisik pastinya berhubungan dengan gejala yang terjadi secara
sistemik dan secara lokal. Pemeriksaan dapat ditemukan gejala edema dengan tandatanda kardinal inflamasi pada bagian yang terinfeksi dengan atau tanpa demam dan
nyeri tekan, pengurangan penggunaan ekstremitas. pada pemeriksaan mungkin bisa di
dapatkan respon inflamasi reaktif atau tanda sendi yang terinfeksi. Drainase dari tulang
ke kulit dan deformitas tulang, keduanya jarang pada penyakit akut. Ketika ditemukan,
gejala ini menunjukkan subakut atau osteomielitis kronis.1,2
Etiologi
Pada dasarnya, semua jenis organisme, termasuk virus, parasit, jamur, dan
bakteri, dapat menghasilkan osteomielitis, tetapi paling sering disebabkan oleh
bakteri piogenik tertentu dan mikobakteri. Penyebab osteomielitis pyogenik adalah
kuman Staphylococcusaureus(89-90%), Escherichia coli,Pseudomonas, dan Klebsiella.
Patogenesis
Infeksi dalam sistem muskuloskeletal dapat berkembang melalui beberapa cara.
Kuman dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka penetrasi langsung, melalui
penyebaran hematogen dari situs infeksi didekatnya ataupun dari struktur lain yang
jauh, atau selama pembedahan dimana jaringan tubuh terpapar dengan lingkungan
sekitarnya.1,2
Osteomielitis hematogen adalah penyakit masa kanak-kanak yang biasanya timbul
antara usia 5 dan 15 tahun.Ujung metafisis tulang panjang merupakan tempat predileksi
untuk osteomielitis hematogen. Diperkirakan bahwa end-artery dari pembuluh darah
yang menutrisinya bermuara pada vena-vena sinusoidal yang berukuran jauh lebih
besar, sehingga menyebabkan terjadinya aliran darah yang lambat dan berturbulensi
pada tempat ini. Kondisi ini mempredisposisikan bakteri untuk bermigrasi melalu celah
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 13

pada endotel dan melekat pada matriks tulang. Selain itu, rendahnya tekanan oksigen
pada daerah ini juga akan menurunkan aktivitas fagositik dari sel darah putih. Dengan
maturasi, ada osifikasi total lempeng fiseal dan ciri aliran darah yang lamban tidak ada
lagi. Sehingga osteomielitis hematogen pada orang dewasa merupakan suatu kejadian
yang jarang terjadi.1,2
Infeksi hematogen ini akan menyebabkan terjadinya trombosis pembuluh darah
lokal yang pada akhirnya menciptakan suatu area nekrosis avaskular yang kemudian
berkembang menjadi abses. Akumulasi pus dan peningkatan tekanan lokal akan
menyebarkan pus hingga ke korteks melalui sistem Havers dan kanal Volkmann hingga
terkumpul dibawah periosteum menimbulkan rasa nyeri lokalisata di atas daerah
infeksi. Abses subperiosteal kemudian akan menstimulasi pembentukan involukrum
periosteal (fase kronis). Apabila pus keluar dari korteks, pus tersebut akan dapat
menembus soft tissues disekitarnya hingga ke permukaan kulit, membentuk suatu sinus
drainase.
Berdasarkan teori penyebab osteomielitis bisa dikarenakan faktor trauma, hal ini
berkaitan dengan jejas yang ditimbulkan pasca trauma yang menyebabkan gangguan
metabolisme ditulang sehingga suplai aliran darah untuk menutrisi bagian metafisis dari
tulang terganggu yang dapat menyebabkan munculnya proses inflamasi dari dalam
tubuh.
Pemeriksaan penunjang:
a.

Pemeriksaan darah lengkap:


Jumlah leukosit mungkin tinggi, tetapi sering normal. Adanya pergeseran ke

kiri biasanya disertai dengan peningkatan jumlah leukosit PMN. Tingkat C-reaktif
protein biasanya tinggi dan nonspesifik; laju endapan darah (LED) dapat
menunjukan adanya peningkatan LED pada permulaan. LED biasanya
meningkat (90%), namun temuan ini secara klinis tidak spesifik. CRP dan
LED memiliki peran terbatas dalam menentukan osteomielitis kronis seringkali
didapatkan hasil yang normal
b.

Kultur
Kultur dari luka superficial atau saluran sinus sering tidak berkorelasi

dengan bakteri yang menyebabkan osteomielitis dan memiliki penggunaan yang


terbatas. Darah hasil kultur, positif pada sekitar 50% pasien dengan osteomielitis
hematogen. Bagaimanapun, kultur darah positif mungkin menghalangi kebutuhan
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 14

untuk prosedur invasif lebih lanjut untuk mengisolasi organisme. Kultur tulang
dari biopsi atau aspirasi memiliki hasil diagnostik sekitar 77% pada semua studi.
C. Radiologi
Pemeriksaan penunjang dapat membantu menegakan diagnosis. Dalam
osteomielitis pada ekstremitas, foto radiografi polos adalah alat pemeriksaan
utama. Bukti radiograf dari osteomielitis tidak akan muncul sampai kira-kira dua
minggu setelah onset dari infeksi.
Kuman biasanya bersarang dalam spongiosa metafisis dan membentuk pus
sehingga timbul abses. Pus menjalar ke arah diafisis dan korteks, mengangkat
periost dan kadang-kadang menembusnya. Pus meluas di daerah periost dan pada
tempat-tempat tertentu membentuk fokus skunder. Nekrosis tulang yang timbul
dapat luas dan terbentuk sekuester. Periosteum yang terangkat oleh pus kemudian
akan membentuk tulang di bawahnya, yang dikenal sebagai reaksi periosteal. Juga
di dalam tulang itu sendiri dibentuk tulang baru, baik pada trabekula dan korteks,
sehingga tulang terlihat lebih opak dan dikenal sebagai sklerosis. Tulang yang
dibentuk di bawah periost ini membentuk bungkus bagi tulang yang lama dan
disebut involukrum. Involukrum ini pada berbagai tempat terdapat lubang tempat
pus keluar, yang disebut kloaka.4
Seringkali reaksi periosteal yang terlihat lebih dahulu, baru kemudian terlihat
daerah-daerah yang berdensitas lebih rendah pada tulang yang menunjukkan
adanya dekstruksi tulang, dan Pada osteomielitis kronik tulang akan menjadi tebal
dan sklerotik dengan gambaran hilangnya batas antara korteks dan medula. Dalam
tulang yang terinfeksi akan terdapat sekuestra dan area destruksi.4
c.

MRI
MRI efektif dalam deteksi dini dan lokalisasi operasi osteomyelitis.Penelitian

telah menunjukkan keunggulannya dibandingkan dengan radiografi polos, CT,


dan scanning radionuklida dan dianggap sebagai pencitraan pilihan. Sensitivitas
berkisar antara 90-100%.4 Namun pada pasien tidak dilakukan
d.

CT scan
CT scan dapat menggambarkan kalsifikasi abnormal,pengerasan,dan kelainan

intracortical. Hal ini tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin untuk


mendiagnosis osteomyelitis tetapi sering menjadi pilihan pencitraan ketika
MRI tidak tersedia. 4
e.

Ultrasonografi

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 15

Teknik sederhana dan murah telah menjanjikan, terutama pada anak dengan
osteomielitis akut. Ultrasonografi dapat menunjukkan perubahan sejak 1-2 hari
setelah

timbulnya

gejala.

Kelainan

termasuk abses jaringan

lunak atau

kumpulan cairan dan elevasi periosteal. Ultrasonografi memungkinkan untuk


petunjuk ultrasound aspirasi. Tidak memungkinkan untuk evaluasi korteks
tulang.4

Terapi
Osteomielitis akut harus diobati segera. Biakan darah diambil dan pemberian
antibiotika intravena dimulai tanpa menunggu hasil biakan. Karena Staphylococcus
merupakan kuman penyebab tersering, maka antibiotika yang dipilih harus memiliki
spektrum antistafilokokus. Jika biakan darah negatif, maka diperlukan aspirasi
subperiosteum atau aspirasi intramedula pada tulang yang terlibat. Pasien diharuskan
untuk tirah baring, keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan, diberikan
antipiretik bila demam, dan ekstremitas diimobilisasi dengan gips. Perbaikan klinis
biasanya terlihat dalam 24 jam setelah pemberian antibiotika. Jika tidak ditemukan
perbaikan, maka diperlukan intervensi bedah.
Osteomielitis akut harus diobati segera. Biakan darah diambil dan pemberian
antibiotika intravena dimulai tanpa menunggu hasil biakan. Karena Staphylococcus
merupakan kuman penyebab tersering, maka antibiotika yang dipilih harus memiliki
spektrum antistafilokokus. Jika biakan darah negatif, maka diperlukan aspirasi
subperiosteum atau aspirasi intramedula pada tulang yang terlibat, diberikan antipiretik
bila demam. Perbaikan klinis biasanya terlihat dalam 24 jam setelah pemberian
antibiotika. Jika tidak ditemukan perbaikan, maka diperlukan intervensi bedah. 2,3 Terapi
antibiotik biasanya diteruskan hingga 6 minggu pada pasien dengan osteomielitis. LED
dan CRP sebaiknya diperiksa secara serial setiap minggu untuk memantau keberhasilan
terapi. Pasien dengan peningkatan LED dan CRP yang persisten pada masa akhir
pemberian antibiotik yang direncanakan mungkin memiliki infeksi yang tidak dapat
ditatalaksana secara komplit. Idealnya, eksplorasi bedah harus dilakukan pada pasien ini
untuk menentukan apakah dibutuhkan terapi tambahan. 2
Penangan osteomielitis kronik yaitu debridemant untuk mengeluarkan jaringan
nekrotik dalam ruang sekuester, dan penyaliran nanah. Pasien juga diberikan antibiotik
yang sesuai dengan hasil kultur. Involukrum belum cukup kuat untuk menggantikan
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 16

tulang asli yang telah hancur menjadi sekuester sehingga ekstrimitas yang sakit harus
dilindungi oleh gips untuk mencegah patah tulang patologik, dan debridement serta
sekuesterektomi ditunda sampai involukrum menjadi kuat.
Pada fraktur terbuka, semua soft tissues yang mati dan semua fragmen tulang
bebas harus dibersihkan dari luka. Kulit, lemak subkutan, dan otot harus didebridemen
secara tajam hingga berdarah. Untuk mendeteksi viabilitas dari cancellous bone,
ditandai dengan adanya perdarahan dari permukaan trabekula. 4
Untuk managemen awal pasca operasi dapat diberikan spalk atau imobilisasi: Hal Ini
mungkin diperlukan untuk imobilisasi tulang yang terkena dan sendi terdekat untuk
menghindari trauma lebih lanjut dan untuk membantu daerah infeksi untuk sembuh
secepat mungkin. spalk dan imobilisasi sering dilakukan pada anak-anak. Beberapa
pertimbangan sehingga tidak dilakukan pemasangan spalk yaitu karena pada kontrol
awal penting untuk mencegah kekakuan dan atrofi.

IV. DISKUSI
Definisi
Ostemomielitis adalah suatu proses inflamasi akut maupun kronik pada tulang dan
struktur disekitarnya yang disebabkan oleh organisme piogenik. Dalam kepustakaan
lain dinyatakan bahwa osteomielitis adalah radang tulang yang disebabkan oleh
organisme piogenik, walaupun berbagai agen infeksi lain juga dapat menyebabkannya.
Ini dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar melalui tulang, melibatkan sumsum,
korteks, jaringan kanselosa dan periosteum.
Pasien ini pernah mengalami infeksi (bisul) pada tungkai kiri yang dialami sejak 3
tahun lalu, dan sejak saat itu tungkai kiri pasien mengalami inflamasi yang
menyebabkan pasien terus mengeluhkan nyeri. Inflamasi ini diduga terjadi akibat
adanya riwayat furunkel pada pasien, yang mana diketahui dari anamnesis bahwa
penyembuhan furunkel ini cukup lama. Hal ini bisa menjadi salah satu risiko pasien
akhirnya mengalami inflamasi pada tulang.
Sekitar 50 % kasus terjadi pada anak-anak prasekolah - usia. tetapi dapat pula
ditemukan pada bayi dan neonatus. anak-anak mengalami osteomielitis hematogen akut
terutama karena tulang tumbuh mereka kaya pasokan vaskular. organisme yang beredar
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 17

cenderung mulai infeksi di ujung metafisis tulang panjang karena sirkulasi lamban
dalam loop metaphyseal kapiler. Kehadiran koneksi vaskular antara metafisis dan
epifisis membuat bayi rentan terhadap arthritis dari sendi yang berdekatan. Jika tidak
diobati, infeksi juga bisa menyebar ke ruang subperiosteal setelah melintasi korteks.
Berdasarkan data yang ada, maka pada kasus ini sudah sesuai teori dimana angka
kejadian paling tinggi menyerang anak-anak sama seperti pada kasus. Dan tulang yang
terkena adalah tulang panjang karena sedang dalam proses pertumbuhan dan kaya akan
pembuluh darah.
Sistem klasifikasi telah digunakan untuk mendeskripsikan ostemielitis. Sistem
tradisional membagi infeksi tulang menurut durasi dari timbulnya gejala : akut, subakut,
dan kronik. Osteomielitis akut diidentifikasi dengan adanya onset penyakit dalam 7- 14
hari. Infeksi akut umumnya berhubungan dengan proses hematogen pada anak. Namun,
pada dewasa juga dapat berkembang infeksi hematogen akut khususnya setelah
pemasangan prosthesa dan sebagainya. Durasi dari osteomielitis subakut adalah 14 hari
sejak timbulnya gejala. Sedangkan osteomielitis kronik merupakan infeksi tulang yang
perjalanan klinisnya 1 bulan setelah gejala.
A.

Osteomielitis hematogenik akut

Osteomielitis akut hematogen merupakan infeksi serius yang biasanya terjadi pada
tulang yang sedang tumbuh. Penyakit ini disebut sebagai osteomielitis primer karena
kuman penyebab infeksi masuk ke tubuh secara langsung dari infeksi lokal di daerah
orofaring, telinga, gigi, atau kulit secara hematogen.
Pada awalnya terjadi fokus inflamasi kecil di daerah metafisis tulang panjang.
Jaringan tulang tidak dapat meregang, maka proses inflamasi akan menyebabkan
peningkatan tekanan intraoseus yang menghalangi aliran darah lebih lanjut. Akibatnya
jaringan tulang tersebut mengalami iskemi dan nekrosis. Bila terapi tidak memadai,
osteolisis akan terus berlangsung sehingga kuman dapat menyebar keluar ke sendi dan
sirkulasi sistemik dan menyebabkan sepsis. Penyebaran ke arah dalam akan
menyebabkan infeksi medula dan dapat terjadi abses yang akan mencari jalan keluar
sehingga membentuk fistel. Bagian tulang yang mati akan terlepas dari tulang yang
hidup dan disebut sebagai sekuester. Sekuester meninggalkan rongga yang secara
perlahan membentuk dinding tulang baru yang terus menguat untuk mempertahankan
biomekanika tulang. Rongga ditengah tulang ini disebut involukrum.

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 18

Gejala klinis osteomielitis akut sangat cepat, diawali dengan nyeri lokal hebat
yang terasa berdenyut. Pada anamnesis sering dikaitkan dengan riwayat jatuh
sebelumnya disertai gangguan gerak yang disebut pseudoparalisis. Dalam 24 jam akan
muncul gejala sistemik berupa seperti demam, malaise, cengeng, dan anoreksia. Nyeri
terus menghebat dan disertai pembengkakan. Setelah beberapa hari, infeksi yang keluar
dari tulang dan mencapai subkutan akan menimbulkan selulitis sehingga kulit akan
menjadi kemerahan. Oleh karenanya, setiap selulitis pada bayi sebaiknya dicurigai dan
diterapi sebagai osteomielitis sampai terbukti sebaliknya.
Gejala umum dari osteomielitis meliputi :
a.

Osteomielitis hematogenus tulang panjang

Demam yang memiliki onset tiba-tiba tinggi (demam hanya terdapat

dalam 50% dari osteomielitis pada neonates)

Kelelahan

Rasa tidak nyaman

Irritabilitas

Keterbatasan gerak (pseudoparalisis anggota badan pada neonates)

Edema lokal, eritema dan nyeri.

B.

Osteomielitis Subakut.

Infeksi subakut biasanya berhubungan dengan pasien pediatrik. Infeksi ini


biasanya disebabkan oleh organisme dengan virulensi rendah dan tidak memiliki gejala.
Osteomielitis subakut memiliki gambaran radiologis yang merupakan kombinasi dari
gambaran akut dan kronis. Seperti osteomielitis akut, maka ditemukan adanya osteolisis
dan elevasi periosteal. Seperti osteomielitis kronik, maka ditemukan adanya zona
sirkumferensial tulang yang sklerotik. Apabila osteomielitis subakut mengenai diafisis
tulang panjang, maka akan sulit membedakannya dengan Histiositosis Langerhans atau
Ewings Sarcoma.
.C.

Osteomielitis Kronik.

Osteomielitis kronis merupakan hasil dari osteomielitis akut dan subakut yang
tidak diobati. Kondisi ini dapat terjadi secara hematogen, iatrogenik, atau akibat dari
trauma tembus. Infeksi kronis seringkali berhubungan dengan implan logam ortopedi
yang digunakan untuk mereposisi tulang. Inokulasi langsung intraoperatif atau
perkembangan hematogenik dari logam atau permukaan tulang mati merupakan tempat
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 19

perkembangan bakteri yang baik karena dapat melindunginya dari leukosit dan
antibiotik. Pada hal ini, pengangkatan implan dan tulang mati tersebut harus dilakukan
untuk mencegah infeksi lebih jauh lagi. Gejala klinisnya dapat berupa ulkus yang tidak
kunjung sembuh, adanya drainase pus atau fistel, malaise, dan fatigue. Penderita
osteomielitis kronik mengeluhkan nyeri lokal yang hilang timbul disertai demam dan
adanya cairan yang keluar dari suatu luka pascaoperasi atau bekas patah tulang.
Pemeriksaan rongent memperlihatkan gambaran sekuester dan penulangan baru.
Gejala Osteomielitis kronik :

Ulkus yang tidak sembuh

Drainase saluran sinus

Kelelahan kronik

Rasa tidak nyaman

Pada pemeriksaan fisik didapatkan :

Demam (terdapat pada 50% dari neonates)

Edema

Teraba hangat

Fluktuasi

Penurunan dalam penggunaan ekstremitas (misalnya ketidakmampuan


dalam berjalan jika tungkai bawah yang terlibat atau terdapat pseudoparalisis
anggota badan pada neonatus).

Kegagalan pada anak-anak untuk berdiri secara normal.

Drainase saluran sinus (biasanya ditemukan pada stadium lanjut atau jika
terjadi infeksi kronis).

Sistem

klasifikasi

lainnya

mengkategorisasikan

infeksi

muskuloskeletal

berdasarkan etiologi dan kronisitasnya : hematogen, penyebaran kontinyu (dengan atau


tanpa penyakit vaskular) dan. Penyebaran infeksi hematogen dan kontinyu dapat
bersifat akut meskipun penyebaran kontinyu berhubungan dengan adanya trauma atau
infeksi lokal jaringan lunak yang sudah ada sebelumnya.

1,3

Pada kasus ini,

kemungkinan penyebaran terjadinya osteomielitis diakibatkan karena penyebaran yang


kontinyu, yang mana pada penyebaran kontinyu akan didahului adanya trauma ataupun
infeksi lokal. Berdasarkan lamanya perjalanan klinis dari pasien maka kasus pasien ini
tergolong dalam osteomielitis kronik, yaitu dengan lamanya perjalanan klinis > 1 bulan.

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 20

Pada awal penyakit, gejala sistemik seperti febris, anoreksia, dan malaise
menonjol, sedangkan gejala lokal seperti pembengkakan atau selulitis belum tampak.
Nyeri spontan lokal yang mungkin disertai nyeri tekan dan sedikit pembengkakan serta
kesukaran gerak dari ekstremitas yang terkena, merupakan gejala osteomielitis
hematogen akut. Pada anak-anak yang kecil, seringkali sulit untuk mengetahui lokasi
nyeri, sementara di anak-anak yang lebih tua itu biasanya lebih terlokalisasi. lokasi
yang paling sering terlibat adalah tulang panjang anggota badan yang lebih rendah,
sehingga anak-anak sering datang dengan pincang. 3
Pada pasien gejala muncul sejak 3 tahun yang lalu yang diawali dengan adanya
furunkel. Furunkel ini sembuh setelah lebih dari 2 minggu, namun setelah itu pasien
mulai sering mengeluhkan nyeri pada daerah bekas furunkel. Selain nyeri pasien juga
merasa panas dan bengkak pada tempat tersebut. Nyeri ini akan hilang apabila pasien
mengonsumsi obat antinyeri dari puskesmas. Seiring berjalannya waktu keluhan ini
bertambah, dan bengkak terjadi pada seluruh regio cruris sinistra, dan akhirnya keluhan
ini menyebabkan pasien kesulitan untuk berjalan. Pasien juga sering mengeluhkan
demam. Pada anak anak, seringkali orang tua baru menyadari setelah anak tampak
tidak mau menggunakan salah satu anggota geraknya atau tidak mau disentuh. Mungkin
saja sebelumnya didapatkan riwayat infeksi seperti kaki yang terluka, nyeri
tenggorokan, atau keluarnya cairan dari telinga. 1,2,3
Pada pemeriksaan fisik pastinya berhubungan dengan gejala yang terjadi secara
sistemik dan secara lokal. Pemeriksaan dapat ditemukan gejala edema dengan tandatanda kardinal inflamasi pada bagian yang terinfeksi dengan atau tanpa demam dan
nyeri tekan, pengurangan penggunaan ekstremitas. pada pemeriksaan mungkin bisa di
dapatkan respon inflamasi reaktif atau tanda sendi yang terinfeksi. Drainase dari tulang
ke kulit dan deformitas tulang, keduanya jarang pada penyakit akut. Ketika ditemukan,
gejala ini menunjukkan subakut atau osteomielitis kronis.1,2
Pemeriksaan fisik pada pasien, lokasi infeksi fibula proximal sampai distal
ditemukan tanda radang, edema lokal pada daerah infeksi, tampak hiperemis, pada
perabaan didapatkan Nyeri tekan, suhu lebih hangat dari sekitarnya. Pergerakan dari
sendi yang berdekatan yaitu pada artikulasio Talocrural sinistra tidak terbatas. Namun
pasien sulit berjalan karena nyeri saat terjadi penekanan di kaki pasien. Pada pasien,
tidak didapatkan demam saat ini, demam hanya didapatkan saat fase akut yaitu pada
saat pertama kali muncul penyakit.1,2

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 21

Etiologi
Pada dasarnya, semua jenis organisme, termasuk virus, parasit, jamur, dan
bakteri, dapat menghasilkan osteomielitis, tetapi paling sering disebabkan oleh
bakteri piogenik tertentu dan mikobakteri. Penyebab osteomielitis pyogenik adalah
kuman Staphylococcusaureus(89-90%), Escherichia coli,Pseudomonas, dan Klebsiella.
Pada pasien ini telah dilakukan permintaan kultur namun petugas dari ruangan rawat
inap tidak melakukan.

Patogenesis
Infeksi dalam sistem muskuloskeletal dapat berkembang melalui beberapa cara.
Kuman dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka penetrasi langsung, melalui
penyebaran hematogen dari situs infeksi didekatnya ataupun dari struktur lain yang
jauh, atau selama pembedahan dimana jaringan tubuh terpapar dengan lingkungan
sekitarnya.1,2
Osteomielitis hematogen adalah penyakit masa kanak-kanak yang biasanya timbul
antara usia 5 dan 15 tahun.Ujung metafisis tulang panjang merupakan tempat predileksi
untuk osteomielitis hematogen. Diperkirakan bahwa end-artery dari pembuluh darah
yang menutrisinya bermuara pada vena-vena sinusoidal yang berukuran jauh lebih
besar, sehingga menyebabkan terjadinya aliran darah yang lambat dan berturbulensi
pada tempat ini. Kondisi ini mempredisposisikan bakteri untuk bermigrasi melalu celah
pada endotel dan melekat pada matriks tulang. Selain itu, rendahnya tekanan oksigen
pada daerah ini juga akan menurunkan aktivitas fagositik dari sel darah putih. Dengan
maturasi, ada osifikasi total lempeng fiseal dan ciri aliran darah yang lamban tidak ada
lagi. Sehingga osteomielitis hematogen pada orang dewasa merupakan suatu kejadian
yang jarang terjadi.1,2
Infeksi hematogen ini akan menyebabkan terjadinya trombosis pembuluh darah
lokal yang pada akhirnya menciptakan suatu area nekrosis avaskular yang kemudian
berkembang menjadi abses. Akumulasi pus dan peningkatan tekanan lokal akan
menyebarkan pus hingga ke korteks melalui sistem Havers dan kanal Volkmann hingga
terkumpul dibawah periosteum menimbulkan rasa nyeri lokalisata di atas daerah
infeksi. Abses subperiosteal kemudian akan menstimulasi pembentukan involukrum
periosteal (fase kronis). Apabila pus keluar dari korteks, pus tersebut akan dapat
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 22

menembus soft tissues disekitarnya hingga ke permukaan kulit, membentuk suatu sinus
drainase.
Berdasarkan teori penyebab osteomielitis bisa dikarenakan faktor trauma, hal ini
berkaitan dengan jejas yang ditimbulkan pasca trauma yang menyebabkan gangguan
metabolisme ditulang sehingga suplai aliran darah untuk menutrisi bagian metafisis dari
tulang terganggu yang dapat menyebabkan munculnya proses inflamasi dari dalam
tubuh.
Pemeriksaan penunjang:
a.

Pemeriksaan darah lengkap:


Jumlah leukosit mungkin tinggi, tetapi sering normal. Adanya pergeseran ke

kiri biasanya disertai dengan peningkatan jumlah leukosit PMN. Tingkat C-reaktif
protein biasanya tinggi dan nonspesifik; laju endapan darah (LED) dapat
menunjukan adanya peningkatan LED pada permulaan. LED biasanya
meningkat (90%), namun temuan ini secara klinis tidak spesifik. CRP dan
LED memiliki peran terbatas dalam menentukan osteomielitis kronis seringkali
didapatkan hasil yang normal. Pada pasien didapatkan hitung leukosit tidak ada
peningkatan bermakna, namun hasil pemeriksaan LED terdapat peningkatan dan
menunjukan adanya inflamasi /infeksi.
b.

Kultur
Kultur dari luka superficial atau saluran sinus sering tidak berkorelasi

dengan bakteri yang menyebabkan osteomielitis dan memiliki penggunaan yang


terbatas. Darah hasil kultur, positif pada sekitar 50% pasien dengan osteomielitis
hematogen. Bagaimanapun, kultur darah positif mungkin menghalangi kebutuhan
untuk prosedur invasif lebih lanjut untuk mengisolasi organisme. Kultur tulang
dari biopsi atau aspirasi memiliki hasil diagnostik sekitar 77% pada semua studi.
Pada pasien ini telah dilakukan permintaan kultur namun petugas dari ruangan
rawat inap tidak melakukan.
c.

Radiologi
Pemeriksaan penunjang dapat membantu menegakan diagnosis. Dalam

osteomielitis pada ekstremitas, foto radiografi polos adalah alat pemeriksaan


utama. Bukti radiograf dari osteomielitis tidak akan muncul sampai kira-kira dua
minggu setelah onset dari infeksi.

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 23

Kuman biasanya bersarang dalam spongiosa metafisis dan membentuk pus


sehingga timbul abses. Pus menjalar ke arah diafisis dan korteks, mengangkat
periost dan kadang-kadang menembusnya. Pus meluas di daerah periost dan pada
tempat-tempat tertentu membentuk fokus skunder. Nekrosis tulang yang timbul
dapat luas dan terbentuk sekuester. Periost yang terangkat oleh pus kemudian akan
membentuk tulang di bawahnya, yang dikenal sebagai reaksi periosteal. Juga di
dalam tulang itu sendiri dibentuk tulang baru, baik pada trabekula dan korteks,
sehingga tulang terlihat lebih opak dan dikenal sebagai sklerosis. Tulang yang
dibentuk di bawah periost ini membentuk bungkus bagi tulang yang lama dan
disebut involukrum. Involukrum ini pada berbagai tempat terdapat lubang tempat
pus keluar, yang disebut kloaka.4
Seringkali reaksi periosteal yang terlihat lebih dahulu, baru kemudian terlihat
daerah-daerah yang berdensitas lebih rendah pada tulang yang menunjukkan
adanya dekstruksi tulang, dan Pada osteomielitis kronik tulang akan menjadi tebal
dan sklerotik dengan gambaran hilangnya batas antara korteks dan medula. Dalam
tulang yang terinfeksi akan terdapat sekuestra dan area destruksi.4
Pada pasien telah dilakukan foto cruris AP dan didapatkan hasil terlihat
adanya osteosklerosis, diameter tulang fibula yang membesar, kontur tulang tidak
rata dan korteks menebal. Terdapat proses destruksi (osteolitik), dan terlihat
sekuestrum. Kesimpulan foto adalah osteomielitis fibula sinistra.
4.

MRI
MRI efektif dalam deteksi dini dan lokalisasi operasi osteomyelitis.Penelitian

telah menunjukkan keunggulannya dibandingkan dengan radiografi polos, CT,


dan scanning radionuklida dan dianggap sebagai pencitraan pilihan. Sensitivitas
berkisar antara 90-100%.4 Namun pada pasien tidak dilakukan
5.

CT scan
CT scan dapat menggambarkan kalsifikasi abnormal,pengerasan,dan kelainan

intracortical. Hal ini tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin untuk


mendiagnosis osteomyelitis tetapi sering menjadi pilihan pencitraan ketika
MRI tidak tersedia. 4
6.

Ultrasonografi
Teknik sederhana dan murah telah menjanjikan, terutama pada anak dengan

osteomielitis akut. Ultrasonografi dapat menunjukkan perubahan sejak 1-2 hari


setelah

timbulnya

gejala.

Kelainan

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

termasuk abses jaringan

lunak atau

Halaman 24

kumpulan cairan dan elevasi periosteal. Ultrasonografi memungkinkan untuk


petunjuk ultrasound aspirasi. Tidak memungkinkan untuk evaluasi korteks
tulang.4

Terapi
Osteomielitis akut harus diobati segera. Biakan darah diambil dan pemberian
antibiotika intravena dimulai tanpa menunggu hasil biakan. Karena Staphylococcus
merupakan kuman penyebab tersering, maka antibiotika yang dipilih harus memiliki
spektrum antistafilokokus. Jika biakan darah negatif, maka diperlukan aspirasi
subperiosteum atau aspirasi intramedula pada tulang yang terlibat, diberikan antipiretik
bila demam. Perbaikan klinis biasanya terlihat dalam 24 jam setelah pemberian
antibiotika. Jika tidak ditemukan perbaikan, maka diperlukan intervensi bedah. 2,3 Terapi
antibiotik biasanya diteruskan hingga 6 minggu pada pasien dengan osteomielitis. LED
dan CRP sebaiknya diperiksa secara serial setiap minggu untuk memantau keberhasilan
terapi. Pasien dengan peningkatan LED dan CRP yang persisten pada masa akhir
pemberian antibiotik yang direncanakan mungkin memiliki infeksi yang tidak dapat
ditatalaksana secara komplit. Idealnya, eksplorasi bedah harus dilakukan pada pasien ini
untuk menentukan apakah dibutuhkan terapi tambahan. 2
Penangan osteomielitis kronik yaitu debridemant untuk mengeluarkan jaringan
nekrotik dalam ruang sekuester, dan penyaliran nanah. Pasien juga diberikan antibiotik
yang sesuai dengan hasil kultur. Involukrum belum cukup kuat untuk menggantikan
tulang asli yang telah hancur menjadi sekuester sehingga ekstrimitas yang sakit harus
dilindungi oleh gips untuk mencegah patah tulang patologik, dan debridement serta
sekuesterektomi ditunda sampai involukrum menjadi kuat.
Pada fraktur terbuka, semua soft tissues yang mati dan semua fragmen tulang
bebas harus dibersihkan dari luka. Kulit, lemak subkutan, dan otot harus didebridemen
secara tajam hingga berdarah. Untuk mendeteksi viabilitas dari cancellous bone,
ditandai dengan adanya perdarahan dari permukaan trabekula. 4
Pasien kasus ini pasien dilakukan kultur, debridement, dan dalam perawatannya
pasien mendapat terapi antibiotik dan dirawat selama 5 hari kemudian pasien
dipulangkan untuk kontrol poliklinik. Penanganan pada pasien sudah sesuai karena
pada pasien sudah dilakukan kultur dan sambil menunggu hasil kultur, pasien diberikan
antibiotic spectrum luas karena penyebab pasti belum diketahui. Pada pasien diberikan
Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 25

cefotaxim 3 x 750mg IV. Hal ini sudah sesuai dengan teori dimana dosis dari cefotaxim
pada anak adalah 50-100 mg/KgBB/ hari. Penanganan osteomyelitis adalah dengan
debridement untuk membersihkan jaringan mati. Pada pasien ini, debridement juga
telah dilakukan.
Untuk manajemen awal pasca operasi dapat diberikan spalk atau imobilisasi. Hal Ini
mungkin diperlukan untuk imobilisasi tulang yang terkena dan sendi terdekat untuk
menghindari trauma lebih lanjut dan untuk membantu daerah infeksi untuk sembuh
secepat mungkin. spalk dan imobilisasi sering dilakukan pada anak-anak. Beberapa
pertimbangan sehingga tidak dilakukan pemasangan spalk yaitu karena pada kontrol
awal penting untuk mencegah kekakuan dan atrofi.
IV. KESIMPULAN
Telah dilaporkan satu kasus Osteomieoitis kronis pada anak dengan usia
12 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis,
pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan pada pasien membutuhkan antibiotik dan
intervensi bedah untuk menghilangkan jaringan mati. Pasien sudah mendapat
antibiotik dan dilakukan debridement. Pasien dirawat 5 hari lalu dipulangkan.

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 26

DAFTAR PUSTAKA
1. King, RW. Osteomyelitis. Updated: Jul 15, 2010 (diakses 10 November, 2016).
Available at http://emedicine.medscape.com/article/785020-overview.
2. Kalyoussef S. Pediatric Osteomyelitis: 2 mei 2016, ( diakses 10 November
2016) Available http://emedicine.medscape.com/article/967095-overview
3. Harik, N. S, Mark S, Management of acute hematogenous osteomyelitis in
children: 1 Desember 2010. NIH Public Access. ( diakses 10 November 2016)
Available at http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2836799/
4. Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi: Infeksi dan Inflamasi, Edisi ke-3.
Jakarta: PT Yarsif Watampone. 2008; 132-41.
5. Jong W., Sjamsuhidayat R. 2005. Infeksi Muskuloskeletal. In Buku Ajar Ilmu
Bedah. Edisi kedua. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Hal 903 910.

Laporan Kasus Rawat Jalan | Osteomielitis

Halaman 27