Anda di halaman 1dari 4

Latar Belakang

Komunikasi politik adalah proses penyampaian pesan, proses dimana informasi


politik yang relevan diteruskan dari satu bagian sistem politik pada bagian lainnya, dan
diantara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik. Proses ini berlangsung disemua
tingkat masyarakat disetiap tempat yang memungkinkan terjadinya pertukaran informasi
diantara individu-individu dengan berbagai kelompok juga. Sebab dalam kehidupan
bernegara setiap individu memerlukan informasi terutama mengenai kegiatan masing-masing
pihak.
Tetapi sering juga timbul keluhan-keluhan yang berupa kurangnya memahami dan
mendefinisikan komunikasi politik, terutama dipengaruhi oleh keragaman sudut pandang atau
paradigma terhadap kompleksitas realitas sehari-hari, padahal perlu diketahui bahwa
pengetahuan terhadap komunikasi dan politik merupakan suatu peranan yang sangat penting
terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dan perlu diketahui bahwa politik menyangkut prilaku penguasa dan berupa lahirnya
partai politik-partai politik baru yang kita hanya menganggap persaingan-persaingan kegiatan
berupa pemilu merupakan sebuah pesta politik untuk kalangan elit tetapi pemilu merupakan
kegiatan yang amat penting dalam menegakkan kedaulatan rakyat dan karena melalui pemilu
seleksi kepemimpinan dan perwakilan dapat dilakukan secara lebih fear.
Kebesaran suatu bangsa bergantung pada kemampuan rakyat, masyarakat umum, dan
massa untuk menemukan simbol dalam orang pilihan, karena orang pilihanlah yang mampu
membimbing massa. Setiap pemimpin dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi,
membentuk komunikasi, membentuk sikap dan prilaku khalayak, masyarakat yang
mendukung terhadap aktivitas kepemimpinannya.
Oleh karena itu kita mengangkat tema komunikasi politik untuk dibahas lebih lanjut
karena komunikasi politik memainkan peranan penting sekali didalam sistem politik dan
menjadi bagian menentukan dari sosialisasi politik, partisipasi politik, dan perekrutan politik
http://titin-ums.blogspot.com/2009/06/komunikasi-politik.html

Pola-pola Komunikasi Politik


1. Pola komunikasi vertikal (top down, dari pemimpin kepada yang
dipimpin)
2. Pola komunikasi horizontal (antara individu dengan individu,
kelompok dengan kelompok)
3. Pola komunikasi formal (komunikasi melalui jalur-jalur organisasi
formal)
4. Pola komunikasi informal ( komunikasi melalui pertemuan atau tatap
muka, tidak mengikuti prosedur atau jalur-jalur organisasi).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pola-pola komunikasi politik


1. Faktor fisik (alam)
2. Faktor teknologi
3. Faktor ekonomis
4. Faktor sosiokultural (pendidikan, budaya)
5. Faktor politis

Saluran Komunikasi Politik


1. Komunikasi massa
Ada dua bentuk saluran komunikasi massa, masing2 berdasarkan tingkat langsungnya
a.

komunikasi satu-kepada banyak, yaitu :


komunikasi tatap muka
contonya seperti apabila seorang kandidat politik berbicara di depan rapat umum atau ketika

seorang presiden muncul didepan khalayak besar reperter dalam konferensi pers.
b. Komunikasi dengan perantara
Bentuk yang kedua terjadi jika ada perantara ditempatkan diantara komunikator dan
khalayak. Contohnya adalah pidato presiden ke seluruh negara(satu-kepada banyak) melalui
televisi. Disini media, tekhnilogi, sarana, dan alat komunikasi lainnnya ikut serta.
2. Komunikasi interpersonal
Yaitu merupakan bentukan dari hubungan satu-kepada satu. Saluran ini juga mempunyai dua
a.

bentuk penyampaian
Saluran interpersonal tatap muka

Contohnya adalah seorang kandidat kepresidenan yang berjalan melalui orang banyak sambil
berjabat tangan atau seorang kandidat lokal yang melakukan kunjungan dari rumah ke rumah
di daerah pinggiran kota merupakan contoh saluaran interpersonal tatap muka.
b. Saluran interpersonal tatap muka
Contonya adalah Gray Hayes, wanita pertama yang terpilih menjadi walikota sebuah kota
besar yang berpenduduk lebih dari setengah juta orang melakukan kampanye pada tahun
1974, ia menggunakan sluran ini dengan memasang Hayes Hotline, yaitu sambungan
telephon langsung ke kantor kampanye nya yang memungkinkan orang berbicara secara
pribadi kepadanya tentang masalah-masalah yang mendapat perhatiannya.
3. Komunikasi organisasi
Menggabungkan penyampaiaan satu-kepada-satu dan satu-kepada banyak. Di komunikasi
a.

organisasi ini juga dibagi menjadi dua dalam proses penyampaiaanya, yaitu :
Komunikasi organisasi tatap muka
Seorang presiden misalnya melakukan diskusi tatap muka dengan bawahannya yaitu anggota
stafnya, atau kepala penasihatnya (sperti yang dilakukan oleh Presiden Richard Nixon dengan
pada anggota gedung putih mengenai Peristiwa Watergate dari tahun 1972-1974). Akan
tetapi, kebanyakan organisasi politik begitu besar sehingga komunikasi satu-kepada-satu

dengan seluruh anggotanya mustahil bisa dilakukan.


b. Komunikasi organisasi berperantara
Solusi yang dapat diatasi pada kasus Komunikasi organisasi tatap muka adalah melalui
Komunikasi organisasi berperantara satu-kepada-banyak ini didalam organisasi yaitu:
pengedaran memorandum, sidang, konvensi(seperti misalnya konvensi empat tahunan
nominasi kepresidenan pada partai demokrat dan partai republik), buletin dan laporan berkala
intern, dan lokakarya
http://komunikasidanpolitik.blogspot.com/p/materi-komunikasi-politik.html

Pendapat umum dapat didefinisikan sebagai pendapat rata-rata individu dalam masyarakat
sebagai hasil diskusi tidak langsung yang dilakukan untuk memecahkan persoalan sosial,
terutama yang dikembangkan oleh media massa.
Salah satu dari tujuan komunikasi politik ialah mengkontruksi serta membina pendapat
umum dan mendorong partisipasi politik. Citra politik dan pendapat umum dapat dikatakan
merupakan konsekuensi-konsekuensi dari proses komunikasi politik yang bersifat mekanistis.
Menurut Jeremy Benthan, pendapat umum sangat penting sebagai dasar negara demokrasi
karena dapat dijadikan kontrol sosial.

Proses Terbentuknya Pendapat Umum


Proses terbentuknya pendapat umum menurut Cutlip dan Center ada empat tahapan:

Ada masalah yang perlu dipecahkan sehingga orang mencari alternatif pemecahan.

Munculnya beberapa alternatif memungkinkan terjadinya diskusi untuk memilif alternatif.

Dalam diskusi diambil keputusan yang melahirkan kesadaran kelompok.

Untuk melaksanakan keputusan, disusunlah program yang memerlukan dukungan yang lebih
luas.
Menurut Erikson, Lutberg, dan Tedin ada empat tahapa proses terbentuknya pendapat umum:

Muncul isu yang dirasakan sangat relevan bagi kehidupan orang banyak.

Isu tersebut relative baru sehingga menimbulkan kekaburan standar penilaian atau standar
ganda.

Adanya tokoh pembentuk opini (opinion leader) yang tertarik dengan isu tersebut.

Mendapat perhatian pers sehingga informasi dan reaksi terhadap isu tersebut dapat diketahui
oleh khalayak.
Dalam proses terbentuknya pendapat umum tidak hanya berlangsung proses komunikasi
massa melainkan juga proses komunikasi antarpribadi.
http://kiwiwriting.blogspot.com/2011/11/pendapat-umum.html

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar, 2003. Komunikasi Politik. Jakarta: PT. Balai Pustaka


Nimmo, Dan, 2001. Komunikasi PolitikKhalayak dan Efek. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya