Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberculosis paru merupakan infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium
tuberculosis, yang pada umumnya menyerang paru dan sebagian menyerang organ
selain paru, seperti kelenjar getah bening, kulit, usus, selaput otak, dan
sebagainya. Penularan terjadi melalui udara (airborne spreading) dari droplet
infeksi. penyebaran TB paru ini paling sering saat penderita tuberkulosis paru
yang membatukkan dahaknya, dimana pada pemeriksaan hapusan dahaknya
umumnya ditemukan BTA positif. Penularan pada umumnya terjadi pada ruangan
dengan ventilasi kurang. Sinar matahari dapat membunuh kuman dengan cepat,
sedangkan pada ruangan gelap kuman dapat hidup (Yusrisal DS, 2009).
Tuberculosis Paru sampai saat ini masih menjadi masalah utama kesehatan
masyarakat dan secara global masih menjadi isu kesehatan global disemua
Negara. Pada tahun 2009, terdapat sekitar 9,4 juta insiden kasus tuberculosis
secara global. Prevalensi di dunia mencapai 14 juta kasus atau sama dengan 244
kasus per 100.000 penduduk. sebanyak 8,9 juta penderita TBC dengan proporsi
80% pada Negara berkembang dengan kematian 3 juta orang per tahun dan 1
orang dapat terinfeksi TBC setiap detik. Laporan WHO pada tahun 2009 mencatat
Indonesia menempati posisi lima dengan jumlah penderita TB sebesar 429.000
orang, jumlah penderita TB 280 per 100.000 penduduk (Depkes RI, 2011).

Penderita TB paru di PUSKESMAS Rubaru Sumenep sebanyak enam puluh lima


orang, dari enam puluh lima orang tersebut lima puluh delapan orang dinyatakan
berhasil, lima orang masih dalam pengobatan dan dua orang meninggal dunia.
Infeksi primer terjadi pada seseorang yang terpapar untuk pertama kali
dengan kuman TB, kuman TB ini lalu menetap dan berkembang di alveolus paru.
Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan adanya perubahan reaksi tuberkulin dari
negatif menjadi positif. Pada umumnya infeksi primer dapat dihentikan oleh
sistem imun tubuh. Meski demikian, ada beberapa kuman yang tetap menetap di
paru sebagai kuman persisten atau dormant. Jika sistem imun tubuh tidak dapat
menghentikan infeksi ini maka bakteri akan berkembang dan akan menyebabkan
penyakit TB paru yang digolongkan sebagai TB paru kategori 1 (Masniari P,
2010).
Berhasil tidaknya pengobatan TB paru tergantung pada minum obat secara
teratur, pengetahuan penderita, keadaan social ekonomi, dukungan keluarga serta
motivasi dari penderita sendiri. Jika penderita tidak berobat secara teratur, maka
akan mengakibatkan bakteri dalam tubuhnya akan tetap hidup dan bertambah
banyak. Jika hal ini terus terjadi maka bakteri tersebut terus menyebar-menular
pada orang lain, dan akan mengakibatkan pengendalian pengobatan TB semakin
sulit dilaksanakan dan pada akhirnya angka kematian akibat TB akan terus
bertambah (Dr. Indan Enjang, 2002).
Tingginya angka kejadian TB paru di Indonesia dan termasuk salah satu
masalah kesehatan utama di dunia serta bahaya TB paru yang dapat menimbulkan

komplikasi jika tidak segera diobati. Hal inilah yang membuat peneliti merasa
tertarik untuk meneliti Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan
Pengobatan TBC Kategori Satu di PUSKESMAS Rubaru Sumenep

B. Rumusan Masalah
Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan
TBC kategori satu di PUSKESMAS Rubaru Sumenep?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan keberhasilan
pengobatan TBC kategori satu di PUSKESMAS Rubaru Sumenep.
2. Tujuan Khusus
a. Menganalisis hubungan keteraturan minum obat dengan keberhasilan
pengobatan pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS Rubaru
Sumenep.
b. Menganalisis hubungan penderita yang merokok dan minum alkohol
dengan keberhasilan pengobatan pasien TB paru kategori 1 di
PUSKESMAS Rubaru Sumenep.

c. Mengetahui hubungan penyakit penyerta terhadap keberhasilan


pengobatan pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS Rubaru
Sumenep.
d. Mengetahui hubungan motivasi terhadap keberhasilan pengobatan
pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS Rubaru Sumenep.
e. Mengetahui hubungan lingkungan rumah terhadap keberhasilan
pengobatan pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS Rubaru
Sumenep.
f. Menganalisis hubungan kinerja petugas PUSKESMAS dengan
keberhasilan pengobatan pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS
Rubaru Sumenep.

D. Manfaat Penelitian
1. Penderita TB paru
Meningkatkan pengetahuan penderita TB paru, sehingga meningkatkan
kemungkinan keberhasilan pengobatan pasien TB paru.
2. Petugas Kesehatan
Meningkatkan wawasan petugas kesehatan tentang faktor-faktor yang
berpengaruh terdapap keberhasilan pengobatan, sehingga meningkatkan
kualitas pealayan kesehatan khususnya kasus TB paru.

3. Peneliti

Sebagai masukan data dan sumbangan pemikiran perkembangan


pengetahuan untuk penelitian selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum Penyakit Tuberkulosis Paru


1. Definisi
Penyebab tuberculosis adalah kuman Mycobacterium tuberculosa, kuman
ini adalah kuman yang tahan asam. Dikenal ada dua tipe kuman
Mycobacterium tuberculosa, yaitu type humanus dan type bovinus. Kasus
tuberkulosis dapat disebabkan oleh kuman type humanus, walaupun type
bovinus dapat juga menyebabkan terjadinya tuberkulosis paru, namun hal itu
sangat jarang sekali terjadi (Davies PD, 2008).
Kuman tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan ke
dalam paru. Kemudian menyebar dari paru ke organ-organ tubuh lain, melalui
sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, melalui saluran nafas atau
penyebaran langsung kebagian tubuh lainnya dan tuberkulosis paru
merupakan bentuk yang paling banyak (Davies PD, 2008).
2. Klasifikasi Penyakit
a. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru,
tidak termasuk pleura.

b. Tuberkulosis pada Organ Lain

Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya


pleura, selaput otak, selaput jantung, kelenjar lympe, tulang persendian,
usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain (WHO, 2011).
3. Patogenesis Tuberkulosis
Paru merupakan tempat masuk utama pada kasus tuberkulosis, karena
ukurannya sangat kecil, kuman TB yang terhirup dapat mencapai alveolus.
Mycobacterium tuberculosis yang terhirup dan masuk ke paru akan
difagositosis oleh makrofag alveolar, selanjutnya makrofag akan melakukan
tiga fungsi penting, yaitu : menghasilkan enzim proteolitik dan metabolit lain
yang mempunyai efek mikobakterisidal, menghasilkan mediator terlarut
(sitokin) sebagai respon terhadap M. tuberculosis berupa IL-1, IL-6, TNF
(Tumor Necrosis Factor alfa ), TGF (Transforming Growth Factor beta )
dan memproses serta mempresentasikan antigen mikobakteri pada limfosit T5.
Kuman tersebut masuk tubuh melalui saluran pernafasan yang masuk ke
dalam paru, kemudian dapat kuman menyebar dari paru ke bagian tubuh
lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, melalui saluran
nafas atau penyebaran langsung ke bagian tubuh yang lain (Davies PD, 2008).
Saluran limfe akan membawa kuman tuberkulosis paru ke kelenjar limfe
yang berada di sekitar hilus paru dan hal ini disebut sebagai kompleks primer.
Tuberkulosis primer terjadi pada individu yang terpapar dengan kuman
tuberkulosis untuk pertama kali, sedangkan tuberkulosis reaktivasi terjadi
karena reaktivasi infeksi tuberkulosis yang terjadi beberapa tahun lalu. Reaksi
imunologi

yang

berperan

terhadap

M.

tuberculosis

adalah

reaksi

hipersensitivitas dan respon seluler, karena respon humoral kurang


berpengaruh. Akibat klinis infeksi M.tuberculosis lebih banyak dipengaruhi
oleh sistem imunitas seluler. Orang yang menderita kerusakan imunitas seluler
seperti terinfeksi HIV dan gagal ginjal kronik mempunyai risiko tuberkulosis
paru yang lebih tinggi. Sebaliknya orang yang menderita kerusakan imunitas
humoral dan mieloma mutipel tidak menunjukkan peningkatan predisposisi
terhadap tuberkulosis paru (Alisjahbana B, 2007).
Setelah imunitas seluler terbentuk, jaringan paru biasanya mengalami
resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau klasifikasi setelah
mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi, tetapi penyembuhannya
jaringan paru biasanya tidak sempurna. Kuman dapat tetap hidup dan menetap
selama bertahun-tahun dalam jaringan ini. Proses infeksi tuberculosis tidak
langsung memberikan gejala (Alisjahbana B, 2007).
4. Epidemiologi Tuberkulosis
Epidemiologi tuberkulosis mempelajari interaksi antara manusia, kuman
Mycobacterium tuberculosis dan lingkungan. Epidemiologi tuberculosis ini
mencakup distribusi, perkembangan dan penyebaran serta mencakup
persentasi dan insiden penyakit tersebut yang timbul dari populasi yang
tertular (Bloom B, 1994).
Sumber infeksi utama infeksi tuberkulosis adalah manusia yang
mengekskresi kuman tuberkulosis dalam jumlah besar, terutama dari saluran
pernapasan. Kontak yang erat misalnya dalam keluarga ada terinfeksi kuman
ini atau menjadi sumber penularan akan dapat menginfeksi anggota

keluarganya. Kepekaan terhadap tuberkulosis adalah suatu akibat dari dua


kemungkinan yaitu risiko memperoleh infeksi dan risiko menimbulkan
penyakit setelah terjadi infeksi. Bagi orang dengan tes tuberkulin positif,
kemungkinan memperoleh kuman tuberkulosis tergantung pada kontak dengan
sumber kuman yang dapat menimbulkan infeksi terutama dari penderita
dengan dahak positip (Davies PD, 2008).
5. Penyebab Tuberkulosis
Tuberculosis disebabkan oleh infeksi kuman Mycobacterium tuberculosa,
yang merupakan kuman tahan asam. Dikenal ada dua tipe kuman
Mycobacterium tuberculosa, yaitu type humanus dan type bovinus. Hampir
semua kasus tuberkulosis disebabkan oleh type humanus, walaupun type
bovinus dapat juga menyebabkan terjadinya tuberkulosis paru, namun hal itu
sangat jarang sekali terjadi (Davies PD, 2008).
Kuman ini berbentuk seperti batang tipis atau agak bengkok bersifat aerob,
ukuran 0,54 mikron x 0,3-0,6 mikron, tunggal, berpasangan atau
berkelompok, mudah mati pada air mendidih (5 menit pada suhu 80 derajat
Celsius, 20 menit pada suhu 60 derajat Celsius ) mudah mati dengan sinar
matahari, dapat hidup berbulan-bulan pada suhu kamar yang lembab, tidak
berspora, tidak mempunyai selubung tetapi mempunyai lapisan luar tebal yang
terdiri dari lipoid (terutama asam mikolat) dapat bertahan terhadap
penghilangan warna dengan asam dan alkohol (basil tahan asam = BTA).
Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa
tahun (Enerson DA, 2004).

6. Gejala Klinis
Keluhan yang dirasakan penderita tuberkulosis bervariasi dan dapat tidak
adanya keluhan. Keluhan dan gejala utama yang dijumpai pada penderita
tuberkulosis paru, adalah: Gejala utama berupa batuk berat terus menerus dan
berdahak selama tiga minggu atau lebih sedangkan gejala tambahannya yang
sering dijumpai berupa dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas dan
nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, ras
badan terasa kurang enak (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa
kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan (Bloom B, 1994).
Gejala-gejala tersebut diatas, dijumpai pula pada penyakit paru selain
tuberkulosis, oleh sebab itu setiap orang yang datang ke Unit Pelaksanaan
Kesehatan (UPK) dengan gejala tersebut diatas, harus dianggap sebagai
seorang-suspek tuberkulosis atau tersangka penderita tuberkulosis paru dan
perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung (Bloom B,
1994).
7. Cara Penularan
Mycobacteruim tuberculosis ditularkan melalui dari orang ke orang,
droplet lendir berinti yang dibawa udara. Kontak langsung dengan kotoran
cair terinfeksi atau barang-barang yang terkontaminasi jarang terjadi
penularan. Peluang penularan bertambah bila penderita mempunyai ludah
dengan basil pewarnaan tahan asam, infiltrat dan kaverna lobus atas yang luas,
produksi sputum encer banyak sekali, dan batuk berat serta kuat. Faktor
lingkungan terutama sirkulasi udara yang buruk, memperbesar penularan.

Kebanyakan orang dewasa tidak menularkan organisme dalam beberapa hari


sampai dua minggu sesudah kemoterapi yang cukup, tetapi beberapa penderita
tetap infeksius selama beberapa minggu. Anak muda dengan tuberculosis paru
jarang menginfeksi anak lain atau orang dewasa (Enerson DA, 2004).
Tuberkulosis adalah penyakit menular, artinya orang yang tinggal serumah
dengan penderita atau kontak erat dengan penderita mempunyai risiko tinggi
tertular kuman ini. Penularan terjadi melalui udara pada waktu percikan dahak
yang mengandung kuman tuberkulosis paru dibatukkan keluar, dihirup oleh
orang sehat melalui jalan napas dan selanjutnya berkembangbiak melalui paruparu. Cara lain adalah dahak yang dibatukkan mengandung kuman
tuberkulosis jatuh dulu ke tanah, mengering dan debu yang mengandung
kuman beterbangan kemudian dihirup oleh orang sehat dan masuk ke dalam
paru-paru. Cara penularan ini disebut sebagai airborne disease (Enarson DA,
2004).
Daya penularan ditentukan oleh banyaknya kuman Bakteri Tahan Asam
(BTA) yang terdapat dalam paru-paru penderita serta penyebarannya.
Penyebaran kuman ini banyak mengalami hambatan, antara lain di hidung
(bulu hidung) dan lapisan lendir yang melapisi seluruh saluran pernafasan dari
atas sampai ke kantong alveoli (Bloom B, 1994).
Sebagian besar manusia yang terinfeksi (8090%) belum tentu menjadi
sakit tuberkulosis. Hal ini disebabkan adanya sistem imun tubuh. Untuk
menjadi sakit, dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain keadaan sosial

ekonomi, kemiskinan, kekurangan gizi, rendahnya tingkat pendidikan dan


kepadatan penduduk (WHO, 2011).
8. Diagnosis
Penegakan diagnosis penyakit tuberculosis dapat ditegakkan dengan
ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil
pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS
BTA hasil positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan
pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan ulang
dahak SPS. Bila hasil rontgen mendukung tuberkulosis paru maka penderita
itu dinyatakan sebagai penderita tuberkulosis paru BTA Positif, kalau hasil
rontgen tidak mendukung tuberkulosis paru, maka pemeriksaan dahak diulang
secara SPS (DEPKES RI, 2008).
Apabila ketiga spesimen dahak hasilnya negatif, dapat diberikan antibiotik
spectrum luas selama 1-2 minggu, bila tidak ada perubahan, namun gejala
klinis tetap mencurigakan tuberkulosis, ulangi SPS ( kalau hasil SPS positif,
didiagnosa sebagai penderita tuberkulosis paru BTA positif, kalau SPS negatif
lakukan foto rontgen) (WHO, 2011).
Dalam upaya menegakkan diagnosis TB paru dilakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan lanjutan yaitu pemeriksaan bakteri, radiologi
dan tes tuberkulin.

a. Anamnesis

Beberapa hal yang harus diketahui dalam anamnesis adalah: gejala


umum dan spesifik paru. adakah kontak dengan penderita tuberkulosis
paru di lingkungan keluarga, atau tetangga dekat.
b. Pemeriksaan Fisik
Tanda dan gejala tuberculosis paru didapatkan pada 90% penderita
dengan BTA positif. Penderita dengan BTA negatif hanya 50 %
menunjukkan gejala, dapat timbul demam yang tidak diketahui sebabnya,
ini merupakan satu-satunya tanda atau gejala tuberculosis paru. Pada
tuberkulosis primer tidak ditemukan gejala yang spesifik, hanya
memperlihatkan gejala seperti flu. Pada tuberkulosis milier tidak juga
terdapat gejala yang spesifik karena perjalanan penyakit yang gradual
(Enerson DA, 2004).
Gejala umum yang sering pada penderita tuberkulosis paru adalah batuk
berdahak dan kadang-kadang batuk berdarah, lesu, dan sesak nafas,
berkeringat dingin pada waktu malam hari tanpa ada kegiatan, demam
lebih dari satu bulan, nafsu makan dan berat badan menurun (Davies PD,
2008).
c. Pemeriksaan Bakteriologis
Pemeriksaan secara mikroskopis dengan pengecatan Ziehl Nelsen dari
dahak yang diperoleh dari setiap penderita yang diduga tuberkulosis paru
yang datang ke unit pelayanan kesehatan. Pemeriksaan dahak BTA
merupakan pemeriksaan yang terpenting, bukan saja untuk memastikan
diagnosis tuberkulosis, tetapi untuk mengidentifikasi sumber penularan,

karena hanya penderita yang dahaknya ditemukan BTA yang mempunyai


potensi menular (Enerson DA, 2004).
Walaupun pemeriksaan ini sangat spesifik, tetapi tidak cukup sensitif,
karena hanya 30-70 % saja penderita tuberculosis paru yang dapat di
diagnosis

berdasarkan

pemeriksaan

bakteriologis.

Pemeriksaan

bakteriologis ini sangat tergantung dari kualitas laboratorium dan


pemeriksa. Pada anak pemeriksaan bakteriologi dapat dilakukan dengan
pemeriksaan bilas lambung (gastric lavage) 3 hari berturut-turut, minimal
2 hari. Hasil bakteriologi sebagian besar negatif. Sedangkan hasil biakan
memerlukan waktu sekitar 6-8 minggu. Pemeriksaan bakteriologis selain
untuk diagnosis penemuan kasus juga untuk evaluasi pengobatan. Dewasa
ini evaluasi pengobatan diutamakan pada hasil pemeriksaan bakteriologik,
karena bila dilihat berdasarkan ketepatan, pemeriksaan ini menempati
urutan pertama dibandingkan dengan radiologis dan klinis.
d. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan ini berguna pada penderita yang belum pernah diobati
sebelumnya dengan hasil pemeriksaan dahaknya negatif. Namun hasil
pemeriksaan ini harus dibaca oleh seorang dokter yang berpengalaman
supaya hasilnya dapat dipercaya. Sedangkan gambaran radiologi
tuberkulosis tidak selalu khas khususnya pada kasus anak (Davies PD,
2008).

9. Tipe penderita Tuberkulosis paru

Tipe penderita tuberculosis paru ditentukan berdasar riwayat pengobatan


sebelumnya. Ada beberapa tipe penderita yaitu :
a. Kasus baru
Adalah penderita Tuberkulosis paru yang belum pernah diobati dengan
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) atau sudah pernah menelan OAT kurang
dari satu bulan.
b. Kambuh (relapse)
Adalah penderita Tuberkulosis paru yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan Tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali
berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.
c. Pindahan (transfer in)
Adalah penderita yang mendapat pengobatan di kabupaten lain dan
kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahan tersebut
harus membawa surat rujukan atau pindah (formulir TB 09)
d. Setelah lalai (pengobatan setelah default/ drop out)
Adalah penderita yang telah berobat paling sedikit satu bulan, dan
berhenti dua bulan atau lebih, kemudian dating kembali dengan hasil
pemeriksaan BTA posistif.
e. Gagal
Adalah penderita BTA positif yang masih tetap posistif atau kembali
menjadi positif pada akhir pengobatan bulan kelima (satu bulan sebelum
pengobatan berakhir) atau lebih. Atau penderita dengan hasil BTA negatif,
rontgen positif menjadi BTA positif pada akhir bulan kedua pengobatan.

f. Kasus kronis
Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah
selesai pengobatan ulang kategori dua dengan pengawasan yang baik.
g. Tuberculosis resistensi ganda/ Multi Drug
Resisten adalah tuberculosis dengan menunjukkan resisten terhadap
rifampisin dan INH dengan atau tanpa OAT lainnya (PDPI JATIM, 1999).
10. Tatalaksana Penemuan Penderita Tuberkulosis
Penatalaksanaan tuberkulosis meliputi pasien dan pengobatan yang
dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. Tujuan dari penatalaksaan ini
untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah terjadinya
penularan. Hal-hal tersebut dapat tercapai dengan cara menyembuhkan pasien.
Tatalaksana penyakit tuberkulosis merupakan bagian dari surveilans penyakit,
tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh,
tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan,
petugas yang terkait, pencatatan, pelaporan, evaluasi kegiatan dan rencana
tindak lanjut (Rosmila T, 2010).
a. Pemerikasaan Penderita Tuberkulosis
Sebagian

besar

penderita

tuberkulosis

paru

adalah

penderita

tuberkulosis, penderita tersebut dapat ditemukan pada unit pelayanan


kesehatan baik di puskesmas, Rumah Sakit maupun sarana kesehatan
lainnya dengan gejala batuk tiga minggu atau lebih. Gejala merasa panas
dingin jika menjelang sore hari selama 3 mg 4 mg, batuk dengan
bercak darah, nyeri pada dada, nafsu makan menurun (Bloom B, 1994).

Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai


keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan
dahak untuk menegakkan diagnosis, dilakukan dengan mengumpulkan tiga
spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang
berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu. S (sewaktu) dahak dikumpulkan
pada saat suspek tuberkulosis datang berkunjung pertama kali, pada saat
pulang suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan, P (pagi)
dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun
tidur, pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas UPK, S (sewaktu)
dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua saat menyerahkan dahak
pagi.
b. Penemuan tersangka tuberkulosis
Kegiatan penemuan tersangka penderita tuberkulosis paru seharusnya
dilakukan oleh semua petugas puskesmas yang berhubungan dengan
masyarakat.
1) Penemuan suspek tuberkulosis paru dilakukan secara pasif dengan
promosi aktif. Penjaringan tersangka tuberkulosis paru dilakukan
di unit pelayanan kesehatan, didukung dengan penyuluhan secara
aktif baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk
meningkatkan cakupan penemuan suspek.
2) Pemeriksaan terhadap kontak penderita tuberkulosis paru BTA (+)
pada keluarga dan anak yang menunjukkan gejala sama di periksa
dahaknya minimal 2 hari berturut-turut secara SPS. Penemuan

secara aktif artinya petugas yang berkunjung kerumah-rumah


penduduk. Sasarannya adalah semua orang kontak dengan
penderita tuberkulosis BTA (+), baik yang serumah maupun
tetangga sekitarnya.
3) Penemuan dari rumah ke rumah dianggap tidak cost efektif. Oleh
karena itu semua petugas puskesmas harus dilatih untuk mengenal
gejala klinis tuberkulosis paru penemuan tersangka penderita
tuberkulosis paru harus dipadukan dengan program lain di
puskesmas dan merupakan bagian integral dari upaya kesehatan
primer atau primery health care. Penemuan tersangka penderita
dapat dilakukan secara pasif dengan mewaspadai setiap penderita
yang berkunjung ke setiap unit pelayanan kesehatan, disamping itu
dengan dilakukan penyuluhan aktif masyarakat.
Tujuan dari penemuan penderita tuberkulosis untuk mengidentifikasi
sumber penularan dan kemudian menghilangkannya dengan memberikan
pengobatan yang memadai. Penemuan penderita diawali dengan mencari
tersangka penderita tuberkulosis paru dengan gejala klinis utama (Depkes,
2004).

B. Program Penanggulangan Tuberkulosis


1. Tujuan Penanggulangan Tuberkulosis
a. Jangka Panjang

Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian yang diakibatkan


penyakit tuberkulosis paru dengan cara memutuskan rantai penularan,
sehingga penyakit tuberkulosis paru tidak lagi merupakan masalah
kesehatan masyarakat Indonesia.
b. Jangka Pendek
1) Tercapainya angka kesembuhan minimal 85 % dari semua penderita
baru BTA positif yang ditemukan.
2) Tercapainya cakupan penemuan penderita secara bertahap sehingga
pada tahun 2012 dapat mencapai 70 % dari perkiraan semua
penderita baru BTA positif (DEPKES RI, 2008).
2. Strategi DOTS
Dalam

menunjang

tercapainya

keberhasilan

pelaksanaan

program

tuberkulosis ditiap daerah tentunya harus adanya suatu strategi yang memuat
berbagai aspek kebutuhan dalam menunjang keberhasilan tersebut, Directly
Observed Treatment Succes Rate (DOTS) adalah strategi penyembuhan TB
paru

jangka pendek

dengan pengawasan

secara langsung.

Dengan

menggunakan strategi DOTS, maka proses penyembuhan TB paru dapat


berlangsung secara cepat. Kategori kesembuhan penyakit TB yaitu suatu
kondisi dimana individu telah menunjukan peningkatan kesehatan dan
memiliki salah satu indikator kesembuhan penyakit TBC, diantaranya:
menyelesaikan pengobatan secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak
(follow up) hasilnya negative pada akhir pengobatan dan minimal satu
pemeriksaan follow up sebelumnya negative (Nizar, 2010).

Program

kesembuhan

TB

paru

DOTS

menekankan

pentingnya

pengawasan terhadap penderita TB paru agar menelan obat secara teratur


sesuai

ketentuan

sampai

dinyatakan

sembuh.

Strategi

DOTS

direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB paru,


karena menghasilkan angka kesembuhan yang tinggi yaitu 95% (DEPKES RI,
2010).
Strategi DOTS yang dimaksud sasuai dengan rekomendasi WHO terdiri
dari 5 komponen :
a. Komitmen politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan
dana
b. Diagnosa TB paru dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis
c. Pengobatan dengan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka
pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat
(PMO)
d. Kesinambungan persedian OAT jangka pendek untuk penderita
e. Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan
dan evaluasi program penanggulangan TB paru (DEPKES RI, 2008).

3. Jenis obat

Pengobatan dengan strategi DOTS (Direct Observed Treadment Short


Course) dipermudah dengan pengadaan obat yang telah dipadukan sesuai
dengan kategori tersendiri (Mandle G.L & Sande M.A. 1991) :
a. Obat primer
1) Isoniasid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakteresid. Dosis harian 5 mg/kg
BB, untuk pengobatan intermiten tiga kali seminggu dengan dosis
10 mg/kg BB.
2) Rifampicin
Bersifat bakteresid, membunuh kuman yang persisten (dormant)
yang tidak dibunuh oleh INH. Dosis 10mg/kg BB baik pada
pengobatan harian dan intermiten.
3) Pirazinamid (P)
Bersifat bakteresid, membunuh kuman di dalam sel dengan
suasana asam. 25 mg/kg BB untuk dosis harian, untuk pengobatan
intermiten tiga kali seminggu dengan dosis 35 mg/kg BB.
4) Streptomisin (S)
Bersifat bakteresid, dosis harian 15 mg/kg BB, untuk pengobatan
intermiten tiga kali seminggu dengan dosis sama.
5) Ethambutol (E)
Bersifat bakteriostatik, dosis harian 15 mg/kg BB sedangkan untuk
pengobatan intermiten tiga kali seminggu dengan dosis 10 mg/kg
BB.

b. Obat sekunder
Exionamid, Paraaminosalsilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan
Kanamisin.
4. Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberculosis paru diberikan dalam bentuk kombinasi dari
berbagai jenis, dalam jumlah yang cukup dan dosis yang tepat selama 6-8
bulan, supaya semua kuman dapat dibunuh. Apabila panduan obat yang
digunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka pengobatan) kuman
tuberculosis akan berkembang menjadi kuman yang tahan obat (resisten).
Pengobatan TB paru diberikan dalam dua tahap yaitu :
a. Tahap intensif
Pada tahap ini penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi
langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua jenis OAT
terutama rifampisin. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan
secara tepat, biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam
kurun waktu dua minggu. Sebagian besar penderita TB paru BTA positif
menjadi BTA negatif pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat
dalam tahap ini sangat penting untuk mencegah terjadinya resistensi obat.

b. Tahap lanjutan

Pada tahap ini penderita mendapat jenis obat lebih sedikit tetapi dalam
waktu yang lebih lama. Tahap ini bertujuan untuk membunnuh kuman
persisten (dormant) sehingga dapat mencegah terjadinya kekambuhan.
Program

Nasional

Penanggulangan

tuberkulosis

paru

di

Indonesia

menggunakan panduan OAT : (Diah Hermayanti, 2007) :


1. Kategori I : 2 HRZE/4 H3R3
2. Kategori II : 2 HRZES/HRZE/5 H3R3E3
3. Kategori III : 2 HRZ/4 H3R3
5. Pemantauan pengobatan TB
Pemantauan kemajuan terapi dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang
dahak secara mikroskopik. Pemeriksaan mikroskopik lebih baik dari
pemeriksaan radiologic dalam memantau kemajuan pengobatan.
Pemantauan kemajuan terapi dilakukan pemriksaan spesimen sebanyak dua
kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif apabila kedua
spesimen tersebut negatif. Jika salah satu spesime positif, maka hasil
pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif.
Pemeriksaan ulang dahak untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan
pada :
a. Akhir pengobatan intensif
Yaitu seminggu sebelum akhir bulan kedua pengobatan penderita baru
BTA positif dengan kategori satu, atau seminggu sebelum akhir bulan
ketiga pengobatan ulang penderita BTA positif dengan kategori dua.
b. Sebulan sebelum akhir pengobatan

Yaitu dilakukan seminggu sebelum akhir bulan kelima pengobatan


penderita baru BTA positif dengan kategori 1, atau seminggu sebelum
akhir bulan ketujuh pengobatan ulang penderita BTA positif denga
kategori dua.
c. Akhir pengobatan
Yaitu dilakukan seminggu sebelum akhir bulan keenam pengobatan
pada penderita baru BTA positif dengan kategori satu, atau seminggu
sebelum akhir bulan kedelapan pengobatan ulang BTA positif dengan
kategori 2 (DEPKES RI, 2005).

C. Fakto-Faktor yang Mempengaruhi Kesembuhan


1.

Kepatuhan Berobat
Kepatuhan menurut Socket yang dikutip oleh Neil Niven (2000) adalah

kesesuaian perilaku penderita dengan ketentuan-ketentuan yang diberikan oleh


petugas kesehatan. Kepatuhan berobat ini dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor :
a. Pengetahuan
Pengetahun adalah pemikiran, gagasan, ide, konsep dan pemahaman
yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya termasuk manusia
dan kehidupan. Pengetahuan mencakup penularan, penjelasan dan
pemahaman manusia tentang segala sesuatu, termasuk praktek atau
kemauan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum
dibuktikan secara sistimatis.

b. Jarak Rumah ke PUSKESMAS


Domisi berdasarkan tempat tinggal kepelayanan kesehatan akan
mempengaruhi pasien dalam menyelesaikan pengobatan apalagi domisili
tidak berada dalam wilayah pelayanan kesehatan akan memperbesarkan
resiko utnuk tidak menyelesaikan pengobatan. Menurut Green (1980),
bahwa domisili pasien dapat mempengaruhi ketidakselesaian penderita
dalam berobat, untuk itu diperlukan suatu upaya bagaimana domisili tidak
mengahalangi pasien untuk mengambil obat karena dapat mempengaruhi
terhadap upaya penyembuhan penderita selanjutnya.
2. Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kejadian
TB paru. Ventilasi yang tidak baik, lantai rumah yang lembab, dan sirkulasi
udara yang buruk adalah beberapa faktor lingkungan yang sering
menyebabkan TB paru (Yaffri, 2009). Jika penderita TB telah mendapat
pengobatan tapi kondisi lingkungan tetap tidak diperbaiki maka kuman TBC
yang ada di lingkungan akan dapat masuk lagi ke tubuh sehingga dapat
mengakibatkan resistensi.
3. Merokok dan Alkolol
Merokok dan alkohol dapat menginduksi enzim-enzim hepatik, dimana
enzim ini berfungsi untuk memetabolisme berbagai macam obat sehingga jika
enzim-enzim ini diinduksi maka efek obat akan kurang efektif. Jika hal ini
terus terjadi maka kuman TB paru dapat menimbulkan resistensi terhadap
OAT.

4. Penyakit Penyerta
Penyakit penyerta adalah penyakit yang menyertai atau dapat juga sebagai
suatu komplikasi dari suatu penyakit. Orang yang menderita kerusakan
imunitas seluler seperti terinfeksi HIV dan gagal ginjal kronik mempunyai
risiko tuberkulosis paru yang lebih tinggi (Alisjahbana B, 2007). Dengan
rusaknya sistem imun ini penderita TB paru akan meningkatkan resiko
resistennya kuman TB paru.
5. Motivasi Untuk Sembuh
Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang
menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk
mencapai suatu tujuan (Notoatmodjo, 2003). Motivasi inilah salah yang dapat
mendorong penderita TB paru untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat
mempercepat kesembuhannya.
6. PMO
Sulitnya untuk menetralisir kuman TB paru adalah salah satu alasan obat
diberikan beberapa macam serta pengobatannya membutuhkan waktu
setidaknya enam bulan. Hal ini dapat menyebabkan penderita tidak
menuntaskan pengobatannya. Untuk itu diperlukan Pengawas minum obat
(PMO) untuk menjaga agar penderita tidak putus berobat atau teratur berobat,
WHO pada tahun 1995 merekomendasikan strategi DOTS sebagai pendekatan
terbaik penanggulangan Tuberkulosis paru (Aditama,2000).
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep
Mycobacterium Tuberculosa
PMO
Pendrita TB paru kategori I

Penyakit penyerta

Merokok dan alkohol

Pengobatan TB paru kategori


I

Lingkungan rumah

Faktor-faktor yang
berhubungan dengan
keberhasilan pengobatan

Motivasi untuk sembuh

Kepatuhan minum obat

Penderita sembuh
Pengetahuan

Sosial ekonomi

Jarak rumah

Efek samping obat


Lama pengobatan

Tidak diteliti

Pekerjaan
usia

B. Hipotesis
Penelitian
Diteliti
1. Ada hubungan antara kinerja PMO terhadap keberhasilan pengobatan
pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS Rubaru Sumenep.

2. Ada hubungan antara penyakit penyerta terhadap keberhasilan pengobatan


pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS Rubaru Sumenep.
3. Ada hubungan merokok dan alkohol terhadap keberhasilan pengobatan
pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS Rubaru Sumenep.
4. Ada hubungan lingkunngan rumah terhadap keberhasilan pengobatan
pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS Rubaru Sumenep.
5. Ada hubungan motivasi untuk sembuh terhadap keberhasilan pengobatan
pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS Rubaru Sumenep.
6. Ada hubungan keteraturan minum obat terhadap keberhasilan pengobatan
pasien TB paru kategori 1 di PUSKESMAS Rubaru Sumenep.

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian ini
merupakan jenis penelitian analitik yang bertujuan menganalisis pengaruh antar
variable sebagaimana yang telah dituliskan di dalam hipotesis
Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional, yaitu suatu
pendekatan penelitian data yang menyangkut variabel bebas atau resiko dan
variabel terikat atau akibat yang terjadi pada objek penelitian yang diukur atau
dikimpulkan dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2005).
B. Subyek Penelitian (Populasi dan Sampel)
A. Populasi
Populasi kasus pada penelitian ini adalah seluruh penderita yang
dinyatakan tuberkulosis paru yang tercatat di register TB UPK Puskesmas
Rubaru Sumenep sampai bulan desember 2013. Kriteria inklusi kasus dalam
penelitian ini adalah a) bersedia menjadi subjek penelitian dengan
menandatangani surat persetujuan yang telah disediakan (informed consent);
b) dinyatakan tuberkulosis paru oleh Puskesmas; dan c) berdomisili di wilayah
Puskesmas Rubaru Sumenep.

B. Sampel
a. Besar Sampel

n=

n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
e = batas toleransi kesalahan
n = 65/1+(65x(

))

n = 55
b. Teknik Pengambilan
Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan cluster non .
Semua penderita yang terdiagnosa TB di PUSKESMAS Rubaru digunakan
sebagai sampel penelitian.

C. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas (Independen/antecedent)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah keteraturan minum obat,
merokok dan konsumsi alcohol, penyakit penyerta, motivasi, lingkungan
rumah, kinerja petugas
2. Variabel Akibat (Dependen/konsekuensi/tergantung)
Variabel Akibat dalam penelitian ini adalah kejadian tuberkulosis paru.
3. Variabel Perancu (Pengganggu/confounding)
Variable perancu dalam penelitian ini adalah umur dan jenis kelamin.

D. Definisi Operasional
No.

Variabel

Definisi Operasional

Kategori &

Skala

kriteria
1

Kepatuhan

Kesesuaian perilaku penderita

Patuh atau

minum obat

dengan ketentuan-ketentuan

tidak

Nominal

yang diberikan oleh petugas


kesehatan
2

Merokok

Mengkonsumsi rokok

Merokok atau

Nominal

tidak

Konsumsi

Meminum alkohol

alkohol
4

Minum alcohol

Nominal

atau tidak

Penyakit

Penyakit yang diderita

Punya penyakit

Penyerta

bersama TB paru

penyerta atau

Nominal

tidak
5

Motivasi

Keinginan penderita untuk

Punya motivasi

sembuh

atau tidak

Kondisi

Kondisi rumah penderita yaitu

Rumah

cukupnya sinar

Kinerja
Petugas

Nominal

E. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan pada bulan agustus 2014 sampai 2015. Tempat
penelitian dilaksanakan di wilayah kerja PUSKESMAS Rubaru Sumenep

F. Pengumpulan, Pengolahan dan Analisa Data


1. Pengumpulan Data
Data primer di kumpulkan dengan metode wawancara kepada
penderita yang terdiagnosa dengan acuan kuisioner. Data sekunder
diperoleh dari sumber data PUSKESMAS Rubaru.
2. Pengolahan
Kuisoner yang telah diisi tentang karakteristik responden diolah secara
manual kemudian dianalisis.
3. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan analisis chi square untuk menguji
hipotesis dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Merumuskan H0 dan H1
b. Menentukan df dan taraf signifikasi
c. Mencari nilai

pada df dan taraf yang telah ditentukan

d. Mencari nilai
e. Menyimpulkan untuk menolak atau menerima H0

G. Etika Penelitian
Kegiatan

pengumpulan

data

dilaksanakan

dengan

memperhatikan

masalah-masalah etika, yaitu :


1. Informed consent
Merupakan lembar persetujuan yang diberikan kepada responden yang
memenuhi kriteria. Jika responden menolak maka peneliti tidak boleh
memaksa dan menghargai hak responden.
2. Anonimity
Untuk menjaga kerahasian identitas responden, peneliti tidak
mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data, hanya
cukup diberi nomorm kode atau inisial.
3. Confidentially
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Hanya
kelompok data tertentu yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil
penelitian.

Daftar Pustaka

1. Aditama TY, Sepuluh masalah TB dan penanggulangannya, Jurnal Respirasi


Indonesia, 2000;20(1):8-12.
2. Alisjahbana B, Parwati I, Rosana Y, Sudiro TM, Kadarsih R, et al.
Implementation

of

high-throughtput

drug

susceptibility

testing

of

Mycobacterium tuberculosis in Indonesia. In: Alisjahbana B, editor.


Tuberculosis in Indonesia host response and patien care. Jakarta : PT Dian
Rakyat; 2007.
3. Blomm B. Tuberculosis pathogenesis protection and control. Howard H,
editor. Washington DC: Albert Einstein College ASM; 1994.
4. Davies PD, Barnes PF, Gordon SB. Clinical tuberculosis. Hodder A, editor.
London: Euston road; 2008.
5. Departemen Kesehatan RI. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2004.
6. Departemen Kesehatan RI. Program

Penaggulangan

TBC.

Jakarta:

Departemen Kesehatan RI. Jakarta; 2005.


7. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2008.
8. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penanggulangan TB di Tempat Kerja.
Jakarta: Departemen Kesehatan; 2008.
9. Departemen Kesehatan RI. Strategi nasional pengendalian Tb di Indonesia
2010-2014. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2011.
10. Diah H. Studi Kasus Drop Out Pengobatan Tuberkulosa di PUSKESMAS
Kodya Malang. Malang: Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis; 2010.
11. Enarson DA, Chen YC, Murray JF. Global epidemiology of tuberculosis. In:
Rom WN, Garay SM, Blomm BR, editors. Tuberculosis. Philadelphia:
Lippincott William & wilkins; 2004.
12. Masniari P, Iyep K, Susan MN. Bahaya dan Penanganan Tuberkulosis. Bogor:
Balai Penelitian Veteriner; 2011.

13. Masniari P, Priyanti ZS. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesembuhan


Pasien TB Paru. J Respir Indo 2007;27:176-183
14. Nizar, M. Pemberantasan dan Penanggulangan Tuberkulosis. Yogyakarta:
Gosyen Publishing; 2010.
15. Notoatmodjo, S. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta; 2003.
16. PDPI JATIM. Pedoman Penatalaksanaan TB Paru dan DOTS. Surabaya: Balai
Pengobatan dan Pemberantasan Penyakit Paru; 1999.
17. Rosmila T. Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan implementasi
penemuan pasien TB paru dalam program penanggulangan TB di puskesmas
Kota Semarang. Semarang: Undip; 2008.
18. Sugiono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta; 2012.
19. World Health Organization. Adherence to longterm therapies for tuberculosis.
Geneve, Switzerland: WHO; 2003.
20. World Health Organization. Guidelines for the programmatic management of
drug-resistant tuberculosis. Geneve, Switzerland: WHO; 2011.p.1-8.
21. (Yusrisal DS, 2009).
22. (Dr. Indan Enjang, 2002).