Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH BUDIDAYA TANAMAN SEMUSIM

TANAMAN GANDUM
(Triticum aestivum L.)

Disusun oleh :
Annisa Ratu Aqilah

12564

Luciana Veronica

12576

Ayuni Dwi Rakhmawati

12582

Dosen Pengampu :

A. T. Soejono
Dyah Weny Respatie, S.P. M.Si.

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
BAB II BUDIDAYA TANAMAN GANDUM
A. Syarat Tumbuh
B. Budidaya Tanaman Gandum
C. Permasalah Budidaya Tanaman Gandum
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

I. PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Gandum termasuk tanaman serealia yang mengandung karbohidrat lebih
dari 70 % dan merupakan bahan pangan berbasis tepung. Tepung dari bahan
baku serealia termasuk gandum

mempunyai

karakter

yang istimewa

dibandingkan dengan tepung dari tanaman berpati seperti aneka umbi. Tepung
dari komoditas serealia tidak bersifat higrokopis (mudah mengisap dan
mengeluarkan uap air) sehingga memiliki daya simpan yang cukup panjang,
baik dalam bentuk biji maupun tepung (Nurmala, 2006).
Konsumsi pangan berbasis gandum di Indonesia terus meningkat dari
tahun ke tahun, akibat dari perubahan pola kunsumsi pangan di masyarakat
seperti mie, bihun, kue, cornflakes, cococrunch dan lain sebagainya. Hal ini
sangat mempengaruhi ketahanan pangan di dalam negeri karena kebutuhan
gandum nasional seluruhnya dipenuhi dari impor. Bila konsumsi gandum terus
meningkat dengan harga yang terus merangkak naik di pasar dunia, diperkirakan
akan terjadi kelangkaan terigu di pasar dalam negeri. Ini akan menjadi kendala
bagi keberlanjutan industri pangan berbasis gandum.
Pengembangan gandum ditujukan untuk memantapkan daerah-daerah
yang sudah biasa menanam gandum, sedangkan daerah bukaan baru lebih
difokuskan kepada sosialisasi dan demplot-demplot agar petani yang ingin
mengembangkan gandum dapat belajar tentang budidaya gandum. Peningkatan
areal tanam terus diupayakan melalui pemasyarakatan tanaman gandum kepada
petani.

B. Tujuan
1. Mengetahui cara membudidayakan tanaman gandum (Triticum aestivum L.)
dengan baik dan benar
2. Mengetahui permasalahan dalam budidaya gandum serta penyelesaiannya

BUDIDAYA TANAMAN GANDUM


(Triticum aestivum L.)

A.

Syarat Tumbuh
Gandum dapat tumbuh dengan subur pada keadaan iklim dan tanah tertentu.

Tanaman gandum dapat tumbuh optimum pada suhu 20-25 C pada ketinggian 800 m
dpl. Suhu dingin diperlukan pada awal penanaman dan awal pertumbuhan tamana
gandum. Kelembaban rata-rata tanaman gandum adalah 80-90% dengan curah hujan
antara 600-825 mm/tahun (curah hujan sedang) dan intensitas penyinaran 9-12 jam/hari.
Jenis tanah yang baik untuk budidaya tanaman gandum adalah tanah andosol
kelabu, latosol, dan aluvial dengan suhu tanah 15-28 C dan pH rata rata berkisar 6-7.
Gandum lebih cocok ditanami di tanah yang terairi, tanah subur dengan tekstur sedang
hingga kasar. Tanah silt dan clay loams akan menghasilkan panen yang besar, namun
gandum juga berkembang biak di sandy loams dan clay soil. Tanah dengan kadar pasir
yang tinggi tidak cocok untuk gandum (Wiyono, 1980). Syarat tanah yang baik untuk
pertumbuhan tanaman gandum adalah hara yang diperlukan cukup, tidak ada zat
toksik, kelembaban mendekati kapasitas lapang, aerasi tanah baik, dan tidak ada lapisan
padat yang menghambat penetrasi akar gandum untuk menyusuri tanah.
Tanaman gandum memerlukan proses vernelisasi (vernelization) yaitu suatu
perlakuan dengan suhu rendah untuk merangsang tanaman agar dapat berbunga dan
menghasilkan biji. Daerah yang bersuhu rendah yang berpotensi untuk pertanaman
gandum biasanya terdapat di dataran tinggi pada elevasi lebih dari 1000 meter di atas
permukaan laut.

B.

Budidaya
Bahan Tanam
Benih yang digunakan hendaknya benih bermutu, hal ini sangat penting
disamping untuk menghasilkan produksi yang tinggi juga tahan terhadap hama
dan penyakit yang menyerang. Kebutuhan benih per hektar 100 kg atau sama
dengan 1 kg/100 m dengan sistem larikan. Jika ditanam dengan sistem tugal
kebutuhan benih bisa kurang dari 100 kg/ha. Bibit yang digunakan harus bibit

bersertifikat dan diberi perlakuan dengan fungisida sebelum ditanam untuk


mencegah serangan cendawan dan penyakit yang menyerang bibit (Wiyono, 1980).
Cara Pengolahan Tanah
Tanah

dicangkul

sedalam

25-30

dicangkul, dibiarkan/diangin-anginkan selama 7 hari.


dilakukan

agar

bongkahan

cm.

Setelah

tanah

Penggemburan

tanah

tanah menjadi butiran yang lebih halus. Kemudian

tanah diangin-anginkan selama 7 hari agar terhindari dari unsur

beracun

yang

mungkin terkandung di tanah.


Pembuatan Bedengan
Tanah yang telah diolah atau digemburkan dibuat bedengan selebar 200 cm.
Panjang bedengan menyesuaikan dengan kondisi lahan. Di antara bedengan dibuat
selokan selebar 50 cm dan sedalam 25 cm. Tanah dari galian selokan diambil dan
ditaburkan di atas bedengan sehingga menambah tinggi bedengan. Permukaan
bedengan

dihaluskan

dan

diratakan.

Pada

setiap

bedengan

akan

terdapat 8 barisan tanaman dengan jarak antar baris 25 cm.


Penanaman
Penanaman dapat dilakukan secara manual maupun dengan mesin penanaman.
Secara manual penanaman dapat dilakukan dengan cara ditugal, dengan dua sampai
tiga benih per lubang. Varietas yang ada dan pernah dikembangkan di Indonesia
baru beberapa varietas di antaranya Nias, Timor, Selayar dan Dewata namun
dari ke-4 varietas tersebut yang banyak di tanam oleh petani varietas
Selayar dan Dewata.
Waktu Tanam
Waktu tanam yang tepat adalah pada awal musim kemarau dan di akhir
musim penghujan, pada sebagian besar daerah di Pulau Jawa biasanya berada di anta
ra bulan April dan Mei dengan perkiraan curah hujan yang tidak terlalu tinggi.
Namun

demikian,

ada

beberapa daerah yang waktu tanamnya tidak pada bulan

tersebut karena perbedaan musim kemarau dan penghujan. Waktu tanam harus

sangat diperhatikan karena pembungaan tanaman gandum sangat dipengaruhi oleh


musim. Pada saat musim dingin (hujan), pembungaan terjadi sangat lambat dan polen
bisa mati tercuci air hujan. Oleh karena itu, musim dingin saat pembungaan akan
menyebabkan pengisian yang kurang pada tanaman gandum (Wienardi, 2003).
Karena itulah untuk mencegah terjadinya pembungaan pada musim hujan, maka
sebaiknya tanaman gandum ditanam pada awal musim kemarau dan di akhir
musim penghujan.
Cara Bertanam
Dibuat alur/larikan pada bedengan dengan jarak antara 25 cm.

Benih

yang

akan ditanam, dicampur terlebih dahulu dengan Dithane. Benih dimasukkan


dalam alur sedalam 3,5 cm dengan cara seretan. Ditaburi Furadan ditempat biji
dalam

alur,

kemudian

ditutup dengan

tanah

halus.

Pemberian

Furadan

dimasukan agar benih tidak terjangkit hama dan penyakit.


Pengairan
Pada waktu setelah tanam yang diikuti pemupukan pertama, lahan perlu
diairi agar benih berkecambah dan dapat tumbuh dengan baik. Pada waktu tanaman
berumur 3-0 HST yaitu pada waktu setelah penyiangan dan pemupukan kedua,
tanaman perlu diairi agar dapat menyerap pupuk dengan baik. Waktu tanaman
berumur 45-65 HST yakni pada waktu fase bunting sampai keluar malai, tanaman
perlu diairi kembali untuk meningkatkan jumlah bunga dan biji yang dihasilkan.
Pada fase pengisian biji sampai masak ( 7090 HST) tanaman perlu diairi agar tidak
menurunkan berat biji yang dihasilkan.
Gandum dapat tumbuh dengan bantuan irigasi apabila curah hujan sangat minim.
Musim kering yang panjang tanpa irigasi akan menurunkan hasil panen. Gandum
yang ditanam di daerah panas dan kekurangan air produksinya akan lebih rendah
walaupun kualitasnya lebih baik daripada daerah lembap dan beririgasi karena
penyakit gandum dapat berkembang cepat di daerah panas dan lembap (Wienardi,
2003). Irigasi yang baik sangat potensial untuk meningkatkan produksi gandum,
tetapi harus dijaga agar tidak terlalu banyak air. Cukup dengan menggenangi jalur

pada peletakan atau dengan irigasi tetes (sprinklers), kebutuhan air bagi pertanaman
gandum dapat terpenuhi.

Pengendalian Kesuburan Tanah


Pemupukan dilakukan sebagai salah satu upaya dalam pengendalian kesuburan
tanah.Waktu pemupukan dapat dilakukan sebelum tanam atau pada saat tanam
sebagai pupuk dasar. Pupuk pertama diberikan TSP dan KCl serta sebagian pupuk N.
Dosis pupuk dapat ditentukan oleh jumlah hara yang
Biasanya

pupuk

organik

10 ton/ha,

tersedia di

sedangkan

pupuk

dalam tanah.
anorganik

120-

200 kg N/ha, P 45 - 150 kg/ha dan 30 70 kg K/ha. Pemberian pupuk urea dapat
diberikan 2-3 kali.
Pemberian I

: Sepertiga

bagian

bersama

dengan

pupuk

dan

K dalam bentuk pupuk majemuk, guna merangsang perakaran dan pertumbuhan


vegetatif.
Pemberian II

: Sepertiga bagian pada saat bertunas sekitar 25-30

hari setelah

tanam guna merangsang pertunasan untuk menjadi tunas produktif.


Pemberian III

: Sisanya pada saat pembentukan primordia bunga (ketika

tanaman tillering, sekitar 9 minggu setelah penanaman) untuk

mendorong

pembentukan malai, butir gandum dan peningkatan protein, dengan cara digarik
dalam larikan/lubang diantara tanaman.
Selain pupuk tersebut, pemanfaatan agen biologis seperti Azospirillum dapat
juga membantu peningkatan kesuburan tanah dalam bentuk pupuk hayati, karena
kemampuannya menambat nitrogen yang juga dibutuhkan oleh tanaman. Bakteri ini
banyak dijumpai berasosiasi dengan tanaman jenis rerumputan, termasuk beberapa
jenis serelia seperti gandum (Rahmawati, 2005). Selain itu, bakteri Azotobacter juga
telah banyak diteliti dapat meningkatkan hasil tanaman setelah diinokulasikan pada
tanaman. Di India inokulasi Azotobacter pada tanaman jagung, gandum, cantel,
padi, bawang putih, tomat, terong, dan kubis ternyata mampu meningkatkan hasil
tanaman tersebut. Namun, jika keduanya diinokulasikan bersama-sama, maka

Azospirillum menyebabkan kenaikan cukup besar pada tanaman jagung, gandum, dan
cantel (Sutanto, 2002).
Pengendalian Gulma
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan gulma adalah
penyiangan. Penyiangan dilakukan sebagai upaya dalam pengendalian pertumbuhan
gulma. Penyiangan dilakukan 2-3 kali tergantung banyaknya populasi gulma.
Penyiangan pertama dilakukan saat tanaman berumur 1 tahun. Penyiangan kedua
dilakukan pada minggu ketiga dari penyiangan pertama dan penyiangan ketiga
tergantung banyak dan tinggi populasi gulma. Pengendalian gulma tergantung pada
daerah penanaman, teknik persiapan lahan, irigasi dan tipe-tipe gulma (tanaman liar)
yang ada.
Pemanenan
Dalam jumlah besar (skala pabrik) gandum dapat dipanen menggunakan mesin
perontok. Dilakukan pengidentifikasian ciri-ciri fisik maturity (Physical Maturity)
sewaktu pemanenan. Kegiatan ini dapat dilakukan secara visual dengan melihat
kekerasa gandum.
Pasca Panen
Setelah dipanen, hasil panen dapat langsung diolah menjadi bahan yang siap
untuk digunakan, maupun disimpan untuk digunakan dalam jangka waktu yang lama.
Gandum biasa diolah sebagai tepung yang biasa digunakan sebagai bahan dasar roti
gandum.

C.

Permasalahan Budidaya Gandum Di Indonesia


Tanaman gandum berasal dari daerah subtropis, sehingga di Indonesia penanaman

gandum lebih baik di daerah-daerah yang iklimnya mendekati kondisi daerah asal.
Kendala yang sering dialami tanaman gandum di daerah tropis adalah temperatur udara,
temperatur tanah dan kelembaban udara.
Daerah-daerah dengan lingkungan yang memenuhi syarat tumbuh gandum
terkonsentrasi pada dataran tinggi yang lebih didominasi oleh tanaman hortikultura dan

ini akan menimbulkan kompetisi yang tinggi, apalagi petani relatif belum mengenal
tanaman gandum (Puslitbang Tanaman Pangan, 2008). Selain itu, hambatan juga
muncul karena sebagian besar petani belum mengenal budidaya gandum, serta belum
ada jaminan pasar untuk produk gandum lokal yang dihasilkan (Human, 2012).

D.

Peluang Budidaya Tanaman Gandum di Indonesia


Konsumsi pangan berbasis tepung terigu semakin berkembang, seperti mie, roti,

kue dan lain sebagainya. Dampak dari perubahan pola konsumsi dari masyarakat antara
lain adalah meningkatnya permintaan terhadap produk olahan gandum. Selain untuk
pangan, gandum dapat juga digunakan sebagai bahan baku obat-obatan, kosmetik,
sedangkan jerami gandum untuk pakan dan media tumbuh jamur konsumsi.
Upaya peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui beberapa penelitian. Di
dataran tinggi (>800 mdpl) tanaman gandum diusahakan pada akhir musim hujan.
Gandum yang ditanam pada akhir musim hujan dimungkinkan untuk dipanen pada
musim kemarau, sehingga indeks panen dapat ditingkatkan tanpa menggeser kedudukan
tanaman

sayuran.

Di

dataran

rendah,

gandum

dikembangkan

dengan

mempertimbangkan kondisi iklim mikro yang sesuai untuk pertumbuhan (Puslitbang


Tanaman Pangan, 2008).
Program pemuliaan gandum di Indonesia diarahkan pada perakitan varietas
unggul tropis yang mampu beradaptasi di dataran rendah. Seleksi galur dan evaluasi
keragaman genetik memberi peluang bagi perbaikan karakter dan pemilihan genotipe
unggul. Untuk meningkatkan produktivitas gandum diperlukan varietas/galur yang
secara genetik berdaya hasil tinggi yang didukung antara lain oleh faktor genetik dan
lingkungan. Salah satu kriteria keberhasilan program pemuliaan gandum di Indonesia
adalah kemampuan untuk merakit varietas unggul yang adaptif pada lokasi dengan
ketinggian kurang dari 400 m dpl (Pabendon, dkk, 2009).

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan

Dalam budidaya gandum diperlukan beberapa hal yang harus diperhatikan,


seperti Bahan Tanam (benih yang digunakan hendaknya benih bermutu),
Cara Pengolahan Tanah

(dicangkul,

digemburkan,

diangin-anginkan),

Pembuatan Bedengan (panjang bedengan menyesuaikan dengan kondisi lahan),


Penanaman (secara manual maupun dengan mesin pemanenan), Waktu Tanam
(pada awal musim kemarau dan di akhir musim penghujan), Cara Bertanam
(Dibuat alur/larikan pada bedengan,
dengan Dithane, dimasukkan

benih

dalam

alur

dicampur

terlebih

sedalam

3,5

cm

dahulu
dengan

cara seretan, ditaburi Furadan ditempat biji dalam alur, ditutup dengan tanah
halus), Pengairan (Pada waktu tanaman berumur 3-0 HST, pemupukan kedua,
dan tanaman berumur 45-65 HST), Pengendalian Kesuburan Tanah (Pemberian

pupuk urea diberikan 2-3 kali), Pengendalian Gulma (Penyiangan dilakukan


2-3 kali tergantung banyaknya populasi gulma), Pemanenan (menggunakan
mesin perontok dalam skala besar maupun dengan secara manual) dan Pasca
Panen (langsung diolah maupun disimpan).

Tanaman gandum berasal dari daerah subtropics, sehingga untuk dibudidayakan


di Indonesia perlu perlakuan khusus, daerah khusus (daerah dataran tinggi)
sehingga

bersaing

dengan

tanaman

hortikultura

yang

sudah

banyak

dibudidayakan di dataran tinggi.


B.

Saran

Komoditas yang dipresentasikan adalah komoditas yang ditanam saat praktikum.


Sehingga materi praktikum bisa saling berkaitan dengan materi kuliah. Untuk
komoditas yang sulit ditanam saat praktikum saja yang melakukan survei ke
lahan petani sebenarnya (lebih baik melakukan praktikum langsung di lahan
petaninya atau ikut membantu petani membudidayakan)

Hasil presentasi di sebarkan melalui media daring (online) sehingga dapat


menjadi manfaat bagi orang banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Antara

News.

2012.

Program

Ketahanan

Pangan

Baru

Bertumpu

Pada

Ketersediaan.http://www.antaranews.com/berita/336182/program-ketahananpangan-baru-bertumpu-pada-ketersediaan
Aqil, M., B.P. Marcia dan H. Muslimah. 2011. Inovasi Gandum Adaptif Dataran
Rendah. Badan Litbang Pertanian. No 3390. Th XLI.
Deptan.

2012.

Program

Peningkatan

Ketahanan

Pangan.http://www.deptan.go.id/daerah_new/ntt/distan_ntt/keg.apbn_files/PRO
GRAM PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN.htm
Detikfinance. 2012. Republik Indonesia Pengimpor Gandum Terbesar Kedua di
Dunia.http://finance.detik.com/read/2012/06/12/103707/1938780/1036/ripengimpor-gandum-terbesar-kedua-di-dunia
Dirjen Tanaman Pangan. 2010. Gandum. Dirjen Tanaman Pangan. Jakarta.
Human, Soeranto. 2012. Riset dan Pengembangan Sorgum dan Gandum untuk
Ketahanan Pangan. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga
Nuklir Nasional (BATAN), Jakarta.
Nurmala, T. 2006. Pengembangan Tanaman Gandum (Triticum aestivum) Sebagai
Pangan Berbasis Tepung dalam Diversifikasi Pangan. Makalah dalam Rapat
Koordinasi Temu Teknis Pengembangan Gandum dan Sorgum 2005-2006.
Makasar. Sulsel, 9 12 Mei 2006.
Pabendon, M.B., Haeruddin, R., dan Hamdan, M. 2009. Kemajuan Pemuliaan Gandum
Tropis. Warta Penelitian dan Pengembangan Penelitian Balai Penelitian
Tanaman Serealia Maros. Sulawesi Selatan.
Puslitbang Tanaman Pangan. 2008. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis
Gandum. Bogor.
Rahmawati, Nini. 2005. Pemanfaatan Biofertilizer pada Pertanian Organik. Fakultas
Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius, Yogyakarta.


Universitas Andalas. 2013. Status Perkembangan Penelitian Gandum oleh Tim
Universitas

Andalas. http://www.unand.ac.id/id/berita/universitas/1272-status-

perkembangan-penelitian-gandum-oleh-tim-universitas-andalas
Wienardi, Freesia. 2003. Sistem Produksi Benih Gandum (Triticum durum) Kelas
Penjenis di INRA, Maroko. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.