Anda di halaman 1dari 41

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

J D DENGAN
TUBERCULOSIS PARU DI RUANG SAKURA
RSD dr. SOEBANDI JEMBER

Oleh:
Bima Satriya Dewantara, S .Kep.
112311101030

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER


FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN MEDIKAL DAN BEDAH
Nama Mahasiswa
NIM
Tempat Pengkajian
Tanggal

: Bima Satriya Dewantara, S. Kep.


: 112311101030
: Ruang Sakura, RSD dr. Soebandi, Jember
: 16 Januari 2017

I. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama

: Ny. J
: 35 tahun
: Perempuan
: Islam

No. RM
Pekerjaan
Status Perkawinan
Tanggal MRS

Pendidikan

: SD

Tanggal Pengkajian

Alamat

: Desa Pringgowirawan,
Kec. Sumberjambe, Jember

Sumber Informasi

: 153220
: IRT
: Menikah
: 14 Januari 2017
(02.00 WIB)
: 16 Januari 2017
(14.30 WIB)
: Data dari pasien,
keluarga, dan rekam
medis pasien

II. Riwayat Kesehatan


1. Diagnosa Medik: Tuberculosis + B20 + Pneumonia + efusi Pleura +
trombositopenia
2. Keluhan Utama: Batuk disertai sesak
3. Riwayat penyakit sekarang:
Pasien mengatakan mengalami batuk disertai sesak kurang lebih sejak 2
bulan yang lalu. Karena kondisi yang semakin turun disertai demam suami
pasien memutuskan untuk membawa pasien ke puskesmas Sumberagung
pada tanggal 13 Januari 2017. karena tidak ada perubahan pasien dirujuk
ke RSD dr. Soebandi pada pukul 02.00 WIB. Pasien masuk melalui IGD
kemudian dipindahkan ke ruang melati sekitar pukul 03.15 WIB. Pada saat
di IGD pasien masih mengeluh sesak, batuk, lemas, dan demam, kesadaran
pasien komposmentis, GCS: 443, ada oedem di ekstremitas bawah sinistra,
TTV: TD 90/60 mmHg; N: 80x/ menit; RR: 26x/menit; T: 37,4C; CRT: <2
detik. Selain itu pasien juga mendapatkan terapi Infus PZ500cc/ 8jam 20
tpm, injeksi Nicardipin per IV melalui syringe pump 6,75 cc/jam,

Ranitidin per IV 2x1 gr, antrain per IV 3x1 gr, Akhirnya pasien masuk di
ruang rawat inap Sakura pada pukul 03.15 WIB.
4. Riwayat kesehatan terdahulu:
a. Penyakit yang pernah dialami:
Menurut keluarga, pasien sakit batuk dan mulai mengalami penurunan
berat badan sudah hampir satu tahun yang lalu namun tidak pernah
MRS karna keterbatasan biaya.
b. Alergi (obat, makanan, plester, dll):
Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat, makanan, dan hal
lainnya.
c. Imunisasi:
Pasien melakukan imunisai lengkap
d. Kebiasaan/pola hidup/life style:
Pasien memiliki pola kebiasaan yang baik yaitu ketika sakit selalu
merujuk ke tenaga kesehatan terdekat.
e. Obat-obat yang digunakan:
Pasien mengatakan jika sakit minum obat-obatan yang diberikan
tenaga medis setempat.
5. Riwayat penyakit keluarga:
Pasien memiliki keluarga dengan riwayat penyakit batuk yang lama yaitu
ayahnya,
Genogram:

Keterangan:
Laki-laki

Pasien

Perempuan

Tinggal satu rumah

Meninggal

III. Pengkajian Keperawatan


1. Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan
Pasien mengatakan jarang berolah raga. Pasien mengatakan tidak pernah
memiliki jadwal berolahraga.
Interpretasi: pasien memiliki persepsi dan pemeliharaan kesehatan yang
buruk
2. Pola nutrisi/ metabolik (ABCD) (saat sebelum sakit dan saat di rumah
sakit)
- Antropometeri
Sebelum sakit
Saat sakit
BB= 48 kg, TB=150 cm
BB= 40kg, TB= 150 cm
Indeks Massa Tubuh (IMT) pasien saat ini adalah sebagai berikut:
IMT = BB/TB2 40/(1,5)2 = 40/2,25 = 17.7. Nilai IMT normal pada
perempuan dewasa menurut Depkes (2003) adalah 17-23.
Interpretasi: Pasien mengalami penurunan BB setelah sakit dan dalam
kategori IMT kurus dengan kekurangan berat badan ringan / KEK ringan.
- Biomedical sign:
Tanda biomedis yang dapat dilihat pada Ny. S antara lain:
1) Darah : Hb= 11,1 mg/dl (N=12,5-16,5 gr/dl)
2) SGOT, SGPT yang tidak mengalami peningkatan. Nilai SGOT= 29 U/I
(Normal: L <35 U/I, P<31 U/I) SGPT= 31 U/I (L<40 U/I, P<31 U/I)
Interpretasi: pada Tn. D tidak ditemukan ada peningkatan nilai SGOT
dan nilai SGPT hal ini berkaitan dengan status faal hati.
- Clinical Sign:
1) Selama MRS BAK 1800/hari dengan konsentrasi pekat, BAB 12x/hari dengan konsentrasi cair
2) KU pasien baik
Interpretasi: Pasien tidak mengalami masalah pencernaan.
- Diet Pattern (intake makanan dan cairan):
No
Pola Nutrisi
Makanan
1.
Frekuensi makan

Sebelum MRS

Porsi makan

1 piring/makan

3 kali/hari, jam
menyesuaikan dengan
pembagian makanan
dari RS
Kadang tidak habis

Varian makanan

Nasi putih, nasi jagung,


ikan laut, tahu, tempe,
telur, sayur-sayuran,
kacang-kacangan, buah.
Baik
-

Sesuai diit makanan


yang diberikan di rumah
sakit (bubur, telur,
papaya)
Kurang
-

+/- 2000 ml
Air putih
-

+/- 300 ml
Air putih
-

4
Nafsu makan
5
Keluhan makan
Minuman
1
Jumlah
2
Jenis
3
Keluhan minum

3 kali/hari, teratur tiap


jam 7 pagi, jam 1 siang
dan jam 7 malam

Saat di RS

Interpretasi: Pasien mengalami penurunan nafsu makan dan kuantitas


minum pada saat sakit.
Kebutuhan nutrisi perhari (persamaan Haris Benedict)
Berat badan ideal Tb - 100 = 150-100 = 50kg
BMR ideal= 88,362 + (13, 297 x BBi dalam kg) + (4,797 x TB dalam cm)
(5,677x umur dalam tahun)
= 88,362 + (13,297 x 50) + (4,797 x 150) (5,677 x 35)
= 88,362 + 664,85 + 719,55-369,005
= 1103,757
Kebutuhan kalori = BMR x factor koreksi (bedrest)
= 1103,757 x 1,2
= 1324,5084 kkal/hari
Intake nutrisi
- input oral
jumlah kalori tiap porsi makan Ny. J = 350 kkal 3x/hari
Balance kalori Ny. J = intake nutrisi kebutuhan kalori
= 1050-1324,5084
= - 274,5084 kkal
3. Pola eliminasi: (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
BAK
No
1
2

Pola eliminasi
Frekuensi
Jumlah

3
4

Warna
Bau

5
6
7
8
9

Karakter
Bj
Alat bantu
Kemandirian
Lain-lain

Sebelum MRS
5-6 kali/hari
(1)ccx 48/BB x24
jam= 1152 cc
Jernih kekuningan
Bau khas urin :
Amoniak
Mandiri
-

Setelah MRS
5-6 kali/hari
1800 cc
pekat kekuningan
Bau khas urin : Amoniak
Dibantu alat
-

BAB
No
1
2
3
4
5
6

Pola eliminasi
Frekuensi
Jumlah
Konsistensi
Warna
Bau
Karakter

7
8
9

Bj
Alat bantu
Kemandirian
Lain-lain

Sebelum MRS
1-2 kali/hari
Lembek, cair
Kuning
Bau khas BAB
Ukuran sesuai feses
normal
Mandiri
-

Setelah MRS
1-2 kali/hari
Lembek, cair
Kuning
Bau khas BAB
Dibantu alat
-

Interpretasi: Saat sakit pasien tidak mengalami penurunan pola


eliminasi BAB dan peningkatan pola elemninasi BAK
Balance cairan:
Water metabolisme = 5cc/kgBB/hari = 5x40 = 200 cc
IWL = 2xWM = 2x200 = 400 cc
- Intake cairan:
WM
: 200 cc
Infuse
: 2250 cc
Injeksi
: 11 cc
Minum
: 300 cc
Total
:2761 cc
- Output cairan:
Urine
: 1800 cc
IWL
: 400 cc
Drain
: 200 cc
Total
: 2200 cc
Balance cairan = + 361 cc
Intake > Output
4. Pola aktivitas & latihan (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
Pasien dapat makan/ minum, berpakaian, berpindah, dan ambulasi/ROM
serta mobilisasi di tempat tidur dengan mandiri sedangkan toileting
dibantu keluarga
c.1. Aktivitas harian (Activity Daily Living)
Kemampuan perawatan diri
0
Makan / minum
Toileting
Berpakaian
Mobilitas di tempat tidur
Berpindah
Ambulasi / ROM

Ket: 0: tergantung total, 1: dibantu petugas dan alat, 2: dibantu petugas, 3:


dibantu alat, 4: mandiri
a. Status Oksigenasi : pasien dapat bernapas spontan
b. Fungsi kardiovaskuler : pasien memiliki tekanan darah 90/70 mmHg
dan nadinya adalah 84x/ menit, CRT< 2 detik
c. Terapi oksigen: Pasien menggunakan terapi oksigen nasal kanul 4lpm
Interpretasi: pasien mengalami gangguan pernapasan
5. Pola tidur & istirahat (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
No
1

Pola tidur &


Istirahat
Siang hari (durasi)

Sebelum MRS
12.00-13.00 (1 jam)

Saatdi RS
07.00-11.00 dan jam lain
di siang hari (4 jam)

Malam hari (durasi)

Kualitas

Gangguan tidur

10.30-03.30 (5 jam)
segar setelah bangun
tidur
-

01.30-06.00 (5,5 jam)


Tidak segar setelah
bangun
batuk

Interpretasi: Kuantitas tidur pasien meningkat namun kualitas tidurnya


menurun saat sakit.
6. Pola kognitif & perceptual
Fungsi kognitif dan memori:
Pasien tidak mengalami penurunan kognitif dan memori. Pasien dapat
mengenal tempat, waktu dan orang dengan baik. Pasien dapat mengingat
apa yang terjadi pada dirinya.
Fungsi dan keadaan indera:
Indera pasein berfungsi dengan baik dan normal
Interpretasi: Fungsi kognisi dan memori pasien tidak mengalami gangguan
7. Pola persepsi diri
Gambaran diri:
Pasien dapat memberikan penilaian terhadap dirinya dalam keluarga.
Identitas diri:
Pasien dapat menyadari identitas dirinya dan perannya dalam keluarga
Harga diri:
Pasien tidak mengalami penurunan harga diri
Ideal Diri:
Pasien merupakan seorang kepala keluarga
Peran Diri:
Pasien sadar akan peran dirinya sebagai kepala dalam keluarganya
8. Pola seksualitas & reproduksi
Pola seksualitas:
Pasien memiliki hhubungan yang harmonis dengan suaminya. System
reproduksi berfungsi sebagaimana mestinya terkait kondisi yang dialami
saat ini.
Fungsi reproduksi: Pasien memiliki 3 orang anak.
Interpretasi: tidak terdapat gangguan seksualitas pasien.
9. Pola manajemen koping-stress
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien selalu bercerita pada anggota
keluarga jika mengalami masalah kesehatan.
Interpretasi: Pasien memiliki manajemen koping-stres yang positif.
10. System nilai & keyakinan
Nilai keagamaan dan keyakinan pasien dapat terkaji langsung dari pasien.
pasien mengatakan bahwa selalu melakukan ibadah wajib selama sakit.
Pasien meyakini bahwa jika ia mengikuti prosedur pengobatan RS dengan
baik dia akan lekas sembuh.

Interpretasi: Sistem nilai dan keyakinan pasien baik.

IV. Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum:
Cukup, Komposmentis (EVM=4-5-6)
Tanda vital:
- Tekanan Darah
:90/70 mm/Hg
- Nadi
:84 x/mnt
- Frekuensi napas
:26 x/mnt
- Suhu
:36,6C
Interpretasi :
Berdasaran hasil pengkajian tanda-tanda vital, TD pasien termasuk kategori
Hipotensi.
Pengkajian Fisik Head to toe (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi)
1. Kepala
a) Inspeksi: bentuk kepala simetris, tidak ada benjolan, distibusi rambut
merata, rambut kusam, rambut tidak mudah rontok, kulit kepala kotor
dan tidak berbau, tidak ada lesi pada kulit kepala
b) Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan pada kepala
2. Mata
a) Inspeksi: Bentuk mata simetris, bulat, pupil isokor (kanan:3+/kiri:3+),
sklera kemerahan, konjungtiva merah muda. Pasien tidak
menggunakan alat bantu penglihatan, pasien dapat melihat dengan
jelas
b) Palpasi: Tidak terdapat nyeri tekan pada mata
c) Pemeriksaan reflek cahaya pada pasien +
3. Telinga
a) Inspeksi: Bentuk telinga simetris, bersih, tidak ada jejas, tidak ada
serumen, tidak ada benjolan. Membran timpani berwarna putih
mengkilat.
b) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada aurikel dan tragus telinga
4. Hidung
a) Inspeksi: Hidung simetris, bersih, tidak ada benjolan, tidak ada jejas,
tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak ada hipermukus
b) Palpasi: Tidak ada nyeri tekan pada hidung
5. Mulut
a) Inspeksi: Mulut nampak bersih, sariawan, mukosa bibir kering dan
tidak terlihat sianosis, gigi lengkap dan nampak kotor.
6. Leher
a) Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada benjolan, tidak ada jejas, tidak
terdapat bendungan vena jugularis
b) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada leher, tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid dan kelenjar limfe, pulsasi nadi karotis kuat dan reguler

7. Dada
Jantung
a) Inspeksi : Bentuk simetris,
b) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, ictus cordis tidak teraba
c) Perkusi : Pekak pada ICS 2-5
d) Auskultasi : S1 S2 tunggal
Paru-paru
a) Inspeksi : bentuk dada simetris, terdapat retraksi intercosta, tidak
terdapat bentuk barrel chest, ekspansi paru simetris
b) Palpasi : vocal fremitus tidak sama antara dada kanan dan kiri, kiri
tertinggal, tidak terdapat krepitasi
c) Perkusi : Sonor, redup ICS 6-7 dekstra
d) Auskultasi : Bunyi pernafasan ronkhi lapang paru ke 3 dan 4.
8. Abdomen
a) Inspeksi: Abdomen berbentuk simetris, bersih, tidak ada jejas,
bentuknya datar.
b) Auskultasi: bising usus terdengar 12 kali/menit
c) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada abdomen
d) Perkusi : Didapatkan bunyi timpani di seluruh lapang abdomen kecuali
di bagian hipokondrium kanan karena terdapat hepar, tidak terdapat
hepatomegali ataupun splenomegaly
9. Urogenital
Inspeksi: Pasien dapat merasakan sensasi ingin berkemih, pasien terpasang
alat bantu (kateter)
10. Ekstremitas
Ekstrimitas atas
a) Inspeksi: Bentuk simetris, tidak ada benjolan, tidak ada jejas,
pergerakan ekstrimitas bebas. Terpasang infus pada tangan kiri PZ
500ml/ 8 jam dengan 20 tpm.
b) Palpasi: Tidak terdapat nyeri tekan dan krepitasi pada tangan
Ekstremitas bawah
a) Inspeksi: ada edema pada ekstremitas bawah, tidak ada benjolan,
tidak ada luka
b) Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan dan krepitasi pada ekstremitas
bawah, piting edema derajat 2 (kedalaman 5mm dan kemali dalam
waktu 5 detik)
Kekuatan otot: hasil pengukuran kekuatan dan hasil pengukuran
berdasarkan gerakan yang dapat dilakukan oleh pasien adalah sebaagai
berikut:
4
4
Edema _
_
4
4
+ +
11. Kulit dan kuku

a) Inspeksi: Kulit warna sawo matang, mukosa kering, tidak ada benjolan,
kuku pendek dan kotor, tidak terdapat clubbing finger, tidak terdapat
luka
b) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada kulit, turgor kulit elastis, CRT < 2
detik.
12. Keadaan lokal
Kondisi pasien saat ini lemah, pasien kadang merasa sesak, pusing dan
tidak enak makan, pasien tidak dapat melakukan mobilitas secara mandiri
ditempat tidur dan dibantu keluarga untuk aktivitas makan dan kebersihan
diri. Pasien terpasang selang infus di tangan sebelah kiri Pz 500ml/8 jam
20 tpm.
V. Pemeriksaan Fisik/ sistem
a. Sistem Respirasi (B1/ Breathing) : ada sesak, tidak terdapat produksi
sputum dan ada penggunaan otot bantu nafas.
b. Sistem Cardiovaskuler (B2/Blood): TD 90/70 mmHg, denyut jantung
reguler, tidak ada suara jantung tambahan S1 S2 tunggal.
c. Sistem neurologi (B3/ Brain)
1)
Tingkat kesadaran/: Pasien terlihat komposmetis
E: buka mata spontan (4)
V: pasien dapat berbicara dan merespon pembicaraan dengan baik
(5)
M: pasien dapat menggerakan kedua tangan dan kedua kakinya
namun lemah dan melokalisir nyeri (4)
(4-5-4)
Saraf saraf cranial
1) Nervus I (Olfactorius) : pembau (hidung): sesuai dengan objek
2) Nervus II (Opticus) : Penglihatan: mata sesuai dengan objek
3) Nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlearis, Abducens)
-

Konstriksi pupil

Gerakan kelopak mata : tidak ada perbedaan ka-ki

Pergerakan bola mata

Pergerakan mata ke bawah & dalam: tidak ada gangguan

: tidak ada gangguan

: mengikuti objek

4) Nervus V (Trigeminus)
-

Sensibilitas / sensori: tidak ada gangguan

Refleks dagu: normal

Refleks cornea: normal

5) Nervus VII (Facialis)


-

Gerakan mimik : wajah simetris saat tersenyum

Pengecapan 2 / 3 lidah bagian depan: refleks hisap dan rooting


dalam keadaan baik

6) Nervus VIII (Acusticus)


Fungsi pendengaran : mengikuti sumber suara
7) Nervus IX dan X (Glosopharingeus dan Vagus)
-

Refleks menelan : normal

Refleks muntah

Pengecapan 1/3 lidah bagian belakang :tidak terkaji

Suara

: tidak terkaji

: mengikuti sumber suara

8) Nervus XI (Assesorius)
-

Memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan :normal

Mengangkat bahu: normal

9) Nervus XII (Hypoglossus)


-

Deviasi lidah : mampu menjulurkan lidah

10) Pemerikssaan rflek babinsky : d. Sistem perkemihan (Bladder): befungsi normal, Urine product:
1800cc/ 24 jam
e. Sistem reproduksi: Sulit diidentifikasi
f. Sistem endokrin: tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid
g. Sistem Gastrointestinal (Bowel): pasien mengalami masalah
pencernaan: BAB dengan konsentrasi cair terus menerus selama
MRS
h. Sistem muskuloskeletal dan integumen: dapat bergerak lemah dan
koordinasi gerakan normal.

d. Pengkajian Risiko Jatuh (Fall Morse Scale)

Hasil:
Riwayat jatuh= tidak 0
Diagnosis sekunder= ya15
Alat bantu= tidak ada0
Terpasang infuse= ya 20
Gaya berjalan=normal 0
Status mental= sadar0
Total= 35 (risiko jatuh sedang: pasien terpasang pita kuning di gelang identitasnya)

VI. Terapi
N
O

jenis
terapi

Farmako
dinamik
dan
farmako
kinetik

Dosis
dan rute
pember
ian

Indikasi
dan Kontra
Indikasi

Efek samping

Implikasi
keperawat
an

Infus PZ

NaCL
merupaka
n cairan
kristaloid
yang
kandungan
kaliumnya
bermanfaa
t untuk
konduksi
saraf dan
otak,
mengganti
cairan
hilang
karena
dehidrasi,
syok
hipovolem
ik dan
kandungan
natriumny
a
menentuka
n tekanan
osmotik
pada
pasien.

500cc/8 Indikasi:
jam
mengembal
(20ikan
keseimbang
an
elektrolit
pada
keadaan
dehidrasi
dan syok
hipovolemi
k.
Kontraindi
kasi:
hipernatre
mia,
kelainan
ginjal,
kerusakan
sel hati,
asidosis
laktat.

Menyebabkan
hiperkloremia
dan asidosis
metabolik,
karena akan
menyebabkan
penumpukan
asam laktat
yang tinggi
akibat
metabolisme
anaerob.

Memonito
r
kemungki
nan efek
samping
pemberian
cairan

Cefotaxi
ne

Cefotaxin
emerupaka
n
antibiotik
sefalospori
n generasi
ke tiga
( 3 ) dan
bersifat
bakterisida
l.
Ceftadizin
e e aktip
terhadap
bahteri
gram
negatif
seperti : E
.coli, H.inf
luenzae, K
lebsiella

3 x 1 gr

Pengobatan
dengan
Ceftadizine
yang
merupakan
antibiotik
spektrum luas
dapat
mengubah
flora normal
dari usus dan
menyebabkan
pertumbuhan
yang
berlebihan
dari
Clostridia.
Toxin yang
dihasilkan
Clostridium
difficile

Memonito
r
kemungki
nan efek
samping
pemberian
obat

Indikasi:
Infeksi
berat yang
disebabkan
oleh
patogen patogen
yang
sensitif
terhadap
Ceftadizine
seperti :
Infeksi
saluran
pernapasan
termasuk
tenggoraka
n dan
hidung;
Infeksi
pada

sp, Proteu
s
sp ( indole
positif dan
negatif ),
Serattia
sp, Neissa
rea sp,
dan Bacte
roides sp.
Bakteri
garam
positif
yang peka
antara lain
: Staphylo
cocci, Stre
ptococci
aerob sert
a anaerob,
Streptococ
cus
pneumoni
ae,
dan Clostr
idium sp.

Methylp
red

Metilpred
nisolon
merupaka
n
kortikoster
oid
dengan
kerja
intermedia
te yang
termasuk
kategori
adrenokort
ikoid,
antiinflam
asi dan
imunosupr
esan.
Adrenoko
rtikoid:

telinga
Infeksi
kulit dan
jaringan
lunak
Infeksi
tulang dan
sendi;
Infeksi
genitalia,
termasuk
Gonoroe
( non
komlikata )
; Infeksi
adominal

merupakan
penyebab
colitis. Jadi
perlu hati
hati untuk
pasien yang
memiliki
gangguan
pencernaan.

Kontraindi
kasi:
Penderita
dengan
riwayat
hipersensiti
f terhadap
antibiotik
Sefalospori
n dan
penderita
ginjal yang
berat
2x
amp

Indikasi:
Gangguan
endokrin:
insufisiensi
adrenal
sekundar
dan primer,
congenital
adrenal
hyperplasia
.
Gangguan
reumatik:
rheumatoid
arthritis,
juvenile
chronic
arthritis,

Pemberian
jangka
pendek jarang
timbul efek
samping.
Pemberian
jangka
lama/dosis
besar
kemungkinan
timbul efek
samping a.l. :
moon face,
penimbunan
lemak di
bagian tubuh
tertentu,
gangguan
elektrolit dan
cairan tubuh,

Memonito
r
kemungki
nan efek
samping
pemberian
obat

Sebagai
adrenokort
ikoid,
metilpredn
isolon
berdifusi
melewati
membran
dan
membentu
k komplek
dengan
reseptor
sitoplasmi
k spesifik.
Komplek
tersebut
kemudian
memasuki
inti sel,
berikatan
dengan
DNA, dan
menstimul
asi
rekaman
messenger
RNA
(mRNA)
dan
selanjutny
a sintesis
protein
dari
berbagai
enzim
akan
bertanggu
ng jawab
pada efek
sistemik
adrenokort
ikoid.
Bagaiman
apun, obat
ini dapat
menekan
perekaman
mRNA di
beberapa

ankylosing
spondylitis.
Gangguan
kulit:
pemphigus
vulgaris.
Gangguan
arteritis/kol
agen :
systemic
lupus
erythemato
sus,
systemic
dermatomy
ositis, acute
rheumatic
carditis.
Gangguan
alerginisita
s : perenial
alergi
rhinitis;
reaksi
hipersensiti
fitas obat,
serum
sickness,
dermatitis
alergi
kontak dan
asma
bronkial.
Gangguan
pada mata :
anterior
uveitis,
posterior
uveitis,
postarior
uvetis.
Optic
neuritis.
Gangguan
saluran
pemapasan:
sacroid
pulmonary,
berylliosis,
aspiration

kelemahan
otot,
resistensi
terhadap
infeksi
menurun,
hipertensi,
katarak, tukak
lambung,
perlambatan
penyembuhan
luka,
gangguan
pertumbuhan
pada anakanak,
insufisiensi
adrenal,
bertambah
beratnya
gagal jantung
kongesif,
sindrom
cushing.
Pada pasien
yang sensitif
dapat juga
timbul
gangguan
menstruasi,
manifestasi
diabetes laten,
gangguan
metabolisme
protein dan
osteoporosis.

sel

pneumoniti
s.
Gangguan
hematologi
k:
idiopatik
trombosito
penia
purpura
(pada orang
dewasa),
trombosito
penia
sekunder
(pada orang
dewasa),
acquired
(autoimmu
ne)
haemolytic
anemia dan
erythroblast
openia.
Gangguan
neoplastik :
Leukemia
dan
lymphoma
(pada orang
dewasa).
Leukemia
akut
Kontraindi
kasi:
Infeksi
jamur
sistemik
Tuberkulos
is (kecuali
jenis
fulminan/
disceminata
)
Vaksinea/
varicella,
keratis
herpes
simpleks.
Pemberian
kortekoster

oid jangka
panjang
merupakan
kontraindik
asi
pada
ulkus
duodenum
dan ulkus
peptikum,
osteoporosi
s
berat,
riwayat
penyakit
jiwa.
Penderita
yang baru
di
vaksinasi.
4

Pulmyk
ort

memiliki
efek antiinflamasi
di
bronkus,
menguran
gi
keparahan
gejala dan
eksaserbas
i asma
dengan
efek
samping
yang lebih
sedikit,
daripada
dengan
kortikoster
oid
sistemik.
Menguran
gi
keparahan
edema
mukosa
bronkus,
produksi
lendir,
Sputum
Pendidika
n dan

1 amp/
12 jam

Indikasi:
Asma
bronkial,
membutuhk
an
perawatan
terapi GCS,
Penyakit
paru
obstruktif
kronis
(COPD)
Kontraindi
kasi:
Anak-anak
sampai usia
6
Bulan,
Penderita
yang
hipersensiti
f terhadap
obat.

Kandidiasis
orofaringeal,
iritasi selaput
lendir faring,
batuk, suara
serak, mulut
kering,
Angioedema,
Sakit kepala,
Hives, ruam,
dermatitis
kontak,
Bronkospasm
e

Memonito
r
kemungki
nan efek
samping
obat

Combiv
en

saluran
napas
hyperresp
onsiveness
.
Ditolerans
i selama
jangka
panjang
pengobata
n, Tidak
memiliki
aktivitas
mineralok
ortikoid
Combiven
merupaka
n obat
berisi
salbutamol
dan
ipratropiu
m
bromida.
Combiven
bekerja
dengan
cara
melebarka
n saluran
napas
bawah
(bronkus).
Iprateopiu
m yang
terkandun
g didalam
combiven
bekerja
dwngan
cara
menurunk
an
produksi
lender
saluran
pernapasa
n. Dengan
demikian
sesak

2,5 ml/
8 jam

Indikasi:
Bronkospas
me yang
berhubunga
n dengan
penyakitpenyakit
obstruksi
pernapasan
pada
pasienpasien yang
diterapi
dengan
ipratropium
Br &
Salbutamol
Kontraindi
kasi:
Kardiomio
pati
obstruktif
hipertrofi,
takiaritmia.
Hipersensit
if terhadap
derivate
atropin

sakit kepala,
pusing,
gelisah,
takikardi,
tremor halus
pada otot
rangka,
palpitasi,
hipokalemia
serius. Mual,
muntah,
berkeringat,
otot lemah,
miaglia/kram
otot, mulut
kering,
disfonia,
koplikasi
pada mata,
reaksi tipe
alergi.

Memonito
r
kemungki
nan efek
samping
obat

danbunyi
mengi
atau
ronkhi
akan
berangsur
hilang.

VII. Pemeriksaan Penunjang & Laboratorium


a. Pemeriksaan Lab
No Jenis pemeriksaan

Nilai normal (rujukan)

Hasil
(hari/tanggal)
Senin, 19 Desember
2016

nilai

Satuan

Hematologi Lengkap
(HLT)
b. Hemoglobin
c. Lekosit
d. Hematokrit
e. Trombosit

13,5-17,5
4,5-11,0
41-53
150-450

gr/dl
108/L
%
108/L

11,1
10,1
32,8
40

Faal Hati
a. Albumin

3.4-4.8

gr/dl

1,7

b. Pemeriksaan CT Scan

Keeterangan:
Tampak les hiperdens di bagian bawah paru, terdapat cairan

Jember, 16 Januari 2017


Pengambil Data,

(Bima Satriya D., S. Kep.)


NIM 112311101030

Lampiran 10
ANALISA DATA
NO
1

DATA PENUNJANG
DS: pasien mengatakan batuk sejak 2

ETIOLOGI
faktor predisposisi

MASALAH
Ketidakefektifan

bulan yang lalu disertai sesak

(kontak inhalan,

Bersihan jalan nafas

DO:

usia, infeksi HIV,

1) Terlihat retraksi dada

gizi buruk,

2) Auskultasi ronkhi di lapang paru

lingkungan)

ke 3 dan 4
3) Hasil TTV:
TD: 90/70 mmHg
Nadi: 84x/menit

M. tuberculosis
masuk (basil sampai
di alveoli)

Frekuensi pernapasan: 26x/menit


Suhu: 37,6 C

Proses peradangan

4) Pasien dalam posisi semifowler


dan terpasang masker nasal kanul
4 lpm
5)

Akumulasi sekret di
bronkus

Produksi sputum Obstruksi jalan


nafas
Ketidakefektifan

DS: pasien mengatakan batuk sejak 2


bulan yang lalu disertai sesak

Bersihan jalan nafas


faktor predisposisi

Ketidakefektifan

(kontak inhalan,

Pola nafas

DO:

usia, infeksi HIV,

1) Terlihat retraksi dada

gizi buruk,

3) Hasil TTV:

lingkungan)

TD: 90/70 mmHg


Nadi: 84x/menit
Frekuensi pernapasan: 26x/menit
Suhu: 37,6 C

M. tuberculosis
masuk (basil sampai
di alveoli)

4) Pasien dalam posisi semifowler


dan terpasang masker nasal kanul 3
lpm

Proses peradangan

5) Auskultasi redup ICS 6-7

dekstra
6) Hasil pemeriksaan foto thorak:

Akumulasi sekret di
bronkus

Tampak les hiperdens di bagian


bawah paru, batas ujung bawah
paru tidak tegas, terdapat cairan

Obstruksi jalan
nafas
Penurunan ekspansi
paru
Ketidakefektifan

DS: pasien mengatakan tidak nafsu

Pola nafas
Ketidakseimbangan

Ketidakseimbangan

makan, keluarga mengatakan kadang

faktor predisposisi

nutrisi: kurang dari

makanan tidak habis

(kontak inhalan,

kebutuhan tubuh

DO:

usia, infeksi HIV,

1) Pasien tampak lemah dan kurus

gizi buruk,

2) IMT: 17,70: kategori kurus

lingkungan)

3) Makanan tersisa
4) mengalami penurunan bb sebelum
dan sesudah MRS
5) balance kalori -274,5084 kkal

M. tuberculosis
masuk (basil sampai
di alveoli)
Proses peradangan

Akumulasi sekret di
bronkus
batuk, reflek fagal,
mual, skret tertelan,
hcl meningkat,
metabolisme
meningkat,

nafsu makan
menurun

BB menurun

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
4

DS: Pasien mengatakan lemas

kebutuhan tubuh
Ketidakseimbangan

DO:

faktor predisposisi

1) Pasien tampak lemah dan tirah

(kontak inhalan,

baring posisi semifowler


2) Pasien terpasang infuse di tangan

usia, infeksi HIV,

kiri dan nasal kanul 4 lpm


3) Kekuatan otot pasien 4,4,4,4
4) Hemoglobin 11,1 gr/dl
5) ADL nilai: semua nilai 2 yaitu
dibantu petugas/keluarga, kecuali
toileting nilainya 1 menggunakan

gizi buruk,
lingkungan)
M. tuberculosis
masuk (basil sampai
di alveoli)

alat
Proses peradangan

Intoleransi aktivitas

Akumulasi sekret di
bronkus

Obstruksi jalan
nafas
Suplai O2 menurun

Kelemahan umum
Intoleransi
aktivitas

Lampiran 11
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Daftar Diagnosa Keperawatan (sesuai prioritas):
No

Diagnosa

Ketidakefektifan

Bersihan

jalan nafas berhubungan

dengan

obstruksi

Tanggal
perumusan
16 Januarai
2016

jalan

napas, akumulasi sekret,


batuk tidak efektif
2

Ketidakefektifan Pola nafas

berhubungan
3

dengan

16 Januarai
2016

penurunan ekspansi paru


Ketidakseimbangan nutri
kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungann
dengan intake yang

inadekuat
Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan

16 Januarai
2016

kelemahan fisik,
oenurunan energi,
5

penurunan asupan O2
Gangguan pola tidur 16 Januarai
berhubungan
proses penyakit

dengan

2016

Tanggal
pencapaian

Keterangan

Defisit Perawatan Diri :


Mandi berhubungan dengan
pembatasasn

16 Januarai
2016

gerrak,

keterbatasan, kelamahan
7

Ansietas

dengan krisis situasi


Defisiensi
Pengetahuan 16 Januarai
berhubungan

10

berhubungan 16 Januarai
2016

dengan

2016

kurangnya informasi
16 Januarai
Resiko cedera
2016
berhubungan dengan
keterbatasan dan proses
penyakit
Ketidakefektifan performa 16 Januarai
peran

berhubungan

dengan proses penyakit

2016

Lampiran 12
PERENCANAAN KEPERAWATAN
N
O
1.

DIAGNOSA
Ketidakefektifa
n Bersihan jalan
nafas

TUJUAN DAN KRITERIA HASIL

NOC:
Respiratory status: Airway patency,
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
berhubungan
selama 3 x 24 jam pasien menunjukkan
dengan
keefektifan jalan nafas dengan kriteria
obstruksi jalan hasil:
napas,
1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan
akumulasi
suara nafas yang bersih, tidak ada
sekret, batuk
sianosis
dan
dyspneu
(mampu
tidak efektif
mengeluarkan sputum, bernafas dengan
mudah, tidak ada pursed lips)
2. Menunjukkan jalan nafas yang paten
(klien tidak merasa tercekik, irama
nafas, frekuensi pernafasan dalam
rentang normal, tidak ada suara nafas
abnormal)
3. Mampu
mengidentifikasikan
dan
mencegah faktor yang penyebab.
4. Saturasi O2 dalam batas normal
5. Foto thorak dalam batas normal

INTERVENSI

RASIONAL

NIC:
Airway Management
1. Mengetahui tingkat gangguan
1. Kaji: auskultasi suara nafas, catat
yang terjadi dan membantu
adanya suara tambahan
dalam menetukan intervensi
2. Berikan O2
yang akan diberikan.
3. Posisikan
pasien
untuk
memaksimalkan ventilasi
2. Meringankan kerja paru untuk
4. Keluarkan sekret dengan batuk atau
memenuhi kebutuhan oksigen
suction
serta memenuhi kebutuhan
5. Kolaborasi/delegatif
dalam
oksigen dalam tubuh.
pemberian nebulizer
3. posisi memaksimalkan ekspansi
paru dan menurunkan upaya
pernapasan. Ventilasi maksimal
membuka area atelektasis dan
meningkatkan gerakan sekret ke
jalan nafas besar untuk
dikeluarkan.
4. Mencegah obstruksi atau
aspirasi. Penghisapan dapat
diperlukan bia klien tak mampu

mengeluarkan sekret sendiri.


5. Mengoptimalkan keseimbangan
cairan dan membantu
mengencerkan sekret sehingga
mudah dikeluarkan
2.

Ketidakefektifan NOC:
Pola nafas
Respiratory status: Ventilation

berhubungan
dengan
penurunan
ekspansi paru

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama 2 x 24 jam pasien menunjukkan
keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan
kriteria hasil:
1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan
tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu
mengeluarkan sputum, mampu bernafas
dg mudah, tidakada pursed lips)
2. Menunjukkan jalan nafas yang paten
(klien tidak merasa tercekik, irama
nafas, frekuensi pernafasan dalam
rentang normal)
3. Tanda Tanda vital dalam rentang
normal: TD= 100-140/60-90 mmHg;
N=60-100x/menit; RR= 16-24x/menit

NIC:
Monitor vital sign
1. Kaji: auskultasi suara nafas, catat
adanya suara tambahan
2. Kolaborasikan pemberian terapi
oksigenasi
3. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
4. Keluarkan sekret dengan batuk
efektif
5. Informasikan pada pasien dan
keluarga tentang tehnik relaksasi
untuk memperbaiki pola nafas:
relaksasi nafas dalam

1. Untuk mengetahui keadaan klien


saat ini. Adanya pernapasan yang
irreguler
indikasi
terhadap
adanya peningkatan metabolisme
sebagai reaksi terhadap infeksi.
2. Pemberian
oksigen
mengurangi beban kerja otototot pernafasan.
3. Memaksimalkan
ekspansi
paru, memberikan kemudahan
klien dalam bernafas dan
memberikan rasa nyaman.
4. meningkatkan bersihan jalan
napas, agar klien lebih rileks
dan nyaman.
5. Relaksasi
nafas
dalam
membantu
melatih
pengembangan ekspansi paru,
dan
meningkatkan
status

inpirasi ekspirasi pernapasan


3.

4.

Ketidakseimba
ngan
nutri
kurang
dari
kebutuhan
tubuh
berhubungann
dengan intake
yang
inadekuat

NOC:
\nutrition status: foof and fluid intake
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x
24 jam diharapkan masalah keperawatan
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan
kriteria hasil:
1. Adanya peningkatan selera makan
2. Status gizi asupan makanan dan cairan
memenuhi balance kalori

NIC
Nutrition Management
1. Kaji status nutrisi pasien
2. Jaga kebersihan mulut, anjurkan
untuk selalu melalukan oral hygiene.
3. Delegatif pemberian nutrisi yang
sesuai dengan kebutuhan pasien :
diet pasien TKTP.
4. Berian informasi yang tepat terhadap
pasien tentang kebutuhan nutrisi
yang tepat dan sesuai.
5. Anjurkan pasien untuk
mengkonsumsi makanan tinggi zat
besi

Intoleransi
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan
fisik,

NOC :
Energy Concervation
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 8 x 24 jam bertoleransi terhadap
aktivitas dengan
Kriteria Hasil :

NIC :
Energy management
1. Observasi adanya pembatasan 1.
Mengurangi
pasien dalam melakukan aktivitas
pengeluaran energi yang tidak
2. Kaji
adanya
faktor
yang
perlu
menyebabkan kelelahan
2.
Mengurangi

1. Pengkajian penting dilakukan


untuk mengetahui status nutrisi
pasien sehingga dapat
menentukan intervensi yang
diberikan.
2. Mulut yang bersih dapat
meningkatkan nafsu makan
3. Untuk membantu memenuhi
kebutuhan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
4. Informasi yang diberikan dapat
memotivasi pasien untuk
meningkatkan intake nutrisi.
5. Zat besi dapat membantu tubuh
sebagai zat penambah darah
sehingga mencegah terjadinya
anemia atau kekurangan darah

penurunan
energi,
penurunan
asupan O2

1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik


tanpa disertai peningkatan tekanan
darah, nadi dan RR
2. Mampu melakukan aktivitas sehari hari
(ADLs) secara mandiri
3. Keseimbangan aktivitas dan istirahat

3. Monitor nutrisi dan sumber energi


penyebab kelelahan
yang adekuat
3.
Meningkatkan energi
4. Monitor pasien akan adanya
dengan
cara
meningkatkan
kelelahan fisik dan emosi secara
nutrisi
berlebihan
4.
Monitor
respon
5. Monitor pola tidur dan lamanya
kardivaskuler terhadap aktivitas
tidur/istirahat pasien
(takikardi, disritmia, sesak nafas,
6. Bantu pasien mengidentifikasi
diaporesis, pucat, perubahan
aktivitas yang mampu dilakukan:
hemodinamik)
ambulasi, mika miki, rom
5.
Monitor pola tidur
dan
lamanya
tidur/istirahat
pasien
6.
Memberikan aktivitas
yang sesui dan melatih mobiitas
pasien di tempat tidur.

Lampiran 13
CATATAN PERKEMBANGAN
DIAGNOSA: 1
WAKTU
IMPLEMENTASI
PARAF
Senin,
16 Januari
2017
(15.10)
1. Mengkaji: auskultasi suara Bima S
nafas, catat adanya suara
tambahan
R: ronkhi lap paru ke 3 dan 4
(15.15)
2. Memberikan O2
R: memsang O2 nasal kanul 4
lpm
(15.17)
3. Memberikan posisi semifowler
pada
pasien
untuk
memaksimalkan ventilasi
R: pasien terlihat lebih rileks
(15.27)
4. Mengeluarkan sekret dengan
batuk efektif
R: sputum produktif berwarna
putih kental
(17.30)
5. Melakukan kolaborasi/delegatif
dalam pemberian nebulizer:
combiven 3x1, Pulmicort 2x1
R: wajah pasien terlihat tegang
ketika di nebul

EVALUASI
JAM: 20.00
S: pasien
mengatakan
masih batuk
disertai sesak
O:
terdegar suara
paru tambahan:
ronkhi lap paru ke
3 dan 4
Terlihat retraksi
dada
Hasil TTV:
TD: 90/70 mmHg
Nadi: 84x/menit
Frekuensi
pernapasan:
26x/menit
Suhu: 36,5 C
Pasien dalam posisi
semifowler dan
terpasang nasal
kanul 4 lpm

A: Masalah
ketidakefektifan
bersihan jalan
napas belum
teratasi
P: Lanjutkan
intervensi:
1. Mengkaji:
auskultasi
suara nafas,
catat adanya
suara
tambahan
2. Mengeluarka
n sekret
dengan batuk

Selasa,
17 Januari
2017
(10.10)
(10.15)

(12.17)

Bima S
1. Mengkaji: auskultasi suara
nafas, catat adanya suara
tambahan
R: ronkhi lap paru ke 3 dan 4
2. Mengeluarkan sekret dengan
batuk efektif
R: sputum produktif berwarna
putih kental
3. Melakukan kolaborasi/delegatif
dalam pemberian nebulizer:
combiven 3x1, Pulmicort 2x1
R: wajah pasien terlihat tegang
ketika di nebul

efektif
3. Melakukan
kolaborasi/del
egatif dalam
pemberian
nebulizer:
combiven
3x1,
Pulmicort 2x1
JAM: 15.00
S: pasien
mengatakan
masih sedikit
batuk dan sesak
sudah berkurang
O:
terdegar suara
paru tambahan:
ronkhi lap paru ke
3 dan 4
retraksi dada <
Hasil TTV:
TD: 100/80 mmHg
Nadi: 80x/menit
Frekuensi
pernapasan:
24x/menit
Suhu: 36,4 C
Pasien dalam posisi
semifowler dan O2
nasal dilepas

A: Masalah
ketidakefektifan
bersihan jalan
napas belum
teratasi
P: Lanjutkan
intervensi
1. Mengkaji:
auskultasi
suara nafas,
catat adanya
suara
tambahan

Rabu,
18 Januari
2017
(08.10)
(08.15)

(12.17)

Bima S
1. Mengkaji: auskultasi suara
nafas, catat adanya suara
tambahan
R: ronkhi lap paru ke 3 dan 4
2. Mengeluarkan sekret dengan
batuk efektif
R: sputum produktif berwarna
putih kental
3. Melakukan kolaborasi/delegatif
dalam pemberian nebulizer:
combiven 3x1, Pulmicort 2x1
R: wajah pasien terlihat tegang
ketika di nebul

2. Mengeluarka
n sekret
dengan batuk
efektif
3. Melakukan
kolaborasi/del
egatif dalam
pemberian
nebulizer:
combiven
3x1,
Pulmicort 2x1
JAM: 17.00
S: pasien
mengatakan
masih sedikit
batuk
O:
terdegar suara
paru tambahan:
ronkhi lap paru ke
3 dan 4
retraksi dada <
Hasil TTV:
TD: 90/80 mmHg
Nadi: 82x/menit
Frekuensi
pernapasan:
24x/menit
Suhu: 35,9 C
Pasien dalam posisi
semifowler dan O2
nasal dilepas

A: Masalah
ketidakefektifan
bersihan jalan
napas belum
teratasi
P: Lanjutkan
intervensi
1. Mengkaji:
auskultasi
suara nafas,
catat adanya

suara
tambahan
2. Mengeluarka
n sekret
dengan batuk
efektif
3. Melakukan
kolaborasi/del
egatif dalam
pemberian
nebulizer:
combiven
3x1,
Pulmicort 2x1
DIAGNOSA: 2
WAKTU

Senin,
16 Januari
2017
(15.10)
(15.15)

(15.17)
(15.27)

(15.30)

IMPLEMENTASI

PARAF

EVALUASI

JAM: 15.10
1. Kaji: auskultasi suara nafas,
catat adanya suara tambahan
R: ronkhi lap paru ke 3 dan 4
2. Kolaborasikan pemberian
terapi oksigenasi
R: memsang O2 nasal kanul 4
lpm
3. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
R: pasien terlihat lebih rileks
4. Keluarkan sekret dengan batuk
efektif
R: sputum produktif berwarna
putih kental
5. Informasikan pada pasien dan
keluarga tentang tehnik
relaksasi untuk memperbaiki
pola nafas: relaksasi nafas
dalam
R:pasien mempraktekkan
relaksasi nafas dalam

Bima S

S: pasien
mengatakan
sesak
O:
terdegar suara
paru tambahan,
ronkhi lap paru
ke 3 dan 4
Terlihat retraksi
dada
Palpasi redup ICS
ke 6-7 dekstra
Foto thoraks
terdapat cairan di
pleura
Hasil TTV:
TD: 100/80
mmHg
Nadi: 80x/menit
Frekuensi
pernapasan:
24x/menit
Suhu: 36,4 C
Pasien dalam
posisi semifowler
dan terpasang
nasal kanul 4 lpm

A: Masalah
ketidakefektifan
pola napas
belum teratasi
P: Lanjutkan
intervensi:
1. Mengkaji:
auskultasi
suara nafas,
catat adanya
suara
tambahan
2. Mengeluarka
n sekret
dengan
batuk efektif
3. Informasikan
pada pasien
dan keluarga
tentang
tehnik
relaksasi
untuk
memperbaiki
pola nafas:
relaksasi
nafas dalam
Selasa,
17 Januari
2017
(10.00)
(10.15)

(10.17)

JAM: 20.10
1. Kaji: auskultasi suara nafas,
catat adanya suara tambahan
R: ronkhi lap paru ke 3 dan 4
2. Keluarkan sekret dengan batuk
efektif
R: sputum produktif berwarna
putih kental
3. Informasikan pada pasien dan
keluarga tentang tehnik
relaksasi untuk memperbaiki
pola nafas: relaksasi nafas
dalam
R:pasien mempraktekkan
relaksasi nafas dalam

Bima S

S: pasien
mengatakan
sudah tidak
sesak
O:
terdegar suara
paru tambahan,
ronkhi lap paru
ke 3 dan 4
retraksi dada <
Palpasi redup ICS
ke 6-7 dekstra
Foto thoraks
terdapat cairan di
pleura
Hasil TTV:

TD: 100/80
mmHg
Nadi: 80x/menit
Frekuensi
pernapasan:
24x/menit
Suhu: 36,4 C
Pasien dalam
posisi semifowler
dan O2 nasal
dilepas

A: Masalah
ketidakefektifan
pola napas
belum teratasi
P: Hentikan
intervensi:
DIAGNOSA: 3
WAKTU

Senin,
16 Januari
2017
(15.10)
(15.15)

(15.17)

(15.27)

IMPLEMENTASI

PARAF

EVALUASI

JAM: 20.10
1. Kaji status nutrisi pasien
Bima S
R:pasien mau makan sedikitsedikit
2. Jaga kebersihan mulut, anjurkan
untuk selalu melalukan oral
hygiene.
R: pasien menyikat gigi dan
berkumur dengan obat kumur
3. Delegatif pemberian nutrisi
yang sesuai dengan kebutuhan
pasien : diet pasien TKTP.
R: pasien mau makan sesuai
diet yang diberikan sedikitsedikit
4. Berian informasi yang tepat
terhadap pasien tentang
kebutuhan nutrisi yang tepat
dan sesuai.
R: pasien mendengarkan
dengan baik dan memberikan
umpan balik pertanyaan jika

S: pasien
mengatakan
tidak enak
makan
O:
Pasien tampak
lemah dan kurus,
IMT: 17,70:
kategori kurus,
Makanan tersisa,
mengalami
penurunan bb
sebelum dan
sesudah MRS

balance kalori
-274,5084 kkal
Hasil TTV:
TD: 90/70 mmHg
Nadi: 84x/menit
Frekuensi
pernapasan:
26x/menit
Suhu: 36,5 C

(15.30)

Selasa,
17 Januari
2017
(09.00)
(09.05)

tidak mengerti
5. Anjurkan pasien untuk
mengkonsumsi makanan tinggi
zat besi
R: pasien menerima dengan
positif dan bersedia melakukan
anjuran

A: Masalah
ketidakseimban
gan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh
belum teratasi
P: Lanjutkan
intervensi:
1. Kaji status
nutrisi
pasien
2. Delegatif
pemberian
nutrisi yang
sesuai
dengan
kebutuhan
pasien : diet
pasien
TKTP
JAM: 15.10

1. Kaji status nutrisi pasien


Bima S
R:pasien mau makan sedikitsedikit
2. Delegatif pemberian nutrisi
yang sesuai dengan kebutuhan
pasien : diet pasien tb.
R: pasien mau makan sesuai diet
yang diberikan sedikit-sedikit

S: pasien
mengatakan
sudah enak buat
makan
O:
Pasien tampak
lemah dan kurus,
IMT: 17,70:
kategori kurus,
Makanan tersisa,
mengalami
penurunan bb
sebelum dan
sesudah MRS

balance kalori
-274,5084 kkal
Hasil TTV:
TD: 100/80
mmHg
Nadi: 80x/menit
Frekuensi
pernapasan:
24x/menit

Suhu: 36,4 C

A: Masalah
ketidakseimban
gan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh
belum teratasi

Rabu,
18 Januari
2017
(06.00)
(06.15)

P: Lanjutkan
intervensi:
1. Kaji status
nutrisi
pasien
2. Delegatif
pemberian
nutrisi yang
sesuai
dengan
kebutuhan
pasien : diet
pasien TKTP
JAM: 17.10
1. Kaji status nutrisi pasien
Bima S
R:pasien mau makan sedikitsedikit
2. Delegatif pemberian nutrisi
yang sesuai dengan kebutuhan
pasien : diet pasien tb.
R: pasien mau makan sesuai diet
yang diberikan sedikit-sedikit

S: pasien
mengatakan
makanan yang
diberikan sudah
dihabiskan
O:
Pasien tampak
lemah dan kurus,
IMT: 17,70:
kategori kurus,
Makanan tersisa,
mengalami
penurunan bb
sebelum dan
sesudah MRS

balance kalori
-274,5084 kkal
Hasil TTV:
TD: 90/80 mmHg
Nadi: 82x/menit
Frekuensi
pernapasan:
24x/menit

Suhu: 35,9 C

A: Masalah
ketidakseimban
gan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh
belum teratasi
P: Lanjutkan
intervensi:
1. Kaji status
nutrisi
pasien
2. Delegatif
pemberian
nutrisi yang
sesuai
dengan
kebutuhan
pasien : diet
pasien TKTP

DIAGNOSA: 4
WAKTU

IMPLEMENTASI

Senin,
16 Januari
2017
(16.37)
(16.40)

(16.50)

(17.00)

(17.15)

PARAF

EVALUASI

JAM: 21.00
1. Observasi adanya pembatasan
pasien
dalam
melakukan
aktivitas
R:pasien tirah baring tidak
mampu berdiri ksrna lemas
2. Kaji adanya faktor yang
menyebabkan kelelahan
R:
nafsu
makan
pasien
berkurang
3. Monitor intake nutrisi yang
adekuat sebagai sumber energi
R: pasien mendapatkan dieet
TKTP
4. Monitor pasien akan adanya
kelelahan fisik dan emosi secara
berlebihan

S: pasien
mengatakan
masih lemas
O: Pasien
tampak lemah
dan tirah baring
posisi
semifowler,
pasien terpasang
infuse di tangan
kanan,
Kekuatan otot
4,4,4,4, Hb
11,5,5 gr/dl
A: masalah
intoleransi

(17.00)

(17.15)

R: pasien tirah baring


5. Monitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
R: frekuansi tidur meningkat 9,5
jam tapikuantitas tidur menurun
6. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi aktivitas yang
mampu dilakukan: ambulasi,
mika miki, rom
R:
pasien
antusias
dan
mengikuti
instruksi
saat
melakukan ambulasi mika miki
dan rom

Selasa,
17 Januari
2017
(11.17)

(11.20)

(11.30)

1. Monitor intake nutrisi yang


adekuat sebagai sumber energi
R: pasien mendapatkan dieet
TKTP
2. Monitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
R: frekuansi tidur meningkat 8
jam tapi kuantitas tidur menurun
3. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi aktivitas yang
mampu dilakukan: ambulasi,
mika miki, rom
R: pasien antusias dan
mengikuti instruksi saat
melakukan ambulasi mika miki
dan rom

aktivitas belum
teratasi
P: Lanjutkan
intervensi:
1. Monitor
intake nutrisi
yang adekuat
sebagai
sumber energ.
2. Monitor pola
tidur dan
lamanya
tidur/istirahat
pasien.
3. Bantu pasien
untuk
mengidentifik
asi aktivitas
yang mampu
dilakukan:
ambulasi,
mika miki,
rom.
JAM: 15.25
S: pasien
mengatakan
masih lemas
O: Pasien
tampak lemah
dan tirah baring
posisi
semifowler,
Kekuatan otot
4,4,4,4
pasien terpasang
infuse di tangan
kanan
A: masalah
intoleransi
aktivitas belum
teratasi
P: Lanjutkan
intervensi:
1. Monitor

intake nutrisi
yang adekuat
sebagai
sumber
energ.
2. Monitor pola
tidur dan
lamanya
tidur/istiraha
t pasien.
3. Bantu pasien
untuk
mengidentifi
kasi aktivitas
yang mampu
dilakukan:
ambulasi,
mika miki,
rom.
JAM: 17.05

Rabu,
18 Januari
2017
(06.17)

(06.20)

(06.30)

1. Monitor intake nutrisi yang


adekuat sebagai sumber energi
R: pasien mendapatkan dieet
TKTP
2. Monitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
R: frekuansi tidur meningkat 9
jam tapikuantitas tidur menurun
3. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi aktivitas yang
mampu dilakukan: ambulasi,
mika miki, rom
R: pasien antusias dan
mengikuti instruksi saat
melakukan ambulasi mika miki
dan rom

S: pasien
mengatakan
masih lemas
O: Pasien
tampak lemah
dan tirah baring
posisi
semifowler,
Kekuatan otot
4,4,4,4
pasien terpasang
infuse di tangan
kanan
A: masalah
intoleransi
aktivitas belum
teratasi
P: Lanjutkan
intervensi:
1. Monitor
intake nutrisi
yang adekuat
sebagai
sumber

energ.
2. Monitor pola
tidur dan
lamanya
tidur/istiraha
t pasien.
3. Bantu pasien
untuk
mengidentifi
kasi aktivitas
yang mampu
dilakukan:
ambulasi,
mika miki,
rom.