Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

Tumor odontogenik merupakan suatu kelainan yang terjadi pada rongga mulut
dan asalnya berhubungan dengan jaringan yang berasal dari perkembangan gigi. Jaringan
abnormal dari masing-masing tumor sering dihubungkan dengan jaringan yang sama
pada odontogen normal dari pembentukan hingga erupsi gigi.1,2
Tumor odontogenik merupakan neoplasma pada rahang yang berdiferensiasi dari
struktur gigi. Lesi ini sering ditemukan pada mandibula dan maksila sedangkan pada
gingiva jarang. Etiologi dan patogenesisnya tidak jelas. Secara klinis, tumor odontogenik
merupakan tipe asimptomatik, namun dapat menyebabkan ekspansi rahang, bergesernya
gigi, dan resorbsi tulang.2
Seperti neoplasma lain di dalam tubuh, tumor odontogenik cenderung untuk mirip
secara mikroskopik dengan sel atau jaringan asalnya. Secara histologis, tumor
odontogenik ini dapat mirip dengan jaringan lunak enamel organ atau pulpa gigi atau
mengandung jaringan keras seperti enamel, dentin, cementum atau campuran bahan
bahan tersebut. Lesi odontogenik ini dapat berproliferasi secara jinak sampai ganas
dengan kemampuan metastase.3
Tumor odontogenik adalah kelompok tumor yang jarang terjadi tapi termasuk
kelompok yang berbeda dan kompleks dari kelompok tumor yang ada. Jenis tumor ini
berasal dari dari jaringan epitel atau mesenkim, atau keduanya,dan berhubungan dengan
struktur gigi. Kebanyakan dari tumor odontogenik adalah tumor ganas, tapi beberapa ada
juga yang tumbuh sebagai hamartomatous. Tumor odontogenik biasanya muncul sebagai
suatu pembengkakan tanpa nyeri, yang dapat mengakibatkan hilangnya struktur tulang,
pergeseran gigi dan pembesaran rahang. Tumor ini jarang menyebabkan disfungsi saraf
sensoris. Dengan memahami
latar belakang biologis dari kelompok lesi ini akan membantu kita menentukan
perawatan yang tepat dengan hasil yang memuaskan.8

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Tahap Pembentukan Gigi
Pembentukan gigi sejak proses embriogenesis, berasal dari epitel rongga mulut
yang menutup prosesus alveolar maksila dan mandibula. Berawal sebagai suatu
penonjolan dari lapisan sel basal pada maing-masing lokasi dimana gigi tersebut tumbuh.
Penonjolan tersebut membentuk suatu struktur yang solid seperti pipa yang kemudian
berpenetrasi ke jaringan koneksi (invagination). Pemanjangan dari epitel tersebut disebut
sebagai suatu lamina dental dan ini merupakan sumber dari difrensiasi dan pembentukan
dari gigi. Ketika kedalaman tepat telah tercapai , lapisan basal sel pada ujung lamina
dental membentuk suatu konkafitas (cup stage). Selama prosedur odontogenesis, struktur
yeng berbentuk mangkuk (cap) meluas dan lapisan terdalam dari epitelium memisah dari
lapisan atasnya (terluar). Daerah yang terpisah tersebut tersusun atas sel epitel berbentuk
bintang (retikulum stellate). Bersamaan dengan pemanjangan dari keseluruhan sel epitel
yang nantinya akan membentuk mahkota gigi. Kejadian ini disebut sebagai early bell
stage.1
Epitel tertentu merangsang jaringan konektif yang berdekatan untuk berubah
menjadi suatu daerah embrionik yang terbatas dan jaringan konektif mixomatous yang
mungkin ke depannya akan membentuk jaringan pulpa dan dentin. Perubahan jaringan
konektif disekitar daerah yang nantinya akan membentuk akar gigi disebut sebagai
papilla dental. Pembentukan jaringan konektif pada daerah bagian dalam dari struktur
embrio gigi juga terjadi pada tahap odontogenesis ini. Daerah terluar jaringan konektif
yang membungkus perkembangan dari gigi tebal dan fibrous (dental follicle). Dental
folikel ini yang tersisa pada saat gigi erupsi, folikel pada bagian mahkota akan menjadi
jaringan konektif dari free margin gingiva dan pada bagian akar menjadi ligamentum
periodontal yang memisahkan sementum dari tulang. 1

Gambar 1 Tahap awal odontogenesis A. Invaginasi B. Cap Stage C. Early Bell Stage D. Late Bell
Stage1 Sejak tahap late bell stage, sel epitel bagian dalam menjadi panjang dan berderet.

Bersamaan dengan terjadinya migrasi dari nukleus menjauhi membrane basalis,


proses ini disebut sebagai reverse polarization. Kejadian ini mengindikasikan perubahan
sel menjadi presecretory ameloblast. Reverse polarization menyebabkan sel yang tidak
berdifrensiasi pada papila dental berdifrensiasi menjadi presecretory odontoblas. Pada
saat ameloblas matang (mature). Odontoblas terstimulasi untuk menghsilkan matriks
dentin yang memulai deposit dari matriks email yang berlawanan dengan membran dasar.
Sejak tahap ini pada proses odontogenesis, dental lamina memutuskan dan membentuk
suatu tonjolan kecil pada jaringan konektif. Penonjolam dari sisa epitel menjadi tidak
aktif sehingga disebut rest of the dental lamina rest of Serres.1
Setelah bentuk spesifik dari mahkota gigi selesai, epitel tersebut membentuk
lingkaran luar dari organ email bell-shaped memanjang membentuk akar gigi. Epitel ini
membentuk suatu lapisan membran yang tipis disebut hartwigh root sheath. Pada daerah
ini odontoblast menghasilkan dentin untuk pembentukan akar. Selanjutnya sel jaringan
konektif dari folikel dental yang berbatasan dengan akar bertemu dan membentuk suatu
dentin baru. Dentin tersebut menstimulasi sel untuk berdifrensiasi menjadi sementoblas
yang akan membrntuk sementum.
Setelah pembentukan sementum selesai, epitel Hertwigh root sheath yang tersisa
pada ligamentum periodontal disebut sebagai rest of Malassez.

Gambar 2 Later Stages of Odontogenesis A. Pembentukan mahkota dan lamina dental B.


Pembentukan Akar C. Pembentukan lengkap gigi preerupsi dan rests of Malassez (titik-titik
merah)1

Tumor odontogenik terjadi akibat adanya gangguan (interupsi) pada sekuens


normal odontogenesis atau adanya reaktifasi jaringan yang terlibat dalam sekuens normal
odontogenesis. Neoplasma apa yang terjadi tergantung pada tahap perkembangan apa
gangguan itu terjadi.

Gambar 3 Rest of malassez

2.1.2 Klasifikasi Tumor Odontogenik


Tumor odontogenik merupakan kelompok lesi yang komplek dan berbeda dalam
tipe histopatologi dan sifat klinisnya. Sebagian merupakan neoplasma sebenarnya dan
terkadang bersifat ganas. Lainnya dapat merupakan malformasi serupa tumor
(hamartoma). Tumor odontogenik, seperti halnya odontogenesis normas, menampakkan
vairasi induktif interaksi antara epitel odontogenik dan ecromesenkim odontogenik.
Ektomesenkim sebelumnya disebut mesenkim karena diduga merupakan lapisan embrio
mesodermal. Namun saat ini diketahui bahwa jaringan ini berdiferensiasi dari lapisan
ektodermal pada porsio sephalic embrio. Tumor odontogenik epitel terdiri dari epitel
odontogenik tanpa adanya ectomesenkim.
Neoplasma odontogenik lain terkadang menunjukkan tumor odontogenik
campuran, terdiri dari elemen epitel dan ektomesenkim odontogenik.
Berdasarkan klasifikasi WHO 1992, tumor odontogenik diklasifikasikan sebagai
berikut :
Klasifikasi tumor odontogenik didasarkan pada gejala klinis dan gambaran
histologisnya, oleh Pinborg dan Clausen. Klasifikasi itu mengklasifikasikan tumor
odontogenik menjadi :2,3
1. Tumor Jinak
a.

Adenomatoid odontogenik tumor (adenoamelob lasto ma)

b.

Calcifying epitelial odontogenik tumor (Pindborgs tumor)

c.

Squamous odontogenik tumor

d.

Ameloblastik fibroma

e.

Odontoma

f.

Cementoblasto ma

g.

Odontogenik myxoma, fibroma dan myxofibroma


2. Tumor Intermediate

a.

Ameloblastoma folikular

b.

Ameloblastoma pleksiform

c.

Ameloblastoma akantomatous

d.

Ameloblastoma sel granular

e.

Ameloblastoma desmoplastik

f.

Ameloblastoma sel bas


3. Tumor Ganas
Ameloblastik carsinoma Ameloblastik fibrosarcoma Clear cell odontogenic
carcinoma
2.2 Tumor Odontogenik
2.2.1 Odontoma
Odontoma bukan tumor ganas, tapi tumbuhnya mengarah pada hamartoma karena
terbentuk dari pertumbuhan gigi yang normal dan kemudian mencapai ukuran yang tetap.
Lesi ini terdiri dari elemen enamel, dentin, sementum dan jaringan pulpa. Tergantung dari
derajat perubahan secara morfologinya, odontoma dapat diklasifikasikan menjadi
compound jika lesi memiliki struktur seperti struktur gigi atau kompleks jika lesi
memperlihatkan gambaran massa yang berkilat seperti gelas atau kristal.8
Gambaran Klinis dan Radiografis

Odontoma merupakan tumor odontogenik yang sering terjadi. Sifat dari lesi ini
asimptomatik, secara radiografi baik odontoma tipe kompon dan kompleks adalah massa
yang radioopak dan memiliki batas yang jelas. Pada tipe kompon memperlihatkan
struktur gigi kecil kecil dan banyak, sementara tipe kompleks memperlihatkan massa
padat yang irregular.
Gambaran Histopatologis
Walaupun terjadi gambaran pengurangan dari epitel enamel, odontoma pada
prinsipnya tetap tersusun atas enamel, dentin, sementum dan jaringan pulpa. Jaringan
fibrosa yang sedikit.

Gambar 4: Gambaran radiografi kompon odontoma

Gambar 5 Gambaran Kompleks odontoma

Gambar 6 gambaran histopatologis kompleks odontoma

Penatalaksanaan dan Prognosis


Pengangkatan lesi merupakan penataaksanaan yang utama. Enukleasi dan
kuretase bisa menjadi pertimbangan dan lesi diketahui tidak muncul kembali.8

BAB III KESIMPULAN


Tumor odontogenik merupakan suatu kelainan yang terjadi pada rongga mulut
dan asalnya berhubungan dengan jaringan yang berasal dari perkembangan gigi. Jaringan
abnormal dari masing masing tumor sering dihubungkan dengan jaringan yang sama
pada odontogen normal dari pembentukan hingga erupsi gigi.
Klasifikasi tumor odontogenik berdasarkan gejala klinis dan histogenesisnya,
terdiri dari kelompok tumor jinak, tumor borderline, dan kelompok tumor ganas.
Pengetahuan dan keterampilan dokter gigi spesialis bedah mulut dalam
mendeteksi dan mendiagnosis awal tumor odontogenik sangat diperlukan dalam praktek
sehari hari, sehingga dapat dilakukan terapi yang dini dan adekuat untuk mencegah
perluasan penyakit yang memperburuk prognosis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sapp, Eversole, Wysocki. Contemporary Oral and Maxilofasial pathology. Second
Edition. Mosby. 2004.
2. Smith, R.M, Turner J, Robbins LM, Atlas Oral Pathology. C.V Mosby. St. Louis. 1981.
3. Neville, Damm, Allen, Bouquot. Oral and Maxilofacial Pathology. Second Edition.
Saunders Elsevier.2002
4. http//www.oralmaxillofacialpatology.com/pdf. Diakses tanggl 17 maret 2009
5. http//www.ameloblastoma.html./elsivier/ diakses tanggal 17 maret 2009
6. Regezi. J. A, Sciubba. J .J, 1999, Oral pathology clinical phatologic correlation, 3ed,
Philadelphia: Saunders.
7. Rosai, Juan MD., 2004, Rosai and Ackermans : Surgical Pathology, 9 th ed, New
York : Mosby.
8. Johnson Jonas T et Rosen Clark A. Baileys Head & Neck Surgery Otolaryngology .,
fifth edition. Wolters Kluwer.

Beri Nilai