Anda di halaman 1dari 32

AKUT ABDOMEN PADA ANAK

Pendahuluan
Nyeri abdomen akut pertama kali didefinisikan oleh Sir Zachary Cope sejak tahun
1920. Nyeri abdomen akut merupakan masalah yang umum terjadi pada anak dan remaja,
serta memiliki pertimbangan diagnosis banding yang luas. 1 Meskipun nyeri abdomen
akut sering dialami oleh anak, kondisi medis yang berkaitan dengan abdomen dan
tampaknya bersifat self-limiting sekalipun, seperti gastroenteritis, dapat menjadi gejala
suatu penyakit yang serius. Oleh sebab itu, nyeri abdomen akut memerlukan diagnosis
yang cepat dan tepat karena keterlambatan dalam diagnosis serta tatalaksana dapat
meningkatkan morbiditas, bahkan menyebabkan kematian pada pasien.2
Definisi
Nyeri abdomen akut merupakan sebuah situasi emergensi dimana nyeri abdomen
terjadi dengan onset mendadak dan cukup berat hingga membutuhkan tatalaksana yang
cepat dan tepat. Research Committee of the World Organizaton of Gastroenterology
menjelaskan bahwa nyeri abdomen akut menggambarkan pasien yang datang ke rumah
sakit dengan riwayat nyeri abdomen yang belum terdiagnosa sebelumnya dan telah
berlangsung selama kurang dari 1 minggu. Definisi ini mengeksklusi pasien dengan
trauma abdomen dan strangulated hernia umbilikalis atau inguinalis.3
Epidemiologi
Nyeri abdomen akut setidaknya menyebabkan 5% dari kunjungan ke dokter anak.
Studi terhadap 1141 anak usia 2-12 tahun dengan nyeri abdomen akut menyatakan bahwa
sebagian besar penyebab nyeri abdomen akut bukanlah kasus bedah. Penyebab tersebut
adalah otitis media (18,6%), faringitis (16,6%), sindrom virus akut (16%), gastroenteritis
(10,9%), acute febrile illness (7.8%), bronkitis/asma (2.6%), pneumonia (2,3%),
konstipasi (2,0%), infeksi saluran kemih (1,6%). Kasus bedah sendiri hanya berjumlah

sekitar 1,5%, dengan penyebab utama adalah apendisitis (0,9%).1


Penelitian di Turki terhadap 7442 anak usia 2-16 tahun yang dibawa ke instalasi
gawat darurat mendapatkan bahwa terdapat 399 (5,4%) anak dengan nyeri abdomen akut,
dengan lima penyebab utama adalah infeksi saluran napas dengan atau tanpa komplikasi
otitis media/sinusitis (23,7%), sakit perut akut tanpa diketahui etiologi (15,4%),
gastroenteritis (15,4%), konstipasi (9,4%), infeksi saluran kemih (8%).1
Studi di Taiwan dari tahun 2005 sampai 2007 terhadap 3980 anak yang dibawa ke
instalasi gawat darurat dengan nyeri perut akut mendapatkan fakta bahwa terdapat 400
anak (10%) dengan acute abdomen. Penyebab acute abdomen dibagi menjadi dua
kelompok yaitu traumatik (65) dan non traumatik (335). Pada kelompok non traumatik,
etiologi yang paling sering pada bayi adalah hernia inguinalis inkarserata (45,1%) diikuti
dengan invaginasi (41,9%), sedangkan apendisitis akut adalah penyebab terbanyak pada
umur diatas 1 tahun (68,7%). Pada kelompok traumatik penyebab terbanyak adalah
kecelakaan lalu lintas (76,9%). Liver dan limpa adalah organ yang paling sering
mengalami cedera.4

Etiologi
Etiologi nyeri abdomen akut dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi organ yang
terlibat, usia, dan kondisi (membutuhkan tindakan medis segera atau tidak). Klasifikasi
nyeri abdomen akut dapat kita lihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Etiologi nyeri perut akut pada anak berdasarkan organ.1,2

Tabel 2. Etiologi nyeri perut akut pada anak berdasarkan usia1,2

Tabel 3. Etiologi nyeri perut akut berdasarkan urgensi tindakan1

Tabel 4. Etiologi nyeri abdomen akut berdasarkan lokasi.5

Patofisiologi
Reseptor nyeri visceral terletak pada otot dan mukosa organ berongga,
mesenterium, serta permukaan serosa dan dipersarafi oleh sistem saraf otonom yang tidak
peka terhadap perabaan, atau pemotongan. Reseptor ini terstimulasi oleh peregangan,
seperti dalam kondisi usus yang terdistensi atau mesentrerium yang teregang dan torsi.
Dengan demikian, sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa rasa nyeri
pada pasien, tetapi bila dilakukan penarikan atau peregangan organ atau terjadi kontraksi
yang berlebihan pada otot hingga menimbulkan iskemik, misalnya pada kolik atau
inflamasi pada appendisitis, maka nyeri dapat timbul. Nyeri visceral tidak terlokalisir
dengan baik karena saraf afferen yang berhubungan dengan nyeri ini memiliki sedikit

ujung serabut saraf, tidak termyelinasi, bilateral, dan memasuki medulla spinalis pada
beberapa level. Pola nyeri ini khas sesuai dengan persarafan embrional organ yang
terlibat. Saluran cerna yang berasal dari foregut, yaitu lambung, duodenum, sistem
hepatobilier dan pankreas menimbulkan nyeri di ulu hati atau epigastrium bila mengalami
gangguan. Bagian saluran cerna yang berasal dari midgut, yaitu usus halus, usus besar,
hingga pertengahan kolon transversum menimbulkan nyeri di sekitar umbilikus. Bagian
saluran cerna lainnya, hindgut, dimulai dari pertengahan kolon transversum hingga kolon
sigmoid dan menimbulkan nyeri pada perut bagian bawah. Nyeri terasa tumpul, difus,
cramping, atau terasa seperti terbakar dan menstimulasi anak untuk bergerak sebagai
usaha untuk mengurangi nyeri. Pasien juga mengalami episode mual, muntah, pucat,
keringat akibat keterlibatan saraf otonom.1,2
Reseptor nyeri somatoparietal terletak terutama pada peritoneum parietal, otot,
dan kulit. Reseptor nyeri ini distimulasi oleh rangsangan stretching, tearing, atau
inflamasi. Saraf yang membawa rangsangan somatoparietal berjalan dalam nervus
spinalis spesifik yang termyelinasi dan berjumlah banyak, dan kemudian ditransmisikan
pada dorsal root ganglia spesifik. Gesekan antara viscera yang mengalami inflamasi akan
menimbulkan rangsang peritoneum dan dapat menimbulkan nyeri. Gesekan inilah yang
menjelaskan nyeri kontralateral pada appendisitis akut. Nyeri ini lebih terlokalisasi dan
tajam. Pergerakan biasanya meningkatkan intensitas nyeri parietal, sehingga anak
cenderung diam.2,3
Nyeri alih terjadi jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satu daerah.
Contoh dari nyeri alih adalah nyeri pada diafragma yang bisa dirasakan pada bahu.
Diafragma yang berasal dari regio leher C3-C5 berpindah ke bawah pada masa embrional
sehingga rangsangan pada diafragma oleh perdarahan atau peradangan akan dirasakan di
bahu. Hal ini juga terjadi pada kasus kolestitis akut dimana nyeri dirasakan pada daerah
ujung belikat. Abses dibawah diafragma atau rangsangan karena inflamasi atau trauma
pada permukaan limpa dan hati juga dapat menyebabkan nyeri di bahu. Kolik ureter atau
kolik pielum ginjal biasanya dapat dirasakan sampai ke alat kelamin luar seperti labia
mayora pada wanita atau testis pada pria.1-3

Karakteristik nyeri
Pola dan karakteristik nyeri perut akut dapat bervariasi. Nyeri dapat bersifat intermiten,
kolik, atau kontinus (terus-menerus). Kolik intermiten pada obstruksi usus, intususepsi,
atau batu ureter terjadi akibat gerakan peristaltik, dan hilang diantara gerakan tersebut.
Appendicitis akut dimulai dengan nyeri pada perut bagian tengah dan berpindah ke
daerah perut kanan bawah. Pola penjalaran juga merupakan suatu petunjuk penting. Nyeri
bilier menjalar ke daerah skapula kanan. Kolik ureter dapat menjalar ke daerah inguinal.
Inflamasi pelvis dapat mengakibatkan nyeri saat berkemih dan nyeri pada daerah
abdomen bawah.3
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Keluhan sakit perut pada bayi dan anak bergantung pada usia penderita. Usia
0-3 bulan biasanya digambarkan dengan rewel dan muntah. Usia 3 bulan 2 tahun
digambarkan dengan muntah, tiba-tiba menjerit dan menangis tanpa penyebab. Anak usia
2 5 tahun dapat mengatakan sakit perut tapi lokalisasinya belum tepat. Anak usia di atas
5 tahun sudah dapat menerangkan sifat dan lokalisasi sakit perut.6
Hal-hal yang perlu digali adalah sebagai berikut.1,2,6
Anamnesis
a. Usia. Etiologi nyeri abdomen akut berbeda sesuai dengan usia.
b. Riwayat nyeri. Lokasi, onset, karakteristik, tingkat keparahan, durasi, penjalaran
(disesuaikan dengan usia anak).
c. Pola BAB (feses), meliputi ukuran, konsistensi, odour. Currant-jelly stool biasa
terjadi pada pasien dengan intususepsi. Diare

biasanya berhubungan dengan

gastroenteritis atau keracunan makanan. Diare berdarah dapat mengindikasikan


adanya IBD atau infectious enterocolitis

Tabel 5. Tampilan feses. 6

d. Riwayat diet. Anak yang mengonsumsi susu berlebihan dapat mengalami


konstipasi.
a. Riwayat trauma. Bila terdapat riwayat trauma, kemungkinan sakit perut dapat
disebabkan karena trauma tersebut, mulai dari memar ringan di dinding abdomen
sampai lesi organ intra abdomen. Kelainan organ intra abdomen akibat trauma
yang sering menyebabkan sakit perut akut adalah pankreatitis.
e. Faktor yang memperberat dan memperingan. Nyeri parietal diperberat dengan
gerakan. Nyeri yang diperingan setelah pasien BAB biasanya berasal dari
gangguan pada kolon, sedangkan nyeri yang diperingan setelah pasien muntah
biasanya terjadi akibat gangguan pada usus yang lebih proksimal.
f. Associated symptoms. Tanda dan gejala terkait nyeri abdomen akut yang perlu
digali adalah sebagai berikut.
i. Shok atau dehidrasi berat yang harus segera diatasi segera. Keadaan ini
biasanya disebabkan oleh kelainan yang berat yang memerlukan tindakan
bedah (volvulus, perforasi usus, ruptur organ, peritonitis umum,

perdarahan
ii.

intra

abdomen)

maupun

non

bedah

(pankreatitis,

gastroenteritis).
Muntah. Muntah hijau (bilous vomiting). Bilous vomiting adlaah muntah
bercampur cairan empedu. Keadaan ini menggambarkan adanya obstruksi
usus letak tinggi. Warna muntah dapat membantu pemeriksa menentukan
diagnosis seperti pada tabel berikut ini.
Tabel 6. Diagnosis banding berdasarkan warna muntah.6

iii.

Tanda obstruksi usus selain muntah hijau: tidak bisa defekasi, tidak bisa

iv.

flatus, kembung.
Tanda peritonitis, seperti menolak berjalan, berjalan lambat/membungkuk
kedepan, rasa sakit saat batuk atau tersentak, berbaring tidak bergerak.
Gejala tersebut bersamaan atau hampir mirip dengan gejala shok. Oleh
sebab itu, pemeriksaan fisik abdomen harus diulang kembali setelah

v.

resusitasi cairan.
Perdarahan saluran cerna. Darah yang bercampur tinja dapat menunjukkan
kolitis baik kolitis karena infeksi (disentri amoba, disentri basiler,
bakteri/parasit

infasif

lain),

kolitis

pseudomembranosa

(antibiotic

associated diarrhea), maupun inflammatory bowel disease. Darah

bercampur lendir (redcurrant jelly stool) menunjukkan invaginasi,


hematemesis dan melena menunjukkan adanya perdarahan saluran cerna
atas (ulkus gaster/duodenum, gastritis erosif, esofagitis, purpura Henoch
Schonlein. Adanya darah segar keluar lewat anus menunjukkan
kemungkinan divertikulum Meckel, polip rekti. Kondisi lain yang dapat
menyertai sakit perut akut disertai perdarahan saluran cerna antara lain
adalah midgut volvulus (anak biasanya megalami shok), sindrom
vi.

hemolitik uremik.
Ikterus. Ikterus menunjukkan kelainan hepatobilier seperti (hepatitis,

vii.

hepatoblastoma, kista duktus koledokus, kolelitiasis, kolesistitis).


Urinary frequency, dysuria, urgency, dan urin yang berbau. Hal dapat

viii.

menjadi tanda terjadinya infeksi saluran kemih.


Nyeri sendi, ruam, dan urin smoke-colored dapat menjadi tanda terjadinya
Henoch-Schnlein

purpura.

g. Riwayat ginekologi. Riwayat ginekologi yang ditanyakan seputar riwayat


menstruasi, aktivitas seksual, atau kontrasepsi. Amenorrhea mengindikasikan
adanya kehamilan. Riwayat pasangan seksual multipel dan penggunaan IUD
mengindikasikan adanya PID. Penggunaan IUD dan riwayat PID meningkatkan
risiko kehamilan ektopik. Nyeri mendadak saat mid-siklus dapat terjadi akibat
mittelschmerz.
h. Riwayat penyakit dahulu. Riwayat opname dan penyakit (seperti, sickle cell
anemia dan porphyria) harus ditanyakan. Riwayat operasi dapat meningkatkan
risiko terjadinya penyakit lain, seperti obstruksi usus akibat adhesi. Cystic fibrosis
meningkatkan

risiko

terjadinya

batu

empedu.

Spina

bifida/cerebral

palsy/developmental delay meerupakan predisposisi terjadinya konstipasi. Sickle


cell disease merupakan predisposisi ke splenic auto-infarction.Recurrent
respiratory tract infections mengindikasikan adanya adenitis mesenterik. Riwayat
sindrom nefrotik dapat menjadi predisposisi terjadinya peritonitis primer.
i. Penggunaan obat. Penggunaan obat tertentu dapat menyebabkan nyeri perut akut,
dan dapat dilihat pada tabel.

j. Riwayat keluarga. Riwayat sickle cell anemia atau cystic fibrosis dalam keluarga
dapat menjadi predisposisi nyeri abdomen akut, dan dapat dilihat pada poin i.
k. Kelainan ekstra abdomen (pneumonialobaris, miokarditis virus)
Pemeriksaan fisik2,6
a. Keadaan umum. Pasien dengan nyeri visceral cenderung tampak menggeliat
(writhe) selama gerakan peristaltik, sementara anak dengan peritonitis cenderung
diam (tidak bergerak).
b. Tanda vital. Demam biasanya terjadi akibat infeksi atau inflamasi. Demam tinggi
dengan meriang biasanya terjadi akibat pyelonephritis dan pneumonia.
Hipovolemia ditandai dengan adanya takikardia dan hipotensi. Anak postmenarche dengan shock dapat dicurigai mengalami kehamilan ektopik. Hipertensi
terakait dengan HSP atau HUS. Respirasi Kussmaul mengindikasikan adanya
DKA.
c. Pemeriksaan abdomen. Amati pola pernapasan anak, dan minta anak untuk
mengembungkan lalu mengecilkan perut. Setelah itu, lakukan palpasi dengan satu
jari pada daerah dengan nyeri tekan paling maksimal. Pemeriksa harus mengamati
adanya Rovsings sign (penekanan pada perut bawah kiri menyebabkan distensi
pada gas kolon, dan menyebabkan nyeri pada perut bawah kanan), lalu perlahan
periksa rigiditas otot. Perkusi dapat menimbulkan rebound tenderness. Palpasi
dalam penting untuk mengamati adanya massa dan organomegali. Bila terdapat
massa abdomen pada pemeriksaan fisik, fokuskan pada lokasi, mobilitas, nyeri.
Massa ini mungkin berhubungan dengan usus, mesentrium, limpa, hati, pankreas,
ginjal, atau organ panggul. Adanya perabaan massa di kanan bawah berbentuk
sosis sangat mungkin suatu invaginasi. Pemeriksa juga harus mengamati tanda
dan gejala terjadinya ostruksi usus atau peritonitis. Obstruksi usus ditandai
dengan terdapatnya distensi abdomen, peningkatan bising usus, dan gambaran
peristaltis usus di dinding abdomen. Peritonitis ditandai dengan terdapatnya
distensi abdomen, nyeri tekan umum atau terlokalisir, nyeri ketok, nyeri lepas,
defense muscular, bising usus menurun/tidak ada, demam, takikardi. Kadang
kadang gejala tersebut bersamaan atau hampir mirip dengan gejala shok, karena
itu pemeriksaan fisik abdomen harus diulang kembali setelah resusitasi cairan.

d. Pemeriksaan rektum dan pelvis.


Hal yang harus diamati adalah nyeri tekan, tonus sfingter, massa, feses, dan
melena. Pada anak laki-laki, pemeriksaan genitalia eksterna juga diperlukan untuk
mengamati abnormalitas penis dan skrotum. Pada anak perempuan, pemeriksaan
sekret vagina, atresia vagina, atau himen imperforata perlu diamati. Pemeriksaan
pelvis bimanual diperlukan untuk mengamati nyeri tekan dan massa pada uterus
atau adneksa. Sekret purulen, nyeri goyang servix, dan massa adneksa dapat
manjadi tanda terjadinya PID.
e. Associated signs.
Jaundice terjadi akibat penyakit hemolisis/ liver. Pucat dan kuning dapat menjadi
tanda sickle cell crisis. Uji iliopsoas atau obturator positif mengindikasikan
adanya appendiks retrosecum yang mengalami inflamasi, ruptur appendiks, atau
abses iliopsoas. Murphys sign (interupsi pada inspirasi dalam akibat nyeri saat
jari pemeriksa ditekan dibawah batas kosta kanan) positif merupakan tanda
kolestitis akut. Cullens sign (kebiruan pada umbilicus) dan Grey Turners sign
(diskolorasi pada region flank) merupakan tanda dari perdarahan internal. Purpura
dan arthritis mengidikasikan terjadinya HSP.
f. Riwayat bepergian, sosial, dan psikologis (stressor)
Pemeriksaan penunjang1,2
Pemeriksaan laboratorium harus disesuaikan dengan keluhan pasien dan
gambaran klinis. Pemeriksaan awal yang dilakukan adalah Complete Blood Count dan
urinalisis. Hemoglobin yang rendah merupakkan tanda terjadinya perdarahan atau
gangguan hematologi yang mendasari, seperti sickle cell disease. Hemoglobin normal
tidak mengeksklusi perdarahan akut masif pada keadaan belum terkompensasi.
Leukositosis, terutama dengan shift to the left dan toksik granulasi pada pemeriksaan
darah

tepi

merupakan

tanda

terjadinya

infeksi.

Urinalisis

dapat

membantu

mengidentifikasi masalah saluran kemih, seperti infeksi atau batu. Pemeriksaan


kehmailan dapat dipertimbangkan pada anak perempuan post-menarche.
Pemeriksaan foto polos abdomen sangat berguna pada obstruksi usus atau
perforasi dari viskus abdomen. Foto chest x-ray dapat mengeksklusi pneumonia. Pada

unit gawat-darurat, USG merupakan pemeriksaan yang paling bermanfaat untuk


mendiagnosis masalah ginekologi, seperti kista ovarium, torsi ovarium, atau inflamasi
peri-appendiks. CT scan dapat digunakkan bila produksi gas usus terjadi secara
berlebihan dan menyulitkan pemeriksaan USG.

Gambar 1. Algoritma berdasarkan sign and symptoms. 2

Gambar 2. Diagnosis klinis acute abdominal pain (lanjutan).7

Gambar 3. Diagnosis klinis acute abdominal pain (lanjutan).7

Gambar 4. Diagnosis klinis acute abdominal pain (lanjutan).7

Gambar 5. Diagnosis klinis acute abdominal pain (lanjutan).7

Diagnosis banding nyeri abdomen akut6-8


Infantile Colic
Bayi mengalami colic scream, menarik lutut ke arah abdomen, dan tampak sakit berat.
Gastroenteritis
Gastroenteritis merupakan penyebab nyeri abdomen paling sering pada anak. Etiologi
GEA dapat berupa infeksi rotavirus, Norwalk virus, adenovirus, enterovirus, Escherichia
coli, Yersinia, Campylobacter, Salmonella, Shigella. Temuan klasik bervariasi, tergantung
pada organisme penyebab. Lokasi nyeri tidak spesifik, dengan nyeri tekan difus, namun
jarang terjadi guarding.

Appendicitis
Nyeri bersifat visceral, sulit dilokalisasi, dan terjadi di area periumbilikus. Setelah 48
jam, nyeri menjadi bersifat parietal (peritoneum mengalami inflamasi), dapat dilokalisasi
dengan baik dan konstan pada daerah right iliac fossa. Perjalanan nyeri ini biasanya sulit
dijelaskan oleh anak yang lebih kecil. Pada awal inflamasi, Nyeri bersifat visceral, sulit
dilokalisasi, dan terjadi di area periumbilikus. Anak yang lebih kecil suli tuntuk
mendeskripsikan nyeri ini, sehingga manifestasi awal hanya berupa anoreksia dan anak
tampak kurang aktif. Muntah, demam, guardin, dan nyeri abdomen yang diperberat
dengan pergerakan (terutama berjalan) merupakkan tanda yang penting. Seiring inflamasi
bertambah dan peritoneum parietal teriritasi, saraf somatic mulai terstimulasi. Nyeri
terasa pada area 2/3 dari umbilicus ke anterior superior iliac spine (McBurney point).
Bila appendiks ruptur, anak tampak lebih baik. Hal ini terjadi karena tekanan pada organ
telah berkurang, sehingga nyeri juga semakin berkurang. Pada hari berikutnya, keadaan
anak tampak memburuk akibat peritonitis. Selain peritonitis, abses juga dapat terbentuk.
Abses teraba sebagai massa pada regio abdomen kanan bawah dan disertai dengan nyeri
tekan. Pemeriksaan penunjang untuk appendicitis meliputi jumlah leukosit, yang
biasanya meningkat dengan shift to the left. Pemeriksaan radiologi dapat membantu
menyingkirkan renal stone, Crohn disease, atau masalah ginekologi. USG pada abdomen

kanan bawah menunjukan pembesaran appendiks dan perubahan pada dinding, serta
keberadaan cairan di sekitar appendiks, atau abses bila appendiks telah rupture.

Small bowel volvulus


Rotasi inkomplit pada usus dapat menyebabkan suplai vascular pada usus halus mengalir
melalui pedicle dari mesenterium yang sempit, yang dapat terpuntir pada bagian dasar,
sehingga mengganggu/menghentikan aliran darah. Tanda awal berupa nyeri abdomen
tumpul diikuti tanda obstruksi. Volvulus biasanya terjadi pada usia kurang dari 1 tahun.
Obstruksi menyebabkan bile stained emesis dan nyeri, meskupun nyeri dapat sulit
dideteksi pada bayi. Perdarahan rektum dapat menjadi tanda akhir gangguan vascular
pada mukosa. Pemeriksaan radiografi menunjukan dilatasi pada gaster dan duodenum
proksimal, tetapi uji utama untuk volvulus adalah pemeriksaan gastrointestinal atas
dengan kontras.

Intususepsi
Kondisi ini terjadi bila usus tertarik ke arah depan menuju bagian usus terdekat, sehingga
bagian usus tersebut terjebak ke bagian usus yang lebih proksimal. Lokasi yang sering
mengalami intususepsi adalah persimpangan antara ileum dan kolon, dimana ileum
tertarik ke arah kolon. Beberapa sumber menyebutkan bahwa hal ini terjadi akibat
infeksi virus yang menyebabkan hipertrofi dari kelenjar getah bening meseterika. Tanda
dan gejala berupa nyeri abdomen, letargi, muntah, pucat, dan bila obstruksi terjadi
berkepanjangan, distensi abdominal dan perdarahan rektum. Pasien mengalami BAB
berdarah yang tampak seperti red currant jelly. Feses seperti itu menunjukan adanya
gangguan vascular. Anak menunjukan tanda crampy pain bila terjadi gerakan peristaltis
dan menyebabkan stretching dan squeezing dari usus yang terjebak. Anak tampak tenang
di antara gerakan peristaltis.
Anak yang lebih besar dapat melokalisir nyeri pada daerah periumbilikal atau kanan

bawah. Oleh sebab itu, intususepsi sering diduga sebagai appendicitis pada awalnya. Pada
intususepsi, nyeri bersifat intermiten, sedangkan pada appendicitis nyeri terjadi terusmenerus.
Pada intususepsi bentuk ileo-colic, pemeriksa dapat meraba massa berbentuk seperti sosis
pada sisi kanan atau kanan atas. Gambaran radiografi menunjukan adanya obstruksi atau
massa. USG menunjukan gambaran usus dalam usus atau target. USG sangat akurat
dalam mendeteksi intususepsi.

HSP
HSP merupakan penyakit vaskulitis yang dapat dicetuskan oleh infeksi, medikasi, atau
bahkan gigitan serangga. Awalnya, pasien merasakan nyeri pada abdomen. Beberapa hari
kemudia, ruam yang dimulai pada bokong atau permukaan ekstensor dari kaki dan
menyebar ke perifer muncul. Lesi tersebut dapat diawali dengan bentuk urtikaria yang
berkembang menjadi palpable purpura. Lesi purpura tersebut juga tampak pada usus, dan
usus juga mengalami edema serta inflamasi yang menyebabkan nyeri kolik. Pasien dapat
muntah, dan abdomen terasa nyeri. USG menunjukan gambaran usus yang edema.
Endoskopi menunjukan lesi purpurik. Leukosit dan penanda inflamasi biasanya
meningkat.

Pancreatitis
Pankreatitis memiliki karakteristik nyeri pada abdomen atas disertai dengan nyeri tekan.
Pankreatitis dipertimbangkan bila terjadi peningkatan amilase dan lipase lebih dari 3 kali.
Nilai normal juga tidak mengeksklusi diagnosis. Pankreatitis terjadi akibat infeksi,
medikasi, atau trauma. Penyebab lain adalah batu empedu, abnormal ductular anatomy,
penyakit sistemik, dan gangguan metabolik. CT scan dan ultrasonografi membantu
diagnosis untuk melihat penyebab secara anatomi atau akibat batu empedu.

Ulkus gaster
Ulkus gaster memiliki manifestasi nyeri pada epistrium atau kuadran kanan atas. Lesi ini
biasanya terjadi pada gaster distal atau duodenum proksimal. Pada kasus berat,
perdarahan atau perforasi dapat terjadi. Ulkus ini biasanya disebabkan oleh NSAIDs atau
infeksi Helicobacter pylori.

Esophagitis
GERD dan esophagitis memiliki manifestasi sebagai nyeri epigastrium akut. GERD
terjadi bila kandungan gaster berpindah ke esophagus dan menimbulkan kerusakan.
Esophagitis terjadi akibat GERD atau inflamasi lain, serperti infeksi oleh herpes atau
Candida.

Mesenteric Lymphadenitis
Kondisi ini dapat menyerupai appendicitis, tetapi nyeri lebih bersifat difus, tidak terdapat
tanda peritonitis, dan terjadi limfadenopati generalisata.

Hepatitis
Inflamasi liver dapat menyebabkan nyeri pada abdomen kanan atas. Nyeri ini disertai
dengan anoreksia, nausea, dan muntah. Inflamasi liver ini dapat disebbakan oleh infeksi,
respon terhadap obat atau bahan kimia, serta autoimun. Karakteristik dari hepatitis adalah
pasien tampak kuning, edngan hepatomegaly dan nyeri tekna pada liber. Konsentrasi
enzim liver meningkat pada keadaan akut, serat hiperbilirubinemia direk. Urinalisis
menunjukan adanya bilirubin dan urobilinogen pada urin.

Billiary Tract Disease


Cholelithiasis and Cholecystitis
Batu empedu dan cholecystitis dapat menyebabkan nyeri abdomen kanan atas. Nyeri,
demam, muntah, dan kuning sering kali tampak. Nyeri menjalar ke punggung. Tanda
murphy positif mengarahkan ke penyakit yang berhubungan dengan kantung empedu.
Batu empedu sering terjadi pada penyakit hemolitik, seperti sickle cell disease, dan bayi
serta anak yang menerima peripheral alimentation. Acalculous cholecystitis terjadi
selama periode penyakit sistemik yang signifikan, seperti sepsis. USG dapat melihat
keberadaan batu atau dinding kantung empedu yang menebal

dengan dilatasi.

Pemeriksaan laboratorium menunjukan peningkatan enzim liver, seperti gammaglutamyltranspeptidase (GGTP) dan alkaline phosphatase, serta peningkatan leukosit, dan
bilirubin direk. Amilase dapat meningkat, sehingga lebih sulit untuk mendiagnosis
apakah nyeri disebabkan oleh cholecystitis atau pankreatitis.

Stones in the Bile Duct


Choledocholithiasis atau bile duct stones dapat memiliki manifestasi serupa dengan
cholecystitis, namun manifestasi jaundice lebih jarang terjadi. Batu yang mengobstruksi
menyebabkan nyeri abdomen kanan atas, demma, dan nyeri tekan. GGTP, alkaline
phosphatase, dan bilirubin terkonjugasi dapat meningkat. Obstruksi duktus dapat
menyebabkan pankreatitis. Oleh karena itu, konsentrasi amylase dan lipase perlu dinilai.
USG menunjukan adanya batu atau dilatasi duktus.

Constipation
Nyeri terjadi pada sisi kiri atau suprapubik. Konstipasi dapat terjadi akibat penyebab
organic (seperti, GEA, appendicitis), maupun fungsional (seperti, diet rendah serat).

Trauma Abdominal
Trauma abdomen biasanya terjadi akibat luka tumpul. Trauma ini dapat menyebabkan
kerusakan muskulokutaneus, perforasi usus, hematoma intramural, laserasi atau
hematoma liver atau limpa, dan avulsi dari organ intra-abdomen.

Obstruksi intestinal
Obstruksi usus memiliki karakteristik cramping. Obstruksi dapat disebabkan oleh
volvulus, intususepsi, hernia inkarserata, dan adhesi post-operatif.

Reproductive Tract Diseases


Gangguan pada sistem reproduksi dapat menyebabkan nyeri abdomen. Torsi dari ovarium
atau testikel, dan kehamilan ektopik tidak jarang terjadi. Serlain itu, kista ovarium serta
infeksi menular seksual juga dapat menyebabkan nyeri abdomen.
Torsi testicular memiliki manifestasi skrotum yang nyeri bila ditekan dan testis
yang membesar. Nyeri menjalar ke abdomen, disertai dengan mual-muntah. Anak lakilaki yang lebih besar malu untuk menjelaskan nyeri pada testicular, sehingga seringkali
menceritakan nyeri ini sebagai nyeri pada panggul atau perut. Oleh sebab itu,
pemeriksaan fisik sangat diperlukan. Pemeriksaan penunjang, seperti USG dapat
membantu untuk mengevaluasi aliran darah ke testicular.
Torsi ovarium sulit dibedakan dari nyeri akut abdomen lain karena lokasinya.
Nyeri biasanya terjadi pada abdomen bagian bawah, dan dapat disertai dengan mual dan
muntah. Bayi dengan kondisi ini tampak rewel sulit makan, dan muntah. Organ yang torsi
ini membengkak dan teraba sebagai massa.
Kista ovarium sering terjadi pada remaja post-menarche. Nyeri hanya dirasakan
bila terjadi perdarahan ke dalam kista atau kista rupture dan darah keluar ke abdomen.

Kehamilan ektopik
Kehamilan ektopik harus dipertimbangkan pada remaja post-menarche dengan nyeri
abdomen bawah. Pemeriksaan kehamilan perlu dilakukan karena anak remaja biasanya
malu untuk menceritakan tetang riwayat seksualnya.

Pelvic Inflammatory Disease


PID biasanya disebabkan oleh Chlamydia trachomatis or Neisseria gonorrhoeae. Faktor
risiko berupa pasangan seksual multiple, penggunaan IUD, atau riwayat PID.

Incarcerated inguinal hernia


Pada kasus ini, tampak tanda obstruksi usus disertai dengan nyeri abdomen. Pada
pemeriksaan dapat tampak massa pada lipat paha, disertai nyeri tekan dan dapat tampak
merah akibat inflamasi. Foto polos abdomen dapat menunjukkan adanya obstruksi atau
air bubble pada lipat paha.

Infeksi saluran kemih


Infeksi saluran kemih dan batu ginjal dapat menyebabkan nyeri abdomen. Pemeriksaan
urinalisis dan kultur diperlukan untuk melihat adanya infeksi dan etiologi penyebab.
Pyelonephritis akut dapat disertai dengan nyeri ketok CVA, sedangakan cystitis local
dapat disertai dengan nyeri tekan suprapubik.

Pneumonia
Pneumonia lobus bawah dapat mengakibatkan terjadinya nyeri abdomen karena inerasi
visceral. Pada anak dengan nyeri abdomen dan demam, auskultasi paru harus dilakukan,
dan chest x-ray dapat dipertimbangkan.

Sickle cell crisis


Oklusi vascular pada sickle cell crisis dapat menyebabkan infark pada abdomen dan juga
terjadi pembentukan batu empedu. Nyeri abdomen biasanya disertai dengan nyeri dada/
ekstrimitas akibat oklusi vena dari sludging blood. Nyeri diperingan dengan oksigen dan
hidrasi.
Streptococcal pharyngitis
Anak dengan Streptococcal pharyngitis dapat mengalami nyeri abdomen akibat faringitis.
Nyeri ini dapat menyerupai appendicitis. Patofisiologi dari hal ini masih tidak diketahui.

Tatalaksana9

Gambar 6. Algoritma tatalaksana nyeri abdomen akut.9

Gambar 6. Algoritma tatalaksana nyeri abdomen akut (lanjutan).9


Intervensi dan manajemen kegawat-daruratan diperlukan untuk anak yang terlihat
sakit, memiliki tanda obstruksi usus dan iritasi peritoneum. Langkah awal adalah
melakukan tindakan resusitasi, termasuk koreksi hipoksemia dan kelainan metabolik,
serta penggantian cairan intravaskular. Dekompresi lambung menggunakan NGT
diperlukan bila terjadi obstruksi usus. Antibiotik empiris secara intravena diberikan bila
terdapat

kecurigaan infeksi intra-abdomen yang serius. Selain itu, analgesik juga

diperlukan bagi pasien dengan nyeri berat. Setelah penanganan kegawat-daruratan


dilakukan, pasien dirujuk atau ditangani sesuai dengan penyakit yang mendasari.

Tindakan bedah dapat dipikirkan pada pasien dengan indikasi tertentu, sebagai berikut. 1

DAFTAR PUSTAKA

1. Muzal K. Pendekatan diagnosis sakit perut akut. Trihono P, Windiastuti E, Gayatri


P, Sekartini R, Indawati W, Idris NS, editors. In: Kegawatan pada Bayi dan
Anak.1st ed. Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. 2012. p.1623.
2. Leung AK, Sigalet DL. Acute Abdominal Pain in Children. Am Fam Physician.
2003; 67: 2321-6.
3. Lintula H. Acute abdominal pain in children with special reference to surgical
techniques and effects of opioid analgesia on diagnostic accuracy. Finland:
Kuopio University Publications; 2006.
4. Erkan T, Cam H, Ozkan HC, Kiray E, Erginoz E, Kutlu T, Tastan Y, Cullu F.
Clinical spectrum of acute abdominal pain in Turkish pediatric patients: a
prospective study. Pediatr Int. 2004;46:325-9.
5. Ross A, Leleiko NS. Acute abdominal pain. Pediatr Rev. 2010; 31: 135-44.
6. Wylie R. Clinical manifestation of gastrointestinal disease. In: Kliegman RM,
Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, editors. Nelson textbook of pediatrics.
Philadelphia: Saunders Elsevier; 2008:p.1525-27.Misra S D. APPROACH TO
ACUTE ABDOMINAL PAIN IN CHILDREN. Pediatric Oncall [serial online]
2005[cited

2005

January

1];2.

Art

#21.

Available

From:

http://www.pediatriconcall.com/Journal/Article/FullText.aspx?
artid=750&type=J&tid=&imgid=&reportid=354&tbltype=Joong

SK.

Acute

Abdominal Pain in Children. Pediatr Gastroenterol Hepatol Nutr. 2013; 16: 21924.
7. Preddy J, Boyd N, Darvill J, Fisher K, Martin H, Roy G, et al. Infants and
Children: Acute Management of Abdominal Pain. Sydney: NSW Government
Ministry of Health; 2009.