Anda di halaman 1dari 7

LAMPIRAN

PERATURAN DIREKTUR UTAMA RS ZAHIRAH


NOMOR
: 086/RSZ-DIRUT-PP/SK/V/2015
TANGGAL
: 01 MEI 2015
TENTANG
: PEDOMAN MANAJEMEN NYERI
1. DEFINISI
1.1. Nyeri: merupakan sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional
yang berhubungan dengan kerusakan aktual atau potensi kerusakan dari jaringan,
atau dideskripsikan sebagai adanya kerusakan. Nyeri selalu subyektif, namun
pasien tanpa kemampuan untuk berkomunikasi dapat tetap merasakan nyeri.
Nyeri mempunyai komponen sensorik, emosional, kognitif, spiritual dan tindakan
yang berhubungan dengan lingkungan, perkembangan, sosial budaya dan faktor
kontektual
1.2. Nyeri akut: biasanya terbatas pada area tertentu, stimulasi sistem saraf simpatis
dan sebagaiperingatan bahwa sesuatu yang mengalami cedera. Nyeri akut
biasanya durasinya terbatas.
1.3. Nyeri Kronik merupakan nyeri yang berlanjut, jangka panjang, lebih dari 12
minggu atau setelah penyembuhan dari setelah trauma atau pembedahan.
1.4. Nyeri neuropatik: merupakan nyeri yang disebabkan oleh lesi primer atau
disfungsi dari sistem saraf pusat atau perifer. Sebagai contoh nyeri setelah
amputasi, atau trauma spinal. Nyeri yang muncul pada pasien diabetes juga dapat
merupakan neuropatik.
1.5. Pengkajian nyeri: termasuk informasi dari pasien mengenai faktor penyebab,
kualitas/karakteristik, regio/ radiasi, faktor pereda, gejala yang terkait, waktu dan
skor nyeri yang didapatkan melalui alat pengukuran nyeri. Pada saat aktivitas /
pergerakan menyebabkan nyeri, skor untuk nyeri gerak akan digunakan.
1.6. Pengkajian nyeri/ riwayat : termasuk informasi yang didapatkan dari pengkajian
nyeri, riwayat nyeri dan manajemen nyeri serta riwayat penggunaan analgetik.
1.7. Skrining Nyeri: menentukan apakah ada nyeri atau tidak atau terdapat riwayat
nyeri dengan menggunakan pengakuan verbal terhadap nyeri oleh pasien atau
dengan menggunakan alat pengukuran nyeri.
1.8. Alat pengukuran nyeri: merupakan alat yang divalidasi, dan dipercaya yang
digunakan untuk mengukur intensitas nyeri klinis.
1.9. Nyeri somatik berasal dari kulit dan area subkutan.
1.10.
Nyeri viseral berasal dari organ dalam dan batas rongga tubuh
1.11.
Nyeri alih muncul di tempat yang tidak dekat dengan area yang cedera
atau rusak namun disuplai oleh segmen spinal yang sama seperti pada area yang
cedera.
1.12.
Penatalaksanaan nyeri bukan merupakan Hak Istimewa dari beberapa
orang saja, Namun merupakan Hak Fundamental dari Setiap Manusia"
Masyarakat harus mencoba segala hal yang tersedia melalui pengetahuan ilmiah
terkini untuk menghindari penderitaan dan untuk memberikan setiap manusia
dengan semua hal yang tersedia untuk menyembuhkan rasa nyeri mereka ataupun
untuk menguranginya (Inisiatif Nyeri-PBB Hak Asasi Manusia dan status legal
untuk penatalaksanaan nyeri dalam hak untuk sehat)
1.13.
Nyeri dikategorikan sebagai tanda vital yang ke enam. Oleh sebab itu kita
harus mengkaji, menatalaksana dan membantu dalam mengelola rasa nyeri
pasien.
1.14.
Nyeri yang tidak tertangani dapat menyebabkan gangguan tidur,
kelelahan, disorientasi, meningkatkan kebutuhan oksigen otot jantung,
meningkatkan katabolisme dan menyebabkan imunosupresi.
2. TUJUAN
2.1. Sebagai acuan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada pasien
yang mengalami nyeri
2.2. Meningkatkan keamanan dan keselamatan pasien di rumah sakit
Nomor Surat Keputusan
No: 086/RSZ-DIRUT-PP/SK/V/2015

RS ZAHIRAH
Tanggal Revisi:
Ditinjau Kembali Pada: 01 April 2018
Hal 1 dari 7

Tanggal Implementasi::
01 Juni 2015

3. RUANG LINGKUP
3.1. Semua staf klinis
3.1.1.
Manajemen nyeri merupakan tanggung jawab dari semua disiplin
klinis.
3.1.2.
Semua pasien secara sistematis dilakukan skrining dan pengkajian
nyeri. Metoda dan frekuensi skrining, pengkajian dan pengkajian ulang
ditentukan oleh lokasi praktisi, kondisi pasien dan tipe pelayanan yang
tersedia.
3.1.3.
Kolaborasi di dalam pengkajian nyeri merupakan hal yang penting
bagi pasien yang tidak dapat berpartisipasi dalam pengkajian yang
dikarenakan kondisi medis pasien dan tingkat perkembangan pasien.
3.1.4.
Setiap klinisi bekerja secara kolaboratif dengan pasien dan petugas
kesehatan lainnya untuk mencapai tujuan dan membuat rencana
perawatan. Evaluasi dari rencana penatalaksanaan dilakukan dengan
pengkajian ulang yang sistematis dan berkelanjutan.
3.1.5.
Pengkajian, rencana perawatan dan intervensi didokumentasikan
sehingga memfasilitasi pengkajian ulang dan tindak lanjut. Formulir yang
digunakan oleh multidisipliner (contoh, daftar masalah, catatan edukasi
pasien) dan atau rekam medis elektronik pasien, mencatat nyeri untuk
meningkatkan praktik kolaboratif dan menggiatkan konsistensi pengkajian
dan intervensi.
3.2. Tanggung jawab dokter
3.2.1.
Dokter secara sistematis melakukan skrining dan pengkajian nyeri
pada semua pasien dan bekerja secara kolaboratif dengan pasien, perawat
dan petugas kesehatan lainnya untuk mencapai tujuan dan membuat
rencana perawatan.
3.2.2.
Dokter mendiagnosis nyeri (jika perlu) dan menjelaskan kepada
pasien, penyebab, tipe dan prognosis dari rasa nyeri tersebut dan juga
menjelaskan risiko dan manfaat dari intervensi yang direkomendasikan.
3.2.3.
Dokter mendokumentasikan rencana perawatan dan menulis
permintaan untuk obat dan intervensi lainnya untuk implementasi
perencananya.
3.3. Tanggung jawab perawat
3.3.1.
Perawat secara sistematis melakukan skrining dan pengkajian nyeri
pada semua pasien dan bekerja secara kolaboratif dengan pasien, dokter
dan petugas kesehatan lainnya untuk mencapai tujuan dan membuat
rencana perawatan.
3.3.2.
Perawat memberikan edukasi kepada pasien, memperluas dan
mendukung edukasi yang telah diberikan oleh dokter dan klinisi lainnya.
3.3.3.
Perawat mengimplementasikan rencana perawatan dengan cara
memberikan obat, memberikan edukasi dan memfasilitasi tatalaksana dari
klinisi lain.
3.3.4.
Perawat melakukan tindakan keperawatan, termasuk intervensi
tambahan, yang meningkatkan kenyamanan pasien, memberikan
dukungan emosional dan mempercepat pencapaian tujuan dari rencana
penatalaksanaan.
3.4. Petugas kesehatan lainnya
3.4.1.
Jika terdapat konsultan medis lainnya, petugas kesehatan atau
layanan pendukung lainnya yang kontak langsung dengan pasien dan
keluarga, mereka bertanggung jawab untuk memastikan bahwa rencana
penatalaksanaan telah diikuti.
3.4.2.
Staf akan berkomunikasi langsung dengan dokter dan anggota lain
dari tim kesehatan untuk mencapai tujuan dan rencana perawatan yang
kolaboratif.
3.4.3.
Staf dengan peran spesifik pada rencana perawatan (contoh,
fisioterapis) mendokumentasi pengkajian dan respon pasien terhadap
tatalaksana secara sistematis
Nomor Surat Keputusan
No: 086/RSZ-DIRUT-PP/SK/V/2015

RS ZAHIRAH
Tanggal Revisi:
Ditinjau Kembali Pada: 01 April 2018
Hal 2 dari 7

Tanggal Implementasi::
01 Juni 2015

3.4.4.
Pedoman ini berlaku untuk setiap dokter, perawat dan petugas
penunjang medik yang memberikan pelayanan pada pasien dengan nyeri
3.4.
Akan dilakukan pemantauan dan kepatuhan oleh tim audit. Pelatihan
diberikan kepada seluruhstaff yang sesuai dan perawat baru untuk melakukan
assesment nyeri dan pengelolaannya.
4.

TATALAKSANA
A. Prinsip Panduan Untuk Manajemen Nyeri
4.1.
Nyeri merupakan hal yang kompleks dan bersifat personal sehingga
dibutuhkan kolaborasi multidisiplin dan keterlibatan pasien dalam pengkajian,
rencana tatalaksana, intervensi dan tindak lanjut untuk mengatasi nyeri
4.2.
Pasien mempunyai hak untuk dilakukan pengkajian terhadap nyeri dan
mendapatkan intervensi yang sesuai jika rasa nyeri tersebut ada.
4.3.
Nyeri merupakan hal yang sangat subyektif dan personal, sehingga
membutuhkan perawatan individual.
4.4.
Tatalaksana yang efektif dari nyeri tergantung pada pengkajian dan
diagnosis nyeri yang sesuai. Pengkajian dan diagnosis nyeri secara adekuat akan
menghasilkan tatalaksana nyeri yang afektif.
4.5.
Nyeri harus didiagnosis dan diterapi secara dini sebab nyeri yang tidak
teratasi dapat menyebabkan sekuel fisiologis dan psikologis yang berat.
4.6.
Jika pasien tidak dapat melaporkan sendiri rasa nyerinya, proses
pengkajian lain yang sistematik harus digunakan (contoh pada pasien neonatus,
pasien tidak sadar)
4.7.
Bahasa, kultur dan bahkan umur, berpengaruh terhadap apa yang
dirasakan pasien dan komunikasi terhadap nyeri yang dirasakan.
4.8.
Klinisi di semua disiplin dan keadaan harus mempunyai pengetahuan dan
keterampilan dalam mengkaji dan menatalaksana nyeri.
4.9.
Barier untuk pengkajian nyeri yang optimal harus disadari dan diatasi.
4.10.
Ilmu pengetahuan dan praktik klinik dari manajemen nyeri terus
berkembang sehingga penatalaksanaan nyeri dapat dilakukan dengan optimal.
B. Pengkajian Nyeri
4.11.
Semua pasien dilakukan pengkajian terhadap nyeri.
4.11.1. Jika nyeri dirasakan, intervensi yang sesuai terhadap status nyeri pasien
dan kondisi medis secara umum akan dilakukan.
4.11.2. Jika memungkinkan, pasien atau kerabat pasien berpartisipasi dalam
pengkajian dan rencana perawatan serta edukasi yang diberikan sehingga
dapat memfasilitasi agar pasien dapat mengerti, berpartisipasi dan
mematuhi.
4.11.3. Rencana tersebut termasuk tindak lanjut yang sesuai untuk pengkajian
ulang dan pengaturan dalam intervensi, bila perlu.
4.11.4. Pengkajian, rencana perawatan dan intervensi didokumentasikan untuk
memfasilitasi pengkajian ulang dan tindak lanjut.
4.12.
RS Zahirah mempunyai panduan untuk pengkajian nyeri dimana
pengkajian dan manajemen nyeri merupakan prioritas klinis dan memfasilitasi
perawatan pasien yang berhubungan dengan nyeri secara konsisten dan
kolaboratif.
4.12.1. Perangkat pengkajian standar yang berguna secara klinis dalam mengkaji
nyeri telah diidentifikasi dan dipromosikan.
4.12.2. Alat untuk dokumentasi yang dapat memfasilitasi komunikasi kolaboratif
mengenai pengkajian nyeri telah tersedia.
4.12.3. Perhatian diberikan untuk pengkajian neonatus, bayi dan anak-anak yang
belum dapat berbicara; pengkajian yang sesuai dengan perkembangan
anak-anak serta pasien lain yang tidak dapat mendeskripsikan keparahan
dan sumber nyeri yang dirasakan seperti pada pasien demensia, penurunan
kesadaran atau dengan halangan bahasa.

Nomor Surat Keputusan


No: 086/RSZ-DIRUT-PP/SK/V/2015

RS ZAHIRAH
Tanggal Revisi:
Ditinjau Kembali Pada: 01 April 2018
Hal 3 dari 7

Tanggal Implementasi::
01 Juni 2015

4.12.4. Kriteria untuk menentukan interval atau kondisi yang sesuai untuk
pengkajian ulang telah tersedia.
4.12.5. Rencana perawatan termasuk manajemen nyeri setelah pasien pulang dan
tindak lanjut.
C. Proses Manajemen Nyeri
Manajemen nyeri termasuk pengkajian dan pengkajian ulang dari nyeri serta
tatalaksananya jika nyeri dirasakan
4.13.
Pengkajian awal / Skrining awal
4.13.1. Pasien diskrining pada pertama kali saat datang ke poliklinik rawat jalan
atau saat menerima pasien di emergency dan ruangan rawat inap kemudian
catat hasilnya di Rekam Medis pasien.
4.13.2. Jika pasien mengatakan bahwa ia merasakan nyeri maka pengkajian nyeri
harus dilakukan secara lengkap dengan mengikuti parameter di bawah ini:
4.13.2.1.
Lokasi (daerah yang nyeri, satu titik atau menyebar)
4.13.2.2.
Onset dan Durasi (Kapan serangan nyeri muncul,
bagaimana nyeri muncul, dan berapa lama)
4.13.2.3.
Frekuensi (terus menerus atau hilang timbul)
4.13.2.4.
Kualitas/ Karakteristik/ Tipe (tajam, seperti ditikam,
tumpul, seperti terbakar, perasaan geli, dll)
4.13.2.5.
Intensitas , menggunakan petunjuk pengkajian skala
nyeri
4.13.2.6.
Tipe nyeri, akut apabila tiba-tiba kurang dari 3 hari,
sub-akut apabila 1-6 bulan dan kronik bila lebih dari 6 bulan
4.13.3. Tujuan skrining adalah untuk:
4.13.3.1.
Memperkenalkan konsep pengkajian nyeri dan
alasannya kepada pasien
4.13.3.2.
Menentukan sistem skoring nyeri yang cocok untuk
pasien
4.13.3.3.
Menetapkan skor dasar nyeri dan dapat untuk
monitoring adanya perubahan level nyeri yang lebih tinggi dari
level tersebut. Beberapa pasien mempunyai masalah nyeri yang
pernah dialami sebelumnya dan dasar penilaian nyeri mereka
dapat bernilai 7/10 daripada 10/10
4.13.3.4.
Dapat mengembangkan rencana pengobatan pasien
dan diskusikan jika memang dibutuhkan.
4.14.
PengkajianUlang
Frekuensi pengkajian nyeri akan sering kali bergantung pada kondisi pasien:
4.14.1. Jika pasien tidak merasakan nyeri pada saat masuk rumah sakit, catat skala
nyeri 0 di kolom skor nyeri pasien (0-10) dan pasien diminta
memberitahukan apabila rasa nyeri muncul. Pada kondisi ini, hanya
dibutuhkan 3 kali pencatatan setiap harinya (satu kali setiap shift)
4.14.2. Frekuensi pengkajian harus ditingkatkan jika rasa nyeri tersebut sulit
dikontrol atau jika stimulus nyeri meningkat atau adanya perubahan dalam
intervensi pengobatan. Dalam hal ini pengkajian nyeri dibutuhkan setiap
satu atau dua jam atau lebih sering sampai episode nyeri tersebut dapat
dikontrol (contoh: nyeri setelah dilakukannya suatu prosedur)
4.14.3. Jika infus analgesik sedang berjalan, skoring nyeri akan lebih sering
diobservasi setiap jamnya:
4.14.3.1.
Hal
ini mengindikasikan
peningkatan intensitas
pengontrolan nyeri yang lebih tinggi
4.14.3.2.
Perlu untuk memastikan adanya keamanan pengontrolan
yang tepat telah dilakukan
4.14.3.3.
Frekuensi strategi pemberian analgesik dapat bervariasi
untuk setiap individu; seperti infus opioid, analgesik epidural
atau blok plexus.
Nomor Surat Keputusan
No: 086/RSZ-DIRUT-PP/SK/V/2015

RS ZAHIRAH
Tanggal Revisi:
Ditinjau Kembali Pada: 01 April 2018
Hal 4 dari 7

Tanggal Implementasi::
01 Juni 2015

4.14.4. Pasien harus dikaji ulang setelah pemberian analgesik jenis apapun untuk
melihat apakah pengobatan tersebut telah efektif, apakah pengobatan
selanjutnya dapat ditetapkan, atau apakah terdapat efek samping sebagai
konsekuensi terhadap pengobatan (contoh, mual, muntah dan sedasi)
4.14.5. Nyeri pada pasien harus dikaji selama bergerak dan beraktifitas begitu
pula saat istirahat.
4.14.6. Nyeri harus dikaji pada saat pasien akan pulang /discharge
4.15.

Instrumen Pengukur Nyeri


4.15.1. Sangat penting untuk memilih alat pengukuran nyeri yang sesuai dengan
kebutuhan individual pasien.
4.15.2. Jika memungkinkan, alat pengukuran nyeri yang digunakan harus sama
seperti pada saat awal pasien masuk rumah sakit.
4.15.3. Untuk
memastikan
konsistensinya,
maka
penting
untuk
mendokumentasikan alat ukur yang telah dipilih.
4.15.4. Instrumen pengukur nyeri terbagi dalam dua kelompok, yaitu: Pengkajian
subyektif dan Pengkajian obyektif
4.15.5. Instrumen pengukuran subyektif adalah alat pengukuran nyeri yang
merupakan pelaporan sendiri oleh pasien terhadap perasaan nyeri yang
dialaminya yang termasuk alat subyektif:
4.15.5.1. Visual Analogue Scaleuntuk
4.15.5.1.1. Pediatrik di atas usia 7 tahun, remaja dan dewasa
4.15.5.1.2. Pasien tanpa gangguan kesadaran dan gangguan
kognitif
4.15.5.1.3. Pasien yang tidak dapat membaca
4.15.5.1.4. Pasien dengan gangguan pendengaran
4.15.5.2.
Numerical Rating Scale untuk
4.15.5.2.1. Pediatrik di atas usia 7 tahun, remaja dan dewasa
4.15.5.2.2. Pasien tanpa gangguan kesadaran dan gangguan
kognitif
4.15.5.2.3. Pasien dengan gangguan visual dilakukan dengan
verbal
4.15.5.3.
Face Pain Scale untuk
4.15.5.3.1. Pasien dewasa yang mempunyai kesulitan
menggunakan VAS atau NRS.
4.15.5.3.2. Pasien tanpa gangguan kesadaran dan gangguan
kognitif
4.15.5.3.3. Pasien tanpa gangguan visual
4.15.5.3.4. Pediatrik diatas usia 3 tahun.
4.15.5.3.5. Populasi lanjut usia tanpa gangguan penglihatan
4.15.6. Instrumen pengukuran obyektif digunakan untuk menilai faktor-faktor
yang mempengaruhi ketidaksesuaian dalam pengertian nyeri akut yang
dilaporkan oleh pasien, seperti:
4.15.6.1.
Pasien di bawah pengaruh residual sedatif atau agent
anestesi umum.
4.15.6.2.
Tidak adanya kemampuan verbal yang adekuat (neonatus,
anak usia dibawah 3 tahun)
4.15.6.3.
Pasien yang tidak dapat merespon secara verbal.
4.15.6.4.
Pasien yang kurang secara kognitif.
4.15.6.5.
Terdapat penurunan kemampuan linguistik pada pasien
geriatric
4.15.6.6.
Pasien terintubasi dan pengaruh sedasi.
4.15.6.7.
Pasien terlalu merasa nyeri untuk merespon
4.15.6.8.
Kombinasi dari hal-hal tersebut diatas.
4.15.6.9.
Kehebatan nyeri hanya dapat diestimasi dengan
mengobservasi perilaku dan respon fisiologis pasien terhadap
nyeri.
4.15.7. Instrumen pengukur obyektif yang digunakan di RS Zahirah adalah:

Nomor Surat Keputusan


No: 086/RSZ-DIRUT-PP/SK/V/2015

RS ZAHIRAH
Tanggal Revisi:
Ditinjau Kembali Pada: 01 April 2018
Hal 5 dari 7

Tanggal Implementasi::
01 Juni 2015

4.15.7.1.

Behavioural Pain Assessment Scale untuk


4.15.7.1.1. Neonatus dan bayi dibawah usia tiga tahun
4.15.7.1.2. Pasien dengan keterbatasan perkembangan mental
4.15.7.1.3. Pasien lanjut usia yang tidak dapat menggunakan skor
subyektif
4.15.7.2.
Critical Care Pain Observation Tool (CPOT) untuk pasien
ICU
4.15.7.3.
Neonatal Infant Pain Score (NIPS) untuk pasien neonates
di bawah 28 hari
4.15.8. Tingkat Nyeri Yang Harus Dilaporkan
4.15.8.1.
Jika pasien mengalami nyeri berat yang menetap, nilainya
berturut-turut 8-10/10, setelah waktu pengkajian dilakukan
secaral interval (misalnya, 30 menit), kemungkinan obat
analgesik yang diberikan sebelumnya tidak cukup kuat untuk
menghilangkan rasa nyeri, maka pasien perlu di review kembali.
4.15.8.2.
Jika level nyeri subyektif pasien lebih besar dari 7/10,
kemungkinan obat analgesik yang diberikan sebelumnya tidak
cukup kuat untuk menghilangkan rasa nyeri, maka pasien perlu
di review kembali

D. Intervensi Manajemen Nyeri


4.16.
Strategi manajemen nyeri termasuk intervensi farmakologis dan nonfarmakologis dibuat oleh tim multidisipliner.
4.16.1. Intervensi harus sesuai dengan pasien, keluarga, pemberi perawatan dan
kondisi saat itu.
4.16.2. Intervensi dibuat berdasarkan individu agar sesuai dengan kebutuhan
budaya dan perkembangan dari populasi pasien yang beragam.
4.16.3. Jika intervensi manajemen nyeri saat ini tidak efektif, maka rencana
tatalaksana akan direvisi. Konsultasi atau merujuk ke ahli penanganan
nyeri dapat dilakukan bila perlu.
4.16.4. Klinisi harus mengantisipasi dan mencegah atau mengatasi efek samping.
4.17.
Dokter harus diinformasikan mengenai nyeri pasien dengan skor yang
tetap (skala subyektif seperti VAS, NPS, Face) atau lebih dari tingkat kenyamanan
pasien.
4.18.
Intervensi farmakologi termasuk:
4.18.1. Analgetik non-opioid seperti paracetamol, aspirin, dan nonsteroidal
antiinflammatory drugs (NSAIDs dan coxibs).
4.18.2. Analgetik opioid (oxycodone; morphine, pethidine, transdermal fentanyl
dan Fentanyl IV) dan derivat opioid seperti tramadol.
4.18.3. Analgetik ajuvan seperti kortikosteroid, antikejang, antiarrhythmia,
anestesi local topical, counter-irritants topikal.
4.19. Pemantauan keamanan dan efek samping obat.
4.19.1. Tingkat sedasi dari pasien
4.19.2. Laxative, jika opioid digunakan untuk manajemen nyeri.
4.19.3. Antiemetik, untuk pasien yang mengalami mual dan muntah
4.19.4. Antihistamin, jika muncul pruritis.
4.20.
Nyeri dapat ditanggulangi secara lebih efektif dengan kombinasi
pendekatan farmakologis dan non-farmakologis.
4.21.
Aplikasi dari non farmakologis harus dipertimbangkan berdasarkan
pilihan pasien dan derajat peredaan nyeri. Hal ini termasuk, tetapi tidak terbatas
pada:
4.21.1.
Terapi Panas atau dingin
4.21.2.
Pijat dan getar
4.21.3.
Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)
4.21.4.
Akupunktur
4.21.5.
Reflexologi
4.21.6.
Aromaterapi
4.21.7.
Terapi music
Nomor Surat Keputusan
No: 086/RSZ-DIRUT-PP/SK/V/2015

RS ZAHIRAH
Tanggal Revisi:
Ditinjau Kembali Pada: 01 April 2018
Hal 6 dari 7

Tanggal Implementasi::
01 Juni 2015

4.21.8.
4.21.9.
4.21.10.
4.22.

Relaksasi dan meditasi


Pengalihan
Teknik relaksasi
Memulai Pengobatan
4.22.1. Ketika pasien sedang mengalami nyeri yang menyiksa (sangat nyeri) atau
tidak dapat fokus untuk belajar menggunakan level skala nyeri,
pengobatan rasa sakit harus berjalan tanpa level rasa sakit. pengobatan
nyeri harus dilakukan tanpa level rasa nyeri terlebih dahulu.
4.22.2. Level skala nyeri yang lebih dari 3 / 10 adalah tanda untuk merevisi
rencana pengobatan dengan dosis analgesik yang lebih tinggi atau obat
yang berbeda dari intervensi sebelumnya.
4.22.3. Untuk neonatus, skala nyeri 3 pada NIPS sudah memerlukan pengobatan.

E. Edukasi Pasien
Edukasi mengenai nyeri, manajemen nyeri dan peran pasien dan keluarga dalam
pengkajian dan manajemen nyeri diberikan secara berkelanjutan. Edukasi nyeri dibuat
secara sesuai dan memperhatikan budaya, buta huruf dan bahasa, sebagaimana dalam
perawatan yang berkelanjutan.
4.23.
Pasien diinformasikan mengenai hak mereka untuk mendapatkan
pengkajian dan perawatan untuk nyeri serta memastikan bahwa keluhan nyeri
pasien ditanggapi dengan serius.
4.24.
Pasien diinformasikan bila prosedur, obat atau tatalaksana lainnya dapat
menyebabkan nyeri langsung atau kemudian serta pentingnya melaporkan rasa
nyeri yang dirasakan.
4.25.
Pasien diberikan informasi mengenai penggunaan dan pentingnya metode
pengkajian nyeri yang konsisten.
4.26.
Pasien diberikan informasi mengenai intervensi untuk mencegah nyeri,
termasuk pelaporan dan manajemen dari efek samping yang dapat muncul.
4.27.
Jika dibutuhkan, pasien diberikan edukasi atau informasi mengenai cara
perawatan sendiri yang dapat mereka gunakan untuk mencegah, meringankan atau
mengatasi nyeri.
4.28.
Jika intervensi nyeri tersebut dilakukan sendiri oleh pasien maka diberikan
instruksi spesifik yang dapat memfasilitasi penggunaan alat, obat dan atau teknik
yang adekuat dan sesuai.
5.

DOKUMENTASI
5.1.
Pedoman Pengkajian dan pengkajian Ulang pasien
5.2.
Pedoman Edukasi Pasien dan Keluarga
5.3.
Guidelines: Pengkajian dan Pengkajian Ulang Nyeri

Nomor Surat Keputusan


No: 086/RSZ-DIRUT-PP/SK/V/2015

RS ZAHIRAH
Tanggal Revisi:
Ditinjau Kembali Pada: 01 April 2018
Hal 7 dari 7

Tanggal Implementasi::
01 Juni 2015