Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

GASTRITIS

1. Definisi
gastritis adalah suatu peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat
akut, kronis, difus, atau lokal. Gastritis merupakan suatu peradangan mukosa lambung paling
sering diakibatkan oleh ketidakteraturan diet, misalnya seiring telat makan, makan terlalu
banyak dan cepat atau makan makanan yang terlalu berbumbu atau terinfeksi oleh penyebab
yang lain seperti alkohol, aspirin, refluks empedu atau terapi radiasi (Brunner, 2006).
Gejala gastritis atau maag antara lain: tidak nyaman sampai nyeri pada saluran
pencernaan terutama bagian atas, mual, muntah, nyari ulu hati, kepalah pusing, lambung
merasa penuh, kembung, bersendawa, cepat kenyang, perut keroncongan dan sering kentut
serta timbulnya luka pada dinding lambung. Gejala ini bisa menjadi akut, berulang dan kronis.
Disebut kronis bila gejala itu berlangsung lebih dari satu bulan terus-menerus dan gstritis ini
dapat ditangani sejak awal yaitu: mengkonsumsi makanan lunak dalam porsi kecil, berhenti
mengkonsumsi makanan pedas dan asam, berhenti merokok serta minuman beralkohol dan
jika memang diperlukan dapat minum antasida sekitar setengah jam sebelum makan atau
sewaktu makan (Misnadiarly, 2009).
Lambung sering disebut sebagai maag yang berfungsi untuk menampung makanan.
Sakit maag sering dihubungkan dengan faktor stress dan makan yang tidak teratur. Keadaan
stress memang bikin makan tidak teratur. Orang masih percaya bahwa penyakit maag
disebabkan oleh stress. Keadaan stress menyebabkan produksi cairan asam lambung
meningkat sehingga tegang oleh cairan asam lambung. Cairan asam lambung ini bisa
mengikis dinding lambung sehingga luka dan terasa perih bila terkena bahan asam. Bila luka

lambung semakin meluas, berisiko melukai pembuluh darah dan terjadi perdarahan yang
dimuntahkan sebagai muntah darah. Hati-hatilah jangan stress berkepanjangan, tidak ada
gunanya dan makanlah secara teratur. Makanan dari lambung akan disalurkan ke usus untuk
dicerna kemudian diserap dan masuk dalam aliran darah menuju hati (Budiman, 2011).
Gangguan pencernaan diakibatkan oleh kebiasaan pola makan yang buruk dan stress
sehari-hari. Banyak kasus gangguan pencernaan tidak ditemukan penyebabnya secara organik
dengan adanya luka atau kerusakan pada organ. Masalah pencernaan umumnya disebabkan
oleh faktor-faktor eksternal yang membahayakan fungsi sistem pencernaan seperti stress,
kebiasaan makan yang kurang sehat, tidak teratur, diet yang salah, pengobatan yang
menyebabkan iritasi, infeksi kronis dan hadirnya bakteri dalam saluran pencernaan. Banyak
gangguan pencernaan yang dapat teratasi dengan mengubah gaya hidup dengan mengurangi
stress, berhenti merokok, berolahraga secara rutin dan menjalankan diet yang tepat (Prita,
2010).

II. Klasifikasi Gastritis


A. Gastritis Akut
Gastritis akut merupakan peradangan pada mukosa lambung yang menyebabkan erosi dan
perdarahan mukosa lambung akibat terpapar pada zat iritan. Erosi tidak mengenai lapisan otot
lambung. Gastritis akut suatu penyakit yang sering ditemukan dan biasanya bersifat jinak dan
sembuh sempurna (Suratum, 2010). Inflamasi akut mukosa lambung pada sebagian besar
kasus merupakan penyakit yang ringan. Penyebab terberat dari gastritis akut adalah makanan
yang bersifat asam atau alkali kuat, yang dapat menyebabkan mukosa menjadi ganggren atau
perforasi. Pembentukan jaringan parut dapat terjadi akibat obstruksi pylorus (Brunner, 2006).
Salah satu bentuk gastritis akut yang manifestasi klinisnya dapat berbentuk penyakit

yang berat adalah gastritis erosif atau gastritis hemoragik. Disebut gastritis hemoragik karena
pada penyakit ini akan dijumpai perdarahan mukosa lambung dalam berbagai derajat dan
terjadi erosi yang berarti hilangnya kontinuitas mukosa lambung pada beberapa tempat,
menyertai inflamasi pada mukosa lambung tersebut (Suyono, 2006).
a. Gastritis Akut Erosif
Gastritis akut erosif adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut
dengan kerusakan-kerusakan erosi. Disebut erosi apabila kerusakan yang terjadi tidak lebih
dalam dari pada mukosa muskularis. Penyakit ini dijumpai di klinik, sebagai akibat efek
samping dari pemakaian obat, sebagai penyulit penyakit-penyakit lain atau karena sebab yang
tidak diketahui. Perjalanan penyakit ini biasanya ringan, walaupun demikian kadang-kadang
dapat menyebabkan kedaruratan medis, yakni perdarahan saluran cerna bagian atas (Suyono,
2006).
b. Gastritis Akut Hemoragik
Ada dua penyebab utama gastritis akut hemoragik. Pertama diperkirakan karena
minum alkohol atau obat lain yang menimbulkan iritasi pada mukosa gastrik secara
berlebihan (aspirin atau NSAID lainnya). Meskipun pendarahan mungkin cukup berat, tapi
pendarahan pada kebanyakan pasien akan berhenti sendiri secara spontan dan mortalitas
cukup rendah. Kedua adalah stress gastritis yang dialami pasien di Rumah Sakit, stress
gastritis dialami pasien yang mengalami trauma berat berkepanjangan, sepsis terus menerus
atau penyakit berat lainnya (Suyono, 2006).
B. Gastritis Kronik
Gastritis Kronik merupakan peradangan bagian mukosa lambung yang menahun.
Gastritis kronik sering dihubungkan dengan ulkus peptik dan karsinoma lambung tetapi
hubungan sebab akibat antara keduanya belum diketahui. Penyakit gastritis kronik menimpa

kepada orang yang mempunyai penyakit gastritis yang tidak disembuhkan. Awalnya sudah
mempunyai penyakit gastritis dan tidak disembuhkan, maka penyakit gastritis menjadi kronik
dan susah untuk disembuhkan (Suratum, 2010).
Klasifikasi histologi yang sering digunakan pada gastritis kronik yaitu:
1. Gastritis kronik superficial
Gastritis kronik superfisial suatu inflamasi yang kronis pada permukaan mukosa
lambung. Pada pemeriksaan hispatologis terlihat gambaran adanya penebalan mukosa
sehingga terjadi perubahan yang timbul yaitu infiltrasi limfosit dan sel plasma dilamina propia
juga ditemukan leukosit nukleir polimorf dilamina profia. Gastritis kronik superfisialis ini
merupakan permulaan terjadinya gastritis kronik.
Seseorang diketahui menderita gastritis superficial setelah diketahui melalui PA antara
lain: hiperemia, eksudasi, edema, penebalan mukosa, sel-sel limfosit, eosinofil dan sel plasma.
Pemeriksaan klinis tidak jelas tetapi pasien mengalami mual, muntah, pain-foof-pain dan
nafsu makan berkurang. Pasien gastritis superficial disarankan untuk istirahat total,
mengkonsumsi makanan lunak dan simptomatis (Misnadiarly, 2009).
Menurut Misnadiarly (2009) gastritis diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk yaitu:
a.

Gastritis gastropati dengan keluhan umum nyeri pada ulu hati, mual, muntah dan
diare. Penyebabnya obat-obatan seperti aspirin, alkohol, trauma pada lambung seperti
pengobatan dengan laser, kelainan pembuluh darah pada lambung dan luka akibat operasi.

b.

Gastritis spesifik yaitu nyeri pada ulu hati, mual dan muntah. Penyebabnya karena
infeksi bakteri, virus, jamur, parasit, nematoda dan adanya penyakit pada saluran pencernaan.
Bila disebabkan oleh toksin biasanya disertai dengan diare, nyeri perut, badan menjadi panas,
menggigil, dan kejang otot.
c. Gastritis kronis. Keluhan pada gastritis kronis pada umumnya tidak spesifik berupa

perasaan tidak enak pada ulu hati yang disertai mual, muntah dan perasaan penuh
dihati. Penyebabnya antara lain: infeksi C.Pylori, gastropati reaktif, autoimun, adanya
tumor pada lambung dan faktor stress.
III.

Tanda dan Gejala Gastritis

a. Tanda dan gejala Gastritis Akut


Gejala yang paling sering dijumpai pada penderita penyakit gastritis adalah keluhan
nyeri, mulas, rasa tidak nyaman pada perut, mual, muntah, kembung, sering platus, cepat
kenyang, rasa penuh di dalam perut, rasa panas seperti terbakar, kepala pusing dan sering
sendawa ( Puspadewi, 2012)
b. Tanda dan Gejala Gastritis Kronis 1. Gastritis
sel plasma
3. Nyeri yang menetap pada daerah epigastrium
4. Mausea sampai muntah empedu
5. Dyspepsia
6. Anorreksia
7. Berat badan menurun
8. Keluhan yang berhubungan dengan anemia
IV.

Penyebab Gastritis:

a. Makan tidak teratur atau terlambat makan. Biasanya menunggu lapar dulu, baru makan dan
saat makan langsung makan terlalu banyak (Puspadewi, 2009).
b. Bisa juga disebabkan oleh bakteri bernama Helicobacter pylori. Bakteri tersebut hidup di
bawah lapisan selaput lendir dinding bagian dalam lamung. Fungsi lapisan lendir sendiri
adalah untuk melinudngi kerusakan dinding lambung akibat produksi asam lambung.
Infeksi yangt diakibatkan bakteri Helicobacter menyebabkan peradangan pada dinding

lambung yang disebut gastritis (Aziz, 2011).


c. Merokok akan merusak lapisan pelindung lambung. Oleh karena itu, orang yang merokok
lebih sensitive terhadap gastritis maupun ulser. Merokok juga akan meningkatkan asam
lambung, melambatkan kesembuhan dan meningkatkan resiko kanker lambung (Yuliarti,
2009).
d. Stress. Hal ini dimungkinkan karena karena system persarafan di otak berhubungan dengan
lambung, sehingga jika seseorang mengalami stress, bisa muncul kelainan dalam
lambungnya. Stress bisa menyebabkan terjadi perubahan hormonal di dalam tubuh.
Perubahan itu akan merangsang sel-sel dalam lambung yang kemudian memproduksi asam
secara berlebihan. Asam yang berlebihan ini membuat lambung terasa nyeri, perih dan
kembung. Lama-kelamaan hali ini dapat menimbulkan luka di dinding lambung (Sari,
2008).
e. Efek samping obat-obatan tertentu. Konsumsi obat penghilangan rasa nyeri, seperti obat
antiinflamasi nonsteroid (OAINS) misalnya aspirin, ibuproven (Advil, Motrin dll), juga
naproxen (aleve), yang terlalu sering dapat menyebabkan penyakit gastritis, baik itu
gastritis akut maupun kronis (Aziz, 2011).
f. Mengkonsumsi makanan terlalu pedas dan asam. Minum minuman yang mengandung
alkohol dan cafein seperti kopi. Hal itu dapat meningkatkan produksi asam lambung
berlebihan hingga akhirnya terjadi iritasi dan menurunkan kemampuan fungsi dinding
lambung (Suratum, 2010).
g. Alkohol, mengkonsumsi olkohol dapat mengiritasi (merangsang) dan mengikis permukaan
lambung (Suratum, 2010).
h. Terapi radiasi, refluk empedu, zat-zat korosif (cuka, lada) menyebabkan kerusakan mukosa
gaster dan menimbulkan edema dan pendarahan.

i. Kondisi yang stressful (trauma, luka bakar, kemoterapi dan kerusakan susunan syaraf
pusat) merangsang peningkatan produksi HCl lambung.
j. Asam empedu adalah cairan yang membantu pencernaan lemak. Cairan ini diproduksi di
hati dan dialirkan ke kantong empedu. Ketika keluar dari kantong empedu akan dialirkan
ke usus kecil (duodenum). Secara normal, cincin pylorus (pada bagian bawah lambung)
akan mencegah aliran asam empedu ke dalam lambung setelah dilepaskan ke duodenum.
Namun, apabila cincin tersebut rusak dan tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik
atau dikeluarkan karena pembedahan maka asam empedu akan mengalir ke lambung
sehingga mengakibatkan peradangan dan gastritis kronis (Suratum, 2010).
i. Serangan terhadap lambung. Sel yang dihasilkan oleh tubuh dapat menyerang lambung.
Kejadian ini dinamakan autoimun gastritis. Kejadian ini memang jarang terjadi, tetapi bisa
terjadi. Autoimun gastritis sering terjadi pada orang yang terserang penyakit Hashimotos
disease, Addisons disease dan diabetes tipe I. Autoimun gastritis juga berkaitan defisiensi
B12 yang dapat membahayakan tubuh (Aziz, 2011).

V. Patofisiologi Gastritis
0bat-obatan, alkohol, garam empedu, zat iritan lainnya dapat merusak mukosa lambung
(gastritis erosif). Mukosa lambung berperan penting dalam melindungi lambung dari
autodigesti oleh HCl dan pepsin. Bila mukosa lambung rusak maka terjadi difusi HCl ke
mukosa dan HCl akan merusak mukosa. Kehadiran HCl di mukosa lambung menstimulasi
perubahan pepsinogen menjadi pepsin. Pepsin merangsang pelepasan histamine dari sel mast.
Histamine akan menyebabkan peningkatan pemeabilitas kapiler sehingga terjadi perpindahan
cairan dari intra sel ke ekstrasel dan meyebabkan edema dan kerusakan kapiler sehingga
timbul perdarahan pada lambung. Lambung dapat melakukan regenerasi mukosa oleh karena

itu gangguan tersebut menghilang dengan sendirinya.


Bila lambung sering terpapar dengan zat iritan maka inflamasi akan terjadi terus
menerus. Jaringan yang meradang akan diisi oleh jaringan fibrin sehingga lapisan mukosa
lambung dapat hilang dan terjadi atropi sel mukasa lambung. Faktor intrinsik yang dihasilkan
oleh sel mukosa lambung akan menurun atau hilang sehingga cobalamin (vitamin B12) tidak
dapat diserap diusus halus. Sementara vitamin B 12 ini berperan penting dalam pertumbuhan
dan maturasi sel darah merah. Selain itu dinding lambung menipis rentan terhadap perforasi
lambung dan perdarahan (Suratum, 2010).

VI. Pencegahan dan Penanganan Gastritis


Penyembuhan penyakit gastiritis harus dilakukan dengan memperhatikan diet
makanan yang sesuai. Diet pada penyakit gastritis bertujuan untuk memberikan makanan
dengan jumlah gizi yang cukup, tidak merangsang, dan dapat mengurangi laju pengeluaran
getah lambung, serta menetralkan kelebihan asam lambung. Secara umum ada pedoman yang
harus diperhatikan yaitu :
a. Makan secara teratur. Mulailah makan pagi pada pukul 07.00 Wib. Aturlah tiga kali
makan makanan lengkap dan tiga kali makan makanan ringan.
b. Makan dengan tenang jangan terburu-buru. Kunyah makanan hingga hancur menjadi
butiran lembut untuk meringankan kerja lambung.
c. Makan secukupnya, jangan biarkan perut kosong tetapi jangan makan berlebihan
sehingga perut terasa sangat kenyang.
d. Pilihlah makanan yang lunak atau lembek yang dimasak dengan cara direbus, disemur
atau ditim. Sebaiknya hindari makanan yang digoreng karena biasanya menjadi keras
dan sulit untuk dicerna.

e. Jangan makan makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin karena akan menimbulkan
rangsangan termis. Pilih makanan yang hangat (sesuai temperatur tubuh).
f. Hindari makanan yang pedas atau asam, jangan menggunakan bumbu yang merangsang
misalnya cabe, merica dan cuka.
g. Jangan minum minuman beralkohol atau minuman keras, kopi atau teh kental.
h. Hindari rokok
i. Hindari konsumsi obat yang dapat menimbulkan iritasi lambung, misalnya aspirin,
vitamin C dan sebagaianya.
j. Hindari makanan yang berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi lambung
(coklat, keju dan lain-lain).
k. Kelola stres psikologi seefisien mungki (Misnadiarly, 2009).

VII. Diet Penyakit Gastritis/Penyakit Lambung


Diet penyakit gastritis adalah untuk memberikan makanan dan cairan secukupnya yang
tidak memberatkan lambung serta mencegah dan menetralkan sekresi asam lambung yang
berlebihan. Syarat-syarat diet penyakit gastritis adalah:
a.

Mudah dicerna, porsi kecil dan sering diberikan.

b.

Energi dan protein cukup, sesuai dengan kemampuan pasien untuk menerimanya.

c.

Lemak rendah yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total yang ditingkatkan secara
bertahap hingga sesuai dengan kebutuhan.

d.

Rendah serat, terutama serat tidak larut air yang ditingkatkan secara bertahap.

e.

Cairan cukup, terutama bila ada muntah.

f.

Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara termis,
mekanis, maupun kimia (disesuaikan dengan daya tahan terima perorangan).

i. Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa, umumnya tidak dianjurkan minum
susu terlalu banyak.
j. Makan secara perlahan dilingkungan yang tenang.
k. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-48 jam
untuk memberi istirahat pada lambung.
Toleransi pasien terhadap makanan sangat individual, sehingga perlu
dilakukan penyesuaian, frekuensi makan dan minum susu yang sering pada pasien
tertentu dapat merangsang pengeluaran asam lambung secara berlebihan. Perilaku
makan tertentu dapat menimbulkan gastritis misalnya porsi makan terlalu besar,
makan terlalu cepat atau berbaring/tidur segera setelah makan (Almatsier, 2010).

VIII. Jenis Makanan yang Boleh dan Tidak boleh diberikan kepada
Penderita Gastritis (Almatsier,2010).

No

Jenis Bahan Makanan Boleh diberikan

Tidak Boleh Diberikan

1.

Sumber hidrat arang (nasi Beras, kentang, mie,bihun, Beras ketan, bulgur, jagung
atau penggantinya).

2.

Sumber protein hewani.

makaroni, roti, biskuit dan

cantel,singkong, kentang

tepung- tepungan.

goreng, cake, dodol.

Ikan, hati, daging sapi,

Daging, ikan, ayam (yang

telur ayam, susu.

diawetkan/dikalengkan
digoreng,dikeringkan
atau didendeng), telur ceplok
atau goreng.

3.

4.

Sumber Protein Nabati.

Lemak.

Tahu, tempe, kacang

Tahu, tempae, kacang merah,

hijau direbus atau

kacang tanah yang digoreng atau

dihaluskan.

panggang.

Margarine, minyak (tidak

Lemak hewan, santan kental.

untuk menggoreng dan


santan encer).

IX.

5.

Sayuran.

Sayuran yang tidak bnyk


serat dan tidak
menimbulkan gas.

Sayuran yang banyak


mengandung serat dan
menimbulkan gas,
sayuran mentah.

6.

Buah-bauhan.

Pepaya, pisang rebus,


sawo, jeruk garut, sari
buah.

Buah yang banyak mengandung


serat, dan menimbulakn gas mis;
jambu, nenas, durian, nangka dan
buah yang dikeringkan.

7.

Bumbu-bumbu.

Gula, garam, vitsin,


kunyit, kunci, serasi,
salam, lengkuas, jahe dan
Bawang

Cabai, merica, cuka, dan bumbu


bumbu yang merangsang.

Pengertian Pola Makan


Pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah atau jenis makanan

dengan maksud tertentu. (Depkes RI ,2009). Dengan demikian, pola makan yang sehat dapat

diartikan sebagai suatu cara atau usaha untuk melakukan kegiatan makan secara sehat.
Sedangkan yang dimaksud pola makan sehat dalam penelitian ini adalah suatu cara atau usaha
dalam pengaturan jumlah dan jenis bahan makanan dengan maksud tertentu seperti
mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit.
Pola makan sehari-hari merupakan pola makan seseorang yang berhubungan dengan
kebiasaan makan setiap harinya (Anonym, 2009).
Pola makan yang baik selalu mengacu kepada gizi yang seimbang yaitu terpenuhinya
semua zat gizi sesuai dengan kebutuhan dan seimbang. Tidak diragukan, terdapat enam unsur
gizi yang harus dipenuhi yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.
Karbohidrat, lemak dan protein merupakan zat gizi makro sebagai sumber energi, sedangkan
vitamin dan mineral merupakan zat gizi mikro sebagai pengatur kelancaran metabolisme
tubuh. Kebutuhan zat gizi tubuh hanya dapat terpenuhi dengan pola makan yang bervariasi
dan beragam, sebab tidak ada satupun bahan makanan yang mengandung makro dan
mikronutrien yang lengakap maka semakin beragam, semakin bervariasi dan semakin lengkap
jenis makanan yang kita peroleh maka semakin lengkaplah perolehan zat gizi untuk
mewujudkan kesehatan yang optimal (Prita, 2010).
Pola makan atau pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah makanan
yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. (Baliwati, 2004).
Sedangkan menurut Santosa dan Anne, (2004) mengatakan bahwa pola makan merupakan
berbagai informasi yang memberi gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan
yang dimakan oleh setiap orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat
tertentu.
Pendapat pakar yang berbeda-beda dapat diartikan secara umum bahwa pola makan adalah
cara atau perilaku yang ditempuh seseorang atau sekelompok orang dalam memilih,

menggunakan bahan makanan dalam konsumsi pangan setiap hari yang meliputi jenis
makanan dan frekwensi makan yang berdasarkan pada beberapa faktor yaitu :
1. Budaya
Budaya cukup menentukan jenis makanan yang sering dikonsumsi. Demikian pula
letak geografis mempengaruhi makanan yang di inginkannya. Sebagai contoh nasi untuk
orang-orang asia dan orientalis, pasta untuk orang-orang Italia, carry untuk orang India
merupakan makanan pokok, selain makanan-makanan lain yang mulai ditinggalkan.
Makanan laut banyak disukai oleh masyarakat sepanjang pesisir Amerika Utara.
Sedangkan penduduk Amerika bagian selatan lebih banyak menyukai goreng-gorengan.
2. Agama/kepercayaan
Agama/ kepercayaan juga mempengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi.
Sebagai contoh, agama Islam dan Yahudi Ortodoks mengharamkan daging babi, agama
Roma Khatolik melarang makan daging setiap hari, dan beberapa aliran agama (Protestan)
melarang pemeluknya mengkonsumsi teh, kopi atau alkohol.
3. Status sosial ekonomi
Pilihan seseorang terhadap jenis dan kualitas makanan turut dipengaruhi oleh status social
dan ekonomi. Sebagai contoh, orang kelas menengah kebawah atau orang miskin di desa
tidak sanggup membeli makanan jadi, daging, buah dan sayuran yang mahal. Pendapatan
akan membatasi seseorang untuk mengkonsumsi makanan yang mahal harganya.
Kelompok social juga berpengaruh terhadap kebiasaan makan, misalnya kerang dan
seafood disukai oleh beberapa kelompok masyarakat, sedangkan kelompok masyarakat
yang lain lebih menyukai hamburger dan pizza.
4. Personal preference
Hal-hal yang disukai dan tidak disukai sangat berpengaruh terhadap kebiasaan

makan seseorang. Orang seringkali memulai kebiasaan makannya sejak dari masa kanakkanak hingga dewasa. Misalnya, ayah tidak suka ikan, begitu pula dengan anak lakilakinya. Ibu tidak suka makan kerang, begitu juga dengan anak perempuannya. Perasaan
suka dan tidak suka seseorang terhadap makan tergantung asosiasinya terhadap makanan
tersebut. Anak-anak yang suka mengunjungi kakek dan neneknya akan ikut menyukai acar
karena mereka sering dihidanghkan acar. Lain lagi dengan anak yang suka dimarahi
bibinya, akan tumbuh perasaan tidak suka pada daging ayam yang dimasak bibinya.
5. Rasa lapar, nafsu makan dan rasa kenyang
Rasa lapar umumnya merupakan sensasi yang kurang menyenangkan karena
berhubungan dengan kekurangan makanan. Sebaliknya, nafsu makan merupakan sensasi
yang menyenangkan berupa keinginan seseorang untuk makan. Sedangkan rasa kenyang
merupakan perasaan puas karena telah memenuhi keinginannya untuk makan. Pusat
pengaturan dan pengontrolan mekanisme lapar, nafsu makan dan rasa kenyang dilakukan
oleh system sraf pusat, yaitu hipotalamus.
6. Kesehatan
Kesehatan seseorang berpengaruh besar terhadap kebiasaan makan. Sariawan atau gigi yang
sakit sering kali membuat individu memilih makanan yang lembut. Tidak jarang orang yang
kesulitan menelan, memilih menahan lapar daripada makan. Pola makan yang dianjurkan
adalah pola yang sumbangan energinya 60-70% berasal dari karbohidrat , 15-20% dari protein
dan 20-30% dari lemak, disamping cukup akan vitamin, mineral dan serat. Pola makan
tersebut terbagi dalam 3 periode yaitu sarapan, makan siang dan makan malam. Peranan
sarapan tidak boleh diabaikan, karena makanan menentukan kerja tubuh dari pagi hingga
siang hari.

X. Frekwensi Makan
Menu sehari (frekuensi makan) adalah susunan hidangan yang disajikan dalam sehari
beberapa kali waktu makan. Frekuensi makan adalah jumlah waktu makan dalam sehari
meliputi makanan lengkap (full meat) dan makan selingan (snack). Makanan lengkap
biasanya diberikan tiga kali sehari (makan pagi, makan siang dan makan malam), sedangkan
makanan selingan biasa diberikan antara makan pagi dan makan siang, antara makan siang
dan makan malam atau setelah makan malam. Frekuensi makan di suatu institusi berkisar
anatara tiga hingga enam kali sehari tergantung dari biaya tenaga kerja yang tersedian.
Frekwensi makan adalah jumlah makan dalam sehari-hari baik kwalitatif maupun
kwantitatif. Secara alamiah makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai
dari mulut sampai ke usus halus. Lama makanan dalam lambung tergantung sifat dan jenis
makanan. Umumnya lambung kosong antara 3-4 jam maka jadwal makan inipun
menyesuaikan dengan kosongnya lambung (Okviani, 2011).
Frekuensi yang telah distandarkan oleh Depkes di mana anjuran makan satu hari ratarata remaja/dewasa secara umum orang Indonesia dengan energi 2550 kkl dan protein 60 bagi
laki-laki dan bagi perempuan 1900 dan proteinnya 50. (Depkes RI, 2009). Orang yang
memiliki pola makan tidak teratur mudah terserang penyakit gastritis. Pada saat perut harus
diisi, tapi dibiarkan kosong, atau ditunda pengisiannya, asam lambung akan mencerna lapisan
mukosa lambung, sehingga timbul rasa nyeri . Secara alami lambung akan terus memproduksi
asam lambung setiap waktu dalam jumlah yang kecil, setelah 4-6 jam sesudah makan
biasanya kadar glukosa dalam darah telah banyak terserap dan terpakai sehingga tubuh akan
merasakan lapar dan pada saat itu jumlah asam lambung terstimulasi. Bila seseorang telat
makan sampai 2-3 jam, maka asam lambung yang diproduksi semakin banyak dan berlebih
sehingga dapat mengiritasi mukosa lambung serta menimbulkan rasa nyeri di sekitar

epigastrium. Kebiasaan makan tidak teratur ini akan membuat lambung sulit untuk
beradaptasi. Jika hal itu berlangsung lama, produksi asam lambung akan berlebihan sehingga
dapat mengiritasi dinding mukosa pada lambung dan dapat berlanjut menjadi tukak peptik.
Hal tersebut dapat menyebabkan rasa perih dan mual. Gejala tersebut bisa naik ke
kerongkongan yang menimbulkan rasa panas terbakar.
XI.

Jadwal makan
Jadwal makanan sama dengan manusia pada umumnya, yaitu pagi (jam 07.00-08.00),

selingan (jam 10.00) siang (jam 13.00-14.00), selingan (jam 17.00) sore/malam (jam 19.00).
Jadwal adalah teratur makan pagi, selingan pagi, makan siang, selingan siang dan makan
malam, makan ini sama dengan manusia pada umumnya, yaitu pagi, siang dan sore. Disini
hanya ditekankan untuk mengkonsumsi makanan yang tidak menyebabkan pengeluaran asam
lambung secara berlebih. Jadi jadwal makan harus teratur, lebih baik makan dalam jumlah
sedikit tapi sering dan teratur daripada makan dalam porsi banyak tapi tidak teratur
(Almatsier, 2010).
Direktorat Gizi Masyarakat Republik Indonesia mengeluarkan Pedoman Umum Gizi
seimbang sebagai berikut:
1. Makan aneka ragam makanan
2. Makan makanan untuk memenuhi kecukupan energy
3. Makan makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energy
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan energy
5. Gunakan garam beryodium
6. Makan makanan sumber zat besi
7. Berikan ASI pada bayi
8. Biasakan makan pagi

9. Minum air bersih, aman yang cukup jumlahnya


10. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur
11. Hindari minum minuman beralkohol
12. Makan makanan yang aman bagi kesehatan
13. Beri label pada makanan yang dikemas.
XII.Membentuk Pola Makan yang Baik
Pola makan yang baik merupakan hasil dari sebuah rangkaian proses upaya untuk
membentuk pola makan yang baik hendaknya dilaksanakan secara dini. Lingkungan
sangat besar peranannya dalam membentuk pola makan seseorang. Beberapa upaya
yang dapat dilakukan dalam membentuk pola makan yang baik yaitu :
a. Menyediakan makanan yang bervariasi.
b. Makan makanan sumber tepung-tepungan, lauk pauk, sayuran dan buah.
c. Kurangi makanan belemak.
d. Batasi makanan bergula.
e. Kurangi makanan yang banyak mengandung garam.
f. Makan teratur.
g. Memberikan pengetahuan gizi.
h. Menciptakan suasana yang menggembirakan saat makan.
i.Menananmkan norma-norma yang berkaitan dengan makanan.
j.Menanamkan adat sopan santun saat makan.
Pada kasus gastritis diawali dengan pola makan yang tidak teratur sehingga
mengakibatkan peningkatan produksi asam lambung yang memicu terjadinya
nyeri epigastrium.

XIII.

Stres
Stres merupakan keadaan yang disebabkan oleh adanya tuntutan internal maupun

eksternal (stimulus) yang dapat membahayakan, tak terkendali atau melebihi kemampuan
individu sehingga individu akan bereaksi baik secara fisiologis maupun psikologis (respon)
dan melakukan usaha-usaha penyesuaian diri terhadap situasi tersebut (Al Banjary, 2009).
Menurut AL Banjary (2009) Sumber stres yang menyebabkan seseorang tidak
berfungsi optimal atau yang menyebabkan seseorang sakit, tidak saja datang dari satu macam
pemicu tetapi ada beberapa faktor pemicu stres yaitu :
1. Faktor intrinsik dalam pekerjaan seperti tuntutan fisik misalnya faktor kebisingan, dan
faktor tugas mencakup kerja malam, beban kerja, resiko dan bahaya.
2. Faktor struktur dan iklim kelompok adalah terpusat pada ssejauh mana individu dapat
berperan serta pada support sosial. Kurangnya peran serta atau partisipasi dalam
pengambilan keputusan sehuubngan dengan suasana hati dan perilaku negatif.
Peningkatan peluang untuk berperan serta menghasilkan peningkatkan produktivitas
dan peningkatan taraf dari kesehatan mental dan fisik.
Faktor ciri-ciri individu sebagai faktor alainnya yang dapat memicu terjadinya stres
artinya stres ditentukan oleh individunya sendiri, sejauh mana ia melihat situasinya
sebagai kondisi stres. Reaksi-reaksi psikologis, fisiologis dan bentuk perilaku
terhadap stres adalah hasil dari interaksi situasi dengan individunya, dan pola-pola
perilaku yang didasarkan pada sikap, kebutuhan, nilai-nilai, pengalaman masa lalu,
keadaan kehidupan dan kecakapan (intelegensi, pendidikan, pelatihan dan
pembelajaran). Faktor-faktor dalam diri individu berfungsi sebagai faktor pengaruh
antara rangsang dari lingkungan yang merupakan pembangkit stres potensial dengan
individu. Faktor pengubah ini yang menentukan bagaimana individu bereaksi

terhadap pembangkit stres potensil (Davis dan Newstrom dalam Margiati, 1999)