Anda di halaman 1dari 9

c  

c 


oleh  


  http://www.gudangmateri.com/2010/06/peran-teknologi-pendidikan.html

A. c    

Reformasi bagi suatu bangsa dan negara merupakan reformasi dalam seluruh aspek kehidupan
berbangsa dan bernegara. Reformasi tidak hanya sekedar sebagai suatu konsep belaka, tetapi harus
dapat diwujudkan melalui serangkaian kegiatan pembangunan baik fisik maupun non fisik.

Reformasi adalah pembangunan tatanan kehidupan yang bertumpu pada kepentingan bangsa dan
bukan pada egoistis para penentu kebijakan pembangunan. Reformasi membutuhkan perubahan
prilaku, cita-cita, dan nilai yang membangun kebersamaan, suatu pemerintahan yangbersih dan
berwibawa ( Tilaar, 1999)

Pendidikan sebagai salah satu aspek kehidupan bangsa, tidaklah luput dari gerakan reformasi, suatu
gerakan yang menginginkan perwujudan nyata cita-cita bangsa yakni terciptanya masyarakat adil
dan makmur.

Gerakan itu tentunya memberikan beban yang amat berat bagi sektor pendidikan. Sektor pendidikan
harus manpu menunjukkan jati dirinya sebagai ujung tombak perwujudan cita-cita bangsa.

Reformasi dalam sektor pendidikan haruslah dapat mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang
sebaik-baiknya khususnya bagi penyelenggaraan proses belajar mengajar. Hal ini sebenarnya telah
menjadi suatu komitmen bangsa dari dulu hingga sekarang, namun masih sangat perlu adanya upaya
yang lebihh nyata dan konsisten dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah seperti pembenahan dalam pelaksanaan sistem
pendidikan terutama pada pelaksanaan proses belajar mengajar. Pembenahan yang dimaksud
diarahkan pada terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif dan efesien serta penerapan
teknologi pendidikan sebagai salah satu usaha untuk mengatasi masalah dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan secara maksimal.

Peranan pendidikan selama ini perlu dibenahi dengan landasan kebijakan strategi; merumuskan dan
melaksanakan strategi pendidikan baru atau mereformasi sistem pendidikan dan mendayagunakan
peran teknologi pendidikan (Miarso, 1988)

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk mengankat pertanyaan kunci
yakni apakah peran teknologi pendidikan dan efektivitas PBM merupakan suatu tuntutan reformasi
pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka pembahasan akan dimulai dengan
menyajikan peran teknologi pendidikan, makna reformasi pendidikan, efektivitas proses belajar
mengajar,
B.c  
c 



1. Pengertian

Boleh dikatakan hampir tiap hari kita mendengar dan membaca kata ͟ teknologo͟. Misalnya kata
teknologi pertanian, teknologi pertambangan, teknologi komputer atau teknologi canggi, dan
sekarang ada kata teknologi pendidikan. Apakah sebenarnya teknologi pendidikan itu?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka penulis terlebih dahulu mengemukakan kata teknologi.
Apa sebenarnya teknologi itu? Kalau mendengar kata teknologi sering kali orang mengaitkan dengan
mesin, seolah-olah teknologi hanya berkaitan dengan permesinan. Teknologi merupakan perpaduan
yang kompleks dari manusia dan mesin, ide, prosedur, dan pengelolaan (Hoban, dalam AECT, 1977)

Kata teknologi seolah tak lepas dari ilmu pengetahuan kare meman pada hakekatnya teknologi
adalah penerapan ilmu atau pengetahuan lain yang terorganisir ke tugas-tugas praktis (Galbraith,
dalam AECT, 1977).

Teknologi adalah penerapan sistimik dan sistematik dari konsep ilmu perilaku dan ilmu fisika serta
pengetahuan lain untuk memecahkan suatu masalah ( Gentry, dalam Anglin, 1991).

Apapun batasan teknologi yang dipakai, pada dasarnya teknologi bersifat bebas nilai baik buruknya
terletan pada manusia yang menggunakannya. Teknologi mengarah pada efesiensi dan efektivitas
serta pengupayaan pada nilai tambah.

Teknologi juga tidak dapat dilepaskan dari masalah karena pada hakekatnya teknologi ada untuk
memecahkan masalah tersebut. Pemecahan teknologi terhadap suatu masalah besar kemungkinan
akan menimbulkan masalah lain, ini tidak berarti bahwa teknologi harus dihindari.

Bagaimana dengan teknologi pendidikan? Teknologi Pendidikan dapat dipandang sebagai produk
maupun sebagai proses. Sebagai suatu produk teknologi pendidikan lebih mudah dipahami karena
sifatnya yang kongkrit.

Tidaklah mengherankan bila begitu mendengar kata teknologi pendidikan orang dengan cepat
mengaitkannya dengan OHP, pesawat radio, kaset audio, televisi, film, dan proyektor film. Teknologi
pendidikan lebih luas dari sekedar media pendidikan, baik perangkat keras ( Hardware) maupun
perangkat lunak ( Software). Jadi media pendidikan hanyalah sebagian dari konsep teknologi
pendidikan (AECT, 1977)

Sebagai suatu proses teknologi pendidikan lebih abstrak sifatnya. Teknologi pendidikan merupakan
suatu proses yang kompleks dan terpadu melibatkan orang, prosudur, peralatan, dan organisasi
untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek
belajar manusia (AECT, 1977).

Sejalan dengan konsep teknologi, maka teknologi pendidikan ada karena adanya masalah dalam
pendidikan. Telah diketahui bersama bahwa paling tidak ada empat masalah pokok dalam
pendidikan saat ini yakni; pemerataan kesempatan belajar, peningkatan mutu, peningkatan
efesiensi, dan keterkaitan antara pendidikan, kebutuhan masyarakat dan pembangunan. Dengan
kondisi seperti itu tidaklah mengherankan apabila output pendidikan hingga saat ini masih saja
kurang menggembirakan. Pertanyaannya sekarang adalah apa yang bisa dilakukan oleh teknologi
pendidikan untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan tersebut?

2. V   


c 



Miarso (1988) mengemukakan bahwa teknologi pendidikan dapat didefenisikan kemampuannya


dengan dua cara; Pertama dengan melakukan pengkajian empirik, dan kedua dengan melakukan
analisis konseptual. Sedangkan The National Task Force on Educational Technology (1986,16)
melaporkan hasil pengkajiannyantentang kegunaan teknologi pendidikan sebagai berikut: a)
Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang efesien dari cara-cara konvensional; b)
Mengajarkan konsep dan keterampilan penalaran pada peringkat tinggi yang sulit dikembangkan
tanpa bantuan teknologi; c) Mengembangkan pemehaman tentang teknologi informasi serta
kegunaanya bagi masyarakat dan dunia kerja; d) Memungkinkan guru untuk mengelola lingkungan
belajar, dimana belajar dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan masing-masing
siswa, serta kemampuan mereka untuk mencapai penguasaan yang dipreskripsikan; serta e)
Mengembangkan keterampilan dalam menggunakan komputer dan teknologi lain yang berkaitan.

Penerapan teknologi pendidikan dalam pendidikan hendaknya membuat proses pendidikan pada
umumnya dan proses belajar mengajar pada khususnya lebih efisien, lebih efektive dan memberikan
nilai tambah yang positif.

Efektif dan efesien berarti upaya pendidikan yang dilakukan hendaknya dapat mencapai tujuan yang
telah digariskan dengan sedikit mungkin mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu. Kondisi seperti
tersebut di atas dimungkinkan karena teknologi pendidikan memiliki beberapa potensi sebagaimana
yang dikemukakan oleh Ely dalam Sadiman (2000) sebagai berikut:

a. Meningkatkan produktivitas pendidikan dengan jalan : 1) Mempercepat laju belajar; 2) Membantu


guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik; dan 3) Mengurangi beban guru dalam
menyejikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan
belajar anak. Dengan demikian guru akan lebih banyak berfungsi sebagai manager pembelajaran.

b. Memberikan pendidikan yang sifatnya lebih individual denganjalan: 1) Mengurangi kontrol guru
yang kaku dan konvensional, 2) Memberikan kesempatan anak belajar secara maksimal, 3) Dapat
melayani karakteristik individu yang berbeda-beda, karena adanya berbagai pilihan sumber belajar.

c. Memberikan dasar yang ilmiah pada pengajaran dengan jalan: 1) Perencanaan program
pengajaran yang lebih sistimatis; dan 2) Pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian
tentang prilaku manusia.

d. Lebih memantapkan pengajaran dengan jalan: 1) Meningkatkan kemampuan guru dengan


berbagai media komunikasi, dan 2) Penyajian data informasi secara lebih kongkrit.
e. Kemungkinan belajar secara seketika, karena dapat : 1) Mengurangi juran pemisah antara
pelajaran di dalam dan di luar sekolah, 2) Memberikan pengetahuan langsung apa yang ada di luar
sekolah dapat dibawa masuk ke kelas.

f. Memungkinkan penyajian pendidikan secara lebih luas, terutama dengan adanya media dengan
jalan: 1) Pemanfaatan bersama secara lebih luas tenaga atau kejadian yang langkah, dan

c 


    


Teknologi pendidikan mempunyai potensi dan peran yang besar dalam meningkatkan mutu
pendidikan, tidak saja mutu outputnya tetapi juga proses inputnya. Hal ini sesuai apa yang
dikemukakan oleh Sadiman (2000) dengan teknologi pendidikan akan dapat dihasilkan berbagai
produk berupa media pendidikan baik cetak maupun non cetak, yang pada gilirannya media ini nanti
akan memperkaya variasi sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar di
kelas.

Treichler dalam Dwyer (1978) mengemukakan bahwa pada diri manusia yang normal proses belajar
terjadi paling banyak lewat indra lihat (mata) yaitu sekitar ( 83% ), hanya sekitar ( 11% ) lewat indra
pendengaran (telinga), dan sisanya terbagi dalam tiga indra yang lain. Sementara itu Sadiman (2000)
mengemukakan bahwa pada umumnya orang muda mengingat apa yang mereka lihat dan dengar
(50%), kalau lihat saja (30%), dengar saja (20%), dan yang mereka baca (10%).

Sedangkan Arsyad yang mengetif pendapat Baugh dalam Achsin (1986) mengemukakan bahwa
kurang lebih (90%) hasil belajar seseorang diproleh melalui indra pandang, dan hanya sekitar (5%)
diproleh melalui indra dengar, dan (5%) lagi dengan indra lainnya. Sementara prosentase hasil
belajar yang diproleh menurut Dale (1969) dalam Arsyad (2000) memperkirakan bahwa berkisar
(75%) pengetahuan yang diproleh melalui indra lihat, (13%) melalui indra dengar, dan sekitar (12%)
melalui indra lainnya.

Proses belajar mengajar yang cendrung bersifat verbalistik, pada hal diketahui bahwa cara belajar
seperti itu mempunyai hambatan yang besar. Hal ini telah dikemukakan oleh Edgar Dale dalam
kerucuk Pengalamannya, bahwa cara yang paling kongkrit untuk belajar adalah dengan mengalami
secara langsung apa yang dipelajari, sedangkan yang paling abstrak adalah bila hanya dengan kata-
kata (verbal).

Diantara kedua ektrim tersebut dijumpai rentangan berbagai cara penyampaian pengalaman belajar.
Lihat Sudjana (1989), Sadiman (1993), Hamalik (1994), Nasution (1994), dan Arsyad (2000).

Berdasar uraian di atas, penulis berkesimpulan bahwa pada dasarnya teknologi pendidikan dapat
berperan serta dalam meningkatkan komponen-komponen sistem pendidikan, mulai dari masukan
mentah, masukan instrumental hingga keproses balajar mengajarnya. Dengan penggunaan teknologi
pendidikan yang mempunyai potensi besar dan dapat berperan serta dalam membantu
meningkatkan mutu pendidikan.
C.  
c 



Secara umum istilah reformasi pendidikan dapat diartikan sebagai usaha perubahan untuk
memperbaiki keadaan. Istilah ini dipertukarkan dengan istilah; pembaharuan, perubahan, perbaikan,
restrukturisasi, atau pembangunan. Semua istilah itu mengandung makna yang sama, yaitu
melakukan penyesuaian atas sistem yang ada sekarang.

Cakupan pengertian yang sangat luas, karena dapat ditafsirkan dengan berbagai indikator tindakan.
Misalnya dapat ditafsirkan dengan : Mengganti pimpinan dengan pimpinan baru yang lebih sesuai
(Aspiratif), menambah anggaran untuk kegiatan seperti untuk pendidikan, peningkatan produktivitas
lembaga, meningkatkan kualitas produk atau hasil, memberi kesempatan pendidikan yang lebih luas,
dan lain sebagainya.

Menurut Banathy (1991), apa yang dimaksudkan dengan reformasi seringkali hanya merupakan ͟
doing More of the same͟. Usaha ini kemudian ditingkatkan dengan ͟ Doing more of the same, but
doing it better͟, yang merupakan usaha peningkatan efisiensi. Usaha-usaha ini dikategorikan sebagai
usaha reformasi gelombang pertama.

Usaha pada gelombang kedua adalah peningkatan efektifitas pendidikan dengan mengatur kembali
komponen sistem yang ada dan mendistribusikan tanggung jawab. Usaha pada gelombang ketiga
yang dikenal dengan transformasi yaitu pengkajian seluruh sistem dan menciptakan desain baru.
Pendapat senada dikemukakan oleh Reigeluth (1988) yang mengambil analogi pendapat Toffler ͟
The third wave of civilization͟ pada gelombang pertama merupakan masyarakat pertanian dikenal
sistem pendidikan seperti yang ada sekarang ini, sedangkan pada gelombang ketiga yang merupakan
masyarakat teknologi elektronik dan informasi, dengan sisten pendidikan harus didesain ulang sesuai
dengan tuntutan zaman.

Reigeluth (1997:3) mengemukakan bahwa paradikma sistematis mengandung arti adanya


perubahan fundamental atas segala aspek pendidikan. Dalam pengertian sistem, perubahan pada
satu aspek dalam sistem, akan mempengaruhi aspek lain agar sistem tetap berfungsi. Perubahan itu
harus meliputi semua jajaran pendidikan, mulai dari jajaran kelas, sekolah, daerah, masyarakat,
pemerintah.

Pemikiran yang dikemukakan Reigeluth ini merupakan pemikiran lanjutan atas apa yang
dikemukakan oleh Banathy (1991:86) yang mengkategorikan jajaran pendidikan kedalam empat
lapis, yaitu lapisw pengalaman belajar sebagai lapis pertama, lapis kedua adalah sistem
pembelajaran yang mengusahakan terselenggaranya pengalaman belajar, lapis ketiga adalah
pengelolaan yang menunjang terselenggaranya sistem pembalajaran, lapis keempat adalah
kelembagaan yang mengatur seluruh sistem pendidikan. Dan setiap lapis jajaran pendidikan tersebut
harus dapat ditentukan tujuannya, maksudnya, hasilnya.

Usaha reformasi pendidikan menurut Banathy (19991) adalah harus dilakukan dengan menentukan
perioritas mana yang akan digarap. Pada masyarakat yang menganut sistem pendidikan nasional
yang memusat atau sentralistik, perioritas biasanya diletakkan pada lapis lembaga pemerintahan.
Tujuan pendidikan pada lapis ini adalah membudayakan atau mengindoktroktrinasi peserta didik.
Dan konsekuensinya pada lapis pengalaman belajar adalah ditujukan pada seragmnya respons
pesrta didk terhadap pelajaran. Usaha reformasi yang dilakukan pada lapis ini pada hakikatnya hanya
merupakan ͟doing more of the same͟ (menambah gedung sekolah, menambah jumlah guru,
menambah anggaran, dan sebagainya).

Banathy (1991, 88) menjelaskan lebih lanjut bahwa usaha reformasi pendidikan adalah perioritas
diletakkan pada lapis pengelolaan, maka tujuannya adalah meningkatkan pengelolaan kegiatan
operasional pendidikan.

Konsekuensinya pada lapisan lembaga pemerintah adalah membudayakan dan memdidikpeserta


didik, dan pada lapis pengalaman belajar ditujukan pada respon peserta didik terhadap
pembelajaran. Bilamana perioritas diletakkan pada lapis pengalaman belajar, maka tujuan pada lapis
ini adalah menguasai tugas belajar dan manpu mengatasi persoalan belajar. Konsekuensinya pada
lapis kelembagaan atau pemerintah adalah ditujukan pada jaminan ketersediaan sumber guna
menunjang pengalaman belajar.

Bertolak dari paparan diatas penulis memahami bahwa inti dari reformasi pendidikan adalah
pemberdayaan yaitu meliputi pemberdayaan peserta didik, pemberdayaan guru, dan pemberdayaan
tenaga kependidikan lain, serta pemberdayaan masyarakat, maka perioritas reformasi pendidikan
harus diletakkan pada lapis pengalaman belajar. Bila kita mengamati pelaksanaan pendidikan selama
ini maka dapat disimpulkan bahwa yang diberdayakan dalam pelaksanaan pendidikan adalah
pemerintah pusat yang menentukan segalanya. Sedangkan para pelaksana kependidikan dan peserta
didik yang ada di lapangan harus ͟menari͟ berdasarkan gendangyang ditabuh.

Miarso (1998) menyatakan bahwa arah reformasi pendidikan yang benar secara konseptual adalah
memberikan perioritas pada lapis sistem pembelajaran atau lapis pengalaman belajar. Mengingat
bahwa pendidikan itu merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) jangka panjang dan
berlangsung seumur hidup, maka reformasi pendidikan secara menyeluruh tidak mungkin
dilaksanakan dalam jangka waktu yang pendek. Dalam jangka pendek dapat dilakukan pengmbilan
keputusan atas perioritas reformasi. Tetapi keputusan itu harus dilaksanakan secara konsekuen dan
berkelanjutan dalam jangka menengah maupun panjang.

Pendidikan merupakan usaha yang terpenting adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang
handal. Sumber daya manusia yang handal adalah merupakan produkutama pendidikan namun
pentingnya peranan pendidikan dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM)
kurang mendapat perhatian nyata dari masyarakat maupun pemerintah.

Berbagai tuntutan reformasi yang dikumandangkan akhir-akhir ini terutama yang meliputi bidang
politik, ekonomi, hukum. Namun disayangkan kurangnya atau jarang sekali terdengar tuntutan untuk
reformasi dalam bidang sosial khususnya pendidkan. Padahal pendidikan sangat menentukan
tatanan politik, ekonomi, dan hukum.

Kalau tidak didukung oleh manusia yang tidak berkepribadian, maka tatanan itu tidak banyak
gunanya. Kepribadian itu sendiri merupakan obyek folmal endidikan, yaitu manusia dengan ciri
beriman, taqwa, cerdas, terampil,jujur, dan berkepekaan sosial, serta cuinta tanah air.

D.  

c    

Proses belajar mengajar merupakan inti dari keseluruhan sistem pendidikan, karena merupakan
syarat mutlak bagi tercapainya tujuan pendidikan nasional. Sebagai inti, maka kesuksesan dalam
penyelenggaraannya haruslah mendapatkan perhatian dan penaganan secara sungguh-sungguh.
Kegagalan penyenggaraan proses belajar mengajar akan memberikan pengaruh yang besar terhadap
keseluruhan sistem pendidikan.

Proses belajar mengajar itu sendiri berintikan kegiatan belajar, dalam arti proses belajar mengajar
harus manpu mengupayakan bagaimana siswa belajar. Karena inti dari proses belajar mengajar
adalah siswa belajar, maka efektivitasnya sangat bergantung pada efektivitas siswa dalam belajar (J.
Mappiare, 19989). Demikian pentingnya kegiatan belajar, sehingga Muhibbin Syah (1995)
mengemukakan bahwa tanpa belajar tak pernah ada pendidikan, karena bagian terbesar proses
pendidikan adalah diarahkan pada tercapainya proses perubahan pada diri manusia.

Pembenahan proses belajar mengajar harus diarahkan kepada bagaimana siswa dapat belajar
seefektif dan seoptimal mungkin dalam rangka mewujukan perubahan tingkah laku sesuai dengan
tujuan pendidikan nasional.

Efektivitas proses belajar menekankan pada suatu usaha yang akan melahirkan aktivitas belajar yang
efektif. Belajar yang efektif pada hakekatnya merupakan suatu aktivitas belajar yang optimal pada
diri siswa (J. Mappiare, 1989; Hamalik, 1993; A. Suparman, 1996).

Dalam rangka menciptakan efektivitas proses belajar bagi siswa, guru diharapkan meminimalkan
(mengurangi) metode ceramah, karena metode tersebut mengurangi terbentuknya kemanpuan dan
kebiasaan berfikir kritis dan kreatif bagi siswa. Terciptanya kegiatan belajar yang efektif bagi siswa
merupakan syarat mutlak diperolehnya hasil belajar yang optimal.

Penerapan strategi belajar mengajar yang menekankan pada keefektifan siswa dalam belajar, akan
menyebabkan siswa dapat menggunakan seluruh kemanpuan dasar yang dimilikinya untuk
melakukan berbagai kegiatan belajar yang dipersyaratkan. Berkaitan dengan itu, guru diharapkan
dapat berfungsi :

a. Motivator, yakni merangsang dan memotivasi agar siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar
yang dipersyaratkan.

b. Fasilitator, yakni mengarahkan dan mengupayakan kemudaha-kemudahan bagi siswa dalam


belajar dalam rangka mewujudkan tujuan tujuan pengajaran; dan

c. Konselor, yakni senantiasa pembimbing siswa dalam melaksanakan serangkaian kegiatan belajar
yang dipersyaratkan, sehingga siswa aedidni mungkin dapat terhindar dalam berbagai kesulitan-
kesulitan yang mungkin ditemukan dalam proses belajarnya (A.Rohani dan A.Ahmadi, 1995).
Tangyong dkk (1985) mengemukakan bahwa proses belajar siswa aktif akan tercipta apabila :

a. Guru memberikan informasi dan masalah, diikuti dengan penegasan untuk memecahkannya.

b. Guru memberikan jawaban berdasarkan hasil pemikiran yang dikembangkan dari siswa; dan

c. Guru memberikan umpan balik atas berbagai tanggapan siswa.

Pada dasarnya mengajar merupakan sutu usaha menstimulasi dan membimbing siswa untuk
mencapai perubahan tingkah laku yang seoptimal mungkin. Untuk tuntutan itu, guru harus dapat
mengajar secara efektif bagi siswanya dalam arti guru harus secara intensif menstimuli. Slameto
dalam (J. Mappiare, 1989) mengemukakan bahwa mengajar yang efektif itu adalah mengajar yang
dapat membawa siswa belajar yang efektif artinya siswa beraktifitas mencari, menemukan, dan
melihat pokok masalah serta berusaha memecahkannya.

Dengan demikian, mengajar yang efektif harus mampu membangkitkan keaktifan siswa dalam
proses belajar mengajar. Karena dengan partisipasi, siswa akan mengalami, menghayati dan menarik
pelajaran dari pengalamannya itu, sehingga hasil belajar merupakan bagian dari dirinya,
perasaannya, dan pemikirannya. Hasil belajar yang demikian akan lebih lestari disamping itu
kreatifitas siswa lebih terbina dan dikembangkan (Thomas Gordon, 1990)

Pengajaran dari sudut Proses (by Procee), adalah suatu pengajaran dikategorikan efektif jika
pengajara itu berlangsung secara interaktif yang dinamis sehingga memungkinkan siswa dapat
mengembangkan potensinya melalui kegiatan belajar berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.
Sedangkan pengajaran dasri sudut hasil (by Product), adalah suatu pengajaran dikatakan efektif jika
siswa dapat mewujudkan tujuan pengajaran baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya (Sujana,
1988; Uzer Usman, 1992).

Mengkaji kriteria tersebut diatas, menunjukkan bahwa pengajaran yang efektif menitikberatkan
pada penciptaan aktivitas belajar siswa seoptimal mungkin. Guru harus selalu berusah menfasilitasi
atau menciptakan kondisi yang kondusif agar siswa dapat belajar secara aktif atas kesadaran dan
kemauannya sendiri.

Efektifitas pendidikan dan pengajaran sering diukur dengan tercapainya tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya. Pengertian ini mengandung pokok pikiran bahwa pendidikan dan
pengajaran haruslah:

a. Bersistem (sistematis), yaitu penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran secara sistematis, mulai
dari tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaan.

b. Sensitif terhadap kebutuhanakan tugas belajar dan kebutuhan pembelajaran.

c. Jelas tujuannya dan kerena itu dapat dihimpun usaha untuk mencapainya.

d. Bertolak dari kemampuan atau kekuatan mereka yang bersangkutan yakni; peserta didik,
pendidik, masyarakat dan pemerintah (Sriyono, 1992; Sardiman AM, 1990; Mariso, 1988)

Bertolak dari penjelasan diatas maka penulis memahami bahwa, pemahaman akan pengertian dan
pandangan mengajar akan banyak mempengaruhi peranan dan aktifitas guru dalam mengajar.
Sebaliknya, aktifitas guru dalam mengajar serta aktifitas siswa dalam belajar sangat bergantung pula
pada pemahaman guru terhadap mengajar. Mengajar bukan sekedar proses penyampaian ilmu
pengetahuan, melainkan mengandung berbagai aspeknya yang cukup kompleks.