Anda di halaman 1dari 50

Buku Kecil

Tauhid dalam Islam



Pengertian Tauhid
Macam-macam Tauhid
Keutamaan Menjaga Tauhid
Perkembangan Ilmu Tauhid
Perspektif Tauhid

D.R. Hamdanny

Edisi I/Januari 2017


1
Pengantar

Buku kecil ini berisi rangkuman sederhana


mengenai tauhid di dalam Islam.

Begitu pentingnya tauhid, sampai-sampai


Nabi Muhammad saw. menghabiskan
lebih dari separuh masa kenabiannya
untuk berdakwah, memperkokoh
keyakinan, sikap & mental tauhid
ummatnya di Mekkah.

Tauhid menjadi pillar agama Islam yang


kokoh mempersatukan dan membangun
tamadun dan peradaban manusia sebagai
hamba-hamba Allah swt.

Tauhid merupakan keyakinan, pandangan


hidup, sikap dan mentalitas seseorang
yang mengesakan Allah swt, tidak
menduakan atau menyetarakan apapun
dengan-Nya.

Tauhid adalah kesucian batin, ketulusan


sikap dan kemurnian niat hidup dan mati
2
sorang hamba yang mengharapkan rido
dari Penciptanya, Allah swt.

Demikian tauhid begitu esensial dalam


menentukan keselamatan seseorang di
dunia dan akhirat.

Dalam bertauhid diperlukan ilmu. Ilmu


yang merupakan panduan mengenai hal-
hal tentang Allah swt. yang wajib diyakini
sesuai dengan Al Quran dan sunnah Nabi
saw.

Melalui buku kecil ini, penulis mencoba


menguraikan pengertian dasar mengenai
Tauhid, Macam-macam Tauhid,
Keutamaan Menjaga Tauhid serta
Perspektif atau Tinjauan Tauhid dalam
Amal Keseharian.

Semoga uraian singkat dalam buku ini


dapat bermanfaat dan menjadi amal shaleh,
untuk pembaca juga penulis.

3
A. Pengertian Tauhid

Tauhid ( )secara harfiah memiliki akar


yang sama dengan wahid (), atau
wahhada yuwahhidu ( - ) .
Bermakna, satu, atau menjadikan sesuatu
itu satu, dengan peniadaan dan penetapan
yaitu meniadakan suatu hukum selain
pada apa yang di-esakan dan menetapkan
hukum tersebut hanya pada yang di-
esakan tersebut.

Sebagaimana lafadz syahadat,


tiada tuhan (yang patut disembah), kecuali
Allah. Mengandung makna meniadakan
hakikat dan sifat-sifat ketuhanan sekaligus
menetapkan hakikat, sifat dan kemutlakan
hanya pada Allah swt sebagai Tuhan yang
Maha Tunggal.

Secara istilah, Tauhid dimaknai dengan


, keesaan Allah dalam kita
beribadah, yakni kita menyembah Allah
4
swt yang Maha Tunggal tanpa
menyekutukan-Nya. Dengan tidak
menyamakan atau meyakini adanya
tuhan-tuhan atau kekuasaan lain, baik
berupa nabi, malaikat, pemimpin atau
penguasa suatu negeri yang menyerupai
kemahakuasaan tuhan.

Dengan tauhid, kita menisbatkan secara


khusus segala bentuk ibadah, hanya
kepada Allah swt. karena rasa cinta,
takdziem (pengagungan), dan harapan
mendapat rido, rahmat & inayah-Nya,
serta takut akan murka dan siksa-Nya.

Juga terdapat pengertian yang lebih umum


mengenai tauhid, yang disingkat menjadi

, kemahaesaan Allah

dengan segala kekhususan yang dimiliki-
Nya.

Maka daripada itu, kita sering memberi


predikat pada lafaz Allah dengan
5
subhanahu wa taalaa yang artinya Dia-lah
Allah yang Maha Suci (atas apa-apa yang
dinisbatkan pada-Nya) dan Maha Tinggi
(di atas segalanya, termasuk di atas nalar
makhluknya).

B. Macam-macam Tauhid

1. Tauhid Rububiyyah ()

Tauhid Rububiyyah adalah keesaan Allah


swt. dalam penciptaan, penguasaan dan
pengaturan semesta. Dialah Allah Sang
Pencipta, Pemilik dan Pengatur jagat raya
dengan segala ciptaannya.

Sebagaimana firman Allah swt. dalam QS.


Ar Rad (13:16)

Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala


sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa
lagi Maha Perkasa.

6
2. Tauhid Uluhiyyah ()

Tauhid Uluhiyyah dapat dimaknai dengan


keesaan Allah swt. dalam ibadah, yakni
segenap ciptaan-Nya hanya beribadah
kepada-Nya dengan tidak menduakan,
atau menganggap ciptaan-Nya setara atau
bagian dari ketuhanan, sebagaimana
keyakinan dalam trinitas dan sebagainya.

Kita hanya menyembah kepada-Nya.


Segenap hidup mati, jiwa raga dan ibadah
kita hanya ditujukan atau diabdikan
kepada Allah swt. Kita tidak meminta
pertolongan, perubahan nasib, kekayaan,
keselamatan, kesejahteraan, kepada selain
Allah. Karena keyakinan kita bahwa segala
sesuatu diciptakan, dikuasai dan ada pada
genggaman Allah swt., sehingga kita
hanya beribadah dan meminta
pertolongan kepada-Nya semata.

Sebagaimana firman Allah swt. dalam QS


Al-Fatihah (01:05)
7

hanya kepada Engkau kami menyembah,
dan hanya pada Engkau kami mohon
pertolongan

Perbedaan di antara kedua jenis tauhid di


atas adalah pada ibadah makhluk atau
ciptaan-Nya.

Tauhid rububiyyah bersifat informatif, al


ilmy al khabary, yaitu memberikan kita
penjelasan mengenai keagungan Allah
sebagai Pencipta, Pemilik, Pengatur alam
semesta dengan segenap ciptaannya di
jagat raya ini.

Sedangkan pada tauhid uluhiyyah, hal


tersebut disangkutkan dengan ibadah
makhluk-Nya. Bahwa kita menyembah
hanya kepada-Nya tanpa setitik-pun
maksud, niat dan perbuatan untuk
menyekutukan-Nya.

8
Karena itu, tauhid uluhiyyah juga dinamai
dengan tauhid at thalabi, yaitu tauhid yang
menuntut ibadah sesuai dengan petunjuk
yang diberikan Allah swt. dalam Quran
dan sunnah.

3. Tauhid al Asma was Shifat

Yaitu keesaan Allah swt. atas segala nama


yang Dia nisbatkan pada diri-Nya, dan
atas segala sifat yang Dia sifatkan pada
diri-Nya di dalam Al Quran dan pada
sunah nabi-Nya. Sehingga kita mengimani
segala nama dan sifat tersebut dengan
menetapkan apa yang ditetapkan-Nya dan
mengingkari apa yang diingkari-Nya,
tanpa mengubah, tanpa mengurangi,
tanpa bertanya bagaimana dan tanpa
memberi analogi atau perumpamaan.

Keyakinan seperti itu karena keagungan


dan kesucian Allah swt yang tak dapat
dijangkau nalar manusia.

9
Berkenaan dengan 20 sifat wajib bagi Allah
seperti wujud, qidam, baqa, mukhalafatun lil
hawaditsi, qiyamuhu binafsihi dan
sebagainya, atau 99 al asma ul husna, di
antaranya Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik,
Al Quddus, dan seterusnya adalah suatu
metode sederhana yang diintisarikan dari
Al-Quran untuk memudahkan sekaligus
memagari logika kita dalam mengenali
Allah swt.

Namun demikian, sesungguhnya jika


kemudian timbul pertanyaan berapakah
nama dan sifat-sifat Allah swt., maka
jawabannya bahwa nama dan sifat bagi
Allah swt. adalah sebanyak dan seperti
apa-apa yang Dia kehendaki.

Hal yang sangat penting dalam mengimani


asma dan sifat-sifat Allah swt. adalah
sebagaimana firman Allah swt. pada QS As
Syura (42:11)


10
Tidak ada sesuatupun yang serupa
dengan Dia. Dan Dia-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.

Sebisa mungkin kita menghindari dan


mengingkari gambaran nalar atau
imajinasi kita mengenai sifat-sifat Allah
swt.

Untuk mengenali kemahakuasaan dan


kemahaagungan Allah swt. cukuplah kita
mentadabburi bagaimana kesempurnaan
ciptaan-Nya, termasuk melihat keajaiban
terdekat dengan diri kita. Bagaimana kita
dapat membaca buku kecil ini, bagaimana
kertas dalam buku kecil ini berasal dari
pohon indah ciptaan-Nya, bagaimana
proses pemantulan cahaya sehingga huruf
demi huruf yang dicetak dengan tinta yang
juga bersumber dari ciptaan-Nya.
Bagaimana kerja mata kita, retina, pupil
dan bagian lainnya menangkap stimuli
atau rangsangan dan meneruskannya ke

11
otak kita. Bagaimana otak kita bereaksi
dengan bermilyar sel yang terkandung di
dalamnya. Itu semua adalah ciptaan-Nya.

Tak heran jika kemudian timbul dikatakan,


tidaklah mengenal Allah, bagi yang
belum mengenal dirinya.

Sebagaimana tauhid rububiyyah, tauhid


asma was shifat juga dinamai tauhid ilmy al
khabary, atau informatif. Kita wajib
mengimaninya tanpa mengada-ada, tanpa
mengurangi, tanpa bertanya bagaimana
dan tanpa memberi analogi atau
perumpamaan.

C. Keutamaan Menjaga Tauhid


Selain menjadi syarat mutlak diterimanya
keimanan seseorang, seorang hamba yang
menjaga kemurnian tauhid akan diberikan
keutamaan oleh Allah swt.

12
Bahwa seseorang yang memelihara tauhid,
berupaya ikhlas serta mendekatkan diri
kepada Allah swt. kelak akan dimasukan
ke dalam surga-Nya tanpa melalui hisab
atau mahkamah amal perbuatannya
terlebih dahulu.

Dikatakan dalam hadist shahih yang


diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa
Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan
masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah
orang-orang yang tidak minta diruqyah,
tidak beranggapan sial dan mereka selalu
bertawakkal pada Rabbnya.



Mereka itu tidak melakukan thiyaroh
(beranggapan sial), tidak meminta untuk
diruqiyah, dan tidak menggunakan kay
(pengobatan dengan besi panas), dan

13
hanya kepada Rabb merekalah, mereka
bertawakkal. (HR. Bukhari no. 5752).

D. Ilmu Tauhid

Untuk mencapai tauhid yang lurus,


sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad saw., dibutuhkan ilmu. Ilmu
yang bersumber dari Kalamullah, Al
Quranul Karim dan sunnah rasul-Nya.

Ilmu yang berkutat pada berbagai isu


mengenai hakikat penciptaan, hubungan
antara Khaliq dan Makhluq, tentang
arkanul iman (pilar-pilar keimanan),
tentang risalah dan misi tauhid yang
diemban para nabi dan rasul. Ilmu yang
juga membahas tentang keyakinan dan
perbuatan yang tergolong ke dalam syirik
besar dan syirik kecil. Ilmu yang
membahas substansi kehidupan fana di

14
dunia hingga ketetapan Allah swt. di
akhirat.

Beragam aliran terlahir sepanjang sejarah


perkembangan ilmu tauhid karena
berbagai perbedaan paham mengenai
tafsir dalam Al Quran. Perbedaan tersebut
terekam jelas sepanjang sejarah. Isu-isu
seperti apakah Al Quran makhluk?
Apakah manusia menentukan atau
ditentukan oleh takdir? Apakah yang
dimaksud dengan baiat? Sekelumit
pertanyaan-pertanyaan tersebut memicu
timbulnya aliran, paham, atau sekte dalam
Islam.

Di antara contoh paling masyhur adalah


perbedaan paham Jabariyyah dan
Qadariyyah dalam memandang qadarullah.

Golongan pertama menafikan perbuatan


manusia secara hakikat dan menyerahkan
perbuatan tersebut kepada Allah. Atau
dapat artinya, manusia sama sekali tidak
15
berdaya terhadap qadar atau ketetapan
Allah, sehingga manusia tidak mempunyai
andil dalam melakukan perbuatannya,
baik atau buruk, karena Allah-lah yang
menentukan segala-galanya.

Bahkan seorang pembunuh pun


melakukan pembunuhan semata karena
qadar atau takdir yang telah ditetapkan.
Keyakinan tersebut dilandasi QS Al Anfal
(8:17)


Maka (yang sebenarnya) bukan kamu
yang membunuh mereka, akan tetapi
Allah-lah yang membunuh mereka, dan
bukan kamu yang melempar, tetapi Allah-
lah yang melempar.

Paham sebagaimana di atas, bertentangan


dengan paham Qadariyyah yang
mengingkari takdir, yaitu bahwasanya
perbuatan makhluk berada di luar
16
kehendak Allah dan juga bukan ciptaan
Allah. Manusia bebas berkehendak
menentukan perbuatannya sendiri dan
makhluk sendirilahya yang menciptakan
amal dan perbuatannya sendiri tanpa
adanya andil dari Allah.

Keduanya dianggap menyimpang dari


paham Ahlussunnah wal Jamaah yang
berada di pertengahan. Aqidah
Ahlussunnah berpandangan bahwa setiap
manusia diberi kebebasan dalam
menentukan kehendak, sebagaimana
perintah bertaqwa, manusia diperintahkan
untuk selalu berbuat kebajikan dan
dilarang untuk berbuat kemunkaran.

Allah menciptakan surga dan neraka


sebagai konsekuensi jalan yang manusia
pilih. Manusia bersifat aktif, tidak pasif
dalam menghadapi sunnatullah dan
qadarullah. Namun demikian, manusia
tidak dapat mengandalkan rasionalitas

17
atau logikanya semata dalam ikhtiarnya
serta pencariannya akan kebenaran.
Rasionalitas dan wahyu berjalan
beriringan, ikhtiar dan tawakkal, bekerja
dan berdoa, semuanya tidak saling
meniadakan.

E. Perspektif Tauhid
Telah diuraikan di muka mengenai
kemuliaan bagi mereka yang memelihara
tauhid dalam kehidupannya. Oleh karena
itu, penting sekali untuk mengetahui
ragam perbuatan, rutinitas hingga budaya
yang lekat dengan diri kita dan masyarakat
ditinjau dari perspektif tauhid.

Dalam buku kecil ini, penulis akan


membatasi pembahasan pada bagian ini
dengan beberapa fenomena berikut:

18
- Meminta Pertolongan ()

Meminta pertolongan terbagi ke dalam


beberapa macam:

Pertama, meminta pertolongan kepada


Allah swt. Hal ini bukan saja
diperbolehkan, namun mengandung
kemuliaan. Mmeminta pertolongan
kepada Allah swt, merupakan suatu
pengakuan bahwa tak ada daya dan upaya
kecuali jika disertai oleh-Nya. Dengannya,
seorang hamba meyakini bahwa segala
urusan ada pada genggaman-Nya.
Sebagaimana dibacakan di setiap shalat

Hanya pada Engkau kami menyembah,
dan hanya pada Engkau kami meminta
pertolongan. (QS Al Fatihah 1:5)

19
Ada pun dalam kaidah bahasa Arab,
mendahulukan apa yang seharusnya
ditempatkan di akhir, sebagaimana:

Kepada Engkau, kami menyembah

Bukan kami menyebah kepada-Mu

mengandung makna hashar dan ikhtishash


atau kemutlakan pada yang dimaksud.
Yang dapat dimaknai, jika kita
menyembah dan meminta pertolongan
pada selain Allah swt. maka kita telah
jatuh ke jurang kemusyrikan dan telah
keluar dari agama.

Kedua, meminta pertolongan pada


makhluk atas perkara yang mampu
dikerjakan. Maka hukumnya bergantung
pada jenis perbuatan atau perkara yang
diminta. Jika itu merupakan kebajikan,
maka boleh bagi yang memintanya, dan
dianjurkan bagi yang menolongnya.

20
Sebagaimana firman Allah swt. pada QS Al
Maidah 5:2,


Dan tolong menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa

Sebaliknya, jika perkara yang diminta


adalah keburukan atau kemunkaran maka
hukumnya haram, baik bagi yang meminta
maupun yang menolong.

Dan jangan tolong menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran.

Jika perkara yang diminta adalah mubah


(boleh dikerjakan), maka hukumnya
menjadi jaiz (diperkenankan), baik bagi
yang meminta maupun menolong. Boleh
jadi yang menolong diberi ganjaran atas
kebaikannya, sebagaimana firman Allah
swt. dalam QS Al Baqarah 2:195
21


Dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-
orang yang berbuat baik.

Yang ketiga, meminta pertolongan kepada


makhluk hidup di atas kemampuannya.
Seperti memberi beban angkut pada buruh
atau pekerja yang kepayahan. Perbuatan
ini adalah kezaliman yang dibenci oleh
Allah swt.

Yang keempat, meminta pertolongan pada


orang yang telah mati dan atau pada
seseorang yang masih hidup tentang hal-
hal yang ghaib. Seperti meminta
dibukakan pintu rezeki atau dipanjangkan
umur, dan sebagainya. Hukumnya adalah
syirik. Karena dengan perbuatan ini,
seseorang telah meyakini adanya kekuatan
ilahi pada sosok tertentu.

22
Yang kelima, meminta pertolongan
dengan perbuatan atau amal kebajikan
yang dicintai Allah swt. Hal ini
diperintahkan oleh Allah, sebagaimana
firman-Nya dalam QS. Al Baqarah: 45


Dan mintalah pertolongan (kepada Allah)
dengan sabar dan shalat

Di atas semua itu, pembahasan tentang


istianah ditutup dengan sebuah hadist
nabi yang diriwayatkan oleh Al Albany
dalam Shahih Al Jami As Shaghir yaitu:

Jika engkau hendak meminta tolong,
mintalah pertolongan dari Allah.

23
- Istigotsah ()

Saat terjadi bencana, atau di tengah situasi


perang, kerusuhan, ancaman sosial dan
sebagainya, masyarakat biasanya
mengadakan istigotsah. Bahkan di luar
musibah tersebut, istigotsah pun dilakukan
dalam berbagai bentuk. Di antaranya
dalam zikir bersama, slametan, tabligh
akbar dan lain-lain.

Istighotsah secara harfiah diambil dari kata


atau yang artinya meminta
pertolongan atau bala bantuan. Secara
istilah istighotsah dapar dimaknai,
meminta agar dijauhkan atau dihindarkan
dari kejahatan dan kecelakaan.

Istighotsah terbagi ke dalam beberapa


macam. Pertama istighotsah kepada Allah
swt. Istighotsah seperti inilah yang
merupakan amal dan kebajikan yang
mulia dan dicontohkan oleh nabi saw.

24
Sebagaimana diuraikan dalam QS Al Anfal
8:9


(Ingatlah) ketika kamu memohon
pertolongan kepada Tuhanmu, lalu
diperkenankan-Nya bagimu:
Sesungguhnya Aku akan mendatangkan
bala bantuan kepadamu dengan seribu
malaikat yang datang berturut-turut.

Istighotsah sebagaimana dimaksud


dipanjatkan oleh Nabi saw. dalam perang
Badar, saat beliau melihat jumlah musuh
yang mencapai 1.000 pasukan sedangkan
jumlah muslimin hanya 313 personil.
Melihat hal tersebut, nabi bergegas
memasuki kemah dan beristighotsah
dengan doanya sebagai berikut:

25

Ya Allah, penuhilah untukku apa yang
Engkau janjikan padaku, Ya Allah jika
(Engkau takdirkan) pasukan dari ummat
Islam ini binasa, maka tak ada lagi yang
menyembah Engkau di dunia.

Nabi terus memanjatkan doanya sambil


mengangkat kedua tangannya, sampai-
sampai sorbannya terjatuh dari pundak
beliau. Lalu, Abu Bakr mengambil sorban
tersebut dan memakaikan kembali ke atas
pundak nabi, kemudian berkata:

Wahai Nabi Allah, sudah cukupkan doa


yang engkau panjatkan itu, karena
sesungguhnya Tuhanmu akan memenuhi
apa yang dijanjikan-Nya kepadamu. Lalu
turunlah ayat sebagaimana di atas.

Yang kedua, istighotsah yang ditujukan


kepada mayat atau pada seseorang yang
jelas-jelas tidak akan sanggup atau mampu
26
memenuhinya. Misalnya agar tidak terjadi
kemarau panjang, minta dilindungi dari
musibah atau kecelakaan pada seseorang
yang dianggap sakti, dan lain-lain.
Perbuatan ini tergolong ke dalam syirik
karena meyakini adanya kekuatan atau
kekuasaan makhluk yang menyerupai
tuhan. Sebagaimana firman Allah swt.
dalam QS An Naml 27:62




Atau siapakah yang memperkenankan
(doa) orang yang dalam kesulitan apabila
ia berdoa kepada-Nya, dan yang
menghilangkan kesusahan dan yang
menjadikan kamu (manusia) sebagai
khalifah di bumi? Apakah di samping
Allah ada tuhan (yang lain)? Amat
sedikitah kamu mengingat(Nya).

27
Boleh jadi seseorang meminta keselamatan
pada selain Allah namun merasa bahwa
dirinya tidak melakukan perbuatan
musyrik.

Disinilah tugas dakwah muncul. Bahwa


ber-tuhan dalam Islam dibutuhkan tauhid.
Tuhan dalam perspektif tauhid memiliki
makna Rabb dan Ilh. Dengan keyakinan
penuh bahwa dialah Allah swt., Rabb yang
Maha Mencipta, Maha Merajai dan Maha
Mengatur. Karenanya, dialah Allah swt.,
Ilh tempat kita berserah diri, mengabdi,
mengadu, dan meminta pertolongan.
Dengan asm dan sifat-sifat
kesempurnaannya, tidak ada yang patut
disembah dan dimintai pertolongan,
keculia Dia.

Karena itu, bertuhan dalam Islam adalah


pengabdian yang mutlak, bertuhan dalam
Islam adalah menjadi manusia yang
terbebas dari segala belenggu perbudakan

28
dunia, perbudakan benda dan hawa nafsu,
karena semua dengan tauhid, manusia
telah bertekad menyerahkan jiwa raga dan
segalanya untuk Allah semata.

- Bertawassul ()

Tawassul adalah upaya manusia
menggunakan wasilah atau perantara
untuk sampai pada tujuan atau maksud
yang diinginkan.

Tawassul terbagi ke dalam dua bagian.


Yang pertama adalah bahagian yang benar,
yaitu tawassul dengan perantara yang
benar untuk sampai pada yang diharapkan.

Tawassul dengan asm Allah

Hal tersebut dapat dilakukan dengan dua


cara. Pertama dengan lafadz atau
penyebutan asm Allah secara umum,
sebagaimana dicontohkan oleh nabi saw.,

29
Ya Allah, aku memohon dengan segala
nama yang itu adalah milik-Mu

Adapun cara kedua, adalah bertawassul


dengan nama yang khusus yang sesuai
dengan hajat yang diinginkan, semisal



Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah
rasa sakit (ini) sembuhkanlah, Engkau
Yang Maha Menyembuhkan

Doa semacam ini merupakan pengamalan


dari firman Allah dalam QS Al Araf 7:180


Hanya milik Allah asma-ul husna, maka
bermohonlah dengan menyebut asma-ul
husna itu

30
Tawassul dengan sifat-sifat Allah

Sebagaimana tawassul dengan asma Allah,


maka cara pelafalan tawassul dengan sifat-
sifat Allah juga dapat dilakukan dengan
cara umum, seperti



Ya Allah, saya memohon dengan asmaul
husna-Mu dan sifat-sifat Mu yang agung

Cara kedua, bertawassul dengan sifat-sifat


khusus yang sesuai dengan permintaan
yang khusus dimaksud, sebagaimana
hadist nabi saw.



Ya Allah dengan ilmu-Mu akan hal-hal
ghaib, dan kuasa-Mu atas penciptaan,
hidupkanlah aku jika Engkau ketahui
31
bahwa hidup itu baik untukku, dan
wafatkanlah aku jika Engkau ketahui
wafat itu lebih baik bagiku.

Tampak dari doa tersebut bahwa sifat ilmu


dan kuasa Allah swt. sesuai dengan apa
yang diminta.

Tawassul juga dapat dilakukan dengan


sifat faal Allah seperti dalam doa, Ya
Allah berilah keselamatan atas
Muhammad dan atas ahli bayt
Muhammad, sebagaimana Engkau beri
keselamatan atas Ibrahim dan atas ahl bayt
Ibrahim.

Tawassul dengan keimanan pada Allah


dan rasul-Nya

Sebagaimana dalam doa berikut:



32
Ya Allah, aku beriman kepada-Mu dan
kepada rasul-Mu, maka ampunilah aku
atau restuilah aku

Tawassul dengan amal saleh

Terdapat kisah yang diceritakan langsung


oleh Nabi Muhammad saw.

Ketika tiga orang laki-laki sedang berjalan,


tiba-tiba hujan turun hingga mereka
berlindung ke dalam sebuah gua yang
terdapat di suatu gunung. Tanpa diduga
sebelumnya, ada sebuah batu besar jatuh
menutup mulut goa dan mengurung
mereka di dalamnya.

Kemudian salah seorang dari mereka


berkata kepada temannya yang lain; 'lngat-
ingatlah amal shalih yang pernah kalian
lakukan hanya karena mencari ridla Allah
semata. Setelah itu, berdoa dan
memohonlah pertolongan kepada Allah
dgn perantaraan amal shalih tersebut,

33
mudah-mudahan Allah akan
menghilangkan kesulitan kalian.

Tak lama kemudian salah seorang dari


mereka berkata; 'Ya Allah ya Tuhanku,
dulu saya mempunyai dua orang tua yang
sudah lanjut usia. Selain itu, saya juga
mempunyai seorang istri dan beberapa
orang anak yang masih kecil. Saya
menghidupi mereka dengan
menggembalakan ternak. Apabila pulang
dari menggembala, saya pun segera
memerah susu dan saya dahulukan untuk
kedua orang tua saya. Lalu saya berikan air
susu tersebut kepada kedua orang tua saya
sebelum saya berikan kepada anak-anak
saya.

Pada suatu ketika, tempat penggembalaan


saya jauh, hingga saya pun baru pulang
pada sore hari. Kemudian saya dapati
kedua orang tua saya sedang tertidur pulas.
Lalu, seperti biasa, saya segera memerah

34
susu & setelah itu saya membawanya ke
kamar kedua orang tua saya. Saya berdiri
di dekat keduanya serta tak
membangunkan mereka dari tidur. Akan
tetapi, saya juga tak ingin memberikan air
susu tersebut kepada anak-anak saya
sebelum diminum oleh kedua orang tua
saya, meskipun mereka, anak-anak saya,
telah berkerumun di telapak kaki saya
untuk meminta minum karena rasa lapar
yang sangat. Keadaan tersebut saya dan
anak-anak saya jalankan dengan sepenuh
hati hingga terbit fajar.

Ya Allah, jika Engkau tahu bahwasanya


saya melakukan perbuatan tersebut hanya
untuk mengharap ridla-Mu, maka
bukakanlah suatu celah untuk kami hingga
kami dapat melihat cahaya! ' Akhirnya
Allah swt. membuka celah lubang gua
tersebut, berkat adanya amal perbuatan
baik tersebut, hingga mereka dapat
melihat langit.
35
Salah seorang dari mereka berdiri sambil
berkata; 'Ya Allah ya Tuhanku, dulu saya
mempunyai seorang sepupu perempuan
(anak perempuan paman) yang saya sukai
sebagaimana sukanya kaum laki-laki yang
menggebu-gebu terhadap kaum wanita.
Pada suatu ketika saya pernah
mengajaknya untuk berbuat mesum, tetapi
ia menolak hingga saya dapat memberinya
uang seratus dinar.

Setelah bersusah payah mengumpulkan


uang seratus dinar, akhirnya saya pun
mampu memberikan uang tersebut
kepadanya. Ketika saya berada diantara
kedua pahanya (telah siap untuk
menggaulinya), tiba-tiba ia berkata; 'Hai
hamba Allah, takutlah kepada Allah &
janganlah kamu membuka cincin
(menggauliku) kecuali setelah menjadi
hakmu.' Lalu saya bangkit dan
meninggalkannya. Ya Allah ya Tuhanku,
sesungguhnya Engkau pun tahu
36
bahwasanya saya melakukan hal itu hanya
untuk mengharapkan ridhla-Mu. Oleh
karena itu, bukakanlah suatu celah lubang
untuk kami! ' Akhirnya Allah swt.
membukakan sedikit celah lubang lagi
untuk mereka bertiga.

Seorang lagi berdiri dan berkata; 'Ya Allah


ya Tuhanku, dulu saya pernah menyuruh
seseorang untuk mengerjakan sawah saya
dengan cara bagi hasil. Ketika ia telah
menyelesaikan pekerjaannya, ia pun
berkata; 'Berikanlah hak saya kepada saya!
Namun saya tak dapat memberikan
kepadanya haknya tersebut hingga ia
merasa sangat jengkel. Setelah itu, saya
pun menanami sawah saya sendiri hingga
hasilnya dapat saya kumpulkan untuk
membeli beberapa ekor sapi dan menggaji
beberapa penggembalanya.

Selang berapa lama kemudian, orang yg


haknya dahulu tak saya berikan datang

37
kepada saya dan berkata; 'Takutlah kamu
kepada Allah dan janganlah berbuat
zhalim terhadap hak orang lain! ' Lalu saya
berkata kepada orang tersebut; 'Pergilah ke
beberapa ekor sapi beserta para
penggembalanya itu & ambillah semuanya
untukmu!' Orang tersebut menjawab;
'Takutlah kepada Allah & janganlah kamu
mengolok-olok saya! ' Kemudian saya
katakan lagi kepadanya; 'Sungguh saya tak
bermaksud mengolok-olokmu. Oleh
karena itu, ambillah semua sapi itu beserta
para penggembalanya untukmu!'

Akhirnya orang tersebut memahaminya &


membawa pergi semua sapi itu. Ya Allah,
sesungguhnya Engkau telah mengetahui
bahwa apa yg telah saya lakukan dahulu
adl hanya untuk mencari ridla-Mu. Oleh
karena itu, bukalah bagian pintu goa yg
belum terbuka! ' Akhirnya Allah pun
membukakan sisanya, hingga mereka

38
dapat keluar dari dalam goa yang tertutup
oleh batu besar tersebut.

Kisah tersebut telah memberikan


gambaran bahwa tawassul dengan amal
kebaikan juga bagian dari sunnah.

Tawassul dengan mengadu pada Allah

Yaitu bertawassul dengan menjabarkan


keadaan atau masalah yang tengah dialami
dan atau keinginan yang ingin dicapai,
sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi
Musa as., dalam doanya pada QS. Al
Qashash 28:24 :



Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat
memerlukan sesuatu kebaikan yang
Engkau turunkan kepadaku.

Para mufassir memaknai kebaikan pada


ayat ini dengan barang sedikit makanan.
Maka tergambar, bahwa Nabi Musa as.
39
Mengadu kepada Allah atas kelaparan
atau kekurangan yang dideritanya.

Tawassul dengan doa orang saleh

Tawassul kepada Allah dengan perantara


doa orang-orang saleh telah terjadi sejak
zaman Nabi saw. dan para sahabatnya.

Sebagaimana riwayat yang mengisahkan


seorang pemuda yang menghampiri nabi
yang tengah berkotbah. Lalu pemuda itu
berkata: Ya Rasulullah, hartaku telah
lenyap, jalan (usaha) ku telah terputus,
maka mohonkanlah pada Allah agar
menolong kami, kemudian nabi saw.
mengangkat kedua tangannya dan
bersabda: Ya Allah tolonglah kami, dan
sebelum nabi turun dari mimbar, turunlah
hujan, dan berlangsung hingga satu pekan
lamanya.

Demikian pula beberapa sahabat nabi


dikisahkan juga meminta didoakan oleh

40
paman Nabi yang dikenal sangat alim,
Abbas.

Bagian yang kedua merupakan tawassul


yang tidak dibenarkan secara syariat dan
tergolong ke dalam syirik. Yaitu
bertawassul kepada Allah dengan jalan
atau perantara yang tidak dicontohkan
oleh nabi, tidak diperintahkan oleh Al
Quran maupun sunnah, dan karenanya
tidak dikenal dalam syariat. Tawassul jenis
ini tergolong kesiasiaan, bathil dan
bertentangan, baik secara akal maupun
secara hukum syariat.

Misalnya, seseorang yang bermunajat


kepada Allah melalui perantara orang
yang telah mati dengan harapan mayat
tersebut ikut mendoakannya. Perbuatan
ini tergolong ke dalam syirik.

41
- Perdukunan ()
Dukun () adalah seseorang yang
dipercaya memiliki kemampuan
supranatural, di antaranya mampu
mengabarkan tentang hal-hal yang ghaib
di masa yang akan datang.

Selain meramalkan nasib seseorang,


dukun juga kerap dimintai untuk
mengubah nasib, membunuh dengan sihir
atau santet, hingga mempermudah rezeki
dan jodoh.

Dari masa jahiliyyah hingga saat ini,


praktik kahanah atau perdukunan erat
kaitannya dengan sihir dan setan.
Sebagaimana diriwayatkan bahwa
informasi seorang kahin didapatkan
melalui perantara setan yang mencuri-curi
dengar dari langit. Setan lalu
menyampaikan atau membisiki informasi

42
yang didengarnya itu kepada kahin untuk
kemudian disampaikan kepada manusia.

Jika kemudian bisikannya itu benar, sesuai


dengan realitas, maka manusia akan takjub
dan menjadikan kahin tersebut sebagai
rujukan dalam pengambilan keputusan di
antara mereka. Begitulah kahin kemudian
dikenal sebagai peramal ulung.

Sungguh bahaya sekali seseorang yang


berbuat, terlibat atau mempercayai
perdukunan. Karena hukum perdukunan
telah sampai pada kekufuran.

Pertama, barang siapa datang kepada


kahin atau dukun namun tidak
mempercayai atau meyakini dukun
tersebut, maka ia telah melakukan hal yang
haram. Sebagaimana diriwayatkan dalam
hadist, shalatnya tidak diterima selama 40
hari.

43
Kedua, barang siapa yang mendatangi
dukun, lalu bertanya padanya, kemudian
mempercayai kata-katanya, maka ia telah
masuk dalam kategori kufur kepada Allah
swt. Diwajibkan atasnya bersyahadat
kembali.

Sebagaimana diuraikan pada bab-bab


terdahulu mengenai jenis-jenis tauhid,
yaitu tauhid rububiyyah, uluhiyyah dan
tauhid asma was shifat, maka praktik
perdukunan jelas menodai seluruh aspek
dalam tauhid seseorang.

Dengan meminta, meyakini dan menuruti


permintaan dukun, berarti seseorang telah
menodai kalimat syahadat bahwa tiada
Ilah yang patut disembah, patut dimintai
pertolongan, patut dipatuhi sepenuh jiwa
dan raga, kecuali Allah.

Karena syahadat adalah syarat mutlak


dalam berislam. Karena tauhid yang murni

44
adalah syarat mutlak dalam mengimani
Allah swt.

Bayangkan jika Anda ditawari susu murni


yang begitu nikmat, namun Anda temukan
di dalamnya terdapat tahi cicak atau
bahkan bangkai tikus! Apakah Anda akan
meminumnya?!

Islam adalah agama yang paripurna. Islam


dibangun di atas fondasi tauhid yang
kokoh. Tiada Ilah yang patut disembah,
Tiada Ilah yang patut dimintai pertolongan,
kecuali Allah.

Maha Suci Allah dengan segala


kesempurnaan asma dan shifat-Nya.
Apapun yang kita minta, Allah memiliki
asma-ul husna untuk kita sebut dalam doa
kita.

Janganlah-lah nodai tauhid kita barang


sedikit saja dengan keyakinan-keyakinan

45
palsu pada makhluk yang juga penuh alpa
dan kekurangan sebagaimana kita.

- Sekularisme ()

Sekularisme atau ilmaniyyah memiliki akar


kata yang sama dengan alam, atau
alamiyyah yang secara konseptual dapat
dimaknai dengan memisahkan agama
(dien) dari negara atau dari kehidupan.

Paham sekulerisme merupakan konsep


jahiliyyah yang muncul di dunia belahan
barat yang memandang agama (Katolik)
dengan dogma-dogma yang diyakininya
acap kali menjadi penghalang kemajuan
ilmu pengetahuan.

Tentu saja hal ini sangat bertentangan


dengan Islam. Karena Islam merupakan
dien kamil mutakamil atau agama sekaligus
peradaban dengan kelengkapan sistem
dan world view yang dimilikinya. Islam
46
memiliki dimensi aqidah, syariat atau
muamalat dan akhlaq yang mengatur
seluruh aspek kehidupan.

Jika alasan pemisahan agama adalah


karena anggapan penghambat kemajuan,
justru kemajuan barat saat ini dimulai dari
futuhat atau ekspansi peradaban Islam
yang memulai kemajuan Eropa dalam
berbagai aspeknya.

47
Tentang Penulis

Daniel Rusyad Hamdanny, lahir di


Bandung 15 Oktober 1988. Lulus dari PM
Darussalam Gontor pada tahun 2007, dan
meraih strata-1 di bidang ilmu komunikasi
dari Universitas Padjadjaran.

Menjadi praktisi keuangan syariah sejak


2013, saat bergabung di salah satu lembaga
keuangan syariah di Jakarta. Saat ini
bekerja di salah satu BUMN di kota yang
sama.

Karya tulis Penulis yang telah terpublikasi


di antaranya, Islamic Rhetorics: Lessons from
the Farewell Sermon by Prophet Muhammad,
Buku Kecil Tauhid dalam Islam, dan Buku
Kecil Ekonomi Syariah.

Penulis dapat dihubungi pada:

085722396950
danielrusyad@yahoo.com

48
Referensi

Falih, Abi Abdillah. 1997. Mujam


Alfadz Al Aqidah. Riyadl: Maktabah
Al Abikan

Ibn Saadi, Abdurrahman bin Nasir.


1982. Kitab at Tauhid. Makkah: Riasat
Idarat al Buhuts al Ilmiyyah wal
Ifta.

Qutb, Muhammad. 1981. Muqarrar


Ilm at Attauhid. Riyadl: Wizarat al
Maarif

www.fatwaislam.com
www.islamqa.info
www.wikipedia.com
www.saaid.net
www.mutiarahadist.com
49