Anda di halaman 1dari 4

Soal UAS

1. Pada saat membuat pertimbangan di dalam putusannya, hakim bisa saja melakukan penemuan
hukum (rechtsvinding) atas unsur-unsur tertentu dari ketentuan yang menjadi dasar hukum
putusannya itu. Misalnya, dasar hukum yang dipakai oleh hakim adalah Pasal 279 ayat (1) KUHP.
Bunyi ketentuannya adalah sebagai berikut:

Diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun:


ke-1: barangsiapa mengadakan perkawinan padahal mengetahui bahwa perkawinan atau
perkawinan-perkawinannya yang telah ada, menjadi penghalang yang sah untuk itu.
ke-2: barangsiapa mengadakan perkawinan padahal diketahui bahwa perkawinan atau perkawinan-
perkawinan pihak lain menjadi penghalang yang sah untuk itu.

Kasus konkret yang dihadapi adalah sebagai berikut:


Budi menikah dengan Ani secara adat Tionghoa pada tahun 1999 di Jakarta, namun pernikahan ini
tidak mereka catatkan di Catatan Sipil. Pada tahun 2010 Budi menikah lagi dengan Ida menurut
agama Kristen dan kali ini dicatatkan di Catatan Sipil Kota Bandung. Ani yang tidak diberi tahu
tentang perkawinan tersebut kemudian melaporkan perbuatan Budi dan Ida, masing-masing atas
dasar Pasal 279 ayat (1) butir ke-1 dan butir ke-2. Di pengadilan, hakim yang kebetulan
berpandangan legistis, rupanya menafsirkan unsur perkawinan yang telah ada pada Pasal 279
ayat (1) KUHP itu sebagai semua pernikahan yang sah menurut agama/kepercayaan pasangan dan
dicatat oleh instansi negara yang resmi.

Sekarang susun kembali silogisme dari penafsiran hakim atas unsur Pasal 279 ayat (1) KUHP di atas
(pakai Model I silogisme kategoris). Gunakan tabel seperti di bawah ini:

Premis mayor

Premis minor

Konklusi

2. Silogisme yang Anda buat untuk nomor 1 di atas adalah silogisme antara sebelum akhirnya hakim
sampai pada silogisme utuh yang berisi diktum apakah akan menghukum Budi dan Ida, atau mungkin
sebaliknya. Untuk mempermudah Anda memahami makna Pasal 279 ayat (1) KUHP di atas, maka
rumusan premis mayor silogisme itu akan dimodifikasi seperti di bawah ini. Selanjutnya, tugas Anda
untuk melengkapinya dengan premis minor dan konklusi (ingat, tetap gunakan model I silogisme
kategoris). Gunakan tabel seperti di bawah ini untuk jawaban Anda:

Premis mayor Semua orang yang melangsungkan perkawinan dengan mengetahui


dirinya atau diri pasangannya terikat perkawinan lain yang telah ada
sebagai penghalang sah untuk perkawinannya itu ADALAH pelaku
kejahatan tentang asal-usul perkawinan yang diancam dengan pidana
maksimal lima tahun penjara.
Premis minor

Konklusi

-----------------------------------------ooo0ooo---------------------------------------
Ingat, bahwa yang diminta jawabannya dalam soal di atas adalah silogisme dengan mengikuti cara
bernalar si hakim. Soal di atas tidak meminta pendapat/kesimpulan kalian atas kasus di atas.

JAWABAN NOMOR 1:

Premis mayor Semua pernikahan yang sah menurut agama/kepercayaan pasangan


dan dicatat oleh instansi negara yang resmi ADALAH perkawinan yang
telah ada sebagaimana dimaksud Pasal 279 ayat (1) KUHP.

Premis minor Perkawinan Budi dan Ani ADALAH pernikahan yang sah menurut
agama/kepercayaan pasangan dan [akan tetapi] tidak dicatat oleh
instansi negara yang resmi.

Konklusi Perkawinan Budi dan Ani adalah bukan perkawinan yang telah ada
sebagaimana dimaksud Pasal 279 ayat (1) KUHP.

Catatan:
Tanda kurung siku [..] yang memuat kata "akan tetapi" di atas sengaja diselipkan sekadar untuk membantu agar kalimatnya menjadi
lebih mengalir dan mudah dicerna. Dalam penulisan silogisme baku, kata dalam kurung itu tidak perlu dicantumkan.

JAWABAN NOMOR 2:

Premis mayor Semua orang yang melangsungkan perkawinan dengan mengetahui


dirinya atau diri pasangannya terikat perkawinan lain yang telah ada
sebagai penghalang sah untuk perkawinannya itu ADALAH pelaku
kejahatan tentang asal-usul perkawinan yang diancam dengan pidana
maksimal lima tahun penjara.

Premis minor Budi dan Ida ADALAH orang yang melangsungkan perkawinan dengan
mengetahui dirinya atau diri pasangannya terikat perkawinan lain yang
tidak telah ada* sebagai penghalang sah untuk perkawinannya itu

Konklusi Budi dan Ida ADALAH bukan pelaku kejahatan tentang asal-usul
perkawinan yang diancam dengan pidana maksimal lima tahun penjara.

*) kata-kata tidak telah ada dapat saja ditulis belum ada.

Catatan:
Sebenarnya hakim dapat memisahkan silogisme untuk terdakwa Budi dan terdakwa Ida secara tersendiri, mengingat kedua orang
tersebut masing-masing dikenakan Pasal 279 ayat (1) ke-1 KUHP (Budi) dan Pasal 279 ayat (1) ke-2 KUHP (Ida), namun dalam
jawaban di atas dirumuskan dalam satu silogisme.

Dalam membuat silogisme, kata "tidak/bukan/belum" sebagai kata yang menegasi (berkonotasi negatif), sebaiknya
diselipkan langsung di depan unsur kata yang ingin dinegasi. Perhatikan pada premis minor jawaban nomor 2. Di situ kata "TIDAK"
diletakkan di depan kata "TELAH ADA" sehingga bermakna "TIDAK TELAH ADA" (=BELUM ADA). Artinya, Budi dan Ida
mungkin memang mengetahui perkawinan sebelumnya antara Budi dan Ani, sehingga kata "TIDAK" kurang tepat diselipkan di depan
kata "mengetahui". Persoalannya, yang tidak ada bukan terkait dengan unsur mengetahui itu, melainkan pada unsur perkawinan
lain.