Anda di halaman 1dari 29

Tips dan Trik Menulis Skripsi

1. Pendahuluan
Bagi sebagian orang, menulis karya ilmiah menjadi syarat penting untuk kelulusan
dalam sebuah pembelajaran di perguruan tinggi. Karya tulis untuk strata 1 berupa skripsi.
Skripsi menjadi tahap terakhir yang justru tak jarang berperan sebagai penentu
keberhasilan belajar. Mengapa demikian? Beberapa kasus terjadi bahwa mahasiswa yang
memiliki prestasi akademik yang bagus, tidak berhasil melewati tahapan penulisan
skripsi. Untuk itu, perlu bekal kemampuan dan kesungguhan yang cukup untuk
menyelesaikan skripsi agar tugas belajar di perguruan tinggi dapat terselesaikan dengan
baik.
Apa yang tertulis dalam buku ini sebagian besar merupakan pengalaman pribadi
penulis. Penulis menyelesaikan skripsi dalam jangka waktu satu semester. Demikian pula
dengan tesis. Khusus untuk penyelesaian disertasi, penulis memerlukan waktu satu
setengah tahun. Bagi penulis, jangka waktu penyelesaian karya tulis tersebut
berkontribusi penting dalam mempercepat penyelesaian belajar. Penulis menyelesaikan
S1 dalam jangka waktu 3 tahun. Meskipun prestasi akademik penulis tidak masuk
golongan tinggi, namun penulis selalu menjadi kelompok wisudawati pertama untuk tiap
angkatan. Oleh karena itu, penulis termotivasi untuk membagikan pengalaman selama
belajar sekaligus pengalaman membimbing, agar menjadi inspirasi sekaligus wawasan
bagi para mahasiswa, khususnya untuk penulisan skripsi. Itu semua didasari oleh
keinginan agar diperoleh kelancaran dan kemudahan dalam menulis skripsi sehingga
tugas belajar Anda tertuntaskan dengan baik dan tersegerakan.
Buku ini menyajikan poin penting yang perlu diperhatikan bagi mereka yang
sedang menulis skripsi. Poin tersebut tidak sebatas pada masalah akademik, namun juga
non akademik. Mengapa? Karena penyelesaian skripsi tidak cukup hanya mengandalkan
kemampuan intelektual, namun juga kemampuan mengelola emosi dan kekuatan spiritual
yang maksimal. Singkatnya, menulis skripsi menuntut setiap mahasiswa untuk
mengeluarkan seluruh hal terbaik yang dimilikinya. Itu jika ingin skripsinya selesai
dengan lancar dan hasilnya memuaskan.
Namun jangan khawatir, semua daya upaya yang dikerahkan untuk menyelesaikan
skripsi itu pasti ada manfaatnya. Manfaat yang besar dan menjadi bekal penting dalam
tahapan kehidupan Anda selanjutnya. Menulis skripsi menjadi celupan istimewa bagi
mahasiswa agar siap menghadapi tantangan kehidupan selanjutnya. Untuk itu, selayaknya
Anda menikmati segala prosesnya dengan ketekunan dan kesabaran ekstra. InsyaAlloh
Anda akan merasakan manisnya hasil celupan itu.
2. Bekal Menulis Skripsi

Sebagaimana telah disampaikan di awal, bekal kemampuan akademis saja belum


cukup untuk menyelesaikan skripsi. Ada banyak bukti bahwa mahasiswa yang memiliki
IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) bagus, tidak mampu menyelesaikan skripsinya dengan
baik. Sebaliknya, ada banyak bukti juga yang menunjukkan bahwa mahasiswa yang
lancar skripsi ternyata tidak memiliki prestasi akademik yang luar biasa. Intinya,
kemampuan akademik itu penting untuk bekal menyelesaikan skripsi. Namun bekal itu
memerlukan tambahan bekal penting lain yang harus diserasikan guna mempercepat
penyelesaian skripsi. InsyaAlloh setiap mahasiswa dapat menyelesaikan skripsinya,
namun mau selesai dalam jangka waktu berapa lama? Pilihan ada di tangan Anda.
a. Niat dan Komitmen
Sebuah hadits Nabi menyebutkan bahwa segala amal tergantung pada niatnya.
Pada konteks sekarang, amal itu adalah menulis skripsi. Nah, pertanyaan selanjutnya
adalah apa niatnya? Niat umum menulis skripsi adalah agar bisa lulus kuliah. Niat itu
sifatnya masih umum, maksudnya setiap mahasiswa pasti punya niat seperti itu. Catat,
niat setiap mahasiswa menulis skripsi adalah agar bisa lulus kuliah.
Niat untuk lulus itu harus diperjelas supaya jelas juga lulusan seperti apakah Anda
kelak. Lulus dengan masa studi 3 tahun, misalnya. Lulus dengan IPK cumlaude,
misalnya. Lulus dengan bidang keahlian tertentu misalnya. Semakin jelas niat, semakin
mudah identifikasi tahapan perjuangan Anda dalam menulis skripsi.
Selain dari sisi akademik, niat non akademik juga perlu disertakan. Itu justru
menjadi hal penting yang porsinya bisa melebihi niat secara akademik. Apa saja niat non
akademik itu? Misalnya, menyegerakan untuk membahagiakan orang tua dengan cara
mengajak mereka ke acara wisuda Anda kelak. Membahagiakan mereka dengan cara
menyelesaikan kuliah segera supaya mereka bisa melepas beban finansial karena
membiayai kuliah Anda. Bisa juga niat menyelesaikan kuliah agar bisa segera menikah,
agar bisa melanjutkan ke S2, atau agar segera bekerja dan membangun karier sedini
mungkin. Beranilah menentukan niat karena niat berpengaruh pada besar kecilnya
komitmen Anda untuk menyelesaikan skripsi.
Komitmen adalah kadar kesanggupan Anda untuk berkorban dalam berjuang
menyelesaikan skripsi. Semakin besar komitmen, semakin besar pengorbanan yang harus
Anda tanggung. Diksi pengorbanan memiliki konotasi negatif, layaknya lilin yang
melelehkan diri demi memberikan penerangan. Diksi lain yang memiliki konotasi positif
untuk pengorbanan adalah investasi.
Menulis skripsi perlu pengorbanan berupa berkurangnya kenyamanan. Pusing,
bingung, sedih, repot, mengeluarkan biaya, kadang sakit secara fisik, bosan, dan
sebagainya. Itu semua bisa dimaknai pengorbanan atau investasi, tergantung tipikal
kepribadian Anda. Karena semua ketidaknyamanan itu niscaya Anda alami ketika menulis
skripsi, sebaiknya Anda tahu cara mengatasinya. Itu yang penting. Anda boleh pusing,
asal tahu cara menghilangkannya. Anda boleh sakit, namun Anda harus tahu cara
menghindarinya. Anda boleh bosan, asalkan tahu cara tepat untuk mengatasinya dengan
tepat.
Semua itu tergantung pada kematangan pribadi Anda. Semakin matang pribadi
Anda, maka semakin mudah Anda mendeteksi permasalahan tersebut sekaligus
mengidentifikasi solusinya. Selain kematangan pribadi, niat dan komitmen yang tinggi
menjadi modal penting dalam menghadapi segala permasalahan selama skripsi. Asal
Anda memiliki niat yang bagus dan komitmen yang tinggi, insyaAlloh segala
permasalahan terasa indah.
b. Bekal non-akademis
Jika Anda telah berhasil mengidentifikasi niat secara jelas dan punya komitmen
yang tinggi, langkah selanjutnya adalah membungkus niat dan komitmen tersebut dengan
bekal, baik secara akademis maupun non akademis. Kedua bekal tersebut tidak bisa
dipisahkan dan saling melengkapi dalam mensukseskan penyelesaian skripsi.
Ingat, bahwa penulis skripsi adalah manusia, bukan mesin, bukan robot atau
komputer. Sebaik apapun niat dan setinggi apapun komitmen, belum menjamin
keberhasilan penyelesaian skripsi. Pada diri manusia, terdapat unsur jiwa yang perlu
diselaraskan ritmenya agar mendukung kelancaran skripsi. Jiwa itu dasarnya suka dengan
kenyamanan, suka dengan yang enak-enak. Padahal, mengerjakan skripsi menempatkan
Anda pada posisi yang relatif jauh dari kondisi itu. Untuk itu, perlu latihan tersendiri
terkait dengan tips dan trik untuk menundukkan segala ketidaknyamanan itu. Ingat,
ketidaknyaman itu hanya sebentar, sekitar satu semester saja. Setelah itu berhasil Anda
lewati, insyaAlloh Anda mendapatkan imbalan yang lebih manis dan indah. Sekedar
berbagi pengalaman, berikut beberapa tips untuk menghadapi ketidaknyaman :
1. Dekatkan diri kepada Alloh SWT. Perlu kekuatan besar untuk menyelesaikan
skripsi, untuk itu mendekatlah pada Sang Pemilik Kekuatan Mutlak.
Jadikanlah Alloh SWT sebagai teman setia sampai Anda benar-benar
merasakan bahwa Anda dan Alloh SWT tidak terpisahkan (bukan menyatu lho
ya). Itu membuat Anda yakin bahwa Alloh SWT benar-benar dapat
diandalkan dalam situasi yang sulit. Meskipun tips ini terdengar klise, namun
cobalah, rasakan, kemudian buktikan sendiri. Jika belum bisa mengandalkan
Alloh SWT, maka evaluasilah tingkat ketidakterpisahan Anda dengan-Nya.
2. Bersetialah pada kebenaran dan kebaikan. Ini penting untuk diperhatikan.
Umumnya, dalam situasi yang tidak nyaman seseorang sering tergoda untuk
melakukan hal-hal yang tidak baik. Ketika suntuk, pelariannya adalah
bersenang-senang, makan sembarangan, bermalas-malasan, dan sebagainya.
Semua itu bukannya tidak boleh, namun aturlah. Atur agar tidak merusak
project Anda, yaitu skripsi. Aturan itu penting agar solusi berupa
kesenangan tersebut tidak berubah menjadi tambahan masalah baru. Alih-alih
mengurangi ketidaknyaman, yang terjadi justru masalah baru yang didapat.
Boleh sesekali jajan atau jalan-jalan untuk menghilangkan kesuntukan.
Namun, pastikan bahwa itu dilakukan di saat yang tepat dan secukupnya saja.
Jangan keterusan hingga melalaikan. Kadang, obat ketidaknyamanan itu
sangat sederhana. Cukup dengan menghentikan sejenak project skripsi,
kemudian bersilaturahim ke orang tua, saudara, atau teman lama. Bertemu
dengan suasana lain, di luar kampus. Berinteraksi lain dengan orang-orang
penting dalam kehidupan kita dapat memberikan suntikan semangat untuk
menyelesaikan skripsi.
3. Jaga kesehatan. Rawatlah kebugaran Anda. Bisa dengan merutinkan olah raga
dan menjaga pola makan yang sehat. Tidak salah jika Anda menerapkan pola
hidup sehat tertentu, misalnya food combining. Selain berdampak langsung
terhadap kesehatan dan kebugaran, upaya tersebut juga mensugesti diri Anda
bahwa Anda sehat. Tak jarang mengerjakan skripsi menyebabkan kondisi
psikis Anda menjadi tidak stabil sehingga badan Anda ikut terdampak. Bagi
yang kurang memperhatikan pola hidup sehat, kondisi tersebut kadang
menjadi permakluman untuk menghentikan proses skripsi, dengan alasan
kesehatan. Padahal belum tentu sakit itu benar-benar sakit secara fisik. Bisa
jadi sakit yang terasa hanyalah psikosomatik (sakit karena pikiran). Nah, pola
hidup sehat berperan dalam mengeliminir risiko psikosomatik tersebut karena
alam bawah sadar sudah terpola bahwa tubuh Anda terjaga kebugarannya.
Dengan badan yang bugar, insyaAlloh skripsi jadi lancar.
c. Perbanyak Membaca
Baca dulu, baca lagi, dan baca terus. Itu tips untuk meng-upgrade bekal akademik.
Beda tipis antara mereka yang pintar dan tidak pintar ditentukan dari keluasan wawasan
dan ketajaman berpikir. Itu semua bisa dilatih melalui bacaan. Membaca merupakan level
belajar yang relatif rendah. Oleh karena itu, membaca saja belum cukup. Namun, keahlian
membaca inilah yang mengantarkan Anda untuk bisa mahir di level belajar yang
selanjutnya, yaitu menulis. Untuk itu, sebelum menulis, bacalah berbagai referensi
sebanyak dan sebaik mungkin.
Membaca juga perlu trik. Apa saja yang sebaiknya dibaca? Bagaimana cara
membaca? Sekedar tahu saja, ketika membaca referensi yang sama, namun dilakukan
dalam rentang waktu yang berbeda, maka pemahaman yang diperoleh bisa berbeda.
Untuk itu, sebaiknya pilih bacaan atau bagian dari bacaan yang sesuai dengan kebutuhan
Anda. Kebutuhan itu didasarkan pada tahapan pengerjaan skripsi. Misalnya, bagi yang
baru memulai skripsi, maka fokus bacaan adalah pada isu-isu terkini, baik secara faktual
maupun secara empiris-teoritis. Bacaan itu diperlukan untuk mengidentifikasi topik atau
judul penelitian. Oleh karena itu, membaca juga memerlukan ketelitian dan kesabaran
agar Anda menemukan apa yang Anda butuhkan.
Bagi Anda yang suka membaca, Anda sudah selangkah lebih maju. Nah, yang
sekarang perlu diperhatikan adalah mengatur bacaan Anda. Bagi yang sedang menyusun
skripsi, tipe bacaan yang dibutuhkan adalah referensi popular dan ilmiah. Referensi
popular membantu mengidentifikasi fenomena faktual tentang isu penelitian tertentu.
Selanjutnya, referensi ilmiah (biasanya berupa terbitan berkala/jurnal dan buku teks)
berperan dalam memasok pengerjaan skripsi khususnya untuk bab Tinjauan Pustaka dan
Metode Penelitian.
Selain buku-buku yang serius, sesekali ada baiknya Anda juga membaca buku-
buku pendukung. Bagi pecinta buku, alokasikan hari atau khusus untuk membaca buku
itu. Penulis misalnya, dalam sehari mengalokasikan waktu menjelang tidur untuk
membaca buku-buku pendukung. Buku pendukung adalah buku yang bisa memberikan
side seeing atau wawasan dan pemahaman tambahan yang dibutuhkan oleh seorang
pelajar. Misalnya adalah buku biografi tokoh-tokoh, novel-novel klasik yang kaya
kebijaksanaan, komik-komik, majalah, dan lain sebagainya.
Manfaat dari bacaan pendukung itu akan terasa dalam proses penulisan ide
penelitian. Meskipun format penulisan skripsi pada umumnya telah ditentukan, namun
penulisan isi (teks) skripsi memerlukan sentuhan seni. Itulah peran bacaan pendukung
yang menstimulasi kerja otak kanan dalam pekerjaan mensintesis bacaan, pemilihan diksi
yang tepat untuk menyampaikan maksud, penyusunan kalimat, penentuan alur berpikir,
keahlian analisis data, dan lain sebagainya. Sekali lagi, ingat. Manusia bukan robot atau
komputer. Untuk itu, peran seni menjadi penting untuk penyelesaian skripsi.
Peran bacaan pendukung lainnya adalah dalam pembentukan kematangan
kepribadian Anda. Menyusun skripsi adalah kerja tim. Ada Anda sebagai penulis, ada
pembimbing pertama, ada pembimbing kedua, dan ada tim penguji. Tim tersebut berperan
dalam mendampingi Anda dalam menyelesaikan skripsi. Ketika berinteraksi dengan
dosen-dosen tersebut, sedikit banyak ada friksi yang menuntut kedewasaan sikap.
Kepandaian mengelola hubungan dengan dosen-dosen tersebut juga membutuhkan
kesiapan mental dan spiritual yang memadai. Untuk itu, dengan banyak membaca maka
diharapkan Anda memperoleh strategi jitu dalam interaksi tersebut dan jika itu berhasil
maka niscaya satu tahap kematangan kepribadian dapat dicapai.
3. Menentukan Topik Penelitian

Apa topik penelitian Anda? Bagi mahasiswa jurusan akuntansi, umumnya kategori
topik penelitian didasarkan pada bidang-bidang ilmu akuntansi seperti keuangan, audit,
akuntansi manajemen, akuntansi keperilakuan, akuntansi syariah, akuntansi sektor publik,
perpajakan, dan lain sebagainya. Bisa jadi topik penelitian Anda merupakan perpaduan
dari beberapa bidang ilmu akuntansi, misalnya perilaku auditor, aspek akuntansi
manajemen di sektor publik, keuangan syariah, dan lain sebagainya.
Jika Anda telah mempunyai topik penelitian, maka satu tahap sudah Anda lalui.
Namun demikian, ada beberapa orang yang meskipun telah memiliki topik penelitian tapi
tidak bisa menjelaskan alasan mengapa dia memilih topik itu. Hal itu menjadikan
munculnya kesan bahwa topik penelitian diambil tanpa pertimbangan. Asal comot saja.
Padahal, apapun topik penelitian Anda, itu akan menjadi menarik hanya jika Anda dapat
memberikan penjelasan secara gamblang. Tidak ada topik penelitian yang jelek selama
Anda punya argumentasi kuat untuk mempertahankannya. Untuk itu, perlu pertimbangan
matang dalam pemilihan topik penelitian.
Pertimbangan apa saja dalam memilih topik penelitian? Bagi Anda yang sudah
punya ketertarikan pada satu bidang ilmu akuntansi, lebih baik memilih topik yang terkait
dengan bidang ilmu itu. Jika dilakukan atas dasar rasa suka, maka kesulitan apapun akan
terasa indah dan tetap bersemangat. Bagi yang masih belum punya ide topik penelitian,
kembali lagi ke tips awal, yaitu banyaklah membaca. Ada banyak penelitian yang bisa
dimodifikasi atau dikembangkan sehingga menjadi judul penelitian baru yang menarik.
Bukalah laman-laman sumber referensi ilmiah yang bisa Anda peroleh lewat
internet. Hampir sebagian besar adalah gratis. Jumlahnya ada banyak, dari seluruh dunia.
InsyaAlloh kalau untuk bahan dapat diperoleh dengan mudah, namun tentunya bahan itu
hendaknya juga dibaca. Jangan sekedar dikoleksi saja.
Beberapa laman yang relatif terkenal untuk mencari referensi adalah
www.scholar.google.com, www.sciencedirect.com, www.ebschohost.com,
www.proquest.com, dan lain sebagainya. Laman-laman tersebut hanya sebagian kecil
sumber referensi. Silahkan mencari sumber referensi lainnya.
Setelah Anda mengidentifikasi apa saja isu-isu terkini, tahap selanjutnya untuk
menentukan topik penelitian adalah mencari relevansi isu-isu terkini tersebut dengan
fenomena yang ada di Indonesia. Tahap ini bermanfaat untuk mengidentifikasi kelayakan
penelitian Anda dan juga ketersediaan data penelitian. Dengan demikian, pada tahap ini
Anda menghubungkan dunia akademis dengan dunia praktis. Di situ Anda juga akan
dapat mengidentifikasi tujuan dan kontribusi penelitian.
Referensi mengenai fenomena bisa Anda temukan di berbagai media, baik cetak
maupun elektronik. Pastikan bahwa referensi tersebut berupa fakta, bukan opini.
Misalnya, referensi popular untuk Anda mahasiswa akuntansi adalah majalah Media
Akuntansi. Jika Anda tertarik meneliti tentang perbankan, majalah InfoBank bisa menjadi
referensi yang bagus. Bisa juga referensi itu dari publikasi resmi instansi pemerintah
maupun swasta, misalnya laporan tahunan BEI (Bursa Efek Indonesia), Statistik
Perbankan Indonesia (SPI), laporan tahunan perusahaan, dan lain sebagainya..
Guna memperoleh keyakinan dengan pilihan ide topik penelitian, diskusikanlah
ide topik penelitian Anda tersebut dengan orang-orang yang berpengalaman di bidangnya.
Ada banyak dosen yang tidak keberatan untuk berbagi informasi, atau dengan senior yang
memiliki pengalaman penelitian dengan topik penelitian yang sama dengan Anda. Jika
Anda memperoleh informasi yang memadai tentang bukti empiris dan teoritis serta
fenomena faktual tertentu yang relevan dengan ide topik penelitian, maka Anda sudah
punya bekal cukup untu menulis Bab Pendahuluan.
4. Menyusun Pendahuluan

Pendahuluan penting bagi Anda maupun pembaca skripsi Anda. Pendahuluan


menjadi pintu masuk skripsi yang memberikan poin-poin penting tentang apa yang Anda
teliti, mengapa Anda meneliti, di mana penelitian dilakukan, bagaimana cara meneliti, apa
kontribusi penelitian Anda, dan lain sebagainya. Semuanya itu dikemas dalam susunan
yang sistematis dan menarik agar penulis dan pembaca memperoleh gambaran dan
pemahaman awal tentang penelitian Anda.
Bahan untuk menyusun Bab Pendahuluan adalah dari hasil bacaan Anda ketika
menentukan topik penelitian. Biasanya, Pendahuluan terdiri atas Latar Belakang,
Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, dan Manfaat Penelitian. Berikut uraian dari
masing-masing bagian Bab Pendahuluan:
1. Latar Belakang
Bagian latar belakang menguraikan semua argumentasi tentang pentingnya
penelitian dilakukan. Argumentasi tersebut bisa dari perspektif praktis maupun
akademis. Umumnya, penyajian latar belakang diawali dengan fakta-fakta apa
saja di Indonesia yang berkaitan dengan topik penelitian. Selanjutnya, fakta
tersebut didukung dengan argumentasi dari sisi ilmiah. Argumentasi diperoleh dari
berbagai referensi ilmiah seperti buku maupun jurnal. Perpaduan antara perspektif
praktis dan akademis tersebut menjadi penentu kelayakan dari topik penelitian.
Berikut uraian lebih lanjut mengenai isi latar belakang:
a. Fakta/fenomena faktual.
Fenomena faktual umumnya menjadi pembuka dalam penyusunan latar
belakang. Misalnya, pada topik penelitian tentang fraud, bagian awal latar
belakang menyajikan kasus-kasus fraud yang terjadi, baik level nasional
maupun internasional. Penyajian tersebut sebaiknya disertai argumentasi
mengenai pentingnya investigasi tentang fraud, misalnya untuk menekan
kerugian dan mengeliminir terulangnya kasus serupa.
Penting juga untuk memfokuskan ruang lingkup fenomena faktual.
Terkadang, penyajian fenomena dalam skala internasional terasa berlebihan
jika ternyata penelitian yang dilakukan ada pada level propinsi atau bahkan
kabupaten. Oleh karena itu, pertimbangan tentang kesesuaian penyajian
fenomena perlu dipertimbangkan oleh peneliti agar pembaca memperoleh
pesan yang jelas dan menjaga fokus penelitian.
Pada penelitian yang menyajikan topik tentang konsep yang sulit ditemui
fenomena faktualnya, misalnya manajemen laba, peneliti hendaknya
membatasi diri dalam menampilkan fenomena faktual. Jika memang tidak ada
penyataan resmi dan dapat dipercaya mengenai fenomena tersebut, sebaiknya
peneliti tidak memaksakan diri. Dugaan bahwa fenomena tertentu identik atau
relevan dengan topik penelitian sebaiknya dihindari.
Salah satu solusi dari kendala tersebut adalah dengan langsung
mengangkat bukti-bukti empiris mengenai konsep/variabel penelitian. Hal
tersebut menjadi argumentasi yang kuat untuk menunjukkan bahwa penelitian
yang dilakukan bukanlah khayalan semata. Tentu peneliti tidak mungkin
memilih topik yang benar-benar baru atau belum pernah ada fenomenanya dan
belum ada penelitian terdahulunya. Semuanya pasti ada penyebabnya. Telusuri
saja penyebab tersebut. Tentu saja penelusuran akan jauh lebih mudah jika
peneliti memiliki banyak wawasan, baik melalui bacaan maupun diskusi.
Fakta tersebut hendaknya dipilih yang relevan dengan topik penelitian,
jangan terlalu melebar. Misalnya, topik penelitian adalah Analisis Kinerja
Fundamental Bank Syariah. Fakta yang perlu disajikan di latar belakang adalah
tentang kondisi bank syariah, khususnya kinerja fundamentalnya. Tidak perlu
Anda sajikan fakta tentang perbankan syariah secara keseluruhan, mulai dari awal
keberadaannya hingga kondisi terkini.
Mengapa demikian? Penyajian yang fokus pada topik penelitian,
membantu peneliti dan pembaca untuk memahami dengan benar maksud peneliti.
Penyajian yang meluas, membuat peneliti dan pembaca kesulitan dalam
memahami maksud peneliti. Sulit memahami apa yang dikehendaki dan yang
akan dilakukan oleh peneliti. Tidak ada gunanya berbanyak-banyak menulis jika
tidak ada manfaatnya. Justru itu menjadi penghambat Anda dalam menyampaikan
ide penelitian. Jadi, tulislah fakta-fakta yang benar-benar relevan dengan topik
penelitian. Itu juga membantu Anda dalam memilah dan memilih referensi yang
penting untuk skripsi. Bahkan, menjadikan Anda tidak gampang tergoda untuk
mengubah-ubah ide penelitian.
Jika sudah memperoleh fakta-fakta yang relevan dengan topik penelitian,
selanjutnya bagaimana cara menyusunnya di bagian latar belakang? Sajikan fakta
dari yang paling penting terlebih dahulu. Penting atau tidak ditentukan dari
relevansinya dengan topik penelitian. Misalnya, dengan topik penelitian Analisis
Kinerja Fundamental Bank Syariah maka sajikan dibagian awal tentang kondisi
terkini kinerja fundamental bank syariah. Sajikan tren-nya, apakah kinerjanya
semakin meningkat atau justru semakin menurun. Bandingkan dengan kinerja
perbankan konvensional. Atau bisa juga penyajian tren kinerja bank syariah
tersebut dipisah antara Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS),
dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Itu fakta penting bahwa topik
penelitian Anda relevan dengan kondisi di Indonesia dan menarik untuk ditelaah
lebih lanjut.
Tuntaskan uraian tentang fakta itu. Ingat, jangan mudah menggunakan
fasilitas copy-paste. Susun dulu informasi atau fakta penting, baru tulis dengan
kata-kata Anda sendiri. Itu namanya sintesis. Jangan sampai tulisan Anda hanya
berupa rangkaian penggalan-penggalan fakta atau informasi yang tidak memiliki
keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Penyajian seperti itu hanya memberi
kesan untuk sekedar mempertebal skripsi saja, namun esensinya tidak ada. Justru,
penyajian seperti itu membingungkan pembaca sehingga maksud Anda tidak
tersampaikan dengan baik.
b. Menjelaskan konsep/variabel penelitian
Setelah menguraikan tentang fenomena faktual, peneliti perlu menyampaikan
atau memperkenalkan variabel-variabel penelitian. Layaknya sebuah film, pada
tahap ini peneliti memperkenalkan tokoh-tokoh utama dari fim yang dibuat.
Kenalkan dengan bahasa yang mudah. Mudah maksudnya adalah tidak
menggunakan istilah-istilah khusus yang memerlukan keahlian pembaca terkait
topik penelitian. Pada level skripsi, penyampaian variabel ini penting untuk
memastikan bahwa peneliti paham benar tentang variabel penelitiannya. Tingkat
pemahaman tersebut tercermin dari cara peneliti memperkenalkan variabel
penelitian dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain.
Definisi variabel penelitian terkadang diperlukan jika variabel tersebut masih
jarang diteliti atau hal yang baru dalam dunia empiris. Pembaca memang ada yang
merasa aneh ketika membaca definisi dalam latar belakang. Namun demikian, jika
variabel tersebut merupakan hal yang relatif baru/asing, penyajian definisi yang
berasal dari sumber yang terpercaya, dapat mengeliminir perdebatan tentang
perbedaan makna variabel antara peneliti dengan pembaca lainnya.
Peneliti dituntut untuk menguasai definisi konsep/variabel penelitian. Definisi
atas satu konsep/variabel bisa jadi beragam. Kuasailah perkembangan definisi
tersebut dari mulai yang terdahulu hingga yang terkini. Akan lebih kokoh jika
definisi dari konsep/variabel tersebut diperoleh dari dokumen resmi, seperti
Undang-Undang, Standar Akuntansi Keuangan, Fatwa Majelis Ulama Indonesia,
dan lain sebagainya.
Variabel pertama yang diperkenalkan adalah variabel inti. Pada hubungan
kausalitas/sebab-akibat, variabel inti adalah variabel dependen. Variabel dependen
inilah yang memperoleh porsi terbesar dalam penjelasan fenomena faktual. Ketika
menyajikan variabel dependen, peneliti dapat mengeksplorasi determinan dari
variabel tersebut. Inilah yang menjadi pintu masuk bagi variabel independen.
c. Teori
Teori berperan dalam menjelaskan hubungan antar variabel penelitian.
Teori juga menjadi landasan awal untuk menguasai konsep/variabel penelitian
yang menjadi fokus penelitian. Tak jarang, terdapat lebih dari satu versi teori yang
dapat menjelaskan hubungan antar variabel. Jangan bingung jika Anda menemui
beberapa teori yang kesannya saling bertentangan. Pada level skripsi, Anda cukup
memilih satu teori yang menurut Anda paling cocok untuk menjelaskan model
penelitian. Simpanlah teori-teori tandingan tersebut untuk nanti digunakan jika
seandainya temuan Anda tidak sesuai dengan teori yang Anda gunakan.
Percayalah, semua referensi pasti ada gunanya.
Pada topik tertentu, peneliti terkadang tidak hanya menggunakan satu
teori. Gabungan beberapa teori bisa menjadi landasan untuk topik penelitian yang
unik. Apalagi, fenomena ekonomi atau akuntansi saat ini berkembang dengan
pesat. Perpaduan teori akuntansi dengan teori keperilakuan bisa menjadi landasan
yang kokoh untuk penelitian tentang fraud misalnya.
Penguasaan teori juga menjadi landasan penting dalam membuat dan
menelaah jurnal. Penulis sering menjumpai mahasiswa yang memiliki banyak
koleksi jurnal dan mencoba menggunakannya sebagai dasar penelitian. Namun,
ketika mahasiswa tersebut diminta menjelaskan tentang konsep penelitian, dia
tidak bisa.
Ketika menghadapi kasus seperti itu, biasanya penulis menyarankan untuk
membaca buku tentang topik yang diminatinya terlebih dahulu. Hal tersebut
penting mengingat konsumen jurnal diasumsikan memiliki pengetahuan yang
setara dengan penulisnya. Oleh karena itu, jika pembaca jurnal kesulitan
memahami jurnal berarti pembaca perlu bekal terlebih dahulu melalui buku
bacaan.
d. Senjangan penelitian/research gap
Bagian selanjutnya dalam latar belakang adalah memberikan argumentasi
tentang pentingnya penelitian dilakukan. Hal tersebut diperoleh dari identifikasi
senjangan penelitian yang diperoleh dari hasil membaca referensi akademik.
Biasanya, untuk memudahkan mendapatkan bahan argumentasi dari sisi
akademik, penulis melakukan pemetaan penelitian (mapping).
Pemetaan penelitian berisi tentang susunan ringkas penelitian terkini tentang
topik penelitian. Peta penelitian bermanfaat untuk menunjukkan perkembangan
penelitian yang terkait dengan topik penelitian Anda. Model penelitian apa saja
yang sudah ada, apa hasilnya, dan apa sarannya untuk peneliti selanjutnya. Dari
situ, Anda akan menemukan peluang penelitian yang bermanfaat untuk
menentukan ide model penelitian yang bisa Anda kembangkan.
Peta penelitian juga membantu Anda untuk mengidentifikasi teori yang
relevan dengan topik penelitian. Satu topik penelitian bisa dikaji dari berbagai
segi. Untuk itu, Anda perlu menentukan salah satu teori yang mampu memberikan
penjelasan yang baik dan relevan dengan topik penelitian Anda. Misalnya, untuk
topik penelitian Analisis Kinerja Fundamental Bank Syariah, maka teori yang bisa
digunakan antara lain Teori Keagenan. Teori keagenan menjelaskan tentang
pentingnya penilaian kinerja, apa kegunaannya, dan apa kepentingan manajer dan
investor terhadap kinerja perusahaan.
Prinsip yang sama juga berlaku pada saat membaca hasil pemetaan
penelitian. Peta penelitian tersebut tak jarang menemukan hasil yang tidak
konklusif. Hubungan antar variabel bisa jadi tidak konsisten. Itu adalah hal yang
wajar dan jika Anda sudah mengetahui banyak teori, Anda tidak akan terkejut.
Semua hasil itu pasti ada penjelasannya.
Justru ketidakkonsistenan hasil penelitian tersebut menjadi salah satu
bahan Anda untuk menemukan senjangan penelitian. Amatilah penyebab
terjadinya senjangan penelitian tersebut. Umumnya, identifikasi awal bisa dimulai
dari variasi variabel penelitian yang digunakan dalam model penelitian. Bisa jadi
penyebabnya adalah penggunaan teknik pengukuran variabel yang berbeda dan itu
Anda rasa kurang sesuai, sehingga layak untuk diperbaiki.
Pada level skripsi, Anda diperkenankan untuk mengulang model penelitian
dengan modifikasi minor. Modifikasi minor tersebut bisa dilakukan dengan
menggunakan teknik pengukuran variabel yang berbeda atau modifikasi amatan
penelitian yang lebih sesuai. Namun, pengulangan model penelitian (replikasi)
tersebut tidak saya sarankan karena kontribusinya yang relatif rendah. Selain itu,
replikasi juga menunjukkan kurang seriusnya peneliti dalam membuat skripsi.
Terlalu banyak hal baru yang bisa disertakan dalam model penelitian yang sudah
ada. Galilah potensi tersebut dengan cara memperbanyak membaca dan bersabar
dalam menelaahnya. InsyaAlloh, tingkat kepuasan Anda berbanding lurus dengan
tingkat kesulitan perjuangannya.
Perpaduan antara penelitian terdahulu dari hasil mapping dan teori,
membantu Anda untuk menemukan variabel penelitian beserta hubungan antar
variabel. Misalnya, variabel A berpengaruh terhadap variabel B. Atau, variabel C
memperkuat/memperlemah pengaruh variabel A terhadap variabel B. Inilah yang
disebut dengan model penelitian yang menjadi landasan analisis dalam penelitian.
Untuk topik Analisis Kinerja Fundamental Bank Syariah, misalnya variabel A
adalah jumlah pembiayaan, variabel B adalah ROA (Return on Asset), sedangkan
variabel C adalah Non Performing Financing (NPF). Dengan demikian, model
penelitiannya adalah faktor risiko memperlemah kontribusi pembiayaan terhadap
kinerja bank syariah. Faktor risiko diproksikan dengan NPF, sedangkan ROA
menjadi proksi kinerja.
Jadi, pada bagian latar belakang ini Anda menyajikan tentang fenomena faktual dan
empiris terkait dengan topik penelitian. Anda juga menyajikan argumentasi tentang
pentingnya penelitian Anda. Penulisan kesemua hal itu memerlukan sentuhan seni dan
keberanian. Tulislah dengan memperhatikan bobot informasi dan kemudahan pembaca
untuk memahami maksud Anda. Jarang terjadi penulisan latar belakang ini dilakukan satu
kali langsung jadi. Perlu revisi berkali-kali hingga diperoleh bentuk yang bagus. Terus
berusaha dan pantang menyerah.
2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah diperoleh dari uraian latar belakang. Pada rumusan masalah ini,
sebaiknya Anda memberikan sedikit uraian tentang ringkasan masalah penelitian.
Misalnya, masalah penelitian adalah terjadinya penurunan kinerja fundamental bank
syariah. Selanjutnya, sajikan pula hasil identifikasi faktor apa saja yang mempengaruhi
penurunan kinerja itu. Berdasarkan kedua hal itulah diperoleh rumusan masalah
penelitian.
Umumnya, rumusan masalah penelitian merupakan penggalan-penggalan model
penelitian. Oleh karena itu, menentukan seberapa banyak rumusan masalah itu tergantung
pada kompleksitas model penelitian. Penentuan pemenggalan model penelitian
didasarkan pada pertimbangan urutan sistematika perumusan hipotesis. Dengan demikian,
umumnya satu rumusan masalah diperoleh dari satu rumusan hipotesis, sehingga jumlah
rumusan masalah sama dengan jumlah hipotesis penelitian.
Contoh rumusan masalah untuk topik penelitian Analisis Kinerja Fundamental
Bank Syariah adalah:
a. Apakah pembiayaan berpengaruh positif terhadap ROA?
b. Apakah NPF berpengaruh negatif terhadap ROA?
3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian umumnya berbentuk kalimat aktif yang berisi penyataan tentang
capaian penelitian berdasarkan rumusan masalah. Misalnya, tujuan penelitian dari topik
penelitian Analisis Kinerja Fundamental Bank Syariah adalah:
a. Menganalisis pengaruh positif pembiayaan terhadap ROA
b. Menganalisis berpengaruh negatif NPF terhadap ROA
c. Menganalisis peran NPF dalam memperlemah pengaruh positif NPF
terhadap ROA
Contoh tujuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa tujuan penelitian
merupakan wujud optimisme peneliti terkait konfirmasi kebenaran rumusan masalahnya.
Sekaligus, tujuan penelitian menunjukkan bahwa peneliti yakin bahwa seluruh hipotesis
penelitiannya didukung bukti empiris.
Meskipun tujuan penelitian tersebut terkesan mengulang-ulang pernyataan
rumusan masalah dan hipotesis, namun tujuan tersebut membantu peneliti untuk menjaga
fokus penelitian. Jika tujuan penelitiannya tidak sejalan dengan rumusan masalah dan
hipotesis, maka penelitian menjadi kabur dan kurang meyakinkan.
4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian memuat kontribusi penelitian. Untuk skripsi, manfaat
penelitian umumnya terdiri atas manfaat teoretis, manfaat akademis, dan manfaat praktis.
Manfaat teoretis menunjukkan peran penelitian dalam memperkokoh teori tertentu. Teori
belum tentu benar sepenuhnya, namun tingkat kekokohannya dalam menjelaskan
fenomena tertentu relatif tinggi. Oleh karena itu, peran penelitian, khususnya skripsi,
adalah untuk mengkonfirmasi kekokohan teori tertentu sebagai penjelas fenomena praktis
dan empiris. Misalnya, penelitian topik penelitian Analisis Kinerja Fundamental Bank
Syariah bermanfaat untuk mengokohkan Teori Keagenan dalam menjelaskan pengaruh
pembiayaan dan risiko terhadap kinerja.
Selanjutnya adalah manfaat akademis. Manfaat tersebut menunjukkan peran
penelitian untuk pengembangan penelitian dalam topik yang sama. Manfaat akademik
juga memuat harapan peneliti akan tindak lanjut beserta perbaikan untuk penelitian
selanjutnya.
Terakhir adalah manfaat praktis yang memuat pernyataan harapan kegunaan
penelitian bagi para praktisi. Praktisi tersebut diidentifikasi berdasarkan konteks
penelitian. Untuk penelitian dengan topik penelitian Analisis Kinerja Fundamental Bank
Syariah, maka praktisi yang bisa disasar antara lain manajer bank syariah.
Pada beberapa penelitian, terdapat tambahan manfaat penelitian yaitu manfaat
kebijakan. Ini termuat pada penelitian yang mengangkat topik yang berkaitan erat dengan
kebijakan pemerintah. Seandainya ada peraturan pemerintah yang bisa mempengaruhi
kelancaran proses mekanis model penelitian, maka sebaiknya penelitian tersebut memuat
kontribusi kebijakan. Misalnya, jika penelitian tentang bank syariah melintasi periode di
mana pemerintah menetapkan kebijakan penghapusan PPN untuk pembiayaan
murabahah, maka peneliti dapat memanfaatkan informasi penting tersebut untuk
memodifikasi proses analisis data, sehingga diperoleh bukti empiris yang dapat dijadikan
bahwa evaluasi atas kebijakan pemerintah.
5. Tinjauan Pustaka
Bab kedua dari skripsi memuat tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka merupakan
kumpulan referensi yang digunakan peneliti dalam merumuskan model penelitian dan
juga hipotesis penelitian. Referensi tersebut bisa berupa buku, jurnal, maupun terbitan
resmi lainnya.
Pilihlah referensi yang benar-benar relevan dengan skripsi Anda untuk disajikan
dalam tinjauan pustaka. Penyajian referensi sebisa mungkin bukan copy-paste.
Usahakan untuk menuliskan hasil sintesis dari beberapa referensi yang membahas teori
atau variabel penelitian yang digunakan dalam skripsi Anda.
a. Teori
Pada bagian awal tinjauan pustaka disajikan teori utama yang menjadi landasan
penelitian, misalnya Teori Keagenan. Ulaslah teori tersebut dengan jelas. Penjelasan bisa
dimulai dari apa teori keagenan itu, apa hubungannya teori tersebut dengan variabel
penelitian, apa relevansi teori dengan konteks penelitian (konteks penelitian misalnya
bank syariah), dan lain sebagainya. Uraikan dalam narasi yang sistematis. Sistematika
umumnya dimulai dari hal yang umum ke khusus (induksi). Sistematika yang baik
membantu pembaca untuk mendapatkan pemahaman tentang topik penelitian Anda secara
mudah dan nyaman.
Apa perbedaan penyajian teori pada bagian latar belakang dengan tinjauan
pustaka? Di bagian latar belakang, penyebutan teori diperlukan untuk menunjukkan
bahwa topik penelitian memiliki landasan yang kuat secara keilmuan. Semenarik apapun
judul penelitian, pasti memiliki landasan teori. Teori tersebut berkontribusi untuk
memberikan celupan ilmiah yang menjadi ciri khas dari penelitian.
Selanjutnya, teori pada bagian tinjauan pustaka disajikan secara rinci. Posisi teori
dalam penelitian juga dijelaskan pada bagian ini. Sebaiknya, peneliti menarasikan
bagaimana peneliti terdahulu menggunakan teori tersebut dalam menyusun model
penelitian. Dengan demikian, pembaca dapat memperoleh gambaran yang lebih aplikatif
terkait teori tersebut.
Lalu, apakah yang dimaksud dengan teori? Masih banyak yang menyebut variabel
sebagai teori. Baiklah, untuk lebih jelas mengenai teori, ada baiknya disajikan paparan
mengenai Teori menurut Sutton dan Staw (1995) dalam jurnal ASQ Forum dengan judul
What Theory is Not. Tulisan tersebut menyebutkan 5 hal yang bukan teori, yaitu
referensi, data, susunan variabel atau konstruk, diagram, dan hipotesis.
Menurut Sutton dan Staw (1995) teori membahas tentang hubungan antar
fenomena, cerita di balik keterjadian aksi, peristiwa, struktur, dan pemikiran tertentu.
Teori menekankan ada sifat hubungan kausalitas. Teori juga mengidentifikasi apa
penyebab utama keterjadian sesuatu dan kapan terjadinya. Teori yang kuat merinci secara
jelas landasan proses yang menghasilkan pemahaman atas alasan sistematis dari kejadian
khusus, baik yang bersifat rutin atau non-rutin.
Berdasarkan paparan tersebut, peneliti harus berhari-hati dalam menyematkan
kata teori pada sub judul di bagian tinjauan pustaka. Ingat, variabel bukan teori sehingga
tidak perlu menyertakan kata teori dalam sub judul tentang variabel penelitian, model,
grafik, dan lain sebagainya.
Carilah buku yang terpercaya untuk menggali pemahaman yang benar tentang
teori tertentu. Sebisa mungkin, usahakan untuk mendapatkan akses ke sumber utama.
Buku-buku berkualitas banyak tersedia di perpustakaan. Peneliti juga harus jeli dalam
memilih referensi, karena di zaman internet sekarang kadang membuat beberapa peneliti
malas menyentuh buku dan justru mengandalkan referensi popular non ilmiah.
Setelah peneliti menyajikan teori dengan lengkap, pada bagian akhir sajikan
uraian mengenai relevansi teori tersebut dengan topik penelitian. Teori-lah yang
mengantarkan peneliti pada variabel-variabel penelitian beserta hubungannya. Teori juga
yang menjadi landasan utama dalam membangun hipotesis yang juga menjadi bagian dari
bab Tinjauan Pustaka. Bagian tersebut merupakan sintesis peneliti yang berasal dari
pemahaman atas teori. Seorang peneliti yang baik, dapat menguraikan hal tersebut secara
gamblang dan sistematis. Ini sangat membantu pembaca dalam memahami penelitian
sekaligus memberikan rasa percaya atas kredibilitas dan kemampuan peneliti.
b. Variabel penelitian
Setelah menyajikan teori, bagian selanjutnya adalah tentang variabel penelitian.
Berikan uraian tentang variabel penelitian dengan jelas, namun sebelumnya tunjukkanlah
hubungan variabel penelitian dengan teori yang Anda pakai. Penyajian variabel penelitian
bisa diawali dengan konsep yang mewakili variabel penelitian, definisi variabel
penelitian, hingga penggunaan variabel tersebut dalam berbagai penelitian. Terakhir,
sajikan argumentasi Anda terkait dengan alasan mengapa Anda menggunakan variabel
tersebut dalam penelitian.
Berbagai paparan mengenai variabel penelitian tersebut dapat disajikan dengan
baik jika peneliti memiliki banyak suplai referensi berupa jurnal. Semakin banyak jurnal
yang dibaca, peneliti akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang variabel
tersebut.
Pemahaman yang baik tentang variabel membantu peneliti untuk menentukan
definisi variabel mana yang sesuai dengan penelitiannya. Bahkan penguasaan variabel
yang baik juga berguna nanti dalam menyusun bab metode penelitian. Peneliti tidak perlu
bingung jika menemukan beberapa variasi tentang definisi hingga pengukuran variabel.
Adalah menjadi hak preogatif peneliti untuk memilih salah satu definisi yang sesuai
dengan konteks penelitian, asalkan peneliti dapat menjelaskannya dengan argumentasi
yang kuat.
c. Penelitian Terdahulu
Bagian selanjutnya setelah paparan tentang variabel penelitian adalah tentang
penelitian terdahulu. Bagian ini menunjukkan uraian pemetaan penelitian yang terkait
dengan topik penelitian. Tujuannya adalah untuk menjelaskan asal muasal topik
penelitian hingga sampai pada pemilihan topik penelitian Anda. Hampir setiap topik
penelitian telah didahului oleh penelitian-penelitian sebelumnya.
Posisi penelitian Anda adalah pada modifikasi atau pengembangan penelitian
terdahulu tersebut. Modifikasi dilakukan berdasarkan bukti empiris ketidaksinkronan
hasil-hasil penelitian terdahulu atau berdasarkan perbedaan konteks penelitian. Dengan
demikian, penelitian Anda memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya, tidak
hanya replikasi.
Sebaiknya pada sub bab penelitian terdahulu, peneliti tidak hanya menyebutkan
satu-persatu peneliti sebelumnya sehingga terkesan seperti parade jurnal. Penyajian
seperti itu kurang memberi makna dan kontribusi dalam penelitian. Sebelum menyusun
penelitian terdahulu, peneliti harus menyeleksi terlebih dahulu penelitian-penelitian mana
saja yang masuk kriteria. Kriteria yang digunakan adalah keselarasan temuan penelitian
penelitian tersebut dalam membangun model penelitian.
Simpanlah penelitian-penelitian terdahulu yang bertentangan dengan model
penelitian. Ini akan berguna kelak dalam penyusunan pembahasan seandainya temuan
penelitian tidak selaras dengan model penelitian yang diusung. Apakah tindakan ini
benar? Menurut penulis ini disebut dengan strategi.
Ingat, bahwa selama tidak menyangkut iman, tidak ada yang mutlak benar di
dunia ini. Tidak ada hitam putih, yang ada abu-abu. Ingat pula bahwa penelitian itu
bersifat parsimoni, sederhana. Topik penelitian adalah sekelumit fenomena faktual
maupun empiris yang disajikan dengan berpatokan pada kaidah-kaidah ilmiah. Kaidah-
kaidah tersebut berkonsekuensi pada pemberlakuan penelitian hanya pada konteks
tertentu. Jadi, tidak masalah jika Anda memilih referensi yang relevan dengan topik
penelitian Anda. Pilih hanya yang mendukung model penelitian Anda. Selainnya? Simpan
dulu sebagai amunisi cadangan.
d. Model Penelitian
Uraian tentang penelitian terdahulu tersebut mengantarkan Anda pada model
penelitian dan perumusan hipotesis penelitian. Model penelitian adalah ilustrasi yang
berisi variabel penelitian dan hubungan antar variabel tersebut. misalnya model penelitian
untuk judul Analisis Kinerja Fundamental Bank Syariah adalah sebagai berikut:

Pembiayaan
1
ROA

NPF 2

Contoh model penelitian itu menunjukkan bahwa terdapat tiga variabel penelitian.
Variabel sebelah kiri umumnya adalah variabel independen, sedangkan yang sebelah
kanan adalah variabel dependen. Garis penghubung menunjukkan arah hubungan dari
variabel independen ke variabel dependen. Sebagaimana rumusan masalah, gambar
model penelitian tersebut menunjukkan ketiga rumusan masalah. Rumusan masalah
pertama ada di garis 1 dan rumusan masalah kedua di garis 2.
e. Perumusan Hipotesis
Model penelitian menjadi rujukan sistematika perumusan hipotesis. Urutan
hipotesis sama dengan urutan rumusan masalah. Redaksi hipotesis ada beberapa versi,
tergantung kekuatan argumentasinya. Ada yang tidak berarah, ada yang berarah. Pada
contoh rumusan masalah yang disajikan di buku ini menunjukkan bahwa hipotesis
penelitiannya berarah. Cermati redaksi rumusan masalah yang menyebut pengaruh
negatif/negatif. Dengan demikian, contoh hipotesis penelitiannya adalah:
a. Pembiayaan berpengaruh positif terhadap ROA
b. NPF berpengaruh negatif terhadap ROA
Hipotesis penelitian yang baik adalah yang jelas perumusannya. Argumentasinya
kuat sehingga menutup pertanyaan-pertanyaan yang bersifat meragukan keabsahan
hipotesis itu. Hipotesis dibangun dari hasil sintesis teori dan penelitian terdahulu. Selain
itu, hipotesis bisa juga didasarkan pada logika yang kuat.
Jika ingin menyusun hipotesis yang bagus, alangkah baiknya jika Anda membaca
jurnal-jurnal yang bereputasi. Cermati dengan baik susunan logika dan sistematika
penulisannya. Tidak ada salahnya jia Anda menirukannya. ..
6. Metode Penelitian

Metode penelitian menyajian cara peneliti mengeksekusi desain penelitian dengan


menggunakan fakta. Fakta bisa berupa informasi atau data. Metode penelitian memiliki
elemen-elemen tertentu yang merupakan satu runtutan sistem kerja yang sistematis.
Pengerjaan metode penelitian disesuaikan dengan perspektif penelitiannya, apakah
kuantitatif atau kualitatif. Khusus untuk buku ini, perspektif penelitian yang digunakan
adalah kuantitatif.
Bagian ini hanya menyampaikan garis besar dari penyusunan bab metode
penelitian. Guna memperoleh informasi dan pemahaman yang lebih baik, silahkan
merujuk langsung ke buku-buku yang membahas khusus tentang metode penelitian.
Berikut elemen-elemen metode penelitian:
1. Jenis penelitian
Pada bagian awal disampaikan jenis penelitian untuk menunjukkan posisi
penelitian sekaligus menjadi patokan dalam menyusun isi elemen-elemen bab
metode penelitian berikutnya. Terdapat beberapa jenis penelitian. Khusus untuk
penelitian dengan perspektif kuantitatif, jenis penelitian umumnya adalah
eksplanasi.
Jenis penelitian tersebut menunjukkan bahwa penelitian didesain untuk
menunjukkan hubungan antar variabel sebagai upaya untuk memberikan
penjelasan atas fenomena tertentu dengan merujuk pada teori tertentu. Hubungan
variabel didasarkan pada teori tertentu, sedangkan variabel mewakili konstruk dari
fenomena yang diteliti.
2. Populasi dan sampel
Populasi merujuk pada sekelompok amatan yang memiliki karakteristik
yang sama. Oleh karena itu penentuan populasi tersebut didasarkan pada kriteria
tertentu yang disesuaikan dengan konstruk penelitian. Selanjutnya, populasi
tersebut diambil sebagian sebagai amatan penelitian. Bagian populasi tersebut
dinamakan sampel.
Cara mengambil sampel ada beberapa macam, misalnya pengambilan
sampel bertujuan, acak, snow balling, dan sebagainya. Pemilihan cara
pengambilan sampel didasarkan pada ketersediaan data dan juga kemampuan
peneliti untuk mengakses data. Satu hal lagi yang penting untuk diperhatikan
dalam menentukan teknik pengambilan sampel adalah ukuran sampel yang
diperoleh. Hal tersebut penting karena ukuran sampel menjadi salah satu
pertimbangan dalam menentukan teknik analisis dan berimplikasi pada hasil
analisis hingga simpulan penelitian.
3. Variabel penelitian
Terdapat beberapa jenis variabel penelitian yang tergantung pada model
penelitian. Pada model penelitian yang sederhana, biasanya jenis variabelnya ada
dua yaitu variabel dependen dan variabel independen. Contohnya, sesuai dengan
model penelitian pada gambar di bab 5 tentang tinjauan pustaka, maka yang
menjadi variabel dependen adalah ROA sedangkan variabel independennya ada
dua, yaitu NPF dan pembiayaan. Pada model penelitian yang lebih kompleks,
jenis variabelnya bisa berupa variabel mediasi atau moderasi. Munculnya jenis-
jenis variabel tersebut didasarkan pada model penelitian, sedangkan model
penelitian berasal dari hasil sintesis atas tinjauan pustaka.
Setelah menentukan jenis-jenis variabel, hal penting yang disajikan adalah
tentang definisi operasional variabel. Definisi operasional variabel menyatakan
secara jelas dalam kalimat yang menunjukkan kata benda tentang variabel
penelitian. Misalnya, benda apakah ROA itu? Jawabnya ROA adalah ukuran
kinerja yang didasarkan pada capaian laba pada satu periode. Cermatilah, bahwa
kata pertama definisi ROA adalah ukuran. Ukuran itu menunjukkan kata benda
yang menunjukkan bahwa ROA itu nyata keberadaannya sehingga dapat diperoleh
dan diukur.
Pengukuran variabel penelitian adalah lanjutan dari penyajian definisi
operasional variabel. Pengukuran variabel menunjukkan kalkulasi untuk
mendapatkan angka dari variabel penelitian untuk tiap amatan. Tiap amatan
diukur dengan teknik yang sama, namun pengukuran untuk tiap amatan bisa jadi
menghasilkan angka yang berbeda. Cara memperoleh pengukuran variabel
umumnya merujuk dari penelitian terdahulu. Pilih teknik pengukuran yang terkini
dan terbukti telah digunakan oleh banyak peneliti. Misalnya, pengukuran ROA
dapat diperoleh dari berbagai buku atau penelitian terdahulu, yaitu dengan
membagi laba dengan total aset. Namun demikian, pada buku keuangan terkini,
misalnya Penman (2012), pengukuran ROA telah dimodifikasi secara lebih
mendetail yaitu dengan merinci jenis labanya. Pilihlah satu ukuran yang relevan
dengan penelitian Anda dan memiliki argumentasi yang kuat.
4. Sumber data
Sumber data menunjukkan asal data yang Anda gunakan untuk penelitian.
Asal data untuk bidang akuntansi umumnya dari laporan keuangan. Nah, tulislah
asal laporan keuangan tersebut, apakah dari publikasi oleh perusahaan sendiri atau
dari lembaga lain seperti Bursa Efek Indonesia atau penyedia jasa informasi
lainnya. Untuk data saham, misalnya Anda dapat melihat di
www.yahoo.finance.com. Data keuangan lainnya bisa juga diperoleh dari
database seperti Osiris.
5. Analisis data
Analisis data menunjukkan cara Anda mengolah data untuk pengujian
hipotesis. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih teknik analisis
data adalah hipotesis penelitian, ukuran sampel, dan skala data. Hipotesis
memandu pemilihan teknik analisis. Jika hipotesis menyatakan hubungan sebab
akibat atau pengaruh mempengaruhi, maka teknik analisisnya bisa menggunakan
regresi. Jika menguji perbedaan, teknik analisisnya uji beda. Jika hubungan saja,
bisa menggunakan teknik analisis korelasi. Seterusnya, silahkan merujuk ke buku
statistik.
Ukuran sampel menentukan strategi analisis data. Pertimbangan ukuran
sampel menentukan pendekatan analisis (parametrik atau non parametrik) dan
penilaian normalitas data. Namun jika ukuran sampel lebih dari 30, maka langkah
ini bisa dilewati.
Skala data juga menentukan teknik analisis. Skala data yang paling bagus
adalah rasio, namun terkadang ditemui kesulitan dalam pengukurannya atau akses
datanya. Oleh karena itu, peneliti terpaksa menggunakan skala data yang sangat
kasar, yakni nominal. Ternyata, skala data menjadi pertimbangan teknik analisis.
Untuk pemahaman lebih lanjut, silahkan merujuk ke buku statistik.
Pada bagian akhir analisis data, Anda perlu menyajikan dasar acuan untuk
menyatakan bahwa hipotesis penelitian Anda terdukung/tidak terdukung oleh
fakta empiris. Umumnya, panduan untuk menentukan hal tersebut adalah
berdasarkan pada toleransi tingkat kesalahan () pada hasil uji hipotesis
berdasarkan analisis data. Untuk penelitian di bidang ilmu sosial, toleransi tingkat
kesalahan yang dipakai umumnya adalah 1%, 5%, hingga 10%.
7. Hasil Analisis Penelitian
Bagian pembahasan menyajikan hasil aktivitas penelitian yang telah dirancang
sebagaimana tersaji pada bagian-bagian sebelumnya. Bagian awal dari pembahasan
umumnya berupa deskripsi objek penelitian, misalnya tentang kondisi populasi atau
sampel. Selanjutnya disajikan deskripsi variabel penelitian dan hasil uji hipotesis.
a. Deskripsi objek penelitian
Bagian awal deskripsi objek penelitian menyajikan tabel tentang asal mula
sampel penelitian sesuai dengan teknik pemilihan sampel yang telah ditetapkan di
bagian metode penelitian. Tabel tersebut memberikan gambaran tentang eksekusi
dari teknik pemilihan sampel sekaligus untuk memberitahukan kondisi data
penelitian dan jumlah sampel terpilih.
Setelah mendapatkan jumlah sampel, bagian selanjutnya adalah
menyajikan karakteristik sampel. Karakteristik tersebut misalnya penyajian
sampel berdasarkan tahun atau jenis industri. Hal tersebut dimaksudkan untuk
menunjukkan keterwakilan data untuk setiap karakteristik yang relevan dengan
tujuan penelitian.
b. Deskripsi variabel penelitian
Deskripsi variabel penelitian diperlukan untuk menilai kelayakan data
penelitian untuk dijadikan bahan analisis dalam pengujian hipotesis. Hal-hal yang
perlu disajikan dalam deskripsi variabel meliputi nilai minimum, maksimum, rata-
rata, median, deviasi standar, kurtosis/skewness. Namun demikian, deskripsi
variabel tersebut perlu disesuaikan dengan skala pengukuran data. Pada data
dengan skala nominal (misalnya variabel dummy, 1/0), maka deskripsi data yang
disajikan biasanya berupa frekuensi.
Masing-masing nilai yang dideskripsikan tersebut perlu dijelaskan untuk
menggambarkan kondisi data. Manfaat deskripsi data dirasakan ketika menyusun
pembahasan karena hasil tidak mengkhianati data maka hasil pasti bisa
dijelaskan dengan baik, salah satunya, oleh deskripsi data penelitian.
c. Hasil uji hipotesis
Bagian ini menyajikan hasil analisis statistik sebagaimana telah ditentukan
pada bagian metode penelitian. Misalnya, jika hipotesisnya berupa hubungan
pengaruh-memengaruhi, maka hasil analisis yang disajikan adalah hasil analisis
regresi.
Format penyajian pada bagian ini umumnya disesuaikan dengan jenis teknik
analisis yang digunakan. Jika teknik analisisnya adalah regresi, maka hal-hal
penting yang perlu disajikan adalah konstanta, koefisien tiap variabel, t-statistik,
p-value, R2, adjusted R2, F statistik, dan probability F. Jika teknik analisisnya
adalah uji beda rata-rata, maka informasi yang disajikan adalah nilai rata-rata, t-
statistik, dan p-value. Khusus untuk p-value terkadang disajikan dalam bentuk
tanda *), yang mana *) bermakna p-value di bawah 10%, **) bermakna p-value di
bawah 5%, dan ***) bermakna p-value di bawah 1%.
Pada narasi tentang hasil uji hipotesis ini penelitian menunjukkan variabel-
variabel mana saja yang mendukung/tidak mendukung hipotesis penelitian.
Dengan demikian, hasil analisis tersebut menjadi referensi dalam menyimpulkan
dukungan/tidak atas hipotesis penelitian.
8. Pembahasan
Bagian pembahasan penyajikan diskusi hasil uji hipotesis yang telah diketahui
pada bagian analisis data penelitian. Secara umum, hipotesis bisa didukung atau tidak
didukung oleh bukti empiris. Pembahasan untuk hipotesis yang didukung oleh bukti
empiris relatif mudah karena hasil tersebut mengkonfirmasi argumentasi yang dibangun
ketika merumuskan hipotesis. Tambahan pembahasan untuk hipotesis yang terdukung
bukti empiris bisa ditambahkan dari deskripsi variabel atau informasi aktual di lapangan.
Bagaimana jika hipotesis tidak didukung oleh bukti empiris? Ini merupakan
tantangan bagi peneliti. Justru ketika terjadi hal demikian, penelitian dituntut untuk
mencari teori dan penelitian-penelitian terdahulu yang lain untuk memberikan
argumentasi atas temuan tersebut. Tidak perlu khawatir ketika hipotesis tidak terdukung
karena tiap teori pasti ada lawannya. Demikian pula hasil-hasil penelitian, tidak ada yang
100% mendukung teori tertentu. InsyaAlloh semua ada jawabannya dan ada referensinya.
Jadi, apapun hasil uji hipotesisnya, tidak perlu khawatir.
Hal penting yang perlu diingat dalam menyusun pembahasan adalah
pertanggungjawaban ilmiah atas tiap argumentasi yang disajikan. Argumentasi tersebut
boleh dari logika, fakta di lapangan, penelitian terdahulu, atau teori. Selain itu, dalam
penyusunan pembahasan juga diperlukan perhatian atas penyusunan argumentasi agar
memudahkan pembaca dalam memahami maksud peneliti dalam menyampaikan hasil
penelitian. Hal tersebut bisa dicapai dengan menyusun argumentasi secara runtut
berdasarkan urutan sebab akibat atau urutan keterjadiannya. Jika sifat argumentasinya
paralel, maka penyusunannya bisa disesuaikan berdasarkan sifatnya. Bisa dari umum ke
khusus, atau sebaliknya.
9. Penutup
Penutup adalah bagian terakhir dari bab-bab berkas inti laporan penelitian. Isi bab
penutup adalah simpulan dan saran. Bagian simpulan menyajikan hasil penelitian secara
umum. Bagian tersebut juga menyajikan makna penelitian. Jika temuannya adalah A,
maka apa maknanya? Apakah temuan tersebut bagus/tidak, mendukung/tidak mendukung
teori tertentu, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, pada bagian saran peneliti menyajikan perbaikan-perbaikan yang bisa
dilakukan oleh peneliti selanjutnya, praktisi, maupun regulator. Tentu saja saran tersebut
berbasis pada temuan-temuan penelitian atau dari pengalaman peneliti selama proses
penelitian.
10. Format penulisan