Anda di halaman 1dari 4

RANGKUMAN BUKU PSIKOLOGI KEMATIAN

Bagian Pertama

Makna Kelahiran Manusia

o Tidak ada perintah maupun larangan agama untuk menyelenggarkan


peringatan ulang tahun. Ini wilayah netral, mubah, dan bisa menjadi
kebaikan asal saja diselenggarakan dengan baik, bertujuan baik, dan
dampaknya pun baik.
o Setiap hari adalah hari kelahiran dan juga hari kematian. Dalam
psikologi Al-Quran, tidur diserupakan mati karena sewaktu tidur kita
tidak dapat berkuasa lagi untuk mengendalikan tubuh. Sebagaimana
setiap malam ketika tidur adalah kematian, maka setiap pagi adalah
kelahiran yang terjadi ketika terbangun dari tidur. Adapun yang kita
lakukan sewaktu di siang harinya akan menentukan cerita mimpi di
malam harinya.
o Apapun yang kita lakukan, ke manapun kaki melangkah, yang menjadi
pusat gravitasi atau kiblat adalaha Allah. Untuk menjaga kondisi itu,
Rasulullah mengajarkan untuk shalat. Adapun shalat adalah sebuah
peristiwa emosional-spiritual ketika sang aku yang fitri dan spiritual
bertemu Allah Yang Mahakasih.
o Manusia punya hak yang sama untuk bermain-main dan menikmati
semua fasilitas yang tersedia di muka bumi ini.
o Segala sesuatu yang pasti akan terjadi, berarti dekat. Sama halnya
dengan kematian adalah sebuah kepastian. Maka mati adalah dekat,
bahkan lebih dekat dari kemungkinan kamu jadi orang kaya atau
sarjana.
o Hakikat jagad semesta ini terlalu akbar untuk diketahui secara pasti
karena manusia sendiri hadir dan terus menghilang dalam rentangan
ruang dan waktu yang dia sendiri tidak tahu persis ujung dan
pangkalnya.
o Jagad raya adalah hamparan teks sabda Tuhan untuk dibaca bagi
mereka yang memiliki akal budi yang bersih dan hening.
o Sebagai agen Tuhan, manusia diberi keunggulan tertentu, terutama
pada kapasitas: head, heart, dan hand. Head bekerja dalam tataran
bahasa abstraksi, heart tampil memberikan energi dan motivasi, lalu
hand terampil melaksanakan cetak biru head dan kehendak heart
untuk diwujudkan dalam praksis.
o Perjalanan panjang sabda Tuhan yang kemudian ditransformasikan
manusia dengan kemampuan bahasanya, pada gilirannya menjelma
menjadi kebudayaan. Dari situ kebudayaan dapat diartikan sebagai
manifestasi dari kapasitas bahasa akal budi serta aktualisasi dari
kebebasan manusia untuk menjadikan sabda menjadi budaya. Sebagai
contohnya adalah fenomena negara, birokrasi, perilaku politik, dan
segala macam aturan serta norma kehidupan manusia tak lain adalah
teks yang tertulis dan terlembagakan dalam kertas maupun lembaran
sosial sebagai ekspresi bahasa batin (inner language) ke dalam bahasa
praksis (praxis language).
o Bahasa dapat diekspresikan dalam bentuk ucapan, tulisan, gerak
tubuh (body language) dan beragam ekspresi lainnya. Adapun dalam
dunia akademis, bahasa tulisan dijadikan standar karya keilmuan agar
kapasitas keilmuannya mudah diuji dan diapresiasi oleh orang lain.
o Bahasa bukan sekadar media komunikasi belaka, melainkan sebuah
realitas ontologis yang bereksistensi dan tumbuh dalam panggung
sejarah. Oleh karena itu ekspresinya yang paling komunikatif dan
berpengaruh adalah ucapan serta tulisan.
o Pelecehan bahasa sama halnya dengan pelecehan martabat serta
peradaban manusia yang dapat mengakibatkan rusaknya tatanan
kosmik.
Bagian Kedua

Spiritualitas dan Kegelisahan Manusia

o Merupakan hukum alam dan hukum sejarah yang ditetapkan Tuhan


bahwa pribadi yang mau tumbuh dan berkembang kuat mesti
dihadapkan terlebih dahulu dengan problem dan hambatan agar
seseorang atau bangsa dipaksa untuk menggali dan mengembangkan
potensinya yang masih terpendam.
o Manusia bebas memilih jalan hidup dengan menggunakan fasilitas
yang dimiliki, terutama emosi, pikiran, hati, dan fisiknya.
o Semua agama, agama wahyu maupun bukan, pada akhirnya akan
berdiri di hadapan sejarah untuk di uji. Memimpikan ada hanya satu
agama di muka bumi ini adalah suatu utopia.
o Pendeknya agama berusaha membimbing dan menyandarkan manusia
untuk mampu melihat realitas lain yang lebih hakiki, yakni realitas
ilahi.
o Bagi cahaya, visi, dan kesadaran spiritualitas keagamaan mampu
menembus kabut kegelapan yang menghalangi pandangan mata
sehingga realitas yang lebih jauh dan lebih hakiki tidak tampak.
o Dalam pandangan Al-Quran, makin tinggi kesadaran keberagamaan
seserorang, mestinya makin tinggi juga kualitas kemanusiaannya.
o Rentangan spektrum ilahi di satu sisi dan spektrum kemanusiaan di sisi
lain, keduanya akan menyatu dalam sebuah kesadaran. Maka seorang
mukmin dalam perilaku kemanusiaannya terkandung kualitas ilahi, dan
kehangatan dalam bertuhan hendaknya terefleksikan dalam perilaku
kemanusiaannya.
o Manusia tidak bisa dipahami tanpa keterkaitannya dengan Tuhan dan
keterkaitannya dengan manusia lain dalam kehidupan sosial.
o Terdapat kecenderungan pada suatu lapisan atau kelompok sosial
tertentu kearah situasi keterasingan atau alienasi, yang terbagi
menjadi tiga kelompok. Pertama, mereka yang teralienasikan dari
Tuhannya. Kedua, mereka yang teralienasi dari lingkungan sosialnya.
Dan ketiga, mereka yang teralienasikan dari Tuhannya juga lingkungan
sosialnya.
o Realitas metafisis memiliki cara pandang aliran positivism-saintisme,
yang merupakan realitas simbolik dan metafisik dilihat sebagai hasil
evolusi dari realitas materi (downward causation). Ini berbeda dengan
pandangan orang beriman, yang berkeyakinan bahwa realitas materi
yang kasatmata adalah derivasi dari realitas yang lebih tinggi (upward
causation).
o Di dalam aliran pemikiran dan situasi psikologis masyarakat modern,
terdapat tanda-tanda yang cukup kuat bahwa keyakinan dan
kebutuhan orang akan dunia spiritualitas semakin menguat.
o Keyakinan dan perasaan akan kemahahadiran Tuhan memberikan
kekuatan, pengendalian, dan sekaligus kedamaian hati seseorang,
sehingga yang bersangkutan senantiasa merasa berada dalam orbit
Tuhan, bukannya putaran dunia yang tak jelas lagi ujung pangkalnya.
o Dalam implikasi praktis gerakan spiritualitas, kebertuhanan dan
keberperikemanusiaan merupakan poros dan sekaligus tolok ukur
untuk mengevaluasi sejarah.
o Di era globalisasi, spiritualitas tanpa agama merupakan tantangan
dan sekaligus peluang bagi Islam untuk berkiprah dengan daya
jangkau yang lebih luas lagi ketimbang masa-masa sebelumnya.
o Agama di mata bangsa Barat, telah mengalami degradasi karena
begitu banyaknya mitos-mitos dan juga telah institutionalized, yang
pada gilirannya tampil sebagai gerakan ideologi yang bersifat tertutup.
o Manusia merupakan makhluk spiritual puncak ciptaan Tuhan dan oleh
karena itu watak dasar manusia adalah bersifat baik.