Anda di halaman 1dari 10

STRUKTUR ATOM

A. Partikel penyusun atom

Kata atom berasal dari bahasa yunani atomos yang


artinya tidak dapat dibagi bagi Berdasarkan teori atom dalton,
Atom sebagai unit terkecil dari suatu unsur yang dapat melakukan
penggabungan kimia. Dalton membayangkan suatu atom yang
sangat kecil yang tidak dapat dibagi. Tetapi serangkaian
penyelidikan yang dilaksankan pada tahun 1850-an dan dilanjutkan
pada abad ke-19 secara jelas menunjukkan bahwa atom
sesungguhnya memiliki struktur internal; yaitu atom tersusun atas
paertikel-partikel yang lebih kecil lagi, yang disebut partkel
subatom. Para ahli meyakini bahwa model atom yang
menggambarkan atom terdiri atas inti atom yang berukuran kecil
dan dikelilingi oleh elektron-elektron yang erada sebagai awan di
seputar inti atom. Inti atom terdiri atas proton dan neutron. Partikel
penyusun inti atom sebagai berikut

a. Atom terdiri atas tiga macam partikel dasar, yaitu proton,


neutron dan elektron
b. Proton dan neutron berada dalam inti atom
c. Elektron berada dalam ruang seputar inti
(Ratih.2013:14)

Elektron
Pada tahun 1890-an banyak ilmuan berlomba-lomba meneliti
melalui radiasi yaitu pemancaran dan permabatan melalui ruang
dalm bentuk gelombang. Informasi yang diperoleh dari penelitian
ini memeberikan sumbangan besar pada pemahaman struktur atom
salah satu alat yang digunakan untuk menyelidiki fenomena ini
adalah tabung sinar katoda, cikal bakal dari tabung televisi. Tabung

1
itu berupa tabung kaca yang sebagian besar udaranya sudah disedot
keluar. Ketika dua lempeng logam dihubungkan dengan sumber
tegangan tinggi, lempeng yang bermuatan negatif disebut katoda
memancarkan sinar yang tidak terlihat. Sinar katoda ini tertarik ke
lempeng bermuatan positif yang disebut anoda, dimana sinar itu
akan melalui suatu lubang dan terus merambat menuju ujung tabung
yang satunya. Ketika sinar itu menumbuk permukaan yang telah
dilapisi secara khusus, sinar katoda tersebut menghasilkan pendaran
yang kuat, atau cahaya yang terang. Karena sinar katoda ditarik
oleh lempeng yang bermuatan positif dan ditolak lempeng yang
bermuatan negatif, sinar tersebut harus terdiri dari partikel-partikel
yang bermuatan negatif. Partikel-partikel bermuatan negatif tersebut
disebut elektron.
Massa sebuah elektron dapat dihitung mnggunakan rumus berikut:
Massa satu elektron = muatan : muatan/massa.

Elektron diberi lambang :

0
-1 e
Keterangan :
e = lambang elektron
-1 = muatan
0 = massa

Proton dan inti


Pada tahun 1910, seorang fiskawan Selandia Baru Ernest
Rutherford memutuskan untuk menggunakan partikel alfa untuk
mengetahui struktur atom. Bersama rekannya Hans Geiger dan
mahasiswa yang bernama Ernest Marsden, Rutherford melakukan
serangkaian percobaan dengan menggunakan lembaran emas yang
sangat tipis dan logam lainnya sebagai sasaran untu partikel alfa
yang berasal dari sebuah sumber radioaktif. Mereka mengamati
bahwa sebagian besar partikel menembus lembaran tanpa

2
membelok atau hanya sedikit membelok. Mereka juga mengamati
ada partikel alfa yang dihamburkan (atau dibelokkan) dengan sudut
yang besar. Pada beberapa kesempatan, partikel alfa dipantulkan
kembali kearah datangnya. Menurut proposisi Rutherford, muatan
positif atom seluruhnya terkumpul dalam inti, yaitu suatu inti pusat
yang padat yang terletak didalam atom. Setiap kali partikel alfa
mendekat ke inti dalam percobaan hamburan, partikel ini
mengalami gaya tolak yang besar sehingga partikel ini membelok
jauh. Bahkan, partikel alfa yang langsung menuju inti akan
mengalami tolakan yang sangat besar sehingga dapat berbalik
kembalik ke arah datangnya. (Raimond Chang. 2004:33-34)
Partikel-partikel bermuatan positif dalam inti disebut proton. Dalam
percobaan terpisah, ditemukan bahwa muatan setiap proton
mempunyai magnitudo (besar) yang sama dengan elektron dan
bahwa massanya adalah 1,67262 x 10-24 g sekitar 1840 kali massa
elektron yang muatannya berlawanan.

Proton diberi lambang :

1
+1 p
Keterangan :
p = lambang elektron
+1 = muatan
1 = massa

Neutron
Model struktur atom Rutherford menyisahkan sebuah masalah
penting yang belum terpecahkan. Telah diketahui bahwa hidrogen,
atom yang paling sederhana, mengandung hanya satu proton dan
bahwa atom helium mengandung dua proton. Jadi, perbandingan
massa atom helium dan atom hidrogen 2:1 (karena massa elektron

3
jauh lebih ringan daripada massa proton, pengaruhnya dapat
diabaikan). Tapi dalam kenyataannya, perbandingannya adalah 4:1.
Rutherford dan rekan-rekannya mempostulatkan bahwa pastilah
terdapat jenis partikel sub atom. Pembuktiannya diberikan oleh
fiskawan Inggris yang lain, James Chadwick, pada tahun 1932.
Ketika Chadwick menembakkan parikel alfa ke selembar tipis
birilium, logam tersebut memancarkan radiasi yang berenergi
sangat tinggi yang serupa dengan sinar gamma. Percobaan
selanjutnya menunjukkan bahwa sinar itu sesungguhnya terdiri dari
partikel netral yang mempunyai massa sedikit lebih besar daripada
massa proton. Partikel ini disebut neutron.

Neutron diberi lambang :

1
0 n
Keterangan :
n = lambang elektron
0 = muatan
1 = massa

Partikel-paritikel penyusun atom

B. Isotop

4
Kata isotop berasal dari bahasa yunani yang berarti tempat yang
sama karena mereka mempunyai tempat yang sama karena mereka
mempunyai nomor atom yang sama sehingga isotop-isotop dari suatu
unsur yang sama menempati posisi yang sama dalam tabel periodik
unsur. Isotop sebenarnya adalah atom-atom dari unsur-unsur yang
sama, yang mempunyai nomor massa (A) berbeda karena
mengandung jumlah neutron yang berbeda (Sri Mulyani. 2005 : 34)

C. Nomor atom dan nomor massa

Nomor atom suatu unsur menunjukkan jumlah proton yang


terdapat didalam sebuah atom. Nomor atom (disingkat NA)
diberi lambang Z. Nomor atom suatu unsur merupakan suatu
ciri khas atom unsur tersebut. Muatan atom suatu unsur selalu
netral. Oleh karena itu, jumlah proton selalu sama dengan
jumlah elektron. Dengan demikian, hubungan antara nomor
arom, proton, dan elektron dapat dituliskan sebagai berikut.
(Sutresna.2012:17)

Nomor atom = Z = jumlah proton = jumlah neutron

Nomor massa menggambarkan massa partikel-partikel


penyusun atom yaitu massa proton, massa elektron dan massa
neutron. Massa elektron sangat kecil dibandingkan dengan
massa proton dan sehingga massa elektron ini dapat diabaikan.
Nomor massa (NM) diberi notasi A dan didefenisikan sebagai
jumlah proton dan jumlah neutron. Hubungan antara nomor
massa, proton, dan neutron dapat dituliskan sebagai berikut. .
(Sutresna.2012:17)

Nomor massa = A = jumlah proton + jumlah neutron

5
D. Sifat periodik unsur

Sifat-sifat unsur yang dapat menjelaskan kereaktifan suatu unsur


di antaranya adalah jari-jari atom, keelektronegatifan, energi ionisasi
afinitas elektron, sifat logam dan nonlogam serta kereaktifan. Sifat-
sifat unsur tersebut erat hubungannya dengan konfigurasi elektron,
sehingga berhubungan langsung denhgan golongan dan periode.

1. Jari-jari atom
Gambar di bawah ini memperlihatkan data jari-jari atom. Jari-jari
atom adalah jarak elektron terluar ke inti atom dan menunjukan
ukuran suatu atom. Jari-jari atom sukar diukur sehingga pengukuran
jari-jari atom dilakukan dengan cara mengukur jarak inti antardua
atom yang berikatan sesamanya.

kecenderungan jari-jari atom Pada gambar di atas terlihat bahwa


dalam satu golongan, jari-jari atom semakin ke bawah cenderung
semakin besae. Hal ini terjadi karena semakin ke bawah, kulit
elektron semakin besar. Dalam satu periode, semakin ke kanan jari-
jari atom cenderung semakin kecil. Hal ini terjadi karena semakin ke
kanan jumlah proton dan jumlah elektron semakin bertambah
sedangkan jumlah kulit terluar yang terisi elektron tetap sama
sehingga tarikan inti terhadap elektron semakin kuat. Gambar di atas
menunjukan keteraturan perubahan jari-jari atom yang merupakan
sifat periodik unsur.

6
2. Keelektronegatifan
Keelektronegatifan adalah besaraan tendensi (kecenderungan) suatu
atom untuk menarik elektron. Harga keelektrogenatifan bersifat
relatif (berupa harga perbandingan suatu atom terhadap atom yang
lain). Salah satu definisi kelektronegatifan adalah definisi Pauling
yang menghasilkan data skala kuantitatif seperti pada gambar di
bawah.

sifat periodik unsur kecenderungan nilai keelektronegatifan unsur

Dalam satu golongan, harga keelektronegatifan dari bawah ke atas


semakin besar. Dalam satu periode, dari kiri ke kanan harga
keelektronegatifan semakin besar.

Harga keelektronegatifan peenting untuk menentukan bilangan


oksidasi (biloks) unsur dalam suatu senyawa. Jika harga
keelektronegatifan besar, berarti unsur yang bersangkutan cenderung
menerima elektron dan membentuk bilangan oksidasi negatif. Jika
harga keelektronegatifan kecil, unsur cenderung melepaskan
elektron dan membentuk bilangan oksidasi positif. Jumlah atom
yang diikat bergantung pada elektron valensinya (akan dibahas pada
bagian ikatan kimia).

Jadi sifat periodik unsur, keelektronegatifan adalah suatu bilangan


yang menggambarkan kecenderungan relatif suatu unsur menarik
elektron ke pihaknya dalam suatu ikatan kimia.

7
3. Energi Ionisasi (Ei)
Energi ionisasi adalah energi minimum yang diperlukan atom
netral dalam wujud gas untuk melepas suatu elektron paling luar
(yang terikat paling lemah) membentuk ion positif. Pelepasan
elektron kedua (dari ion positif satu) disebut energi ionisasi kedua,
pelepasan elektron ketiga disebut energi ionisasi ketiga, dan
seterusnya. Tahapan pelepasan elektron tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut:

M(g) M+(g) + e Ei-1

M+(g) M2+(g) + e Ei-2

Harga energi ionisasi dipengaruhi oleh jari-jari atom dan jumlah


elektron valensi atau muatan inti. Semakin kecil jari-jari atom, harga
energi ionisasi akan semakin besar. Semakin besar muatan inti,
energi ionsasi cenderung akan semakin besar.

4. Afinitas Elektron
Afinitas elektron adalah energi yang dibebaskan oleh siatu atom
dalam wujud gas ketika menerima sebuah elektron. Harga afinitas
elektron sukar ditentukan secara langsung. Harga afinitas elektron
beberapa unsur terlihat pada gambar di bawah ini. Tanda negatif
menunjukan energi dilepaskan.
sifat periodik unsur Afinitas elektron unsur-unsur golongan utama

8
5. Sifat Logam dan Nonlogam
Secara kimia, sifat logam dikaitkan dengan keelektropositifan, yaitu
kecenderungan atom melepas elektron untuk membentuk ion
positif. Jadi, sifat logam akan bergantung pada energi ionisasi.
Semakin besar energi ionisasi, untuk melepas elektron, dan semakin
berkurang sifat logamnya. Sebaliknya sifat nonlogam dikaitkan
dengan keelektronegatifan, yaitu kecenderungan atom menarik
elektron. Sesuai dengan kecenderungan energi ionisasi dan
keelektronegatifan yang telah dibahas di atas, maka sifat logam dan
nonlogam dalam sistem periodik unsur adalah sebagai berikut:

Dari kiri ke kanan dalam satu periode, sifat logam berkurang,


sedangkan sifat nonlogamnya bertambah.
Dari atas ke bawah dalam satu golongan, sifat logam bertambah,
sedangkan sifat nonlogam berkurang.

Jadi, unsur logam terletak pada bagian kiri-bawah sistem periodik


unsur, sedangkan unsur nonlogam terletak pada bagian kanan-atas.
Akan tetapi, yang paling bersifat nonlogam adalah golongan VIIA,
bukan golongan VIIIA. Unsur yang terletak pada bagian tengah,
yaitu unsur yang terletak di daerah perbatasan antara logam dan
nonlogam, mempunyai sifat logam sekaligus sifat nonlogam.
Unsur-unsur itu disebut unsur metaloid. Contohnya boron dan
silikon.

6. Kereaktifan (kemudahan berekasi)

Kereaktifan suatu unsur bergantung pada kecenderungannya


melepas atau menarik elektron. Jadi, unsur logam yang paling
reaktif adalah golongan IA (logam alkali), sedangkan nonlogam
yang paling reaktif adalah golongan VIIA (halogen). Dari kiri ke
kanan dalam satu periode,mula-mula kerekatifan menurun
kemudian bertambah hingga ke golongan VIIA. Golongan VIIIA
tidak reaktif.

(Sumber Advanced Learning Chemistry karangan Nana sutres)na

9
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2004. KIMIA DASAR JILID 1 EDISI KETIGA.


Jakarta: erlangga .

Mulyani, Sri. 2015. KIMIA DASAR JILID 1. Bandung : Alfabet .

Sutresna, Nana.2012. Advanced learning chemistry.Bandung : Grafindo.

Ratuh, dkk.2013.Sains kimia.Jakarta: Bumi aksara

10