Anda di halaman 1dari 5

Resusitasi Jantung paru

CARDIO PULMONARY RECUCITATION

Keadaan gawat darurat bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan juga pada siapa saja. Keadaan ini
menuntut masyarakat agar mereka mengetahui bagaimana tindakan pertolongan pertama pada
korban yang dalam keadaan tersebut diatas. Resusitasi Jantung Paru atau disingkat RJP
merupakan pertolongan pertama yang diberikan kepada seseorang yang mengalami henti nafas,
dengan tujuan agar orang tersebut dapat pulih kembali dan terhindar dari kematian.

CardioPulmonary Resucitation (CPR) adalah segala usaha tindakan dan teknik yang dipakai
untuk mengembalikan sirkulasi spontan. CardioPulmonary Resucitation (CPR) merupakan
gabungan antara pijat jantung dan pernafasan buatan. Teknik ini diberikan pada korban yang
mengalami henti jantung dan nafas, tetapi masih hidup. CardioPulmonary Resucitation (CPR)
merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi
pada henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang dimana
fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya
bila kedua fungsi tersebut bekerja kembali.

Tujuan CPR
Tujuan utama dari CPR adalah memberikan oksigen ke otak dan jantung sampai dimulainya
pegobatan medik yang definitif dan tepat sehingga dapat mengembalikan fungsi jantung dan paru
kembali normal.
Resusitasi jantung paru bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi,
dan penanganan akibat henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest),
yang mana fungsi tersebut gagal total oleh sebab yang memungkinkan untuk hidup normal.
Kebanyakan henti jantung yang terjadi di masyarakat merupakan akibat penyakit jantung
iskemik, 40 % mati mendadak. Dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu satu jam
setelah dimulainya gejala dan proporsinya lebih tinggi, sekitar 60 % diantara umur pertengahan
dan yang lebih muda. Lebih dari 90 % kematian yang terjadi di luar rumah sakit disebabkan oleh
fibrilasi ventrikuler, suatu kondisi yang potensial reversibel.
Indikasi CPR
1. Henti nafas (respiratory arrest)
Henti napas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernapasan dari
korban/pasien. Henti napas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup
Dasar.
Henti napas dapat terjadi pada keadaan :
Tenggelam
Stroke (Mempunyai riwayat hipertensi, trus tiba-tiba jatuh/pingsan)
Obstruksi jalan napas (Kerusakan daerah tenggorokan)
Epiglotitis (Peradangan Pita Suara)
Overdosis obat-obatan
Infark miokard (Serangan Jantung)
Tersambar petir
Koma akibat berbagai macam kasus (Pingsan tanpa penyebab)
Tersengat listrik
Tercekik
Inhalasi asap
pipa trakhea terlipat
kanula trakhea tersumbat

2. Henti jantung (Cardiac Arrest)


Cardiac Arrest adalah hentinya jantung dan peredaran darah secara iba-tiba, pada seseorang yang
tadinya tidak apa-apa, merupakan keadaan darurat yang paling gawat.

Penyebab Cardiac Arrest :


Asfiksia dan Hipoksia
Serangan jantung
Syok listrik
Obat-obatan
Reaksi sensitifitas
Kateterisasi jantung
Anastesi
Gangguan elektrolit (Hipokalemi, Hiperkalemia, Hipermagnesia)
Penekanan mekanik pada jantung ( Tanmponade jantung, Tension Pneumothoraks)

Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi darah. Henti sirkulasi
ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernapasan yang
terganggu (tersengal-sengal) merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung.

Henti jantung dapat diketahui dari :


Hilangnya denyut nadi pada arteri besar (nadi femoralis dan carotis pada orang dewasa atau
brakialis pada bayi)
Korban kehilangan kesadaran
Korban tampak seperti mati (death like appeareance)
Hilangnya gerakan bernafas atau megap-megap (gasping)
Warna kulit pucat
Pupil dilatasi (setelah 45 detik)

LANGKAH LANGKAH CPR DEWASA DENGAN SATU PENOLONG


1. Evaluasi respon korban.
(Panggil , Tepuk, Goyang pundak korban)
Hindari mengguncang korban dengan kasar karena dapat menyebabkan cidera. Juga hindari
pergerakan leher yang tidak perlu bila ada cidera kepala dan leher.
Jika korban tidak berespon, berarti korban tidak sadar.

Korban tidak sadar mungkin karena :


Sumbatan jalan nafas karena makanan, sekret, atau lidah yang jatuhke belakang
Henti nafas
Henti jantung, yang umumnya disebabkan serangan jantung

2. Minta Pertolongan dan aktifkan sistem Emergensi.


Penolong harus segera mengaktifkan EMS setelah dia memastikan korban tidak sadar dann
membutuhkan pertolongan medis.
Jika terdapat orang lain di sekitar penolong, minta dia untuk melakukan panggilan. Saat
menghubungi EMS, sebutkan :
Lokasi korban
Nomor telepon yamg bisa dihubungi
Apa yang terjadi (misalnya serangan jantung / tidak sadar)
Jumlah korban
Dibutuhkan ambulan segera
Tutup telepon setelah diinstruksikan oleh petugas

3. Memposisikan korban.
Korban harus dibaringkan di atas permukaan yang keras dan datar agar Resusitasi jantung paru
efektif. Jika korban menelungkup atau menghadap ke samping, posisikan korban terlentang.
Perhatikan agar kepala, leher dan tubuh tersangga, dan balikkan secara simultan saat merubah
posisi korban.

4. Buka jalan nafas.


Tengadahkan kepala, angkat dagu, tarik dagu (Head tilt, Chin lift, dan Jaw thrust).
Lakukan manuver Head tilt Chin lift untuk membuka jalan nafas.Pada korban tidak sadar, tonus
otot terganggu sehingga lidah jatuh ke belakang dan menutup jalan nafas. Pada dasarnya lidah
melekat pada rahang bawah sehingga menggerakkan rahang bawah ke atas akan menarik lidah
menjauh dari tenggorokan dan membuka jalan nafas.

Memeriksa jalan nafas (Airway) :


Buka mulut dengan hati hati dan periksa bilamana ada sumbatan benda asing
Gunakan jari telunjuk untuk mengambil semua sumbatan
benda asing yang terlihat, seperti makanan, gigi yang lepas, atau cairan.
Perhatian :
Jangan menekan jaringan lunak di bawah dagu terlalu dalam, karena dapat menimbulkan
obstruksi jalan nafas
Jangan melakukan sapuyan jari tanpa melihat, hal ini dapat mendorong benda asing kembali ke
jalan nafas
Lakukan pengangkatan dagu dengan hati hati bila diduga adanya cedera kepala dan leher

5. Cek pernafasan (Breating).


Dekatkan telinga dan pipi anda ke mulut dan hidung korban untuk mengevaluasi pernafasan
(sampai 10 detik)
Melihat pergerakan dada
Mendengarkan suara nafas
Merasakan hembusan nafas dengan pipi

6. Bantuan nafas dari mulut ke mulut.


Bila tidak ada pernafasan spontan, lakukan bantuan nafas dari mulut ke mulut.

Untuk melakukan bantuan nafas dari mulut ke mulut :


Pertahankan posisi kepala tengadah dan dagu terangkat
Tutup hidung dengan menekankan ibu jari dan telunjuk untuk mencegah kebocoran udara
melalui hidung korban
Mulut anda harus melingkupi mulut korban
Tiupkan 2 pernafasan buatan perlahan (1,5 2 detik per- pernafasan ) dan amati gerak dada)
Lepaskan tekanan pada cuping hidung sehingga memungkinkan terjadinya ekspirasi pasif
setelah tiupan
Setiap nafas bantuan harus dapat mengembangkan dinding dada
Durasi tiap tiupan adalah 1 detik
Volume ventilasi antara 400-600 ml
Apabila volume udara yang dihembuskan terlalu besar, udara dapat masuk ke lambung dan
menyebabkan distensi lambung

7. Periksa nadi / tanda-tanda sirkulasi.


Pertahankan posisi Head tilt, tentukan letak jakun atau bagian tengah tenggorokan korban
dengan jari telunjuk dan tengah
Geser jari anda ke cekungan di sisi leher yang terdekat dengan anda (lokasi nadi carotis)
Tekan dan raba dengan hati-hati nadi carotis raba selama 10 detik, dan perhatikan tanda-tanda
sirkulasi (kesadaran, gerakan, pernafasan, atau batuk)
Jika denyut nadi tidak teraba, mulai lakukan CPR

8. Tentukan Land Mark untuk kompresi dada.


Teknik kompresi dada terdiri dari tekanan ritmis berseri pada pertengahan bawah sternum (tulang
dada).

Cara menentukan posisi tangan yang tepat untuk kompresi dada adalah sebagai berikut :
Pertahankan posisi Head tilt, telusuri batas bawah tulang iga dengan jari tengah sampai ke
ujung sternum
Letakkan jari telunjuk di sebelah jari tengah
Letakkan tumit telapak tangan di sebelah jari telunjuk

9. Lakukan Teknik Kompresi yang benar.


Posisi tangan dan tubuh harus benar
Angkat jari telunjuk dan jari tengah
Letakkan tumit tangan yang lain di atas tangan yang menempel di sternum
Kaitkan jari tangan yang di atas pada tangan yang menempel sternum, jari tangan yang
menempel sternum tidak boleh menyentuh dinding dada
Luruskan dan kunci kedua siku
Bahu penolong di atas dada korban
Gunakan berat badan anda untuk menekan dada dengan tekanan 4-5 cm tegak lurus ke bawah
Katakan hitungan (1-5, 1-10, 1-15, 1-20, 1-25, 1-30)
Berikan 30 kali kompresi dada diikuti dengan 2 tiupan
Lakukan kompresi 100x/menit
Lakukan 5 siklus atau kurang lebih 2 menit

10. Evaluasi
Evaluasi nadi, tanda-tanda sirkulasi dan pernafasan setiap 5 siklus CPR
30 : 2
Jika nadi tidak teraba (bila nadi sulit ditentukan dan tidak didapatkan tanda-tanda sirkulasi,
perlakukan sebagai henti jantung), lanjutkan CPR 30 : 2
Jika nadi teraba, periksa pernafasan
Jika tidak ada nafas, lakukan nafas bantuan 12 x/menit (satu tiupan tiap 5 detik) dengan
hitungan satu ribu, dua ribu, tiga ribu, empat ribu setelah tiap tiupan. Ulangi sampai 12 x
tiupan /menit
Korban harus diletakkan dalam Recovery Potition bila nadi dan nafas adekuat
Evaluasi nadi, tanda-tanda sirkulasi dan pernafasan tiap beberapa menit