Anda di halaman 1dari 34

Jelaskan Disiplin dalam Standar Pelayanan kebidanan

Disiplin SPK :
Rumusan tentang penampilan atau nilai diinginkan yang mampu dicapai, berkaitan
dengan parameter yang telah ditetapkan yaitu standar pelayanan kebidanan yang menjadi
tanggung jawab profesi bidan dalam sistem pelayanan yang bertujuan untuk meningkatan
kesehatan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat
(Depkes RI, 2001: 53).
Manfaat Standar Pelayanan Kebidanan :

1. Standar pelayanan berguna dalam penerapan norma tingkat kinerja yang diperlukan
untuk mencapai hasil yang diinginkan

2. Melindungi masyarakat

3. Sebagai pelaksanaan, pemeliharaan, dan penelitian kualitas pelayanan

4. Untuk menentukan kompetisi yang diperlukan bidan dalam menjalankan praktek


sehari-hari

5. Sebagai dasar untuk menilai pelayanan, menyusun rencana pelatihan dan


pengembangan pendidikan

(Depkes RI, 2001:2)

Dasar hukum penerapan SPK adalah:

1. Undang-undang kesehatan Nomor 23 tahun 1992

2. Pertemuan Program Safe Motherhood dari negara2 di wilayah SEARO/Asia tenggara


tahun 1995 tentang SPK

3. Pertemuan Program tingkat propinsi DIY tentang penerapan SPK 1999

4. Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi


dan praktek bidan. Pada BAB I yaitu tentang KETENTUAN UMUM pasal 1 ayat 6
yang berbunyi Standar profesi adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai
petunjuk dalam melaksanakan profesi secara baik.
Standar outcome
1. Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional
terhadap klien
2. Dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif maupun
negatif
3. Outcome jangka pendek adalah hasil dari segala suatu tindakan tertentu atau prosedur
tertentu
4. Outcome jangka panjang adalah status kesehatan dan kemampuan fungsional klien
KEPUASAN PELANGGAN
Tingkat keadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari
membandingkan pemampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam hubungannya
dengan harapan seseorang
Ada 3 tingkat kepuasan :
Bila penampilan kurang dari harapan pelanggan tidak dipuaskan
Bila penampilan sebanding dengan harapan, pelanggan puas
Apabila penampilan melebihi harapan, pelanggan amat puas atau senang
Nilai standart kepuasan :

a. Penampilan yg diperkirakan

b. Kewajaran

c. Berdasarkan norma, pengalamam

d. Nilai

e. Teloransi umum

f. Ideal

g. Keinginan atau janji penjual

h. kepantasan
Faktor2 yg mempengaruhi kepuasan :

1. pemahaman pengguna jasa tentang jenis pelayanan yang akan diterimanya

2. Empati (sikap peduli) yang ditunjukan oleh para petugas kesehatan

3. Biaya (cost)

4. Bukti langsung penampilan fisik (tangibility)

5. jaminan keamamnan yang ditunjukkan petugas kesehatan (assurance)

6. Kehandalan (reliability)

7. Daya tanggap (responsiveness)

Pelyanan medis yg baik :


1. Praktek rasional berdasarkan ilmu pengetahuan
2. Menekankan pencegahan
3. Memerlukan kerjasama yg cerdik
4. Memperlakukan individu seutuhnya
5. Mempertahankan hubungan pribadi akrab
6. Dikoordinasikan dgn pekerjaan kesejahteraan sosial
7. Mengkoordinasikan semua jenis plyn kesh
8. Pelaksanaan semua pely yg di perlukan

Jelaskan Bagaimana upaya Meningkatkan kinerja bidan dikaitkan dengan 4 peran


bidan yaitu sebagai
Pelaksana
pendidik
Peneliti
Pengelola

A. Peran Sebagai Pelaksana


Sebagai pelaksana, bidan memiliki tiga kategori tugas, yaitu tugas mandiri, tugas kolaborasi,
dan tugas ketergantungan.
1. Tugas mandiri
Tugas-tugas mandiri bidan, yaitu:
1) Menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan,
mencakup:
a. Mengkaji status kesehatan untuk memenuhi kebutuhan asuhan klien.
b. Menentukan diagnosis.
c. Menyusun rencana tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapi.
d. Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun.
e. Mengevaluasi tindakan yang telah diberikan.
f. Membuat rencana tindak lanjut kegiatan/tindakan.
g. Membuat pencatatan dan pelaporan kegiatan/tindakan.

2) Memberi pelayanan dasar pranikah pada anak remaja dan dengan melibatkan mereka
sebagai klien, mencakup:
a. Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan anak remaja dan wanita dalam masa pranikah.
b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan pelayanan dasar.
c. Menyusun rencana tindakan/layanan sebagai prioritas mendasar bersama klien.
d. Melaksanakan tindakan/layanan sesuai dengan rencana.
e. Mengevaluasi hasil tindakan/layanan yang telah diberikan bersama klien.
f. Membuat rencana tindak lanjut tindakan/layanan bersama klien.
g. Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan kebidanan.

3) Memberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal, mencakup:


a. Mengkaji status kesehatan klien yang dalam keadaan hamil.
b. Menentukan diagnosis kebidanan dan kebutuhan kesehatan klien.
c. Menyusun rencana asuhan kebidanan bersama klien sesuai dengan prioritas masalah.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah disusun.
e. Mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan bersama klien.
f. Membuat rencana tindak lanjut asuhan yang telah diberikan bersama klien.
g. Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien,
h. Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan kebidanan yang telah diberikan.

4) Memberi asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinar dengan melibatkan
klien/keluarga, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada klien dalam masa persalinan.
b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan dalam masa persalinan.
c. Menyusun rencana asuhan kebidanan bersama klien sesuai dengar prioritas masalah.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah disusun.
e. Mengevaluasi asuhan yang telah diberikan bersama klien.
f. Membuat rencana tindakan pada ibu selama masa persalinan sesuai dengan prioriras.
g. Membuat asuhan kebidanan.

5) Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir, mencakup:


a. Mengkaji status keselhatan bayi baru lahir dengan melibatkan keluarga.
b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir.
c. Menyusun rencana asuhan kebidanan sesuai prioritas.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
e. Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan.
f. Membuat rencana tindak lanjut.
g. Membuat rencana pencatatan dan pelaporan asuhan yang telah diberikan.

6) Memberi asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan
klien/keluarga, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas.
b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan pada masa nifas.
c. Menyusun rencana asuhan kebidanan berdasarkan prioritas masalah.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana.
e. Mengevaluasi bersama klien asuhan kebidanan yang telah diberikan.
f. Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien.
7) Memberi asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan pelayanan
keluarga berencana, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan pelayanan keluarga berencana pada pus (pasangan usia subur)
b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan pelayanan.
c. Menyusun rencana pelayanan KB sesuai prioritas masalah bersama klien.
d. Melaksanakan asuhan sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
e. Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan.
f. Membuat rencana tindak lanjut pelayanan bersama klien.
g. Membuat pencatatan dan laporan.
8) Memberi asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan sistem reproduksi dan wanita
dalam masa klimakterium serta menopause, mencakup:
a. Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan asuhan klien.
b. Menentukan diagnosis, prognosis, prioritas, dan kebutuhan asuhan.
c. Menyusun rencana asuhan sesuai prioritas masalah bersama klien.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana.
e. Mengevaluasi bersama klien hasil asuhan kebidanan yang telah diberikan.
f. Membuat rencana tindak lanjut bersama klien.
g. Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan kebidanan.

9) Memberi asuhan kebidanan pada bayi dan balita dengan melibatkan keluarga, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan sesuai dengan tumbuh kembang bayi/balita.
b. Menentukan diagnosis dan prioritas masalah.
c. Menyusun rencana asuhan sesuai dengan rencana.
d. Melaksanakan asuhan sesuai dengan prioritas masalah.
e. Mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan.
f. Membuat rencana tindak lanjut.
g. Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan.

2. Tugas Kolaborasi
Tugas-tugas kolaborasi (kerja sama) bidan, yaitu:
1) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi
dengan melibatkan klien dan keluarga. mencakup:
a. Mengkaji masalah yang berkaitan dengan komplikasi dan kondisi kegawatdaruratan yang
memerlukan tindakan kolaborasi.
b. Menentukan diagnosis, prognosis, dan prioritas kegawatdaruratan yang memerlukan
tindakan kolaborasi.
c. Merencanakan tindakan sesuai dengan prioriras kegawatdaruratan dan hasil kolaborasi
serta berkerjasama dengan klien.
d. Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana dan dengan melibatkan klien.
e. Mengevaluasi hasil tindakan yang telah diberikan.
f. Menyusum rencana tindak lanjut bersama klien.
g. Membuat pencatatan dan pelaporan.

2) Memberi asu6an kebidanan pada ibu hamil dengan risiko tinggi dan pertolongan pertama
pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan pada kasus risiko tinggi dan keadaan kegawatdaruratan yang
memerlukan tindakan kolaborasi.
b. Menentukam diagnosis, prognosis, dan prioritas sesuai dengan faktor risiko serta keadaan
kegawatdaruratan pada kasus risiko tinggi.
c. Menyusun rencana asuhan dan tindakan pertolongan pertama sesuai dengn prioritas
d. Melaksanalkan asuhan kebidanan pada kasus ibu hamil dengan risiko tinggi dan memberi
pertolongan pertama sesuai dengan prioritas.
e. Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama.
f. Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien.
g. Membuat pencatatan dan pelaporan.
3) Memberi asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan resiko tinggi serta
keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan
kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan risiko
tinggi dan keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
b. Menentukan diagnosis, prognosis, dan prioritas sesuai dengan faktor risiko dan keadaan
kegawatdaruratan
c. Menyusun rrencana asuhan kebidanan pada i6tl dalam masa persalinan dengan risiko tinggi
dan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan risiko tinggi dan
memberi pertolongan pertama sesuai dengan priositas.
e. Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama pada ibu hamil dengan
risiko tinggi.
f. Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien.
g. Membuat pencatatan dan pelaporan.

4) Memberi asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan risiko tinggi serta
pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi
bersama klien dan keluarga, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan pada ibu dalam masa nifas dengan risiko tinggi dan keadaan
kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
b. Menentukan diagnosis, prognosis, dan prioritas sesuai dengan faktor risiko serta keadaan
kegawatdaruratan.
c. Menyusun rencana asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan risiko tinggi dan
pertolongan pertarna sesuai dengan prioritas.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan dengan risiko tinggi dan memberi pertolongan pertama
sesuai dengan rencana.
e. Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama.
f. Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien.
g. Membuat pencatatan dan pelaporan.

5) Memberi asuhan kebidanan pada bay, baru lahir dengan risiko tinggi dan pertolongan
pertama dalam keadaan kegawatdaruraran yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama
klien dan keluarga, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir de ngan risiko tinggi dan
keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
b. Menentukan diagnosis, prognosis, dan prioritas sesuai dengan Faktor risiko serta keadaan
kegawatdaruratan.
c. Menyusun rencana asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan risiko tinggi dan
memerlukan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan risiko tinggi dan pertolongan
pertama sesuai dengan prioritas.
e. Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama.
f. Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien.
g. Membuat pencatatan dan pelaporan.

6) Memberi asuhan kebidanan pada balita dengan risiko cinggi serta pertolongan pertama
dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi betsamut klien dan
keluarga, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan pada balita dengan risiko tinggi dan keadaan
kegawatdaruratan yang nemerlukan tindakan kolaborasi.
b. Menentukan diagnosis, prognosis, dan prioricas sesuai dengan faktor risiko serta keadaan
kegawatdaruratan.
c. Menyvsun rencana asuhan kebidanan pada balita dengan risiko tinggi dan memerlukan
pertolongan pertama sesuai dengan prioritas.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan pada balita dengan risiko tinggi dan pertolongan pertama
sesuai dengan prioritas.
e. Mengevaluasi hasil asuhan kebidaman dan pertolongan pertama.
f. Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien.
g. Membuat pencatatan dan pelaporaan.

3. Tugas ketergantungan
Tugas-tugas ketergantungan (merujuk) bidan, yaitu:
1) Menerapkan manajamen kebidanan ,pada setiap asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi
keterlibatan klien dan keluarga, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebndanan yang memerlukan tindakan di luar lingkup
kewenangan bidan dan memerlukan rujukan.
b. Menentukan diagnosis, prognosis, dan prioritas serta sumbersumber dan fasilitas untuk
kebmuuhan intervensi lebih lanjut bersama klien/keluarga.
c. Merujuk klien uncuk keperluan iintervensi lebih lanjuc kepada petugas/inscitusi pelayanan
kesehaatan yang berwenang dengan dokumentasi yang lengkap.
d. Membuat pencatatan dan pelaporan serta mendokumentasikan seluruh kejadian dan
incervensi.

2) Membeci asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada kasus kehamilan dengan
risiko tinggi serta kegawatdaruratan, mencakup:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan.
b. Menentukan diagnosis, prognosis, dan prioritas.
c. Memberi pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan.
d. Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan.
e. Mengirim klien untuk keperluan intervensi lebih lanjut pada petugas/institusi pelayanan
kesehatan yang berwenang.
f. Membuat pencatatan dan pelaporan serta mendokumentasikan seluruh kejadian dan
intervensi.
3) Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi serta rujukan pada masa persalinan dengan
penyulit tertentu dengan melibatkan klien dan keluarga, mencakup:
a. Mengkaji adanya penyulit dan kondisi kegawatdaruratan pada ibu dalam persalinan yang
memerlukan konsultasi dan rujukan.
b. Menentukan diagnosis, prognosis, dan prioritas.
c. Memberi pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan.
d. Merujuk klien untuk keperluan intervensi lebih lanjut pada petugas/institusi pelayanan
kesehatan yang berwenang.
e. Membuat pencatatan dan pelaporan serta mendokumentasikae seluruh kejadian dan
intervensi.

4) Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu dalam masa nifas
yang disertai penyulit tertentu dan kegawatdaruratan dengan melibatkan klien dan keluarga,
mencakup:
a. Mengkaji adanya penyulit dan kondisi kegawatdaruratan pada ibu dalam masa nifas yang
memerlukan konsultasi serta rujukan.
b. Menentukan diagnosis, prognosis, dan prioritas.
c. Memberi pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan.
d. Mengirim klien untuk keperluan intervensi lebih lanjut pada petugas/institusi pelayanan
kesehatan yang berwenang
e. Membuat pencatatan dan pelaporan serta mendokumentasikan seluruh kejadian dan
intervensi.

5) Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan kelainan tertentu dan
kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi serta rujukan dengan melibatkan keluarga,
mencakup:
a. Mengkaji adanya penyulit dan kondisi kegawatdaruratan pada bayi baru lahir yang
memerlukan konsulrasi serta rujukan.
b. Menentatkan diagnosis, prognosis, dan prioritas.
c. Memberi pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan
d. Merujuk klien untuk keperluan intervensi lebih lanjut pada petugas/institusi pelayanan
kesehatan yang berwenang.
e. Membuat pencatatan dan pelaporan serta dokumentasi.

6) Memberi asuhan kebidanan kepada anak balita dengan kelainan tertentu dan
kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi serta rujukan dengan melibatkan
klien/keluarga, mencakup:
a. Mengkaji adanya penyulit dan kegawatdaruratan pada balita yang memerlukan konsultasi
serta rujukan.
b. Menenrukan diagnosis, prognosis, dan prioritas.
c. Memberi pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan
d. Merujuk klien untuk keperluan intervensi lebih lanjut pada petugas/institusi pelayanan
kesehatan yang berwenang.
e. Membuat pencatatan dan pelaporan serta dokumentasi.

B. Peran Sebagai Pengelola


Sebagai pengelola bidan memiliki 2 tugas, yaitu tugas pengembangan pelayanan dasar
kesehatan dan tugas partisipasi dalam tim.
1. Mengembangkan pelayanan dasar kesehatan
Bidan bertugas; mengembangkan pelayanan dasar kesehatan, terutama pelayanan kebnjanan
untuk individu, keluarga kelompok khusus, dan masyarakat di wilayah kerja dengan
melibatl;can masyarakat/klien, mencakup:
1) Mengkaji kebutuhan terutama yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk
meningkatkan serta mengembangkan program pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya
bersama tim kesehatan dan pemuka masyarakat.
2) Menyusun rencana kerja sesuai dengan hasil pengkajian bersama masyarakat.
3) Mengelola kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu
dan anak serta keluarga berencana (KB) sesuai dengan rencana.
4) Mengoordinir, mengawasi, dan membimbing kader, dukun, atau petugas kesehatan lain
dalam melaksanakan program/kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan anak-serta KB.
5) Mengembangkan strategi untuk meningkatkan keseharan masyarakat khususnya kesehatan
ibu dan anak serta KB, termasuk pemanfaatan sumber-sumber yang ada pada program dan
sektor terkait.
6) Menggerakkan dan mengembanglran kemampuan masyarakat serta memelihara
kesehatannya dengan memanfaatkan potensi-potensi yang ada.
7) Mempertahankan, meningkatkan mutu dan keamanan praktik profesional melalui
pendidikan, pelatihan, magang sena kegiatankegiatan dalam kelompok profesi.
8) Mendokumentasikan seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan.

2. Berpartisipasi dalam tim


Bidan berpartisipasi dalam tim untuk melaksanakan program kesehatan dan sektor lain di
wilayah kerjanya melalui peningkatan kemampuan dukun bayi, kader kesehatan, serta tenaga
kesehatan lain yang berada di bawah bimbingan dalam wilayah kerjanya, mencakup:
1) Bekerja sama dengan puskesmas, institusi lain sebagai anggota tim dalam memberi asuhan
kepada klien dalam bentuk konsultasi rujukan dan tindak lanjut.
2) Membina hubungan baik dengan dukun bayi dan kader kesehatan atau petugas lapangan
keluarga berencaca (PLKB) dan masyarakat.
3) Melaksanakan pelatihan serta membimbing dukun bayi, kader dan petugas kesehatan lain.
4) Memberi asuhan kepada klien rujukan dari dukun bayi.
5) Membina kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat, yang berkaitan dengan kesehatan.

C. Peran Sebagai Pendidik


Sebagai pendidik bidan memiliki 2 tugas yaitu sebagai pendidik dan penyuluh kesehatan bagi
klien serta pelatih dan pembimbing kader.
1. Memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan pada klien
Bidan memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada klien (individu, keluarga,
kelompok, serta maryarakat) tentang penanggulangan masalah kesehatan, khususnya yang
berhubungarn dengan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana, mencakup:
1) Mengkaji kebutuhan pendidikan dan penyuluhan kesehatan, khususnya dalam bidang
kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana bersama klien.
2) Menyusun rencana penyuluhan kesehatan sesuai dengan kebutuhan yang telah dikaji, baik
untuk jangka pendek maupun jangka panjang bersama klien.
3) Menyiapkan alat serta materi pendidikan dan penyuluhan sesuai dengan rencana yang telah
disusun.
4) Melaksanakan program/rencana pendidikan dan penyuluhan kesehatan sesuai dengan
rencana jangka pendek serta jangka panjang dengan melibatkan unsur-unsur terkait, termasuk
klien.
5) Mengevaluasi hasil pendidikan/penyuluhan kesehatan bersama klien dan menggunakannya
untuk memperbaiki serta meninglcatkan program dl masa yang akan datang.
6) Mendokumentasikan semua kegiatan dan hasil pendidikan/ penyuluhan kesehatan secara
lengkap serta sistematis.

2. Melatih dan membimbing kader


Bidan melatih dan membimbing kader, peserta didik kebidanan dan keperawatan, serta
membina dukun dl wilayah atau tempat kerjanya, mencakup:
1) Mengkaji kebutuhan pelatihan dan bimbingan bagi kader, dukun bayi, serta peserta didik
2) Menyusun rencana pelatihan dan bimbingan sesuai dengan hasil pengkajian.
3) Menyiapkan alat bantu mengajar (audio visual aids, AVA) dan bahan untuk keperluan
pelatihan dan bimbingan sesuai dengan rencana yang telah disusun.
4) Melaksanakan pelatihan untuk dukun bayi dan kader sesuai dengan rencana yang telah
disusun dengan melibatkan unsur-unsur terkait.
5) Membimbing peserta didik kebidanan dan keperawatan dalam lingkup kerjanya.
6) Menilai hasil pelatihan dan bimbingan yang telah diberikan.
7) Menggunakan hasil evaluasi untuk meningkatkan program bimbingan.
8) Mendokumentasikan semua kegiatan termasuk hasil evaluasi pelatihan serta bimbingan
secara sistematis dan lengkap.
D. Peran Sebagai Peneliti/Investigator
Bidan melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam bidang kesehatan baik secara
mandiri maupun berkelompok, mencakup:
1. Mengidentifikasi kebutuhan investigasi yang akan dilakukan.
2. Menyusun rencana kerja pelatihan.
3. Melaksanakan investigasi sesuai dengan rencana.
4. Mengolah dan menginterpretasikan data hasil investigasi.
5. Menyusun laporan hasil investigasi dan tindak lanjut.
6. Memanfaatkan hasil investigasi untuk meningkatkan dan mengembangkan program kerja
atau pelayanan kesehatan.

FUNGSI BIDAN
Berdasarkan peran bidan seperti yang dikemukakan di atas, maka fungsi bidan adalah sebagai
berikut.
A. Fungsi Pelaksana
Fungsi bidan sebagai pelaksana mencakup:
1. Melakukan bimbingan dan penyuluhan kepada individu, keluarga, serta masyarakat
(khususnya kaum remaja) pada masa praperkawinan.
2. Melakukan asuhan kebidanan untuk proses kehamilan normal, kehamilan dengan kasus
patologis tertentu, dan kehamilan dengan risiko tinggi.
3. Menolong persalinan normal dan kasus persalinan patologis tertentu.
4. Merawat bayi segera setelah lahir normal dan bayi dengan risiko tinggi.
5. Melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas.
6. Memelihara kesehatan ibu dalam masa menyusui.
7. Melakukan pelayanan kesehatan pada anak balita dan pcasekolah
8. Memberi pelayanan keluarga berencanasesuai dengan wewenangnya.
9. Memberi bimbingan dan pelayanan kesehatan untuk kasus gangguan sistem reproduksi,
termasuk wanita pada masa klimakterium internal dan menopause sesuai dengan
wewenangnya.

B. Fungsi Pengelola
Fungsi bidan sebagai pengelola mencakup:
1. Mengembangkan konsep kegiatan pelayanan kebidanan bagi individu, keluarga, kelompok
masyarakat, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat yang didukung oleh
partisipasi masyarakat.
2. Menyusun rencana pelaksanaan pelayanan kebidanan di lingkungan unit kerjanya.
3. Memimpin koordinasi kegiatan pelayanan kebidanan.
4. Melakukan kerja sama serta komunikasi inter dan antarsektor yang terkait dengan
pelayanan kebidanan
5. Memimpin evaluasi hasil kegiatan tim atau unit pelayanan kebidanan.

C. Fungsi Pendidik
Fungsi bidan sebagai pendidik mencakup:
1. Memberi penyuluhan kepada individu, keluarga, dan kelompok masyarakat terkait dengan
pelayanan kebidanan dalam lingkup kesehatan serta keluarga berencana.
2. Membimbing dan melatih dukun bayi serta kader kesetan sesuai dengan bidang tanggung
jawab bidan.
3. Memberi bimbingan kepada para peserta didik bidan dalam kegiatan praktik di klinik dan
di masyarakat.
4. Mendidik peserta didik bidan atau tenaga kesehatan lainnya sesuai dengan bidang
keahliannya.

D. Fungsi Peneliti
Fungsi bidan sebagai peneliti mencakup:
1. Melakukan evaluasi, pengkajian, survei, dan penelitian yang dilakukan sendiri atau
berkelompok dalam lingkup pelayanan kebidanan.
2. Melakukan penelitian kesehatan keluarga dan keluarga berencana.
Langkah dalam menilai mutu Pelayanan Kebidanan berdasarkan daftar titik yang
dikembangkan sesuai konsep Plan, Do, Cek Action (PDCA)
Proses Melakukan penilaian Mutu Pelayanan Kebidanan melalui
Observasi
Wawancara
Dokumen
1. Observasi / pengamatan Langsung
Lakukan pengamatan langsung terhadap petugas pelayanan yang sedang melakukan
pelayanan kebidanan terhadap pasien, istilah Daftar Tilik: (dengan Ya Tidak) sesuai
kegiatan apa yang telah dilakukan oleh petugas.
Kelebihan observasi:
Dapat membandingkan apakah perkataan sesuai dengan tindakan. Peneliti dapat
mempelajari subjek yang tidak memberi kesempatan laporan lisan (verbal). Subjek observasi
bebas melakukan kegiatan. Dimungkinkan mengadakan pencatatan secara serempak kepada
sasaran penilaian yang lebih banyak.
Kelemahan observasi :
1. Observasi tidak selamanya memungkinkan untuk suatu kejadian yang spontan, harus ada
persiapan.
2. Tidak bisa menentukan ukuran kuantitas terhadap variabel yang ada, karena hanya dapat
menghitung variabel yang kelihatan.
3. Sulit mendapatkan data terutama yang sifatnya rahasia dan memerlukan waktu yang lama.
4. Apabila sasaran penilaian mengetahui bahwa mereka sedang diamati, mereka akan dengan
sengaja menimbulkan kesan-kesan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, jadi
sifatnya dibuat-buat.
5. Subyektifitas dari observer tidak dapat dihindari
Instrumen Penilaian Mutu Dengan Observasi :
1. Daftar Tilik/Check List
Daftar alat berisi nama subyek dan beberapa hal/ciri yang akan diamati dari sasaran
pengamatan. Pengamat dapat memberi tAnda cek () pada daftar tersebut yang menunjukkan
adanya ciri dari sasaran pengamatan. Daftar tilik terdiri dari 4 bagian,yaitu: daftar tilik
pengamatan pelayanan, daftar tilik pengetahuan pasien, daftar tilik pengetahuan petugas dan
daftar tilik sarana esensial. Check list hanya dapat menyajikan data yang kasar saja, hanya
mencatat ada atau tidaknya suatu gejala.
2. Skala penilaian (rating scale)
Skala ini berupa daftar yang berisikan ciri-ciri tingkah laku yang dicatat secara
bertingkat. Rating scale ini dapat merupakan satu alat pengumpulan data untuk menerangkan,
menggolongkan dan menilai seseorang atau suatu gejala
3. Alat-alat mekanik
Alat-alat ini antara lain: alat perekam, alat fotografis, film, tape recorder, kamera televisi,
dan sebagainya. Alat-alat tersebut setiap saat dapat diputar kembali untuk memungkinkan
mengadakan penilaian secara teliti.
Observasi sebagai alat pengumpul data : pengamatan yg memiliki sifat-sifat
(depdikbud:1975:50)
a. dilakukan sesuai dgn tujuan yg telah dirumuskan lebih dulu.
b. direncanakan secara sistematis.
c. hasilnya dicatat & diolah sesuai dgn tujuannya.
d. dpt diperiksa validitas, reliabilitas & ketelitiannya.
e. bersifat kuantitatif.

2. Wawancara
Wawancara terhadap Petugas
Pengamat melakukan wawancara terhadap petugas yang diamati untuk mengetahui
tingkat pengetahuan petugas yang bersangkutan tentang pelayanan yang telah dilakukan.
Wawancara terhadap Pasien
Dilakukan pula wawancara terhadap pasien yang diamati, sewaktu pasien akan
meninggalkan tempat pelayanan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien mengenai
bagaimana penanganan pelayanan misalnya : penyuluhan, kapan harus kembali atau cara
minum obat.
Tujuan : Memperoleh informasi yang rinci dan akurat dalam rangka pembuktian kejadian/ peristiwa
yang seharusnya terjadi adalah benar-benar terjadi.
Kebijakan Operasional:
Komunikasi yang dilakukan oleh tim penilai harus dua arah
Dalam wawancara harus diusahakan tidak ada informasi yang hilang
Dalam wawancara kata-kata tidak spesifik harus lebih dispesifikasikan, misal: kendaraan
spesifik adalah mobil
Dalam wawancara gunakan kata-kata kunci :
- Mengapa
- Dimana
- Apa
- Kapan
- Siapa
- Bagaimana
Dalam wawancara usahakan untuk bisa menyelediki sistem atau menguji sistem. Untuk itu
tim penilai menggunakan check list sebagai panduan wawancara.
Gunakan panduan Fish bone diagram untuk melakukan wawancara dalam ( deep interview)
Kelebihan wawancara
1. Flexibility
Pewawancara dapat secara luwes mengajukan pertanyaan sesuai dengan situasi saat itu.
Dan memungkinkan diberikan penjelasan kepada responden bila pertanyaan kurang
dimengerti.
2. Nonverbal behavior
Pewawancara dapat mengobservasi perilaku nonverbal, misalnya rasa suka, rasa tidak
suka atau perilaku lainnya pada saat pertanyaan diajukan dan dijawab oleh responden.
3. Completeness
Pewawancara dapat memperoleh jawaban atas seluruh pertanyaan yang diajukan secara
langsung.
4. Time of interview
Pewawancara dapat menyusun jadwal wawancara yang relatif pasti. Kapan, dimana,
sehingga data yang diperoleh tidak keluar dari rancangan yang sudah disusun Data yang
diperoleh dapat langsung diketahui objektifitasnya karena dilaksanakan secara tatap muka.

Kelemahan wawancara :
1. Proses wawancara membutuhkan biaya dan tenaga yang besar.
2. Keberhasilan wawancara sangat tergantung kepandaian pewawancara dalam menggali,
mencatat, dan menafsirkan setiap jawaban.
3. Responden sulit menyembunyikan identitas dirinya, pewawancara bisa dipandang
mempunyai potensi yang bisa mengancam dirinya, sehingga jawaban harus dilakukan ekstra
hatihati, apalagi jika jawabannya direkam melalui pita perekam.

Penilaian Mutu Dengan Wawancara Secara Spesifik Digunakan Pada:


1. Saat tim penjaga mutu melakukan validasi terhadap interpretasi data yang bertujuan untuk
mengatasi masalah mutu pelayanan kesehatan
2. Menilai alasan yang digunakan untuk melakukan tindakan
3. Menilai kemampuan terhadap perkembangan kasus pada mutu pelayanan kesehatan.

Instrumen Penilaian Mutu Dengan Wawancara Dapat berupa kuesioner yaitu daftar
pertanyaan yang sudah disusun dengan baik sehingga pewawancara dalam wawancara dapat
memberi jawaban atau Anda pada lembaran tersebut.

Metode yang digunakan adalah :


Audit adalah pengawasan yang dilakukan terhadap masukan, proses, lingkungan dan
keluaran apakah dilaksanakan sesuai standar yang telah ditetapkan. Audit dapat dilaksanakan
konkuren atau retrospektif, dengan menggunakan data yang ada (rutin) atau mengumpulkan
data baru. Dapat dilakukan secara rutin atau merupakan suatu studi khusus.
Review merupakan penilaian terhadap pelayanan yang diberikan, penggunaan sumber daya,
laporan kejadian/kecelakaan seperti yang direfleksikan pada catatan-catatan. Penilaian
dilakukan baik terhadap dokumennya sendiri apakah informasi memadai maupun terhadap
kewajaran dan kecukupan dari pelayanan yang diberikan.
Survey dapat dilaksanakan melalui kuesioner atau interview secara langsung maupun melalui
telepon, terstruktur atau tidak terstruktur. Misalnya : survei kepuasan pasien.
Observasi terhadap asuhan pasien, meliputi observasi terhadap status fisik dan perilaku
pasien.

3. Dokumentasi
a. Pendokumentasian Menejemen Asuhan Kebidanan
Bentuk pendekatan yang dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan
dengan menggunakan pemecahan masalah.
Asuhan kebidanan merupakan suatu pemecahan masalah yang digunakan sebagai
metode untuk mengorganisasikan dari tindakan berdasarkan teori ilmiah penemuan
keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan
yang berfokus pada klien (Varney, 1997).

Penatalaksanaan kebidanan adalah proses pemecahan maslah yang digunakan sebagai


metode untuk mengorganisasikan fikiran dan tidakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-
penemuan, keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk pengambilan
keputusan yang berfokus pada klien (PUSDIKNAKES-WHO-JHPIGGU,2003:30)

b. Metode Pendokumentasian
1) Pengertian
Adalah suatu sistem pencatatan dan pelaporan informasi tentang kondisi dan
perkembangan kesehatan pasien dan semua kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan
(Konsep Kebidanan, 2003).
Proses penatalaksanaan asuhan kebidanan atau manajemen kebidanan merupakan
langkah-langkah yang berurutan dimulai dengan pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan
evaluasi.
Proses manajemen kebidanan ini merupakan urutan langkah saling berhubungan,
berkesinambungan untuk mengevaluasinya dan membuat rencana asuhan kembali.
2) Pembagian Dokumen Dokumen terbagi dua kategori yaitu:
a. Dokumen sumber resmi
Merupakan dokumen yang dibuat/dikeluarkan oleh lembaga atau perorangan atas nama
lembaga. Ada dua bentuk yaitu sumber resmi normal dan sumber resmi informal
b. Dokumen sumber tidak resmi
Merupakan dokumen yang dibuat/dikeluarkan oleh individu tidak atas nama lembaga. Ada
dua bentuk yaitu sumber tak resmi formal dan sumber tak resmi informal.

3) Tujuan Pendokumentasian
a) Sebagai sarana komunikasi antar petugas kesehatan
Dokumentasi dapat dibagikan diantara petugas kesehatan, hal ini penting jika dilakukan
rujukan untuk mengetahhui sejauh mana kondisi klinis klien dan asuhan yang diberikan
kepada klien, sehingga dapat dilakukan penanganan lebih lanjut.
b) Sebagai aspek financial ekonomi
c) Merupakan data untuk mengganti (penggantian biaya) yang wajar dan informsdi
penghematan biaya
d) Bermanfaat bagi penelitian
e) Sumber informasi statistik untuk standarisasi dan penelitian kesehatan
f) Mempunyai aspek legal

S = Subyektif, menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien dari anamnesa.


O = Obyektif, menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil
laboratorium.
A = Assesment, menggambarkan hasil pendokumentasian hasil analisa dan intervensi data subyektif
dalam suatu identifikasi.
1) Diagnosa/masalah
2) Antisipasi diagnosa lain/masalah potensial
P = Planing, menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi berdasarkan
assesment.

Pendokumentasian asuhan kebidanan kasus terfokus dengan SOAP dan 7 langkah


Varneys :
Ibu hamil
Biodata
Subjektif
Keluhan ibu pada kehamilan.
Riwayat kehamilan sekarang.
Hasil tes kehamilan.
Pergerakan janin yang dirasakan pertama.
Keluhan yangb dirasakan.
Pola makan.
Pola eliminasi.
Aktivitas sehari-hari.
Kontrasepsi yang terakhir digunakan.
Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu.
Riwayat penyakit yang pernah/sedang diderita.
Riwayat psikososial.
Riwayat kesehatan keluarga.

Objektif
a) Keadaan umum.
b) Tanda-tanda vital.
c) Tinggi badan, berat badan, dan lingkar lengan atas.
Pemeriksaan fisik : kelopak mata, konjungtiva, sclera, mulut dan gigi, pemeriksaan kelenjar
tyroid dan getah bening, jantung, peruh, pembesaran payudara, putting susu, nyeri pinggang,
posisi tulang belakang, ekstremitas atas/bawah, odem, refleks patella, varises, abdomen
(bekas luka operasi, linea, strie).
Pemeriksaan palpasi Leopold : TFU, difundus teraba bokong, sebelah kanan/kiri teraba
punggung atau ekstrimitas, bagian terendah kepala, sejauh mana kepala masuk pintu atas
panggul.
Auskultasi : bunyi jantung janin, frekuensi, puctum maximum.
Anogenital : perineum, vulva vagina, pengeluaran pervaginam normal, hemoroid tidak ada.
Pemeriksaan penunjang, pemeriksaan Hb dan urine.
Assasemen

Interpretasi data dibuat dari hasil pengkajian.

Diagnosa dibuat dengan dasar HPHT dan TFU, sudah atau belum pernah hamil, sudah
atau belum pernah melahirkan.

Diagnosa janin dibuat dengan dasar BJJ, punctum maximum, bagian terendah janin.

Planning

Memberitahukan hasil pemeriksaan.

Menjelaskan tentang nutrisi yang adekuat yaitu peningkatan konsumsi makanan


hingga 300 kalori/perhari, makanan yang mengandung protein seperti ikan, telur,
tempe, dan zat besi seperti hati, sayur-sayuran serta minuman cukup cairan.

Jelaskan tentang personal hygien, mandi dua kali sehari dan menjaga kebersihan yang
lebih pada daerah lipatan kulit (ketiak, bawah payudara, dan daerah genetalia).
Beriakn obat Fe dan vitamin.

Jelaskan tentang tanda bahaya kehamilan seperti perdarahan pervaginam, sakit kepala
yang luar biasa, mata berkunang-kunang, pembengkakan pada wajah dan tangan,
nyeri ulu hati, ketuban pecah sebelum waktunya, janin tidak bergerak seperti biasanya
dan demam yang tinggi.

Rencanakan kunjungan berikutnya sesuai kehamilan.

Dokumentasi dapat berperan sebagai pembela atau advokasi yang dapat dijadikan
sebagai bukti dalam pengusutan kasus-kasus seperti mal praktik, penganiayaan atau
pemerkosaan.
Penilaian Mutu dengan Dokumen untuk melakukan penilaian mutu agar dapat
menemukan masalah mutu dalam pelayanan kebidanan dapat menggunakan cara diatas, agar
dalam pelaksananaanya berjalan dengan baik perlu dikembangkan atau disusun daftar
tilik/chek list sebelumnya. Check list adalah sebuah daftar pekerjaan yang harus dilakukan
dalam suatu rangkaian proses kegiatan untuk meminimalkan kesalahan dan kelalaian dalam
melakukan pekerjaan.

Jelaskan dari Segi Organisasi, Program dan Bidan tentang Standar Out Come yang
mengacu kepada :
Kepuasan Pelanggan
Ketepatan
Efisiensi dan Efektifitas
Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional terhadap
klien. Dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif maupun
negatif. Outcome jangka pendek adalah hasil dari segala suatu tindakan tertentu atau prosedur
tertentu. Outcome jangka panjang adalah status kesehatan dan kemampuan fungsional klien.
Ketepatan pelayanan kesehatan

Sesuai standar dan etika profesi bidan.


Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) adalah rumusan tentang penampilan atau nilai
diinginkan yang mampu dicapai, berkaitan dengan parameter yang telah ditetapkan yaitu
standar pelayanan kebidanan yang menjadi tanggung jawab profesi bidan dalam sistem
pelayanan yang bertujuan untuk meningkatan kesehatan ibu dan anak dalam rangka
mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 2001: 53).
Manfaat Standar Pelayanan Kebidanan
Standar pelayanan kebidanan mempunyai beberapa manfaat sebagai berikut:
1. Standar pelayanan berguna dalam penerapan norma tingkat kinerja yang diperlukan untuk
mencapai hasil yang diinginkan
2. Melindungi masyarakat
3. Sebagai pelaksanaan, pemeliharaan, dan penelitian kualitas pelayanan
4. Untuk menentukan kompetisi yang diperlukan bidan dalam menjalankan praktek sehari-hari.
5. Sebagai dasar untuk menilai pelayanan, menyusun rencana pelatihan dan pengembangan
pendidikan (Depkes RI, 2001:2)

Format Standar Pelayanan Kebidanan


Dalam membahas tiap standar pelayanan kebidanan digunakan format bahasan sebagai
berikut:
1. Tujuan merupakan tujuan standar
2. Pernyataan standar berisi pernyataan tentang pelayanan kebidanan yang dilakukan, dengan
penjelasan tingkat kompetensi yang diharapkan.
3. Hasil yang akan dicapai oleh pelayanan yang diberikan dan dinyatakan dalam bentuk yang
dapat diatur.
4. Prasyarat yang diperlukan (misalnya, alat, obat, ketrampilan) agar pelaksana pelayanan dapat
menerapkan standar.
5. Proses yang berisi langkah-langkah pokok yang perlu diikuti untuk penerapan standar
(Depkes RI, 2001:2).

Dasar hukum penerapan SPK adalah:


a. Undang-undang kesehatan Nomor 23 tahun 1992
Menurut Undang-Undang Kesehatan Nomer 23 tahum 1992 kewajiban tenaga kesehatan
adalah mematuhi standar profesi tenaga kesehatan, menghormati hak pasien, menjaga
kerahasiaan identitas dan kesehatan pasien, memberikan informasi dan meminta persetujuan
(Informed consent), dan membuat serta memelihara rekam medik.
Standar profesi tenaga kesehatan adalah pedoman yang harus dipergunakan oleh tenaga
kesehatan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesinya secara baik.
Hak tenaga kesehatan adalah memperoleh perlindungan hukum melakukan tugasnya
sesuai dengan profesi tenaga kesehatan serta mendapat penghargaan.
b. Pertemuan Program Safe Motherhood dari negara-negara di wilayah SEARO/Asia tenggara
tahun 1995 tentang SPK
Pada pertemuan ini disepakati bahwa kualitas pelayanan kebidanan yang diberikan kepada
setiap ibu yang memerlukannya perlu diupayakan agar memenuhi standar tertentu agar aman
dan efektif. Sebagai tindak lanjutnya, WHO SEARO mengembangkan Standar Pelayanan
Kebidanan. Standar ini kemudian diadaptasikan untuk pemakaian di Indonesia, khususnya
untuk tingkat pelayanan dasar, sebagai acuan pelayanan di tingkat masyarakat. Standar ini
diberlakukan bagi semua pelaksana kebidanan.
c. Pertemuan Program tingkat propinsi DIY tentang penerapan SPK 1999
Bidan sebagai tenaga profesional merupakan ujung tombak dalam pemeriksaan kehamilan
seharusnya sesuai dengan prosedur standar pelayanan kebidanan yang telah ada yang telah
tertulis dan ditetapkan sesuai dengan kondisi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
(Dinkes DIY, 1999).
d. Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan
praktek bidan.
Pada BAB I yaitu tentang KETENTUAN UMUM pasal 1 ayat 6 yang berbunyi Standar
profesi adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam melaksanakan
profesi secara baik.
Pelayanan kebidanan yang bermutu adalah pelayanan kebidanan yang dapat memuaskan
setiap pemakai jasa pelayanan kebidanan serta penyelenggaraannya sesuai kode etik dan
standar pelayanan pofesi yang telah ditetapkan. Standar profesi pada dasarnya merupakan
kesepakatan antar anggota profesi sendiri, sehingga bersifat wajib menjadi pedoman dalam
pelaksanaan setiap kegiatan profesi (Heni dan Asmar, 2005:29)

Kepuasan Pelanggan

Pembelian atau penggunaan jasa memutuskan memberikan suatu penilaian terhadap


produk atau jasa dan bertindak atas dasar itu. Apakah pembeli puas setelah membelanjakan
tergantung kepada penampilan yang ditawarkan dalam hubungannya dengan harapan
pembeli.
Philip Kotler dalam bukunya Marketing Management , memberikan definisi tentang
kepuasan pelanggan (customer satisfaction): Kepuasan adalah tingkat keadaan yang
dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan pemampilan atau outcome
produk yang dirasakan dalam hubungannya denagn harapan seseorang.
Tingkat kepuasan adalah suatu fungsi dari perbedaan antara penampilan yang dirasakan
dan harapan.
Ada 3 tingkat kepuasan :
a. Bila penampilan kurang dari harapan pelanggan tidak dipuaskan
b. Bila penampilan sebanding dengan harapan, pelanggan puas
c. Apabila penampilan melebihi harapan, pelanggan amat puas atau senang
Kepuasan pelanggan pengguna jasa pelayanan kesehatan (pasien/klien) dipengaruhi oleh
beberapa factor :
1. pemahaman pengguna jasa tentang jenis pelayanan yang akan diterimanya, dalam hal ini
aspek komunikasi memegang peranan penting
2. Empati (sikap peduli) yang ditunjukan oleh para petugas kesehatan, kemudahan dalam
melakukan hubungan, komunikasi yang baik, dan memahami kebutuhan para
pelanggan. Sikap ini akan menyentuh emosi pasien. Faktor ini akan berpengaruh pada tingkat
kepatuhan pasien (compliance)
3. Biaya (cost), tingginya biaya pelayanan dapat dianggap sebagai sumber moral hazard pasien
dan keluarganya, yang penting sembuh sehingga menyebabkan mereka menerima saja jenis
perawatan dan teknologi yang ditawarkan petugas kesehatan. Akibatnya, biaya perawatan
menjadi mahal. Informasi terbatas yang dimiliki pasien dan keluarganya tentang perawatan
yang diterima dapat menjadi sumber keluhan pasien. Sistem asuransi kesehatan dapat
mengatasi masalah biaya kesehatan.
4. Bukti langsung penampilan fisik (tangibility); meliputi fasilitas fisik, perlengkapan pegawai
dan sarana komunikasi
5. Jaminan keamanan yang ditunjukkan petugas kesehatan (assurance); kemampuan kesopanan
dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf; bebas dari bahaya, risiko dan keragu-
raguan, ketepatan jadwal pemeriksaan dan kunjungan dokter dsb
6. Kehandalan (reliability); merupakan kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan
dengan segera dan memuaskan
7. Daya tanggap/ kecepatan petugas dalam memberi tanggapan terhadap keluhan pasien
(responsiveness); keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan
pelayanan dengan tanggap

Efisiensi dan Efektifitas Pelayanan Kesehatan


a. Efisiensi Pelayanan Kesehatan
Efisiensi mutu pelayanan kesehatan merupakan dimensi penting dari mutu karena efisiensi
akan mempengaruhi hasil pelayanan kesehatan, apalagi sumber daya pelayanan kesehatan
pada umumnya terbatas.
Pelayanan yang efisien akan memberikan perhatian yang optimal daripada
memaksimalkan pelayanan kepada pasien dan masyarakat
Petugas akan memberikan pelayanan yang terbaik dengan sumber daya yang dimiliki
Pelayanan yang kurang baik karena norma yang tidak efektif atau pelayanan yang salah
harus dikurangi atau dihilangkan, dengan cara ini kualitas dapat ditingkatkan sambil menekan
biaya.
Pelayanan yang kurang baik, disamping menyebabkan risiko yang tidak perlu terjadi dan
kurang nyamannya pasien, seringkali mahal dan memakan waktu yang lama untuk
memperbaiki
Peningkatan kualitas memerlukan tambahan sumber daya, tetapi dengan menganilis
efisiensi, manajer program kesehatan dapat memilih intervensi yang paling cost effective.
Efisiensi adalah penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang
optimum. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan yang benar telah ditentukan dan
berusaha untuk mencari cara-cara yang paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Efisiensi hanya dapat dievaluasi dengan penilaian-penilaian relatif, membandingkan antara
masukan dan keluaran yang diterima. Sebagai contoh untuk menyelesaikan sebuah tugas,
cara A membutuhkan waktu 1 jam sedang cara B membutuhkan waktu 2 jam, maka cara A
lebih efisien dari cara B. Dengan kata lain tugas tersebut dapat selesai menggunakan cara
dengan benar atau efisiensi.

b. Efektifitas pelayanan Kesehatan


Efektivitas adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat
dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan
lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian
tujuan-tujuan yang telah ditentukan.
Sebagai contoh jika sebuah tugas dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah
ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif.
1. Besarnya masalah yang dapat diselesaikan
2. Pentingnya cara penyelesaian masalah
3. Sensitifitas cara penyelesaian masalah
Efektifitas adalah melakukan tugas yang benar sedangkan efisiensi adalah melakukan
tugas dengan benar. Penyelesaian yang efektif belum tentu efisien begitu juga sebaliknya.
Yang efektif bisa saja membutuhkan sumber daya yang sangat besar sedangkan yang efisien
barangkali memakan waktu yang lama. Sehingga sebisa mungkin efektivitas dan efisiensi
bisa mencapai tingkat optimum untuk kedua-duanya.
E. Siklus PDAC
PDCA merupakan rangkaian kegiatan mutu pelayanan yang terdiri dari perencanaan
kerja, pelaksanaan kerja, pengawasan kerja dan perbaikan kerja yang dilakukan terus
menerus dan berkesinambungan. Siklus PDCA digunakan dalam pelayanan kesehatan untuk
penyelesaian masalah dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Secara
sederhana siklus PDCA dapat digambarkan sebagai berikut :
Siklus PDCA terdiri dari empat tahapan, yaitu:
1. Perencanaan ( Plan )
Tahapan pertama adalah membuat suatu perencanaan. Perencanaan merupakan suatu upaya
menjabarkan cara penyelesaian masalah yang ditetapkan ke dalam unsur-unsur rencana yang
lengkap serta saling terkait dan terpadu sehingga dapat dipakai sebagai pedoman dalam
melaksanaan cara penyelesaian masalah. Hasil akhir yang dicapai dari perencanaan adalah
tersusunnya rencana kerja penyelesaian masalah mutu yang akan diselenggarakan. Rencana
kerja penyelesaian masalah mutu yang baik mengandung setidak-tidaknya tujuh unsur
rencana yaitu:
a. Judul rencana kerja (topic)
b. Pernyataan tentang macam dan besarnya masalah mutu yang dihadapi (problem statement)
c. Rumusan tujuan umum dan tujuan khusus, lengkap dengan target yang ingin dicapai (goal,
objective, and target)
d. Kegiatan yang akan dilakukan (activities)
e. Organisasi dan susunan personalia pelaksana (organization and personnels)
f. Biaya dan waktu yang diperlukan (budget and time)
g. Tolak ukur keberhasilan yang dipergunakan (milestone)

2. Pelaksanaan ( Do )
Tahapan kedua yang dilakukan ialah melaksanakan rencana yang telah disusun. Jika
pelaksanaan rencana tersebut membutuhkan keterlibatan staf lain di luar anggota tim, perlu
terlebih dahulu diselenggarakan orientasi, sehingga staf pelaksana tersebut dapat memahami
dengan lengkap rencana yang akan dilaksanakan.
Pada tahap ini diperlukan suatu kerjasama dari para anggota dan pimpinan manajerial. Untuk
dapat mencapai kerjasama yang baik, diperlukan keterampilan pokok manajerial, yaitu :
a. Keterampilan komunikasi (communication) untuk menimbulkan pengertian staf terhadap
cara pentelesaian mutu yang akan dilaksanakan.
b. Keterampilan motivasi (motivation) untuk mendorong staf bersedia menyelesaikan cara
penyelesaian masalah mutu yang telah direncanakan.
c. Keterampilan kepemimpinan (leadershif) untuk mengkordinasikan kegiatan cara
penyelesaian masalah mutu yang dilaksanakan.
d. Keterampilan pengarahan (directing) untuk mengarahkan kegiatan yang dilaksanakan.

3. Pemeriksaan ( Check )
Tahapan ketiga yang dilakukan ialah secara berkala memeriksa kemajuan dan hasil yang
dicapai dan pelaksanaan rencana yang telah ditetapkan. Tujuan dari pemeriksaan untuk
mengetahui :
a. Sampai seberapa jauh pelaksanaan cara penyelesaian masalahnya telah sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan.
b. Bagian mana kegiatan yang berjalan baik dan bagian mana yang belum berjalan dengan
baik.
c. Apakah sumberdaya yang dibutuhkan masih cukup tersedia.
d. Apakah cara penyelesaian masalah yang sedang dilakukan memerlukan perbaikan atau tidak.
Terdapat dua cara yang sering di pergunakan untuk dapat memeriksa pelaksanaan cara
penyelesaian masalah, yakni :
a. Lembaran pemeriksaan (check list)
Lembar pemeriksaan adalah suatu formulir yang digunakan untuk mencatat secara periodik
setiap penyimpangan yang terjadi. Langkah pembuatan lembar pemeriksan adalah:
Tetapkan jenis penyimpangan yang diamati
Tetapkan jangka waktu pengamatan
Lakukan perhitungan penyimpangan
b. Peta kontrol (control diagram)
Peta kontrol adalahsuatu peta / grafik yang mengambarkan besarnya penyimpangan yang
terjadi dalam kurun waktu tertentu. Peta kontrok dibuat bedasarkan lembar pemeriksaan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan peta kontrol adalah :
Tetapkan garis penyimpangan minimum dan maksimum
Tentukan prosentase penyimpangan
Buat grafik penyimpangan
Nilai grafik

4. Perbaikan ( Action )
Tahapan keempat yang dilakukan adalah melaksanaan perbaikan rencana kerja. Lakukanlah
penyempurnaan rencana kerja atau bila perlu mempertimbangkan pemilihan dengan cara
penyelesaian masalah lain. Untuk selanjutnya rencana kerja yang telah diperbaiki tersebut
dilaksanakan kembali. Jangan lupa untuk memantau kemajuan serta hasil yang dicapai.
Untuk kemudian tergantung dari kemajuan serta hasil tersebut, laksanakan tindakan yang
sesuai. Cara melakukan penilaian mutu pelayanan kebidanan adalah sebagai berikut :
a. Lihat daftar tilik
Daftar tilik adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh
pelayanan sesuai atau tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan. Berisi daftar kelengkapan
sarana, pra sarana, pengetahuan, kompetensi teknis, persepsi klien, dsb.
b. Lihat sasaran penilaian
Observasi
Observasi : mengamati pada saat pelayanan
Observasi : suatu penyelidikan yg dijalankan secara sistematis & sengaja diadakan dgn
menggunakan alat indra terutama mata terhadap kejadian-kejadian yg langsung (Bimo
Walgito, 1987:54)
Observasi : suatu tehnik untuk mengamati secara langsung maupun tidak langsung gejala-
gejala yg sedang / berlangsung baik di dlm (di luar) sekolah (Djumhur, 1985:51)
Observasi sebagai alat pengumpul data : pengamatan yg memiliki sifat-sifat
(depdikbud:1975:50) :
a) dilakukan sesuai dgn tujuan yg telah dirumuskan lebih dulu.
b) direncanakan secara sistematis.
c) hasilnya dicatat & diolah sesuai dgn tujuannya.
d) dapat diperiksa validitas, reliabilitas & ketelitiannya
e) bersifat kwantitatif.

Wawancara
Wawancara : dengan diskusi, tanya jawab, cek pemahaman
Kartono (1980: 171), Interview (wawancara) : suatu percakapan yg diarahkan pd suatu
masalah; ini merupakan proses tanya jawab lisan, dimana 2 orang atau lebih berhadap-
hadapan secara fisik.
Dlm proses interview terdapat 2 pihak dgn kedudukan yg berbeda. pertama berfungsi sebagai
penanya, disebut pula sebagai interviewer, lainnya berfungsi sebagai pemberi informasi
(Information supplyer), interviewer atau informan.
Interviewer mengajukan pertanyaan pertanyaan, meminta keterangan (penjelasan), sambil
menilai jawaban jawabannya. Sekaligus ia mengadakan paraphrase (menyatakan kembali
isi jawaban interviewee dgn kata-kata lain), mengingat-ingat & mencatat jawaban jawaban.
Disamping itu dia juga menggali keterangan keterangan lebih lanjut & berusaha melakukan
probing (rangsangan, dorongan).
Dokumen
Dokumen : sebuah tulisan yg memuat informasi. Biasanya, dokumen ditulis di kertas &
informasinya ditulis memakai tinta baik memakai tangan atau memakai media elektronik,
melihat kelengkapan dokumen rekam medik, register, buku catatan.

Masalah kesehatan Saat ini dalam pelayanan dan Upaya Pemerintah dalam
menyelesaikannya dilengkapi program dan bagaimana Dengan manajemen POAC nya.

A. Pelayanan Kesehatan Bagi Penduduk Miskin


Secara nasional status kesehatan masyarakat telah meningkat. Akan tetapi, disparitas
status kesehatan antara penduduk mampu dan penduduk miskin masih cukup besar.
Berbagai data menunjukkan bahwa status kesehatan penduduk miskin lebih rendah jika
dibandingkan dengan penduduk kaya. Hal ini antara lain dapat dilihat dari tingginya angka
kematian bayi dan angka kematian balita pada kelompok penduduk miskin. Menurut Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, angka kematian bayi pada
kelompok termiskin adalah 61 berbanding 17 per 1.000 kelahiran hidup pada kelompok
terkaya. Demikian juga, angka kematian balita pada penduduk termiskin (77 per 1.000
kelahiran hidup) jauh lebih tinggi daripada angka kematian balita pada penduduk terkaya (22
per 1.000 kelahiran hidup). Penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian utama
pada bayi dan balita, seperti ISPA, diare, tetanus neonatorum dan penyulit kelahiran, juga
lebih sering terjadi pada penduduk miskin.
Rendahnya status kesehatan penduduk miskin terkait erat dengan terbatasnya akses
terhadap pelayanan kesehatan, baik karena kendala geografis maupun kendala biaya (cost
barrier). Data SDKI 2002-2003 menunjukkan bahwa kendala terbesar yang dihadapi
penduduk miskin untuk mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan adalah ketiadaan uang
(34 persen), jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan yang terlalu jauh (18 persen), serta
adanya hambatan dengan sarana angkutan atau transportasi (16 persen).
Data Susenas 2004 menunjukkan bahwa kendala biaya menjadi permasalahan yang cukup
serius, terutama bagi penduduk miskin, karena selama ini sebagian besar (87,2 persen)
pembiayaan kesehatan bersumber dari penghasilan penduduk sendiri. Pembiayaan yang
berasal dari jaminan pemeliharaan kesehatan (kartu sehat yang dikeluarkan Pemerintah)
hanya sebesar 6,3 persen dan yang berasal dari asuransi sebesar 5,2 persen. Artinya,
penduduk harus menanggung biaya yang besar untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Hal ini tentu amat memberatkan bagi penduduk miskin karena mereka harus mengeluarkan
biaya yang besar untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.

B. Masalah Gizi Buruk


Masalah kesehatan yang menimbulkan perhatian masyarakat cukup besar akhir-akhir ini
adalah masalah gizi kurang dan gizi buruk. Walaupun sejak tahun 1989 telah terjadi
penurunan prevalensi gizi kurang yang relatif tajam, mulai tahun 1999 penurunan prevalensi
gizi kurang dan gizi buruk pada balita relatif lamban dan cenderung tidak berubah. Saat ini
terdapat 10 provinsi dengan prevalensi gizi kurang di atas 30, dan bahkan ada yang di atas
40 persen, yaitu di Provinsi Gorontalo, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur
(NTT), dan Papua.
Kurang energi dan protein pada tingkat parah atau lebih populer disebut busung lapar, dapat
menimbulkan permasalahan kesehatan yang besar dan bahkan dapat menyebabkan
kematian pada anak. Menurut data Susenas 2003, diperkirakan sekitar 5 juta (27,5 persen)
anak balita menderita gizi kurang, termasuk 1,5 juta (8,3 persen) di antaranya menderita gizi
buruk. Data Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2004 masih terdapat
3,15 juta anak (16 persen) menderita gizi kurang dan 664 ribu anak (3,8 persen) menderita
gizi buruk. Pada tahun 2005 dilaporkan adanya kasus gizi buruk tingkat parah atau busung
lapar di Provinsi NTB dan NTT, serta beberapa provinsi lainnya. Penderita kasus gizi buruk
terbesar yang dilaporkan terjadi di Provinsi NTB, yaitu terdapat 51 kasus yang dirawat di
rumah sakit sejak Januari sampai dengan Mei 2005. Jumlah kasus di sembilan provinsi
sampai Juni 2005 dilaporkan sebanyak 3.413 kasus gizi buruk dan 49 di antaranya
meninggal dunia.
Munculnya kejadian gizi buruk ini merupakan fenomena gunung es yang menunjukkan
bahwa masalah gizi buruk yang muncul hanyalah sebagian kecil dari masalah gizi buruk
yang sebenarnya terjadi. Di Provinsi NTB, misalnya, berdasarkan hasil pencatatan dan
pelaporan sejak Januari-Juni 2005 hanya ditemukan sekitar 900 kasus. Namun, diperkirakan
terdapat 2.200 balita marasmus kwashiorkor. Masalah busung lapar terutama dialami oleh
anak balita yang berasal dari keluarga miskin.
Dua faktor penyebab utama terjadinya gizi buruk tersebut adalah rendahnya konsumsi
energi dan protein dalam makanan sehari-hari dan terjadi dalam kurun waktu yang lama.
Penyebab kedua adalah terjadinya serangan penyakit infeksi yang berulang. Kedua faktor
ini disebabkan oleh tiga hal secara tidak langsung, yaitu (1) ketersediaan pangan yang
rendah pada tingkat keluarga; (2) pola asuh ibu dalam perawatan anak yang kurang
memadai; dan (3) ketersediaan air bersih, sarana sanitasi, dan sarana pelayanan kesehatan
dasar yang terbatas. Penyebab tidak langsung tersebut merupakan konsekuensi dari pokok
masalah dalam masyarakat, yaitu tingginya pengangguran, tingginya kemiskinan, dan
kurangnya pangan.

I. Langkah-Langkah Kebijakan dan Hasil-Hasil yang Dicapai


Untuk mengatasi berbagai permasalahan kesehatan, kebijakan umum pembangunan
kesehatan diarahkan pada
1. peningkatan upaya pemeliharaan, pelindungan, dan peningkatan derajat kesehatan dan
status gizi terutama bagi penduduk miskin dan kelompok rentan;
2. peningkatan upaya pencegahan dan penyembuhan penyakit baik menular maupun tidak
menular;
3. peningkatan kualitas, keterjangkauan, dan pemerataan pelayanan kesehatan di fasilitas
pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama bagi keluarga miskin, kelompok rentan
dan penduduk di daerah terpencil, perbatasan, rawan bencana dan konflik;
4. peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan terutama untuk pelayanan kesehatan
di daerah terpencil, tertinggal, dan perbatasan;
5. penjaminan mutu, keamanan dan khasiat produk obat, kosmetik, produk komplemen, dan
produk pangan yang beredar, serta mencegah masyarakat dari penyalahgunaan obat keras,
narkotika, psikotropika, zat adiktif, dan bahan berbahaya lainnya; dan
6. peningkatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam perilaku hidup bersih
dan sehat.

Langkah-langkah yang ditempuh untuk mengatasi berbagai permasalahan yang menonjol


pada 10 bulan terakhir dan hasil yang dicapai adalah sebagai berikut.

Tindak Lanjut yang Diperlukan


Dengan mempertimbangkan permasalahan yang dihadapi, langkah kebijakan yang
ditempuh, dan hasil-hasil yang telah dicapai seperti tersebut di atas, rencana tindak lanjut
yang diperlukan antara lain dapat diuraikan sebagai berikut.

A. Meningkatkan Pemerataan dan Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan


Peningkatkan pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan masyarakat
dilaksanakan antara lain melalui penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis bagi
penduduk miskin di puskesmas dan jaringannya, serta kelas III rumah sakit. Melalui upaya
ini diharapkan tingkat disparitas status kesehatan antara penduduk kaya dan miskin
semakin berkurang. Untuk mengantisipasi berbagai kendala teknis di lapangan yang
dihadapi oleh masyarakat miskin dalam mendapatkan pelayanan yang layak, misalnya
hambatan administrasi dan prosedural, sosialisasi dan advokasi kepada institusi
penyelenggara akan lebih ditingkatkan, di samping memperkuat pemantauan dan safe
guarding. Selain itu, juga dilaksanakan peningkatan sarana dan prasarana puskesmas dan
jaringannya; pembangunan dan perbaikan rumah sakit terutama di daerah bencana dan
tertinggal secara selektif; pengadaan obat, pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan;
dan penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan.
Selanjutnya, perlu ditingkatkan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup sekurang-
kurangnya peningkatan promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana,
perbaikan gizi, kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, dan pengobatan
dasar; peningkatan pelayanan kesehatan rujukan; pengembangan pelayanan dokter
keluarga; serta peningkatan peran serta masyarakat dan sektor swasta dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan.
Upaya lainnya dalam rangka peningkatan pemerataan, pelayanan kesehatan dilaksanakan
melalui penempatan tenaga dokter dan paramedis terutama di puskesmas dan rumah sakit
di daerah tertinggal; peningkatan ketersediaan, pemerataan, mutu, dan keterjangkauan
harga obat dan perbekalan kesehatan, terutama untuk penduduk miskin; dan peningkatan
mutu pelayanan farmasi komunitas dan rumah sakit.
Melalui pelaksanaan berbagai kebijakan itu dan dibarengi dengan kemajuan di bidang sosial
dan ekonomi, diharapkan taraf kesehatan penduduk miskin akan menjadi lebih baik.

B. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan


Dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, upaya yang akan dilakukan
adalah pengangkatan dan penempatan tenaga kesehatan, seperti dokter dan tenaga
keperawatan terutama di daerah terpencil, peningkatan proporsi puskesmas yang memiliki
tenaga dokter; peningkatan proporsi rumah sakit kabupaten/kota yang memiliki tenaga
dokter spesialis dasar, dan peningkatan mutu pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan.
Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan perlu ditingkatkan untuk memenuhi keperluan
tenaga kesehatan, terutama untuk pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya,
serta rumah sakit kabupaten/kota terutama di daerah terpencil dan bencana. Langkah
tersebut perlu diikuti dengan peningkatan keterampilan dan profesionalisme tenaga
kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan, pembinaan tenaga
kesehatan termasuk pengembangan karier tenaga kesehatan; dan penyusunan standar
kompetensi dan regulasi profesi kesehatan.
Upaya lain yang penting untuk dilakukan adalah penjaminan terpenuhinya persyaratan
mutu, keamanan, dan kemanfaatan produk terapetik/obat, perbekalan kesehatan rumah
tangga, obat tradisional, suplemen makanan, dan produk kosmetika melalui pengawasan
keamanan pangan dan bahan berbahaya; pengawasan pemakaian narkotika, psikotropika,
zat adiktif (Napza); dan pengawasan mutu, khasiat, dan keamanan produk. Kapasitas
laboratorium pengawasan obat dan makanan juga perlu diperkuat. Pengembangan obat asli
Indonesia akan dilaksanakan melalui pengembangan dan penelitian tanaman obat;
peningkatan promosi pemanfaatan obat bahan alam Indonesia; dan pengembangan
standarisasi tanaman obat bahan alam Indonesia.
Berbagai upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan itu, juga didukung oleh
pengembangan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan dan peningkatan
penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.
Pengembangan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan akan dilaksanakan
melalui pengkajian kebijakan, pengembangan sistem perencanaan dan penganggaran,
pelaksanaan dan pengendalian, pengawasan dan penyempurnaan administrasi keuangan,
serta hukum kesehatan. Selain itu, sistem informasi kesehatan baik nasional maupun
daerah perlu dibangun dengan baik. Kebijakan untuk menjamin pembiayaan kesehatan
masyarakat secara kapitasi dan praupaya terutama bagi penduduk miskin perlu juga terus
dilanjutkan.
Peningkatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan
akan dilaksanakan melalui penelitian dan pengembangan, peningkatan kualitas dan
kuantitas tenaga peneliti, sarana dan prasarana penelitian, serta penyebarluasan dan
pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan.

C. Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


Dalam rangka meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat akan dilaksanakan kegiatan
(1) pengembangan media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi, dan
edukasi (KIE); (2) pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat, (seperti pos
pelayanan terpadu, pondok bersalin desa, dan usaha kesehatan sekolah) dan generasi
muda; dan (3) peningkatan pendidikan kesehatan kepada masyarakat.
Upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, perlu didukung oleh peningkatan
kualitas lingkungan hidup yang dilaksanakan melalui penyediaan sarana air bersih dan
sanitasi dasar terutama bagi masyarakat miskin; pemeliharaan dan pengawasan kualitas
lingkungan; pengendalian dampak resiko pencemaran lingkungan; dan pengembangan
wilayah sehat.

D. Meningkatkan Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit


Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat penyakit menular dan
penyakit tidak menular upaya yang perlu dilakukan antara lain pencegahan dan
penanggulangan faktor risiko; peningkatan imunisasi; penemuan dan tatalaksana penderita;
peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah; dan peningkatan
komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.
Upaya khusus untuk mengatasi penyakit polio, yaitu (1) Pekan Imunisasi Nasional (PIN)
Polio secara serentak dilakukan di seluruh provinsi Indonesia untuk memutuskan mata
rantai penularan virus polio tersebut. Pelaksanaan PIN direkomendasikan oleh tim dan para
pakar WHO SEARO dalam technical meeting di New Delhi bulan Juni 2005. PIN Polio 2005
akan dilaksanakan dua kali putaran, yaitu tanggal 30 Agustus 2005 dan 27 September 2005;
(2) Sistem surveilans AFP yang ketat dan intensifikasi surveilans epidemiologi dilakukan di
seluruh provinsi dan kabupaten/kota; dan (3) Peningkatan cakupan imunisasi dilakukan di
setiap desa.
Dalam upaya penanggulangan flu burung, akan dilaksanakan respon cepat ke daerah yang
belum terjangkit sebagai tindakan kewaspadaan dini dengan intensifikasi surveilans
epidemiologi terhadap kasus influenza dan pneunomia. Selain itu, akan dilaksanakan
penyuluhan kesehatan dan membangun jejaring kerja dengan berbagai pihak, serta
meningkatkan koordinasi dan kerja sama lintas sektor.

E. Meningkatkan Keadaan Gizi Masyarakat


Dalam rangka meningkatkan status gizi mayarakat terutama pada ibu hamil, bayi, dan anak
balita perlu dilakukan pendidikan gizi dan pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian
keluarga sadar gizi. Penanggulangan kurang energi protein, anemia gizi besi, gangguan
akibat kurang yodium, kurang vitamin A, dan kekurangan zat gizi mikro lainnya perlu
ditingkatkan, sejalan dengan penanggulangan gizi-lebih, dan surveilans gizi.
Untuk mengatasi masalah busung lapar atau kurang energi dan protein tingkat berat di
berbagai daerah di Indonesia telah dilakukan langkah darurat berupa perawatan penderita di
rumah sakit dan pemberian makanan tambahan. Upaya berikutnya adalah menyusun
rencana secara terpadu untuk menangani masalah ini mulai dari aspek produksi, distribusi
sampai dengan konsumsi dan bersifat lintas sektor. Di bidang kesehatan telah dirumuskan
program perbaikan gizi masyarakat yang meliputi penanggulangan kurang energi protein;
peningkatan surveilans gizi termasuk melanjutkan penerapan sistem kewaspadaan pangan
dan gizi (SKPG) dan mengaktifkan posyandu; peningkatan pendidikan gizi masyarakat; dan
pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi.

F. Meningkatkan Penanganan Masalah Kesehatan di Daerah Bencana


Dalam rangka penanggulangan akibat bencana yang terjadi di berbagai daerah, upaya-
upaya yang akan terus dilanjutkan antara lain adalah rehabilitasi dan rekonstruksi sarana
pelayanan kesehatan yang rusak, pemenuhan tenaga kesehatan, pencegahan dan
pemberantasan penyakit, penyediaan obat dan peralatan kesehatan, perbaikan gizi, serta
upaya untuk memulihkan fungsi pelayanan kesehatan di daerah bencana. Selanjutnya,
dalam rangka penanggulangan akibat bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di
NAD dan Nias, Sumatra Utara, untuk meningkatkan efisiensi dan keefektifan pelayanan
kesehatan, dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi, kerja sama lintas sektor dan lintas
program akan lebih ditingkatkan terutama dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Aceh dan Nias, Sumatra Utara, termasuk ketersediaan sumber pembiayaannya.