Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH ILMIAH

PENENTUAN KAWASAN PERTAMBANGAN BERBASIS SEKTOR KOMODITAS


UNGGULAN SUMBERDAYA NIKEL KABUPATEN KONAWE DAN KONAWE UTARA
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Oleh:
*Iwan Nursahan, **Vijaya Isnaniawardhani dan **Nana Sulaksana
*Pusat Sumber Daya Geologi
Jalan Soekarno-Hatta No.444, Bandung
**Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran
Jalan Raya Bandung-Sumedang Km.21, Jatinangor

SARI
Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Utara merupakan bagian dari Kawasan Strategis
Nasional (KSN) Soroako dan sekitarnya, yang dicanangkan sebagai wilayah dengan komoditi
unggulan pertambangan nikel. Penentuan kawasan pertambangan berbasis komoditi unggulan
sumberdaya nikel ini menggunakan pendekatan Satuan Genetika Wilayah (SGW) dan
memanfaatkan Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG).
Valuasi matrik holistik SGW menghasilkan 204 nilai SGW di Kabupaten Konawe dan 248 nilai
SGW di Kabupaten Konawe Utara. Valuasi matrik holistik tersebut, menunjukkan adanya
keterkaitan aspek potensi dan kendala wilayah terhadap total nilai valuasi SGW.
Berdasarkan valuasi SGW dan analisis SWOT kawasan pertambangan prioritas I, maka dapat
direkomendasikan bahwa SGW Pedataran Patahan Batuan Ultramafik daerah Langikima dan
Wiwirano serta SGW Pedataran Batuan Ultramafik daerah Asera, Andowia, Wiwirano dan
Molawe sebagai Kawasan Andalan Pertambangan Nikel, dengan total sumberdaya sekitar 1,14
Milyar Ton, dan nilai valuasi skenario dikembangkan/ditambang berkisar 248 hingga 298.
Kata kunci: kawasan pertambangan, nikel, valuasi.

ABSTRACT
Konawe and Konawe Utara Regenciesare part of the Sorowako National Strategic Area and
surroundings, which was declared as the nickel mining commodity area. This study aims to
determine the terrain development priority based of nickel resources approaches by the Terrain
Genetic Unit (TGU) using Geographic Information Systems (GIS) technology.
The valuation of holistic matrix TGU, obtained 204 values in Konawe Regency and 248 values of
TGU at Konawe Utara Regency. The holistic matrix valuation shows the relationship between
the potential and constrains value of Terrain characteristic toward the total TGU values .
Based on theTGU valuation and SWOT analysis for first priority mining areas, it can be
recommended that the TGU of Plain Fault ultramafic rocks around Langikima and Wiwirano
areas as well as TGU of Plain ultramafic rocks around Asera,Andowia,Wiwirano and Molawe
areas as the first priority zone of Nickel mining, with resource about 1.14 billion tons, and TGU
value for developed/ mined scenario is ranged between 248 to 298.
Keyword: mining area, nickel, valuation.

PENDAHULUAN tentang Rencana Tata Ruang Wilayah


Nasional, Kabupaten Konawe Utara dan
Latar Belakang Kabupaten Konawe ini merupakan bagian
Dalam Masterplan Percepatan dari Kawasan Strategis Nasional (KSN)
Perluasan Pembangunan Ekonomi Soroako dan Kawasan Andalan
Indonesia (MP3EI 2011 - 2025), Pulau Pertambangan Nikel Asesolo /Kendari,
Sulawesi diarahkan salah satunya untuk Sulawesi Tenggara.
pengembangan pertambangan nikel. Permasalahan utama dalam alokasi
Berdasarkan dalam PP No. 26 tahun 2008 pemanfatan tataguna lahan kawasan

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013 41


MAKALAH ILMIAH

pertambangan, yakni: terdapatnya tumpang (Chetetat,1947, dalam Sutisna, 2006).


tindih antara kegiatan pertambangan Endapan nikel laterit silika merupakan
dengan sektor lainnya, seperti: pertanian, endapan yang terbentuk oleh proses
pemukiman dan kawasan hutan konservasi residual silika bijih nikel yang berasosiasi
dan lindung. Salah satu alternatif untuk dengan batuan ultramafik dunit, peridotit,
mencari solusi masalah tersebutadalah serpentinit-harzburgit pada lingkungan
dengan melakukan penelitian penentuan tropis-subtropis berumur Mesozoikum-
kawasan pertambangan dengan pen- Kuarter. Keterdapatan nikel di Indonesia
dekatan Konsep Satuan Genetika Wilayah umumnya sebagai endapan nikel laterit silika
(Hirnawan, 2005). hasil pelapukan residual batuan dasar
Komplek Ofiolit/Ultramafik, yang ter-
Geologi Regional akumulasi pada batuan peridotit serpentinit
Geologi daerah penelitian di- dan hazburgit (Smirnov, 1976).
dominasi oleh Satuan Batuan Ofiolit/ Selain itu, endapan nikel juga
Ultramafik (Ku) berumur Kapur, terdiri dari : terkonsentrasi pada morfologi dengan
peridotit dan hazburgit. Struktur geologi yang karakteristik ideal. Morfologi ideal ini
berkembang berupa sesar mendatar mengiri berpengaruh terhadap efektifitas proses
berarah baratlauttenggara (Sesar Lasolo). pelapukan, dan tingkat erosi yang
Sesar mendatar menganan Anggowala diakibatkan oleh dinamika iklim tropis.
berarah baratlaut tenggara dan Sesar naik Morfologi ini umumnya berbentuk dataran
Wawo mengakibatkan beranjaknya batuan (plato) dengan kemiringan lereng rendah
ultramafik. Lipatan ditemukan berupa lipatan atau daerah bergelombang dengan
tertutup, lipatan rebah, lipatan pisau dan kemiringan lereng dibawah 30C
lipatan terbalik, pada batuan Tersier, ( S w a m i d h a r m a , 2 0 11 ) . P e m b a g i a n
termasuk dalam Peta Geologi Lembar pengayaan nikel laterit berdasarkan
Lasusua-Kendari, Sulawesi, sekala 1 : kemiringan lereng dapat dijelaskan pada
250.000, terlihat dalam gambar 1 (Rusmana, gambar 2 (Chetetat, 1947; Blanchard, 1944
1993). Menurut Moetamar (2007) batuan dalam Gilbert dan Park, 1986).
ultramafik yang terdiri dari peridotit dan Tipe endapan nikel laterit di
hazburgit tersebut merupakan formasi Sulawesi, ditemukan terakumulasi pada
pembawa logam nikel. lapisan saprolit dan limonit. Endapan nikel
Potensi bijih nikel Kabupaten akan terakumulasi di bagian bawah saprolit
Konawe adalah sebesar 529,9 juta ton, dan kadarnya akan meningkat 30%,
dengan nilai sumber daya sebesar 460,57 dengan kisaran kadar Ni 1,5 3%
juta ton, dan cadangan 69,3 juta ton, kadar Ni (Swamidharma, 2011).
berkisar 0,62%, terdapat di Kecamatan
Routa, Kecamatan Puriala, Kecamatan Potensi Nikel
Pondidaha. Sedangkan di Kabupaten Potensi sumber daya dan cadangan
Konawe Utara total potensi nikel adalah bijih nikel laterit Indonesia sekitar 4,2 milyar
sebesar 501,8 juta ton, dengan nilai sumber ton (2011), atau sepertiga dari sumber daya
daya sebesar 348,5 juta ton,dan cadangan nikel laterit dunia yang mencapai 12,5 milyar
153,3 juta ton, kadar Ni dari 0,982,95%, ton. Secara nasional tahun 2010 produksi
tersebar di Kecamatan Lasolo, Kecamatan bijih nikel mencapai 5,6 juta ton, nikel matte
Langikima, Kecamatan Molawe dan 79 ribu ton dan ferronickel 18 ribu ton. Pada
Kecamatan Wiwirano (Anonim, 2011b). tahun 2011 produksi bijih nikel meningkat
hingga 7,5 juta ton. Pada tahun 2012
Genesa Endapan Nikel diperkirakan produksi bijih nikel nasional
Endapan nikel laterit dapat dibagi mencapai 34 juta ton. Sedangkan produksi
menjadi dua jenis: nickel ferrous ferugineous nikel matte diperkirakan mencapai 70 ribu
dan nickel silicate (nikel laterit silika). Nikel ton dan ferronickel mencapai 19 ribu ton.
laterit pertama memiliki kandungan besi 40% Masih tingginya nilai ekspor bahan mentah
Fe dan Ni 1%. Dan nikel laterit silika menjadi salah satu penyebab tidak
mempunyai kandungan besi < 35 % Fe, dan terserapnya produksi bijih nikel nasional oleh
Ni mencapai 15%, terdapat pada nickel industri dalam negeri (Ignasius L dan
garnierite, terbentuk di bagian zona saprolit Nurseffi, D.W., 2012).

42 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013


MAKALAH ILMIAH

Gambar 1. Peta Geologi Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Utara


(Moetamar,2007 modifikasi dari Rusmana, 1993)

Gambar 2. Penampang tegak pengayaan cebakan nikel lateritik


(Chetetat, 1947dalam Gilbert dan Park, 1986)

Pulau Sulawesi merupakan daerah 70.000 ton (Swamidharma, 2011).


penghasil nikel paling tinggi di Indonesia,
yang menyumbangkan sekitar 7% PDRB Pengembangan Kawasan Pertambangan
Sulawesi. Saat ini, hanya terdapat dua Nikel
produsen utama dan pusat pengolahan nikel Di wilayah Pulau Sulawesi juga
di Sulawesi Bagian Tenggara, yakni PT terdapat empat lokasi penting yang memiliki
Aneka Tambang (Tbk) di Pomalaa Provinsi cadangan nikel melimpah untuk
S u l a w e s i Te n g g a r a s e b a g a i P u s a t pengembangan kawasan pertambangan
Pengolahan ferronickel dengan produksi nikel, yakni: Soroako, Kabupaten Luwu
30.000 ton, dan PT Internasional Nickel Timur, Sulawesi Selatan; Kabupaten
Indonesia (PT INCO), di Soroako, Sulawesi Morowali, Sulawesi Tengah; Pomalaa,
Tengah dengan produksi nickel matte Kabupaten Kolaka, dan Kabupaten Konawe,

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013 43


MAKALAH ILMIAH

Sulawesi Tenggara (Anonim, 2011a). Selain Metoda analisis yang dilakukan


itu juga terdapat pusat kawasan meliputi: analisis SGW; analisis valuasi
pertambangan dan pengolahan mineral holistik SGW (skoring dan pembobotan) dan
logam di Pulau Sulawesi, yakni: penentuan skala prioritas pengembangan
Penambangan dan pengolahan serta kawasan pertambangan. Analisis ini
pemurnian nikel di Konawe Utara, Morowali, dititikberatkan pada formasi batuan
Soroako, dan Pomalaa; tambang dan pabrik pembawa logam nikel berdasarkan peta
Nickel Pig Iron di Bahodopi dan Konawe; geologi daerah penelitian (Moetamar, 2007).
serta Pembangunan pabrik Ferro Nickel di Satuan Genetika Wilayah (SGW)
Kolaka, Kolaka Utara dan Konawe Utara atau Terrain Genetic Unit adalah suatu
(Anonim, 2011a). sistem yang dibentuk oleh sifat-sifat bawaan
Oleh karena itu dalam rangka kewilayahan atau unit-unit pembentuk
pengembangan kawasan pertambangan karakteristik wilayah yang menentukan
nikel di Sulawesi Tenggara, perlu dilakukan potensi dan kendala wilayah yang
penentuan kawasan andalan pertambangan bersangkutan. Satuan genetika wilayah
berbasis sektor unggulan sumber daya nikel merupakan konsep untuk mempersatukan
pada Kabupaten Konawe dan Kabupaten berbagai sifat atau faktor genetik pembentuk
Konawe Utara. Analisis kawasan andalan wilayah untuk memetakan karakterisasi,
dilakukan dengan pendekatan konsep SGW potensi dan kendala wilayah secara terukur
(Hirnawan, 2005). dan komprehensif. Karakteristik wilayah

Gambar 3. Alur pikir untuk penentuan kawasan pertambangan

Tu j u a n p e n e l i t i a n i n i u n t u k adalah sejumlah sifat-sifat kewilayahan yang


menentukan skala prioritas wilayah untuk menentukan potensi dan kendala yang
pengembangan kawasan pertambangan bersangkutan (Hirnawan, 2005).
dan menentukan wilayah yang layak Genetika wilayah terbentuk berdasarkan tiga
dikembangkan sebagai kawasan andalan unsur genetika, yang dikenali sebagai
pertambangan nikel, dengan pendekatan penentu asal-usul kejadian wilayah yang
konsep SGW untuk menentukan dipetakan, yakni: klasifikasi litologi-tektonik-
karakteristik pada tiap-tiap satuan genetika morfologi (Hirnawan, 2005). Ketiga unsur ini
wilayah yang dititikberatkan pada formasi merupakan unit-unit wilayah terkecil yang
pembawa logam (nikel). mempunyai kesamaan genetika dan
karakteristik, potensi dan kendala yang
METODA sama (homogen). Unit-unit wilayah ini
merupakan satuan peta dari Peta Genetika
Metoda analisis dalam tulisan ini dituangkan Wilayah (Tabel 1).
dalam alur pikir deduksi, seperti terlihat Dalam analisis data spasial
dalam gambar 3, sesuai langkah-langkah digunakan teknologi Sistem Informasi
penelitian dedukto=>hipotetiko=> verifikatif Geografis untuk meningkatkan ketelitian
(Hirnawan, 2009). pemetaan SGW, serta permodelan dalam

44 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013


MAKALAH ILMIAH

proses pendelineasian skala prioritas tersebut digunakan dalam per-timbangan


kawasan pertambangan. Pada metoda untuk pembobotan dalam analisis valuasi
analisis spasial dilakukan analisis fisik holistik SGW.
dengan metoda tumpang susun (overlay), Analisis valuasi holistik SGW ini
dengan teknik splitting (pemisahan), dan merupakan kelanjutan tahap analisis SGW,
buffering (penyanggaan) terhadap berbagai dengan melakukan penilaian, pembobotan
obyek peta yang ada dengan menggunakan dengan menggunakan Matrik Holistik SGW
metode Operasi Boolean (I Wayan, 2004). atau matriks keserbacakupan aspek
Tabel 1.
Jenis-jenis SGW
Intensitas Tektonik Kategori bentang alam
Jenis Batuan Lemah Sedang Kuat Pedataran Perbukitan Pegunungan
(1) (2) (3) (1) (2) (3)
1111 1112 1113
Asam
111 112 113 1121 1122 1123
(1)
1131 1132 1133
1211 1212 1213
Batuan Beku Menengah
121 122 123 1221 1222 1223
(1) (2)
1231 1232 1233
1311 1312 1313
Basa
131 132 133 1321 1322 1323
(3)
1331 1332 1333
2111 2112 2113
Klastika Halus
211 212 213 2121 2122 2123
(1)
2131 2132 2133
2211 2212 2213
Batuan Sedimen Klastika Kasar
221 222 223 2221 2222 2223
(2) (2)
2231 2232 2233
2311 2312 2312
Karbonat 231 232 233 2321 2322 2323
2331 2332 2333
3111 3112 3113
Masif
311 312 313 3121 3122 3123
(1)
Batuan Metamorf 3131 3132 3133
(3) 3211 3212 3213
Foliasi
321 321 323 3221 3122 3223
(2)
3231 3232 3233
(Hirnawan, 2005)
Jarang ditemukan
v Penamaan Satuan Genetika Wilayah (Hirnawan, 2005)
Nomor Digit Nama Satuan Genetika Wilayah
1113 SGW Pengunungan lava
2212 SGW Perbukitan breksi gunungapi
2311 SGW Pedataran tuf
2312 SGW Perbukitan tuf
3411 SGW Pedataran batulempung
3431 SGW Pedataran patahan batulempung

Dalam analisis ini dilakukan overlay karakteristik wilayah (Hirnawan, 2005).


peta formasi batuan pembawa mineral Dalam valuasi ini dilakukan analisis hanya
logam, peta geologi khususnya dan peta terhadap 4 faktor atau 20 sub faktor dari tiap-
kemiringan lereng (morfologi) yang telah tiap unit SGW dengan kontribusi pem-
diproses dengan teknik spliting untuk bobotan (dimodifikasi dari Hirnawan, 2005),
pembuatan peta Satuan Genetika Wilayah. sebagai berikut (Tabel 2) :
Selanjutnya dilakukan overlay terhadap peta 1) keekonomian bahan tambang (40%),
jalan dan peta sungai dengan teknik 2) keekonomian kewilayahan tataruang
buffering, untuk membatasi bahwa kegiatan (40%),
penambangan mineral tidak terletak di 3) stabilitas fisik wilayah (10%)
Kawasan Sempadan Sungai dan jalan 4) ancaman resiko / bencana alam (10%),
(Anonim, 2011c). Proporsi kontribusi pembobotan
Selanjutnya dilakukan tumpang dengan perbandingan 4: 4: 2, perbandingan
susun peta SGW dengan peta tataguna faktor pengembangan sumber daya mineral
lahan, peta rawan bencana gempa bumi, (40%): kewilayahan (40%): lingkungan
peta rawan bencana gerakan tanah dengan (20%) diarahkan untuk analisis
proses teknik splitting untuk diperoleh Peta pengembangan kawasan pertambangan
Satuan Genetika Wilayah dan Tataguna berbasis keekonomian sumber daya
Lahan serta Peta Satuan Genetika Wilayah mineral. (20% dimodifikasi dari Hirnawan,
dan Zona Rawan Bencana. Peta-peta 2005).

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013 45


MAKALAH ILMIAH

Tabel 2.
Kontribusi Bobot dan Nilai faktor dan sub faktor Valuasi SGW
NO. BOBOT
FAKTOR Bobot SUB FAKTOR
SUB FAKTOR
Faktor
Kajian Global
1 Keekonomian 40 Cadangan/sumber daya 30 12.00
bahan galian Kualitas 20 8.00
/tambang Pangsa Pasar/Status IUP 30 12.00
Tempat Simpan Tanahpucuk 10 4.00
Tingkat Kesulitan Pengerjaan 10 4.00
Sub Total 100 40.00
2 Ke ekonomian 40 Kemiringan lereng 20 8.00
Wilayah Tutupan Lahan/Status Hutan 30 12.00
Ruang Infrastruktur jalan/Aksesibilitas 15 6.00
Infrastruktur pelabuhan 10 4.00
Kesediaan Air/sungai 10 4.00
Ketersedian Bahan Bangunan 10 4.00
Areal Buangan Limbah 5 2.00
100 40.00
3 Stabilitas 10 Lereng Alamiah 40 4.00
Kewilayahan Permukaan Tanah/Jenis Tanah 30 3.00
Tata Ruang Goncangan/Percepatan Gempa 30 3.00
100 10.00
4 Ancaman 10 Gerakan Tanah 30 3.00
Resiko/Bencana Gempa Bumi 20 2.00
Alam Erupsi Gunung Api 15 1.50
Nendatan Tektonik/zona 20 2.00
seismo tektonik/ longsoran
Banjir 15 1.50
Sub Total 100 10.00
100 Jumlah Global 100.00
(modifikasi dari Hirnawan, 2005)

Tabel 3.
Kriteria Penilaian Sub Faktor Karakteristik wilayah

Nilai Keterangan
3 A Sangat Baik
2 B Baik
1 C Cukup
0 N Bila tidak ditambang
- 1 c Kurang
- 2 b SangatKurang
- 3 a Sangat kurang sekali
(Hirnawan, 2005)

Setiap sub faktor berturut-turut mempunyai 2/layakcukup layak dikembangkan).


nilai (skoring) seperti pada tabel 3. Hasil c. potensi rendah : 0 s/d 100 (prioritas
proporsi kontribusi pembobotan ini 3/tidak layak dikembangkan).
digunakan untuk analisis valuasi dengan Penentuan kawasan andalan
menggunakan Matrik holistik (tabel 4) pertambangan ditentukan dari analisis ter-
(dimodifikasi dari Hirnawan, 2005). kait faktor Strenght, Weakness, Opportunity
Nilai potensi wilayah dikelompokkan dan Threat (SWOT) dan verifikasi
untuk penentuan skala prioritas pe- karakteristik kewilayahan terhadap nilai
ngembangan kawasan pertambangan valuasi holistik dari SGW yang memiliki
didasarkan pada nilai SGW skenario potensi tinggi nilai untuk dikembangkan
dikembangkan/ditambang, yakni: (>200) terhadap faktor keekonomian bahan
a. potensi tinggi : 200 300 (prioritas tambang, keekonomian wilayah tataruang,
1/sangat layak dikembangkan). potensi energi, aspek kebencanaan alam
b. potensi menengah: 100 s/d 200 (prioritas serta kebijakan dan kependudukan.

46 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013


MAKALAH ILMIAH

HASIL DAN PEMBAHASAN valuasi SGW.


Di Kabupaten Konawe terdapat nilai
Hasil analisis spasial dari peta valuasi skenario ditambang berpotensi
potensi dan sebaran formasi batuan terendah +76, yang dijumpai pada SGW
pembawa nikel, peta geologi dan peta Perbukitan Batuan Ultramafik daerah Puriala
kemiringan lereng di Kabupaten Konawe (tabel 4). Nilai valuasi skenario ditambang
dan Kabupaten Konawe Utara, maka berpotensi tertinggi +265 terdapat pada
diperoleh Peta Satuan Genetika Wilayah, SGW Perbukitan Batuan Ultramafik daerah
pada formasi batuan pembawa nikel untuk Pondidaha.
kedua kabupaten. Peta Satuan Genetika ini Di Kabupaten Konawe Utara nilai
dapat dibagi atas 4 unit SGW, yakni: valuasi skenario ditambang berpotensi
1. SGW Pedataran Batuan Ultramafik (1311) terendah + 56 yang dijumpai pada SGW
2. SGW Pedataran Patahan Batuan Perbukitan Patahan Batuan.Pada Ultramafik
Ultramafik (1331) daerah Asera nilai valuasi skenario
3. SGW Perbukitan Batuan Ultramafik ditambang berpotensi tertinggi +298, pada
(1312) SGW Pedataran Batuan Ultramafik Molawe
4. SGW Perbukitan Patahan Batuan (tabel 7).
Ultramafik (1332) Selanjutnya dari Peta Valuasi Satuan
Selanjutnya diperoleh Peta Satuan Genetika Wilayah Kawasan Pertambangan
Genetika Wilayah dan Tataguna Lahan serta Nikel, maka diperoleh 3 (tiga) skala prioritas
Peta Satuan Genetika Wilayah dan Bencana pengembangan kawasan pertambangan
Gerakan Tanah untuk kedua kabupaten. nikel, yakni(Gambar 5): a. prioritas III,
Peta Satuan Genetika Wilayah dan berpotensi rendah dikembangkan
Tataguna Lahan pada Kabupaten Konawe, /ditambang (nilai valuasi SGW < 100); b.
disajikan pada gambar 4. prioritas II, berpotensi menengah
Sesuai hasil analisis valuasi matrik dikembangkan/ditambang (nilai valuasi
holistik SGW (tabel 4), diperoleh nilai valuasi SGW 100 s/d 200), c. prioritas I, berpotensi
SGW skenario ditambang /dikembangkan tinggi dikembangkan/ditambang (nilai
dan skenario exsisting /tidak ditambang valuasi SGW > 200). Adapun nilai valuasi
untuk tiap-tiap SGW dari kedua kabupaten. SGW prioritas I (berpotensi tinggi) pada
Pada Kabupaten Konawe diperoleh Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe
sebanyak 204 nilai valuasi SGW dan untuk Utara, yang disajikan pada tabel 5 tabel 6.
Kabupaten Konawe Utara diperoleh 248 nilai

Gambar 4. Peta Satuan Genetika Wilayah dan Tataguna Lahan Kabupaten Konawe

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013 47


MAKALAH ILMIAH

PEMBAHASAN Total nilai valuasi SGW tersebut,


terutama dipengaruhi oleh nilai faktor
Dari hasil valuasi matrik holistik SGW keekonomian bahan tambang +112, yang
tersebut, maka diperoleh keterkaitan nilai menunjukkan nilai potensi wilayah. Dan nilai
potensi dan kendala wilayah dari unit-unit faktor keekonomian wilayah tata ruang 26,
karakteritik wilayah terhadap total nilai yang menunjukkan nilai kendala wilayah,
valuasi dari tiap-tiap SGW. Hubungan yakni berada pada Taman Nasional. Dengan
keterkaitan nilai karakteritik wilayah demikian, SGW Pedataran Batuan
terhadap nilai valuasi SGW tersebut dapat Ultramafik daerah Puriala ini tidak layak
disajkan pada tabel 4 dan tabel 7, yakni: dikembangkan sebagai kawasan per-
Nilai valuasi matriks holistik SGW tambangan nikel.
Pedataran Batuan Ultramafik di daerah Pada nilai valuasi holistik pada SGW
Puriala kabupaten Konawe (tabel 4), Pedataran Batuan Ultramafik Kecamatan
menunjukan nilai total skenario ditambang Molawe Kab Konawe Utara (tabel 7)
sebesar +76, dan nilai kondisi tidak diperoleh total nilai valuasi SGW
ditambang sebesar +90. Hal ini me- dikembangkan/ditambang sebesar +298,
nunjukkan nilai keekonomian wilayah dan nilai kondisi tidak ditambang/existing
berpotensi rendah untuk dikembangkan sebesar +282. Hal ini menunjukkan nilai
/ditambang dan nilai skenario ditambang keekonomian wilayah berpotensi tertinggi.
lebih kecil dari kondisi tidak ditambang. Sehingga SGW ini layak dikembangkan
sebagai kawasan pertambangan nikel.

Tabel 4.
Matriks Holistik SGW Pedataran Batuan Ultramafik Kecamatan Puriala Konawe
NO. FAKTOR BOBOT SUB FAKTOR BOBOT N I L A I B O B O T & NILAI
FAKTOR SUB FAKTOR Ditambang Tidak itambang Ditambang Tidak Ditambang
On Off On On Off On Off
Kajian Global Site Site Site Off Site Site Site Total Site Site Total

1 Keekonomian 40 Cadangan/sumber daya 30 12.00 C C C C 12 12 24 12 12 24

Bahan Tambang Kualitas 20 8.00 B B B B 16 16 32 16 16 32


Pangsa Pasar/Status IUP 30 12.00 C C C C 12 12 24 12 12 24
Tmpt Simpn Tanahpucuk 10 4.00 B B B B 8 8 16 8 8 16
Tgkt Kesulitn Pengerjaan 10 4.00 B B B B 8 8 16 8 8 16
100 40.00 Subtotal 56.0 56.0 112.0 56.0 56.0 112.0
2 Keekonomian 40 Kemiringan lereng 20 8.00 B b B b 16 -16 0 16 -16 0
Wilayah Tata
Ruang Tutupan Lahan/Status Hutan 30 12.00 b b b b -24 -24 -48 -24 -24 -48
Aksesibilitas/Infrastruktur jalan 15 6.00 C B B B 6 12 18 12 12 24
Infrastruktur pelabuhan 10 4.00 C C C C 4 4 8 4 4 8
Kesediaan Air 10 4.00 C C B B 4 4 8 8 8 16
Ktersdian Bhn Bangunan 10 4.00 c c c c -4 -4 -8 -4 -4 -8
Areal Buangan Limbah 5 2.00 c c c N -2 -2 -4 -2 -2 -4
100 40.00 Subtotal -32.0 6.0 -26.0 -22.0 10.0 -12.0
3 Stabilitas 10 Lereng Alamiah 40 4.00 B b B b 8 -8 0 8 -8 0
Kewilayahan Permukaan Tanah/jenis tanah 30 3.00 B N B N 6 0 6 6 0 6
Tata Ruang Goncangan/Percepatan Gempa 30 3.00 c c c c -3 -3 -6 -3 -3 -6
100 10.00 Subtotal -5.0 5.0 6.0 -5.0 8.0 6.0
4 Acaman risiko 10 Gerakan tanah 30 3.00 c c c c -3 -3 -6 -3 -3 -6
Bencana Gempa bumi 20 2.00 c c c c -2 -2 -4 -2 -2 -4
Alam Erupsi Gunung Api 15 1.50 N N N N 0 0 0 0 0 0
Nendatan tektonik/ seismotekto-
nik/Longsoran 15 1.50 c c c c -3 -3 -6 -3 -3 -6
Banjir 20 2.00 N N N N 0 0 0 0 0 0
100 10 Subtotal -8 -8 -16 -8 -8 -16
Jumlah Global 100 100 Total 11.00 59.00 76.00 21.00 66.00 90.00

Tabel 5.
Rekapitulasi Daerah SGW Berpotensi Tinggi (Priortas I) untuk Pengembangan Kawasan
Pertambangan Kab, Konawe
No Satuan Genetika Kecamatan sumber daya Tataguna Nilai skenario
Wilayah (juta ton) lahan ditambang
1 Pedataran Batuan Pondidaha 2,35 APL 232 - 265
Ultramafik
2 Pedataran Patahan Routa 214,72 APL, HP, 206 - 235
Batuan Ultramafik dan HL
3 PerbukitanBatuan Pondidaha 2,45 APL, HP 211 - 265
Ultramafik
4 Perbukitan Routa 32,31 APL, HP 208 - 240
Patahan Batuan
Ultramafik

48 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013


MAKALAH ILMIAH

Tabel 6.
Rekapitulasi Daerah SGW Yang Berpotensi Tinggi (Priortas I) Untuk Pengembangan Kawasan
Pertambangan Kab, Konawe Utara

No Satuan Genetika Kecamatan Sumber daya Tataguna lahan Nilai


Wilayah (jutaton) skenario
ditambang
1 Pedataran Batuan Andowia 77,42 APL, HP 200 266
Ultramafik Asera 20,38 APL,HPK,HP, 204 282
HPT
Molawe 157,19 APL, HP , HL 200 -298
Oheo 11,18 APl, HPK, HP 204- 234
Wiwirano 34,22 HPK, HP 210 264
2 Pedataran Patahan Wiwirano 28,82 HPK, HPT 215 252
Batuan Ultramafik Andowia 4,22 APL 252 284
Asera 38,73 APL 212 242
Langikima 1.147,56 HPK, HP, HPT 204 264
3 Perbukitan Batuan Langikima 35,14 HL, HP 212- 244
Ultramafik Asera 31,43 HPK 216
Molawe 48,89 APL, HP 204 - 272
4 Perbukitan Molawe 40,29 APL 286
Patahan Batuan Asera 58,57 APL 264
Ultramafik Andowia 12,16 APL, HP, HPT, HL 202 - 256

Nilai valuasi ini didukung oleh nilai Kabupaten Konawe: SGW pedataran
faktor keekonomian potensi bahan tambang patahan batuan ultramafik Routa, Routa-
+184, dan nilai faktor keekonomian wilayah Liasa, RoutaWiwirano; SGW perbukitan
tataruang sebesar + 136. Hal ini didukung patahan batuan ultramafik Routa-Liasa dan
oleh sub faktor tataguna lahan/status hutan Routa-Sampala; SGW pedataran batuan
yang termasuk pada kawasan Area ultramafik dan SGW perbukitan batuan
Pengunaan Lainnya (APL). ultramafik daerah Pondidaha. Dan
Sesuai Peta valuasi Satuan Genetika Kabupaten Konawe Utara: SGW pedataran
Wilayah Kawasan Pertambangan Nikel batuan ultramafik daerah Asera, Oheo,
Kabupaten Konawe dan Konawe Utara Andowia dan Molawe; SGW pedataran
(gambar 5) dan nilai valuasi SGW, maka patahan Batuan Ultramafik daerah Andowia,
diperoleh 12 wilayah pada 4 SGW, yang Wiwirano, Langikima; SGW Perbukitan
berpotensi tinggi (nilai valuasi SGW> 200, batuan ultramafik Molawe; dan SGW
prioritas I) untuk dikembangkan sebagai Perbukitan patahan batuan ultramafik
kawasan pertambangan nikel, yakni : Molawe.

Gambar 5. Peta Valuasi SGW Kawasan Pertambangan Nikel Kabupaten Konawe dan
Konawe Utara

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013 49


MAKALAH ILMIAH

Tabel 7.
Rekapitulasi Matriks Holistik SGW Pedataran Batuan Ultramafik
Kecamatan Molawe Konawe Utara
DITAMBANG TIDAK DITAMBANG
NO. FAKTOR
On Site Off Site Total On Site Off Site Total
1 Keekonomian 92.0 92.0 184.0 92.0 92.0 184.0
Bahan Tambang
2 Keekonomian 88.0 48.0 136.0 78.0 42.0 120.0
Wilayah Tataruang
3 Stabilitas 6.0 -14.0 -8.0 6.0 -14.0 -8.0
Kewilayahan
tataruang
4 Acaman risiko -7 -7 -14 -7 -7 -14
Bencana Alam
Total 179.00 119.00 298.00 169.00 113.00 282.00

Sesuai verifikasi kondisi fisik dan (Chetetat, 1947 dan Swamidharma, 2011).
infrastruktur kawasan pertambangan daerah Sesuai evaluasi faktor keekonomian potensi
Puriala, Konawe terletak pada kawasan bahan galian, keekonomian wilayah
TamanNasional dan jalan memadai, dengan tataruang dan kebencanaan alam, diperoleh
nilai valuasi skenario dikembangkan +76 delapan daerah pada kedua kabupaten ini,
termasuk nilai keekonomian wilayah yang berpotensi tinggi untuk diper-
berpotensi rendah dikembangkan (gambar timbangkan sebagai kawasan andalan
6). Dan sesuai verifikasi di daerah kawasan pertambangan nikel (tabel 8).
pertambangan Langikima (PT Startage), Sesuai analisis matriks SWOT (Tabel
diperoleh gambaran merupakan daerah 9), dan nilai valuasi SGW pada kawasan
penambangan yang telah status IUP pertambangan ini, maka direkomendasikan
produksi (gambar 7), termasuk SGW Kawasan Andowia-AseraMolawe dan
pedataran patahan batuan ultramafik, jalan Langikima Kabupaten Konawe Utara
memadai, infrastruktur pelabuhan tersedia, memiliki peluang tertinggi untuk di-
dengan nilai valuasi 248, berpotensi tinggi kembangkan sebagai pusat Kawasan
dikembangkan sebagai kawasan Andalan Pertambangan Nikel (gambar 8),
pertambangan. dengan total sumber daya 1,14 Milyar Ton,
Selanjutnya untuk menentukan status IUP Operasi-produksi, yang didukung
kawasan andalan pertambangan nikel dapat infrastruktur jalan memadai dan pelabuhan
dilakukan dengan analsisi matriks SWOT tersedia-memungkinkan dibangun. Untuk
yang dittikberatkan pada wilayah SGW pengembangan kawasan ini dilakukan
pedataran, dengan morfologi pedataran langkah strategi seperti pada strategis
landai dan pedataran plato merupakan perbandingan Strengh-Opportunity (S-O)
daerah yang prospek untuk endapan nikel pada matrik analisis SWOT (tabel 9).

Gambar 6. Kondisi jalan kawasan pertambangan Gambar 7. Kondisi Stock file Pertambangan
Nikel Puriala, dan morfologi dekat Taman Nasional PT Stargate daerah Langikima, Konawe Utara

50 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013


MAKALAH ILMIAH

Tabel 8.
Rekapitulasi karakteristik Wilayah dan Nilai Valuasi Rencana
Kawasan Andalan Pertambangan Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Utara
No Satuan Kecamatan sumber daya Status IUP Tataguna Nilai
Genetika ( juta ton) lahan skenario
Wilayah ditambang
Konawe
1 Pedataran Pondidaha 2,35 Operasi- APL 214 - 249
Batuan produksi
Ultramafik
2 Pedataran Routa 249,25 Eksplorasi- APL,HP 207 - 229
Patahan Batuan Operasi-
Ultramafik produksi
Konawe Utara
1 Pedataran Andowia 74,60 Operasi APL, HP 200 266
Batuan Produksi
Ultramafik Asera 11,66 Eksplorasi- APL,HPK, 226 282
Operasi- HP
produksi
Molawe 55,98 Operasi APL, HP 236 -298
Produksi
Wiwirano 31.83 Eksplorasi HPK 264
2 Pedataran Wiwirano 12.13 Operasi HPK 252
Patahan Batuan Produksi
Ultramafik Langikima 1.077 Operasi HP 248 264
Produksi -
Eksplorasi

Gambar 8. Peta Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Pertambangan


Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013 51


52
Tabel 9.
Matriks Analisis SWOT Penentuan Kawasan Andalan
Lingkungan Internal Kelemahan (Weaknesses)
Kekuatan Kawasan Pertambangan
1. Pondidaha dan Wiwirano memiliki potensi sedikit-sedang
1. Kawasan Langikima, Routa dan Andowia-
(2,3 sampai 43 juta ton).
Asera-Molawe berpotensi tinggi-melimpah
2. Kadar Bijih Ni bervariasi, sehingga mempengaruhi kualitas raw
2. Kawasan Andowia-Asera-Molawe dan Langikima
material yang dapat berpengaruh pada fluktuasi harga pasar dan
(AMOLA) memiliki Potensi Energi tertinggi
teknologi pengolahan
3. Status Hutan APL HP
3. Infrastruktur jalan pada umumnya masih memerlukan peningkatan
4. Sebagian besar Kawasan AMOLA status IUP Operasi Produksi
kondisi
5. Infrastruktur pelabuhan daerah Langikima dan Molawe tersedia
4. MemerlukanOpersional cost relatif tinggi untuk pembangunan
memungkinkan dibangun
infrastruktur energi
6. Kawasan Molawe dan Langikima rencana Lokasi Smelter.
5. Beberapa kawasan tidak memiliki pelabuhan (Routa dan
7. nilai valuasi tertinggi Wilayah Konawe Utara :
Pondidaha), Wiwirano(tidak tersedia memungkinkan dibangun)
MAKALAH ILMIAH

Andowia-Asera-Molawe dan Langikima 248 298


6. Zona percepatan Gempa bumi Tinggi - menengah
8. Memiliki Kepadatan penduduk relatif rendah dan didominasi
7. Nilai valuasi Kawasan Konawe 207 249
berumur angkatan kerja produktif (16 -50 th)
8. Belum ada pembangunan smelter baru
Lingkungan Eksternal 9. Unskill labour, budaya induk di sektor pertanian, perlu transformasi
struktural
Peluang (Opportunities) Strategi S O Strategi W O
- Wilayah pertambangan telah tertuang dalam rencana Tata - Kawasan Andowia-Asera-Molawe dan Langikima berpeluang - Mendorong pengusahaan pertambangan Kawasan Routa yang
ruang wilayah tinggi Kawasan Andalan Pertambangan merupakan bagian dari wilayah KSN Soroako
- Kesempatan penentuan kebijakan kawasan andalan - Melakukan Kajian keekonomian pengusahaan kawasan industri - Mendorong kerjasama untuk pemasaran produksi pertambangan
pertambangan, kawasan strategis, kawasan ekonomi khusus pertambangan Kawasan Pondidaha
(KEK) - Mendorong percepatan pembangunan sumber-sumber energi - Meningkatkan pembangunan pelabuhan pada kawasan pertambangan
- Sumber devisa bagi PAD dalam membangun daerah - Mendorong percepatan pembangunan infrastruktur Pelabuhan Wiwirano
- Terbuka peluang mengembangkan potensi sumberdaya dan jalan - Melakukan kajian keekonomian potensi SDM terhadap Pola Ruang
Air sebagai energi alternatif - Mendorong percepatan pembangunan di daerah terisolir - Melakukan Penyusunan Pola Ruang dalam pengembangan kawasan

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013


- Membuka keterisoliran daerah, berdampak pada peningkatan - Mendorong percepatan kerjasama dalam pembangunan Smelter andalan pertambangan, kawasan strategis, kawasan ekonomi khusus
aktifitas ekonomi masyarakat baru untuk meningkatkan nilai tambah kegiatan pertambangan - Melakukan Pengolahan dalam negeri guna mendorong Peningkatan
- Meningkatkan PAD bidang pertambangan dan peluang - Melakukan Pengolahan dalam negeri guna mendorong Nilai Tambah Mineral &Multiplier efek ekonomi lainnya
multiplier efek ekonomi (investasi, tenaga kerja, dan Peningkatan Nilai Tambah Mineral &Multiplier effek ekonomi - Mendorong percepatan pembangunan infrastruktur Pelabuhan dan
diversifikasi) lainnya jalan
- Pengusahaan Pertambangan membuka peluang lapangan kerja - Mendorong pemanfatan tenaga kerja penduduk setempat dalam - Meningkatkan Kemampuan Keahlian pendudukan setempat dalam
- Peluang pengembangan dunia pendidikan pertambangan pengusahaan tambang Bidang pertambangan
Ancaman (Threats) Strategi S T Strategi W T
- Sebagian besar Potensi Sumber daya mineral berada pada - Melakukan Kajian Wilayah Pencadangan Negara (WPN)
- Melakukan Penyuluhan Kaidah Konservasi dalam pertambangan
kawasan Lindung untuk Pertambangan Nikel
- Melakukan Kajian Rekayasa Tambang
- Tumbuhnya Ilegal mining - Melakukan penelitian dan bimbingan konservasi pertambangan
- Mendorong pengembangan teknologi pengolahan mineral
- Monopoli dan Oligopoli terhadap harga komoditi nikel - Melakukan Harmonisasi dan bimbingan teknik Pengusahaan
- Menerapkan teknologi rekayasa tambang pada beberapa kawasan
- Kurang mendukung terhadap pengembangan industri Pertambangan Minerba untuk pengembangan peningkatan nilai
rawan gempa tingi dan zona gerakan tanah menengah
pengolahan mineral tambah
- Mendorong kerjasama dalam pengusahaan tambang untuk
- Akan menghambat pertumbuhan ekonomi daerah - Menerapkan fungsi CSR untuk mengurangi migrasi non permanen
pembangunan smelter baru
- Pemeliharaan pelabuhan dan jalan menjadi tinggi, sehingga - Mendorong Pengembangan pendidikan tinggi bidang pertambangan
- Meningkatkan Kemampuan Keahlian pendudukan setempat dalam
tingkat kerawanan kecelakaan meningkat dan perlu investasi di regional SULTRA untuk mengantisipasi pemanfaatan
Bidang pertambangan
infrastruktur dengan biaya yang tinggi. sumberdaya mineral menjadi pengusahaan pertambangan pada
- Dampak Permen ESDM 07 Tahun 2012 tentang Peningkatan waktu mendatang
Nilai Tambah menjadi beban bagi kegiatan pengusahaan
pertambangan
- Menurunnya investasi pertambangan yang berpengaruh pada
PAD
- Migrasi non permanent menimbulkan permasalahan sosial
MAKALAH ILMIAH

KESIMPULAN serta daerah Andowia-Asera, Wiwirano dan


Molawe SGW Pedataran Batuan Ultramafik
Terdapat keterkaitan nilai potensi pada Kabupaten Konawe Utara dapat
dan kendala wilayah dari unit-unit direkomendasikan sebagai Kawasan
karakteristik wilayah terhadap total nilai Andalan Pertambangan Nikel.
valuasi SGW skenario ditambang
/dikembangkan. Wilayah yang berpotensi UCAPAN TERIMA KASIH
tinggi untuk dikembangkan sebagai
kawasan pertambangan Nikel adalah : Penulis mengucapkan terima kasih
Daerah Routa, Pondidaha Kabupaten pada Nugroho W Wibowo, Emi Sukiyah dan
Konawe dan Daerah Asera,Andowia, Oheo, Edi Tri Haryono, Syafrudin dan juga kepada
Wiwirano, Molawe dan Langikima semua pihak yang telah memberikan
Kabupaten Konawe Utara. masukan dalam penulisan makalah ini.
Daerah Langikima dan Wiwirano
SGW Pedataran Patahan Batuan Ultramafik

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011a. Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011 Tentang Masterplan Percepatan Dan
Peluasan Pembangunan Nasional. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Jakarta.
Anonim. 2011b. Pemuthakiran Neraca Sumberdaya Mineral Tahun 2011.Badan Geologi. Pusat
Sumber DayaGeologi. Bandung.
Anonim. 2011c. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011, Tentang Sungai.
Gilbert, John and Park, Charles. F. 1986. The Geology of Ore Deposits, United States of
America. Newyork. page 785 788.
Hirnawan, Febri. 2005. Peta Genetika Wilayah. Disertai Valuasi Karakteristik, Potensi, Dan
Kendalanya Untuk Penataan Ruang dan Pengembangan wilayahTerbaik. Universitas
Padjajaran. Bandung.
Hirnawan, Febri. 2009. Riset Bergulirlah Proses Ilmiah Program Pascasarjana. Universitas
Padjadjaran. Bandung.
Ignasius L dan Nurseffi, D.W. 2012. Ekspor nikel Indonesia turun 90%. dalam
steelindonesia.com diunduh Oktober 2012.
Moetamar. 2007. Inventarisasi Endapan Nikel Di Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi
Tenggara. Proceding-Kolokium. Badan Geologi. Pusat Sumber Daya Geologi Bandung.
Nuarsa I Wayan. 2004. Mengolah Data Spasial dengan Map info Profesional. Andi.Yogjakarta.
Rusmana,E, Sukido, Sukarna. D., Haryanto 1993. Peta Geologi Lembar Lasusua Kendari,
Sulawesi. Skala 1: 250.000 . Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G).
Bandung.
Smirnov, V.I.. 1976. Geology Of Mineral Deposits. Chapter 11. Deposits of Weathering. Moscow.
Russian. Page 364.
Sutisna, Deddy& Sunuhadi, D.N. 2006. Perencanaan Eksplorasi Cebakan Nikel Laterit Di
Daerah Wayamli, Teluk Buli, Halmahera Timur Sebagai Model Perencanaan Eksplorasi
Cebakan Nikel Laterit di Indonesia. Pusat Sumber Daya Geologi. Bandung.
Swamidharma, Yoseph. 2011. Nickel Laterite Contents and Grades in Sulawesi. PT. Tint Mineral
Indonesia. PROCEEDINGS OF THE SULAWESI MINERAL RESOURCES 2011
SEMINAR MGEIIAGI., Manado, North Sulawesi, Indonesia.

Diterima tanggal 12 Juni 2013


Revisi tangga 28 Agustus 2013

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 8 Nomor 2 - 2013 53