Anda di halaman 1dari 18

Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

VII. Peralatan Tambang dan


Tenaga Kerja

Jumlah shift yang diperlukan untuk setiap alat untuk mencapai target
produksi dapat ditentukan berdasarkan jadwal produksi tambang. Jumlah
setiap jenis alat dan operator yang dibutuhkan dapat dihitung Dengan
diketahuinya jumlah shift dan jam kerja efektif. Pada bab ini terutama
akan dijabarkan peralatan utama tambang seperti alat bor lubang ledak,
alat muat (loader/shovel), dan alat angkut (truk). Sebagai tambahan, akan
dibahas sedikit mengenai peralatan bantu seperti bulldozer, grader, dan
truk air untuk meredam debu di jalan angkut.
Tahap-tahap umum dalam proses perhitungan alat:
a. Tentukan jadwal kerja tambang dan jumlah gilir kerja per tahun.
b. Tentukan jumlah waktu produktif (dalam menit) per gilir kerja untuk
setiap jenis alat.
c. Tentukan produktifitas gilir kerja (dengan satuan ton/shift) untuk
setiap jenis alat.
d. Hitung jumlah gilir kerja yang diperlukan untuk setiap jenis alat.
Hitung pula utilisasi alat dan jumlah operator yang diperlukan.

7.1. JADWAL KERJA TAMBANG


Biasanya tergantung pada skala operasi, adat kebiasaan dan undang-
undang setempat, serta keterpencilan lokasi kerja. Perlu
mempertimbangkan faktor-faktor seperti rotasi gilir kerja rutin, libur
terjadwal (hari besar atau hari perawatan alat) serta hari menganggur
karena cuaca buruk.
Untuk operasi berskala besar dan berkesinambungan:

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-1
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

a. Di Amerika Serikat tiga gilir kerja per hari @ 8 jam dengan rotasi 7-1,
7-2, 7-4 telah menjadi tradisi. Jadwal kerja ini memerlukan 4 orang
kru kerja dan memiliki periode 28 hari.
b. Dua gilir kerja @ 12 jam per hari juga semakin umum diterapkan.
Jumlah kru kerja tetap 4 orang, namun jadwal rotasinya lebih
kompleks.
c. Di lokasi terpencil di Kanada sistem kamp fly in - fly out sering dipakai
untuk lokasi tambang. Dua orang kru kerja diterbangkan ke lokasi
untuk bekerja 12 jam per gilir selama empat hari, kemudian
diterbangkan pulang dan diganti dengan 2 orang kru lain.

Untuk operasi yang lebih kecil dan jadwal tak berkesinambungan:


a. Dua gilir kerja per hari @ 10 jam lebih populer, dengan 20 jam operasi
per hari. Bekerja lima hari per minggu dengan 2 kru membutuhkan
kurang lebih 10 jam lembur per orang per minggu. Dengan jumlah kru
3 orang maka jumlah hari kerja menjadi 6 hari per minggu.
b. Jadwal semacam ini umum dipakai pada tambang-tambang logam
mulia berukuran kecil sampai sedang.
c. Sebagai catatan, perawatan alat dapat dilakukan secara memadai
selama waktu antar gilir, sehingga persentase waktu produktif selama
gilir kerja akan lebih tinggi.

Operasi penambangan terbuka umumnya dimulai dengan satu gilir kerja di


awal pra-produksi. Gilir kerja ditambah setelah ruang kerja yang cukup
luas tersedia di tambang dan kru dapat dilatih.

Dengan diketahuinya lama gilir kerja, tentukan atau perkirakan berapa


jumlah menit sebenarnya yang dimanfaatkan untuk kerja produktif.
1. Waktu non-produktif yang terjadwal meliputi waktu tempuh ke lokasi
kerja selama pergantian gilir kerja, waktu makan siang, pemeriksaan
alat, pengisian bahan bakar, dll.
2. Waktu tunda / menganggur tak terjadwal meliputi beberapa faktor
yang tergantung pada jenis alat:

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-2
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

a. Untuk mesin bor: waktu peledakan, waktu untuk pindah antar


jenjang, waktu tunggu untuk supervisi dll.
b. Untuk shovel dan loader: waktu peledakan, waktu untuk pindah
antar jenjang, waktu menunggu truk, waktu pindah yang singkat di
permuka kerja, waktu pembersihan di sekitar permuka kerja dll.
c. Untuk truk: waktu peledakan, waktu untuk pindah ke alat muat
lain, waktu menunggu di shovel, dump, crusher dll.
Salah satu cara untuk memperhitungkan waktu menganggur tak terjadwal
adalah dengan menggunakan faktor efisiensi kerja. Anggapan yang umum
dipakai adalah bahwa 45-55 menit dalam setiap jam akan digunakan untuk
kerja produktif. Waktu 50 menit per jam (efisiensi 83%) merupakan standar
historis (di luar waktu menganggur terjadwal).

7.2. PERTIMBANGAN DALAM PEMILIHAN PERALATAN


Pemilihan peralatan yang sesuai dengan kondisi tambang serta kondisi
operasi yang diinginkan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor
tersebut adalah dikelompokkan menjadi :
1. Faktor Unjuk Kerja
Faktor-faktor yang dikelompokkan di sini adalah yang berhubungan
langsung dengan produktivitas alat.
2. Faktor Rancangan
Berkaitan dengan kualitas dan efektivitas rancangan detil, termasuk
diantaranya kecanggihan perangkat antarmuka (interface) manusia-
mesin, tingkat teknologi yang diterapkan dan jenis pengendali.
3. Faktor Pendukung
Faktor-faktor ini ditunjukkan dalam pelayanan dan perawatan (service
& maintenance), ketersediaan suku cadang dan dukungan dari pabrik
pembuat.
4. Faktor Biaya
Merupakan faktor yang paling kuantitatif.
Kegiatan pemindahan tanah yang mencakup dua unit operasi, penggalian
dan pengangkutan, merupakan inti dari kegiatan penambangan. Oleh
karena itu pemilihan peralatan untuk kegiatan tersebut merupakan tugas

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-3
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

utama yang harus dilakukan. Peralatan lainnya akan mengikuti karena


sifatnya menunjang kedua kegiatan tersebut atau unjuk pekerjaan lainnya.

7.3. ALAT BOR LUBANG TEMBAK


Ukuran berkisar dari air track drill kecil untuk lubang tembak berdiameter
5 inci, hingga rotary drill besar untuk lubang tembak berdiameter +12 inci.
Ukuran alat bor / lubang tembak biasanya terkait dengan tinggi jenjang.
Umumnya lebih disukai untuk membuat lubang tembak dalam satu pass,
tanpa berhenti untuk menyambung batang bor.
Perhitungan produktifitas alat bor memerlukan masukan parameter-
parameter seperti tinggi jenjang, kedalaman subgrade, powder factor, laju
pemboran, jarak antar lubang dan harga burden.
a Kedalaman subgrade biasanya 10-33% dari tinggi jenjang (umumnya
20%). Pedoman lain adalah 30% dari harga burden.
b Kepadatan bahan peledak: ANFO (lubang kering) 0.78 - 0.95 g/cc; slurry
(lubang basah) 0.90 - 1.38 g/cc.
c Powder factor berkisar dari 0.12 kg/ton hingga 0.50 kg/ton.
d Kisaran yang umum adalah 0.20 - 0.33 kg/ton.
e Laju pemboran berkisar dari 18 - 45 m/jam, angka 30 m/jam umum
dipakai, tergantung jenis batuan.
Berikut ini adalah salah satu cara untuk menghitung jarak antar lubang
tembak dan produksi pemboran per gilir kerja.
a Diketahui: tingi jenjang, kedalaman subgrade, diameter lubang, powder
factor dan kepadatan bahan peledak.
b Hitung: muatan bahan peledak (powder load) dalam kilogram powder
yang dimuat per meter lubang tembak.
c Anggapan: jarak antar lubang sama dengan harga burden dan tingg
pengisian stemming sama dengan harga burden pula.
d Hasil: persamaan kuadrat untuk memperoleh jarak antar lubang, hargA
burden, tinggi pengisian stemming serta tinggi kolom bahan peledak.
e Jarak antar lubang x harga burden x tinggi jenjang memberikan volume
batuan yang diledakkan untuk setiap lubang tembak. Laju pemboran
menghasilkan jumlah lubang tembak dan ton batuan per gilir kerja.

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-4
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

7.4. ALAT MUAT (LOADER DAN SHOVEL)


Ukuran mulai dari front end loader dan back hoe untuk operasi kecil-
menengah, hydraulic shovel untuk operasi berskala menengah dan cable
shovel untuk operasi berskala besar. Di antara ketiga klasifikasi ini
terdapat daerah abu-abu (overlap) yang cukup luas.
Perhitungan produktifitas gilir kerja tergantung pada jumlah ton per satu
siklus shovel, waktu per siklus untuk shovel, ukuran truk dan waktu
spotting.
a. Faktor pengisian bucket berkisar dari 0.90 hingga 1.05
b. Waktu pemuatan per siklus: untuk shovel 0.5 - 0.6 menit, untuk loader
0.6 - 0.8 menit
c. Waktu spotting untuk truk: 0.3 - 0.5 menit
d. Ukuran alat muat dan alat angkut / truk biasanya disesuaikan agar truk
dapat terisi penuh dalam 3 - 6 kali siklus pemuatan (pass).

Prosedur pemilihan excavator mencakup pertimbangan-pertimbangan :


a. Output ideal, yang dinyatakan dalam m3/jam dan merupakan fungsi dari
ukuran bucket, jenis material yang digali, waktu kerja, tingkat kesulitan
penggalian, jenis alat angkut dan kondisi kerja.

b. Faktor operasi. Outpun standar pada penerapannya harus disesuaikan


dengan kondisi yang sebenarnya. Terhadap tiga faktor, yaitu waktu
kerja, kondisi operasi dan fragmentasi batuan, harus dilakukan koreksi.

Waktu Kerja. Waktu kerja sebenarnya didasarkan pada 100% waktu


yang tersedia. Koreksi berdasarkan kondisi kerja dan manajemen
adalah sbb. :

Ketersediaan Waktu aktual


Baik 55 menit/jam; 7 hari/minggu
Sedang 50
Kurang 40

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-5
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

Kondisi operasi. Hal ini merefleksikan berbagai faktor kerja seperti


sudut ayun, kedalaman galian, bucket factor, dan kondisi pemuatan.
Koreksi yang umum diterapkan adalah sbb. :

Kondisi Koreksi
Baik 80%
Sedang 70%
Kurang 60%

Framentasi batuan. Jika material yang digali adalah tanah, maka


digolongkan sebagai mudah, sedang dan sulit digali (easy, average
and hard digging). Untuk batuan, dimana peledakan hampir selalu
diperlukan maka :

Fragmentasi (penggalian) Output


well blasted (easy) nilai maksimum
rata-rata (average) nilai rata-rata
poorly blasted (hard) nilai minimal

Rule of tumb :
Ukuran bucket (m3) = produksi per shift (ton) /1200

POWER SHOVEL LOADING OUTPUT


Bucket Earth Rock
Capacity, yd3 (m3) Bank yd3 (m3/hr) Bank yd3 (m3/hr)
5 (3.8) 420-605 (320-465) 375-500 (285-380)
8 (6.1) 600-825 (460-630) 490-675 (375-515)
9 (6.9) 680-930 (520-710) 555-770 (425-590)
10 (7.6) 750-1025 (575-785) 615-845 (470-645)
15 (11.5) 1140-1550 (870-1185) 925-1270 (705-970)
25 (19.1) 1900-2500 (1455-1910) 1540-2075 (1175-1585)

Assumed conditions :
1. Specific weight, bank material:
Earth 1.5 tons/yd3 (1.8 tonnes/m3)
Rock 2.0 tons/yd3 (2.4 tonnes/m3)
2. Range of digging: hard to easy (with rock, poorly to well blasted)

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-6
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

3. Working time: 60 min/hr (job management factor = 100%)


4. Swing: optimum (900)
7. Depth of cut: farovable (100%)
6. Combined depth/swing factor: 100%
7. Bucket factor: 1.0
8. Cycle: loading into haulage units on grade
Source: Hartman 1987, Modified after Pfleider (1973a)

Konsep Pemilihan Tipe backhoe dan loading shovel


a. Tinggi Jenjang (kemudahan pemuatan)
Dari sudut pandang kemudahan pemuatan suatu truk, acuan untuk
pemilihan loading shovel bila tinggi jenjang lebih besar dari 5 m dan
untuk tipe backhoe bila tinggi jenjang kurang dari 5 m. Untuk tipe
backhoe agar pemuatan dapat dilakukan dengan efisien tinggi jenajng
sebaiknya kurang dari tinggi truk.
b. Fungsi Penggalian
Loading shovel : Baik untuk memuat batuan hasil peledakan yang
terdiri dari bongkah besar sehingga gaya gali
(digging force) diperlukan.
Pada penggalian permukaan datar, gaya tekan
horisontal kuat, namun jika menggali diatas
permukaan tanah gaya tekan tersebut semakin
kecil.
Backhoe : Merupakan alat serba guna untuk menggali dan
memuat. Peningkatan volume bucket,
tengahnya harus diperpendek.

7.5. ALAT ANGKUT (TRUK)


Alat angkut yang umum digunakan di tambang terbuka adalah truk jungkit
atau dump truck. Pertimbangan penting dalam proses pemilihan alat angkut
adalah :
a. Ukuran

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-7
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

Kapasitas truk lebih banyak dinyatakan atas dasar berat dibandingkan


dinyatakan atas dasar volume. Hal ini didasarkan pada pertimbangan
untuk menghindari terjadinya kelebihan muatan yang akan membabani
mesin.
Secara umum truk dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu truk
berukuran normal dan berukuran raksasa/besar.
Ukuran normal : 20, 27, 32, 36, 50, 77, 90, 117 ton
Ukuran raksasa : 135, 158, 180, 225, 270, 315 ton
b. Faktor operasi
Waktu kerja (lihat excavator)
Waktu ayunan (swing) optimal :
dengan faktor ketersediaan mekanis (mechanical availability) dan
faktor pemakaian maksimum dari ketersediaan mekanis (maximum
utilization of availability). Hasilnya ialah jumlah unit alat (angkanya
tidak bulat sehingga
ukuran normal : 4-6 ayunan/truk
ukuran raksasa : 5-8 ayunan/truk
Bucket factor
Kondisi pemuatan Bucket factor
Baik 120%
Sedang 90%
Kurang 60%
Cycle time
t = tte + ts + tl + ttl + td
dimana
tte = waktu tempuh kosong
ts = waktu posisi truk (spot time)
tl = waktu pemuatan
ttl = waktu tempuh isi
td = waktu penumpahan muatan (dumping time)

Unit Cadangan

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-8
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

Unit cadangan diperlukan untuk tetap menjamin kelancaran


kegiatan pengangkutan walaupun terjadi hambatan karena
kerusakan alat angkut. Rule of thumb : untuk setiap 5 atau 6
truk perlu disediakan 1 unit cadangan.

Prosedur untuk menghitung jumlah gilir kerja dan armada truk yang
diperlukan adalah sebagai berikut:
a. Siapkan peta tahunan tambang (atau perkiraannya) yang dibuat
berdasarkan penjadwalan produksi.
b. Siapkan peta tahunan untuk daerah pembuangan / waste dump (atau
perkiraannya) yang dibuat berdasarkan penjadwalan produksi.
c. Lakukan pengukuran (dari peta-peta di atas) untuk memperoleh profil
jalur pengangkutan truk untuk tiap tahun. Untuk kajian yang lebih
rinci tiap profil dapat dibuat per jenjang per tahap (pushback), per
jenis material, per tahun (hasilnya beberapa ratus profil!). Persen
kemiringan jalan dan jarak tiap segmen jalan angkut diukur untuk tiap
profil.
d. Waktu daur (cycle time) dan produktifitas truk untuk tiap profil
dihitung berdasarkan kurva kinerja rimpull untuk truk yang dipakai.
Kemudian jumlah gilir kerja per tahun yang dibutuhkan untuk setiap
profil jalan angkut dapat dihitung.

7.6. PENENTUAN JUMLAH ALAT DARI DATA PRODUKSI PER GILIR KERJA
Jumlah gilir kerja yang diperlukan dihitung dengan membagi produksi
material total yang ditargetkan untuk suatu periode dengan produksi alat
per gilir kerja. Jumlah gilir kerja ini kemudian dibagi dengan gilir kerja
operasional per tahun untuk tambang tersebut dan dibagi biasanya harus
dibulatkan ke atas jika angka desimalnya melebihi 0.1). Alat bor beroda
rantai dan shovel tidak mudah berpindah tempat. Jika ada beberapa daerah
kerja yang aktif (beberapa pushback) perlu satu unit alat per pushback.
Mungkin lebih baik memiliki dua unit yang lebih kecil daripada satu unit
besar.
Beberapa definisi:

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-9
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

a. Mechanical Availability =
Gilir Yang Tersedia Untuk Bekerja
(MA) Jumlah Gilir Kerja Total

b. Utilization of Availability =
Gilir Yang Sebenarnya Bekerja
(UA) Gilir Yang Tersedia Untuk Bekerja

c. Total Utilization = Gilir Yang Sebenarnya Bekerja


(per unit peralatan) Jumlah Gilir Kerja Total

Beberapa Persamaan:
a. Gilir Kerja Yang Dibutuhkan = Produksi Yang Dibutuhkan
Produktivitas per Unit-Gilir Kerja

b. Jumlah Alat dalam Armada = Jumlah Gilir Kerja Yang Diperlukan


Jumlah Gilir Kerja Total x MA x UA

c. Utilization = Jumlah Gilir Kerja Yang Diperlukan


(untuk Armada) Jumlah Armada x Jumlah Gilir Kerja Total

7.7. PERALATAN PEMBANTU


Alat bantu utama terdiri dari buldozer (beroda rantai dan ban karet),
grader, truk air, kadang-kadang ditambah juga dengan loader pembantu
yang berukuran kecil. Peralatan bantu ini tidak kalah pentingnya dengan
peralatan tambang utama yang telah dibahas (alat bor, alat muat, alat
angkut). Lingkungan kerja dari peralatan tambang utama ini diciptakan dan
dipelihara oleh alat bantu. Jika ditangani dengan baik, produktivitas
tambang keseluruhan akan maksimal. Buldozer beroda rantai diperlukan
untuk pembuatan jalan (di dalam dan di luar tambang), pembuatan
dropcut (penggalian akses ke jenjang yang lebih rendah), dan untuk
memelihara daerah pembuangan (waste dump). Buldozer berban karet
digunakan untuk pekerjaan pembersihan disekitar daerah pemuatan shovel,
memelihara tanggul pengaman dan jalan. Grader dan truk air digunakan

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-10
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

dalam pembuatan dan perawatan jalan. Utilisasi keseluruhan alat bantu ini
cenderung rendah (di bawah 60%).
Tabel 1. Contoh Jadwal Operasi Penambangan
____________________________________________________________

Contoh 1.

3 gilir kerja per hari

8 jam per gilir kerja

7 hari per minggu

360 hari operasi per tahun (memperhitungkan 5 hari raya dan

waktu menganggur tak terjadwal)

1080 gilir kerja operasional per tahun

4 kru tambang dengan sistem rotasi 7-1, 7-2, 7-4

Contoh 2.

2 gilir kerja per hari

10 jam per gilir kerja

6 hari per minggu

304 hari operasi per tahun (memperhitungkan 8 hari raya dan

waktu menganggur tak terjadwal)

608 gilir kerja operasional per tahun

3 kru tambang dengan rotasi


____________________________________________________________

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-11
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

Tabel 2. Waktu Produktif Per Gilir Kerja


__________________________________________________________
Komponen Waktu (Menit)
Waktu Terjadwal per Gilir Kerja @ 8 Jam 480
Waktu Tak Produktif Terjadwal:
Waktu perjalanan / ganti gilir kerja 20
Makan siang 30
Pemeriksaan peralatan 15
Sub Total: 65
Waktu Produktif Bersih Yang Terjadwal 415
Jumlah Waktu Produktif per Gilir Kerja 346
(dengan efisiensi kerja 83% atau 50 menit per jam)
Waktu Tak Produktif Yang Terjadwal 69
__________________________________________________________

Tabel 3. Contoh Karakteristik Material


__________________________________________________________
Density Insitu Rata-Rata, Kering (ton/m3) 2.67
Kandungan Air (di daerah kering) 4%
Swell Factor Rata-Rata Untuk Perhitungan Alat 40%
Density Loose, Kering (ton/ m3) 1.91
Density Loose, Basah (ton/ m3) 1.99
__________________________________________________________

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-12
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

7.8. TENAGA KERJA TAMBANG


7.8.1 TENAGA KERJA SALARIED STAFF
Terdiri dari tenaga supervisor dan staf yang bekerja di operasi
penambangan, pemeliharaan, serta engineering. Tabel I menunjukkan
jabatan dan jumlah personel, serta gaji pokok masing-masing (contoh di
Amerika Serikat). Banyak di antara jabatan ini yang jumlah personelnya
hanya seorang (manajer tambang, superintendent, insinyur kepala dll).
Karena itu personel pada level ini harus menguasai bidang keahlian yang
cukup luas (dengan pelatihan silang) sehingga selama liburan atau cuti sakit
semua tugas dapat tetap tertangani.

7.8.2 TENAGA KERJA HOURLY LABOR


Terdiri dari tenaga kerja di Operasi Penambangan (Mine Operations) dan
Pemeliharaan (Maintenance). Tabel II memperlihatkan contoh daftar tenaga
kerja untuk kategori ini.
1. Operasi Penambangan
a. Sebagian besar tenaga kerja di operasi penambangan adalah
operator alat.
b. Jumlah operator yang dibutuhkan untuk tiap jenis alat dihitung
sebagai berikut:
Jumlah Operator = Jumlah Alat per Armada x Jumlah Kru x Utilisasi
Contoh:
20 truk x 4 kru x 0.71 = 56.8 (bulatkan menjadi 57 supir / operator)
(Biasanya dibulatkan ke atas jika desimal di atas 0.2)
Operator memerlukan pelatihan silang (cross training) untuk
menguasai lebih dari satu macam peralatan, terutama untuk
periode ketika jumlah alat yang tersedia dan dijadwalkan untuk
beroperasi lebih banyak dari rata-rata.
c. Personel pada operasi penambangan selain operator adalah:
i. Juru Ledak
ii. Juru Ledak Pembantu
iii. Petugas Pompa - bertanggung jawab untuk pengoperasian
pompa-pompa penirisan tambang.

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-13
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

iv. Kru Servis - para operator peralatan ringan misalnya:


truk dan wheel loader kecil untuk pemeliharaan jalan dan
pembersihan tambang
air track drill dan back hoe kecil untuk membuat selokan dan
sump
truk servis (lowboy, flatbed)
v. Buruh Kasar - membantu dalam pekerjaan-pekerjaan penunjang
seperti pemindahan dan pemasangan pompa, pemeliharaan jalan
dan pembersihan tambang.
2. Pemeliharaan Tambang
a. Personel untuk mine maintenance ini terdiri dari mekanik, tukang
las dan tukang listrik yang bertugas memelihara dan merawat
armada peralatan tambang.
b. Jumlah personelnya biasanya berkisar dari 50% hingga 70% dari
jumlah personel untuk operasi penambangan (angka yang rendah
ada kaitannya dengan perbaikan besar yang dikontrakkan ke luar).
c. Memperkirakan jumlah tenaga kerja untuk pemeliharaan:
i. Sebagai pedoman dapat dilihat porsi tenaga pemeliharaan
dalam biaya operasi per jam dari peralatan utama tambang.
Biaya operasi per jam kali jumlah jam yang terjadwal per tahun
dibagi dengan gaji rata-rata petugas pemeliharaan per tahun
memberikan ancar-ancar jumlah personel yang dibutuhkan.
ii. Dari angka di atas tambahkan 10% untuk personel perawatan
alat penunjang.
iii. Kemudian tambahkan tenaga kerja lain yang belum termasuk
di atas seperti personel ban, bahan bakar, pelumas dan buruh
kasar lainnya.
3. Tambahan untuk Cuti, Sakit dan Absen
a. Harus memperhitungkan tambahan untuk pegawai yang libur/hari
raya, sakit dan absen (VS&A = Vacation, Sick leave, Absentees).
i. Dengan menambah personel
ii. Gunakan personel yang ada untuk bekerja lembur
iii. Personel yang dikontrak dari luar

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-14
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

b. Contoh perhitungan VS&A


Jumlah minggu kerja per tahun 52
Minggu kerja yang hilang karena:
Libur 2
Hari raya 1
Sakit dan Absen 1
Total minggu yang hilang 4
Tambahan personel untuk VS&A = 4 / 52 atau sekitar 8%

Tabel 4. Daftar Salaried Personnel (Contoh di A.S.)


Deskripsi Kerja Jumlah Gaji Pokok / Th
Operasi Penambangan

Manajer Tambang 1 US $80,000 (?)


Superintendent Tambang 1 $60,000
General Foreman Tambang 1 $50,000
Shift Foreman Tambang 4 $45,000
Kontrol Produksi 1 $35,000
Foreman Pemboran & Peledakan 1 $45,000
Tata Usaha 1 $24,000
Sekretaris 1 $20,000
Pemeliharaan Tambang

Superintendent Pemeliharaan 1
$60,000
General Foreman Bengkel 1 $50,000
General Foreman Reparasi Lapangan 1 $50,000
Shift Foreman Bengkel 4 $45,000
Petugas Suku Cadang 1 $32,000
Tata Usaha 1 $24,000
Engineering dan Geologi

Insinyur Ahli Kepala 1 $58,000


Insinyur Ahli Tambang 2 $52,000
Sarjana Ahli Geologi 1 $48,000
Insinyur Tambang 1 $48,000
Sarjana Geologi 2 $42,000
Ahli Ukur Tambang 1 $38,000
Pembantu Pengukur Tambang 1 $32,000

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-15
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

Pengontrol Kadar Bijih 1 $35,000


Teknisi 2 $35,000

Tabel 7. Daftar Hourly Personnel (Jumlah Harus Dihitung)


Tahun Ke
Deskripsi Kerja Pra-Prod. 1 2 .. .. .. n-1 n
Operasi Penambangan
Operator Pemboran
Operator Shovel
Operator Loader
Operator Haul Truck
Operator Dozer Roda Rantai
Operator Dozer Ban Karet
Operator Grader
Operator Truk Air
Jur Ledak
Pembantu Juru Ledak
Petugas Pompa
Kru Servis
Buruh Kasar
Jumlah untuk Operasi:
Pemeliharaan Tambang
Mekanik (montir)
Mekanik Pembantu
Tukang Las
Tukang Listrik
Petugas Ban
Petugas Bh.Bakar & Pelumas
Buruh Kasar
Jumlah untuk Pemeliharaan:
Tambahan untuk VS&A:
Jumlah Hourly Personnel Total:

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-16
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-17
Teknik Pertambangan - Universitas Lambung Mangkurat

2.3 ORGANISASI
Bentuk organisasi yang umum diterapkan pada suatu perusahaan tambang
adalah organisasi staf dan garis (staf-and-line organization). Kegiatan
pertambangan secara teknologi dan ekonomi merupakan kegiatan yang
kompleks sehingga diperlukan dukungan staf yang ahli. Sementara itu
dalam pelaksanaannya pengawasan garis (line supervision) diperlukan pada
setiap unit produksi. Gambaran diagram organisasi dari suatu perusahaan
tambang besar dapat dilihat pada gambar 1.
Dalam kegiatan pertambangan, bagian produksi harus didukung paling tidak
oleh fungsi-fungsi perencanaan, keuangan, kepegawaian, hukum, hubungan
masyarakat, kesehatan dan keselamatan kerja dan riset & pengembangan.
Menurut Hartman (1987), diperkirakan tiga orang karyawan di bidang
pendukung untuk setiap dua orang bagian produksi.
Jumlah tenaga kerja yang berhubungan dengan produksi merupakan fungsi
dari skala kegiatan tambang tersebut. Secara umum tenaga kerja di bagian
operasi penambangan mencakup :
Operator peralatan tambang utama
Jumlahnya ditentukan oleh jumlah alat dan jumlah kru, sedangkan
jumlah kru ditentukan oleh jumlah shift produksi. Sebagai contoh,
untuk 3 shift per hari, 8 jam per shift, 7 hari per minggu, maka
diperlukan 4 kru
Operator peralatan penunjang
Seperti peralatan perawatan jalan, alat angkut, back hoe untuk
membuat parit, dll.
Juru ledak dan kru
Tenaga perawatan
Termasuk di dalamnya mekanik, teknisi listrik dan las yang bertugas
untuk pemeliharaan peralatan tambang.

Sari Melati, Bahan Kuliah Perencanaan & Permodelan Tambang


2010 ~ Halaman 7-18