Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI EKSPERIMENTAL II
PERCOBAAN V
RESEPTOR SEBAGAI TARGET AKSI OBAT (RESEPTOR HISTAMIN)

Disusun oleh :
Kelompok 2 Golongan AII
Annisa Nilamsari Utami 14/362870/FA/10026
Muhammad Faishal Mahdi 14/362873/FA/10029
Cinantya Talia Paramita 14/362879/FA/10035
Viska Fitrianingsih 14/362882/FA/10038

Hari, Tanggal Praktikum : Senin, 21 November 2016


Dosen Jaga :-
Asisten Jaga : Zulfa Yunanto, Khalista Destiana, David Alexander

LABORATORIUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


BAGIAN FARMAKOLOGI DAN FARMASI KLINIK
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
PERCOBAAN V
RESEPTOR SEBAGAI TARGET AKSI OBAT
(RESEPTOR HISTAMIN)

I. TUJUAN
A. Mengenal dan menjelaskan mengenai reseptor histamin.
B. Mengenal, mempraktekkan, dan melaksanakan percobaan yang melibatkan reseptor
histamin.
C. Menentukan nilai pD2 dari antihistamin.

II. DASAR TEORI


Obat merupakan bahan atau zat yang berasal dari tumbuhan, hewan, maupun zat
kimia tertentu yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit, memperlambat
proses penyakit dan atau menyembuhkan penyakit. Suatu obat bisa menghasilkan efek
terapi atau berkhasiat jika dosis yang digunakan sesuai. Obat dapat menimbulkan efek
umumnya dikarenakan interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme. Ikatan
antara obat dengan reseptor umumnya berupa ikatan non-kovalen (ikatan ion, hidrogen,
hidrofobik, van der Waals, dan jarang ikatan kovalen). Oleh karena itu, interaksi obat
dan reseptor bersifat reversible.
Histamin atau 2-(4-imidozyl)ethylamine adalah amina yang secara biologis aktif
memiliki efek patologis dan fisiologis melalui berbagai subtipe reseptor, dan sering
dilepas secara lokal (Katzung, 2001).

Gambar 1. Struktur Molekul Histamin

Pada pH fisiologi, atom nitrogen amino dari rantai samping akan terprotonasi.
Bentuk yang terjadi pada histamin adalah kation monovalen, yang membentuk ikatan
hidrogen intramolekular antara gugus amino rantai samping dan nitrogen cincin
imidazol. Histamin merupakan senyawa amin aktif secara biologis yang dijumpai di
berbagai jaringan, mempunyai efek fisiologis dan patologis yang kompleks dan
biasanya dilepas setempat. Bersama dengan polipeptida endogen serta prostaglandin dan
leukotrin disebut sebagai hormone local sesuai dengan sifat-sifatnya tersebut. Histamin
dikeluarkan dari tempat pengikatan ion pada kompleks heparin-protein dalam sel mast,
sebagai reaksi antigen-antibodi, bila terjadi rangsangan senyawa alergen.
Histamin dibentuk dari dekarboksilasi asam amino L-histidin, yang terdapat
pada jaringan dikatalisis oleh enzim histidin dekarboksilase. Piridoksal fosfat
diperlukan sebagai kofaktor. Setelah dibentuk, histamin segera disimpan atau langsung
diinaktifkan. Inaktivasi histamin dapat melalui dua cara, yaitu jalur oksidasi dan N-
metilasi. Tahapan pertama dalam inaktivasi histamin adalah perubahan menjadi
metilhistamin dengan katalisator imidazol-N-metiltransferase, kemudian dioksidasi
menjadi asam metilimidazolasetat dengan katalisator diamin oksidase. Cara kedua
dalam metabolismenya ialah konversi histamin langsung ke asam imidazolasetat oleh
diamin oksidase.

H
N H
N
N + CO2
N H2
CH2
C C NH2
HC COOH H2
H2N
Histidin Histamin
Gambar 2. Reaksi dekarboksilasi dari Histidin menjadi Histamin

Sebagai bagian dari respon kekebalan terhadap patogen asing, histamin


dihasilkan oleh basofil dan oleh sel mast yang ditemukan dalam jaringan ikat di
sekitarnya. Histamin meningkatkan permeabilitas dari kapiler ke sel-sel darah putih dan
beberapa protein, untuk memungkinkan mereka untuk terlibat patogen dalam jaringan
yang terinfeksi (Di Giuseppe dkk., 2003).
Reseptor histamin dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
1. Reseptor H1
Reseptor H1 tersebar pada otot polos, endotel dan otak. Interaksi histamin dengan
reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos usus dan bronki, meningkatkan
permeabilitas vaskuler dan meningkatkan sekresi mukus, yang dihubungkan dengan
peningkatan cGMP dalam sel. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan
vasodilatasi arteri sehinga permeabel terhadap cairan dan plasma protein, yang
menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria, dimana efek ini dapat
diblok oleh antagonis H1.
2. Reseptor H2
Reseptor H2 tersebar pada mukosa lambung, otot jantung, sel mast dan otak.
Interaksi histamin dengan reseptor H2 dapat meningkatkan sekresi asam lambung
dan kecepatan kerja jantung. Produksi asam lambung disebabkan oleh penurunan
cGMP dan peningkatan cAMP. Peningkatan sekresi asam lambung dapat
menyebabkan tukak lambung yang efeknya dapat diblok dengan antagonis H2.
3. Reseptor H3
Reseptor H3 tersebar pada presinaptik otak, pleksus, mienterik, dan saraf lainnya,
tepatnya terletak pada ujung saraf histamin jaringan otak dan jaringan perifer, yang
mengontrol sintesis dan pelepasan histamin, mediator alergi lain dan peradangan.
Efek ini dapat diblok oleh antagonis H3.
Antihistamin adalah kelompok obat yang mencegah kerja histamin dalam tubuh.
Histamin merupakan zat yang diproduksi oleh tubuh yang keluar sebagai reaksi
terhadap rangsangan tertentu, misalkan pada reaksi alergi terhadap rangsangan benda
asing. Antihistamin dibagi dalam dua kelompok, antihistamin 1 (AH1) dan antihistamin
2 (AH2). AH1 mencegah kerja histamin di kulit, saluran napas dan pembuluh darah
sehingga dapat dipakai untuk mencegah reaksi alergi dan mengurangi sesak napas pada
asma. Contoh obat yang merupakan AH1 adalah difenhidramin HCl, klorfeniramin
maleat (CTM), dan siproheptadin HCl. AH2 digunakan untuk mencegah produksi asam
lambung berlebih sehingga banyak digunakan untuk mengobati sakit maag. Contoh obat
yang merupakan AH2 antara lain: ranitidin, simetidin, dan famotidin.
III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1. Organ bath
2. Amplifier dan recorder
3. Tranduser isotonik
4. Gelas ukur 25 mL
5. Cawan petri
6. Benang
7. Alat bedah
8. Papan fiksasi
B. Bahan
1. Larutan Buffer Krebs
2. Larutan agonis histamin dengan kadar 2x10-5; 2x10-4; 2x10-3; 2x10-2; 2x10-1
3. Gas karbogen
C. Hewan Uji
Marmut

IV. CARA KERJA


I. Preparasi Organ Trakea
Dikorbankan marmut dengan cara dislokasi tulang belakang (cervix)

Diletakkan marmut pada papan fiksasi

Dibedah bagian dada atas sampai bagian leher

Diambil trakea, diletakkan pada cawan petri yang berisi larutan buffer Krebs

dibersihkan dari lemak dan jaringan lain yang masih menempel

Setelah bersih, dipotong trakea dengan arah melintang untuk diambil cincin trakea
(7 cincin dan 4 cincin)

Dipotong tulang rawannya, sehingga didapatkan suatu pita trakea


Diikat organ yang telah dipreparasi pada organ bath

Diberi larutan buffer Krebs hingga terendam sempurna dan dialiri gas karbogen

Diatur kedudukan tuas pencatat sehingga bisa memberikan rekaman terbaik pada
recorder (preload yang diberikan adalah 0,5 cm)

II. Uji Farmakologi


Setelah preparasi organ, dilakukan ekuilibrasi terhadap trakea selama 60 menit
(dengan penggantian larutan buffer Krebs tiap 15 menit)

Dilakukan pengenalan agonis dengan konsentrasi yang menyebabkan 80% repon


kontraksi maksimum, untuk histamin sebesar 2x10-3 M

Dicuci organ selama 60 menit dengan penggantian larutan buffer Krebs tiap 15
menit

Diukur kontaksi otot polos trakea terhadap berbagai peringkat dosis agonis
histamin
III. Analisis Data
Data repon yang timbul pada masing-masing dosis terukur dalam satuan mm

Diubah ke nilai persen dari nilai respon maksimal

Hubungan antra % efek dan kadar dinyatakan dalam kurva dimana nilai presentase
efek menjadi skala ordinat (sumbu Y) dan logaritma kadar obat menjadi skala
absis (sumbu X)

Ditentukan dosis dimana bisa menimbukan respon 50% dri respon maksimal yang
mungkin bisa dihitung dengan menggunakan grafik tersebut di atas (plot dosis vs
respon)
Dihitung nilai negatif logaritma dari dosis (pD2), besaran ini memberikan
gambaran nilai afinitas agonis yang bersangkutan terhadap reseptor spesifiknya

V. HASIL DAN ANALISIS DATA


A. Data Percobaan
Konsentrasi kumulatif
Tinggi grafik
Pemberian ke- histamin dalam organ bath
(mm)
(M)
1 1 x 10-7 2
2 3 x 10-7 8
3 1 x 10-6 16
4 3 x 10-6 24
5 1 x 10-5 48
6 3 x 10-5 48
7 1 x 10-4 48
8 3 x 10-4 48
9 1 x 10-3 48

B. Perhitungan
1. Perhitungan %Respon

% = 100%

a. Pemberian ke-1
2
% = 100%
48
= 4,17%
b. Pemberian ke-2
8
% = 100%
48
= 16,67%
c. Pemberian ke-3
16
% = 100%
48
= 33,33%
d. Pemberian ke-4
24
% = 100%
48
= 50%
e. Pemberian ke-5
48
% = 100%
48
= 100%
f. Pemberian ke-6
48
% = 100%
48
= 100%
g. Pemberian ke-7
48
% = 100%
48
= 100%
h. Pemberian ke-8
48
% = 100%
48
= 100%
i. Pemberian ke-9
48
% = 100%
48
= 100%
2. Perhitungan Log Konsentrasi
a. Pemberian ke-1
= 1 107
= 7
b. Pemberian ke-2
= 3 107
= 6,5229
c. Pemberian ke-3
= 1 106
= 6
d. Pemberian ke-4
= 3 106
= 5,5229
e. Pemberian ke-5
= 1 105
= 5
f. Pemberian ke-6
= 3 105
= 4,5229
g. Pemberian ke-7
= 1 104
= 4
h. Pemberian ke-8
= 3 104
= 3,5229
i. Pemberian ke-9
= 1 103
= 3
3. Log Konsentrasi vs %Respon
Pemberian ke Log Konsentrasi %Respon
1 -7 4,17%
2 -6,5229 16,67%
3 -6 33,33%
4 -5,5229 50%
5 -5 100%
6 -4,5229 100%
7 -4 100%
8 -3,5229 100%
9 -3 100%
Grafik Log Konsentrasi vs %Respon
120

100

80
%Respon

60

40

20

0
-8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0
Log Konsentrasi

Persamaan regresi: = 27,22 + 203,5


4. Perhitungan pD2
a. Log ED50 = Log konsentrasi saat %Respon 50
50 = 27,22 + 203,5
27,22 = 153,5
= 5,6392
b. pD2 = - log ED50
2 = 5,6392

VI. PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan agar praktikan dapat mengaplikasikan pengetahuannya
mengenai reseptor histamin dengan melaksanakan percobaan yang melibatkan reseptor
histamin, serta menentukan nilai pD2 dari antihistamin.
Percobaan ini merupakan suatu uji farmakologi dengan organ terisolasi.
Digunakan agonis reseptor histamin agar timbul respon biologis pada organ terisolasi
tersebut. Uji dengan organ terisolasi mampu mengukur nilai intrinsik dari senyawa yang
diuji.
Keuntungan dari penggunaan organ terisolasi untuk uji farmakologi antara lain:
1. Konsentrasi obat/ligan dalam jaringan dapat diketahui secara pasti
2. Kompleksitas pada hubungan stimulus dan efek bisa disederhanakan atau dikurangi
3. Dimungkinkan untuk menghindari respon kompensasi dari efek sampai intensitas
efek maksimal dan juga efek farmakokinetika (ADME) pada pemberian agonis
tersebut bisa diabaikan.

Sementara kerugiannya adalah sebagai berikut:


1. Kerusakan jaringan organ pada saat reparasi dapat mempengaruhi hasil
2. Fungsi regulasi fisiologis hilang
3. Buffer yang tidak sesuai akan mempengaruhi hasil
4. Ekstrapolasi sulit diperhitungkan.
Organ yang diisolasi pada praktikum ini adalah trakea. Pada otot polos trakea,
selain reseptor histamin H1, terdapat pula reseptor kolinergik, muskarinik, serta reseptor
, 1 dan 2 adrenergik. Reseptor-reseptor pada trakea ini bila dirangsang akan
menimbulkan efek yang berlawanan satu sama lain. Efek tersebut dibagi menjadi dua
golongan, yakni efek kontraksi (akibat aktivasi reseptor histamin H1, kolinergik
muskarinik, dan reseptor 1 adrenergik) dan efek relaksasi (akibat aktivasi reseptor 1
dan 2 adrenergik)
Langkah pertama dari praktikum ini adalah preparasi organ trakea dari hewan uji,
Marmut dikorbankan dengan cara dislokasi tulang belakang kepala, setelah itu
diletakkan pada papan fiksasi. Bagian leher dibedah hingga dada atas dan jaringan-
jaringan yang menutupi trakea dibersihkan agar trakea dapat diambil. Trakea yang telah
diambil kemudian dimasukkan dalam cawan berisi buffer Krebs. Trakea dibersihkan
dari lemak dan jaringan lain yang masih menempel sehingga ketika diberi perlakuan
histamin, interaksinya tidak akan terhambat sehingga hasil yang diperoleh valid. Setelah
bersih, trakea dipotong untuk diambil satu cincin trakea, kemudian dipotong tulang
rawannya sedemikian rupa sehingga didapatkan satu pita trakea. Kedua ujung potongan
trakea diikat dengan benang steril yang terhubung dengan transducer isotonik.
Selanjutnya, trakea tersebut direndam dalam larutan buffer Krebs agar organ
tersebut tetap hidup layaknya organ yang masih berada dalam tubuh makhluk hidup
karena buffer dapat menjaga stabilitas pH organ. Buffer Krebs terdiri dari NaCl 6,870 g,
KCl 0,420 g, MgSO4.2H2O 0,3370 g, NaH2PO4. 2H2O 0,200 g, NaHCO3 2,100 g, dan
glukosa 1,000 g; dibuat dengan mencampurkan dalam air, garam kecuali NaHCO3 dan
glukosa, yang dialiri gas karbogen (95% O2 dan 5% CO2) dengan suhu 370C. Larutan
fisiologis ini tidak dapat disimpan lebih dari 24 jam, karena adanya glukosa yang
merupakan media tumbuh bakteri dan penambahan NaHCO3 pada saat penyimpanan
dapat menyebabkan terjadinya endapan CaCO3. Preparasi larutan buffer Krebs
dilakukan oleh laboran karena keterbatasan waktu praktikum.
Organ dialiri gas karbogen agar sel-sel pada organ terisolasi tetap hidup walaupun
telah dikeluarkan dari hewan uji. Tuas pencatat diatur kedudukannya sedemikian rupa
sehingga bisa memberikan rekaman terbaik pada recorder.
Setelah preparasi selesai, dilakukan ekuilidasi terhadap organ selama 60 menit
dengan penggantian larutan buffer Krebs tiap 15 menit. Hal ini dilakukan untuk
mengadaptasikan organ dengan kondisi percobaan, dan sebagai evaluasi apakah organ
masih hidup atau tidak; serta untuk mengetahui apakah di dalam organ trakea terdapat
obat atau senyawa endogen yang dapat mempengaruhi fungsi trakea dengan cara
melihat kestabilan respon yang terekam pada kimogram. Bila kimogram stabil, berarti
tidak terdapat obat pada trakea sehingga diharapkan respon yang muncul adalah murni
dari histamin yang diberikan. Setelah kimogram stabil, kemudian larutan buffer Krebs
diganti dan diisi dengan yang baru.
Selanjutnya ditambahkan histamin eksogen kedalam organ bath dengan faktor
kumulatif sebesar setengah log 10. Histamin eksogen ini dipersiapkan dengan
melarutkan histamin serbuk dalam akuades dalam jumlah tertentu hingga kadarnya
2x10-1 M, kemudian diencerkan hingga didapatkan seri kadar histamin sebagaimana
tercantum pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Penambahan agonis histamin selama rekaman kontraksi trakea
No. Penambahan Konsentrasi histamin Konsentrasi histamin
volume (ml) yang ditambahkan (M) kumulatif (M)
1. 0,100 2x10-5 10-7
2. 0,200 2x10-5 3x10-7
3. 0,070 2x10-4 10-6
4. 0,200 2x10-4 3x10-6
5. 0,070 2x10-3 10-5
6. 0,200 2x10-3 3x10-5
7. 0,070 2x10-2 10-4
8. 0,200 2x10-2 3x10-4
9. 0,070 2x10-1 10-3
Rekaman kontraksi trakea dilakukan dengan pemberian agonis pada berbagai
konsentrasi. Agonis histamin dengan kadar dan volume tertentu sesuai ketentuan pada
tabel ditambahkan kedalam organ bath berisi pita trakea menggunakan mikropipet
melalui lubang bagian atas organ bath dan diusahakan tidak mengenai benang karena
dapat mempengaruhi output rekaman pada kimogram.
Menurut teori, pemberian agonis histamin akan memberikan efek kontraksi pada
trakea sesuai dengan konsentrasi histamin yang diberikan. Semakin besar konsentrasi
histamin yang diberikan, akan semakin besar respon kontraksinya. Namun pada suatu
titik respon kontraksi akan mencapai maksimum, yang berarti pemberian agonis dengan
konsentrasi lebih tinggi tidak akan meningkatkan respon kontraksi.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa efek maksimal diperoleh saat kadar
histamin dalam organ bath adalah 10-5. Kadar obat yang menghasilkan efek sebesar
50% efek maksimum disebut (D)50%. Logaritma negatif dari (D)50% dinyatakan
sebagai pD2 yang merupakan parameter afinitas (kemampuan suatu agonis untuk
membentuk kompleks dengan reseptornya ).
pD2= -log (D)50%
Data yang didapat berupa grafik yang dihasilkan alat pengukur respon, kemudian
dicari tinggi puncak maksimum yang ditetapkan sebagai respon maksimum. Tinggi
puncak tiap respon diukur dan dirasiokan dengan tinggi puncak maksimum sehingga
didapat persentase respon.
% respon kontraksi = (hs/hmax) x 100%
Keterangan:
hs : efek kontraksi kumulatif untuk setiap peringkat dosis
hmax : efek kontraksi maksimum dari data rekaman
Berikutnya, diplotkan log [konsentrasi Histamin dalam organ bath] sebagai
sumbu X dan % respon sebagai sumbu Y, sehingga diperoleh kurva hubungan antara
log konsentrasi vs % respon. Dari perhitungan didapatkan persamaan garis linear
sebagai berikut:
y = 27,22x + 263,5
Jika kita ingin mencari kadar yang memberikan 50% respon maksimum, kita
masukkan harga 50 sebagai X. Setelah dilakukan perhitungan didapatkan nilai ED50
serta pD2 sebagai berikut:
ED50 = -5,6392
pD2= 5,6392
Nilai pD2 tersebut menggambarkan afinitas agonis terhadap reseptor atau
kemampuan agonis histamin untuk berikatan dengan reseptor H1. Semakin tinggi nilai
pD2, maka afinitas agonis histamin terhadap reseptor H1 semakin tinggi, yang berarti
selektivitas reseptor H1 terhadap agonis histamin juga semakin tinggi. Dapat dilihat pula
bahwa nilai pD2 berbanding terbalik dengan ED50. Semakin tinggi nilai pD2 maka
kemampuan agonis untuk berikatan dengan reseptor makin tinggi, sehingga respon akan
semakin mudah untuk timbul, dengan demikian konsentrasi agonis histamin yang
dibutuhkan untuk menghasilkan respon sebesar 50% dari respon maksimal semakin
rendah. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa histamin terbukti memiliki
efek bronkokonstriksi pada otot trakea.

VII. KESIMPULAN
1. Histamin memberikan efek bronkokontriksi pada otot trakea.
2. Nilai pD2 yang menggambarkan afinitas suatu senyawa, berbanding terbalik dengan
ED50nya.
3. Dalam praktikum ini tidak dilaksanakan pengujian dengan antihistamin.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Di Giuseppe, M., dkk., 2003, Nelson Biology 12, Thomson Canada Ltd., Toronto.
Katzung, B. G., 2001, Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 8, Mc Graw-
Hill Companies Inc, San Francisco.

Yogyakarta, 28 November 2016


Asisten, Praktikan,

Annisa Nilamsari Utami


( )
Muhammad Faishal Mahdi

Cinantya Talia Paramita

Viska Fitrianingsih