Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN

Keong mas merupakan siput yang hidup di habitat air tawar Amerika Selatan.
Keong mas mulai dikenal di Indonesia tahun 1986. Oleh karena itu informasi
tentang aspek biologi keong ini masih sangat kurang. Aspek biologi sangat
diperlukan sebagai informasi awal untuk penelitian lebih lanjut. Bagaimana
sistematik keong mas mulai dari filum sampai spesies, informasi ini penting untuk
mempelajari struktur anatomi, morfologi dan fiosiologi keong mas, sehingga
objek studi yang beranekaragam mudah dipelajari karena hewan yang semakin
banyak persamaannya maka semakin dekat kekerabatannya, begitu pila sebaliknya
hewan yang semakin sedikit persamaanya maka semakin jauh kekerabatannya.
Keong mas secara morfologi mirip dengan keong gondang, oleh sebab itu diduga
keong mas memiliki persamaan ciri morfologi dengan keong gondang. Jadi untuk
mempelajarinya akan lebih mudah bila kita membandingkan dengan keong
gondang. Perkembangan populasi ini tergolong tinggi, karena seekor induk keong
yang berumur 6 bulan mampu bertelur sampai 1.000 buti r. Keong mas bersifat
omnivora dan menjadi predator mulai dari insekta sampai manusia terutama
golongan unggas. Faktor fisis tidak berbeda jauh dengan keong gondang karena
keduanya menempati habitat yang sama. Sebagai informasi lebih lanjut tentang
aspek-aspek biologi keong mas akan diuraikan lebih lanjut.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, penulis mengambil rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apa klasifikasi tutut/keong sawah?
2. Bagaimana daur hidup tutut/keong sawah?
3. Bagaimana morfologi tutut/keong sawah?
4. Bagaimana cara membedakan ciri betina dan jantan?
5. Bagaimana cara pertahanan diri tutut/keong sawah?
6. Bagaimana cara perkembangbiakan tutut/keong sawah?
7. Bagaimana sistem pernafasan tutut/keong sawah?
8. Bagaimana sistem syaraf tutut/keong sawah?
9. Bagaimana cara makan dan mencari makan tutut/keong sawah?
10. Bagaimana cara budidaya keong mas sawah?

BAB II

PEMBAHASAN

Sistematik keong mas


Berdasarkan identifikasi oleh Lembaga Biologi Nasional (LBN) taksonomi keong
mas seperti berikut ini:
Filum : Moluska
2

Klass : Gastropoda
Ordo : Pulmolata
Familia : Ampullaridae
Genus : Pomacea
Species : Pomacea canaliculata L
(Balai Informasi Pertanian, 1990/1991)

Ciri Morfologi keong mas.


Bentuk cangkang keong mas hampir mirip dengan siput sawah yang
disebut gondang, bedanya cangkang keong mas berwarna kuning keemasan
hingga coklat transparan serta lebih tipis. Dagingnya lembut berwarna krem
keputihan sampai merah keemasan atau oranye kekuningan, besarnya kurang
lebih 10 cm dengan diameter cangkang 4-5 cm. Bertelur di tempat yang kering
10-13 cm dari permukaan air, kelompok telur memanjang dengan warna merah
jambu seperti buah murbai karena itu disebut siput murbai, panjang kelompok
telur 3 cm lebih, lebarnya 1-3 cm, dalam kelompok besarnya 4,5-7,7 mg ukuranya
2,0 mm (Balai Informasi Pertanian, 1990/1991).
Menurut Halimah dan Ismail (1989), ciri-ciri keong mas secara garis besar
adalah sebagai berikut: cangkangnya berbentuk bulat mencapai tinggi lebih dari
10 cm, berwarna kekuningan. Pada mulut cangkang keong mas terdapat
operculum yang bentuknya bulat berwarna coklat kehitaman pada baian luarnya
dan coklat kekuningan pada bagian dalamnya. Pada bagian kepala terdapat dua
buah tentakel sepasang terletak dekat dengan mata lebih panjang dari pada dekat
mulut. Kaki lebar berbentuk segitiga dan mengecil pada bagian belakangnya,
mereka dapat hidup pada perairan yang deras dengan komponen utama tumbuhan
air dan bangkai.

Perkembangan populasi
Menurut Puslitbang Biologi LIPI keong mas memilliki daur hidup yang
singkat dari stadium telur sampai stadium berikutnya memerlukan waktu tiga
bulan, memiliki keperidian (kemampuan memproduksi telur per induk betina)
berkisar antara 300-500 butir telur, keong mas lebih cepat pertumbuhannya.
Kemampuan menghasilakn telur tergantung pada induk betina seekor induk betina
berumur 6 bulan (berukuran 6-7 cm) sekali bertelur mampu menghasilkan 1.000
butir telur, telurnya bergerombol berwarna merah jambu, ukuran kelompok telur
mencapai 6 cm, lebar 2 cm, tebal 1 cm (Warta Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, 1989).

Faktor Biotik
Menurut Balai Penelitian Sumatera Selatan habitat hidup keong mas
adalah kawasan rawa-rawa yang banyak ditumbuhi keladi (Caladium sp), karena
tanaman ini sukar ditemukan, maka keong mas mencari tempat sesuai sebagai
habitat hidupnya adalah areal persawahan yang baru ditanami tumbuhan padi
(Sriwijaya Post, 1992).
Menurut Chairperson (1989), hewan predator dari keopng mas adalah
semut, capung, kepiting, ikan, katak, bebek, burung, tikus, dan manusia,
sedangkan menurut Sumarjanto (1991), musuh alami keong mas antara lain:
3

katak, burung, reptil, lebah dan semut merah. Binatangbinatang ini dimanfaatkan
untuk mengurangi populasi yang besar secara biologis dengan cara memakan
keong mas dan telurnya. Keong ini bersifat omnivora menyukai sayur-sayur
seperti kubis, sawi, daun pepaya dan talas.
Menurut Tarupay et al., (1990), secara khusus keong mas ini memakan
lumut, tanaman air, umbi-umbian, dedak, pellet, sisa sampah dapur, organisme
mati, dan sayur-sayuran segar seperti daun sawi, daun pepaya, daun talas dan daun
singkong. Di negara Philipina ditemukan keong mas memakan azola, kangkung,
dan rumput, sedangkan keong mas kecil memakan lumut, plankton, dan tumbuhan
air lunak. Keong mas memiliki musuh alami seperti semut merah, burung, laba-
laba, berbagai jenis reptil dan tikus yang memakan induk dan telur (Kompas,
1992).
Menurut Norman (1990), keong mas memiliki kelebihan bisa memakan
apa saja seperti talas, singkong, sayur-mayur dan daun pepaya. Keong mas berasal
dari perairan tawar Amerika Selatan dan Amerika Utara makanan kesukaannya
adalah berbagai macam tumbuhan air (Pikiran Rakyat, 1992). Menurut Vaviarman
(1993), di kabupaten Musi Rawas salah satu yang efektif dan menguntungkan
untuk memberantas keong mas adalah diberantas dengan kodok lembu, selain itu
kodok ini dapat mengkonsumsi eceng gondok.
Menurut Ramli (1984), produsen adalah tumbuhan hijau yang dapat
melakukan fotosintesis menggunakan zat-zat dari persenyawaan, sinar matahari
menghasilkan substansi organik, karbon dioksida dan air, sedangkan konsumen
adalah organsime yang memakan produsen seperti hewan herbivor seperti
belalang, siput dan ikan. Sedangkan hewan yang memakan konsumen primer
disebut konsumen sekunder. Di beberapa daerah keong mas biasanya
dimakan dan dikumpulkan untuk pakan ternak seperti bebek, udang, dan lele
dumbo (Kompas, 1992).
Pada tanaman padi keong mas dapat beradaptasi dengan baik, bahkan
mampu hidup di tempat yang kering selama enam bulan. Keong ini mampu hidup
selama tiga tahun dengan mengkonsumsi tumbuhan air di persawahan dan saluran
irigasi (Kompas, 1992). Keong mas suka memakan tumbuhan padi muda yang
berumur 1-3 minggu setelah ditanam tetapi tidak memakan padi yang telah
berumur tiga bulan, karena itu di beberapa tempat petani melepaskan bebek atau
itik ke areal persawahan yang pada saat itu padi berumur 35-40 hari (Kompas,
1992). Menurut Illyas (1993), di kelurahan Kasang kecamatan Jambi Timur keong
mas mampu menyerang tanaman kangkung yang merupakan mata pencaharian
masyarakat dengan luas sekitar 14 hektar. Lahan kangkung ini berangsur-angsur
rusak akibat dimakan keong mas yang berukuran sedang (4-7 cm). Sebelum keong
mas menyerang lahan kangkung kelurahan Kasang, keong ini menyerang lahan
sawah yang baru ditanami padadi di kabupaten Kerinci dengan luas mencapai 500
hektar.
Sifat biologi keong mas salah satunya adalah sangat rakus karena dapat
mengkomsumsi ganggang, azola, lumut, ubi-ubian, talas, kangkung, eceng
gondok, sisa sampah dapur, detritus, dedak, katul, pelet, tulang berdaging, bangkai
asalkan pakan tersebut tidak bergerak dan berada dalam air terapung dan
tenggelam (Bulletin Warta Pertanian, 1990).

Faktor abiotik
4

Menurut Halimah dan Ismail (1989), keong mas hidup pada suhu berkisar
antara 23-32oC, oksigen terlarut berkisar antara 0-5,27 ppm, meskipun oksigen
terlarut mendekati nol atau bahkan nol ternyata keong mas masih mampu hidup.
Menurut Sumarni (1989), keong mas menghendaki pH air berkisar antara 5-8.
Menurut Hunter (1964) dalam Nurhayati (1993), menyatakan bahwa moluska
dapat hidup pada pH di bawah 6. Seekor induk betina keong mas dapat
menghasilkan 10-12 kapsul telur selama 1 bulan, telur-telur itu akan menetas lebih
dari 10 hari pada suhu 23-32 0C dengan daya tetas 60-70 % (Dinas Perikanan,
1990).
Menurut Fregburg dan Harelwood (1965), temperatur sangat kecil
mempengaruhi kehidupan keong mas serta tidak ada yang menunjukkan
hubungan jelas antara kebutuhan oksigen, jenis kelamin, temperatur dan berat
badan. Pomacea sp hanya mampu hidup efektif pada suhu 10-35 0C. Menurut
Nurhidayati (1993), keong mas menyukai perairan jernih yang banyak tumbuhan
airnya, disamping itu sangat menyukai tempat yang berlumpur karena pada saat
terik siang hari keong ini bersembunyi di dalam lumpur. Menurut Frashad (1925),
keong Ampullaridae hidup pada berbagai perairan tawar antara lain kolam, danau,
tangki, sungai kecil dan sawah. Jenis keong ini lebih menyukai perairan jernih
dengan dasar air berlumpur dan paling banyak ditemukan pada area dengan
pergantian air.
Menurut Evan dan Hutabarat 91985), unsur abiotik dalam ekosistem
berperan sebagai faktor pembatas bagi organisme yang ada di dalamnya dan
berbeda untuk setiap jenis bergantung pada kisaran toleransinya. Faktor pembatas
tersebut misalnya temperatur, pH, oksigen terlarut, dan keadaan subtrat perairan
yang dapat mempengaruhi keadaan jenis organisme yang hidup pada subtrat
tersebut. Sifat substrat merupakan salah satu lingkungan fisik yang turut
mempengaruhi penyebaran invertebrata. Substrat batu-batuan biasanya akan
dihuni oleh epifauna sedangkan subtrat lumpur adan pasir akan dihuni oleh
infauna.Menurut Lacanilao (1990) dalam Nurhidayati (1993), kualitas air dan
temperatur hanya berpengaruh pada ukuran kelompok telur dan lamanya
penetasan. Sedangkan menurut Guerrero (1989), keong mas sangat tahan dan
mampu hidup di air dengan oksigen terlarut yang rendah dan polusi organik.

Penutup
Dari aspek-aspek biologi yang dapat diinformmasikan adalah aspek sistematik,
morfologi,
perkembangan populasi dan aspek ekologi. Aspek sistematik keong mas, yaitu
filum : moluska,
klas: gastropoda, ordo: pulmata, familia: ampullaridae, genus: pomacea dan
spesies: Pomacea
canaliculata L. Aspek morfologi keong mas: bentuk cangkang keong mas hampir
mirip dengan
siput sawah yang disebut gondang. Perkembangan populasi: keong mas memilliki
daur hidup
yang singkat dari stadium telur sampai stadium berikutnya memerlukan waktu
tiga bulan. Keong
mas lebih cepat pertumbuhannya. Seekor induk betina berumur 6 bulan mampu
menghasilan
5

1000 butir telur. Aspek ekologi meliputi faktor biotik berupa konsumen keong
mas, seperti keladi
(Caladium sp), tumbuhan air, sayur, dedak dan pelet, karena itu keong mas
bersifat omnivora.
Predator keong mas adalah mulai dari serangga sampai manusia terutama unggas.
Faktor abiotik
meliputi suhu berkisar antara 23-32 0C, oksigen terlarut berkisar antara 0-5,27
ppm, dan pH air
berkisar antara 5-8.
D. Ciri Betina dan Jantan
Perkembangbiakan pada tutut/keong sawah mengalami seksual atau perkawinan
antara tutut jantan dan tutut betina. Untuk membedakan tutut jantan dan tutut
betina dapat diamati dari ukuran cangkang dan warna tutut. Biasanya, tutut betina
memiliki ukuran cangkang yang lebih besar daripada tutut jantan, serta warna
tutut betina lebih cerah sedangkan tutut jantan sedikit lebih gelap.

E. Cara Pertahanan Diri


Bentuk mekanisme pertahanan dasar dari keong sawah/tutut adalah upaya untuk
menghindari predator yang dapat mendeteksinya yaitu dengan memasukan badan
tutut ke dalam cangkang dan menutupnya dengan menggunakan operculum (pintu
cangkang). Pertahanan diri yang utamanya adalah dengan menjatuhkan diri dan
menguburkan diri. Dengan kata lain ketika salah satu keong sawah/tutut
memberikan tanda bahaya, mereka menghilangkan genggaman mereka dan
menjatuhkan diri ke bawah (dalam lumpur bawah air), dimana mereka
membenamkan diri di lumpur atau bergerak pelan hingga mereka bersentuhan
dengan objek seperti batu, kemudian menutup dengan membenamkan dirinya.
Penglihatan bukan suatu mekanisme penting pada keong sawah untuk mendeteksi
pemangsa atau bahaya. Ini didukung oleh kenyataan bahwa keong sawah/tutut
tidak menunjukkan respon ketika cahaya didiubah secara tiba-tiba atau dengan
adanya benda bergerak dalam permukaan air. Alasan yang mungkin kenapa keong
mas tidak mengandalkan penglihatannya mungkin dengan keterbatasan gambar
yang dapat dilihat dengan matanya, dengan tidak membedakan pemangsa dengan
objek lain. Oleh karena itu ia mengenali tanda bahaya dari tentakel atau alat yang
berupa penerima sinyal.
F. Cara Perkembangbiakan
Tutut/keong sawah (bellamiya Javanica) bereproduksi secara seksual. Organ
reproduksi jantan dan betina pada umumnya terpisah pada individu lain
(gonokoris). Fertilisasi dilakukan secara internal.

G. Sistem Pernafasan
Sistem pernafasan tutut/keong sawah menggunakan insang. Insang ini berupa
kulit berlapis-lapis sangat tipis. Kadang-kadang sistem pernafasannya
menggunkan rongga mantel, yaitu bagian kulit terluar yang paling tebal yang
memiliki fungsi lain untuk melindungi organ dalamnya. Memiliki sistem
peredaran darah terbuka. Darah beredar melalui filamen insang, dimana
pertukaran karbondioksida dan oksigen terjadi antara darah dan air mengalir di
atas permukaan insang. Ketika darah mengandung beroksigen berwarna kebiruan,
ketika terdeoksigenasi darah tidak berwarna. Organ ekskresinya berupa ginjal.
6

H. Sistem Syaraf
Sitem syaraf tutut/keong sawah terdiri atascincin syaraf. Sistem syaraf ini
mengelilingi esofagus dengan serabut saraf yang menyebar. Sistem pencernaannya
sudah terbilang lengkap karena terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan
anus. Tutut/keong sawah juga memiliki lidah bergerigi yang berfungsi untuk
melumatkan makanan. Lidah bergerigi itu disebut radula.
I. Sistem Reproduksi Pomacea canaliculata
Keong mas termasuk ke dalam hewan diocious yaitu jenis alat kelamin yang
terpisa artinya jenis kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang
berbeda (Andrews, 1964; Hyman, 1967; Marwoto, 1988; Sihombing, 1999).
Perbedaan keong mas jantan dan betina tidak tampak dari warna dan bentuk
cangkang, pada umur yang sama dapat dilihat dari ukurannya, keong mas jantan
memiliki tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan dengan keong mas betina
(Marwoto, 1988). Hal ini lebih ditegaskan oleh Suwarman (1989) yang
menyatakan bahwa keong mas jantan berbentuk bulat dan mempunyai tonjolan
ruas-ruas yang terlihat dengan jelas, warnanya kuning, coklat dan putih. Pada
bagian bawah kulit keras (cangkang) tidak terlihat warna merah serta ukuran
induk relative kecil, sdangkan pada keong mas betina berbentuk bulat mulus tanpa
ruas-ruas, warna kuning keemasan, terdapat warna merah pada cangkangnya serta
ukuran induknya relative lebih besar.

Gambar 1. Anatomi Pomacea sp jantan


Perbedan antara individu jantan dan betina ini sangat jelas terlihat dari anatomi
tubuh jantan dan betina. Individu jantan mempunyai organ genital berupa penis
yang menyerupai sungut, memanjang dan sebagian dikelilingi oleh kantung penis
yang tumbuh dari ujung kanan mantel (Andrews, 1964; Berry, 1974; dan
Marwoto, 1988). Pada individu betina struktur tersebut juga ada tetapi jauh lebih
kecil (Berry, 1974). Meskipun demikian terdapat ciri khas individu betina, yaitu
adanya albumen yang sangat besar.
7

Gambar 2. Anatomi Pomacea sp betina


Andrews (1964) menyatakan bahwa keong mas jantan ditandai dengan adanya
gonad yang panjang, penis seperti jari yang dikelilingi sebagian oleh penis sheat
yang tumbuh ditepi kanan mantel. Pada keong betina tidak dijumpai struktur
serupa. Keong mas melakukan fertilisasi internal dan berkembang biak secara
ovipar.
Sistem Reproduksi Jantan
Reproduksi jantan melibatkan testis dan vas deferens, seminal vesicle dan prostate
gland, penial sac, penis dan penis sheat. Testis yang berwarna krem kekuningan
dapat ditemukan pada bagian atas (gulungan 1,5 sampai 2,5) sepanjang cangkang
yang berwarna gelap adalah kelenjar pencernaan. Saluran yang pendek (vasa
afferentia) didalam testis berhubungan dengan vas deferens. Vas deferens turun
kearah seminal vesicle, dibawah kidney chamber. Pada seminal vesicle sel sperma
disediakan.
Prostate gland merupakan hubungan tertutup dengan seminal vesicle (mereka
tampak sebagai satu struktur dari luar). Prostate gland turun melewati sebelah
kanan dari mantle skirt, sepanjang rectum dan berakhir di penial papilla, berlanjut
ke anal papilla pada langit-langit di mantle cavity kanan. Selama aktifitas
perkawinan, penial papilla ini membelok terhadap sperm groove dimana sperma
disalurkan. Dari aliran sperma, sperma dibawa ke dalam saluran penial di bawah
penis. Penis itu sendiri digulung dalam kantung dasar (penial sac) ketika tidak
digunakan. Dalam ereksi penis keluar dari penial sac dan ditahan
disekitar muscular penial sac yang ketiga dari bawah pada mantel. Kemudian ini
dapat dilihat pada saat keong kawin, penis yang sesungguhnya lebih tipis, seperti
melambai dan sering tidak tampak.
8

Gambar 3. Sistem reproduksi jantan


Dalam produksi sel sperma Pomacea canaliculata dan mungkin juga semua
anggota famili Ampullaridae, dua tipe sperma diproduksi; sperma eupyrene, atau
normal, sel sperma yang aktif bergerak dan apyrene parasperma. Bentuk sperma
yang terakhir terdiri atas sel-sel steril, yang menghasilkan suatu proses
sitodiferensiasi kompleks, mereka berkembang menjadi sel-sel bersilia yang tak
berinti, yang sangat berbeda dengan sel-sel sperma normal. Apyerene
paraspermatozoa (sel-sel sperma) yang dibuat dengansecretory granules, kaya
akan glikoprotein (suatu energi kaya akan molekul protein). Fungsi dari sel-sel
sperma yang steril ini belum diketahui, tapi beberapa fungsinya telah dapat
dikemukakan. Pada satu hipotesis, paket dari sel-sel sperma normal
(euspermatozoa) dengan sel steril ini (apyrene paraspermatozoa) terhadap unit
pergerakan yang lebih besar, pertimbangan sebagai suatu solusi pada penetrasi
sperma menghambat masuknya sperma pada betina bersamaan menutupnya akses
sperma pada jantan.
Penyediaan nutrisi untuk sel-sel sperma yang fungsional (eupyrene), bisa menjadi
fungsi lain dalam sel-sel sperma apyrene. Sebagai tambahan poin ini sel-sel
sperma apyrene mendukung sel sperma yang normal dalam perjalanannya menuju
saluran reproduksi betina melalui pelepasan glikoprotein. Glikoprotein ini adalah
sumber energi yang penting untuk perpindahan sel-sel sperma.
Sistem Reproduksi Betina
Sel telur pada keong betina terbentuk pada ovaria, yang terletak di atas punggung,
dekat dengan digestive gland. Untuk memproduksi telur, sel telur dibawa
ke receptaculum seminis. Di tempat ini, dimana sperma dari jantan tersedia,
tempat berlangsungnya fertilisasi sel telur. Spermatozoa (sel-sel sperma) jantan
dapat bertahan hidup lebih dari sebulan dalam tubuh betina, dan beberapa
kantung-kantung telur dapat dibuahi dengan sekali kopulasi. Albumen (kuning
telur) dari embrio keong yang hidup ditambah dengan kelenjar albumen
proximal dan lebih jauh selama perjalanan melalui saluran telur oleh kelenjar
distal albumen . Kelenjar ini sangat meningkat ketika betina akan memproduksi
telur-telur. Dan ketika ovaria yang berada di atas cangkang, kelenjar albumen
berada diatas mantle cavity dan pada masa reproduksi mereka bergerak mendekati
bukaan cangkang dan dapat memenuhi sebagian besar darimantle cavity sebelah
kanan.
Takeda (2000) menjelaskan bahwa keong mas betina memiliki jaringan yang tidak
terdiferensiasi dekat dengan anus. Meskipun mass ini disebut dengan vestigial
9

penis, hal ini tidak menunjukkan gonad yang hermaprodit atau beberapa struktur
yang menunjukan suatu transisi dari satu seks atau lainnya. Berdasarkan
pertimbangan teori steroid hormone reproduksi dan tampak adanya gangguan
pada system endokrin pada molusca oleh organotins, suatu penelitian yang dibuat
dari pengaruh tributyltin dalam keong betina. Terpapar dengan tributyltin
menghasilkan sesuatu dengan istilah phenomenon imposex dan baik pada penis
dan pembungkus penis, baru-baru ini dihasilkan dari penis pestigial. Phenomenon
yang sama juga dirangsang melalui testosterone. Jadi penis pestigial, namanya
lebih dari 100 tahun yang lalu telah ditunjukkan pertama kal menjadi suatu
rudiment dari penis itu sendiri.

Gambar 4. Sistem reproduksi betina


Pada saluran cangkang dimana calcareous keluar dari telur yang ditambahkan
(pada spesies yang mengeluarkan telur diatas permukaan air) telur
melalui pseudobursa copulatrix. Dalam bursa ini sperma jantan diterima dan cacat
atau sel sperma yang tidak sempurna tidak memungkinkan untuk berenang ke
arah seminis receptaculum, diserap di sini. Pada akhir saluran telur, telur
disempurnakan dan meninggalkan saluran genital ke arah gonopore

KESIMPULAN
10

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA