Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN

INFEKSI OLEH JAMUR

1. Cryptococcus neofarmans1

Cryptococcus neofarmans adalah jamur seperti ragi (yeast like fungus) yang

ada dimana-mana di seluruh dunia. Jamur ini menyebabkan penyakit jamur sistemik

yang disebut cryptococcosis, dahulu dikenal dengan nama Torula histolitica. Jamur

ini paling dikenal sebagai penyebab utama meningitis jamur dan merupakan

penyebab terbanyak morbiditas dan mortalitas pasien dengan gangguan imunitas.

Cryptococcus neofarmans dapat ditemukan pada kotoran burung (terutama merpati),

tanah, binatang juga pada kelompok manusia (colonized human).

Gejalanya seperti meningitis klasik yang melibatkan meningitis secara difus.

Dengan adanya AIDS, insiden cryptococcal meningitis meningkat drastis. Di

Amerika, meningitis ini termasuk lima besar penyebab infeksi oportunistik pada

pasien AIDS.

Terapi dengan amphotericin B memperlihatkan hasil yang baik. Amphotericin

B diberikan tiap hari intravena dengan dosis 0,5 mg/kg,diberikan enam sampai

sepuluh minggu, tergantung dari perbaikan klinis danekmbalinya cairan serebrospinal


kearah normal. Peneliti lain memberikan amphotericin B dengan 5-flurocytosine 150

mg/kg perhari (dalam 4 dosis). Kombinasi ini memberikan hasil yang lebih baik.

Pada pasien yang tidak diobati, biasanya fatal dalam beberapa bulan tetapi

kadang-kadang menetap sampai beberapa tahun dengan rekuren,remisi dan

eksaserbasi. Kadang-kadang jamur pada cairan serebrospinal ditemukan selama tiga

tahun atau lebih. Telah dipalorkan beberapa kasus yang sembuh spontan.

2. Mucormycosis1

Serebral mucormycosis (phycomycosis) adalah penyakit akut, jarang dapat

disembuhkan yang disebabkan oleh jamur klas phycomycetae khususnya genera

rhizopus. Jamur ini terdapat diseluruh dunia pada tumbuhan busuk, pupuk dan

makanan yang mengandung banyak gula. Infeksi pada manusia hampir selalu terjadi

pada pasien yang mempunyai penyakit utama termasuk diabetes melitus yang tidak

terkontrol, keganasan darah, lymfoma, keadaan imunosupresif, penggunaan antibiotik

jangka panjang dan penggunaan sitostatik.

Jamur ini masuk ke dalam tubuh manusia yang rentan melalui hidung

menyebabkan sinusitas dan sellulitis orbitalis, kemudian penetrasi ke arteri dan terjadi

trombosis arteri oftalmika danar karotis interna dan selanjutnya menyerang vena dan

saluran linfe. Dapat terjadi penyakit yang desiminata pada mata, serebral,paru dan

intestinal. Gejala klinis biasanya dimulai dengan tanda-tanda infeksi sinus paranasalis

seperti hidung tersumbat, sekret dari hdung kadang-kadang berdarah, nyeri pada
daerah sinus dan demam. Jika tidak diobati, penyakit ini akan menyebar keotak

melalui lamina kribriformis atau setelah terlibatnya tulang tengkorak. Kemudian

terjadi gejala-gejala lobus frontalis dan meningen basalis bersama dengan penurunan

kesadaran drowsyness nyeri kepala, perubahan status mental. Gejala neurologis yang

sering terjadi yaitu proptis,kelumpuhan mata dan hemiplegi yang mana keadaan ini

berhubungan dengan terlibatnya arteri arteri orbitalis dan karotis danjaringan

disekitarnya. Organisme ini dapat menginvasi meningen atau dapat menembus otak

sehingga menimbulkan ensefalitis jamur dan dapat menyebabkan Infark dan

perdarahan otak. Beberapa hifa terdapat didalam trombus dandinding pembuluh darah

dan sering sekali masuk ke dalam perinkim sekitarnya. Biasanya penyakit ini cepat

berakibat fatal dalam beberapa hari atau minggu.

3. Candidiasis (moniliasis)1

Spesies candida merupakan suatu flora mikrobial yang normal terdapat dalam

tubuh manusia. Candidiasis kemungkinan merupakan infeksi jamur oportunistik

terbanyak. Infasi ke susunan saraf pusat sebenarnya sangat jarang kecuali terjadi

kerusakan sistem kekebalan tubuh host. Banyak faktor yang menunjang terjadinya

infeksi candida seperti terapi antibiotik spectrum luas, luka bakar berat, nutrisi

parental total, prematuritas, keganasan pemasangan kateter, terapi kortikosteroid,

neutropenia, operasi abdomen, diabetes mellitus, dan penggunaan obat parenteral

yang tidak semestinya (parentral drug abuse). Bentuk patologi infeksi susunan saraf

pusat oleh candida berupa penyebaran mikro abses intraparenkimal, granuloma


nonkaseosa, abses besar, meningitis dari ependimitis. Pada kebanyakan kasus

diagnosis belum dapat ditegakkan pada saat pasien masih hidup, kemungkinan oleh

karena sukarnya menemukan organisme pada cairan serebrospinal . Prognosis

biasanya jelek walaupun dengan penggunaan amphotericin B.

4. Aspergilosis1

Aspergilosis fumigatus dan A.flavus dapat menyebabkan infeksi susunan saraf

pusat manusia. Hal ini terjadi melalui penyebaran langsung dari sinus paranasalis atau

setelah traumakapitis, operasi lumbal fungsi, atau melalui penyebaran hematogen

pada orang dengan gangguan imunitas terutama yang mengalami neutropenia dalam

jangka waktu yang lama. Penulis lain menyatakan bahwa infeksi jamur ini terutama

jika terjadi sinusitis kronis (khususnya spenodialis) dengan osteomielitis basis

tengkorak atau akibat komplikasi otitis dan masstoiditis.

Manifestasi klinis penyakit ini berupa gangguan nevrus kranialis pada sekitar

daerah infeksi, abses serebri, granuloma kranial dan spinal pada duramater. Keadaan

ini tidak bermanifestasi sebagai meningitis. Pada beberapa kasus penyakit ini didapat

di rumah sakit ditandai dengan adanya gejala infeksi paru yang tidak mempan

terhadap antibiotik. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan melakukan biopsi atau

dengan kultur.

Terapi anti jamur seperti ampotericin B dan kombinasi dengan

limaflurocytosine dan imidazole masih dipertanyakan keberhasilannya. Jika obat-


obatan ini diberikan setelah operasi pengeluaran materi yang terinfeksi, beberapa

pasien dapat disembuhkan.

5. Coccodiodomycosis1

Penyakit infeksi jamur ini banyak didaerah Barat Daya Amerika. Biasanya

hanya menyebabkan gejala influensa dengan infiltrat pada paru sebagai pneumonia

non bakterial. Keadaan ini dapat berlangsung progresif menjadi diseminata termasuk

infeksi pada meningen. Reaksi patologi dan gambaran kliniknya pada meningen dan

cairan serebrospinal sangat mirip dengan meningitis tuberkulosa.

Terapi terdiri dari pemberian ampotericin B intravena. Ada juga yang

menganjurkan pemberian ampotericin B intratekal. Pemberian melalui lumbal fungsi

yaitu dengan campuran ampotericin B dalam glukosa 10%, pasien dalam posisi

kepala agak kebawah (head dowm position) ampotericin B diberikan 3 kali seminggu

selama 3 bulan, atau sampai sel pada cairan serebrospinal kurang dari 10 mm3 dan

complement fixing menghilang dari cairan likuor.

6. Histoplasmosis1

Histoplasma capsulatun terdapat pada daerah ohio dandaerah lembah

Missisipi tengah Amerika. Infeksi terjadi setelah inhalasi spora. Kebanyakan pasien

hanya memperlihatkan gejala yang minimal atau tanpa gejala selama infeksi primer

pada paru paru. Perkembangan penyakit yang progresif (desimilata) terjadi pada

penderita gangguan pertahanan tubuh (cell mediated immune defence) setengah dari
penderita dengan gejala diseminata merupakan pasien dengan terapi imunosupresif,

Lymphoma, lymphocytic leukimia, gangguan limfa atau AIDS. Jika terjadi keaadaan

disseminata, lokasi yang terutama adalah susunan saraf pusat.

Terapi yang dianjurkan adalah pemberian ampotericin B intravena 50 mg/hari

pada orang dewasa dan 1 mg/kgBB/hari pada anak-anak dengan berat badan kurang

dari 50 kg, selama 6-12 minggu, dengan dosis total sekitar 35 mg/kgBB. Terapi

pemeliharaan maintenance) diberikan 50-80 mg setiap 1 atau 2 minggu, untuk

mencegah relaps pada penderita AIDS.

INFEKSI OLEH BAKTERI

A. Tetanus

Tetanus yang juga dikenal dengan lackjaw2, merupakan penyakit yang

disebakan oleh tetanospasmin, yaitu sejenis neurotoksin yang diproduksi Clostridium

tetani yang menginfeksi sistem urat saraf dan otot sehingga saraf dan otot menjadi

kaku (rigid)2 Kitasato merupakan orang pertama yang berhasil mengisolasi

organisme dari korban manusia yang terkena tetanus dan juga melaporkan bahwa

toksinnya dapat dinetralisasi dengan antibodi yang spesifik2 Kata tetanus diambil dari

bahasa Yunani, yaitu tetanos dari teinein yang berarti menegang. Penyakit ini adalah

penyakit infeksi di saat spasme otot tonik dan hiperrefleksia menyebabkan trismus

(lockjaw), spasme otot umum, melengkungnya punggung (opistutinis), spasme glotal,

kejang, dan paralisis pernapasan.3


C. tetani termasuk dalam bakteri Gram positif, anaerob obligat, dapat membentuk

spora, dan berbentuk drumstick.3 Spora yang dibentuk oleh C. tetani ini sangat

resisten terhadap panas dan antiseptik. Ia dapat tahan walaupun telah diautoklaf

(1210C, 10-15 menit) dan juga resisten terhadap fenol dan agen kimia lainnya.3

Sporanya terdistribusi pada tanah dan saluran penceranaan serta feses dari kuda,

domba, anjing, kucing, tikus, babi, dan ayam.3

Ketika bakteri tersebut berada di dalam tubuh, ia akan menghasilkan

neurotoksin (sejenis protein yang bertindak sebagai racun yang menyerang bagian

sistem saraf).2 C.tetani menghasilkan dua buah eksotoksin,yaitu tetanolysin dan

tetanospasmin.fungsi dari tetanoysin tidak diketahui dengan pasti, namun juga dapat

mempengaruhi tetanus2. Tetanospasmin merupakan toksin yang cukup kuat.

Tiga jenis tetanus adalah local tetanus, cahalic tetanus, dan generalized

tetanus. Neonatal tetanus termasuk dalam generalized tetanus yang menyerang bayi

yang baru lahir dengan kondisi sanitasi yang tidak baik diamna mungkin tali pusar

sang bayi tidak digunting dengan peralatan yang steril serta kurangnya imunitas pasif

karena sang ibu tidak diimunisasi sebelumnya.2

Pada keadaan anaerobik, spora akan bergerminasi menjadi sel vegetatif.4

Toksin akan diproduksi dan menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui peredaran

darah dan sistem limpa.4 Toksin tersebut akan beraktivitas pada tempat-tempat
tertentu seperti pusat sistem saraf termasuk otak. Gejala klonis yang ditimbulakan

dari toksin tersebut adalah dengan memblok pelepasan dari neurotransmitter sehingga

terjadi kontraksi otot yang tidak terkontrol.4 Akibat dari tetanus adalah rigid paralysis

(kehilangan kemampuan untuk bergerak) pada voluntary muscles (otot yang geraknya

dapat dikontrol), sering disebut lockjaw karena biasanya pertama kali muncul pada

otot rahang dan wajah. Kematian biasanya disebabkan oleh kegagalan pernafasan dan

rasio kematian sangatlah tinggi.4

B. Botulism5

Botulisme adalah suatu keadaan yang jarang terjadi dan bisa berakibat fatal,

yang disebabkan oleh keracunan toksin (racun) yang diproduksi oleh Clostridium

botulinum. Toksin ini adalah racun yang sangat kuat dan dapat menyebabkan

kerusakan saraf dan otot yang berat. Karena menyebabkan kerusakan berat pada

saraf, maka racun ini disebut neurotoksin.

Terdapat 3 jenis botulisme, yaitu :

- Foodborne botulism, merupakan akibat dari mencerna makanan yang tercemar

- Wound botulism, disebabkan oleh luka yang tercemar

- Infant botulism, terjadi pada anak-anak, karena mencerna makanan yang tercemar.
Penyebabnya adalah Bakteri Clostridium botulinum memiliki bentuk spora. Spora ini

dapat bertahan dalam keadaan dorman (tidur) selama beberapa tahun dan tahan

tehadap kerusakan. Jika lingkungan di sekitarnya lembab, terdapat cukup makanan

dan tidak ada oksigen, spora akan mulai tumbuh dan menghasilkan toksin. Beberapa

toksin yang dihasilkan Clostridium botulinum memiliki kadar protein yang tinggi,

yang tahan terhadap perusakan oleh enzim pelindung usus.

Jika makan makanan yang tercemar, racun masuk ke dalamtubuh melalui

saluran pencernaan, menyebabkan foodborne botulism. Sumber utama dari botulisme

ini adalah makanan kalengan. Sayuran, ikan, buah dan rempah-rempah juga

merupakan sumber penyakit ini. Demikian juga halnya dengan daging, produki susu,

daging babi dan unggas.

Wound botulism terjadi jika luka terinfeksi oleh Clostridium botulinum. Di

dalam luka ini, bakteri menghasilkan toksin yang kemudian diserap masuk ke dalam

aliran darah dan akhirnya menimbulkan gejala.

Infant botulism sering terjadi pada bayi berumur 2-3 bulan. Berbeda dengan

foodborne botulism, infant botulism tidak disebabkan karena menelan racun yang

sudah terbentuk sebelumnya. Botulisme ini disebabkan karena makan makanan yang

mengandung spora, yang kemudian tumbuh dalam usus bayi dan menghasilkan racun.

Penyebabnya tidak diketahui, tapi beberapa kasus berhubungan dengan pemberian

madu.
Clostridium botulinum banyak ditemukan di lingkungan dan banyak kasus yang

merupakan akibat dari terhisapnya sejumlah kecil debu atau tanah.

Gejalanya terjadi tiba-tiba, biasanya 18-36 jam setelah toksin masuk, tapi

dapat terjadi 4 jam atau paling lambat 8 hari setelah toksin masuk. Makin

banyak toksin yang masuk, makin cepat seseorang akan sakit. Pada umumnya,

seseorang yang menjadi sakit dalam 24 jam setelah makan makanan yang tercemar,

akan mengalami penyakit yang sangat parah.

Gejala pertama biasanya berupa mulut kering, penglihatan ganda, penurunan

kelopak mata dan ketidakmampuan untuk melihat secara fokus terhadap objek yang

dekat. Refleks pupil berkurang atau tidak ada sama sekali. Pada beberapa penderita,

gejala aawalnya adalah mual, muntah, kram perut dan diare. Pada penderita lainnya

gejala-gejala saluran pencernaan ini tidak muncul, terutama pada penderita wound

botulism.

Penderita mengalami kesulitan untuk berbicara dan menelan. Kesulitan

menelan dapat menyebabkan terhirupnya makanan ke dalam saluran pernafasan dan

menimbulkan pneumonia aspirasi. Otot lengan, tungkai dan otot-otot pernafasan akan

melemah. Kegagalan saraf terutama mempengaruhi kekuatan otot.6


Pada 2/3 penderita infant botulism, konstipasi (sembelit) merupakan gejala awal.

Kemudian terjadi kelumpuhan pada saraf dan otot, yang dimulai dari wajah dan

kepala, akhirnya sampai ke lengan, tungkai dan otot-otot pernafasan.

Kerusakan saraf bisa hanya mengenai satu sisi tubuh. Masalah yang

ditimbulkan bervariasi, mulai dari kelesuan yang ringan dan kesulitan menelan,

sampai pada kehilangan ketegangan otot yang berat dan gangguan pernafasan.6

INFEKSI OLEH VIRUS

A. Meningitis7

Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges, yaitu membran

atau selaput yang melapisi otak dan spinal cord. Biasanya disebabkan oleh virus

meningitis. Tetapi ada juga yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.

Tipe-tipe meningitis antara lain:

Aseptic Meningitis

Cryptococcal Meningitis

Gram Negative Meningitis

H. Influenza Meningitis

Meningitis due to cancer (carcinomatous meningitis)

Meningococcal Meningitis
Pneumococcal Meningitis

Staphylococcal Meningitis

Syphilitic Aseptic Meningitis

Tubercolous Meningitis

Infeksi SSP dapat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak jika

terjadi kerusakan korteks serebri secara permanent. Ada tiga aktivitas utama yang

berhubungan dengan peran korteks serebri yaitu:

1. aktivitas mental termasuk memory, intelegensia, rasa tanggung jawab, berfikir,

reasoning, moral dan juga belajar.

2. persepsi sensory termasuk persepsi nyeri, temperatur, sentuhan, pengelihatan,

pendengaran, perasa dan pembau.

3. inisiasi dan kontrol otot secara volunter (sadar).

Gejala-gejala meningitis

Demam, nyeri kepala, mual, muntah, meningeal sign positif, kejang, pada

pemeriksaan fisik terdapat bulging pada fontanela. Jika penyebabnya adalah virus

dapat diserati malaise, anorexia dan biasanya disetai gejala infeksi saluran nafas

seperti faringitis. Penyebabnya paling sering adalah arbovirus yang berhubungan

dengan ensefalitis.
Infeksi sistem saraf pusat virus di bayi baru lahir dan bayi biasanya mulai

dengan demam. Bayi baru lahir mungkin tidak mempunyai gejala lain dan pada

awalnya mungkin tidak kelihatan sakit. Bayi usia lebih dari sebulan biasanya menjadi

cepat-marah dan rewel dan menolak untuk makan. Muntah sering terjadi. Kadang-

kadang ada area kecil di atas kepala bayi baru lahir (fontanelle) yang menonjol,

menunjukkan pertambahan tekanan pada otak. Karena gangguan meninges

diperburuk oleh gerak-gerik, seorang bayi dengan radang selaput mungkin menangis

lebih sering, daripada menjadi tenang, kalau diambil dan digoncangkan. Beberapa

bayi membuat jeritan yang tinggi yang aneh. Bayi dengan radang otak sering

mengalami pingsan atau melakukan gerakan aneh. Bayi dengan radang otak hebat

mungkin menjadi lesu dan koma lalu meninggal. Infeksi dengan herpes virus

simpleks, yang sering dipusatkan hanya satu bagian otak, mungkin menyebabkan

pingsan atau kelemahan muncul hanya satu bagian badan.

Post- Infectious-nya mungkin menghasilkan banyak masalah neurologic,

bergantung pada bagian otak yang rusak. Anak mungkin mempunyai kelemahan pada

lengan atau kaki, kehilangan pandangan atau mendengar, keterbelakangan mental,

atau pingsan berulang. Gejala ini mungkin tidak nyata sampai anak cukup tua untuk

masalah untuk muncul selama pemeriksaan. Sering kali gejala hilang dengan

berjalannya waktu, tetapi kadang-kadang permanen.


B. Ensefalitis Virus

- Ensefalitis Arbovirus

Ensfalitis yang disebabkan oleh arbovirus adalah bentuk ensefalitis epidemik

tersering di dunia barat. Contohnya adalah ensefalitis eastern dan western equine.

Secara histologis, tampak inflamasi perivaskular nonspesifik dan nodul mikroglia,

yang kadang-kadang palng mencolok di batang otak.

- Ensefalitis Herpes Simpleks

HSV tipe 1 merupakan penyebab tersering ensefalitis virus sporadik di

Amerika Serikat. Gambaran penting pada ensefalitis HSV tipe 1 adalah kecondongan

mengenai lobus temporalis dan daerah frontalis orbital, tempat HSV tipe 1

menyebabkan ensefalitis hemoragik nekrotikans.

- Ensefalitis Sitomegalovirus (CMV)

Jenis Virus ini meruakan penyebab penting dari ensefalitis pada neonatus dan

pasien dengan gangguan kekebalan. Meskipun CMV dapat menginfeksi otak atau

medula spinalis, termasuk akar saraf spinal dan saraf kranialis, pada sejumlah kasus

virus ini menginfeksi ependima, menyebabkan permukaan ependimal ventrikel

serebrum mengalami pendarahan yang nyata.


- Leukoensefalopati Multifokus Progresif

LMP adalah suatu ensefalopati yang berkembang lambatyang disebabkan oleh

suatu anggota kelompok papovavirus, Virus JC. LMP menyerang orang dengan

gangguan kekebalan.pada LMP juga, virus menginfeksi oligodensria dan

menyebabkan daerah demielinisasi yang secara makroskopis tampak sebagai fokus

gelatinosa iregular, paling mencolok di taut antara substansia grisea dan alba.

Gambaran histologik mencakup demielinisasi, pembesaran atipikal astrosit dan

pembesaran nukleus oligodensria yang mengandung badan inklusi kotor berwarna

ungu muda.

C. Poliomyelitis10

Poliomyelitis atau Polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang

disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan

poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini

dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan

melemahnya otot dan kadang kelumpuhan.

Virus Polio termasuk genus enteroviorus, famili Picornavirus. Bentuknya

adalah ikosahedral tanpa sampul dengan genome RNA single stranded messenger

molecule. Single RNA ini membentuk hampir 30 persen dari virion dan sisanya

terdiri dari 4 protein besar (VP1-4) dan satu protein kecil (Vpg). Polio adalah

penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit peradaban. Polio menular


melalui kontak antarmanusia. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika

seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Poliovirus

adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain berbeda dan amat menular. Virus

akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam.

Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh persen kasus terjadi pada anak

berusia antara 3 hingga 5 tahun. Penyebab penyakit polio terdiri atas tiga strain yaitu

strain 1 (brunhilde) strain 2 (lanzig), dan strain 3 (Leon).

Strain 1 adalah yang paling paralitogenik atau yang paling ganas dan sering

kali menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. Strain ini sering ditemukan di

Sukabumi. Sedangkan Strain 2 adalah yang paling jinak. Penyakit Polio terbagi atas

tiga jenis yaitu Polio non-paralisis, Polio paralisis spinal, dan Polio bulbar. -Polio

non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi

kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh. -Polio Paralisis

Spinal Jenis Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan

sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai.

Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu

penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering

ditemukan terjadi pada kaki. Setelah poliovirus menyerang usus, virus ini akan

diserap oleh kapiler darah pada dinding usus dan diangkut seluruh tubuh. Poliovirus

menyerang saraf tulang belakang dan neuron motor -- yang mengontrol gerak fisik.

Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun, pada penderita yang tidak
memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang

seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak. Infeksi ini akan

mempengaruhi sistem saraf pusat menyebar sepanjang serabut saraf. Seiring dengan

berkembang biaknya virus dalam sistem saraf pusat, virus akan menghancurkan

neuron motor. Neuron motor tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang

berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat.

Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas -- kondisi ini disebut

acute flaccid paralysis (AFP).

Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan kelumpuhan pada

batang tubuh dan otot pada toraks (dada) dan abdomen (perut), disebut quadriplegia.

Ada yang disebut sebagai Polio Bulbar. Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya

kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung

neuron motor yang mengatur pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke

berbagai otot yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka

yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori

yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan

dan berbgai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang

mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur

pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar dapat menyebabkan

kematian. Lima hingga sepuluh persen penderta yang menderita polio bulbar akan

meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja.


Kematian biasanya terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf kranial yang

bertugas mengirim ''perintah bernapas'' ke paru-paru. Penderita juga dapat meninggal

karena kerusakan pada fungsi penelanan; korban dapat ''tenggelam'' dalam sekresinya

sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk

menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru. Namun

trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita telah menggunakan ''paru-paru

besi'' (iron lung). Alat ini membantu paru-paru yang lemah dengan cara menambah

dan mengurangi tekanan udara di dalam tabung. Kalau tekanan udara ditambah, paru-

paru akan mengempis, kalau tekanan udara dikurangi, paru-paru akan mengembang.

Dengan demikian udara terpompa keluar masuk paru-paru. Infeksi yang jauh

lebih parah pada otak dapat menyebabkan koma dan kematian. Penyakit Polio dapat

ditularkan oleh infeksi droplet dari oro-faring (mulut dan tenggorokan) atau dari tinja

penderita yang telah terinfeksi selain itu juga dapat menular melalui oro-fecal

(makanan dan minuman) dan melalui percikan ludah yang kemudian virus ini akan

berkembangbiak di tengorokan dan usus lalu kemudian menyebar ke kelenjar getah

bening, masuk ke dalam darah serta menyebar ke seluruh tubuh. Penu-laran terutama

sering terjadi langsung dari manusia ke manusia melalui fekal-oral (dari tinja ke

mulut) atau yang agak jarang terjadi melalui oral-oral (mulut ke mulut). Virus Polio

dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai

berkilo-kilometer dari sumber penularannya. Penularan terutama terjadi akibat

tercemarnya lingkungan leh virus polio dari penderita yang telah terinfeksi, namun
virus ini hidup di lingkungan terbatas. Virus Polio sangat tahan terhadap alkohol dan

lisol, namun peka terhadap formaldehide dan larutan klor. Suhu yang tinggi dapat

cepat mematikan virus tetapi pada keadaan beku dapat bertahun-tahun masa

hidupnya.