Anda di halaman 1dari 33

Laboratorium Obstetri dan Ginekologi Tutorial Klinik

Fakultas Kedokteran

Universitas Mulawarman

Karsinoma Ovarium

Oleh:

Melinda Payung Tasik


Melva Idawati Silitonga
Muhammad Sandriyan
M. Sulistiawan Nur
Suryanti Suwardi
Wardatunnisa

Pembimbing
dr. Erwin Ginting, Sp. OG

LAB / SMF OBGYN


Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
RSUD Abdul Wahab Sjahranie
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmatNya


penyusun dapat menyelesaikan Makalah Tutorial Klinik tentang Karsinoma
Ovarium. Makalah ini disusun dalam rangka tugas kepaniteraan klinik di
Laboratorium Obstertri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab
Sjahranie Samarinda.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dr. Erwin Ginting, Sp. OG.
selaku dosen pembimbing Tutorial Klinik yang telah memberikan bimbingan kepada
penyusun dalam penyelesaian makalah ini. Penyusun menyadari terdapat
ketidaksempurnaan dalam makalah ini, sehingga penyusun mengharapkan kritik dan
saran demi penyempurnaan. Akhir kata, semoga makalah ini berguna bagi penyusun
sendiri dan para pembaca.

Samarinda, 11 Januari 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... 1


DAFTAR ISI ....................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 3
1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 4
1.2. Tujuan ........................................................................................................... 4
1.3. Manfaat ......................................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 6
2.1. Definisi........................................................................................................... 6
2.2. Epidemiologi ................................................................................................. 6
2.3. Etiologi........................................................................................................... 6
2.4. Faktor Resiko ............................................................................................... 9
2.5. Stadium ......................................................................................................... 11
2.6. Diagnosis ....................................................................................................... 12
2.7. Penatalaksanaan ............................................................................................. 15
2.8. Prognosis ....................................................................................................... 24
BAB III LAPORAN KASUS ............................................................................. 25
BAB IV PEMBAHASAN ................................................................................... 30
BAB V KESIMPULAN ...................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 35

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Karsinoma ovarium jenis epitel adalah tumor ganas pada ovarium yang
berasal dari sel epitel ovarium. Tumor ovarium berdasarkan asal selnya terbagi
atas tumor epithelial, mesenchymal, germ cell, sex-cord stromal, miscellaneous,
tumour-like lesion, mesothelial, soft tissue tumor, lymphoid and myeloid. Angka
kejadian kanker ovarium non epitel sangat sedikit, sehingga mayoritas kanker
ovarium adalah jenis epitel. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian
tertinggi dari kanker ginekologi pada perempuan.
Di Indonesia, kanker ini penyebab kelima kematian dari seluruh tumor ganas
yang menyerang laki-laki dan perempuan dan urutan ketiga pada tumor ganas
yang menyerang perempuan. Pada tahun 2002 di RSCM kanker ovarium
menempati posisi ketiga kanker ginekologi yang paling sering ditemui setelah
kanker serviks dan kanker payudara.
Kanker ovarium epitel paling sering dijumpai pada perempuan
pascamenopause umur 62 tahun, dan jarang pada umur < 45 tahun. Lebih dari 80
% kanker ovarium epitel ditemukan pada perempuan pascamenopause. Menurut
penelitian lain umur paling jarang ditemukan dibawah 40 tahun dan paling sering
umur 65 tahun. Tingginya angka mortalitas yang ditimbulkan oleh tumor epitel
ovarium ganas ini disebabkan oleh mayoritas penderita kanker ovarium tidak
menunjukkan

1.2 Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Mengetahui tentang karsinoma ovarium dan perbandingan antara teori dengan
kasus nyata karsinoma ovarium.

4
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui teori tentang karsinoma ovarium yang mencakup:
a. Definisi
b. Epidemiologi
c. Etiologi
d. Klasifikasi
e. Tanda dan Gejala
f. Diagnosis
g. Penatalaksanaan
h. Komplikasi
i. Prognosis
2. Mengetahui perbandingan antara teori dengan kasus nyata karsinoma ovarium
yang terjadi di Ruang Mawar Nifas RSUD Abdul Wahab Syahranie.

1.3 Manfaat
1.3.1. Manfaat Ilmiah
Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran terutama
bidang Obstetri dan Ginekologi, khususnya tentang karsinoma ovarium.
1.3.2. Manfaat bagi Pembaca
Makalah ini diharapkan menjadi sumber pengetahuan bagi pembaca mengenai
karsinoma ovarium.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

5
2.1. Definisi Karsinoma Ovarium
Kanker ovarium adalah terjadinya pertumbuhan sel-sel tidak lazim
(kanker) pada satu atau dua bagian indung telur. Indung telur sendiri
merupakan salah satu organ reproduksi yang sangat penting bagi perempuan.
Dari organ reproduksi ini dihasilkan telur atau ovum, yang kelak bila bertemu
sperma akan terjadi pembuahan (kehamilan). Indung telur juga merupakan
sumber utama penghasil hormon reproduksi perempuan, seperti hormon
estrogen dan progesteron. Kanker ovarium adalah kanker atau tumor ganas
yang berasal dari ovarium dengan berbagai tipe histologi, yang dapat
mengenai semua umur.
2.2. Epidemiologi Karsinoma Ovarium
Kanker ovarium jarang ditemukan pada usia dibawah 40 tahun. Angka
kejadian meningkat dengan makin tua, yaitu 15-16 per 100.000 pada usia 40-
44 tahun, dan paling tinggi yaitu 57 per 100.000 pada usia 70-74 tahun. Usia
median saat diagnosis adalah 63 tahun dan 48% penderita berusia diatas 65
tahun. Belum ada metode skrining yang efektif untuk kanker ovarium,
sehingga 70% kasus ditemukan pada stadium lanjut.

2.3. Etiologi Karsinoma Ovarium

Ada beberapa teori tentang etiologi kanker ovarium yaitu:


1. Hipotesis Incessant Ovulation
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Fathalla pada tahun 1972,
yang menyatakan bahwa pada saat terjadi ovulasi, terjadi kerusakan pada sel-
sel ovarium. Untuk penyembuhan luka yang sempurna diperlukan waktu. Jika
sebelum penyembuhan tercapai terjadi lagi ovulasi atau trauma baru, proses
penyembuhan akan terganggu dan kacau sehingga dapat menimbulkan
transformasi menjadi sel-sel tumor.
2. Hipotesis gonadotropin

6
Teori ini didasarkan pada pengetahuan dari percobaan binatang dan
data epidemiologi. Hormon hipofisis diperlukan untuk perkembangan tumor
ovarium pada beberapa percobaan pada rodentia. Pada percobaan ini
ditemukan bahwa jika kadar hormon estrogen rendah di sirkulasi perifer,
kadar hormon gonadotrofin juga menigkat. Peningkatan kadar hormon
gonadotrofin ini ternyata berhubungan dengan makin bertambah besarnya
tumor ovarium pada binatang tersebut.
Kelenjar ovarium yang telah terpapar pada zat karsinogenik
dimetilbenzatrene (DMBA) akan menjadi tumor ovarium jika
ditransplantasikan pada tikus yang telah di ooforektomi, tetapi tidak menjadi
tumor jika tikus tersebut telah di hipofisektomi.
Berkurangnya resiko kanker ovarium pada wanita multipara dan
wanita pemakai pil kontrasepsi dapat diterangkan dengan rendahnya kadar
gonadotrofin.
3. Hipotesis androgen
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Rish pada tahun 1998 yang
mengatakan bahwa androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya
kanker ovarium. Teori ini didasarkan pada bukti bahwa epitel ovarium
mengandung reseptor androgen. Epitel ovarium selalu terpapar pada
androgenic steroid yang berasal dari ovarium itu sendiri dan kelenjar adrenal,
seperti androstenedion, dehidroepiandrosteron, dan testosterone. Dalam
percobaan invitro androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium
normal dan juga sel-sel kanker ovarium epitel dalam kultur sel.
4. Hipotesis progesteron
Berbeda dengan efek peningkatan resiko kanker ovarium oleh
androgen , progesteron ternyata mempunyai peranan protektif terhadap
terjadinya kanker ovarium. Epitel normal ovarium mengandung reseptor
progesteron.

7
Pemberian pil yang mengandung estrogen saja pada wanita pasca
menopause akan meningkatkan resiko terjadinya kanker ovarium, sedangkan
pemberian kombinasi dengan pemberian progesteron akan menurunkan
resikonya. Kehamilan, dimana kadar progesteron tinggi, menurunkan resiko
kanker ovarium. Pil kontrasepsi kombinasi menurunkan resiko terjadinya
kanker ovarium.
5. Paritas
Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan satu paritas yang tinggi
memiliki resiko terjadinya kanker ovarium yang lebih rendah daripada
nulipara, yaitu denga risiko relative 0,7. Pada wanita yang mengalami 4 atau
lebih kehamilan aterm, resiko terjadinya kanker ovarium berkurang sebesar
40% jika dibandingkan dengan wanita nulipara.
6. Pil kontrasepsi
Penelitian dari center for disease control menemukan penurunan resiko
terjadinya kanker ovarium sebesar 40% pada wanita usia 20-54 tahun yang
memakai pil kontasepsi, yaitu dengan resiko relative 0,6.
7. Talk
Pemakaian talk pada daerah perineum dilaporkan meningkatkan resiko
terjadinya kanker ovarium dengan resiko relative 1,9%.
8. Ligasi tuba
Pengikatan tuba ternyata menurunkan terjadinya kanker ovarium dengan
resiko relatif 0,3. Mekanisme terjadinya efek protektif ini diduga dengan
terputusnya akses talk atau karsinogen lainnya dengan ovarium.

2.4. Faktor Resiko


a. Nuliparitas

8
Nuliparitas berhubungan dengan ovulasi yang berulang dalam jangka
waktu lama dan wanita nulipara mempunyai resiko dua kali lipat mendapat
karsinoma ovarium. Namun, pada wanita yang mendapatkan terapi untuk
infertilitas dengan kelahiran hidup tidak meningkatkan resiko terhadap
karsinoma ovarium. Pada umumnya, resiko berkurang pada setiap kelahiran
hidup dan mendatar pada wanita dengan paritas lima kali. Kehamilan pula
mempunyai efek proteksi terhadap sel ovarium premaligna.
b. Menarke awal dan menopause lambat
Menarke awal dan menopause lambat juga dikaitkan dengan
peningkatan resiko terhadap karsinoma ovarium. Sebaliknya, menyusui
memiliki efek protektif yaitu dengan memperpanjang waktu amenore.
Penggunaan kontrasepsi oral kombinasi selama lima tahun atau lebih
mengurangi resiko terhadap karsinoma ovarium sebesar 50 persen, yang mana
durasi perlindungan berlansung hingga 25 tahun setelah penggunaan terakhir.
c. Ras
Wanita kulit putih memiliki insiden tertinggi pada kasus karsinoma ovarium
antara semua kelompok ras dan etnik. Dibandingkan dengan perempuan kulit
hitam dan Hispanik, resiko ini meningkat sebesar 30 hingga 40 persen.
Meskipun alasan yang tepat tidak diketahui, perbedaan ras dalam paritas dan
tingkat operasi ginekologi dapat menjelaskan beberapa perbedaan.
d. Ligasi Tuba dan histerektomi
Ligasi tuba dan histerektomi telah dikaitkan dengan 67% dan 30%
pengurangan berkembangnya karsinoma ovarium. Ini karena tindakan ini
menggangu suplai darah ovarium dan/atau menurunkan migrasi karsinogen
dari saluran genitalia bawah sampai ke ovarium.
Sebarang bentuk prosedur ginekologi yang menghalangi iritasi dari mencapai
ovarium melewati saluran genitalia menimbulkan efek perlindungan yang
sama. Oleh karena itu, wanita yang secara teratur menggunakan bedak
perineum memiliki resiko tinggi walaupun masih diragukan.

9
e. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga dengan karsinoma ovarium dalam tingkat pertama, yaitu
seorang ibu, anak, atau saudara, mempunyai tiga kali lipat resiko seumur
hidup menderita karsinoma ovarium. Resiko lebih meningkat dengan dua atau
lebih kerabat tingkat pertama yang menderita. Idetifikasi pasien beresiko
tinggi dengan anggota keluarga menderita kanker ovarium, payudara, atau
kolon saat ini adalah strategi pencegahan terbaik. Kurang dari 10% kasus
merupakan karsinoma ovarium herediter. HBOC (hereditary breast
ovarian cancer) merupakan kelainan herediter yang paling banyak
ditemukan dan merupakan 85-90% karsinoma ovarium herediter. Sebagian
besar tumor berhubungan dengan mutasi lokus BRCA 1. Gen lain yang
berperan dalam kerentanan tehadap kanker ovarium dan payudara adalah
BRCA2. Wanita dengan mutasi gen BRCA1 dan riwayat keluarga dengan
kanker mempunyai risiko sebesar 90% untuk mendapat kanker payudara
dan 65% untuk mendapat karsinoma ovarium.
f. Geografis
Wanita yang tinggal di Amerika Utara, Eropa Utara, atau negara
perindustrian Barat misalnya, Israel, memiliki resiko lebih tinggi menderita
karsinoma ovarium. Secara global, kejadian sangat bervariasi, namun negara-
negara berkembang dan Jepang memiliki tingkat terendah. Kebiasaan
makanan daerah mungkin mempengaruhi, misalnya, konsumsi makanan
rendah lemak namun tinggi serat, karoten dan vitamin tampak protektif
terhadap karsinoma ovarium.
g. Umur
Pertambahan usia berhubungan lansung dengan peningkatan resiko
terhadap karsinoma ovarium, khususnya diatas 50 tahun. Penelitian
menunjukkan pasien berusia 65 tahun ke atas didiagnosa pada stadium lanjut.
Prognosis dan kelansungan hidup juga lebih jelek dibanding pasien berusia
kurang 65 tahun.

10
Tabel 1: Faktor-faktor Risiko Karsinoma Ovarium Epitel10
Meningkatkan Menurunkan
Umur Menyusui
Diet Kontrasepsi oral
Riwayat keluarga Kehamilan
Infertilitas Ligasi tuba dan histerektomi
Nuliparitas
Obat ovulasi

2.5. Stadium Kanker Ovarium


Stadium kanker ovarium disusun menutut keadaan yang ditemukan
pada operasi eksplorasi. Stadium tersebut menurut International Federation of
Gynecologist and Obstenricians (FIGO) 1987 sebagai beriku:
Stadium I
Pertumbuhan terbatas pada ovarium
Stadium Ia : pertumbuhan terbatas pada satu ovarium, kapsul tumor utuh,
tidak ada pertumbuhan di permukaan ovarium, tidak ada sel tumor cairan
asites ataupun pada bilasan cairan di rongga peritonium
Stadium Ib : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium, tidak ada
pertumbuhan di permukaan ovarium, tidak ada sel tumor cairan asites ataupun
pada bilasan cairan di rongga peritonium
Stadium Ic : tumor terbatas pada satu atau dua dengan salah satu factor dari
kapsul tumor pecah, pertumbuhan tumor pada permukaan kapsul, ditemukan
sel tumor ganas pada cairan asite maupun bilasan rongga peritoneum.
Stadium II
Pertumbuhan pada satu atau kedua ovarium dengan perluasan ke panggul
Stadium IIa : perluasan dan/atau metastasis ke uterus dan/atau tuba
Stadium IIb : perluasan ke jaringan pelvis lainnya
Stadium IIc : tumor stadium IIa dan IIb tetapi dengan tumor pada permukaan
satu atau kedua ovarium, kapsul pecah, atau dengan asites yang mengandung
sel ganas atau bilasan peritoneum positif.

11
Stadium III
Tumor mengennai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum di
luar pelvis dan/atau KGB retroperitoneal atau ingunal positif. Metastasis
permukaan liver masuk stadium III. Tumor terbatas dalam pelvis kecil, tetapi
secara histologik terbukti meluas ke usus besar atau omentum.
Stadium IIIa : tumor terbatas di ppelvisl kecil dengan kelenjar getah bening
negative tetapi secara histologik dan dikonfirmasi secara mikroskopik adanya
pertumbuhan di permukaan peritoneum abdominal.
Stadium IIIb : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di
permukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopik, diameter tidak
melebihi 2 cm, dan kelenjar getah bening negatif.
Stadium IIIc : implan di abdomen >2 cm dan/atau kelenjar detah bening
retroperitoneal atau inguinal positif.

Stadium IV
Pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. Bila
efusi pleura dan hasil sitologinya positif dimasukkan dalam stadium IV.
Begitu juga metastasis parenkim hati.

2.6 Diagnosis
a. Gejala Klinis
Karsinoma ovarium umumnya digambarkan sebagai silent killer tanpa
gejala-gejala ovarium yang khas, lebih dari 70% penderita kanker ovarium
ditemukan pada stadium lanjut.
Mayoritas penderita kanker ovarium tipe epithelial tidak menunjukkan
gejala sampai periode waktu tertentu. Pada stadium awal kanker ovarium ini
muncul dengan gejala-gejala tidak khas. Bila penderita dalam usia
perimenopause, keluhan adalah haid yang tidak teratur. Bila massa tumor telah

12
menekan kandung kemih atau 13ectum, keluhan sering berkemih dan
konstipasi akan muncul. Kadang-kadang gejala seperti distensi perut sebelah
bawah, rasa tertekan, dan nyeri dapat pula ditemukan.
Pada stadium lanjut ini gejala-gejala yang ditemukan umumnya
berkaitan dengan adanya asites, metastasis ke omentum, atau metastasis ke
usus.
b. Pemeriksaan Fisis
Tanda paling penting adanya kanker ovarium adalah ditemukannya
massa tumor di pelvis. Bila tumor tersebut padat, bentuknya irregular dan
terfiksir ke dinding panggul, keganasan perlu dicurigai. Bila di bagian atas
abdomen ditemukan juga massa dan disertai asites, keganasan hampir dapat
dipastikan. Cairan asites ini diyakini hasil dari peningkatan produksi cairan
karcinomatous atau penurunan clearance oleh obstrusi saluran limfatik.
Pada stadium lanjut, pemeriksaan abdomen bagian atas biasanya
menunjukkan massa menandakan penggumpalan di omentum.
Auskultasi dada juga penting karena pasien dengan efusi pleura ganas
mungkin tidak ada gejala yang jelas. Selain itu, palpasi pada kelenjar limfe
perifer harus dilakukan untuk memastikan ada atau tidak metastasis.

c. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah rutin lengkap dan metabolik menunjukkan beberapa
fitur khas. Sebagai contoh, 20 hingga 25 persen pasien hadir dengan
thrombositosis (jumlah platelet >400x109/L. Hal ini diyakini kerna sel-sel
karsinoma ovarium melepaskan sitokon yang meningkatkan tingkat produksi
trombosit. Selain itu, hiponatremia, biasanya berkisar antara 125 dan 130
mEq/L.
Pemeriksaan serum CA-125 adalah biomaker untuk karsinoma ovarium.
CA-125 adalah glikoprotein yang tidak diproduksi oleh epitel ovarium normal

13
tetapi dapat diproduksi oleh tumor ovarium jinak dan ganas. Tumor maker ini
disentesis dalam sel epitel ovarium yang terkena dan sering disekresikan ke
dalam kista. Namun secara hipotesis, jaringan arsitektur abnormal
berhubungan dengan karsinoma dapat memungkinkan pelepasan antigen ini
ke dalam sirkulasi pembuluh darah. Kadar >35U/mL adalah abnormal.
Hampir 50% pada karsinoma ovarium stadium awal dan >85% pada stadium
lanjut ditemukan peningkatan kadar CA-125.
Dalam 90% wanita dengan karsinoma nonmucinous, kadar CA-125
tinggi. Namun preoparatif, tidak boleh digunakan sendiri dalam penanganan
massa adneksa. Setengah dari karsinoma ovarium stadium I memiliki kadar
CA-125 normal (negatif palsu). Sebaliknya, nilai tinggi (positif palsu) dapat
dikaitkan dengan penyakit radang panggul, endometriosis, leiomyoma,
kehamilan dan bahkan mentruasi.
Pada wanita pascamenopause dengan massa pelvis, pengukuran CA 125
dapat membantu dalam memprediksi kemungkinan adanya keganasan. Pasa
tumor mucinous, serum maker tumor, Cancer Antigen 19-9 (CA 19-9) dan
Carcinoembryonic Antigen (CEA) indikator yang lebih baik dibandingkan
CA-125.
d. Sonografi
Untuk membedakan tumor jinak dan karsinoma ovarium tahap awal,
sonografi transvaginal adalah pemeriksaan yang paling bermanfaat. Tumor
ganas adalah bilateral, multiloculated, padat atau echogenik, besar (>5 cm),
dan memiliki septa tebal dengan daerah nodularitas. Fitur lain termasuk
proyeksi papiler atau neovaskularisasi pada pemeriksaan Doppler. Mesikpun
beberapa presumtif model telah dijelaskan dalam upaya untuk membedakan
massa jinak dari karsinoma ovarium preoperatif, tidak ada dilaksanakan secara
universal.

14
Pada pasien dengan stadium lanjut, sonografi kurang membantu karena
sangat sulit untuk membedakan massa yang besar yang mencakupi uterus,
adneksa dan struktur sekitarnya. Asites, jika ada akan mudah terdeteksi.
e. Radiografi
Pada setiap pasien dicurigai karsinoma ovarium harus di roentgen dada
untuk mendeteksi efusi pleura atau metastasis ke paru.
f. CT Scan
Keuntungan utama CT scan dalam menentukan penatalaksanaan wanita
dengan karsinoma ovarium stadium lanjut. Preoperatif, dapat mendeteksi
metastasis ke hepar, retroperitoneum, omentum atau di tempat lain di
abdomen dan ini dapat memberi panduan bagi operasi sitoreduksi. Namun, CT
scan tidak terlalu dapat diandalkan dalam mendeteksi penyakit intraperitoneal
dengan diameter lebih kecil dari 1 sampai 2 cm. Akibatnya, hampir selalu
lokasi tumor tidak terdeteksi oleh CT scan diidentifikasi intraoperatif. Selain
itu, keakuratan CT scan sangat minim dalam membedakan massa ovarium
jinak dan ganas. Dalam hal ini, transvaginal sonografi lebih bermanfaat.
g. Paracentesis
Pasien dengan massa pelvis dan ascites dapat dianggap untuk mengidap
karsinoma ovarium sampai terbukti sebaliknya. Jadi beberapa pasien
dilakukan paracentesis diagnostik untuk panduan pengobatan. Selain itu,
prosedur ini biasanya dihindari karena hasil sitologi yang nonspesifik. Namun,
paracentesis diindikasikan pada pasien dengan asites dan tidak adanya massa
pelvis.
2.7 Penatalaksanaan
Penatalaksaan kanker ovarium sangat ditentukan oleh stadium, derajat
diferensiasi, fertilitas, dan keadaan umum penderita. Pengobatan utama adalah
pengankatan tumor primer dan metastasisnya, dan bila perlu diberikan terapi
adjuvant seperti keoterapi, radioterapi, imunoterapi dan terapi hormon.

15
Penatalaksanaan Kanker Ovarium stadium I
Penatalaksanaannya adalah terdiri dari histerektomi totalis perabdominam,
salpingoooforektomi bialteralis, apendektomi, dan surgical staging. Surgical
staging adalah suatu tindakan bedah laparatomi eksplorasi yang dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana perluasan suatu kanker ovarium dengan melakukan
evaluasi daerah-daerah yang potensial akan dikenai perluasan atau penyebaran
kanker ovarium. Temuan pada surgical staging akan menetukan stadium
penyakit dan pengobatan adjuvant yang perlu diberikan. Bila pada eksplorasi
secara visual dan palpasi tidak ditemukan penyebarana makroskopis dari kanker,
penyebaran mikroskopis harus dicari dengan melakukan pemerikasaan
mikroskopis cairan peritoneum, biopsy peritoneum, omentektomi, dan
linfadenoktomi kelenjar getah bening pelvis dan para aorta.

Teknik Surgical Staging


Pada penderita tumor ovarium yang dicurigai ganas insisi abdomen hendaklah
insisi mediana atau paramedian yang cukup luas agar memudahkan melakukan
eksplorasi rongga perut bagian atas. Prosedur standar yang harus dilakukan
adalah:

1. Insisi mediana melewati umbilicus sampai diperoleh kemudahan untuk


melakukan eksplorasi rongga abdomen atas.
2. Contoh asites atau cairan di cavum dauglas, fosa parakolika kanan dan kiri
dan subdiafragmadiambil sebanyak 20-50 cc untuk pemeriksaan sitologi.
Dapat diakukan dengan alat suntik 20 cc atau 50 cc yang ujungnya telah
disambung dengan kateter.
3. Bila tidak ada asites atau cairan di cavum dauglas,pembilasan peritoneum
harus dilakukan dengan memasukkan 50-100 cc larutan faal. Dilakukan
pada lokasi Cul de sac, palakolika kanan dan kiri, hemi difragma kanan dan
kiri. Kemudian cairan itu diambil kembali dengan lat suntik tadi.
4. LAkukan Eksplorasi sistemik

16
5. Tumor ovarium diangkat sedapatnya in toto dan dikirim untuk pemeriksan
potong beku (frozen section).
6. Bila hasil potong beku ternyata ganas, dilanjutkan untuk pengangkatan
seluruh genitalia interna engan histerektomi total dan salpingooofarektomi
bilateral.
7. Untuk mengetahui adanya mikrometastasis dilakukan:
1) Biopsi peritoneum: kavum Douglas, paravesika urinaria parakolika
kanan dan subdiafragma
2) Biopsi perlengketan organ peritoneal
3) Limpadenoktomi sistematik kelenjar getah bening pelvis dan para
aorta
4) omentektomi
5) Apendektomi jika tumor jenis musinosum

Jika tindakan surgical staging dilakukan dengan benar disebut dengan


complete surgical staging. Sebaliknya, jika ada langkah-langkah yang
ditinggalkan, disebut incomplete surgical staging.

Penatalaksanaan Kanker Ovarium Stadium Lanjut


Pendekatan terapi pada stadium lanjut mirip dengan stadium I dengan
sedikit modifikasi bergantung pada penyeabran metastasis dan keadaan umum
penderita. tindakan operasi pengankatan tumor primer dan metastasisnya di
omentum, usus, dan peritoneum disebut operasi debulking atau sitoreduksi.
Tindakan operasi ini tidak kuratif sehingga diperlukan terapi adjuvant untuk
mencapai kesembuhan.

Kebanyakan penderita mendapat kemoterapi adjuvant kombinasi


sementara sebagian penderita yang tumornya berhasil direseksi dengan
sempurna mendapat radiasi. Pada penderita yang telah selesai mendapat
kemoterapi tetapi tidak menunjukkan gejal klinis dan radiologis serta serum
CA-125 normal, dilakukan relaparatomi untuk menilai hasil pengobatan.
Tindakan ini disebut second-look laparatomy. Jika masih ditemukan penyakit,
second line terapy dapat diberikan.

17
Operasi Sitoreduksi

Ada dua teknik sitoreduksi yaitu:

1. Sitoreduksi konvensional
Teknik ini adalah teknik yang biasa dilakukan, yaitu operasi yang bertujuan
untuk menbuang masa tumor sebanyak mungkin dengan menggunakan alat
operasi yang lazim dipakai. dengan operasi ini keberhasilan mereduksi tumor
dibedakan atas 2 golongan yaitu:
Optional debulking : jika diameter sisa tumor setelah operasi kurang
dari 2 cm
Suboptional debulking: jika masa tumor sisa lebih dari 2 cm

Griffith dan kawan-kawan menyatakan bahwa terdapat hubungan terbalik


antara survival dengan residu tumor. Pasien dengan optional debulking
memilki survival yang lebih baik yaitu dengan mean-survival 39 bulan,
sedang pasien dengan suboptional debulking adalah 17 bulan dan tidak
ada yang hidup lebih dari 26 bulan

2. Teknik baru :
Argon Beam Coagulator
Cavitron ultrasonic surgical aspirator (CUSA)
Teknk laser

Operabilitas operasi Sitoreduksi

Operasi ini dimaksudkan untuk reduksi massa tumor pada kanker ovarium
yang menyebar pada kavum abdomen dan retroperitonium dengan kesadaran bahwa
tidak ada harapan kesembuhan. Apabila ditemukan kondisi berikut, maka kasusnya
dianggap inoperable:

Metastasis di parenkim hepar

18
Metastasis di pancreas
Metastasis di lien pada stadium IV
Metastasis di kelenjar paraaorta di daerah suprarenal
Penetrasi diafragma oleh metastasis
Metastasis di porta hepatis
Infiltrasi dinding abdomen
Metastasis ini harus segera ditentukan agar penderita terhindar dari tindakan
operasi yang luas dan reseksi organ yang berlebihan.

Teknik Sitoreduksi

Dilakkukan dengan langkah-langkah sebagia berikut :

1. Eksplorasi
Setelah membuat insisi mediana yang diperluas sampai melewati umbilicus
diambil cairan asites untuk pemeriksaan sitologi dan dilanjutkan dengan
eksplorasi sistematik. Pada saat ini operator harus dapat menentukan
operabilitas kasus tersebut. Bila optimal debulking tidak akan tercapai,
pengankatan omentum dan masa di pelvis akan sangat bermanfaat untuk
mengurangi asites, mengurangi tekanan terhadap organ sekitarnya, dan
meningkatkan rasa nyaman pada penderita.
2. Omentektomi
Bila omentum telah dipenuhi oleh metastasis, omentektomi dapat dilakukan
terlebih dahulu sebelum tumor di daerah pelvis dieksplorasi.Bila terjadi
perlengketan dengn lien terkadang dapat dilakukan dengan splenektomi.
3. Reseksi tumor pelvis
Menggunakan pendekatan retroperitoneal.
4. Reseksi Kelenjar Getah Bening Retroperitoneal
5. Reseksi Organ-organ lain
Reseksi seperti usus halus, rektosigmoid, ureter, vesika urinaria dan lien pada
beberapa kasus harus dilaksanakan.
Kemoterapi
Sejak tahun 1980 kemoterapi dengan cysplatin-based telah dipakai untuk
pengobatan kanker ovarium stadium lanjut. Kemudian, karboplatin, generasi kedua
golongan platinum, yang mempunyai pengaruh sama terhadap kanker ovarium tetapi

19
kurang toksis terhadap system saraf dan ginjal, kurang menimbulkan nausea, dipakai
pula untuk kemoterapi adjuvant, meskipun lebih toksis terhadap sum-sum tulang.
Untuk stadium I atau lanjut dapat diberikan kemoterapi tunggal atay kombinasi.
Penelitian GOG III oleh McGuire dan kawan-kawan pada kasus dengan
suboptimal debulking memperlihat bahwa pemberian 6 siklus kombinasi sisplatin (75
mg/m2) dan paklitaksel (135 mg/m 2) memberikan hasil yang lebih baik daripada
kombinasi sisplatin (75 mg/m2) dan siklofosfamid (600 mg/m2). Kemoterapi
kombinasi yang mengandung paklitaksel mengurangi mortalitas sebanyak 36%. Data
dari penelitian GOG III ini diperkuat oleh penelitian gabungan dari EORTC
(European Organization for the Reseach and Treatment of Cancer), NOCOVA
(Nordic Ovarian Cancer Study Group) dan NCIC ( National Cancer Institute of
Canada) pada penderita dengan optimal debulking dan suboptimal debulking. Pada
penelitian ini kelompok yang mendapat terapi kombinasi dengan paklitaksel,
memberikan perbaikan yang signifikan pada progression free survival dan overall
survival, baik pada kelompok penderita dengan optimal debulking maupun pada
kelompok penderita dengan suboptimal debulking.
Penelitian GOG 158 membandingkan efektivitas terapi kombinasi karboplatin
AUC 7,5 dan paklitaksel 175/m2 dengan kombinasi sisplatin 75 mg/m 2 dan
paklitaksel 135mg/m2. Penelitian ini menghasilkan angka survival yang sama tetapi
toksisitas kemoterapi pada kelompok yang mendapat karboplatin lebih ringan dari
kelompok yang mendapat sisplatin. Toksisitas gastrointestinal dan neurotoksisitas
dari kelompok yang mendapat karboplatin lebih ringan daripada yang mendapat
sisplatin.
Berdasarkan penelitian-penelitian diatas, protokol kemoterapi yang dianjurkan
untuk kanker ovarium stadium lanjut adalah kombinasi paklitaksel dan karboplatin.
Radioterapi
Radiasi seluruh abdomen atau intaperitoneal radiokoloid dapat menjadi terapi
alternatif pengganti kemoterapi kombinasi pada kasus-kasus tertentu kanker ovarium
stadium rendah. Dari beberapa penelitian oleh GOG dan penelitian multisenter di
Italia disimpulkan bahwa pemberian kemoterapi intraperitoneal radiokoloid 32P bila

20
dibandingkan dengan kemoterapi melfalan, memberikan survival yang tidak berbeda.
Akan tetapi, platimun based chemotherapy memberikan 84% disease free survival,
32
sedangkan intraperitoneal radiokoloid P memberikan disease free survival 16%
(p<0,01). Oleh karena itu, disimpulkan bahwa platimun based chemotherapy
dianjurkan untuk digunakan pada terapi kanker ovarium stadium tendah. Radiasi
seluruh abdomen juga tidak bermanfaat pada kanker ovarium stadium rendah
sehingga dianjurkan untuk tidak digunakan lagi.
Terapi Biologi dan Imunologi
Konsep dasar terapi biologi dan imunologi adalah dengan meningkatkan
respons imunologi, maka akan terjadi regresi tumor. Pemakaian gamma interferon
dengan sisplatin dan siklofosfamid tampaknya bermanfaat. Penelitian penggunaan
gamma interferon pada kemoterapi kombinasi karboplatin dan paklitaksel saat ini
sedang berlangsung. Begitu juga penggunaan antibody monoclonal seperti herseptin
her-2/neu sudah dilakukan oleh GOG dan ternyata responnya rendah.
Pertumbuhan tumor padat untuk menjadi besar dari 1 mm 3, membutuhkan
neovaskularisasi. Neovaskularisasi ini juga kelak dapat menjadi jalur perjalanan
metastasis sel kanker. Angiogenesis ini terutama dipicu oleh vascular endothelial
growth factor (VEGF). Dengan terjadinya angiogenesis, akan terjadi pertumbuhan
progresif tumor, metastasis, dan terjadinya rekurensi. Penggunaan obat
antiangiogenesis tampaknya member harapan. Pada saat ini sudah ditemukan
antibody monoclonal yang menghambat reseptor VEGF, yaitu anti VEGT
(bevasizumab). Dengan terhambatnya angiogenesis, pertumbuhan tumor akan
terhambat dan akhirnya akan terjadi regresi tumor.
Terapi Hormon
Tidak ada bukti penggunaan terapi hormone saja merupakan terapi primer
yang bermanfaat pada kanker ovarium stadium lanjut.
Faktor yang Mempengaruhi Prognosis Kanker Ovarium
Respon pengobatan terhadap kanker ovarium dapat dievaluasi dalam
hubungannya dengan faktor-faktor prognostic. Faktor-faktor prognostic tersebut
dikelompokkan sebagai berikut :
1. Faktor histopatologi

21
Jenis histopatologi
Jenis histopatologi tumor sekarang dianggap mempengaruhi prognosis
suatu kanker ovarium. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa
karsinoma ovarium jenis clear cell mempunyai prognosis yang sangat
buruk jika dibandingkan dengan kanker ovarium jenis yang lain.
Diferensiasi tomor
Diferensiasi tumor ternya juga mempengaruhi prognosis. Derajat
keganasan kanker ovarium mempunyai korelasi yang erat dengan derajat
diferensiasi jaringan tumornya. Jika dibandingkan dengan
histopatologinya, derajat diferensiasi suatu tumor sangat mempengaruhi
prognosisnya. Penderita kanker ovarium stadium II dengan derajat
diferensiasi tumor baik, prognosisnya lebih baik daripada karsinoma
ovarium stadium I dengan derajat diferensasi tumor buruk. Demikian juga
kanker ovarium stadium III dengan derajat difensiasi baik, prognosisnya
lebih baik dari kanker ovarium stadium II dengan derajat diferensiasi
buruk.

2. Faktor biologi
Dengan pemeriksaan flow cytometri dapat diketahui bahwa kanker ovarium
umumnya aneuploid. Terdapat pula hubungan antara ploidi dan stadium
sebagai berikut : kanker stadium rendah cenderung diploid, sedangkan kanker
stadium tinggi cenderung aneuploid. Kanker dengan tumor diploid
mempunyai median survival yang lebih panjang dari kanker dengan tumor
aneuploid.
3. Faktor klinis
Faktor-faktor klinis yang mempengaruhi prognosis kanker ovarium adalah
stadium, volume asites, besar tumor di luar ovarium sebelum sitoreduksi,
residu tumor setelah sitoreduksi, umur penderita, tumor yang responsnya
lambat terhadap kemoterapi, dan performance status.
Stadium penyakit

22
Stadium kanker ovarium didasarkan kepada stadium yang ditetapkan oleh
FIGO pada tahun 1987. Penentuan stadium ini didasarkan kepada
penemuan-penemuan waktu melakukan eksplorasi.
Residu tumor
Voleme residu merupakan faktor penting. Batasa residu tumor yang
optimal dan suboptimal bervariasi dari < 5 mm - > 2 cm.

2.8 Prognosis
Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun dari semua stadium karsinoma ovarium
epitel adalah 50%, jauh lebih rendah dari karsinoma uterus (80%) atau karsinoma
servik (70%). Surgical staging merupakan faktor yang paling penting, dan
kelansungan hidup relatif bervariasi menurut umur. Wanita yang lebih muda dari 65
tahun adalah dua kali lebih memungkinkan untuk bertahan hidup 5 tahun setelah
didiagnosis.

Tabel 7: Kadar survival pada setiap stadium Karsinoma Ovarium Epitel menurut
FIGO

Stadium 5-Year Survival (%)


I 86
II 70
III 34
IV 19

Tabel 8: Faktor yang mempengaruhi Prognosis Karsinoma Ovarium

23
Status performa yang baik
Tipe sel selain sel mucinuos dan klear
Tumor berdiferensiasi baik
Volume tumor kecil sebelum operasi debulking
Tidak adanya asites
Residu kecil setelah operasi sitireduksi primer

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Anamnesa
a) Identitas Pasien
Nama : Ny. M
Usia : 27 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Loa Bahu
Masuk Rumah Sakit pada tanggal 9 Januari 2017, pukul 13.00 WITA
b) Identitas Suami
Nama : Tn. HA
Usia : 30 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : STM
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Loa Bahu

24
c) Keluhan Utama:
Pasien mengeluhkan nyeri perut
d) Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut. Nyeri perut dirasakan diseluruh
perut sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, dan nyeri dirasakan hilang-
timbul. Keluhan ini tidak disertai dengan mual (-), muntah (-), dan demam (-).
Selain itu, pasien juga merasasakan perutnya membesar kurang lebih sejak 4
bulan yang lalu (September 2016). Benjolan ini terasa nyeri yang hilang
timbul, seperti ditusuk-tusuk selama 2-3 menit, nyeri tekan (-). Awalnya
benjolan tersebut berukuran 10 cmx1o cm. Keluhan ini juga disertai dengan
haid yang tidak lancar, haid berupa flek selama 3 bulan sampai sekarang dan
tidak ada haid lagi.
e) Riwayat Haid
Menarche pada usia 14 tahun, lama haid 7 hari, jumlah darah haid : ganti
pembalut 3 kali sehari.

f) Riwayat Obstetri
Keadaan
Tahun Tempat Umur Jenis Penolong Jenis Kelamin
No Anak
Partus Partus kehamilan Persalinan Persalinan Anak/ BB
Sekarang
1 2009 RS Aterm Spontan Dokter L / 2900 gr Sehat
2 2015 RS Aterm Spontan Bidan L / 2600 gr Sehat

g) Riwayat Penyakit Dahulu


- Tahun 2015 pasien terdiagnosis karsinoma kolon rectosigmoid, telah
menjalani 12 kali kemoterapi dan post Hartman procedure (Mei 2016)
- Hipertensi tidak diketahui, diabetes melitus tidak diketahui, alergi tidak
ada
h) Riwayat Penyakit Keluarga
- Tidak ada keluarga dengan riwayat keganasan dan tumor
- Hipertensi (-), diabetes melitus (-), alergi (-)

25
i) Riwayat Penggunaan Kontrasepsi
- Pasien tidak menggunakan kontrasepsi
3.2 Pemeriksaan Fisik
a) Berat badan : 42 kg
b) Tinggi badan : 152 cm
c) Keadaan umum : Baik
d) Kesadaran : compos mentis (E4V5M6)
e) Tanda vital
Tekanan darah : 110/60 mmHg
Frekuensi nadi : 72 kali/menit
Frekuensi nafas : 20 kali/menit
Suhu : 36.6 0C
f) Status generalisata
Kepala / leher : mata cowong (-/-), konjunctiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-)
Thorax
- Pulmo
Inspeksi : bentuk dan pergerakan simetris
Palpasi : fremitus raba dextra=sinistra
Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi : vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-/-)
- Cor
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba
Perkusi : batas kanan ICS 2 parasternal line dextra
batas kiri ICS V midclavicular line sinistra
Auskultasi : S1S2 tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Lihat status ginekologi

26
Ekstremitas : edema -/-, akral hangat
g) Status ginekologi :
1) Inspeksi : Tampak masa di abdomen regio umbilikus,
luka post op (+)
2) Palpasi : Teraba massa di abdomen region umbilikus, ukuran 10
cm x 10 cm, padat dan berbatas tegas, permukaan tidak rata, nyeri tekan
abdomen regio umbilikus (-)
3) Inspekulo : Tidak dilakukan
4) Vaginal Tocher : Tidak dilakukan

3.3 Pemeriksaan Penunjang


- Patologi
Kesimpulan: massa adnexa (D), FNAB: Adenocarcinoma
- Radiologi
MSCT Abdomen tanpa dan dengan kontras irisan axial, coronal, dan sagital
dengan reformat, kesan:
Heterodense enhanching solid mass dengan komponen kistik didalamnya
yang terproyeksi di cavum pelvis ukuran 10,58 x 10,11 x 9,70 cm suspect
suatu massa ovarium dengan kecurigaan kearah malignancy
Efusi pleura kanan dan ascites
- Laboratorium:
Hasil 14 Oktober 2016:
Ca 125 : 48,64 U/ml
Hasil lab 9 januari 2016:
Hb : 11,0
Leukosit : 4700
Ht : 33,6 %
Trombosit : 254.000
Lab post leucogen (9 Januari 2016):
Hb : 10,6
Leukosit : 28.000
Hct : 32 %

27
Trombosir : 257.000

3.4 Diagnosis di Ruangan


Karsinoma ovarium post kemoterapi CP seri I ke-1
Leucopenia (post inj. leucogen)

3.5 Penatalaksanaan
- inj. Leucogen 0,25 gr (sc)
- asam mefenamat tab 500 mg/ 8 jam
- cek DL post inj. Leucogen
- diet nasi TKTP

3.6 Follow Up
Rencana tindakan dan
Tanggal Follow up
Penatalaksanaan
09/01/2017 Menerima pasien dari Poli
13.00 S: Pasien mengeluhkan nyeri perut bawah - inj. Leucogen 0,25 gr (sc)
- asam mefenamat tab 500 mg/ 8
O : KU Baik, CM
jam
TD: 110/60 mmHg, HR: 72x/mnt
- cek DL post inj. Leucogen
RR:20x/mnt, Temp: 36,6C - diet nasi TKTP
A : Karsinoma ovarium post kemoterapi
CP seri I ke-1
10/01/2017 S: Nyeri hilang timbul.
06.00 O : KU Baik, CM - kemoterapi seri I ke 2
Paxus 245 mg
TD: 120/80 mmHg, HR: 82x/mnt
RR:18x/mnt, Temp: 35,8C
Nyeri tekan abdomen regio pubis.
A : Karsinoma ovarium post kemoterapi
CP seri I ke-1

28
1.

BAB IV
PEMBAHASAN

Berikut adalah perbandingan antara teori dan fakta pada kasus ini. Perbandingan
dibuat dalam bentuk tabel agar lebih mudah dipahami.
Teori Fakta
Anamnesis Prevalensi tinggi pada perempuan Pasien perempuan usia 27 tahun
usia>40 th, tapi bisa terjadi <40 th. datang dengan keluhan nyeri
Nulipara,menarke awal,menopause pada perut, hilang timbul sudah
lambat, ligasi tuba dan histerektomi, sejak 1 minggu sebelum MRS,
riw keuarga merupakan faktor risiko perut membesar sejak 4 bulan
terjadinya kanker ovarium. yang lalu, dan haidnya tidak
Keluhan haid tidak teratur, nyeri lancar.
perut dan jika massa sudah Menarche usia 14 tahun, Riw
membesar pasti perut pasien akan menderita kanker kolonsigmoid
membesar
Gejala - Haid tidak teratur, Nyeri perut, perut membesar,
- nyeri perut
haid tidak teratur
- massa pada perut hingga
distensi
- asites
- gangguan berkemih dan
konstipasi
Pemeriksaan fisik Massa pada pelvis , padat irreguler, 1) Inspeksi :
terfiksir, asites , efusi pleura Tampak massa abdomen
regio umbilikus, luka post op
+ striae (-)
2) Palpasi : Teraba massa di
abdomen region umbilikus,

29
ukuran 10 cm x 10 cm, padat
dan berbatas tegas, nyeri
tekan abdomen regio
umbilikus (-)
3) Inspekulo :
Tidak dilakukan
4) Vaginal Tocher :
tidak dilakukan

Pemeriksaan 1) Temuan Laboratorium 1. Laboratorium :


Penunjang Trombositosis, hiponatremia. Hb : 11,0 mg/dl
biomarker CA -125 >35 U/mL L : 4700 mg/dl
PLT : 254.000
2) Imaging
HT : 33,6 %
a) USG , echogenik, multiloculated,
Ca 125 : 48,64 u/mL
besar ,memiliki septa tebal dengan
Patologi, Adenokarsinoma
daerah nodularitas, deteksi asites
b) CT Scan, deteksi metastasis hepar,
2. Imaging : MSCT abdomen
retroperitoneum, omentum
Heterodense
Paracintesis: diindikasikan pada
enhanching solid
pasien dengan asites
mass dengan
komponen kistik
didalamnya yang
terproyeksi di cavum
pelvis ukuran 10,58
x 10,11 x 9,70 cm
suspect suatu massa
ovarium dengan
kecurigaan kearah

30
malignancy
Efusi pleura kanan
dan ascites

Penatalaksanaan Stad I: histerektomi totalis - inj Leukogen 0,25 gr /sc


perabdominal, salpingoofrektomi - as. mefenamat 3x500 mg
- diet TKTP
bilateral, surgical staging - Kemoterapi CP
Stad lanjut : kemoterapi adjuvan,
radiasii

BAB V
KESIMPULAN

31
Kanker ovarium adalah terjadinya pertumbuhan sel-sel tidak lazim (kanker)
pada satu atau dua bagian indung telur. Kanker ini sendiri seringkali terjadi pada
perempuan usia >40 tahun namun dapat terjadi juga pada pasien dibawah usia
tersebut, dimana sering tidak datang pada stadium awal, dikarenakan gejala yang
tidak khas. Jika pasien datang dalam keadaan stadium lanjut maka seringkali datang
dengan massa pada pelvis atau abdomen, yang awalnya disertai nyeri dan haid yang
tidak teratur. Pada beberapa referensi mengatakan bahwa penegakkan diagnosis ialah
patologi namun untuk menunjang yang lain dan memastikan untu menyingkirkan
adanya sebuah metastasis maka perlu dilakukan imaging dari USG untuk
membuktikan itu sebuah massa , hingga CT scan atau MRI. Beberapa terapi pada
keganasan ovarium ini dapat dilakukan tergantung dari stadium yang ditentukan.
Pada pasien ini perempuan usia 27 tahun datang dengan keluhan nyeri hilang timbul
pada perut yang dialami lebih kurang seminggu dan beberapa bulan terakhir perut
pasien membesar dan sering mengluhkan bahwa haidnya tidak teratur. Pada pasien
didapatkan massa padat 10cmx10cm pada abdomen, lalu dilakukan MSCT abdomen
dan Patologi dengan hasil sebuah adenokarsinoma pada ovarium. Sehingga dilakukan
terapi kemoterapi pada pasien ini. Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan
bahwa keganasan pada ovarium yang ada pada kasus diatas hingga penatalaksanaan ,
ada kesesuaian antara teori yang ada dan keadaan klinis pasien.

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, AC. 2012. Fisiologi Manusia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2. Cunningham. 2012. Obstetri William Jilid 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
3. Ran, Ok L dan Gyung Il P. 2007. Clinical statistical observation of uterine.
Korean Medical Database.
4. Baziad, A. 2003. Endokrinologi Ginekologi. Jakarta: Media Aesculapius.
5. Marshall LM, Spiegelman D, Goldman MB. 1998. Sebuah studi prospektif faktor
reproduksi dan penggunaan kontrasepsi oral dalam kaitannya dengan risiko
leiomyoma rahim. 70: 432 439.
6. Stewart E. 2001. Fibroid Rahim. 357: 293-298.
7. Joedosapoetro MS. 2005. Ilmu Kandungan Edisi Kedua. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka, pp: 38-41 10 hart
8. Gross K, Morton C. 2001. Genetic and development of fibroid. 44: 355-349.
9. Wiknjosastro H et al.,2010. Ilmu Kandungan Edisi Kedua. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka, pp: 338-384.
10. Ganong, William F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 2. Jakarta: EGC.
11. Manuaba B.G. 2003. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetric dan Ginekologi
Edisi Kedua. Jakarta: EGC, pp: 309-312.
12. Goodwin SC, Spies TB. 2009. Uterin fibroid embolization. 361: 690-697.
13. Derek LJ. 2001. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi Edisi 6. Jakarta:
Hipokrates, pp: 263-266.
14. FK Unhas. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi RSUP dr. Wahidin
Soedirohusodo. Ujung Pandang: Bursa Buku Kedokteran Aesculapius.

33