Anda di halaman 1dari 6

Hakekat Pendidik.

Pengertian Pendidik Dikutip dari Abudin Nata, pengertian pendidik adalah


orang yang mendidik.Pengertian ini memberikan kesan bahwa pendidik
adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Secara
khusus pendidikan dalam persepektif pendidikan islam adalah orang-orang
yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi peseta
didik. Kalau kita melihat secara fungsional kata pendidik dapat di artikan
sebagai pemberi atau penyalur pengetahuan, keterampilan. Pendidik adalah
orang yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk memberi bimbingan atau
bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya
demi mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai
makhluk tuhan, makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri
sendiri.

Tugas-tugas dari seorang pendidik a. Membimbing peserta didik, dalam


artian mencari pengenalan terhadap anak didik mengenai kebutuhan,
kesanggupan, bakat, minat dan sebagainya. b. Menciptakan situasi untuk
pendidikan, yaitu ; suatu keadaan dimana tindakan-tindakan pendidik dapat
berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan. c. Seorang penddidik
harus memiliki pengetahuan yang diperlukan, seperti pengetahuan
keagamaan, dan lain sebagainya.

3. Sedangkan tanggung jawab dari seorang pendidik a. Bertanggung moral.


b. Bertanggung jawab dalam bidang pedidikan. c. Tanggung jawab
kemasyarakatan. d. Bertanggung jawab dalam bidang keilmuan.
4. Syarat untuk menjadi seorang pendidik (H. Mubangit) a. Harus beragama.
b. Mampu bertanggung jawab atas kesejahteraan agama. c. Tidak kalah
dengan guru-guru umum lainnya dalam membentuk Negara yang
demokratis. d. Harus memiliki perasaan panggilan murni.
3. 5. Sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pendidik adalah : a. Integritas
peribadi, peribadi yang segala aspeknya berkembang secara harmonis. b.
Integritas sosial, yaitu peribadi yang merupakan satuan dengan masyarakat.
c. Integritas susila, yaitu peribadi yang telah menyatukan diri dengan norma-
norma susila yang dipilihnya.

6. Klasifikasi Pendidik a. Guru b. Dosen c. Konselor d. Pamong belajar e.


widyaiswara f. tutor g. instruktur h. fasilitator i. Ustadz B. Hakekat Peserta
Didik 1. Pengertian Peserta Didik Peserta didik adalah makhluk yang berada
dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-
masing, mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten
menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. 2. Hak peserta didik
menurut UU RI No. 20 th 2003 a. Mendapat pendidikan agama sesuai
agamanya. b. Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai bakat, minat&
kemampuan. c. Mendapat beasiswa bagi yang berprestasi dan orang tuanya
tidak mampu membiayai.
4. d. Pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan yang
setara. e. Menyelesaikan pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar
masing-masing dan tidak menyimpang batas waktu yang ditetapkan. 3.
Kewajiban peserta didik (Asma Hasan Fahmi) a. Peserta didik hendaknya
membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu, hal ini disebabkan karena
menuntut ilmu adalah ibadah dan tidak sah ibadah kecuali dengan hati yang
bersih. b. Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi ruh dengan
berbagai sifat keutamaan. c. Memiliki kemampuan yang kuat untuk mencari
dan menuntut ilmu diberbagai tempat. d. Setiap peserta didik wajib
mengormati pendidiknya. e. Peserta didik hendaknya belajar secara
sungguh-sungguh dan tabah dalam belajar. 4. Klasifikasikan Peserta Didik a.
Peserta didik dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan masyarakat
alamiyah yang pergaulan diantara anggotanya bersifat khas. Dalam
lingkungan ini terletak dasar pendidikan, diantara peserta didik dalam
keluarga adalah anak. Jelas bahwa seringkali dilakukan perlakuan maupun
didikan yang berbeda terhadap anak yang dalam keluarganya memproleh
didikan yang keras, dan lemah terhadap anak yang ditelantarkan, anak yang
asosial dan anak dari kelurga yang harmonis. b. Peserta didik dalam
lingkungan asrama. Setiap asrama mempunyai suasana tersendiri yang amat
diwarnai oleh para pendidik, dan oleh anggota kelompok yang berbeda asal
mereka. Jenis dan bentuk peserta didik dilingkungan asrama bermacam-
macam, diantaranya adalah ; 1) Asrama santunan yatim piatu, yang
didalamnya terdapat anak-anak yang orang tuanya sudah meninggal.
Mereka inilah yang siap menjadi peserta didik dalam lingkungan asrama. 2)
Asrama tampungan, dimana anak-anak dididik oleh orang tua angkatnya,
karena orang tua kandung mereka tidak mampu membiayainya, atau dengan
sengaja orang tua mereka menitipkan untuk dididik. 3) Asrama untuk anak-
anak nakal atau mempunyai kelainan fisik dan mental, sehingga
membutuhkan pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa.
5. 4) Asrama yang dibutuhkan untuk menunjang ketercapaian tujuan
pendidikan sutau jabatan. c. Peserta didik dalam lingkungan perkumpulan
remaja. Dalam perkumpulan remaja, seperti organisasi-organisasi, dapat
menyalurkan hasrat dan kegiatan, terdapat peserta didik yang pada
umumnya anak-anak yang berumur diatas dua balas tahun. Dalam masa
remaja anak-anak membutuhkan pendidikan yang bermanfaat karena
mereka berada dalam fase puber yang mulai menampakkan perubahan
dalam bentuk fisik dan menunjukan keresahan dan kegelisahan mental dan
batin. d. Peserta didik dalam lingkungan kerja. Kehidupan dewasa ini
menuntut lebih benyak mengutamakan ketahanan fisik dan mental, karena
diatas pundak mereka terpikul kewajiban-kewajiban yang lebih berat. Oleh
sebab itu mereka sangat membutuhkan pendidikan yang berbobot dalam
segi pengetahuan, akhlak maupun keterampilan. e. Peserta didik dalam
lingkungan sekolah. Sekolah merupakan tempat berkumpulnya anak-anak
yang berbeda kelas dan tingkat pengathuannya, mereka memperoleh
pendidikan dari guru-guru mereka, berupa ilmu pengetahuan (intelek),
menanamkan kepribadian yang baik dan mengajarkan bersosialisasi. Peserta
didik ini lah yang disebut dengan murid atau siswa. C. Hakikat, Fitrah dan
Potensi yang dimiliki manusia untuk ditumbuhkembangkan Fitrah berarti
potensi dasar manusia. Maksudnya potensi dasar manusia ini sebagai alat
untuk mengabdi dan marifatullah.Para filosof yang beraliran empirisme
memandang aktivitas fitrah sebagai tolok ukur pemaknaannya. 1.
Komponen-komponen potensial fitrah a. Kemampuan dasar untuk beragama
(ad-dinul qayyimah), di mana factor iman merupakan intinya beragama
manusia. Muhammad Abduh, Ibnu Qayyim, Abu Alah al-Maududi,
6. Sayyid Qutb berpendapat sama bahwa fitrah mengandung kemampuan
asli untuk beragama Islam, karena Islam adalah agama fitrah atau identik
dengan fitrah. Ali fikri lebih menekankan pada peranan heredetas
(keturunan) dari bapak-ibu yang menentukan keberagaman anaknya. Faktor
keturunan psikologis (hereditas kejiwaan) orang tua anak merupakan salah
satu aspek dari kemampuan dasar manusia. b. Mawahib (bakat) dan
Qabiliyat (tendensi atau kecenderungan) yang mengacu pada keimanan
kepada Allah. Dengan demikian maka fitrah mengandung komponen
psikologis yang berupa keimanan tersebut. Karena iman bagi seorang
mukmin merupakan daya penggerak utama dalam dirinya yang memberikan
semangat untuk selalu mencari kebenaran hakiki dari Allah. Pendapat
tersebut antara lain dikemukakan oleh Prof. Dr. Mohammad Fadhil al-Djamali,
Guru besar ilmu pendidikan pada Universitas Tunis dengan alasan, adapun
Islam itu adalah agama yang mendorong manusia untuk mencari
pembuktian melalui penelitian, berpikir, dan merenungkan ke arah iman
yang benar. c. Naluri dan kewahyuan bagaikan dua sisi dari uang logam;
keduanya saling terpadu dalam perkembangan manusia. Menurut Prof. Dr.
Hasan Langgulung, Fitrah itu dapat dilihat dari dua segi yakni; segi naluri
sifat pembawaan manusia atau sifat-sifat Tuhan yang menjadi potensi
manusia sejak lahir, dan segi wahyu Tuhan yang diturunkan kepada nabi-
nabi-Nya. Jadi potensi manusia dan agama wahyu itu merupakan satu hal
yang nampak dalam dua sisi, ibarat mata uang logam yang mempunai dua
sisi yang sama.Mata uang itulah kita ibaratkan fitrah. Kemampuan menerima
sifat-sifat Tuhan dan mengembangkan sifat-sifat tersebut adalah merupakan
potensi dasar manusia yang terbawa sejak lahir. d. Kemampuan dasar untuk
beragama secara umum, tidak hanya terbatas dalam agama Islam. Dengan
kemampuan ini manusia dapat dididik menjadi beragama Yahudi, Nasrani,
ataupun Majusi, namun tidak dapat dididik menjadi atheis (anti Tuhan).
Pendapat ini diikuti oleh banyak ulama Islam yang berfaham ahli Mutazilah
antara lain Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun. e. Aspek-aspek psikologis dalam
fitrah adalah merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsive
terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan.
Aspek-aspek tersebut adalah:
7. 1. Bakat, suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada
perkembangan akademis dan keahlian dalam bidang kehidupan. Bakat ini
berpangkal pada kemampuan Kognisi (daya cipta), Konasi (Kehendak) dan
Emosi (rasa) yang disebut dalam psikologi filosifis dengan tiga kekuatan
rohaniah manusia. 2. Insting atau gharizah adalah suatu kemampuan
berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa melalui proses belajar.
Kemampuan insting ini merupakan pembawaan sejak lahir. Dalam psikologi
pendidikan kemampuan ini termasuk kapabilitas yaitu kemampuan berbuat
sesuatu dengan tanpa belajar. 3. Nafsu dan dorongan-dorongan. Dalam
tasawuf dikenal nafsu-nafsu lawwamah yang mendorong kearah perbuatan
mencela dan merendahkan orang lain. Nafsu ammarah yang mendorong kea
rah perbuatan merusak, membunuh atau memusuhi orang lain. Nafsu berahi
(eros) yang mendorong ke arah perbuatan seksual untuk memuaskan
tuntutan akan pemuasan hidup berkelamin. Nafsu mutmainnah yang
mendorong ke arah ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut al-
Ghazali, nafsu manusia terdiri dari nafsu malakiah yang cenderung ke arah
perbuatan mulia sebagai halnya para malaikat, dan nafsu bahimiah yang
mendorong ke arah perbuatan rendah sebagaimana binatang. 4. Karakter
adalah merupakan kemampuan psikologis yang terbawa sejak lahir. Karakter
ini berkaitan dengan tingkah laku moral dan sosial serta etis seseorang.
Karakter terbentuk oleh kekuatan dari dalam diri manusia, bukan terbentuk
dari pengaruh luar 5. Hereditas atau keturunan adalah merupakan factor
kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri psikologis dan fisiologis yang
diturunkan oleh orang tua baik dalam garis yang terdekat maupun yang
telah jauh. 6. Intuisi adalah kemampuan psikologis manusia untuk menerima
ilham Tuhan. Intuisi menggerakkan hati nurani manusia yang
membimbingnya ke arah perbuatan dalam situasi khusus diluar kesadaran
akal pikiran, namun mengandung makna yang bersifat konstruktif bagi
kehidupannya. Intuisi biasanya diberikan Tuhan kepada orang yang bersih
jiwanya.