Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN
A. Hakekat Profesionalitas Guru
Profesi keguruan mempunyai tugas utama melayani masyarakat dalam dunia pendidikan.
Profesionalisasi dalam bidang keguruan mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha
dalam rangka pencapaian secara optimal layanan yang akan diberikan kepada masyarakat. Untuk
meningkatkan mutu pendidikan saat ini, maka profesionalisasi guru merupakan suatu keharusan.
Pengembangan profesionalisme guru dimaksudkan untuk merangsang, memelihara, dan
meningkatkan kompetensi guru dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan dan
pembelajaran yang berdampak pada peningkatan mutu hasil belajar siswa.
Profesionalitas berakar pada kata profesi yang berarti pekerjaan yang dilandasi pendidikan
keahlian. Profesionalitas itu sendiri dapat berarti mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang
merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Profesionalitas guru dapat berarti guru
yang profesional, yaitu seorang guru yang mampu merencanakan program belajar mengajar,
melaksanakan dan memimpin Proses Belajar Mengajar, menilai kemajuan Proses Belajar
Mengajar dan memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar mengajar dan informasi lainnya
dalam penyempurnaan Proses Belajar Mengajar (Sahabuddin,1993:6
dalam http://mawar19.blogspot.com/2012/ 05/makalah-cara-meningkatkan.html).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru profesional adalah guru yang memiliki
keahlian, tanggung jawab, dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang kuat serta
kualifikasi kompetensi yang memadai. Untuk menjadi profesional seorang guru dituntut untuk
memiliki lima hal, yaitu:
1. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya,
2. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara
mengajarnya kepada siswa,
3. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi,
4. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya,
5. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya
(Supriadi 1998 dalam http://library-teguh.blogspot. com/2012/01/217-pengembangan-profesi-
guru-secara.html).

Tugas seorang guru profesional meliputi tiga bidang utama yaitu :


1. Dalam Bidang Profesi
Dalam bidang profesi, seorang guru profesional berfungsi untuk mengajar, mendidik, melatih,
dan melaksanakan penelitian masalah-masalah pendidikan. Dalam bidang kemanusiaan, guru
profesional berfungsi sebagai pengganti orang tua khususnya dalam bidang peningkatan
kemampuan intelektual peserta didik. Guru profesional menjadi fasilitator untuk membantu
peserta didik mentransformasikan potensi yang dimiliki peserta didik menjadi kemampuan serta
keterampilan yang berkembang dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Adapun 10 kompetensi
profesional guru yang dikutip Samana (1994
dalam http://mawar19.blogspot.com/2012/05/makalah-cara-meningkat kan.html ) adalah :
a. Guru dituntut mengusai bahan ajar, meliputi bahan ajar wajib, bahan ajar pengayaan, dan bahan
ajar penunjang untuk keperluan pengajarannya. Guru mampu mengelola program belajar
mengajar meliputi: Merumuskan tujuan instruksional; Mengenal dan dapat menggunakan metode
pengajaran; Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat; Melaksanakan program
belajar mengajar; Mengenal kemampuan anak didik; dan Merencanakan dan melaksanakan
pengajaran.
b. Guru mampu mengelola kelas antara lain mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran dan
menciptakan iklim mengajar yang serasi sehingga Proses Belajar Mengajar berlangsung secara
maksimal.
c. Guru mampu mengunakan media dan sumber pengajaran untuk itu diharapkan mempunyai:
Mengenal, memilih dan menggunakan media; Membuat alat bantu pengajaran sederhana;
Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam Proses Belajar Mengajar; Mengembangkan
laboratorium; Menggunakan perpustakaan dalam Proses Belajar Mengajar; Menggunakan micro
teaching dalam PPL.
d. Guru menghargai landasan-landasan pendidikan. Landasan pendidikan adalah sejumlah ilmu
yang mendasari asas-asas dan kebijakan pendidikan baik di dalam sekolah maupun di luar
sekolah.
e. Guru mampu mengelola interaksi belajar mengajar. Dalam pengajaran guru dituntut cakap
termasuk penggunaan alat pengajaran, media pengajaran dan sumber pengajaran agar siswa giat
belajar bagi dirinya.
f. Guru mampu menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
g. Guru mengenal fungsi serta program pelayanan bimbingan dan penyuluhan.
h. Guru mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.
i. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan
pengajaran.
2. Dalam Bidang Kemanusiaan
Dalam bidang kemanusiaan, guru berfungsi untuk meningkatkan martabat sebagai agen
pembelajaran, pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni. Serta pengabdian pada
masyarakat berfungsi meningkatkan mutu pendidikan nasional.

3. Dalam Bidang Kemasyarakatan


Di dalam bidang kemasyarakatan, profesi guru berfungsi untuk memenuhi amanat dalam
pembukaan UUD 1945 yaitu ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan
diferensiasi tugas dari suatu masyarakat modern, sudah tentu tugas pokok utama dari guru
profesional ialah di dalam bidang profesinya tanpa melupakan tugas-tugas kemanusiaan dan
kemasyarakatan.
Dengan demikian, guru yang profesional adalah guru yang mampu:
a. Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
b. Meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan;
c. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku,
ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta
didik dalam pembelajaran
d. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama
dan etika;
e. Memelihara dan menumpuk persatuan dan kesatuan bangsa

B. Model Pengembangan Profesionalime Guru


Model Pengembangan Keterangan
Guru
Individual Guided Staff Para guru dapat menilai kebutuhan
Development (Pengembangan mengajar mereka dan mampu belajar
Guru Yang Dipandu Secara aktif serta mengarahkan diri sendiri. Para
Castetter Individu) guru harus dimotivasi saat menyeleksi
menyampaikan tujuan belajar berdasar penilaian personil
lima model dari kebutuhan mereka.
pengembangan Observasi dan penilaian dari instruksi
untuk guru Observation/Assessment menyediakan guru dengan data yang
sebagaimana (Observasi atau Penilaian) dapat direfleksikan dan dianalisis untuk
dikutip oleh tujuan peningkatan belajar siswa.
Udin Syaepudin Refleksi oleh guru pada praktiknya dapat
Saud, seperti ditingkatkan oleh observasi lainya.
pada tabel Involvement in a Pembelajaran orang dewasa lebih efektif
berikut ini: development/improvement ketika mereka perlu untuk mengetahui
process (Keterlibatan Dalam atau perlu memecahkan suatu
Suatu Proses masalah. Guru perlu untuk memperoleh
Pengembangan/Peningkatan) pengetahuan atau keterampilan melalui
keterlibatan pada proses peningkatan
sekolah atau pengembangan kurikulum.
Training (Pelatihan) Ada teknik-teknik dan perilaku-perilaku
yang pantas untuk ditiru guru dalam
kelas. Guru-guru dapat merubah perilaku
mereka dan belajar meniru perilaku
dalam kelas mereka.
Inquiry (Pemeriksaan) Pengembangan profesional adalah studi
kerjasama oleh para guru sendiri untuk
permasalahan dan isu yang timbul dari
usaha untuk membuat praktik mereka
konsisten dengan nilai-nilai bidang
pendidikan.

Dengan demikian, terdapat banyak sekali program-program dan strategi-strategi yang


dapat dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan profesionalitas guru yang sudah
dikemukakan di atas salah satunya yaitu dengan memberikan tunjangan profesi berupa sertifikat
pendidik atau yang akrab dikenal dengan sertifikasi guru. Tunjangan profesi yang diprogramkan
oleh pemerintah tidak hanya untuk memberikan tunjangan profesi dan kesejahteraan belaka
tetapi juga dimaksudkan agar guru mampu meningkatkan mutu, dedikasi, dan kinerja untuk
meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
C. Strategi Peningkatan Profesionalitas Guru
1. Hakekat Strategi Peningkatan Profesionalitas Guru
Strategi dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi
untuk sampai pada tujuan. Yang dimaksud dengan strategi pengembangan profesionalitas guru
adalah suatu cara atau upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi dalam
mengembangkan profesionalitass guru.
Sumber daya manusia dalam konteks manajemen adalah kesiapan masyarakat untuk
mengkontribusikan kesamaan kehendak guna mencapai tujuan yang sama. Oleh karena itu
sumber daya manusia dalam suatu organisasi termasuk organisasi pendidikan memerlukan
pengelolaan dan pengembangan yang baik dalam upaya meningkatkan kinerja mereka agar dapat
memberi sumbangan bagi pencapaian tujuan.
Profesi keguruan mempunyai tugas utama melayani masyarakat dalam dunia pendidikan.
Profesionalisasi dalam bidang keguruan mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha
dalam rangka pencapaian secara optimal layanan yang akan diberikan kepada masyarakat. Untuk
meningkatkan mutu pendidikan saat ini, maka profesionalisasi guru merupakan suatu keharusan.
Pengembangan profesionalitas guru dimaksudkan untuk merangsang, memelihara, dan
meningkatkan kompetensi guru dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan dan
pembelajaran yang berdampak pada peningkatan mutu hasil belajar siswa.
Dalam bukunya, E. Mulyasa mengatakan, bahwa upaya-upaya yang dapat dilakukan kepala
sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai educator, khususnya dalam peningkatan kinerja
tenaga kependidikan adalah mengikut sertakan guru-guru dalam penataran-penataran untuk
menambah wawasan para guru. Kepala sekolah harus memberikan kesempatan kepada guru-guru
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan belajar ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi.

2. Prinsip-prinsip pengembangan atau peningkatan profesionalitas.


1) Prinsip umum
a. Demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
b. manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
c. Satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.
d. Suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan guru yang berlangsung sepanjang hayat.
e. Memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas guru dalam
f. proses pembelajaran.
g. Memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan
h. dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
2) Prinsip khusus
a. Ilmiah, keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam kompetensi dan indikator
harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
b. Relevan, rumusannya berorientasi pada tugas dan fungsi guru sebagai tenaga pendidik
c. profesional yakni memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
d. Sistematis, setiap komponen dalam kompetensi jabatan guru berhubungan secara fungsional
dalam mencapai kompetensi.
e. Konsisten, adanya hubungan yang ajeg dan taat asas antara kompetensi dan indikator.
f. Aktual dan kontekstual, yakni rumusan kompetensi dan indikator dapat mengikuti
perkembangan Ipteks.
g. Fleksibel, rumusan kompetensi dan indikator dapat berubah sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan jaman.
h. Demokratis, setiap guru memiliki hak dan peluang yang sama untuk diberdayakan melalui
proses pembinaan dan pengembangan profesionalitasnya, baik secara individual maupun
institusional.
i. Obyektif, setiap guru dibina dan dikembangkan profesinya dengan mengacu kepada hasil
penilaian yang dilaksanakan berdasarkan indikator-indikator terukur dari kompetensi profesinya.
j. Komprehensif, setiap guru dibina dan dikembangkan profesinya untuk mencapai kompetensi
profesi dan kinerja yang bermutu dalam memberikan layanan pendidikan dalam rangka
membangun generasi yang memiliki pengetahuan, kemampuan atau kompetensi, mampu
menjadi dirinya sendiri, dan bisa menjalani hidup bersama orang lain.
k. Memandirikan, setiap guru secara terus menerus diberdayakan untuk mampu meningkatkan
kompetensinya secara berkesinambungan, sehingga memiliki kemandirian profesional dalam
melaksanakan tugas dan fungsi profesinya.
l. Profesional, pembinaan dan pengembangan profesi guru dilaksanakan dengan mengedepankan
nilai-nilai profesionalitas.
m. Bertahap, dimana pembinaan dan pengembangan profesi guru dilaksanakan berdasarkan tahapan
waktu atau tahapan kualitas kompetensi yang dimiliki oleh guru.
n. Berjenjang, pembinaan dan pengembangan profesi guru dilaksanakan secara berjenjang
berdasarkan jenjang kompetensi atau tingkat kesulitan kompetensi yang ada pada standar
kompetensi.
o. Berkelanjutan, pembinaan dan pengembangan profesi guru dilaksanakan sejalan dengan
perkembangan ilmu pentetahuan, teknologi dan seni, serta adanya kebutuhan penyegaran
kompetensi guru;
p. Akuntabel, pembinaan dan pengembangan profesi guru dapat dipertanggungjawabkan secara
transparan kepada publik;
q. Efektif, pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi guru harus mampu memberikan
informasi yang bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang tepat oleh pihak-
pihak yang terkait dengan profesi lebih lanjut dalam upaya peningkatan kompetensi dan kinerja
guru.
r. Efisien, pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi guru harus didasari atas
pertimbangan penggunaan sumberdaya seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang
optimal.

3) Tujuan pengembangan atau peningkatan profesionalitas guru.


Tujuan pengembangan guru melalui pembinaan guru adalah untuk memperbaiki proses
belajar mengajar yang di dalamnya melibatkan guru dan siswa, melalui serangkaian tindakan,
bimbingan dan arahan. Perbaikan proses belajar mengajar yang pencapainnya melalui
peningkatan profesional guru tersebut diharapkan memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu
pendidikan (Ali Imron, 1995: 23).
Tujuan kegiatan pengembangan profesi guru (dalam
http://sekolah.8k.com/rich_text_1.html ) adalah untuk meningkatkan mutu guru agar guru lebih
profesional dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. Jadi, kegiatan tersebut
bertujuan untuk memperbanyak guru yang profesional, bukan untuk mempercepat atau
memperlambat kenaikan pangkat/golongan. Selanjutnya sebagai penghargaan kepada guru yang
mampu meningkatkan mutu profesionalnya, diberikan penghargaan, di antaranya dengan
kenaikan pangkat/golongannya.
Dalam kaitannya dengan program bimbingan penulisan karya ilmiah, maka penulisan
karya tulis ilmiah sendiri yang merupakan salah satu kegiatan pengembangan profesi guru,
bukanlah sebagai tujuan akhir tetapi sebenarnya merupakan wahana untuk melaporkan kegiatan
yang telah dilakukan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pembelajaran di
sekolah.
Menurut Sudarwan Danim (2002: 51)
dalamhttp://sinaja4math.blogspot.com/2012/01/model-pengembangan-guru.html menjelaskan
bahwa pengembangan profesionalisme guru dimaksudkan untuk memenuhi tiga kebutuhan.
Pertama, kebutuhan sosial untuk meningkatkan kemampuan sistem pendidikan yang efisien dan
manusiawi serta melakukan adaptasi untuk penyusunan kebutuhan-kebutuhan sosial. Kedua,
kebutuhan untuk menemukan cara-cara untuk membantu staff pendidikan dalam rangka
mengembangkan pribadinya secara luas. Ketiga, kebutuhan untuk mengembangkan dan
mendorong kehidupan pribadinya, seperti halnya membantu siswanya dalam mengembangkan
keinginan dan keyakinan untuk memenuhi tuntutan pribadi yang sesuai dengan potensi dasarnya.
Tujuan lain dari pengembangan profesionalitas guru yaitu:
a. Kebutuhan sosial untuk meningkatkan kemampuan sistem pendidikan yang efisien dan
manusiawi serta melakukan adaptasi untuk penyusunan kebutuhan-kebutuhan sosial.
b. Kebutuhan untuk menemukan cara-cara untuk membantu staff pendidikan dalam rangka
mengembangkan pribadinya secara luas.
c. Kebutuhan untuk mengembangkan dan mendorong kehidupan pribadinya, seperti halnya
membantu siswanya dalam mengembangkan keinginan dan keyakinan untuk memenuhi tuntutan
pribadi yang sesuai dengan potensi dasarnya.

4) Faktor pengembangan atau peningkatan profesionalitas.


Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan
atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya.
Menurut Walgito (dalam Deden, 2011), sikap adalah gambaran kepribadian seseorang
yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu
objek, sedangkan Berkowitz (dalam Deden, 2011) mendefinisikan sikap seseorang pada suatu
objek adalah perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah respon atau kecenderungan untuk
bereaksi. Sebagai reaksi, maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang
(like) atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakan atau menghindari sesuatu.
Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan
teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih
dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu
tingkah laku yang dipersyaratkan.
Mantja (2002) menyatakan bahwa peningkatankompetensi tersebut tidak hanya
Akadum (1999) juga mengemukakan bahwa ada lima faktor penyebab rendahnya
profesionalisme guru;
1. Masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total
2. Rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi keguruan Pengakuan
terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah hati dari pengambilan kebijakan dan
pihak-pihak terlibat. Hal ini terbukti dari masih belum mantapnya kelembagaan pencetak tenaga
keguruan dan kependidikan
3. Masih belum smooth-nya perbedaan pendapat tentang proporsi materi ajar yang diberikan
kepada calon guruM
4. Masih belum berfungsi PGRI sebagai organisasi profesi yang berupaya secara makssimal
meningkatkan profesionalisme anggotanya.
Kecenderungan PGRI bersifat politis memang tidak bisa disalahkan, terutama menjadi
pressure group agar dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Namun demikian di masa
mendatang PGRI sepantasnya mulai mengupayakan profesionalisme para anggotanya. Ditujukan
pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, namun yang lebih penting adalah kemamuan diri
untuk terus menerus melakukan peningkatan kelayakan kompetensi.
Sergiovanni (dalam mantja, 2002) menegaskan bahwa teachers are axpected to put their
knowledge to work to demonstrate they can do the job. Finally, professional are expected to
engage in a life long commitment to self improvement. Self improvement is the will-grow
competency area. Pernyataan Sergiovanni tersebut memberikan petunjuk bahwa asumsi
profesionalisme guru pasca sertifikasi seyognya menjadi spring board bagi guru untuk terus
menerus menata komitmen melakukan perbaikan diri dalam rangka meningkatkan
kompetensi.
Peningkatan kompetensi atas dorongan komitmen diri diharapkan akan mampu
meningkatkan keefektifan kinerjanya di sekolah. Komitmen untuk meningkatkan kefektifan
kinerja sangat berkaitan dengan pencapaian tujuan program, yaitu program pembelajaran yang
diharapkan mampu menghasilkan output dan outcome yang mencapai standar.
Jika guru memiliki komitmen untuk mengembangkan kompetensi diri secara terus
menerus, maka proses-proses perencanaan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan
penilaian program pembelajaran diyakini akan dapat dilakukan sesuai dengan tuntutan kekinian.
Glickman (dalam Mantja 2002) memperkenalkan pendekatan
supervisi pengembangan (developmental supervision). Pendekatan tersebut bertolak dari
kenyataan, bahwa pada asarnya proses supervisi adalah proses belajar
5) Strategi pengembangan atau peningkatan profesionalitas.
Peningkatan kompetensi guru dilaksanakan melalui berbagai strategi dalam bentuk
pendidikan dan pelatihan (diklat) dan bukan diklat, antara lain seperti berikut ini.
1. Pendidikan dan Pelatihan
a. Inhouse training (IHT). Pelatihan dalam bentuk IHT adalah pelatihan yang dilaksanakan secara
internal di KKG/MGMP, sekolah atau tempat lain yang ditetapkan untuk menyelenggarakan
pelatihan. Strategi pembinaan melalui IHT dilakukan berdasarkan pemikiran bahwa sebagian
kemampuan dalam meningkatkan kompetensi dan karir guru tidak harus dilakukan secara
eksternal, tetapi dapat dilakukan oleh guru yang memiliki kompetensi kepada guru lain yang
belum memiliki kompetensi. Dengan strategi ini diharapkan dapat lebih menghemat waktu dan
biaya.
b. Program magang. Program magang adalah pelatihan yang dilaksanakan di institusi/industri yang
relevan dalam rangka meningkatkan kompetensi professional guru. Program magang ini
terutama diperuntukkan bagi guru kejuruan dan dapat dilakukan selama priode tertentu,
misalnya, magang di industri otomotif dan yang sejenisnya. Program magang dipilih sebagai
alternatif pembinaan dengan alasan bahwa keterampilan tertentu khususnya bagi guru-guru
sekolah kejuruan memerlukan pengalaman nyata.
c. Kemitraan sekolah. Pelatihan melalui kemitraan sekolah dapat dilaksanakan bekerjasama dengan
institusi pemerintah atau swasta dalam keahlian tertentu. Pelaksanaannya dapat dilakukan di
sekolah atau di tempat mitra sekolah. Pembinaan melalui mitra sekolah diperlukan dengan alasan
bahwa beberapa keunikan atau kelebihan yang dimiliki mitra dapat dimanfaatkan oleh guru yang
mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kompetensi profesionalnya.
d. Belajar jarak jauh. Pelatihan melalui belajar jarak jauh dapat dilaksanakan tanpa menghadirkan
instruktur dan peserta pelatihan dalam satu tempat tertentu, melainkan dengan sistem pelatihan
melalui internet dan sejenisnya. Pembinaan melalui belajar jarak jauh dilakukan dengan
pertimbangan bahwa tidak semua guru terutama di daerah terpencil dapat mengikuti pelatihan di
tempat-tempat pembinaan yang ditunjuk seperti di ibu kota kabupaten atau di propinsi.
e. Pelatihan berjenjang dan pelatihan khusus. Pelatihan jenis ini dilaksanakan di P4TK dan atau
LPMP dan lembaga lain yang diberi wewenang, di mana program pelatihan disusun secara
berjenjang mulai dari jenjang dasar, menengah, lanjut dan tinggi. Jenjang pelatihan disusun
berdasarkan tingkat kesulitan dan jenis kompetensi. Pelatihan khusus (spesialisasi) disediakan
berdasarkan kebutuhan khusus atau disebabkan adanya perkembangan baru dalam keilmuan
tertentu.
f. Kursus singkat di LPTK atau lembaga pendidikan lainnya. Kursus singkat di LPTK atau
lembaga pendidikan lainnya dimaksudkan untuk melatih meningkatkan kompetensi guru dalam
beberapa kemampuan seperti melakukan penelitian tindakan kelas, menyusun karya ilmiah,
merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, dan lain-lain sebagainya.
g. Pembinaan internal oleh sekolah. Pembinaan internal ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan
guru-guru yang memiliki kewenangan membina, melalui rapat dinas, rotasi tugas mengajar,
pemberian tugas-tugas internal tambahan, diskusi dengan rekan sejawat dan sejenisnya.
h. Pendidikan lanjut. Pembinaan profesi guru melalui pendidikan lanjut juga merupakan alternatif
bagi pembinaan profesi guru di masa mendatang. Pengikutsertaan guru dalam pendidikan lanjut
ini dapat dilaksanakan dengan memberikan tugas belajar, baik di dalam maupun di luar negeri,
bagi guru yang berprestasi. Pelaksanaan pendidikan lanjut ini akan menghasilkan guru-guru
pembina yang dapat membantu guru-guru lain dalam upaya pengembangan profesi.
2. Kegiatan Selain Pendidikan dan Pelatihan
a. Diskusi masalah pendidikan. Diskusi ini diselenggarakan secara berkala dengan topik
sesuaidengan masalah yang di alami di sekolah. Melalui diskusi berkala diharapkan para guru
dapat memecahkan masalah yang dihadapi berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah
ataupun masalah peningkatan kompetensi dan pengembangan karirnya.
b. Seminar. Pengikutsertaan guru di dalam kegiatan seminar dan pembinaan publikasi ilmiah juga
dapat menjadi model pembinaan berkelanjutan profesi guru dalam meningkatkan kompetensi
guru. Melalui kegiatan ini memberikan peluang kepada guru untuk berinteraksi secara ilmiah
dengan kolega seprofesinya berkaitan dengan hal-hal terkini dalam upaya peningkatan kualitas
pendidikan.
c. Workshop. Workshop dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi
pembelajaran, peningkatan kompetensi maupun pengembangan karirnya. Workshop dapat
dilakukan misalnya dalam kegiatan menyusun KTSP, analisis kurikulum, pengembangan silabus,
penulisan RPP, dan sebagainya.
d. Penelitian. Penelitian dapat dilakukan guru dalam bentuk penelitian tindakan kelas, penelitian
eksperimen ataupun jenis yang lain dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran.
e. Penulisan buku/bahan ajar. Bahan ajar yang ditulis guru dapat berbentuk diktat, buku pelajaran
ataupun buku dalam bidang pendidikan.
f. Pembuatan media pembelajaran. Media pembelajaran yang dibuat guru dapat berbentuk alat
peraga, alat praktikum sederhana, maupun bahan ajar elektronik (animasi pembelajaran).
g. Pembuatan karya teknologi/karya seni. Karya teknologi/seni yang dibuat guru dapat berupa
karya teknologi yang bermanfaat untuk masyarakat dan atau pendidikan dan karya seni yang
memiliki nilai estetika yang diakui oleh masyarakat.
Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
menyebutkan beberapa alternatif program pengembangan profesionalitas guru, sebagai berikut:
1. Program peningkatan kualifikasi pendidikan guru
Program ini diperuntukkan bagi guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan minimal
S-1 untuk mengikuti pendidikan S-1 atau S-2 pendidikan keguruan. Program ini berupa program
kelanjutan studi dalam bentuk tugas belajar.
2. Program penyetaraan dan sertifikasi
Program ini diperuntukkan bagi guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang
pendidikannya atau bukan berasal dari program pendidikan keguruan.
3. Program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi
Yaitu pelatihan yang mengacu pada kompetensi yang akan dicapai dan diperlukan oleh
peserta didik, sehingga isi atau materi pelatihan yang akan dilatihkan merupakan gabungan atau
integrasi bidang-bidang ilmu sumber bahan pelatihan yang secara utuh diperlukan untuk
mencapai kompetensi.
4. Program supervisi pendidikan
Di lingkungan sekolah, supervisi mempunyai peranan cukup strategis dalam meningkatkan
prestasi kerja guru, yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi sekolah.
5. Program pemberdayaan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran)
MGMP adalah suatu forum atau wadah kegiatan profesional guru mata pelajaran sejenis di
sanggar maupun di masing-masing sekolah yang terdiri dari dua unsur yaitu musyawarah dan
guru mata pelajaran. Dalam MGMP diharapkan akan meningkatkan profesionalitas guru dalam
melaksanakan pembelajaran yang bermutu sesuai kebutuhan peserta didik. Wadah profesi ini
sangat diperlukan dalam memberikan kontribusi pada peningkatan keprofesionalan para
anggotanya.
6. Simposium guru
Forum ini selain sebagai media untuk salingsharing pengalaman juga berfungsi untuk
kompetisi antar guru, dengan menampilkan guru-guru yang berprestasi dalam berbagai bidang,
misalnya dalam penggunaan metode pembelajaran, hasil penelitian tindakan kelas atau penulisan
karya ilmiah.
7. Program pelatihan tradisional lainnya
Pelatihan ini pada umumnya mengacu pada satu aspek khusus yang sifatnya aktual dan
penting untuk diketahui oleh para guru, misalnya: CTL (Contextual Teaching and Learning),
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Penelitian Tindakan Kelas, penulisan karya
ilmiah, dan sebagainya.

6) Tantangan dan solusi pengembangan atau peningkatan profesionalitas.


Terkait dengan guru, secara umum tantangan yang dihadapi guru di era globalisasi dan
multicultural ini adalah bagaimana pendidikan mampu mendidik dan menghasilkan siswa yang
memiliki daya saing tinggi (qualified), atau justru malah mandul dalam menghadapi gempuran
berbagai kemajuan yang penuh dengan kompetensi dalam berbagai sector, mampu menghadapi
tantangan di bidang politik dan ekonomi, mampu melakukan risett secara koperhensif di era
reformasi serta mampu membangun kualitas kehidupan sumber daya manusia. Di samping itu,
dilihat dari segi aktualisasinya pendidikan merupakan proses interaksi antara guru (pendidik)
dengan siswa (peserta didik) untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Guru, siswa dan tujuan pendidikan merupakan komponen utama pendidikan. Ketiganya
membentuk triangle, yang jika hilang salah satunya, maka hilang pulalah hakikat pendidikan.
Namun demikian, dalam situasi tertentu tugas guru dapat dibantu oleh unsur lain, seperti media
teknologi tetapi tidak dapat digantikan.
Oleh karena itulah, tugas guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik
profesional.[2] Peranan guru sebagai pendidik profesional akhir-akhir ini mulai dipertanyakan
eksistensinya secara fungsional karena munculnya fenomena para lulusan pendidikan yang
secara moral cenderung merosot dan secara intelektual akademik juga kurang siap untuk
memasuki lapangan kerja atau bahkan dalam bersaing untuk memasuki dunia pendidikan tinggi.
Jika fenomena ini dijadikan tolok ukur, maka peranan guru sebagai pendidik profesional baik
langsung maupun tidak langsung menjadi dipertanyakan.
Semua tantangan itu mengharuskan adanya SDM yang berkualitas dan berdaya saing
tinggi secara komperhensif dan kooperatif yang berwawasan keunggulan, keahlian professional,
berpandangan jauh ke depan (visioner), rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi serta
memiliki keterampilan yang memadai sesuai kebutuhan dan daya tawar pasar bebas. Selain
tantangan tersebut, tersedia juga peluang atau kesempatan untuk merevitalisasi berbagai
komponen yang terdapat dalam pepndidikan agar sesuai dengan tantangan dan kebutuhan zaman.

7) Implikasi Pengembangan Sikap Profesionalitas Guru Dalam Praktis Pendidikan


Sebelum dan sesudah memperoleh sertifikat pendidik sebagai guru dan dosen profesional,
diharapkan minimal memiliki tujuh indikator yang harus melekat dan terus menerus dibangun
guru dan dosen dalam rangka mengembang kualitasnya. Ketujuh indikator tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut: