Anda di halaman 1dari 21

BAB 222

OBAT-OBATAN TOPIKAL LAINNYA

Craig N. Burkhart & Kenneth A. Katz

PANDANGAN SEKILAS MENGENAI OBAT-OBATAN TOPIKAL


LAINNYA
Obat-obatan topikal yang dibahas pada bagian ini, yaitu terdiri atas:
Analgetik
Agen anti-inflamasi
Agen antimikroba dan antiparasit
Antiperspiran, antipruritik, dan astringen
Agen pemutih dan keratolitik
Terapi topikal pada psoriasis dan veruka

Bab ini membahas terapi topikal yang tidak dibahas pada bagian lain dari buku ini
yang digunakan dalam mengobati penyakit kulit. Judul topiknya mengacu pada
obat-obatan yang terdapat pada US Pharmacopeia dan lebih membahas tentang
penggunaan klinis dibandingkan dengan mekanisme farmakologis yang spesifik
dari obat tersebut. Semua obat topikal yang diberikan pada area yang luas pada
kulit, umumnya karena adanya penyakit kulit atau pemberian pada bayi dan anak-
anak, memiliki potensi timbulnya efek samping yang bersifat sistemik.

ANALGETIK

CAPSAICIN

Capsaicin adalah molekul yang memberikan sensasi rasa panas pada lada atau
merica berasal dari tanaman genus Capsicum, meliputi lada merah, cabe rawit,
jalapeno, dan lada tabasco. Penggunaan topikal dari obat ini pada awalnya
mengakibatkan terjadinya gatal, rasa tertusuk-tusuk, dan rasa terbakar sebagai
efek aktifasi nosiseptor. Akan tetapi, dengan penggunaan berulang diduga
berujung pada terjadi degenerasi dari serabut saraf epidermal dan desensitasi
nosiseptor sehingga menghasilkan efek hipoalgesia.
Capsaicin topikal telah digunakan untuk mengobati neuralgia post-
herpetik, neuropati diabetik, distrofi refleks simpatetik, fenomena Raynaud,
parestetika nostalgia, arthralgia, veruka pada daerah plantar, neuralgia diabetik,
dan pruritus akibat hemodialisa. Sebuah penelitian dengan menggunakan kontrol
plasebo dengan menggunakan tambalan kuit capsaicin dosis tinggi menunjukkan
bahwa tambalan tersebut dapat menurunkan nyeri pada neuralgia post-herpetik
secara signifikan dengan penggunaan sementara pada tempat nyeri dirasakan
timbul dan nyeri dapat diatasi dengan lebih efektif jika digunakan bersama dengan
analgetik lainnya. Terapi lain untuk neuralgia post-herpetik juga perlu untuk
dipertimbangkan.

ANASTESI TOPIKAL

Berbagai anastesi topikal telah tersedia. Krim yang mengandung campuran


eutektik dan anastesi lokal (Eutectic mixture of local anesthetics /EMLA)
mengandung agen penghambat kanal sodium yaitu lidokain 2,5% dan prilokain
2,5%. Penggunaan pada permukaan kulit yang intak atau membran mukosa
genitalia selama minimal 1 jam sebelum dilakukannya tindakan yang dapat
menimbulkan nyeri, termasuk debridemen dari ulkus pada tungkai dapat
memberikan efek anestesi lokal yang bertahan hingga 2 jam. Krim tersebut dapat
menyebabkan kulit menjadi berwarna lebih putih yang bersifat lokal dan
sementara yang diikuti dengan eritema yang bersifat lokal dan sementara. Seperti
halnya semua produk yang mengandung lidokain, krim ini tidak boleh digunakan
pada pasien dengan hipersentifitas pada anestesi. Sebagai tambahan, komponen
prilokain dianggap memiliki peran pada terjadinya metemoglobinemia pada
pasien akibat penggunaan dengan dosis yang melebihi dosis yang
direkomendasikan, area penggunaan, atau waktu penggunaan. Pasien yang
mengalami metemoglobinemia pada umumnya merupakan pasien dengan usia
yang terlalu muda, pasien-pasien dengan defisiensi enzim glukosa-6-fosfat
dehidrogenase, dan mereka yang mengkonsumsi obat-obat yang bekerja
mengoksidasi seperti sulfonamid dan antimalaria.
Peringatan terhadap dosis juga harus diberikan pada pasien yang rentan
mengalami efek sistemik akibat penggunaan lidokain dan prilokain, yaitu pada
orang yang menderita penyakit akut, kekurangan tenaga, dan pada pasien usia
lanjut. Terakhir, karena EMLA bersifat ototoksik, obat ini tidak boleh diberikan
jika terdapat pertimbangan bahwa obat ini dapat masuk dan berpindah ke dalam
membran timpani dan telinga tengah.
Berbagai produk anestesi topikal biasanya hanya mengandung lidokain,
pada umumnya dengan konsentrasi 4% atau 5%, yang dapat diberikan dengan
atau tanpa batasan. Toksisitas sistemik dari lidokain topikal dengan konsentrasi
sebesar 30% telah dilaporkan. Pada tahun 2007, FDA melaporkan bahwa 2
wanita, berusia 22 dan 25 tahun, mengalami kejang, koma, dan meninggal setelah
menggunakan campuran topikal dari formulasi lidokain dan tetrakain di bawah
batasan, untuk keperluan prosedur pembersihan rambut dengan menggunakan
laser. Kasus aritmia dan apnea juga telah dilaporkan. Efek samping tersebut
menjadi dasar dari FDA untuk memperingatkan masyarakat mengenai bahaya
potensial dari penggunaan produk anestesi topikal untuk prosedur kosmetik, dan
bagi petugas farmasi untuk tidak melanggar aturan penggunaan dari produk-
produk tersebut.

AGEN ANTI-INFLAMASI

TER BATU BARA

Ter batu bara telah digunakan untuk mengobati inflamasi pada kulit selama
hampir 2 milenium, walaupun sekarang ini lebih umum digunakan untuk
mengobati psoriasis. Ter batu bara menunjukkan dapat menghambat sintesis DNA
dan mitosis dari sel-sel epidermis, sebuah efek yang dapat ditimbulkan akibat
pajanan sinar ultraviolet A. Ter batu bara juga memiliki efek anti-infeksi, anti-
pruritik, fotosensitasi, dan vasokontriksi serta dengan penggunaan berulang,
menyebabkan atrofi epidermal. Mekanisme pasti mengenai bagaimana obat ini
mengobati penyakit inflamasi pada kulit belum dapat sepenuhnya dijelaskan.
Pada tahun 1925, Goekerman mempelopori penggunaan ter batu bara dan
terapi ultraviolet B pada penyakit psoriasis.
Ter batu bara pada sejarahnya susah dalam penggunaannya, memiliki bau
yang tidak menyenangkan, dan dapat mengotori pakaian, sehingga
penggunaannya merupakan suatu tantangan. Akan tetapi, formulasi terbaru dari
obat ini dapat ditoleransi dengan lebih baik. Efek samping sistemik dari obat ini
jarang ditemui, akan tetapi efek samping lokal dapat meliputi folikulitis ter, erupsi
yang menyerupai akne, dermatitis iritan, rasa terbakar dan tersengat, dermatitis
kontak alergi, atrofi, telangiektasis, pigmentasi, dermatitis eksfoliatif, dan
keratoakantomas. Meskipun pajanan ter batu bara di tempat kerja memiliki
hubungan dengan peningkatan risiko terjadinya kanker kulit, penelitian secara
epidemiologi pada psoriasis yang diobati dengan ter batu bara tidak menunjukkan
peningkatan risiko terjadinya kanker kulit akibat penggunaan ter batu bara.

TER KAYU

Dihasilkan dari penyulingan kayu di bawah kondisi tertentu, ter kayu dapat
ditambahkan pada minyak arachis (minyak kacang tanah) atau pada bahan
lainnya. Sediaan ini pada umumnya digunakan untuk mengobati psoriasis pada
kepala. Pada umumnya merupakan turunan dari juniper (minyak cade), ter kayu
juga dapat diperoleh dari sejenis pohon besar, birch, dan pirie. Sensitifitas akibat
kontak terhadap ter kayu telah dilaporkan.

MINYAK SERPIH

Minyak serpih (disebut juga sebagai ammonium bituminosulphonate, ichthyol,


ichthammol, atau salep hitam) diperoleh dari minyak serpih, sebuah batu yang
kaya akan sedimentasi sulfur. Kemudian diproses secara ekstrasi untuk
memperoleh minyak serpih dengan komponen berwarna terang dan gelap.
Komponen berwarna terang disebut juga sebagai minyak serpih bersulfonasi pucat
(pale sulfonated shale oil/PSSO) atau ichthyol pale. Minyak serpih menurunkan
inflamasi dengan menghambat enzim lipoksigenase. Penelitian terbaru mengenai
penggunaan krim PSSO untuk terapi dermatitis atopi menunjukkan bahwa
penggunaan obat ini lebih efektif daripada sediaan lain dalam mengobati
dermatitis atopi. Sebuah penelitian mengenai penggunaan PSSO dalam
pengobatan ulkus tungkai menunjukkan bahwa ukuran ulkus yang diterapi dengan
jel PSSO secara signifikan berkurang dibandingkan dengan ukuran ulkus yang
diobati dengan sediaan lain, walaupun tidak terdapat perbedaan dari epitelisasi
total pada proses granulasi ulkus. PSSO juga telah digunakan untuk mengobati
akne, psoriasis, seborea, eksema, rosase, dan pruritus.

AGEN ANTIMIKROBA

CHLORHEXIDINE

Chlorhexidine gluconate merupakan sebuah bisbiguanide yang berikatan dengan


stratum korneum, memberikan aktifitas bakterisidal dan fungisidal selama lebih
dari 6 jam, bahkan ketika dibersihkan dari permukaan kulit. Walaupun obat ini
tidak membunuh spora bakteri atau mikobakteria, obat ini dapat menghambat
pertumbuhannya. Karena obat ini tidak kehilangan efeknya pada bahan organik
seperti darah, maka obat ini menjadi antiseptik, desinfektant, obat kumur
antibakteri, dan bahan pengawet yang penting. Akibat efek ototoksisitas dan risiko
terjadinya konjungtivitis dan ulkus kornea, chlorhexidine tidak direkomendasikan
sebagai obat persiapan operasi pada wajah dan kepala.

PEWARNA
Pewarna merupakan obat topikal yang bermanfaat karena tidak mahal dan secara
fisik dan kimiawi sangat stabil. Pewarna antiseptik topikal yang digunakan dalam
pengobatan dermatologi, yaitu gentian violet (methylrosaniline chloride), brillian
green ((p-diethylamine triphenylmethanol), malachite green, dan fuchsine,
semuanya merupakan turunan dari triphyelmethane. Pewarna tersebut sangat
efektif melawan spesies candida dan beberapa bakteri aerob gram positif,
termasuk methicillin-resistant Staphylococcus aureus. Gentian violet diketahui
merupakan obat yang menimbulkan sensitasi kontak dan menyebabkan terjadinya
nekrosis pada kulit pada konsentrasi lebih dari 2% pada sediaan terlarut atau
ketika digunakan tanpa pengenceran pada kulit.

HIDROGEN PEROKSIDA

Hidrogen peroksida telah digunakan selama beberapa tahun sebagai agen


pembersih dan agen penghilang sisa sisa kotoran. Obat ini memiliki kemampuan
antibakteri melawan bakteri gram positif dan negatif, dan kualitas busanya dapat
membantu dalam membersihkan sisa sisa kotoran pada luka.

BAHAN BERIODIN

Larutan iodin memiliki sifat bakterisidal, sporisidal, dan virisidal. Idiofor


merupakan kandungan dari iodin dengan kemampuan secara lambat
membebaskan iodin anorganik ketika bersentuhan dengan bahan tertentu. Hal ini
menyebabkan aktifitas antimikrobial dari iodin bersifat tahan lama tanpa
menimbulkan efek iritasi pada larutan dalam alkohol. Iodofor harus diberikan
pada kulit yang kering karena iodofor tidak dapat aktif jika bersentuhan dengan
darah, protein serum, dan sputum.

POVIDONE-IODINE
Povidone iodine memiliki aktifitas in-vitro spektrum luas dalam melawan bakteri
gram negatif dan positif, fungi, dan virus. Penyerepan secara sistemik dapat
terjadi akibat disfungsi tiroid dan ginjal jika digunakan dengan kuantitas yang
besar dan dalam jangka waktu yang lama.

CLIOQUINOL

Clioquinol atau 5-chloro-8-hydroxy-7-iodoquinolinol merupakan antifungi dan


antibakteri lemah. Obat ini efektif untuk mengobati inflamasi pada kulit baik
digunakan tunggal atau dikombinasikan dengan steroid topikal, khususnya pada
daerah intertriginosa. Efek samping dari obat ini meliputi perubahan warna
kekuningan pada pakaian atau kulit, hipersensitifitas kontak tipe lambat, dan
dermatitis kontak. Pada awal tahun 1970, obat ini diduga menyebabkan neuropati
mielo-optik subakut di Jepang dan dilarang penggunaannya di banyak negara,
termasuk Amerika Serikat. Hal ini dibuktikan oleh berbagai penelitian
epidemiologi, dan produk dengan label obat ini masih ditakutkan menimbulkan
atrofi optik yang tidak dapat disembuhkan dan penyakit neuromuskular perifer.

METRONIDAZOLE

Metronidazole merupakan sebuah imidazole dengan aktifitas melawan bakteri


anaerob dan protozoa yang paling sering digunakan dalam ilmu dermatologi untuk
pengobatan rosasea. Sebagai tambahan pada kemampuan antibiotiknya, bentuk
aktifitas kerja dalam melawan rosasea mungkin meliputi impedansi kemotaksis
dari leukosit dan penekanan selektif dari imunitas seluler.

MUPIROCIN

Mupirocin, juga dikenal sebagai pseudomonic acid, merupakan agen bakterisidal


dengan konsentrasi yang didapatkan dari aplikasi topikal pada kulit dan membran
mukosa. Karena mupirocin memiliki mekanisme kerja yang unik, dimana obat ini
menghambat ikatan isoleusin dengan protein melalu penghambatan enzim
isoleucyl-t-RNA synthetase dari bakteri, sehingga tidak terjadi resistensi silang
dengan antimikroba lainnya. Obat ini memiliki kemampuan dalam melawan
staphylococus, streptococcus, dan bakteri gram negatif, tetapi tidak aktif melawan
beberapa flora kulit normal. Obat ini merupakan pilihan pengobatan untuk
impetigo non-bullosa dan antibiotik topikal yang paling efektif untuk membunuh
koloni S. aureus di daerah nasal.

RETAPAMULIN

Retapamulin merupakan anggota dari antibiotik golongan pleuromatilin yang


diresepkan sebagai obat salep topikal dengan konsentrasi 1%. Obat ini memiliki
sifat bakteriostatik dan menghambat fase elongasi dari sintesis protein melalui
ikatan selektif pada subunit 50S dari ribosom prokariotik. Obat ini telah disetujui
oleh FDA sebagai terapi untuk methicillin sensitive S. aureus dan Streptococcus
pyogenes, tetapi juga efektif secara in vitro melawan pada bakteri terisolasi yang
resisten terhadap B-laktam, makrolide, kuinolon, asam fusidat, dan mupirocin.

ASAM AZELAIC

Asam azelaic merupakan asam dikarboksilik alifatik yang diperoleh secara natural
dan merupakan inhibitor kompetitif dari enzim tirosinase. Asam azelaic
merupakan inhibitor dari enzim sitokrom P450 reduktase dan 5-reduktase dalam
mikrosom dan inhibitor dari beberapa enzim pada rantai respirasi. Asam azelaic
in-vitro memiliki efek antimikrobial melawan Propionibacterium acnes dan
Staphylococcus epidermidis. Kemanjuran obat ini melawan akne dan rosasea
ditunjang oleh kemampuannya melawan P. Acnes, normalisas dari proses
keratinisasi, dan efek anti-inflamasi secara langsung.

BENZOIL PEROKSIDA
Benzoil peroksida merupakan agen bakterisidal non-spesifik yang menghasilkan
fungsi biologisnya melalui dekomposisi menjadi radikal benzoloxy dan phenyl
yang bereaksi dengan berbagai unsur dari sel mikroba. Efek ini dapat diperkuat
dengan penambahan antibiotik atau molekul lainnya yang mengandung amina
tersier atau logam transisional. Sebagai terapi topikal. Benzoil peroksida pada
umumnya digunakan untuk mengobati akne, walaupun obat ini juga digunakan
untuk mempercepat penyembuhan luka kronik. Ketika digunakan untuk
pengobatan akne, obat ini biasanya dikombinasikan dengan antibiotik topikal,
dengan kombinasi tersebut maka dapat menurunkan perkembangan resistensi
antibiotik oleh P. Acnes.

AGEN ANTI-PARASIT

CROMATITON

Cromatiton (crotonyl-N-ethyl-O-toluidine) merupakan minyak berwarna kuning


yang pucat atau tidak berwarna yang digunakan dalam pengobatan skabies,
pedikulosis kapitis, dan pruritus. Mekanisme kerjanya masih belum diketahui.
Formulasi antiparasit lainnya seperti lindane 1% (lihat bagian berikutnya) dan
krim permethrin 5% (lihat bagian berikutnya) lebih efektif dibandingkan
cromatiton, dan lebih jarang menimbulkan sensititasi. Obat ini diperbolehkan
untuk digunakan pada bayi dan anak-anak, tetapi pada kehamilan merupakan obat
kategori C.

-BENZENE HEXACHLORIDE

-Benzene hexachloride, juga dikenal sebagai hexachlorocyclohexane dan lindane,


merupakan sebuah pestisida hidrokarbon berklorin yang efektif melawan kutu,
skabies, dan kutu binatang dan tersedia dalam sediaan losion atau sampo dengan
konsentrasi 1%. Resistensi skabies dan kutu terhadap -Benzene hexachloride
telah dilaporkan. Lebih lanjut, berbagai efek samping dari penggunaan topikal
dari obat ini meliputi toksisitas sistem saraf pusat, kejang, dan anemia aplastik
telah dilaporkan dan mengakibatkan badan pengawasan obat dan makanan
Amerika Serikat merekomendasikan bahwa -Benzene hexachloride hanya
digunakan sebagai agen lini kedua. Pasien dengan gangguan kejang, anak-anak
dengan berat badan kurang dari 50 kg, dan pasien dengan inflamasi akut atau kulit
yang luka tidak boleh diberikan -Benzene hexachloride.

MALATHION

Malathion merupakan sebuah insektisida organofosfat yang bekerja dengan cara


berikatan dengan enzim asetilkolinesterase. Obat ini digunakan dalam sediaan
losion 0,5% sebagai terapi terhadap infeksi kutu pada kepala di Amerika Serikat.
Losion ini mengandung alkohol isoprofil sebanyak 78%, dan mudah terbakar.
Keamaan penggunaan obat ini untuk anak dengan usia di bawah 6 tahun belum
diketahui dan dalam kehamilan merupakan obat kategori B.

PERMETHRIN

Permethrin merupakan bentuk pyrethroid sintesis setelah insektisida alami


ditemukan pada bunga pyrethrum yang dikenal sebagai Chrysanthemum
cinerariaefolium. Obat ini bekerja pada membran sel saraf parasit, sehingga
menyebabkan paralisis dan kematian. Obat ini tersedia di berbagai apotik dengan
sediaan krim pembersih dengan konsentrasi 1%, yang dapat tinggal pada rambut
yang kering selama 10 menit. Penggunaan tunggal biasanya efektif dalam
melawan kutu kepala dan telur kutu. Akan tetapi, akibat peningkatan resistensi,
penggunaan dua kali selama 7-10 hari, pada umumnya disarankan. Belum terdapat
data yang cukup mengenai tingkat keamanan dalam penggunaannya pada anak
dengan usia di bawah 2 tahun, dan pada wanita hamil dan menyusui. Peresepan
krim permethrin 5% juga efektif melawan pedikulosis kapitis yang resisten
terhadap krim 1%, pedikulosis pubis, skabies, dan berbagai infestasi kutu
termasuk cheyletiella. Krim 5% digunakan pada kulit dan rambut yang kering
pada malam hari (8-14 jam).

PYRETHRINS

Pyrethrins merupakan ester yang terbentuk secara natural dari asam


chrysanthemumic. Jika dikombinasi dengan piperonyl butoxide, obat ini tersedia
dalam sediaan cairan, jel, minyak, semprotan aerosol, busa, dan sampo.
Pyrethrins merupakan agen neurotoksin, dan piperonyl butoxide menghambat
metabolisme pyrethrin, sehingga menurun efek pyrethrin. Obat ini juga efektif
melawan kutu hewan, nyamuk, dan lalat. Karena diperoleh dari ekstrak
chrysanthemums, maka American Academy of Pediatrics menyarankan bahwa
individu yang sensitif terhadap chrysanthemums atau rumput-rumputan sejenisnya
tidak boleh menggunakan obat ini. Akan tetapi, rekomendasi ini menjadi sebuah
kontroversi akibat tes tempel dan tusuk pada kulit pada sediaan komersial yang
mengandung pyrethrins gagal menimbulkan respon pada pasien yang alergi
terhadap rumput-rumputan yang berpotensi menimbulkan reaksi. Semprotan
aerosol tidak boleh diresepkan pada pasien dengan riwayat asma.

SPINOSAD

Spinosad merupakan sebuah produk fermentasi dari bakteri tanah


Saccharopolyspora spinosa yang menyebabkan eksitasi yang luas dari sistem
saraf pusat serangga yang menyebabkan terjadinya paralisis. Obat ini
dikembangkan dalam sediaan krim pembersih 0,9% sebagai terapi terhadap kutu
kepala. Obat ini memiliki efek pedikulosidal dan ovisidal dengan penggunaan
selama 10 menit.

ANTIPERSPIRAN

CAMPURAN ALUMINIUM
Larutan aluminium klorida pada umumnya digunakan sebagai terapi lini pertama
pada hiperhidrosis dalam bentuk larutan 15% hingga 20% pada ketiak dan hingga
30% pada telapak tangan dan kaki. Larutan ini digunakan selama 1 minggu pada
malam hari, yaitu saat kelenjar ekrin tidak terlalu aktif, dan jika dapat ditoleransi
dapat digunakan hingga 2 kali sehari. Setelah efek yang diharapkan tercapai, obat
ini dapat digunakan setiap 1-3 minggu sebagai terapi pemeliharaan. Penggunaan
obat ini dapat menimbulkan iritasi pada beberapa pasien.

IONTOPHORESIS

Iontophoresis merupakan sebuah prosedur yang digunakan untuk memindahkan


ion-ion melalui kulit. Mekanisme iontophoresis ini dimana bertujuan untuk
menurunkan keringat belum sepenuhnya dimengerti, walaupun diduga bahwa
kanal ion pada kelenjar ekrin dapat dimanipulasi. Pada pengobatan iontophoresis,
daerah hiperhidrotik pada kulit yang akan diobati ditutup dengan kain yang
direndam dengan air hangat. Elektroda kemudian dipasangkan pada air tersebut
dan aliran listrik DC disalurkan, biasanya 8-20 Ampere. Jumlah ampere akan terus
ditingkatkan hingga pasien merasakan adanya sensasi geli dan dilakukan selama
10-20 menit selama 3 sampai 4 kali setiap minggu. Perbaikan pada umumnya
didapatkan sekitar 2 minggu dan perbaikan penuh selama 1 bulan. Terapi
pemeliharaan dilakukan 1 hingga 2 kali setiap minggu dapat meningkatkan
perbaikan setelah terapi utama. Agen antikolinergik seperti glycopyrronium
bromide dapat ditambahkan pada air yang digunakan pada terapi pada pasien
dengan keluhan yang berulang. Efek samping yang timbul dapat berupa iritasi,
hiperestesia, dan kulit yang melepuh. Iontophoresis dengan menggunakan toksin
botulinum tipe A sebagai pengobatan hiperhidrosis palmar juga telah dilaporkan.

AGEN ANTIPRURITIK

ANTIHISTAMIN
(Lihat Bab 229)

DOXEPIN
(Lihat Bab 229)

MENTHOL
Mentol merupakan alkohol siklik terpene yang sangat larut dalam lemak, sering
digunakan dengan kampor. Obat ini didapatkan secara alami dari minyak tumbuh-
tumbuhan atau dapat pula secara sintesis. Menthol dapat melawan agen iritan,
melalui induksi sensasi dingin, sehingga meredam sensasi gatal pada kulit.
Sensasi kulit dihasilkan dari interaksi langsung mentol dengan reseptor dingin
dan/atau serabut saraf.

PHENOL

Phenol pada konsentrasi rendah (0.5% sampai 2.0%) bekerja sebagai agen
antipruritik melalui efek anestesi. Obat ini diserap melalui kulit dan tidak boleh
diberikan pada wanita hamil dan bayi. Pada konsentrasi yang lebih tinggi, obat ini
dapat membakar kulit dan digunakan sebagai agen yang dapat menyebabkan
pengelupasan kulit secara dalam (Lihat Bab 251).

PRAMOXINE HYDROCHLORIDE

Pramoxine hydrochloride efektif digunakan pada kasus pruritus yang ringan


hingga sedang. Jika digunakan bersamaan dengan anestesi lokal lainnya, obat ini
dapat menghambat konduksi dari impuls saraf dengan mengubah permeabilitas
membran sel menjad ion-ion tertentu. Waktu kerja produk-produk pramoxine
berkisar 2-5 menit.

ASTRINGEN
Dalam praktek medis, astringen adalah agen yang menyebabkan kontraksi
jaringan, penangkapan sekresi, atau kontrol perdarahan. Badan pengawasan obat
dan makanan Amerika Serikat lebih ketat mendefinisikan obat ini sebagai produk
obat yang diterapkan pada kulit atau
membran mukosa dan memiliki efek protein koagulan lokal dan terbatas.

GARAM ALUMINIUM

Tablet aluminium asetat yang diencerkan dengan perbandingan 1:10 - 01:40


(Larutan Burow) adalah astringen dan pembunuh kuman yang efektif. Reaksi
berlebihan aluminium sulfat dan kalsium asetat (Domeboro) yang tersedia, ketika
dilarutkan dalam air, akan terjadi reaksi kimia
terjadi pembentukan aluminium asetat dan endapan kalsium sulfat (modifikasi
dari larutan Burow). Larutan ini dapat digunakan sebagai kompres basah

KALIUM PERMANGANAT

Kalium permanganat merupakan oksidator, astringen, antiseptik, dan antijamur


yang dapat digunakan untuk membersihkan atau menghilangkan bau dari luka.
Larutan dengan perbandingan 1: 4.000 sampai 1: 16.000 dapat digunakan sebagai
kompres basah untuk mengurangi terbentuknya cairan atau perbandingan 1:
25.000 sebagai obat mandi. Agen ini dapat menyebabkan noda permanen pada
pakaian dan keramik berwarna coklat atau berwarna ungu cerah pada kulit, yang
bisa dihapus dengan larutan asam oksalat lemah atau natrium tiosulfat.

PERAK NITRAT
Perak nitrat dalam larutan air 0,5% merupakan zat antimikroba yang digunakan
sebagai kompres basah dalam pengobatan eksim terinfeksi, ulkus gravitasional,
dan infeksi kulit lainnya yang disebabkan oleh bakteri Gram-positif atau Gram
negatif. Obat ini juga tersedia dalam bentuk padat yang dapat digunakan sebagai
hemostatika. Pada konsentrasi rendah (formulasi 0,5%, digunakan secara klinis),
obat ini bersifat bakteriostatik, dan bersifat bakterisida pada konsentrasi tinggi
(10%). Methemoglobinemia telah dilaporkan terjadi pada pengobatan topikal,
methemoglobin terjadi pada penggunaan berkepanjangan.

AGEN PEMUTIH

HYDROQUINONE
Biasanya digunakan dalam konsentrasi 2% sampai 5%, hydroquinone
menurunkan pigmentasi dengan menghambat enzim tyrosinase, sehingga
menghalangi konversi dopa menjadi melanin. Obat ini juga dapat bertindak
dengan menghambat sintesis DNA dan RNA, menurunkan melanosom, dan
menghancurkan melanosit. Hydroquinone 4% dalam kombinasi dengan tretinoin
0,05%, dan fluocinolone asetonid 0,01% telah terbukti efektif dalam pengobatan
efek samping dari melasma, meliputi dermatitis iritan, dermatitis kontak,
pigmentasi post-inflamasi, dan okronosis kulit. Pada tahun 2006, FDA
mengumumkan bahwa mereka sedang mempertimbangkan aturan baru pada
pemasaran hydroquinone, berdasarkan pertimbangan keselamatan. The American
Academy of Dermatology berpendapat bahwa aturan ketat tidak dibutuhkan.

TRETINOIN (ASAM RETINOAT)

(Lihat juga Bab 217.)

Tretinoin diduga menghambat transkripsi enzim tirosinase, yang menyebabkan


penurunan pigmentasi. Obat ini biasanya digunakan dalam konsentrasi 0,05%
sampai 0,1% untuk mengobati melasma. Efek samping lokal meliputi eritema dan
deskuamasi, dan hiperpigmentasi pasca pengobatan telah dilaporkan.
Kekhawatiran tentang toksisitas sistemik tretinoin topikal, termasuk kematian
akibat penyakit paru dan kardiovaskular terlihat dalam uji coba terkontrol secara
acak, namun pendapat lain mempertahankan bahwa tretinoin aman digunakan.
ASAM AZELAIC
asam azelaic diduga menurunkan pigmentasi melalui penghambatan aktivitas
enzim oksidoreduktase di mitokondria , menurunkan sintesis DNA, dan enzim
tirosinase . Pengobatan melasma biasanya dengan konsentrasi 15 % sampai 20 %.
Efek samping dari obat ini meliputi kulit terbakar, gatal, dan eritema.

MONOBENZYL ETHER DARI HYDROQUINONE


Kadang-kadang digunakan untuk depigmentasi kulit pada individu dengan vitiligo
luas, eter monobenzyl hydroquinone biasanya menyebabkan depigmentasi yang
tidak dapat dikembalikan dengan menyebabkan nekrosis melanosit necrosis.

AGEN KERATOLITIK

Keratolitik adalah agen yang menyebabkan keratolisis, atau pengelupasan


epidermis. Pada konsentrasi rendah, keratolitik bertindak sebagai humektan atau
agen pelembab .

ASAM - HIDROKSI
( Lihat Bab 251. )

Asam - Hydroxy (asam laktat, asam glikolat, asam sitrat, asam glukuronat, dan
asam piruvat) mengurangi ketebalan hiperkeratosis stratum korneum melalui
mekanisme yang tidak sepenuhnya dipahami dimana asam dapat langsung
melarutkan komponen protein desmosom atau mengaktifkan enzim hidrolitik
endogen dengan mengubah pH stratum korneum, sehingga mengakibatkan
terjadinya keratolisis. Selain itu, dengan menyebar ke stratum korneum dan
mengikat air, asam bertindak sebagai humektan sehingga meningkatkan kadar air
dari stratum korneum. Hal ini mengurangi pembentukan sisik kering pada
permukaan kulit dan memungkinkan kulit menjadi lembut. Disarankan
menggosok kulit selama mandi untuk menghilangkan jaringan yang telah mati.
Konsentrasi asam - hidroksi , pH persiapan, dan komposisi dasar di mana obat
ini digunakan penting dalam menentukan keberhasilan pengobatan. Secara umum,
sediaan anhidrat yang rendah kurang memberikan hasil yang diinginkan, sehingga
konsentrasi yang lebih tinggi dari asam ini akan ditoleransi.

PROPILEN GLIKOL

Propilen glikol adalah humektan, dan agen keratolitik. Obat ini sering
dikombinasikan dengan obat lain untuk meningkatkan penetrasi obat ini.
Kombinasi 20% propilen glikol dengan 5% asam laktat dalam krim semioklusif
dasar digunakan sangat efektif dan ditoleransi sebagai keratolitik pada pasien
dengan iktiosis dan dapat digunakan dalam berbagai penyakit hiperkeratosis
lainnya.

ASAM SALISILAT
Asam salisilat telah digunakan dalam konsentrasi mulai dari 0,5% sampai 60% di
hampir setiap terapi. Dalam konsentrasi 3% sampai 6%, itu menyebabkan
terjadinya sisik oleh pelunakan stratum korneum, melarutkan matriks intraseluler,
dan melonggarkan koneksi
antara korneosit. Dalam konsentrasi tinggi dari 6%, asam salisilat dapat merusak
jaringan. Salisilat telah dilaporkan memiliki efek samping dengan penggunaan
luas dan berkepanjangan, terutama pada anak-anak yang harus diterapkan tidak
lebih dari 2 g (33 mL larutan 6%) ke
kulit mereka dalam waktu 24 jam. Sensitisasi jarang, dan iritasi dapat
diminimalkan jika digunakan pada konsentrasi yang lebih rendah.

UREA
Urea adalah humektan dan bersifat proteolitik pada konsentrasi tinggi. Urea telah
ditambahkan ke beberapa sediaan glukokortikoid topikal untuk meningkatkan
penetrasi obat ini. Obat ini digunakan dalam terapi untuk kulit kering dan
lempeng kuku yang hancur.
ASAM LAKTAT
Asam laktat merupakan humektan dan keratolitik yang tersedia pada konsentrasi
hingga 12%. Selain menjadi keratolitik, asam laktat meningkatkan produksi
seramid oleh keratinosit.

TERAPI PSORIASIS
(Lihat Bab 18.)

ANTHRALIN
(Lihat Bab 18.)

CALCIPOTRIENE
(Lihat Bab 18.)

Sebuah analog vitamin D, calcipotriol menghambat proliferasi epidermal,


menginduksi diferensiasi epidermal, dan memiliki efek antiinflamasi. Efektivitas
dalam psoriasis telah ditunjukkan dalam penelitian sistematis. Hiperkalsemia
mungkin terjadi jika digunakan lebih dari 100 g per minggu. Obat ini awalnya
digunakan dua kali sehari, dan perbaikan maksimal dapat diharapkan dalam waktu
6-8 minggu. Iritasi kulit dapat terjadi pada konsentrasi hingga 20% dari pasien,
terutama bila digunakan pada wajah atau di daerah intertriginosa. Calcipotriene
saat ini dipasarkan di Amerika Serikat hanya sebagai produk kombinasi dengan
betametason dipropionat untuk pengobatan psoriasis. Analog Vitamin D lainnya,
termasuk calcitriol dan takalsitol, yang tersedia dan digunakan untuk mengobati
psoriasis di luar Amerika Serikat.

TERAPI VERUKA

DIPHENYLCYCLOPROPENONE
Diphenylcyclopropenone (DPCP), juga dikenal sebagai diphencyprone, adalah
alergen kontak ampuh digunakan dalam pengobatan virus veruka dan alopesia
areata. Obat ini tidak tersedia dalam kualitas farmasi. Teori untuk mekanisme
kerjanya meliputi perubahan di tingkat sitokin, peradangan nonspesifik
menyebabkan regresi veruka, dan pengikatan DPCP untuk protein menginduksi
respon kekebalan tertentu. Kepekaan silang terhadap bahan kimia lainnya, selain
dari prekursor, -dibromodibenzyl keton, belum dilaporkan. Banyak klinik
merekomendasikan menghindari DPCP pada anak-anak dengan usia di bawah 12
tahun, meskipun anak-anak dengan alopesia areata kurang dari 12 tahun telah
berhasil diobati dengan DPCP.

SQUARIC ACID DIBUTYL ESTER


Squaric asam dibutil ester adalah agen sensitasi topikal poten dengan mekanisme
yang sama dengan DPCP. Hal ini membutuhkan agen pendingin untuk
mempertahankan potensinya.

DINITROCHLOROBENZENE
Dinitrochlorobenzene adalah agen sensitasi kuat dengan mekanisme serupa
dengan DPCP. Meskipun dinitrochlorobenzene adalah mutagenik in vitro, tidak
ada bukti karsinogenisitas dalam praktek klinis.

5-FLUOROURACIL
(Lihat Bab 220.)

FORMALDEHIDA
Formaldehida adalah disinfektan yang kuat yang menyebabkan anhidrosis,
pengeringan, dan kadang-kadang, hipersensitivitas bila digunakan kulit. Hal ini
dapat menyebabkan pengerasan dan terbentuknya cekungan pada kulit, sehingga
kulit di sekitarnya yang normal harus dilindungi dari obat ini dengan petrolatum,
pasta zink, atau penggunaan secara hati-hati. Individu dengan eksim atau alergi
harus menghindari sensitasi formalin yang terkandung dalam banyak produk.
GLUTARALDEHYDE
Glutaraldehyde adalah virisidal. Obat ini juga menggabungkan reaksi kimia
dengan keratin yang memproduksi polimer yang mengeras di permukaan kutil
sehingga menyebabkan pengelupasan kulit.

ASAM MONO-, DI-, DAN TRIKLOROASETAT


Asam Monochloroacetic, asam dikloroasetat, dan asam trikloroasetat dalam
konsentrasi 50% hingga 90% semua efektif dalam pengobatan veruka. Asam
trikloroasetat juga biasa digunakan pada konsentrasi rendah (10% sampai 35%)
untuk kulit wajah (Lihat Bab 252). Lesi anal dan vaginal kadang-kadang diobati
dengan asam trikloroasetat, sedangkan Asam Monochloroacetic ini paling sering
digunakan pada veruka daerah plantar dibandingkan asam salisilat.
Penggunaannya perlu diulang di 1-2 minggu sampai resolusi lengkap.

PODOPHYLLIN RESIN
(Lihat Bab 196.)

PODOFILOX
Podofilox adalah podophyllotoxin, bahan aktif dari podophyllin. Tidak
mengandung salah satu bahan yang bertanggung jawab untuk toksisitas
podophyllin. Seharusnya tidak digunakan selama kehamilan kecuali manfaat
potensial lebih besar dari potensi risiko untuk janin.
ASAM SALISILAT
Efektivitas asam salisilat dalam mengobati veruka diduga terkait dengan efek
keratolisis dan iritasi lokal pada kulit dimana virus hadir. Asam salisilat adalah
agen yang paling ampuh dalam hal efektivitas dan keamanan dalam pengobatan
virus veruka.

SINECATECHINS
Sincatechins salep adalah ekstrak daun teh hijau dari Camellia sinensis yang
digunakan dalam pengobatan veruka kelamin daerah luar. Obat ini tersedia
sebagai salep 15% digunakan tiga kali sehari sampai semua veruka bersih dan
dapat digunakan hingga maksimal 16 minggu. Mekanisme kerja obat ini terkait
dengan reaksi stimulasi imunitas, anti-proliferatif , dan sifat antitumor katekin
dalam salep sinecatechins. Obat ini tampaknya memiliki efek klinis yang
sebanding dengan obat topikal lain yang tersedia sebagai terapi untuk veruka
genital bagian eksternal.